Section Break
Insert thePembelajaran bahasa Indonesia sebagai MKWU, diharapkan akan terwujud sivitas akademik yang mampu memicu dan memacu pengembangan fungsi bahasa Indonesia sebagai penghela dan pembawa ilmu pengetahuan di dunia global.
Visi tersebut dicapai dengan cara:
Sivitas akademik menjadi penting karena kehidupan kampus secara umum harus menjadi cermin perilaku berbahasa Indonesia yang baik sebagai dampak pembelajaran bahasa Indonesia di kelas.
Sub Title of Your Presentation
TEKS AKADEMIK
(4) membangun argumen tentang teks
akademik dalam genre makro;
(5) menyajikan teks akademik dalam
genre makro;
(6) membuat rangkuman;
(7) membuat proyek belajar.
Pembelajaran berbasis teks merupakan pembelajaran yang dimulai dari 1) membangun konteks, 2) memberikan model dan dekonstruksi teks, 3) membentuk teks bersama, 4) membuat teks secara mandiri, dan 5) menautkan teks yang terkait. Melalui pembelajaran tersebut, diharapkan siswa mampu menggunakan teks sesuai dengan fungsi sosialnya.
2. Unsur Bahasa
Wacana
Paragraf
Kalimat
klausa
frasa
kata
morfem
fonem
Teks Akademik
Teks dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa yang dapat dimediakan secara tulis atau lisan yang ditata menurut struktur teks tertentu yang mengungkapkan makna secara kontekstual (wiratno, 2003; wiratno, 2009).
Konteks Situasi
Konteks terdekat yang menyertai penciptaan teks
berkenaan dengan penggunaan bahasa yang di dalamnya terdapat register yang melatarbelakangi lahirnya teks.
Konteks Budaya
Konteks budaya masyarakat tutur bahasa yang menjadi tempat jenis-jenis teks tersebut diproduksi. konteks budaya lebih bersifat institusional dan global.
Format Bahasa: deskripsi, laporan, prosedur, eksplanasi, eksposisi, diskusi, naratif, cerita petualangan, anekdot, dan lain-lain.
Totalitas makna sebuah teks dapat dipahami dengan menggali situasi dan konteks budaya sekaligus. Konteks budaya yang dikembangkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi adalah konteks budaya akademik. Pada konteks yang demikian itulah diciptakan dan digunakan teks dengan ragam akademik.
Genre Teks Ilmiah
Makro
Mikro
Teks Akademik dan Nonakademik
sebuah teks cenderung bergaya lisan, bergaya tulis, atau bergaya di antara lisan dan tulis (Wiratno & Santosa, 2011)
Teks 1b tidak mengandung kata kita sebagai subjek kalimat, dan sebagai gantinya, subjek itu diisi dengan pokok persoalan yang disajikan di dalam teks tersebut. Keadaan ini menunjukkan bahwa Teks 1b lebih mementingkan “objek yang dibicarakan” daripada “pelaku yang berbicara”. Hal itu menunjukkan makna bahwa teks 1b lebih objektif daripada Teks 1a.
Ciri lisan atau tulis lain yang menonjol yang dapat dieksplorasi dari Teks 1a dan Teks 1b adalah bahwa untuk mengungkapkan peristiwa, Teks 1a menggunakan verba, sedangkan Teks 1b mengubah verba itu menjadi nomina.
a. Teks Akademik Bersifat Sederhana dalam Struktur Kalimat
Kalimat Simpleks
1) Padat Informasi
Pertama, informasi dipadatkan melalui kalimat simpleks.
Penelitian ini memberikan dampak terhadap manusia dan lingkungan yang menyertainya.
Kedua, informasi dipadatkan melalui nominalisasi pada kalimat simpleks.
Variabel perantara [[yang dicontohkan dalam studi ini]] adalah komitmen organisasi dan partisipasi penganggaran.
Studi analitis [[yang dilakukan]] telah menunjukkan taraf signifikansi di atas 0,65 dengan tingkat dampak perlakuan yang sangat tinggi .
(Menunjukkan pemadatan informasi yang berupa kalimat sematan untuk memperluas kelompok nomina dan adverbia pada unsur subjek dan keterangan.)
b. Padat akan Informasi dan Kata-Kata Leksikal
Kata leksikal atau kata isi (nomina, verba-predikator, adjektiva, dan adverbia tertentu) lebih banyak digunakan daripada kata struktural (konjungsi, kata sandang, preposisi, dan sebagainya).
2)Teks Akademik Padat Kata Leksikal
Nominalisasi pada teks akademik ditujukan untuk mengungkapkan pengetahuan dengan lebih ringkas dan padat (Martin, 1991).
Nomina merupakan salah satu alat untuk mengabstraksi peristiwa sehari-hari menjadi teori.
Upaya pembendaan, nominalisasi ditempuh dengan mengubah leksis nonbenda (verba, adjektiva, adverbia, konjungsi) menjadi leksis benda (nomina).
c. Teks Akademik Banyak Memanfaatkan Nominalisasi
Belajar dengan teks sebagai basisnya merupakan
S Ket. P
bentuk menggunakan bahasa
Pel.
sesuai dengan fungsi sosialnya.
Ket.
Pembelajaran berbasis teks merupakan
S P
bentuk penggunaan bahasa
Pel.
sesuai dengan fungsi sosialnya.
Ket.
d. Memanfaatkan Metafora
Gramatika melalui Ungkapan
Inkongruen
Metafora gramatika adalah pergeseran dari satu jenis leksis ke jenis leksis lain atau dari tataran gramatika yang lebih tinggi ke tataran gramatika yang lebih rendah.
Kongruen
Inkongruen
proses tidak diungkapkan dengan verba tetapi dengan nomina,.
realisasi yang sesuai dengan realitas, misalnya benda direalisasikan sebagai nomina, proses direalisasikan sebagai verba, kondisi direalisasikan sebagai adjektiva, dan sirkumtansi direalisasikan sebagai adverbia.
Secara ideasional, isi materi menjadi lebih padat.
Secara tekstual, pergeseran tataran yang berdampak pada perbedaan tata organisasi di tingkat kelompok kata atau kalimat.
e. Teks Akademik Banyak Memanfaatkan
Istilah Teknis
Pada prinsipnya istilah teknis merupakan penamaan pada suatu dengan penggunaan nomina yang antara lain dibangun melalui proses nominalisasi. Istilah teknis merupakan bagian yang esensial pada teks akademik (Halliday, & Martin, 1993b:4), karena istilah teknis digunakan sesuai dengan tuntutan bidang ilmu (Veel, 1998:119-139; White, 1998:268-291; Wignell, 1998:298323), tataran keilmuan (Rose, 1998:238-263), dan latar (setting) pokok persoalan (Veel, 1998:119-139) yang disajikan di dalamnya.
.
Cabang ilmu bahasa yang mempelajari seluk-beluk kalimat merupakan sintaksis.
f. Teks Akademik Bersifat Taksonomik dan Abstrak
Pada dasarnya taksonomi adalah pemetaan pokok persoalan melalui klasifikasi terhadap sesuatu. Taksonomi menjadi salah satu ciri teks akademik (Halliday, 1993b:73-74).
Taksonomi pada teks akademik dibahas dalam konteks bahwa perpindahan dari pemaparan peristiwa duniawi menuju penyusunan ilmiah. Penyusunan secara sistematis dengan bahasa yang lebih teknis merupakan perpindahan dari deskripsi menuju klasifikasi
Teks akademik dikatakan abstrak karena pokok persoalan yang dibicarakan di dalamnya seringkali merupakan hasil dari pemformulasian pengalaman nyata menjadi teori (Halliday, 1993a:57-59; Halliday, 1993b:70-71; Martin, 1993b:211.212; Martin,1993c:226-228).
g. Teks Akademik Banyak Memanfaatkan Sistem Pengacuan Esfora
Pengacuan esfora dimanfaatkan pada teks akademik untuk menunjukkan prinsip generalitas, bahwa benda yang disebut di dalam kelompok nomina tersebut bukan benda yang mengacu kepada penyebutan sebelumnya (Martin, 1992: 138).
Kenyataan tersebut menunjukkan makna bahwa benda-benda yang dimaksud pada teks-teks tersebut adalah benda-benda yang memenuhi konsep generalitas, yaitu benda-benda yang sudah diabstrakkan untuk menyatakan generalisasi, bukan benda-benda yang secara eksperiensial berada di sekitar manusia
h. Teks Akademik Banyak Memanfaatkan Proses Relasional Identifikatif dan Proses Relasional Atributif
Terdapat dua jenis proses relasional, yaitu proses relasional identifikatif dan proses relasional atributif.
Proses relasional identifikatif merupakan alat yang baik untuk membuat definisi atau identifikasi terhadap sesuatu
Proses relasional atributif merupakan alat yang baik untuk membuat deskripsi dengan menampilkan sifat, ciri, atau keadaan benda yang dideskripsikan tersebut.
j. Teks Akademik Bersifat Monologis dengan Banyak Mendayagunakan Kalimat Indikatif-Deklaratif
Sifat monologis pada teks akademik mengandung arti bahwa teks tersebut memberikan informasi kepada pembaca dalam satu arah.
Kalimat Indikatif-Deklaratif merupakan suatu kalimat yang berisi pernyataan dan berfungsi untuk memberikan informasi tanpa meminta balasan ataupun timbal balik dari orang lain
Kalimat imperatif dan kalimat Indikatif-Interogatif, dampak yang terjadi adalah nada dialogis (pencipta teks seolah-olah melakukan percakapan dengan penerima teks).
Kalimat Indikatif-Deklaratif yang berfungsi sebagai proposisi-memberi.
k. Memanfaatkan Bentuk Pasif untuk Objektif
Penggunaan bentuk pasif pada teks akademik dimaksudkan untuk menghilangkan pelaku manusia, sehingga unsur kalimat yang berperan sebagai subjek dijadikan pokok persoalan yang dibicarakan di dalam teks tersebut.
l. Teks Akademik Seharusnya tidak Mengandung Kalimat Minor
Kalimat minor berkekurangan salah satu dari unsur pengisi subjek atau finit/predikator.
S+P+(O)+(Pel.)+(Ket,.)
Secara interpersonal teks akademik yang mengandung kalimat minor tampak sebagai teks lisan, dan karenanya, menunjukkan ciri nonakademik.
Contoh:
Secara tekstual, paragraf yang mengandung kalimat minor tidak kohesif secara tematis. Selain pola tema-rema pada kalimat minor tidak dapat diidentifikasi, pola hiper-tema dan hiper-rema pada paragraf yang mengandung kalimat tersebut juga tidak dapat ditentukan. Secara keseluruhan, informasi pada paragraf tersebut tidak dapat mengalir menuju atau dari kalimat minor tersebut. Dari sini dapat ditegaskan bahwa kalimat minor mengganggu tematisasi baik di tingkat kalimat maupun paragraf (wacana), dan karenanya secara tekstual, derajat keilmiahan teks akademik yang mengandung kalimat minor berkurang.
m. Teks Akademik Seharusnya tidak Mengandung Kalimat Takgramatikal
Kalimat takgramatikal adalah kalimat yang secara gramatikal mengandung kekurangan atau kelebihan unsur-unsur tertentu, misalnya kata-kata leksikal seperti nomina (yang berfungsi sebagai subjek) dan verba (yang berfungsi sebagai finit/predikator), atau kata-kata struktural, seperti konjungsi dan preposisi.
Pengujian tersebut menghasilkan data 28 nomor semai [[(yang?) memperlihatkan sifat tahan, 4 nomor moderat, dan 14 nomor rentan]]. (Teks Biologi, Hartana & Sinaga, 2004)
Pendaftaran mahasiswa baru untuk perguruan tinggi negeri setiap tahun
S Ket. Ket.
biasanya selalu melebihi kapasitas.
P
Peningkatan pola berpikir ilmiah dapat dilakukan dengan membiasakan
S P Ket.
berbahasa secara ilmiah.
Pel. Ket.
n. Teks Akademik Tergolong ke dalam Genre Faktual bukan Genre Fiksional
Teks akademik tergolong ke dalam genre faktual, bukan genre fiksional. Teks-teks tersebut dikatakan faktual, karena teks-teks tersebut ditulis berdasarkan pada kenyataan empiris, bukan pada rekaan atau khayalan (Martin, 1985b; Martin, 1992:562-563).