1 of 35

PSIKOSEKSUAL

dr. Engelberta Pardamean, Sp.KJ

KULIAH ILMU KEDOKTERAN JIWA

Fakultas Kedokteran-UKI Blok 22

2 of 35

SEKSUALITAS

  • Seksualitas dalam arti yang luas adalah semua aspek badaniah, psikologik, dan kebudayaan yang berhubungan langsung dengan seks dan hubungan seks manusia.

  • Dengan demikian, seksualitas dipengaruhi oleh faktor bio-psiko-sosial-kultural.

    • Seks merupakan sesuatu hal yang masih dianggap ‘tabu’ untuk dibicarakan.

3 of 35

SEKSUALITAS

  • Faktor Biologik:

Seksualitas merupakan proses kompleks yang melibatkan banyak sistem tubuh, antara lain:

  1. Sistem Saraf
  2. Sistem Pembuluh Darah
  3. Sistem Hormonal

4 of 35

SEKSUALITAS

  • Faktor Psikologik:

Seksualitas juga melibatkan:

  1. Emosi
  2. Kepribadian
  3. Hubungan interpersonal

  • Faktor Sosial:

Seksualitas juga dipengaruhi oleh:

  1. Lingkungan sosial
  2. Keluarga
  3. Kepercayaan atau Agama

5 of 35

SEKSUALITAS

  • Gangguan pada faktor-faktor tersebut dapat mengakibatkan disfungsi seksual.
  • Pendekatan terhadap masalah-masalah seksualitas haruslah bersifat holistik.
  • Apabila hanya dititikberatkan pada salah satu aspek saja, maka akan terjadi gangguan keseimbangan.

6 of 35

PSIKOSEKSUAL

  • Psikoseksual berarti perkembangan dan fungsi kepribadian yang dipengaruhi oleh instink seksualitas seseorang.
  • Orientasi dalam perilaku psikoseksual manusia dapat dikelompokkan dalam 3 kategori:
  • Perilaku Heteroseksual
  • Perilaku Homoseksual
  • Perilaku Biseksual

7 of 35

PSIKOSEKSUAL

  • Perilaku Heteroseksual:

Perilaku psikoseksual dengan orientasi psikoseksual yang optimal, artinya minat seksual tertuju pada pasangan lain jenis dewasa.

  • Sangat dipengaruhi oleh:
    • aspek genetik
    • pola asuh
    • pergaulan
    • kemulusan perkembangan tahapan psiko-seksual terdahulu

8 of 35

PSIKOSEKSUAL

  • Perilaku Homoseksual:

Suatu orientasi seksual dimana pasangan homoseksual tertarik dan terangsang bukan terhadap lawan jenisnya melainkan terhadap sesama jenis.

  • Perilaku demikian dapat terjadi oleh berbagai sebab:

1. Faktor biologis: genetik, gangguan hormonal, dll.

2. Faktor psikodinamika: gangguan perkembangan

psikoseksual pada masa kanak-kanak.

9 of 35

PSIKOSEKSUAL

3. Faktor sosio-kultural:

Kebudayaan setempat yang memperbolehkan

perilaku homoseksual.

10 of 35

PSIKOSEKSUAL

  • Perilaku Biseksual:

Suatu perilaku psikoseksual yang menempatkan dua jenis kelamin sebagai obyek seksual dalam valensi yang seolah berimbang.

  • Pada dasarnya penderita biseksual analog dengan penderita homoseksual, hanya pada penderita biseksual oleh karena berbagai sebab mampu menempatkan pertimbangan status sosial sebagai pengendali dorongan homo-seksualnya.

11 of 35

GANGGUAN PSIKOSEKSUAL

  • Disfungsi seksual pada pria:
  • Hiposeksualitas: hasrat atau keinginan yang kurang untuk melakukan hubungan seks.
  • Impotensi: ketidakmampuan penis untuk ereksi.
  • Ejakulasi dini: pencapaian orgasme dan ejakulasi tidak pada waktunya, terlampau cepat atau sebelum dikehendaki.

12 of 35

GANGGUAN PSIKOSEKSUAL

    • Ejakulasi lambat: sulit ejakulasi
    • Anorgasme: tidak dapat orgasme. Gangguan ini jarang terjadi pada laki-laki
    • Hiperseksualitas: Satyriasis.

13 of 35

GANGGUAN PSIKOSEKSUAL

  • Disfungsi seksual pada wanita:
  • Hiposeksualitas: hasrat atau keinginan yang kurang untuk melakukan hubungan seks.
  • Frigiditas: dingin dalam hubungan seks.
  • Fobia seksualis: ketakutan dan kecemasan dalam berhubungan seks.
  • Vaginismus: kontraksi seluruh otot dasar panggul
  • Dispareunia: nyeri saat senggama

14 of 35

GANGGUAN PSIKOSEKSUAL

    • Anorgasme: tidak dapat orgasme. Sering terjadi pada wanita, hampir selalu didasari oleh gangguan psikologis.
    • Hiperseksualitas: Nimfomania

15 of 35

GANGGUAN PSIKOSEKSUAL MENURUT PPDGJ III

  • 1. Gangguan Identitas Jenis Kelamin:

a. Transseksualisme

b. Transvestisme Peran Ganda

c. Gangguan Identitas Jenis Kelamin Masa Kanak

d. Gangguan Identitas Jenis Kelamin Lainnya

e. Gangguan Identitas Jenis Kelamin YTT

16 of 35

GANGGUAN PSIKOSEKSUAL MENURUT PPDGJ III

  • 2. Gangguan Preferensi Seksual:

a. Fetishisme b. Transvestisme fetishistik c. Ekshibisionisme

d. Voyeurisme e. Pedofilia

f. Sadomasokisme

g. Gangguan preferensi seksual multipel

h. Gangguan preferensi seksual lainnya

i. Gangguan preferensi seksual YTT

17 of 35

GANGGUAN PSIKOSEKSUAL MENURUT PPDGJ III

  • 3. Gangguan psikologis dan perilaku yang ber-hubungan dengan perkembangan dan orientasi seksual:

a. Gangguan maturitas seksual

b. Orientasi seksual egodistonik

c. Gangguan hubungan seksual

d. Gangguan perkembangan psikoseksual lainnya

e. Gangguan perkembangan psikoseksual YTT

18 of 35

GANGGUAN IDENTITAS JENIS KELAMIN

  • TRANSSEKSUALISME:
  • Adanya suatu hasrat untuk hidup dan diterima sebagai anggota dari kelompok lawan jenisnya, biasanya disertai perasaan risih atau ketidakserasian dengan anatomi seksualnya.
  • Adanya keinginan untuk mendapatkan terapi hormonal dan pembedahan untuk membuat tubuhnya semirip mungkin dengan jenis kelamin yang diinginkan.

19 of 35

GANGGUAN IDENTITAS JENIS KELAMIN

  • TRANSVESTISME PERAN GANDA:
  • Mengenakan jenis pakaian dari lawan jenisnya sebagai bagian dari eksistensi dirinya untuk menikmati sejenak pengalaman sebagai anggota lawan jenisnya.
  • Tanpa hasrat untuk mengubah jenis kelamin secara lebih permanen atau untuk diikuti dengan tindakan bedah.
  • Tidak ada kepuasan seksual yang menyertai pemakaian pakaian lawan jenis tersebut, yang membedakan gangguan ini dari Transvestisme Fetishistik.

20 of 35

GANGGUAN IDENTITAS JENIS KELAMIN

  • GANGGUAN IDENTITAS JENIS KELAMIN MASA KANAK:
  • Tampak 1x pada masa dini kanak (dan selalu sebelum pubertas), ditandai oleh stres yang dalam dan permanen tentang jenis kelaminnya, bersamaan dengan hasrat untuk menjadi (atau keteguhan bahwa dirinya adalah) lawan jenisnya.
  • Terdapat kecenderungan yang menetap terhadap pakaian atau aktivitas lawan jenisnya dan / atau penolakan terhadap jenis kelaminnya sendiri.
  • Diagnosis ini membutuhkan adanya gangguan yang mencolok dari perasaan yang normal sebagai laki-laki atau perempuan; hanya ada perilaku tomboi pada anak perempuan atau perilaku seperti anak perempuan pada anak laki-laki saja tidak cukup.

21 of 35

GANGGUAN PREFERENSI SEKSUAL

  • FETISHISME:
  • Pengandalan pada benda mati (non-living object) sebagai suatu stimulus yang dapat membangkitkan gairah seksual dan memberikan kepuasan seksual.
  • Banyak objek fetish merupakan ekstensi dari tubuh manusia, seperti pakaian atau sepatu.
  • Beberapa contoh lain yang lazim ditandai oleh beberapa bentuk atau wujud tertentu seperti karet, plastik, atau kulit.

22 of 35

GANGGUAN PREFERENSI SEKSUAL

  • TRANSVESTISME FETISHISTIK:

Mengenakan pakaian dari lawan jenis dengan tujuan untuk mencapai kepuasan seksual.

  • Transvestisme fetishistik dibedakan dari transvestisme transseksual oleh adanya hubungan yang jelas dalam membangkitnya gairah seksual dan keinginan / hasrat yang kuat untuk melepaskan baju tersebut apabila orgasme sudah terjadi dan gairah seksual menurun.
  • Adanya riwayat transvestisme fetishistik biasanya dilaporkan sebagai suatu fase awal oleh para penderita transseksualisme dan mungkin merupakan suatu stadium dalam perkembangan transseksualisme pada kasus demikian.

23 of 35

GANGGUAN PREFERENSI SEKSUAL

  • EXHIBISIONISME:
  • Kecenderungan yang berulang atau menetap untuk memamerkan alat kelamin kepada orang asing (biasanya lawan jenis) atau kepada orang banyak di tempat umum, tanpa ajakan atau niat untuk berhubungan lebih akrab.
  • Biasanya, tetapi tidak selalu, terdapat kepuasan seksual pada saat memamerkan dan aksi ini lazim diikuti dengan masturbasi.

24 of 35

GANGGUAN PREFERENSI SEKSUAL

  • VOYEURISME:
  • Suatu kecenderungan yang berulang atau menetap untuk melihat orang yang sedang berhubungan seksual atau berperilaku intim seperti sedang menanggalkan pakaian.
  • Hal ini biasanya menjurus kepada pemuasan seksual dan masturbasi yang dilaksanakan tanpa orang yang diintip menyadarinya.

25 of 35

GANGGUAN PREFERENSI SEKSUAL

  • PEDOFILIA:
  • Preferensi seksual terhadap anak-anak, biasanya pra-pubertas atau awal masa pubertas.
  • Beberapa pedofilis tertarik hanya pada anak perempuan, yang lainnya hanya pada anak laki-laki, yang lain lagi menyukai keduanya.

26 of 35

GANGGUAN PREFERENSI SEKSUAL

  • SADOMASOKISME:

Suatu preferensi terhadap aktivitas seksual yang meliputi pengikatan atau menimbulkan rasa sakit atau penghinaan.

  • Jikalau individu lebih suka untuk menjadi resipien dari perangsangan demikian, maka disebut masokisme, jika sebagai pelaku disebut sadisme.
  • Seringkali individu memperoleh kepuasan seksual dari kedua aktivitas, baik sadisme maupun masokisme.

27 of 35

GANGGUAN PREFERENSI SEKSUAL

  • GANGGUAN PREFERENSI SEKSUAL MULTIPEL:
  • Kadang-kadang lebih dari satu gangguan preferensi seksual terjadi pada seseorang dan tidak satu pun lebih diutamakan daripada yang lainnya.
  • Kombinasi yang paling sering adalah fetishisme, transvestisme, dan sadomasokisme.

28 of 35

GANGGUAN PREFERENSI SEKSUAL

  • GANGGUAN PREFERENSI SEKSUAL LAINNYA:
  • Suatu varietas dari pola lain pada preferensi dan aktivitas seksual mungkin terjadi, yang masing-masing relatif tidak lazim.
  • Ini mencakup kegiatan seperti melakukan panggilan telepon cabul, menggosok-menempel pada orang untuk stimulasi seksual di tempat umum yang ramai (frotteurisme), aktivitas seksual dengan binatang, menggunakan cekikan atau anoksia untuk mengintensifkan kepuasan seksual, dan kesukaan terhadap partner dengan cacat badan tertentu seperti tungkai yang diamputasi.

29 of 35

GANGGUAN PSIKOLOGIS DAN PERILAKU YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERKEM-BANGAN DAN ORIENTASI SEKSUAL

  • GANGGUAN MATURITAS SEKSUAL:
  • Individu menderita karena ketidakpastian tentang identitas jenis kelamin atau orientasi seksualnya, yang menimbulkan kecemasan atau depresi.
  • Paling sering terjadi pada remaja yang tidak tahu pasti apakah mereka homoseksual, heteroseksual atau biseksual dalam orientasi, atau pada individu yang sesudah suatu periode orientasi seksual yang tampak stabil, seringkali setelah hubungan yang berlangsung lama, ternyata menemukan bahwa dirinya mengalami perubahan orientasi seksual.

30 of 35

  • ORIENTASI SEKSUAL EGODISTONIK:

Identitas jenis kelamin atau preferensi seksual tidak diragukan, tetapi individu mengharapkan yang lain, disebabkan oleh gangguan psikologis dan perilaku, dan mungkin mencari pengobatan untuk mengubahnya.

  • GANGGUAN HUBUNGAN SEKSUAL:

Abnormalitas identitas jenis kelamin atau preferensi seksual merupakan penyebab kesulitan dalam membentuk atau memelihara hubungan dengan partner seksual.

31 of 35

TERAPI

  • Untuk pengobatan kelainan seksual perlu diketahui psikodinamikanya.
  • Bila primer atau psikogenik, maka psiko-terapi sangat penting, dapat dibantu dengan obat psikotropik untuk menghilangkan gangguan emosi yang menyertainya.
  • Bila sekunder maka gangguan primer yang mengakibatkannya harus diobati.

32 of 35

TERAPI

  • Oleh karena itu, disamping pengobatan secara medis, juga perlu dilakukan pendekatan psikologik, seperti terapi perilaku, konseling, dan sebagainya.
  • Terutama yang sangat dibutuhkan oleh penderita adalah komunikasi dan dukungan dari pasangannya.

33 of 35

PENUTUP (1)

  • Seksualitas mencakup faktor bio-psiko-sosial-kultural. Dengan demikian pendekatan terhadap masalah-masalah seksual haruslah bersifat holistik.
  • Adanya gangguan pada faktor bio-psiko-sosial-kultural tersebut dapat mengakibatkan disfungsi seksual.

34 of 35

PENUTUP (2)

  • Seksualitas yang abnormal ialah apabila perilaku seksual sudah mengganggu dirinya sendiri atau orang lain (patnernya atau masyarakat), yang dapat berupa gangguan pada kemampuan seksual atau pada arah tujuan dorongan seksual.
  • Dengan psikoterapi: suportif atau analitik, secara perorangan atau kelompok, terapi perilaku atau kognitif disertai dengan bimbingan dan penyuluhan 🡪 dapat banyak membantu penderita menghilangkan atau paling sedikit mengurangi gangguannya dan menenangkannya.

35 of 35

The End