1 of 50

EVENT BASED SURVEILLANCE�(SURVEILANS BERBASIS KEJADIAN)

Substansi Surveilans �Pelatihan Penggunaan Aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR)

Bagi Petugas Surveilans di Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota

Yogyakarta, 11-13 Januari 2022

2 of 50

EDY PURWANTO, SKM, M.KES��EPIDKES AHLI MADYA �DIREKTORAT SURVEILANS DAN KARANTINA KESEHATAN�EDY.SUKSES.MULYA@GMAIL.COM�081315346823

3 of 50

Hasil Pembelajaran�(TPU)

Peserta mampu melakukan surveilans berbasis kejadian (EBS)

4 of 50

Indikator Hasil Belajar

Peserta mampu:

    • Menjelaskan langkah-langkah identifikasi dan penyaringan rumor penyakit.
    • Melakukan verifikasi rumor penyakit menggunakan prinsip-prinsip penyelidikan epidemiologi
    • Melakukan pelaporan surveilans berbasis kejadian
    • Melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan follow-up respons terhadap rumor

5 of 50

Apa yang dimaksud dengan

Surveilans Berbasis Kejadian

(Event Based Surveillance)???

6 of 50

LANGKAH-LANGKAH IDENTIFIKASI DAN PENYARINGAN RUMOR PENYAKIT.�

POKOK BAHASAN

7 of 50

Pengertian Surveilans Berbasis Kejadian/ Event Based Surveilans

Surveilans berbasis kejadian (EBS):

Pengumpulan, pemantauan, penilaian dan interpretasi informasi ad hoc yang sebagian besar tidak terstruktur mengenai kejadian atau risiko kesehatan, yang mungkin merupakan risiko akut bagi kesehatan manusia.

8 of 50

Sumber EBS

Sumber utama termasuk laporan ad hoc dari fasilitas kesehatan (RS, puskesmas), laboratorium, masyarakat, bidan desa, kader kesehatan di masyarakat, praktik pengobatan tradisional, pengobatan alternative, pharmasi, KKP, hotline kesehatan, instansi pendidikan, industry, NGO, PMI, lintas sektor (sektor kesehatan hewan, satwa liar, terutama untuk penyakit zoonosis), entomolog, pengendali vektor, institusi keamanan pangan, polisi, media, internet, sosal media. Crossborder / komunikasi pada daerah lintas batas.

9 of 50

Definisi Rumor

Rumor penyakit adalah informasi penyakit yang dapat berpotensi menimbulkan KLB, tetapi belum terverifikasi kebenarannya.

Rumor penyakit didapatkan dari informasi media, masyarakat, fasilitas kesehatan dan sumber informasi lainnya.

10 of 50

Langkah-langkah Identifikasi Rumor Penyakit

Pasif: petugas menerima laporan rumor dari sumber rumor.

Aktif: petugas melakukan identifikasi rumor melalui media massa (TV, radio, media sosial, website, dll).

11 of 50

Langkah-Langkah Penyaringan Rumor Penyakit

Penyaringan rumor dilakukan dengan triase yang terdiri dari penyaringan, seleksi untuk identifikasi sinyal untuk verifikasi lebih lanjut.

12 of 50

Triase informasi EBS dibagi dalam dua langkah

Langkah 1: Penyaringan (Filtering)

Langkah 2: Seleksi/ Pemilihan

13 of 50

Langkah 1: Penyaringan (Filtering)

Penyaringan adalah proses menyaring duplikat dan informasi yang tidak relevan.

  • Mengidentifikasi duplikat, yaitu peristiwa yang sama dilaporkan oleh sumber yang sama. Misalnya, kluster yang sama dari infeksi saluran pernapasan akut di antara anak-anak dapat dilaporkan oleh beberapa surat kabar/ berita lokal.
  • Mengidentifikasi dan membuang informasi yang tidak relevan dengan SKDR, sesuai dengan tujuan untuk peringatan dini. Penyaringan harus dirancang untuk memastikan sensitivitas yang memadai; jika ragu, sinyalnya harus dikirim ke langkah berikutnya (seleksi).

14 of 50

Seleksi/ Pemilihan

Seleksi adalah pemilahan informasi menurut kriteria prioritas sebuah kejadian yang termasuk sebuah kejadian serius, tidak biasa dan tidak terduga.

“Mengeluarkan” informasi dan laporan tentang penyakit yang tidak diprioritaskan seperti: flu biasa, atau terkait dengan peningkatan kasus yang konsisten dengan periodisitas musiman yang sudah diketahui.

Berdampak besar pada kapasitas EBS untuk memberikan deteksi dini.

Dilakukan oleh personil terlatih secara epidemiologi untuk mengidentifikasi kejadian yang perlu dilakukan verifikasi dan dinilai risikonya.

Perlu memperhatikan tingkat kejadian (termasuk di tingkat provinsi dan lokal), musiman biasa dan variasi tahunan, distribusi regional penyakit, yang diketahui pada populasi berisiko dan tingkat keparahan kejadian yang dilaporkan.

15 of 50

Contoh perangkap klasik harus dihindari dalam penilaian informasi

  • Sinyal yang mengacu pada penyakit serius yang mengancam jiwa atau penyakit yang berpotensi menjadi epidemi tidak berarti bahwa peristiwa ini akan relevan untuk EBS pada umumnya dan SKDR. Misalnya, satu kasus meningitis di daerah endemik (dan tercakup oleh IBS) tidak memerlukan intervensi segera.
  • Sejumlah besar kasus tidak berarti bahwa suatu peristiwa harus “serius”, sementara satu kasus penyakit baru dapat mewakili ancaman nyata.
  • Sebuah laporan sensasional di pers seperti “peningkatan tiga kali lipat kasus influenza dilaporkan” sebenarnya bisa saja merupakan trend musiman yang sudah diketahui.

16 of 50

Contoh kejadian biasa dan kasus yang tidak biasa

Kejadian Biasa:

  • Peningkatan jumlah kasus tetapi sesuai dengan apa yang diharapkan pada awal musim penularan
  • Peningkatan sedikit di atas apa yang diharapkan tetapi dalam variasi tahunan
  • Jumlah kasus di bawah apa yang diharapkan karena sirkulasi virus tahun-tahun sebelumnya rendah

17 of 50

Kejadian Tidak Biasa

  • Terjadi sepenuhnya di luar pola musiman normal
  • Terjadi dalam waktu singkat dan di wilayah geografis yang terbatas.
  • Proporsi kasus yang signifikan terjadi pada petugas kesehatan
  • Jumlah kasus dengan CFR secara signifikan lebih tinggi dari yang diharapkan, walaupun jumlah kasus sesuai dengan yang diharapkan.
  • Deteksi fitur-fitur baru (gejala atipikal, kelompok populasi tertentu, resistensi, penyakit yang baru berasal dari luar negeri, dll.)

18 of 50

Elemen lain yang terkait dengan kejadian yang perlu juga dipertimbangkan dalam proses seleksi:

  • Risiko bagi negara lain, perjalanan dan/atau perdagangan;
  • Risiko terhadap sistem kesehatan; dan
  • Perhatian media yang tinggi diharapkan atau risiko reputasi.

19 of 50

Kriteria seleksi untuk sinyal kewas-padaan

Geografi/ Populasi

Keparahan

Agen penyakit

  • Krisis kesehatan global
  • Risiko mempengaruhi wilayah nasional
  • Risiko masuknya penyakit dari luar negeri
  • Terjadi di daerah tetangga
  • Mempengaruhi negara asal migran utama
  • Mempengaruhi negara dengan komunitas ekspatriat nasional yang besar
  • Mempengaruhi tujuan utama wisatawan
  • Berbarengan dengan acara lain (pertemuan besar, ziarah)
  • Fenomena yang muncul yang dapat mengubah rekomendasi (misalnya wisatawan)
  • Kepadatan penduduk di daerah yang terinfeksi
  • Lokasi (pedesaan-perkotaan, zona terisolasi)
  • Jumlah kasus
  • Insiden
  • Jumlah kematian
  • Angka kematian kasus
  • Tingkat keparahan gejala klinis
  • Tarif rawat inap
  • Sekuel
  • Dinamika wabah:
  • Kecepatan penyebaran
  • Distribusi Geografis
  • Durasi
  • Populasi tertentu
  • Tenaga kesehatan
  • Transmisi Rumah Sakit
  • Kelompok berisiko
  • Agen yang dikenal/diidentifikasi
  • Tingkat pengetahuan terhadap agen penyakit
  • Cara penularan
  • Tingkat penularan
  • Virulensi
  • Patogenitas
  • Potensi penyebaran
  • Ketersediaan tindakan pencegahan (misalnya vaksinasi)
  • Ketersediaan dan kapasitas penerapan tindakan pengendalian
  • Modifikasi karakteristik epidemiologi dan biologi agen (misalnya resistensi)

20 of 50

21 of 50

Quiz

Mana yang relevan informasi di bawah ini masuk ke dalam Event Based Surveillance:

A. Kantor Kesehatan Pelabuhan melaporkan ke Dinas Kesehatan adanya 5 ABK Kapal dari China yang sakit parah pneumonia membutuhkan pertolongan medis dan perlu perawatan.

B. Laporan dari RS adanya korban kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan 10 orang luka ringan, 2 orang luka berat dan 1 orang meninggal dunia.

C. Informasi dari panitia penyelenggara lari marathon bahwa ada 2 peserta dari LN yang menderita pneumonia

22 of 50

VERIFIKASI RUMOR PENYAKIT MENGGUNAKAN PRINSIP-PRINSIP PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI

POKOK BAHASAN

23 of 50

Verifikasi Rumor:

  • Langkah penting dari proses intelijen epidemi yang terdiri dari konfirmasi realitas / kebenaran dari sinyal dan karakteristiknya.
  • Dilakukan dengan secara aktif melakukan konfirmasi untuk mengetahui keabsahan informasi menggunakan sumber yang dapat dipercaya.
  • Mengumpulkan informasi pelengkap tambahan yang akan diperlukan untuk penilaian risiko, seperti jumlah kasus dan kematian, tempat dan tanggal kejadian, sindrom atau temuan biologis lainnya.
  • Mencakup prinsip epidemiologi untuk mengetahui orang, tempat dan waktu kejadian tersebut.

24 of 50

Contoh verifikasi bervariasi menurut sumber dan kejadian

  • Menghubungi otoritas kesehatan setempat;
  • Menghubungi sumber asli;
  • Pemeriksaan silang dengan sumber lain;
  • Mengumpulkan informasi tambahan; dan
  • Memeriksa informasi resmi yang tersedia di internet

25 of 50

Analisis Risiko

  • Penilaian untuk menentukan tingkat risiko terhadap kesehatan manusia
  • Untuk menetapkan tindakan mitigasi dan pengendalian potensial yang dapat diterapkan.
  • Proses yang berkelanjutan karena tingkat risiko dapat berubah seiring waktu.
  • Penilaian risiko awal harus dilakukan dalam waktu 48 jam setelah deteksi sinyal dan diulangi saat informasi baru tersedia.

26 of 50

Proses Penilaian Risiko

Penilaian Bahaya

Penilaian Paparan

Analisis Konteks

Karakterisasi Risiko

27 of 50

Penilaian Bahaya

  • Apabila bahaya yang mengakibatkan kejadian tersebut diketahui dan terdapat hasil laboratorium, maka karakterisasi agen penyebab dapat diketahui, seperti gambaran klinis, tingkat keparahan, gambaran epidemiologi.
  • Apabila agen penyebab tidak diketahui, maka dapat membuat daftar kemungkinan penyebab berdasarkan deskripsi awal kejadian; beban penyakit yang diketahui di masyarakat yang terkena; dan jenis dan distribusi bahaya yang ada, tingkat keparahan penyakit, dan informasi lainnya yang dapat menunjukkan karakterisasi bahaya.

28 of 50

Penilaian Paparan

  • Penilaian paparan untuk:
    • mempertimbangkan kelompok rentan,
    • cara penularan,
    • apanya kekebalan tubuh,
    • vektor, periode inkubasi,
    • estimasi potensial transimi,
    • status imunologi,
    • dosis dan durasi paparan
    • dan informasi lainnya yang mempengaruhi paparan.
  • Pada penilaian paparan melakukan perkiraan jumlah orang atau kelompok yang terpapar dan kelompok rentan / berisiko yang terpapar (tidak memiliki kekebalan).

29 of 50

Analisis Konteks

  • Mempertimbangkan konteks/ kapasitas yang dapat mempengaruhi risiko, termasuk faktor lingkungan, iklim, musim, kapasitas pengendalian, sosial budaya, dan informasi lainnya.

30 of 50

Karakteristik Risiko

  • Dengan mempertimbangkan bahaya, paparan dan konteks, maka dilakukan karakterisasi risiko.
  • Karakterisasi risiko dapat menggunakan matrik berikut:

31 of 50

Karakterisasi Kejadian

Discard (Dikeluarkan)

Peristiwa yang tidak menimbulkan risiko langsung terhadap kesehatan manusia harus dikeluarkan.

Monitor

Klasifikasi ini sesuai ketika respons spesifik belum diperlukan, tetapi ada potensi kejadian yang serius dan membutuhkan respons yang tepat. Kategori ini dapat mencakup situasi di mana informasi tambahan sedang dikumpulkan, hasil laboratorium tertunda, ada peristiwa internasional dengan potensi impor kasus ke negara tersebut, ada risiko kesehatan tanpa kasus manusia untuk saat ini, dll. Tindak lanjut dan penilaian risiko tambahan harus diulang berdasarkan informasi yang baru diterima.

Respon

Respon harus terjadi ketika penyelidikan lapangan lebih lanjut atau tindakan pengendalian diperlukan untuk menghentikan transmisi. Respon dapat berupa saran teknis, penyelidikan epidemiologi dan penaggulangan, atau koordinasi tanggapan untuk wabah multi-provinsi.

Ditutup

(Closed)

Kejadian harus ditutup ketika tidak ada tindakan lebih lanjut yang diperlukan berdasarkan penilaian risiko. Misalnya, risiko terhadap kesehatan manusia dapat hilang, kasus berhenti dilaporkan, atau hasil laboratorium negatif.

32 of 50

Prinsip-Prinsip Penyelidikan Epidemiologi

  • Konfirmasi diagnosis (memperoleh informasi tambahan kondisi klinis pasien, pemeriksaan laboratorium, populasi yang terdampak pada kejadian tersebut);
  • Investigasi lapangan, termasuk mewawancarai kasus pertama, kontak erat dan/atau orang lainnya untuk mengumpulkan informasi.
  • Menganalisis data epidemiologi menurut waktu, tempat dan orang;
  • Merumuskan hipotesis tentang bahaya, sumber paparan, kendaraan kontaminasi dan cara penularan;
  • Menguji hipotesis (studi kasus-kontrol) untuk mengidentifikasi kemungkinan sumber kontaminasi;
  • Membuat rekomendasi tindakan kesehatan masyarakat untuk mengendalikan kejadian tersebut;
  • Memperkuat atau melaksanakan surveilans (definisi kasus, penemuan kasus aktif);
  • Berkomunikasi dengan masyarakat dan media (mobilisasi sosial, komunikasi risiko);
  • Menerapkan langkah-langkah pengendalian awal.

33 of 50

Penentuan KLB atau Tidak KLB

Suatu daerah dapat ditetapkan dalam keadaan KLB, apabila memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut:

  1. Timbulnya suatu penyakit menular tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal pada suatu daerah.
  2. Peningkatan kejadian kesakitan terus menerus selama 3 (tiga) kurun waktu dalam jam, hari atau minggu berturut-turut menurutjenis penyakitnya.
  3. Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya dalam kurun waktu jam, hari atau minggu menurut jenis penyakitnya.
  4. Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 (satu) bulan menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dalam tahun sebelumnya.
  5. Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan selama 1 (satu) tahun menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan pada tahun sebelumnya.
  6. Angka kematian kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam 1 (satu) kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% (lima puluh persen) atau lebih dibandingkan dengan angka kematian kasussuatu penyakit periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.
  7. Angka proporsi penyakit (Proportional Rate) penderita baru pada satu periode menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding satu periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.

34 of 50

Quiz

Pilih “Benar” atau “Salah” dari pernyataan berikut ini:

  1. Analisis risiko digunakan untuk menetapkan tindakan mitigasi dan pengendalian potensial yang dapat diterapkan.
  2. Analisis risiko adalah proses yang tidak berkelanjutan
  3. Hasil penyelidikan epidemiologi dapat memberikan arah untuk rencana penanggulangan selanjutnya.
  4. Penyelidikan epidemiologi hanya boleh dilakukan 1 kali pada sebuah KLB.

35 of 50

MELAKUKAN PELAPORAN SURVEILANS BERBASIS KEJADIAN

POKOK BAHASAN

36 of 50

EBS

37 of 50

38 of 50

39 of 50

40 of 50

41 of 50

Quiz

Pilih “Benar” atau “Salah” dari pernyataan berikut ini:

  1. Peran dari Dinas Kesehatan sangat utama dalam verifikasi rumor atau kejadian yang ada di wilayahnya.
  2. Informasi yang di-entri ke dalam EBS oleh Dinkes Kabupaten/Kota adalah informasi yang sudah terbukti kebenarannya sebagai KLB.
  3. Informasi adanya kejadian penyakit yang bersifat zoonosis tidak perlu koordinasi dengan lintas sector terkait

42 of 50

MELAKUKAN PERENCANAAN, PELAKSANAAN, DAN FOLLOW-UP RESPONS TERHADAP RUMOR

POKOK BAHASAN

43 of 50

Perencanaan

  • Proses penyusunan yang sistematis mengenai kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
  • Diartikan sebagai cara bagaimana mencapai tujuan sebaik-baiknya dengan sumber daya yang ada supaya lebih efisien dengan memperhatikan lingkungan sosial budaya, fisik dan biologik (Litbangkes Depkes RI, 2002)
  • Proses penganalisaan dan pemahaman tentang suatu sistem, perumusan tujuan umum dan tujuan khusus, perkiraan segala kemampuan yang dimiliki, penguraian segala kemungkinan rencana kerja yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan umum serta khusus tersebut, menganalisa efektifitas dari berbagai alternatif rencana dan memilih satu diantaranya yang dipandang baik serta menyusun rencana kegiatan dari rencana yang terpilih secara lengkap agar dapat dilaksanakan dan mengikutinya dalam suatu sistem pengawasan yang terus menerus sehingga tercapai hubungan yang optimal antara rencana tersebut dengan sistem yang ada. (Leavy dan Loomba)
  • Dalam perencanaan sebuah kejadian perlu dipertimbangkan besarnya kejadian, jumlah sumber daya yang dibutuhkan seperti anggaran, SDM, logistik, waktu serta koordinasi lintas program maupun lintas sektor.

44 of 50

Pelaksanaan

  • Pelaksanaan respons awal biasanya tidak memerlukan perencanaan yang panjang, detail dan mendalam.
  • Biasanya pelaksanaan respons awal dilakukan belum secara spesifik tetapi ada kemungkinan atau potensi kejadian yang serius.
  • Oleh karena itu perlu dikumpulkan informasi tambahan, hasil laboratorium belum ada, dan penilaian risiko tambahan perlu dilakukan sesuai dengan informasi yang baru diterima.
  • Sedangkan pelaksanaan respons yang membutuhkan perencanaan yang matang adalah bila diperlukan penyelidikan epidemiologi lapangan lebih lanjut serta diperlukan tindakan pengendalian dan penanggulangan untuk menghentikan penularan serta diperlukan koordinasi lintas program/ sektor.

45 of 50

Follow Up

  • Follow-up adalah kegiatan yang dilakukan setelah ada rekomendasi dari hasil investigasi awal.
  • Follow up juga dilakukan setelah mendapatkan hasil, temuan dan informasi yang baru sehingga follow-up dapat dilakukan beberapa kali.
  • Follow up akan selesai bila event tersebut tidak menimbulkan kedaruratan kesehatan yang serius. Antara perencanaan, pelaksanaan dan follow-up merupakan kegiatan yang saling terkait dan berhubungan.

46 of 50

Rangkuman

  • Surveilans berbasis kejadian (EBS) didefinisikan sebagai pengumpulan, pemantauan, penilaian dan interpretasi informasi ad hoc yang sebagian besar tidak terstruktur mengenai kejadian atau risiko kesehatan, yang mungkin merupakan risiko akut bagi kesehatan manusia.
  • Sumber informasi EBS dapat berasal dari fasilitas kesehatan, petugas kesehatan, institusi non kesehatan, masyarakat, media, internet, dll. Langkah-langkah EBS: deteksi rumor penyaringan (filtering) dan seleksi rumor, analisis risiko, karakterisasi kejadian, verifikasi, penyelidikan epidemiologi, penentuan KLB/ bukan KLB, respon.
  • Pelaporan EBS merupakan bagian dari SKDR. Rumor dilaporkan pada menu EBS. Informasi yang dilaporkan: deskripsi singkat kejadian, jumlah kasus, kematian, gejala klinis, waktu kejadian, tempat, tindakan yang sudah dilakukan dan sumber informasi.
  • Setelah dilakukan verifikasi, informasi dapat dilengkapi dengan hasil laboratorium apabila tersedia dan informasi lainnya.
  • Rumor yang dilaporkan dalam EBS harus dimonitor dengan menambahkan hasil penyelidikan epidemiologi, respon yang dilakukan dan apakah kejadian tersebut sudah ditanggulangi sehigga dapat ditutup statusnya dalam pelaporan EBS.

47 of 50

Terima Kasih

48 of 50

Praktek/ Penugasan

Event Based Surveillance

49 of 50

50 of 50

Daftar Peran

  • Petugas Surveilans RS A: Yusup Maulana, 085800412666
  • Petugas Surveilans Puskesmas B: Eny Padmiyati, 085293116864
  • Petgas Surveilans RS C: Puswanto, 081333306061
  • Petugas Surveilans Puskesmas D: Sri Lestari, 081578158722
  • PHEOC Kemkes: Sugiarto, 085700129504
  • Kepala Sekolah SD Rambutan 01: Fajar Fatmawati, 085742179797
  • Kepala Desa Manggis: Niken, 085728780257
  • Kepala Desa Pisang: Adhik, 083145927240
  • Petugas Surveilans Puskesmas E: Dwi Ana S, 085228768148
  • Petugas Surveilans Puskesmas F: Dini Ambarwati, 081328329910
  • Petugas Surveilans Dinkes Kab. G: Elina Chrisniati, 081578192326
  • Petugas Surveilans Dinkes Kab. G: Timur Ani Maryani, 085740574625
  • Program P2 Dinkes Kab. G: Anisa Wahyu Hardini, 089671222645
  • Dinkes Pertanian/Kesehatan Hewan Kab. G: Siska, 08562777867
  • Kasi P2 Dinkes Kab. G: Wirdosari, 081327104753
  • Kasi Surveilan dan Imunisasi Dinkes Kab. G: Siti Sumiana, 082241617640
  • Kabid P2P Dinkes Kab. G: Khoirunnisa, 081328492299
  • Kabid Yankes Kab G: Tumiyat, 08170927763
  • Kabid Kesmas Kab G: Wiwid, 08985422712