PSIKOFARMAKA
DILEMA ANTARA KEBUTUHAN, KETERSEDIAAN, REGULASI DAN ETIK
Oleh: dr. Ida Rochmawati, M.Sc., Sp.KJ (K)
Psikiater RSUD Wonosari dan RS PKU Muhammadiyah Wonosari Gunungkidul DIY|Konsultan Psikiatri Komunitas
dr.Ida, Sp.KJ
Pembahasan ini berdasarkan point of view saya sebagai psikiater di rumah sakit daerah selama 15 tahun di wilayah Gunungkidul Yogyakarta. Tidak berlaku umum di semua rumah sakit atau wilayah.
Disclaimer!
Disampaikan dalam webinar yang diselenggarakan
dr.Ida, Sp.KJ
Kenapa topik ini penting kita bahas?
dr.Ida, Sp.KJ
Apa yang akan kita bahas hari ini?
dr.Ida, Sp.KJ
Jenis-jenis modalitas terapi dalam psikiatri:
dr.Ida, Sp.KJ
Jadi psikofarmaka merupakan salah satu komponen dan pengelolaan masalah/gangguan mental
Prinsip Penting dalam Pengelolaan Gangguan Jiwa
1. Tidak ada satu terapi untuk semua orang
2. Terapi sering kali dikombinasikan
3. Disesuaikan dengan:
Kapan psikofarmaka menjadi komponen utama dalam pengobatan?
dr.Ida, Sp.KJ
Psikofarmaka menjadi krusial ketika gangguan jiwa sudah:
a. Mengganggu fungsi dasar
b. Gejala berat atau berisiko
Apa yang Sebenarnya Dilakukan Psikofarmaka?
Psikofarmaka bukan mengubah kepribadian dan bukan membuat orang “bergantung” secara otomatis.
Fungsinya adalah:
dr.Ida, Sp.KJ
Berdasarkan
Fase
Dasar pengobatan dan durasi pemberian obat
Sehingga pilihan obat dan kontinuitas menjadi sangat penting!
Apa saja tantangan di lapangan dalam pemberian psikofarmaka?
dr.Ida, Sp.KJ
Faktor yang berkontribusi
Kepatuhan pada pengobatan
Ada kalanya ketersedian obat cukup lengkap namun terkendala faktor tekhnis sehingga pengobatan tidak optimal
Dalam praktik psikiatri, terapi tidak ditentukan oleh preferensi individu, tetapi oleh:
Standar Terapi berdasarkan Rujukan Etik dan Profesional
Kondisi di lapangan kadang tidak ideal dan respon terapi tiap individu bervariasi sehingga ada kalanya pedoman praktik klinis dan konsensus organisasi belum bisa dijalankan maksimal.
Dalam praktik psikiatri, terapi tidak ditentukan oleh preferensi individu, tetapi oleh:
Standar Terapi berdasarkan Rujukan Etik dan Profesional
Kondisi di lapangan kadang tidak ideal dan respon terapi tiap individu bervariasi sehingga ada kalanya pedoman praktik klinis dan konsensus organisasi belum bisa dijalankan maksimal.
Klinisi bekerja berdasarkan:
Jika obat standar tidak tersedia:
Perlindungan Klinisi melalui Kepatuhan Standar Profesi
Ketersediaan obat adalah bentuk perlindungan terhadap tenaga medis.
Formularium RS seharusnya:
Peran KFT:
Integrasi Standar Profesi dengan Formularium RS
Psikiater harus dilibatkan dalam keputusan obat jiwa.
BPJS Kesehatan adalah penjamin utama layanan kesehatan jiwa di fasilitas pemerintah.
Artinya, ketersediaan obat jiwa tidak bisa dilepaskan dari regulasi BPJS, terutama:
Posisi BPJS dalam Pelayanan Kesehatan Jiwa
dr.Ida, Sp.KJ
BPJS hanya menjamin obat yang tercantum dalam Fornas
Konsekuensi klinis:
Tantangan klinisi terkait regulasi BPJS
Jika obat Fornas kosong:
Sistem INA-CBGs menuntut:
Risiko Dilema Ketersediaan Obat Jiwa dan Kepatuhan BPJS
“Kekosongan obat jiwa justru membuat sistem INA-CBGs menjadi tidak efisien.”
Risiko hukum sehingga tidak jarang klinisi memilih melakukan defensive medicine
Defensive medicine adalah praktik pelayanan medis yang dilakukan terutama untuk melindungi tenaga medis dari risiko tuntutan hukum, komplain, atau sanksi, bukan semata-mata karena kebutuhan klinis pasien.
Definisi defensive medicine
Definisi defensive medicine
Saran atau solusi
dr.Ida, Sp.KJ
1. Tetapkan Obat Jiwa sebagai Prioritas Esensial RS
Obat jiwa Fornas utama harus masuk daftar obat kritis yang dijamin ketersediaannya karena berdampak langsung pada stabilitas pasien dan mutu layanan.
2. Selaraskan Standar Profesi, Fornas, dan Formularium RS
Formularium RS wajib mencerminkan standar terapi organisasi profesi dan kebutuhan klinis, dengan keterlibatan aktif psikiater dalam KFT.
3. Perencanaan Stok Berbasis Data Klinis Nyata
Kebutuhan obat jiwa harus dihitung dari tren kunjungan, relaps, dan pola resep, bukan sekadar data historis atau pertimbangan administratif.
4. Perkuat Koordinasi Psikiater–Farmasi–Manajemen
Dibutuhkan komunikasi lintas unit dan mekanisme respon cepat saat stok kritis menipis agar pelayanan tidak terputus.
5. Ubah Paradigma: Obat Jiwa sebagai Investasi Pelayanan
Ketersediaan obat jiwa menurunkan relaps, rawat ulang, dan biaya jangka panjang BPJS serta RS, sehingga merupakan investasi sistem pelayanan.
“Ketersediaan obat jiwa adalah wujud keselarasan standar profesi, regulasi BPJS, dan tata kelola rumah sakit untuk menjamin pelayanan kesehatan jiwa yang bermutu, berkelanjutan, dan berkeadilan bagi pasien dan klinisi."
Penutup
dr.Ida, Sp.KJ
Daftar referensi dan bacaan yang disarankan
Beauchamp, T. L., & Childress, J. F. (2019). Principles of biomedical ethics (8th ed.). Oxford University Press.
https://global.oup.com/academic/product/principles-of-biomedical-ethics-9780190640873
BPJS Kesehatan. (2023). Panduan pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan. BPJS Kesehatan.
https://www.bpjs-kesehatan.go.id
Institute of Medicine. (2001). Crossing the quality chasm: A new health system for the 21st century. National Academy Press.
https://nap.nationalacademies.org/catalog/10027/crossing-the-quality-chasm-a-new-health-system-for-the
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Formularium Nasional. Kementerian Kesehatan RI.
https://farmalkes.kemkes.go.id/formularium-nasional
Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia. (2019). Pedoman praktik klinis gangguan jiwa. PDSKJI.
https://www.pdskji.org
Studdert, D. M., Mello, M. M., Sage, W. M., DesRoches, C. M., Zapert, K., & Brennan, T. A. (2005). Defensive medicine among high-risk specialist physicians in a volatile malpractice environment. JAMA, 293(21), 2609–2617.
https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/201237
World Bank. (2018). Indonesia national health insurance system: Challenges and opportunities. World Bank Group.
https://www.worldbank.org/en/country/indonesia/publication/indonesia-national-health-insurance-system
World Health Organization. (2016). mhGAP intervention guide for mental, neurological and substance use disorders in non-specialized health settings (Version 2.0). World Health Organization.
https://www.who.int/publications/i/item/WHO-MSD-MER-16.4
dr. Ida Rochmawati, M.Sc., Sp.KJ (K)
“Ketersediaan obat jiwa adalah wujud keselarasan standar profesi, regulasi BPJS, dan tata kelola rumah sakit untuk menjamin pelayanan kesehatan jiwa yang bermutu, berkelanjutan, dan berkeadilan bagi pasien.”
Instagram @newidapsikiater
Contact person: Erni +62 812-2653-8425