1 of 40

Pembelajaran

Mendalam

Transformasi Pembelajaran menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENСAH BADAN STANDAR, KURIKULUM, DAN ASESMEN PENDIDIKAN PUSAT KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN

Januari 2025

2 of 40

TUJUAN KEGIATAN HARI NI:

  1. REVIEW PEMAHAMAN TENTANG PEMBELAJARAN MENDALAM

  • MENGHASILKAN SEBUAH RENCANA PEMBELAJARAN SEDERHANA LEWAT APLIKASI CANVA

3 of 40

Tim Penyusun dan Tim Penelaah

2

Tim Penyusun

Ketua

Prof. (Em) Suyanto, M.Ed., Ph.D., Universitas Negeri Yogyakarta

Anggota

  1. Dr. Ahmad Zaki Mubarak, M.Si., M.Pd., Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)
  2. Prof. Dr. Cecep Darmawan, S.H. , S.Pd., S.I.P., S.A.P., M.Si., M.H., CPM., Universitas Pendidikan Indonesia
  3. Prof. Bambang Suryadi, Ph.D., Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
  4. Prof. Dr. Dinn Wahyudin, M.A., Universitas Pendidikan Indonesia
  5. Dudung Abdul Ǫodir, S.Pd., M.Pd., Pengurus Besar PCRI
  6. Ir. Harris Iskandar Ph.D., Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini
  7. Hery Teguh Wiyono, S.Pd., M.Pd., SMPN 2 Karanganyar Ngawi
  8. Dr. Ismah, M.Si., Universitas Muhammadiyah Jakarta
  9. Prof. Dr. Kadir, M.Pd., Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
  10. Dr. Ir. Kiki Yuliati, M.Sc., BAN-PDM
  11. Dr. Maskur, M.Pd., Praktisi Pendidikan
  12. Dr. R. Muktiono Waspodo, M.Pd., Direktorat Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus
  13. Niken Emiria Faradella, S.Pd., M.Pd., SMAN 1 Kajen
  14. Nur Luthfi Rizqa Herianingtyas, M.Pd., Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
  15. Prof. Dr. Ir. Richardus Eko Indrajit, M.Sc., M.B.A., M.Phil., M.A., Pengurus Besar PCRI
  16. Rahmah Purwahida, S.Pd., M.Hum., Literasi Inovasi Indonesia (Linovesia)
  17. Prof. Dr. Rugaiyah Yazid, M.Pd., Universitas Negeri Jakarta
  18. Sari Oktafiana, M.A., SMA Bumi Cendekia
  19. Dr. Stien J. Matakupan, Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan
  20. Drs. Syamsir Alam M.A., Yayasan Sukma
  21. Wikan Sakarinto, S.T., M.Sc., Ph.D., Akademi Inovasi Indonesia (AII) Salatiga
  22. Prof. Yuli Rahmawati, M.Sc., Ph.D., Universitas Negeri Jakarta
  23. Dr. Yogi Anggraena, S.Si., M.Si., Pusat Kurikulum dan Pembelajaran
  24. Dr. Fathur Rohim, Pusat Kurikulum dan Pembelajaran
  25. Dr. Iip Ichsanudin, S.S., M.A., Pusat Kurikulum dan Pembelajaran
  26. Dr. Taufiq Damarjati, M.T., Pusat Kurikulum dan Pembelajaran

Anggota

Tim Penelaah

Ketua

Prof. (Em) Suyanto, M.Ed., Ph.D., Universitas Negeri Yogyakarta

  1. Prof. Ali Saukah, M.A., Ph.D., Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur
  2. Ir. Ananto Kusuma Seta, M.Sc, Ph.D., Univesitas Negeri Jakarta
  3. Prof. (Em) Dr. Ir. Bambang Soehendro, M.Sc., Universitas Cadjah Mada
  4. Prof. Bambang Suryadi, Ph.D., Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
  5. Cogot Suharwoto, Ph.D., Direktorat Curu PAUD dan Dikmas
  6. Ir. Harris Iskandar Ph.D., Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini
  7. Dr. Ir. Kiki Yuliati, M.Sc., BAN-PDM
  8. Prof. Suwarsih Madya, M.A., Ph.D., Universitas Islam Internasional Indonesia
  9. Prof. Dr. Waras Kamdi, M.Pd., Universitas Negeri Malang
  10. Prof. Yuli Rahmawati, M.Sc., Ph.D., Universitas Negeri Jakarta

4 of 40

Outline Naskah Akademik

Ringkasan Eksekutif

Pendahuluan

Latar Belakang, Tujuan, Ruang Lingkup

Landasan

Fisiologis dan Pedagogis, Teoretis, Sosiologis, Yuridis, Empiris

Kerangka Kerja PM

Dimensi Profil Lulusan, Prinsip Pembelajaran, Pengalaman Belajar, Kerangka Pembelajaran

Strategi Implementasi PM

Kurikulum, Proses Pembelajaran, dan Asesmen, Ekosistem, Regulasi, Guru, Kepala Sekolah, Pengawas, Orang Tua, Tahapan Implementasi, Implementasi pada Jenjang Pendidikan

Rekomendasi

5 of 40

Latar Belakang

4

Perubahan masa depan sulit diprediksi

Bonus Demografi 2035 dan Visi

Indonesia Emas 2045

Permasalahan mutu pendidikan: Literasi, Numerasi, HOTs, Ketimpangan Mutu Pendidikan

Kompetensi masa depan

PM sebagai solusi mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua

6 of 40

Kemampuan HOTS siswa Indonesia masih rendah

Sumber: Diolah dari hasil PISA 2018

MEMBACA

skor

MATEMATIKA

skor

SAINS

skor

Hasil PISA:

Siswa Indonesia hanya bisa menjawab materi Level fi-3 saja (lower order thinking skills = LOTS), sementara siswa negara lain sudah sampai Level 4-6 (higher order thinking skills = HOTS).

555

549

504 415

393

371

591

527

569

440

419

379

590

529

551

438

426

396

Indonesia

Indonesia

Indonesia

7 of 40

Tujuan & Ruang Lingkup Naskah Akademik

6

Tujuan

  • Memberikan landasan kebijakan Kemendikdasmen terkait PM.
  • Menyediakan acuan pengembangan program, sumber daya, dan infrastruktur.
  • Mendeskripsikan kerangka kerja strategis implementasi PM.

Ruang Lingkup

  • Konsep akademik PM dengan prinsip: Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan.
  • Faktor pendukung:
  • Infrastruktur, SDM, dan kebijakan untuk jenjang pendidikan dasar € menengah.
  • Distribusi tugas fungsi unit utama Kemendikdasmen.

8 of 40

Apa Pembelajaran Mendalam?

Definisi :

Pembelajaran Mendalam merupakan pendekatan yang memuliakan dengan menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan ( joyful) melalui olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), dan olah raga (kinestetik) secara holistik dan terpadu.

7

9 of 40

Pembelajaran Mendalam sebagai Solusi

Pembelajaran Mendalam

Olah Pikir

Olah Hati

Olah Rasa

mewujudkan

Profil Lulusan (8 Dimensi)

Olah Raga

Berkesadaran

Bermakna

Menggembirakan

10 of 40

8 Dimensi Profil Lulusan

1. Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME

Individu yang memiliki keyakinan teguh akan keberadaan Tuhan serta menghayati nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

3. Penalaran Kritis

Individu yang mampu berpikir secara logis, analitis, dan reflektif dalam memahami, mengevaluasi, serta memproses informasi untuk menyelesaikan masalah.

2. Kewargaan

Individu yang memiliki rasa cinta tanah air, mentaati aturan dan norma sosial dalam kehidupan bermasyarakat, memiliki kepedulian, tanggungjawab sosial, serta berkomitmen untuk menyelesaikan masalah nyata yang terkait keberlanjutan manusia dan lingkungan.

4. Kreativitas

Individu yang mampu berpikir secara inovatif, fleksibel, dan orisinal dalam mengolah ide atau informasi untuk menciptakan solusi yang unik dan bermanfaat.

9

11 of 40

8 Dimensi Profil Lulusan

5. Kolaborasi

Individu yang mampu bekerja sama secara efektif dengan orang lain secara gotong royong untuk mencapai tujuan bersama melalui pembagian peran dan tanggung jawab.

7. Kesehatan

Individu yang memiliki fisik yang prima, bugar, sehat, dan mampu menjaga keseimbangan kesehatan mental dan fisik untuk mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin (well-being).

6. Kemandirian

Individu yang mampu bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya sendiri dengan menunjukkan kemampuan untuk mengambil inisiatif, mengatasi hambatan, dan menyelesaikan tugas secara tepat tanpa bergantung pada orang lain.

8. Komunikasi

Individu yang memiliki kemampuan komunikasi intrapribadi untuk melakukan refleksi dan antarpribadi untuk menyampaikan ide, gagasan, dan informasi baik lisan maupun tulisan serta berinteraksi secara efektif dalam berbagai situasi.

10

12 of 40

Landasan Filosofis

11

Filosofi Ki Hajar Dewantara

  1. Pembelajaran memerdekakan (tanpa pembiaran).
  2. Pusat pada peserta didik, mengakui otoritas guru.
  3. Sistem among dan Trikon (kontinuitas, konvergensi, dan konsentrisitas).
  4. Prinsip Asah, Asih, Asuh.
  5. Pendidikan: pranata sosial, pelestari

kebudayaan, membangkitkan kegembiraan (konsep “Taman”).

Filosofi K.H. Ahmad Dahlan

  1. Pendidikan berlandaskan tujuan hidup.
  2. Tidak sombong, gigih belajar, dan tuntas berkarya.
  3. Optimalkan akal untuk kebenaran sejati.
  4. Berani menegakkan kebenaran.
  5. Berbuat untuk kemanusiaan (tidak memperalat).
  6. Mengamalkan ilmu agama dengan kualitas tinggi.
  7. Pendidikan sebagai alat perubahan sosial menuju masyarakat berkemajuan.

13 of 40

Landasan Teoritis

2010-sekarang

Integrasi teknologi, isu global, literasi digital

1990-2000an

1970an

Teori pembelajaran mendalam dan pembelajaran dangkal (Marton € Suljö, 1976)

Konstruktivisme,

Project-based Learning, keterampilan abad ke-21.

12

Konsep PM

  • Membangun keterkaitan antara pengetahuan konseptual dan prosedural.
  • Mengaplikasikan pengetahuan pada konteks baru.
  • Dukungan Experiential Learning (Kolb, 1984).
  • Pendekatan berbasis pengalaman: refleksi, konseptualisasi, eksperimen.

Kerangka Pengetahuan

  • Foundational Knowledge: Dasar ilmu dan fakta.
  • Meta Knowledge: Hubungan, pola, dan analisis.
  • Humanistic Knowledge: Nilai kemanusiaan dan makna mendalam. (Heick, 2020)

14 of 40

Landasan Sosiologis

13

  • Hakikat Pendidikan
    • Pendidikan bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana amanat alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945.
    • Membangun bangsa yang majemuk menjadi maju dan berjati diri melalui perilaku berbasis nilai Pancasila dan Ipteks.
    • Pendidikan holistik mencakup budaya, sistem, dan lingkungan untuk menciptakan kehidupan kebangsaan yang cerdas.
  • Peran Pembelajaran Mendalam
    • Fondasi sistem pendidikan nasional untuk mengembangkan intelektual, moral, dan kinerja peserta didik.
    • Memadukan kesadaran spiritual, sosial, kontekstual, dan kegembiraan lahir batin.
    • Mendukung kualitas pembelajaran berbasis kultur masyarakat yang sesuai visi pendidikan nasional (Dewantara, 1967).

15 of 40

Landasan Yuridis dan Empiris

  • Landasan Empiris
    • Perubahan Kurikulum: 11 kali sejak 1947, kini Kurikulum Merdeka (2022).
    • Kompetensi Masa Depan: Fokus pada kreativitas, kolaborasi, dan penguasaan teknologi.
    • Pembelajaran Bermakna: Berdasarkan pendekatan global, menekankan pembelajaran interaktif dan inspiratif.

14

  • Landasan Yuridis
    • Pasal 31 UUD 1945: Hak setiap warga negara untuk pendidikan berkualitas.
    • UU No. 20 Tahun 2003: Pengembangan potensi manusia beriman, berakhlak, dan berkompetensi.
    • UU No. 8 Tahun 2016: Pendidikan inklusif untuk penyandang disabilitas.
    • UU No. 6 Tahun 2023: Kemitraan vokasi dan teknologi untuk pembelajaran adaptif.

16 of 40

KERANGKA KERJA PEMBELAJARAN MENDALAM

17 of 40

Prinsip Pembelajaran

Berkesadaran

Pengalaman belajar peserta didik yang diperoleh ketika mereka memiliki kesadaran untuk menjadi pembelajar yang aktif dan mampu meregulasi diri. Peserta didik memahami tujuan pembelajaran, termotivasi secara intrinsik untuk belajar, serta aktif mengembangkan strategi belajar untuk mencapai tujuan.

Bermakna

Peserta didik dapat menerapkan pengetahuannya ke dalam situasi nyata. Proses belajar peserta didik tidak hanya sebatas memahami informasi/ penguasaan konten, namun berorientasi pada kemampuan mengaplikasi pengetahuan.

Menggembirakan

Pembelajaran yang menggembirakan merupakan suasana belajar yang positif, menantang, menyenangkan, dan memotivasi. Rasa senang dalam belajar membantu peserta didik terhubung secara emosional, sehingga lebih mudah memahami, mengingat, dan menerapkan pengetahuan.

16

18 of 40

Surface vs Deep Learning Pembelajaran Mendasar vs Mendalam

Pembelajaran Mendasar

🡪 memahami

Pembelajaran Mendalam

🡪 memahami, mengaplikasi, merefleksi

19 of 40

Pengalaman Belajar

20 of 40

The SOLO Taxonomy

(structure of observed learning outcomes)

21 of 40

Taksonomi SOLO dan Bloom dalam Pembelajaran Mendalam

Tingkat Pembelajaran

Taksonomi SOLO

Taksonomi Bloom

Pengalaman Belajar PM

Deskripsi

Unggul (Excellence)

Pembelajaran Mendalam

Berpikir Abstrak yang Mendalam

  • Mencipta
  • Mengevaluasi

Merefleksi

Memperluas dan menerapkan ide

Cakap (Secure)

Relasional

  • Menganalisis
  • Menerapkan

Mengaplikasi

Menghubungkan ide-ide

Berkembang (Developing)

Pembelajaran Dasar

Multistruktural

Memahami

Memahami

Memiliki banyak ide

Dasar (Foundation)

Unistruktural

Mengingat

Mengingat kembali

Belum Berkembang (Incompetence)

Prastruktural

22 of 40

Pengalaman Belajar

Memahami

Tahap awal peserta didik untuk aktif mengkonstruksi pengetahuan agar dapat memahami secara mendalam konsep atau materi dari berbagai sumber dan konteks. Pengetahuan pada fase ini terdiri dari pengetahuan esensial (foundational knowledge), pengetahuan aplikatif (applied knowledge), dan pengetahuan nilai dan karakter (humanistic knowledge).

Mengaplikasi

Pengalaman belajar yang menunjukan aktivitas peserta didik mengaplikasi pengetahuan dalam kehidupan secara kontekstual. Pengetahuan yang diperoleh oleh peserta didik melalui pendalaman pengetahuan (extending knowledge).

Merefleksi

Proses di mana peserta didik mengevaluasi dan memaknai proses serta hasil dari tindakan atau praktik nyata yang telah mereka lakukan. Tahap refleksi melibatkan regulasi diri (self regulation) sebagai kemampuan individu untuk mengelola proses belajarnya secara mandiri, meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi terhadap cara belajar mereka.

23 of 40

Kerangka Pembelajaran

Praktik Pedagogis

Strategi mengajar yang dipilih guru untuk mencapai tujuan belajar dalam mencapai dimensi profil lulusan. Untuk mewujudkan pembelajaran mendalam guru berfokus pada pengalaman belajar peserta didik yang autentik, mengutamakan praktik nyata, mendorong keterampilan berpikir tingkat tinggi dan kolaborasi.

Pemanfaatan Teknologi Digital

Pemanfaatan teknologi digital juga memegang peran penting sebagai katalisator untuk menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif, kolaboratif, dan kontekstual. Tersedianya beragam sumber belajar menjadi peluang menciptakan pengetahuan bermakna pada peserta didik.

Lingkungan Pembelajaran

Lingkungan pembelajaran menekankan integrasi antara ruang fisik, ruang virtual, dan budaya belajar untuk mendukung pembelajaran mendalam. Ruang fisik dan virtual dirancang fleksibel sebagai tempat yang mendorong kolaborasi, refleksi, eksplorasi, dan berbagi ide, sehingga dapat mengakomodasi berbagai gaya belajar peserta didik dengan optimal.

Kemitraan Pembelajaran

Kemitraan pembelajaran (learning partnerships) membentuk hubungan yang dinamis antara guru, peserta didik, orang tua, komunitas, dan mitra profesional. Pendekatan ini memindahkan kontrol pembelajaran dari guru saja menjadi kolaborasi bersama.

21

24 of 40

Elemen Ekosistem

25 of 40

Resources

Deep Learning

Engage The World Change The world

Michael Fullan dan kawan-kawan

26 of 40

Definisi Deep Learning

Deep Learning adalah sebuah proses pemerolehan 6 kompetensi Global (Character, Civilization, Collaboration, Communication, Creativity, Critical Thinking)

27 of 40

6 Global Competencies

  • Karakter
  • Belajar untuk Belajar:
  • Ketabahan, keuletan, kegigihan, dan ketahanan (lenying)
  • Regulasi diri, tanggung jawab, integritas.

  • .�
  • Kewarganegaraan:
  • Berpikir seperti Warga Global.
  • Mempertimbangkan isu-isu Global berdasarkan pemahaman mendalam tentang beragam nilai dan pandangan dunia.
  • Minat tulus dan kemampuan untuk memecahkan masalah dunia nyata yang ambigu dan kompleks yang berdampak pada keberlanjutan manusia dan lingkungan.
  • Kasih sayang, empati, dan kepedulian terhadap orang lain

28 of 40

6 Global Competencies

  • Kolaborasi:
  • Bekerja secara mandiri dan sinergis dalam tim.
  • Keterampilan interpersonal dan terkait tim.
  • Keterampilan sosial, emosional, dan antar budaya.
  • Mengelola dinamika dan tantangan tim.
  • Belajar dari dan berkontribusi pada pembelajaran orang lain.

  • Komunikasi:
  • Berkomunikasi secara efektif dengan berbagai gaya, mode, dan alat, termasuk digital.
  • Komunikasi yang dirancang untuk audiens yang berbeda.
  • Refleksi dan penggunaan proses pembelajaran untuk meningkatkan komunikasi.�

29 of 40

6 Global Competencies

  • Kreativitas:
  • Memiliki pandangan kewirausahaan untuk peluang ekonomi dan sosial.
  • Mengajukan pertanyaan penyelidikan yang tepat.
  • Mempertimbangkan dan mengejar ide dan solusi baru.
  • Kepemimpinan untuk mengubah ide menjadi tindakan.�
  • Berpikir Kritis:
  • Mengevaluasi informasi dan argumen.
  • Membuat koneksi dan mengidentifikasi pola.
  • Pemecahan masalah.
  • Membangun pengetahuan yang bermakna.
  • Bereksperimen, merefleksi, dan mengambil tindakan berdasarkan ide-ide di dunia nyata.

30 of 40

31 of 40

Pengalaman Pembelajaran yang Mendorong 6C

  1. Melibatkan proses kognitif tingkat tinggi untuk mencapai pemahaman mendalam tentang konten dan isu-isu di dunia kontemporer.
  2. Mencakup keterlibatan dalam menangani area atau isu yang seringkali bersifat lintas disiplin.
  3. Mengintegrasikan kemampuan akademik dan pribadi.
  4. Bersifat aktif, otentik, menantang, dan berpusat pada siswa.
  5. Sering dirancang untuk memberikan dampak pada dunia, baik secara lokal maupun lebih luas.
  6. Berlangsung dalam berbagai pengaturan dan semakin banyak menggunakan digital dan konektivitas.

32 of 40

Saran Roosegaarde untuk bagaimana menumbuhkan lingkungan belajar untuk anak-anak:

1. Ciptakan pembelajaran yang didorong oleh rasa ingin tahu dimana pembelajar adalah seorang penerobos dan pembentuk masa depan. This artinya harus bekerja pada isu-isu yang relevan bagi para siswa sendiri dan dunia.

2. Ajari siswa menjadi desainer masalah. Ini akan mengubah pijakan awal dari berpikir 'apa itu' menjadi 'apa yang bisa di...

3. Ajukan masalah dimana siswa bisa dilibatkan, tidak hanya disuruh menyelesaikan masalah. Berikan kesempatan untuk menemukan solusi pada ambiguitas baru yang tidak hanya menemukan sebuah jawaban yang sudah terjawab sebelumnya.

4. Tumbuhkembangkan kehidupan sebagai seoranh amatir abadi di mana belajar adalah semuanya tentang mengambil resiko dan petualangan sepanjang hayat

5. Percayalah bahwa anak2 akan melampaui semua ekspektasi kita.. Di mana kita mengajari mereka untuk tidak takut (dari hal yang belum diketahui) namun lebih ke penasaran (ingin tahu)

6. Kenalilah bahwa inovasi dan kreativitas telah ada di DNA setiap manusia.

33 of 40

Strategi deep learning

  1. Berikan tujuan yang jelas
  2. sampaikan ukuran dalam capaian pembelajaran yang dituju hari itu
  3. ciptakan suasana belajar yang menggugah rasa ingin tahu
  4. berikan kegiatan menemukan konsep yang menantang dan membuat siswa aktif mencari dan berdiskusi.
  5. berikan kesempatan untuk mengaplikasikan pengetahuan itu dalam kegiatan terbimbing, maupun spontan (unguided)
  6. refleksi

34 of 40

contoh

Tujuan Pembelajaran:

  • Siswa dapat mengidentifikasi dan menggunakan ungkapan rasa suka (likes) dan tidak suka (dislikes) dalam konteks yang berbeda.
  • Siswa dapat memahami dan merespons pertanyaan tentang preferensi orang lain.
  • Siswa dapat menggunakan ungkapan rasa suka dan tidak suka untuk berinteraksi dalam percakapan sehari-hari.

Kegiatan Pembelajaran:

  1. Aktivitas Awal (10 menit):
    • Guru membuka pelajaran dengan menanyakan tentang makanan atau kegiatan favorit siswa.
    • Siswa berbagi jawaban mereka dalam kelompok kecil.
    • Guru memperkenalkan topik tentang ungkapan rasa suka dan tidak suka.
  2. Eksplorasi (20 menit):
    • Siswa diberikan teks atau video pendek yang mengandung ungkapan rasa suka dan tidak suka.
    • Siswa bekerja dalam kelompok untuk mengidentifikasi ungkapan-ungkapan tersebut dan artinya.
    • Guru memfasilitasi diskusi dan memberikan penjelasan jika diperlukan.
  3. Analisis (20 menit):
    • Siswa menganalisis perbedaan antara berbagai ungkapan rasa suka dan tidak suka (misalnya, I like..., I love..., I'm fond of..., I don't like..., I dislike..., I hate...).
    • Siswa berdiskusi tentang konteks penggunaan masing-masing ungkapan.
    • Guru memberikan contoh tambahan dan menjelaskan nuansa makna yang mungkin ada.
  4. Praktik (30 menit):
    • Siswa berpasangan untuk saling bertanya tentang preferensi mereka menggunakan ungkapan yang telah dipelajari.
    • Siswa bermain peran dalam situasi yang berbeda, misalnya memesan makanan di restoran atau berbicara tentang hobi.
    • Guru memberikan umpan balik dan koreksi terhadap penggunaan bahasa siswa.
  5. Refleksi (10 menit):
    • Siswa menulis jurnal refleksi tentang apa yang telah mereka pelajari.
    • Siswa berbagi pengalaman mereka dalam menggunakan ungkapan rasa suka dan tidak suka dalam kehidupan sehari-hari.
    • Guru memberikan apresiasi dan motivasi kepada siswa.

35 of 40

Transformasi Peran Curu dalam Ekosistem PM

Curu sebagai Activator

Curu sebagai Collaborator

Curu sebagai Culture Builder

36 of 40

Tahapan Implementasi PM

  1. Sosialisasi PM kepada semua pemangku kepentingan.
  2. Identifikasi dan pemenuhan kebutuhan sumber daya (Curu, Satuan Pendidikan, Sumber Belajar, Dinas Pendidikan, dll).
  3. Uji coba dalam lingkup terbatas.
  4. Evaluasi hasil dan perbaikan sistem.
  5. Penerapan PM secara luas.
  6. Refleksi dan tindak lanjut untuk perbaikan selanjutnya.

37 of 40

Rekomendasi Strategis

  1. Penetapan PM sebagai fondasi utama dalam peningkatan proses dan mutu pembelajaran.
  2. Penerapan PM pada setiap jenjang pendidikan perlu didukung oleh lingkungan

pembelajaran yang kondusif, kemitraan pembelajaran yang luas dan bermakna, dan pemanfaatan teknologi digital yang efektif.

  1. Perubahan Profil Pelajar Pancasila yang terdiri atas enam dimensi menjadi Profil Lulusan dengan delapan dimensi.
  2. Penyelarasan antarperaturan perundang-undangan terkait dengan standar nasional pendidikan, kurikulum, buku teks pelajaran, proses pembelajaran, dan asesmen.
  3. Pengalokasian 10% dari jam pelajaran untuk PM interdisipliner.
  4. Penataan ulang materi esensial dalam Capaian Pembelajaran.

38 of 40

Rekomendasi Strategis

  1. Peningkatan kompetensi guru:
    1. Program pelatihan terintegrasi, pendampingan, atau pembimbingan tentang pendekatan PM.
    2. Mahasiswa calon guru diseleksi secara ketat dengan kriteria minat dan kecintaannya serta kemampuan akademik yang dilakukan secara nasional oleh LPTK yang menyelenggarakan PPG. Perlu dibuat tes seleksi yang terstandar untuk mengukur kemampuan akademik.
    3. Penyelenggaraan program pendidikan profesi guru (PPG) untuk memberikan bekal pendidikan dan pelatihan PM.
    4. Menambahkan bimbingan konseling, pendidikan nilai, dan pola pikir bertumbuh (growth mindset) dalam muatan kurikulum PPG dan pelatihan guru lainnya.
    5. Revitalisasi fungsi guru inti (master teacher) di setiap klaster satuan pendidikan, yang memiliki tanggung jawab untuk pengembangan profesionalisme guru di wilayah yang menjadi tugasnya.
    6. Pemberdayaan komunitas belajar.
    7. Pengurangan beban mengajar.

39 of 40

Rekomendasi Strategis

  1. Penyiapan dan peningkatan kapasitas kepemimpinan kepala sekolah dalam membangun budaya belajar dan budaya mutu.
  2. Peningkatan kapasitas supervisi pengawas sekolah/penilik dalam proses pendampingan, pembinaan, dan pengembangan kompetensi guru.
  3. Penyusunan Buku Curu dan Buku Siswa.
  4. Pemanfaatan teknologi digital dalam implementasi PM di sekolah
  5. Pengembangan asesmen formatif dan sumatif dengan penekanan pada asesmen otentik dan holistik.
  6. Penyusunan panduan mekanisme dan prosedur monitoring dan evaluasi implementasi PM.

40 of 40

Terima Kasih