Praktikum Blok 20: Gerontologi
Staf Pengajar
Dept. Mikrobiologi FK UKI
2021
Infeksi pada lansia
INFEKSI YANG SERING PADA LANSIA
Infeksi Saluran Kemih
Mikroba penyebab infeksi:
Cara pengambilan spesimen :Urin
(Midstream Urine)
Cara pengambilan spesimen :Urin
(Urin catheter)
Cara pengambilan spesimen :Urin
(Urine Supra Pubic Puncture : USPP)
Pengelolaan Spesimen:
Urine
Urine MS:
perbenihan di Endo agar/EMB agar
Dan perbenihan Agar Darah ( harus membuat kontrol
Urine SPP
Agar Darah
Ket:
- Menggunakan Ose 1µl 🡪 1 koloni= 1000 CFU/ml, Max: 100.000 (105) CFU/ml
- Urine Midstream :
# (+) jika jumlah koloni ≥ 105 CFU
# (-) jika jumlah koloni < 105 CFU
- Urine SPP: berapa saja jumlah koloni yang tumbuh dianggap (+)
Mikroskopik: Kokobasil Gram Negatif
Contoh koloni bakteri penyebab ISK
Kuman E. coli pada EMB agar
Kuman E. coli pada Endo agar
Contoh koloni bakteri penyebab ISK
Kuman Klebsiella pneumoniae pada Endo agar
Kuman Klebsiella pneumoniae pada agar darah
Reaksi Biokimia Kuman E. coli�
Identifikasi E. coli dengan pemeriksaan biokimia memberikan hasil sebagai berikut: glukosa (+/g), laktosa (+/g), manitol (+/g), maltosa (+/g), sakarosa (+/g),
Indol (+),
Merah metil (+),
VP (-),
Sitrat (-),
gerak (+).
Reaksi Biokimia Kuman K. pneumoniae
Uji Biokimia Kuman batang Gram Negatif
Pengelolaan Spesimen:
Feces
Koloni Kuman Enterik pada Media MacConkey Agar:��Koloni bukan peragi laktosa�
Shigella
Salmonella
Infeksi Saluran Pencernaan
Koloni Kuman Enterik pada Media SS Agar: Salmonella & Shigella
Reaksi Biokimia Kuman S. typhi
Gula – gula |
Glukosa |
Laktosa |
Manitol |
Maltosa |
Sakarosa |
Indol |
Gerak |
Citrate |
TSIA |
Salmonella typhi |
+ |
- |
+ |
+ |
- |
- |
+ |
- |
-/ +H2S |
Reaksi Biokimia Kuman S. typhi
Gula – gula |
Glukosa |
Laktosa |
Manitol |
Maltosa |
Sakarosa |
Indol |
Gerak |
Citrate |
TSIA |
Salmonella typhi |
+ |
- |
+ |
+ |
- |
- |
+ |
- |
-/ +H2S |
Reaksi Biokimia Kuman S. paratyphi
S. p typhi A |
+/ g |
- |
+/ g |
+/ g |
- |
- |
+ |
- |
-/ + |
Gula – gula |
Glukosa |
Laktosa |
Manitol |
Maltosa |
Sakarosa |
Indol |
Gerak |
Citrate |
TSIA |
Reaksi Biokimia Kuman Enterik�
Gula – gula | Salmonella typhi | S. p typhi A | S. p typhi B | Yersinia pestis |
Glukosa | + | +/ g | +/ g | + |
Laktosa | - | - | - | - |
Manitol | + | +/ g | +/ g | + |
Maltosa | + | +/ g | +/ g | + |
Sakarosa | - | - | - | - |
Indol | - | - | - | - |
Gerak | + | + | + | - |
Citrate | - | - | + | - |
TSIA | -/ +H2S | -/ + | -/ +H2S | -/ + |
Shigella sonnei
Infeksi Saluran Pernafasan
Mikroorganisme patogen penyebab infeksi pada saluran napas:
Bicara soal influenza atau flu, seringkali orang mengabaikannya. Pasalnya, penyakit yang menyerang hidung, tenggorokandan paru-paru ini umum terjadi dan mudah diobati. Akan tetapi, tidak demikian bagi penderita flu adalah kalangan lansia (lanjut usia), yaitu yang berusia 60 tahun ke atas.
Konon, sekitar 50-70 persen lansia yang menjalani perawatan di rumah sakit adalah karena penyakit terkait influenza. Bahkan, angka kematian karena hal ini mencapai 85 persen. Kenapa demikian? Karena flu yang tak segera ditagani bisa menjalar kepada penyakit lain, misalnya gangguan paru-paru dan sebagainya.
Kasus penyakit infeksi virus corona Covid-19 menggegerkan dunia.
Hingga saat ini belum ditemukan obat spesifik dan vaksinasi untuk mencegah atau menangani virus corona Covid-19.
Konon, penyakit virus corona Covid-19 ini lebih rentan dialami lansia. Gejalanya pun relatif umum, seperti flu, batuk dan demam tinggi.
Maka penting bagi lansia untuk mengetahui faktor risiko, gejala, dan penanganan flu ini agar terhindari dari risiko yang fatal tersebut.
Perlu kita tahu, gejala flu pada lansia berbeda bila dibandingkan dengan anak-anak dan kalangan dewasa muda.
Umumnya gejala flu yang muncul pada anak dan dewasa seperti demam, batuk, bersin dan pusing.
Nah, pada lansia, gejala yang sering dirasakan adalah malas makan, uring-uringan dan banyak tidur.
Tak sedikit yang menyadari gejala ini sebagai kondisi lansia sedang mengalami flu yang harus
segera ditangani.
Adapun faktor risiko flu pada lansia dipicu karena adanya penyakit kronis yang telah lebih dulu
dialami, seperti diabetes atau maag.
Umumnya, lansia dengan penyakit kronis mengalami penurunan sistem daya tahan tubuh.
Alhasil, tak heran bila influenza bisa menyerang lansia.
Pasalnya, imunitas lansia dalam kondisi turun.
Throat Swab
Pengelolaan Spesimen: Usap Tenggorok
Mycobacterium tuberculosis
Streptococcus pneumoniae
Haemophilus influenzae
Infeksi pada Kulit
Mikroba penyebab infeksi pada kulit:
Pengelolaan Spesimen:
Swab Luka
Terima kasih