Bimbingan Teknis Peningkatan Kompetensi
MEMAHAMI PELAKSANAAN PENGHAMPARAN
DI LAPANGAN
LPK PURNA KREATIF MANDIRI
Jl.RC Veteran No 66 Ruko Bintaro Persada Blok B-5 Tanah Kusir Tanggerang
e-mail : lpkpekaem@gmail.com
IR. AVI PRAPANCHA MEngSc����EMAIL: avi_pra@yahoo.com��Hp : 08161331113
2
14-Nov-21
3
MEMAHAMI PELAKSANAAN PENGHAMPARAN
DI LAPANGAN
TUJUAN PEMBELAJARAN
4
TUJUAN PEMBELAJARAN :�PESERTA MAMPU MEMAHAMI PELAKSANAAN PENGHAMPARAN ASPAL DI LAPANGAN
�INDIKATOR KEBERHASILAN :�PESERTA MAMPU DAN MENGUASAI PELAKSANAAN PENGHAMPARAN ASPAL DI LAPANGAN
MENGENAL TYPE2 KERUSAKAN JALAN YANG DOMINAN PADA PERKERASAN FLEXSIBLE
Pothole
Cracking
Rutting
7
PELAKSANAAN BETON ASPAL CAMPURAN PANAS
Pemeriksaan Mobilisasi Peralatan
Peralatan yang harus sudah siap berada di lokasi pekerjaan :
8
Skema Penghamparan �Campuran Beraspal Panas
1. Kapasitas AMP untuk produksi hotmix,
2. Armada dump truck untuk mengangkut hotmix dari lokasi AMP ke lokasi penghamparan,
3. Kapasitas Asphalt Finisher.
9
1 - orang operator
1 – orang pengatur screed
1 – orang pengatur dump truck
2 – orang penyingkap material yang tersendat di pojokan hopper dan dump truck (shovelers)
2 – orang raker (perata) yang menjaga agar material di belakang Finisher tidak ada yang menggumpal dan menjaga agar terdapat material yang cukup di tempat seperti sambungan
Jumlah tenaga tersebut belum termasuk operator dan pembantu operator alat Asphalt Sprayer dan alat pemadat.
10
Pemeriksaan Komponen Asphalt Sprayer
11
Pemeriksaan �Komponen Alat Penghampar (Finisher)
12
Pemeriksaan Komponen Alat Pemadat
Alat pemadat harus tersedia sekurang-kurangnya:
Pada kapasitas AMP tertentu (kapasitas lebih dari 90 Ton/jam) diperlukan lebih dari 1 pemadat PTR, untuk mencapai kepadatan yang disyaratkan.
13
��Pemeriksaan Sebelum Penghamparan�
Hal yang perlu dipersiapkan:
1. Persiapan peralatan dan personil
14
Pemeriksaan Sebelum Penghamparan�
2. Persiapan pekerjaan lapangan
15
Penyiapan Permukaan dengan Lapis Resap Ikat atau Lapis Perekat)
16
Lapis Resap Pengikat
Kegunaannya Lapis Resap Pengikat (prime coats) :
17
Lapis Resap Pengikat
18
Lapis Perekat (Tack Coat)
19
Takaran Pemakaian Lapis Perekat dan Temperatur Penyemprotan
20
Bagan Alir Pekerjaan Pemasangan Lapis Perekat/ Pengikat
21
Persiapan Permukaan
22
Penghamparan di Atas Lapis Pondasi Agregat
23
Penghamparan di Atas Lapis Beraspal
Harus memenuhi hal-hal sebagai berikut:
24
Pembersihan Lahan
25
Typikal Skema Aspal Distributor
26
Tata cara penyemprotan dengan metode overlap
27
Hasil Pemberian Tack/Prime Coat yang Tidak Baik
| |
a. | b. |
Temperatur Pemanasan dan Penyemprotan Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat
28
Tipe dan Grade Aspal | Temperatur Penyemprotan | |
| F | C |
SS-1 | 70-160 | 20-70 |
SS-1h |
|
|
-1 | 70-160 | 20-70 |
-1h |
|
|
MC-30 | 85+ | 30+ |
MC-70 | 120+ | 50+ |
MC-250 | 165+ | 75+ |
29
BEBAN KENDARAAN
Agregat base
Diperlukan lapis perekat yang baik, atau yang boundingnya kuat dan tidak terlalu banyak.
KERUSAKAN PERKERASAN AKIBAT BAHAN LAPIS RESAP PENGIKAT DAN LAPIS PEREKAT YANG KURANG BAIK
Diperlukan lapis resap pengikat yang dapat meresap setebal mungkin (2-3 Cm) dan mempunyai boundingnya kuat .
Diperlukan lapisan agregat yang kompak atau mempunyai tingkat kepadatan yang tinggi.
TACK COAT KURANG, KIRI�TACK COAT BAIK, KANAN
30
PENYEMPROTAN TACK COAT YG BAIK
31
PELAKSANAAN TACK COAT YG JELEK
32
TACK COAT YANG TERANGKAT BAN KARENA PERMUKAAN KOTOR
33
TAKARAN PENYEMPROTAN TACK COAT
34
ASPHALT DISTRIBUTOR
35
Pemeriksaaan hasil Penyemprotan
b. Pemeriksaan terhadap permukaan yang disemprot yang menunjukkan adanya bahan aspal yang berlebihan atau kurang takarannya.
36
Pemeliharaan
a. Sewaktu lapis aspal dalam keadaan tidak tertutup, terlebih dahulu harus melindunginya dari kerusakan dan mencegahnya agar tidak berkontak dengan lalu lintas.
b. Pemberian kembali Lapis Perekat (retackcoating) harus dilakukan bila Lapis Perekat telah mengering sehingga hilang atau berkurang kelengketannya.
c. Pengeringan lapis perekat yang basah akibat hujan turun dengan tibatiba dengan menggunakan udara bertekanan (compressor) dapat dilakukan
37
Persiapan alat penghamparan
38
Diagram Pengoperasian Alat
Pada pekerjaan Pengaspalan
Penerimaan Campuran Beraspal
Harus berdasarkan :
39
Pemeriksaaan Secara Visual
2. Tampak kaku, Tampak visual campuran beraspal yang kaku mengindikasikan campuran tersebut telah dingin.
3. Permukaan tampak rata, Pada umumnya permukaan campuran beraspal di atas truk membentuk bukit. Jika permukaan tersebut terlihat agak rata, maka kemungkinan campuran beraspal kelebihan aspal atau kadar air.
4. Segregasi, Segregasi umumnya terjadi akibat kesalahan penanganan selama penghamparan, tetapi bisa juga terjadi
5. Terkontaminasi, Campuran beraspal dapat terkontaminasi bahan-bahan asing seperti minyak tanah, oli, plastik, kertas, kain atau lainnya.
6. Agregat tidak terselimuti aspal dengan baik, Campuran beraspal yang memperlihatkan adanya agregat yang tidak terselimuti aspal dengan baik, menunjukkan terjadinya penyimpangan pada unit produksi.
7. Ada agregat yang tidak terselimuti aspal sama sekali, Agregat yang tidak terselimuti aspal sama sekali kemungkinan jatuh ke atas truk
8. Spot-spot aspal terlihat gumpalan atau spot-spot aspal pada campuran beraspal yang kemungkinan disebabkan oleh bocornya pipa penyemprot aspal,
40
Persyaratan Pelaksanaan Penghamparan
41
Koordinasi antara AMP dengan Lapangan
8. Sambungan melintang dan memanjang harus dibuat tegak lurus. Metoda yang dilakukan dapat berupa pemotongan sambungan sebelum dimulainya penghamparan,
9. Kontinuitas penghamparan memberikan kualitas perkerasan yang baik.
10. Untuk menjaga kontinuitas penghamparan maka diperlukan koordinasi antara lapangan dengan unit pencampur aspal (AMP).
11. Selang waktu pengiriman yang terlalu lama akan menyebabkan sambungan dan tekstur kurang baik karena campuran beraspal yang dihampar sudah dingin.
42
Pengaturan ketebalan dan kemiringan melintang
43
Pengaturan lebar penghamparan
Lebar penghamparan disesuaikan sehingga untuk penghamparan lapis per lapis, maka sambungan tidak terletak pada satu garis vertikal untuk tiap lapisnya.
Misalnya untuk penghamparan dua lajur. Pada lapis pertama penghamparan pada lajur ke-1 dilebihkan lebarnya sekitar 10 cm (lebar penghamparan 3,60 m) ke arah sambungan. Selanjutnya pada penghamparan lapis kedua maka penghamparan pada lajur ke-1 dikurangkan lebarnya sekitar 10 cm (lebar penghamparan 3,40 m) ke arah sambungan. Perbedaan posisi sambungan tersebut paling sedikit sejauh 15 cm.
44
Sambungan
Diperlukan jika penghamparan dilakukan dalam beberapa lajur.
Sambungan dipisahkan menjadi dua, yaitu:
1. Sambungan panas dapat dilakukan jika alat penghampar (finisher) menghampar berbarengan pada dua sisi.
2. Sambungan dingin, salah satu telah selesai dipadatkan (dingin) dan baru kemudian dilakukan penghamparan pada sisi sebelahnya.
45
Pemeriksaan Penghamparan
1. Temperatur, harus diperiksa pertama kali di atas truk. Berikutnya setelah campuran beraspal dihampar dengan selang jarak tertentu sampai campuran tersebut siap dipadatkan.
2. Tekstur Permukaan, Tekstur yang terbuka dapat disebabkan oleh campuran beraspal terlalu dingin, jika terjadi pada awal penghamparan kemungkinan pelat screed tidak dipanaskan pada saat awal penghamparan.
3. Kerataan permukaan, Penghamparan yang tidak kontinyu dapat menyebabkan permukaan tidak rata terutama pada sambungan melintang. Gradasi yang tidak sesuai, perubahan kecepatan penghamparan, dan dorongan dari truk pada saat pengisian campuran beraspal ke finisher, menyebabkan permukaan tidak rata.
46
Pemeriksaan Penghamparan
4. Ketebalan, Ketebalan hamparan campuran beraspal dalam kondisi gembur dapat diukur dengan batang penyolok yang telah diberi tanda ketebalan. Seperti halnya perubahan tekstur, maka perubahan ketebalan juga dapat disebabkan oleh terganggunya keseimbangan (equilibrium) pelat screed
5. Kemiringan melintang dan memanjang harus diperhatikan terlebih pada daerah tikungan atau superelevasi. Penyebaran campuran beraspal pada tepi dan tengah harus merata, sehingga saat pemadatan akan diperoleh penurunan yang seragam dan harus dibuat tegak dan tidak ada perbedaan tinggi. Secara lebih detil mengenai penyambungan telah dibahas sebelumnya.
47
Prinsip Pemadatan
3 gaya utama pemadatan:
48
Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan
Faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemadatan campuran beraspal:
49
Alat Pemadatan
Peralatan pemadat ada dua jenis yaitu:
Pemadat dengan roda besi (licin) atau selanjutnya disebut mesin gilas (road roller) dapat dibedakan dari jumlah dan susunan rodanya, beratnya (dari 0,6 sampai 18 ton), dan dari mekanisme pemadatannya, statis (static) dan bergetar (vibrating).
Mesin gilas menurut jumlah dan susunan rodanya:
50
Alat Pemadatan
Menurut beratnya terdapat antara lain :
51
Pelaksanaan
Derajat kepadatan yang dicapai campuran beraspal sangat bergantung pada usaha pemadatan yang dilakukan.
Tahapan pemadatan campuran beraspal dilakukan dalam tiga operasi yang terpisah, yaitu :
52
Pemadatan awal (breakdown rolling)
53
Pemadatan Antara (Intermediate Rolling)
54
Pemadatan Akhir (finish rolling)
55
Faktor yang Perlu Diperhatikan Selama Pelaksanaan Pemadatan
56
Jumlah Lintasan
57
Cara pemadatan
58
Hal yang perlu diperhatikan:
Ilustrasi Hubungan antara Penurunan Temperatur, Kepadatan Lapis Beraspal dan Waktu
59
Rentang Waktu Pemadatan �(The Asphalt Institute, 1983)
60
61
Rentang Temperatur Pemadatan dan Viskositas Aspal
Pola (pattern) Pemadatan
62
1. Pemadatan campuran beraspal yang kurang atau sama dengan 5 cm tebal padat, pola pemadatan seperti berikut ini.
2. Pemadatan campuran beraspal dengan tebal padat lebih dari 5 cm tebal padat, pola pemadatan seperti di bawah ini.
Pola (Pattern) Pemadatan
63
Pelaksanaan Pemadatan Sambungan Memanjang
64
Catatan:
65
KESALAHAN UMUM PADA PAVER
66
67
68
benar
salah
69
70
bersih
rubah tebal
71
72
73
74
atau kotoran yang melekat
75
sedang dipadatkan kecuali untuk tujuan membalik arah.
berhenti dulu baru membalik arah.
KESALAHAN UMUM PADA PELAKSANAAN PEKERJAAN JALAN
76
77
MASALAH YANG PERNAH TERJADI PADA PELAKSANAAN DI LAPANGAN
Batu kali yang dipecah dengan mesin pemecah batu masih mengandung lempung dan lumpur.
Pasir masih mengandung butiran 1 - 1½ inci dan mengandung lempung/ lumpur dengan nilai PI 7% - 11%
BATU GUNUNG YANG BERLAPIS (LEMPENGAN/PIPIH)
78
79
80
81
82
83
84
85
86
Lapis Pondasi Agregat :
87
dipenuhi agar pekerjaan lapis pondasi agregat dapat berhasil. Misalnya material harus keras (ingat batasan abrasi max-40%), bersih, punya gradasi yang baik dan lain sebagainya.
88
89
Pemahaman salah terhadap Spesifikasi.
Agregat-A dicampur tanah
90
91
tempat pekerjaan.
92
93
Penampilan Buram ;
94
95
96
97
98
99
depresi pada lapisan permukaan atau bersama-sama lapis lain dibawahnya akibat beban roda kendaraan, temperature udara tinggi, berkombinasi dengan karakter material pembentuk lapisan. Dalam keadaan parah beban roda dapat pula mengakibatkan pergeseran material base, sub-base dan sub-grade sehingga terjadi depresi dalam.
Hal ini dapat terjadi karena stabilitas campuran yang rendah; akibat penggunaan agregat tidak pecah, kurangnya pemadatan, pemadatan pada suhu yang sudah terlalu rendah, kadar pori dalam campuran terlalu besar, kelebihan aspal dll.
100
Material halus pada campuran aspal panas mengalir dan bertumpang tindih dengan dirinya arah melintang (biasanya pada tepi luar jalur luar). Hal ini disebabkan oleh aspal terlalu lunak yang mengakibatkan Plastic Flow akibat beban lalu lintas dan panas (udara) gradasi yang terlalu fines, tumpahan bahan bakar / olie sehingga campuran menjadi lunak
Pergeseran butiran arah memanjang akibat gaya rem atau gaya percepatan sehingga menimbulkan gelombang melintang. Hal tersebut terjadi akibat material kurang stabil pada lapisan surface atau/ dan lapis-lapis dibawah
101
102
⦿Deformasi:
Terjadi bila daya dukung perkerasan setempat – setempat atau keseluruhan, memperoleh tekanan yang melampaui kemampuan akibat daya dukung Sub – Grade bervariasi akibat jenis material, pemadatan atau kadar air yang tidak homogen atau terjadinya konsolidasi pada badan jalan.
103
1. Kehilangan daya lekat akibat "ageing" pada perkerasan tua,
2. Pada lapisan baru dikarenakan oleh pemadatan yang kurang,
104
3. Pelaksanaan sambungan memanjang yang salah akibat :
105
106
Walaupun akibatnya akhirnya sama yaitu terlepasnya butir-butir agregat dari permukaan jalan, namun Ravelling berbeda dari Fretting.
Ravelling adalah terlepasnya butir batuan yang tidak tertancap dengan baik pada lapisan, dan kejadian ini tidak didahului dengan terlepasnya butiran-butiran halus karena kehilangan daya kohesi.
Raveling dapat terjadi karena kurangnya pemadatan dan penggunaan aspal yang berpenetrasi terlalu rendah.
107
L
108
Perkerasan akan retak (crack) bila stress yang berulang-ulang dari lalu lintas dan/ atau perubahan suhu menimbul regangan yang melampaui daya lentur perkerasan. Kondisi kritis terjadi apabila kekakuan dari bitumen terlalu tinggi.
Retakan berbentuk melingkar akibat beban roda kendaraan dengan gaya Traksi besar pada lapisan yang tidak melekat dengan baik pada lapisan dibawahnya. Hal ini bisa terjadi bilamana aplikasi tack coat yang kurang atau tidak merata (sebagian ada sebagian tidak ada)
109
110
111
112
113
Bleeding terjadi karena konsolidasi dari agregat dalam campuran dan mengurangi kadar pori udara. Lalu-lintas mengurangi kadar pori udara (void content) dalam campuran, hal ini mendorong aspal mengalir ke permukaan. Hal ini akan menjadi bertambah parah jika kadar aspal terlalu tinggi dan kadar pori terlalu rendah. Migrasi aspal ke permukaan menjadikan permukaan licin dan mengkilat. Kondisi ini menimbulkan bahaya tergelincir tertama sekali pada waktu permukaan jalan basah. Bleeding umumnya terjadi pada pelayanan jalan di temperature tinggi. Karena itu membatasi titik lembek (softening ponint) pada 60oC akan mengurangi bleeding.
Penghamparan pada kondisi jalan basah
114
PENGISIAN CAMPURAN BERLEBIH
115
PENGHAMPARAN MALAM HARI TANPA PENERANGAN YANG CUKUP
116
Segregasi & tercampur material dari luar
117
Campuran yang kurang padat
118
Tebal lapisan tidak sesuai dengan ukuran agregat maksimum
119
120
Permukaan AC binder setelah berumur satu bulan terjadi lubang-lubang di permukaan
Campuran beraspal AC binder yang setelah selesai dihampar dan dipadatkan
MASALAH YANG PERNAH TERJADI PADA PELAKSANAAN DI LAPANGAN
121
Retak- retak pada permukaan lama tanpa diperbaiki langsung dilapis dengan lapisan baru
Retak refleksi timbul diatas lapisan yang baru setelah berumur tiga bulan
MASALAH YANG PERNAH TERJADI PADA PELAKSANAAN DI LAPANGAN
122
Pengujian Pengendalian Mutu Produksi Campuran Beraspal
123
MASALAH YANG PERNAH TERJADI PADA PELAKSANAAN DI LAPANGAN
124
CONTOH PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI
(REINSTATEMENT)
YANG DILAKSANAKAN KURANG BAIK
(1)
Pothole Patching (Penambalan Lobang)
KESALAHAN UMUM PADA PERSIAPAN & PELAKSANAAN �PENGHAMPARAN CAMPURAN BERASPAL PANAS
125
126
127
Prime coat tidak sempurna
128
Lubang tambalan tidak dibentuk persegi
129
Pemberian tack coat tidak merata
130
Tidak terkena tack coat
Tack coat berlebih
131
Permukaan jalan yang rusak dibongkar dengan jack hammer setelah batas-batasnya dipotong dengan pavement cutter.
132
Kalau dasar galian lapis pertama masih menunjukkan retak-retak atau tidak kokoh, perlu digali lebih dalam.
133
Penyemprotan Tack Coat perlu dilakukan merata ke seluruh bidang, termasuk bidang tegak. Tack Coat yang baik adalah dari Aspal Emulsi.
134
135
CONTOH PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI
(REINSTATEMENT)
YANG DILAKSANAKAN KURANG BAIK
(2)
Scrapping and Filling
Scrapping & Filling
Scrapping dengan Cold Milling Machine :
Filling :
136
Yang harus dan tidak boleh dilakukan dalam pekerjaan scrapping and filling :�
137
138
Mengapa terjadi kerusakan seperti ini ???
Terjadi kerusakan pada daerah tambalan
139
Terjadi kerusakan pada bagian ujung daerah filling terlebih dahulu.
Kerusakan berupa retakan dan penurunan
140
Material filling, yang diangkut dengan truk, sudah dingin.
141
Pemadatan dengan alat yang tidak memadai.
142
Hasil penambalan tidak sempurna, air masih bisa masuk ke dalam material tambalan.
143
Bidang sisi ujung galian tidak tegak, penyemprotan secara manual sulit rata, dan material Tack Coat tergenang pada dasar alur-alur galian.
144
Terjadinya genangan material tack coat pada alur-alur galian dapat menjadi penyebab bleeding.
145
Terjadinya genangan material tack coat pada alur-alur galian dapat menjadi penyebab bleeding.
146
Racking dan penaburan dapat mengakibatkan segregasi pada permukaan.
147
Pada pemadatan awal, ¼ lebar roda pemadat sebaiknya berada di atas hamparan yang belum dipadatkan, guna memudahkan diperolehnya kerataan sambungan memanjang.
148
Tidak boleh dilakukan pembasahan roda alat pemadat dengan minyak (goreng) !!!
149
Pembasahan roda tyre roller tidak boleh berlebihan; cukup dengan lap basah, tidak boleh dengan minyak/solar; kalau perlu, boleh dengan air ditambah sedikit detergen. Roda tyre roller perlu dipasang keset agar campuran aspal tidak menempel.
CAMPURAN ASPAL PANAS
150
151
TERIMA KASIH
Atas perhatiannya
HPJI