1 of 110

Imron Rosyadi

  • 1. TK ABA
  • 2. MI Muhammadiyah Ponpes Muhammadiyah Karangasem Paciran Lamongan
  • 3. MTs. Muhammadiyah Ponpes Muhammadiyah Karangasem Paciran Lamongan
  • 4. MA Muhammadiyah Ponpes Muhammadiyah Karangasem Paciran Lamongan
  • 5. S1 Universitas Muhammadiyah Surakarta
  • 6. S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta
  • 7. S3 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
  • 8. Ketua LPPIK UMS 2021-2025
  • 9. Ketua MTT PWM Jawa Tengan 2015-2022

1

ir120@ums.ac.id

081.329.378.952

2 of 110

PAHAM AGAMA ISLAM MENURUT MUHAMMADIYAH

2

IMRON ROSYADI

3 of 110

  • Materi pada kuliah ini
  • 1. Paham agama menurut Muhammadiyah
  • 2. Manhaj Tarjih Muhammadiyah

4 of 110

Menurut M. Djindar Tamimy:

Berdirinya Muhammadiyah didorong oleh paham agama.

Berawal dari menghayati agama, mengamalkan agama, memperjuangkan agama, lalu lahirlah ide mendirikan Muhammadiyah.

Jadi,Muhammadiyah itu wadah untuk mengimplementasikan Islam berkemajuan

4

5 of 110

Mengapa Muhammadiyah begitu yakin dengan ajaran Islam? Dasarnya, misal Surat al-Maidah/5: 3, Ali Imron/3: 19, 85, 102:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا (المائدة: 3)

Pada hari ini Aku telah menjadikan Islam agama yang sempurna untuk kalian. Aku telah memberikan hidayah-Ku kpd kalian dengan sempurna. Aku meridhai agama Islam sebagai agama kalian (QS. Al-Maidah/5: 3

5

6 of 110

QS. Ali Imron/3: 19

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ (ال عمران: 19)

  • Agama yang diridhai Allah hanyalah Islam (QS. Ali Imron/3: 19

6

7 of 110

QS. Ali Imron/3: 19

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (85)

Siapa saja yang memilih agama selain Islam, Allah tidak akan menerima amalnya. Kelak di akhirat, orang semacam itu termasuk orang-orang yang celaka nasibnya (QS. Ali Imron/3: 85)

7

8 of 110

QS. Ali Imron/3: 102, Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (102)

Wahai kaum Mukmin, taatlah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan berpegang teguhlah kalian pada Islam sampai mati (QS. Ali Imron/3: 102).

8

9 of 110

Berdasarkan keyakinan itu, maka perlu ada Muhammadiyah sebagi wasilah/alat untuk mendakwah Islam.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (104)

Wahai kaum Mukmin, hendaklah di antara kalian ada segolongan (yang diorganisir) yang mengajak manusia mengikuti Islam (dan syariatnya), menyuruh berbuat baik dan mencegah kemungkaran. Mereka yang melakukan demikian adalah orang-orang beruntung (QS. Ali Imron/3: 104).

9

10 of 110

Jadi, Muhammadiyah itu adalah Gerakan Islam karena Muhammadiyah dideklarasikan untuk mewujudkan Islam sebagai solusi untuk Masyarakat Muslim Indonesia.

Islam yang diwujudkan tersebut Islam yang bersumber pada al-Quran dan Sunah Maqbulah

10

11 of 110

Apa Agama Islam itu?

  • Agama Islam menurut Muhammadiyah
  • اَلدِّيْنُ هُوَ مَا شَرَعَهُ اللهُ عَلَى لِسَانِ أَنْبِيَائِهِ مِنَ الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِى وَالْاِرْشَادَاتِ لِصَلاَحِ الْعِبَادِ دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ
  • Agama (Islam) ialah apa yang disyariatkan Allah melalui Nabi-nabi-Nya berupa perintah, larangan, dan petunjuk untuk kebaikan hamba di dunia dan di akhirat.
  • Agama Islam yang mana yang dikuti Muhammadiyah?

11

12 of 110

  • Agama Islam Yang diikuti Muhammadiyah adalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw:
  • اَلدِّيْنُ الْاِسْلاَمِىُّ الَّذِى جَاءَ بِهِ مُحَمَّدٌ صَ هُوَ مَا أَنْزَلَهُ اللهُ فِى الْقُرْاَنِ وَمَا جَاءَ بِهِ السُّنَّةُ المَقْبُوْلَةُ مِنَ الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِى وَالْاِرْشَادَاتِ لِصَلاَحِ الْعِبَادِ دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ
  • “Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah agama Islam yang diturunkan Allah di dalam al-Quran dan yang tersebut dalam Sunnah Maqbulah berupa perintah-perintah dan larangan-larangan serta petunjuk-petunjuk untuk kebaikan hamba-Nya di dunia dan akhirat.”

12

13 of 110

  • Al-Quran menegaskan dlm QS. Al-Ahzab/33: 40
  • مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (40)
  • Muhammad itu bukan lah bapak dari salah seorang di antara kalian, melainkan seorang utusan Allah dan penutup para Nabi. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al-Ahzab/33: 40).

13

14 of 110

BIDANG-BIDANG AGAMA ISLAM

Menurut Muhammadiyah, bidang-bidang di dalam agama Islam adalah akidah, akhlak, ibadah, dan muamalah duniyawiyah.

Keempat bidang tsb, bagi Muhammadiyah, harus ditegakkan dan dilaksanakan. Keempatnya merupakan suatu kesatuan ajaran yang tidak boleh dipisah-pisah.

14

15 of 110

(1) BIDANG AKIDAH (Konsep Ketuhanan)

Konsep Ketuhanan dalam Islam

(1) Allah itu Tuhan Yang Esa.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)

    • (1) Wahai Muhammad, katakanlah: “Allah adalah Tuhan Yang Esa.
    • (2) Allah itu Dzat yang menjadi pusat segala yang ada, (di alam ini) bergantung kepada-Nya.
    • (3) Allah itu tidak melahirkan dan tidak dilahirkan
    • (4) Tidak ada sesuatu pun yang menyamai Allah.

15

16 of 110

    • (2). Tuhan Allah Yang Esa itu ada sebelum alam ini ada dan alam ini musnah kecuali Allah. Jadi, Allah itu yang pertama dan terakhir. Al-Hadid/57: 3
    • هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (3)
    • Allah lah yang ada sebelum yang lain ada, yang tetap kekal setelah yang lain musnah, yang tampak ciptaan-Nya dan yang tidak tampak Dzat-Nya. Allah Maha Mengetahui apa saja.
    • كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (27)
    • Semua yang ada di bumi ini pasti binasa (26). Hanya Allah yang kekal. Allah Yang Mahamulia lagi dimuliakan (ar-Rahman/55: 26-27).

16

17 of 110

(3). Agama yang diridhai Allah hanyalah agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw., bukan agama lainnya.

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ (ال عِمْرَان: 19)

Agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam (QS. Ali Imron/3: 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (85)

Barangsiapa yang (mencari rujukan menjalani kehidupannya) selain dari Islam, maka amalannya tidak diterima oleh Allah. Kelak di akhirat, orang semacam itu termasuk orang-orang yang celaka (QS. Ali Imron/3: 85)

17

18 of 110

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا (المائدة: 3)

Pada hari ini Aku telah menjadikan Islam agama yang sempurna untuk kalian. Aku telah berikan hidayah-Ku kepada kalian dengan sempurna. Aku meridhai Islam menjadi agama kalian.

18

19 of 110

  • Menurut Muhammadiyah, hidup manusia itu harus berdasar Tauhid/akidah, ber-Tuhan, beribadah serta tunduk dan taat hanya kepada Allah.
  • Tauhid adalah ajaran inti ajaran Islam yang tidak berubah-ubah, sejak Nabi Adam sampai Muhammad Saw. Seluruh ajaran Islam bertumpu dan memanifestasikan kepercayaan tauhid, yaitu meng-Esakan Allah

19

20 of 110

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ (النحل: 36)

Sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul kepada setiap umat dengan perintah: Beribadalah/meng-Esakan Allah lah dan jauhilah segala kesyirikan (QS. An-Nahl/16: 36).

20

21 of 110

Inti isi Tauhid adalah pada kalimat berikut:

لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ

  • لَا إِلهَ maknanya peniadaan tuhan.
  • إِلَّا اللهُ (isbat) penetapan hanya Allah sebagai Tuhan, tidak ada yang lain.
  • Tidak ada tuhan selain Allah.

21

22 of 110

  • Kepercayaan tauhid mempunyai tiga aspek, yaitu
  • (1) hanya Allah yang kuasa mencipta, memelihara, mengatur, dan menguasai alam semesta.
  • (2) hanya Allah lah Tuhan yang Haq.
  • (3) hanya Allah lah yang berhak dan wajib dihambai (ditaati).

22

23 of 110

  • Tauhid membentuk dua kesadaran:
  • (1) percaya akan adanya hari akhir, di mana manusia akan mempertanggungjawabkan hidupnya di dunia ini.
  • إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ (25) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ (26)
  • Hanya kepada Kami lah semua manusia akan dikembalikan (25) Hanya menjadi hak Kami lah untuk meminta pertanggung jawaban semua amal manusia
  • (2) sadar bahwa hidup manusia di dunia ini semata-mata utk amal salih. Amal salih ini sebagai bentuk pertanggungjawabankpd Allah

23

24 of 110

  • كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (185ال عمران)
  • Setiap manusia pasti akan mengalami kematian. Kalian semua akan diberikan balasan sesuai amal pada hari kiamat. Siapa yang dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga, dia lah orang yang beruntung. Kenikmatan dunia itu bisa menipu (QS. Ali Imron/3: 185)

25 of 110

  • أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ (المؤمنون/23: 115)
  • Apakah kalian mengira bahwa Kami ciptakan kalian tanpa tujuan (kewajiban dan tanggungjawab)? Apakah kalian juga mengira bahwa kalian tidak dikembalikan kepada Kami? QS. Al-Muminun/23: 115)

26 of 110

  • عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ (رواه ابن ماجه)

27 of 110

  • Ibnu Umar bahwa dia berkata: Saya bersama dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki Anshar kepada beliau, lalu dia mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan bertanya: "Ya Rasulullah, bagaimanakah orang mukmin yang utama?" beliau menjawab: "Orang yang paling baik akhlaknya." Dia bertanya lagi: "Orang mukmin yang bagaimanakah yang paling bijak?" beliau menjawab: "Orang yang paling banyak mengingat kematian, dan yang paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah orang-orang yang bijak.

28 of 110

  • هذَا كِتَابُنَا يَنْطِقُ عَلَيْكُمْ بِالْحَقِّ إِنَّا كُنَّا نَسْتَنْسِخُ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (الجاثية/45: 29)
  • Inilah catatan semua Kami tentang semua amalkalian. Catatan itu akan berbicara dengan sebenarnya kepada kalian. Sungguh kami akan menghitung scr rinci semua perbuatan yang dahulu kalian lakukan Ketika di dunia (QS. Al-Jatsiyah/45: 29)

29 of 110

  • يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (6)
  • Pd hari kiamat, manusia bangkit dari kuburnya dg berbondong-bonding untuk menyaksikan catatan amal masing-masing (6)
  • فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7)
  • Siapa saja yang beramal salih walaupun sebesar debu, ia akan menyaksikan pahalnya di akhirat kelak (7)
  • وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)
  • Siapa saja yg berbuat dosa walau sebesar debu, ia juga akan menyaksikan hukumannya kelak di akhirat

30 of 110

  • Dengan berpegang Tauhid, dalam hidup kehidupannya, manusia akan dapat mempertahanlan kemuliaan dirinya, tetap menjadi makhluk yang termulia.
  • Dengan Tauhid, dalam hidup dan kehidupannya, manusia akan menjadikan seluruh hidup dan kehidupanya semata-mata untuk beribah kepada Alllah (beramal shalih) guna mendapatkan keridhaan-Nya.

30

31 of 110

(2) BIDANG IBADAH

Apa ibadah itu?

Ibadah adalah bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan mentaati segala perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan mengamalkan segala yang diizinkan Allah untuk mendapatkan Ridha-Nya.

31

32 of 110

Ibadah itu ada dua macam, yaitu ada yang umum dan yang khusus. Yang umum adalah segala amal yang diizinkan Allah.

yang khusus yaitu, apa yang telah ditetapkan Allah akan perinciannya, tingkah, dan cara-cara tertentu. Inilah yang disebut dengan ibadah mahdhah

32

33 of 110

  • Merujuk pada pengertian ibadah, yang dimaksud hidup beribadah adalah hidup untuk mendekatkan diri kepada Allah Tuhan yang Esa dengan melaksanakan ketentuan-ketentuan yang menjadi peraturan-Nya guna mendapatkan keridhaan-Nya.
  • Wujud hidup beribadah manusia adalah menjadi khalifah di bumi dengan tugas:
  • (1) mengatur, membangun dan memakmurkan dunia
  • (2) menciptakan, menjaga, memelihara keamanan, dan ketertiban di dalamnya.

33

34 of 110

(3) BIDANG AKHLAK

Apa itu akhlak?

Menurut Imam Ghazali, akhlak adalah suatu sikap atau perilaku seseorang yang pewujudannya dilakukan secara reflektif dan tanpa dipikirkan saat merespon suatu peristiwa atau kejadian (masalah ketuhanan dan kemanusiaan).

34

35 of 110

Tugas Muhammad sebagai Nabi dan Rasul adalah untuk menyempurnakan akhlak umat manusia.

أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ (رواه أحمد)

  • Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak (HR. Ahmad).

35

36 of 110

Pada hadis lainya, Nabi menyebutkan bahwa indicator kesempurnaan iman seorang hamba itu dilihat dari akhlaknya:

  • عن أبي هُريرة رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم "‏ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا " (رواه الترمذى)
  • Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “Indikator kesempurnaan keimanan sesorang adalah dilihat dari akhlaknya.” (HR. At-Tirmidzi)

36

37 of 110

  • Ali b Abi Thalib, menantu Nabi, sekaligus Khalifah keempat khulafa ar-Rasyidin, pernah menyatakan: 
  • لَيسَ الجَمالُ بِأَثوابٍ تُزَيِّنُنا إِنَّ الجَمالَ جَمالُ العِلمِ وَالأَدَبِ
  • لَيسَ اليَتيمُ الَّذي قَد ماتَ والِدُهُ إِنَّ اليَتيمَ يَتيمُ العِلمِ وَالأَدَبِ (عَلِى بْنُ أَبِى طَالِبٍ)
  • Kebagusan seseorang itu tidak dari pakaian yang dikenakan, sesungguhnya kebagusan seseorang itu dilihat dari ilmu dan akhlaknya.
  • Anak yatim itu bukan anak yang ditinggal wafat bapaknya tetapi anak yatim itu adalah yatim ilmu dan akhlak (Ali b Abi Thalib)

37

38 of 110

QS. Al-Qashas/28: 26).

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ (26)

Artinya: Salah satu putri Nabi Syuaib menyampaikan usul kepada ayahnya, “’wahai ayahku sayang, jadikanlah Musa sebagai orang yang bekerja di rumah kita, sebab sesungguhnya orang yang engkau jadikan sebagai pekerja adalah orang yang kuat keilmuan dan memiliki akhlak yang dapat dipercaya (QS. Al-Qashah/28: 26).

38

39 of 110

  • عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ (رواه الترمذى)
  • Abdullah b Busr meriwayatkan bahwa ada arab baduwi bertanya kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, siapa orang yang paling baik? Rasul menjawab, yaitu orang yang umurnya Panjang dan amalnya baik (HR. Turmudzi).

39

40 of 110

Agar akhlak seseorang sesuai dengan ajaran Islam, maka harus mengikuti atau meneladani Nabi Muhammad saw. Keharusan meneladani itu disebutkan dalam al-Qur’an:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (الأحْزَاب: 21)

Sungguh, wajib bagi kalian meneladani akhlak Rasulullah pada sikap dan perilakunya bagi siapa saja yang berharap mendapatkan rahmat Allah, beriman hari akhirat, dan banyak mengingat/berdikir kepada Allah (al-Ahzab/33: 21).

40

41 of 110

(4) MUAMALAH DUNYAWIYAH

Yang dimaksud dengan urusan dunia adalah seperti dimaksud dalam sabda Rasulullah Saw berikut:

  • عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِ دُنْيَاكُمْ فَأَنْتُمْ أَعْلَمُ بِهِ فَإِذَا كَانَ مِنْ أَمْرِ دِينِكُمْ فَإِلَيَّ (رواه أحمد)
  • Anas b Malik meriwayatkan, Rasulullah Saw bersabda: "Jika ada sesuatu yang berkaitan dengan urusan dunia,, maka kalian lebih tahu tentangnya, sebaliknya jika berkaitan dengan urusan agama, maka kembalilah kepadaku.“ (HR. Ahmad)

41

42 of 110

Muamalah yang diyakini Muhammadiyah adalah muamalah duniyawiyah dg berdasarkan ajaran agama serta dg menjadikan semua kegiatan dlm bidang ini sbg ibadah kepda Allah

42

43 of 110

Warga Muhammadiyah wajib hidup bermasyarakat (bermuamalah). Hidup bermasyarakat itu adalah sunnah Allah atas hidup manusia di dunia ini. Hidup bermasyarakat dilakukan dalam hidupnya untuk pengabdian kepada Allah Tuhan yang Esa.

43

44 of 110

  • Konsep hidup manusia bermasyarakat mengandaikan bahwa hidup manusia itu harus berarti, bermakna untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri pribadinya.
  • Konsep hidup manusia bermasyarakat ini dirumuskan dalam rangka untuk memberikan nilai yang sebenar-benarnya bagi kehidupan manusia. Kehadiran warga Muhammadiyah memberikan solusi dg menawarkan Islam
  • Dengan kata lain, pribadi manusia dan ketertiban hidup bersama merupakan unsur pokok dalam membentuk dan mewujudkan masyarakat yang baik, bahagia, dan sejahtera.

44

45 of 110

MANHAJ TARJIH MUHAMMADIYAH

45

IMRON ROSYADI

46 of 110

Pengertian Manhaj Tarjih

Manhaj tarjih dapat didefinisikan sebagai “suatu sistem yang memuat:

  1. seperangkat wawasan (atau semangat/perspektif),
  2. sumber,
  3. pendekatan, dan
  4. (4) metode penetapan yang menjadi pegangan dalam merumuskan ajaran Islam.

46

47 of 110

MANHAJ TARJIH SEBAGAI SISTEM

Sistem Manhaj Tarjih

K1

K2

K3

K4

Keterangan:

K: Komponen

K1: Wawasan/Se-mangat/Perspektif

K2: Sumber Ajaran

K3: Pendekatan

K4: Metode (Prosedur Teknis)

Fattah, 2023

48 of 110

KOMPONEN WAWASAN

Ada 5 Wawasan/perspektif tarjih itu meliputi :

  1. Wawasan paham agama,
  2. Wawasan tajdid,
  3. Wawasan toleransi,
  4. Wawasan keterbukaan,
  5. Wawasan tidak berafiliasi mazhab tertentu.

48

49 of 110

KOMPONEN WAWASAN/SEMANGAT/ PERSPEKTIF

Kompo-nen Wa-wasan

W1

W2

W3

W4

W5

Keterangan:

W: Wawasan

W1: Paham Agama

W2: Tajdid

W3: Toleransi

W4: Keterbukaan

W5: Tidak Berafili-asi Mazhab

Fattah, 2023

50 of 110

1. Wawasan Paham Agama

  1. Wawasan Paham Agama

Risalah Islam Berkemajuan (RIB)—keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta (2022) menegaskan orientasi paham agama dalam Muhammadiyah, yaitu ‘Islam berkemajuan’. Ada lima karakteristik Islam berkemajuan:

    • Berlandaskan pada tauhid;
    • Bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah;
    • Menghidupkan ijtihad dan tajdid;
    • Mengembangkan wasathiyah;
    • Mewujudkan rahmat bagi seluruh alam.

Cakupan Agama:

  1. Akidah
  2. Akhlak
  3. Ibadah
  4. Muamalat Duniawiah

51 of 110

2. Wawasan Tajdid

Yang dimaksud wawasan tajdid dalam kaitan dengan manhaj tarjih adalah tajdid sebagai orientasi dari kegiatan tarjih dan corak produk ketarjihan. Tajdid mempunyai dua arti:

  1. dalam bidang akidah dan ibadah, tajdid bermakna pemurnian dalam arti mengembalikan akidah dan ibadah kepada kemurniannya sesuai dengan al-Quran dan Sunnah Nabi saw.
  2. Dalam bidang muamalat duniawiah, tajdid berarti mendinamisasikan kehidupan masyarakat dengan semangat kreatif, inovatif dan berkemajuan sesuai tuntutan zaman

51

52 of 110

3. Wawasan Toleransi

Toleransi artinya bahwa putusan Tarjih tidak menganggap dirinya saja yang benar, sementara yang lain tidak benar.

Artinya Tarjih Muhammadiyah tidak menegasikan pendapat lain apalagi menyatakannya tidak benar.

Tarjih Muhammadiyah memandang keputusan-keputusan yang diambilnya adalah suatu capaian maksimal yang mampu diraih saat mengambil keputusan itu

52

53 of 110

4. Wawasan Keterbukaan

Keterbukaan artinya bahwa segala yang diputuskan oleh Tarjih dapat dikritik dalam rangka melakukan perbaikan, di mana apabila ditemukan dalil dan argumen lebih kuat, maka Majelis Tarjih akan membahasnya dan mengoreksi dalil dan argumen yang dinilai kurang kuat.

Jadi, keterbukaan terhadap penemuan baru adalah prinsip dalam wawasan ketarjihan Muhammadiyah.

53

54 of 110

5. Wawasan Tidak Berafiliasi kpd Mazhab

Memahami agama dalam perspektif tarjih dilakukan langsung dari sumber-sumber pokoknya, al-Quran dan Sunnah melalui proses ijtihad dengan metode-metode ijtihad yang ada.

Ini berarti Muhammadiyah tidak berafiliasi kepada mazhab tertentu. Namun ini tidak berarti menafikan berbagai pendapat fukaha yang ada.

Pendapat-pendapat mereka itu sangat penting dan dijadikan bahan pertimbangan untuk menentukan diktum norma/ajaran yang lebih sesuai dengan semangat di mana kita hidup.

54

55 of 110

(2) Sumber Ajaran Islam

Sumber Agama Islam dalam Manhaj tarjih al-Quran dan as-Sunnah al-Maqbulah.

Di dalam beristidlal, dasar utamanya adalah al-Quran dan as-Sunnah ash-Shahihah.

Jadi, sumber hukum Islam menurut Tarjih hanya ada dua, yaitu al-Quran dan Sunnah ash-Shahihah/Makbulah

55

56 of 110

  • Dalam memahami al-Quran dan Hadis, Tarjih dapat melakukan ta’lil, yaitu menemukan pesan dengan cara mencari sebab dan illat hukum.
  • Menurut Tarjih, menta’lil dapat digunakan untuk memahami kandungan dalil-dalil al-Quran dan as-Sunnah, sepanjang sesuai dengan tujuan syariah.
  • Adapun kaidah: “al-hukmu yaduru ma’a illatihi wujudan wa ‘adaman,” dalam hal-hal tertentu dapat berlaku.

57 of 110

  • Hadis yang dapat dijadikan sebagai sumber adalah hadis yang makbul, yaitu hadis sahih dan hasan. Karena itu, setiap hadis yang akan dijadikan dalil akan diteliti terlebih dahulu.
  • Adapun hadis dhaif dapat dijadikan sebagai rujukan sepanjang jumlahnya banyak yang saling menguatkan dan tidak bertentangan dalil yang lebih sahih.

58 of 110

(3) Pendekatan

Sesuai hasil Munas Tarjih tahun 2000, pendekatan dalam bertarjih ada tiga, Bayani, Burhani, dan Irfani.

  • Ketiga pendekatan tsb tidak berdiri sendiri, ketiganya digunakan secara komprehensip atau bersamaan untuk merumuskan pengetahuan hukum Islam.

58

59 of 110

HUBUNGAN TIGA PENDEKATAN

BAYANI

‘RFANI

BURHANI

60 of 110

  • Pendekatan bayani adalah merespon permasalahan dengan merujuk nas-nas syariah (al-Quran dan as-Sunnah).
  • Pendekatan burhani adalah pengetahuan hukum yang diperoleh berdasarkan pengamatan indera, eksperimen dan hukum-hukum logika. Wujud kongkritnya adalah aneka ragam ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).

60

61 of 110

Pendekatan irfani.

Dalam berijtihad, pendekatan irfan dimaknai sebagai ihsan, kemaslahatan dalam rangka untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT (kesadaran imani).

Jadi, majelis Tarjih telah menggeser makna pendekatan irfani, dari makna asli ke makna lain.

61

62 of 110

Pendekatan irfani dimaksudkan sebagai upaya meningkatkan kepekaan nurani dan ketajaman intuisi batin, sehingga suatu keputusan tidak hanya didasarkan kepada kecanggihan otak belaka, tetapi juga didasarkan atas adanya kepekaan nurani untuk menginsafi berbagai masalah dan keputusan yang diambil mengenainya dan mendapatkan petunjuk dari Yang Maha Tinggi.

62

63 of 110

(4) Metode Istinbat (Prosedur Teknis)

Menurut Syamsul Anwar, yang dimaksud metode istinbat adalah langkah-langkah prosedural dalam proses pemanfaatan sumber guna menemukan suatu petunjuk agama.

Metode ini didasarkan kpd dua asumsi:

  1. asumsi integralistik, dan
  2. asumsi hirarkis.

63

64 of 110

ASUMSI INTEGRALISTIK

Asumsi integralistik mepostulasikan teori keabsahan koroboratif tentang norma, yakni suatu asumsi yang memandang adanya koroborasi (saling menguatkan) dan saling mendukung di antara berbagai elemen sumber guna melahirkan suatu norma.

Berdasarkan asumsi ini, maka hubungan ayat dengan ayat lainya saling menguatkan, atau tidak saling bertentangan. Begitu juga hubungan ayat dengan hadis saling menguatkan atau hadis dengan hadis lainnya tidak saling bertentangan.

64

65 of 110

  • Dalam kajian ulumul Quran dikenal kajian munasabah, baik hubungan tematik maupun hubungan ayat atau surat dengan surat.
  • Dalam studi ulumul hadis dikenal kajian hubungan al-Quran dengan hadis, paling tidak ada dua, yaitu:
  • (1) Menguatkan hukum suatu peristiwa yang telah ditetapkan hukumnya di dalam al-Quran

66 of 110

  • Contoh:
  • وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاة (النساء/4: 77)
  • Dirikan shalat dan tunaikan zakat (4: 77)
  • Ayat tersebut dikutkan dengan hadis:
  • قَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا (رواه مسلم)

67 of 110

  • (2) Memberikan keterangan secara rinci terhadap ayat al-Quran.
  • (2.a) Memberikan perincian ayat-ayat yang masih global (mujmal).
  • وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا (103)
  • Diperinci dengan Sabdi Nabi:
  • صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ (البخارى)

68 of 110

  • (2.b) Membatasi kemutlakannya
  • مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْن (النساء/4: 11)
  • Wasiat ini termasuk lafad mutlak, artinya tidak dibatasi berapa pun jumlah wasiatnya tidak masalah.
  • Ayat ini dibatasi (di-muqayyad) oleh hadis di bawah ini:
  • الثُّلُثُ كَثِيرٌ إِنَّكَ أَنْ تَدَعَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَدَعَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ (البخارى)

69 of 110

  • (2.c) Mentakhsiskan keumuman ayat al-Quran. Contoh:
  • حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ (المائدة/5: 3)
  • Lafad الْمَيْتَةُ adalah lafad ‘am (umum), artinya semua bangkai itu diharamkan. Ada hadis yang mentakhsis keumuman ayat tersebut:
  • حَدَّثَنَا أَبُو مُصْعَبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُحِلَّتْ لَكُمْ مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ (الحاكم)

70 of 110

  • (2.d) Menciptakan hukum baru yang tidak terdapat dalam al-Quran. Contoh:
  • إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ(البقرة/2: 173)
  • Ayat tersebut membatasi hewan yang diharamlan, yaitu bangkai, darah, daging babi, dan Binatang yang disembelih bukan karena Allah (2: 173)
  • عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنْ السِّبَاعِ وَعَنْ كُلِّ ذِي مِخْلَبٍ مِنْ الطَّيْرِ (مسلم)

71 of 110

ASUMSI HIRARKIS

Asumsi hirarkis adalah suatu anggapan bahwa norma itu berjenjang dari norma yang paling bawah hingga norma paling atas.

  1. Ada norma (nilai-nilai) dasar (al-qiyam al-asāsiyyah)
  2. Norma dasar ini memayungi norma di bawahnya yang berupa asas-asas (al-uṣūl al-kuliyyah).
  3. Asas2 memayungi norma paling bawah, yakni norma konkret yang berupa ketentuan-ketentuan syar’i yang bersifat far’i (al-aḥkām al-far’iyyah) yang langsung mengkualifikasi suatu peristiwa hukum syar’i.

71

72 of 110

Nilai-nilai dasar (al-qiyam al-asasiyah)

Al-Usul al-Kulliyah

Al-Qawaid al-Fiqhiyah an-Nazariyah al-Fiqhiyah

Al-Hukm al-Islami

72

73 of 110

Ragam Metode

Untuk menemukan norma konkret (al-aḥkām al-far’iyyah/al-hkum al-Islami) terdapat tiga ragam metode yang secara tidak langsung dipraktikkan dalam pengambilan keputusan atau fatwa tarjih.

Ragam metode dimaksud adalah

  1. metode bayani (metode interpretasi)
  2. metode kausasi/ta’lili, baik kausasi berdasarkan kausa efisien (sebab/’illat) maupun berdasarkan kausa finalis (maqāṣid asy-syarīáh).
  3. metode sinkronisasi dalam hal terjadi taarud.
  4. Penetapan dengan paratektual (pendamping), misalnya, ijma’, Qiyas, Istishab, Qoul Sahabat, Syar’un man qablana.

73

74 of 110

(1) METODE BAYANI

  • Metode bayani itu bekerja merumuskan pengetahuan hukum (wajib, sunnah, mubah, haram, dan makruh) dengan menggunakan kaidah usuliyah (Usul Fikih), kaidah fiqhiyah, dan asas-asas.
  • Metode Bayani dipergunakan untuk:
  • a) memahami dan/atau menganalisis teks guna menemukan atau mendapatkan pengetahuan hukum yang dikandung dalam, atau dikehendaki lafad.
  • b) istinbat hukum-hukum dari an-nushush ad-diniyyah, yaitu al-Qur’an dan hadis.

74

75 of 110

Dengan kata lain, metode bayani adalah sebentuk epistemologi yang menjadikan teks tertulis al-Quran dan hadis sebagai sumber utama pembentukan atau perumusan pengetahuan hukum melalui kaidah usuliyah, kaidah fiqhiyah, dan asas-asas.

75

76 of 110

  • Oleh karena bertumpu pada teks (al-Quran dan hadis) yang berbahasa Arab, maka makna lafad dan atau relasi antar lafad menjadi tumpuan utama (wajhul istidlal) metode bayani dlm merumuskan pengetahuan hukum.
  • Tahapan kerja dari metode bayani adalah mencari arti/makna lafad dan atau relasi antar lafad sesuai kaidah bahsa Arab. Dengan menemukan makna dari lafad selanjutnya dirumuskan pengetahuan hukum.

76

77 of 110

  • Dalam bahasa arab bentuk lafad itu beraneka ragam, seperti termaktub dalam kaidah usuliyah. Misalnya, ada lafad ditinjau dari makna yg diciptakannya, misalnya: lafad khas dan ’am; lafad amr dan nahi; ada lafad mutlak dan muqayyad, dan seterusnya.
  • Di samping kaidah usuliyah, dalam metode bayani juga menggunakan asas-asas dan kaidah fiqhiyah.

77

78 of 110

  • Contoh metode bayani ttg doa berbuka puasa:
  • حَدَّثَنَا مَرْوَانُ يَعْنِي ابْنَ سَالِمٍ الْمُقَفَّعَ قَالَ رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقْبِضُ عَلَى لِحْيَتِهِ فَيَقْطَعُ مَا زَادَ عَلَى الْكَفِّ وَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ (أبو داود)
  • Kpn doa ini dibaca, sebelum berbuka atau setelahnya?
  • Menurut Tarjih, doa ini dibaca setelah berbuka. Pasca berbuka ini disimpulkan dari lafad أَفْطَر yang berbentuk fi’il madhi (bentuk lampau, sudah dikerjakan), yang artinya apabila telah berbuka. Adapun doa pembuka ya membaca lafad basmallah.

79 of 110

  • Contoh metode bayani tentang penerapan kaidah hakiki dan majazi, yaitu berkaitan dengan menyentuh perempuan bg yang telah berwudhu.
  • وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا (النساء/4: 43)
  • Tarjih mengartikan Lafadلَامَسْتُمُ dengan majazi, yaitu berjima’. Sebab, lafad tsb mewakili hadas besar. Di samping itu, ayat-ayat al-Quran lainnya memaknai dengan berjima’. Karna itu, menyentuh kulit lawan jenis tidak membatalkan wudhu.

80 of 110

  • Contoh kaidah mutlak-muqayyad tentang isbal
  • عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ مِنْ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ (رواه البخارى)
  • عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلَاءَ لَمْ يَنْظُرْ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه البخارى)
  • Sebab hadis pertama dan kedua sama, yaitu sebab menutup aurat. Mahkum fih (objek) kedua hadis sama, yaitu memakai sarung/kain bagi laki-laki.
  • Menurut kaidah usuliyah, jika sebab dan mahkum fih itu sama, maka yang diberlakukan adalah yang muqayyad.
  • Berdasarkan analisis itu, Tarjih menghukumi boleh isbal dg motif tidak sombong.

81 of 110

(2) METODE KAUSASI

  • Ada dua metode kausasi ini, yaitu
  • 1). Kausau efektif, yaitu mencari ‘illat atau sebab ditetapkannya pengetahuan hukum, seperti metode qiyas, atau kaidah: al-hukmu yaduru ma’a illatihi wujudan wa ‘adaman (الحكم يدور مع علته وجودا وعدما)
  • Contoh penerapan kausa efektif ttg hadis-hadis rukyatul hilal. Menurut Tarjih, al-Quran itu menyuruh hisab dalam menentukan awal bulan qamariyah. Adanya hadis2 rukyatul hilal karena zaman Nabi belum memiliki pengetahuan ilmu hisab. Jadi, illat penggunaan rukyatul hilal itu karena belum memiliki kemampuan ilmu hisab.
  • Sekang, ilmu hisab telah berkembang dg pesat, maka menurut Tarjih, rukyatul hilal tidak berlaku lagi, yg diberlakukan adalah penggunaan ilmu hisab dalam menentukan awal bulan kamariyah

82 of 110

  • Contoh Majelis Tarjih menta’lil hadis Nabi tentang rukyatul Hilal.
  • عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ لَا تَصُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ وَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ (البخارى)
  • عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ (البخارى)

83 of 110

  • Secara tekstual, dari kedua hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa kalau memulai puasa Ramadhan harus melihat hilal (tanggal 1 Ramadhan) dan kalau melihat hilal pada tanggal 1 Syawal, maka harus berhari raya.
  • Menurut Muhammadiyah, perintah rukyatul hilal pd hadis tersebut memiliki sebab (’illat), yaitu Nabi dan sahabatnya waktu itu belum memiliki ilmu hisab atau astrotonomi.
  • Jd, sebab atau ‘illatnya adalah ilmu hisab sbg cara mengetahui perjalanan atau umur bulan belum dimiliki sehingga penentuannya dengan rukyatul hilal.

84 of 110

  • Menurut Muhammadiyah, al-Quran sendiri memerintahkan untuk menghitung perjalanan benda langit, salah satunya adalah bulan, utk keperluan memulai Ramadan/hari raya.
  • QS. Ar-Ra’du/13: 2 berpunyi:
  • وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى (الرعد/13: 2)
  • Allah menundukkan matahari dan bulan.Masing-masing beredar sesuai waktu yang ditentukan (QS. Ar-Ra’du/13; 2)
  • الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ (5الرحمن/55: 2)
  • Matahari dan bulan beredar dengan bisa dihitung peredarannya (QS. Ar-Rahman/55: 2)

85 of 110

  • Menghitung peredaran matahari dan bulan itu wilayah atau domain ilmu hisab/astrotonomi
  • Mengapa Nabi tidak melakukan dengan menghitung peredaran bulan dengan ilmu hisab jika memang al-Quran memerintahkan dengan hisab?
  • Jawabanya, karena Nabi belum memiliki ilmu hisab sesuai pengakuan Nabi sendiri:
  • سَعِيدُ بْنُ عَمْرٍو أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا يَعْنِي مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِينَ وَمَرَّةً ثَلَاثِينَ (البخارى)

86 of 110

  • Oleh karena menghitung perjalanan bulan itu domin sain, yaitu ilmu hisab, maka Muhammadiyah dalam menghitung perjalanan bulan menggunakan ilmu hisab, tidak dengan melihat hilal dengan mata kepala (rukyatul Hilal).
  • Oleh karena dengan ilmu hisab, maka Muhammadiyah jau-jauh sebelumnya telah mengumumkan kapan puasanya dimulai dan kapan berhari raya dilaksanakan.
  • Menurut perhitungan ilmu hisab Muhammadiyah, pd tahun 2024 ini dipastikan puasa jatuh pada hari Senin, tanggal 11 maret 2024.

87 of 110

  • Dlm perhitungan Pemerintah, pada hari senin tgl 10 maret hilal belum bisa dilihat oleh mata krn ketinggiannya belum 3 derajat. Meskipun demikian, pemerintah menunggu rukyatul hilal pada tanggal 10 Maret 2024. Jika pd tanggal tersebut hilal belum bisa dilihat, maka umur bulan sya’ban digenapkan sehingga kemungkinan puasa baru bisa dimulai tanggal 12 Maret 2024.

88 of 110

  • 2). Kausai finalis, yaitu menetapkan pengetahuan hukum berdasarkan kemaslahatan sesuai maqasyid syariah. Misalnya, metode penetapan maslahah mursalah, istihsan, sad dari’ah, ‘urf, dsb.
  • Contoh (maslahah mursalah): wajibnya mencatatkan peristiwa perkawinanya di KUA

89 of 110

(3) METODE SINGKRONISASI

Jika terjadi ta‘āruḍ, diselesaikan dengan urutan cara-cara sebagai berikut:

  1. Al-jam‘u wa at-taufīq, yakni sikap menerima semua dalil yang walaupun zahirnya ta‘ārud. Ada dua kemungkinan, dipadukan menjadi satu, dan ada kemungkinan dua-duanya dipakai, yang pada dataran pelaksanaan diberi kebebasan untuk memilihnya (takhyīr), yang disebut dengan tanawwu

89

90 of 110

  • Contoh dua dalil yang nampak taarud, lalu dilakukan al-Jam’u wa at-Taufiq:
  • (1) dua2nya dipakai, seperti doa iftitah
  • قَالَ أَقُولُ اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ (رواه البخارى)
  • وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنْ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِي وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ (رواه مسلم)

91 of 110

  • Contoh isi semua dalil dipakai, misalnya hadis-hadis tentang Tarawih.
  • عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي (البخارى)

92 of 110

  • عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي بِاللَّيْلِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُوتِرُ مِنْهَا بِوَاحِدَةٍ فَإِذَا فَرَغَ مِنْهَا اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْمُؤَذِّنُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ (رواه مسلم)
  • 'Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat malam sebelas rakaat, beliau akhiri dengan satu rakaat witir. Jika beliau selesai, beliau berbaring diatas lambung sebelah kanan hingga datang muadzin, lalu beliau melakukan dua rakaat (sunnah) ringan." (HR. Muslim).

93 of 110

  • عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلَاةِ اللَّيْلِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ عَلَيْهِ السَّلَام صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى (رواه البخارى)
  • Ibn Umar meriwayatkan, ada seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang shalat malam. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah ia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya."

94 of 110

  • Dari tiga hadis tersebut dapat ditarik kesimpulan:
  • 1. Shalatul Lalil, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadhan itu berjumlah 11 rakat.
  • 2. Yang dimaksud Shalat Lail itu adalah shalat tahajud dan tarawih. Shalat lail berjumlah 11 rakat di bulan Ramadan disebut dengan shalat tarawih, sedangkan shalat lail 11 rakat di luar Ramadan disebut dg tahajud.

95 of 110

  • 3. Shalat tahajut yg berjumlah 11 rakat itu pelaksanaanya dengan cara: 2, 2, 2, 2, 3 atau 2, 2, 2, 2, 2, 1
  • 4. Shalat tarawih yang berjumlah 11 rakat itu dilaksanakan dengan 4, 4, dan 3
  • Ada yg berpendapat bhw shalat lail itu berjumlah 23 rakat (termasuk witir). Info ini bersumber dari Umar b Khatab. Kalau benar, berarti jumlah 23 rakat itu berbeda dengan info dari Aisyah dan Ibn Umar seperti dalam hadis di atas, yaitu 11 rakaat.

96 of 110

  • (2) contoh dua dalil Nampak bertentangan tapi bisa disatukan.
  • (a) Dalil larangan menyentuh al-Quran kecuali dalam keadaan suci (thahir):
  • أَنْ لَا يَمَسَّ الْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ (رواه الدارقطنى)
  • (b) Dalil bahwa orang muslim itu suci meskipun dalam keadaan hadas
  • إِنَّ الْمُسْلِمَ لَا يَنْجُسُ (ابوداود)

97 of 110

  • Dua hadis tersebut sahih. Setelah ditelusuri ternyata hadis pertama terkait dengan orang nos-mulism. Artinya, lafad thahir pada hadis pertamaditujukan kpd orang non mulim yang tidak boleh menyentuh al-Quran.
  • Maksud lafad thahir tsb ditelusuri berdasarkan asbab wurud hadis.
  • عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ جَدِّهِ , أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَ إِلَى أَهْلِ الْيَمَنِ كِتَابًا وَبَعَثَ بِهِ مَعَ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ فِيهِ: «وَأَنَّ الْعُمْرَةَ الْحَجُّ الْأَصْغَرُ وَلَا يَمَسَّ الْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ (الدارقطنى)

98 of 110

  • Hadis Riwayat ad-Daruquthni tersebut dikuatkan dengan hadis lainnya:
  • عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَى أَنْ يُسَافَرَ بِالْمُصْحَفِ إِلَى أَرْضِ الْعَدُوِّ (احمد)
  • Ibnu Umar meriwayatkan: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam melarang untuk mengadakan perjalanan dengan membawa mushaf ke negeri musuh (HR. Ahmad).

99 of 110

Jika terjadi ta‘āruḍ, diselesaikan dengan urutan cara-cara sebagai berikut:

(b) At-tarjīḥ, yakni memilih dalil yang lebih kuat untuk diamalkan dan meninggalkan dalil yang lemah.

Contoh: dua dalil, yang satu membolehkan dan yang lainya melarang berdiam di masjid bagi berhadas besar (junub, haid).

99

100 of 110

  • Dalil (1): yang melarang berdiam di masjid bagi berhadas besar.
  • إِنَّ الْمَسْجِدَ لَا يَحِلُّ لِجُنُبٍ وَلَا لِحَائِضٍ (رواه ابن ماجه)
  • Dalil (2) membolehkan berdiam di masjid bagi yang berhadas
  • قَالَ بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ نَاوِلِينِي الثَّوْبَ فَقَالَتْ إِنِّي حَائِضٌ فَقَالَ إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِي يَدِكِ فَنَاوَلَتْهُ (مسلم)

101 of 110

  • Dua hadis tersebut Nampak bertentangan karena hadis yang pertama melarang bagi yang berhadas, baik haid maupun junub tidak boleh berdiam di masjid. Sedangkan hadis kedua membolehkan.
  • Setelah diteliti, ditemukan bhw hadis pertama ttg larangan berdiam di masjid dalam keadaan junub, oleh Nasrudin Albani, dinilai sebagai hadis daif. Sedangkan hadis kedua dinilai sahih.

102 of 110

  • Memperhatikan kualitas argumen masing-masing dari dua pendapat di atas, dapat dipilih argument yang lebih kuat, yaitu bahwa orang yang dalam keadaan hadas besar diperbolehkan berdiam di masjid.
  • Bagi perempuan yang sedang haid boleh berdiam di masjid dengan catatan darah haidnya tidak mengenai masjid, sedang bagi yang junub diperbolehkan untuk berdiam di masjid. 

103 of 110

c. An-naskh, yakni mengamalkan dalil yang munculnya lebih akhir.

Contoh memakan daging kurban lebih dari tiga hari

Dali :

  • عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الْأَضَاحِيِّ فَوْقَ ثَلَاثٍ فَأَمْسِكُوا مَا بَدَا لَكُمْ (رواه مسلم)
  • Awalnya dilarang kemudian dimansukh dan menjadi boleh memakan daging kurban lebih dari tiga hari.

103

104 of 110

  • عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ضَحَّى مِنْكُمْ فَلَا يُصْبِحَنَّ بَعْدَ ثَالِثَةٍ وَبَقِيَ فِي بَيْتِهِ مِنْهُ شَيْءٌ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَفْعَلُ كَمَا فَعَلْنَا عَامَ الْمَاضِي قَالَ كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا فَإِنَّ ذَلِكَ الْعَامَ كَانَ بِالنَّاسِ جَهْدٌ فَأَرَدْتُ أَنْ تُعِينُوا فِيهَا (رواه البخارى)
  • Salamah bin Al Akwa’ meriwayatkan: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Siapa saja di antara kalian yang berkurban, janganlah menyisakan daging kurban di rumahnya melebihi tiga hari." Pada tahun berikutnya orang-orang bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana yang kami lakukan pada tahun lalu?" beliau bersabda: "Makanlah daging kurban tersebut dan bagilah sebagiannya kepada orang lain serta simpanlah sebagian yang lain, sebab tahun lalu orang-orang dalam keadaan kesusahan, oleh karena itu saya bermaksud supaya kalian dapat membantu mereka (HR. al-Bukhari)

105 of 110

d. At-tawaqquf, yakni menghentikan penelitian terhadap dalil yang dipakai dengan cara mencari dalil baru.

Contoh pembahasan tentang pendekatan ‘irfani dengan makna asli ditawaqqufkan.

105

106 of 110

(4) TEKNIK PENETAPAN HUKUM

  • Penetapan hukum dengan paratektual (pendamping), misalnya:
  • 1. Penetapan hukum dengan Ijma’
  • 2. Penetapan hukum dengan Qiyas
  • 3. Penetapan hukum dengan istishab
  • 4. Penetapan hukum dengan Qaul Sahabat
  • 5. Penetapan hukum dengan Syar’un man qablana

107 of 110

Kaidah Perubahan Hukum

Dalam fikih telah diterima asas kebolehan terjadinya perubahan hukum. Bahkan ini telah dirumuskan dalam kaidah fikih dan diterima oleh para fukaha, yaitu kaidah

لا ينكر تغَير الأحكام بتغَير الأزمنة والأمكنة والأحوال

Tidak diingkari perubahan hukum karena perubahan zaman, tempat dan keadaan.

107

108 of 110

Dalam Ketarjihan Muhammadiyah secara praktik telah diakui adanya perubahan ketentuan hukum, bahkan bukan hanya ketentuan hukum ijtihadiah, tetapi juga ketentuan hukum yang ditegaskan dalam nas.

Contohnya tentang masalah kepemimpinan wanita yang dalam hadis dilarang, tetapi dalam putusan dan fatwa Tarjih dibolehkan.

Begitu pula hukum melakukan rukyat yang diperintahkan dalam hadis, tetapi Tarjih tidak lagi mengamalkan hadis itu, melainkan menggunakan hisab.

Oleh karena itu kaidah tersebut telah diterima dalam Muhammadiyah.

108

109 of 110

Hukum tentu tidak boleh asal berubah, tetapi harus ada syarat-syarat untuk dapat diubah. Menurut Syamsul Anwar, ada empat syarat yang harus dipenuhi untuk suatu hukum dapat berubah, yaitu:

  1. adanya tuntutan kemaslahatan untuk berubah, yang berarti bahwa apabila tidak ada tuntutan dan keperluan untuk berubah, maka hukum tidak dapat diubah;
  2. hukum itu tidak mengenai pokok ibadah mahdah, melainkan di luar ibadah mahdah, yang berarti ketentuan-ketentuan ibadah mahdah tidak dapat diubah karena pada dasarnya hukum ibadah itu bersifat haram;

109

110 of 110

c) hukum itu ada yang tidak bersifat qat’i . Apabila hukum itu qat’i, maka tidak dapat diubah seperti ketentuan larangan riba, makan harta sesama dengan jalan batil, larangan membunuh, larangan berzina, wajibnya puasa Ramadan, wajibnya salat lima waktu, dan sebagainya

d) perubahan baru dari hukum itu harus berlandaskan kepada suatu dalil syar’i juga, sehingga perubahan hukum itu tidak lain adalah perpindahan dari suatu dalil kepada dalil yang lain.

110