1 of 17

Disusun berdasarkan aturan IUPAC (International Union of Pure and Applied Chemistry).

Senyawa kimia terdiri dari senyawa biner & senyawa poliatomik.

Senyawa biner adalah senyawa yang terbentuk dari 2 jenis unsur, baik itu antara unsur logam dengan unsur logam atau antara unsur-unsur nonlogam.

Contoh: Biner ion (L + NL) Biner kovalen (NL + NL)

NaCl NO PCl3

K2S SO3 HCl

Senyawa poliatomik adalah senyawa yang dibentuk lebih dari 2 jenis unsur.

Contoh: Asam poliatomik Basa Garam

HNO3 Sn(OH)2 CH3COONa

H2SO4 NaOH Al2(SO4)3

TATANAMA Senyawa Kimia

2 of 17

A. Tatanama Senyawa Kovalen Biner

  • Terdiri dari 2 jenis unsur Non Logam (NL1 dan NL2)
  • Penamaan menggunakan awalan Yunani, suatu awalan yang sesuai dengan indeks dalam rumus kimianya.
  • Pada unsur terakhir ditambahkan akhiran ‘ida’.

  • 1 = mono * 6 = heksa
  • 2 = di * 7 = hepta
  • 3 = tri * 8 = okta
  • 4 = tetra * 9 = nona
  • 5 = penta * 10 = deka

CATT: Awalan 1 unsur pertama TIDAK disebut

CONTOH:

CO Karbon monoksida

NCl3 Nitrogen triklorida

CCl4 Karbon tetraklorida

N2O3 Dinitrogen trioksida

P2O5 Difosforus pentaoksida

3 of 17

  • 1 = mono * 6 = heksa
  • 2 = di * 7 = hepta
  • 3 = tri * 8 = okta
  • 4 = tetra * 9 = nona
  • 5 = penta * 10 = deka

Oksida asam adalah oksida nonlogam yaitu senyawa hasil reaksi nonlogam dengan oksigen (NL + O).

Pada umumnya unsur nonlogam mempunyai bilangan oksidasi lebih dari 1 jenis. Pemberian namanya didasarkan pada sistem awalan (nama Latin) yg sesuai dgn indeks rumus kimianya.

B. Tata Nama Oksida Asam

CATT: Awalan 1 unsur pertama TIDAK disebut

4 of 17

Oksida basa adalah oksida logam yaitu senyawa hasil reaksi logam dengan oksigen (L + O).

Apabila logamnya mempunyai bilangan oksidasi 1 jenis maka cara pemberian namanya dilakukan dengan cara menyebutkan nama logamnya kemudian ditambah kata oksida.

Contoh:

C. Tata Nama Oksida Basa

5 of 17

Apabila logamnya mempunyai bilangan oksidasi lebih dari satu jenis maka cara pemberian namanya memakai nama sistematik (sistem Stock) atau memakai nama lama.

1. Nama sistematik (sistem Stock)

Nama logamnya disebutkan, kemudian disebutkan tingkat bilangan oksidasinya yang pada penulisannya memakai angka Romawi dalam kurung, kemudian ditambah kata oksida.

Contoh:

6 of 17

2. Nama lama (nama Latin)

�Nama senyawa logam yang mepunyai bilangan oksidasi rendah diberi akhiran ”o” sedangkan nama senyawa dengan logam yang mempunyai bilangan oksidasi tinggi diberi akhiran ”i”.

Contoh:

7 of 17

Senyawa asam ada yang mengandung oksigen dan ada pula yang tidak mengandung oksigen.

1. Asam yang tidak mengandung oksigen

�Pemberian nama asam yang tidak mengandung oksigen diberi akhiran ida.

Contoh:

D. Tata Nama Asam

8 of 17

2. Asam yang mengandung oksigen / Asam oksi

Asam yang mengandung jumlah oksigen lebih sedikit nama asam diberi akhiran it, sedangkan pada senyawa yang mengandung jumlah oksigen lebih banyak nama asam diberi akhiran at.

Contoh:

9 of 17

Awalan per diberikan kepada senyawa yang mengandung jumlah oksigen lebih dari senyawa umumnya.

Awalan hipo diberikan pada senyawa yang mengandung jumlah oksigen kurang dari senyawa umumnya.

Contoh:

10 of 17

E. Tata Nama Basa

Apabila ion logam dari basa mempunyai bilangan oksidasi lebih dari satu jenis, maka tata nama basa seperti pada tata nama oksida logam, namun kata oksida diganti dengan hidroksida.

Contoh:

11 of 17

Garam adalah senyawa yang mengandung ion logam yang bermuatan positif dan ion sisa asam yang bermuatan negatif.

Ion sisa asam adalah asam yang telah melepaskan ion H+ nya.

Garam merupakan senyawa yang terbentuk melalui reaksi asam dengan basa.

�Penamaan garam adalah nama ion logam disebutkan terlebih dahulu kemudian nama sisa asamnya.

F. Tata Nama Garam

12 of 17

G. Beberapa senyawa disebut dengan nama umum yang tidak sistematis.�

  • Contoh:

B2H6 Diboran

CH4 Metana

SiHSilan

NHAmonia

PH3 Fosfin

H2O Air

CO(NH2)2 Urea

13 of 17

  • Nama kation logam

KATION dngan BILOKS 1 JENIS:

Golongan

Unsur

Nama Ion

Simbol Ion

IA

Litium

Kation Litium

Li+

Natrium

Kation Natrium

Na+

Kalium

Kation Kalium

K+

IIA

Berilium

Kation Berilium

Be2+

Magnesium

Kation Magnesium

Mg2+

Kalsium

Kation Kalsium

Ca2+

Stronsium

Kation Stronsium

Sr2+

Barium

Kation Barium

Ba2+

IB

Perak

Kation Perak

Ag+

IIB

Seng

Kation Seng

Zn2+

IIIA

Aluminium

Kation Aluminium

Al3+

14 of 17

KATION dengan BILOKS lebih dari 1 JENIS:

Golongan

Unsur

Nama Ion

Simbol Ion

VIB

Kromium

Krom (II) atau Kromo

Cr2+

Krom (III) atau Kromi

Cr3+

VIIB

Mangan

Mangan (II) atau Mangano

Mn2+

Mangan (III) atau Mangani

Mn3+

VIIIB

Besi

Besi (II) atau Fero

Fe2+

Besi (III) atau Feri

Fe3+

Kobalt

Kobalt (II) atau Kobalto

Co2+

Kobalt (III) atau Kobaltik

Co3+

15 of 17

golongan

unsur

Nama ion

Simbol ion

IB

Tembaga

Tembaga (I) atau Cupro

Cu+

Tembaga (II) atau Cupri

Cu2+

IIB

Raksa

Merkuri (I) atau Merkuro

Hg22+

Merkuri (II) atau Merkuri

Hg2+

IVA

Timah

Timah (II) atau Stano

Sn2+

Timah (IV) atau Stani

Sn4+

Timbal

Timbal (II) atau Plumbum

Pb2+

Timbal (IV) atau Plumbik

Pb4+�

16 of 17

Beberapa Anion Monoatomik:

Golongan

Unsur

Nama Ion

Simbol Ion

VA

Nitrogen

Anion Nitrida

N3-

Fosfor

Anion Fosfida

P3-

VIA

Oksigen

Anion Oksida

O2-

Belerang

Anion Sulfida

S2-

VIIA

Fluorin

Anion Fluorida

F-

Klorin

Anion Klorida

Cl-

Bromin

Anion Bromida

Br-

Iodin

Anion Iodida

I-

17 of 17

Beberapa Anion Poliatomik:

Perklorat

ClO4-

Fosfit

PO33-

Asetat

CH3COO-

Permanganat

MnO4-

Kromat

CrO42-

Sianida

CN-

Dikromat

Cr2O72-

Sianat

OCN-

Arsenat

AsO43-

Tiosianat

SCN-

Oksalat

C2O42-

Arsenit

AsO33-

Tiosulfat

S2O32-

Peroksida

O22-

Hidroksida

OH-

Karbonat

CO32-