1 of 30

MODERASI BERAGAMA SEBAGAI MODAL SOSIAL GEREJA TURUT MEMBANGUN BANGSA: belajar dari riset moderasi beragama umat kristiani�melalui media sosial

Riset Pada Tiga Wilayah (Semarang Raya, Solo Raya, dan DIY)

Sarasehan Kebangsaan Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan (PK3) Kevikepan Semarang

Semarang, 31 Oktober 2021

Andreas Pandiangan

2 of 30

Menu

  1. Latar Penelitian
  2. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
  3. Hasil Penelitian dan Analisis
  4. Kesimpulan dan Rekomendasi

3 of 30

A. Latar Belakang

  • Moderasi beragama dipahami sebagai cara pandang, sikap, dan perilaku selalu mengambil posisi di tengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama.
  • Moderasi beragama menyangkut semua agama, termasuk Kristiani (Protestan dan Katolik)
  • Tantangan aktual moderasi beragama adalah implementasi 4 indikator moderasi yakni 1) Komitmen kebangsaan; 2). Toleransi; 3). Anti-kekerasan; dan 4) akomodatif terhadap kebudayaan lokal di ruang media sosial.
  • Media massa termasuk media sosial, sebagai infrastruktur pokok yang digunakan kelompok intoleran dan radikal dalam upaya melakukan dominasi atas isu-isu keagamaan.

4 of 30

Pertanyaan Penelitian

  • Riset (Februari-Agustus 2021) ini bermaksud mengeksplorasi dan memetakan isi pembicaraan di media sosial khususnya kelompok-kelompok WA berbasis gereja/jemaat sebagai ‘jagat digital’ komunitas umat Kristiani.
  • Rumusan masalah
    1. Apa isu-isu moderasi beragama yang ada dan didiskusikan dalam kelompok WA komunitas umat Kristiani berbasis gereja/jemaat di wilayah Semarang Raya, Solo Raya, dan DIY?
    2. Bagaimana potensi pembentukan gerakan membangun moderasi beragama di media sosial khusus kelompok WA berbasis gereja/jemaat di wilayah Semarang Raya, Solo Raya, dan DIY guna menciptakan kerukunan umat beragama?

5 of 30

Kajian Pustaka

  • Mohamad Fahri dan Ahmad Zainuri (2019: 95-100)

  • Elma Haryani (2020: 145-158)

  • Demsy Jura (2020: 315-323)

  • Subhhi Ridho (2017)

6 of 30

Kerangka Konseptual

  • Moderasi beragama sebagai cara pandang, sikap dan perilaku mengambil posisi di tengah-tengah, selalu bertindka adil, dan tidak ekstrem dalam beragama (Kemenag, 2019)
  • Komitmen Kebangsaan
  • Toleransi
  • Anti Kekerasan
  • Kebudayaan lokal
  • Media Sosial dan Nilai Kristiani
  • Digital Peacebuilding

7 of 30

Metodologi

  • Pendekatan studi kasus: menemukan jawaban dari persoalan yang kompleks karena menyangkut pandangan, tindakan komunikasi di dalam grup percakapan, serta pandangan umat Kristiani tentang indikator-indikator yang ada dalam moderasi beragama

  • Metode studi kasus akan didukung dengan metode etnografi digital (Christine Hine, 2000), Nasrullah 2019). Termasuk di dalamnya analisis jaringan sosial di masing-masing komunitas (Agusyanto, 2014).

8 of 30

Pengumpulan data

Kuesioner untuk Anggota Kelompok WA

Kuesioner untuk Pengelola Kelompok WA

9 of 30

Pengumpulan data

Wawancara luring/daring (18 orang)

Diskusi Terarah (daring) di 3 Wilayah

10 of 30

B. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Semarang Raya

Kota Semarang, Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga.

Solo Raya

Kota Surakarta dan Kabupaten Sukoharjo.

DIY

Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul.

11 of 30

C. Hasil Penelitian dan Analisis

12 of 30

Responden

Responden

  • 310 orang; terbagi dalam dua kategori: 1) anggota kelompok WA; 2) administrator/pengelola kelompok WA.
  • 310 orang responden merupakan umat dari 80 gereja/jemaat (Katolik/Protestan).

13 of 30

Kategori Anggota Kelompok WA

  1. Identitas (jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan)
  2. Aktivitas di lingkungan gereja/jemaat
  3. Aktivitas di masyarakat (RT/RW, desa/kelurahan, dll)
  4. Keikutsertaan di organisasi kemasyarakatan
  5. Pemilikan akun media sosial (fc, WA, ig, twitter)
  6. Bergabung di kelompok WA: lingkungan dan luar lingkungan gereja/jemaat
  7. Materi kelompok WA berbasis gereja/jemaat (8 tema)
  8. Interaksi responden di kelompok WA berbasis gereja/jemaat: produksi materi (tulisan, video, kartun), meneruskan materi dari luar ke dalam kelompok WA berbasis gereja/jemaat atau sebaliknya, meneruskan materi dari situs ke dalam kelompok WA berbasis gereja/jemaat.

14 of 30

Indikator komitmen kebangsaan: �9 sub indikator

  1. mencintai tanah air;
  2. bersedia melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia;
  3. mengutamakan persatuan, kesatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan;
  4. rela berkorban demi kepentingan bangsa dan negara;
  5. bangga berkebangsaan dan bertanah air Indonesia;
  6. pemuliaan dan pemajuan potensi diri dan hasil karya yang dimilikinya untuk kepentingan bangsa dan negara;
  7. semangat gotong-royong demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika;
  8. semangat memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, dan
  9. peran dan kewajiban negara dalam menciptakan persatuan bangsa dalam kebhinnekaan dan menjaga kesatuan wilayah Negara Republik Indonesia.

15 of 30

Gambar 31 : Tema Materi Indikator Komitmen Kebangsaan di Wilayah Semarang Raya

Gambar 32 : Tema Materi Indikator Komitmen Kebangsaan di Wilayah Solo Raya

Gambar 33 : Tema Materi Indikator Komitmen Kebangsaan di Wilayah DIY

16 of 30

Indikator toleransi : �12 sub indikator

  1. bahasa yang merendahkan dan fitnah kelompok-kelompok budaya;
  2. bahasa yang merendahkan, dan fitnah kelompok-kelompok ras;
  3. penggambaran kelompok tertentu dengan kecenderungan negatif;
  4. mengolok-olok tindakan orang atau kelompok masyarakat yang cenderung mengejek atau menghina;
  5. buruk sangka atas kasus atau tindakan individu atau kelompok;
  6. pengambinghitaman atas peristiwa-peristiwa traumatis;
  7. pengambinghitaman atas masalah sosial pada kelompok tertentu;
  8. diskriminasi atas aktivitas-aktivitas sosial kelompok masyarakat;
  9. pengabaian seolah-olah orang lain tidak ada;
  10. penolakan orang lain untuk berbicara dan budaya mereka;
  11. pelecehan untuk mengintimidasi dan merendahkan orang lain, dan
  12. penggunaan superioritas kapasitas fisik atau angka yang lebih besar untuk mempermalukan orang lain.

17 of 30

Gambar 34: Tema Materi Indikator Toleransi di Wilayah Semarang Raya

Gambar 35: Tema Materi Indikator Toleransi di Wilayah Solo Raya

Gambar 36: Tema Materi Indikator Toleransi di Wilayah DIY

18 of 30

Indikator anti kekerasan : �16 sub indikator

  1. kekerasan dalam pekerjaan;
  2. kekerasan di lingkungan masyarakat terdekat;
  3. kekerasan saat pelaksanaan Pemilu 2019;
  4. Kekerasan saat pelaksanaan Pilkada 2020;
  5. politik uang/bagi-bagi uang saat pelaksanaan Pemilu 2019;
  6. politik uang/bagi-bagi uang saat pelaksanaan Pilkada 2020;
  7. sosialisasi tolak politik uang saat pelaksanaan Pemilu 2019;

  1. sosialisasi tolak politik uang saat pelaksanaan Pilkada 2020;
  2. korupsi yang dilakukan pejabat Negara/pejabat publik;
  3. sosialisasi tidak melakukan korupsi;
  4. kekerasan karena beda suku;
  5. kekerasan karena beda agama;
  6. kekerasan karena kegiatan keagamaan;
  7. main hakim sendiri;
  8. terorisme; dan
  9. kegiatan perdamaian/lintas agama.

19 of 30

Gambar 40: Tema Materi Indikator Kebudayaan Lokal di Wilayah Semarang Raya

Gambar 41: Tema Materi Indikator Kebudayaan Lokal di Wilayah Solo Raya

Gambar 42: Tema Materi Indikator Kebudayaan Lokal di Wilayah DIY

20 of 30

Indikator kebudayaan lokal: �5 sub indikator

  1. benda budaya (arsitektur, seni lukis dan pahat, pakaian, makanan);
  2. bahasa daerah;
  3. unsur budaya dalam perayaan ekaristi/kebaktian;
  4. unsur budaya dalam ibadat peringatan arwahn dan
  5. pengetahuan dan teknologi tradisional.

21 of 30

Gambar 40: Tema Materi Indikator Kebudayaan Lokal di Wilayah Semarang Raya

Gambar 41: Tema Materi Indikator Kebudayaan Lokal di Wilayah Solo Raya

Gambar 42: Tema Materi Indikator Kebudayaan Lokal di Wilayah DIY

22 of 30

Kategori Administrator/Pengelola Kelompok WA-1

  1. Identitas (jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan)
  2. Aktivitas di lingkungan gereja/jemaat
  3. Tergabung di kelompok WA internal & eksternal gereja/jemaat
  4. Informasi kelompok WA (nama, arti nama, pihak pemarkarsai, usia, tujuan, waktu mengelola, jumlah pengelola, jumlah anggota, sifat-tertutup/terbatas/terbuka dan materi)

23 of 30

Kategori Administrator/Pengelola Kelompok WA-2

  1. Informasi materi kelompok WA (produksi materi, melanjutkan materi dari luar dan sebaliknya)
  2. Pengelolaan kelompok WA (membaca pedoman medsos, pedoman yang diketahui anggota, kesepakatan anggota dengan pengelola, materi yang tidak sesuai dengan kesepakatan, tindakan akan materi yang tidak sesuai kesepakatan
  3. Jaringan pengelola (bergabung dalam kelompok WA sesama admin medsos gereja/jemaat, bergabung dengan jaringan admin medsos, mendapatkan pelatihan)

24 of 30

Analisis Hasil Penelitian

  • Kelompok WA berbasis gereja/jemaat merupakan komunitas virtual. Hal ini sesuai dengan pendapat Rheingold (2993).
  • Dengan memahami proses dan perjalanan kelompok WA berbasis gereja/jemaat, maka kelompok WA berbasis gereja/jemaat dalam riset ini cenderung merupakan komunitas virtual berbasis gemeinschaft.
  • Anggota Kelompok WA: Gereja memandang pentingnya Internet (dan media sosial) dalam kehidupan keagamaan. Dapat dilihat bagaimana dinamika yang ada di dalam kelompok WA yang ada di umat. Dinamika ini dapat diamati dari bagaimana pengelola kelompok WA mengatur pembicaraan dan perdebatan, bagaimana di antara para anggota sendiri mengatur kesepakatan mengenai apa saja yang boleh dan tidak boleh disinggung dalam grup, termasuk mengenai bagaimana bila terjadi pelanggaran atas kesepakatan yang dimaksud.

25 of 30

              • Pengelola/Admin Kelompok WA: munculnya keterlibatan perempuan dalam penelitian ini adalah hal yang menarik untuk didiskusikan lebih jauh. Dalam konteks admin kelompok WA, responden perempuan mencapai angka 17-30 persen. Bahkan beberapa dari mereka dapat dikategorikan pimpinan (Pendeta, ketua organisasi, dsb.).
              • Implementasi Indikator Moderasi Beragama dalam Kelompok WA
              • Indikator kebangsaan: sub indikator yang paling tinggi yakni “pernah” dan “sering” adalah (1) Mencintai Tanah Air.
              • Indikator toleransi: sub-indikator yang paling tinggi yakni “tidak pernah” adalah (12) penggunaan superioritas kapasitas fisik atau angka yang lebih besar untuk mempermalukan orang lain.
              • Indikator anti kekerasan: sub-indikator yang paling tinggi yakni “pernah” adalah (16) kegiatan perdamaian/lintas budaya.
              • Indikator kebudayaan lokal: sub-indikator yang menonjol (“pernah”) adalah (5) pengetahuan dan teknologi tradisional.

26 of 30

  • Pengelola/Admin Kelompok WA
  • Munculnya keterlibatan perempuan dalam penelitian ini adalah hal yang menarik untuk didiskusikan lebih jauh. Dalam konteks admin kelompok WA, responden perempuan mencapai angka 17-30 persen. Namun sebenarnya kehadiran perempuan tidak hanya dilihat dari sini saja, tetapi juga ketika proses pengumpulan data berupa wawancara dan diskusi kelompok terarah. Dalam dua proses tadi perempuan memiliki kontribusi yang sama besarnya dengan laki-laki. Bahkan beberapa dari mereka dapat dikategorikan pimpinan (Pendeta, ketua organisasi, dsb.).

27 of 30

  1. Kesimpulan dan Rekomendasi

28 of 30

D.1. Kesimpulan

  1. Dinamika dan diskusi Isu-isu moderasi beragama dalam kelompok WA komunitas umat Kristiani berbasis gereja/jemaat di 3 wilayah penelitian berbeda satu sama lain. Selain dipengaruhi minimal 3 faktor:
    1. Suasana kondisi budaya, ekonomi dan politik setempat. Termasuk bagaimana relasi komunitas umat Kristiani dengan masyarakat;
    2. Relasi jaringan sosial di masing-masing komunitas secara internal gereja/jemaat dan dengan komunitas umat non Kristiani; dan
    3. Pengelolaan dinamika dan diskusi di dalam kelompok WA yang dilakukan admin dan atau Romo/Pendeta/Dewan Paroki/Majelis yang selalu ada di dalam kelompok WA berbasis gereja/jemaat.

2. Pemahaman akan moderasi beragama di umat Kristiani khususnya di kelompok-kelompok WA diperoleh karena inisiatif pribadi yang sangat dipengaruhi suasana kondisi sosial politik dan relasi serta suasana hubungan antara umat beragama. Terlihat dari gambaran sub-indikator di masing-masing wilayah penelitian

29 of 30

D.2. Rekomendasi

  1. Peningkatan pemahaman akan moderasi beragama di umat Kristiani khususnya di kelompok-kelompok WA menjadi penting. Tersedia peluang karena tema materi yang menonjol selama ini adalah tema informasi kehidupan sosial kemasyarakatan.
  2. Untuk itu diperlukan usaha dari Kementerian Agama untuk melakukan internalisasi dan sosialisasi lebih massif ke umat Kristiani perihal moderasi beragama.
  3. Peningkatan pemahaman akan moderasi beragama tidak hanya menyentuh anggota kelompok WA melainkan juga admin pengelola. Admin memerlukan kesempatan pelatihan dan dukungan ketrampilan sehingga tidak sekadar menjadi ‘penjaga’ dan ‘pengatur lalu lintas’
  4. Admin sudah saatnya memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk memproduksi materi (tulisan, video, kartun) untuk kelompok WA yang menjadi tanggungjawabnya.

30 of 30

Terima Kasih