KOMPLIKASI�MELAHIRKAN
1
RIMBA AYU LESATARI (2207016134)
Komplikasi melahirkan merupakan keadaan penyimpangan dari normal, yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi karena gangguan akibat dari persalinan
1. Cephalopelvic Disproportion
Cephalopelvic disproportion adalah kondisi saat persalinan dimana bayi sulit lahir melewati panggul atau jalan lahir karena ukurannya yang terlalu besar. Komplikasi persalinan cephalopelvic disproportion (CPD) bisa terjadi ketika ukuran kepala bayi yang terlalu besar atau panggul ibu yang terlalu kecil.
2. Prolaps Tali Pusat
Prolaps tali pusat adalah kondisi tali pusat bayi turun melewati janin, menutupi jalan lahir, atau bahkan keluar lebih dulu daripada janin. Kondisi ini membuat bayi harus segera dilahirkan demi menghindari risiko kekurangan oksigen.
3. Gawat Janin
Gawat janin adalah kondisi dimana status janin tidak meyakinkan atau tidak sehat. Kondisi ini disebabkan oleh kurangnya pasokan oksigen yang diterima bayi, anemia atau hipertensi yang dialami ibu, dan cairan ketuban yang bernoda atau mekonium.
4. Sindrom aspirasi mekonium
Aspirasi mekonium atau atau meconium aspiration syndrome (MAS) adalah kondisi saat janin atau bayi yang baru lahir menghirup air ketuban yang tercampur dengan feses pertamanya (mekonium)
5. Asfiksia Perinatal
Kondisi ini bisa terjadi sebelum dan setelah proses persalinan. Hal ini bisa terjadi karena bayi tidak mendapatkan oksigen yang cukup di dalam kandungan. Komplikasi ini memiliki risiko fatal karena dapat menyebabkan hipoksemia, atau kadar oksigen rendah, tingkat karbondioksida yang tinggi dan asidosis, atau terlalu banyak asam dalam darah. Dokter biasanya melakukan penanganan segera berupa pemberian oksigen kepada ibu dan operasi caesar.
6. Distosia
Distosia atau yang dimaksud sebagai persalinan macet (prolonged labor) adalah komplikasi melahirkan ketika total waktu melahirkan lama. Menurut American Pregnancy Association (APA), persalinan dikatakan lama bila berlangsung lebih dari 20 jam. Penyebab persalinan lama bisa terjadi karena pembukaan yang lambat, bayi besar, jalan lahir atau panggul kecil, melahirkan banyak bayi, serta faktor emosional, seperti kekhawatiran, stres dan takut. Kondisi ini biasanya akan ditangani dengan induksi atau operasi caesar.
7.Rahim Robek (Ruptur Uteri)
Ruptur uteri merupakan salah satu kondisi di mana dinding rahim mengalami robekan yang dapat menyebabkan permasalahan kesehatan pada ibu maupun bayi dalam kandungan. Hal ini bisa terjadi saat menjalani persalinan normal, pergerakan bayi untuk mencari jalan keluar menyebabkan tekanan yang sangat kuat, sehingga dapat mengakibatkan ruptur uteri. Robekan rentan terjadi disepanjang lokasi bekas operasi rahim sebelumnya.
8. Janin Terlilit Tali Pusar
Pada beberapa kondisi, janin yang terlilit tali pusar bisa memiliki dampak buruk, namun terkadang ada bayi yang terlilit tali pusar tetapi kondisinya normal.
1) Lilitan yang membahayakan bayi
Kondisi bayi terlilit tali pusar yang berbahaya adalah jika lilitan pada lehernya terlalu kencang sehingga ia menjadi kurang aktif bergerak. Kondisi ini bisa menyebabkan janin meninggal dalam kandungan. Kondisi lain yang berdampak buruk adalah jika lilitan tersebut membuat denyut jantung janin menjadi lambat seketika. Hal ini terjadi karena tali pusar dapat meregang dan tertekan saat proses melahirkan, sehingga menurunkan aliran darah yang menuju atau dibawa keluar dari tubuh bayi. Lilitan tali pusat yang disertai masalah lain, misalnya janin menelan mekonium atau tinja pertamanya. Menghirup mekonium bisa membuat janin sulit bernapas karena saluran pernapasannya tersumbat dan teriritasi oleh kotoran. Jika lilitan tali pusar yang berbahaya ini terjadi, maka bayi bisa mengalami gawat janin
2) Lilitan yang tidak membahayakan bayi
Tanda-tanda lilitan tali pusat yang tidak berbahaya adalah jika bayi masih aktif bergerak dan detak jantungnya normal. Bila seperti ini, bayi yang terlilit tali pusat dapat lahir dengan sehat. Pada kebanyakan kasus, tali pusar yang melilit leher janin masih longgar dan tidak berbahaya, sehingga dokter dapat dengan mudah melepas lilitan tali pusar saat persalinan. Jika bayi terlilit tali pusar, dokter akan melakukan pemantauan secara berkala untuk mengetahui perkembangan kondisi bayi di dalam kandungan, dan menentukan apakah bayi perlu segera dilahirkan atau tidak.
9. Emboli Air Ketuban
Emboli air ketuban adalah kondisi ketika air ketuban masuk dan bercampur ke dalam sistem peredaran darah sang ibu. Kondisi yang bisa terjadi saat atau setelah proses persalinan ini umumnya sulit dicegah dan berisiko menimbulkan komplikasi yang berbahaya bagi ibu maupun bayinya. Emboli air ketuban biasanya muncul secara mendadak tanpa ada sebab yang jelas. Bahkan, ibu hamil yang kondisinya sehat bisa saja terkena emboli air ketuban secara tiba-tiba saat bersalin.
10. Pendarahan Postpartum
Perdarahan postpartum atau perdarahan pasca persalinan adalah keluarnya darah dari jalan lahir segera setelah melahirkan. Perdarahan setelah melahirkan dengan jumlah wajar merupakan hal yang normal terjadi dan hal ini disebut lochea atau nifas. Namun, kondisi ini bisa menjadi kondisi yang perlu dikhawatirkan ketika darah yang keluar sangat banyak melebihi 500 cc dalam 24 jam setelah melahirkan.
11. Plasenta akreta
Plasenta akreta adalah kondisi ketika ari-ari atau pembuluh darah pada plasenta bertumbuh pada dinding rahim terlalu dalam. Normalnya, plasenta ikut terlepas dari dinding rahim usai ibu melahirkan. Namun, ketika ibu mengidap plasenta akreta, plasenta tetap menempel pada dinding rahim setelah ibu melahirkan, baik sebagian atau seluruhnya.
12. Atonia uteri
Atonia uteri adalah kondisi ketika rahim tidak bisa berkontraksi kembali setelah melahirkan. Kondisi ini dapat mengakibatkan perdarahan pascapersalinan yang dapat membahayakan nyawa ibu.
13. Retensio plasenta
Retensi plasenta adalah kondisi tidak keluarnya plasenta dalam waktu 30 menit setelah melahirkan bayi. Berikut ini berbagai jenis dari retensi plasenta yang perlu diketahui, yaitu:
14. Bayi sungsang
Bayi sungsang terjadi saat bayi di dalam kandungan tidak berada pada posisi yang seharusnya menjelang kelahiran. Posisi kepala bayi selama kehamilan biasanya berada di atas dan kaki di bawah. Seiring berjalannya waktu, posisi bayi akan memutar dengan kaki di atas dan kepala di bawah dekat dengan jalan lahir.
FRANK BREECH
ketika kedua kaki bayi di dalam kandungan mengarah lurus ke atas, tepat di depan wajah dan tubuhnya. Hal ini membuat bagian yang berada di bawah hanyalah bokong.
COMPLETE BREECH
ketika lutut dan kaki bayi di dalam kandungan menekuk seperti sedang berjongkok.
INCOMPLETE BREECH
Kondisi ini terjadi ketika salah satu kaki bayi berada di atas ke arah kepalanya sementara yang satunya lagi menekuk ke bawah bokong
15. Infeksi postpartum
Infeksi postpartum atau infeksi pasca persalinan adalah berbagai infeksi terjadi setelah melahirkan normal melalui vagina, operasi caesar, atau saat menyusui.
Beberapa infeksi postpartum yang sering terjadi adalah:
1) Endometritis, infeksi pada endometrium (lapisan rahim)
Endometriosis adalah kondisi di mana jaringan yang seharusnya melapisi dinding rahim (endometrium) tumbuh dan menumpuk di luar rahim. Dikutip dari Mayo Clinic, jika Anda mengalami penyakit ini, jaringan dinding rahim yang tumbuh di luar rahim juga akan ikut meluruh saat mengalami haid. Namun, jaringan yang meluruh itu tidak keluar melalui vagina seperti jaringan normal yang terdapat di dalam rahim. Sisa-sisa endometrium yang luruh tersebut akan mengendap di sekitar organ reproduksi. Lama-lama, endapan ini akan menyebabkan peradangan, kista, jaringan parut, dan akhirnya menimbulkan berbagai gangguan. Kista endometriosis adalah jenis kista yang terbentuk ketika jaringan endometrium tumbuh di ovarium (indung telur). Isinya berupa cairan berukuran besar pada indung telur, bahkan dapat membungkusnya.
2) Mastitis, infeksi payudara
Mastitis adalah peradangan pada payudara sehingga membuat payudara menjadi bengkak. Ini bisa disebabkan karena jaringan payudara luka atau terkena infeksi. Biasanya terjadi pada ibu menyusui di dua bulan pertama setelah melahirkan. Pada saat ini, ibu masih perlu adaptasi sebelum menemukan pola menyusui yang pas untuk bayinya. Biasanya mastitis berkembang pada salah satu payudara. Awalnya, payudara hanya lecet, berwarna kemerahan, atau terasa hangat. Lama kelamaan, ibu akan merasa demam, menggigil, tidak enak badan, dan gejala lain seperti flu
16. Meninggal saat atau setelah melahirkan
Kematian ibu saat melahirkan bisa disebabkan oleh kondisi ibu pada masa kehamilan, persalinan, atau dalam waktu 42 hari setelah melahirkan (masa nifas).
Berikut ini merupakan penyebab ibu meninggal karena melahirkan yang paling umum terjadi:
1. Perdarahan berat
Perdarahan umum terjadi saat persalinan. Namun, jika tidak ditangani dengan baik, perdarahan bisa semakin parah dan bahkan bisa menyebabkan ibu meninggal setelah melahirkan. Perdarahan setelah melahirkan terjadi karena vagina atau leher rahim robek. Namun, perdarahan juga bisa terjadi saat rahim tidak berkontraksi setelah melahirkan.
2. Infeksi postpartum
Infeksi postpartum bisa terjadi jika ada bakteri masuk ke tubuh ibu hamil dan tubuhnya tidak bisa melawan. Beberapa infeksi bisa sampai menyebabkan ibu meninggal setelah melahirkan. Contohnya Ibu hamil yang terinfeksi kelompok bakteri Streptokokus B dapat mengalami sepsis (infeksi darah). Sepsis ini kemudian dapat menyerang sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan masalah yang parah sampai kematian.
3. Preeklampsia
Preeklampsia biasanya timbul saat ibu hamil memiliki tekanan darah tinggi selama kehamilan. Biasanya, preeklampsia terjadi setelah minggu ke-20 kehamilan. Tanpa perawatan yang baik, preeklampsia juga bisa menyebabkan ibu meninggal saat atau setelah melahirkan.
4. Emboli paru
Emboli paru adalah gumpalan darah yang menghalangi pembuluh darah di paru-paru. Ini biasanya terjadi ketika gumpalan darah yang ada di kaki atau paha pecah dan mengalir ke paru-paru. Emboli paru dapat menyebabkan kadar oksigen dalam darah menjadi rendah, sehingga biasanya gejala yang muncul adalah sesak napas dan nyeri dada.
5. Kardiomiopati
Selama kehamilan, fungsi jantung wanita mengalami perubahan yang cukup banyak. Hal ini membuat ibu hamil yang memiliki penyakit jantung berisiko tinggi untuk mengalami kematian. Salah satu penyakit pada jantung yang dapat menyebabkan kematian ibu hamil adalah kardiomiopati. Kondisi ini bisa menyebabkan masalah, seperti gagal jantung atau penumpukan cairan di paru-paru, sehingga menyebabkan ibu meninggal setelah melahirkan
Pengaruh Kelahiran terhadap �Perkembangan Pasca Lahir
2
Jenis Kelahiran
Persalinan normal adalah proses persalinan melalui organ intim ibu atau vagina. Jenis persalinan ini adalah yang paling minim resiko komplikasinya. Untuk bisa melakukan persalinan normal ada beberapa hal yang perlu dipenuhi dulu. Contohnya adalah kondisi kesehatan bayi yang mendukung, berat badan bayi yang berkisar 2,5-4 kilogram, posisi tali pusar dan ukuran panggul apakah cukup lebar untuk jalan keluar bayi. Bayi yang terlahir normal juga lebih memiliki daya tahan atau kekebalan lebih baik daripada bayi yang lahir secara Caesar.
2. Persalinan Sesar
Proses operasi sesar ini dilakukan dengan menyayat bagian perut hingga rahim ibu untuk mengeluarkan bayi. Biasanya dokter akan melakukan sayatan horizontal di atas tulang kemaluan. Persalinan sesar ini biasanya disebabkan oleh beberapa faktor, contohnya karena kondisi ibu yang beresiko jika melakukan persalinan normal, atau memang keinginan ibu untuk melahirkan di waktu tertentu. Umumnya, proses persalinan sesar ini dilakukan pada usia kehamilan 39 minggu atau saat kondisi kandungan berbahaya. Proses penyembuhan pasca operasi lebih lama dan membuat kondisi ibu jadi lebih lemah dibandingkan dengan ibu yang melakukan persalinan normal.
3. Persalinan dengan Alat
Biasanya penggunaan vakum menjadi cara supaya bayi bisa keluar dengan proses ini. Pengisapan dilakukan dengan cara menempelkan vakum ke kepala bayi dan bayi dikeluarkan dengan cara diisap. Namun, untuk persalinan jenis ini bisa memiliki beberapa dampak yang tidak mengenakkan salah satunya adalah kepala bayi bisa menjadi lonjong, kulit kepala bayi yang lecet bahkan sampai pendarahan pada otak bayi.
4. Kelahiran sungsang
Posisi frank breech (sungsang frank) yaitu ketika kedua kaki bayi di dalam kandungan mengarah lurus ke atas, tepat di depan wajah dan tubuhnya. Hal ini membuat bagian yang berada di bawah hanyalah bokong.
Complete breech adalah posisi sungsang ketika lutut dan kaki bayi di dalam kandungan menekuk seperti sedang berjongkok. Dalam posisi sungsang ini, bokong dan kaki bayi yang akan terlebih dahulu masuk ke jalan saat dilahirkan melalui persalinan vagina.
Incomplete breech adalah posisi sungsang kombinasi dari frank breech dan complete breech. Kondisi ini terjadi ketika salah satu kaki bayi berada di atas ke arah kepalanya sementara yang satunya lagi menekuk ke bawah bokong..
5. Kelahiran letak melintang
Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang didalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu, sedangkan bokong berada pada sisi yang lain. Beberapa penyebab terjadinya letak lintang adalah pertumbuhan janin terhambat atau janin mati, kehamilan premature, kehamilan kembar, kelainan bentuk rahim
Lingkungan
Contohnya adalah keadaan rumah, keadaan rumah yang nyaman akan membawa efek psikologis yang bagus terhadap perkembangan anak.
Contohnya adalah orang tua, jika orang tua mendidik dengan cara yang tepat maka kondisi kesehatan mental sang anak juga akan sangat sehat. Selain itu, kerukunan kedua orang tua juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental sang anak.
Pengobatan Ibu
Semakin banyak obat yang diberikan kepada ibu semakin lama dan sulit penyesuaian bayi dengan kehidupan pasca lahir.
Waktu periode melahirkan�Janin yang matang selama masa prenatal akan tumbuh dan berkembang dengan memiliki berat badan, tinggi badan maupun warna kulit yang normal. Waktu masa mengandung janin dalam masa kehamilan ibu kurang lebih 9 bulan 10 hari.�Perawatan Pasca Lahir�Perhatian dan perawatan yang dilakukan seorang ibu terhadap bayi yang baru dilahirkan mempunyai pengaruh yang positif terhadap perkembangan bayinya�
Perhatian dan kasih sayang seorang ayah kepada ibu akan membuat emosi ibu akan stabil, tenang dan bahagia. Jika ibu bahagia maka akan bisa mengeluarkan ASI yang cukup untuk bayi. Membangun ikatan emosional bayi dengan ayah dari suara dan sentuhan bayi, bisa berdampak pada perkembangan bahasa bayi sehingga sang bayi dapat mengenal ayahnya dengan baik.
Faktor Ayah
Faktor Orang Tua
Faktor Ibu
Ibu menjadi kunci utama yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan bayi. Sehingga kondisi fisik dan psikis ibu harus dijaga agar bisa mengeluarkan ASI yang cukup untuk sang bayi sehingga bayi bisa berkembang dengan sempurna. Usia ibu �juga mempengaruhi tumbuh kembang. Ibu yang �berusia remaja (dibawah 18 tahun) cenderung belum stabil emosinya.
TERIMA KASIH