MATERI PELATIHAN PR
DAN MEDIA HANDLING [Hari I]
Start Slide
Siko Dian Sigit Wiyanto, M.Si., CPR
Profil Trainer
Siko Dian Sigit Wiyanto, M.Si., CPR
Profesional Komunikasi – Spesialis Strakom, Manajemen Isu & Krisis Badan Publik
Pengalaman Kerja:
Prestasi:
Pengalaman Mengajar:
Pendidikan & Sertifikasi
Definisi dan fungsi PR
Strategi Komunikasi Korporasi
Elemen Strategi Komunikasi
Program ini dilakukan dalam tiga tahapan yang bersifat siklus, yaitu planning (perencanaan), implementasi, serta monitoring dan evaluasi. Tahapan tersebut berlangsung selama satu proses. Hasil evaluasi dari program ini akan menjadi dasar bagi planning program komunikasi berikutnya.
Tujuan
(WHY)
Strategi Media
(HOW)
Target Audience�(WHOM)
Matriks�Kegiatan Komunikasi (TACTIC)
Strategi Figur
(WHO)
Strategi Waktu
(WHEN)
3. Monitoring dan Evaluasi
2.Implementasi
1. Planning (Perencanaan)
ISU STRATEGIS
Strategi Pesan
(WHAT)
TERJAGANYA CITRA DAN REPUTASI
Elemen Strategi Komunikasi
1. Penetapan Tujuan (SMART)
Tujuan harus spesifik, terukur, realistis, relevan, dan berbatas waktu.
→ Contoh: Brand awareness naik 20% dalam 6 bulan.
Model AICDA:
Attention (tarik perhatian)
Interest (bangun minat)
Conviction (meyakinkan)
Desire (membangkitkan minat)
Action (mendorong tindakan)
Elemen Strategi Komunikasi
2. Identifikasi Audiens
Menetapkan tujuan → menganalisis isu → segmentasi → mengumpulkan data → memetakan prioritas.
Peta Stakeholder:
Elemen Strategi Komunikasi
3. Penyusunan Pesan Utama (Key Messages)
Pesan harus singkat, konsisten, relevan, dan mudah diingat.
Struktur Umbrella Message:
Pesan Utama: Inti besar yang menaungi semua pesan
Sub-Pesan: Penjelasan 2–4 poin yang memperkuat inti pesan
Fakta Pendukung: Data, angka, bukti nyata
Contoh Umbrella Message:
“Sucofindo adalah mitra terpercaya dalam layanan TIC yang mendukung daya saing industri dan keberlanjutan nasional.”
Contoh Proof Points
Elemen Strategi Komunikasi
4.Pemilihan Saluran Komunikasi yang Tepat
Sesuaikan dengan Tujuan Komunikasi
Elemen Strategi Komunikasi
4.Pemilihan Spokesperson
Elemen Strategi Komunikasi
4.Rencana Aksi
Elemen Strategi Komunikasi
Program Komunikasi | [Nama Program Komunikasi] | |
Taktik Utama: | TUJUAN KOMUNIKASI: TARGET AUDIENS: SPOKESPERSON: | |
PESAN KUNCI UTAMA: | ||
Sub Pesan Kunci: Fakta Pendukung: | ||
Elemen Strategi Komunikasi
Program Komunikasi | Sertifikasi SNI untuk UMKM Naik Kelas | |
Taktik Utama:
| TUJUAN KOMUNIKASI: TARGET AUDIENS: SPOKESPERSON: | Meningkatkan awareness dan pemahaman UMKM tentang manfaat sertifikasi SNI dan layanan Sucofindo. UMKM makanan-minuman, kerajinan, kosmetik, dan industri rumah tangga. Kepala Divisi Sertifikasi Produk Sucofindo. |
PESAN KUNCI UTAMA: Sertifikasi SNI melalui Sucofindo membantu UMKM meningkatkan kualitas produk dan daya saing. | ||
Sub Pesan Kunci:
Fakta Pendukung: Sucofindo adalah LSPro terakreditasi KAN Telah membantu lebih dari 2.000 UMKM mendapatkan sertifikasi. | ||
ROSTIR Planning Model
Research
R
Objective
O
Strategy
S
Communication Program and Messaging
Tactic
T
PESO Model
Implementation
I
Reporting and Evaluation
R
AMEC
Standard:
and
Quantitave
Mapping
and Analysis
Audience
SMART (ER)
Objective
Reference: Regina Luttrell & Luke Capizzo
Summarized and Mapped by Fardila Astari - Reputasia
Tahap Riset
Tahap Riset
1. Analisis Situasi (PESTLE)
Analisis untuk memahami kondisi eksternal yang memengaruhi organisasi, mencakup faktor politik, ekonomi, sosial, teknologi, lingkungan, dan hukum. Tujuannya melihat peluang dan ancaman dari luar.
2. Analisis Organisasi (SWOT)
Analisis untuk menilai kondisi internal organisasi melalui identifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Tujuannya memahami kapasitas organisasi dalam mencapai tujuan komunikasi.
3. Analisis Publik/Stakeholder (Mendelow)
Analisis untuk memetakan publik atau pemangku kepentingan berdasarkan tingkat kekuasaan (power) dan kepentingan (interest), guna menentukan prioritas strategi komunikasi bagi masing-masing kelompok.
Analisis PESTLE
Analisis Situasi (Faktor Eksternal) Menggunakan metode PESTLE untuk memetakan peluang atau hambatan dari luar organisasi:
Analisis Organisasi
Analisis Stakeholders
Kuadran | Stakeholder Kunci |
Manage Closely | Pemegang saham, Direksi/Komisaris, regulator teknis, pelanggan besar |
Keep Satisfied | Kemenkeu, Pemda, asosiasi industri besar |
Keep Informed | Karyawan, UMKM/korp menengah, vendor, asosiasi profesi, media bisnis |
Monitor | Publik umum, media non-bisnis, kompetitor kecil |
Tujuan Komunikasi
Tahap AICDA | Tujuan Komunikasi untuk PT Sucofindo | Contoh Program Singkat |
Attention | Menarik perhatian industri terhadap layanan Sucofindo (testing, inspection, certification). | Kampanye awareness, media coverage, digital ads. |
Interest | Membangun minat pada manfaat layanan pengujian, inspeksi, sertifikasi, dan ESG. | Webinar, artikel edukatif, konten sektor industri. |
Conviction | Membangun keyakinan bahwa Sucofindo adalah lembaga TIC yang kredibel, terakreditasi, dan independen. | Testimoni klien, sertifikat akreditasi, studi kasus, media briefing teknis. |
Desire | Memunculkan keinginan menggunakan layanan Sucofindo karena keunggulan kompetitifnya. | Highlight keunggulan layanan, success story UMKM/korporasi. |
Action | Mendorong audiens melakukan permintaan layanan, konsultasi, atau pendaftaran sertifikasi/pengujian. | Landing page pendaftaran, formulir online, kontak sales. |
Evaluasi Program Komunikasi
Tahap | Definisi Singkat | Output (aktivitas) | Outtake (respon audiens) | Outcome (perilaku) | Impact (dampak besar) | Alat Ukur (KPI kuantitatif) |
A – Awareness | Membangun kesadaran | Press release, liputan media, iklan digital, konten edukasi | Audiens mengetahui Sucofindo & layanannya | Audiens mulai mengunjungi website/media sosial | Brand semakin dikenal | • Impression 50k–1M • Reach 20k–500k • Media pickup ≥10 berita/bulan |
I – Interest | Membuat audiens tertarik | Webinar, artikel industri, email newsletter | Audiens merasa layanan relevan dengan kebutuhannya | Audiens mulai follow, subscribe, download materi | Meningkatnya engagement awal | • CTR konten ≥2–5% • Engagement rate ≥3–10% • Pendaftaran webinar ≥100–300 pax |
C – Conviction | Membangun keyakinan | Studi kasus, testimoni, data kualitas, proposal terstruktur | Audiens percaya bahwa Sucofindo kompeten & terpercaya | Audiens meminta penawaran / meeting | Munculnya peluang bisnis | • Jumlah leads/permintaan informasi: 20–50/bulan • Proposal requested: peningkatan 10–15% |
D – Desire | Membangun keinginan | Konsultasi teknis, demo layanan, simulasi biaya | Audiens ingin menggunakan layanan Sucofindo | Audiens mengajukan negosiasi | Konversi menuju kontrak | • Lead-to-prospect conversion 15–30% • Jumlah meeting teknis 10–30/bulan |
A – Action | Mendorong tindakan nyata | Finalisasi kontrak, onboarding, layanan mulai berjalan | Audiens membeli/menggunakan layanan | Repeat order, upselling, kontrak berulang | Pertumbuhan pendapatan & posisi pasar | • Deal conversion rate 10–20% • Revenue per klient • Repeat business rate 40–60% |
Strategi Komunikasi Internal dan Eksternal
Pentingnya Strategi Komunikasi Internal
Membangun Budaya Integritas & Engagement
Karyawan tersebar di lapangan → komunikasi harus memperkuat nilai integritas dan rasa memiliki.
Internalisasi Nilai “Why”
Pesan utama menekankan dampak pekerjaan: “Tanda tangan Anda menyangkut keselamatan ribuan orang.” Membangun kebanggaan.
Connecting the Disconnected
Surveyor di lokasi terpencil harus tetap merasa terhubung; hindari kesan dianaktirikan dibanding karyawan kantor pusat.
Pemilihan Kanal Digital yang Mobile-Friendly
Gunakan aplikasi internal, grup WhatsApp resmi, dan kanal yang mudah diakses pekerja lapangan (bukan hanya email).
Knowledge Sharing & Whistleblowing Aman
Bangun budaya belajar lewat forum berbagi studi kasus, dan sediakan kanal whistleblowing yang aman untuk menjaga integritas dan reputasi perusahaan.
Pentingnya Strategi Komunikasi Eksternal
Mengubah Persepsi Layanan TIC
Transformasi citra dari “beban kepatuhan” menjadi mitra strategis yang memberi nilai tambah bagi bisnis klien.
Edukasi Pasar melalui Bahasa Manfaat
Mengemas layanan teknis menjadi bahasa bisnis: bukan “sertifikasi ISO”, tetapi “cara produk Anda menembus pasar ekspor melalui sertifikasi”.
Membangun Thought Leadership
Menempatkan perusahaan sebagai otoritas utama melalui artikel opini, white paper, dan insight regulasi oleh para ahli.
Penguatan Stakeholder & Government Relations
Komunikasi berkala dengan regulator untuk memberi masukan berbasis data lapangan—memposisikan perusahaan sebagai “mata dan telinga pemerintah”.
Defensive Communication & Kesiapan Krisis
Menyiapkan holding statement dan protokol komunikasi untuk menghadapi insiden pada klien tersertifikasi, serta menegaskan batasan tanggung jawab perusahaan.
Penyelarasan Pesan dengan Visi & Misi Perusahaan
Komunikasi Harus Mencerminkan Arah Besar Perusahaan
Penyelarasan bukan sekadar mencantumkan slogan, tetapi memastikan setiap pesan membawa roh visi dan misi.
Mulai dari Objective & Strategy (WHAT & WHY)
Perencanaan komunikasi harus dimulai dari tujuan dan alasan strategis; taktik tidak boleh bertentangan dengan visi–misi.
Membangun Citra yang Kredibel & Kelas Dunia
Visi Sucofindo mengharuskan seluruh pesan memperkuat citra sebagai lembaga penjamin yang dapat dipercaya, modern, dan terintegrasi.
Menonjolkan Kompetensi SDM, Teknologi, dan Inovasi
Misi menuntut narasi komunikasi yang menekankan keahlian auditor, penggunaan teknologi canggih, serta standar keselamatan dan kualitas.
Hindari Komunikasi yang Menurunkan Reputasi
Tidak boleh ada pesan yang membuat Sucofindo terlihat sekadar “tukang stempel”, birokratis, atau tidak profesional; semua konten harus menjaga martabat perusahaan sebagai lembaga terpercaya.
Penyelarasan Pesan dengan Visi & Misi Perusahaan
Aspek | Program BENAR (Selaras) | Program SALAH (Tidak Selaras) |
Judul Kampanye | “Assurance 4.0: Presisi Inspeksi dalam Genggaman Teknologi” | “Inspeksi Kilat, Harga Termurah di Pasaran!” |
Fokus Pesan | Teknologi drone, AI, presisi data, efisiensi, keselamatan | Kecepatan & harga murah sebagai nilai utama |
Keselarasan dengan Visi–Misi | Mendukung visi kelas dunia dan misi teknologi & inovasi | Bertentangan dengan visi peningkatan kepercayaan dan misi standar mutu |
Dampak Persepsi | Meningkatkan citra profesional, modern, kredibel | Menurunkan citra menjadi penyedia jasa murah, rawan dipersepsikan “asal jadi” |
Analisis | Menunjukkan Sucofindo adaptif terhadap era digital dan menjaga kualitas layanan | Mengubah posisi Sucofindo menjadi “pemain komoditas”, bukan lembaga penjamin kelas dunia |
Penyelarasan Pesan dengan Visi & Misi Perusahaan
Aspek | Program BENAR (Selaras) | Program SALAH (Tidak Selaras) |
Jenis Konten | Video Reels/TikTok auditor di lapangan memakai APD lengkap, menggunakan tablet/digital tools, dengan narasi menjaga keamanan produk bangsa | Video parodi/joget viral di laboratorium tanpa jas lab atau mengabaikan SOP demi konten lucu |
Fokus Pesan | Profesionalisme, teknologi, keselamatan, kontribusi terhadap keamanan nasional | Hiburan (FYP), kelucuan, mengabaikan prosedur keselamatan |
Keselarasan dengan Visi–Misi | Selaras dengan Misi: Keselamatan, Keamanan, SDM serta Visi: Kepercayaan & kelas dunia | Bertentangan dengan Misi: Keselamatan & Keamanan dan melemahkan Visi: Kepercayaan |
Dampak Persepsi | Meningkatkan citra profesional, modern, dan kredibel; menarik talenta berkualitas | Menurunkan kepercayaan; menunjukkan ketidakseriusan dan ketidakpatuhan terhadap SOP |
Analisis | Menegaskan peran auditor sebagai penjaga standar dan wibawa perusahaan | Menghasilkan persepsi bahwa Sucofindo tidak disiplin dan tidak aman, merusak reputasi hasil lab |
Penyelarasan Pesan dengan Visi & Misi Perusahaan
Citra Vs Reputasi
Dimensi | Citra (Image) | Reputasi (Reputation) |
Sifat | Persepsi Sesaat (Jangka Pendek) | Rekam Jejak (Jangka Panjang) |
Fokus | "Apa yang kita tampilkan ke luar" | "Apa yang orang yakini tentang kita" |
Pembentukan | Bisa dibentuk cepat (lewat iklan/logo) | Butuh waktu lama (lewat konsistensi perilaku) |
Daya Tahan | Rapuh (mudah berubah jika ada isu) | Kuat (tahan banting jika ada krisis kecil) |
Analogi | Sampul Buku (Menarik/Tidak) | Isi Cerita (Bagus/Tidak setelah dibaca) |
Media Relations
Media Handling
Membangun Jejaring dengan Media
Kategori | Aktivitas | Tujuan Utama | Keterangan / Manfaat |
Jejaring Formal (Earned Media – Model PESO) | Media Visit | Membuka jalur komunikasi resmi dengan redaksi | Perkenalan institusi, membangun akses klarifikasi tingkat tinggi |
| Media Briefing / Media Discussion | Membangun posisi sebagai expert source | Penjelasan data, regulasi, isu teknis kepada jurnalis desk spesifik |
| Press Tour / Site Visit | Memperkuat kredibilitas teknis melalui kunjungan lapangan | Media melihat langsung operasi, fasilitas, proses kerja |
| Media Gathering (Formal–Santai) | Membangun hubungan jangka panjang | Menggeser hubungan dari transaksional ke relasional |
| Pelayanan PR Profesional | Standarisasi kualitas hubungan dan informasi | Rilis bernilai berita, respon cepat, presisi, konferensi pers rapi |
Jejaring Informal | Coffee Morning / Kopi Darat dengan Editor & Jurnalis Kunci | Kedekatan emosional dan intelektual | Berbagi insight industri, membangun kepercayaan dua arah |
Strategi Media Relations Sektor TIC
Strategi | Fokus / Penjelasan | Output / Manfaat |
Fokus Target Media yang Relevan | Prioritaskan desk Ekonomi, Industri, ESDM, Infrastruktur, dan BUMN. Gunakan media tier-1 serta media industri yang menghargai data teknis. | Pesan lebih tepat sasaran; pemberitaan lebih akurat dan kredibel. |
Media Education (Edukasi Wartawan) | Lakukan media clinic, lab visit, atau site tour agar wartawan memahami proses teknis. Sertakan cheat sheet istilah rumit (TKDN, karbon, ISO) untuk mencegah salah kutip. | Wartawan memahami konteks teknis → pemberitaan lebih akurat dan minim misinformasi. |
Memposisikan Perusahaan sebagai Expert Source | Menawarkan narasumber ahli sesuai isu hangat (newsjacking), tidak hanya saat promosi. Edukasi terkait keselamatan & standar. | Membangun reputasi perusahaan sebagai rujukan otoritatif di sektor TIC. |
Aliansi Edukasi, Bukan Sekadar Publikasi | Media dianggap mitra edukasi publik, bukan hanya penyalur rilis. | Relasi lebih kuat; citra perusahaan sebagai lembaga teknis yang memberi manfaat publik. |
Hak Jawab dan Hak Koreksi
Jenis Hak / Ketentuan | Pasal dalam UU Pers | Definisi | Kapan Digunakan | Contoh Kasus |
Hak Jawab | Pasal 1 angka 11 dan Pasal 5 ayat (2) | Hak memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan yang merugikan nama baik. | Ketika berita memuat tuduhan, ketidakakuratan, atau framing yang merugikan reputasi individu/instansi. | Media menulis “Perusahaan X melanggar aturan sertifikasi” padahal perusahaan mengikuti semua prosedur. |
Hak Koreksi | Pasal 1 angka 12 dan Pasal 5 ayat (3) | Hak membetulkan kekeliruan atau kesalahan informasi yang diberitakan media. | Ketika terdapat data salah, angka keliru, istilah teknis keliru, atau penulisan nama/jabatan tidak tepat. | Media menulis tarif layanan “Rp 50 juta”, padahal tarif resmi Rp 5 juta. |
Kewajiban Media | Pasal 5 ayat (2)–(3) | Media wajib melayani Hak Jawab dan memuat Hak Koreksi secara proporsional. | Media wajib memuat secepatnya dan ditempatkan pada posisi yang sepadan dengan berita awal. | — |
Sanksi Pelanggaran oleh Media | Pasal 18 ayat (2) | Media yang tidak memberi kesempatan Hak Jawab dapat dikenai denda hingga Rp 500 juta. | Ketika media mengabaikan permintaan resmi Hak Jawab/Koreksi. | — |
Etika Berkomunikasi dengan Media (1)
1. Kerahasiaan Data Klien
Informasi hasil audit/inspeksi klien tidak boleh dibocorkan, bahkan jika diminta off the record.
Kerahasiaan = fondasi kepercayaan; pelanggaran dapat merusak reputasi dan hubungan bisnis.
2. Kejujuran tentang Lingkup Pekerjaan (Scope)
Saat dimintai komentar terkait insiden/kecelakaan, PR wajib menjelaskan batasan pemeriksaan secara transparan. Tidak boleh melebih-lebihkan peran perusahaan atau mengklaim area yang tidak diperiksa.
Etika Berkomunikasi dengan Media (2)
1. Hindari “Jebakan Batman” dalam Bahasa
→ Di konteks hukum, dapat dianggap admission of guilt.
→ Ganti dengan “prihatin”, “simpati”, atau “empati”.
→ Terlihat defensif & seolah menyembunyikan informasi.
→ Ganti dengan: “Kami belum dapat menyimpulkan penyebabnya saat ini.”
2. Gunakan Bahasa yang Sederhana dan Jelas
3. Berbasis Data, Namun Tetap Hangat
4. Manfaatkan AI secara Cerdas
Etika Berkomunikasi dengan Media
Bagian | Isi / Fungsi Utama | Contoh / Catatan Praktis |
1. Header (Kepala Rilis) | Menandai status rilis & menunjukkan dokumen resmi | • Tulis “UNTUK SEGERA DISIARKAN” atau langsung tulis “SIARAN PERS” • Sertakan logo perusahaan |
2. Judul (Headline) | Menarik perhatian, berisi manfaat & news value | “PT ABC Dukung Ekspor UMKM Lewat Sertifikasi Standar Internasional” (hindari judul terlalu teknis) |
3. Dateline | Informasi lokasi & tanggal publikasi | JAKARTA, 28 November 2025 – |
4. Lead / Teras Berita | Ringkasan cepat 5W+1H dalam 1 paragraf | Who, What, Where, When, Why (kenapa penting), How |
5. Body – Paragraf 2 | Latar belakang, konteks, data teknis/regulasi | Contoh: Permen, ISO, TKDN yang relevan |
6. Body – Paragraf 3 (Quote) | Kutipan pimpinan berisi visi/komitmen | “Langkah ini wujud komitmen kami menjaga kedaulatan mutu nasional.” |
7. Boilerplate (Tentang Perusahaan) | Profil resmi singkat perusahaan | Terakreditasi KAN, anggota IFIA, layanan nasional |
8. Kontak Media | Informasi narahubung untuk konfirmasi/lanjutan | Nama, jabatan, HP/WA aktif, email |
Tingkatan Juru Bicara
Aspek | Single Spokesperson | Multi Spokesperson |
Definisi | Satu orang menjadi juru bicara utama untuk semua isu. | Beberapa juru bicara ditugaskan sesuai fungsi/isu tertentu. |
Kelebihan | • Pesan lebih konsisten dan terkontrol. • Risiko salah ucap lebih kecil. • Media punya satu pintu konfirmasi. | • Respons lebih cepat untuk isu beragam. • Bisa menghadirkan ahli teknis sesuai topik. • Beban komunikasi terbagi. |
Kekurangan | • Beban berat pada satu orang. • Respons bisa terlambat jika juru bicara tidak tersedia. • Tidak selalu efektif untuk isu teknis. | • Berisiko pesan tidak konsisten. • Perlu koordinasi yang ketat antar-juru bicara. • Media bisa memilih narasi yang berbeda. |
Kapan Digunakan | • Krisis besar atau isu sensitif. • Organisasi kecil/struktur sederhana. | • Perusahaan besar, multi-layanan (TIC). • Butuh penjelasan teknis oleh para ahli. • Operasi multi-lokasi atau multi-sektor. |
Cara Menghadapi Pertanyaan Sulit Media (1)
Jenis Pertanyaan | Contoh | Jawaban Aman |
1. Spekulatif (What If) | “Kalau nanti perusahaan terbukti salah, direksi siap mundur?” | “Saya tidak ingin berandai-andai. Fokus kami adalah mendukung proses hukum yang berjalan.” |
2. Pilihan A/B (False Choice) | “Ini salah kontraktornya atau auditor Anda yang lalai?” | “Kejadian ini memiliki banyak faktor. Kita tunggu hasil investigasi menyeluruh.” |
3. Menuduh (Loaded Question) | “Apakah perusahaan meloloskan izin karena ada suap?” | “Kami memahami kekhawatiran publik, namun seluruh proses sesuai standar integritas dan dapat diaudit.” |
4. Ultra-Teknis (Di Luar Kapasitas) | “Apa root cause kegagalan sistem ini?” | “Detail teknis akan dijelaskan tim ahli. Yang dapat saya sampaikan adalah proses investigasi sedang berjalan.” |
5. Off the Record Semu | “Off the record ya, direksi sebenarnya panik kan?” | “Saya hanya menyampaikan informasi resmi dan terbuka untuk publik.” |
6. Pertanyaan Berulang / Ya–Tidak | “Jadi kalian salah? Iya atau tidak?” | “Proses investigasi berjalan. Begitu ada hasil resmi, akan kami sampaikan.” |
Cara Menghadapi Pertanyaan Sulit Media (2)
Jenis Pertanyaan | Contoh | Jawaban Aman |
7. Dokumen Rahasia / Legal Trap | “Apa isi laporan investigasi internal?” | “Dokumen itu bagian dari proses hukum. Kami menghormati aturan publikasi informasi.” |
8. Emosional / Provokatif | “Bagaimana Anda bisa tidur tenang sementara masyarakat resah?” | “Kami memahami kegelisahan publik dan bekerja memastikan semua langkah pemulihan berjalan baik.” |
9. Leading Question | “Banyak yang bilang perusahaan Anda tidak transparan. Apa tanggapan Anda?” | “Kami membuka seluruh informasi resmi secara berkala dan transparan.” |
10. New Info Trap | “Benar ada 12 pekerja dirawat diam-diam?” | “Saya belum menerima laporan tersebut, jadi perlu cek dulu. Setelah diverifikasi, akan saya sampaikan.” |
11. Rumor Trap | “Katanya ada direksi yang mundur, betul?” | “Saat ini belum ada informasi resmi terkait hal itu.” |
12. Motif / Niat | “Apakah perusahaan sengaja menutup-nutupi insiden ini?” | “Kami memastikan seluruh fakta terbuka, dapat diverifikasi, dan mendukung penuh proses investigasi.” |
Bahasa Tubuh Saat Berbicara Dengan Media
Bahasa tubuh adalah elemen terbesar dalam efektivitas komunikasi (55% nonverbal, 38% intonasi, 7% kata-kata) sehingga sangat menentukan bagaimana media dan publik menilai kredibilitas juru bicara.
Bahasa tubuh yang tepat membuat juru bicara terlihat:
TERIMA KASIH