1 of 50

SALAM

&

BAHAGIA

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Damai Sejahtera, Om Swastyastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan, Rahayu untuk kita semua di ruang virtual ini"

2 of 50

REFLEKSI FILOSOFIS PENDIDIKAN�KI HADJAR DEWANTARA

ELABORASI PEMAHAMAN MODUL 1.1

Pengembang Modul: Simon P. Rafael

Selasa-Rabu, 02-03 November 2022

3 of 50

Mengenal Pengembang Modul

Simon Petrus Rafael

Timor (Kupang – NTT)

Pendidikan:

  • S1 – FKIP UKSW, Salatiga. Jawa Tengah
  • S2 – Teknologi Pendidikan, UPH

Pengalaman:

  • Penulis Modul PPGP (Filosofi KHD & Coaching) dan INS PPGP, INS CPP, INS PSP
  • Penulis Mata Kuliah “Filosofi Pendidikan Nasional” PPG Pra-Jabatan
  • Education Specialist pemetaaan Kekuatan Widyaiswara GTK Kemendikbud (2020)
  • Professional Certified Coach (PCC)
  • Pelatih dan Pendamping Program JABAR MASAGI (2019)
  • 2009 – sekarang: Pelatih Guru
  • 2001 – 2009: WaKasek Kesiswaan & Guru Bahasa dan Sastra Bahasa Inggris SMA,
  • Pembicara Pendidikan Karakter dan Pendidikan Inklusi (perspektif orang tua)

4 of 50

Mengenal INSTRUKTUR EP

5 of 50

MENYAPA

FASILITATOR & PP

Rabu, 9 September 2022

  • Sesi 2 – 15:30 – 17:00

Kab. LEBAK & PANDEGLANG

    • Dewa Ayu Trisna Yuliati
    • Ni Made Dewi Ermawati
    • MD. Mahendra Eka Purusa

6 of 50

    • Membuka diri terhadap perbedaan dalam berpendapat, bertanya dan berbagi pengalaman;
    • Semua peserta berpartisipasi aktif dalam diskusi, apabila sudah mendapatkan kesempatan bertanya dan berbagi pengalaman, maka berikan kesempatan yang sama bagi yang belum bertanya atau berbagi cerita;
    • Konsisten dengan waktu saat mempresentasikan ide, bertanya dan berbagi pengalaman.
    • Tekan ikon ‘raise hand’ bila hendak bertanya dan silahkan berbicara setelah dipersilahkan; bila ada yang sedang bicara, mohon menunggu untuk dipersilahkan
    • Semua peserta membuka video (bila terkendala jaringan, peserta boleh menutup video);
    • Chatbox digunakan sebagai media bertanya dan berbagi pendapat dan pengalaman;
    • Menjaga ketenangan ruang virtual (gmeet) dengan selalu memonitor Microphone dan Video agar proses pembelajaran menjadi kondusif dan bermakna;
    • Mohon TIDAK MEREKAM sesi Elaborasi Pemahaman lalu dibagikan di sosial Media

Bagaimana kita berinteraksi?

KOMITMEN BELAJAR

7 of 50

Tenangkan

hati dan pikiranberdamai sejenak semua beban�untuk

hadir seutuhnya di ruang belajar virtual

Hadir Seutuhnya – (Presence & Mindfulness)

Bagaimana kita berinteraksi?

8 of 50

ELABORASI PEMAHAMAN BERSAMA INSTRUKTUR

9 of 50

TUJUAN PEMBELAJARAN SESI ELABORASI PEMAHAMAN

Peserta mampu memberikan perspektif reflektif kritis tentang pemikiran (filosofi pendidikan) Ki Hadjar Dewantara dalam forum diskusi.

10 of 50

CAPAIN PEMBELAJARAN

Setelah sesi, peserta akan memiliki:

  • Pemahaman reflektif-kritis tentang dasar-dasar Pendidikan Ki Hadjar Dewantara melalui diskusi virtual dan bersama instruktur,
  • Sikap reflektif-kritis dalam merefleksikan dasar-dasar Pendidikan KHD pada konteks kelas dan sekolah

11 of 50

ALUR PRESENTASI

  • Perkenalan & Komitmen Belajar
  • Refleksi Pembuka
  • Materi
    • Dasar-Dasar Pendidikan KHD
  • Refleksi di Padlet
  • Penutup

12 of 50

MENGAPA?

SALAM

&

BAHAGIA

13 of 50

REFLEKSI PERSONAL ‘2

4 Pertanyaan Reflektif:

    • Pikirkan dan tuliskan satu pengalaman Anda terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD)?
    • Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya?
    • Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?  
    • Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dalam peran saya sebagai pendidik?

14 of 50

DASAR-DASAR PENDIDIKAN�KI HADJAR DEWANTARA

15 of 50

1. DASAR PENDIDIKAN KHD - MENUNTUN

“Maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat

(KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal.1, paragraph 4)

16 of 50

1. DASAR PENDIDIKAN KHD - MENUNTUN

“Pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak” (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal.1, paragraph 5)

17 of 50

1. DASAR PENDIDIKAN KHD – MENUNTUN

Selamat dan Bahagia sebagai manusia dan anggota masyarakat

Ing Ngarso Sung Tulodo

Ing Madyo Mangun Karso

Tut Wuri Handayani

18 of 50

2. DASAR PENDIDIKAN KHD – KODRAT ANAK - MERDEKA

Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri

Maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna untuk perikehidupan bersama ialah memerdekakan manusia sebagai bagian dari persatuan (rakyat)

(KHD – Pendidikan dan Pengajaran Nasional, Desember 1928)

19 of 50

Kodrat anak - Merdeka

Menurut ajaran KHD:

Kemerdekaan = sifat manusia berbudaya

Kemerdekaan punya 2 ciri dasar:

  • secara lahir bebas
  • secara batin mandiri

[Prakata Ketua Tim ML Taman Siswa, Buku Menuju Manusia Merdeka: p.xv]

20 of 50

2. DASAR PENDIDIKAN KHD – KODRAT ANAK - MERDEKA

Pengaruh pengajaran itu umumnya 

memerdekakan manusia atas hidupnya lahir

sedang merdekanya hidup batin 

itu terdapat dari pendidikan.

  • Merdeka batin - Pendidikan
  • Merdeka lahir – Pengajaran

�[KHD, Prasaran #5 Kongres PPPKI ke-1, Surabaya, 31 Agustus 1928]

21 of 50

2. DASAR PENDIDIKAN KHD – KODRAT ANAK - BERMAIN

  • Bermain adalah salah satu kodrat anak
  • Pikiran-Perasaan-Kemauan-Tenaga (Cipta-Rasa-Karsa/Karya-Pekerti) sudah ada pada diri anak
  • Permainan anak dapat menjadi bagian pembelajaran di sekolah

22 of 50

2. DASAR PENDIDIKAN KHD – BERMAIN

Congklak – Matematika - Strategi

Gobak Sodor –Nilai - Strategi

23 of 50

Kodrat anak - Bermain

Congklak

Gobak Sodor

BUDI

  • pikiran/kognitif (cipta)
  • perasaan/emosi-relasi (rasa)
  • kemauan/kehendak (karsa)

PEKERTI

  • tenaga/perilaku/karya/bakti (raga)

> belajar budi-pekerti ?

24 of 50

3. PENDIDIKAN YANG BERPIHAK PADA ANAK

Pokoknya pendidikan harus terletak di dalam pangkuan ibu bapak karena hanya dua orang inilah yang dapat “berhamba pada sang anak” dengan semurni-murninya dan se-ikhlas-ikhlasnya, sebab cinta kasihnya kepada anak-anaknya boleh dibilang cinta kasih tak terbatas (Karya Ki Hajar Dewantara, Pendidikan, halaman 382 – Buku Kuning)

Bebas dari segala ikatan, dengan suci hati mendekati sang anak,  bukan untuk meminta sesuatu hak, melainkan untuk berhamba pada sang anak.” (Ki Hajar Dewantara, 1922)” [Asas Taman Siswa ke-7, diparafrasakan Profesor Sardjito, Rektor Universitas Gajah Mada di penganugrahan Doktor Honoris Causa kepada Ki Hajar Dewantara di bidang Ilmu Kebudayaan, Desember 1956.]

Blog Pak Iwan Syahril: https://www.kompasiana.com/iwansyahril/5ae9d72816835f7afb296792/menuju-sistem-pendidikan-yang-berhamba-pada-sang-anak?page=all

25 of 50

3. PENDIDIKAN YANG BERPIHAK PADA ANAK

’Kowe bakale dak mulya ake selawase’

(selamanya engkau akan aku muliakan)

26 of 50

3. PENDIDIKAN YANG BERPIHAK PADA ANAK

Pemikiran tentang berhamba pada anak itu tercetus dari suatu penyesalan yang pernah dirasakan oleh Soewardi ketika menghadapi setumpuk pekerjaan yang belum terselesaikan. Tangis Asti yang tiada henti-hentinya dirasakan sebagai suatu hambatan yang mengganggu tugasnya. Lalu dengan serta merta diseretnya anak itu keluar, dan tanpa berpikir panjang, dibiarkannya Asti kecil menangis di balik hempasan pintu rumah. Salju yang berjatuhan di jendela tiba-tiba menyadarkan kekalutan pikirannya. Dia lari secepatnya, lalu dibukanya pintu . . . dan Asti sudah tampak biru, menggigil kedinginan. Soewardi menyesal, sangat menyesal. Sambil memeluk anaknya yang sedang tersengal-sengal berurai air mata itu, terucaplah kata kasih sepenuh hati: “Kowe bakale dak mulya ake selawase Arinya: “Selamanya engkau akan aku muliakan.” Tuhan mendengar kata umat-Nya. Apa yang akan terjadi, terjadilah. Asti tidak pernah dapat mengurus dirinya sendiri hingga sekarang; seluruh keluarga selalu berusaha untuk dapat melayani keperluannya. Pengalaman Soerwardi menjadi salah satu teori Pendidikan dalam perguruan yang dicita-citakan. (Irna H.N. Hadi Soewita, Soewardi Soerjaningrat dalam Pengasingan, 2019, hal.95-96)

27 of 50

NI ASTI

28 of 50

3. PENDIDIKAN YANG BERPIHAK PADA ANAK

untuk berhamba pada sang anak. – Pendidikan yang Berpihak/Berpusat pada Murid

29 of 50

4. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUKAN TABULA RASA

“Anak bukan kertas kosong yang bisa digambar sesuai keinginan orang dewasa”

Anak lahir dengan kekuatan kodrat yang masih samar-samar. Tujuan Pendidikan adalah menuntun (memfasilitasi/membantu) anak untuk menebalkan garis samar-samar agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya. (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan)

Pertanyaannya: bagaimana menebalkannya?

30 of 50

4. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUKAN TABULA RASA

Menebalkan laku anak dengan kekuatan konteks diri anak dan sosio-kultural/budaya

31 of 50

4. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUKAN TABULA RASA

Menebalkan laku anak dengan kekuatan konteks diri anak:

Ekplorasi pengalaman (raga, indra, imaginasi) – Taman Indria

Mengenal & menguasai Teks

Memperdalam & memperluas Konteks (keterampilan bertanya)

Tingkat SMA: orientasi pilihan hidup/ passion

SD 1 - 3

Pengenalan Riset/Proyek

durasi pendek (1 minggu,

dapat berkelompok)

≥ 4 SD

Riset durasi semakin panjang (1 smt)

Dilakukan mandiri/ kolaborasi

5/10 ke depan

PAUD

Tahapan Pembelajaran Sanggar Anak Alam - Yogyakarta

PELAJAR MANDIRI

WIRAGA-WIRAMA (8-16 Tahun)

WIRAMA

16 - 24Tahun)

WIRAGA (0-8 Tahun)

WIRAGA-WIRAMA (8-16 Tahun)

32 of 50

4. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUKAN TABULA RASA

Menebalkan laku anak dengan kekuatan konteks diri anak:

33 of 50

4. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUKAN TABULA RASA

Menebalkan laku anak dengan kekuatan konteks sosio-kultural:

1. Menebalkan laku anak dalam sosial budaya MANGGARAI:

Toing – Titong - Toming

ToingMengajar, TitongMenuntun, Toming - Teladan

2. Menebalkan laku anak dalam sosial budaya Jawa Barat:

Niti Surti – Niti Harti – Niti Bukti – Niti Bhakti 🡪 Niti Jadi (Sajatining Ngahurip)

3. Menebalkan laku anak dalam sosial budaya Bali:

Tri Hita Karana: 3 Asal Kebahagiaan (harmoni dengan Tuhan, Manusia dan Alam)

34 of 50

4. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUKAN TABULA RASA

Menebalkan laku anak dengan kekuatan konteks sosio-kultural:

4. Menebalkan laku anak dalam sosial budaya Orang Tulang Bawang Barat

NeNeMo (Nemen: kerja keras, Nedes: Ulet, Tangguh Sabar; Nerimo: Ikhlas ) – orang Tulang Bawang Barat

5. Menebalkan laku anak dalam sosial budaya Orang Biak - Papua

Mambri (baik, bijak, pemberani dalam berbuburu, melaut dan mengatur strategi) & Binsyowi (murah hati dan penuh kasih sayang kepada semua orang)

6. Menebalkan laku anak dalam sosial budaya Madura:

Petuah dalam Budaya Madura (Baburughan Becce’) :

Tiga perkara yang harus dimiliki oleh orang Madura:

1) kasih sayang; 2) hati yang bersih; 3) jujur

35 of 50

Sosio kultural

“KHD berpesan, pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan. Pada hal ini, kebudayaan dan pendidikan adalah satu kesatuan yang utuh.

Kebudayaan yang dimaksud adalah sebuah peradaban, sebuah cita-cita masyarakat yang ingin kita bentuk sebagai sebuah bangsa, mimpi kita sebagai bangsa, itu semua kita semaikan benihnya, kita mulai kerjakan, dari apa yang kita kerjakan di pendidikan.”

_______________________________________________

Refleksi Dirjen GTK Iwan Syahril atas pemikiran KHD

36 of 50

5. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUDI PEKERTI

Budi pekerti, watak, karakter adalah bersatunya (perpaduan harmonis) antara gerak, pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga/semangat(KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal.6, paragraph 3)

Budi: pikiran-perasaan-kehendak/kemauan

Pekerti: tenaga

Cipta + Rasa + Karsa/Karya + Pekerti (tenaga) 🡪 Keseimbangan (keselarasan) Hidup

Contohnya pada permainan Gamelan & Menenun

37 of 50

5. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUDI PEKERTI

38 of 50

5. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUDI PEKERTI

39 of 50

5. DASAR PENDIDIKAN KHD – BUDI PEKERTI

Cipta + Rasa + Karsa/Karya + Pekerti (tenaga) 🡪 Keseimbangan (keselarasan) Hidup

40 of 50

. . .seorang petani (dalam hakikatnya sama kewajibannya dengan seorang pendidik) yang menanam jagung misalnya, hanya dapat menuntun tumbuhnya jagung, ia dapat memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman jagung, memberi pupuk dan air, membasmi ulat-ulat atau jamur-jamur yang mengganggu hidup tanaman padi dan lain sebagainya. (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan, hal.2, paragraph 1)

6. DASAR PENDIDIKAN KHD – PETANI

41 of 50

6. DASAR PENDIDIKAN KHD – TUKANG KEBUN KEHIDUPAN

42 of 50

6. DASAR PENDIDIKAN KHD – TUKANG KEBUN KEHIDUPAN

43 of 50

6. DASAR PENDIDIKAN KHD – TUKANG KEBUN KEHIDUPAN

44 of 50

6. DASAR PENDIDIKAN KHD – TUKANG KEBUN KEHIDUPAN

45 of 50

6. DASAR PENDIDIKAN KHD – TUKANG KEBUN KEHIDUPAN

46 of 50

“Maksud pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat”

Ki Hadjar Dewantara

Pendidikan Abad XXI

Menuntun

Kolaborasi, Kritis-Reflektif, Komunikasi, Kreatif, Inovatif

Selamat dan Bahagia

Wellbeing

7. RELEVANSI FILOSOFIS PENDIDIKAN KHD – PESAN KUNCI

47 of 50

7. REFLEKSI FILOSOFIS PENDIDIKAN KHD – PESAN KUNCI

Masa Lampau – Pendidikan yang Menuntun

Masa Kini – Pendidikan Gotong Royong (Kolaboratif – Reflektif – Kritis)

Masa Depan – murid Humanis (penuh kasih sayang, hati yang bersih, jujur) yang Selamat & Bahagia (student wellbeing)

48 of 50

  1. “Guru dan murid berkolaborasi untuk menginisiasi/menciptakan kedalaman (rasa takdjub dan kasmaran) spiritual, intelektual dan sosial untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia(Pengembang Modul 1.1)
  1. Siswa dan guru merdeka belajar yang berkolaborasi bersama menggali dan mengembangkan potensi siswa dan mengakomodasi karakteristik masing-masing untuk mewujudkan student wellbeing (Ngakan Putu Suarjana (Pengawas) – Dinas Pendidkan Karangasem, Bali

(catatan: kata wellbeing dalam bahasa KHD – Selamat dan Bahagia; di Program Gubernur Jawa Barat, Jabar Masagi disebut BAGDJA)

8. REFLEKSI FILOSOFIS PENDIDIKAN KHD – PESAN KUNCI

49 of 50

REFLEKSI PERSONAL – PADLET 15’

4 Pertanyaan Reflektif:

    • Pikirkan dan tuliskan satu pengalaman Anda terkait proses pembelajaran yang merefleksikan (mencerminkan) pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD)?
    • Bagaimana perwujudan ‘menuntun’ yang saya lihat dalam konteks sosial budaya di daerah saya?
    • Mengapa Pendidikan Indonesia perlu mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman?  
    • Apa relevansi pemikiran KHD “Pendidikan yang berhamba (berpihak) pada anak” dalam peran saya sebagai pendidik?

50 of 50

PENDIDIKAN ADALAH MENUNTUN KEKUATAN KODRAT ANAK

KI HADJAR DEWATARA

TERIMA KASIH � �SALAM & BAHAGIA�