MEDIA MENGAJAR
UNTUK MA KELAS XI
Semangat Belajar
Sejarah Kebudayaan Islam
Oleh : Sumiran, S. Pd
Sejarah Daulah Safawiyah
BAB 5
Sejak saat itu, banyak dari penguasa muslim yang menjadikan wilayah Persia sebagai pusat pemerintahan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Persia mengalami masa keemasannya pada masa Daulah Abbasiyah.
APERSEPSI
Daulah Safawiyah merupakan satu di antara tiga kerajaan besar Islam lainnya yang berdiri setelah runtuhnya Daulah Abbasiyah.
Daulah Safawiyah merupakan kerajaan Islam yang beraliran Islam Syi’ah. Selama masa kekuasaannya, sering terjadi benturan antara Daulah Safawiyah dan Daulah Usmani yang memperebutkan pengaruh dan wilayah dalam kepemimpinan umat Islam.
Akan tetapi, setelah kekuasaan Daulah Abbasiyah ditaklukkan oleh bangsa Mongol, bangsa Persia membangun kembali peradabannya dengan mendirikan Daulah Safawiyah.
Kekaisaran Sassania di bawah kekuasaan Islam menaklukkan kekaisaran Persia Kuno.
A. Sejarah Berdirinya Daulah Safawiyah
Ketika kekuatan Daulah Timuriyah semakin melemah, wilayah Persia dikuasai oleh gerakan-gerakan keagamaan, salah satunya adalah gerakan tarekat Safawiyah yang didirikan oleh Safi Ad-Din pada 1301 M di Ardabil, Iran.
Gerakan tarekat Safawiyah menjadi cikal bakal berdirinya Daulah Safawiyah.
Pada tahun 1370 M, Timur Lenk, seorang keturunan Turki-Mongol, mendirikan Daulah Timuriyah di Samarkand setelah berhasil menguasai Transoxiana di Asia Tengah dan mampu menyatukan sebagian besar dari wilayah tersebut hingga mendominasi wilayah Persia sejak 1370–1506 M.
A. Sejarah Berdirinya Daulah Safawiyah
Gerakan tarekat Safawiyah menjadi cikal bakal berdirinya Daulah Safawiyah. Nama Safawiyah diambil dari nama Safi Ad-Din.
Dengan demikian, pada akhirnya, wilayah Persia dapat terbebas dari kekuasaan bangsa asing dan jatuh ke tangan bangsa Persia di bawah kepemimpinan Daulah Safawiyah.
Perjuangan keturunan Safi Ad-Din untuk merebut kekuasaan Persia dari kekuasaan bangsa Mongol dapat terwujud saat gerakan Safawiyah berada di bawah kepemimpinan Ismail I, putra Syekh Haidar pada tahun 1501 M. Ismail I adalah pendiri sekaligus syah (raja) pertama Daulah Safawiyah.
B. Para Pemimpin Daulah Safawiyah
Pemerintahan Daulah Safawiyah di Persia berlangsung sekitar 200 tahun, yaitu sejak tahun 1501–1736 M.
Pemerintahan Daulah Safawiyah dipimpin oleh seorang syah (raja).
Selama lebih dari dua abad kekuasaannya, Daulah Safawiyah mengalami pergantian pemimpin sebanyak 11 kali, yaitu:
B. Para Pemimpin Daulah Safawiyah
Berikut adalah pembahasan dari beberapa tokoh pemimpin Daulah Safawiyah tersebut.
Ismail I kemudian mengangkat dirinya sebagai raja yang sah dan menyusun kebijakan-kebijakan yang di antaranya adalah menetapkan Syi’ah sebagai aliran agama resmi Daulah Safawiyah.
1. Syah Ismail I (1501–1524 M)
Kepemimpinan Syah Ismail I bersifat absolut atau tidak dapat dibantah sehingga mendapat kepatuhan mutlak dari masyarakatnyan dan diperlukan untuk memperkuat kedudukan Daulah Safawiyah sebagai sebuah kerajaan yang baru.
Ismail bin Haydar atau yang lebih dikenal dengan Ismail I adalah pendiri Daulah Safawiyah.
B. Para Pemimpin Daulah Safawiyah
Selama berkuasa, Syah Ismail I memiliki dua musuh besar yaitu Kabilah Uzbek dan Turki Usmani.
Hal ini memicu terjadinya kekacauan dan perebutan kekuasaan. Di tengah kekacauan tersebut, Syah Ismail I wafat di Ardabil pada tahun 1524 M.
Syah Ismail I mengalami kekalahan dalam peperangan melawan Turki Usmani dan membuatnya terpukul sehingga pemerintahan Daulah Safawiyah terbengkalai.
Pada 10 tahun pertama kepemimpinannya, Syah Ismail I berhasil menguasai seluruh wilayah Persia dan sebagian wilayah timur Bulan Sabit Subur.
B. Para Pemimpin Daulah Safawiyah
Syah Tahmasp I resmi menjabat pada tahun 1524 M ketika berusia 10 tahun dengan menganut paham yang sama dengan ayahnya, yaitu paham Syi’ah.
2. Tahmasp I (1524–1576 M)
Pada akhir masa jabatannya, ia lebih banyak mengurung diri sehingga urusan pemerintahan diambil alih oleh pejabat-pejabat negara. Syah Tahmasp I wafat pada tanggal 14 Mei tahun 1576 M.
Selama 52 tahun masa kepemimpinannya, ia terlibat dalam banyak peperangan, baik peperangan melawan Turki Usmani maupun Kerajaan Uzbek. Syah Tahmasp I juga melakukan penyerangan kepada umat Kristen di Georgia.
B. Para Pemimpin Daulah Safawiyah
Kepemimpinan Syah Tahmasp I dilanjutkan oleh putra keduanya yang bernama Ismail II.
3. Ismail II (1576–1577 M)
Pada masa pemerintahannya, Syah Ismail II membuat kebijakan berupa larangan untuk mencela khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib pada khotbah salat Jumat, yaitu Abu Bakar AshShiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan.
Ia mendahului kakaknya, Muhammad Khudabanda, untuk menjadi seorang syah karena pihak Qizilbasy lebih menyukai Ismail II dibandingkan saudaranya. Ismail II resmi menjadi syah Daulah Safawiyah pada 22 Agustus 1576 M.
B. Para Pemimpin Daulah Safawiyah
Kondisi kesehatan Syah Muhammad yang kurang baik membuat ia menyerahkan kepengurusan pemerintahan kepada istrinya sehingga menyebabkan perpecahan dalam pemerintahan.
4. Muhammad Khudabanda (1577–1587 M)
Melihat kondisi pemerintahan daulah yang kacau, putra Syah Muhammad yang bernama Abbas, berinisiatif untuk menyelamatkan pemerintahan Daulah Safawiyah dengan merebut takhta kepemimpinan dari ayahnya.
Kepemimpinan Ismail II dilanjutkan oleh saudaranya, Muhammad Khudabanda, yang berkuasa selama 10 tahun.
B. Para Pemimpin Daulah Safawiyah
Syah Abbas I menjadi pemimpin Daulah Safawiyah pada tahun 1588 M.
5. Abbas I (1588–1628 M)
a. Pemusatan Otoritas Kekuasaan memulihkan kekuasaan militer dan hukum yang telah mengalami perpecahan di bawah kendalinya
Di antara kebijakan yang diterapkan oleh Syah Abbas I adalah sebagai berikut:
c. Gencatan senjata dengan Daulah Usmani
b. Menyeimbangkan Kekuatan dengan membentuk sebuah pasukan militer baru untuk mengurangi dominasi pasukan Qizilbasy dalam pemerintahan Daulah Safawiyah dan menyeimbangkan kekuatan.
Untuk memperbaiki kondisi pemerintahan Daulah Safawiyah, Syah Abbas I menerapkan sejumlah kebijakan.
B. Para Pemimpin Daulah Safawiyah
Kebijakan yang diterapkan oleh Syah Abbas I berhasil membawa kestabilan pada pemerintahan Daulah Safawiyah.
Keberhasilan yang dicapai oleh Syah Abbas I membawa Daulah Safawiyah kepada puncak kejayaannya.
Setelah kondisi internal pemerintahan benar-benar stabil, Syah Abbas I berupaya untuk merebut kembali wilayah-wilayah kekuasaan Daulah Safawiyah yang telah diambil oleh Turki Usmani dan berhasil memenangkannya.
Syah Abbas I kemudian memindahkan ibu kota Daulah Safawiyah dari Tabriz ke Isfahan.
C. Pemerintahan Daulah Safawiyah
Masa awal kepemimpinan Ismail I diwarnai dengan pertempuran balas dendam atas kematian ayahnya oleh Farukh Yassar, pemimpin wilayah Shirvan.
Awal Kepemimpinan
Daulah Safawiyah berhasil mempertahankan diri dan selamat dari kehancuran total karena pimpinan Daulah Usmani, Sultan Salim I harus kembali ke wilayah Turki akibat masalah dalam negeri Usmani.
Ambisi politik Ismail I mendorongnya untuk menguasai daerah-daerah lainnya, seperti wilayah Daulah Usmani. Namun, dalam peperangan keduanya, Daulah Safawiyah mengalami kekalahan.
Dalam kurun waktu sepuluh tahun, wilayah kekuasaan Syah Ismail I sudah meliputi seluruh Persia dan bagian timur Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent).
Hingga pada tahun 1501 M, ia berhasil menaklukkan Kota Tabriz dan mendeklarasikan dirinya sebagai syah (raja). Maka berdirilah sebuah daulah Islam bermazhab resmi Syi’ah di Persia dengan nama Daulah Safawiyah.
C. Pemerintahan Daulah Safawiyah
Kekalahan yang terjadi membuat rasa kepercayaan diri dan kebanggaan Syah Ismail I runtuh. Akibatnya, kehidupan Syah Ismail I berubah dan kapabilitasnya sebagai pemimpin dipertanyakan. Kondisi tersebut menimbulkan perselisihan dan permusuhan dalam negeri. Selepas wafatnya Syah Ismail I pada tahun 1524 M, perselisihan tersebut berkembang menjadi perang saudara.
Perluasan Wilayah
Namun Tahmasp I, penerus Ismail I, dapat meredakan perang tersebut dan kembali mengontrol pemerintahan Daulah Safawiyah pada tahun 1533 M. Namun, perselisihan antara Daulah Safawiyah dengan Daulah Usmani terus berlanjut sehingga peperangan sering terjadi di antara keduanya untuk memperebutkan wilayah dan pengaruhnya. Terjadinya peperangan secara terus-menerus membuat kondisi politik dan militer Daulah Safawiyah melemah yang turut dipengaruhi oleh perebutan kekuasaan dan pertentangan antara kelompok-kelompok dalam negeri.
C. Pemerintahan Daulah Safawiyah
Perbaikan kondisi terjadi ketika Syah Abbas I (1587–1629 M), raja kelima Daulah Safawiyah, mengambil alih kepemimpinan kerajaan. Ia menerapkan kebijakan-kebijakan yang dapat memulihkan Daulah Safawiyah dan mewujudkan kestabilan dalam pemerintahan Daulah Safawiyah.
Masa Kebangkutan
Kebijakan baru membuat Abbas I dapat membangun pasukan militer yang kuat, terpusat, serta setia terhadap otoritas syah. Syah Abbas I lalu memindahkan ibu kota Daulah Safawiyah ke Kota Isfahan pada tahun 1598 M dan membangun kota tersebut menjadi salah satu kota terindah di dunia. Setelah berhasil memperkuat kemiliterannya, Daulah Safawiyah berupaya untuk merebut kembali wilayah-wilayah kekuasaannya yang telah diserahkan kepada Daulah Usmani dan berhasil melakukannya. Di bawah kepemimpinan Syah Abbas I, kampanye perebutan wilayah dan kekuasaan di Timur Tengah terus berlangsung hingga akhir tahun 1620-an.
C. Pemerintahan Daulah Safawiyah
Era kepemimpinan Syah Abbas I juga membawa zaman keemasan bagi perkembangan seni dan ilmu pengetahuan Daulah Safawiyah.
Masa Keemasan
Beberapa ilmuwan dan filsuf yang hidup di era ini, antara lain Mulla Sadra, Mir Damad, dan Muqaddas Ardabili
Perkembangan arsitektur kota dan jalan-jalan pun menjadikan Kota Isfahan, ibu kota Daulah Safawiyah, sebagai salah satu kota terindah di dunia.
Kerajinan karpet, tekstil, dekorasi, naskah dan literatur, serta kesenian keramik dan lukisan berkembang dengan pesat dan banyak diekspor ke wilayah kerajaan Eropa.
Kondisi pemerintahan yang stabil dapat mewujudkan peradaban yang maju lagi makmur. Pada masa ini, kesenian berkembang dengan sangat baik.
D. Kemunduran dan Runtuhnya Daulah Safawiyah
Sepeninggal Syah Abbas I, kejayaan Daulah Safawiyah mulai menurun ditangan penguasa setelahnya dan banyak dari keluarga daulah yang terjangkit penyakit penguasa, yaitu cinta dunia, hidup bermewah-mewahan, dan kepemimpinan yang semakin tidak cakap dan efisien. Salah satunya adalah Syah Husein.
Selain itu, faktor eksternal juga ikut melemahkan kekuatan politik Daulah Safawiyah. Wilayah Persia sering diserbu oleh pasukan Daulah Usmani dan kelompok dari negara lain yang mulai memberikan perlawanan. Hingga, pada akhirnya Daulah Safawiyah pun runtuh.
1. Daulah Safawiyah berasal dari gerakan sufi di Ardabil, Azerbaijan, Iran, yang didirikan oleh Safi Ad-Din pada tahun 1301 M. Nama Safawiyah diambil dari nama pendirinya. Keturunannya, Ismail I, meneruskan perjuangan gerakan tarekat dan berhasil menguasai seluruh wilayah Persia dan di tahun 1501 M, kemudian mendirikan Daulah Safawiyah.
RANGKUMAN
4. Pada abad ke-17 M, kejayaan Daulah Safawiyah semakin menurun. Dipengaruhi Faktor yakni sikap para penerus (pemimpin) daulah yang cinta dunia dan faktor eksternal karena peperangan dengan Turki Usmani dan ancaman dari negara-negara lain.
3. Masa kekuasaan Syah Abbas I merupakan puncak kejayaan Daulah Safawiyah. Namun selanjutnya, tidak ada syah yang dapat menandingi kehebatan kepemimpinan Abbas I.
2. Kejayaan Syah Ismail I tidak berlangsung lama. Raja-raja selanjutnya, tidak memiliki prestasi yang gemilang, bahkan pada masa kepemimpinan Syah Muhammad Khudabanda kondisi kerajaan semakin kacau sehingga beliau dikudeta oleh anaknya, Syah Abbas I.
Perkembangan Peradaban dan Ilmu Pengetahuan pada Masa Daulah Safawiyah
TERIMAKASIH
BAB 6