Implementasi Kurikulum Merdeka
Agenda
Overview Kurikulum Merdeka
Penyusunan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan dan analisis Capaian Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran
Modul Ajar Kurikulum Merdeka, Perencanaan dan Pelaksanaan Asesmen Diagnostik
Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Overview Kurikulum Merdeka
1
Pra pandemi
Kurikulum 2013
PANDEMI
Kurikulum 2013 dan Kurikulum Darurat (Kur-2013 yang disederhanakan)
.
pandemi
Kurikulum 2013, Kurikulum Darurat, dan Kurikulum Merdeka di SP dan SMK PK
Pemulihan pembelajaran
Kurikulum 2013,
Kurikulum Darurat,
dan Kurikulum Merdeka sebagai opsi bagi semua satuan pendidikan
Penentuan kebijakan kurikulum nasional berdasarkan evaluasi terhadap kurikulum pada masa pemulihan pembelajaran
.
2024
2022-2024
2021-2022
2020-2021
<2020
Kurikulum merdeka diberikan sebagai opsi tambahan bagi satuan pendidikan untuk melakukan pemulihan pembelajaran selama 2022-2024. Kebijakan kurikulum nasional akan dikaji ulang pada 2024 berdasarkan evaluasi selama masa pemulihan pembelajaran.
Kurikulum merdeka melanjutkan arah pengembangan kurikulum sebelumnya:
6
Benang Merah Pengembangan Kurikulum
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Efektivitas kurikulum dalam kondisi khusus semakin menguatkan pentingnya perubahan rancangan dan strategi implementasi kurikulum secara lebih komprehensif
Rancangan dan
Implementasi Kurikulum Saat Ini:
Arah Perubahan Kurikulum:
Struktur kurikulum yang kurang fleksibel, jam pelajaran ditentukan per minggu
Materi terlalu padat sehingga tidak cukup waktu untuk melakukan pembelajaran yang mendalam dan yang sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik
Materi pembelajaran yang tersedia kurang beragam sehingga guru kurang leluasa dalam mengembangkan pembelajaran kontekstual
Teknologi digital belum digunakan secara sistematis untuk mendukung proses belajar guru melalui berbagi praktik baik
Struktur kurikulum yang lebih fleksibel, jam pelajaran ditargetkan untuk dipenuhi dalam satu tahun
Fokus pada materi yang esensial, Capaian Pembelajaran diatur per fase, bukan per tahun
Memberikan keleluasaan bagi guru menggunakan berbagai perangkat ajar sesuai kebutuhan dan karakteristik peserta didik
Aplikasi yang menyediakan berbagai referensi bagi guru untuk dapat terus mengembangkan praktik mengajar secara mandiri dan berbagi praktik baik.
Keunggulan Kurikulum Merdeka
1. Lebih Sederhana dan Mendalam
Fokus pada materi yang esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya. Belajar menjadi lebih mendalam, bermakna, tidak terburu-buru dan menyenangkan.
Keunggulan Kurikulum Merdeka
2. Lebih Merdeka
Peserta didik: Tidak ada program peminatan di SMA, peserta didik memilih mata pelajaran sesuai minat, bakat, dan aspirasinya.
Guru: Guru mengajar sesuai tahap capaian dan perkembangan peserta didik.
Satuan pendidikan: memiliki wewenang untuk mengembangkan dan mengelola kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik.
Keunggulan Kurikulum Merdeka
3. Lebih Relevan dan Interaktif
Pembelajaran melalui kegiatan projek memberikan kesempatan lebih luas kepada peserta didik untuk secara aktif mengeksplorasi isu-isu aktual misalnya isu lingkungan, kesehatan, dan lainnya untuk mendukung pengembangan karakter dan kompetensi Profil Pelajar Pancasila.
Kesiapan satuan pendidikan untuk mengimplementasi kurikulum berbeda-beda, terutama dalam situasi Pandemi COVID-19. Menyadari kompleksitas tersebut, maka:
2
1
Sumber: Kepmendikbudristek Nomor 56 Tahun 2022
Pemerintah tidak mewajibkan satuan pendidikan untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka
Implementasi Kurikulum Merdeka dapat disesuaikan dengan kesiapan masing-masing satuan pendidikan
Dalam pemulihan pembelajaran, sekarang sekolah diberikan kebebasan menentukan kurikulum yang akan dipilih
Pilihan 1
Kurikulum 2013
Secara penuh
Pilihan 2
Kurikulum Darurat
yaitu Kurikulum 2013 yang disederhanakan
Pilihan 3
Kurikulum Merdeka
Untuk satuan pendidikan yang memilih Kurikulum Merdeka, implementasinya dapat disesuaikan dengan kesiapan masing-masing
Satuan pendidikan menentukan pilihan berdasarkan Angket Kesiapan Implementasi Kurikulum Prototipe yang mengukur kesiapan guru dan tenaga kependidikan. Tidak ada pilihan yang paling benar, yang ada pilihan yang paling sesuai kesiapan satuan pendidikan. Semakin sesuai maka semakin efektif implementasi Kurikulum Prototipe.
Pilihan 3: Mandiri Berbagi
Menerapkan Kurikulum Merdeka dengan mengembangkan sendiri berbagai perangkat ajar di satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10.
Pilihan 1: Mandiri Belajar
Menerapkan beberapa bagian dan prinsip Kurikulum Merdeka, tanpa mengganti kurikulum satuan pendidikan yang sedang diterapkan.
Pilihan 2: Mandiri berubah
Menerapkan Kurikulum Merdeka menggunakan perangkat ajar yang sudah disediakan pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10.
Angket Kesiapan Implementasi Kurikulum Prototipe dapat diakses melalui: https://kurikulum.gtk.kemdikbud.go.id/
Dukungan untuk kesiapan implementasi
Dukungan apa yang diberikan Pemerintah untuk satuan pendidikan yang menerapkan Kurikulum Merdeka?
Sebelum melanjutkan, dapatkah Ibu dan Bapak memperkirakan dukungan apa, baik berupa kebijakan ataupun teknis, yang dibutuhkan satuan pendidikan dan pendidik untuk menerapkan Kurikulum Merdeka?
Penerapan Kurikulum Merdeka didukung melalui penyediaan beragam perangkat ajar serta pelatihan dan penyediaan sumber belajar guru, kepala sekolah, dan dinas pendidikan.
02
01
03
Penyediaan Perangkat ajar: buku teks dan bahan ajar pendukung
Pelatihan dan penyediaan sumber belajar guru, kepala sekolah, dan pemda
Jaminan jam mengajar
dan tunjangan profesi
guru
Perangkat ajar merupakan berbagai bahan ajar (tidak hanya buku teks) yang digunakan untuk mencapai profil pelajar Pancasila dan Capaian Pembelajaran
Modul projek penguatan profil pelajar Pancasila dengan tema Bhineka Tunggal Ika untuk Fase A
Modul ajar Bahasa Indonesia untuk Fase D (SMP)
Buku teks mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk kelas X
Struktur kurikulum
PAUD
SD
SMP
SMA
19
Pengembangan Karakter
Dalam struktur kurikulum prototipe, 20 - 30 persen jam pelajaran digunakan untuk pengembangan karakter Profil Pelajar Pancasila melalui pembelajaran berbasis projek.
Kurikulum 2013 sudah menekankan pada pengembangan karakter, namun belum memberi porsi khusus dalam struktur kurikulumnya.
Pembelajaran berbasis projek penting untuk pengembangan karakter karena:
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
TETAP
Ditetapkan oleh pemerintah pusat
FLEKSIBEL/DINAMIS
Satuan pendidikan mengembangkan kurikulum operasional berdasarkan kerangka dan struktur kurikulum, sesuai karakteristik satuan pendidikan
Tujuan Pendidikan Nasional
Profil Pelajar Pancasila
Standar Kompetensi Lulusan
(untuk PAUD STPPA)
Standar Isi
Standar Proses
Capaian Pembelajaran
Standar lainnya
Struktur Kurikulum
Prinsip Pembelajaran dan
Asesmen
Standar Penilaian
Kerangka Dasar Kurikulum ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dengan mengacu pada Tujuan Pendidikan Nasional dan SNP
Contoh Perangkat Ajar: Buku Teks Pelajaran, Bahan Ajar, modul ajar mata pelajaran dan projek profil pelajar Pancasila, contoh kurikulum satuan pendidikan
Struktur Kurikulum Merdeka:
Apa kekhasan dari Kurikulum Merdeka?
22
PAUD |
Kegiatan bermain sebagai proses belajar yang utama Penguatan literasi dini dan penanaman karakter melalui kegiatan bermain-belajar berbasis buku bacaan anak Fase Fondasi untuk meningkatkan kesiapan bersekolah Pembelajaran berbasis projek untuk penguatan profil Pelajar Pancasila dilakukan melalui kegiatan perayaan hari besar dan perayaan tradisi lokal |
SD |
Penguatan kompetensi yang mendasar dan pemahaman holistik:
Pembelajaran berbasis projek untuk penguatan profil Pelajar Pancasila dilakukan minimal 2 kali dalam satu tahun ajaran |
SMP |
Penyesuaian dengan perkembangan teknologi digital, mata pelajaran Informatika menja di mata pelajaran wajib Panduan untuk guru Informatika disiapkan untuk membantu guru-guru pemula, sehingga guru mata pelajaran tidak harus berlatar belakang pendidikan informatika Pembelajaran berbasis pro jek untuk penguatan profil Pe lajar Pancasila dilakukan minimal 3 kali dalam satu tahun ajaran |
SMA |
Program peminatan/ penjurus an tidak diberlakukan Di kelas 10 pelajar menyiap kan diri untuk menentukan pilihan mata pelajaran di kelas 11. Mata pelajaran yang dipela jari serupa dengan di SMP Di kelas 11 dan 12 pelajar mengikuti mata pelajaran dari Kelompok Mapel Wajib, dan memilih mata pelajaran dari kelompok MIPA, IPS, Bahasa, dan Keterampilan Vokasi sesuai minat, bakat, dan aspirasi nya Pembelajaran berbasis projek untuk penguatan profil Pelajar Pancasila dilakukan minimal 3 kali dalam satu tahun ajaran, dan pelajar menulis esai ilmiah sebagai syarat kelulusan |
SMK |
Dunia kerja dapat terlibat dalam pengembangan pembelajaran Struktur lebih sederhana dengan dua kelompok mata pelajaran, yaitu Umum dan Kejuruan. Persentase kelompok kejuruan meningkat dari 60% ke 70% Penerapan pembelajaran ber basis projek dengan mengintegra sikan mata pelajaran terkait. Praktek Kerja Lapangan (PKL) menjadi mata pelajaran wajib minimal 6 bulan (1 semester). Pelajar dapat memilih mata pelajar an di luar program keahliannya Alokasi waktu khusus projek penguatan profil pelajar Pancasila dan Budaya Kerja untuk peningkatan soft skill (karakter dari dunia kerja) |
SLB |
Capaian pembelajaran pendidikan khusus dibuat hanya untuk yang memiliki hambatan intelektual Untuk pelajar di SLB yang tidak memiliki hambatan intelektual, capaian pembelajarannya sama dengan sekolah reguler yang sederajat, dengan menerapkan prinsip modifikasi kurikulum Sama dengan pelajar di sekolah reguler, pelajar di SLB juga menerapkan pembelajaran berbasis projek untuk menguatkan Pelajar Pancasila dengan mengusung tema yang sama dengan sekolah regu ler, dengan kedalaman materi dan aktivitas sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan pelajar di SLB |
Karakteristik Kurikulum di Setiap Jenjang
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Struktur Kurikulum
Pendidikan Anak Usía Dini (PAUD), Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah
pembelajaran intrakurikuler untuk setiap mata pelajaran mengacu pada capaian
pembelajaran.
Secara pengelolaan waktu pelaksanaan, projek dapat dilaksanakan dengan menjumlah alokasi jam pelajaran projek dari semua mata pelajaran dan jumlah total waktu pelaksanaan masing-masing projek tidak harus sama.
Alokasi waktu untuk setiap projek penguatan profil pelajar Pancasila tidak harus sama. Satu projek dapat dilakukan dengan durasi waktu yang lebih panjang daripada projek yang lain.
Muatan Lokal
Satuan pendidikan menambahkan muatan lokal yang ditetapkan oleh pemerintah daerah sesuai dengan karakteristik daerah. Satuan pendidikan dapat menambahkan muatan tambahan sesuai karakteristik satuan pendidikan secara fleksibel, melalui 3 (tiga) pilihan sebagai berikut:
Struktur Kurikulum SD
Struktur kurikulum SD/MI dibagi menjadi 3 (tiga) Fase:
Satuan pendidikan SD/MI dapat mengorganisasikan muatan pembelajaran menggunakan pendekatan mata pelajaran atau tematik. Proporsi beban belajar di SD/MI terbagi menjadi 2 (dua), yaitu:
Pelaksanaan projek penguatan profil pelajar Pancasila dilakukan secara fleksibel, baik muatan maupun waktu pelaksanaan. Secara muatan, projek harus mengacu pada capaian profil pelajar Pancasila sesuai dengan fase peserta didik, dan tidak harus dikaitkan dengan capaian pembelajaran pada mata pelajaran.
Secara pengelolaan waktu pelaksanaan, projek dapat dilaksanakan dengan menjumlah alokasi jam pelajaran projek penguatan profil pelajar Pancasila dari semua mata pelajaran dan jumlah total waktu pelaksanaan masing-masing projek tidak harus sama.
Alokasi Waktu Mata Pelajaran SD/MI Kelas I
Asumsi 1 Tahun = 36 minggu 1 JP = 35 menit | | ||
Alokasi per tahun (minggu) | Alokasi Projek per tahun | TOTAL JP PER TAHUN | |
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti* | 108 (3) | 36 | 144 |
Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti* | 108 (3) | 36 | 144 |
Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti* | 108 (3) | 36 | 144 |
Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti* | 108 (3) | 36 | 144 |
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti* | 108 (3) | 36 | 144 |
Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti* | 108 (3) | 36 | 144 |
Pendidikan Pancasila | 144 (4) | 36 | 180 |
Bahasa Indonesia | 216 (6) | 72 | 288 |
Matematika | 144 (4) | 36 | 180 |
PJOK | 108 (3) | 36 | 144 |
Seni dan Budaya**:
| 108 (3) | 36 | 144 |
Bahasa Inggris*** | 72 (2) | - | 72 |
Muatan Lokal*** | 72 (2) | | 72 |
Total****: | 828 (23) | 252 | 1080 |
* Diikuti oleh peserta didik sesuai dengan agama/kepercayaan masing-masing.
** Satuan pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, dan/atau Seni Tari). Peserta didik memilih 1 (satu) jenis seni (Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, atau Seni Tari).
*** Maksimal 2 JP per minggu atau 72 JP per tahun.
**** Total JP tidak termasuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Muatan Lokal, dan/atau mata pelajaran tambahan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan.
Alokasi Waktu Mata Pelajaran SD/MI Kelas II
Asumsi 1 Tahun = 36 minggu 1 JP = 35 menit | | ||
Alokasi pertahun (minggu) | Alokasi Projek per tahun | TOTAL JP PER TAHUN | |
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti* | 108 (3) | 36 | 144 |
Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti* | 108 (3) | 36 | 144 |
Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti* | 108 (3) | 36 | 144 |
Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti* | 108 (3) | 36 | 144 |
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti* | 108 (3) | 36 | 144 |
Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti* | 108 (3) | 36 | 144 |
Pendidikan Pancasila | 144 (4) | 36 | 180 |
Bahasa Indonesia | 252 (7) | 72 | 324 |
Matematika | 180 (5) *** | 36 | 216 |
PJOK | 108 (3) | 36 | 144 |
Seni dan Budaya**:
| 108 (3) | 36 | 144 |
Bahasa Inggris*** | 72 (2) | - | 72 |
Muatan Lokal*** | 72 (2) | | 72 |
Total****: | 900 (25) | 252 | 1152 |
* Diikuti oleh peserta didik sesuai dengan agama/kepercayaan masing-masing.
** Satuan pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, dan/atau Seni Tari). Peserta didik memilih 1 (satu) jenis seni (Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, atau Seni Tari).
*** Maksimal 2 JP per minggu atau 72 JP per tahun.
**** Total JP tidak termasuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Muatan Lokal, dan/atau mata pelajaran tambahan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan.
Alokasi Waktu Mata Pelajaran SD/MI Kelas III-V
* Diikuti oleh peserta didik sesuai dengan agama/kepercayaan masing- masing.
** Satuan pendidikan menyediakan minimal 1 (satu) jenis seni (Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, dan/atau Seni Tari). Peserta didik memilih 1 (satu) jenis seni (Seni Musik, Seni Rupa, Seni Teater, atau Seni Tari).
*** Maksimal 2 JP per minggu atau 72 JP per tahun.
**** Total JP tidak termasuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Muatan Lokal, dan/atau mata pelajaran tambahan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan.
Asumsi 1 Tahun = 36 minggu 1 JP = 35 menit | | ||
Alokasi per tahun (minggu) | Alokasi Projek per tahun | TOTAL JP PER TAHUN | |
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti* | 108 (3) | 36 | 144 |
Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti* | 108 (3) | 36 | 144 |
Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti* | 108 (3) | 36 | 144 |
Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti* | 108 (3) | 36 | 144 |
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti* | 108 (3) | 36 | 144 |
Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti* | 108 (3) | 36 | 144 |
Pendidikan Pancasila | 144 (4) | 36 | 180 |
Bahasa Indonesia | 216 (6) | 36 | 252 |
Matematika | 180 (5) | 36 | 216 |
IPAS | 180 (5) | 36 | 216 |
PJOK | 108 (3) | 36 | 144 |
Seni dan Budaya**:
| 108 (3) | 36 | 144 |
Bahasa Inggris*** | 72 (2) | - | 72 |
Muatan Lokal*** | 72 (2) | - | 72 |
Total****: | 1044 (29) | 252 | 1296 |
Alokasi Waktu Mata Pelajaran SD/MI Kelas VI
Asumsi 1 Tahun = 36 minggu | K13 | Program Sekolah Penggerak | ||
Per Minggu | Alokasi per tahun (minggu) | Alokasi Projek per tahun | Total JP Per Tahun | |
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti* | 4 | 96 (3) | 32 | 128 |
Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti* | 4 | 96 (3) | 32 | 128 |
Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti* | 4 | 96 (3) | 32 | 128 |
Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti* | 4 | 96 (3) | 32 | 128 |
Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti* | 4 | 96 (3) | 32 | 128 |
Pendidikan Agama Khonghucu dan Budi Pekerti* | 4 | 96 (3) | 32 | 128 |
Pendidikan Pancasila | 6 | 128 (4) | 32 | 160 |
Bahasa Indonesia | 10 | 192 (6) | 32 | 224 |
Matematika | 6 | 160 (5) | 32 | 192 |
Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial | - | 160 (5) | 32 | 192 |
Pendidikan Jasmani Olahraga dan kesehatan | - | 96 (3) | 32 | 128 |
Pilihan minimal 1: a) Seni Musik, b) Seni Rupa, c) Seni Teater, d) Seni Tari | 4 | 96 (3) | 32 | 128 |
Bahasa Inggris*** | 2 | 64 (2)*** | 64*** | |
Muatan Lokal*** | 2 | 64 (2)*** | 64*** | |
Total*** | | 928(29) | 224 | 1152 |
****Jam pelajaran kelas 3 SD mengalami peningkatan, mengikuti struktur kelas 4 karena IPAS dimulai di kelas 3
***opsional. Satuan Pendidikan dapat mengintegrasikan muatan lokal dalam mapel lain atau diajarkan melalui kegiatan projek.
Total JP tidak termasuk mata pelajaran Bahasa Inggris, Muatan Lokal dan/atau mata pelajaran tambahan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan
31
32
CATATAN
33
Penyusunan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan dan analisis Capaian Pembelajaran
2
M
T
W
T
F
Sumber: OECD (2018)
Jika dianalogikan dengan sebuah perjalanan berkendara, CP memberikan tujuan umum dan ketersediaan waktu untuk mencapainya (fase).
Untuk mencapai tujuan tersebut, setiap pengemudi memiliki kebebasan untuk memilih jalur, cara, dan alat untuk menempuh perjalanan tersebut, yang disesuaikan dengan titik keberangkatan, kondisi, kemampuan, dan kecepatan masing-masing.
Dalam mencapai CP, kita perlu membangun kompetensi untuk melakukan perjalanan tersebut agar tiba di tujuan pada waktu yang ditentukan. Setiap satuan pendidikan dipersilakan mengatur strategi efektif untuk mencapai CP, sesuai dengan kemampuan dan potensinya.
Sumber gambar: https://www.theaa.com/driving-school/driving-lessons/advice/show-me-tell-me
M
T
W
T
F
Sumber: OECD (2018)
Garis finish CP ada di akhir kelas 12. Untuk mencapai garis finish tersebut, pemerintah membuatnya ke dalam 6 etape yang disebut fase. Setiap fase lamanya 1-3 tahun.
Penggunaan istilah “fase” dilakukan untuk membedakannya dengan kelas karena peserta didik di satu kelas yang sama bisa jadi belajar dalam fase pembelajaran yang berbeda.
Fase memberikan keleluasaan dan keadilan bagi guru dan siswa untuk menyesuaikan rancangan pembelajaran dengan tahapan perkembangan, kemampuan, minat, konteks, dan kecepatan belajar siswa (Teaching at The Right Level).
Dengan penggunaan Fase, diharapkan siswa akan dapat memiliki waktu lebih panjang untuk memahami dan mendalami konsep-konsep dan keterampilan untuk mencapai sebuah kompetensi yang dibangun CP.
sumber gambar: https://momobil.id/news/penjelasan-arti-indikator-huruf-di-speedometer-mobil/
Untuk mencapai tujuan tersebut, Pemerintah menetapkan Kerangka Dasar Kurikulum yang terdiri dari Struktur Kurikulum, Capaian Pembelajaran, dan Prinsip Pembelajaran dan Asesmen.
Pengertian Capaian Pembelajaran
“Capaian Pembelajaran (CP) merupakan kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik pada setiap fase, dimulai dari Fase Fondasi pada PAUD. Untuk Pendidikan dasar dan menengah, CP disusun untuk setiap mata pelajaran.”
(lihat: Keputusan Menteri Republik Indonesia Nomor 56/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam rangka Pemulihan Pembelajaran)
Pemerintah hanya menetapkan tujuan akhir per fase (CP) dan waktu tempuhnya (fase). Satuan pendidikan memiliki keleluasaan untuk menentukan strategi dan cara atau jalur untuk mencapainya. Agar bisa menentukan strategi yang sesuai, kita perlu tau titik awal keberangkatan para peserta didik.
Sistematika Capaian Pembelajaran
Komponen CP
2
3
4
1
Rasional Mata Pelajaran
Tujuan Mata Pelajaran
Kemampuan yang perlu dicapai pelajar setelah mempelajari mata pelajaran tersebut
Karakteristik Mata Pelajaran
Capaian dalam setiap fase secara keseluruhan
Kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik pada setiap fase. Dibuat dalam bentuk pernyataan yang disajikan dalam paragraf yang utuh.
Capaian setiap fase menurut elemen
Dibuat dalam bentuk matriks. Setiap elemen dipetakan menurut perkembangan siswa
Capaian pembelajaran dalam bentuk
KI KD sangat banyak dan terpisah-pisah.
CP ditulis dalam paragraf yang utuh dan mudah dipahami sebagai satu kesatuan.
KI/KD Kelas 1 dan 2 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Kurikulum 2013
Capaian Pembelajaran Kelas 1 dan 2 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Fase A
(Usia 6-8, umumnya kelas 1-2 SD)
Pelajar memiliki kemampuan berbahasa untuk berkomunikasi dan bernalar sesuai dengan tujuan kepada teman sebaya dan orang dewasa tentang diri dan lingkungan sekitarnya. Pelajar mampu memahami dan menyampaikan pesan; mengekspresikan perasaan dan gagasan; berpartisipasi dalam percakapan dan diskusi secara santun. pelajar mampu meningkatkan penguasaan kosakata baru melalui berbagai kegiatan berbahasa dan bersastra dengan topik yang beragam.
Menyimak | Pelajar mampu bersikap menjadi penyimak yang baik. Pelajar mampu memahami pesan lisan dan informasi dari media audio, teks aural (teks yang dibacakan), dan instruksi lisan yang berkaitan dengan tujuan berkomunikasi. |
Membaca & Memirsa | Pelajar mampu bersikap menjadi pembaca dan pemirsa yang baik. Pelajar mampu memahami informasi dari bacaan dan tayangan yang dipirsa tentang diri dan lingkungan, narasi imajinatif, dan puisi anak. Pelajar mampu menambah kosakata baru dari teks yang dibaca atau tayangan yang dipirsa dengan bantuan ilustrasi. |
Berbicara & Mempresentasikan | Pelajar mampu melafalkan teks dengan tepat, berbicara dengan santun, menggunakan volume dan intonasi yang tepat sesuai konteks. Pelajar mampu bertanya tentang sesuatu, menjawab, dan menanggapi komentar orang lain (teman, guru, dan orang dewasa) dengan baik dan santun dalam suatu percakapan. Pelajar mampu mengungkapkan gagasan secara lisan dengan bantuan gambar dan/atau ilustrasi. Pelajar mampu menceritakan kembali suatu informasi yang dibaca atau didengar; dan menceritakan kembali teks narasi yang dibacakan atau dibaca dengan topik diri dan lingkungan. |
Menulis | Pelajar mampu bersikap dalam menulis di atas kertas dan/atau melalui media digital. Pelajar mampu menulis deskripsi dengan beberapa kalimat tunggal, menulis rekon tentang pengalaman diri, menulis kembali narasi berdasarkan fiksi yang dibaca atau didengar, menulis prosedur tentang kehidupan sehari-hari, dan menulis eksposisi tentang kehidupan sehari-hari. Pelajar mengembangkan tulisan tangan yang semakin baik. |
41
Contoh: Elemen CP mapel Seni Rupa
2
3
4
Elemen | Fase A | Fase B | Fase C |
Berpikir dan Bekerja Artistik | Siswa mampu mengenali dan membiasakan diri dengan berbagai prosedur dasar sederhana untuk berkarya dengan aneka pilihan media yang tersedia di sekitar. Siswa mengetahui dan memahami keutamaan faktor keselamatan dalam bekerja | Siswa mulai terbiasa secara mandiri menggunakan berbagai prosedur dasar sederhana untuk berkarya dengan aneka pilihan media yang tersedia di sekitar. Siswa mengetahui, memahami dan mulai konsisten mengutamakan faktor keselamatan dalam bekerja | Siswa secara mandiri menggunakan berbagai prosedur dasar sederhana untuk berkarya dengan aneka pilihan media yang tersedia di sekitar. Siswa mengetahui, memahami dan konsisten mengutamakan faktor keselamatan dalam bekerja. |
Mengalami | Siswa mampu mengamati, mengenal, merekam dan menuangkan pengalaman kesehariannya secara visual dengan menggunakan bentuk-bentuk dasar geometris. Siswa mengeksplorasi alat dan bahan dasar dalam berkarya. Siswa juga mengenali prosedur dasar dalam berkarya | Siswa mampu mengamati, mengenal, merekam dan menuangkan pengalaman kesehariannya secara visual dengan menggunakan garis pijak dan proporsi walaupun masih berdasarkan penglihatan sendiri. Siswa dapat menggunakan alat, bahan dan prosedur dasar dalam berkarya. | Siswa mampu mengamati, mengenal, merekam dan menuangkan pengalaman kesehariannya secara visual dengan menggunakan konsep ruang, garis horison, pemahaman warna, keseimbangan (balance) dan irama/ritme (rhythm). Siswa dapat menggunakan dan menggabungkan alat, bahan dan prosedur dasar dalam berkarya |
Menciptakan | Siswa mampu menciptakan karya dengan mengeksplorasi dan menggunakan elemen seni rupa berupa garis, bentuk dan warna
| Siswa mampu menciptakan karya dengan mengeksplorasi dan menggunakan elemen seni rupa berupa garis, bentuk, tekstur, ruang dan warna. | Siswa mampu menciptakan karya dengan mengeksplorasi, menggunakan dan menggabungkan elemen seni rupa yang telah dipelajari. Siswa mulai menggunakan garis horizon. Selain itu, siswa mulai menunjukkan pemahaman warna, keseimbangan dan irama/ritme dalam karya |
Contoh: Elemen CP mapel Seni Rupa
2
3
4
Elemen | Fase A | Fase B | Fase C |
Merefleksikan | Siswa mampu mengenali dan menceritakan fokus dari karya yang diciptakan atau dilihatnya (dari teman sekelas karya seni dari orang lain) serta pengalaman dan perasaannya mengenai karya tersebut.
| Siswa mampu mengenali dan menceritakan fokus dari karya yang diciptakan atau dilihatnya (dari teman sekelas karya seni dari orang lain atau era atau budaya tertentu) serta pengalaman dan perasaannya mengenai karya tersebut
| Siswa mampu mengenali dan menceritakan fokus dari karya yang diciptakan atau dilihatnya (dari teman sekelas karya seni dari orang lain atau era atau budaya tertentu) serta pengalaman dan perasaannya mengenai karya tersebut |
Berdampak | Siswa mampu menciptakan karya sendiri yang sesuai dengan perasaan atau minatnya | Siswa mampu menciptakan karya sendiri yang sesuai dengan perasaan,minat atau konteks lingkungannya
| Siswa mampu menciptakan karya sendiri yang sesuai dengan perasaan,minat atau konteks lingkungannya |
Pengertian Kompetensi dalam Capaian Pembelajaran
M
T
W
T
F
Sumber: OECD (2018)
6 Aspek/Facet Pemahaman merupakan cara untuk mengkonfirmasi pemahaman siswa atas apa yang telah mereka pelajari dan tidak hirarkis/bukan merupakan siklus.
Jika siswa melakukan salah satu dari keenam Aspek/Facet Pemahaman ini (mampu menjelaskan, menginterpretasi, menerapkan/mengaplikasikan, berempati, memiliki sebuah sudut pandang, atau memiliki pengenalan diri), berarti mereka telah mendemonstrasikan sebuah tingkat pemahaman.
6 Aspek/Facet Pemahaman ini merupakan modal untuk menentukan Tujuan Pembelajaran (TP), menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), menentukan asesmen, dan instruksi yang tepat.
M
T
W
T
F
Sumber: OECD (2018)
Penjelasan Explanation | Mendeskripsikan suatu ide dengan kata-kata sendiri, membangun hubungan antar topik, mendemonstrasikan hasil kerja, menjelaskan alasan/cara/prosedur , menjelaskan sebuah teori menggunakan data, berargumen dan mempertahankan pendapatnya. |
Interpretasi Interpretation | Menerjemahkan cerita, karya seni, atau situasi. Interpretasi juga berarti memaknai sebuah ide, perasaan atau sebuah hasil karya dari satu media ke media lain, dapat membuat analogi, anekdot, dan model. Melihat makna dari apa yang telah dipelajari dan relevansi dengan dirinya. |
Aplikasi Application | Menggunakan pengetahuan, keterampilan dan pemahaman mengenai suatu dalam situasi yang nyata dalam kehidupan sehari-hari atau sebuah simulasi (menyerupai kenyataan) |
Perspektif Perspective | Melihat suatu hal dari sudut pandang yang berbeda, siswa dapat menjelaskan sisi lain dari sebuah situasi, melihat gambaran besar, melihat asumsi yang mendasari suatu hal dan memberikan kritik. |
Empati Empathy | Menaruh diri di posisi orang lain. Merasakan emosi yang dialami oleh pihak lain dan/atau memahami pikiran yang berbeda dengan dirinya. Menemukan nilai (value) dari sesuatu |
Pengenalan diri Self-Knowledge | Memahami diri sendiri; yang menjadi kekuatan, area yang perlu dikembangkan serta proses berpikir dan emosi yang terjadi secara internal. |
6 aspek pemahaman (Wiggins and Tighe, 2005) |
6 facet of understanding; merupakan bentuk-bentuk pemahaman yang digunakan dalam CP. Tidak harus hirarkis |
Contoh Bentuk Pemahaman Dalam CP
Matematika Fase B elemen Bilangan
M
T
W
T
F
Sumber: OECD (2018)
Penjelasan Explanation | Mendeskripsikan makna dari bilangan 10.000 dengan kata-kata sendiri, mengaitkan dengan nilai tempat, mengurutkan dan membandingkan bilangan 10.000 dengan bilangan lain |
Interpretasi Interpretation | Menerjemahkan makna 10.000 menggunakan gambar |
Aplikasi Application | Menggunakan pemahaman 10.000 untuk memecahkan masalah dalam dunia nyata (misalnya berbelanja di kantin dengan uang Rp.10.000,00 atau soal cerita/ simulasi jual-beli) |
Perspektif Perspective | Menemukan berbagai cara berbeda untuk mendapatkan nilai 10.000 |
Peserta didik menunjukkan pemahaman dan intuisi bilangan (number sense) untuk bilangan cacah sampai dengan 10.000. Mereka dapat membaca, menulis, menentukan nilai tempat, membandingkan, mengurutkan, menggunakan nilai tempat, melakukan komposisi dan dekomposisi bilangan. Mereka juga dapat menyelesaikan masalah berkaitan dengan uang menggunakan ribuan sebagai satuan.
Kegiatan: 1
Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan
Kurikulum operasional yang dikembangkan menunjukkan kesesuaian dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik, satuan pendidikan, dan daerah. Dalam mengembangkan dan mengelola kurikulum operasional, satuan pendidikan sebaiknya melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk siswa, komite sekolah, dan masyarakat.
Pemerintah menyediakan contoh-contoh kurikulum operasional sekolah yang dapat dimodifikasi, dijadikan contoh, atau rujukan untuk satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum operasionalnya.
Prinsip pengembangan kurikulum operasional di satuan pendidikan
pendidikan. Bahasa yang digunakan lugas, ringkas, dan mudah dipahami
Komponen Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan
Komponen kurikulum operasional yang dikembangkan dan digunakan di satuan pendidikan terdiri atas karakteristik satuan pendidikan, visi, misi, dan tujuan satuan pendidikan, pengorganisasian pembelajaran, dan perencanaan pembelajaran.
Untuk dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran ruang lingkup kelas, satuan pendidikan dapat menggunakan, memodifikasi, atau mengadaptasi contoh modul ajar yang disediakan Pemerintah, dan cukup melampirkan beberapa contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)/modul ajar atau bentuk rencana kegiatan yang mewakili inti dari rangkaian pembelajaran pada bagian Lampiran. Satuan pendidikan memiliki keleluasaan untuk menentukan format dan sistematika penyusunan kurikulum operasional satuan pendidikan.
Struktur Kurikulum
Capaian Pembelajaran Prinsip Pembelajaran dan Asesmen
Kerangka dasar kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah pusat
TETAP
Ditetapkan oleh pemerintah pusat
FLEKSIBEL/DINAMIS
Satuan pendidikan mengembangkan kurikulum operasional berdasarkan kerangka dan struktur kurikulum, sesuai karakteristik dan kebutuhan satuan pendidikan
.
.
1
Menganalisis konteks KARAKTERISTIK SATUAN PENDIDIKAN
2
Merumuskan VISI MISI
TUJUAN
3
Menentukan PENGORGANISASIAN PEMBELAJARAN
4
Menyusun RENCANA PEMBELAJARAN
Proses Penyusunan Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan Secara Umum
TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL
SNP
Analisis Karakteristik Satuan Pendidikan
Sebelum mengembangkan kurikulum satuan pendidikan, sekolah perlu melakukan analisis karakteristik dan lingkungan belajar dengan menampung aspirasi anggota komunitas, dan menjadikan visi dan misi sebagai arahan yang disepakati oleh seluruh warga satuan pendidikan.
Prinsip-prinsip analisis lingkungan belajar:
Contoh informasi yang perlu didapatkan dalam analisis lingkungan belajar satuan pendidikan:
Berikut adalah pilihan cara untuk mengumpulkan informasi
Beberapa alat yang dapat digunakan
untuk menganalisis informasi:
DINAS UPT
MKKS
[CONTOH] Proses Analisis Karakteristik Satuan Pendidikan
Analisis kebutuhan satuan pendidikan
Analisis lingkungan belajar |
Sumber daya alam, sosial, dan budaya
Sumber pendanaan
Sistem dan kebijakan di daerah
Kemitraan
|
|
Visi - Misi - Tujuan |
Review Visi Misi
|
Review Tujuan
|
DINAS
UPT MKKS
Peserta didik
Guru dan tenaga kependidikan
Sarana dan prasarana
Strategi
Kegiatan 2:
55
[CONTOH] Proses Analisis Karakteristik Satuan Pendidikan
Analisis kebutuhan satuan pendidikan
Analisis lingkungan belajar |
Sumber daya alam, sosial, dan budaya
Sumber pendanaan Sistem dan kebijakan di daerah
Kemitraan
|
|
Visi - Misi - Tujuan |
Review Visi Misi
|
Review Tujuan ………………….. |
DINAS
UPT MKKS
Peserta didik
Guru dan tenaga kependidikan
Sarana dan prasarana
Strategi
Tujuan Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran
3
Tujuan kegiatan analisis capaian pembelajaran untuk:
Pendidik dan satuan pendidikan dapat menggunakan berbagai strategi untuk menyusun tujuan pembelajaran dan alur tujuan. Harus dipastikan tujuan pembelajaran dan alur tujuan pembelajaran yang dipetakan memenuhi kriteria berikut ini:
58
Untuk menyusun rencana pembelajaran, jabaran kompetensi pada Capaian Pembelajaran perlu dipetakan ke dalam tujuan pembelajaran dan alur tujuan pembelajaran. Peta kompetensi tersebut kemudian digunakan sebagai acuan untuk mengembangkan perangkat ajar.
Kriteria tujuan pembelajaran idealnya terdiri dari beberapa komponen sebagai berikut:
Kriteria alur tujuan Pembelajaran:
59
Contoh Hasil Pemetaan CP ke dalam Alur Tujuan Pembelajaran
Fase B | |
Kelas 3 | Kelas 4 |
3.1. Menyajikan bilangan dan menggeneralisasi pemahaman dan membandingkan urutan dan nilai tempat sampai 999.999 3.2. Memperkirakan dan membulatkan bilangan ke nilai tempat terdekat sampai 999.999 3.3. Mengukur panjang dengan satuan baku (mm, cm, dan m) serta mengukur keliling bidang datar dengan menambahkan semua rusuknya. 3.4. Mengukur luas dengan menghitung jumlah bujur sangkar berukuran 1 cm2 yang menutup bidang datar 3.5. Menemukan hubungan antara operasi penjumlahan dan pengurangan. 3.6. Menyelesaikan kalimat bilangan dengan satu variabel berupa simbol gambar yang belum diketahui nilainya melibatkan penjumlahan dan pengurangan bilangan 3.7. Mengobservasi, menentukan dan menggambar sisi sejajar dan sisi berpotongan pada sebuah bidang datar. dst …. | 4.1. Memperumum pemahaman mengenai urutan dan nilai tempat sampai 999.999 4.2. Mengidentifikasi kelipatan, faktor, pola perkalian dan pembagian dengan tabel kelipatan 4.3. Menentukan hubungan antar satuan baku panjang (mm, cm, dan m) 4.4. Menyelesaikan permasalahan berkaitan dengan keliling berbagai bangun datar (segitiga, segiempat, segi banyak) 4.5. Menyelesaikan permasalahan berkaitan dengan luas dan keliling berbagai bentuk bangun datar dst ... |
Memetakan bagian ATP per kelas sesuai dengan alokasi waktu
60
Matematika Fase B:Kelas 3 dan 4
Pada akhir fase B, peserta didik dapat menggeneralisasi pemahaman dan melakukan operasi hitung bilangan cacah sampai dengan 1.000.000 (atau maksimum enam angka), serta memahami hubungan antara operasi hitung (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian) termasuk menggunakan sifat-sifat operasi dalam menentukan hasil perhitungan, menentukan faktor, kelipatan, KPK, dan FPB dari bilangan cacah, memahami pecahan dan menentukan posisinya pada garis bilangan, serta membandingkan dua pecahan. Peserta didik dapat menyelesaikan persamaan sederhana, memahami hubungan antara operasi perkalian dan pembagian, menemukan pola gambar, objek sederhana, dan pola bilangan melibatkan operasi hitung (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian). Peserta didik dapat dan mengukur panjang benda menggunakan satuan baku, menggunakan satuan baku luas dan volume, serta menyelesaikan masalah berkaitan dengan keliling bangun datar. Peserta didik dapat mengidentifikasi ciri-ciri berbagai bentuk bangun datar dan bangun ruang (prisma dan balok). Peserta didik juga dapat menyajikan dan menganalisis data sederhana menggunakan turus dalam bentuk bentuk bentuk tabel, diagram gambar, piktogram, diagram batang, dan diagram garis, serta menentukan kejadian yang lebih mungkin di antara beberapa kejadian.
Menganalisis Capaian
Pembelajaran
Merumuskan Tujuan Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran
Tujuan pengembangan modul ajar:
Mengembangkan perangkat ajar yang memandu pendidik melaksanakan pembelajaran
Pendidik memiliki kemerdekaan untuk:
61
Kriteria yang harus dimiliki oleh modul ajar adalah:
62
Kegiatan 3:
Modul Ajar Kurikulum Merdeka, Perencanaan dan Pelaksanaan Asesmen Diagnostik
4
Komponen Modul Ajar
Penulisan modul ajar bertujuan untuk memandu pendidik untuk melaksanakan proses pembelajaran. Komponen dalam modul ajar ditentukan oleh pendidik berdasarkan kebutuhannya. Secara umum modul ajar memiliki komponen sebagai berikut:
Informasi umum | Komponen inti | Lampiran |
|
|
|
Tidak semua komponen di atas wajib tercantum dalam modul ajar yang dikembangkan oleh pendidik. Pendidik di satuan pendidikan diberi kebebasan untuk mengembangkan komponen dalam modul ajar sesuai dengan konteks lingkungan dan kebutuhan belajar peserta didik.
78
Contoh Cuplikan Modul Ajar MA untuk Kelas 3 Matematika 12 JP�
Aktivitas 4 (Kinerja)
Menyelesaikan permasalahan berkaitan dengan luas suatu gambar benda dengan menghitung jumlah bujur sangkar berukuran 1 cm2 yang menutup bidang datar
Aktivitas 5 (Sumatif 2 : Proyek)
Menggambar denah rumah dengan menyertakan ukuran panjang dengan satuan baku dan luas (dengan menghitung jumlah bujur sangkar) pada kertas isometrik.
Tujuan pembelajaran
Aktivitas 1 (Kinerja)
Mengukur panjang dengan satuan baku (mm, cm, dan m) pada objek yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari
Aktivitas 2 (Tes)
Menyelesaikan permasalahan berkaitan dengan panjang dengan satuan baku (mm, cm, dan m)
Aktivitas 3 (Kinerja)
Menyelesaikan permasalahan berkaitan dengan keliling segiempat, segitiga, dan segibanyak dengan menambahkan panjang rusuk-rusuk bidang
Profil Pelajar Pancasila:
Asesmen Sumatif
Menggambar denah rumah dengan menyertakan ukuran panjang dengan satuan baku dan luas (dengan menghitung jumlah bujur sangkar) pada kertas isometrik.
79
Diskusi dan kegiatan berkelompok dibagi berdasarkan kelompok dengan kesiapan yang berbeda, sehingga pembelajaran sesuai dengan tingkat kesiapan peserta didik.
Kegiatan observasi sekitar, diskusi dengan pertanyaan pemantik adalah pembelajaran yang membangun elemen bernalar kritis dan juga mandiri dengan melibatkan peserta didik dalam diskusi dan pemilihan bentuk untuk tugas asesmen sumatif.
Contoh penerapan penyesuaian pembelajaran dan pengembangan PPP
Asesmen Diagnostik:
Tes :
Untuk mengidentifikasi kemampuan berhitung dan pemahaman hubungan antar satuan panjang.
ASESMEN
Bagaimana ya?
Secara umum, sesuai namanya asesmen diagnostik bertujuan untuk mendiagnosis kemampuan dasar siswa dan mengetahui kondisi awal siswa.
Asesmen diagnostik terbagi menjadi asesmen diagnostik non-kognitif dan asesmen diagnosis kognitif. Tujuan dari masing-masing asesmen diagnostik adalah sebagai berikut:
Tujuan Asesmen Diagnostik | |
Non-kognitif | Kognitif |
|
|
TUjuan Asesmen Diagnostik
Asesmen diagnostik non-kognitif di awal pembelajaran dilakukan untuk menggali hal-hal seperti berikut:
Tahapan melaksanakan asesmen diagnostik non-kognitif adalah:
Tips
Ketrampilan bertanya dan membuat pertanyaan penting pada asesmen ini!
Asesmen Diagnostik Non-Kognitif
Asesmen Diagnostik Non-Kognitif
Contoh kegiatan persiapan
Asesmen Diagnostik Non-Kognitif
Contoh kegiatan pelaksanaan
Meminta siswa mengekspresikan perasaannya selama belajar di rumah serta menjelaskan aktivitasnya
Bercerita
Menulis
Menggambar
Asesmen Diagnostik Non-Kognitif
Strategi tanya jawab
Saat siswa menjawab pertanyaan
pertanyaan siswa
Saat siswa balik bertanya
Saat siswa menjawab pertanyaan
Tindak Lanjut
1. Identifikasi siswa dengan ekspresi emosi negatif dan ajak berdiskusi empat mata
2. Menentukan tindak lanjut dan mengomunikasikan dengan siswa serta orang tua bila diperlukan
3. Ulangi pelaksanaan asesmen non-kognitif pada awal pembelajaran
Asesmen Diagnostik Kognitif
Asesmen diagnostik kognitif bertujuan mendiagnosis kemampuan dasar siswa dalam topik sebuah mata pelajaran.
Asesmen diagnostik kognitif dapat dilaksanakan secara rutin yang disebut asesmen diagnostik kognitif berkala, pada awal pembelajaran, akhir setelah guru selesai menjelaskan dan membahas topik, dan waktu lain.
Asesmen Diagnostik bisa berupa Asesmen Formatif maupun Asesmen Sumatif.
Tahapan melaksanakan asesmen diagnostik kognitif adalah:
Penting
!Guru melakukan asesmen diagnosis kognitif untuk menyesuaikan tingkat pembelajaran dengan kemampuan siswa, bukan untuk mengejar target kurikulum.
Asesmen Diagnostik Kognitif
Contoh kegiatan persiapan & pelaksanaan
•
•
•
2 pertanyaan sesuai kelasnya, dengan topik capaian pembelajaran baru 6 pertanyaan dengan topik satu kelas di bawah
2 pertanyaan dengan topik dua kelas di bawah
(sesuaikan pertanyaan dengan topik yang menjadi prasyarat untuk bisa mengikuti pembelajaran di jenjang sekarang)
Berikan asesmen untuk semua siswa di kelas, baik yang belajar tatap muka di sekolah maupun yang belajar di rumah
Asesmen Diagnostik Kognitif
1. Lakukan pengolahan hasil asesmen
•
Hitung rata-rata kelas
2. Bagi siswa menjadi tiga kelompok:
•
Siswa dengan nilai di bawah rata-rata mengikuti pembelajaran dengan diberikan pendampingan pada kompetensi yang belum terpenuhi
Contoh kegiatan tindak lanjut
Penting
!Guru menyesuaikan aktivitas dan materi belajar di kelas dengan peningkatan rata-rata semua murid di kelas
PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA
5
109
Pengembangan Karakter
Dalam struktur kurikulum prototipe, 20 - 30 persen jam pelajaran digunakan untuk pengembangan karakter Profil Pelajar Pancasila melalui pembelajaran berbasis projek.
Kurikulum 2013 sudah menekankan pada pengembangan karakter, namun belum memberi porsi khusus dalam struktur kurikulumnya.
Pembelajaran berbasis projek penting untuk pengembangan karakter karena:
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
110
113
114
115
116
117
118
119
120
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
(IKM)
6
Tahapan Implementasi Kurikulum Merdeka
123
Pilihan kesatu Mandiri Belajar | Pilihan kedua Mandiri Berubah | Pilihan ketiga Mandiri Berbagi |
Pilihan yang memberikan kebebasan kepada satuan Pendidikan saat menerapkan kurikulum Merdeka beberapa bagian dan prinsip Kurikulum Merdeka, tanpa mengganti kurikulum satuan pendidikan yang sedang diterapkan pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10. | Pilihan yang memberikan keleluasaan kepada satuan Pendidikan saat menerapkan kurikulum merdeka dengan menggunakan perangkat ajar yang sudah disediakan pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10. | Pilihan yang memberikan keleluasaan kepada satuan Pendidikan dalam menerapkan kurikulum merdeka dengan mengembangkan sendiri berbagai perangkat ajar pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10. |
Penerapan kurikulum merdeka dilakukan melalui tahapan berdasarkan kesiapan dan penetapan target oleh satuan pendidikan.
1
2
Ada di pojok kanan atas laman
Banner di tengah laman
atau menu di akhir laman
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
TATA CARA PENDAFTARAN
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
Kunjungi Laman:
kurikulum.gtk.kemdikbud.go.id
Pastikan anda mempelajari semua informasi pada laman ini untuk memperkaya pemahaman anda sebelum menentukan pilihan.
Pilih menu DAFTAR pada laman ini
3
4
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
Lalu lakukan log in menggunakan:
Akun SIMPKB untuk Kepala Satuan Pendidikan*
Akun SIMPATIKA untuk Kepala Madrasah
*Satuan Pendidikan adalah PAUD/TK, SD, SMP, SMA, SMK, SLB, dan SKB/PKBM
Ikuti 2 langkah selanjutnya untuk menyelesaikan pendaftaran, mulai dengan klik DAFTAR
Isi Kuesioner
Menonton
Video
Kemudian, centang kotak pada menu pop up informasi pendaftaran lalu klik Ikuti Pembelajaran untuk melanjutkan
TATA CARA PENDAFTARAN
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
5
6
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
TATA CARA PENDAFTARAN
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
Langkah 1: Menonton video penjelasan menarik terkait dengan kurikulum merdeka
Klik Mulai
Tonton 2 video tersebut hingga muncul tanda centang biru
Klik "Mark Complete" untuk melanjutkan
Klik Kembali ke SIM GURU BELAJAR untuk lanjut ke Langkah 2
Langkah 2: Klik Isi Kuesioner, lalu ikuti tahapan pengisiannya
Untuk sekolah swasta, lakukan unduh template surat Izin Yayasan, lengkapi isian dan tanda tangan surat izin tersebut, lalu unggah kembali dalam format pdf
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
TATA CARA PENDAFTARAN
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
Selamat! Anda akan mendapatkan Rekomendasi Umum dan Khusus
Pelajari dan terapkan rekomendasi umum dan khusus ini untuk melangkah ke tahap Implementasi Kurikulum Merdeka
Rekomendasi ini dapat diunduh dalam format PDF melalui menu "UNDUH HASIL"
TERIMA KASIH