Mata Pelajaran : Ekonomi
Kelas/Semester : X/Ganjil
Alokasi Waktu : 3 X 3 JP
Materi pokok : Peran Pelaku Ekonomi Dalam Kegiatan Ekonomi
Kompetensi Dasar
3.3 Menganalisis peran pelaku ekonomi dalam kegiatan ekonomi
4.3 Menyajikan hasil analisis peran pelaku ekonomi dalam kegiatan ekonomi
Produksi Sebagai Kegiatan Ekonomi
Tujuan Pembelajaran:
Setelah kegiatan pembelajaran ini diharapkan Anda dapat menjelaskan kegiatan ekonomi dan mengidentifikasi perilaku produsen sehingga dapat menerapkannya dengan cermat dan teliti dalam kehidupan sehari-hari dengan sikap kritis, kreatif, jujur, dan bertanggung jawab.
1. Pengertian Produksi
Produksi adalah setiap usaha manusia untuk menciptakan atau menambahnilai guna suatu barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia.
Input Proses Output
• Input adalah segala sesuatu yang akan diolah
• Proses merupakan kegiatan yang mengubah atau mengolah input
• Output adalah hasil dari proses pengolahan bisa berupa barang atau jasa
2. Tujuan Produksi:
a. memperbanyak jumlah barang/jasa;
b. menghasilkan barang/jasa yang berkualitas tinggi;
c. memenuhi kebutuhan sesuai dengan perkembangan peradaban dan kebudayaan serta perkembangan teknologi;
d. mengganti barang yang rusak atau habis;
e. memenuhi pasar dalam negeri untuk kebutuhan perusahaan dan rumah tangga;
f. memenuhi pasar internasional;
g. mendapatkan keuntungan;
h. meningkatkan kemakmuran.
3. Faktor-faktor Produksi
Tentunya dalam mencapai tujuan itu kegiatan produksi membutuhkan faktor-faktor produksi untuk menghasilkan produk baik barang atau jasa.
Faktor produksi terdiri dari:
b. Faktor produksi turunan, meliputi modal dan kewirausahaan.
4. Proses Produksi
Proses produksi adalah suatu kegiatan yang dilakukan melalui tahapantahapan tertentu untuk menghasilkan atau menambah manfaat barang/jasa. Pengertian lain tentang proses produksi adalah urutan pengolahan dari bahan mentah sampai menjadi barang jadi.
Ada dua macam proses produksi yang dijelaskan sebagai berikut.
a. Proses produksi kontinue atau terus-menerus
b. Proses produksi intermitten atau berselingan
PERILAKU PRODUSEN
1. Fungsi Produksi/Persamaan Produksi
Dalam kegiatan produksi menyangkut dua persoalan yang mempunyai hubungan fungsional
atau saling memengaruhi, yaitu berapa output yang harus diproduksikan dan berapa faktor-faktor produksi (input) yang akan dipergunakan?
Secara matematis fungsi produksi dapat dirumuskan sebagai berikut.
Q = Quantity (jumlah barang yang dihasilkan)
f = Fungsi (simbol persamaan fungsional)
C = Capital (modal atau sarana yang digunakan)
L = Labour (tenaga kerja)
R = Resources (sumber daya alam)
T = Technology (teknologi dan kewirausahaan)
Dari persamaan tersebut dapat dikatakan bahwa output merupakan fungsi dari input, artinya setiap barang yang dihasilkan merupakan akibat dari input yang dimasukkan.
2. Hukum hasil lebih yang makin berkurang (The Law of Diminishing Returns) oleh David Ricardo
Proses produksi dapat diartikan sebagai proses urutan kegiatan yang harus dilaksanaan dalam usaha untuk menghasilkan barang maupun jasa. Agar proses produksi mencapai titik optimum, maka diperlukan adanya peningkatan produktivitas dengan jalan menambah faktor-faktor produksi.
Akan tetapi menurut David Ricardo penambahan faktor produksi tidak selalu dapat memberikan hasil yang sebanding, seperti yang digambarkan dalam hukum hasil lebih yang semakin berkurang atau the law of diminishing returns yang berbunyi “Dengan suatu teknik tertentu, maka mulai titik tertentu penambahan faktor produksi tidak lagi memberikan penambahan hasil produksi yang sebanding”. Atau dengan kata lain tambahan hasil lamakelamaan akan menurun, meskipun faktor produksi terus bertambah.
Sebidang tanah yang diolah 1 tenaga kerja dan satuan modal lainnya menghasilkan 10 kwintal beras. Selanjutnya bisa melihat tabel berikut:
Tabel di atas menunjukkan bahwa penambahan tenaga dari 2 hingga penambahan 3 memberikan tambahan hasil yang semakin meningkat. Pada penambahan tenaga kerja dari 4 sampai selanjutnya mulai mengalami penurunan, dan hukum penambahan hasil yang makin menurun berlaku pada penambahan tenaga kerja ke 4. Untuk lebih jelasnya Anda perhatikan kurva yang menggambarkan hubungan antara satuan tenaga dan modal dengan tambahan
hasil.
Jika penambahan tenaga kerja sudah memberikan tambahan hasil yang menurun, sebaiknya perluasan produksi dengan menambah tenaga kerja dihentikan. Perluasan produksi dilakukan dengan cara lain seperti penggunaan teknologi, di bidang pertanian menggunakan bibit unggul dan pemupukan. Dengan cara demikian penambahan faktor produksi akan mempertahan peningkatan jumlah produksi, dengan demikian hukum tambahan hasil yang
menurun tidak berlaku. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh di bawah ini.
3. Faktor produksi dengan Dua Input Variabel
a. Kurva isoquant
Kurva Isoquant adalah kurva yang menunjukkan berbagai kombinasi faktor produksi yang menghasilkan tingkat produksi yang sama. contohnya tenaga kerja (L) dan modal (K).
Perhatikan kurva berikut:
Ciri-ciri Isoquant:
• Mempunyai kemiringan negatif
• Semakin ke kanan kedudukan isoquant menunjukkan semakin tinggi jumlah output
• Isoquant tidak berpotongan dengan isoquant yang lainnya
• Isoquant cembung ke titik origin
• Isoquant yang lebih tinggi menunjukkan output yang lebih besar dan terjadi sebaliknya.
b. Kurva Isocost
Kurva Isocost adalah kurva yang menunjukkan berbagai kombinasi antara 2 input yang berbeda yang dapat dibeli oleh produsen pada tingkat biaya yang sama.
Perhatikan kurva berikut:
Kurva bersinggungan isoquant dan isocost
Jika kurva Isoquant bersinggungan dengan kurva Isocost maka akan terjadi keseimbangan produsen. Titik singgung kurva Isoquant dengan kurva Isocost disebut LCC (Least Cost Combination)
4. Bidang dan Tahapan Produksi
a. Pembagian Produksi
Produksi dapat digolongkan dalam lima bidang, yaitusebagai berikut.
4) Bidang perdagangan, artinya setiap usaha untuk membeli barang dan menjualnya kembali tanpa merubah bentuk. Contoh produksi bidang perdagangan, antara lain, perdagangan regional, perdagangan nasional dan internasional.
5) Bidang jasa, artinya setiap usaha memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan tujuan memperoleh keuntungan. Contoh produksi bidang jasa, antara lain, perbankan, asuransi, pengangkutan, jasa, dan hukum.
b. Tahapan Produksi
Lapangan produksi dapat digolongkan menjadi tiga sektor produksi atau tiga tahapan produksi berikut ini.
1) Sektor produksi primer, meliputi bidang ekstraktif dan bidang agraris.
2) Sektor produksi sekunder, meliputi bidang industri dan bidangperdagangan.
3) Sektor produksi tersier, meliputi bidang jasa/ pelayanan
5. Produktivitas Produksi
Produktivitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan sejumlah barang dengan faktor produksi yang tersedia. Produktivitas dapat ditingkatkan dengan cara sebagai berikut.
4) Rasionalisasi, yaitu upaya untuk meningkatkan jumlah produksi dengan cara mengeluarkan kebijakan yang rasional yang mengarah pada efisiensi produksi agar produktivitas optimal.
Upaya rasionalisasi dapat ditempuh dengan jalan sebagai berikut:
6. Kurva Kemungkinan Produksi (Production Possibility Curve = PPC)
Dalam ekonomi, kurva kemungkinan produksi adalah grafik atau kurva yang menggambarkan berbagai kemungkinan kombinasi maksimum output yang dapat dihasilkan. Contoh suatu negara memproduksi dua jenis barang yaitu barang (X) sebagai barang konsumsi dan (Y) sebagai barang modal. Jumlah total maksimum yang dapat diproduksi sebagai barang modal adalah sebesar 1.000 unit, pilihan kombinasi maksimum yang dapat dipilih akan tampak dalam gambar berikut
Dari Gambar diatas, sepanjang kurva PPC jumlah produksi maksimum yaitu 1.000unit dengan asumsi sebagai berikut.
KONSEP BIAYA PRODUKSI, PENERIMAAN, DAN LABA MAKSIMUM
1. Biaya Produksi
Biaya produksi adalah jumlah keseluruhan biaya yang dikeluarkan produsen untuk menghasilkan sejumlah output atau barang yang diproduksi. Untuk memperoleh keuntungan maksimum, setiap produsen harus berusaha menekan biaya produksi serendah mungkin.
Pada dasarnya biaya produksi ada dua macam, yaitu :
Secara matematis Konsep biaya produksi (fungsi biaya produksi ) adalah:
a. Biaya Total (Total Cost = TC) artinya keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk produksi.
b. Biaya Tetap Rata-rata (Average Fixed Coast = AFC) artinya biaya tetap yang dibebankan pada setiap unit produksi
c. Biaya Variabel Rata-rata (Average Variabel Cost = AVC) artinya biaya variabel yang dibebankan pada setiap unit produksi
d. Biaya Rata-rata (Average Cost = AC) atau Biaya Total Rata-rata (Average Total Cost = ATC) artinya biaya total yang dibebankan pada setiap unit produksi atau setiap output. Pada saat kurva AC menurun berarti terjadi Economisc of Scale (efisiensi biaya produksi), yakni situasi dimana biaya produksi rata-rata (AC) menurun dengan bertambahnya produksi dan pada saat kurva AC menaik berarti terjadi Diseconomics of Scale.
e. Biaya Marjinal (Marginal Cost = MC) artinya tambahan biaya karena adanya tambahan satu unit produksi
f. Tingkat output pada biaya total minimum, artinya besarnya biaya total pada unit yang minimum
g. Tingkat output pada biaya rata-rata minimum artinya besarnya biaya ratarata pada unit yang minimum
2. Penerimaan Produsen (Revenue)
Penerimaan produsen (revenue) adalah penerimaan yang diperoleh dari hasil penjualan outputnya.
Secara matematis konsep revenue (Fungsi penerimaan) antara lain :
a. Total Revenue (Penerimaan Total = TR) yaitu penerimaan produsen sebagai hasil penjualan seluruh outputnya. Total Revenue adalah jumlah output (Quantity) kali harga jual (Price)
1. Pengertian Distribusi
Distribusi adalah menyalurkan barang/jasa hasil produksi kepada konsumen. Sistem distribusi klasik adalah melalui transaksi langsung antara produsen dan konsumen, atau melalui transaksi yang dilakukan di pasar (pasar nyata yaitu tempat untuk pertemuan penjual dan pembeli).
2. Tujuan Distribusi
3. Fungsi distribusi
a. Fungsi Pokok Distribusi
Yang dimaksud dengan fungsi pokok adalah tugas-tugas yang mau tidak mau harus dilaksanakan. Dalam hal ini fungsi pokok distribusi meliputi:
1) Pengangkutan ( Transportasi). Pada umumnya tempat kegiatan produksi berbeda dengan tempat tinggal konsumen, perbedaan tempat ini harus diatasi dengan kegiatan pengangkutan. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan semakin majunya teknologi, kebutuhan manusia semakin banyak. Hal ini mengakibatkan barang yang disalurkan semakin besar, sehingga membutuhkan alat transportasi (pengangkutan).
2) Penjualan ( Selling). Di dalam pemasaran barang, selalu ada kegiatan menjual yang dilakukan oleh produsen. Pengalihan hak dari tangan produsen kepada konsumen dapat dilakukan dengan penjualan. Dengan adanya kegiatan ini maka konsumen dapat menggunakan barang tersebut
4) Penyimpanan ( Stooring). Sebelum barang-barang disalurkan pada konsumen biasanya disimpan terlebih dahulu. Dalam menjamin kesinambungan, keselamatan dan keutuhan barang-barang, perlu adanya penyimpanan (pergudangan). Contoh, Anda bisa lihat mengapa orangtua kita ada yang membuat lumbung padi?
5) Pembakuan Standar Kualitas Barang. Dalam setiap transaksi jual-beli, banyak penjual maupun pembeli selalu menghendaki adanya ketentuan mutu, jenis dan ukuran barang yang akan diperjualbelikan. Oleh karena itu perlu adanya pembakuan standar baik jenis, ukuran, maupun kualitas barang yang akan diperjualbelikan tersebut. Pembakuan (standardisasi) barang ini dimaksudkan agar barang yang akan dipasarkan atau disalurkan sesuai dengan harapan.
6) Penanggung Resiko Pada saat kegiatan distribusi, maka seorang distributor tentunya akan menanggung resiko. Pada jaman sekarang untuk menanggung resiko yang muncul bisa dilakukan kerjasama dengan lembaga/perusahaan asuransi.
b. Fungsi Tambahan Distribusi
1) Menyeleksi. Kegiatan ini biasanya diperlukan untuk distribusi hasil pertanian dan produksi yang dikumpulkan dari beberapa pengusaha. Misalnya produksi tembakau perlu diseleksi berdasarkan mutu/standar yang biasa berlaku, produksi buah-buahan diseleksi berdasarkan ukuran besarnya.
2) Mengepak/Mengemas. Untuk menghindari adanya kerusakan atau hilang dalam pendistribusian, maka barang harus dikemas dengan baik. Misalnya buah-buahan atau sayuran, baju, TV.
3) Pembelian ( Buying). Setiap ada penjualan berarti ada pula kegiatan pembelian. Jika penjualan barang dilakukan oleh produsen, maka pembelian dilakukan oleh orang yang membutuhkan barang tersebut.
3) Memberi Informasi. Untuk memberikan kepuasan yang maksimal kepada konsumen, produsen perlu memberi informasi secukupnya kepada perwakilan daerah atau kepada konsumen yang dianggap perlu informasi. Informasi yang paling tepat bisa melalui iklan.
4. Pihak-pihak dalam Distribusi
Jika dibuatkan bagan, maka hubungan antara Produsen, Saluran Distribusi dan Konsumen adalah sebagai berikut:
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi
6. Mata rantai distribusi. Distribusi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu sebagai berikut.
KONSUMSI SEBAGAI KEGIATAN EKONOMI
1. Pengertian Konsumsi dan Konsumen. Konsumsi adalah kegiatan menghabiskan atau mengurangi nilai guna suatu barang dan jasa. Konsumen adalah orang atau pihak yang melakukan kegiatan konsumsi tersebut. Benda yang dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan disebut benda konsumsi. Benda konsumsi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia
b. dapat habis jika digunakan secara terus-menerus
c. habisnya nilai barang
2. Tujuan Konsumsi:
a. mengurangi nilai guna barang atau jasa secara bertahap.
b. menghabiskan nilai guna barang sekaligus.
c. memuaskan kebutuhan secara fis
3. Faktor yang mempengaruhi konsumsi
a. Faktor internal
1) Pendapatan. Orang yang berpendapatan tinggi menggunakan pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder, tersier, bahkan sisanya ditabung. Adapun orang yang berpendapatan rendah menghabiskan pendapatannya untuk mengkonsumsi barang kebutuhan pokok.
2) Usia dan jenis kelamin. Usia seseorang memengaruhi tingkat konsumsi. Semakin dewasa seseorang, tingkat konsumsinya semakin tinggi.
3) Pola hidup. Pola hidup seseorang berpengaruh terhadap tingkat konsumsinya. Jika biasa dengan hidup boros maka pengeluaran konsumsinya relatip besar. sebaliknya jika biasa dengan hidup hemat maka tingkat konsumsinya cenderung kecil.
4) Selera. Banyak orang yang mengesampingkan pendapatannya untuk mendapatkan barang atau jasa agar mengikuti seleranya.
b. Faktor Eksternal
4. Nilai Suatu Barang. Nilai barang dan jasa dapat dibedakan menjadi dua macam nilai:
a. Nilai Pakai (Value in Use). Jika Anda belajar daring menggunakan laptop, dikatakan laptop yang digunakan memiliki nilai pakai. Nilai pakai adalah kemampuan suatu barang untuk dapat memuaskan kebutuhan. Tinggi atau rendahnya nilai pakai barang ditentukan oleh intensitas kebutuhan, tempat dan waktu.
b. Nilai Tukar (Valuein Exchange) Nilai tukar diartikan sebagai kemampuan suatu barang untuk dapat ditukarkan dengan barang lain di pasar. Tinggi atau rendahnya nilai tukar suatu barang ditentukan oleh nilai pakai barang tersebut. Contoh beras memiliki nilai pakai yang lebih besar daripada pasir.
5. Teori Nilai
a. Teori Nilai Objektif
b. Teori Nilai Subjektif
1)Herman Henrich Gossen (1854). Dalam teori nilai subjektif, Gossen mempelajari cara pemuasan kebutuhan yang dikemukakan dalam Hukum Gossen I dan Hukum Gossen II.
a) Hukum Gossen I.Menurut Herman Henrich Gossen (1818–1859, ekonom Jerman) yang dikenal dengan Hukum Gossen I, menyatakan bahwa “Pemenuhan kebutuhan atas suatu jenis barang secara terus-menerus akan menurunkan tingkat kepuasannya.” Hukum Gossen I terkenal sebagai Hukum kegunaan marginal yang menurun atau hukum penurunan kepuasan marginal atau the law of deminishing marginal utility or the law of decreasing marginal utility. Untuk lebih jelasnya kita akan coba susun contoh di atas dalam suatu tabel sebagai berikut:
Dari tabel di atas, terlihat bahwa utilitas total akan naik sejalan dengan kenaikan konsumsi air, tetapi laju kenaikannya yang semakin menurun. Tabel di atas juga memperlihatkan bahwa utilitas total dari mengonsumsi sejumlah air sama dengan jumlah seluruh utilitas marjinal yang diperoleh hingga ke titik tertentu.
Coba Anda perhatikan. Pada saat Anda mengonsumsi 4 gelas air minum, utilitas total adalah 18 util. Jumlah dari utilitas marjinal hingga Anda mengonsumsi 4 gelas air minum adalah 6 + 5 + 4 + 3 = 18 util.
Jadi, utilitas total adalah jumlah seluruh utilitas marjinal yang diperoleh hingga ke titik tertentu. Jika data dari Tabel di atas dibuat kurva akan tampak sebagai berikut.
Hukum Gossen I berlaku dengan syarat:
• benda yang dikonsumsi satu macam dan sejenis.
• pemenuhan berlangsung secara terus menerus, tanpa tenggang waktu.
Hukum Gossen I tidak berlaku apabila:
• benda yang dikonsumsi berbeda macam dan jenisnya.
• terdapat jarak waktu antara pemenuhan pertama dengan kedua dengan orang yang berbeda-beda.
• tidak berlaku untuk benda-benda yang termasuk narkoba
b) Hukum Gossen II
Dalam pemenuhan kebutuhan tentunya tidak semua orang hanya memenuhi satu kebutuhan saja. Misalkan Anda mempunyai uang sebesar Rp100.000,00. Apakah uang Anda akan dibelikan makanan seluruhnya? Tentunya Anda tidak akan menghabiskan uang Anda seluruhnya untuk membeli makanan. Sebagai seorang pelajar Anda akan menggunakan uang tersebut untuk kebutuhan lainnya seperti membeli buku tulis, buku bacaan, alat tulis. Hal ini menunjukkan bahwa jika orang melakukan pemenuhan kebutuhan maka akan memperhatikan berbagai macam kebutuhan lainnya, dan berusaha mencapai kepuasan yang mendekati sama dari berbagai macam pemenuhan kebutuhan tersebut. Kecenderungan pemenuhan kebutuhan tersebut dituangkan dalam Hukum Gossen II.
Nilai guna yang sama (Hukum kepuasan harmoni/Hukum perata nilai batas) atau pemenuhan secara horizontal dikenal dengan Hukum Gossen II. Hukum Gossen II adalah hukum perata nilai batas atau law of marginal utility, berbunyi “Manusia akan berusaha untuk memenuhi berbagai macam kebutuhannya sampai pada tingkat intensitas yang sama”. Sebagai contoh, Fatimah mengonsumsi 3 jenis barang yaitu X, Y, dan Z. Ternyata kuantitas X yang kedua, kuantitas Y yang ketiga, dan kuantitas Z yang kelima, memberikan utilitas yang sama. Jadi, Fatimah akan mencapai utilitas maksimum pada saat mengonsumsi dua unit barang X, tiga unit barang Y, dan lima unit barang Z. Secara ringkas, hal tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
Sebagai contoh, barang yang dikonsumsi Fatimah memiliki harga yang berbeda-beda, yaitu barang X harga per unit Rp500,00, barang Y harga per unit Rp5.000,00, dan harga barang Z harga per unit Rp10.000,00.
Utilitas maksimum akan dicapai oleh Fatimah jika setiap unit barang memberikan utilitas marjinal yang sama untuk setiap rupiah yang dibelanjakan. Kondisi tersebut tercapai pada saat nilai MU barang X adalah 5, nilai MU barang Y adalah 50, dan nilai MU barang Z adalah 100.
Dengan demikian, untuk mencapai utilitas maksimum dari berbagai barang yang dikonsumsi, seseorang harus mengatur konsumsinya sedemikian rupa sehingga setiap unit barang memberikan utilitas marjinal yang sama untuk setiap rupiah yang
dibelanjakan
2) Karl Menger
Dalam Teori Nilai Austria, Karl Menger melanjutkan penelitiannya berdasarkan Hukum Gossen dengan membuat daftar kebutuhan konsumen, sehingga konsumen membagi pendapatannya untuk memenuhi berbagai kebutuhan sampai mencapai tingkat intensitas yang harmonis.
3) Von Bohm Bawerk
Teori Von Bohm Bawerk disebut Teori Nilai Batas. Nilai batas adalah nilai yang diberikan kepada barang yang dimilikinya paling akhir atau nilai pemuasan yang paling akhir
6. Teori Perilaku Konsumen
Pada dasarnya konsumen berperilaku ingin memanfaatkan uang yang dimilikinya seekonomis mungkin, akan tetapi kebanyakan konsumen tidak akan berhasil. Faktor penyebabnya, antara lain, sebagai berikut:
• Pengetahuan konsumen tentang kualitas barang terbatas.
• Adanya persaingan dari para konsumen.
• Kecenderungan konsumen bersifat masa bodoh terhadap situasi harga di pasar.
• Adanya tradisi yang kuat, sehingga memengaruhi tingkah laku konsumen
Teori perilaku konsumen dibagi menjadi dua pendekatan yaitu:
a. Pendekatan Kardinal
Pendekatan kardinal disebut sebagai pendekatan marginal utility, bertitik tolak pada anggapan bahwa kepuasan (utility) setiap konsumen bisa diukur dengan uang atau dengan satuan lain, sehingga konsumen selalu berusaha mencapai kepuasan total yang maksimum. Apabila menggunakan teori nilai guna kardinal atau utilitas kardinal dapat dijelaskan bahwa kepuasan absolut/mutlak yang diperoleh konsumen dari mengkonsumsi suatu produk. Maka, manfaat atau kenikmatan yang diperoleh seorang konsumen dapat dinyatakan secara kuantitatif, bisa dengan angka, uang atau menggunakan satuan lainnya. Dalam teori nilai guna (utilitas) kardinal, dapat dibedakan di antara dua pengertian, yaitu sebagai berikut:
1) Nilai Guna Total atau Total Utility Nilai guna total atau total utility artinya jumlah seluruh kepuasan yang diperoleh dari mengonsumsi sejumlah barang tertentu.
2) Nilai Guna Marginal (Marginal Utility) Nilai guna marjinal atau marginal utility artinya pertambahan (atau pengurangan) kepuasan sebagai akibat perubahan penggunaan satu unit barang tertentu. Atau dengan kata lain marginal utility adalah tambahan kepuasan karena bertambahnya mengonsumsi satu unit barang. Marginal utility dapat dihitung dengan rumus
Syarat untuk memaksimumkan nilai guna (utility) atau kepuasan maksimum konsumen dapat dirumuskan berikut:
Adapun untuk memaksimumkan nilai guna (utility) atas anggaran pendapatan yang dimiliki konsumen untuk memaksimumkan konsumsi barang X dan barang Y dapat dirumuskan:
b. Pendekatan Ordinal
Pendekatan ordinal menganggap bahwa utilitas konsumen tidak dapat diukur, hanya cukup diketahui tingkatan tinggi rendahnya uitilitas yang diperoleh.
1) Konsep Kurva Indiferen (indifferent Curve). Kurva indiferensi adalah kurva yang menunjukkan kombinasi konsumen antara dua macam barang, yang memberikan tingkat kepuasan sama bagi konsumen.
Penggunaan kurva indiferen didasarkan pada empat asumsi berikut:
• Konsumen mempunyai pola preferensi akan barang-barang konsumsi yang dinyatakan dalam bentuk peta indiferensi
• Konsumen mempunyai pendapatan tertentu
• Konsumen berusaha mendapat kepuasan maksimum dari barang-barang yang dikonsumsinya
• Kurva indeferen yang semakin jauh titik 0 menggambarkan tingkat kepuasan yang semakin tinggi
Seorang konsumen membeli sejumlah barang, misalnya, makanan dan pakaian dan berusaha mengombinasikan dua kebutuhan yang menghasilkan utilitas yang sama, digambarkan dalam tabel di bawah ini, yaitu sebagai berikut.
Apabila konsumen menyatakan bahwa:
a) A > B, berarti makan 4 kali sehari dengan membeli pakaian 2 kali setahun lebih berdaya guna dan memuaskan konsumen daripada makan 3 kali sehari dan membeli pakaian 4 kali setahun.
b) A < B, berarti makan 3 kali sehari dengan membeli pakaian 4 kali setahun lebih berdaya guna dan memuaskan konsumen daripada makan 4 kali sehari dengan membeli pakaian 2 kali setahun.
c) A = B, berarti makan 4 kali sehari dengan membeli pakaian 2 kali setahun dan makan 3 kali sehari dengan membeli pakaian 4 kali setahun memberikan utilitas yang sama kepada konsumen. Contoh situasi tersebut dapat digambarkan dalam kurva indiferen sebagaimana ditunjukkan dalam kurva berikut ini.
Dari Kurva di atas, terlihat bahwa dengan memperoleh lebih banyak barang yang satu akan menyebabkan kehilangan sebagian barang yang lain. Kombinasi makanan dan pakaian yang memberikan utilitas sama digambarkan sebagai kurva indiferen
2) Garis Anggaran (Budget Line) Adanya keterbatasan pada pendapatan akan membatasi pengeluaran konsumen untuk mengonsumsi sejumlah barang. Hal ini digambarkan dalam garis anggaran (budget line), yaitu garis yang menunjukkan berbagai kombinasi dari dua macam barang yang berbeda oleh konsumen dengan pendapatan yang sama.
Persamaan garis anggaran adalah: I = Px.X + Py.Y Misalnya seorang konsumen mengonsumsi barang X dan Y, harga barang X (Px) dan harga barang Y (Py) adalah Rp1.000,00 dan pendapatan konsumen (I) pada saat itu adalah Rp10.000,00 dan semuanya dibelanjakan untuk barang X dan Y
Jika konsumen membelanjakan semua pendapatannya untuk barang Y, dia dapat membeli sebanyak 10 unit barang Y 10.000/1000 = 10), hal tersebut ditunjukkan oleh titik A. Sebaliknya jika konsumen membelanjakan semua pendapatannya untuk barang X, dia dapat membeli sebanyak 10 unit barang X (10.000/1000 = 10), ditunjukkan oleh titik B. Menghubungkan titik A dan B dengan suatu garis lurus dapat diperoleh garis anggaran AB yang memperlihatkan kombinasi yang berbeda dari dua jenis barang yang dapat dibeli konsumen dengan tingkat pendapatan yang terbatas.
Selanjutnya untuk mengetahui pada saat kapan konsumen optimalisasi dalam mengonsumsi secara optimal, yaitu pada saat kurva indiferen (IC2) bersinggungan dengan garis anggaran (AB), terjadi di titik (E). Adapun kurva indiferen (IC1) dan kurva indiferen (IC3) merupakan
kurva yang tidak diharapkan oleh konsumen, karena kurva-kurva tersebut tidak menunjukkan keseimbangan barang dan jasa yang dikonsumsi.
Tujuan Pembelajaran:
Setelah kegiatan pembelajaran 3 ini Anda diharapkan dapat mengidentifikasi diagram interaksi pelaku ekonomi dengan kritis, kreatif, komunikatif, jujur, dan bertanggung jawab.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 3
Model Diagram Interaksi Pelaku Ekonomi
1. Pengertian Pelaku Ekonomi
2. Pelaku-Pelaku Ekonomi
a. Rumah Tangga atau Rumah Tangga Konsumsi. Sektor/rumah tangga konsumsi memiliki faktor-faktor produksi, seperti tanah, tenaga kerja, modal, dan kewirausahaan. Rumah tangga konsumsi sebagai pemilik faktor produksi, akan menjual faktor-faktor produksi tersebut kepada produsen dengan memperoleh kompensasi. Sektor/rumah tangga konsumsi akan menerima pendapatan dalam bentuk Sewa, Upah/gaji, Bunga dan Keuntungan
• Kegiatan-kegiatan pokok yang dilakukan oleh sektor rumah tangga konsumsi, yaitu sebagai berikut.
• Menerima penghasilan dari para produsen/perusahaan yang berupa sewa, upah dan gaji, bunga, dan laba.
• Menerima penghasilan dari lembaga keuangan berupa bunga atas simpanan-simpanan mereka.
• Menjalankan penghasilan tersebut di pasar barang (sebagai konsumen).
• Menyisihkan sisa dari penghasilan tersebut untuk ditabung pada lembaga-lembaga keuangan.
• Membayar pajak kepada pemerintah.
• Masuk dalam pasar uang sebagai pembeli, karena kebutuhan mereka akan uang tunai untuk transaksi sehari-hari
b. Rumah Tangga Produksi/Produsen (RTP).
Rumah tangga produksi (RTP) adalah kelompok masyarakat yang kegiatannya menghasilkan dan atau menambah nilai guna barang dan jasa.
Kelompok rumah tangga produksi berperan dengan melakukan kegiatan- kegiatan pokok sebagai berikut.
c. Pemerintah (RTN)
Dalam sistem demokrasi ekonomi di Indonesia, pemerintah memegang peranan penting dalam kegiatan ekonomi yang ditujukan untuk menentukan kebijakan-kebijakan di bidang ekonomi. Kebijakan pemerintah tersebut dalam rangka memakmurkan rakyat sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 33 UUD 1945.
Adapun kebijakan pemerintah di bidang ekonomi, antara lain, sebagai berikut.
1) Kebijakan Fiskal
2) Kebijakan Moneter
3) Kebijakan Keuangan Internasional
Kegiatan ekonomi yang dilakukan pemerintah, antara lain, berupa:
1) menarik pajak langsung dan pajak tidak langsung,
2) membelanjakan penerimaan negara untuk membeli barang-barang kebutuhan pemerintah,
3) meminjam uang dari luar negeri,
4) menyewa tenaga kerja, dan
5) menyediakan kebutuhan uang kartal bagi masyarakat. Kegiatan ekonomi yang dilakukan sektor pemerintah juga meliputi kegiatan produksi, konsumsi, distribusi, dan regulator.
d. Masyarakat Luar Negeri (RTLN) Berikut kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh kelompok masyarakat luar negeri.
1) Menyediakan kebutuhan barang impor.
2) Membeli hasil-hasil barang ekspor suatu negara.
3) Menyediakan kredit untuk pemerintah dan swasta dalam negeri.
4) Masuk ke dalam pasar uang dalam negeri sebagai penyalur uang (devisa) dari luar negeri, peminta kredit, dan uang kartal rupiah untuk kebutuhan cabang-cabang perusahaan mereka di Indonesia.
5) Sebagai penghubung pasar uang dalam negeri dengan pasar uang luar negeri
3. Peran Pelaku Ekonomi
a. Peran Konsumen
Pihak konsumen dalam melakukan kegiatan ekonomi bertujuan untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga peran konsumen di antaranya sebagai berikut
1) Sebagai pemakai barang atau jasa yang dihasilkan oleh produsen
2) Sebagai penyedia faktor-faktor produksi (alam, tenaga kerja, modal dan pengusaha)
3) Dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam rangka melindungi konsumen
4) Memperlancar peredaran atau perputaran barang dan jasa
5) Dapat menaikkan harga faktor-faktor produksi, artinya dapat menaikkan harga sewa, upah, bunga dan laba
b. Peran Produsen
Pihak produsen dalam melakukan kegiatan ekonomi bertujuan untuk menghasilkan barang atau jasa yang akan dijual kepada konsumen. Peran produsen dapat diuraikan sebagai berikut.
1) Sebagai penghasil barang atau jasa yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen
2) Sebagai pemakai atau pengguna faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh konsumen
3) Dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah dalam rangka meingkatkan produksinya
4) Memperlancar penyediaan barang atau jasa yang dibutuhkan konsumen
5) Dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) sehingga akan meningkatkan kemakmuran bangsa
6) Sebagai pihak yang dapat meingkatkan inovasi-inovasi di bidang produksi barang atau jasa
7) Melakukan pembayaran faktor-faktor produksi sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat
c. Peran Pemerintah
Peran pemerintah dalam pelaku ekonomi adalah mengatur, mengendalikan dan mengadakan pengawasan terhadap jalannya roda perekonomian suatu masyarakat. Sebagai pelaku produksi rumah tangga pemerintah menanamkan berbagai investasi untuk menghasilkan barang dan atau jasa lebih lanjut. Kegiatan produksi yang dilakukan pemerintah dapat berupa proyek pengadaan pangan, perbaikan pendidikan, kesehatan dan perumahan rakyat. Sebagai pengatur ekonomi pemerintah berperan menciptakan iklim yang sehat bagi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi melalui kebijakan, seperti kebijakan fiskal dan kebijakan moneter.
d. Peran masyarakat luar negeri Peran masyarakat luar negeri dalam pelaku ekonomi adalah melaksanakan kegiatan perdagangan internasional yang berupa kegiatan ekspor dan impor. Ekspor adalah kegiatan mengirimkan barang dagangan ke luar negeri, sedangkan impor adalah kegiatan memasukkan barang dagangan dari luar negeri.
4. Circular flow Diagram Sebelum Anda membaca mengenai circular flow diagram ini, Anda harus mengelompokkan pasar menjadi dua kelompok besar;
Keterangan:
1) Sektor RTK (konsumen) membeli barang/jasa dari sektor RTP (produsen). Di sisi lain, RTP akan menerima uang dari RTK. Artinya, di sini RTK berperan sebagai pembeli barang/jasa dan RTK penjual. Pada arus ini, RTP menetapkan harga produknya
berdasarkan biaya tenaga kerja dan kemampuan yang dimilikinya.
Sementara harga yang muncul di pasar barang ditentukan oleh pertemuan antara permintaan RTK dan penawaran RTP. Transaksi barang dan jasa terjadi di pasar barang (product market).
2) Tentunya untuk mendapatkan barang dan jasa, RTK butuh pemasukan, dong? Nah, pendapatan yang didapat RTK ini diperoleh dari penjualan faktor produksi yang dia punya. Sektor RTK menawarkan faktor produksi kepada sektor RTP. Sebagai gantinya, RTP akan memberikan uang. Artinya, di sini RTK berperan sebagai pembeli faktor produksi dan RTP penjual. Harga yang muncul ditentukan oleh pertemuan antara penawaran RTK dan permintaan RTP. Transaksinya dilakukan di pasar barang produksi
b. Arus Kegiatan Ekonomi yang melibatkan tiga sektor; Rumah Tangga Produksi, Rumah Tangga Konsumsi dan Rumah Tangga Negara atau Pemerintah:
Keterangan:
RTN (pemerintah) mendapatkan penghasilan dari pajak dan menggunakannya untuk membeli barang dan jasa dari pasar faktor produksi, pasar barang, dan RTP. Barang dan jasa ini, nantinya akan dipakai sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat.
5. Manfaat interaksi pelaku kegiatan ekonomi Dari interaksi pelaku kegiatan ekonomi, manfaat yang dapat diperoleh di antaranya, sebagai berikut.
***