1 of 41

2 of 41

3 of 41

Bonus Demografi 2035 dan Visi Indonesia Emas 2045

Perubahan masa depan yang semakin sulit diprediksi

Permasalahan mutu pendidikan: Karakter, Literasi, Numerasi, HOTS, Ketimpangan Mutu Pendidikan

Kompetensi masa depan

4 of 41

Kompetensi Masa Depan

BERFIKIR KRITIS

KREATIVITAS

KOLABORATIF

KOMUNIKATIF

PENGUASAAN TEKNOLOGI

KARAKTER MULIA

MINDFULL

MEANINGFULL JOYFULL

5 of 41

6 of 41

7 of 41

8 of 41

9 of 41

CURHATAN MURID

Sekolah itu rutinitas dan formalitas doang

10 of 41

11 of 41

12 of 41

13 of 41

14 of 41

15 of 41

16 of 41

“Pembelajaran

Mendalam

merupakan

pendekatan

yang memuliakan dengan menekankan

pada

penciptaan suasana belajar dan proses

pembelajaran berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan ( joyful) melalui olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), dan olah raga (kinestetik) secara holistik dan terpadu“. (Puskurjar;2025)

17 of 41

Konsep Ki Hadjar Dewantara jika dikaitkan dengan

pembelajaran mendalam :

  1. Siswa sebagai pusat pembelajaran: Keduanya mengutamakan kebutuhan dan karakter siswa, dengan pendekatan yang relevan dan memfasilitasi eksplorasi pribadi.
  2. Pembelajaran kontekstual: Menekankan pentingnya menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata agar lebih bermakna.
  3. Karakter dan kolaborasi: Fokus pada pengembangan karakter siswa dan kolaborasi antar siswa untuk memperdalam pemahaman.
  4. Refleksi dan kesadaran: Keduanya mendorong siswa untuk lebih sadar dan reflektif dalam proses belajar.

18 of 41

Pembelajaran Mendalam sebagai Solusi

Pembelajaran

Mendalam

Olah Pikir

Olah Hati

Olah Rasa

mewujudkan

Profil Lulusan (8 Dimensi)

Olah Raga

Berkesadaran

Bermakna

Menggembirakan

Puskurjar 2025

19 of 41

Elemen Ekosistem

Puskurjar 2025

20 of 41

Transformasi Peran Guru dalam Ekosistem PM

Peran guru yang berubah di ekosistem pembelajaran mendalam. Sebelumnya, guru berada di posisi terbawah, dengan arahan dari pemerintah pusat , pemerintah daerah dan kepala sekolah. (Diagram kiri)

Guru sebagai Activator

Guru sebagai Collaborator

Guru sebagai Culture Builder

Dalam transformasi peran guru dalam ekosistem PM: guru menjadi pusat ekosistem, mendukung dan bekerja sama dengan kepala sekolah, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat.

Puskurjar 2025

21 of 41

KERANGKA KERJA PEMBELAJARAN MENDALAM

Puskurjar 2025

22 of 41

Kerangka Pembelajaran

  • Praktik Pedagogis

Strategi mengajar yang dipilih guru untuk mencapai

tujuan belajar dalam mencapai dimensi profil lulusan. Untuk mewujudkan pembelajaran mendalam guru berfokus pada pengalaman belajar peserta didik yang autentik, mengutamakan praktik nyata, mendorong keterampilan berpikir tingkat tinggi dan kolaborasi.

  • Pemanfaatan Teknologi Digital

Pemanfaatan teknologi digital juga memegang

peran penting sebagai katalisator untuk menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif, kolaboratif, dan kontekstual. Tersedianya beragam sumber belajar menjadi peluang menciptakan pengetahuan bermakna pada peserta didik.

Lingkungan Pembelajaran

Lingkungan pembelajaran menekankan integrasi

antara ruang fisik, ruang virtual, dan budaya belajar untuk mendukung pembelajaran

mendalam. Ruang fisik dan virtual dirancang

fleksibel sebagai tempat yang mendorong kolaborasi, refleksi, eksplorasi, dan berbagi ide, sehingga dapat mengakomodasi berbagai gaya belajar peserta didik dengan optimal.

Kemitraan Pembelajaran

Kemitraan pembelajaran (learning partnerships)

membentuk hubungan yang dinamis antara guru, peserta didik, orang tua, komunitas, dan mitra profesional. Pendekatan ini memindahkan kontrol pembelajaran dari guru saja menjadi kolaborasi bersama.

Puskurjar 2025 2

23 of 41

PENGALAMAN BELAJAR

Puskurjar 2025

24 of 41

Prinsip Pembelajaran

Berkesadaran

Pengalaman belajar peserta didik yang diperoleh ketika mereka memiliki kesadaran untuk menjadi pembelajar yang aktif dan mampu meregulasi diri. Peserta didik memahami tujuan pembelajaran, termotivasi secara intrinsik untuk belajar, serta aktif mengembangkan strategi belajar untuk mencapai tujuan.

Puskurjar 2025

Bermakna

Peserta didik dapat menerapkan pengetahuannya ke dalam situasi nyata. Proses belajar peserta didik tidak hanya sebatas memahami informasi/ penguasaan konten, namun berorientasi pada kemampuan mengaplikasi pengetahuan.

Menggembirakan

Pembelajaran yang menggembirakan merupakan suasana belajar yang positif, menantang, menyenangkan, dan memotivasi. Rasa senang dalam belajar membantu peserta didik terhubung secara emosional, sehingga lebih mudah memahami, mengingat, dan menerapkan pengetahuan.

16

25 of 41

8

Dimensi Profil Lulusan

1. Keimanan dan Ketakwaan

terhadap Tuhan YME

Individu yang memiliki keyakinan teguh akan keberadaan Tuhan serta menghayati nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

3. Penalaran Kritis

Individu yang mampu berpikir secara logis, analitis, dan reflektif dalam memahami, mengevaluasi, serta memproses informasi untuk menyelesaikan masalah.

2. Kewargaan

Individu yang memiliki rasa cinta tanah air, mentaati aturan dan norma sosial dalam kehidupan bermasyarakat,

memiliki kepedulian, tanggungjawab sosial, serta berkomitmen untuk menyelesaikan masalah nyata yang terkait keberlanjutan manusia dan lingkungan.

4. Kreativitas

Individu yang mampu berpikir secara inovatif, fleksibel, dan orisinal dalam mengolah ide atau informasi untuk menciptakan solusi yang unik dan bermanfaat.

5. Kolaborasi

Individu yang mampu bekerja sama secara efektif

dengan orang lain secara gotong royong untuk mencapai tujuan bersama melalui pembagian peran dan tanggung jawab.

6. Kemandirian

Individu yang mampu bertanggung jawab atas

proses dan hasil belajarnya sendiri dengan menunjukkan kemampuan untuk mengambil inisiatif,

mengatasi hambatan, dan menyelesaikan tugas secara tepat tanpa bergantung pada orang lain.

7. Kesehatan

Individu yang memiliki fisik yang prima, bugar, sehat,

dan mampu menjaga keseimbangan kesehatan mental dan fisik untuk mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin (well-being).

8. Komunikasi

Individu yang memiliki kemampuan komunikasi intrapribadi untuk melakukan refleksi dan antarpribadi untuk menyampaikan ide, gagasan, dan informasi baik lisan maupun tulisan serta berinteraksi

secara efektif dalam berbagai situasi.

26 of 41

27 of 41

Berkarakter Mulia

28 of 41

29 of 41

30 of 41

31 of 41

32 of 41

33 of 41

34 of 41

35 of 41

36 of 41

37 of 41

38 of 41

39 of 41

40 of 41

Tujuh penyebab kegagalan Sekolah mengembangkan Institusinya sebagai Lembaga Pendidikan:

1. Kompetensi kepemimpinan yang lemah, tidak memiliki visi yang jelas atau bawahan kesulitan memahaminya, kepemimpinan kurang transformasional sehingga kesulitan melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap perkembangan kemajuan. 2. Guru yang enggan berubah, takut berubah sebab identik dengan menambah beban pekerjaan, Guru menikmati zona nyaman menunaikan tugasnya hanya mengajar tanpa melakukan pembimbingan, melatih bahkan mendampingi muridnya sehinga nyaris tidak tersentuh pengembangan bakat minat siswa apalagi memberikan solusi atas kesulitan belajar yang dhadapi Murid. 3. Hubungan komunikasi sosial yang kurang sehat bahkan karakter GTK yang toxic, sulit bekerjasama dalam program pengembangan sekolah dengan berulah menjatuhkan tanpa kontribusi positif apalagi bersifat solutif, persaingan tidak sehat dan tidak menunjang peningkatan kualitas kinerja individu maupun tim kerja sekolah. 4. Peran serta Wali Murid untuk peduli terhadap perkembangan anaknya dalam meningkatkan prestasi belajar dan karakter yang tercermin pada tingkah laku serta tutur kata dalam kehidupan sehari-hari, kepedulian Wali Murid terhadap pendidikan anaknya dalam keluarga dapat mempengaruhi kesadaran kerjasama mengembangkan program sekolah. 5. Daya dukung sarana prasarana sekolah dalam menunjang peningkatan prestasi belajar Murid baik akademik maupun akademik perlu dilakukan secara terencana dan tercukupi berdasarkan kebutuhan serta skala prioritas. 6. Kurang memberikan kesempatan seluas-luasnya agar seluruh Warga Sekolah dapat meningkatkan kompetensinya sesuai dengan bidang keahlian, bakat dan minatnya, baik melalui Diklat, In House Trining, Pengembangan Diri, Kegiatan Kolektif serta kesempatan berkompetisi diluar sekolah.

7. Terbatasnya akses teknologi dan informasi yang bermutu serta mampu menunjang peningkatan kinerja Guru dan Tenaga Pendidikan.

41 of 41