1 of 12

KEBIJAKAN DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN NASIONAL �UNTUK MEMAJUKAN KESEHATAN SEKSUAL DAN REPRODUKSI UNTUK�SELURUH PEREMPUAN DAN ANAK PEREMPUAN DI INDONESIA

Disampaikan dalam Peluncuran Program Better Reproductive Health and Rights for All in Indonesia (BERANI) II

Jakarta, 25 Januari 2024

Amich Alhumami, Ph.D

Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan

Kementerian PPN/Bappenas

2 of 12

ANALISIS SITUASI KESEHATAN REPRODUKSI

BAGI SELURUH PEREMPUAN DAN ANAK PEREMPUAN (1/4)

Sumber: SP LF 2020

  • Angka Kematian Ibu (AKI) menunjukkan tren menurun selama 10 tahun terakhir. Namun, masih diperlukan upaya untuk mencapai target pada akhir RPJMN 2024.
  • Provinsi Papua mempunyai AKI tertinggi (565) dan Provinsi DKI Jakarta mempunyai AKI terendah (48) per 100.000 kelahiran hidup.

Aspek Kesehatan

  • Penyebab langsung diantaranya perdarahan, eklampsi, infeksi, komplikasi persalinan, dan abortus.
  • Penyebab tidak langsung diantaranya Covid-19, riwayat penyakit jantung, diabetes, TB ataupun malaria.
  • Cakupan kunjungan antenatal care (ANC) yang rendah dan kualitas pelayanan kesehatan yang kurang optimal berkontribusi kepada kematian ibu yang disebabkan hipertensi dalam kehamilan atau pendarahan.

Sumber: Kajian Pengembangan Data Kematian Ibu Berbasis Fasilitas, Bappenas, 2022

Aspek Non-Kesehatan

  • Ketidakadilan gender sepanjang hidup perempuan, seperti pola patriarki, diskriminasi, double/multiple burden serta kekerasan berbasis gender.
  • Minimnya upaya masyarakat dalam mencegah kehamilan berisiko (4 TERLALU & 3 TERLAMBAT)
  • Perkawinan Anak secara nasional menurun namun masih tinggi (8,06% -Susenas 2022).

Faktor Determinan Kematian Ibu

Sumber: SP LF 2020

  • Angka Kematian Bayi (AKB) menunjukkan tren menurun, namun disparitas wilayah masih cukup tinggi.
  • Provinsi Papua mempunyai AKB tertinggi (38,17/1.000 Kelahiran Hidup) dan Provinsi DKI Jakarta mempunyai AKI terendah (10,38/1.000 Kelahiran Hidup)

Faktor Determinan Kematian Bayi

Anemia �ibu hamil

48,9 %*

Ibu hamil kurang energi kronik (KEK)

17,3 %*

Sumber: *Riskesdas 2018

Faktor yang menjadi penyebab kematian Bayi �di Indonesia berdasarkan temuan penelitian menggunakan data SDKI 2017 diantaranya adalah:

  • Usia ibu saat melahirkan
  • Berat badan lahir
  • Daerah tempat tinggal
  • Jarak kelahiran anak.

Angka Kematian Ibu

Angka Kematian Bayi

3 of 12

ANALISIS SITUASI KESEHATAN REPRODUKSI

BAGI SELURUH PEREMPUAN DAN ANAK PEREMPUAN (2/4)

Bentuk kekerasan seksual yang paling banyak diterima oleh perempuan pada 2020 adalah Pencabulan sebanyak 412 kasus, kemudian disusul dengan Kekerasan Gender Berbasis Siber (KBGS) sebanyak 329 kasus

(Komnas Perempuan, 2022)

Pelukaan dan Pemotongan Genital Perempuan (P2GP)

Sebanyak 55% anak perempuan dari perempuan 15-49 mengalami sunat, dengan prevalensi tertinggi pada kategori sunat simbolis

Anak perempuan dari perempuan usia 15-49 tahun yang tinggal bersama dan menjalankan praktik sunat perempuan kriteria WHO

Anak perempuan dari perempuan usia 15-49 tahun yang tinggal bersama dan menjalankan praktik sunat perempuan hanya secara simbolis saja.

Sumber: SPHPN 2021

Sumber: Mahkamah Agung, 2023

Pada tahun 2019, perkara yang dikabulkan dibawah 90%. Pada tahun 2020-2023, jumlah perkara yang dikabulkan mengalami kenaikan yaitu menjadi diatas 90%.

Data Permohonan Dispensasi Kawin Tahun 2019 – 2023 (Sampai September 2023)

> 18 th

> 15 th

Sumber: BPS, 2022

Dari tahun 2008-2022, angka perkawinan anak cenderung menunjukkan penurunan. Pada tahun 2022, angka perkawinan anak (sebelum usia 18 tahun) telah melampaui target nasional, yaitu 8,06% dari target 8,74% (Tahun 2024).

Kekerasan Seksual terhadap Perempuan

Perkawinan Usia Anak

Jenis-jenis Kekerasan Seksual

4 of 12

ANALISIS SITUASI KESEHATAN REPRODUKSI

BAGI SELURUH PEREMPUAN DAN ANAK PEREMPUAN (3/4)

Orang tua memegang peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak. Ibu/ayah yang masih berusia anak belum memiliki keterampilan untuk mengasuh anak dengan optimal, yang salah satunya disebabkan oleh ketidaksiapan secara psikis.

  • Stunting lebih banyak terjadi pada kelompok miskin, walaupun masih terjadi juga �di kelompok masyarakat yang lebih kaya.

Mayoritas Perempuan dan laki-laki yang menikah sebelum 18 tahun yang tinggal di perkotaan bekerja di sektor formal dan yang tinggal di perdesaan bekerja di sektor informal.

Stunting (pendek/sangat pendek) 21,6% atau turun 2,8 persen poin dari tahun 2021.

Wasting (kurus/ sangat kurus) mengalami kenaikan dari 7,1% (2021) menjadi 7,7% (2022).

Kehamilan pra nikah di antara perempuan yang pernah menikah/ hidup bersama (usia 20-24 th) yang melahirkan sebelum umur 18:

1-dari-4 di Indonesia dan Laos

Proporsi perempuan yang pernah menikah (usia 20-24 tahun) yang hamil di luar nikah, tetapi menikah/hidup bersama setelah melahirkan

9-dari-10 di Indonesia

Kebanyakan anak perempuan yang hamil sebelum pernikahan, teridentifikasi sudah menikah pada saat anak mereka lahir. Hal ini menunjukkan bahwa pernikahan anak “mungkin” digunakan untuk memecahkan masalah kehamilan yang tidak diinginkan.

Sumber: UNICEF dan UNFPA, 2022

Kehamilan Remaja

Stunting Balita

Sumber: Riskesdas, SSGBI, dan SSGI Kemenkes

5 of 12

ANALISIS SITUASI KESEHATAN REPRODUKSI

BAGI SELURUH PEREMPUAN DAN ANAK PEREMPUAN (4/4)

Kasus HIV pada 2021 sebanyak 36.902 kasus. Dari jumlah itu, mayoritas penderitanya merupakan usia produktif.

  • 69,7% rentang usia 25-49 tahun
  • 16,9% rentang usia 20-24 tahun

Sumber: BKKBN, PK 22

PUS yang berusia < 20 tahun sebesar 0,8% PUS (304.108 PUS), sementara sebagian besar PUS berada dalam kelompok usia 35-49 tahun (57,9%), dan kelompok usia 20-34 tahun sebesar 41,3%.

  • Antisipasi kelahiran di usia remaja awal.
  • Terdapat 0,179 kelahiran per 1000 perempuan usia 10 - 14 tahun (Estimasi SDKI 2017)

ASFR 15 – 19 Tahun

ASFR 10 – 14 Tahun

36

SDKI 2017

26,64

SP LF 2020

22,8

Updating PK 2022

HIV dan AIDS

Fertilitas Remaja

6 of 12

PENDEKATAN SIKLUS HIDUP DALAM PEMBANGUNAN SDM

Prenatal

0-11 bulan

12-59 bulan

6 tahun

7-18 tahun

19-59 tahun

60 tahun ke atas

Jaminan gizi 1000 HPK

Kesehatan ibu dan anak

Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD-HI)

Habilitasi dan Rehabilitasi Anak

Pola pengasuhan dan perlindungan dari perlakuan salah

Wajib belajar 13 tahun

Pendidikan tinggi

Pendidikan dan pelatihan vokasi

Pembelajaran sepanjang hayat

Jaminan ketenagakerjaan

Jaminan kesehatan nasional, pengendalian penyakit, bantuan gizi, bantuan sosial,

asistensi dan rehabilitasi penyandang disabilitas

Bayi

Balita

Usia dini

Anak usia sekolah

dan remaja

Dewasa

Lansia

6

7 of 12

PARADIGMA BARU:�PEMBANGUNAN BERPUSAT PADA MANUSIA

Bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia pada semua aspek.

Berasosiasi dengan economic opportunities (e.g. inclusive growth, productivity, decent jobs, well-paid) untuk mewujudkan social prosperity, yang berpuncak pada pencapaian socio-cultural well-being.

Berorientasi pada peningkatan harkat dan martabat manusia (human dignity).

Pembangunan Berpusat pada Manusia

8 of 12

“Pembangunan berpusat pada manusia untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan, memampukan manusia (human capabilities) untuk meningkatkan harkat dan martabat dengan memenuhi semua kebutuhan dasar, serta menggunakan pendekatan siklus hidup”

Membangun Manusia Seutuhnya:

Sejahtera, Adaptif, Berakhlak Mulia, Berbudaya Maju, dan Berdaya Saing

Layanan Dasar

  • Layanan kesehatan dasar
  • Jaminan gizi
  • PAUDHI
  • Pendidikan dasar dan menengah
  • Perlindungan sosial
  • Perlindungan dari Perlakuan Salah

Modal Manusia

  • Pendidikan vokasi dan Pendidikan tinggi
  • Iptek dan inovasi
  • Pelatihan vokasi dan kewirausahaan
  • Literasi dan kecakapan hidup
  • Pembudayaan dan prestasi olahraga

Modal Sosial Budaya

  • Agama
  • Kebudayaan
  • Pendidikan karakter
  • Pendidikan kewargaan
  • Keluarga dan pengasuhan

PENDEKATAN SIKLUS HIDUP

PENGARUSUTAMAAN GENDER DAN INKLUSI SOSIAL

KERANGKA PIKIR PEMBANGUNAN MANUSIA

PENDUDUK TUMBUH SEIMBANG

8

9 of 12

KESEHATAN REPRODUKSI DALAM RPJMN 2020-2024

MENINGKATKAN SDM YANG BERKUALITAS DAN BERDAYA SAING

PN 3

PP3: Peningkatan Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan

KP1:

Peningkatan Kesehatan Ibu, Anak, Keluarga Berencana (KB), dan Kesehatan Reproduksi

KP2:

Percepatan Perbaikan Gizi Masyarakat

ProP 1:

Penurunan kematian ibu dan bayi

ProP 1:

Penurunan Stunting

ProP 2:

Peningkatan KB dan Kesehatan Reproduksi

KP1:

Pemenuhan Hak dan Perlindungan Anak

PP 5: Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan dan Pemuda

KP2:

Peningkatan Kesetaraan Gender, Pemberdayaan, dan Perlindungan Perempuan

ProP 1:

Penjaminan pemenuhan hak anak secara universal

ProP 2:

Perlindungan anak dari tindak kekerasan, eksploitasi, penelantaran, dan perlakukan salah lainnya

ProP 1:

Penguatan kapasitas Kelembagaan PUG

ProP 2:

Perlindungan perempuan, termasuk pekerja migran dari kekerasan dan tindak pidana perdagangan orang (TPPO)

KP3:

Peningkatan Kualitas Pemuda

ProP 2:

Pencegahan Perilaku

Beresiko

REVOLUSI MENTAL DAN PEMBANGUNAN KEBUDAYAAN

PP1: Revolusi Mental dan Pembinaan Ideologi Pancasila

KP3:

Revolusi mental dalam sistem sosial untuk memperkuat ketahanan, kualitas dan peran keluarga dan masyarakat dalam pembentukan karakter

ProP 1:

Penyiapan kehidupan berkeluarga dan kecakapan hidup

ProP 2:

Peningkatan ketahanan keluarga berdasarkan siklus hidup dengan memperhatikan kesinambungan antargenerasi, sebagai upaya penguatan fungsi dan nilai keluarga

ProP 3:

Pewujudan lingkungan yang kondusif melalui penguatan masyarakat, kelembagaan, regulasi, penyediaan saran dan prasarana, serta partisipasi dunia usaha.

PN 4

Kebijakan pembangunan bidang Kesehatan reproduksi tidak dapat dilihat hanya dari salah satu perspektif saja, sehingga dalam dokumen perencanaan RPJMN 2020-2024 kebijakan tersebut teradapat di beberapa sektor pembangunan sebagai berikut:

9

10 of 12

Mewujudkan Kesinambungan Pembangunan

Mewujudkan Sarana dan Prasarana yang Berkualitas dan Ramah Lingkungan

KERANGKA IMPLEMENTASI TRANSFORMASI

LANDASAN TRANSFORMASI

TRANSFORMASI INDONESIA

Stabilitas dan Ketangguhan Diplomasi

Ketahanan Sosial Budaya dan Ekologi

Mewujudkan Pembangunan Kewilayahan yang Merata dan Berkeadilan

Transformasi Sosial

Transformasi Ekonomi

Transformasi Tata Kelola

Kesehatan untuk Semua

Pendidikan Berkualitas yang Merata

Perlindungan Sosial yang Adaptif

IE1

IE2

IE3

Iptek, Inovasi, dan Produktivitas Ekonomi

Penerapan Ekonomi Hijau

Transformasi Digital

IE4

IE5

IE6

Integrasi Ekonomi Domestik dan Global

Perkotaan sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi

IE7

IE8

Regulasi dan Tata Kelola yang Berintegritas dan Adaptif

IE9

Hukum Berkeadilan, Keamanan Nasional Tangguh, dan Demokrasi Substansial

Stabilitas Ekonomi Makro

Ketangguhan Diplomasi dan Pertahanan Berdaya Gentar Kawasan

IE10

IE11

IE12

Keluarga Berkualitas, Kesetaraan Gender, dan Masyarakat Inklusif

Beragama Maslahat dan Berkebudayaan Maju

Lingkungan Hidup Berkualitas

IE13

IE14

IE15

Ketahanan Energi, Air, dan Kemandirian Pangan

Resiliensi terhadap Bencana dan Perubahan Iklim

IE16

IE17

17 ARAH (TUJUAN) PEMBANGUNAN INDONESIA EMAS

Program BERANI II diharapkan dapat mendukung Indonesia Emas (IE) terkait Kesehatan untuk Semua (IE1) dan Keluarga Berkualitas, Kesetaraan Gender, dan Masyarakat Inklusif (IE14)

10

11 of 12

OPTIMALISASI PARTISIPASI AKTIF ANAK, REMAJA, PEMUDA DAN PEREMPUAN DALAM ADVOKASI ISU KESEHATAN REPRODUKSI

BERBAGAI DOKUMEN DAN PRAKTIK BAIK PERLIBATAN ANAK, REMAJA DAN PEMUDA

DALAM ADVOKASI KESEHATAN REPRODUKSI

Partisipasi Aktif Anak, Remaja, Pemuda dan Perempuan dalam Advokasi Isu Kesehatan Reproduksi

  • Terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan edukasi dan peningkatan kapasitas terkait dengan isu kesehatan reproduksi.

  • Meningkatkan kesadaran teman sebaya dan Masyarakat terkait dengan kesehatan reproduksi melalui berbagai platform.

  • Berpartisipasi dalam menyuarakan hak-hak anak, remaja, pemuda dan perempuan khususnya terkait kesehatan reproduksi.

  • Menjadi peer counselor bagi teman sebaya.

  • Membantu menciptakan lingkungan yang aman tanpa perundungan (baik di sekolah ataupun di lingkungan tempat tinggal) khususnya bagi anak atau remaja perempuan yang terlanjur menikah/hamil.

50+

Kebijakan Pencegahan Perkawinan Anak di tingkat Daerah, yang terdiri dari:

  • 4 Peraturan Daerah
  • 3 Surat Edaran (SE) Gubernur
  • 6 Peraturan Gubernur (Pergub)
  • 6 Peraturan Walikota (Perwali)
  • 29 Peraturan Bupati (Perbup)
  • Perdes Pencegahan Perkawinan Anak

Sumber: KemenPPPA dan Koalisi Perempuan Indonesia, 2023

Pencegahan Perkawinan Anak

di Kabupaten Bone (2021)

  • Program UNALA yang dilaksanakan oleh Yayasan Siklus Sehat Indonesia (YSSI) telah melaksanakan program pelayanan kesehatan reproduksi yang ditujukan bagi remaja.

  • Program UNALA menjangkau remaja melalui kegiatan promosi dan informasi kesehatan reproduksi remaja (KRR) dan penyediaan layanan kesehatan yang ramah remaja dengan melibatkan 28 dokter dan bidan sebagai mitra UNALA di DIY

BEBERAPA HASIL DUKUNGAN PROGRAM BERANI I

https://sites.google.com/view/community-of-practice/beranda

Inisiasi dan fasilitasi Community of Practice (CoP) bagi para kreator konten kespro muda, termasuk pengembangan CoP sebagai Hub untuk Digital Sexually Education (DSE) di Asia Pasifik.

Terdapat 127 aksi Pencegahan Perkawinan Anak yang telah dilakukan oleh Kementerian/Lembaga dan Mitra Pembangunan pada tahun 2022, antara lain:

  • Strategi 1. Optimalisasi Kapasitas Anak: 11 aksi
  • Strategi 2. Lingkungan yang Mendukung Pencegahan Perkawinan Anak: 32 aksi
  • Strategi 3. Aksesibilitas dan Perluasan Layanan: 12 aksi
  • Strategi 4. Penguatan Regulasi dan Kelembagaan: 23 aksi
  • Strategi 5. Penguatan Koordinasi Pemangku Kepentingan: 50 aksi

Sumber: KPAPO Bappenas, 2022

11

12 of 12