1 of 31

Pendidikan Berbasis Nilai dan Kearifan Lokal

Dr. Tri Jalmo, M.Si.

Dr. Panggih Priyambodo, S.Pd.Si., M.Pd.

Program Studi Pendidikan Biologi

Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Lampung

2025

2 of 31

Pengertian dan Dasar Filosofis

3 of 31

  • Pendidikan: usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003).
  • Pembelajaran: proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003).

  • Pedagogik vs pedagogi
  • Pedagogik: ilmu tentang pendidikan >> filsafat, teori, prinsip, tujuan pendidikan secara luas >> bersifat konseptual ilmiah.
  • Pedagogi: cara menerapkan pendidikan dalam praktik pembelajaran >> pendekatan, model, strategi, metode, teknik, instrumen asesmen, media, dll 🡪 PD aktif dan mencapai tujuan pembelajaran secara optimal dan efektif.

  • Nilai: ukuran atau prinsip tentang sesuatu yang dianggap baik, berharga, atau berguna.
  • Perwujudan: nilai kejujuran, nilai kerja keras, nilai toleransi, nilai religius, nilai gotong royong, nilai tanggung jawab, nilai kesopanan, nilai estetika, dll.

4 of 31

  • Norma: aturan sosial atau lembaga (tertulis / tidak tertulis, umumnya berisi larangan atau perintah) yang mengatur perilaku sebagaimana nilai-nilai yang diyakini.
  • Contoh: norma agama, kesusilaan, kesopanan, dan hukum.

  • Moral: ajaran, wejangan, atau pedoman tentang bagaimana manusia bertindak secara baik > kualitas pribadi manusia.

  • Etika: cara berpikir atau kajian rasional, kritis, dan reflektif terhadap moralitas.

  • Kearifan lokal: pengetahuan, ide/gagasan, kebiasaan yang berkembang dan sekaligus diwariskan lintas generasi dalam suatu komunitas masyarakat 🡪 cara hidup praktis >> tantangan serta dinamika lingkungan alam dan sosial.
  • Contoh perwujudan: ungkapan budaya, tradisi, bahasa, sistem pengetahuan, hukum adat, kesenian, ritual, dan teknologi lokal.

5 of 31

  • Budaya: keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia yang dipelajari dan diwariskan dari generasi ke generasi.
  • Budaya 🡪 memuat nilai, norma, moral, dan kearifan lokal.

6 of 31

Pendidikan Berbasis Nilai dan Kearifan Lokal:

pendidikan yang menumbuhkan potensi peserta didik melalui penguatan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya dan tradisi masyarakat.

7 of 31

  • Landasan filosofis:
  • Pancasila: sumber nilai utama bangsa.
  • Sila I: akhlak mulia, toleransi terhadap keberagaman, kerukunan.
  • Sila II: saling menghormati, empati, sopan santun, tata krama.
  • Sila III: cinta tanah air, gotong royong, solidaritas, kebanggaan terhadap identitas.
  • Sila IV: musyawarah, mufakat, kepemimpinan, etika.
  • Sila V: keseimbangan hak serta kewajiban, kepedulian sosial, kesejahteraan sosial, solidaritas, semangat tolong-menolong.
  • Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 36 Ayat 2: “Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik”.
  • Profil Pelajar Pancasila: Beriman, Bertakwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berahlak Mulia; Berkebhinekaan Global; Bergotong Royong; Bernalar Kritis; Kreatif.
  • Profil Lulusan: Keimanan dan Ketakwaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa; Kewargaan: Penalaran Kritis; Kreativitas, Kolaborasi; Kemandirian; Kesehatan; Komunikasi.

8 of 31

  • Landasan regulasi
  • PP No. 57 Tahun 2021 jo. PP No. 4 Tahun 2022 tentang Standar Nasional Pendidikan: Pasal 40 “Kurikulum disusun sesuai dengan Jenjang Pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan: ………….. keragaman potensi daerah dan lingkungan; ….”
  • Permendikbud No. 79 Tahun 2014 tentang Muatan Lokal Kurikulum 2013.
  • Permendikbudristek No. 7 Tahun 2022 tentang Standar Isi dan No. 16 Tahun 2022 tentang Standar Proses.
  • Panduan P5 (Kemdikbudristek, 2022): Gaya Hidup Berkelanjutan, Kearifan Lokal, Bhinneka Tunggal Ika, Bangunlah Jiwa dan Raganya, Suara Demokrasi, Kewirausahaan, serta Rekayasa dan Teknologi.

9 of 31

Tujuan dan Manfaat

10 of 31

  • Menanamkan karakter luhur berdasarkan nilai budaya bangsa.
  • Membentuk identitas dan kebanggaan lokal peserta didik.
  • Membangun kesadaran ekologis dan sosial melalui pembelajaran berbasis konteks daerah (Contextual Learning).
  • Dasar atau acuan dalam mengembangkan inovasi pendidikan.
  • Menubuhkembangkan minat dan motivasi belajar PD melalui pembelajaran bermakna.
  • Menguatkan ikatan antara sekolah dan masyarakat.
  • Melestarikan warisan budaya daerah.
  • Melatih serta mengembangkan divergent dan convergent thinking pada PD.

11 of 31

Dimensi Kearifan Lokal

12 of 31

  1. Dimensi pengetahuan lokal (traditional knowledge) (contoh: Belangiran / menyucikan diri menjelang Ramadhan; Nuwo Sesat / rumah adat sebagai pusat musyawarah adat dan simbol kebijaksanaan, persatuan).
  2. Dimensi nilai lokal (Sakai Sambayan / nilai gotong royong dan solidaritas), (Nemei Nyimah / nilai keramahan, murah hati), (Nengah Nyappur / nilai terbuka, mudah bergaul, dan mampu beradaptasi), (Bejuluk Beadek / nilai identitas, tanggung jawab, dan kehormatan diri), dan (Hulu Balang / nilai keberanian, tanggung jawab, dan loyalitas).
  3. Dimensi ketrampilan lokal (Contoh: Tenun Tapis).
  4. Dimensi sumber daya lokal (contoh: Menara Siger, Way Kambas, lada Lampung, kopi Liwa).
  5. Dimensi mekanisme pengambilan keputusan lokal (kesukuan atau ketokohan) (contoh: Mekhatin).
  6. Dimensi solidaritas kelompok lokal (contoh: Piil Pesenggiri / falsafah utama dan sistem nilai kehidupan masyarakat Lampung >> mencakup Bejuluk Beadek, Nengah Nyappur, Sakai Sambayan, Nemui Nyimah).

Dimensi Kearifan Lokal dalam Konteks Potensi Lokal Lampung:

13 of 31

Strategi Implementasi

14 of 31

  • Integrasi ke dalam Capaian Pembelajaran (CP): penyesuaian konten pembelajaran dengan konteks budaya lokal.
  • Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5): penentuan tema-tema proyek yang berkaitan dengan kearifan lokal, gaya hidup berkelanjutan, keberagaman, dll.
  • Penerapan CTL: sumber belajar dari lingkungan sekitar.
  • Kolaborasi dengan Komunitas Lokal: tokoh masyarakat, seniman, petani, atau pengrajin sebagai mitra belajar atau narasumber.
  • Jurnal reflektif PD tentang nilai budaya.

15 of 31

Contoh Implementasi

16 of 31

Tema: Kopi Lampung

  • Tema pembelajaran: Sistem Pencernaan dan Sistem Saraf pada Manusia
  • Model pembelajaran: Problem-based Learning (PBL).
  • Pertanyaan masalah:“Bagaimana kebiasaan ngopi masyarakat Lampung memengaruhi sistem pencernaan dan sistem saraf?”.
  • Sintaks:
  • Orientasi masalah: Diskusi budaya ngopi dan dampaknya bagi tubuh.
  • Organisasi belajar: Kelompok tentukan fokus (kafein, pH kopi, kebiasaan ngopi).
  • Kajian konsep: Pelajari sistem saraf, pencernaan, dan pengaruh kafein.
  • Penyelidikan: Uji pH kopi, survei pola ngopi, simulasi efek kafein.
  • Penarikan kesimpulan untuk menjawab pertanyaan.
  • Pembuayan Karya: Poster/video “Ngopi Cerdas Ala Lampung” – opsional.
  • Evaluasi: Presentasi & refleksi manfaat dan risiko kopi bagi kesehatan.
  • Nilai kearifan lokal: kebersamaan, gotong royong; moderasi dan keseimbangan hidup; pelestarian tradisi dan identitas lokal; kritis dan reflektif terhadap tradisi; inovasi budaya; peduli alam dan kesehatan.

Gambaran Praktis:

17 of 31

Tema: Menumbuk Padi Tradisional / Menarik jaring di pesisir Lampung / Mengayuh perahu

  • Tema pembelajaran: Sistem Gerak pada Manusia
  • Model pembelajaran: Problem-based Learning (PBL).
  • Pertanyaan masalah: “Mengapa orang Lampung bisa menumbuk padi / menarik jaring / mengayuh perahu dalam waktu lama dan tidak cepat lelah?
  • Sintaks:
  • Orientasi masalah: pengamatan kegiatan masyarakat Lampung, bahas mengapa bisa dilakukan lama tanpa cepat lelah.
  • Organisasi belajar: Kelompok pilih fokus tema kajian.
  • Kajian konsep: Pelajari jenis otot, kerja antagonis–sinergis, dan sistem rangka.
  • Penyelidikan: Analisis gerakan menumbuk / menarik jaring / mengayuh perahu, identifikasi otot dan rangka dominan.
  • Sintesis hasil: Laporan atau presentasi singkat “Gerak Efisien dalam Melakukan Gerakan.”
  • Evaluasi: Diskusi & refleksi hubungan aktivitas tradisional dengan sistem gerak manusia.

Gambaran Praktis:

18 of 31

  • Nilai kearifan lokal: gotong royong dan kerja sama; etos kerja dan ketangguhan; keharmonisan dengan alam; kemandirian dan kreativitas lokal; pelestarian tradisi dan identitas budaya; spiritualitas dan rasa syukur.

Gambaran Praktis:

Tema: Menumbuk Padi Tradisional / Menarik jaring di pesisir Lampung / Mengayuh perahu

19 of 31

Tema: Ekosistem Mangrove Lampung

  • Tema pembelajaran: Ekosistem
  • Model pembelajaran: Project-based Learning (PBL).
  • Pertanyaan masalah: “Bagaimana hutan mangrove di Lampung menjaga keseimbangan ekosistem pesisir dan apa yang bisa kita lakukan untuk melestarikannya?
  • Sintaks:
  • Orientasi masalah: Diskusi kondisi mangrove di Lampung dan dampaknya bagi lingkungan pesisir.
  • Perencanaan proyek: Kelompok pilih fokus (fungsi ekologis, rantai makanan, dampak aktivitas manusia, atau konservasi mangrove).
  • Kajian konsep: Kajian komponen ekosistem (biotik–abiotik), produktivitas ekosistem, aliran energi dan siklus nutrien, rantai dan jaring makanan, fungsi mangrove dalam mencegah abrasi dan sebagai habitat biota, keseimbangan ekosistem.
  • Pelaksanaan proyek:
  • Observasi dan studi pustaka tentang mangrove Lampung.
  • Wawancara warga/petugas lingkungan.

Gambaran Praktis:

20 of 31

Tema: Ekosistem Mangrove Lampung

  1. Analisis masalah dan solusi pelestarian.
  2. Pembuatan produk: kelompok membuat karya seperti poster edukatif, video kampanye digital, model ekosistem mangrove 3D, rencana aksi mini seperti penanaman mangrove atau kampanye sekolah hijau.
  3. Presentasi & Evaluasi.
  4. Nilai kearifan lokal: keharmonisan dengan alam; tanggung jawab dan kepedulian lingkungan; gotong royong dan partisipasi sosial; pemanfaatan sumber daya alam secara bijak; identitas dan kearifan pesisir Lampung; karakter konservasi dan regenerasi nilai.

Gambaran Praktis:

21 of 31

  • Gunung Anak Krakatau dan Ekosistem Pasca Letusan > Konsep: Suksesi ekologi, adaptasi makhluk hidup, dan keanekaragaman hayati.
  • Pengobatan Tradisional Lampung (Ramuan Herbal & Daun-daunan) > Konsep: senyawa metabolit sekunder (antioksidan, antibakteri).
  • Pengelolaan Hutan Adat di Lampung Barat > Konsep: keanekaragaman hayati, konservasi tumbuhan endemik.
  • Sistem Pertanian Ladang dan Irigasi Tradisional > Konsep: Bioteknologi sederhana, daur unsur hara, rantai makanan.
  • Budidaya Madu Hutan dan Lebah Lokal Lampung > Konsep: reproduksi, polinasi, perilaku hewan sosial.
  • Aktivitas Gotong Royong di Ladang atau Sawah > Konsep: Sistem pernapasan dan peredaran darah saat aktivitas fisik.
  • Pengolahan Nira Aren menjadi Gula Merah > Konsep: Proses fermentasi, enzim, perubahan zat (biokimia sederhana).
  • Upacara Adat dan Penggunaan Tanaman Hias Lokal > Konsep: Keanekaragaman tumbuhan, klasifikasi, adaptasi tanaman.
  • Pemanfaatan Kerang dan Hasil Laut di Pesisir Lampung > Konsep: Adaptasi hewan laut, ekosistem pesisir, biomineralisasi (pembentukan cangkang).
  • Penggunaan Pupuk Organik dari Kotoran Ternak dan Limbah Pertanian > Konsep: Daur biogeokimia, dekomposisi, peran mikroorganisme tanah.

Contoh Tema Lain:

22 of 31

Etnosains > Etnobiologi

23 of 31

  • Etnobiologi: ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan makhluk hidup (alam hayati) di lingkungannya, termasuk tentang bagaimana masyarakat memahami, memanfaatkan, dan memberi makna terhadap keanekaragaman hayati di sekitarnya.

  • Objek kajian: pengetahuan biologi asli (indigenous biological knowledge) atau pengetahuan biologi tradisional (traditional biological knowledge).
  • Ciri: diperoleh melalui pengalaman langsung (trial and error), diwariskan lintas generasi secara lisan atau pengamatan, mendasari adaptasi dalam bertahan hidup, dinamis sesuai zaman.

  • Prinsip: penerjemahan IBK menjadi scientific biological knowledge (SBK).

  • Posisi dengan kearifan lokal: bagian dari kearifan lokal yang secara khusus mengkaji IBK masyarakat.

  • Cabang: etnobotani, etnomikologi, etnoveteriner, etnofarmakologi, etnoekologi, etnobotani.

24 of 31

  • Contoh:
  • Konsep pengetahuan masyarakat tentang “hutan larangan” atau “hutan keramat” 🡪 ditafsirkan/diterjemahkan dari perspektif konservasi ekosistem dan keanekaragaman hayati >> kelestarian hutan.

  • Konsep pengetahuan masyarakat tentang daun sirih untuk pengobatan sariawan 🡪 ditafirkan/diterjemahkan dari perspektif kandungan antibakteri dan antioksidan.

  • Konsep pengetahuan masyarakat tentang pengawetan ikan asin dengan garam 🡪 ditafsirkan/diterjemahkan dari perspektif struktur sel dan transport zat (osmosis) > garam menarik air dari tubuh mikroba > mikroba mati > mencegah atau menghambat pembusukan.

25 of 31

Culturally Responsive Teaching

(CTR)

26 of 31

  • Pendekatan pembelajaran yang mengakui, menghargai, dan memanfaatkan latar belakang budaya PD.

  • Latar belakang budaya PD > dasar penentuan strategi pembelajaran > keselarasan pembelajaran dengan nilai, kebiasaan, cara berpikir, dan cara pandang PD.

  • Prinsp: aktivasi prior knowledge, penggunaan tema konteksual berbasis budaya, pengetahuan awal PD adalah modal pembelajaran, skenario pembelajaran yang relevan dengan budaya PD, penghargaan terhadap keberagaman budaya antar PD.

  • CTR hanyalah pendekatan, butuh model pembelajaran yang sesuai: PBL, PjBL, studi kasus, discovery / inquiry learning, CTL, service learning, dll.

  • Contoh konkret: ..\k. Ekologi Hewan\Laporan Studi Kasus 2.docx

27 of 31

Tantangan

28 of 31

  • Fenomena komersialisasi budaya.
  • Contoh:
  • Tari tradisional atau ritual adat hanya untuk menarik wisatawan tanpa memperdulikan makna.
  • Motif batik khas daerah dikomersialkan tanpa izin dari masyarakat adat, tanpa melibatkan pengrajin lokal, dan sekaligus tanpa peduli dengan maknanya.
  • Adat serta tradisi masyarakat hanya sebagai destinasi wisata tanpa mengambil hikmah dari tata cara kehidupan mereka.
  • Globalisasi nilai: kecenderungan persebaran nilai dan budaya lintas negara > mereduksi dan mendegradasi budaya lokal.
  • Keterbatasan guru dalam memahami konteks atau potensi lokal.
  • Keterbatasan guru dalam merancang pembelajaran berbasis nilai dan kearifan lokal.
  • Tidak semua kearifan lokal dapat digunakan sebagai tema atau sumber belajar 🡪 dibutuhkan pemetaan.

29 of 31

Solusi

30 of 31

Pelatihan pendidik dalam merancang pembelajaran berbasis nilai dan kearifan lokal.

Kolaborasi antar pihak: lembaga pendidikan, dinas terkait, masyarakat.

Dokumentasi dan sosialisasi (promosi) budaya lokal.

31 of 31

Grateful and Many Thanks

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

بَارَكَ اللهُ فِيْكُمْ

https://www.unila.ac.id/

humas@kpa.unila.ac.id

Jl. Prof. Dr. Sumantri Brojonegoro, No. 1, Bandar Lampung, 35145, INDONESIA

+62 721 702673

Universitas Lampung