1 of 40

di

MATERI EJAAN YANG DISEMPURNAKAN�BAHASA INDONESIA

2 of 40

Sumber : Supardi unnes

Oleh :

Drs. Parmono, M.Pd.

3 of 40

Pada bagian ini akan dibatasi dua pokok bahasan

  1. Penulisan huruf
  2. Tanda baca

4 of 40

A. Huruf Besar atau Huruf Kapital

      • Huruf besar atau huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata awal kalimat.

Misalnya : Ada gula, ada semut

Apa maksudmu?

Kita harus bekerja keras

      • Dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.

Misalnya : Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”

Kemarin engkau terlambat.” Katanya.

5 of 40

3. Dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang � berhubungan dengan hal-hal keagamaan, kitab suci, dan � nama Tuhan, termasuk kata gantinya.

Misalnya : Allah

Yang Mahakuasa

Yang Maha Pengasih

Quran

Alkitab

Weda

Islam

Kristen

Mintalah kepada-Nya

Bimbinglah hamba-Mu ini

6 of 40

4. Dipakai sebagai huruf pertama gelar � kehormatan, keturunan, dan keagaaman yang � diikuti nama orang.

Misalnya : Haji Agus Salim

Imam Syafii

Mahaputra Yamin

Nabi brahim

Sultan Hasanuddin, dsb

Tetapi perhatikan contoh berikut.

Hasanuddin, sultan Makasar digelari juga

Ajam Jantan dari Timur

7 of 40

5. Dipakai sebagian huruf pertama nama jabatan dan � pangkat yang diikuti nama orang.

Misalnya : Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara

Presiden Soeharto

Profesor Soemitro

Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman

Tetapi perhatikan penulisan berikut ini.

  • Siapa gubernur yang baru dilantik itu?
  • Ayah temanku seorang profesor
  • Seorang jendral gugur dalam perjuangan itu

8 of 40

6. Dipakai sebagai huruf pertama nama orang

Misalnya : Amir Hamzah

Dewi Sartika

Wage Rudolf Supratman

7. Dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa

Misalnya : Bahasa Indonesia

Suku Sunda

Bahasa Inggris

Tetapi perhatikan penulisan berikut.

Mengindonesiakan kata-kata asing

Keingris-ingrisan

9 of 40

8. Dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari

raya, dan peristiwa sejarah.

Mislanya : tahun Hijarh

Tarikh Masehi

Bulan Agustus

Hari Jum’at

Hari Lebaran

Hari Galungan

Hari Natal

Proklamasi Kemerdekaa

Tetapi, perhatikan penulisan berikut!

Memproklamasikan kemerdekaan

10 of 40

9. Dipakai sebagai huruf pertama nama khas dalam geografi

Misalnya : Asia tenggara Banyuwangi

Bukit barisan Danau Toba

Gunung Semeru Jalan Asia Afrika

Jazirah Arab Kali Brantas

Selat Makasar Tanjung Harapan

Teluk Cendrawasih Terusan Suez

Tetapi perhatikan penulisan berikut!

Berlayar ke teluk

Mandi di kali

Menyebrangi selat

Kita menuju ke arah barat, dsb

11 of 40

10. Dipakai sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga

pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi.

Misalnya : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Dewan Perwakilan rakyat

Kerajaan Majapahit

Piagam Jakarta

Undang-Undang Dasar republik Indonesia

Tetapi, perhatikan penulisan berikut

Menurut undang-undang dasar kita

Pemerintah kerajaan itu

12 of 40

11. Dipakai dalam singkatan nama gelar dan sapaan

Misalnya : Dr. Doktor

Ir. Insinyur

M.A Master of Arts

Ny. Nyonya

Prof. Profesor

Sdr. Saudara

S.H. Sarjana Hukum

M.Ed. Master of Education

Tn. Tuan,

Catatan : Singkatan tersebut selalu diikuti oleh tanda titik (.)

13 of 40

12. Dipakai sebagai huruf pertama semua

kata dalam nama buku, majalah, surat

kabar, dan judul karangan, kecuali kata

tugas. (kata depan, kata penghubung,

patikel)

Misalnya :

Dari Ave Maria ke Jalan lain ke Roma

Pelajaran Bahasa Indonesia untuk

Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama

Salah Asuhan.

14 of 40

13. Dipakai sebagai huruf pertama kata petunjuk hubungan

kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik,

paman, dan sebaginya yang dipakai sebagai kata ganti

sapaan.

Misalnya : Kapan Bapak berangkat?

Surat Saudara telah saya terima dua hari yang lalu.

Kapan Paman berkunjung ke rumah saya?

Belajarlah baik-baik, Dik!

Ayah sedang ke rumah Pak Camat.

Para ibu sedang menjenguk Ibu Hasan

Catatan : huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata petunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai sebagai kata ganti.

15 of 40

Huruf Miring

Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk :

1. Menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam karangan.

Misalnya : majalah Bahasa dan Kessusastraan

Negara kartagama karangan Prapanca

Surat kabar Republika, dsb

2. Menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata.

Misalnya : Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf besar.

Buatlah kalimat dengan kata berlepas tangan.

Huruf pertama pada huruf Arab adalah alif, dsb.

16 of 40

3. Menuliskan kata nama-nama ilmiah, atau ungkapan

asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.

Misalnya :

Sebaiknya pakailah kata penataran untuk mengganti

kata up-grading?

Buatlah manggis nama latinnya ialah Garcinia

mangostana.

Politik devide et impera pernah merajalela di negeri ini. Dsb

Catatan :

Dalam penulisan tangan atau ketikan, huruf atau kata yang

akan dicetak miring diberi garis di bawahnya.

 

17 of 40

Tanda Baca

Tanda Titik (.)

1. Dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.

Misalnya : Ayahku tinggal di Solo.

Dia menanyakan siapa yang akan datang.

Sudilah kiranya Saudara mengabulkan

permohonan ini, dsb.

2. Dipakai pada akhir singkatan nama orang.

Misalnya : A.S. Permana

Muh. Yamin

Sutisna. S dst

18 of 40

3. Dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, gelar, dan sapaan

Misalnya : Bc. Hk. Bakalureat Hukum

Kep. Kepala

Kol. Kolonel

M.B.A. Master of Business Administration

M. Sc. Master of Science

S.E. Sarjana Ekonomi, dst.

19 of 40

4. Dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat

umum. Pada singkatan yang terdiri dari tiga huruf atau lebih

hanya dipakai satu tanda titik.

Misalnya : a.n. atas nama

dkk. dengan kawan-kawan

dll. dan lain-lain

hlm halaman

20 of 40

5. Dipakai dibelakang angka atau huruf dalam suatu bagian,

ikhtisar, atau daftar.

Misalnya : III. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

A. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar Dan

Menengah

1. Kebijakan Ditjen. Dikdasmen

1.1 Wajar Dikdas 9 tahun

1.1.1 Membuka SMP terbuka, dst

21 of 40

6. Dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang

menunjukkan waktu.

Misalnya :

- pukul 6.30.20 (pukul 6 lewat 30 menit 20 detik)

7. Dipakai untuk memisahkan angka, jam, menit dan detik yang

menunjukkan jangka waktu

Misalnya :

- 6.30.20 jam (6 jam, 30 menit, 20 detik)

22 of 40

8. Tidak dipakai untuk memisahkan angka ribuan,

jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukkan

jumlah.

Misalnya :

Lahir di Bandung pada tahun 1948

Lihat halaman 2345

NIP 130523702. dst

23 of 40

9. Tidak dipakai dalam singkatan yang terdiri dari huruf-huruf awal kata

atau suku kata, atau gabungan keduanya, atau akronim yang sudah

lazim.

Misalnya : ABRI (huruf-huruf awal kata)

SMA (huruf-huruf awal kata)

Deppen (awal suku kata)

Tilang (akronim) – bukti pelanggaran

Pantura (akronim) – pantai utara, dst

10. Tidak dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran,

takaran, timbangan, dan mata uang.

Misalnya : Cu Kuprun

10 cm Panjangnya 10 cm

Kg Beratnya 100 kg

Rp. 576.00 (lima ratus puluh enam rupiah)

24 of 40

11. Tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan,

atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.

Misalnya :

Acara Kunjungan Menteri Pendidikan dan

Kebudayaan Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD 45)

Salah Asuhan

12. Tidak dipakai di belakang alamat pengirim dan tanggal dan tanggal

surat, atau nama dan alamat pengirim surat.

Misalnya : Jalan Hang Lekir II/16

Jakarta, 19 Juli 1995

Yth.Sdr. Moh. Hasan

Jalan Jenderal Sudirman

Padang

25 of 40

Tanda Koma (,)

          • Dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau

pembilangan.

Misalnya : Saya membeli kertas, pena, dan tinta.

Perhatikan aba-aba satu, dua, tiga!

2. Dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari

kalimat setara berikutnya yang didahuli oleh kata seperti,

tetapi, melainkan.

Misalnya : Saya ingin datang, tetapi hari hujan

Yang datang tadi malam bukan saya, melainkan

teman saya. dst

26 of 40

3. Dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk

kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului

induk kalimatnya.

Misalnya :

Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.

Tetapi tanda koa tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mengiringi induk kalimat.

Misalnya :

Dia lupa akan janjinya karen sibuk.

27 of 40

4. Dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antara

kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di

dalamnya, oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu,

akan tetapi.

Misalnya :

Oleh karena itu, kita harus berhati-hati.

Jadi, masalahnya tidak semudah itu.

5. Dipakai di belakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh,

kasihan, yang terdapat pada awal kalimat.

Misalnya : O, begitu?

Kasihan, tiap hari di datang terlambat.

28 of 40

6. Dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari

bagian lain dalam kalimat.

Misalnya : Kata Ibu, “Saya gembira sekali.”

“Saya gembira sekali,” kata ibu, “karena

kamu lulus.”

7. Dipakai di antara (i) nama dan alamat (ii) bagian-

bagian, (iii) tempat tinggal, (iv) nama tempat dan

wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

Misalnya : Kuala Lumpur, Malaysia

PPPG Bahasa, Jalan Srengseng Sawah,

Pasar Minggu, Jakarta Selatan

29 of 40

8. Dipakai untuk menceraikan bagian-nama yang dibalik

susunanya dalam daftar pustaka.

Misalnya :

Badudu, JS, Dr. ­Sari Kesustraan Indonesia Jilid 1

9. Dipakai di antara tempat penerbit, nama penerbit, dan tahun

penerbit.

Misalnya :

Merari Siregar, Azab dan Sengsara, Balai Pustaka 1920.

30 of 40

10. Dipakai di antara nama orang dan gelar akademik

yang mengikutinya, untuk membedakan dari

singkatan nama keluarga atau warga.

Misalnya : Sumardi, S.H.

R. Sumarni, M.A.

11. Dipakai di muka angka perpuluhan dan di antara

rupiah dengan sen dalam bilangan

Misalnya :

12,54 cm

Rp. 1500,50 (lambang Rp. Tidak diberi titik)

31 of 40

12. Dipakai untuk memisahkan keterangan tambahan dan

keterangan aposisi.

Misalnya :

Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali

13. Tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari

bagian lain dalam kalimat, apabila petikan langsung tersebut

berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan mendahului

bagian lain dalam kalimat.

Misalnya :

“Di mana Saudara tinggal?” tanya Karim

“Berbaris dua-dua! Perintahnya.

32 of 40

Tanda Titik Koma (;)

          • Dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat

yang sejenis dan setara.

Misalnya :

Waktu semakin mendesak; pekerjaan kami belum

selesai

2. Diapakai untuk memisahkan kalimat yang setara di

dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata

penghubung.

Misalnya :

Ayah membaca koran di kamar depan; ibu memasak di

dapur; adik menggambar pemandangan di halaman

rumah

33 of 40

Tanda Titik Dua (:)

1. Dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila

diikuti rangkaian atau pemerian.

Misalnya :

Barang-barang yang kita perlukan sekarang ialah :

kursi, meja, dsb

2. Dipakai sesudah kata atau ungkapan yang

memerlukan pemerian.

Misalnya :

a. Ketua : R. Sunarya

b. Sekretaris : Susilawati, dst

34 of 40

3. Dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan

pelaku dalam percakapan.

Misalnya :

Ibu : “Rajin-rajinlah kamu belajar, Nak!”

Anak : “Tentu saja, Bu! Karena saya ingin menjadi juara kelas.”

4. Tidak dipakai bila rangkaian atau pemerian atau merupakan

pelengkapan yang mengakhiri pernyataan.

Misalnya :

Kita memerlukan kursi, meja, lemari, dan perabot dapur.

35 of 40

5. Dipakai (i) diantara jilid atau nomor dan halaman, (ii)

diantara bab dan ayat-ayat dalam kitab suci, (iii) di antara

judul dan anak judul suatu karangan.

Misalnya :

(i) Gatra, 1 (1994), 34:7

(ii) Surat Yasin : 9

(iii) Krangan N.H. Dini, Pada Sebuah Kapal : Sudah

dikenal.

36 of 40

              • Dipakai untuk memisahkan suku-suku kata : ba-ru, ke-ma-ri, dst.

2. Dipakai untuk tanda hubung pada kata ulang: anak-anak,

berulang-ulang, dst.

3. Dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian

ungkapan Bandingkan : ber-evolusi dengan be-revolusi.

Duapuluh-lima ribuan (20x5000) dengan dua-puluh-lima-

ribuan.

        • Tanda Hubung

37 of 40

4. Dipakai untuk merangkaikan (a) se-dengan kata

berikutnya yang di mulai dengan huruf kapital, (b) ke-

dengan angka, (c) angka dengan-an, dan (d) singkatan

huruf kapital dengan imbuhan atau kata.

Misalnya :

se-Indondesia

Hadiah ke-2

Tahun 50-an

KTP-nya hilang

Sinar-X, dsb

5. Dipakai untuk merangkaikan bahasa Indonesia dengan

unsur bahasa asing.

Misalnya :

di-charter

Pen-tackle-an, dsb.

38 of 40

Tanda Tanya (?)

              • Dipakai pada akhir kalimat tanya : Kapan ia

berangkat?

2. Dipakai di antara tanda kurang untuk menyatakan

bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang

dapat dibuktikan.

Misalkan :

Saya dilahirkan tahun 1948 (?)

Uangnya sebanyak 10 juta (?) hilang.

39 of 40

Tanda Seru (!)

Dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah .

Misalnya :

Alangkah ramainya peristiwa itu !

Masa! Sampai hati dia mengecewakan orang tuanya!

40 of 40

CUKUP SEKIAN TRIMAKASIH��Drs. Parmono, M.Pd.�SMAN 57 JB. II