1 of 41

Praktikum Blok 20: Gerontologi

Staf Pengajar

Dept. Mikrobiologi FK UKI

2021

2 of 41

Infeksi pada lansia

INFEKSI YANG SERING PADA LANSIA

  • Saluran kemih
  • Saluran pernafasan
  • Saluran pencernaan
  • Kulit
  • Tulang

3 of 41

Infeksi Saluran Kemih

Mikroba penyebab infeksi:

  • E. coli patogen
  • Klebsiella sp (Klebsiella pneumonia)
  • Enterobacter
  • Proteus sp
  • Pseudomonas sp

4 of 41

Cara pengambilan spesimen :Urin

(Midstream Urine)

5 of 41

Cara pengambilan spesimen :Urin

(Urin catheter)

6 of 41

Cara pengambilan spesimen :Urin

(Urine Supra Pubic Puncture : USPP)

7 of 41

Pengelolaan Spesimen:

Urine

Urine MS:

perbenihan di Endo agar/EMB agar

Dan perbenihan Agar Darah ( harus membuat kontrol

Urine SPP

Agar Darah

8 of 41

Ket:

- Menggunakan Ose 1µl 🡪 1 koloni= 1000 CFU/ml, Max: 100.000 (105) CFU/ml

- Urine Midstream :

# (+) jika jumlah koloni ≥ 105 CFU

# (-) jika jumlah koloni < 105 CFU

- Urine SPP: berapa saja jumlah koloni yang tumbuh dianggap (+)

9 of 41

Mikroskopik: Kokobasil Gram Negatif

10 of 41

Contoh koloni bakteri penyebab ISK

Kuman E. coli pada EMB agar

Kuman E. coli pada Endo agar

11 of 41

Contoh koloni bakteri penyebab ISK

Kuman Klebsiella pneumoniae pada Endo agar

Kuman Klebsiella pneumoniae pada agar darah

12 of 41

Reaksi Biokimia Kuman E. coli

Identifikasi E. coli dengan pemeriksaan biokimia memberikan hasil sebagai berikut: glukosa (+/g), laktosa (+/g), manitol (+/g), maltosa (+/g), sakarosa (+/g),

Indol (+),

Merah metil (+),

VP (-),

Sitrat (-),

gerak (+).

13 of 41

Reaksi Biokimia Kuman K. pneumoniae

14 of 41

Uji Biokimia Kuman batang Gram Negatif

15 of 41

16 of 41

Pengelolaan Spesimen:

Feces

17 of 41

Koloni Kuman Enterik pada Media MacConkey Agar:��Koloni bukan peragi laktosa

Shigella

Salmonella

18 of 41

Infeksi Saluran Pencernaan

  • Mikroorganisme penyebabnya adalah E. coli , Salmonella, Shigella, Vibrio, Campylobacter, Helicobacter, Rotavirus.
  • Spesimen yang biasanya digunakan untuk pemeriksaan di laboratorium mikrobiologi adalah feses

19 of 41

Koloni Kuman Enterik pada Media SS Agar: Salmonella & Shigella

20 of 41

Reaksi Biokimia Kuman S. typhi

Gula – gula

Glukosa

Laktosa

Manitol

Maltosa

Sakarosa

Indol

Gerak

Citrate

TSIA

Salmonella typhi

+

-

+

+

-

-

+

-

-/ +H2S

21 of 41

Reaksi Biokimia Kuman S. typhi

Gula – gula

Glukosa

Laktosa

Manitol

Maltosa

Sakarosa

Indol

Gerak

Citrate

TSIA

Salmonella typhi

+

-

+

+

-

-

+

-

-/ +H2S

22 of 41

Reaksi Biokimia Kuman S. paratyphi

S. p typhi A

+/ g

-

+/ g

+/ g

-

-

+

-

-/ +

Gula – gula

Glukosa

Laktosa

Manitol

Maltosa

Sakarosa

Indol

Gerak

Citrate

TSIA

23 of 41

Reaksi Biokimia Kuman Enterik

Gula – gula

Salmonella typhi

S. p typhi A

S. p typhi B

Yersinia pestis

Glukosa

+

+/ g

+/ g

+

Laktosa

-

-

-

-

Manitol

+

+/ g

+/ g

+

Maltosa

+

+/ g

+/ g

+

Sakarosa

-

-

-

-

Indol

-

-

-

-

Gerak

+

+

+

-

Citrate

-

-

+

-

TSIA

-/ +H2S

-/ +

-/ +H2S

-/ +

24 of 41

Shigella sonnei

25 of 41

Infeksi Saluran Pernafasan

Mikroorganisme patogen penyebab infeksi pada saluran napas:

  • Streptococcus pneumonia
  • Staphylococcus aureus
  • Mycobacterium tuberculosis
  • H. Influenza

26 of 41

Bicara soal influenza atau flu, seringkali orang mengabaikannya. Pasalnya, penyakit yang menyerang hidung, tenggorokandan paru-paru ini umum terjadi dan mudah diobati. Akan tetapi, tidak demikian bagi penderita flu adalah kalangan lansia (lanjut usia), yaitu yang berusia 60 tahun ke atas.

Konon, sekitar 50-70 persen lansia yang menjalani perawatan di rumah sakit adalah karena penyakit terkait influenza. Bahkan, angka kematian karena hal ini mencapai 85 persen. Kenapa demikian? Karena flu yang tak segera ditagani bisa menjalar kepada penyakit lain, misalnya gangguan paru-paru dan sebagainya.

Kasus penyakit infeksi virus corona Covid-19 menggegerkan dunia.

Hingga saat ini belum ditemukan obat spesifik dan vaksinasi untuk mencegah atau menangani virus corona Covid-19.   

Konon, penyakit virus corona Covid-19 ini lebih rentan dialami lansia. Gejalanya pun relatif umum, seperti flu, batuk dan demam tinggi.

Maka penting bagi lansia untuk mengetahui faktor risiko, gejala, dan penanganan flu ini agar terhindari dari risiko yang fatal tersebut.

27 of 41

 

Perlu kita tahu, gejala flu pada lansia berbeda bila dibandingkan dengan anak-anak dan kalangan dewasa muda.

Umumnya gejala flu yang muncul pada anak dan dewasa seperti demam, batuk, bersin dan pusing.

Nah, pada lansia, gejala yang sering dirasakan adalah malas makan, uring-uringan dan banyak tidur.

Tak sedikit yang menyadari gejala ini sebagai kondisi lansia sedang mengalami flu yang harus

segera ditangani.

Adapun faktor risiko flu pada lansia dipicu karena adanya penyakit kronis yang telah lebih dulu

dialami, seperti diabetes atau maag.

Umumnya, lansia dengan penyakit kronis mengalami penurunan sistem daya tahan tubuh.

Alhasil, tak heran  bila influenza bisa menyerang lansia.

Pasalnya, imunitas lansia dalam kondisi turun.

28 of 41

29 of 41

Throat Swab

30 of 41

Pengelolaan Spesimen: Usap Tenggorok

31 of 41

32 of 41

Mycobacterium tuberculosis

  • Pemeriksaan lansung dengan pewarnaan tahan asam, spesimen berupa sputum/dahak (pemeriksaan 3X ber turut2), dengan pengambilan dahak SPS(sewaktu,pagi hari, sewaktu)
  • Sputum yang baik adalah sputum pagi hari, sputum yang diambil sewaktu juga cukup representative
  • Tumbuh lambat (1-3 bulan) pada media khusus Lowenstein Jensen(media LJ)

33 of 41

34 of 41

Streptococcus pneumoniae

35 of 41

36 of 41

Haemophilus influenzae

  • Bentuk kokobasil, kadang-kadang pleomorfik
  • Gram negative
  • Anaerob fakultatif
  • Tumbuh pada media agar coklat yang diperkaya dgn faktor X (hemin) dan faktor V (NAD = Nicotinamide Adenine Dinucleotide)

37 of 41

38 of 41

39 of 41

Infeksi pada Kulit

Mikroba penyebab infeksi pada kulit:

  • S. epidermidis
  • S. aureus
  • S. viridans
  • P. aeruginosa
  • M. leprae
  • Virus Varicella-Zoster

40 of 41

Pengelolaan Spesimen:

Swab Luka

41 of 41

Terima kasih