ISTIQOMAH BELAJAR TAJWID
Ahmadi Assambasy, S.Pd.
Masjid Baiturrahim Komperta GS
Page ▪ 1
Dalil Dari Al Qur‘an
“Dan bacalah Al Qur’an dengan tartil” (QS. Al Muzammil: 4)
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا
Imam Ibnu Katsir menjelaskan:
وَقَوْلُهُ: {وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا} أَيِ: اقْرَأْهُ عَلَى تَمَهُّلٍ، فَإِنَّهُ يَكُونُ عَوْنًا عَلَى فَهْمِ الْقُرْآنِ وَتَدَبُّرِهِ
“Dan firman-Nya: ‘dan bacalah Al Qur’an dengan tartil‘, maksudnya bacalah dengan pelan (memperhatikan hukum-hukum tajwidnya) karena itu bisa membantu untuk memahaminya dan men-tadabburi-nya”
(Tafsir Ibni Katsir, 8/250)
Ali bin Abi Thalib menjelaskan makna tartil dalam ayat,
”Mentajwidkan huruf-hurufnya dengan mengetahui tempat-tempat berhentinya”. (Syarh Mandhumah Al-Jazariyah, hlm. 13)
Page ▪ 2
Dan orang-orang kafir berkata, "Mengapa Al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?" Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar). (QS. Al Furqan: 32)
وَقَالَ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَيۡهِ الۡـقُرۡاٰنُ جُمۡلَةً وَّاحِدَةً كَذٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُـؤَادَكَ وَرَتَّلۡنٰهُ تَرۡتِيۡلًا
Syeikh As Sa’di Rahimahullah menjelaskan:
فإن ترتيل القرآن به يحصل التدبرَ والتفكرَ، وتحريكَ القلوب به، والتعبدَ بآياته، والتهيؤَ والاستعدادَ التامَ له
“‘dan bacalah Al Qur’an dengan tartil‘, karena membaca dengan tartil itu adalah membaca yang disertai tadabbur dan tafakkur, hati bisa tergerak karenanya, menghamba dengan ayat-ayat-Nya, dan tercipta kewaspadaan dan kesiapan diri yang sempurna kepadanya” (Taisir Karimirrahman, 892)
Page ▪ 3
Dalil dari Hadist
عن يعلى بن مملك: (أنه سأل أم سلمة رضي الله عنها عن قراءة رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم فإذا هي تنْعتَ قراءةً مفسرة حرفاً حرفاً)
Page ▪ 4
Perbedaan Pahala
عن عائشة رضي اللَّه عنها قالتْ : قال رسولُ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « الَّذِي يَقرَأُ القُرْآنَ وَهُو ماهِرٌ بِهِ معَ السَّفَرةِ الكرَامِ البررَةِ » متفقٌ عليه .
Dari Aisyah ra, berkata; bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia mahir membacanya, maka kelak ia akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat kepada Allah.” (HR. Bukhari Muslim);
« وَاٌلَذِي يَقُراٌ القُرانَ وَيَتَتَعتَعُ فِيه وَهُوَ عَلَيهِ شَاقٌ لَه اَجَران » متفقٌ عليه
Rasulullah bersabda, “Dan orang yang membaca Al-Qur’an, sedang ia masih terbata-bata lagi berat dalam membacanya, maka ia akan mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari Muslim);
Page ▪ 5
3 Tujuan Al Qur‘an di Turunkan
Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah telah menjelaskan :
فالقرآن الكريم نزل لأمور ثلاثة: التعبد بتلاوته، وفهم معانيه والعمل به
Al-Qur’an itu diturunkan untuk tiga tujuan:
Page ▪ 6
Ilmu Tajwid Mulai di Tulis
kitab-kitab Tajwid dari abad 3 hingga 6 Hijriah.
Pada abad ketiga Hijriyah, Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam menulis kitab tajwid yang diberi nama Kitāb al-Qirāat. Inilah yang ditenggarai sebagai kitab kitab pertama dalam bidang Ilmu Tajwid.
Kemudian pada abad keeempat Hijriah, seorang ulama bernama Al-Hafidz Abu Bakar Bin Mujahid Al-Baghdadi (w. 324 H). Ia menulis itab tajwid yang berisi tentang bacaan tujuh qiraat (qira’at as-sab’àh).
Memasuki abad kelima Hijriyah, ada Al’Hafidz Al-Imam Abu Amr Utsman bin Sa’id Ad-Dani yang mengarang kitab Al-Taisir. Kitab ini berisi tentang Qiraah Sab’ah yang menjadi sandaran para ahli Quran.
Kemudian memasuki abad keenam Hijriyah, tampil seorang ulama yang menjadi rujukan tokoh-tokoh yang sezaman dengannya maupun setelahnya yakni Abul Qasim bin Fairah Al-Andalusi (w. 590 Hijriyah). Ia mengarang kitab tajwid yang berjudul Hirzul Amani wa Wajhut Tahani.
Kemudian setelah itu banyak para ulama yang menekuni bidang ilmu tajwid di setiap masanya hingga kemudian yang paling dikenal dan banyak dipelajari di Indonesia adalah kitab Al-Tahmid dan nadzam tajwid yang populer dengan nama Matan Al-Jazariyah karya Imam Muhammad Ibnu Jaziri As-Syafi’i.
Page ▪ 7
Definisi Tajwid
Menurut Bahasa, التَّجْوِيْد tajwid sama dengan التَّحْسِيْن tahsin, yang berarti memperbaiki atau memperindah.
Menurut istilah, tajwid adalah:
إِخْرَاجُ كُلِّ حَرْفٍ مِنْ مَخْرَجِهِ وَإِعْطَاؤُهُ حَقَّهُ وَمُسْتَحَقَّهُ مِنَ الصِّفَات
“Mengucapkan setiap huruf dari makhraj (tempat keluarnya) serta memberikan haq dan mustahaq dari sifat-sifatnya.” (Hidayatul Qari (I/45)
Page ▪ 8
Hukum Belajar Ilmu Tajwid
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin pernah ditanya, “apakah seorang Muslim boleh membaca Al Qur’an tanpa berpegangan pada kaidah-kaidah tajwid?”. Beliau menjawab:
“Ya, itu dibolehkan. Selama tidak terjadi lahn (kesalahan bacaan) di dalamnya. Jika terjadi lahn maka wajib untuk memperbaik lahn-nya tersebut. Adapun tajwid, hukumnya tidak wajib. Tajwid itu untuk memperbagus pelafalan saja, dan untuk memperbagus bacaan Al Qur’an. Tidak diragukan bahwa tajwid itu baik, dan lebih sempurna dalam membaca Al Qur’an. Namun kalau kita katakan ‘barangsiapa yang tidak membaca Al Qur’an dengan tajwid maka berdosa‘ ini adalah perkataan yang tidak ada dalilnya. Bahkan dalil-dalil menunjukkan hal yang berseberangan dengan itu. (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 5/2, Asy Syamilah)
Mempelajari ilmu tajwid hukumnya Fardhu Kifayah,
sedangkan membaca Al Quran dengan baik sesuai dengan ilmu tajwid adalah Fardhu ‘Ain
Page ▪ 9
Manfaat dan Tujuan
Tujuan mempelajari ilrnu tajwid adalah:
Memelihara bacaan Al Quran dari kesalahan-kesalahan perubahan serta memelihara lisan (mulut) dari kesalahan membaca yang dapat menyebabkan rusaknya makna suatu kalimat.
Manfaat Belajar Ilmu Tajwid:
Page ▪ 10
Belajar Tajwid Berarti Mempelajari Huruf-huruf Hijaiyah
Page ▪ 11
Materi Yang Akan di Bahas
Page ▪ 12