1 of 21

DISFUNGSI SEKSUAL

DR. DR. DHARMAWAN A. PURNAMA, SPKJ

FK UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA

2 of 21

PENDAHULUAN (1)

  • Gangguan Seksual dapat mengarah atau sebagai hasil dari masalah2 dalam hubungan, dan pasien2 secara variative mengembangkan peningkatan rasa takut gagal dan self-consciousness atas performa seksual mereka.
  • Sexual dysfunctions are frequently associated with other mental disorders, such as depressive disorders, anxiety disorders, personality disorders, and schizophrenia. In many instances, a sexual dysfunction may be diagnosed in conjunction with another psychiatric disorder; in other cases, however, it is only one of many signs or symptoms of the psychiatric disorder.

  • In DSM-IV-TR, a sexual dysfunction is defined as a disturbance in the sexual response cycle or as pain with sexual intercourse.

3 of 21

PENDAHULUAN (2)

  • Tujuh kategori mayor disfungsi seksual menurut DSM-IV-TR:
  • sexual desire disorders (dorongan),
  • sexual arousal disorders (bangkitan),
  • orgasm disorders,
  • sexual pain disorders (nyeri),
  • sexual dysfunction caused by a general medical condition,
  • substance-induced sexual dysfunction,
  • and sexual dysfunction not otherwise specified.

4 of 21

PENDAHULUAN (3)

  • Sexual dysfunctions can be symptomatic of biological (biogenic) problems or intrapsychic or interpersonal (psychogenic) conflicts or a combination of these factors. Sexual function can be adversely affected by stress of any kind, by emotional disorders, or by ignorance of sexual function and physiology.

  • Disfungsi dapat berlangsung sepanjang hidup atau didapatkan pada suatu saat kehidupan setelah sebuah periode fungsi yang normal.
  • The dysfunction may be generalized or limited to a specific partner or a certain situation.

5 of 21

PENDAHULUAN (4)

  • Beberapa tipe disfungsi (misalnya kurang gairah seksual) terjadi pada pria dan wanita. Wanita cenderung lebih lazim mengeluh mengenai kualitas subjektif pengalaman seksualnya (misalnya kurang kepuasan atau gairah) daripada kegagalan respon spesifik.

  • Keluhan disfungsi orgasme sering terjadi, tetapi bila satu segi dari respons seksual wanita terkena yang lainnya juga akan terganggu.

Contoh: bila wanita tak mampu orgasme, biasanya ia akan kehilangan kenikmatan seksual lainnya dan kemudian akan banyak kehilangan gairah seksual.

  • Laki-laki, meski mengeluh kegagalan respon spesifik seperti ereksi atau ejakulasi, sering melaporkan adanya dorongan seksual yang berkelanjutan. Karena itu perlu mencari di luar keluhan yang ada demi menemukan kategori diagnosis yang paling sesuai.

6 of 21

Respon Seksual

Normal

Psikologik

Somatik

01

02

03

04

Fase Plateau

Perangsangan terjadi secara maksimum dan bertahan untuk waktu tertentu

Fase Orgasme

Tercapainya puncak koitus (orgasmus)

Fase Resolusi

Kondisi genitalia tubuh kembali ke keadaan semula

Fase Perangsangan

Pria: ereksi, Wanita: lubrikasi

7 of 21

GANGGUAN KEINGINAN DAN GAIRAH SEKSUAL

Gangguan minat, Orgasme maupun Ejakulasi.

Gangguan minat, Orgasme, gangguan Penetrasi.

DSM 5

Macam Disfungsi Seksual

8 of 21

  • Kurang atau hilangnya nafsu (gairah) seksual

Hilangnya nafsu adalah primer, bukan sekunder dari kesulitan seksual lainnya spt disfungsi ereksi atau dispareunia.

Kurangnya nafsu ini tidak mengurangi kenikmatan atau gairah seksual, tetapi menyebabkan berkurangnya aktivitas awal seksual

  • Tidak menyukai dan tidak menikmati seks

Tidak menyukai seks: hub seks disertai perasaan negatif yang hebat sehingga timbul rasa cemas lalu menghindari aktivitas seksual

Tidak menikmati seks: hub seks berjalan normal, orgasme dicapai tapi tidak mendatangkan kenikmatan. Biasanya terjadi pada wanita daripada pria (termasuk anhedonia seksual)

  • Kegagalan respons genital

9 of 21

MACAM DISFUNGSI SEKSUAL (2)

  • Kegagalan respons Genital

Disfungsi ereksi: psikogenik, organik (perlu pengukuran ketegangan penis), e.s pengobatan?

Kekeringan vagina: bisa psikogenik dan organik mis: infeksi, kekurangan estrogen (pasca menopause)

Termasuk: gangguan rangsangan seksual pada wanita, ggn ereksi pada pria, impotensi psikogenik

  • Disfungsi orgasme

Dapat terjadi orgasme yang sangat lambat terjadi atau sama sekali tak terjadi. Lebih sering pada wanita

Termasuk: orgasme terhambat (baik pria maupun wanita), anorgasme psikogenik

10 of 21

F52.0

  • Kurangnya kenikmatan seksual (lack of sexual enjoyment)
  • Penolakan seksual (sexual aversion). Aktivitas seksual 🡪 dihindari

Penolakan dan kurangnya kenikmatan seksual

Kurang atau hilangnya nafsu seksual

F52. Disfungsi Seksual Bukan Disebabkan oleh Gangguan atau Penyakit Organik

F52.1

F52.10

F52.11

11 of 21

MACAM DISFUNGSI SEKSUAL (3)

  • Ejakulasi Dini

Kegagalan mengendalikan ejakulasi sedemikian rupa supaya kedua pasangan dapat menikmati senggama. Pada beberapa kasus berat, terjadi ejakulasi sebelum penetrasi vagina, atau terjadi ejakulasi tanpa ereksi.

Biasa karena psikogenik, ada yang akibat ggn organik, misalnya kegagalan ereksi atau nyeri ereksi.

Dapat juga terjadi bila mulai ereksi lambat shg jarak waktu antara ereksi dengan ejakulasi menjadi pendek

  • Vaginismus nonorganik

Spasme dari otot sekitar vagina yang sebabkan tertutupnya liang vagina. Vaginismus mungkin merupakan reaksi sekunder dari suatu penyebab lokal dari nyeri dan dalam hal ini kategori ini jgn digunakan (lihat dispareunia)

12 of 21

MACAM DISFUNGSI SEKSUAL (4)

  • Dispareunia nonorganik

Dapat terjadi pada pria dan wanita. Biasanya terdapat kelainan patologis lokal yang perlu diberi diagnosis yang sesuai kategori lain dari ICD. Pada beberapa kondisi tak ada sebab yang jelas namun faktor emosional berperan penting. Diagnosis ini dibuat bila tak ada disfungsi seksual primer lainnya seperti vaginismus atau keringnya vagina

  • Dorongan seksual yang berlebihan

Hiperseks (nimfomania dan satyriasis). Timbul biasanya pada akhir masa remaja atau pada dewasa muda. Bila keadaan ini sekunder dari suatu gangguan afektif atau bila timbul saat awal dementia maka gangguan yang mendasarinya harus dicantumkan

13 of 21

A. Kekurangan pikiran atau fantasi seksual/erotis atau keinginan untuk aktivitas seksual yang terus-menerus atau berulang

B. Gejala dalam kriteria A minimal bertahan dalam durasi sekitar 6 bulan

C. Gejala dalam kriteria A menyebabkan distress yang signifikan secara klinis

D. Disfungsi seksual tidak dapat dijelaskan oleh tekanan hubungan yang parah, atau stressor signifikan lainnya dan tidak disebabkan oleh efek suatu zat/obat

Gangguan Seksual Hipoaktif

pada Laki-laki

14 of 21

D. Disfungsi seksual tidak dapat dijelaskan oleh gangguan mental non seksual atau sebagai akibat dari kesusahan hubungan yang parah (kekerasan pasangan)/stressor signifikan lainnya

C. Gejala pada kriteria A menyebabkan tekanan klinis yang signifikan pada individu

B. kriteria A bertahan minimal selama 6 bulan

A. Berkurangnya secara signifikan minat/gairah seksual seperti yang dibawah ini setidaknya 3 hal:

Gangguan Gairah Wanita

Tidak ada/ berkurangnya

Minat dalam aktivitas seksual

Pikiran atau fantasi seksual/erotis

Inisiasi aktivitas seksual, biasanya ✕ menerima upaya pasangan untuk memulai

Gairah seksual/kesenangan selama aktivitas seksual hampir semua / semua pertemuan seksual

Minat/rangsangan seksual dalam menanggapi isyarat seksual/erotis internal maupun eksternal

Sensasi genital/non-genital selama aktivitas seksual

15 of 21

Tindakan Medis

Obat-obatan

Disfungsi Seksual Akibat Medis

16 of 21

PRINSIP TERAPI

  • Latihan relaksasi
  • Aktivitas ‘Sensate focus’
  • Edukasi/ konseling seksual
  • Pengobatan (sildenafil dkk, injeksi PGE1/ papaverin untuk disfungsi ereksi), muscle relaxan/antiansietas, analgetic, antidepresan, Tribulus T.
  • Teknik pencet Master and Johnson untuk ejakulasi prematur
  • Dilatasi vagina progresif untuk vaginismus (Botox inj.?)
  • Lubrican (water based, oil based)

17 of 21

SEX TOYS SEBAGAI TERAPI?

18 of 21

19 of 21

ALAT R-PMS/ R-TMS

20 of 21

TERAPI STIMULASI MAGNET PD PASIEN

21 of 21

TERIMA KASIH

  • Pendaftaran anggota Asosiasi Seksologi Indonesia dapat menghubungi:

Dr. Tjahjo Djojo Sp. And.

No WA 081330756009