1 of 28

Organisasi Industri dan Makro Moneter(Pertemuan Ketujuh)Advertising dan Research-Development”

Disampaikan oleh:

Dr. Mariyudi, SE, MM

2 of 28

Cakupan Materi

  • Advertising dan struktur pasar.
  • Advertising sebagai penghambat masuk pasar.
  • Model Dorfman Steiner.
  • Game theory dan R&D.
  • Ukuran perusahaan dan R&D.

3 of 28

Pendahuluan

  • Advertising memiliki peran penting dalam perkembangan pemasaran.
    • Memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan konsumen secara langsung dengan cara memberikan informasi mengenai produk dan harga yang ditawarkan.
    • Removes need for specialized sellers providing expertise.
  • Fenomena saat ini yang menunjukkan banyak retailer menawarkan berbagai jenis produk dan setiap produk memiliki berbagai jenis promosi dan iklan di media massa.
  • Isu penting yang selalu ditanyakan terkait dengan advertising:
    • Apakah advertisng akan meningkatkan kekuatan pasar dan mengurangi kompetisi?
    • Bagaimana advertising bekerja? Informasi apa saja yang disediakan?
    • Apakah beban advertising yang dikeluarkan terlalu besar atau kecil?

4 of 28

Beberapa fakta unit terkait advertising

  • Volume beban advertising di banyak negara cukup besar. Sebagai contoh, di US, konsumsi advertising mencapai 2% dari GDP.
  • Beberapa perusahaan besar (misal GM dan P&G) menghabiskan banyak uang untuk beban advertising.
    • Beberapa iklan melalui media massa.
    • Beberapa iklan disampaikan melalui katalog, mailing list, kupon, dsb.
  • Terdapat pola khusus terkait dengan advertising:
    • Adanya korelasi antara advertising dan kekuatan pasar.
    • Adanya perilaku yang konsisten dalam industri – perusahaan besar dalam hal pengeluaran advertising biasanya tetap menjaga tingkat pengeluaran pemasarannya dalam periode jangka panjang.

5 of 28

Advertising dan Kekuatan Monopoli

  • Asumsikan perusahaan menghadapi kurva permintaan terbalik dengan slope menurun (downward-sloping demand inverse). Pergeseran kurva permintaan tergantung jumlah advertising α (pesan) yang perusahaan keluarkan:

  • Maksimisasi profit mensyaratkan MR = MC sehingga didapatkan Q* optimal.

  • Dari materi sebelumnya, kondisi di atas dapat dituliskan dalam bentuk Lerner Index, LI

Dimana ηP merupakan elastisitas permintaan

6 of 28

Advertising dan Kekuatan Monopoli (lanjutan)

  • Pada tingkat output tertentu Q, advertising yang lebih besar akan meningkatkan harga P(Q,α)
    • Pendapatan akan meningkat karena meningkatnya harga.
    • Maksimisasi profit mensyaratkan pendapatan marjinal dan biaya marjinal dengan adanya iklan T pada titik optimal advertising α*

  • Kalikan setiap sisi dengan α*/P* dan dibagi dengan Q*

= Advertising-to-sales ratio

7 of 28

Advertising dan Kekuatan Monopoli (lanjutan)

  • Perhatikan kembali persamaan terakhir.

  • P(Q*,α)/∂α dapat ditulis kembali sebagai.

= Advertising-to-sales ratio

Untuk mendapatkan

Kalikan LHS dengan Q*/Q*

8 of 28

Advertising dan Kekuatan Monopoli (lanjutan)

  • Elastisitas permintaan terhadap advertising ηA adalah:

  • Sehingga persamaan terakhir dapat ditulis kembali sebagai berikut:

  • Dorfman-Steiner Condition: untuk perusahaan monopoli yang memaksimumkan profit, advertising to sales ratio sama dengan rasio elastisitas permintaan terhadap advertising dengan rasio elastisitas permintaan terhadap harga.

= Advertising/sales ratio

9 of 28

Advertising dan Kekuatan Monopoli (lanjutan)

  • Model Dorfman-Steiner merupakan titik awal untuk menganalisis hubungan antara advertising dan kekuatan pasar. Model tersebut mengandung beberapa hal penting.
    • Ingat bahwa Lerner Index (P – c)/P sama dengan 1/ηD. Sehingga model Dorfman-Steiner dapat ditulis: Advertising-to-Sales Ratio = ηALI
    • Korelasi positif antara advertising dan kekuatan pasar memiliki dasar teoritis namun hubungan kausalitasnya tidak demikian – kekuatan pasar (LI yang tinggi) memicu meningkatnya pengeluaran advertising, namun advertising tidak menyebabkan kekuatan pasar meningkat.
    • Industri dengan sensitivitas penjualan terhadap advertising yang tinggi (ηA tinggi) akan memiliki pengeluaran advertising yang tinggi pula.

10 of 28

Advertising, Information, dan Signaling

  • Apakah advertising menyediakan informasi?
  • Pertimbangkan beberapa jenis barang:
    • Shop Goods: Barang/produk dengan harga yang relatif mahal dan frekuensi pembeliannya jarang, seperti: televisi, komputer, mobil. Konsumen harus menghabiskan waktu dan mengumpulkan informasi lebih banyak ketika berbelanja barang ini.
    • Convenience Goods: Barang/produk dengan harga yang relatif murah dan frekuensi pembeliannya tinggi, seperti: sabun, softdrinks, makanan, dsb. Konsumen tidak memerlukan informasi banyak untuk membeli produk ini.
    • Conjecture:

11 of 28

Advertising, Information, dan Signaling (lanjutan)

  • Khusus untuk jenis Shop Goods/Convenience Goods terdapat pembedaan lebih lanjut:
    • Search Goods: konsumen mengetahui kualitas dan fungsi dari merek yang berbeda namun perlu untuk mencari produk yang paling baik.
    • Experience Goods: konsumen harus mencoba suatu produk dan memiliki pengalaman menggunakan suatu produk sebelum mereka mengetahui kualitas produk tersebut.
    • Conjecture: konsumen akan lebih responsif terhadap advertising untuk experience goods karena advertising menyediakan informasi yang sangat murah untuk mempelajari suatu produk.
  • Implikasi: Elastisitas permintaan terhadap advertising ηD seharusnya lebih tinggi pada convenience/experience goods dan lebih rendah pada shop/search goods.

12 of 28

Research and Development

13 of 28

Pendahuluan

  • Adanya konsep baru tentang efisiensi.
    • Static efficiency: konsep alokasi sumber daya tradisional yang bertujuan untuk memproduksi barang dan jasa yang memaksimumkan surplus dan meminimumkan dead weight loss.
    • Dynamic efficiency: menciptakan produk dan jasa baru untuk meningkatkan surplus potensial.
  • Hipotesis Schumpeterian (konflik antara efisiensi statis dan dinamis).
    • Industri yang terkonsentrasi umumnya melakukan lebih banyak riset produk atau jasa baru (efisiensi dinamis lebih menonjol) dibandingkan perusahaan pada industri yang lebih kompetitif.
    • Perusahaan melakukan riset lebih banyak dibandingkan perusahaan kecil.

14 of 28

Taxonomi dari Inovasi

  • Inovasi produk vs. Inovasi proses.
    • Inovasi produk merujuk pada penciptaan produk atau jasa baru seperti DVD, PDA, telepon seluluer.
    • Inovasi proses merujuk pada pengembangan teknologi dalam proses produksi barang atau proses pelayanan jasa seperti penggunaan teknologi robot.
    • Yang menjadi fokus pembahasan adalah inovasi proses karena biasanya akan berdampak pada biaya produksi.
  • Inovasi drastis vs. inovasi non-drastis.
    • Inovasi proses memiliki 2 kategori.
    • Inovasi drastis akan berdampak pada penghematan biaya yang cukup besar sehingga memungkinkan inovator memiliki kekuatan monopoli yang besar.
    • Inovasi non drastis memberikan inovator cost advantage namun tidak memiliki kekuatan pasar yang besar.

15 of 28

Inovasi Drastis vs. Non Drastis

  • Misalkan fungsi permintaan adalah P = 120 – Q dan semua perusahaan memiliki biaya marjinak konstan sebesar c = $80.
  • Satu perusahaan melakukan inovasi sehingga menurunkan biaya menjadi cM = $20.
  • Hal tersebut merupakan inovasi drastis.
    • MR untuk monopolis adalah MR = 120 – 2Q.
    • Jika cM = $20 , output monopoli yang optimal adalah QM = 70 and PM = $70.
    • Inovator dapat menetapkan harga monopoli optimal ($70) dan mampu menyingkirkan rivalnya yang memiliki biaya $80.
  • Jika biaya hanya turun menjadi $60, inovasinya non drastis.
    • MR adalah MR = 120 = 2Q.
    • Output dan harga monopoli optimal QM = 30; PM = $90.
    • Namun, innovator tidak dapat menetapkan harga $90 karena pesaing memiliki biaya $80.

16 of 28

Inovasi Drastis vs. Non Drastis

$/unit = p

Quantity

c

QC

c’

QM

Demand

$/unit = p

c

PM

QC

QM

Demand

c’

PM

Inovasi Drastis: QM > QC sehingga inovator dapat menetapkan harga PM tanpa adanya hambatan

Inovasi Non Drastis: QM < QC inovator tidak dapat menetapkan harga PM karena rival dapat menurunkan harga

MR

Quantity

MR

17 of 28

Inovasi dan Struktur Pasar

  • Arrow’s (1962) menganalisis:
    • Aktivitas inovasi akan cenderung sedikit karena inovator hanya mempertimbangkan profit monopoli yang diakibatkan oleh inovasi tanpa mempertimbangkan surplus konsumen.
    • Monopoli menyediakan insentif lebih sedikit dibandingkan industri yang kompetitif karena adanya Replacement Effect.
  • Asumsikan permintaan adalah P = 120 – Q; MC= $80. Q awalnya adalah 40. Inovator menurunkan biaya menjadi $60 dan dapat menjual 40 unit pada harga $80.

$/unit

Quantity

80

60

120

B

A

40

60

Surplus awal adalah segitiga kuning--Social Gains dari inovasi adalah Areas A ($800) danB ($200)

Namun inovator hanya mempertimbangkan proft Area A ($800)

120

18 of 28

Inovasi dan Struktur Pasar (lanjutan)

  • Efisensi efek.
  • Hasil sebelumnya akan berbeda jika monopolis khawatir adanya entrant dengan membawa inovasi.
    • Asumsikan kompetisi model cournot dan entrant dapat masuk hanya jika ia memiliki biaya yang lebih rendah (dengan inovasi).
    • Jika monopolis melakukan inovasi, entrant tidak dapat masuk ke pasar dan monopolis menikmati profit $900.
    • Jika monopolis tidak melakukan inovasi, entrant dapat masuk seperti pada kasus perusahaan dengan biaya lebih rendah pada pasar duopoli.
      • Entrant menikmati profit $711.
      • Incumbent menikmati profit $44.
    • Manfaat dari inovasi tidak lagi $900 - $400=$500 tapi $900 - $44 = $856.
    • Monopolis akan mendapatkan manfaat inovasi lebih besar dibandingkan entrant – ini merupakan efek efisiensi.

19 of 28

Kompetisi dan Inovasi

  • Model incumbent/entrant yang baru didiskusikan lebih condong dekat kepada pendapat Schumpeter ketimbang Arrow’s.
  • Dasgupta dan Stiglitz (1980) juga melakukan analisis dengan memasukkan inovasi dalam model cournot.
    • Profit untuk setiap perusahaan πi = P(Q) – c(xi)qixi
    • Biaya per unit turun sebagai akibat adanya R&D.
    • Dimanakah keseimbangan?
    • Definisikan x* sebagai tingkat R&D optimal untuk setiap perusahaan.
    • Dari penjelasan sebelumnya

    • Dengan n perusahaan yang simetris si = 1/n, maka

Output Condition

20 of 28

Kompetisi dan Inovasi (lanjutan)

  • Seberapa besar seharusnya x*?
    • Menggunakan konsep biaya marjinal. Setiap peningkatan x biayanya adalah $1. Manfaat dari inovasi adalah terjadinya cost saving sehingga ∂c(x)/∂x dikalikan dengan q* untuk mendapatkan besarnya pengurangan biaya.

    • Implikasinya dari R&D condition adalah usaha R&D dari suatu perusahaan akan menjadi lebih sedikit seiring dengan bertambahnya jumlah perusahaan di pasar. Hal ini dikarenakan menurunnya jumlah output untuk setiap perusahaan.

R&D Condition

21 of 28

Kompetisi dan Inovasi (lanjutan)

  • Jika n dianggap endogen berarti mengakomodir perusahaan lain untuk masuk ke pasar sampai perusahaan tersebut tidak memiliki insentif sama sekali untuk masuk.
  • Kondisi tersebut terjadi pada saat perusahaan mendapatkan zero profit setelah mengeluarkan biaya R&D. Jika n* merupakan jumlah perusahaan pada keseimbangan, makan Output condition menjadi:

  • Substitusi kedalam persamaan R&D condition:

  • R&D akan turun jika n* meningkat – industri menjadi lebih tersebar – sangat mendukung analisis Schumpeterian.

Industry R&D as Share of Sales

22 of 28

Kompetisi dan Inovasi (lanjutan)

  • Namun pandangan Schumpeter harus diteliti dengan menggunakan bukti empirik.
    • Harus dibedakan antara science based sector (misal perusahaan kimia, obat, dan elektronik) dan non technology based sector (misal restoran, penata rambut, dsb) – R&D akan cenderung lebih banyak pada perusahaan science based sector, berapa pun ukuran perusahaanya.
    • Juga harus dibedakan antara beban R&D dan inovasi yang sebenarnya. Yang sering ditemukan adalah perusahaan mengeluarkan beban R&D yang besar namun sedikit sekali dalam menemukan inovasi riil – contoh: Apple swaktu memproduksi PC pertama.
    • Struktur pasar menjadi endogen. R&D/inovasi dapat menciptakan perusahaan raksasa baru dalam industri.

23 of 28

R&D Spillovers dan Cooperative R&D

  • Teknologi baru yang digunakan oleh suatu perusahaan dapat memberikan efek spillover kepada perusahaan lain.
    • Spillover bukan merupakan sesuatu yang mutlak, namun meningkat pada suatu kondisi tertentu.
    • Dapat dimodelkan dengan menggunakan hipotesis Dasgupta dan Stiglitz dengan menuliskan biaya perusahaan sebagai fungsi atas R&D perusahaan dan perusahaan lainnya.
      • c1 = cx1 - βx2
      • c2 = cx2 - βx1
  • Untuk mendapatkan solusi, asumsikan bahwa R&D juga mengikuti hukum diminishing return, misal biaya R&D adalah r(x) = x2/2.
  • Dalam kondisi ini, respon perusahaan 1 terhadap R&D perusahaan 2 tergantung dari efek spillover β.

24 of 28

R&D Spillovers dan Cooperative R&D (lanjutan)

    • Ketika β rendah, beban R&D memiliki efek substitusi – semakin tinggi R&D perusahaan 1, semakin rendah R&D perusahaan 2.
    • Ketika β tinggi, beban R&D memiliki efek komplemen – semakin tinggi R&D perusahaan 1, semakin tinggi pula R&D perusahaan 2.

25 of 28

R&D Spillovers dan Cooperative R&D (lanjutan)

  • Namun, penentuan R&D merupakan substitusi atau komplementer tidak cukup untuk menentukan apa yang akan terjadi ketika spillover terjadi.
    • Misalkan fungsi permintaaan adalah : P = A – BQ
    • Dan ci = cxi – βxj;
    • Setiap perusahaan memilih memproduksi qi dan intensitas riset sebesar xi
    • Untuk menyederhanakan, misalkan A = 100, B=2 dan perusahaan harus memilih apakah menetapkan x = 7.5 atau 10.
  • Jika terdapat 2 kasus:
    • Kasus pertama: Spillover rendah β = 0.25
    • Kasus kedua: spillover tinggi β = 0.75

26 of 28

R&D Spillovers dan Cooperative R&D (lanjutan)

The Pay-Off Matrix for β = 0.25

Firm 1

Firm 2

Low Research Intensity

High Research Intensity

$107.31, $107.31

Low Research Intensity

High Research Intensity

$100.54, $110.50

$110.50, $100.54

$103.13, $103.13

Nash Equilibrium is for both firms to choose the high level of research intensity (x = 10). Why? When degree of spillovers β is small, firm know that if its rival can do R&D knowing that it will get most of the benefits. Since this would advantage the rival, each firm tries to avoid being left behind by doing lots of R&D

27 of 28

R&D Spillovers dan Cooperative R&D (lanjutan)

The Pay-Off Matrix for β = 0.75

Firm 1

Firm 2

Low Research Intensity

High Research Intensity

$128.67, $128.671,

Low Research Intensity

High Research Intensity

$136.13, $125.78

$125.78, $136.13

$133.68, $133.68

Nash Equilibrium is for both firms to choose the low level of research intensity (x = 7.5). Why? When degree of spillovers β is large, firm knows that it will benefit from technical advance of its rival even if it doesn’t do any R&D itself. So, each firm tries to free-ride off its rival and each does little R&D

28 of 28

Terima Kasih