1 of 60

Pemeriksaan klinis dan Isolasi serta Identifikasi Bakteri Salmonella sp pada Reptil Indonesia yang dilalu-lintaskan melalui Bandara Yogyakarta International Airport

Pembimbing

drh. Heru Susetya, MP, PhD

Prof. Dr. drh. Soedarmanto Indarjulianto

​

Wahyu Samurwat

2 of 60

Latar Belakang

Reptile

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat tingginya kasus diare global disebabkan oleh bakteri Salmonella spp dan 11 % berhubungan dengan interaksi dengan reptil. Terdapat 1,35 jt kasus diare, 26 ribu dirawat di Rumah Sakit dan 420 orang meninggal setiap tahunnnya (Bjelland, 2020)

Permintaan pasar internasional terhadap hewan eksotik, khususnya reptil, mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir(Whiley et al., 2017)

Salmonelosis

Pemeriksaan dan diagnosis Salmonella spp pada reptil penting meliputi pemeriksaan klinis, kultur media, PC, dan sensitivitas bakteri untuk mendeteksi infeksi dengan cepat dan akurat . Selain itu pengawasan terhadap penyebaran bakteri Salmonella spp yang resisten antibiotik perlu diperhatikan

Pentingnya pemeriksaan

1

3

3

4

1

2

4

Zoonosis

Terdapat kasus sejumlah 88 dari 110 sampel positif Salmonella di Amerika (Casey et al., 2015)(Whiley et al., 2017) dan Temuan 4 dari 40 sampel swab kloaka positif Salmonella spp (Arnafia, 2016).

3 of 60

Proses Penularan

4 of 60

Kejadian Zoonosis Salmonella spp

5 of 60

Rumusan Masalah

  1. Apakah reptil yang dilalulintaskan melalui Bandar Udara Yogyakarta International Airport sehat secara klinis?
  2. Apakah reptil yang dilalulintaskan melalui Bandar Udara Yogyakarta International Airport membawa bakteri Salmonella?
  3. Apakah spesies bakteri Salmonella yang berasal dari reptil yang dilalu-lintaskan merupakan spesies yang memiliki potensi zoonosis?
  4. Apakah Salmonella sp. isolat reptil sensitif terhadap antibiotika?

​

​

​

​

6 of 60

Keaslian Penelitian

No

Peneliti

Judul Jurnal

Persamaan

Perbedaan

1

Danielle M

(2014)

Reptile Reservoirs and Seasonal Variation in the Environmental Presence of Salmonella in an Island Ecosystem, Stephens Island,

New Zealand

Sampel berasal dari swab kloaka metode yang digunakan menggunakan Isolasi Bakteri, dan Bahan yang digungakan dalam penelititan menggunakan media RVS dan XLD

Pada penelitian yang akan dilakukan menggunakan sampel swab kloaka saja. Metode yang digunakan menggunakan Isolasi bakteri dan menggunakan PCR. Penelitian ini tidak menggunakan sampel tanah dalam menggunakan pembanding.

2

Meredith M. Clancy (2016)

Salmonella infection and carriage in reptiles

in a zoological collection

Sampel yang digunakan dari swab kloaka reptile, Metode yang digunakan Isolasi bakteri menggunakan media. Bahan yang digunakan dalam pemeriksaan adalah bahan stndart pemeriksaan.

Penelitian yang dilakukan menggunakan sampel kloaka reptile yang ditranportasikan bukan merupakan pemeriksaan rutin dari kebun binatang. Sampel yang diambil merupakan sampel yang sehat dan menunjukkan gejala klinis. Metode yang dilakukan pengujian terhadap PCR

7 of 60

Keaslian Penelitian

No

Peneliti

Judul Jurnal

Persamaan

Perbedaan

3

Wyanda Arnafia (2016)

Isolation of Salmonella from reptiles in pet shop and its susceptibility to antibiotics in Indonesia

Sampel yang diambildari reptil yang sehat berasal dari swab sekitar kloaka reptile, metode yang digunakan menggunaka isolasi bakteri dan konfirmasi PCR, dan bahan yang digunakann adalah media RVS.

Penelitian yang dilakukan menggunakan sampel swab kloaka bukan berasal dari swab kulit sekitar kloaka. Media yang digunakan tidak menggunakan Salmonella ashigella agar dan bismuth sulphate agar.

4

T. P. Russo (2018)

Salmonella serotypes isolated in geckos kept in seven collections in southern Italy

​

Sampel yang diambil berasal dari swab sekitar kloaka reptile, metode yang digunakan menggunaka isolasi bakteri dan konfirmasi PCR, dan bahan yang digunakann adalah media RVS dan XLD

Penelitian yang dilakukan tidak menggunakan uji performan terhadap serotipe.

​

8 of 60

Keaslian Penelitian

No

Peneliti

Judul Jurnal

Persamaan

Perbedaan

5

Andrea McWhorter (2020)

In vitro invasiveness and antimicrobial resistance of Salmonella enterica subspecies isolated from wild and captive reptiles

Penelitian yang menggunakan sampel swab kloaka, Metode yang digunakana menggunakan Isolasi bakteri dan konfirmasi PCR, dan bahan yang digunakan menggunakan RVS dan XLD media

Pada penelitian ini dalam mentransportasikan menggunakan suhu tidak mencapai -20 °C tetapi menggunakan suhu – 4 °C Metode yang dilakukan tidak kultur invitro.

9 of 60

Tujuan

  1. Mengetahui status kesehatan secara klinis reptil yang dilalulintaskan melalui Bandar Udara Yogyakarta International Airport
  2. Isolasi dan identifikasi bakteri Salmonella pada reptil yang di dilalu-lintaskan melalui Bandar Udara Yogyakarta Internasional Airport
  3. Identifikasi Salmonella sp. isolat reptil yang memiliki potensi zoonosis
  4. Mengetahui sensitivitas Salmonella sp. terhadap antibiotik tertentu

​

10 of 60

Manfaat

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan:

  1. Mengetahui status kesehatan secara klinis reptil yang dilalulintaskan melalui Bandar Udara Yogyakarta International Airport.
  2. Isolasi dan identifikasi bakteri Salmonella pada reptil yang di dilalu-lintaskan melalui Bandar Udara Yogyakarta Internasional Airport.
  3. Identifikasi Salmonella sp. isolat reptil yang memiliki potensi zoonosis.
  4. Mengetahui sensitivitas Salmonella sp. terhadap antibiotik tertentu

​

​

​

11 of 60

Hipotesis

  1. Hewan reptil yang dilalulintaskan melalui Bandar Udara Yogyakarta International Airport sehat secara klinis
  2. Bakteri Salmonella dapat diisolasi dan diidentifikasi dari reptil yang di dilalu-lintaskan melalui Bandar Udara Yogyakarta Internasional Airport.
  3. Bakteri Salmonella sp. isolat reptil yang didentifikasi memiliki potensi zoonosis
  4. Salmonella sp. sensitif terhadap semua antibiotika

12 of 60

Pengertian Bakteri Salmonella spp

Salmonelosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella sp., yang pertama kali diisolasi oleh Theobald Smith pada tahun 1855 dari usus babi yang terinfeksi Classical Swine Fever (CSF).

Salmonella sp. merupakan bakteri Gram negatif berbentuk batang, bersifat fakultatif anaerob, tidak membentuk spora, dan termasuk famili Enterobacteriaceae.

Bakteri ini memiliki koloni berukuran panjang 2-5 mm dan lebar 0,8-1,5 mm, bersifat motil dengan flagela, namun dapat menjadi non-motil dalam kondisi tertentu (Dec et al., 2022; Moreno Switt et al., 2015).

​

13 of 60

Struktur Bakteri

14 of 60

Klasifikasi Salmonella spp

Menurut WHO bakteri ini diklasifikasikan menjadi dua spesies, yaitu S. enterica dan S. bongori. Salmonell. enterica terdiri dari enam subspecies yang terdiri dari subspesies enterica (I) menjadi penyebab utama infeksi pada manusia dan hewan berdarah panas, sementara subspesies lain dan S. bongori lebih sering ditemukan pada hewan berdarah dingin dan lingkungan.

Bakteri Salmonella sp telah diidentifikasi lebih dari 2500 serotipe Salmonella sp mayoritas ditemukan adalah subspesies enterica (Agbaje et al., 2011; Cobo-Simón et al., 2023; Kor- sak et al., 2004; Miroshnichenko et al., 2023).

15 of 60

Mekanisme Patogenesis

  1. Adhesi dan Invasi:
    1. Fimbriae: Salmonella menggunakan fimbriae untuk menempel pada sel inang. Struktur ini mengikat reseptor spesifik pada sel inang, yang memulai proses infeksi.
    2. Sistem Sekresi Tipe III (T3SS: Salmonella sp menggunakan dua T3SS yang dikodekan oleh pulau patogenisitas Salmonella (SPI). SPI-1 sangat penting untuk invasi sel epitel usus, sedangkan SPI-2 sangat penting untuk kelangsungan hidup intraseluler dan infeksi sistemik

2. Kelangsungan Hidup Intraseluler:

a. Vakuola yang mengandung Salmonella Cantaining Vaculoe SCV: merupakan kompartemen penting untuk kelangsungan hidup dan replikasi bakteri di dalam sel inang.

b. Protein Efektor:  berperan dalam memanipulasi proses sel inang untuk meningkatkan kelangsungan hidup dan replikasi bakteri. Efektor yang berperan dalam pemeliharaan SCV dan posisi intraseluler

​

16 of 60

Mekanisme Patogenesis

3. Penghindaran Respons Imun Host:

  • Gangguan Imunitas Adaptif: Salmonella spp dapat mengganggu fungsi sel dendritik (DC) dan aktivasi sel T penting untuk penyebaran sistemik. Penghindaran ini dimediasi oleh gen virulensi dalam SPI
  • Chitinase A (ChiA: ChiA membantu Salmonella menghindari respon imun dengan memodifikasi permukaan sel sehingga memfasilitasi invasi dan kelangsungan hidup intraselulerinang dan

4. Induksi Kematian Sel Inang:

  • Apoptosis dan Pyroptosis: Salmonella spp menginduksi kematian sel. SPI-memicu pyroptosis yang memecu makrofag dan menyebabkan peradangan serta penyebaran bakteri. SPI-2 dikaitkan dengan apoptosis yang yang membantu penyebaran bakteri

5. Pengaturan Faktor Virulensi:

  • Jaringan Regulasi: Ekspresi gen virulensi diatur secara ketat untuk memastikan kelangsungan hidup bakteri di dalam inang. Kegiatan ini melibatkan jalur genetik yang menyelaraskan respons patogen terhadap berbagai tahap infeksi

17 of 60

Gejala Klinis Hewan dan Manusia

18 of 60

Diagnosis

19 of 60

Kultur Media

Bakteri Salmonella sp. dilakukan pengujian dengan kultur media masih cukup baik digunakan dan penggunaan teknologi molekuler (PCR) sangat relevan digunakan.

Media seperti Selenite Broth direkomendasikan untuk sampel swab kloaka karena mampu menghambat bakteri non-Salmonella.

Media Rappaport Vasiliadis Broth, Xylose Lysine Deoxycholate Agar, dan media kromogenik direkomendasikan penggunaannya menurut WOAH untuk membantu meminimalkan pengguanaan pengujian biokimia ketika menghadapi kasus Salmonella yang bersifat atypical 2022 (Boer et al., 2019; Donaldson & Nicol, 2016; Epizootica, 2018; Grimont & Weill, 2007; International Standart Organisation, 2017; ISO, 2017; Lee et al., 2017; Pulford et al., 2019; Pusterla et al., 2010; Schönenbrücher et al., 2008; Yanestria et al., 2019)

​

20 of 60

Target gen

21 of 60

Waktu dan Tempat

  • Tempat pengambilan sampel hewan dilakukan di Balai Besar Karantina Indonesia Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
  • Pelaksanaan isolasi dan identifikasi bakteri, Pengujian Polymerase Chain Reaction (PCR) di Laboratorium Animal Scinece Laboratory Center Fapet UGM Yogyakarta.
  • Pengujian Squencing PCR dilakukan di Genetika Science.
  • Penelitian telah disetujui komite laik etik Fakultas Kedokteran Hewan UGM Nomor 30/EC-FKH/Int/2024

Penelitian ini dilakukan dari bulan Juli hingga Nopember 2024

27 Mei

22 of 60

Tahapan Penelitian

Pengujian pada media biokimia TSIA, LIA, MRVP, Indole, Urea, Citrate, Lactose, Dulcitol, Sorbiytol, Gelatine, Cianida

Uji sensitivitas Antibiobiotik Ciprofloxacin, enrofloxacin, Trimetropin sulfate, Tetracicline, chloramphenicol, amoxicylin

Perencanaan penelitian

Penentuan lokasi

Perhitungan besaran sampel

Pemeriksaan Klinis dan pemeriksaan Suhu, Pulsu , Frekwensi Napas, Denyut Jantung

Isolasi dan identifikasi bakteri dengan kultur media Selenite, Rappaport Vassiliadish, XLD, Cromogenik

Ekstraksi DNA, PCR dan elektroforosis menngunakan gen 16S rRNA, InvA dan srB

Analisis Data

Sequencing DNA

23 of 60

Besaran Sampel

  •  

24 of 60

Pemeriksaan Klinis

  • Pemeriksaan klinis meliputi suhu tubuh, frekuensi napas, pulsus dan denyut jantung.
  • Pemeriksaan suhu tubuh dilakukan menggunakan termometer melalui kloaka.
  • Frekuensi napas ditentukan dengan cara menghitung gerakan dada yang mengembang dan mengempis saat bernapas, atau dengan merasakan udara yang dikeluarkan melalui mulut hewan.
  • Pemeriksaan denyut jantung dilakukan dengan menggunakan stetoskop untuk mendengan secara langsung berapa kali jantung berdetak dalam tiap menitnya.
  • Pemeriksaan pulsus pada arteri bracialis, carotis dan caudalis

​

25 of 60

Koleksi Sampel

Swab kloaka

Sampel swab kloaka dimasukkan dalam Amies Transport Media

Menggunakan Ice pack gell agar suhu dalam container terjaga 1 °C - 8 °C.

26 of 60

Pengambilan sampel

27 of 60

Isolasi dan Identifikasi

Sampel dipupuk ke dalam 10 ml Selenite dan di inkubasi selama 18-24 jam

100 µl

Dipupuk pada Rapappord Vasiliadish suhu 42°C selama 24 jam

XLD Agar

Dipupuk media XLD suhu 35°C. selama 24 jam

Dipupuk media cromogenik suhu 35°C. selama 24 jam

28 of 60

Nutrient Broth.

Uji sensitivitas

Voges Proskauer

LIA

Methil Red

Indole

Citrate

Urea Agar

Lactose, Dulcito, sorbitol dan Broth

Gelatine Broth

TSIA

29 of 60

Pemeriksaan PCR

Kit Ekstraksi yang digunakan adalah Quick DNA Fungal/Bakterial Miniprep Kit (Zymo, Amerika)

PCR Proses

25 μl master mix My Taq Red MixTM (Bioline, Amerika), 3 μl primer (Forward dan Reverse), 9 μl ddH2O dan 5 μl template DNA

Isolat

Elektroforesis

30 of 60

PCR Proses

  1. Ekstraksi:metode adsorbs silika

2. Primer yang digunakan

​

​

3. Thermocyler siklus 35 kali

Pre-denaturasi: 95°C 1 menit

Denaturasi: 95°C 1 menit

Annealing: 55,9°C 1 menit (16 S rNA), 55,8°C (InvA) 56,8 °C (ssrB)

Ekstensi: 72°C 1 menit

Ekstensi akhir: 72°C 5 menit

4. Visualisasi menggunakan

Gel elektroforosis 1,5 %, TBE 1 %, pewarnaan Invitrogen, Ladder SMOBIO 100 bp

Proses elektroforosis 95 V selama 40 menit.

5. Sequencing menggunakan primer InvA 1138 bp (Genetica Science)

​

Gen 16S rRNA (201 bp)

F: CTCTTGCCATCAGATGTGCC

R: TTCTTCATACACGCGGCATG

​

Gen InvA (1138 bp)

F: TTCCGCAACACATAGCCAAG

R: AAATTATCGCCACGTTCGGG

Gen ssrB (701 bp)

F: GGACCTCTTGCTGGCTGATA

R: ATGATTGGTCGTGTCAGCG

31 of 60

Analisis Genetik

Proses pensejaran dilakukan dengan mensejajarkan rantai DNA bakteri hasil sequencing dengan file FASTA DNA bakteri dari Gen Bank menggunakan softwere Mega X.0. Hasil dari pensejajaran DNA dimasukkan dalam BLAST untuk mencari kesamaan atau homologi dengan bakteri lain. Dilakukan pembuatan pohon phylogeny untuk membantu dalam pengelompokkan organisme/kekerabatan.

​

32 of 60

Uji Sensitivitas Antibiotik

Uji sensitivitas bakteri terhadap antibiotika dengan metode difusi zona hambat oleh Kirby-Bauer merujuk Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI) (Hudzicki, 2009). Antibiotik yang diujikan yaitu disc antibiotik siprofloksasin, enrofloksasin, tetrasiklin, trimetropinsulfat, amoksisilin dan klotrampenikol (Elgohary et al., 2020)

​

Analisis Data

Data hasil pemeriksaan klinis serta identifikasi Salmonella spp secara fenotip dan PCR dianalisis secara deskriptif

​

33 of 60

HASIL PENELITIAN

34 of 60

Hasil Penelitian

35 of 60

Hasil isolasi bakteri Salmonella sp

Hasil pemupukan bakteri diperoleh 26 isolat bakteri dari 48 sampel pada media XLD

Pemupukan bakteri pada media Chrom Agar Salmonella (CSA) (SRL, India) menunjukkan bahwa semua koloni bakteri menghasilkan warna merah muda.

Berdasarkan referensi, koloni dengan warna merah muda tersebut adalah Salmonella (Schönenbrücher et al., 2008)

Hasil pemupukan swab kulit, alas, tempat pakan, karung dan box tidak terdapat hasil positif pada media XLD dan Cromed Salmonella Agar.

Kelompok

n

Selenite Broth

RVBroth

XLD

CSA

Lizard

36

36

36

20

20

Ular

10

10

10

4

4

Kura-kura

2

2

2

2

2

Jumlah

48

48

48

26

26

36 of 60

37 of 60

Pengecatan Gram

Hasil pewarnaan Gram menunjukkan bahwa sel bakteri berbentuk batang dan berwarna merah muda dengan latar belakang kebiruan. Berdasarkan pengamatan ini, bakteri diidentifikasi sebagai Gram negatif

38 of 60

Hasil pengujian Biokimiawi

39 of 60

Pengujian Biokimiawi

40 of 60

Pengujian Biokimiawi

41 of 60

42 of 60

Uji Biokimia

43 of 60

Hasil Pengujian

Hasil pengujian positif lactosa bahwa semua isolat kemungkinan termasuk subspesies diarizonae, indica, arizonae, S. bongori

Hasil pemupukan positif dulcitol menunjukkan yang kemungkinan besar termasuk subspesies S. indica atau S. bongori.

Hasil uji positif sorbitol menunjukkan isolate kemungkinan subspesies S. enterica, salamae, arizonae, diarizonae, houtenae, dan S. bongori,.

Hasil uji positif gelatin menunjukkan mampu melisiskan gelatin kemungkinan adalah Salmonella enterica subsp. indica, salamae, arizonae, diarizonae, houtenae, dan S. bongori, sedangkan isolat yang tidak melisiskan gelatin diduga merupakan S. enterica subsp. enterica.(19)

Hasil uji KCN tidak tumbuh maka kemungkinan adalah S. enterica subsp. enterica, arizonae, diarizonae, salamae, dan indica

(lactose +)(dulcitol +)(sorbitol +)(gelatin-)(KCN -)= diarizonae, arizonae, enterica

lactose +)(dulcitol -)(sorbitol +)(gelatin+) (KCN -)= S. diarizonae, enterica, bongori, arizonae, (indica) (19)

lactose +)(dulcitol -)(sorbitol +)(gelatin-)(KCN-) (33) = diarizonae, enterica, bongori, arizonae, indica

​

​

44 of 60

Identifikasi isolat bakteri dengan teknik PCR

​

Kelompok

Isolat

16SRNA

InvA

ssrB

​

Lizard

20

20

9

10

​

Ular

4

4

4

3

​

Kura-kura

2

2

1

1

Total

 

26

26

14

13

45 of 60

Identifikasi molekuler dengan PCR menggunakan gen 16S

Penelitian ini menunjukkan bahwa bakteri yang diisolasi menggunakan media XLD dan kromogenik agar terdeteksi pada identifikasi moekuler dengan panjang pita 201 bp.

Hasil penelitian ini menunjukkan penggunaan kromogenik sangat efektif digunakan deteksi adanya Salmonella spp.

Penggunaan primer 16S efektif digunakan dalam mendeteksi adanya bakteri Salmonella spp pada reptil

​

46 of 60

Identifikasi gen invasive gen InvA dan ssrB PCR

Penelitian ini menunjukkan bahwa setelah dilakukan deteksi menggunakan primer 16S dan dilakukan pengujian menggunakan gen InvA dan ssrB menunjukkan bahwa tidak semua isolat bakteri yang positif gen 16S positif pada gen InvA dan ssrB. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri mungkin memiliki gen tertentu dan tidak memiliki gen InvA atau ssrB.

Menurut beberapa jurnal mengatakan bahwa gen InvA baik untuk deteksi bakteri Salmonella spp, tetapi pada penelitian ini menunjukkan bahwa bakteri Salmonella spp meskipun tidak memiliki gen InvA dapat terdeteksi gen lain sperti ssrB.

Gen InvA sendiri memiliki sifat invasif pada sel sedangkan gen ssrB memiliki kemampuan menghidar dari fagosit makrofag.

Adanya gen InvA dan ssrB pada isolat bakteri yang sama menunjukkan bahwa bakteri memiliki potensi Zoonosis yang lebih besar dari adanya salah satu gen baik invA maupun ssrB saja

47 of 60

Keberadaan gen InvA dan ssrB

Kelompok

InvA+ssrB

InvA

ssrB

Lizard

6

3

4

Ular

2

2

0

Kura-kura

0

1

1

Total

 

8

6

5

Gen InvA terdeteksi 6 isolat (23,07 % dari total isolat), Gen ssrB yang mengatur sistem sekresi tipe III mendukung kelangsungan hidup dalam fagosom inang terdeteksi 5 isolat (19, 23 % dari total isolat), sementara kombinasi InvA dan ssrB ditemukan pada 8 isolat (30,8 % dari total isolat)). Keberadaan kombinasi gen ini menunjukkan potensi infektivitas dan virulensi yang lebih tinggi (Dieye et al., 2007; Tomljenovic et al., 2010)

Kadal menunjukkan tingkat risiko tinggi dengan 23,07 %. Isolat mengandung kombinasi gen InvA dan ssrB, menunjukkan potensi patogenitas tinggi.

Ular memiliki isolat lebih sedikit, 7,06 % isolat memiliki gen InvA, dan 7,06 % memiliki kombinasi InvA dan ssrB. Gen invA dan ssrB tersebut mengindikasikan risiko zoonosis yang tinggi dari kelompok ini (Pérez-Morales et al., 2017b; Wibisono et al., 2021).

Kura-kura memiliki risiko yang lebih rendah dengan hanya 3,84 % isolat yang membawa gen InvA dan ssrB, tanpa adanya kombinasi InvA dan ssrB

​

48 of 60

Hasil Sequencing dan Analisa genetik

Hasil sequencing sampel nomor 2 memiliki kedekatan genetik dengan Salmonella enterica ser reading dan chester 99, 90 %.

Isolat nomor 19, 20, 21, 22, 28, 33 dan 40 strain Barreilly dan Hadar sebesar 100 %

Isolat dari sampel nomor 46 menunjukkan kedekatan genetik dengan ini serovar reading dan chester sebesar 99,90 %.

49 of 60

Salmonella serovar reading

  • Bakteri Salmonella serovar reading : Laporan dari PubMed mendeskripsikan seorang pria berusia 37 tahun yang mengalami salmonellosis generalisata disebabkan S. Reading setelah bepergian di Indonesia, kemudian dirawat di Rusia (Moskow). Bakteri terisolasi dari darah dan tinjanya—ini merupakan kasus pertama di Eropa Timur (Elsyaningrat, 2022)
  • Bakteri Salmonella serovar reading terkait dengan konsumsi produk hewan, telur, daging, produk segar dan lain-lain
  • Studi genomik dari CDC dan mitra Kanada menunjukkan bahwa sejak November 2017 hingga Maret 2019, serovar Reading yang multidrug-resistant (MDR) menyebabkan wabah yang terhubung dengan konsumsinya produk kalkun mentah—menginfeksi sekitar 356–358 orang di 42 negara bagian AS dan Kanada, termasuk satu kematian (Santesh et all 2024)

50 of 60

Bakteri Salmonella serovar chester

Salmonella enterica serovar Chester (disingkat: S. Chester) adalah salah satu serovar yang jarang ditemukan, tetapi dapat menyebabkan penyakit pada manusia, termasuk penyakit bawaan makanan (foodborne disease). Meskipun tidak sepopuler serovar Enteritidis atau Typhimurium, serovar Chester pernah terlibat dalam sejumlah wabah internasional dan nasional

1. Wabah Internasional (Eropa) – Tahun 2010

Wabah multinasional terjadi di beberapa negara Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Belanda. Penyebab: konsumsi makanan laut, terutama udang beku dan kerang dari India atau Asia Selatan.Sumber infeksi terkonfirmasi melalui whole-genome sequencing (WGS) dan pelacakan epidemiologis.( CDC, 2014),

2. Kasus domestik di Jepang (2005–2006)

Terjadi peningkatan isolat S. Chester dari pasien diare di beberapa rumah sakit. Sumber infeksi tidak dikonfirmasi secara spesifik, tetapi dicurigai dari makanan laut mentah.Menunjukkan kemampuan bertahan S. Chester dalam produk laut yang tidak diproses panas.(Taylor, 2012)

3. Kasus di Amerika Serikat

CDC melaporkan beberapa kasus sporadis dari S. Chester dalam sistem pemantauan PulseNet, meskipun jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan serovar lain.Terkait makanan seperti ayam, seafood, dan makanan impor (Lotta, 2019)

Beberapa isolat Salmonella Chester menunjukkan resistensi terhadap antibiotik seperti: Ampisilin,Tetrasiklin,Kloramfenikol

​

51 of 60

Salmonella enterica serovar Bareilly

Salmonella enterica serovar Bareilly (serovar Bareilly) adalah salah satu dari banyak serovar dari Salmonella enterica subsp. enterica, yang tergolong dalam grup serogrup C1. Meskipun tidak sepopuler serovar Typhimurium atau Enteritidis, S. Bareilly tetap penting secara epidemiologis karena kemampuannya menyebabkan penyakit bawaan makanan (foodborne disease).

1. Karakteristik Umum: Serogrup: C1, Struktur antigen: O:6,7; H:e,n,x, Tipe: Non-typhoidal Salmonella (NTS)

2. Sifat Klinis dan Penyakit: Menyebabkan gastroenteritis ringan hingga sedang pada manusia. Gejala meliputi: diare, demam, nyeri perut, mual, dan muntah. Biasanya bersifat self-limiting, namun bisa parah pada kelompok rentan (bayi, lansia, dan imunosupresif).

3. Sumber Penularan: Kontaminasi makanan dan air. Telah diidentifikasi dalam produk seperti: Produk susu, salad, sayuran mentah, Makanan laut, Rempah-rempah (misalnya kontaminasi pada bubuk kari dan herbal kering dalam beberapa outbreak)

4. Kasus Wabah: Wabah tahun 2012 di Amerika Serikat dan Kanada: Terkait dengan suplementasi herbal atau produk bubuk protein ditangani oleh CDC dan FDA. Terdapat laporan di berbagai negara lain (Inggris, India, Jepang), umumnya berkaitan dengan produk makanan olahan dan makanan siap saji.

5. Kedudukan Zoonosis: Seperti serovar non-typhoidal lain, S. Bareilly bersifat zoonotik, ditularkan dari hewan ke manusia.Reptil, unggas, dan hewan ternak bisa menjadi reservoir

​

52 of 60

Salmonella enterica serovar Hadar

Salmonella enterica serovar Hadar adalah salah satu serovar non-typhoidal (NTS) dari Salmonella enterica subsp. enterica, yang memiliki signifikansi penting dalam bidang kesehatan masyarakat dan kedokteran veteriner karena sering dikaitkan dengan kasus zoonosis melalui produk hewani, khususnya unggas

Karakteristik umum masuk dalam subgroub C2-C3, Antigen O 6 dan 8 serta, Antigen H f, g, s, termasuk non typoidal Salmonella (NTS)

Sumber utama daging ayam petelur, kalkun dan ayam pedaging, dan telur yang kurang masak

Kasus terkai wabah dilaporkan di Amerika, Eropa, dan Kanada

Termasuk top 10 serovar dari WHO dan EFSA

Resistensi Antibiotik: Ampisilin, Tetrasiklin, Sulfonamida

(sumber WHO dan EFSA)

​

53 of 60

Pembuatan pohon Philogeni

Hasil pembuatan pohon philogeni menunjukkan bahwa isolat reptil Bandara YIA memiliki kedekatan kekerabatan dengan Salmonella enterica subsp diarizonae, indica, enterica.

Beberapa jurnal menunjukkan bahwa umumnya Salmonella spp yang menginfeksi reptil biasanya adalah Salmonella bongori tetapi pada penelitian ini menunjukkan bahwa bakteri Salmonella yang ada pada reptil merupakan bakteri Salmonella enterica subsp eterica.

Hasil pembuatan pohon phylogeni memnunjukkan bahwa hasil pengujian secara fenotipik hampir sama dengan genotipik dimana Salmonella sp memiliki kedekatan dengan subsp enterica, arizonae, diarizonae tetapi subs indica memiliki sifat fenotipik yang agak jauh.

​

54 of 60

Terjadinya subtitusi menyebabkan perubahan asam amino pada posisi 525 dari protein K (Lisin) menjadi N (Asparagin) berdapmpak pada Sistem injeksi protein ke sel inang bisa gagal dan Menurunkan atau menghilangkan virulensi Salmonella.�Subtitusi nukleotida menyebabkan perubahan asam amino pada posisi 819membuat perubahan asam amino dari Isoleusin (I) ke Metionin (M) pada posisi ke-273 (I273M) pada protein InvA Salmonella adalah mutasi missense konservatif yang dapat mengganggu domain fungsional yang menghubungkan pori transmembran dan sitosol serta Membuat T3SS gagal menyalurkan efektor. (Ivonne, 2019)�Meskipun merupakan daerah kritis untuk virulensi tidak secara langsung menyebabkan resistensi antibiotik, namun dapat berdampak tidak langsung terhadap infeksi dan terapi. (Hur et all, 2013)�

Rentang Nukleotida

Fungsi dan Keterangan

Efeksubtitusi

1-300

Daerah pengikatan primer PCR (diagnostik)

Gagal PCR (false-negative

301-450

Domain transmembran 1

Gangguan penempelan protein

451-700

Situs interaksi dengan ATPase dan kanal sekresi

Gagal membentuk saluran T3SS

701-950

berinteraksi langsung dengan sel inang

Gagal injeksi protein efektor

951-1138

Domain terminal (kurang konservatif)

Efek rendah, kecuali nonsense

55 of 60

Perubahan jumlah nukleotida

56 of 60

Uji Sensitivitas Salmonella sp terhadap Antibiotik

S= Sensitif; I= Intermedier; R= Resisten. Beberapa Lizard memiliki resistensi terhadap antibiotik Trimetropin-Sulfamethoxazole, Amoxicyciline, Chloramphenichole dan Tetrasiklin

.

57 of 60

Hasil sequencing sampel nomor 2 (Kadal Lidah Biru) memiliki kedekatan genetik dengan Salmonella enterica ser reading dan chester 99, 90 %. Menurut literatur (Natalia, 2023) Salmonella reading merupakankan Multidrug Resisten pada penelitian ini resisten terhadap Tetrasiklin saja. Menurut Wondowssen, 2000) mengatakan bahwa Salmonella serovar chester resisten terhadap tetrasiklin dan kloramfenikol pada penelitian ini hanya terjadi pada tetrasiklin saja.

Isolat nomor 19, 20 (Kadal pensil buton), 21(Labi-labi), 22 (Ular Manopohon), 28 (Biawak), 33 (sanca bibir puti) dan 40 (cicak terbang) strain Bareilly dan Hadar sebesar 100 %. CDC (2012) menyebutkan bahwa Salmonella Bareilly resisten terhadap tetrasiklin pada penelitian ini tidak terdapat resistensi. EFSA (2023) menyebutkan Salmonella serovar Hadar resisten terhadap tetrasiklin dan sulfonamida pada penelitian ini tidak terdapat resistensi.

Isolat dari sampel nomor 46 (Bunglon surai) menunjukkan kedekatan henetik dengan ini serovar reading dan chester 99,90 %. Menurut literatur (Natalia, 2023) Salmonella reading merupakankan Multidrug Resisten pada penelitian ini tidak terjadi resistensi. Menurut Wondowssen, 2000) mengatakan bahwa Salmonella serovar chester resisten terhadap tetrasiklin dan kloramfenikol pada penelitian ini tidak terjadi ressistensi

​

58 of 60

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

  1. Hewan yang dilalu-lintaskan melalui Bandara YIA dalam keadaan sehat
  2. Sebanyak 26 dari 48 reptil yang dilalu-lintaskan melalui Bandara YIA dapat diisolasi bakteri Salmonella sp
  3. Bakteri yang solat reptil yang dialu-lintaskan melalui Bandara YIA adalah bakteri Salmonella enterica dan bongori, yang bersifat zoonosis.
  4. Bakteri Salmonella sp isolat reptil yang dialu-lintaskan melalui Bandara YIA memiliki sensitvitas tinggi terhadap antibiotiik enrofloxacin, trimetropin-sulfamethoxazole, amoxicylin dan Chlorampenichol

Saran

  1. Perlu dilakukan pengujian faktor genetik yang berpengaruh terhadap resistensi bakteri Salmonella sp. tehadap antibiotika.
  2. Perlu peningkatan pemeriksaan reptil yang dilalu-lintaskan secara laboratoris, sehingga potensi membawa Salmonella sp dapat dicegah

​

59 of 60

​

​

TERIMA KASIH

60 of 60