PENGEMBANGAN KURIKULUM OPERASIONAL
DI SATUAN PENDIDIKAN
Bimbingan Teknis Penguatan Implementasi Kurikulum Merdeka Jenjang SMP
1. Relevan
Kenapa penting pengembangan kurikulum di satuan pendidikan?
Prinsip Pengembangan Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan (1/3)
Berpusat pada peserta didik
Pembelajaran harus memenuhi potensi, kebutuhan perkembangan dan tahapan belajar, serta kepentingan peserta didik.
Kontekstual
Menunjukkan kekhasan dan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan, konteks sosial budaya dan lingkungan.
Prinsip Pengembangan Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan (2/3)
Esensial
Semua unsur informasi penting/utama yang dibutuhkan para pemegang kepentingan tentang kurikulum yang digunakan di satuan pendidikan dapat diperoleh di dokumen tersebut. Mudah dipahami dan ringkas. Tidak mengulang naskah/kutipan yang sudah ada di naskah lainnya. Misalnya tidak memasukkan lampiran Kepmendikbud seperti CP, struktur, dll, dalam dokumen kurikulum operasional
Akuntabel
Dapat dipertanggungjawabkan karena berbasis data, aktual (benar- benar diterapkan, bukan cuma teori atau mengarang bebas)
Prinsip Pengembangan Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan (3/3)
Berkesinambungan
Menjadi acuan untuk refleksi dan perbaikan
Prinsip Penyusunan Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan
Prinsip penyusunan kurikulum operasional di satuan pendidikan:
1. Berpusat pada peserta didik, yaitu pembelajaran harus memenuhi keragaman potensi, kebutuhan perkembangan dan tahapan belajar, serta kepentingan peserta didik.
1. Kontekstual, menunjukkan kekhasan dan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan, konteks sosial budaya dan lingkungan.
1. Esensial, yaitu memuat semua unsur informasi penting/utama yang dibutuhkan dan digunakan di satuan pendidikan. Bahasa yang digunakan lugas, ringkas, dan mudah dipahami.
1. Akuntabel, dapat dipertanggungjawabkan karena berbasis data dan aktual.
1. Melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pengembangan kurikulum satuan pendidikan melibatkan komite satuan pendidikan dan berbagai pemangku kepentingan antara lain orang tua, organisasi, dan berbagai sentra di bawah koordinasi dan supervisi dinas Pendidikan atau kantor kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama sesuai dengan kewenangannya.
PROSES PENYUSUNAN KURIKULUM DI SATUAN PENDIDIKAN
ANALISIS KARAKTERISTIK SATUAN PENDIDIKAN
Prinsip Analisis Lingkungan Belajar
Jenis informasi yang dibutuhkan
Cara Analisis Lingkungan Belajar
Ragam Alat Analisis
MENGEMBANGKAN VISI
Visi adalah cita-cita bersama pada masa mendatang dari warga satuan pendidikan, yang dirumuskan berdasarkan masukan dari seluruh warga satuan pendidikan.
Pengertian Visi
Visi
Membuat Visi
5. Mengubah kesimpulan yang didapatkan menjadi kalimat visi.
6. Menentukan komponen utama visi yang diturunkan menjadi indikator-indikator pencapaian visi.
Peserta Didik | Staf/guru | Orang tua |
/dipelajari/dikuasai di satuan pendidikan?
|
yang ada di satuan pendidikan ini? Jika mereka keluar atau sudah lulus ingin mereka jadi individu seperti apa?
|
diharapkan?
penting yang perlu dipelajari di satuan pendidikan, apakah itu? |
TIPS
cermat memilih perwakilan agar perwakilan representatif (orang tua baru dan lama, orang tua yang kritis baik terhadap tujuan pendidikan untuk anak, maupun mengapa memilih satuan pendidikan tersebut)
MENERJEMAHKAN MISI
Misi adalah pernyataan bagaimana satuan pendidikan mencapai visi yang ditetapkan untuk menjadi rujukan bagi penyusunan program jangka pendek, menengah, dan jangka panjang, dengan berdasarkan masukan dari seluruh warga satuan pendidikan.
MEMBUAT TUJUAN
Tujuan adalah gambaran hasil yang akan dicapai dalam kurun waktu tertentu oleh setiap satuan pendidikan dengan mengacu pada karakteristik dan/atau keunikan setiap satuan pendidikan sesuai dengan prinsip yang sudah ditetapkan
Tujuan adalah gambaran hasil yang akan dicapai dalam kurun waktu tertentu oleh setiap satuan pendidikan dengan mengacu pada karakteristik dan/atau keunikan setiap satuan pendidikan sesuai dengan prinsip yang sudah ditetapkan
[CONTOH]
Menentukan Strategi
Pertanyaan berikut dapat membantu tim inti memastikan semua aspek kunci dari visi sekolah, realita dan prioritas sudah dipertimbangkan. Visi perlu kuat dan menggambarkan aspirasi yang tulus, sementara realita harus jelas dan sesuai keadaan nyata.
VISI
KONDISI SEKOLAH SAAT INI
menghargai berbagai kebutuhan belajar siswa? Gunakan kesinambungan data yang dimiliki sekolah: demografi siswa, pendaftaran, kehadiran, angka putus sekolah, karakter dan latar belakang siswa, distribusi capaian belajar, dll.
waktu ke waktu, tahun ke tahun? Apakah sekolah semakin memahami bagaimana pembelajaran dan asesmen yang berpusat pada siswa?
kelas)?
STRATEGI PRIORITAS
pengembangan guru/tenaga kependidikan serta kurikulum?
dimanfaatkan sekolah untuk mendukung pembelajaran?
26
CONTOH: Analisis Kebutuhan dan S Strategi Satuan (strength/kekuatan) | W (weakness/kelemahan) | O (opportunity/peluang) | T (threat/ancaman) |
Pendidikan internal | eksternal | ||
situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan yang Analisis kekuatan, kelemahan, dimiliki satuan pendidikan peluang, serta ancaman atau yang bisa memberikan yang biasa kita sebut sebagai pengaruh positif pada saat SWOT merupakan cara yang ini atau pun di masa yang umum dilakukan dalam akan datang. mengenali satuan pendidikan | situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan yang dimiliki satuan pendidikan yang bisa memberikan pengaruh negatif pada saat ini atau pun di masa yang akan datang. | situasi atau kondisi yang merupakan peluang atau kesempatan di luar satuan pendidikan yang bisa memberikan peluang untuk berkembang di kemudian hari. | Ancaman atau tantangan apa saja yang mungkin akan dihadapi satuan pendidikan yang bisa menghambat laju perkembangan satuan pendidikan. |
dan lingkungannya serta menyusun strategi untuk ● Kekuatan atau mengembangkan dan kelebihan apa yang mengatasi permasalahan dimiliki satuan satuan pendidikan. pendidikan?
satuan pendidikan lebih baik dari satuan pendidikan lainnya?
|
|
|
Perkembangan Teknologi
|
Pengorganisasian Pembelajaran Satuan Pendidikan
Gambaran Penerapan profil Pelajar Pancasila di Satuan Pendidikan
Budaya
SIkliemkosekloalahh,
kebijakan,
pola interaksi dan
komunikasi, serta norma
yang berlaku di sekolah.
Projek penguatan profil Pelajar
Pancasila
Projek Lintas Disiplin Ilmu yang kontekstual dan berbasis pada kebutuhan masyarakat/permasalahan di
lingkungan sekolah.
Ekstrakurikul
eKergiatan untuk
mengembangkan minat dan bakat.
Profil Pelajar Pancasila adalah karakter dan kemampuan yang dibangun dalam keseharian dan dihidupkan dalam diri setiap individu peserta didik melalui budaya sekolah, pembelajaran intrakurikuler, projek penguatan profil Pelajar Pancasila, maupun
ekstrakurikuler.
Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia
Berkebinekaan global
Bergotong royong
Kreatif
Bernalar kritis
Mandiri
Pelajar Indonesi a
Intrakurikuler
Muatan Pelajaran Kegiatan/pengalaman belajar.
| PROGRAM INTRA-KURIKULER | PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA | PROGRAM EKSTRAKURIKULER |
Tujuan | Mengembangkan kompetensi pelajar sesuai CP | Menguatkan Profil Pelajar Pancasila dan membangun pemahaman mengenai isu-isu penting dan melatih kemampuan penyelesaian masalah dalam tema atau isu penting terkait Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals, SDGs) | Sarana bagi peserta didik untuk mengeksplorasi dan melatih keterampilan sesuai minat dan bakat peserta didik |
Metode |
|
|
|
Hasil |
|
|
|
Penjelasan Struktur Kurikulum di Satuan Pendidikan
Merancang Pengorganisasian Pembelajaran di Satuan Pendidikan
Desain pembelajaran perlu dilakukan secara “mundur”, diawali dari hasil akhir. Hasil akhir perlu dinyatakan agar seluruh warga satuan pendidikan berkomitmen dan berkolaborasi untuk mencapainya. Jika kurikulum hanya menuliskan sederet konten (materi) maka hal ini akan mengakibatkan semua orang bekerja secara terpisah- pisah.
Pengorganisasian pembelajaran adalah cara satuan pendidikan mengatur pembelajaran muatan kurikulum dalam satu rentang waktu. Pengorganisasian ini termasuk pula mengatur beban belajar, mata pelajaran dan area belajar, kapan mata pelajaran dan area belajar, serta bagPaimana mata pelajaran dan area belajar tersebut akan dihantarkan. Pengorganisasian pembelajaran juga meliputi pengaturan mata pelajaran inti dan pilihan ( tema-tema), program ekstrakurikuler dan projek penguatan profil Pelajar Pancasila yang dipelajari
dalam satu tahun ajaran:
Struktur kurikulum | Intrakurikuler. muatan/mata pelajaran dan muatan tambahan lainnya jika ada (mulok) Projek penguatan profil Pelajar Pancasila. Penjelasan tema dan pengelolaan projek pada tahun ajaran tersebut Ekstrakurikuler. Gambaran ekskul yang menjadi ciri khas dan selaras dengan pencapaian tujuan satuan pendidikan |
Cara program-program tersebut dikelompokkan | Satuan pendidikan boleh memilih cara pengelompokkan, secara tematik mata pelajaran dan kombinasi. |
Pemetaan program | Pemetaan program-program tersebut dalam satu tahun ajaran yang sesuai dengan alokasi waktu yang sudah ditetapkan. Satuan pendidikan boleh memilih cara pemetaan yang sesuai dengan kebutuhan, contoh: menggunakan kalender pendidikan atau program tahunan atau program semester atau cara pemetaan yang lain
|
Proses Mendesain Rencana Pembelajaran
Rencana pembelajaran untuk ruang lingkup sekolah
ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN
Alur pembelajaran yang runtut dinyatakan dalam rangkaian tujuan pembelajaran yang meliputi konten/ materi, keterampilan dan konsep inti untuk mencapai Capaian Pembelajaran setiap Fase dan menjelaskan cakupan/kedalaman setiap konten
Prinsip Alur Tujuan Pembelajaran:
Rencana pembelajaran untuk ruang lingkup sekolah
KEGIATAN PEMBELAJARAN
pengetahuan, dan keterampilan, beserta materi/konten inti
ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN
Pengurutan Konkret → Abstrak | Metode pengurutan dari konten yang konkret dan berwujud ke konten yang lebih abstrak dan simbolis. Contoh : memulai pengajaran dengan menjelaskan tentang benda geometris (konkret) terlebih dahulu sebelum mengajarkan aturan teori objek geometris tersebut (abstrak). |
Pengurutan Deduktif | Metode pengurutan dari konten bersifat umum ke konten yang spesifik. Contoh : mengajarkan konsep database terlebih dahulu sebelum mengajarkan tentang tipe database, seperti hierarki atau relasional. |
Pengurutan dari Mudah → Sulit | Metode pengurutan dari konten paling mudah ke konten paling sulit. Contoh : mengajarkan cara mengeja kata-kata pendek dalam kelas bahasa sebelum mengajarkan kata yang lebih panjang. |
Pengurutan Hierarki | Metode ini dilaksanakan dengan mengajarkan keterampilan komponen konten yang lebih mudah terlebih dahulu sebelum mengajarkan keterampilan yang lebih kompleks. Contoh : peserta didik perlu belajar tentang penjumlahan sebelum mereka dapat memahami konsep perkalian. |
Pengurutan Prosedural | Metode ini dilaksanakan dengan mengajarkan tahap pertama dari sebuah prosedur, kemudian membantu peserta didik untuk menyelesaikan tahapan selanjutnya. Contoh : dalam mengajarkan cara menggunakan t- test dalam sebuah pertanyaan penelitian, ada beberapa tahap prosedur yang harus dilalui, seperti menulis hipotesis, menentukan tipe tes yang akan digunakan, memeriksa asumsi, dan menjalankan tes dalam sebuah perangkat lunak statistik. |
Scaffolding | Metode pengurutan yang meningkatkan standar performa sekaligus mengurangi bantuan secara bertahap. Contoh : dalam mengajarkan berenang, guru perlu menunjukkan cara mengapung, dan ketika peserta didik mencobanya, guru hanya butuh membantu. Setelah ini, bantuan yang diberikan akan berkurang secara bertahap. Pada akhirnya, peserta didik dapat berenang sendiri. |
Ada beberapa cara dalam mengurutkan tujuan pembelajaran
handbook-authors-and-instructional-designers.114f5f85-1baf-42dd-8e37-d195c2565255_0.pdf?file=1&type=node&id=7824 (2) Doolittle, P. E. (2001). Instructional Design for Web-based Instruction. Retrieved from http://staff.washington.edu/rel2/geog100-UW/Archive/instructionalsequence.pdf (3) Morrison, G. R., Ross, & Kemp, J. E. (2007). Designing Effective Instruction (5th Edition).
Hoboken, NJ: John Wiley & Sons. ISBN13: 978-0-470-07426-8 (4) Reigeluth, C. M., & Keller, J. B. (2009). Understanding instruction. In C. M. Reigeluth & A. A. Carr-Chellman (Eds.), Instructional- design theories and
Alur tujuan pembelajaran disusun untuk membantu peserta didik mencapai Capaian Pembelajaran (CP) secara bertahap. Alur dibuat dengan mengurutkan tujuan-tujuan pembelajaran sesuai kebutuhan, meskipun beberapa tujuan pembelajaran harus menggunakan tahapan tertentu.
Hal penting yang perlu dipertimbangkan:
dipelajari peserta didik untuk menguasai kompetensi tertentu
diketahui untuk memahami konsep tertentu. Misal: untuk menulis makalah penelitian peserta didik perlu mengetahui perbedaan bentuk- bentuk dan tujuan teks dan peserta
didik perlu keterampilan membuat
pertanyaan riset.
CONTOH
Proses Mendesain Alur Pembelajaran
| 0 | Workshop pengembangan kurikulum operasional sekolah Menjadi prasyarat untuk tim penyusun alur pembelajaran |
Pemahaman Profil Pelajar Pancasila. Memahami secara utuh konsep dasar Profil Pelajar Pancasila | 1 | |
2 | Pemahaman Capaian Pembelajaran Pahami rasional CP setiap fase, mulai dari fase A hingga fase E | |
Menguraikan CP ke tujuan-tujuan pembelajaran Uraikan tujuan pembelajaran per dimensi/elemennya Susun seluruh tujuan pembelajaran menjadi satu alur linear | 3 | |
| 4 | Tentukan tujuan yang menjadi kunci (konsep dan kompetensi kunci) |
Tentukan asesmen untuk mengukur ketercapaian tujuan-tujuan/kompetensi kunci | 5 | |
| 6 | Rangkaikan semua tujuan menjadi satu alur yang linear Penulis menyusun alur (sequence), semua dimensi/elemen dilebur dalam alur ini Referensi untuk urutan bisa melihat slide “ALUR PEMBELAJARAN” |
Tentukan alokasi jam pelajaran yang dibutuhkan Mengatur durasi jam pelajaran yang dibutuhkan untuk setiap tujuan pembelajaran | 7 |
Pengaturan Waktu Belajar
CONTOH
Satuan pendidikan dapat menentukan model struktur kurikulum yang sesuai dengan kondisi dan tujuan masing- masing satuan pendidikan.
Pengaturan cara penghantaran (per mata pelajaran, tematik integratif, unit inkuiri, dll.) akan mempengaruhi sekolah dalam mengelola waktu (penjadwalan) dan sumber dayanya.
Model ini tidak harus dipilih salah satu, akan tetapi bisa juga dikombinasikan. Misalnya dengan menggunakan sistem terintegrasi dan blocking secara bersamaan atau mengkombinasikan ketiga model
Sistem Blok | Sistem Kolaborasi | Sistem Reguler |
Pembelajaran dikelola dalam bentuk blok-blok waktu dengan berbagai macam pengelompokkan. Contoh: 1. Mata pelajaran IPS, Bahasa Indonesia dan IPAS akan diajarkan dari jam 07.00- 12.00 dalam semester 1 2. Dalam satu tahun ajaran, pembelajaran IPA dibagi ke dalam 3 blok waktu (masing- masing 4 bulan). Mata pelajaran Biologi, Kimia dan Fisika akan diajarkan secara bergantian di setiap blok. Blok ke- 1 tahun ajaran 2020/2021 untuk Fisika, blok ke-2 untuk Biologi, blok ke-3 Kimia. | Konsep-konsep dan keterampilan tertentu dari mata pelajaran diajarkan secara kolaboratif (team teaching) . Guru berkolaborasi sedemikian rupa untuk merencanakan, melaksanakan dan melakukan asesmen untuk suatu pembelajaran yang terpadu. Contoh: Konsep pengelolaan data dapat secara kolaboratif diajarkan oleh guru matematika dan IPA. Konsep ini bisa diajarkan di satu kegiatan dengan menggabungkan alokasi waktu kedua mata pelajaran atau diajarkan pada masing-masing mapel, dengan penyelarasan aktivitas. | Setiap pembelajaran dilakukan terpisah antara satu mapel dengan mapel lainnya. Tatap muka dilakukan secara reguler setiap minggu, dengan jumlah jam tatap muka sesuai dengan yang ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan ketentuan minimal dari pemerintah |
| Sistem Blok | Sistem Kolaborasi | Sistem Reguler |
Kelebihan |
|
| memudahkan dalam pembuatan jadwal pembelajaran di satuan pendidikan |
Hal yang perlu dipertimbang kan dalam memutuskan model ini |
|
|
|
1. Penetapan tujuan belajar | 2. Menganalisis situasi kelas | 3. Asesmen untuk mengetahui posisi peserta didik di awal siklus pembelajaran. | 4. Menentukan strategi dan metode untuk mencapai tujuan tsb. |
Apakah tujuan pembelajaran ini kontekstual dengan kondisi lingkungan sekitar? Apakah tujuan pembelajaran sudah sesuai dengan tahapan dan kebutuhan belajar peserta didik? | Siapa saja peserta didiknya? (jumlah, pengetahuan dan pengalaman, motivasi, latar belakang budaya dll). Sumber daya apa yang tersedia untuk proses pembelajaran? (Ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, ruang komputer, halaman dll). Siapa saja guru yang terlibat? Jika ada beberapa guru, bagaimana proses komunikasi dan koordinasi dilakukan? | Menyamakan persepsi antar guru yang mengajar kelas dan materi yang sama : Kriteria penilaian seperti apa yang tepat? Bagaimana cara mengukur ketercapaian kompetensi (pemahaman atau keterampilan tertentu)? Apakah menggunakan rubrik atau daftar centang atau catatan pengamatan? Bagaimana cara untuk mengajak pelajar memahami asesmen atau pengukuran ketercapaian kompetensi? | Apa saja pendekatan yang berorientasi pada kompetensi tujuan? Stimulus apa saja yang bisa diberikan agar peserta didik terlibat aktif dan membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran? Metode pengajaran dan konsep pedagogis mana yang harus digunakan? Mengapa? Apakah metode pengajaran yang dipilih mampu mendorong aktivitas peserta didik secara mandiri (self- regulated learning)? |
5. Memilih dan menetapkan perangkat ajar, serta aktivitas pembelajaran. | 6. Sosialisasi target belajar dan menyepakati pembelajaran bersama pelajar | 7. Pelaksanaan pembelajaran dan asesmen untuk memonitor kemajuan belajar selama proses pembelajaran. | 8. Refleksi untuk menetapkan tujuan belajar berikutnya berdasarkan hasil ketercapaian kompetensi |
Diskusikan bersama peserta didik : Apa ide pokok materi dan hubungan dengan situasi nyata? Diskusikan dengan guru pada level yang sama Kompetensi apa yang perlu diasah agar tujuan belajar tercapai? | Apa saja target yang akan dicapai? Bagaimana cara membuat peserta didik untuk memahami target- target yang akan dicapai? | Bagaimana agar guru bisa memberikan umpan balik pada peserta didik secara reguler? Bagaimana melatih keterampilan refleksi bagi peserta didik sehingga mereka memahami hal- hal yang sudah tercapai dan area yang perlu diperbaiki? | Bagaimana guru mendapatkan informasi untuk proses evaluasi? (Wawancara, umpan balik dari rekan kerja, kuesioner dll). Informasi apa yang Anda perlukan untuk melakukan evaluasi? (Bagaimana peserta didik memandang proses pembelajaran, apakah hasilnya jelas, apakah mereka telah mempelajari apa yang seharusnya mereka pelajari, apakah guru mendukung peserta didik, dll.) |
SAMPAI JUMPA DI MATERI SELANJUTNYA!