1 of 129

Implementasi Kurikulum Merdeka

2 of 129

Agenda

Overview Kurikulum Merdeka

Penyusunan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan dan analisis Capaian Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran

Modul Ajar Kurikulum Merdeka, Perencanaan dan Pelaksanaan Asesmen Diagnostik

Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila

3 of 129

4 of 129

Overview Kurikulum Merdeka

1

5 of 129

Pra pandemi

Kurikulum 2013

PANDEMI

Kurikulum 2013 dan Kurikulum Darurat (Kur-2013 yang disederhanakan)

.

pandemi

Kurikulum 2013, Kurikulum Darurat, dan Kurikulum Merdeka di SP dan SMK PK

Pemulihan pembelajaran

Kurikulum 2013,

Kurikulum Darurat,

dan Kurikulum Merdeka sebagai opsi bagi semua satuan pendidikan

Penentuan kebijakan kurikulum nasional berdasarkan evaluasi terhadap kurikulum pada masa pemulihan pembelajaran

.

2024

2022-2024

2021-2022

2020-2021

<2020

Kurikulum merdeka diberikan sebagai opsi tambahan bagi satuan pendidikan untuk melakukan pemulihan pembelajaran selama 2022-2024. Kebijakan kurikulum nasional akan dikaji ulang pada 2024 berdasarkan evaluasi selama masa pemulihan pembelajaran.

6 of 129

Kurikulum merdeka melanjutkan arah pengembangan kurikulum sebelumnya:

  1. Orientasi holistik: kurikulum dirancang untuk mengembangkan murid secara holistik, mencakup kecakapan akademis dan non-akademis, kompetensi kognitif, sosial, emosional, dan spiritual.
  2. Berbasis kompetensi, bukan konten: kurikulum dirancang berdasarkan kompetensi yang ingin dikembangkan, bukan berdasarkan konten atau materi tertentu.
  3. Kontekstualisasi dan personalisasi: kurikulum dirancang sesuai konteks (budaya, misi sekolah, lingkungan lokal) dan kebutuhan murid.

6

Benang Merah Pengembangan Kurikulum

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

7 of 129

Efektivitas kurikulum dalam kondisi khusus semakin menguatkan pentingnya perubahan rancangan dan strategi implementasi kurikulum secara lebih komprehensif

Rancangan dan

Implementasi Kurikulum Saat Ini:

Arah Perubahan Kurikulum:

Struktur kurikulum yang kurang fleksibel, jam pelajaran ditentukan per minggu

Materi terlalu padat sehingga tidak cukup waktu untuk melakukan pembelajaran yang mendalam dan yang sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik

Materi pembelajaran yang tersedia kurang beragam sehingga guru kurang leluasa dalam mengembangkan pembelajaran kontekstual

Teknologi digital belum digunakan secara sistematis untuk mendukung proses belajar guru melalui berbagi praktik baik

Struktur kurikulum yang lebih fleksibel, jam pelajaran ditargetkan untuk dipenuhi dalam satu tahun

Fokus pada materi yang esensial, Capaian Pembelajaran diatur per fase, bukan per tahun

Memberikan keleluasaan bagi guru menggunakan berbagai perangkat ajar sesuai kebutuhan dan karakteristik peserta didik

Aplikasi yang menyediakan berbagai referensi bagi guru untuk dapat terus mengembangkan praktik mengajar secara mandiri dan berbagi praktik baik.

8 of 129

Keunggulan Kurikulum Merdeka

1. Lebih Sederhana dan Mendalam

Fokus pada materi yang esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya. Belajar menjadi lebih mendalam, bermakna, tidak terburu-buru dan menyenangkan.

9 of 129

Keunggulan Kurikulum Merdeka

2. Lebih Merdeka

Peserta didik: Tidak ada program peminatan di SMA, peserta didik memilih mata pelajaran sesuai minat, bakat, dan aspirasinya.

Guru: Guru mengajar sesuai tahap capaian dan perkembangan peserta didik.

Satuan pendidikan: memiliki wewenang untuk mengembangkan dan mengelola kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik.

10 of 129

Keunggulan Kurikulum Merdeka

3. Lebih Relevan dan Interaktif

Pembelajaran melalui kegiatan projek memberikan kesempatan lebih luas kepada peserta didik untuk secara aktif mengeksplorasi isu-isu aktual misalnya isu lingkungan, kesehatan, dan lainnya untuk mendukung pengembangan karakter dan kompetensi Profil Pelajar Pancasila.

11 of 129

Kesiapan satuan pendidikan untuk mengimplementasi kurikulum berbeda-beda, terutama dalam situasi Pandemi COVID-19. Menyadari kompleksitas tersebut, maka:

2

1

Sumber: Kepmendikbudristek Nomor 56 Tahun 2022

Pemerintah tidak mewajibkan satuan pendidikan untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka

Implementasi Kurikulum Merdeka dapat disesuaikan dengan kesiapan masing-masing satuan pendidikan

12 of 129

Dalam pemulihan pembelajaran, sekarang sekolah diberikan kebebasan menentukan kurikulum yang akan dipilih

Pilihan 1

Kurikulum 2013

Secara penuh

Pilihan 2

Kurikulum Darurat

yaitu Kurikulum 2013 yang disederhanakan

Pilihan 3

Kurikulum Merdeka

13 of 129

Untuk satuan pendidikan yang memilih Kurikulum Merdeka, implementasinya dapat disesuaikan dengan kesiapan masing-masing

Satuan pendidikan menentukan pilihan berdasarkan Angket Kesiapan Implementasi Kurikulum Prototipe yang mengukur kesiapan guru dan tenaga kependidikan. Tidak ada pilihan yang paling benar, yang ada pilihan yang paling sesuai kesiapan satuan pendidikan. Semakin sesuai maka semakin efektif implementasi Kurikulum Prototipe.

Pilihan 3: Mandiri Berbagi

Menerapkan Kurikulum Merdeka dengan mengembangkan sendiri berbagai perangkat ajar di satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10.

Pilihan 1: Mandiri Belajar

Menerapkan beberapa bagian dan prinsip Kurikulum Merdeka, tanpa mengganti kurikulum satuan pendidikan yang sedang diterapkan.

Pilihan 2: Mandiri berubah

Menerapkan Kurikulum Merdeka menggunakan perangkat ajar yang sudah disediakan pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10.

Angket Kesiapan Implementasi Kurikulum Prototipe dapat diakses melalui: https://kurikulum.gtk.kemdikbud.go.id/

14 of 129

Dukungan untuk kesiapan implementasi

Dukungan apa yang diberikan Pemerintah untuk satuan pendidikan yang menerapkan Kurikulum Merdeka?

15 of 129

Sebelum melanjutkan, dapatkah Ibu dan Bapak memperkirakan dukungan apa, baik berupa kebijakan ataupun teknis, yang dibutuhkan satuan pendidikan dan pendidik untuk menerapkan Kurikulum Merdeka?

16 of 129

Penerapan Kurikulum Merdeka didukung melalui penyediaan beragam perangkat ajar serta pelatihan dan penyediaan sumber belajar guru, kepala sekolah, dan dinas pendidikan.

  • Perangkat ajar (buku teks, contoh-contoh alur tujuan pembelajaran, kurikulum operasional sekolah, serta modul ajar dan projek penguatan profil Pelajar Pancasila disediakan melalui platform digital bagi guru. Satuan pendidikan dapat melakukan pengadaan buku teks secara mandiri dengan BOS reguler atas dukungan Pemda dan yayasan
  • Buku cetak dapat dibeli menggunakan dana BOS melalui SIPLah atau cetak mandiri

02

01

03

Penyediaan Perangkat ajar: buku teks dan bahan ajar pendukung

Pelatihan dan penyediaan sumber belajar guru, kepala sekolah, dan pemda

Jaminan jam mengajar

dan tunjangan profesi

guru

  • Pelatihan mandiri bagi guru dan kepala sekolah melalui micro learning di aplikasi digital.
  • Menyediakan berbagai narasumber dalam pelatihan Kurikulum Merdeka. Misalnya, melalui pengimbasan dari Sekolah Penggerak.
  • Berbagai sumber belajar untuk guru dalam bentuk e-book, video, podcast dll., yang dapat diakses daring dan didistribusikan melalui media penyimpanan (flashdisk).
  • Guru membentuk komunitas belajar untuk saling berbagi praktik baik dalam adopsi Kurikulum Merdeka, baik di satuan pendidikan maupun di komunitasnya
  • Perubahan struktur mata pelajaran tidak merugikan guru
  • Semua guru yang berhak mendapatkan tunjangan profesi ketika menggunakan Kurikulum 2013 akan tetap mendapatkan hak tersebut

17 of 129

Perangkat ajar merupakan berbagai bahan ajar (tidak hanya buku teks) yang digunakan untuk mencapai profil pelajar Pancasila dan Capaian Pembelajaran

Modul projek penguatan profil pelajar Pancasila dengan tema Bhineka Tunggal Ika untuk Fase A

Modul ajar Bahasa Indonesia untuk Fase D (SMP)

Buku teks mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk kelas X

18 of 129

Struktur kurikulum

PAUD

SD

SMP

SMA

19 of 129

19

Pengembangan Karakter

Dalam struktur kurikulum prototipe, 20 - 30 persen jam pelajaran digunakan untuk pengembangan karakter Profil Pelajar Pancasila melalui pembelajaran berbasis projek.

Kurikulum 2013 sudah menekankan pada pengembangan karakter, namun belum memberi porsi khusus dalam struktur kurikulumnya.

Pembelajaran berbasis projek penting untuk pengembangan karakter karena:

  1. memberi kesempatan untuk belajar melalui pengalaman (experiential learning)
  2. Mengintegrasikan kompetensi esensial yang dipelajari peserta didik dari berbagai disiplin ilmu
  3. struktur belajar yang fleksibel

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

20 of 129

TETAP

Ditetapkan oleh pemerintah pusat

FLEKSIBEL/DINAMIS

Satuan pendidikan mengembangkan kurikulum operasional berdasarkan kerangka dan struktur kurikulum, sesuai karakteristik satuan pendidikan

Tujuan Pendidikan Nasional

Profil Pelajar Pancasila

Standar Kompetensi Lulusan

(untuk PAUD STPPA)

Standar Isi

Standar Proses

Capaian Pembelajaran

Standar lainnya

Struktur Kurikulum

Prinsip Pembelajaran dan

Asesmen

  • Visi & Misi satuan pendidikan
  • Konteks dan kebijakan lokal
  • Kurikulum operasional di satuan pendidikan
  • Perangkat ajar yang dikembangkan secara mandiri

Standar Penilaian

Kerangka Dasar Kurikulum ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dengan mengacu pada Tujuan Pendidikan Nasional dan SNP

Contoh Perangkat Ajar: Buku Teks Pelajaran, Bahan Ajar, modul ajar mata pelajaran dan projek profil pelajar Pancasila, contoh kurikulum satuan pendidikan

21 of 129

Struktur Kurikulum Merdeka:

Apa kekhasan dari Kurikulum Merdeka?

22 of 129

22

PAUD

Kegiatan bermain sebagai proses belajar yang utama

Penguatan literasi dini dan penanaman karakter melalui kegiatan bermain-belajar berbasis buku bacaan anak

Fase Fondasi untuk meningkatkan kesiapan bersekolah

Pembelajaran berbasis projek untuk penguatan profil Pelajar Pancasila dilakukan melalui kegiatan perayaan hari besar dan perayaan tradisi lokal

SD

Penguatan kompetensi yang mendasar dan pemahaman holistik:

  • Untuk memahami lingkungan sekitar, mata pelajar an IPA dan IPS diga bungkan sebagai mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS)
  • Integrasi computational thinking dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPAS
  • Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran pilihan

Pembelajaran berbasis projek untuk penguatan profil Pelajar Pancasila dilakukan minimal 2 kali dalam satu tahun ajaran

SMP

Penyesuaian dengan perkembangan teknologi digital, mata pelajaran Informatika menja di mata pelajaran wajib

Panduan untuk guru Informatika disiapkan untuk membantu guru-guru pemula, sehingga guru mata pelajaran tidak harus berlatar belakang pendidikan informatika

Pembelajaran berbasis pro jek untuk penguatan profil Pe lajar Pancasila dilakukan minimal 3 kali dalam satu tahun ajaran

SMA

Program peminatan/ penjurus an tidak diberlakukan

Di kelas 10 pelajar menyiap kan diri untuk menentukan pilihan mata pelajaran di kelas 11. Mata pelajaran yang dipela jari serupa dengan di SMP

Di kelas 11 dan 12 pelajar mengikuti mata pelajaran dari Kelompok Mapel Wajib, dan memilih mata pelajaran dari kelompok MIPA, IPS, Bahasa, dan Keterampilan Vokasi sesuai minat, bakat, dan aspirasi nya

Pembelajaran berbasis projek untuk penguatan profil Pelajar Pancasila dilakukan minimal 3 kali dalam satu tahun ajaran, dan pelajar menulis esai ilmiah sebagai syarat kelulusan

SMK

Dunia kerja dapat terlibat dalam pengembangan pembelajaran

Struktur lebih sederhana dengan dua kelompok mata pelajaran, yaitu Umum dan Kejuruan. Persentase kelompok kejuruan meningkat dari 60% ke 70%

Penerapan pembelajaran ber basis projek dengan mengintegra sikan mata pelajaran terkait.

Praktek Kerja Lapangan (PKL) menjadi mata pelajaran wajib minimal 6 bulan (1 semester).

Pelajar dapat memilih mata pelajar an di luar program keahliannya

Alokasi waktu khusus projek penguatan profil pelajar Pancasila dan Budaya Kerja untuk peningkatan soft skill (karakter dari dunia kerja)

SLB

Capaian pembelajaran pendidikan khusus dibuat hanya untuk yang memiliki hambatan intelektual

Untuk pelajar di SLB yang tidak memiliki hambatan intelektual, capaian pembelajarannya sama dengan sekolah reguler yang sederajat, dengan menerapkan prinsip modifikasi kurikulum

Sama dengan pelajar di sekolah reguler, pelajar di SLB juga menerapkan pembelajaran berbasis projek untuk menguatkan Pelajar Pancasila dengan mengusung tema yang sama dengan sekolah regu ler, dengan kedalaman materi dan aktivitas sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan pelajar di SLB

Karakteristik Kurikulum di Setiap Jenjang

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

23 of 129

Struktur Kurikulum

Pendidikan Anak Usía Dini (PAUD), Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah

  1. Pembelajaran intrakurikuler. Kegiatan

pembelajaran intrakurikuler untuk setiap mata pelajaran mengacu pada capaian

pembelajaran.

  1. Projek penguatan profil pelajar Pancasila. Kegiatan khusus yang ditujukan untuk memperkuat upaya pencapaian profil pelajar Pancasila yang mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan.

Secara pengelolaan waktu pelaksanaan, projek dapat dilaksanakan dengan menjumlah alokasi jam pelajaran projek dari semua mata pelajaran dan jumlah total waktu pelaksanaan masing-masing projek tidak harus sama.

Alokasi waktu untuk setiap projek penguatan profil pelajar Pancasila tidak harus sama. Satu projek dapat dilakukan dengan durasi waktu yang lebih panjang daripada projek yang lain.

24 of 129

Muatan Lokal

Satuan pendidikan menambahkan muatan lokal yang ditetapkan oleh pemerintah daerah sesuai dengan karakteristik daerah. Satuan pendidikan dapat menambahkan muatan tambahan sesuai karakteristik satuan pendidikan secara fleksibel, melalui 3 (tiga) pilihan sebagai berikut:

  1. Mengintegrasikan ke dalam mata pelajaran lain;
  2. Mengintegrasikan ke dalam tema projek penguatan profil pelajar Pancasila; dan/atau
  3. Mengembangkan mata pelajaran yang berdiri sendiri.

25 of 129

Struktur Kurikulum SD

Struktur kurikulum SD/MI dibagi menjadi 3 (tiga) Fase:

  1. Fase A untuk Kelas I dan Kelas II;
  2. Fase B untuk Kelas III dan Kelas IV; dan
  3. Fase C untuk Kelas V dan Kelas VI.

Satuan pendidikan SD/MI dapat mengorganisasikan muatan pembelajaran menggunakan pendekatan mata pelajaran atau tematik. Proporsi beban belajar di SD/MI terbagi menjadi 2 (dua), yaitu:

  1. pembelajaran intrakurikuler; dan
  2. projek penguatan profil pelajar Pancasila, dialokasikan sekitar 20% (dua puluh persen) beban belajar per-tahun.

Pelaksanaan projek penguatan profil pelajar Pancasila dilakukan secara fleksibel, baik muatan maupun waktu pelaksanaan. Secara muatan, projek harus mengacu pada capaian profil pelajar Pancasila sesuai dengan fase peserta didik, dan tidak harus dikaitkan dengan capaian pembelajaran pada mata pelajaran.

Secara pengelolaan waktu pelaksanaan, projek dapat dilaksanakan dengan menjumlah alokasi jam pelajaran projek penguatan profil pelajar Pancasila dari semua mata pelajaran dan jumlah total waktu pelaksanaan masing-masing projek tidak harus sama.

26 of 129

Alokasi Waktu Mata Pelajaran SD/MI Kelas I

Asumsi 1 Tahun = 36 minggu

1 JP = 35 menit

Alokasi per tahun (minggu)

Alokasi Projek per tahun

TOTAL JP PER TAHUN

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti*

108 (3)

36

144

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti*

108 (3)

36

144

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti*

108 (3)

36

144

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti*

108 (3)

36

144

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti*

108 (3)

36

144

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti*

108 (3)

36

144

Pendidikan Pancasila

144 (4)

36

180

Bahasa Indonesia

216 (6)

72

288

Matematika

144 (4)

36

180

PJOK

108 (3)

36

144

Seni dan Budaya**:

  • Seni Musik
  • Seni Rupa
  • Seni Teater
  • Seni Tari

108 (3)

36

144

Bahasa Inggris***

72 (2)

-

72

Muatan Lokal***

72 (2)

72

Total****:

828 (23)

252

1080

* Diikuti oleh peserta didik sesuai dengan agama/kepercayaan masing-masing.

** Satuan pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, dan/atau Seni Tari). Peserta didik memilih 1 (satu) jenis seni (Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, atau Seni Tari).

*** Maksimal 2 JP per minggu atau 72 JP per tahun.

**** Total JP tidak termasuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Muatan Lokal, dan/atau mata pelajaran tambahan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan.

27 of 129

Alokasi Waktu Mata Pelajaran SD/MI Kelas II

Asumsi 1 Tahun = 36 minggu

1 JP = 35 menit

Alokasi pertahun

(minggu)

Alokasi Projek per tahun

TOTAL JP PER

TAHUN

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti*

108 (3)

36

144

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti*

108 (3)

36

144

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti*

108 (3)

36

144

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti*

108 (3)

36

144

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti*

108 (3)

36

144

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti*

108 (3)

36

144

Pendidikan Pancasila

144 (4)

36

180

Bahasa Indonesia

252 (7)

72

324

Matematika

180 (5) ***

36

216

PJOK

108 (3)

36

144

Seni dan Budaya**:

  • Seni Musik
  • Seni Rupa
  • Seni Teater
  • Seni Tari

108 (3)

36

144

Bahasa Inggris***

72 (2)

-

72

Muatan Lokal***

72 (2)

72

Total****:

900 (25)

252

1152

* Diikuti oleh peserta didik sesuai dengan agama/kepercayaan masing-masing.

** Satuan pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, dan/atau Seni Tari). Peserta didik memilih 1 (satu) jenis seni (Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, atau Seni Tari).

*** Maksimal 2 JP per minggu atau 72 JP per tahun.

**** Total JP tidak termasuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Muatan Lokal, dan/atau mata pelajaran tambahan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan.

28 of 129

Alokasi Waktu Mata Pelajaran SD/MI Kelas III-V

* Diikuti oleh peserta didik sesuai dengan agama/kepercayaan masing- masing.

** Satuan pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, dan/atau Seni Tari). Peserta didik memilih 1 (satu) jenis seni (Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, atau Seni Tari).

*** Maksimal 2 JP per minggu atau 72 JP per tahun.

**** Total JP tidak termasuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Muatan Lokal, dan/atau mata pelajaran tambahan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan.

Asumsi 1 Tahun = 36 minggu

1 JP = 35 menit

Alokasi per tahun (minggu)

Alokasi Projek per tahun

TOTAL JP PER TAHUN

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti*

108 (3)

36

144

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti*

108 (3)

36

144

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti*

108 (3)

36

144

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti*

108 (3)

36

144

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti*

108 (3)

36

144

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti*

108 (3)

36

144

Pendidikan Pancasila

144 (4)

36

180

Bahasa Indonesia

216 (6)

36

252

Matematika

180 (5)

36

216

IPAS

180 (5)

36

216

PJOK

108 (3)

36

144

Seni dan Budaya**:

  • Seni Musik
  • Seni Rupa
  • Seni Teater
  • Seni Tari

108 (3)

36

144

Bahasa Inggris***

72 (2)

-

72

Muatan Lokal***

72 (2)

-

72

Total****:

1044 (29)

252

1296

29 of 129

Alokasi Waktu Mata Pelajaran SD/MI Kelas VI

Asumsi 1 Tahun = 36 minggu

K13

Program Sekolah Penggerak

Per Minggu

Alokasi per tahun (minggu)

Alokasi Projek per tahun

Total JP Per Tahun

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti*

4

96 (3)

32

128

Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti*

4

96 (3)

32

128

Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti*

4

96 (3)

32

128

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti*

4

96 (3)

32

128

Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti*

4

96 (3)

32

128

Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti*

4

96 (3)

32

128

Pendidikan Pancasila

6

128 (4)

32

160

Bahasa Indonesia

10

192 (6)

32

224

Matematika

6

160 (5)

32

192

Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial

-

160 (5)

32

192

Pendidikan Jasmani Olahraga dan kesehatan

-

96 (3)

32

128

Pilihan minimal 1:

a) Seni Musik, b) Seni Rupa, c) Seni Teater, d) Seni Tari

4

96 (3)

32

128

Bahasa Inggris***

2

64 (2)***

64***

Muatan Lokal***

2

64 (2)***

64***

Total***

928(29)

224

1152

****Jam pelajaran kelas 3 SD mengalami peningkatan, mengikuti struktur kelas 4 karena IPAS dimulai di kelas 3

***opsional. Satuan Pendidikan dapat mengintegrasikan muatan lokal dalam mapel lain atau diajarkan melalui kegiatan projek.

Total JP tidak termasuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Muatan Lokal dan/atau mata pelajaran tambahan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan

30 of 129

31 of 129

31

32 of 129

32

33 of 129

CATATAN

33

  1. Mata pelajaran Bahasa Inggris merupakan mata pelajaran pilihan yang dapat diselenggarakan berdasarkan kesiapan satuan pendidikan.
  2. Pemerintah daerah melakukan fasilitasi penyelenggaraan mata pelajaran Bahasa Inggris, misalnya terkait peningkatan kompetensi dan penyediaan pendidik.
  3. Satuan pendidikan yang belum siap memberikan mata pelajaran Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran pilihan dapat mengintegrasikan muatan Bahasa Inggris ke dalam mata pelajaran lain dan/atau ekstrakurikuler dengan melibatkan masyarakat, komite sekolah, relawan mahasiswa, dan/atau bimbingan orang tua.

34 of 129

Penyusunan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan dan analisis Capaian Pembelajaran

2

35 of 129

M

T

W

T

F

Sumber: OECD (2018)

Jika dianalogikan dengan sebuah perjalanan berkendara, CP memberikan tujuan umum dan ketersediaan waktu untuk mencapainya (fase).

Untuk mencapai tujuan tersebut, setiap pengemudi memiliki kebebasan untuk memilih jalur, cara, dan alat untuk menempuh perjalanan tersebut, yang disesuaikan dengan titik keberangkatan, kondisi, kemampuan, dan kecepatan masing-masing.

Dalam mencapai CP, kita perlu membangun kompetensi untuk melakukan perjalanan tersebut agar tiba di tujuan pada waktu yang ditentukan. Setiap satuan pendidikan dipersilakan mengatur strategi efektif untuk mencapai CP, sesuai dengan kemampuan dan potensinya.

Sumber gambar: https://www.theaa.com/driving-school/driving-lessons/advice/show-me-tell-me

36 of 129

M

T

W

T

F

Sumber: OECD (2018)

Garis finish CP ada di akhir kelas 12. Untuk mencapai garis finish tersebut, pemerintah membuatnya ke dalam 6 etape yang disebut fase. Setiap fase lamanya 1-3 tahun.

Penggunaan istilah “fase” dilakukan untuk membedakannya dengan kelas karena peserta didik di satu kelas yang sama bisa jadi belajar dalam fase pembelajaran yang berbeda.

Fase memberikan keleluasaan dan keadilan bagi guru dan siswa untuk menyesuaikan rancangan pembelajaran dengan tahapan perkembangan, kemampuan, minat, konteks, dan kecepatan belajar siswa (Teaching at The Right Level).

Dengan penggunaan Fase, diharapkan siswa akan dapat memiliki waktu lebih panjang untuk memahami dan mendalami konsep-konsep dan keterampilan untuk mencapai sebuah kompetensi yang dibangun CP.

sumber gambar: https://momobil.id/news/penjelasan-arti-indikator-huruf-di-speedometer-mobil/

37 of 129

Untuk mencapai tujuan tersebut, Pemerintah menetapkan Kerangka Dasar Kurikulum yang terdiri dari Struktur Kurikulum, Capaian Pembelajaran, dan Prinsip Pembelajaran dan Asesmen.

38 of 129

Pengertian Capaian Pembelajaran

“Capaian Pembelajaran (CP) merupakan kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik pada setiap fase, dimulai dari Fase Fondasi pada PAUD. Untuk Pendidikan dasar dan menengah, CP disusun untuk setiap mata pelajaran.”

(lihat: Keputusan Menteri Republik Indonesia Nomor 56/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam rangka Pemulihan Pembelajaran)

Pemerintah hanya menetapkan tujuan akhir per fase (CP) dan waktu tempuhnya (fase). Satuan pendidikan memiliki keleluasaan untuk menentukan strategi dan cara atau jalur untuk mencapainya. Agar bisa menentukan strategi yang sesuai, kita perlu tau titik awal keberangkatan para peserta didik.

39 of 129

Sistematika Capaian Pembelajaran

  • Rasional
  • Tujuan
  • Karakteristik
  • CP

40 of 129

Komponen CP

2

3

4

1

Rasional Mata Pelajaran

  • Alasan mempelajari mapel tersebut
  • keterkaitan antara Mapel dengan salah satu (atau lebih) Profil Pelajar Pancasila

Tujuan Mata Pelajaran

Kemampuan yang perlu dicapai pelajar setelah mempelajari mata pelajaran tersebut

Karakteristik Mata Pelajaran

  • Deskripsi umum tentang apa yang dipelajari dalam mata pelajaran
  • Elemen-elemen (strands) atau domain mata pelajaran serta deskripsinya

Capaian dalam setiap fase secara keseluruhan

Kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik pada setiap fase. Dibuat dalam bentuk pernyataan yang disajikan dalam paragraf yang utuh.

Capaian setiap fase menurut elemen

Dibuat dalam bentuk matriks. Setiap elemen dipetakan menurut perkembangan siswa

41 of 129

Capaian pembelajaran dalam bentuk

KI KD sangat banyak dan terpisah-pisah.

CP ditulis dalam paragraf yang utuh dan mudah dipahami sebagai satu kesatuan.

KI/KD Kelas 1 dan 2 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Kurikulum 2013

Capaian Pembelajaran Kelas 1 dan 2 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

Fase A

(Usia 6-8, umumnya kelas 1-2 SD)

Pelajar memiliki kemampuan berbahasa untuk berkomunikasi dan bernalar sesuai dengan tujuan kepada teman sebaya dan orang dewasa tentang diri dan lingkungan sekitarnya. Pelajar mampu memahami dan menyampaikan pesan; mengekspresikan perasaan dan gagasan; berpartisipasi dalam percakapan dan diskusi secara santun. pelajar mampu meningkatkan penguasaan kosakata baru melalui berbagai kegiatan berbahasa dan bersastra dengan topik yang beragam.

Menyimak

Pelajar mampu bersikap menjadi penyimak yang baik. Pelajar mampu memahami pesan lisan dan informasi dari media audio, teks aural (teks yang dibacakan), dan instruksi lisan yang berkaitan dengan tujuan berkomunikasi.

Membaca & Memirsa

Pelajar mampu bersikap menjadi pembaca dan pemirsa yang baik. Pelajar mampu memahami informasi dari bacaan dan tayangan yang dipirsa tentang diri dan lingkungan, narasi imajinatif, dan puisi anak. Pelajar mampu menambah kosakata baru dari teks yang dibaca atau tayangan yang dipirsa dengan bantuan ilustrasi.

Berbicara & Mempresentasikan

Pelajar mampu melafalkan teks dengan tepat, berbicara dengan santun, menggunakan volume dan intonasi yang tepat sesuai konteks. Pelajar mampu bertanya tentang sesuatu, menjawab, dan menanggapi komentar orang lain (teman, guru, dan orang dewasa) dengan baik dan santun dalam suatu percakapan. Pelajar mampu mengungkapkan gagasan secara lisan dengan bantuan gambar dan/atau ilustrasi. Pelajar mampu menceritakan kembali suatu informasi yang dibaca atau didengar; dan menceritakan kembali teks narasi yang dibacakan atau dibaca dengan topik diri dan lingkungan.

Menulis

Pelajar mampu bersikap dalam menulis di atas kertas dan/atau melalui media digital. Pelajar mampu menulis deskripsi dengan beberapa kalimat tunggal, menulis rekon tentang pengalaman diri, menulis kembali narasi berdasarkan fiksi yang dibaca atau didengar, menulis prosedur tentang kehidupan sehari-hari, dan menulis eksposisi tentang kehidupan sehari-hari. Pelajar mengembangkan tulisan tangan yang semakin baik.

41

42 of 129

Contoh: Elemen CP mapel Seni Rupa

2

3

4

Elemen

Fase A

Fase B

Fase C

Berpikir dan

Bekerja Artistik

Siswa mampu mengenali dan membiasakan diri dengan berbagai prosedur dasar sederhana untuk berkarya dengan aneka pilihan media yang tersedia di sekitar. Siswa mengetahui dan memahami keutamaan faktor keselamatan dalam bekerja

Siswa mulai terbiasa secara mandiri menggunakan berbagai prosedur dasar sederhana untuk berkarya dengan aneka pilihan media yang tersedia di sekitar. Siswa mengetahui, memahami dan mulai konsisten mengutamakan faktor keselamatan dalam bekerja

Siswa secara mandiri menggunakan berbagai prosedur dasar sederhana untuk berkarya dengan aneka pilihan media yang tersedia di sekitar. Siswa mengetahui, memahami dan konsisten mengutamakan faktor keselamatan dalam bekerja.

Mengalami

Siswa mampu mengamati, mengenal, merekam dan menuangkan pengalaman kesehariannya secara visual dengan menggunakan bentuk-bentuk dasar geometris. Siswa mengeksplorasi alat dan bahan dasar dalam berkarya. Siswa juga mengenali prosedur dasar dalam berkarya

Siswa mampu mengamati, mengenal, merekam dan menuangkan pengalaman kesehariannya secara visual dengan menggunakan garis pijak dan proporsi walaupun masih berdasarkan penglihatan sendiri. Siswa dapat menggunakan alat, bahan dan prosedur dasar dalam berkarya.

Siswa mampu mengamati, mengenal, merekam dan menuangkan pengalaman kesehariannya secara visual dengan menggunakan konsep ruang, garis horison, pemahaman warna, keseimbangan (balance) dan irama/ritme (rhythm). Siswa dapat menggunakan dan menggabungkan alat, bahan dan prosedur dasar dalam berkarya

Menciptakan

Siswa mampu menciptakan karya dengan mengeksplorasi dan menggunakan elemen seni rupa berupa garis, bentuk dan warna

Siswa mampu menciptakan karya dengan mengeksplorasi dan menggunakan elemen seni rupa berupa garis, bentuk, tekstur, ruang dan warna.

Siswa mampu menciptakan karya dengan mengeksplorasi, menggunakan dan menggabungkan elemen seni rupa yang telah dipelajari. Siswa mulai menggunakan garis horizon. Selain itu, siswa mulai menunjukkan pemahaman warna, keseimbangan dan irama/ritme dalam karya

43 of 129

Contoh: Elemen CP mapel Seni Rupa

2

3

4

Elemen

Fase A

Fase B

Fase C

Merefleksikan

Siswa mampu mengenali dan menceritakan fokus dari karya yang diciptakan atau dilihatnya (dari teman sekelas karya seni dari orang lain) serta pengalaman dan perasaannya mengenai karya tersebut.

Siswa mampu mengenali dan menceritakan fokus dari karya yang diciptakan atau dilihatnya (dari teman sekelas karya seni dari orang lain atau era atau budaya tertentu) serta pengalaman dan perasaannya mengenai karya tersebut

Siswa mampu mengenali dan menceritakan fokus dari karya yang diciptakan atau dilihatnya (dari teman sekelas karya seni dari orang lain atau era atau budaya tertentu) serta pengalaman dan perasaannya mengenai karya tersebut

Berdampak

Siswa mampu menciptakan karya sendiri yang sesuai dengan perasaan atau minatnya

Siswa mampu menciptakan karya sendiri yang sesuai dengan perasaan,minat atau konteks lingkungannya

Siswa mampu menciptakan karya sendiri yang sesuai dengan perasaan,minat atau konteks lingkungannya

44 of 129

Pengertian Kompetensi dalam Capaian Pembelajaran

45 of 129

M

T

W

T

F

Sumber: OECD (2018)

6 Aspek/Facet Pemahaman merupakan cara untuk mengkonfirmasi pemahaman siswa atas apa yang telah mereka pelajari dan tidak hirarkis/bukan merupakan siklus.

Jika siswa melakukan salah satu dari keenam Aspek/Facet Pemahaman ini (mampu menjelaskan, menginterpretasi, menerapkan/mengaplikasikan, berempati, memiliki sebuah sudut pandang, atau memiliki pengenalan diri), berarti mereka telah mendemonstrasikan sebuah tingkat pemahaman.

6 Aspek/Facet Pemahaman ini merupakan modal untuk menentukan Tujuan Pembelajaran (TP), menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), menentukan asesmen, dan instruksi yang tepat.

46 of 129

M

T

W

T

F

Sumber: OECD (2018)

Penjelasan

Explanation

Mendeskripsikan suatu ide dengan kata-kata sendiri, membangun hubungan antar topik, mendemonstrasikan hasil kerja, menjelaskan alasan/cara/prosedur , menjelaskan sebuah teori menggunakan data, berargumen dan mempertahankan pendapatnya.

Interpretasi

Interpretation

Menerjemahkan cerita, karya seni, atau situasi. Interpretasi juga berarti memaknai sebuah ide, perasaan atau sebuah hasil karya dari satu media ke media lain, dapat membuat analogi, anekdot, dan model. Melihat makna dari apa yang telah dipelajari dan relevansi dengan dirinya.

Aplikasi

Application

Menggunakan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman mengenai suatu dalam situasi yang nyata dalam kehidupan sehari-hari atau sebuah simulasi (menyerupai kenyataan)

Perspektif

Perspective

Melihat suatu hal dari sudut pandang yang berbeda, siswa dapat menjelaskan sisi lain dari sebuah situasi, melihat gambaran besar, melihat asumsi yang mendasari suatu hal dan memberikan kritik.

Empati

Empathy

Menaruh diri di posisi orang lain. Merasakan emosi yang dialami oleh pihak lain dan/atau memahami pikiran yang berbeda dengan dirinya. Menemukan nilai (value) dari sesuatu

Pengenalan diri

Self-Knowledge

Memahami diri sendiri; yang menjadi kekuatan, area yang perlu dikembangkan serta proses berpikir dan emosi yang terjadi secara internal.

6 aspek pemahaman (Wiggins and Tighe, 2005)

6 facet of understanding; merupakan bentuk-bentuk pemahaman yang digunakan dalam CP. Tidak harus hirarkis

47 of 129

Contoh Bentuk Pemahaman Dalam CP

Matematika Fase B elemen Bilangan

M

T

W

T

F

Sumber: OECD (2018)

Penjelasan

Explanation

Mendeskripsikan makna dari bilangan 10.000 dengan kata-kata sendiri, mengaitkan dengan nilai tempat, mengurutkan dan membandingkan bilangan 10.000 dengan bilangan lain

Interpretasi

Interpretation

Menerjemahkan makna 10.000 menggunakan gambar

Aplikasi

Application

Menggunakan pemahaman 10.000 untuk memecahkan masalah dalam dunia nyata (misalnya berbelanja di kantin dengan uang Rp.10.000,00 atau soal cerita/ simulasi jual-beli)

Perspektif

Perspective

Menemukan berbagai cara berbeda untuk mendapatkan nilai 10.000

Peserta didik menunjukkan pemahaman dan intuisi bilangan (number sense) untuk bilangan cacah sampai dengan 10.000. Mereka dapat membaca, menulis, menentukan nilai tempat, membandingkan, mengurutkan, menggunakan nilai tempat, melakukan komposisi dan dekomposisi bilangan. Mereka juga dapat menyelesaikan masalah berkaitan dengan uang menggunakan ribuan sebagai satuan.

48 of 129

Kegiatan: 1

  1. Pilihlah salah satu CP pada mapel tertentu.
  2. Analisilah kompetensi dan konteknya.
  3. Identifikasi pemahaman CP tersebut sesuai 6 aspek pemahaman (Wiggins and Tighe, 2005)

49 of 129

Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan

Kurikulum operasional yang dikembangkan menunjukkan kesesuaian dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik, satuan pendidikan, dan daerah. Dalam mengembangkan dan mengelola kurikulum operasional, satuan pendidikan sebaiknya melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk siswa, komite sekolah, dan masyarakat.

Pemerintah menyediakan contoh-contoh kurikulum operasional sekolah yang dapat dimodifikasi, dijadikan contoh, atau rujukan untuk satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum operasionalnya.

50 of 129

Prinsip pengembangan kurikulum operasional di satuan pendidikan

  1. Berpusat pada peserta didik, yaitu pembelajaran harus memenuhi keragaman potensi, kebutuhan perkembangan dan tahapan belajar, serta kepentingan peserta didik. Profil Pelajar Pancasila selalu menjadi rujukan pada semua tahapan dalam penyusunan kurikulum operasional sekolah
  2. Kontekstual, menunjukkan kekhasan dan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan, konteks sosial budaya dan lingkungan, serta dunia kerja dan industri (khusus SMK), dan menunjukkan karakteristik atau kekhususan peserta didik berkebutuhan khusus (khusus SLB)
  3. Esensial, yaitu memuat semua unsur informasi penting/utama yang dibutuhkan dan digunakan di satuan

pendidikan. Bahasa yang digunakan lugas, ringkas, dan mudah dipahami

  1. Akuntabel, dapat dipertanggungjawabkan karena berbasis data dan aktual
  2. Melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pengembangan kurikulum satuan pendidikan melibatkan komite satuan pendidikan dan berbagai pemangku kepentingan antara lain orang tua, organisasi, berbagai sentra, serta industri dan dunia kerja untuk SMK, di bawah koordinasi dan supervisi dinas Pendidikan atau kantor kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama sesuai dengan kewenangannya.

51 of 129

Komponen Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan

Komponen kurikulum operasional yang dikembangkan dan digunakan di satuan pendidikan terdiri atas karakteristik satuan pendidikan, visi, misi, dan tujuan satuan pendidikan, pengorganisasian pembelajaran, dan perencanaan pembelajaran.

Untuk dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran ruang lingkup kelas, satuan pendidikan dapat menggunakan, memodifikasi, atau mengadaptasi contoh modul ajar yang disediakan Pemerintah, dan cukup melampirkan beberapa contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)/modul ajar atau bentuk rencana kegiatan yang mewakili inti dari rangkaian pembelajaran pada bagian Lampiran. Satuan pendidikan memiliki keleluasaan untuk menentukan format dan sistematika penyusunan kurikulum operasional satuan pendidikan.

52 of 129

Struktur Kurikulum

Capaian Pembelajaran Prinsip Pembelajaran dan Asesmen

Kerangka dasar kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah pusat

TETAP

Ditetapkan oleh pemerintah pusat

FLEKSIBEL/DINAMIS

Satuan pendidikan mengembangkan kurikulum operasional berdasarkan kerangka dan struktur kurikulum, sesuai karakteristik dan kebutuhan satuan pendidikan

.

.

1

Menganalisis konteks KARAKTERISTIK SATUAN PENDIDIKAN

2

Merumuskan VISI MISI

TUJUAN

3

Menentukan PENGORGANISASIAN PEMBELAJARAN

4

Menyusun RENCANA PEMBELAJARAN

Proses Penyusunan Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan Secara Umum

TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL

SNP

53 of 129

Analisis Karakteristik Satuan Pendidikan

Sebelum mengembangkan kurikulum satuan pendidikan, sekolah perlu melakukan analisis karakteristik dan lingkungan belajar dengan menampung aspirasi anggota komunitas, dan menjadikan visi dan misi sebagai arahan yang disepakati oleh seluruh warga satuan pendidikan.

Prinsip-prinsip analisis lingkungan belajar:

  • Melibatkan perwakilan warga satuan pendidikan
  • Menggunakan data-data yang diperoleh dari situasi nyata/kondisi satuan pendidikan
  • Mengalokasikan waktu yang cukup untuk pengumpulan, pengorganisasian, analisis dan dokumentasi data
  • Memilah informasi yang relevan dan menyimpulkan untuk mengembangkan strategi atau solusi

Contoh informasi yang perlu didapatkan dalam analisis lingkungan belajar satuan pendidikan:

  • Apa kekhasan daerah setempat yang penting untuk dilestarikan?
  • Bagaimana peran satuan pendidikan sebagai bagian dari masyarakat setempat?
  • Apa dampak dari satuan pendidikan yang sudah dapat dirasakan saat ini (baik oleh warga masyarakat maupun warga satuan pendidikan itu sendiri)?
  • Bagaimana peran satuan pendidikan dalam menyiapkan peserta didik mencapai profil Pelajar Pancasila?
  • [SMK] Apa potensi daerah dan kondisi dunia kerja yang relevan?

Berikut adalah pilihan cara untuk mengumpulkan informasi

  • Kuesioner, dengan pertanyaan disesuaikan dengan tujuan dan sasaran yang dibutuhkan.
  • Wawancara, untuk mendapatkan data secara langsung.
  • Diskusi kelompok terpumpun (FGD) dengan mengundang perwakilan dari seluruh warga satuan pendidikan dan tokoh masyarakat.
  • Observasi
  • Rapor pendidikan, terkait mutu dan hasil belajar, kompetensi dan kinerja guru dan tenaga kependidikan, mutu dan relevansi pembelajaran

Beberapa alat yang dapat digunakan

untuk menganalisis informasi:

  • Analisis SWOT
  • Root Cause
  • Fish Bone

DINAS UPT

MKKS

54 of 129

[CONTOH] Proses Analisis Karakteristik Satuan Pendidikan

Analisis kebutuhan satuan pendidikan

Analisis lingkungan belajar

Sumber daya alam, sosial, dan budaya

  • Bagaimana mendokumentasikan semua informasi sistem, sumber daya dan fasilitas dan mitra yang ada?
  • Apakah ada sumber daya dari lingkungan sekitar yang dapat dimanfaatkan oleh satuan pendidikan dalam proses belajar?

Sumber pendanaan

  • Bagaimana proses pendanaan satuan pendidikan?
  • Bagaimana penggunaan dana ini?

Sistem dan kebijakan di daerah

  • Apa saja visi, misi, dan tujuan daerah?
  • Apa saja kebijakan satuan pendidikan terkait indikator?
  • Apa saja perubahan sistem yang terjadi?
  • Apakah ada integrasi aktivitas untuk mendukung pencapaian indikator?

Kemitraan

  • Siapa saja pihak-pihak yang dapat dilibatkan untuk mendukung program satuan pendidikan? (organisasi, komunitas, tokoh, dll.)

Visi - Misi - Tujuan

  • Seperti apakah gambaran ideal tentang masa depan dan ingin diwujudkan oleh satuan pendidikan?
  • Bagaimana satuan pendidikan bisa mencapai gambaran ideal tersebut?

Review Visi Misi

  • Bagian mana yang perlu ditajamkan dalam visi dan misi?
  • Apakah perlu membuat visi dan misi baru yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungan dan karakteristik peserta didik??
  • Apa saja prioritasnya?

Review Tujuan

  • Apa yang menjadi prioritas bagi satuan pendidikan (atau program keahlian untuk SMK) dalam mendukung kompetensi peserta didik?
  • Apa yang mendasari tujuan ini?
  • Kompetensi apa saja yang perlu dimiliki oleh peserta didik?
  • Mengapa kompetensi ini dianggap penting?
  • Apa saja keterampilan yang perlu dikuasai peserta didik?
  • Apa karakteristik individu yang ingin dibangun?
  • [SMK] Jabatan pekerjaan/okupasi apa saja yang berpotensi untuk diisi oleh lulusan

DINAS

UPT MKKS

Peserta didik

  • Siapa sajakah peserta didik yang ada di sekolah? Bagaimana sekolah bisa mengklasifikasi peserta didik tersebut? Berdasarkan apakah klasifikasi tersebut?
  • Dari klasifikasi tersebut, apa saja kebutuhan masing-masing kelompok? Apakah ada kelompok tertentu yang memerlukan perhatian dan pendampingan yang lebih banyak?

Guru dan tenaga kependidikan

  • Profil atau kompetensi guru yang diperlukan untuk pembelajaran yang optimal menuju visi-misi sekolah
  • Apa saja kelompok-kelompok guru dan tenaga kependidikan yang ada di satuan pendidikan? Apa saja kebutuhan setiap kelompok tersebut?
  • Apakah ada kelompok guru dan tenaga kependidikan yang membutuhkan bantuan/dampingan lebih banyak?
  • Apakah guru siap memfasilitasi peserta didik dengan berbagai latar belakang dan kebutuhan?

Sarana dan prasarana

  • Apa saja sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk pembelajaran yang optimal?
  • Apakah satuan pendidikan menjadi lingkungan yang aman dan sehat (fisik dan mental) bagi warganya?
  • Apakah satuan pendidikan memiliki perangkat yang memadai untuk menyelenggarakan pembelajaran yang optimal dan mengelola data?

Strategi

55 of 129

Kegiatan 2:

55

  1. Lakukan analisis konteks karakteristik satuan Pendidikan.
  2. Merumuskan visi dan misi
  3. Merumuskan mengorganisasian pembelajaran

56 of 129

[CONTOH] Proses Analisis Karakteristik Satuan Pendidikan

Analisis kebutuhan satuan pendidikan

Analisis lingkungan belajar

Sumber daya alam, sosial, dan budaya

  • ……………..

Sumber pendanaan

Sistem dan kebijakan di daerah

  • …..

Kemitraan

  • ………

Visi - Misi - Tujuan

  • ……………….

Review Visi Misi

  • ………………..

Review Tujuan

…………………..

DINAS

UPT MKKS

Peserta didik

  • …………………….

Guru dan tenaga kependidikan

  • ……………………

Sarana dan prasarana

  • ………………………….

Strategi

57 of 129

Tujuan Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran

3

58 of 129

Tujuan kegiatan analisis capaian pembelajaran untuk:

  • mendapatkan peta kompetensi yang akan menjadi rujukan untuk pelaksanaan pembelajaran; dan
  • menyusun tujuan pembelajaran dan alur tujuan Pembelajaran.

Pendidik dan satuan pendidikan dapat menggunakan berbagai strategi untuk menyusun tujuan pembelajaran dan alur tujuan. Harus dipastikan tujuan pembelajaran dan alur tujuan pembelajaran yang dipetakan memenuhi kriteria berikut ini:

  • Kriteria tujuan pembelajaran idealnya terdiri dari beberapa komponen
  • Kriteria alur tujuan Pembelajaran

58

Untuk menyusun rencana pembelajaran, jabaran kompetensi pada Capaian Pembelajaran perlu dipetakan ke dalam tujuan pembelajaran dan alur tujuan pembelajaran. Peta kompetensi tersebut kemudian digunakan sebagai acuan untuk mengembangkan perangkat ajar.

59 of 129

Kriteria tujuan pembelajaran idealnya terdiri dari beberapa komponen sebagai berikut:

  • Kompetensi yaitu kemampuan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dapat didemonstrasikan oleh peserta didik yang menunjukkan peserta didik telah berhasil mencapai tujuan pembelajaran.
  • Konten yaitu ilmu pengetahuan inti atau konsep utama yang perlu dipahami di akhir satu unit pembelajaran.
  • Variasi yaitu pendekatan yang berbeda sesuai karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus *)

Kriteria alur tujuan Pembelajaran:

  • Menggambarkan urutan pengembangan kompetensi yang harus dikuasai peserta didik
  • ATP dalam satu fase menggambarkan cakupan dan tahapan pembelajaran yang linear dari awal hingga akhir fase.
  • ATP pada keseluruhan fase menggambarkan cakupan dan tahapan pembelajaran yang menggambarkan tahapan perkembangan kompetensi antar fase dan jenjang

59

60 of 129

Contoh Hasil Pemetaan CP ke dalam Alur Tujuan Pembelajaran

Fase B

Kelas 3

Kelas 4

3.1. Menyajikan bilangan dan menggeneralisasi pemahaman dan membandingkan urutan dan nilai tempat sampai 999.999

3.2. Memperkirakan dan membulatkan bilangan ke nilai tempat terdekat sampai 999.999

3.3. Mengukur panjang dengan satuan baku (mm, cm, dan m) serta mengukur keliling bidang datar dengan menambahkan semua rusuknya.

3.4. Mengukur luas dengan menghitung jumlah bujur sangkar berukuran 1 cm2 yang menutup bidang datar

3.5. Menemukan hubungan antara operasi penjumlahan dan pengurangan.

3.6. Menyelesaikan kalimat bilangan dengan satu variabel berupa simbol gambar yang belum diketahui nilainya melibatkan penjumlahan dan pengurangan bilangan

3.7. Mengobservasi, menentukan dan menggambar sisi sejajar dan sisi berpotongan pada sebuah bidang datar.

dst ….

4.1. Memperumum pemahaman mengenai urutan dan nilai tempat sampai 999.999

4.2. Mengidentifikasi kelipatan, faktor, pola perkalian dan pembagian dengan tabel kelipatan

4.3. Menentukan hubungan antar satuan baku panjang (mm, cm, dan m)

4.4. Menyelesaikan permasalahan berkaitan dengan keliling berbagai bangun datar (segitiga, segiempat, segi banyak)

4.5. Menyelesaikan permasalahan berkaitan dengan luas dan keliling berbagai bentuk bangun datar

dst ...

Memetakan bagian ATP per kelas sesuai dengan alokasi waktu

60

Matematika Fase B:Kelas 3 dan 4

Pada akhir fase B, peserta didik dapat menggeneralisasi pemahaman dan melakukan operasi hitung bilangan cacah sampai dengan 1.000.000 (atau maksimum enam angka), serta memahami hubungan antara operasi hitung (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian) termasuk menggunakan sifat-sifat operasi dalam menentukan hasil perhitungan, menentukan faktor, kelipatan, KPK, dan FPB dari bilangan cacah, memahami pecahan dan menentukan posisinya pada garis bilangan, serta membandingkan dua pecahan. Peserta didik dapat menyelesaikan persamaan sederhana, memahami hubungan antara operasi perkalian dan pembagian, menemukan pola gambar, objek sederhana, dan pola bilangan melibatkan operasi hitung (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian). Peserta didik dapat dan mengukur panjang benda menggunakan satuan baku, menggunakan satuan baku luas dan volume, serta menyelesaikan masalah berkaitan dengan keliling bangun datar. Peserta didik dapat mengidentifikasi ciri-ciri berbagai bentuk bangun datar dan bangun ruang (prisma dan balok). Peserta didik juga dapat menyajikan dan menganalisis data sederhana menggunakan turus dalam bentuk bentuk bentuk tabel, diagram gambar, piktogram, diagram batang, dan diagram garis, serta menentukan kejadian yang lebih mungkin di antara beberapa kejadian.

Menganalisis Capaian

Pembelajaran

Merumuskan Tujuan Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran

61 of 129

Tujuan pengembangan modul ajar:

Mengembangkan perangkat ajar yang memandu pendidik melaksanakan pembelajaran

Pendidik memiliki kemerdekaan untuk:

  • memilih atau memodifikasi modul ajar yang sudah disediakan pemerintah untuk menyesuaikan modul ajar dengan karakteristik peserta didik, atau
  • menyusun sendiri modul ajar sesuai dengan karakteristik peserta didik

61

62 of 129

Kriteria yang harus dimiliki oleh modul ajar adalah:

  1. Esensial: Pemahaman konsep dari setiap mata pelajaran melalui pengalaman belajar dan lintas disiplin.
  2. Menarik, bermakna, dan menantang: Menumbuhkan minat untuk belajar dan melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses belajar. Berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki sebelumnya, sehingga tidak terlalu kompleks, namun juga tidak terlalu mudah untuk tahap usianya.
  3. Relevan dan kontekstual: Berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki sebelumnya, dan sesuai dengan konteks di waktu dan tempat peserta didik berada.
  4. Berkesinambungan: Keterkaitan alur kegiatan pembelajaran sesuai dengan fase belajar peserta didik.

62

63 of 129

64 of 129

65 of 129

66 of 129

Kegiatan 3:

  1. Ambil satu contoh pengembangan ATP pada link @pembelajaranparadigmabaru | Linktree
  2. Analisis kecukupan kompetensi dan kontennya.

67 of 129

68 of 129

69 of 129

70 of 129

71 of 129

72 of 129

73 of 129

74 of 129

75 of 129

Modul Ajar Kurikulum Merdeka, Perencanaan dan Pelaksanaan Asesmen Diagnostik

4

76 of 129

77 of 129

78 of 129

Komponen Modul Ajar

Penulisan modul ajar bertujuan untuk memandu pendidik untuk melaksanakan proses pembelajaran. Komponen dalam modul ajar ditentukan oleh pendidik berdasarkan kebutuhannya. Secara umum modul ajar memiliki komponen sebagai berikut:

Informasi umum

Komponen inti

Lampiran

  • Identitas penulis modul
  • Kompetensi awal
  • Profil Pelajar Pancasila
  • Sarana dan prasarana
  • Target peserta didik
  • Model pembelajaran yang digunakan
  • Tujuan pembelajaran
  • Asesmen
  • Pemahaman bermakna
  • Pertanyaan pemantik
  • Kegiatan pembelajaran
  • Refleksi peserta didik dan pendidik
  • Lembar kerja peserta didik
  • Pengayaan dan remedial
  • Bahan bacaan pendidik dan peserta didik
  • Glossarium
  • Daftar pustaka

Tidak semua komponen di atas wajib tercantum dalam modul ajar yang dikembangkan oleh pendidik. Pendidik di satuan pendidikan diberi kebebasan untuk mengembangkan komponen dalam modul ajar sesuai dengan konteks lingkungan dan kebutuhan belajar peserta didik.

78

79 of 129

Contoh Cuplikan Modul Ajar MA untuk Kelas 3 Matematika 12 JP�

Aktivitas 4 (Kinerja)

Menyelesaikan permasalahan berkaitan dengan luas suatu gambar benda dengan menghitung jumlah bujur sangkar berukuran 1 cm2 yang menutup bidang datar

Aktivitas 5 (Sumatif 2 : Proyek)

Menggambar denah rumah dengan menyertakan ukuran panjang dengan satuan baku dan luas (dengan menghitung jumlah bujur sangkar) pada kertas isometrik.

Tujuan pembelajaran

  • Mengukur panjang dengan satuan baku (mm, cm, dan m) serta mengukur keliling bidang datar dengan menambahkan semua rusuknya.
  • Mengukur luas dengan menghitung jumlah bujur sangkar berukuran 1 cm2 yang menutup bidang datar

Aktivitas 1 (Kinerja)

Mengukur panjang dengan satuan baku (mm, cm, dan m) pada objek yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari

Aktivitas 2 (Tes)

Menyelesaikan permasalahan berkaitan dengan panjang dengan satuan baku (mm, cm, dan m)

Aktivitas 3 (Kinerja)

Menyelesaikan permasalahan berkaitan dengan keliling segiempat, segitiga, dan segibanyak dengan menambahkan panjang rusuk-rusuk bidang

Profil Pelajar Pancasila:

  • Bernalar kritis
  • Mandiri

Asesmen Sumatif

Menggambar denah rumah dengan menyertakan ukuran panjang dengan satuan baku dan luas (dengan menghitung jumlah bujur sangkar) pada kertas isometrik.

79

Diskusi dan kegiatan berkelompok dibagi berdasarkan kelompok dengan kesiapan yang berbeda, sehingga pembelajaran sesuai dengan tingkat kesiapan peserta didik.

Kegiatan observasi sekitar, diskusi dengan pertanyaan pemantik adalah pembelajaran yang membangun elemen bernalar kritis dan juga mandiri dengan melibatkan peserta didik dalam diskusi dan pemilihan bentuk untuk tugas asesmen sumatif.

Contoh penerapan penyesuaian pembelajaran dan pengembangan PPP

Asesmen Diagnostik:

Tes :

  • Operasi hitung (Penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian)
  • Konversi satuan (meter ke centimeter, cm ke milimeter)

Untuk mengidentifikasi kemampuan berhitung dan pemahaman hubungan antar satuan panjang.

80 of 129

ASESMEN

Bagaimana ya?

81 of 129

82 of 129

83 of 129

84 of 129

85 of 129

Secara umum, sesuai namanya asesmen diagnostik bertujuan untuk mendiagnosis kemampuan dasar siswa dan mengetahui kondisi awal siswa.

Asesmen diagnostik terbagi menjadi asesmen diagnostik non-kognitif dan asesmen diagnosis kognitif. Tujuan dari masing-masing asesmen diagnostik adalah sebagai berikut:

Tujuan Asesmen Diagnostik

Non-kognitif

Kognitif

  • Mengetahui kesejahteraan psikologi dan sosial emosi siswa
  • Mengetahui aktivitas selama belajar di rumah
  • Mengetahui kondisi keluarga siswa
  • Mengetahui latar belakang pergaulan siswa
  • Mengetahui gaya belajar, karakter serta minat siswa
  • Mengidentifikasi capaian kompetensi siswa
  • Menyesuaikan pembelajaran di kelas dengan kompetensi rata-rata siswa
  • Memberikan kelas remedial atau pelajaran tambahan kepada siswa yang kompetensinya di bawah rata-rata

TUjuan Asesmen Diagnostik

86 of 129

Asesmen diagnostik non-kognitif di awal pembelajaran dilakukan untuk menggali hal-hal seperti berikut:

  • Kesejahteraan psikologis dan sosial emosi sisiwa
  • Aktivitas siswa selama belajar di rumah
  • Kondisi keluarga dan pergaulan siswa
  • Gaya belajar, karakter, serta minat siswa

Tahapan melaksanakan asesmen diagnostik non-kognitif adalah:

  1. Persiapan
  2. Pelaksanaan
  3. Tindak Lanjut

Tips

Ketrampilan bertanya dan membuat pertanyaan penting pada asesmen ini!

Asesmen Diagnostik Non-Kognitif

87 of 129

Asesmen Diagnostik Non-Kognitif

Contoh kegiatan persiapan

88 of 129

Asesmen Diagnostik Non-Kognitif

Contoh kegiatan pelaksanaan

Meminta siswa mengekspresikan perasaannya selama belajar di rumah serta menjelaskan aktivitasnya

Bercerita

Menulis

Menggambar

89 of 129

Asesmen Diagnostik Non-Kognitif

Strategi tanya jawab

  1. Pastikan pertanyaan jelas dan mudah dipahami
  2. Menyertakan acuan atau stimulus informasi yang dapat membantu siswa menemukan jawabannya
  3. Memberikan waktu berpikir pada siswa sebelum menjawab pertanyaan
  • Berikan penguatan
  • Berikan pertanyaan lanjutan untuk menggali lebih dalam
  • Mengembalikan fokus jika jawaban mulai menyimpang

Saat siswa menjawab pertanyaan

  • Langsung menjawab

pertanyaan siswa

  • Membantu siswa untuk dapat menjawab pertanyaannya sendiri

Saat siswa balik bertanya

  • Mencoba mengarahkan kembali pertanyaan
  • Memparafrasekan pertanyaan agar lebih mudah dipahami
  • Menunggu beberapa saat

Saat siswa menjawab pertanyaan

90 of 129

  • Asesmen Diagnostik Non-Kognitif

Tindak Lanjut

1. Identifikasi siswa dengan ekspresi emosi negatif dan ajak berdiskusi empat mata

2. Menentukan tindak lanjut dan mengomunikasikan dengan siswa serta orang tua bila diperlukan

3. Ulangi pelaksanaan asesmen non-kognitif pada awal pembelajaran

91 of 129

Asesmen Diagnostik Kognitif

Asesmen diagnostik kognitif bertujuan mendiagnosis kemampuan dasar siswa dalam topik sebuah mata pelajaran.

Asesmen diagnostik kognitif dapat dilaksanakan secara rutin yang disebut asesmen diagnostik kognitif berkala, pada awal pembelajaran, akhir setelah guru selesai menjelaskan dan membahas topik, dan waktu lain.

Asesmen Diagnostik bisa berupa Asesmen Formatif maupun Asesmen Sumatif.

Tahapan melaksanakan asesmen diagnostik kognitif adalah:

  1. Persiapan
  2. Pelaksanaan
  3. Diagnosis dan Tindak Lanjut

Penting

!Guru melakukan asesmen diagnosis kognitif untuk menyesuaikan tingkat pembelajaran dengan kemampuan siswa, bukan untuk mengejar target kurikulum.

92 of 129

Asesmen Diagnostik Kognitif

Contoh kegiatan persiapan & pelaksanaan

  1. Buat jadwal pelaksanaan asesmen
  2. Identifikasi materi asesmen berdasarkan penyederhanaan kompetensi dasar yang disediakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
  3. Susun pertanyaan sederhana yang meliputi:

2 pertanyaan sesuai kelasnya, dengan topik capaian pembelajaran baru 6 pertanyaan dengan topik satu kelas di bawah

2 pertanyaan dengan topik dua kelas di bawah

(sesuaikan pertanyaan dengan topik yang menjadi prasyarat untuk bisa mengikuti pembelajaran di jenjang sekarang)

Berikan asesmen untuk semua siswa di kelas, baik yang belajar tatap muka di sekolah maupun yang belajar di rumah

93 of 129

Asesmen Diagnostik Kognitif

1. Lakukan pengolahan hasil asesmen

  • Buat penilaian dengan kategori “Paham utuh”, “Paham sebagian”, dan “Tidak paham”

Hitung rata-rata kelas

2. Bagi siswa menjadi tiga kelompok:

  • Siswa dengan nilai rata-rata kelas akan mengikuti pembelajaran dengan ATP sesuai fasenya

Siswa dengan nilai di bawah rata-rata mengikuti pembelajaran dengan diberikan pendampingan pada kompetensi yang belum terpenuhi

  • Siswa dengan nilai di atas rata-rata mengikuti pembelajaran dengan pengayaan
  1. Lakukan penilaian pembelajaran topik yang sudah diajarkan sebelum memulai topik pembelajaran baru, untuk menyesuaikan pembelajaran sesuai dengan rata-rata kemampuan siswa
  2. Ulangi proses diagnosis ini dengan melakukan asesmen formatif (dengan bentuk dan strategi yang variatif), sampai siswa mencapai tingkat kompetensi yang diharapkan

Contoh kegiatan tindak lanjut

Penting

!Guru menyesuaikan aktivitas dan materi belajar di kelas dengan peningkatan rata-rata semua murid di kelas

94 of 129

95 of 129

96 of 129

97 of 129

98 of 129

99 of 129

100 of 129

101 of 129

102 of 129

103 of 129

104 of 129

105 of 129

106 of 129

107 of 129

108 of 129

PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA

5

109 of 129

109

Pengembangan Karakter

Dalam struktur kurikulum prototipe, 20 - 30 persen jam pelajaran digunakan untuk pengembangan karakter Profil Pelajar Pancasila melalui pembelajaran berbasis projek.

Kurikulum 2013 sudah menekankan pada pengembangan karakter, namun belum memberi porsi khusus dalam struktur kurikulumnya.

Pembelajaran berbasis projek penting untuk pengembangan karakter karena:

  1. memberi kesempatan untuk belajar melalui pengalaman (experiential learning)
  2. Mengintegrasikan kompetensi esensial yang dipelajari peserta didik dari berbagai disiplin ilmu
  3. struktur belajar yang fleksibel

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

110 of 129

110

111 of 129

112 of 129

113 of 129

113

114 of 129

114

115 of 129

115

116 of 129

116

117 of 129

117

118 of 129

118

119 of 129

119

120 of 129

120

121 of 129

IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA

(IKM)

6

122 of 129

123 of 129

Tahapan Implementasi Kurikulum Merdeka

123

Pilihan kesatu

Mandiri Belajar

Pilihan kedua

Mandiri Berubah

Pilihan ketiga

Mandiri Berbagi

Pilihan yang memberikan kebebasan kepada satuan Pendidikan saat menerapkan kurikulum Merdeka beberapa bagian dan prinsip Kurikulum Merdeka, tanpa mengganti kurikulum satuan pendidikan yang sedang diterapkan pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10.

Pilihan yang memberikan keleluasaan kepada satuan Pendidikan saat menerapkan kurikulum merdeka dengan menggunakan perangkat ajar yang sudah disediakan pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10.

Pilihan yang memberikan keleluasaan kepada satuan Pendidikan dalam menerapkan kurikulum merdeka dengan mengembangkan sendiri berbagai perangkat ajar pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10.

Penerapan kurikulum merdeka dilakukan melalui tahapan berdasarkan kesiapan dan penetapan target oleh satuan pendidikan.

124 of 129

125 of 129

1

2

Ada di pojok kanan atas laman

Banner di tengah laman

atau menu di akhir laman

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

TATA CARA PENDAFTARAN

IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA

Kunjungi Laman:

kurikulum.gtk.kemdikbud.go.id

Pastikan anda mempelajari semua informasi pada laman ini untuk memperkaya pemahaman anda sebelum menentukan pilihan.

Pilih menu DAFTAR pada laman ini

126 of 129

3

4

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Lalu lakukan log in menggunakan:

Akun SIMPKB untuk Kepala Satuan Pendidikan*

Akun SIMPATIKA untuk Kepala Madrasah

*Satuan Pendidikan adalah PAUD/TK, SD, SMP, SMA, SMK, SLB, dan SKB/PKBM

Ikuti 2 langkah selanjutnya untuk menyelesaikan pendaftaran, mulai dengan klik DAFTAR

Isi Kuesioner

Menonton

Video

Kemudian, centang kotak pada menu pop up informasi pendaftaran lalu klik Ikuti Pembelajaran untuk melanjutkan

TATA CARA PENDAFTARAN

IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA

127 of 129

5

6

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

TATA CARA PENDAFTARAN

IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA

Langkah 1: Menonton video penjelasan menarik terkait dengan kurikulum merdeka

Klik Mulai

Tonton 2 video tersebut hingga muncul tanda centang biru

Klik "Mark Complete" untuk melanjutkan

Klik Kembali ke SIM GURU BELAJAR untuk lanjut ke Langkah 2

Langkah 2: Klik Isi Kuesioner, lalu ikuti tahapan pengisiannya

Untuk sekolah swasta, lakukan unduh template surat Izin Yayasan, lengkapi isian dan tanda tangan surat izin tersebut, lalu unggah kembali dalam format pdf

128 of 129

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

TATA CARA PENDAFTARAN

IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA

Selamat! Anda akan mendapatkan Rekomendasi Umum dan Khusus

Pelajari dan terapkan rekomendasi umum dan khusus ini untuk melangkah ke tahap Implementasi Kurikulum Merdeka

Rekomendasi ini dapat diunduh dalam format PDF melalui menu "UNDUH HASIL"

129 of 129

TERIMA KASIH