1 of 31

PSIKOFARMAKA

DILEMA ANTARA KEBUTUHAN, KETERSEDIAAN, REGULASI DAN ETIK

Oleh: dr. Ida Rochmawati, M.Sc., Sp.KJ (K)

Psikiater RSUD Wonosari dan RS PKU Muhammadiyah Wonosari Gunungkidul DIY|Konsultan Psikiatri Komunitas

dr.Ida, Sp.KJ

2 of 31

Pembahasan ini berdasarkan point of view saya sebagai psikiater di rumah sakit daerah selama 15 tahun di wilayah Gunungkidul Yogyakarta. Tidak berlaku umum di semua rumah sakit atau wilayah.

Disclaimer!

Disampaikan dalam webinar yang diselenggarakan

dr.Ida, Sp.KJ

3 of 31

Kenapa topik ini penting kita bahas?

      • Kesenjangan antara kebutuhan klinis pasien dan ketersediaan obat
      • Pembatasan regulasi dan sistem pembiayaan terhadap pilihan terapi
      • Risiko penurunan mutu dan kontinuitas pelayanan kesehatan jiwa
      • Dilema etik dalam pengambilan keputusan klinis sehari-hari
      • Dampak langsung terhadap keselamatan dan luaran pasien

dr.Ida, Sp.KJ

4 of 31

Apa yang akan kita bahas hari ini?

      • Kebutuhan klinis pasien gangguan jiwa
      • Ketersediaan dan kontinuitas psikofarmaka
      • Regulasi dan sistem pembiayaan layanan kesehatan
      • Pertimbangan etik dalam praktik psikiatri
      • Dampak keputusan terapi terhadap mutu pelayanan dan keselamatan pasien

dr.Ida, Sp.KJ

5 of 31

Jenis-jenis modalitas terapi dalam psikiatri:

      • Psikofarmaka
      • Psikoterapi
      • Terapi biologis non farmakologi (ECT, TMS dan sebagainya)
      • Terapi berbasis keluarga dan lingkungan

dr.Ida, Sp.KJ

6 of 31

Jadi psikofarmaka merupakan salah satu komponen dan pengelolaan masalah/gangguan mental

7 of 31

Prinsip Penting dalam Pengelolaan Gangguan Jiwa

1. Tidak ada satu terapi untuk semua orang

2. Terapi sering kali dikombinasikan

3. Disesuaikan dengan:

      • Diagnosis
      • Derajat keparahan
      • Kondisi biologis & sosial
      • Ketersediaan dukungan

8 of 31

Kapan psikofarmaka menjadi komponen utama dalam pengobatan?

dr.Ida, Sp.KJ

9 of 31

Psikofarmaka menjadi krusial ketika gangguan jiwa sudah:

a. Mengganggu fungsi dasar

      • Tidur tidak berfungsi
      • Makan terganggu
      • Konsentrasi rusak
      • Emosi tidak terkendali

b. Gejala berat atau berisiko

      • Ide atau percobaan bunuh diri
      • Psikosis (waham, halusinasi)
      • Mania
      • Agitasi berat
      • Depresi berat

10 of 31

Apa yang Sebenarnya Dilakukan Psikofarmaka?

11 of 31

Psikofarmaka bukan mengubah kepribadian dan bukan membuat orang “bergantung” secara otomatis.

Fungsinya adalah:

      • Menstabilkan sistem neurotransmiter
      • Menurunkan “noise” emosional
      • Membuat otak kembali pada rentang kerja yang memungkinkan proses psikologis berlangsung

dr.Ida, Sp.KJ

12 of 31

Berdasarkan

      • Episode
      • Episode 1 atau Multi Episode

Fase

      • Akut
      • Stabilisasi
      • Maintenance

Dasar pengobatan dan durasi pemberian obat

Sehingga pilihan obat dan kontinuitas menjadi sangat penting!

13 of 31

Apa saja tantangan di lapangan dalam pemberian psikofarmaka?

dr.Ida, Sp.KJ

14 of 31

Faktor yang berkontribusi

      • Edukasi kurang kuat
      • Efek samping
      • Gangguan pada insight
      • Pengawas/pendamping minum obat tidak ada
      • Akses jarak, biaya dan tidak memiliki jaminan BPJS

Kepatuhan pada pengobatan

Ada kalanya ketersedian obat cukup lengkap namun terkendala faktor tekhnis sehingga pengobatan tidak optimal

15 of 31

Dalam praktik psikiatri, terapi tidak ditentukan oleh preferensi individu, tetapi oleh:

      • Pedoman praktik klinis
      • Konsensus organisasi profesi

Standar Terapi berdasarkan Rujukan Etik dan Profesional

Kondisi di lapangan kadang tidak ideal dan respon terapi tiap individu bervariasi sehingga ada kalanya pedoman praktik klinis dan konsensus organisasi belum bisa dijalankan maksimal.

16 of 31

Dalam praktik psikiatri, terapi tidak ditentukan oleh preferensi individu, tetapi oleh:

      • Pedoman praktik klinis
      • Konsensus organisasi profesi

Standar Terapi berdasarkan Rujukan Etik dan Profesional

Kondisi di lapangan kadang tidak ideal dan respon terapi tiap individu bervariasi sehingga ada kalanya pedoman praktik klinis dan konsensus organisasi belum bisa dijalankan maksimal.

17 of 31

Klinisi bekerja berdasarkan:

      • Standar profesi
      • Etik kedokteran

Jika obat standar tidak tersedia:

      • Kinisi berada dalam dilema etik
      • Risiko medicolegal meningkat

Perlindungan Klinisi melalui Kepatuhan Standar Profesi

Ketersediaan obat adalah bentuk perlindungan terhadap tenaga medis.

18 of 31

Formularium RS seharusnya:

      • Mengakomodasi standar terapi profesi
      • Bukan hanya aspek biaya

Peran KFT:

      • Menjembatani kebutuhan klinis dan manajerial

Integrasi Standar Profesi dengan Formularium RS

Psikiater harus dilibatkan dalam keputusan obat jiwa.

19 of 31

BPJS Kesehatan adalah penjamin utama layanan kesehatan jiwa di fasilitas pemerintah.

Artinya, ketersediaan obat jiwa tidak bisa dilepaskan dari regulasi BPJS, terutama:

      • Formularium Nasional (Fornas)
      • Sistem rujukan berjenjang
      • INA-CBGs
      • Kendali mutu dan biaya

Posisi BPJS dalam Pelayanan Kesehatan Jiwa

dr.Ida, Sp.KJ

20 of 31

BPJS hanya menjamin obat yang tercantum dalam Fornas

Konsekuensi klinis:

      • Psikiater harus menyesuaikan terapi dengan obat yang dijamin
      • Pilihan obat terbatas → ketersediaan menjadi krusial

Tantangan klinisi terkait regulasi BPJS

Jika obat Fornas kosong:

      • Terapi terganggu
      • Substitusi belum tentu setara secara klinis

21 of 31

      • Klaim BPJS tertunda
      • Klaim ditolak
      • RS menanggung beban finansial

Sistem INA-CBGs menuntut:

      • Efisiensi lama rawat
      • Pengendalian biaya

Risiko Dilema Ketersediaan Obat Jiwa dan Kepatuhan BPJS

“Kekosongan obat jiwa justru membuat sistem INA-CBGs menjadi tidak efisien.”

22 of 31

Risiko hukum sehingga tidak jarang klinisi memilih melakukan defensive medicine

23 of 31

Defensive medicine adalah praktik pelayanan medis yang dilakukan terutama untuk melindungi tenaga medis dari risiko tuntutan hukum, komplain, atau sanksi, bukan semata-mata karena kebutuhan klinis pasien.

Definisi defensive medicine

24 of 31

      • Keputusan medis dipengaruhi rasa takut disalahkan
      • Fokus bergeser dari apa yang paling dibutuhkan pasien ke apa yang paling aman bagi dokter
      • Bisa dalam bentuk defensive medicine positive atau negatif

Definisi defensive medicine

25 of 31

Saran atau solusi

dr.Ida, Sp.KJ

26 of 31

1. Tetapkan Obat Jiwa sebagai Prioritas Esensial RS

Obat jiwa Fornas utama harus masuk daftar obat kritis yang dijamin ketersediaannya karena berdampak langsung pada stabilitas pasien dan mutu layanan.

2. Selaraskan Standar Profesi, Fornas, dan Formularium RS

Formularium RS wajib mencerminkan standar terapi organisasi profesi dan kebutuhan klinis, dengan keterlibatan aktif psikiater dalam KFT.

27 of 31

3. Perencanaan Stok Berbasis Data Klinis Nyata

Kebutuhan obat jiwa harus dihitung dari tren kunjungan, relaps, dan pola resep, bukan sekadar data historis atau pertimbangan administratif.

4. Perkuat Koordinasi Psikiater–Farmasi–Manajemen

Dibutuhkan komunikasi lintas unit dan mekanisme respon cepat saat stok kritis menipis agar pelayanan tidak terputus.

28 of 31

5. Ubah Paradigma: Obat Jiwa sebagai Investasi Pelayanan

Ketersediaan obat jiwa menurunkan relaps, rawat ulang, dan biaya jangka panjang BPJS serta RS, sehingga merupakan investasi sistem pelayanan.

29 of 31

“Ketersediaan obat jiwa adalah wujud keselarasan standar profesi, regulasi BPJS, dan tata kelola rumah sakit untuk menjamin pelayanan kesehatan jiwa yang bermutu, berkelanjutan, dan berkeadilan bagi pasien dan klinisi."

Penutup

dr.Ida, Sp.KJ

30 of 31

Daftar referensi dan bacaan yang disarankan

Beauchamp, T. L., & Childress, J. F. (2019). Principles of biomedical ethics (8th ed.). Oxford University Press.

https://global.oup.com/academic/product/principles-of-biomedical-ethics-9780190640873

BPJS Kesehatan. (2023). Panduan pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjutan. BPJS Kesehatan.

https://www.bpjs-kesehatan.go.id

Institute of Medicine. (2001). Crossing the quality chasm: A new health system for the 21st century. National Academy Press.

https://nap.nationalacademies.org/catalog/10027/crossing-the-quality-chasm-a-new-health-system-for-the

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Formularium Nasional. Kementerian Kesehatan RI.

https://farmalkes.kemkes.go.id/formularium-nasional

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia. (2019). Pedoman praktik klinis gangguan jiwa. PDSKJI.

https://www.pdskji.org

Studdert, D. M., Mello, M. M., Sage, W. M., DesRoches, C. M., Zapert, K., & Brennan, T. A. (2005). Defensive medicine among high-risk specialist physicians in a volatile malpractice environment. JAMA, 293(21), 2609–2617.

https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/201237

World Bank. (2018). Indonesia national health insurance system: Challenges and opportunities. World Bank Group.

https://www.worldbank.org/en/country/indonesia/publication/indonesia-national-health-insurance-system

World Health Organization. (2016). mhGAP intervention guide for mental, neurological and substance use disorders in non-specialized health settings (Version 2.0). World Health Organization.

https://www.who.int/publications/i/item/WHO-MSD-MER-16.4

31 of 31

dr. Ida Rochmawati, M.Sc., Sp.KJ (K)

“Ketersediaan obat jiwa adalah wujud keselarasan standar profesi, regulasi BPJS, dan tata kelola rumah sakit untuk menjamin pelayanan kesehatan jiwa yang bermutu, berkelanjutan, dan berkeadilan bagi pasien.”

Instagram @newidapsikiater

Contact person: Erni +62 812-2653-8425