di
MATERI EJAAN YANG DISEMPURNAKAN�BAHASA INDONESIA
Sumber : Supardi unnes
Oleh :
Drs. Parmono, M.Pd.
Pada bagian ini akan dibatasi dua pokok bahasan
A. Huruf Besar atau Huruf Kapital
Misalnya : Ada gula, ada semut
Apa maksudmu?
Kita harus bekerja keras
Misalnya : Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
“Kemarin engkau terlambat.” Katanya.
3. Dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang � berhubungan dengan hal-hal keagamaan, kitab suci, dan � nama Tuhan, termasuk kata gantinya.
Misalnya : Allah
Yang Mahakuasa
Yang Maha Pengasih
Quran
Alkitab
Weda
Islam
Kristen
Mintalah kepada-Nya
Bimbinglah hamba-Mu ini
4. Dipakai sebagai huruf pertama gelar � kehormatan, keturunan, dan keagaaman yang � diikuti nama orang.
Misalnya : Haji Agus Salim
Imam Syafii
Mahaputra Yamin
Nabi brahim
Sultan Hasanuddin, dsb
Tetapi perhatikan contoh berikut.
Hasanuddin, sultan Makasar digelari juga
Ajam Jantan dari Timur
5. Dipakai sebagian huruf pertama nama jabatan dan � pangkat yang diikuti nama orang.
Misalnya : Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara
Presiden Soeharto
Profesor Soemitro
Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman
Tetapi perhatikan penulisan berikut ini.
6. Dipakai sebagai huruf pertama nama orang
Misalnya : Amir Hamzah
Dewi Sartika
Wage Rudolf Supratman
7. Dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa
Misalnya : Bahasa Indonesia
Suku Sunda
Bahasa Inggris
Tetapi perhatikan penulisan berikut.
Mengindonesiakan kata-kata asing
Keingris-ingrisan
8. Dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari
raya, dan peristiwa sejarah.
Mislanya : tahun Hijarh
Tarikh Masehi
Bulan Agustus
Hari Jum’at
Hari Lebaran
Hari Galungan
Hari Natal
Proklamasi Kemerdekaa
Tetapi, perhatikan penulisan berikut!
Memproklamasikan kemerdekaan
9. Dipakai sebagai huruf pertama nama khas dalam geografi
Misalnya : Asia tenggara Banyuwangi
Bukit barisan Danau Toba
Gunung Semeru Jalan Asia Afrika
Jazirah Arab Kali Brantas
Selat Makasar Tanjung Harapan
Teluk Cendrawasih Terusan Suez
Tetapi perhatikan penulisan berikut!
Berlayar ke teluk
Mandi di kali
Menyebrangi selat
Kita menuju ke arah barat, dsb
10. Dipakai sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga
pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi.
Misalnya : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Dewan Perwakilan rakyat
Kerajaan Majapahit
Piagam Jakarta
Undang-Undang Dasar republik Indonesia
Tetapi, perhatikan penulisan berikut
Menurut undang-undang dasar kita
Pemerintah kerajaan itu
11. Dipakai dalam singkatan nama gelar dan sapaan
Misalnya : Dr. Doktor
Ir. Insinyur
M.A Master of Arts
Ny. Nyonya
Prof. Profesor
Sdr. Saudara
S.H. Sarjana Hukum
M.Ed. Master of Education
Tn. Tuan,
Catatan : Singkatan tersebut selalu diikuti oleh tanda titik (.)
12. Dipakai sebagai huruf pertama semua
kata dalam nama buku, majalah, surat
kabar, dan judul karangan, kecuali kata
tugas. (kata depan, kata penghubung,
patikel)
Misalnya :
Dari Ave Maria ke Jalan lain ke Roma
Pelajaran Bahasa Indonesia untuk
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
Salah Asuhan.
13. Dipakai sebagai huruf pertama kata petunjuk hubungan
kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik,
paman, dan sebaginya yang dipakai sebagai kata ganti
sapaan.
Misalnya : Kapan Bapak berangkat?
Surat Saudara telah saya terima dua hari yang lalu.
Kapan Paman berkunjung ke rumah saya?
Belajarlah baik-baik, Dik!
Ayah sedang ke rumah Pak Camat.
Para ibu sedang menjenguk Ibu Hasan
Catatan : huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata petunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai sebagai kata ganti.
Huruf Miring
Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk :
1. Menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam karangan.
Misalnya : majalah Bahasa dan Kessusastraan
Negara kartagama karangan Prapanca
Surat kabar Republika, dsb
2. Menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata.
Misalnya : Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf besar.
Buatlah kalimat dengan kata berlepas tangan.
Huruf pertama pada huruf Arab adalah alif, dsb.
3. Menuliskan kata nama-nama ilmiah, atau ungkapan
asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
Misalnya :
Sebaiknya pakailah kata penataran untuk mengganti
kata up-grading?
Buatlah manggis nama latinnya ialah Garcinia
mangostana.
Politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini. Dsb
Catatan :
Dalam penulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang
akan dicetak miring diberi garis di bawahnya.
Tanda Baca
Tanda Titik (.)
1. Dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya : Ayahku tinggal di Solo.
Dia menanyakan siapa yang akan datang.
Sudilah kiranya Saudara mengabulkan
permohonan ini, dsb.
2. Dipakai pada akhir singkatan nama orang.
Misalnya : A.S. Permana
Muh. Yamin
Sutisna. S dst
3. Dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, gelar, dan sapaan
Misalnya : Bc. Hk. Bakalureat Hukum
Kep. Kepala
Kol. Kolonel
M.B.A. Master of Business Administration
M. Sc. Master of Science
S.E. Sarjana Ekonomi, dst.
4. Dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat
umum. Pada singkatan yang terdiri dari tiga huruf atau lebih
hanya dipakai satu tanda titik.
Misalnya : a.n. atas nama
dkk. dengan kawan-kawan
dll. dan lain-lain
hlm halaman
5. Dipakai dibelakang angka atau huruf dalam suatu bagian,
ikhtisar, atau daftar.
Misalnya : III. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
A. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar Dan
Menengah
1. Kebijakan Ditjen. Dikdasmen
1.1 Wajar Dikdas 9 tahun
1.1.1 Membuka SMP terbuka, dst
6. Dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang
menunjukkan waktu.
Misalnya :
- pukul 6.30.20 (pukul 6 lewat 30 menit 20 detik)
7. Dipakai untuk memisahkan angka, jam, menit dan detik yang
menunjukkan jangka waktu
Misalnya :
- 6.30.20 jam (6 jam, 30 menit, 20 detik)
8. Tidak dipakai untuk memisahkan angka ribuan,
jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukkan
jumlah.
Misalnya :
Lahir di Bandung pada tahun 1948
Lihat halaman 2345
NIP 130523702. dst
9. Tidak dipakai dalam singkatan yang terdiri dari huruf-huruf awal kata
atau suku kata, atau gabungan keduanya, atau akronim yang sudah
lazim.
Misalnya : ABRI (huruf-huruf awal kata)
SMA (huruf-huruf awal kata)
Deppen (awal suku kata)
Tilang (akronim) – bukti pelanggaran
Pantura (akronim) – pantai utara, dst
10. Tidak dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran,
takaran, timbangan, dan mata uang.
Misalnya : Cu Kuprun
10 cm Panjangnya 10 cm
Kg Beratnya 100 kg
Rp. 576.00 (lima ratus puluh enam rupiah)
11. Tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan,
atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.
Misalnya :
Acara Kunjungan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD 45)
Salah Asuhan
12. Tidak dipakai di belakang alamat pengirim dan tanggal dan tanggal
surat, atau nama dan alamat pengirim surat.
Misalnya : Jalan Hang Lekir II/16
Jakarta, 19 Juli 1995
Yth.Sdr. Moh. Hasan
Jalan Jenderal Sudirman
Padang
Tanda Koma (,)
pembilangan.
Misalnya : Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
Perhatikan aba-aba satu, dua, tiga!
2. Dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari
kalimat setara berikutnya yang didahuli oleh kata seperti,
tetapi, melainkan.
Misalnya : Saya ingin datang, tetapi hari hujan
Yang datang tadi malam bukan saya, melainkan
teman saya. dst
3. Dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk
kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului
induk kalimatnya.
Misalnya :
Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.
Tetapi tanda koa tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mengiringi induk kalimat.
Misalnya :
Dia lupa akan janjinya karen sibuk.
4. Dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antara
kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di
dalamnya, oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu,
akan tetapi.
Misalnya :
Oleh karena itu, kita harus berhati-hati.
Jadi, masalahnya tidak semudah itu.
5. Dipakai di belakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh,
kasihan, yang terdapat pada awal kalimat.
Misalnya : O, begitu?
Kasihan, tiap hari di datang terlambat.
6. Dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari
bagian lain dalam kalimat.
Misalnya : Kata Ibu, “Saya gembira sekali.”
“Saya gembira sekali,” kata ibu, “karena
kamu lulus.”
7. Dipakai di antara (i) nama dan alamat (ii) bagian-
bagian, (iii) tempat tinggal, (iv) nama tempat dan
wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya : Kuala Lumpur, Malaysia
PPPG Bahasa, Jalan Srengseng Sawah,
Pasar Minggu, Jakarta Selatan
8. Dipakai untuk menceraikan bagian-nama yang dibalik
susunanya dalam daftar pustaka.
Misalnya :
Badudu, JS, Dr. Sari Kesustraan Indonesia Jilid 1
9. Dipakai di antara tempat penerbit, nama penerbit, dan tahun
penerbit.
Misalnya :
Merari Siregar, Azab dan Sengsara, Balai Pustaka 1920.
10. Dipakai di antara nama orang dan gelar akademik
yang mengikutinya, untuk membedakan dari
singkatan nama keluarga atau warga.
Misalnya : Sumardi, S.H.
R. Sumarni, M.A.
11. Dipakai di muka angka perpuluhan dan di antara
rupiah dengan sen dalam bilangan
Misalnya :
12,54 cm
Rp. 1500,50 (lambang Rp. Tidak diberi titik)
12. Dipakai untuk memisahkan keterangan tambahan dan
keterangan aposisi.
Misalnya :
Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali
13. Tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari
bagian lain dalam kalimat, apabila petikan langsung tersebut
berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan mendahului
bagian lain dalam kalimat.
Misalnya :
“Di mana Saudara tinggal?” tanya Karim
“Berbaris dua-dua! Perintahnya.
Tanda Titik Koma (;)
yang sejenis dan setara.
Misalnya :
Waktu semakin mendesak; pekerjaan kami belum
selesai
2. Diapakai untuk memisahkan kalimat yang setara di
dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata
penghubung.
Misalnya :
Ayah membaca koran di kamar depan; ibu memasak di
dapur; adik menggambar pemandangan di halaman
rumah
Tanda Titik Dua (:)
1. Dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila
diikuti rangkaian atau pemerian.
Misalnya :
Barang-barang yang kita perlukan sekarang ialah :
kursi, meja, dsb
2. Dipakai sesudah kata atau ungkapan yang
memerlukan pemerian.
Misalnya :
a. Ketua : R. Sunarya
b. Sekretaris : Susilawati, dst
3. Dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan
pelaku dalam percakapan.
Misalnya :
Ibu : “Rajin-rajinlah kamu belajar, Nak!”
Anak : “Tentu saja, Bu! Karena saya ingin menjadi juara kelas.”
4. Tidak dipakai bila rangkaian atau pemerian atau merupakan
pelengkapan yang mengakhiri pernyataan.
Misalnya :
Kita memerlukan kursi, meja, lemari, dan perabot dapur.
5. Dipakai (i) diantara jilid atau nomor dan halaman, (ii)
diantara bab dan ayat-ayat dalam kitab suci, (iii) di antara
judul dan anak judul suatu karangan.
Misalnya :
(i) Gatra, 1 (1994), 34:7
(ii) Surat Yasin : 9
(iii) Krangan N.H. Dini, Pada Sebuah Kapal : Sudah
dikenal.
2. Dipakai untuk tanda hubung pada kata ulang: anak-anak,
berulang-ulang, dst.
3. Dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian
ungkapan Bandingkan : ber-evolusi dengan be-revolusi.
Duapuluh-lima ribuan (20x5000) dengan dua-puluh-lima-
ribuan.
4. Dipakai untuk merangkaikan (a) se-dengan kata
berikutnya yang di mulai dengan huruf kapital, (b) ke-
dengan angka, (c) angka dengan-an, dan (d) singkatan
huruf kapital dengan imbuhan atau kata.
Misalnya :
se-Indondesia
Hadiah ke-2
Tahun 50-an
KTP-nya hilang
Sinar-X, dsb
5. Dipakai untuk merangkaikan bahasa Indonesia dengan
unsur bahasa asing.
Misalnya :
di-charter
Pen-tackle-an, dsb.
Tanda Tanya (?)
berangkat?
2. Dipakai di antara tanda kurang untuk menyatakan
bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang
dapat dibuktikan.
Misalkan :
Saya dilahirkan tahun 1948 (?)
Uangnya sebanyak 10 juta (?) hilang.
Tanda Seru (!)
Dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah .
Misalnya :
Alangkah ramainya peristiwa itu !
Masa! Sampai hati dia mengecewakan orang tuanya!
CUKUP SEKIAN TRIMAKASIH��Drs. Parmono, M.Pd.�SMAN 57 JB. II�