TITRASI ASAM-BASA
PENGENALAN TITRASI ASAM BASA
Penetapan kadar larutan asam dan basa dapat dilakukan melalui suatu prosedur percobaan yang disebut titrasi asam-basa. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa yang telah diketahui kadarnya, dan sebaliknya, kadar larutan basa ditentukan dengan menggunakan larutan asam yang diketahui kadarnya.
PROSEDUR TITRASI ASAM-BASA
Menentukan kadar suatu larutan HCl dengan menggunakan larutan NaOH 0,1 M.
Melakukan percobaan untuk mengetahui berapa volume larutan NaOH 0,1 M yang ekuivalen dengan volume tertentu larutan HCl tersebut.
Sejumlah tertentu larutan HCl tersebut, misalnya 20 mL, ditempatkan dalam gelas Erlenmeyer.
Kemudian ditetesi dengan larutan NaOH 0,1 M (dalam buret) sehingga keduanya ekuivalen (tepat habis bereaksi). Titik ekuivalen dapat diketahui dengan bantuan indikator asam-basa.
Titrasi (penetesan) dihentikan tepat pada saat indikator asam-basa menunjukkan perubahan warna. Saat indikator asam-basa menunjukkan perubahan warna disebut titik akhir titrasi.
PERUBAHAN PH PADA TITRASI ASAM-BASA (KURVA TITRASI)
1. Titrasi Asam Kuat dengan Basa Kuat
Beberapa hal yang dapat disimpulkan dari kurva tersebut adalah sebagai berikut.
Mula-mula pH larutan naik sedikit demi sedikit, tetapi perubahan yang cukup drastis terjadi di sekitar titik ekuivalen, terjadi perubahan pH dari sekitar 4 menjadi 10.
Titik ekuivalen, pH larutan pada saat asam dan basa tepat habis bereaksi, adalah 7 (netral).
Untuk menunjukkan titik ekuivalen, dapat digunakan indikator metil merah, bromtimol biru, atau fenolftalein. Indikator-indikator tersebut mengalami perubahan warna di sekitar titik ekuivalen. Oleh karena perubahan warna indikator fenolftalein lebih tajam (lebih mudah diamati), maka indikator fenolftalein lebih sering digunakan.
2. Titrasi Asam Lemah dengan Basa Kuat
Dari gambar tersebut, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.
Titik ekuivalen berada di atas 7, yaitu antara 8–9.
Lonjakan perubahan pH pada sekitar titik ekuivalen lebih sempit, hanya sekitar 3 satuan, yaitu dari pH ±7 hingga pH ±10.
3. Titrasi Basa Lemah dengan Asam Kuat
Berdasarkan Gambar 8.6, dapat disimpulkan sebagai berikut.
Titik ekuivalen, pH larutan pada penetralan basa lemah oleh asam kuat, berada di bawah 7.
Lonjakan pH di sekitar titik ekuivalen juga lebih sempit, hanya sekitar 3 satuan, yaitu dari pH ± 7 hingga pH ± 4.
V1 X M1 X (OH-)1 = V2 X M2 X (H+)2
PERHITUNGAN TITRASI
TITRAN
TITRAT
Sebanyak 25 ml larutan cuka makan CH3COOH ( Ka = 10-5) dititrasi dengan NaOH 0,1 M. Percobaan ini diulangi hingga 3 kali dan diperoleh data sebagai berikut :
No | V CH3COOH | V NaOH 0,1 M |
1 | 25 ml | 24 ml |
2 | 25 ml | 26 ml |
3 | 25 ml | 25 ml |
Rata - rata | 25 ml | |
Tentukan :
JAWAB :
CONTOH SOAL
CH3COOH = NaOH
V1 X M1 X H+ = V2 X M2 X OH-
25 X M1 X 1 = 25 X 0,1 X 1
M1 (CH3COOH) = 0,1 M
a
% Cuka = 0,1/17,4 X 100%
= 0,57 %
--
1,5-
Hitunglah Molaritas dan kadar % asam cuka tersebut ! ( Kadar asam cuka glasial/murni = 17,4 M )
Rumus Pengenceran : V1 x M1 = V2 x M2
1 x M1 = 100 x 0,02
M1 = 2 M
% = 2/17,4 X 100 %
= 11,5 %
Untuk menentukan molaritas larutan NaOH, ditimbang 3,15 gram asam oksalat H2C2O4 dan dilarutkan dalam air hingga volume menjadi 250 ml. Sebanyak 20 ml larutan NaOH dititrasi dengan asam oksalat. Pada titrasi ini membutuhkan 10 ml larutan asam oksalat.
Sebanyak 20 gram soda (Na2CO3) tidak murni dilarutkan dalam air hingga volumenya 250 ml. Lalu 50 ml larutan ini dititrasi dengan asam klorida 0,1 M sebanyak 30 ml. Berapa % massa Na2CO3 dalam soda tersebut ?(Mr = 106)
LATIHAN SOAL :
1
2
Berikut adalah grafik hasil titrasi 25 ml suatu asam dengan larutan Ca(OH)2 0,2 M
Berdasarkan grafik tersebut, maka dapat diprediksi larutan asam yang mungkin ditrasi dan konsentrasinya adalah ...
3
M1 X V1 X n1 = M2 X V2 X n2
Berikut adalah grafik hasil titrasi 20 ml suatu asam HX dengan larutan KOH 0,2 M
Tentukan pH pada saat
titik X, A, B, C, D dan E ?
4
Ka HX = 10-5