MEDIA MENGAJAR
SEJARAH
Kelas XII
Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
BAB ❶
Bagian 1
Pembentukan Negara dan Pemerintahan Republik Indonesia
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, dilaksanakan Sidang PPKI pada 18, 19, dan 22 Agustus 1945
Berikut hasil sidang PKKI :
Sidang I PPKI 18 Agustus 1945
01
02
03
Mengesahkan dan menetapkan UUD 1945 sebagai dasar hukum tertinggi Negara Indonesia
Memilih dan menetapkan Ir. Sukarno dan Drs. Moh. Hatta sebagai presiden dan wakil presiden
Menetapkan bahwa untuk sementara waktu, pekerjaan presiden akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional
Sidang II PPKI 19 Agustus 1945
01
02
Pembentukan 8 Provinsi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Borneo, Sulawesi, Maluku, Sunda Kecil, dan Sumatra
Pembentukan 12 Departemen dalam struktur pemerintahan Indonesia
Sidang III PPKI 22 Agustus 1945
01
02
Pembentukan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP)
03
Pembentukan Partai Nasional Indonesia (PNI)
Pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR)
Pengambilalihan Kekuasaan dan Aset Jepang
Menyadari bahwa bisa sewaktu-waktu Sekutu datang, pemuda Indonesia melakukan pelucutan senjata tentara Jepang di Indonesia
Tindakan pengambilalihan aset Jepang terjadi di berbagai kota, seperti di Yogyakarta dan Surabaya
Selain itu, penguasaan senjata tersebut digunakan sebagai modal perang dan mencegah senjata tersebut disalahgunakan, baik oleh Jepang maupun Sekutu
Indikator: Mendeskripsikan proses pembentukan negara Republik Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia segera melakukan berbagai upaya untuk membentuk negara dan pemerintahan yang berdaulat. Upaya tersebut dilakukan agar Indonesia memiliki sistem pemerintahan yang teratur sebagai negara yang merdeka.
Manakah dari pernyataan berikut yang berkaitan dengan proses pembentukan negara dan pemerintahan Indonesia setelah proklamasi?
Tentukan Tepat atau Tidak Tepat untuk setiap pernyataan berikut!
❌✅
✅
Indikator: Mendeskripsikan proses pembentukan negara Republik Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan.
Setelah proklamasi kemerdekaan, Indonesia menghadapi kondisi keamanan yang belum stabil. Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang dibentuk sebelumnya dinilai belum cukup kuat untuk menghadapi kedatangan kembali pasukan Inggris dan Belanda. Situasi ini mendorong pemerintah mengeluarkan maklumat pada 5 Oktober 1945 yang menetapkan perubahan BKR menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Respons Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) setelah pemerintah mengeluarkan maklumat tersebut adalah....
✅
Bagian 2
Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan dengan Kekuatan Senjata
Pasukan Sekutu tiba di Jakarta pada 16 September 1945 di bawah pimpinan W.R. Patterson
Hal inilah yang kemudian memicu kemarahan pemerintah Indonesia dan menimbulkan konflik bersenjata dengan Sekutu dan Belanda
Kedatangan pasukan Sekutu pada awalnya mendapat sambutan baik, karena bertujuan untuk melucuti dan memulangkan tentara Jepang
Kemudian pihak Indonesia menyadari pasukan Sekutu yang kemudian berubah menjadi Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) bersama dengan NICA dengan membawa pasukan Netherlands Indies Civil Administration
01
Pertempuran Medan Area
Pertempuran Medan Area terjadi pada 13 Oktober 1945
Pertempuran ini diawali dari kedatangan pasukan Sekutu yang berupaya untuk menguasai Kota Medan
Kronologi Pertempuran Medan Area
Insiden penginjakan lencana Merah Putih oleh pasukan Sekutu
Pemuda Medan lantas melakukan penyerbuan terhadap markas Sekutu
Sekutu mengeluarkan Fixed Boundaries Medan Area untuk menghambat gerakan Pemuda Medan
Pasukan Sekutu melancarkan serangan ke Kota Medan dan memaksa pemerintahan Republik Indonesia keluar dari Kota Medan
01
Pertempuran Medan Area
02
Pertempuran Palagan Ambarawa
Pertempuran Palagan Ambarawa terjadi pada 26 Oktober 1945
Pertempuran disebabkan kedatangan pasukan Sekutu yang justru mempersenjatai bekas tawanan yang merupakan orang Belanda
Kronologi Pertempuran Palagan Ambarawa
Berawal dari serangan Sekutu ke Magelang pada 26 Oktober 1945
Pada 20 November 1945, TKR menggempur pasukan Sekutu di Ambarawa
Pada 26 November 1845 Letkol Isdiman gugur dalam pertempuran dan digantikan oleh Kolonel Sudirman
Pasukan Sudirman berhasil menekan pasukan Sekutu dengan strategi gerilya dan memukul mundur pasukan Sekutu ke Semarang
Pertempuran Palagan Ambarawa
02
03
Pertempuran Surabaya
Pertempuran Surabaya terjadi pada 10 November 1945
Pertempuran ini diawali dengan kedatangan pasukan Sekutu yang ingin menguasai Kota Surabaya
Kronologi Pertempuran Surabaya
Diawali Insiden Hotel Yamato, yaitu perobekan bendera Belanda oleh rakyat Surabaya
Kedatangan Sekutu dibawah pimpinan Brigjen A.W.S. Mallaby ke Surabaya dan memerintahkan rakyat Surabaya menyerahkan senjata yang telah dirampas
Terjadi kontak senjata antara Sekutu dengan rakyat Surabaya, yang menewaskan Mallaby
Sekutu kemudian mengultimatum rakyat Surabaya untuk menyerah, namun ditolak hingga terjadi pertempuran 10 November
Pertempuran Surabaya
03
04
Pertempuran Merah Putih di Manado
Pertempuran Merah Putih di Manado terjadi pada 14 Februari 1946
Terjadinya pertempuran ini diawali kedatangan pasukan Sekutu di Manado pada September 1945 dan berkeinginan untuk menguasai Kota Manado dan sekitarnya
Kronologi Pertempuran Merah Putih di Manado
Sekutu tiba di Manado dengan tujuan mengembalikan pemerintahan Belanda
Sekutu melarang pengibaran bendera Merah-Putih di seluruh wilayah Minahasa. Hal tersebut memicu konflik dengan rakyat
Sam Ratulangi selaku Gubernur Sulawesi Selatan membentuk Perjuangan Pusat Keselamatan Rakyat (PPKR) untuk mendukung perlawanan
Perlawanan berakhir setelah pemimpin perlawanan, termasuk Sam Ratulangi ditangkap Belanda
04
Pertempuran Merah Putih di Manado
05
Pertempuran Bandung Lautan Api
Pertempuran Bandung Lautan Api terjadi 23 Maret 1946
Pertempuran terjadi dikarenakan penolakan menyerahkan senjata hasil rampasan Jepang serta keinginan pasukan Sekutu untuk menguasai Kota Bandung
Kronologi Pertempuran Bandung Lautan Api
Sekutu tiba di Kota Bandung pada 12 Oktober 1945 bersamaan TKR melakukan perebutan senjata milik Jepang
Sekutu mengultimatum agar senjata rampasan dikembalikan, namun justru TKR melakukan serangan terhadap pasukan Inggris di Hotel Savoy dan Hotel Preanger
Pada 23 Maret 1946 Sekutu mengultimatum agar mengosongkan Kota Bandung
Rakyat Bandung merespon dengan melakukan bumi hangus kota Bandung agar tidak dapat digunakan oleh Sekutu
Pertempuran Bandung Lautan Api
05
06
Puputan Margarana
Puputan Margarana terjadi pada 20 November 1945 di Desa Margarana,Kota Tabanan, Bali
Latar belakang pertempuran ini disebabkan hasil Perundingan Renville yang membuat Bali bukan bagian de facto dari Indonesia
Belanda berupaya menyatukan Bali dalam Negara Indonesia Timur (NIT) yang kemudian ditentang oleh rakyat Bali yang ingin tetap berada dalam bagian Indonesia
Kronologi Pertempuran Puputan Margarana
Belanda menjadikan Bali bagian dari NIT namun ditentang oleh rakyat Bali
I Gusti Ngurah Rai Komandan Resimen Sunda Kecil memerintahkan Ciung Wanara untuk melucuti persenjataan polisi NICA yang kemudian memicu kemarahan Belanda
Belanda melakukan penyerangan dan dibalas oleh pasukan I Gusti Ngurah Rai dengan perlawanan ”puputan” atau sampai titik darah penghabisan
Pertempuran berakhir setelah I Gusti Ngurah Rai beserta pasukannya gugur dalam pertempuran
Puputan Margarana
06
07
Perlawanan Rakyat Makassar
Perlawanan Rakyat Makassar terjadi pada 7-25 Desember 1946
Perlawanan ini dipicu oleh keengganan rakyat untuk bergabung dalam Negara Indonesia Timur (NIT)
Hal ini kemudian direspon Belanda dengan mengirimkan pasukan elit untuk menumpas siapa saja yang menentang NIT
Kronologi Perlawanan Rakyat Makassar
Diawali dengan pembentukan Pusat Pemuda Nasional Indonesia (PPNI) yang bertujuan menentang pembentukan NIT oleh NICA
Belanda merespon dengan mengirimkan pasukan militer pimpinan Kapten Raymond Westerling dan melakukan pembantaian terhadap mereka yang menentang NIT
Wolter Monginsidi bersama rekan yang tergabung dalam PPNI melancarkan perlawanan terhadap Westerling
Pertempuran berakhir dengan korban jiwa mencapai 40.000 orang
Perlawanan Rakyat Makassar
07
Indikator: Menganalisis upaya perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan melalui jalur perjuangan fisik.
Pada Maret 1946, para pejuang Indonesia memutuskan untuk meninggalkan Kota Bandung setelah mendapat tekanan dari pasukan Sekutu. Sebelum meninggalkan kota, para pejuang bersama masyarakat membakar berbagai bangunan dan fasilitas penting. Akibatnya, sebagian besar wilayah Bandung berubah menjadi lautan api.
Berdasarkan uraian tersebut, manakah simpulan yang tepat mengenai peran rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan?
Pilihlah jawaban yang benar! Jawaban benar lebih dari satu.
1, 3, 4
Bagian 3
Strategi Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Melalui Diplomasi
01
Perundingan Pendahuluan dan Konferensi Malino
Upaya penyelesaian masalah Indonesia dengan Belanda juga diupayakan melalui jalur diplomasi
Hal ini dilakukan untuk mencari dukungan dari dunia internasional dan membawa masalah Indonesia dengan Belanda ke hadapan Dewan Keamanan PBB
Berikut upaya diplomasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam mengatasi konflik dengan Belanda
01
Perundingan Pendahuluan dan Konferensi Malino
Upaya awal dilakukan dengan melakukan Perundingan Hoge Veluwe pada 12-24 April 1946 di Hoge Veluwe, Belanda
Dalam perundingan ini Delegasi Belanda dipimpin oleh Perdana Menteri Williem Schermerhorn, sedangkan delegasi Indonesia dipimpin oleh Menteri Kehakiman Mr. Suwandi (didampingi Sudarsono dan Mr. A.K. Pringgodigdo)
Dalam perundingan Hoge Veluwe, Belanda tidak mengakui kedaulatan Republik Indonesia yang justru memicu perselisihan semakin berlanjut
01
Perundingan Pendahuluan dan Konferensi Malino
Perundingan selanjutnya adalah Konferensi Malino yang 16-22 Juli 1946 yang dilaksanakan di Malino, Sulawesi Selatan
Dalam pelaksanaan konferensi ini bertujuan mewujudkan pembentukan negara serikat yang diinginkan Ratu Wilhelmina
Perundingan kemudian berlanjut dengan Konferensi Pangkal Pinang yang dilaksanakan pada 1-12 Oktober 1946
02
Perundingan Linggajati
Perundingan Linggajati terlaksana pada 10 November 1946 di Linggarjati, Kuningan, Jawa Barat
Delegasi Indonesia terdiri dari Sutan Syahrir, Muhammad Roem, Mr. Susanto Tirtoprojo, dan dr. A. K. Gani, sedangkan delegasi Belanda antara lain Prof. Willem Schermerhorn, F. de Boer, H. J. van Mook, dan Max van Poll. Bertindak sebagai penengah adalah Lord Killearn dari Inggris.
Dalam perundingan ini, muncul ketidakpuasan terhadap hasil perundingan yang dinilai telah merugikan Indonesia, terutama dalam wilayah yang diakui oleh Belanda. Berikut hasil dari Perundingan Linggajati
Hasil Perundingan Linggajati
01
02
03
Pengaruh Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan meliputi Sumatra, Jawa, dan Madura. Belanda harus meninggalkan wilayah de facto tersebut paling lambat pada 1 Januari 1949.
Munculnya Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk negara serikat dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS). Pembentukan RIS akan segera dilaksanakan sebelum tanggal 1 Januari 1949.
RIS dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda yang diketuai oleh Ratu Belanda.
02
Perundingan Linggajati
Adanya perbedaan penafsiran dalam butir-butir hasil Perundingan Linggajati membuat konflik terjadi lagi antara pihak Belanda dengan Indonesia
Konflik ini kemudian dikenal sebagai Agresi Militer Belanda I yang terjadi pada 21 Juli 1947
03
Komisi Tiga Negara (KTN)
Selepas terjadinya Agresi Militer Belanda I, pada 25 Agustus 1947 Dewan Keamanan PBB membentuk Committee of Good Offices for Indonesia (Komite Jasa Baik untuk Indonesia) yang kemudian dikenal sebagai Komisi Tiga Negara (KTN)
Dalam KTN, pihak-pihak yang berkonflik diwakili oleh negara lain, seperti Indonesia diwakili oleh Australia yang dipimpin oleh Richard C Kirby, Belanda yang diwakili oleh Belgia yang dipimpin Paul van Zeeland
PBB sebagai penengah diwakili oleh Amerika Serikat yang dipimpin oleh Dr. Frank Graham
Hasil dari pertemuan ini hanya memberikan saran dalam penyelesaian konflik Indonesia dengan Belanda
04
Perundingan Renville
Perundingan Renville adalah sebuah pertemuan diplomasi antara Indonesia dengan Belanda yang terlaksana pada 8 Desember 1947 sampai 17 Januari 1948 di kapal USS Renville milik Amerika Serikat
Dalam perundingan ini, delegasi Indonesia dipimpin oleh Amir Syarifuddin, sedangkan delegasi Belanda dipimpin oleh Abdulkadir Widjojoatmodjo
Dalam perundingan ini, posisi Indonesia semakin tertekan setelah terjadinya Agresi Militer Belanda I membuat wilayah Indonesia yang diakui semakin mengecil. Berikut hasil dari Perundingan Renville
Hasil Perundingan Renville
01
02
03
04
Belanda hanya mengakui Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatra sebagai bagian wilayah Republik Indonesia.
05
Adanya sebuah garis demarkasi yang memisahkan wilayah Indonesia dengan daerah pendudukan Belanda.
TNI harus ditarik mundur dari daerah-daerah kantongnya di wilayah pendudukan di Jawa Barat dan Jawa Timur.
Pihak Indonesia menyetujui dibentuknya Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan segera dan Negara Republik Indonesia (NRI) merupakan negara bagian dari RIS.
Belanda bebas membentuk negara-negara bagian di daerah-daerah yang didudukinya dengan melakukan jejak pendapat/referendum terlebih dahulu.
04
Perundingan Renville
Merespon hasil Perundingan Renville, muncul ketidakpuasan terhadap pemerintah Indonesia yang dinilai tidak mampu mempertahankan keutuhan wilayah
Pihak Indonesia, terutama TNI melakukan serangan-serangan terhadap basis kekuatan milik Belanda. Hal ini dinilai Belanda sebagai bentuk pelanggaran kesepakatan hasil Perundingan Renville
Belanda merespon dengan melancarkan Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948.
Dalam serangan ini, Belanda mampu menguasai Yogyakarta dan menahan tokoh-tokoh nasional
Agar tidak dianggap pemerintahan sudah tidak ada, Sultan Hamengku Buwono IX menyusun strategi Serangan Umum 1 Maret 1949
Dalam serangan yang dipimpin Letkol Soeharto, Yogyakarta mampu dikuasai pasukan Indonesia selama 6 jam
05
Perundingan Roem-Royen
Perundingan Roem Royen merupakan pertemuan diplomasi antara Indonesia dengan Belanda yang terlaksana pada 17 April 1949 sampai 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta
Dalam perundingan ini, pihak Indonesia diketuai oleh Mr. Mohammad Roem, sedagkan pihak Belanda diketuai oleh Dr. Frederick van Royen
Dalam perundingan ini, upaya damai diwujudkan setelah terjadinya Agresi Militer Belanda II. Dunia internasional dalam hal ini PBB menekan agar ada penyelesaian konkret masalah Indonesia Belada
Hasil Perundingan Roem-Royen
01
02
03
Memerintahkan “seluruh pengikut Republik yang bersenjata” untuk menghentikan perang gerilya
Bekerja sama dalam menjaga ketertiban, keamanan, dan perdamaian
Turut serta dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag, dengan tujuan mempercepat “penyerahan” kedaulatan kepada Negara Indonesia Serikat tanpa syarat setelah para pemimpin pemerintahan kembali ke Yogyakarta.
Pemerintah Indonesia bersedia untuk:
Hasil Perundingan Roem-Royen
01
02
03
04
Menghentikan aksi militernya serta membebaskan para tahanan politik.
Menyetujui kembalinya Pemerintahan Republik Indonesia ke Yogyakarta.
Menyetujui Republik Indonesia sebagai bagian dari negara Indonesia Serikat.
Berusaha menyelenggarakan Konferensi Meja Bundar.
Pemerintah Belanda bersedia untuk:
06
Konferensi Inter-Indonesia
Sebelum pelaksanaan Konferensi Meja Bundar (KMB), dilaksanakan Konferensi Inter-Indonesia (KII) yang dilaksanakan pada 19-22 Juli 1949 dan 31 Juli-31 Agustus 1949
Tujuan pelaksanaan konferensi ini adalah menyatukan pandangan politik jelang menhadapi Belanda dalam Konferensi Meja Bundar
Dalam konferensi ini diputuskan hasil yang berfokus pada penyelesaian masalah dalam bidang pertahanan dan militer. Berikut hasil dari Konferensi Inter-Indonesia
Hasil Konferensi Inter-Indonesia
01
02
Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) merupakan angkatan perang nasional.
.
03
TNI merupakan kekuatan inti APRIS. APRIS akan menerima orang-orang Indonesia yang ada di dalam kesatuan KNIL, VB (Veilighelds Bataljons), dan kesatuan tentara Belanda lainnya dengan syarat yang akan ditentukan lebih lanjut.
Pertahanan negara menjadi tugas dan hak pemerintah federal. Negara-negara bagian tidak mempunyai angkatan perang sendiri.
07
Konferensi Meja Bundar (KMB)
Konferensi Meja Bundar (KMB) terlaksana pada di Den Haag, Belanda pada 23 Agustus 1949 sampai 2 November 1949
Dalam perundingan KMB, pihak Indonesia dipimpin oleh Mohammad Hatta, sedangkan pihak Belanda dipimpin oleh J.V. Maarseven.
Dalam perundingan tersebut hadir delegasi BFO dipimpin oleh Sultan Hamid II, dan UNCI diketuai oleh Chritchley.
Konferensi Meja Bundar menjadi pertemuan diplomasi akhir antara Indonesia dengan Belanda yang menghasilkan pengakuan Belanda atas Indonesia sebagai negara berdaulat dalam bentuk Republik Indonesia Serikat (RIS).
Hasil Konferensi Meja Bundar
01
02
03
04
Belanda akan menyerahkan kedaulatan kepada RIS pada akhir Desember 1949
.
05
Indonesia akan membayar utang-utang Belanda sejak tahun 1942.
Kerajaan Belanda akan membentuk Uni Indonesia-Belanda. Uni akan menjadi badan konstitusi bersama dalam menyelesaikan kepentingan umum.
Pembentukan APRIS dengan TNI sebagai inti. KNIL akan dibubarkan dan para anggotanya akan masuk ke dalam APRIS.
Soal Irian Barat, penyelesaiannya akan ditunda selama satu tahun.
06
Penyelesaian masalah keuangan, ekonomi, sosial-budaya, dan lain-lainnya.
Pengakuan Kedaulatan
Hasil Perundingan KMB berupa pengakuan dan penyerahan kedaulatan Indonesia kemudian ditandatangani pada 27 Desember 1949 di Belanda dan Jakarta
Dalam penandatanganan pengakuan dan kedaulatan di Belanda, pihak Indonesia dipimpin oleh Mohammad Hatta, sedangkan pihak Belanda dipimpin oleh Ratu Juliana
Sedangkan pendatanganan pengakuan dan kedaulatan di Jakarta, pihak Indonesia diwakili Sultan Hamengku Buwono IX, sedangkan pihak Belanda wakil tinggi mahkota Belanda A. H. J. Lovink
Indikator: Menganalisis upaya perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan melalui jalur diplomasi.
Perhatikan gambar disamping!
Sumber: JCktionaal Archief (Belanda) (1945)
Keputusan hasil perundingan pada gambar menunjukkan keberhasilan Indonesia dalam memperjuangkan kepentingan nasional melalui jalur diplomasi. Manakah pernyataan berikut yang menunjukkan keputusan hasil perundingan tersebut?
Pilihlah jawaban yang benar! Jawaban benar lebih dari satu.
1, 2, 4
Bagian 4
Kembali ke Bentuk Negara Kesatuan
Usia dari Republik Indonesia Serikat (RIS) tidak bertahan lama
Hal ini dikarenakan keinginan dari setiap pemimpin negara bagian menghendaki bentuk negara kesatuan
Hingga pada 17 Agustus 1950, Republik Indonesia Serikat (RIS) dibubarkan dan Indonesia kembali dalam bentuk kesatuan dengan menerapkan sistem parlementer yang kemudian dikenal sebagai Demokrasi Liberal
Sumber gambar:
freepik.com
shutterstock.com
pixabay.com
wikimedia.org
kemdikbud.go.id
tirto.id