1 of 42

MATERI PELATIHAN PR

DAN MEDIA HANDLING [Hari I]

Start Slide

Siko Dian Sigit Wiyanto, M.Si., CPR

2 of 42

Profil Trainer

Siko Dian Sigit Wiyanto, M.Si., CPR

Profesional Komunikasi – Spesialis Strakom, Manajemen Isu & Krisis Badan Publik

Pengalaman Kerja:

    • Memimpin tim analisis pemberitaan & rekomendasi strategi komunikasi di pemerintahan
    • Koordinator penyusunan pedoman manajemen isu skala nasional di pemerintahan
    • Penanggung jawab isu sensitif & krisis komunikasi di pemerintahan
    • Narasumber ahli di Komdigi, Kemen PU, Badan Supervisi LPS, dan Pemprov DKI.
    • Mengelola PPID dan Contact Center
    • Mengelola Hubungan Media di IKANAS STAN
    • Wakil Ketua I Ikatan Pranata Humas Indonesia

Prestasi:

    • IPRA Golden World Awards 2024 – Crisis Management (Leader)
    • Gold Winner GPR Awards 2023
    • Anugerah Media Humas-Program Komunikasi Terbaik 2022
    • Pranata Humas Terbaik 2022 (berbagai ajang nasional)

Pengalaman Mengajar:

    • Universitas Indonesia (2025): Dosen Tamu – Manajemen Komunikasi Krisis
    • Universitas Andalas (2024–2025): Program Praktisi Mengajar – Komunikasi Publik & Manajemen Isu
    • PKN STAN (2017, 2018, 2024): Mata Kuliah Komunikasi Publik (DIII Alih Program Perpajakan)
    • BPPK Kemenkeu (2021–sekarang): Diklat Kehumasan – Strategi Komunikasi, Pengelolaan PPID, dan Media Handling

Pendidikan & Sertifikasi

    • Magister Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia
    • CPR, Certified Strategic Communication, Media Relations & Event Management
    • PKN STAN (D4 Akuntansi & D3 Kebendaharaan)

3 of 42

Definisi dan fungsi PR

    • Public relations adalah praktik manajemen pengambilan keputusan yang bertugas membangun hubungan dan kepentingan antara organisasi dan publiknya berdasarkan penyampaian informasi melalui metode komunikasi yang tepercaya dan etis.
    • Manajemen: PR bukan sekadar pelaksana, tapi bagian dari pengambilan keputusan strategis.
    • Hubungan: Fokus pada membangun relasi (bukan sekadar promosi).
    • Etika & Kepercayaan: Menekankan pentingnya kebenaran informasi (anti-hoaks/misinformasi).

4 of 42

Strategi Komunikasi Korporasi

    • Strategi komunikasi adalah perencanaan dan manajemen komunikasi untuk mencapai tujuan tertentu melalui pemilihan pesan, media, dan teknik penyampaian yang sesuai dengan karakteristik audiens (Effendy, 2003)
    • Strategi komunikasi adalah seperangkat perencanaan yang disusun untuk mencapai tujuan komunikasi tertentu.
    • Melalui strategi ini, organisasi dapat memastikan bahwa pesan yang disampaikan benar-benar tepat sasaran—baik dari sisi isi pesan, audiens, saluran yang digunakan, maupun waktu penyampaiannya.
    • Strategi komunikasi merupakan perencanaan terpadu untuk menyampaikan pesan kepada audiens sasaran secara efektif melalui media atau saluran yang paling sesuai.

5 of 42

Elemen Strategi Komunikasi

Program ini dilakukan dalam tiga tahapan yang bersifat siklus, yaitu planning (perencanaan), implementasi, serta monitoring dan evaluasi. Tahapan tersebut berlangsung selama satu proses. Hasil evaluasi dari program ini akan menjadi dasar bagi planning program komunikasi berikutnya.

Tujuan

(WHY)

Strategi Media

(HOW)

Target Audience�(WHOM)

Matriks�Kegiatan Komunikasi (TACTIC)

Strategi Figur

(WHO)

Strategi Waktu

(WHEN)

3. Monitoring dan Evaluasi

2.Implementasi

1. Planning (Perencanaan)

ISU STRATEGIS

Strategi Pesan

(WHAT)

TERJAGANYA CITRA DAN REPUTASI

6 of 42

Elemen Strategi Komunikasi

1. Penetapan Tujuan (SMART)

Tujuan harus spesifik, terukur, realistis, relevan, dan berbatas waktu.

→ Contoh: Brand awareness naik 20% dalam 6 bulan.

Model AICDA:

Attention (tarik perhatian)

Interest (bangun minat)

Conviction (meyakinkan)

Desire (membangkitkan minat)

Action (mendorong tindakan)

7 of 42

Elemen Strategi Komunikasi

2. Identifikasi Audiens

Menetapkan tujuan → menganalisis isu → segmentasi → mengumpulkan data → memetakan prioritas.

Peta Stakeholder:

    • Manage Closely: Pemegang saham, direksi, regulator, pelanggan besar
    • Keep Satisfied: Kemenkeu, Pemda, asosiasi industri
    • Keep Informed: Karyawan, UMKM, vendor, media bisnis
    • Monitor: Publik umum, media non-bisnis

8 of 42

Elemen Strategi Komunikasi

3. Penyusunan Pesan Utama (Key Messages)

Pesan harus singkat, konsisten, relevan, dan mudah diingat.

Struktur Umbrella Message:

Pesan Utama: Inti besar yang menaungi semua pesan

Sub-Pesan: Penjelasan 2–4 poin yang memperkuat inti pesan

Fakta Pendukung: Data, angka, bukti nyata

Contoh Umbrella Message:

“Sucofindo adalah mitra terpercaya dalam layanan TIC yang mendukung daya saing industri dan keberlanjutan nasional.”

Contoh Proof Points

    • 65+ lab terakreditasi • 60 tahun pengalaman
    • 20.000+ pelanggan lintas sektor
    • Jaringan 70+ kantor
    • Transformasi digital: IoT, smart inspection
    • Komitmen ESG, efisiensi energi, dan program CSR

9 of 42

Elemen Strategi Komunikasi

4.Pemilihan Saluran Komunikasi yang Tepat

Sesuaikan dengan Tujuan Komunikasi

    • Informasi cepat: Website, media sosial, press release, email blast
    • Edukasi: Webinar, video, infografis
    • Persuasi/perubahan perilaku: Media sosial, WhatsApp blast, kampanye multi-channel
    • Membangun kepercayaan: Tatap muka, juru bicara, stakeholder meeting
    • Mitigasi isu/krisis: Press release, media briefing, X/Twitter, website resmi

    • Pemetaan Sumber Daya dan Anggaran (Resources & Budget)
    • Identifikasi kebutuhan pelaksanaan, termasuk tenaga kerja, biaya, teknologi, serta dukungan operasional lainnya. Pertimbangan pemilihan media berdasarkan sumber daya yang dibutuhkan.

10 of 42

Elemen Strategi Komunikasi

4.Pemilihan Spokesperson

    • Sesuai tujuan komunikasi — figur yang tepat untuk informatif, edukatif, atau krisis.
    • Bahasa cocok dengan audiens — mampu menyesuaikan gaya bicara dengan target.
    • Kuat pada pesan utama — konsisten, tidak keluar dari key messages.
    • Kredibel untuk audiens yang dituju — dipercaya media, publik, atau stakeholder teknis.
    • Mampu menangani isu sensitif — tenang, responsif, dan siap menjawab pertanyaan sulit.

11 of 42

Elemen Strategi Komunikasi

4.Rencana Aksi

    • Sesuai tujuan komunikasi — figur yang tepat untuk informatif, edukatif, atau krisis.
    • Bahasa cocok dengan audiens — mampu menyesuaikan gaya bicara dengan target.
    • Kuat pada pesan utama — konsisten, tidak keluar dari key messages.
    • Kredibel untuk audiens yang dituju — dipercaya media, publik, atau stakeholder teknis.
    • Mampu menangani isu sensitif — tenang, responsif, dan siap menjawab pertanyaan sulit.
    • Sesuaikan dengan momentum jika ada.

12 of 42

Elemen Strategi Komunikasi

Program Komunikasi

[Nama Program Komunikasi]

Taktik Utama:

TUJUAN KOMUNIKASI:

TARGET AUDIENS:

SPOKESPERSON:

PESAN KUNCI UTAMA:

Sub Pesan Kunci:

Fakta Pendukung:

13 of 42

Elemen Strategi Komunikasi

Program Komunikasi

Sertifikasi SNI untuk UMKM Naik Kelas

Taktik Utama:

  • Edukasi UMKM melalui tatap muka [Minggu Pertama bulan Januari]
  • Media Briefing [Minggu keempat Desember]
  • Kolaborasi pemerintah daerah. [Minggu ketiga Januari]

TUJUAN KOMUNIKASI:

TARGET AUDIENS:

SPOKESPERSON:

Meningkatkan awareness dan pemahaman UMKM tentang manfaat sertifikasi SNI dan layanan Sucofindo.

UMKM makanan-minuman, kerajinan, kosmetik, dan industri rumah tangga.

Kepala Divisi Sertifikasi Produk Sucofindo.

PESAN KUNCI UTAMA: Sertifikasi SNI melalui Sucofindo membantu UMKM meningkatkan kualitas produk dan daya saing.

Sub Pesan Kunci:

  • Sertifikasi SNI membuka peluang masuk retail modern dan ekspor.
  • Proses sertifikasi Sucofindo mudah, transparan, dan didukung fasilitas laboratorium lengkap.

Fakta Pendukung:

Sucofindo adalah LSPro terakreditasi KAN

Telah membantu lebih dari 2.000 UMKM mendapatkan sertifikasi.

14 of 42

ROSTIR Planning Model

Research

R

Objective

O

Strategy

S

Communication Program and Messaging

Tactic

T

PESO Model

  • Paid
  • Earned
  • Shared
  • Owned

Implementation

I

  • Leadership
  • Timeline
  • Budget
  • Resources Mobilization

Reporting and Evaluation

R

AMEC

Standard:

  • Output
  • Out-take
  • Outcome
  • Impact
  • Qualitative

and

Quantitave

  • Stakeholder

Mapping

and Analysis

  • Target

Audience

SMART (ER)

Objective

Reference: Regina Luttrell & Luke Capizzo

Summarized and Mapped by Fardila Astari - Reputasia

15 of 42

Tahap Riset

16 of 42

Tahap Riset

1. Analisis Situasi (PESTLE)

Analisis untuk memahami kondisi eksternal yang memengaruhi organisasi, mencakup faktor politik, ekonomi, sosial, teknologi, lingkungan, dan hukum. Tujuannya melihat peluang dan ancaman dari luar.

2. Analisis Organisasi (SWOT)

Analisis untuk menilai kondisi internal organisasi melalui identifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Tujuannya memahami kapasitas organisasi dalam mencapai tujuan komunikasi.

3. Analisis Publik/Stakeholder (Mendelow)

Analisis untuk memetakan publik atau pemangku kepentingan berdasarkan tingkat kekuasaan (power) dan kepentingan (interest), guna menentukan prioritas strategi komunikasi bagi masing-masing kelompok.

  1. Analisis Media Massa
  2. Analisis Media Sosial
  3. Analisis sumber informasi lainnya (Human Intelijen dsb)

17 of 42

Analisis PESTLE

Analisis Situasi (Faktor Eksternal) Menggunakan metode PESTLE untuk memetakan peluang atau hambatan dari luar organisasi:

          • Political (Kebijakan pemerintah/politik).
          • Economic (Kondisi ekonomi makro).
          • Social (Demografi, budaya, norma sosial).
          • Technological (Literasi digital, teknologi baru).
          • Environmental (Isu lingkungan).
          • Legal (Hukum dan regulasi).

18 of 42

Analisis Organisasi

    • Analisis Organisasi (Faktor Internal) Menggunakan matriks SWOT untuk memetakan kekuatan dan kelemahan internal:
    • Strengths (Kekuatan): Aset internal yang mendukung tujuan.
    • Weaknesses (Kelemahan): Kekurangan internal yang menghambat.
    • Opportunities (Peluang): Faktor eksternal yang menguntungkan.
    • Threats (Ancaman): Faktor eksternal yang merugikan

19 of 42

Analisis Stakeholders

    • Analisis Publik/Stakeholder Menggunakan Mendelow’s Matrix untuk memetakan audiens berdasarkan Power (Kekuasaan) dan Interest (Kepentingan):
    • High Power, High Interest: Manage Closely (Kelola secara intensif).
    • High Power, Low Interest: Keep Satisfied (Jaga agar tetap puas).
    • Low Power, High Interest: Keep Informed (Terus beri informasi).
    • Low Power, Low Interest: Monitor (Pantau sekadarnya).

Kuadran

Stakeholder Kunci

Manage Closely

Pemegang saham, Direksi/Komisaris, regulator teknis, pelanggan besar

Keep Satisfied

Kemenkeu, Pemda, asosiasi industri besar

Keep Informed

Karyawan, UMKM/korp menengah, vendor, asosiasi profesi, media bisnis

Monitor

Publik umum, media non-bisnis, kompetitor kecil

20 of 42

Tujuan Komunikasi

    • Strategi & Pesan Kunci (Strategy & Key Message)
    • Definisi Strategi vs Taktik:
    • Strategi: Menjawab WHAT (Apa) dan WHY (Mengapa). Ini adalah keputusan besar tentang tujuan yang akan dicapai.
    • Taktik: Menjawab HOW (Bagaimana). Ini adalah langkah konkret/aksi nyata.

Tahap AICDA

Tujuan Komunikasi untuk PT Sucofindo

Contoh Program Singkat

Attention

Menarik perhatian industri terhadap layanan Sucofindo (testing, inspection, certification).

Kampanye awareness, media coverage, digital ads.

Interest

Membangun minat pada manfaat layanan pengujian, inspeksi, sertifikasi, dan ESG.

Webinar, artikel edukatif, konten sektor industri.

Conviction

Membangun keyakinan bahwa Sucofindo adalah lembaga TIC yang kredibel, terakreditasi, dan independen.

Testimoni klien, sertifikat akreditasi, studi kasus, media briefing teknis.

Desire

Memunculkan keinginan menggunakan layanan Sucofindo karena keunggulan kompetitifnya.

Highlight keunggulan layanan, success story UMKM/korporasi.

Action

Mendorong audiens melakukan permintaan layanan, konsultasi, atau pendaftaran sertifikasi/pengujian.

Landing page pendaftaran, formulir online, kontak sales.

21 of 42

Evaluasi Program Komunikasi

Tahap

Definisi Singkat

Output (aktivitas)

Outtake (respon audiens)

Outcome (perilaku)

Impact (dampak besar)

Alat Ukur (KPI kuantitatif)

A – Awareness

Membangun kesadaran

Press release, liputan media, iklan digital, konten edukasi

Audiens mengetahui Sucofindo & layanannya

Audiens mulai mengunjungi website/media sosial

Brand semakin dikenal

• Impression 50k–1M • Reach 20k–500k • Media pickup ≥10 berita/bulan

I – Interest

Membuat audiens tertarik

Webinar, artikel industri, email newsletter

Audiens merasa layanan relevan dengan kebutuhannya

Audiens mulai follow, subscribe, download materi

Meningkatnya engagement awal

• CTR konten ≥2–5% • Engagement rate ≥3–10% • Pendaftaran webinar ≥100–300 pax

C – Conviction

Membangun keyakinan

Studi kasus, testimoni, data kualitas, proposal terstruktur

Audiens percaya bahwa Sucofindo kompeten & terpercaya

Audiens meminta penawaran / meeting

Munculnya peluang bisnis

• Jumlah leads/permintaan informasi: 20–50/bulan • Proposal requested: peningkatan 10–15%

D – Desire

Membangun keinginan

Konsultasi teknis, demo layanan, simulasi biaya

Audiens ingin menggunakan layanan Sucofindo

Audiens mengajukan negosiasi

Konversi menuju kontrak

• Lead-to-prospect conversion 15–30% • Jumlah meeting teknis 10–30/bulan

A – Action

Mendorong tindakan nyata

Finalisasi kontrak, onboarding, layanan mulai berjalan

Audiens membeli/menggunakan layanan

Repeat order, upselling, kontrak berulang

Pertumbuhan pendapatan & posisi pasar

• Deal conversion rate 10–20% • Revenue per klient • Repeat business rate 40–60%

22 of 42

Strategi Komunikasi Internal dan Eksternal

23 of 42

Pentingnya Strategi Komunikasi Internal

Membangun Budaya Integritas & Engagement

Karyawan tersebar di lapangan → komunikasi harus memperkuat nilai integritas dan rasa memiliki.

Internalisasi Nilai “Why”

Pesan utama menekankan dampak pekerjaan: “Tanda tangan Anda menyangkut keselamatan ribuan orang.” Membangun kebanggaan.

Connecting the Disconnected

Surveyor di lokasi terpencil harus tetap merasa terhubung; hindari kesan dianaktirikan dibanding karyawan kantor pusat.

Pemilihan Kanal Digital yang Mobile-Friendly

Gunakan aplikasi internal, grup WhatsApp resmi, dan kanal yang mudah diakses pekerja lapangan (bukan hanya email).

Knowledge Sharing & Whistleblowing Aman

Bangun budaya belajar lewat forum berbagi studi kasus, dan sediakan kanal whistleblowing yang aman untuk menjaga integritas dan reputasi perusahaan.

24 of 42

Pentingnya Strategi Komunikasi Eksternal

Mengubah Persepsi Layanan TIC

Transformasi citra dari “beban kepatuhan” menjadi mitra strategis yang memberi nilai tambah bagi bisnis klien.

Edukasi Pasar melalui Bahasa Manfaat

Mengemas layanan teknis menjadi bahasa bisnis: bukan “sertifikasi ISO”, tetapi “cara produk Anda menembus pasar ekspor melalui sertifikasi”.

Membangun Thought Leadership

Menempatkan perusahaan sebagai otoritas utama melalui artikel opini, white paper, dan insight regulasi oleh para ahli.

Penguatan Stakeholder & Government Relations

Komunikasi berkala dengan regulator untuk memberi masukan berbasis data lapangan—memposisikan perusahaan sebagai “mata dan telinga pemerintah”.

Defensive Communication & Kesiapan Krisis

Menyiapkan holding statement dan protokol komunikasi untuk menghadapi insiden pada klien tersertifikasi, serta menegaskan batasan tanggung jawab perusahaan.

25 of 42

Penyelarasan Pesan dengan Visi & Misi Perusahaan

Komunikasi Harus Mencerminkan Arah Besar Perusahaan

Penyelarasan bukan sekadar mencantumkan slogan, tetapi memastikan setiap pesan membawa roh visi dan misi.

Mulai dari Objective & Strategy (WHAT & WHY)

Perencanaan komunikasi harus dimulai dari tujuan dan alasan strategis; taktik tidak boleh bertentangan dengan visi–misi.

Membangun Citra yang Kredibel & Kelas Dunia

Visi Sucofindo mengharuskan seluruh pesan memperkuat citra sebagai lembaga penjamin yang dapat dipercaya, modern, dan terintegrasi.

Menonjolkan Kompetensi SDM, Teknologi, dan Inovasi

Misi menuntut narasi komunikasi yang menekankan keahlian auditor, penggunaan teknologi canggih, serta standar keselamatan dan kualitas.

Hindari Komunikasi yang Menurunkan Reputasi

Tidak boleh ada pesan yang membuat Sucofindo terlihat sekadar “tukang stempel”, birokratis, atau tidak profesional; semua konten harus menjaga martabat perusahaan sebagai lembaga terpercaya.

26 of 42

Penyelarasan Pesan dengan Visi & Misi Perusahaan

Aspek

Program BENAR (Selaras)

Program SALAH (Tidak Selaras)

Judul Kampanye

“Assurance 4.0: Presisi Inspeksi dalam Genggaman Teknologi”

“Inspeksi Kilat, Harga Termurah di Pasaran!”

Fokus Pesan

Teknologi drone, AI, presisi data, efisiensi, keselamatan

Kecepatan & harga murah sebagai nilai utama

Keselarasan dengan Visi–Misi

Mendukung visi kelas dunia dan misi teknologi & inovasi

Bertentangan dengan visi peningkatan kepercayaan dan misi standar mutu

Dampak Persepsi

Meningkatkan citra profesional, modern, kredibel

Menurunkan citra menjadi penyedia jasa murah, rawan dipersepsikan “asal jadi”

Analisis

Menunjukkan Sucofindo adaptif terhadap era digital dan menjaga kualitas layanan

Mengubah posisi Sucofindo menjadi “pemain komoditas”, bukan lembaga penjamin kelas dunia

27 of 42

Penyelarasan Pesan dengan Visi & Misi Perusahaan

Aspek

Program BENAR (Selaras)

Program SALAH (Tidak Selaras)

Jenis Konten

Video Reels/TikTok auditor di lapangan memakai APD lengkap, menggunakan tablet/digital tools, dengan narasi menjaga keamanan produk bangsa

Video parodi/joget viral di laboratorium tanpa jas lab atau mengabaikan SOP demi konten lucu

Fokus Pesan

Profesionalisme, teknologi, keselamatan, kontribusi terhadap keamanan nasional

Hiburan (FYP), kelucuan, mengabaikan prosedur keselamatan

Keselarasan dengan Visi–Misi

Selaras dengan Misi: Keselamatan, Keamanan, SDM serta Visi: Kepercayaan & kelas dunia

Bertentangan dengan Misi: Keselamatan & Keamanan dan melemahkan Visi: Kepercayaan

Dampak Persepsi

Meningkatkan citra profesional, modern, dan kredibel; menarik talenta berkualitas

Menurunkan kepercayaan; menunjukkan ketidakseriusan dan ketidakpatuhan terhadap SOP

Analisis

Menegaskan peran auditor sebagai penjaga standar dan wibawa perusahaan

Menghasilkan persepsi bahwa Sucofindo tidak disiplin dan tidak aman, merusak reputasi hasil lab

28 of 42

Penyelarasan Pesan dengan Visi & Misi Perusahaan

    • PR harus memfasilitasi dialog antara Divisi Bisnis dan Divisi Teknis sebelum merilis kampanye keluar.
    • Pesan keluar harus "Realistic yet Promising". Jangan over-promise yang bisa memicu komplain klien dan merusak reputasi.
    • Dibutuhkan harmonisasi pesan dan informasi sebelum dipublikasikan ke khalayak. Perlu adanya proses kooridnasi baik formal dan informasi antara unit humas perusahaan dengan unit teknis

29 of 42

Citra Vs Reputasi

Dimensi

Citra (Image)

Reputasi (Reputation)

Sifat

Persepsi Sesaat (Jangka Pendek)

Rekam Jejak (Jangka Panjang)

Fokus

"Apa yang kita tampilkan ke luar"

"Apa yang orang yakini tentang kita"

Pembentukan

Bisa dibentuk cepat (lewat iklan/logo)

Butuh waktu lama (lewat konsistensi perilaku)

Daya Tahan

Rapuh (mudah berubah jika ada isu)

Kuat (tahan banting jika ada krisis kecil)

Analogi

Sampul Buku (Menarik/Tidak)

Isi Cerita (Bagus/Tidak setelah dibaca)

30 of 42

Media Relations

31 of 42

Media Handling

    • Media handling adalah proses pengelolaan hubungan dengan media massa yang mencakup perencanaan, koordinasi, dan penyampaian informasi secara terukur melalui juru bicara resmi, sehingga pesan organisasi dapat diterima publik secara akurat, konsisten, dan sesuai strategi komunikasi.

    • Dalam industri yang berbasis kepercayaan (Trust) seperti TIC, Juru Bicara bukan hanya "penyambung lidah", melainkan wajah dari Integritas dan Kompetensi perusahaan. Siapa yang Layak Menjadi Juru Bicara? Di BUMN TIC, tidak semua hal harus dijawab oleh PR/Humas. Sistem tiering (jenjang) jubir diperlukan:

32 of 42

Membangun Jejaring dengan Media

Kategori

Aktivitas

Tujuan Utama

Keterangan / Manfaat

Jejaring Formal (Earned Media – Model PESO)

Media Visit

Membuka jalur komunikasi resmi dengan redaksi

Perkenalan institusi, membangun akses klarifikasi tingkat tinggi

Media Briefing / Media Discussion

Membangun posisi sebagai expert source

Penjelasan data, regulasi, isu teknis kepada jurnalis desk spesifik

Press Tour / Site Visit

Memperkuat kredibilitas teknis melalui kunjungan lapangan

Media melihat langsung operasi, fasilitas, proses kerja

Media Gathering (Formal–Santai)

Membangun hubungan jangka panjang

Menggeser hubungan dari transaksional ke relasional

Pelayanan PR Profesional

Standarisasi kualitas hubungan dan informasi

Rilis bernilai berita, respon cepat, presisi, konferensi pers rapi

Jejaring Informal

Coffee Morning / Kopi Darat dengan Editor & Jurnalis Kunci

Kedekatan emosional dan intelektual

Berbagi insight industri, membangun kepercayaan dua arah

33 of 42

Strategi Media Relations Sektor TIC

Strategi

Fokus / Penjelasan

Output / Manfaat

Fokus Target Media yang Relevan

Prioritaskan desk Ekonomi, Industri, ESDM, Infrastruktur, dan BUMN. Gunakan media tier-1 serta media industri yang menghargai data teknis.

Pesan lebih tepat sasaran; pemberitaan lebih akurat dan kredibel.

Media Education (Edukasi Wartawan)

Lakukan media clinic, lab visit, atau site tour agar wartawan memahami proses teknis. Sertakan cheat sheet istilah rumit (TKDN, karbon, ISO) untuk mencegah salah kutip.

Wartawan memahami konteks teknis → pemberitaan lebih akurat dan minim misinformasi.

Memposisikan Perusahaan sebagai Expert Source

Menawarkan narasumber ahli sesuai isu hangat (newsjacking), tidak hanya saat promosi. Edukasi terkait keselamatan & standar.

Membangun reputasi perusahaan sebagai rujukan otoritatif di sektor TIC.

Aliansi Edukasi, Bukan Sekadar Publikasi

Media dianggap mitra edukasi publik, bukan hanya penyalur rilis.

Relasi lebih kuat; citra perusahaan sebagai lembaga teknis yang memberi manfaat publik.

34 of 42

Hak Jawab dan Hak Koreksi

Jenis Hak / Ketentuan

Pasal dalam UU Pers

Definisi

Kapan Digunakan

Contoh Kasus

Hak Jawab

Pasal 1 angka 11 dan Pasal 5 ayat (2)

Hak memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan yang merugikan nama baik.

Ketika berita memuat tuduhan, ketidakakuratan, atau framing yang merugikan reputasi individu/instansi.

Media menulis “Perusahaan X melanggar aturan sertifikasi” padahal perusahaan mengikuti semua prosedur.

Hak Koreksi

Pasal 1 angka 12 dan Pasal 5 ayat (3)

Hak membetulkan kekeliruan atau kesalahan informasi yang diberitakan media.

Ketika terdapat data salah, angka keliru, istilah teknis keliru, atau penulisan nama/jabatan tidak tepat.

Media menulis tarif layanan “Rp 50 juta”, padahal tarif resmi Rp 5 juta.

Kewajiban Media

Pasal 5 ayat (2)–(3)

Media wajib melayani Hak Jawab dan memuat Hak Koreksi secara proporsional.

Media wajib memuat secepatnya dan ditempatkan pada posisi yang sepadan dengan berita awal.

Sanksi Pelanggaran oleh Media

Pasal 18 ayat (2)

Media yang tidak memberi kesempatan Hak Jawab dapat dikenai denda hingga Rp 500 juta.

Ketika media mengabaikan permintaan resmi Hak Jawab/Koreksi.

35 of 42

Etika Berkomunikasi dengan Media (1)

1. Kerahasiaan Data Klien

Informasi hasil audit/inspeksi klien tidak boleh dibocorkan, bahkan jika diminta off the record.

Kerahasiaan = fondasi kepercayaan; pelanggaran dapat merusak reputasi dan hubungan bisnis.

2. Kejujuran tentang Lingkup Pekerjaan (Scope)

Saat dimintai komentar terkait insiden/kecelakaan, PR wajib menjelaskan batasan pemeriksaan secara transparan. Tidak boleh melebih-lebihkan peran perusahaan atau mengklaim area yang tidak diperiksa.

36 of 42

Etika Berkomunikasi dengan Media (2)

1. Hindari “Jebakan Batman” dalam Bahasa

    • Jangan gunakan kata “Maaf”

→ Di konteks hukum, dapat dianggap admission of guilt.

→ Ganti dengan “prihatin”, “simpati”, atau “empati”.

    • Jangan menulis “Kami tidak dapat memberikan keterangan”

→ Terlihat defensif & seolah menyembunyikan informasi.

→ Ganti dengan: “Kami belum dapat menyimpulkan penyebabnya saat ini.”

2. Gunakan Bahasa yang Sederhana dan Jelas

    • Hindari jargon teknis dan istilah kompleks.
    • Ingat: Media butuh kejelasan cepat.

3. Berbasis Data, Namun Tetap Hangat

    • Sertakan pesan kunci, pesan pendukung, data, dan fakta.
    • Tapi tambahkan diksi beremosi tepat (empati, kepedulian, keprihatinan).

4. Manfaatkan AI secara Cerdas

    • Gunakan AI untuk merangkai naskah awal dengan struktur yang rapi.
    • Wajib direviu oleh PR/humas untuk memastikan tone, empati, dan akurasi.

37 of 42

Etika Berkomunikasi dengan Media

Bagian

Isi / Fungsi Utama

Contoh / Catatan Praktis

1. Header (Kepala Rilis)

Menandai status rilis & menunjukkan dokumen resmi

• Tulis “UNTUK SEGERA DISIARKAN” atau langsung tulis “SIARAN PERS” • Sertakan logo perusahaan

2. Judul (Headline)

Menarik perhatian, berisi manfaat & news value

“PT ABC Dukung Ekspor UMKM Lewat Sertifikasi Standar Internasional” (hindari judul terlalu teknis)

3. Dateline

Informasi lokasi & tanggal publikasi

JAKARTA, 28 November 2025 –

4. Lead / Teras Berita

Ringkasan cepat 5W+1H dalam 1 paragraf

Who, What, Where, When, Why (kenapa penting), How

5. Body – Paragraf 2

Latar belakang, konteks, data teknis/regulasi

Contoh: Permen, ISO, TKDN yang relevan

6. Body – Paragraf 3 (Quote)

Kutipan pimpinan berisi visi/komitmen

“Langkah ini wujud komitmen kami menjaga kedaulatan mutu nasional.”

7. Boilerplate (Tentang Perusahaan)

Profil resmi singkat perusahaan

Terakreditasi KAN, anggota IFIA, layanan nasional

8. Kontak Media

Informasi narahubung untuk konfirmasi/lanjutan

Nama, jabatan, HP/WA aktif, email

38 of 42

Tingkatan Juru Bicara

Aspek

Single Spokesperson

Multi Spokesperson

Definisi

Satu orang menjadi juru bicara utama untuk semua isu.

Beberapa juru bicara ditugaskan sesuai fungsi/isu tertentu.

Kelebihan

• Pesan lebih konsisten dan terkontrol.

• Risiko salah ucap lebih kecil.

• Media punya satu pintu konfirmasi.

• Respons lebih cepat untuk isu beragam.

• Bisa menghadirkan ahli teknis sesuai topik.

• Beban komunikasi terbagi.

Kekurangan

• Beban berat pada satu orang.

• Respons bisa terlambat jika juru bicara tidak tersedia.

• Tidak selalu efektif untuk isu teknis.

• Berisiko pesan tidak konsisten.

• Perlu koordinasi yang ketat antar-juru bicara.

• Media bisa memilih narasi yang berbeda.

Kapan Digunakan

• Krisis besar atau isu sensitif. • Organisasi kecil/struktur sederhana.

• Perusahaan besar, multi-layanan (TIC).

• Butuh penjelasan teknis oleh para ahli.

• Operasi multi-lokasi atau multi-sektor.

39 of 42

Cara Menghadapi Pertanyaan Sulit Media (1)

Jenis Pertanyaan

Contoh

Jawaban Aman

1. Spekulatif (What If)

“Kalau nanti perusahaan terbukti salah, direksi siap mundur?”

“Saya tidak ingin berandai-andai. Fokus kami adalah mendukung proses hukum yang berjalan.”

2. Pilihan A/B (False Choice)

“Ini salah kontraktornya atau auditor Anda yang lalai?”

“Kejadian ini memiliki banyak faktor. Kita tunggu hasil investigasi menyeluruh.”

3. Menuduh (Loaded Question)

“Apakah perusahaan meloloskan izin karena ada suap?”

“Kami memahami kekhawatiran publik, namun seluruh proses sesuai standar integritas dan dapat diaudit.”

4. Ultra-Teknis (Di Luar Kapasitas)

“Apa root cause kegagalan sistem ini?”

“Detail teknis akan dijelaskan tim ahli. Yang dapat saya sampaikan adalah proses investigasi sedang berjalan.”

5. Off the Record Semu

“Off the record ya, direksi sebenarnya panik kan?”

“Saya hanya menyampaikan informasi resmi dan terbuka untuk publik.”

6. Pertanyaan Berulang / Ya–Tidak

“Jadi kalian salah? Iya atau tidak?”

“Proses investigasi berjalan. Begitu ada hasil resmi, akan kami sampaikan.”

40 of 42

Cara Menghadapi Pertanyaan Sulit Media (2)

Jenis Pertanyaan

Contoh

Jawaban Aman

7. Dokumen Rahasia / Legal Trap

“Apa isi laporan investigasi internal?”

“Dokumen itu bagian dari proses hukum. Kami menghormati aturan publikasi informasi.”

8. Emosional / Provokatif

“Bagaimana Anda bisa tidur tenang sementara masyarakat resah?”

“Kami memahami kegelisahan publik dan bekerja memastikan semua langkah pemulihan berjalan baik.”

9. Leading Question

“Banyak yang bilang perusahaan Anda tidak transparan. Apa tanggapan Anda?”

“Kami membuka seluruh informasi resmi secara berkala dan transparan.”

10. New Info Trap

“Benar ada 12 pekerja dirawat diam-diam?”

“Saya belum menerima laporan tersebut, jadi perlu cek dulu. Setelah diverifikasi, akan saya sampaikan.”

11. Rumor Trap

“Katanya ada direksi yang mundur, betul?”

“Saat ini belum ada informasi resmi terkait hal itu.”

12. Motif / Niat

“Apakah perusahaan sengaja menutup-nutupi insiden ini?”

“Kami memastikan seluruh fakta terbuka, dapat diverifikasi, dan mendukung penuh proses investigasi.”

41 of 42

Bahasa Tubuh Saat Berbicara Dengan Media

Bahasa tubuh adalah elemen terbesar dalam efektivitas komunikasi (55% nonverbal, 38% intonasi, 7% kata-kata) sehingga sangat menentukan bagaimana media dan publik menilai kredibilitas juru bicara.

Bahasa tubuh yang tepat membuat juru bicara terlihat:

    • Credible – postur tegak, ekspresi tenang, kontak mata stabil.
    • Calm & In Control – menandakan organisasi siap dan tidak panik.
    • Consistent – gerak tubuh selaras dengan pesan, tidak memberi kesan menyembunyikan fakta.
    • Empathic – ekspresi lembut dan nada suara hangat menurunkan tensi.
    • Media-Friendly – menghindari kesan defensif atau arogan.
    • Kontak Mata – fokus pada penanya untuk menunjukkan kejujuran dan penguasaan isu

42 of 42

TERIMA KASIH