MERDEKA BELAJAR DALAM AL-QUR’AN
素材风暴:http://www.sucaifengbao.com/
PPT模板:http://ppt.sucaifengbao.com/
AE视频:http://ae.sucaifengbao.com/
PSD素材:http://www.sucaifengbao.com/html/psd/
矢量素材:http://www.sucaifengbao.com/html/vector/
Flash素材:http://www.sucaifengbao.com/html/flash/
图片素材:http://www.sucaifengbao.com/html/photo/
PS插件:http://www.sucaifengbao.com/html/pschajian/
Training Guru Nasional
Isi Kandungan Q.S : Al-’Alaq : 1-5
ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ
خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ
ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ
ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ
عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Isi Kandungan Q.S : Al-’Alaq : 1-5
Allah
Meminta umat Nabi Muhammad untuk belajar /menuntut ilmu.
Membaca dan menjalankan kegiatan belajar mengajar.
Melepaskan diri dari buta aksara
Menjadi orang-orang berilmu
Memiliki bekal ilmu dan iman dalam menjaga alam dan kehidupan.
Mewujudkan Islam yang rahmatan lil’alamin.
Menjadi hamba Allah SWT dan membuktikan diri sebagai umat terbaik sesuai firman Allah dalam QS. Ali Imron: 110
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ
Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.
Hakikat Belajar
Hakikat Belajar
Belajar yang dibangun untuk meraih qimah /nilai ruhiyah
Belajar yang lahir dari kesadaran manusia akan hubungannnya dengan al Khaliq
Tholabul ilmi/belajar adalah perintah Allah SWT.
Belajar mengharapkan ridha dan pahala dari Allah SWT
Belajar sepanjang hayat
long life educatioan bisa terwujud
Belajar yang Barokah
Belajar menjadikan bertambahnya kebaikan pada diri penuntutnya. dalam urusan agamanya maupun dunianya.
Adapun ketika belajar karena untuk meraih pekerjaan dan ekonomi semata maka nilai yang diraih manusia hanyalah qimah madiyah –nilai materi- semata. Jauh dari keberkahan. Jauh dari bertambahnya kebaikan. Semakin banyak ilmu yang diperoleh, semakin banyak gelar yang diraih, pekerjaan mapan diberikan pula oleh Allah SWT, namun menjauhkan manusia itu dari ketaatan kepada Allah SWT
Bahkan bermaksiat kepada Allah SWT semisal dengan menyalahgunakan jabatan, korupsi dan jauh dari penerapan hukum-hukum Allah SWT.
Merdeka dilihat dari makna bahasa, sebagaimana diterangkan dalam KBBI berarti bebas dari penghambaan, penjajahan dan sebagainya. Jadi, merdeka belajar bukan bermakna manusia terbebas dari kewajiban untuk belajar. Akan tetapi terbebas dari tekanan atau intervensi pihak luar dalam belajar
Bebas dari penjajahan sifat malas belajar. Terhindar dari perasaan puas dengan ilmu yang dimiliki. Jadi, kemerdekaaan dalam belajar tatkala tidak ada lagi intervensi eksternal yang menjadikan siswa terpaksa belajar. Faktor ekternal tersebut bisa berupa tes/ujian/ataupun ancaman orang tua dan lainnya.
Proses Nabi Ibrahim dalam Mencari Tuhan terdapat dalam ayat suci Al-Quran dalam Surat Al-An’am.
Allah SWT berfirman:
فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ ٱلَّيْلُ رَءَا كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَآ أُحِبُّ ٱلْءَافِلِينَ
Artinya:
“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”
Q.S: (Al-An’am 6:76)
Allah SWT berfirman:
فَلَمَّا رَءَا ٱلْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَٰذَا رَبِّى ۖ فَلَمَّآ أَفَلَ قَالَ لَئِن لَّمْ يَهْدِنِى رَبِّى لَأَكُونَنَّ مِنَ ٱلْقَوْمِ ٱلضَّآلِّينَ
Artinya:
Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.”
(Al-An’am 6:77)
Allah SWT berfirman:
فَلَمَّا رَءَا ٱلشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَٰذَا رَبِّى هَٰذَآ أَكْبَرُ ۖ فَلَمَّآ أَفَلَتْ قَالَ يَٰقَوْمِ إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ
Artinya:
Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia
berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”
(Al-An’am 6:78)
Setelah itu Nabi, Ibrahim tersadar akan benda-benda berhala bukan Tuhannya sama sekali. Kemudian Allah SWT membisikan sebuah perintah kepada Nabi Ibrahim untuk mengajak orang menyembah pada Allah SWT, bukan berhala kembali. Seluruh isi jagat raya serta hukum yang berlaku didalamnya, kuat agar bukti keesaan Allah dan kebatilan perbuatan orang-orang musyrikin. Maka Nabi Ibrahim AS menyakini bahwa Tuhan hanyalah Allah SWT.
Ayat ini juga mengkabarkan kepada kita sebagaimana perkataan al-Tabari,
وهذا خبر من الله تعالى ذكره عن خليله إبراهيم
عليه السلام، أنه لما تبين له الحقّ وعرفه، شهد شهادة الحقّ، وأظهر خلاف قومه أهل الباطل وأهل الشرك بالله، ولم يأخذه في الله لومة لائم، ولم يستوحش من قيل الحقّ والثبات عليه، مع خلاف جميع قومه لقوله وإنكارهم إياه عليه
“Dan ini merupakan khabar dari Allah swt atas kisah pencarian kekasih-Nya, Nabi Ibrahim a.s. Bahwa tatkala telah tampak kebenaran baginya, dia telah menyaksikan dengan kesaksian yang haq, dan menampakkkan perselisihan, kebatilan dan kesyirikan umatnya. Dan dia tidak mempersalahkan orang yang mencela di hadapan Allah, ia tidak takut kepada celaan. Dia juga tidak merasa kesepian dari orang yang diberitahu kebenaran, ia merasa tabah atas-Nya sekalipun diterjang perbedaan dan pengingkaran dari umatnya”.
Sedangkan al-Raz dalam Mafatih al-Ghaib menafsirkan ayat di atas bahwa sebenarnya Nabi Ibrahim telah mengantongi keyakinan yang mantap akan Allah swt sebagai Tuhan. Hal ini teruntai dalam argumentasi alRazi,
الحجة الثانية: أن إبراهيم عليه السلام كان قد عرف ربه قبل هذه الواقعة بالدليل. والدليل على صحة ما ذكرناه أنه تعالى أخبر عنه أنه قال قبل هذه الواقعة لأبيه آزر:{ أَتَتَّخِذُ أَصْنَاماً ءالِهَةً إِنّى أراك وقومك في ظلال مبين } [الأنعام: 74]
“Argumen kedua: bahwa Ibrahim as, telah mengenal Tuhannya sebelum kejadian ini dengan mengantongi bukti empirik. Adapun bukti yang sahih sebagaimana disebutkan dalam ayat sebelumnya, “Pantaskah engkau (ayah Nabi Ibrahim) menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya aku telah melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata (Q.S. al-An’am [6]: 74)”
Lebih jauh, al-Razi menafsirkan proses pencarian jati diri Nabi Ibrahim ini bahwa Nabi Ibrahim mencari “agama” dan kebenaran atas dirinya dan keberadaan Tuhannya (kana yathlubu ad-din wal ma’rifati li nafsihi)