Pemeriksaan klinis dan Isolasi serta Identifikasi Bakteri Salmonella sp pada Reptil Indonesia yang dilalu-lintaskan melalui Bandara Yogyakarta International Airport
Pembimbing
drh. Heru Susetya, MP, PhD
Prof. Dr. drh. Soedarmanto Indarjulianto
Wahyu Samurwat
Latar Belakang
Reptile
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat tingginya kasus diare global disebabkan oleh bakteri Salmonella spp dan 11 % berhubungan dengan interaksi dengan reptil. Terdapat 1,35 jt kasus diare, 26 ribu dirawat di Rumah Sakit dan 420 orang meninggal setiap tahunnnya (Bjelland, 2020)
Permintaan pasar internasional terhadap hewan eksotik, khususnya reptil, mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir(Whiley et al., 2017)
Salmonelosis
Pemeriksaan dan diagnosis Salmonella spp pada reptil penting meliputi pemeriksaan klinis, kultur media, PC, dan sensitivitas bakteri untuk mendeteksi infeksi dengan cepat dan akurat . Selain itu pengawasan terhadap penyebaran bakteri Salmonella spp yang resisten antibiotik perlu diperhatikan
Pentingnya pemeriksaan
1
3
3
4
1
2
4
Zoonosis
Terdapat kasus sejumlah 88 dari 110 sampel positif Salmonella di Amerika (Casey et al., 2015)(Whiley et al., 2017) dan Temuan 4 dari 40 sampel swab kloaka positif Salmonella spp (Arnafia, 2016).
Proses Penularan
Kejadian Zoonosis Salmonella spp
Rumusan Masalah
Keaslian Penelitian
No | Peneliti | Judul Jurnal | Persamaan | Perbedaan |
1 | Danielle M (2014) | Reptile Reservoirs and Seasonal Variation in the Environmental Presence of Salmonella in an Island Ecosystem, Stephens Island, New Zealand | Sampel berasal dari swab kloaka metode yang digunakan menggunakan Isolasi Bakteri, dan Bahan yang digungakan dalam penelititan menggunakan media RVS dan XLD | Pada penelitian yang akan dilakukan menggunakan sampel swab kloaka saja. Metode yang digunakan menggunakan Isolasi bakteri dan menggunakan PCR. Penelitian ini tidak menggunakan sampel tanah dalam menggunakan pembanding. |
2 | Meredith M. Clancy (2016) | Salmonella infection and carriage in reptiles in a zoological collection | Sampel yang digunakan dari swab kloaka reptile, Metode yang digunakan Isolasi bakteri menggunakan media. Bahan yang digunakan dalam pemeriksaan adalah bahan stndart pemeriksaan. | Penelitian yang dilakukan menggunakan sampel kloaka reptile yang ditranportasikan bukan merupakan pemeriksaan rutin dari kebun binatang. Sampel yang diambil merupakan sampel yang sehat dan menunjukkan gejala klinis. Metode yang dilakukan pengujian terhadap PCR |
Keaslian Penelitian
No | Peneliti | Judul Jurnal | Persamaan | Perbedaan |
3 | Wyanda Arnafia (2016) | Isolation of Salmonella from reptiles in pet shop and its susceptibility to antibiotics in Indonesia
| Sampel yang diambildari reptil yang sehat berasal dari swab sekitar kloaka reptile, metode yang digunakan menggunaka isolasi bakteri dan konfirmasi PCR, dan bahan yang digunakann adalah media RVS. | Penelitian yang dilakukan menggunakan sampel swab kloaka bukan berasal dari swab kulit sekitar kloaka. Media yang digunakan tidak menggunakan Salmonella ashigella agar dan bismuth sulphate agar. |
4 | T. P. Russo (2018) | Salmonella serotypes isolated in geckos kept in seven collections in southern Italy | Sampel yang diambil berasal dari swab sekitar kloaka reptile, metode yang digunakan menggunaka isolasi bakteri dan konfirmasi PCR, dan bahan yang digunakann adalah media RVS dan XLD | Penelitian yang dilakukan tidak menggunakan uji performan terhadap serotipe. |
Keaslian Penelitian
No | Peneliti | Judul Jurnal | Persamaan | Perbedaan |
5 | Andrea McWhorter (2020)
| In vitro invasiveness and antimicrobial resistance of Salmonella enterica subspecies isolated from wild and captive reptiles
| Penelitian yang menggunakan sampel swab kloaka, Metode yang digunakana menggunakan Isolasi bakteri dan konfirmasi PCR, dan bahan yang digunakan menggunakan RVS dan XLD media | Pada penelitian ini dalam mentransportasikan menggunakan suhu tidak mencapai -20 °C tetapi menggunakan suhu – 4 °C Metode yang dilakukan tidak kultur invitro. |
Tujuan
Manfaat
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan:
Hipotesis
Pengertian Bakteri Salmonella spp
Salmonelosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella sp., yang pertama kali diisolasi oleh Theobald Smith pada tahun 1855 dari usus babi yang terinfeksi Classical Swine Fever (CSF).
Salmonella sp. merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang, bersifat fakultatif anaerob, tidak membentuk spora, dan termasuk famili Enterobacteriaceae.
Bakteri ini memiliki koloni berukuran panjang 2-5 mm dan lebar 0,8-1,5 mm, bersifat motil dengan flagela, namun dapat menjadi non-motil dalam kondisi tertentu (Dec et al., 2022; Moreno Switt et al., 2015).
Struktur Bakteri
Klasifikasi Salmonella spp
Menurut WHO bakteri ini diklasifikasikan menjadi dua spesies, yaitu S. enterica dan S. bongori. Salmonell. enterica terdiri dari enam subspecies yang terdiri dari subspesies enterica (I) menjadi penyebab utama infeksi pada manusia dan hewan berdarah panas, sementara subspesies lain dan S. bongori lebih sering ditemukan pada hewan berdarah dingin dan lingkungan.
Bakteri Salmonella sp telah diidentifikasi lebih dari 2500 serotipe Salmonella sp mayoritas ditemukan adalah subspesies enterica (Agbaje et al., 2011; Cobo-Simón et al., 2023; Kor- sak et al., 2004; Miroshnichenko et al., 2023).
Mekanisme Patogenesis
2. Kelangsungan Hidup Intraseluler:
a. Vakuola yang mengandung Salmonella Cantaining Vaculoe SCV: merupakan kompartemen penting untuk kelangsungan hidup dan replikasi bakteri di dalam sel inang.
b. Protein Efektor: berperan dalam memanipulasi proses sel inang untuk meningkatkan kelangsungan hidup dan replikasi bakteri. Efektor yang berperan dalam pemeliharaan SCV dan posisi intraseluler
Mekanisme Patogenesis
3. Penghindaran Respons Imun Host:
4. Induksi Kematian Sel Inang:
5. Pengaturan Faktor Virulensi:
Gejala Klinis Hewan dan Manusia
Diagnosis
Kultur Media
Bakteri Salmonella sp. dilakukan pengujian dengan kultur media masih cukup baik digunakan dan penggunaan teknologi molekuler (PCR) sangat relevan digunakan.
Media seperti Selenite Broth direkomendasikan untuk sampel swab kloaka karena mampu menghambat bakteri non-Salmonella.
Media Rappaport Vasiliadis Broth, Xylose Lysine Deoxycholate Agar, dan media kromogenik direkomendasikan penggunaannya menurut WOAH untuk membantu meminimalkan pengguanaan pengujian biokimia ketika menghadapi kasus Salmonella yang bersifat atypical 2022 (Boer et al., 2019; Donaldson & Nicol, 2016; Epizootica, 2018; Grimont & Weill, 2007; International Standart Organisation, 2017; ISO, 2017; Lee et al., 2017; Pulford et al., 2019; Pusterla et al., 2010; Schönenbrücher et al., 2008; Yanestria et al., 2019)
Target gen
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan dari bulan Juli hingga Nopember 2024
27 Mei
Tahapan Penelitian
Pengujian pada media biokimia TSIA, LIA, MRVP, Indole, Urea, Citrate, Lactose, Dulcitol, Sorbiytol, Gelatine, Cianida
Uji sensitivitas Antibiobiotik Ciprofloxacin, enrofloxacin, Trimetropin sulfate, Tetracicline, chloramphenicol, amoxicylin
Perencanaan penelitian
Penentuan lokasi
Perhitungan besaran sampel
Pemeriksaan Klinis dan pemeriksaan Suhu, Pulsu , Frekwensi Napas, Denyut Jantung
Isolasi dan identifikasi bakteri dengan kultur media Selenite, Rappaport Vassiliadish, XLD, Cromogenik
Ekstraksi DNA, PCR dan elektroforosis menngunakan gen 16S rRNA, InvA dan srB
Analisis Data
Sequencing DNA
Besaran Sampel
Pemeriksaan Klinis
Koleksi Sampel
Swab kloaka
Sampel swab kloaka dimasukkan dalam Amies Transport Media
Menggunakan Ice pack gell agar suhu dalam container terjaga 1 °C - 8 °C.
Pengambilan sampel
Isolasi dan Identifikasi
Sampel dipupuk ke dalam 10 ml Selenite dan di inkubasi selama 18-24 jam
100 µl
Dipupuk pada Rapappord Vasiliadish suhu 42°C selama 24 jam
XLD Agar
Dipupuk media XLD suhu 35°C. selama 24 jam
Dipupuk media cromogenik suhu 35°C. selama 24 jam
Nutrient Broth.
Uji sensitivitas
Voges Proskauer
LIA
Methil Red
Indole
Citrate
Urea Agar
Lactose, Dulcito, sorbitol dan Broth
Gelatine Broth
TSIA
Pemeriksaan PCR
Kit Ekstraksi yang digunakan adalah Quick DNA Fungal/Bakterial Miniprep Kit (Zymo, Amerika)
PCR Proses
25 μl master mix My Taq Red MixTM (Bioline, Amerika), 3 μl primer (Forward dan Reverse), 9 μl ddH2O dan 5 μl template DNA
Isolat
Elektroforesis
PCR Proses
2. Primer yang digunakan
3. Thermocyler siklus 35 kali
Pre-denaturasi: 95°C 1 menit
Denaturasi: 95°C 1 menit
Annealing: 55,9°C 1 menit (16 S rNA), 55,8°C (InvA) 56,8 °C (ssrB)
Ekstensi: 72°C 1 menit
Ekstensi akhir: 72°C 5 menit
4. Visualisasi menggunakan
Gel elektroforosis 1,5 %, TBE 1 %, pewarnaan Invitrogen, Ladder SMOBIO 100 bp
Proses elektroforosis 95 V selama 40 menit.
5. Sequencing menggunakan primer InvA 1138 bp (Genetica Science)
Gen 16S rRNA (201 bp)
F: CTCTTGCCATCAGATGTGCC
R: TTCTTCATACACGCGGCATG
Gen InvA (1138 bp)
F: TTCCGCAACACATAGCCAAG
R: AAATTATCGCCACGTTCGGG
Gen ssrB (701 bp)
F: GGACCTCTTGCTGGCTGATA
R: ATGATTGGTCGTGTCAGCG
Analisis Genetik
Proses pensejaran dilakukan dengan mensejajarkan rantai DNA bakteri hasil sequencing dengan file FASTA DNA bakteri dari Gen Bank menggunakan softwere Mega X.0. Hasil dari pensejajaran DNA dimasukkan dalam BLAST untuk mencari kesamaan atau homologi dengan bakteri lain. Dilakukan pembuatan pohon phylogeny untuk membantu dalam pengelompokkan organisme/kekerabatan.
Uji Sensitivitas Antibiotik
Uji sensitivitas bakteri terhadap antibiotika dengan metode difusi zona hambat oleh Kirby-Bauer merujuk Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI) (Hudzicki, 2009). Antibiotik yang diujikan yaitu disc antibiotik siprofloksasin, enrofloksasin, tetrasiklin, trimetropinsulfat, amoksisilin dan klotrampenikol (Elgohary et al., 2020)
Analisis Data
Data hasil pemeriksaan klinis serta identifikasi Salmonella spp secara fenotip dan PCR dianalisis secara deskriptif
HASIL PENELITIAN
Hasil Penelitian
Hasil isolasi bakteri Salmonella sp
Hasil pemupukan bakteri diperoleh 26 isolat bakteri dari 48 sampel pada media XLD
Pemupukan bakteri pada media Chrom Agar Salmonella (CSA) (SRL, India) menunjukkan bahwa semua koloni bakteri menghasilkan warna merah muda.
Berdasarkan referensi, koloni dengan warna merah muda tersebut adalah Salmonella (Schönenbrücher et al., 2008)
Hasil pemupukan swab kulit, alas, tempat pakan, karung dan box tidak terdapat hasil positif pada media XLD dan Cromed Salmonella Agar.
Kelompok | n | Selenite Broth | RVBroth | XLD | CSA |
Lizard | 36 | 36 | 36 | 20 | 20 |
Ular | 10 | 10 | 10 | 4 | 4 |
Kura-kura | 2 | 2 | 2 | 2 | 2 |
Jumlah | 48 | 48 | 48 | 26 | 26 |
Pengecatan Gram
Hasil pewarnaan Gram menunjukkan bahwa sel bakteri berbentuk batang dan berwarna merah muda dengan latar belakang kebiruan. Berdasarkan pengamatan ini, bakteri diidentifikasi sebagai Gram negatif
Hasil pengujian Biokimiawi
Pengujian Biokimiawi
Pengujian Biokimiawi
Uji Biokimia
Hasil Pengujian
Hasil pengujian positif lactosa bahwa semua isolat kemungkinan termasuk subspesies diarizonae, indica, arizonae, S. bongori
Hasil pemupukan positif dulcitol menunjukkan yang kemungkinan besar termasuk subspesies S. indica atau S. bongori.
Hasil uji positif sorbitol menunjukkan isolate kemungkinan subspesies S. enterica, salamae, arizonae, diarizonae, houtenae, dan S. bongori,.
Hasil uji positif gelatin menunjukkan mampu melisiskan gelatin kemungkinan adalah Salmonella enterica subsp. indica, salamae, arizonae, diarizonae, houtenae, dan S. bongori, sedangkan isolat yang tidak melisiskan gelatin diduga merupakan S. enterica subsp. enterica.(19)
Hasil uji KCN tidak tumbuh maka kemungkinan adalah S. enterica subsp. enterica, arizonae, diarizonae, salamae, dan indica
(lactose +)(dulcitol +)(sorbitol +)(gelatin-)(KCN -)= diarizonae, arizonae, enterica
lactose +)(dulcitol -)(sorbitol +)(gelatin+) (KCN -)= S. diarizonae, enterica, bongori, arizonae, (indica) (19)
lactose +)(dulcitol -)(sorbitol +)(gelatin-)(KCN-) (33) = diarizonae, enterica, bongori, arizonae, indica
Identifikasi isolat bakteri dengan teknik PCR
| Kelompok | Isolat | 16SRNA | InvA | ssrB |
| Lizard | 20 | 20 | 9 | 10 |
| Ular | 4 | 4 | 4 | 3 |
| Kura-kura | 2 | 2 | 1 | 1 |
Total
| 26 | 26 | 14 | 13 | |
Identifikasi molekuler dengan PCR menggunakan gen 16S
Penelitian ini menunjukkan bahwa bakteri yang diisolasi menggunakan media XLD dan kromogenik agar terdeteksi pada identifikasi moekuler dengan panjang pita 201 bp.
Hasil penelitian ini menunjukkan penggunaan kromogenik sangat efektif digunakan deteksi adanya Salmonella spp.
Penggunaan primer 16S efektif digunakan dalam mendeteksi adanya bakteri Salmonella spp pada reptil
Identifikasi gen invasive gen InvA dan ssrB PCR
Penelitian ini menunjukkan bahwa setelah dilakukan deteksi menggunakan primer 16S dan dilakukan pengujian menggunakan gen InvA dan ssrB menunjukkan bahwa tidak semua isolat bakteri yang positif gen 16S positif pada gen InvA dan ssrB. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri mungkin memiliki gen tertentu dan tidak memiliki gen InvA atau ssrB.
Menurut beberapa jurnal mengatakan bahwa gen InvA baik untuk deteksi bakteri Salmonella spp, tetapi pada penelitian ini menunjukkan bahwa bakteri Salmonella spp meskipun tidak memiliki gen InvA dapat terdeteksi gen lain sperti ssrB.
Gen InvA sendiri memiliki sifat invasif pada sel sedangkan gen ssrB memiliki kemampuan menghidar dari fagosit makrofag.
Adanya gen InvA dan ssrB pada isolat bakteri yang sama menunjukkan bahwa bakteri memiliki potensi Zoonosis yang lebih besar dari adanya salah satu gen baik invA maupun ssrB saja
Keberadaan gen InvA dan ssrB
Kelompok | InvA+ssrB | InvA | ssrB |
Lizard | 6 | 3 | 4 |
Ular | 2 | 2 | 0 |
Kura-kura | 0 | 1 | 1 |
Total
| 8 | 6 | 5 |
Gen InvA terdeteksi 6 isolat (23,07 % dari total isolat), Gen ssrB yang mengatur sistem sekresi tipe III mendukung kelangsungan hidup dalam fagosom inang terdeteksi 5 isolat (19, 23 % dari total isolat), sementara kombinasi InvA dan ssrB ditemukan pada 8 isolat (30,8 % dari total isolat)). Keberadaan kombinasi gen ini menunjukkan potensi infektivitas dan virulensi yang lebih tinggi (Dieye et al., 2007; Tomljenovic et al., 2010)
Kadal menunjukkan tingkat risiko tinggi dengan 23,07 %. Isolat mengandung kombinasi gen InvA dan ssrB, menunjukkan potensi patogenitas tinggi.
Ular memiliki isolat lebih sedikit, 7,06 % isolat memiliki gen InvA, dan 7,06 % memiliki kombinasi InvA dan ssrB. Gen invA dan ssrB tersebut mengindikasikan risiko zoonosis yang tinggi dari kelompok ini (Pérez-Morales et al., 2017b; Wibisono et al., 2021).
Kura-kura memiliki risiko yang lebih rendah dengan hanya 3,84 % isolat yang membawa gen InvA dan ssrB, tanpa adanya kombinasi InvA dan ssrB
Hasil Sequencing dan Analisa genetik
Hasil sequencing sampel nomor 2 memiliki kedekatan genetik dengan Salmonella enterica ser reading dan chester 99, 90 %.
Isolat nomor 19, 20, 21, 22, 28, 33 dan 40 strain Barreilly dan Hadar sebesar 100 %
Isolat dari sampel nomor 46 menunjukkan kedekatan genetik dengan ini serovar reading dan chester sebesar 99,90 %.
Salmonella serovar reading
Bakteri Salmonella serovar chester
Salmonella enterica serovar Chester (disingkat: S. Chester) adalah salah satu serovar yang jarang ditemukan, tetapi dapat menyebabkan penyakit pada manusia, termasuk penyakit bawaan makanan (foodborne disease). Meskipun tidak sepopuler serovar Enteritidis atau Typhimurium, serovar Chester pernah terlibat dalam sejumlah wabah internasional dan nasional
1. Wabah Internasional (Eropa) – Tahun 2010
Wabah multinasional terjadi di beberapa negara Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Belanda. Penyebab: konsumsi makanan laut, terutama udang beku dan kerang dari India atau Asia Selatan.Sumber infeksi terkonfirmasi melalui whole-genome sequencing (WGS) dan pelacakan epidemiologis.( CDC, 2014),
2. Kasus domestik di Jepang (2005–2006)
Terjadi peningkatan isolat S. Chester dari pasien diare di beberapa rumah sakit. Sumber infeksi tidak dikonfirmasi secara spesifik, tetapi dicurigai dari makanan laut mentah.Menunjukkan kemampuan bertahan S. Chester dalam produk laut yang tidak diproses panas.(Taylor, 2012)
3. Kasus di Amerika Serikat
CDC melaporkan beberapa kasus sporadis dari S. Chester dalam sistem pemantauan PulseNet, meskipun jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan serovar lain.Terkait makanan seperti ayam, seafood, dan makanan impor (Lotta, 2019)
Beberapa isolat Salmonella Chester menunjukkan resistensi terhadap antibiotik seperti: Ampisilin,Tetrasiklin,Kloramfenikol
Salmonella enterica serovar Bareilly
Salmonella enterica serovar Bareilly (serovar Bareilly) adalah salah satu dari banyak serovar dari Salmonella enterica subsp. enterica, yang tergolong dalam grup serogrup C1. Meskipun tidak sepopuler serovar Typhimurium atau Enteritidis, S. Bareilly tetap penting secara epidemiologis karena kemampuannya menyebabkan penyakit bawaan makanan (foodborne disease).
1. Karakteristik Umum: Serogrup: C1, Struktur antigen: O:6,7; H:e,n,x, Tipe: Non-typhoidal Salmonella (NTS)
2. Sifat Klinis dan Penyakit: Menyebabkan gastroenteritis ringan hingga sedang pada manusia. Gejala meliputi: diare, demam, nyeri perut, mual, dan muntah. Biasanya bersifat self-limiting, namun bisa parah pada kelompok rentan (bayi, lansia, dan imunosupresif).
3. Sumber Penularan: Kontaminasi makanan dan air. Telah diidentifikasi dalam produk seperti: Produk susu, salad, sayuran mentah, Makanan laut, Rempah-rempah (misalnya kontaminasi pada bubuk kari dan herbal kering dalam beberapa outbreak)
4. Kasus Wabah: Wabah tahun 2012 di Amerika Serikat dan Kanada: Terkait dengan suplementasi herbal atau produk bubuk protein ditangani oleh CDC dan FDA. Terdapat laporan di berbagai negara lain (Inggris, India, Jepang), umumnya berkaitan dengan produk makanan olahan dan makanan siap saji.
5. Kedudukan Zoonosis: Seperti serovar non-typhoidal lain, S. Bareilly bersifat zoonotik, ditularkan dari hewan ke manusia.Reptil, unggas, dan hewan ternak bisa menjadi reservoir
Salmonella enterica serovar Hadar
Salmonella enterica serovar Hadar adalah salah satu serovar non-typhoidal (NTS) dari Salmonella enterica subsp. enterica, yang memiliki signifikansi penting dalam bidang kesehatan masyarakat dan kedokteran veteriner karena sering dikaitkan dengan kasus zoonosis melalui produk hewani, khususnya unggas
Karakteristik umum masuk dalam subgroub C2-C3, Antigen O 6 dan 8 serta, Antigen H f, g, s, termasuk non typoidal Salmonella (NTS)
Sumber utama daging ayam petelur, kalkun dan ayam pedaging, dan telur yang kurang masak
Kasus terkai wabah dilaporkan di Amerika, Eropa, dan Kanada
Termasuk top 10 serovar dari WHO dan EFSA
Resistensi Antibiotik: Ampisilin, Tetrasiklin, Sulfonamida
(sumber WHO dan EFSA)
Pembuatan pohon Philogeni
Hasil pembuatan pohon philogeni menunjukkan bahwa isolat reptil Bandara YIA memiliki kedekatan kekerabatan dengan Salmonella enterica subsp diarizonae, indica, enterica.
Beberapa jurnal menunjukkan bahwa umumnya Salmonella spp yang menginfeksi reptil biasanya adalah Salmonella bongori tetapi pada penelitian ini menunjukkan bahwa bakteri Salmonella yang ada pada reptil merupakan bakteri Salmonella enterica subsp eterica.
Hasil pembuatan pohon phylogeni memnunjukkan bahwa hasil pengujian secara fenotipik hampir sama dengan genotipik dimana Salmonella sp memiliki kedekatan dengan subsp enterica, arizonae, diarizonae tetapi subs indica memiliki sifat fenotipik yang agak jauh.
Terjadinya subtitusi menyebabkan perubahan asam amino pada posisi 525 dari protein K (Lisin) menjadi N (Asparagin) berdapmpak pada Sistem injeksi protein ke sel inang bisa gagal dan Menurunkan atau menghilangkan virulensi Salmonella.�Subtitusi nukleotida menyebabkan perubahan asam amino pada posisi 819membuat perubahan asam amino dari Isoleusin (I) ke Metionin (M) pada posisi ke-273 (I273M) pada protein InvA Salmonella adalah mutasi missense konservatif yang dapat mengganggu domain fungsional yang menghubungkan pori transmembran dan sitosol serta Membuat T3SS gagal menyalurkan efektor. (Ivonne, 2019)�Meskipun merupakan daerah kritis untuk virulensi tidak secara langsung menyebabkan resistensi antibiotik, namun dapat berdampak tidak langsung terhadap infeksi dan terapi. (Hur et all, 2013)�
Rentang Nukleotida | Fungsi dan Keterangan | Efeksubtitusi |
1-300 | Daerah pengikatan primer PCR (diagnostik) | Gagal PCR (false-negative |
301-450 | Domain transmembran 1 | Gangguan penempelan protein |
451-700 | Situs interaksi dengan ATPase dan kanal sekresi | Gagal membentuk saluran T3SS |
701-950 | berinteraksi langsung dengan sel inang | Gagal injeksi protein efektor |
951-1138 | Domain terminal (kurang konservatif) | Efek rendah, kecuali nonsense |
Perubahan jumlah nukleotida
Uji Sensitivitas Salmonella sp terhadap Antibiotik
S= Sensitif; I= Intermedier; R= Resisten. Beberapa Lizard memiliki resistensi terhadap antibiotik Trimetropin-Sulfamethoxazole, Amoxicyciline, Chloramphenichole dan Tetrasiklin
.
Hasil sequencing sampel nomor 2 (Kadal Lidah Biru) memiliki kedekatan genetik dengan Salmonella enterica ser reading dan chester 99, 90 %. Menurut literatur (Natalia, 2023) Salmonella reading merupakankan Multidrug Resisten pada penelitian ini resisten terhadap Tetrasiklin saja. Menurut Wondowssen, 2000) mengatakan bahwa Salmonella serovar chester resisten terhadap tetrasiklin dan kloramfenikol pada penelitian ini hanya terjadi pada tetrasiklin saja.
Isolat nomor 19, 20 (Kadal pensil buton), 21(Labi-labi), 22 (Ular Manopohon), 28 (Biawak), 33 (sanca bibir puti) dan 40 (cicak terbang) strain Bareilly dan Hadar sebesar 100 %. CDC (2012) menyebutkan bahwa Salmonella Bareilly resisten terhadap tetrasiklin pada penelitian ini tidak terdapat resistensi. EFSA (2023) menyebutkan Salmonella serovar Hadar resisten terhadap tetrasiklin dan sulfonamida pada penelitian ini tidak terdapat resistensi.
Isolat dari sampel nomor 46 (Bunglon surai) menunjukkan kedekatan henetik dengan ini serovar reading dan chester 99,90 %. Menurut literatur (Natalia, 2023) Salmonella reading merupakankan Multidrug Resisten pada penelitian ini tidak terjadi resistensi. Menurut Wondowssen, 2000) mengatakan bahwa Salmonella serovar chester resisten terhadap tetrasiklin dan kloramfenikol pada penelitian ini tidak terjadi ressistensi
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Saran
TERIMA KASIH