Membangun Strategi Perbaikan Kinerja Perhutani
HARIADI KARTODIHARDJO, Juli 2020
Materi Diskusi
Kajian Sistem Pengelolaan Hutan�Perum Perhutani
2014
Kedeputian Pencegahan, Komisi Pemberantasan Korupsi
2014
Temuan Pokok
�
4.1. Aspek Kebijakan dan Perencanaan
Lemahnya keberlanjutan fungsi SDH Perhutani yang diakibatkan oleh ketidak jelasan wilayah pengelolaan Perhutani, mekanisme penyelesaian hak, dan ukuran kinerja Perhutani untuk perencanaan produksi dan kelembagaannya.
Temuan Pokok
4.2. Aspek Produksi
Sistem produksi kayu jati belum mampu mempertahankan atau memulihkan kembali (replacement) tegakan melalui pengendalian kegiatan, pengelolaan sampai saat panen serta pembuatan hasil hutan secara efektif dan efisien.
Aspek Produksi
Temuan Pokok
4.3. Aspek Pemasaran
Sistem pemasaran kayu jati belum efisien, transparan, akuntabel, dan berpotensi dapat meningkatkan penghasilan.
ALOKASI BIAYA PENGELOLAAN
Alokasi Anggaran Total Perum Perhutani (s/d Juni 2016)
Tabel Struktur Biaya Pengusahaan Hutan Jati Daur 30 Tahun
2015/6
PEMASARAN KAYU JATI (1)
CUSTOMER
INDUSTRI
PERHUTANI
KPH
P
E
N
E
R
I
M
A
A
N
K
A
Y
U
TPK
Sdm &
Umum
Keuangan
Sarpra
Pengendalian TI
Data & Pelaporan
PEMILIHAN BBI
Pembuatan
Fak
Tur
/Bon Penjualan/oversicht
Perni 51
P
E
N
G
A
N
G
K
U
T
A
N
Kesisteman/PDD
P E N D U K U N G
Barcode
Pengujian
P
E
N
G
A
P
L
I
N
G
A
N
KONSUMEN
DK 304
BUCKING POLICY
P
E
N
J
U
A
L
A
N
Down grading
Penguasaan kapling oleh pedagang
Risiko kolusi internal KBM vs KPH
Diskresi pasokan BBI
KONSUMEN
GM
100-200 M3
AII,AIII, Ky bkr
MANAGER
<100 M3
AI, KBP, KAYU BAKAR
KEPALA TPK
PENGANGKUTAN
Surat Ijin Pembelian
Aloaksi kapling
FAKB
Surat Ijin Pembelian
Faktur Penjualan
Pembelian < 1000 m3 umumnya diarahkan ke pedagang
Belum tentu dilayani, karena kayu sdh dikapling2 oleh pedagang
Biaya mengurus sendiri:
Total: Rp 500.000/m3
Melalui pedagang: biaya jasa Rp 800.000 – 850.000/m3 franco pabrik; HJD tetap sesuai PHT; tidak perlu tatap muka
Masing2 TPK sudah ada “penguasanya”
Rata2 omzet pedagang: 1500 m3/tahun
Pegawai KBM “menguasai/ menyembunyikan” kapling2
Proses Bisnis & Titik Kritis Perencanaan Produksi Getah Pinus
Target RKAP > RTT :
Tipologi KPH
KP Pinus
Potensi sadap buka, sadap lanjut, dan jenuh sadap
Perhitungan potensi produksi getah pinus
Tebangan penjarangan,
kerusakan pohon o/ bencana alam
Potensi riil produksi getah pinus
RTT
RKPH
RKAP
RJP
RKTP
Dasar perhitungan target:
Proses Bisnis Produksi Getah Pinus
Sensus dan pemberian no pohon
Pembagian blok sadapan
Pembersihan lapangan sadapan
Pembersihan kulit pohon
Pembuatan mal sadap
Sadap buka
Sadap lanjut
Peludangan
Pengangkutan getah ke TPG
Penerimaan getah di TPG :
Penimbangan & pemutuan
Pengangkutan getah ke PGT
Terindikasi adanya perbedaan volume di TPG dan PGT
Tidak dilakukan lagi secara merata
Evaluasi Semester I 2015
PENILAIAN VERSI SK BUMN�No 100/MBU/2002
HASIL VS KESEHATAN SDH (EVALUASI)
Bila 6 tahun berturut-turut SEHAT, mengapa tiba-tiba collapse (2015/2016) ?
MEKANISME PENILAIAN (Hasil Simulasi)
MULAI
IDENTIFIKASI & EVALUASI KETERSEDIAAN DATA
DOK, PETA DLL
TDK SEHAT
N
Y
PENILAIAN
OPERASIONAL
STOP
TDK SEHAT
C/B
PENILAIAN ADMIN
TDK SEHAT
C/B
PENILAIAN KEUANGAN
NILAI AKHIR
2016/7
KASUS—PEMBELAJARAN—PENERAPAN DI PERHUTANI
Sumber: KPK, 2016
Tipologi KPH & Program Pangan
PRODUKSI
(3 KPH)
PRODUKSI ADAPTIF
(11 KPH)
PRODUKSI EKOLOGI
(4 KPH)
ADAPTIF
(19 KPH)
ADAPTIF EKOLOGI
(7 KPH)
EKOLOGI
(13 KPH)
CIAMIS, NGANJUK, KEBONHARJO
JATIROGO, PARENGAN, SARADAN, MADIUN, JOMBANG, PEMALANG, TELAWAH, PURWODADI, GUNDIH, SEMARANG, RANDUBLATUNG
BANYUWANGI UTARA, BANYUWANGI SELATAN, KUNINGAN, SUMEDANG
PADANGAN, BOJONEGORO, PARENGAN, TUBAN, NGAWI, MOJOKERTO, BLITAR, BALAPULANG, BANYUMAS BARAT, KENDAL, KEDU SELATAN, MANTINGAN, PATI, CEPU, BLORA, BOGOR, BANTEN, SUKABUMI, INDRAMAYU, MAJALENGKA
KEDIRI, MALANG, PROBOLINGGO, PASURUAN, PEKALONGAN BARAT, PURWAKARTA, TASIKMALAYA
LAWU DS, MADURA, JEMBER, BONDOWOSO, BANYUWANGI BARAT, PEKALONGAN TIMUR, SURAKARTA, BANYUMAS TIMUR, KEDU UTARA, CIANJUR, GARUT, BANDUNG SELATAN, BANDUNG UTARA
PEMETAAN TIPOLOGI TAPAK
RISALAH TIPOLOGI TAPAK
ANALISIS TIPOLOGI TAPAK
DIVRE JANTEN
DIVRE JATENG
DIVRE JATIM
ZONASI Berdasarkan Pemetaan Tipologi Tapak
Integrasi Program Pangan & Income Masy
Berdasarkan tema tersebut, adapun
mempertimbangkan
High Level Implementation Roadmap
Jangka Pendek (Tahun 1 – 2)
roadmap implementasi yang
Jangka Menengah (Tahun 3 – 5)
Operational Excellence dan Pendukung Pelaksanaannya
1
•9
Partnership untuk menbangun kapabilitas produksi wood pellet
Melakukan Outsource Operasi / Business As usual / Divestasi
5
24• Peningkatan peran Puslitbang
Strategy& | PwC
Confidential Property
Desember 2017
Prepared for Perhutani
30
1• Peningkatan OpEx Kayu Bulat Jati - pendekatan customer-centric
2• Peningkatan OpEx Kayu Bulat Rimba
6• Leverage skema ketahanan pangan untuk pengembangan agroforestry
1•0 Optimasi utilitas kapabilitas produksi G&T
1•2 Peningkatan produksi Minyak Kayu Putih
2 Peningkatan kapabilitas Hilirisasi
8• Peningkatan kapabilitas produksi dan pemasaran kayu gergajian & olahan
3 Leverage Capabilities
4• Leverage kapabilitas internal untuk menyediakan jasa rehabilitasi dan konservasi
1•8 Leverage kapabilitas internal untuk menyediakan jasa pelatihan kepada
internal dan masyarakat
1•3 Peningkatan kapabilitas Minyak Kayu Putih dengan melakukan hilirisasi
4
Akuisisi Partnership
3• Partnership untuk penjualan dan pemasaran getah damar & getah karet
•5 Partnership untuk investasi dan pengelolaan wisata dan ekoturisme
1•1 Optimasi pengembangan derivat G&T melalui partner
1•9 Partnership untuk pengembangan proyek clean energy
1•4 BAU untuk seedlak dengan potensi untuk divestasi (apabila menurun)
1•7 Optimasi aset secara oportunistik
7• Melakukan divestasi Pabrik Sagu Papua
1•5 Outsourcing operasi AMDK & Clean Energy
1•6 Outsourcing operasi Madu dengan menggunakan brand Perhutani
6
7 Memperkuat Enablers
20 21 22 25 26 27 • Peningkatan struktur org, kapabilitas, SDM, proses, budaya, dll
• Peningkatan sistem - hilirasasi pelaporan, monitoring lahan,
pemasaran
23• Sinergi Induk dan Anak Perusahaan
Versus KAI
Penggunaan asset untuk pribadi, manipulasi penda-patan, mark up pengadaan barang, konflik kepentingan, dll.
Reorganisasi
Teknologi informasi
Efisiensi
Pengembangan Usaha
Pambagyo, 2017
2017/8
BTP Teams
BTP Teams
BTP Teams
BTP Teams
BTP Teams
BTP Teams
BTP Teams
BTP Teams
Struktur akuntabilitas dan kepemimpinan yang konsisten
merupakan
elemen
penting untuk transformasi
Kerangka Akuntabilitas Organisasi PMO
Perhutani
Legend:
Inisiatif Strategis Jangka Pendek (Tahun 1-2)
Inisiatif Strategis Jangka Menengath (Tahun 3-5)
A
D
E
F
G
Inisiatif
Pendukung –
Bisnis Turunan
Agroforestri
Sumber: Analisis PwC Strategy&
Strategy& | PwC
Confidential Property
Desember 2017
Prepared for Perhutani
31
Tim
Tim
Tim
Tim
Tim
Tim
Tim
Tim
Ketua
Inisiatif Strategis Bisnis Utama
„Akuntabilitas + Forum Pengambilan Keputusan‟
• Pencapaian saat ini vs. milestones
• Kesenjangan + tindakan perbaikan
• Keputusan yang diperlukan hari ini
• Langkah selanjutnya + milestones
Inisiatif Strategis Bisnis Penunjang
PMO
Inisiatif Strategis Bisnis Lainnya
Inisiatif Strategis Enabler
• Komunikasi
• Analisis/ QA
• Koordinasi/ Penjadwalan
Strategis – Bisnis Utama – Kayu dan Kehutanan
B Inisiatif
Strategis –
Bisnis Utama
Wisata &
Ekoturisme
–
C
Inisiatif
Strategis –
Bisnis Utama –
Inisiatif
Strategis –
Bisnis Turuna
Inisiatif Strategis – Bisnis Lainnya
Inisiatif Pendukung – Struktur Org. & SDM
Inisiatif Pendukung– Budaya
H
Inisiatif
Proses, Sistem
& Teknologi
1 8
2 3
5
6 7
15
10 12
9 11
27 22
25
24 23
21
25 22
26
4 18
14 17
13 16
19
Komite Transformasi
Revised
Versus KAI
Gabungan dalam dan luar: KPK, Kejaksaan, Brimob, Expert.
Hasil efisiensi untuk kesejahteraan seluruh karyawan.
Standard kerja menggunakan GCG.
Pambagyo, 2017
Temuan KPK, 2020
Keberhasilan pencapaian renaksinya tergantung isi renaksi dan strategi pengorganisasian pelaksanaannya dengan penerapan standar GCG ~ SPAK
2020
“Ada soal, loyal kepada teman lebih dihargai drpd loyal kepada Organisasi”
Sujanarko, KPK
Model Transformasi (GCG) KAI patut menjadi rujukan
(Team Internal & Eksternal)
TRANSFORMASI ORGANISASI �AKIBAT DOMINASI PENDEKATAN ADMINISTRASI
dapat
mencapai
output sbg KPI
oleh masing-
masing Unit
Kerja
akurasi
fakta
tidak
diperlukan
Problem:
Efisiensi me-
nguragi
Income pegawai
a
b
c
d
e
outcome
a
b
c
d
e
timbul
Kebutuhan
bersama
untuk
menghasikan
outcome
dari tupoksi
masing2
akurasi fakta
sangat penting
Syarat:
KPI, Single salary
Multiyears budget
CARA KERJA
SAAT INI
INOVASI
INSTITUTIONAL
Masing-masing
unit Kerja
diukur Kinerja-
nya Sendiri-
sendiri
administrasi
Masing-masing
unit kerja
kontribusi
untuk mencapai
outcome
Inovasi Teknologi Informasi Untuk Akuntabilitas Guna Membangun Integritas Organisasi
(Sebagai CONTOH)
“Niat harus kuat, tidak ada yang sekali jadi...”
Walikota Surabaya
TIGA KEKUATAN PERUBAHAN
GLOBALISASI YANG MASIF DAN MENYELURUH
(Global Governance)
PENCIPTAAN PENGETAHUAN
(Knowledge based Governance)
PERKEMBANGAN ICT DAN DISRUPSI
(Digital Governance)
Sumber: Prasojo, 2020
Terimakasih