LAPORAN & EVALUASI�PELAKSANAAN PENDIDIKAN�BUDI PEKERTI�SMK WIJAYA PUTRA SURABAYA
HASIL AMATAN MINGGU KE-6 S/D KE-9
AMATAN POSITIF = 325 AMATAN NEGATIF = 140
TOTAL AMATAN = 465
KELAS X TOTAL 208 AMATAN
KELAS XI TOTAL 249 AMATAN
AMATAN NEGATIF
INDIKATOR :
AMATAN POSITIF
INDIKATOR :
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan, peserta didik masih memperlihatkan sejumlah perilaku yang kurang sesuai dengan tata tertib sekolah. Hal ini tampak dari kebiasaan tidak menyerahkan tugas tepat waktu, yang menunjukkan rendahnya rasa tanggung jawab terhadap kewajiban akademik. Selain itu, peserta didik juga sering terlambat datang ke sekolah dan masuk kelas tidak sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, yang mencerminkan kurangnya kedisiplinan dalam menghargai waktu belajar.
KESIMPULAN
Murid juga belum mematuhi aturan sekolah dalam hal penggunaan seragam, dengan tidak mengenakan pakaian sesuai ketentuan yang berlaku. Sikap ini memperlihatkan kurangnya kepatuhan terhadap peraturan dan norma yang berlaku di lingkungan sekolah. Lebih lanjut, peserta didik beberapa kali meninggalkan kelas sebelum jam pelajaran selesai, baik dalam pembelajaran daring maupun luring, yang menandakan kurangnya kesungguhan dalam mengikuti proses pembelajaran secara utuh.
KESIMPULAN
Secara keseluruhan, perilaku tersebut mencerminkan adanya kelemahan dalam aspek kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepatuhan terhadap aturan sekolah. Jika tidak segera diperbaiki, hal ini dapat menghambat perkembangan sikap positif, menurunkan kualitas proses belajar, serta memengaruhi hasil belajar peserta didik secara keseluruhan. Oleh karena itu, diperlukan bimbingan, motivasi, serta pengawasan yang konsisten agar peserta didik mampu memperbaiki sikapnya menuju perilaku yang lebih disiplin, bertanggung jawab, dan sesuai dengan norma sekolah.
REFLEKSI
Mungkin yang perlu kita lakukan:
REFLEKSI
Mengajar dengan ilmu mungkin membuat murid menjadi pandai, tapi mengajar dengan keteladanan akan membuat mereka bijak
Apakah kita seperti batu, keras dan sulit menerima?Atau seperti spons yang lembut, mampu menyerap dan memahami?
Di ruang kelas dan di rumah, sering kali percakapan hanya menjadi ajang menunggu giliran berbicara, bukan kesempatan untuk memberi ruang pada perasaan. Ada perbedaan besar antara mendengar untuk membalas, dan mendengar untuk memahami. Mengapa begitu? Karena kita ingin merasa selalu benar, atau takut mengakui bahwa kita pun bisa keliru. Dalam pendidikan, dalam keluarga, dan dalam membimbing anak-anak, kita sering menjadi suara yang ingin didengar, namun lupa menjadi telinga yang mau mendengar.
Sikap kita selama ini
Mungkin inilah alasan mengapa hubungan guru dan murid kadang terasa berjarak, kerja sama orang tua dan anak menjadi rapuh, dan anak-anak kehilangan arah. Mereka berbicara, tetapi tidak benar-benar dipahami. Kita hanya perlu menjadi pendengar yang memahami, bukan pendengar yang sekadar menunggu giliran membalas.
TERIMA KASIH