Bonus Demografi 2035 dan Visi Indonesia Emas 2045
Perubahan masa depan yang semakin sulit diprediksi
Permasalahan mutu pendidikan: Karakter, Literasi, Numerasi, HOTS, Ketimpangan Mutu Pendidikan
Kompetensi masa depan
Kompetensi Masa Depan
BERFIKIR KRITIS
KREATIVITAS
KOLABORATIF
KOMUNIKATIF
PENGUASAAN TEKNOLOGI
KARAKTER MULIA
MINDFULL
MEANINGFULL JOYFULL
CURHATAN MURID
Sekolah itu rutinitas dan formalitas doang
“Pembelajaran
Mendalam
merupakan
pendekatan
yang memuliakan dengan menekankan
pada
penciptaan suasana belajar dan proses
pembelajaran berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan ( joyful) melalui olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), dan olah raga (kinestetik) secara holistik dan terpadu“. (Puskurjar;2025)
Konsep Ki Hadjar Dewantara jika dikaitkan dengan
pembelajaran mendalam :
Pembelajaran Mendalam sebagai Solusi
Pembelajaran
Mendalam
Olah Pikir
Olah Hati
Olah Rasa
mewujudkan
Profil Lulusan (8 Dimensi)
Olah Raga
Berkesadaran
Bermakna
Menggembirakan
Puskurjar 2025
Elemen Ekosistem
Puskurjar 2025
Transformasi Peran Guru dalam Ekosistem PM
Peran guru yang berubah di ekosistem pembelajaran mendalam. Sebelumnya, guru berada di posisi terbawah, dengan arahan dari pemerintah pusat , pemerintah daerah dan kepala sekolah. (Diagram kiri)
Guru sebagai Activator
Guru sebagai Collaborator
Guru sebagai Culture Builder
Dalam transformasi peran guru dalam ekosistem PM: guru menjadi pusat ekosistem, mendukung dan bekerja sama dengan kepala sekolah, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat.
Puskurjar 2025
KERANGKA KERJA PEMBELAJARAN MENDALAM
Puskurjar 2025
Kerangka Pembelajaran
Strategi mengajar yang dipilih guru untuk mencapai
tujuan belajar dalam mencapai dimensi profil lulusan. Untuk mewujudkan pembelajaran mendalam guru berfokus pada pengalaman belajar peserta didik yang autentik, mengutamakan praktik nyata, mendorong keterampilan berpikir tingkat tinggi dan kolaborasi.
Pemanfaatan teknologi digital juga memegang
peran penting sebagai katalisator untuk menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif, kolaboratif, dan kontekstual. Tersedianya beragam sumber belajar menjadi peluang menciptakan pengetahuan bermakna pada peserta didik.
Lingkungan Pembelajaran
Lingkungan pembelajaran menekankan integrasi
antara ruang fisik, ruang virtual, dan budaya belajar untuk mendukung pembelajaran
mendalam. Ruang fisik dan virtual dirancang
fleksibel sebagai tempat yang mendorong kolaborasi, refleksi, eksplorasi, dan berbagi ide, sehingga dapat mengakomodasi berbagai gaya belajar peserta didik dengan optimal.
Kemitraan Pembelajaran
Kemitraan pembelajaran (learning partnerships)
membentuk hubungan yang dinamis antara guru, peserta didik, orang tua, komunitas, dan mitra profesional. Pendekatan ini memindahkan kontrol pembelajaran dari guru saja menjadi kolaborasi bersama.
Puskurjar 2025 2
PENGALAMAN BELAJAR
Puskurjar 2025
Prinsip Pembelajaran
Berkesadaran
Pengalaman belajar peserta didik yang diperoleh ketika mereka memiliki kesadaran untuk menjadi pembelajar yang aktif dan mampu meregulasi diri. Peserta didik memahami tujuan pembelajaran, termotivasi secara intrinsik untuk belajar, serta aktif mengembangkan strategi belajar untuk mencapai tujuan.
Puskurjar 2025
Bermakna
Peserta didik dapat menerapkan pengetahuannya ke dalam situasi nyata. Proses belajar peserta didik tidak hanya sebatas memahami informasi/ penguasaan konten, namun berorientasi pada kemampuan mengaplikasi pengetahuan.
Menggembirakan
Pembelajaran yang menggembirakan merupakan suasana belajar yang positif, menantang, menyenangkan, dan memotivasi. Rasa senang dalam belajar membantu peserta didik terhubung secara emosional, sehingga lebih mudah memahami, mengingat, dan menerapkan pengetahuan.
16
8
Dimensi Profil Lulusan
1. Keimanan dan Ketakwaan
terhadap Tuhan YME
Individu yang memiliki keyakinan teguh akan keberadaan Tuhan serta menghayati nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
3. Penalaran Kritis
Individu yang mampu berpikir secara logis, analitis, dan reflektif dalam memahami, mengevaluasi, serta memproses informasi untuk menyelesaikan masalah.
2. Kewargaan
Individu yang memiliki rasa cinta tanah air, mentaati aturan dan norma sosial dalam kehidupan bermasyarakat,
memiliki kepedulian, tanggungjawab sosial, serta berkomitmen untuk menyelesaikan masalah nyata yang terkait keberlanjutan manusia dan lingkungan.
4. Kreativitas
Individu yang mampu berpikir secara inovatif, fleksibel, dan orisinal dalam mengolah ide atau informasi untuk menciptakan solusi yang unik dan bermanfaat.
5. Kolaborasi
Individu yang mampu bekerja sama secara efektif
dengan orang lain secara gotong royong untuk mencapai tujuan bersama melalui pembagian peran dan tanggung jawab.
6. Kemandirian
Individu yang mampu bertanggung jawab atas
proses dan hasil belajarnya sendiri dengan menunjukkan kemampuan untuk mengambil inisiatif,
mengatasi hambatan, dan menyelesaikan tugas secara tepat tanpa bergantung pada orang lain.
7. Kesehatan
Individu yang memiliki fisik yang prima, bugar, sehat,
dan mampu menjaga keseimbangan kesehatan mental dan fisik untuk mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin (well-being).
8. Komunikasi
Individu yang memiliki kemampuan komunikasi intrapribadi untuk melakukan refleksi dan antarpribadi untuk menyampaikan ide, gagasan, dan informasi baik lisan maupun tulisan serta berinteraksi
secara efektif dalam berbagai situasi.
Berkarakter Mulia
Tujuh penyebab kegagalan Sekolah mengembangkan Institusinya sebagai Lembaga Pendidikan:
1. Kompetensi kepemimpinan yang lemah, tidak memiliki visi yang jelas atau bawahan kesulitan memahaminya, kepemimpinan kurang transformasional sehingga kesulitan melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap perkembangan kemajuan. 2. Guru yang enggan berubah, takut berubah sebab identik dengan menambah beban pekerjaan, Guru menikmati zona nyaman menunaikan tugasnya hanya mengajar tanpa melakukan pembimbingan, melatih bahkan mendampingi muridnya sehinga nyaris tidak tersentuh pengembangan bakat minat siswa apalagi memberikan solusi atas kesulitan belajar yang dhadapi Murid. 3. Hubungan komunikasi sosial yang kurang sehat bahkan karakter GTK yang toxic, sulit bekerjasama dalam program pengembangan sekolah dengan berulah menjatuhkan tanpa kontribusi positif apalagi bersifat solutif, persaingan tidak sehat dan tidak menunjang peningkatan kualitas kinerja individu maupun tim kerja sekolah. 4. Peran serta Wali Murid untuk peduli terhadap perkembangan anaknya dalam meningkatkan prestasi belajar dan karakter yang tercermin pada tingkah laku serta tutur kata dalam kehidupan sehari-hari, kepedulian Wali Murid terhadap pendidikan anaknya dalam keluarga dapat mempengaruhi kesadaran kerjasama mengembangkan program sekolah. 5. Daya dukung sarana prasarana sekolah dalam menunjang peningkatan prestasi belajar Murid baik akademik maupun akademik perlu dilakukan secara terencana dan tercukupi berdasarkan kebutuhan serta skala prioritas. 6. Kurang memberikan kesempatan seluas-luasnya agar seluruh Warga Sekolah dapat meningkatkan kompetensinya sesuai dengan bidang keahlian, bakat dan minatnya, baik melalui Diklat, In House Trining, Pengembangan Diri, Kegiatan Kolektif serta kesempatan berkompetisi diluar sekolah.
7. Terbatasnya akses teknologi dan informasi yang bermutu serta mampu menunjang peningkatan kinerja Guru dan Tenaga Pendidikan.