1 of 151

  • Teknis Pendampingan

Bimbingan Teknis Peningkatan Kompetensi

MEMAHAMI PELAKSANAAN PENGHAMPARAN

DI LAPANGAN

LPK PURNA KREATIF MANDIRI

Jl.RC Veteran No 66 Ruko Bintaro Persada Blok B-5 Tanah Kusir Tanggerang

e-mail : lpkpekaem@gmail.com

2 of 151

IR. AVI PRAPANCHA MEngSc���EMAIL: avi_pra@yahoo.com��Hp : 08161331113

2

14-Nov-21

3 of 151

3

MEMAHAMI PELAKSANAAN PENGHAMPARAN

DI LAPANGAN

4 of 151

TUJUAN PEMBELAJARAN

4

TUJUAN PEMBELAJARAN :�PESERTA MAMPU MEMAHAMI PELAKSANAAN PENGHAMPARAN ASPAL DI LAPANGAN

�INDIKATOR KEBERHASILAN :�PESERTA MAMPU DAN MENGUASAI PELAKSANAAN PENGHAMPARAN ASPAL DI LAPANGAN

5 of 151

MENGENAL TYPE2 KERUSAKAN JALAN YANG DOMINAN PADA PERKERASAN FLEXSIBLE

  • Rutting
  • Cracking
  • Pothole

Pothole

Cracking

Rutting

6 of 151

7 of 151

7

PELAKSANAAN BETON ASPAL CAMPURAN PANAS

8 of 151

Pemeriksaan Mobilisasi Peralatan

Peralatan yang harus sudah siap berada di lokasi pekerjaan :

  • Asphalt Sprayer
  • Dump truck
  • Finisher
  • Tandem Roller
  • Pneumatic Tyre Roller

8

9 of 151

Skema Penghamparan �Campuran Beraspal Panas

  • Dalam Pelaksanaan penghamparan memerlukan adanya koordinasi dengan semua rangkaian operasi yang terkait dengan suplai hotmix, karena penghamparan hotmix bergantung pada kontinuitas suplai hotmix.
  • Hal-hal yang perlu disinkronkan adalah:

1. Kapasitas AMP untuk produksi hotmix,

2. Armada dump truck untuk mengangkut hotmix dari lokasi AMP ke lokasi penghamparan,

3. Kapasitas Asphalt Finisher.

9

10 of 151

  • KEBUTUHAN PERSONIL :
  • Tenaga kerja yang diperlukan untuk penghamparan di jalan, misalnya untuk penghamparan sekitar 60 - 90 ton per jam dengan ketebalan rata-rata 5 cm diperlukan minimal 7 orang, yaitu:

1 - orang operator

1 – orang pengatur screed

1 – orang pengatur dump truck

2 – orang penyingkap material yang tersendat di pojokan hopper dan dump truck (shovelers)

2 – orang raker (perata) yang menjaga agar material di belakang Finisher tidak ada yang menggumpal dan menjaga agar terdapat material yang cukup di tempat seperti sambungan

Jumlah tenaga tersebut belum termasuk operator dan pembantu operator alat Asphalt Sprayer dan alat pemadat.

10

11 of 151

Pemeriksaan Komponen Asphalt Sprayer

  • Asphalt sprayer digunakan untuk pekerjaan penyiapan permukaan sebelum penghamparan campuran beraspal panas, yaitu menyiramkan lapis perekat (tack coat) atau lapis resap ikat (prime coat) di atas permukaan yang sudah disiapkan.

11

12 of 151

Pemeriksaan �Komponen Alat Penghampar (Finisher)

  • Alat penghampar atau Finisher adalah alat untuk menampung aspal campur panas (hotmix) yang dituangkan oleh dump truck, menghamparnya dengan rata menurut tebal dan lebar tertentu, sambil dipadatkan pada kerataan/kemiringan tertentu, dengan pinggir yang rata dan lurus
  • Komponen-komponen terpenting dari Asphalt Finisher
  • Bak penampung aspal campur panas (hopper)
  • Ulir pembagi (auger)
  • Pemadat (tamper)
  • Sepatu perata (screed)
  • Tenaga penggerak

12

13 of 151

Pemeriksaan Komponen Alat Pemadat

Alat pemadat harus tersedia sekurang-kurangnya:

  • Satu mesin pemadat roda baja (Tandem roller), mampu memberikan tekanan pada roda belakang minimum 200 kg/0,1 meter lebar, berat statis minimum 6 Ton.
  • Satu mesin pemadat roda karet (Pneumatic tyre roller, PTR) 9 roda dengan tekanan roda 8,5 kg/cm2. Beban per lebar roda karet antara 1500 kg dan 2500 kg.

 

Pada kapasitas AMP tertentu (kapasitas lebih dari 90 Ton/jam) diperlukan lebih dari 1 pemadat PTR, untuk mencapai kepadatan yang disyaratkan.

13

14 of 151

��Pemeriksaan Sebelum Penghamparan�

Hal yang perlu dipersiapkan:

1. Persiapan peralatan dan personil

  • Keseluruhan peralatan satu minggu sebelum pekerjaan dimulai telah dilapangan dengan kondisi baik
  • Bahan bakar minyak untuk peralatan dan pemeliharaannya selama pekerjaan sudah diperhitungkan.
  • Kesiapan personil untuk melaksanakan pekerjaan.
  • Seluruh peralatan manual dan rambu-rambu lalu-lintas lengkap dan tersedia
  • Transportasi untuk campuran material terjamin sehingga dapat dipastikan bahwa pekerjaan penggelaran akan berjalan secara lancar/kontinyu.

14

15 of 151

Pemeriksaan Sebelum Penghamparan�

2. Persiapan pekerjaan lapangan

  • Kesiapan permukaan jalan yang akan dihampar/eksisting;
  • Pemeriksaan kerataan permukaan dan kemiringan melintang jalan;
  • Pengendalian elevasi horisontal dan vertikal dilakukan dengan membuat patok ketinggian atau digunakan alat penghampar yang mempunyai pengatur elevasi otomatis.

15

16 of 151

Penyiapan Permukaan dengan Lapis Resap Ikat atau Lapis Perekat)

  • Lapis Resap Pengikat (prime coat) dihampar di atas permukaan pondasi tanpa bahan pengikat seperti lapis fondasi agregat.
  • Lapis Perekat (tack coat) dihampar di atas permukaan berbahan pengikat seperti Lapis Penetrasi Macadam, Laston, Lataston dan diatas Semen Tanah, RCC, CTB, Perkerasan Beton, dsb.
  • Pemasangan lapis resap pengikat atau lapis perekat dilaksanakan setelah permukaaan lama dibersihkan dengan compressor udara atau sikat mekanis sehingga tekstur perkerasan lama terlihat jelas.

16

17 of 151

Lapis Resap Pengikat

Kegunaannya Lapis Resap Pengikat (prime coats) :

    • Memberi daya ikat antara lapis fondasi agregat dengan campuran beraspal.

    • Mencegah lepasnya butiran lapis fondasi agregat jika dilewati kendaraan (sebelum dilapis dengan campuran beraspal).

    • Menjaga lapis fondasi agregat dari pengaruh cuaca, khususnya hujan. Sehingga air tidak masuk ke dalam lapis fondasi agregat yang jika terjadi dapat menyebabkan kerusakan struktur.

17

18 of 151

Lapis Resap Pengikat

  • Bahan lapis resap pengikat umumnya adalah aspal dengan penetrasi 80/100 atau penetrasi 60/70 yang dicairkan dengan minyak tanah. Volume yang digunakan berkisar antara 0,4 sampai dengan 1,3 liter/m2 untuk lapis pondasi agregat kelas A dan 0,2 sampai 1 liter/m2 untuk pondasi tanah semen.

  • Lapis resap pengikat yang berlebih dapat mengakibatkan pelelehan (bleeding) dan dapat menyebabkan timbulnya bidang geser.

18

19 of 151

Lapis Perekat (Tack Coat)

  • Kegunaan memberi daya ikat antara lapis lama dengan baru, dan dipasang pada permukaan beraspal atau beton semen yang kering dan bersih.
  • Jika daya ikat yang dihasilkan tidak baik, akan menyebabkan terjadinya pergeseran atau slip.
  • Lapis beraspal yang baru akan menjadi sungkur (shoved) searah pergerakan lalu-lintas, terutama pada daerah-daerah tanjakan/turunan atau lokasi-lokasi perlambatan/ percepatan.
  • Bahan lapis perekat adalah aspal emulsi yang cepat menyerap atau aspal keras pen 80/100 atau pen 60/70 yang dicairkan dengan 25 sampai 30 bagian minyak tanah per 100 bagian aspal.

19

20 of 151

Takaran Pemakaian Lapis Perekat dan Temperatur Penyemprotan

20

21 of 151

Bagan Alir Pekerjaan Pemasangan Lapis Perekat/ Pengikat

21

22 of 151

Persiapan Permukaan

  • Penghamparan diatas lapis pondasi agregat harus memperhatikan kesiapan permukaan seperti kepadatan, kerataan, tekstur, kadar air permukaan dan lainnya.
  • Sementara untuk penghamparan di atas lapisan beraspal, kerusakan-kerusakan yang terjadi seperti retak, alur, dan lainnya harus diperbaiki terlebih dahulu.
  • Sebelum penghamparan harus dilakukan pemasangan lapis resap pengikat (prime coats) atau lapis perekat (tack coats) pada permukaan perkerasan yang telah siap dengan kualitas dan kuantitas seperti yang disyaratkan.

22

23 of 151

Penghamparan di Atas Lapis Pondasi Agregat

  • Hal – hal yang harus dipenuhi:
    1. Tekstur permukaan lapis pondasi agregat sudah relatif baik. Bagian-bagian yang mengalami segregasi dan degradasi harus diperbaiki.
    2. Ketebalan dan elevasi permukaan lapis pondasi telah sesuai dengan rencana dan kerataan permukaan lapis pondasi memenuhi toleransi yang disyaratkan, yang diuji dengan alat mistar datar 3 meter (straight edge) baik arah melintang maupun arah memanjang.
    3. Kepadatan lapis pondasi harus sesuai persyaratan, yang diuji dengan pengujian konus pasir (sand cone) atau metoda standar lainnya yang diijinkan.
    4. Kadar air lapis pondasi agregat di bawah kadar air optimum (tidak basah atau becek). Kondisi basah akan menyebabkan lapis resap pengikat tidak menyerap dengan baik ke lapis pondasi agregat, yang berakibat daya lekatnya menjadi berkurang.
    5. Permukaan bebas dari kotoran seperti tanah lempung, debu, plastik , dan lain-lain.

23

24 of 151

Penghamparan di Atas Lapis Beraspal

Harus memenuhi hal-hal sebagai berikut:

  1. Kerusakan-pada permukaan harus sudah diperbaiki, metoda perbaikan adalah dengan pembongkaran dan penambalan,
  2. Kerataan permukaan dan kemiringan melintang jalan telah memenuhi persyaratan, yang diukur dengan mistar datar 3 meter (straight edge), jika diperlukan dapat dilakukan pekerjaan perataan (levelling),
  3. Dilakukan lapis per lapis dalam satu pekerjaan, maka persyaratan kualitas dan kuantitas lapis beraspal di bawahnya harus sudah terpenuhi, termasuk pengujian kepadatan, ketebalan dan elevasi. Setelah lapis pertama ini selesai, pemberian lapis perekat (tack coats) harus tetap dilaksanakan.

24

25 of 151

Pembersihan Lahan

  1. Permukaan harus dibersihkan dengan memakai sikat mekanis atau kompresor atau kombinasi keduanya.
  2. Pembersihan harus dilaksanakan melebihi 20 cm dari tepi bidang yang akan disemprot.
  3. Tonjolan yang disebabkan oleh benda-benda asing harus disingkirkan dengan memakai penggaru baja dan bagian yang telah digaru tersebut harus dicuci dengan air dan disapu.
  4. Pekerjaan penyemprotan aspal tidak boleh dimulai sebelum perkerasan telah disiapkan.

25

26 of 151

Typikal Skema Aspal Distributor

26

27 of 151

Tata cara penyemprotan dengan metode overlap

27

Hasil Pemberian Tack/Prime Coat yang Tidak Baik

a.

b.

28 of 151

Temperatur Pemanasan dan Penyemprotan Lapis Resap Pengikat dan Lapis Perekat

28

Tipe dan Grade Aspal

Temperatur Penyemprotan

 

F

C

SS-1

70-160

20-70

SS-1h

 

 

-1

70-160

20-70

-1h

 

 

MC-30

85+

30+

MC-70

120+

50+

MC-250

165+

75+

29 of 151

29

BEBAN KENDARAAN

Agregat base

Diperlukan lapis perekat yang baik, atau yang boundingnya kuat dan tidak terlalu banyak.

KERUSAKAN PERKERASAN AKIBAT BAHAN LAPIS RESAP PENGIKAT DAN LAPIS PEREKAT YANG KURANG BAIK

Diperlukan lapis resap pengikat yang dapat meresap setebal mungkin (2-3 Cm) dan mempunyai boundingnya kuat .

Diperlukan lapisan agregat yang kompak atau mempunyai tingkat kepadatan yang tinggi.

30 of 151

TACK COAT KURANG, KIRI�TACK COAT BAIK, KANAN

30

31 of 151

PENYEMPROTAN TACK COAT YG BAIK

31

32 of 151

PELAKSANAAN TACK COAT YG JELEK

32

33 of 151

TACK COAT YANG TERANGKAT BAN KARENA PERMUKAAN KOTOR

33

34 of 151

TAKARAN PENYEMPROTAN TACK COAT

  • Tack coat harus disemprot tipis, merata menutup 90 % permukaan, kekurangan tack coat menyebabkan kurang ikatan antar lapisan, kelebihan akan menyebabkan selip dan lapisan tergeser dan dapat menyebabkan bleeding.

  • Permukaan perkerasan yg kasar memerlukan tack coat yg banyak, permukaan yg dimilling memerlukan 20 –30 % lebih banyak dari lapisan biasa.

  • Asphalt distributor alat yang dipakai untuk menyemprot tack coat, harus dikalibrasi dgn baik

34

35 of 151

ASPHALT DISTRIBUTOR

35

36 of 151

Pemeriksaaan hasil Penyemprotan

  1. Untuk Lapis Perekat, harus melekat dengan cukup kuat di atas permukaan yang disemprot.

b. Pemeriksaan terhadap permukaan yang disemprot yang menunjukkan adanya bahan aspal yang berlebihan atau kurang takarannya.

36

37 of 151

Pemeliharaan

a. Sewaktu lapis aspal dalam keadaan tidak tertutup, terlebih dahulu harus melindunginya dari kerusakan dan mencegahnya agar tidak berkontak dengan lalu lintas.

b. Pemberian kembali Lapis Perekat (retackcoating) harus dilakukan bila Lapis Perekat telah mengering sehingga hilang atau berkurang kelengketannya.

c. Pengeringan lapis perekat yang basah akibat hujan turun dengan tibatiba dengan menggunakan udara bertekanan (compressor) dapat dilakukan

37

38 of 151

Persiapan alat penghamparan

  1. Sebelum mulai penghamparan ialah menentukan lebar dan tebal hamparan material.
  2. Penyetelan screed menurut tebal, kemiringan, dan lebar hamparan yang dikehendaki.
  3. Pintu pengatur keluarnya hotmix dari hopper (feeder gate) distel bukaannya, setelah terlihat material tersebar merata di ruang ulir pembagi (auger) dan tingginya sudah setengah tinggi auger.
  4. Mengatur ketebalan dan kemiringan permukaan hamparan dapat dilakukan secara manual atau otomatis. Pengatur ketebalan manual terdapat di bagian kanan dan kiri sepatu perata (screed).
  5. Pada saat hopper akan diisi, alat penghampar sudah mulai jalan dan dump truck sudah mundur sampai rol pendorong alat penghampar sudah menempel di ban roda belakang dump truck.

38

Diagram Pengoperasian Alat

Pada pekerjaan Pengaspalan

39 of 151

Penerimaan Campuran Beraspal

Harus berdasarkan :

  1. Pemeriksaan dan evaluasi berdasarkan tiket pengiriman,
  2. Pemeriksaan dan evaluasi campuran beraspal berdasarkan pengamatan secara visual.

39

40 of 151

Pemeriksaaan Secara Visual

    • Berasap biru, Warna asal campuran dapat diamati pada saat pengisian muatan campuran beraspal dari AMP.

2. Tampak kaku, Tampak visual campuran beraspal yang kaku mengindikasikan campuran tersebut telah dingin.

3. Permukaan tampak rata, Pada umumnya permukaan campuran beraspal di atas truk membentuk bukit. Jika permukaan tersebut terlihat agak rata, maka kemungkinan campuran beraspal kelebihan aspal atau kadar air.

4. Segregasi, Segregasi umumnya terjadi akibat kesalahan penanganan selama penghamparan, tetapi bisa juga terjadi

5. Terkontaminasi, Campuran beraspal dapat terkontaminasi bahan-bahan asing seperti minyak tanah, oli, plastik, kertas, kain atau lainnya.

6. Agregat tidak terselimuti aspal dengan baik, Campuran beraspal yang memperlihatkan adanya agregat yang tidak terselimuti aspal dengan baik, menunjukkan terjadinya penyimpangan pada unit produksi.

7. Ada agregat yang tidak terselimuti aspal sama sekali, Agregat yang tidak terselimuti aspal sama sekali kemungkinan jatuh ke atas truk

8. Spot-spot aspal terlihat gumpalan atau spot-spot aspal pada campuran beraspal yang kemungkinan disebabkan oleh bocornya pipa penyemprot aspal,

40

41 of 151

Persyaratan Pelaksanaan Penghamparan

  1. Temperatur harus diperiksa pertama kali di atas truk, kemudian di periksa kembali setelah penghamparan sebelum pemadatan.
  2. Pemadatan dilakukan setelah temperatur campuran mencapai temperatur pemadatan.
  3. Pemadatan akhir (finishing rolling) tidak boleh dilakukan bila temperatur campuran sudah berada diluar rentang temperatur pemadatan yang diizinkan.
  4. Tekstur permukaan harus seragam dan baik. Tekstur yang kurang baik dapat disebabkan oleh campuran beraspal terlalu dingin, jika terjadi pada awal penghamparan kemungkinan pelat screed tidak dipanaskan.
  5. Kerataan permukaan harus sesuai. Penghamparan yang tidak menerus dapat menyebabkan permukaan tidak rata pada sambungan.
  6. Gradasi yang tidak sesuai, perubahan kecepatan penghamparan, dan dorongan dari truk saat pengisian juga dapat menyebabkan permukaan tidak rata.
  7. Kemiringan melintang dan memanjang harus diperhatikan terlebih pada daerah tikungan.

41

42 of 151

Koordinasi antara AMP dengan Lapangan

8. Sambungan melintang dan memanjang harus dibuat tegak lurus. Metoda yang dilakukan dapat berupa pemotongan sambungan sebelum dimulainya penghamparan,

9. Kontinuitas penghamparan memberikan kualitas perkerasan yang baik.

10. Untuk menjaga kontinuitas penghamparan maka diperlukan koordinasi antara lapangan dengan unit pencampur aspal (AMP).

11. Selang waktu pengiriman yang terlalu lama akan menyebabkan sambungan dan tekstur kurang baik karena campuran beraspal yang dihampar sudah dingin.

42

43 of 151

Pengaturan ketebalan dan kemiringan melintang

  • Pengaturan screed dilakukan secara bertahap Jika kondisi keseimbangan (equilibrium) baru dapat tercapai kurang lebih setelah alat penghampar (finisher) bergerak sejauh 5 kali panjang lengan screed. Pengaturan screed diusahakan sejarang mungkin, karena selama proses menuju keseimbangan (equilibrium) tersebut hasil yang diperoleh kurang sesuai baik ketebalan maupun teksturnya karena sudut gesek antara pelat screed dengan campuran beraspal berubah
  • Jika hasil penghamparan sudah menunjukkan hasil tekstur yang seragam, maka Ketebalan dan kemiringan melintang yang Tidak diperlukan khususnya untuk alat penghampar dengan pengontrolan manual.

43

44 of 151

Pengaturan lebar penghamparan

Lebar penghamparan disesuaikan sehingga untuk penghamparan lapis per lapis, maka sambungan tidak terletak pada satu garis vertikal untuk tiap lapisnya.

Misalnya untuk penghamparan dua lajur. Pada lapis pertama penghamparan pada lajur ke-1 dilebihkan lebarnya sekitar 10 cm (lebar penghamparan 3,60 m) ke arah sambungan. Selanjutnya pada penghamparan lapis kedua maka penghamparan pada lajur ke-1 dikurangkan lebarnya sekitar 10 cm (lebar penghamparan 3,40 m) ke arah sambungan. Perbedaan posisi sambungan tersebut paling sedikit sejauh 15 cm.

44

45 of 151

Sambungan

  • Sambungan melintang
    • Bentuk sangat tergantung dari apakah perkerasan tersebut dilewati lalu-lintas atau tidak. 🡺 Jika perkerasan tidak dilewati lalu-lintas maka pada akhir penghamparan sambungan dapat dibuat tegak,
    • Jika akan dilewati lalu-lintas maka sambungan tersebut harus dibuat membentuk taper (miring) sebagai peralihan ketebalan.

  • Sambungan memanjang

Diperlukan jika penghamparan dilakukan dalam beberapa lajur.

Sambungan dipisahkan menjadi dua, yaitu:

1. Sambungan panas dapat dilakukan jika alat penghampar (finisher) menghampar berbarengan pada dua sisi.

2. Sambungan dingin, salah satu telah selesai dipadatkan (dingin) dan baru kemudian dilakukan penghamparan pada sisi sebelahnya.

45

46 of 151

Pemeriksaan Penghamparan

1. Temperatur, harus diperiksa pertama kali di atas truk. Berikutnya setelah campuran beraspal dihampar dengan selang jarak tertentu sampai campuran tersebut siap dipadatkan.

2. Tekstur Permukaan, Tekstur yang terbuka dapat disebabkan oleh campuran beraspal terlalu dingin, jika terjadi pada awal penghamparan kemungkinan pelat screed tidak dipanaskan pada saat awal penghamparan.

3. Kerataan permukaan, Penghamparan yang tidak kontinyu dapat menyebabkan permukaan tidak rata terutama pada sambungan melintang. Gradasi yang tidak sesuai, perubahan kecepatan penghamparan, dan dorongan dari truk pada saat pengisian campuran beraspal ke finisher, menyebabkan permukaan tidak rata.

46

47 of 151

Pemeriksaan Penghamparan

4. Ketebalan, Ketebalan hamparan campuran beraspal dalam kondisi gembur dapat diukur dengan batang penyolok yang telah diberi tanda ketebalan. Seperti halnya perubahan tekstur, maka perubahan ketebalan juga dapat disebabkan oleh terganggunya keseimbangan (equilibrium) pelat screed

5. Kemiringan melintang dan memanjang harus diperhatikan terlebih pada daerah tikungan atau superelevasi. Penyebaran campuran beraspal pada tepi dan tengah harus merata, sehingga saat pemadatan akan diperoleh penurunan yang seragam dan harus dibuat tegak dan tidak ada perbedaan tinggi. Secara lebih detil mengenai penyambungan telah dibahas sebelumnya.

47

48 of 151

Prinsip Pemadatan

3 gaya utama pemadatan:

  1. Gaya tekan alat pemadat,
  2. Gaya tahan pada campuran beraspal yang baru dihampar, dan
  3. Gaya tahan pada lapisan di bawahnya yang telah stabil (lapis fondasi agregat atau existing lapis beraspal).

  • Untuk memperoleh pemadatan yang baik, maka gaya tahan lapisan yang telah stabil harus seimbang dengan gaya tekan alat pemadat. Atau dengan kata lain campuran beraspal seolah-olah mendapat gaya tekan dari atas dan bawah.

  • Jika lapisan yang stabil (lapis fondasi agregat atau lapis beraspal di bawahnya) belum cukup padat maka kepadatan campuran beraspal kemungkinan tidak akan tercapai sesuai persyaratan.

48

49 of 151

Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan

Faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemadatan campuran beraspal:

  1. Karakteristik campuran
  2. Pengaruh lingkungan
  3. Ketebalan hamparan
  4. Alat pemadat yang digunakan

49

50 of 151

Alat Pemadatan

Peralatan pemadat ada dua jenis yaitu:

  1. Pemadat dengan roda besi (licin), dan
  2. Pemadat dengan roda ban karet.

Pemadat dengan roda besi (licin) atau selanjutnya disebut mesin gilas (road roller) dapat dibedakan dari jumlah dan susunan rodanya, beratnya (dari 0,6 sampai 18 ton), dan dari mekanisme pemadatannya, statis (static) dan bergetar (vibrating).

Mesin gilas menurut jumlah dan susunan rodanya:

  • Mesin gilas satu roda
  • Mesin gilas dua roda dengan dua roda pendukung
  • Mesin gilas satu roda dengan dua roda pendukung
  • Mesin gilas dua roda dengan dua sumbu (tandem roller)
  • Mesin gilas tiga roda dengan tiga sumbu (3- wheel tandem roller)
  • Mesin gilas tiga roda dua sumbu (3-wheel roller)

50

51 of 151

Alat Pemadatan

Menurut beratnya terdapat antara lain :

  1. Mesin gilas ringan satu roda, berat 0,6 ton, dipergunakan untuk pemadatan perbaikan dan konstruksi skala kecil
  2. Mesin gilas getar ringan dua roda, berat 0,5 - 2 ton, dipergunakan untuk pemeliharaan jalan, dan konstruksi jalan samping
  3. Mesin gilas statis atau getar medium, dua atau tiga roda (3-wheel dan tandem), berat 6- 10 ton, dipergunakan untuk pemadatan gravel dan agregat, serta pekerjaan pengaspalan jalan dan pemadatan campuran beraspal panas.
  4. Mesin gilas berat, 13 - 18 ton, dipergunakan untuk pemadatan tahap akhir pekerjaan sub-base, base, dan permukaan jalan

51

52 of 151

Pelaksanaan

Derajat kepadatan yang dicapai campuran beraspal sangat bergantung pada usaha pemadatan yang dilakukan.

Tahapan pemadatan campuran beraspal dilakukan dalam tiga operasi yang terpisah, yaitu :

  • Pemadatan awal (breakdown rolling)
  • Pemadatan antara (intermediate rolling)
  • Pemadatan akhir (finish rolling)

52

53 of 151

Pemadatan awal (breakdown rolling)

53

  • Pemadatan yang dilakukan setelah penghamparan pada selang temperatur yang disyaratkan dengan rentang waktu 0-10 menit setelah penghamparan.
  • Berfungsi memberi pemadatan awal agar campuran beraspal menjadi relatif stabil (diam) untuk dilewati pemadat berikutnya.
  • Pemadatan awal dapat dilakukan dengan mesin gilas roda baja statis atau bergetar dengan berat 6-8 ton.
  • Jumlah lintasan pada pemadatan ini biasanya berkisar antara 2 – 3 passing (1 passing = 2 lintasan; pergi dan pulang), dengan kecepatan 3-4 km/jam.

54 of 151

Pemadatan Antara (Intermediate Rolling)

54

  • Pemadatan utama (main rolling) yang berfungsi untuk mencapai kepadatan yang diinginkan, dengan jumlah lintasan dan selang temperatur campuran beraspal tertentu.
  • Dilaksanakan segera setelah pemadatan awal selesai dengan rentang waktu 5-15 menit. Pemadatan antara dilakukan dengan menggunakan mesin gilas roda ban karet (pneumatic tyre roller).
  • Jumlah lintasan pada pemadatan ini ditentukan berdasarkan hasil dari percobaan pemadatan dengan menggunakan alat pemadat yang akan digunakan selama pekerjaan pengaspalan, biasanya berkisar antara 13 - 16 passing.

55 of 151

Pemadatan Akhir (finish rolling)

55

  • Pemadatan terakhir/penyelesaian berfungsi meningkatkan penampakkan permukaan akibat roda pemadat roda karet.
  • Dilakukan setelah pemadatan antara selesai dan harus dihentikan bila bekas jejak roda pemadat roda karet sudah hilang atau bila temperatur campuran beraspal yang dipadatkan sudah mencapai batas minimum temperatur pemadatan yang diizinkan dengan rentang waktu tidak lebih dari 45 menit setelah penghamparan.
  • Pemadatan ini umumnya dilakukan dengan pemadat mesin gilas roda baja tandem statis, berat 5-10 ton.

56 of 151

Faktor yang Perlu Diperhatikan Selama Pelaksanaan Pemadatan

56

  1. Kecepatan penghamparan,
    • Kecepatan penghamparan yang tinggi harus diimbangi dengan kecepatan pemadatan yang tinggi.
    • Semakin cepat gerakan alat pemadat melewati suatu segmen campuran beraspal, maka semakin sedikit waktu pemadatan dan usaha pemadatan yang dilakukan pada segmen tersebut.
  2. Ketebalan,
  3. Hamparan, dan
  4. Tahapan Pemadatan.

57 of 151

Jumlah Lintasan

57

  • Pemadatan awal dilakukan sebanyak 2 - 3 passing,
  • Pemadatan antara dilakukan 13 – 16 passing, dan
  • Pemadatan akhir 1 - 2 passing.
  • Jumlah passing sangat tergantung pada karakteristik campuran, ketebalan, dan kondisi lingkungan.
  • Untuk memperoleh jumlah passing yang sesuai maka harus dilakukan uji coba pemadatan terlebih dahulu.
  • Satu lintasan (1 passing) didefinisikan sebagai pergerakan pemadat dari titik tertentu ke suatu arah dan kemudian kembali ke titik tersebut. Jadi 1 passing sama dengan 2 lintasan

58 of 151

Cara pemadatan

58

Hal yang perlu diperhatikan:

  1. Pada jalan lurus, pemadatan dimulai dari tepi perkerasan sejajar as jalan menuju ke tengah.
  2. Pada tikungan, pemadatan dimulai dati bagian yang rendah sejajar as jalan menuju ke bagian yang tinggi.
  3. Pada bagian tanjakan dan turunan, harus dimulai dari bagian yang rendah sejajar as jalan menuju ke bagian yang tinggi.
  4. Mencegah pelekatan campuran pada mesin gilas, maka roda mesin gilas perlu terus dibasahi dengan air.
  5. Roda penggerak mesin gilas pada setiap lintasan pertama harus ditempatkan dimuka menuju arah penghampar (karena roda penggerak mesin gilas selalu roda belakang, maka gerakan mesin gilas adalah mundur ke arah penghampar).
  6. Tahapan pemadatan, telah ditetapkan rentang temperatur yang diijinkan. Rentang temperatur tersebut dipengaruhi oleh viskositas aspal.
  7. Lalu lintas bisa dibuka dengan kecepatan rendah, setelah selesai pemadatan akhir dan temperatur sudah di bawah titik lembek aspal yang digunakan (setelah 2 jam). Lalu lintas dibuka penuh, 4 jam setelah pemadatan akhir.

59 of 151

Ilustrasi Hubungan antara Penurunan Temperatur, Kepadatan Lapis Beraspal dan Waktu

59

60 of 151

Rentang Waktu Pemadatan �(The Asphalt Institute, 1983)

60

61 of 151

61

Rentang Temperatur Pemadatan dan Viskositas Aspal

62 of 151

Pola (pattern) Pemadatan

62

1. Pemadatan campuran beraspal yang kurang atau sama dengan 5 cm tebal padat, pola pemadatan seperti berikut ini.

  • Dimulai dari sambungan melintang
  • Sambungan memanjang
  • Selanjutnya tepi luar
  • Pemadatan dimulai dari sisi yang rendah bergerak ke sisi yang lebih tinggi

 

2. Pemadatan campuran beraspal dengan tebal padat lebih dari 5 cm tebal padat, pola pemadatan seperti di bawah ini.

  • Dimulai dari sambungan melintang
  • Selanjutnya sambungan memanjang
  • Pada tepi yang tidak mempunyai penahan, pemadatan dimulai dari jarak 300mm-380 mm dari tepi tanpa penahan, kemudian bergerak ketepi yang lain.
  • Pemadatan dimulai dari sisi yang rendah bergerak kesisi yang lebih tinggi.

63 of 151

Pola (Pattern) Pemadatan

63

64 of 151

Pelaksanaan Pemadatan Sambungan Memanjang

64

65 of 151

Catatan:

  • Jika penghamparan dilakukan dalam dua lajur secara bersamaan, maka sambungan pada arah melintang biasa disebut sambungan panas (hot joint).
  • Pada pemadatan dijalan dengan kelandaian tinggi, maka penggunaan alat pemadat harus diperhatikan, karena ada kecenderungan campuran beraspal akan terdorong ke arah turunan jalan.
  • Penggunakan alat pemadat roda karet pneumatik tidak disarankan untuk digunakan sebagai alat untuk pemadatan awal.
  • Jika menggunakan mesin gilas penggetar, getarannya dimatikan sehingga menjadi statis dan baru dihidupkan penggetarnya setelah campuran beraspal cukup stabil.

65

66 of 151

KESALAHAN UMUM PADA PAVER

  • HOT MIX PADA HOOPER DIHABISKAN
  • HOT MIX DITEBAR DIDEPAN PAVER
  • HOT MIX DI TEBAR DIBELAKANG PAVER KEMUDIAN DI-RAKING

66

67 of 151

67

68 of 151

68

benar

salah

69 of 151

69

70 of 151

  • OPERATOR FINISHER

70

  • Harus mengatur kecepatan finisher sehingga harus selalu dalam keadaan bergerak menyebar material.
  • Tidak boleh sering berhenti
  • Track Finisher tidak boleh menginjak kotoran- kotoran, batu-batu ataupun tumpahan-tumpahan aspal
  • Daerah yang akan diinjak track finisher harus

bersih

  • Tidak boleh menyetel ketebalan terlalu sering
  • Kalau tidak perlu benar tidak boleh merubah-

rubah tebal

71 of 151

71

72 of 151

72

  • Sebelum mengoperasikan finisher maka screed harus bersih dan licin tidak boleh ada bekas-bekas aspal yang melekat
  • Tidak boleh menabur-nabur material dan melakukan rigging bila tidak perlu
  • Material sisa rigging tidak boleh dikembalikan ke finisher
  • Truck tidak boleh membentur Finisher, tetapi yang membentur dan mendorong truck
  • Sebelum Finisher beroperasi Truck dengan muatannya harus terkumpul dulu beberapa buah, baru operasi penghamparan dimulai.
  • Sebelum muatan di Hopper habis, truck berikutnya harus sudah menempel ke Finisher dan siap untuk menumpahkan muatannya.

73 of 151

  • Yang Perlu Diperhatikan Dalam Pemadatan

73

  • Pemadatan dengan Roller apapun harus dari bagian yang terendah dulu kemudian menggeser ke bagian yang lebih tinggi.

  • Roller harus berjalan mundur (Roda penggerak di depan)

  • Pemadatan bagian tepi harus dipadatkan paling akhir dari suatu pemadatan dengan Roller tertentu dengan lebar 20 cm

  • Roda-roda Roller (baik besi maupun karet) harus dibasahi dengan air agar butir-butir pasir pada lapisan yang dipadatkan tidak melekat pada roda. Tetapi air tidak boleh terlalu banyak yang dapat menyebabkan temperatur aspal menjadi cepat dingin.

74 of 151

74

  • Selama roda masih dilekati oleh pasir, maka ini tanda bahwa aspal masih terlalu panas dan pemadatan tidak boleh diteruskan. Apabila terus terjadi demikian pada temperature pemadatan, hal diatas dapat dihindari dengan mencampurkan sedikit deterjen pada tangki air.

  • Dalam hal digunakan dua buah Roller sejenis secara bersamaan, maka kedua Roller tersebut tidak boleh bergerak berdampingan. Satu harus kedepan yang lain dengan bekas jejak roda berhimpit selebar + 20 Cm

  • Roda Roller selalu harus bersih tidak boleh ada aspal

atau kotoran yang melekat

75 of 151

  • Larangan-Larangan Pada Waktu Pemadatan

75

  • Tidak boleh menghentikan Roller diatas material yang

sedang dipadatkan kecuali untuk tujuan membalik arah.

  • Tidak boleh menggunakan rem pada waktu pemadatan.
  • Tidak boleh membalik arah dengan mendadak harus

berhenti dulu baru membalik arah.

  • Tidak boleh merubah-rubah kecepatan pada waktu pemadatan kecuali pada waktu akan bergerak atau berhenti.

  • Tidak boleh merubah arah gerakan diatas aspal yang sedang dipadatkan, merubah arah harus didaerah yang sudah ditinggalkan dan tidak boleh secara mendadak (sudut belokan patah).

76 of 151

KESALAHAN UMUM PADA PELAKSANAAN PEKERJAAN JALAN

76

77 of 151

77

MASALAH YANG PERNAH TERJADI PADA PELAKSANAAN DI LAPANGAN

Batu kali yang dipecah dengan mesin pemecah batu masih mengandung lempung dan lumpur.

Pasir masih mengandung butiran 1 - 1½ inci dan mengandung lempung/ lumpur dengan nilai PI 7% - 11%

78 of 151

BATU GUNUNG YANG BERLAPIS (LEMPENGAN/PIPIH)

78

79 of 151

79

80 of 151

80

81 of 151

81

82 of 151

82

83 of 151

83

84 of 151

84

85 of 151

85

86 of 151

86

Lapis Pondasi Agregat :

  • Menurut pengalaman kegagalan pekerjaan pondasi Agregat sangat sering terjadi, padahal pondasi agregat ini merupakan dasar dari perkerasan aspal (Asphalt Pavement). Akan percuma saja mempunyai perkerasan aspal yang baik kalau pondasi di bawahnya tidak stabil. Perkerasan aspal tidak akan bertahan lama, dalam waktu yang singkat permukaan aspal yang kita anggap baik tadi segera akan hancur kembali. Kegagalan ini mungkin dapat bersumber dari pemakaian material yang tidak benar atau prosedur penghamparan dan pemadatan yang salah ataupun karena drainase yang tidak baik

87 of 151

87

  • Seringkali kontraktor menganggap kalau pondasi agregat sudah menggunakan batu pecah, hasilnya sudah pasti baik. Tentu saja anggapan ini salah besar. Pemakaian batu pecah sebagai material lapis pondasi hanyalah salah satu faktor dari banyak faktor yang harus

dipenuhi agar pekerjaan lapis pondasi agregat dapat berhasil. Misalnya material harus keras (ingat batasan abrasi max-40%), bersih, punya gradasi yang baik dan lain sebagainya.

  • Cara penghamparan yang salah dapat juga menyebabkan segregasi yang berlebihan sehingga lapis pondasi agregat tidak mungkin lagi dipadatkan.
  • Cara pemberian air dalam waktu pembentukan dan pemadatan yang sembarangan, sehingga dapat menyebabkan semua butir halus tercuci dari permukaan lapisan agregat.

88 of 151

88

89 of 151

89

Pemahaman salah terhadap Spesifikasi.

Agregat-A dicampur tanah

90 of 151

90

91 of 151

91

  • Asap Biru : Asap biru yang keluar dari campuran aspal dalam truck atau penampung Paver mungkin menandakan campuran terlalu panas (overheated). Temperatur harus segera diperiksa .
  • Penampilan Kaku (Stiff Appearence) : umumnya penampilan kaku, atau butir agregat kasar tidak sempurna, terselaput aspal, menunjukan suatu campuran yang dingin, dan temperaturnya harus segera diperiksa. Jika ternyata temperaturnya di bawah temperatur minimum, campuran harus disingkirkan dari

tempat pekerjaan.

92 of 151

92

  • Campuran turun (Slump) dalam Truk ; bila setibanya truk pembawa campuran material ke lapangan, ternyata campuran aspal dalam truk terlihat turun (Slump) dan permukaannya mendatar (Flat) atau hampir mendatar di dalam truk, ini kemungkinan campuran terlalu banyak aspal. Segera lakukan pemeriksaan. Kelebihan aspal juga dapat dideteksi di bawah Screed (sepatu) pada paver, dimana campuran tampak seperti tergelincir.

  • Suatu campuran yang mengandung banyak agregat kasar mungkin dapat menyesatkan dan dianggap suatu campuran yang kelebihan aspal, karena penampilannya berkilat (Shiny). Campuran jenis ini tidak akan turun (Slump) di dalam truk dan sulit untuk dikerjakan (Poor Workability).

93 of 151

93

Penampilan Buram ;

  • campuran yang berisi terlalu sedikit aspal biasanya dapat segera dideteksi di dalam truk atau di dalam penampungan (Hopper) finisher,
  • karena penampilannya yang buram, berbutir, aspal tidak membungkus sempurna dan tampak tidak cemerlang.
  • Tidak cukup aspal dalam campuran dapat dideteksi dipermukaan jalan dengan penampilan yang buram, berwarna kecoklatan dan tidak dapat dipadatkan secara sempurna.
  • Kelebihan agregat halus dalam campuran dapat juga menyebabkan penampilan yang buram dan coklat seperti campuran yang kekurangan aspal.
  • Hal ini juga dapat dideteksi dengan mengamati texturenya, yang nampak halus dibandingkan seharusnya.

94 of 151

94

  • Keluar Uap ; kelebihan kelembaban dapat dideteksi dengan keluarnya uap dari campuran saat ditumpahkan kedalam finisher. Hot Mix mungkin berbuih dan bergelembung karena mendidih. Campuran juga tampak seperti mengandung terlalu banyak aspal.

95 of 151

  • Pot hole

95

  • terbongkarnya material dari satu lapisan permukaan atau beberapa lapis yang mengakibatkan lubang pada permukaan jalan. Pothole dapat terjadi tanpa didahului retak atau melalui phase retak terlebih dahulu.
    • Pothole tanpa didahului retak, terjadi akibat Weak Spot pada lapisan surface yang dapat terjadi karena : material campuran yang tidak homogen, tidak terbungkusnya agregat dengan aspal secara sempurna, temperature rendah setempat, terkontaminasinya sebagian campuran dengan bahan bakar atau minyak serta olie, atau akibat Tack Coating yang tidak merata dan cukup, lapisan lama yang terdapat pasir atau pecahan batu halus atau basah, atau lapisan di bawahnya sebelum dioverlay telah berlobang tanpa ditangani dengan baik.

96 of 151

96

  • Pot hole yang terjadi melalui retak, terjadi akibat defleksi dibawah lapisan yang terlalu besar baik secara spot maupun merata yang dicirikan dengan adanya retakan pada lapisan lama, yang tidak dapat ditahan oleh lapisan diatasnya yang berakibat retaknya lapisan tersebut yang bila Tack-Coat tidak cukup kuat akan terbongkar / terlepas.

97 of 151

97

98 of 151

98

99 of 151

99

  • Rutting :

depresi pada lapisan permukaan atau bersama-sama lapis lain dibawahnya akibat beban roda kendaraan, temperature udara tinggi, berkombinasi dengan karakter material pembentuk lapisan. Dalam keadaan parah beban roda dapat pula mengakibatkan pergeseran material base, sub-base dan sub-grade sehingga terjadi depresi dalam.

Hal ini dapat terjadi karena stabilitas campuran yang rendah; akibat penggunaan agregat tidak pecah, kurangnya pemadatan, pemadatan pada suhu yang sudah terlalu rendah, kadar pori dalam campuran terlalu besar, kelebihan aspal dll.

100 of 151

100

  • Pushing:

Material halus pada campuran aspal panas mengalir dan bertumpang tindih dengan dirinya arah melintang (biasanya pada tepi luar jalur luar). Hal ini disebabkan oleh aspal terlalu lunak yang mengakibatkan Plastic Flow akibat beban lalu lintas dan panas (udara) gradasi yang terlalu fines, tumpahan bahan bakar / olie sehingga campuran menjadi lunak

  • Shoving:

Pergeseran butiran arah memanjang akibat gaya rem atau gaya percepatan sehingga menimbulkan gelombang melintang. Hal tersebut terjadi akibat material kurang stabil pada lapisan surface atau/ dan lapis-lapis dibawah

101 of 151

101

102 of 151

102

⦿Deformasi:

Terjadi bila daya dukung perkerasan setempat – setempat atau keseluruhan, memperoleh tekanan yang melampaui kemampuan akibat daya dukung Sub – Grade bervariasi akibat jenis material, pemadatan atau kadar air yang tidak homogen atau terjadinya konsolidasi pada badan jalan.

103 of 151

  • Fretting:

103

  • Lepasnya butiran–butiran halus diantara batuan dari permukaan jalan secara progresif. Hal ini terjadi bila ada sedikit pergerakan dari agregat individu akibat tekanan lalu lintas yang cukup menimbulkan tegangan dan regangan yang melampaui daya lentur dari aspal. Fretting hampir selalu terjadi pada cuaca dingin.

  • Lepasnya butiran-butiran halus dari campuran, karena:

1. Kehilangan daya lekat akibat "ageing" pada perkerasan tua,

2. Pada lapisan baru dikarenakan oleh pemadatan yang kurang,

104 of 151

  • Fretting:

104

3. Pelaksanaan sambungan memanjang yang salah akibat :

  • Sambungan yang tidak tegak lurus,
  • tidak di Tack Coat,
  • pemadatan Roller yang bertumpu pada lapisan yang telah padat, atau
  • tebal lapisan yang kurang dari 2x tebal maksimum,
  • Stripping akibat meresapnya air pada batuan yang tidak terselimut aspal dengan sempurna atau
  • lepasnya agregat akibat tingginya tekanan air pori pada waktu ada beban roda dan tekanan berbalik menekan butir batuan sewaktu beban pergi.

105 of 151

105

106 of 151

106

  • Ravelling:

Walaupun akibatnya akhirnya sama yaitu terlepasnya butir-butir agregat dari permukaan jalan, namun Ravelling berbeda dari Fretting.

Ravelling adalah terlepasnya butir batuan yang tidak tertancap dengan baik pada lapisan, dan kejadian ini tidak didahului dengan terlepasnya butiran-butiran halus karena kehilangan daya kohesi.

Raveling dapat terjadi karena kurangnya pemadatan dan penggunaan aspal yang berpenetrasi terlalu rendah.

107 of 151

107

L

108 of 151

108

  • Cracking:

Perkerasan akan retak (crack) bila stress yang berulang-ulang dari lalu lintas dan/ atau perubahan suhu menimbul regangan yang melampaui daya lentur perkerasan. Kondisi kritis terjadi apabila kekakuan dari bitumen terlalu tinggi.

  • Slip Crack:

Retakan berbentuk melingkar akibat beban roda kendaraan dengan gaya Traksi besar pada lapisan yang tidak melekat dengan baik pada lapisan dibawahnya. Hal ini bisa terjadi bilamana aplikasi tack coat yang kurang atau tidak merata (sebagian ada sebagian tidak ada)

109 of 151

109

110 of 151

110

111 of 151

111

112 of 151

112

113 of 151

113

  • Bleeding/ Fatting-up:

Bleeding terjadi karena konsolidasi dari agregat dalam campuran dan mengurangi kadar pori udara. Lalu-lintas mengurangi kadar pori udara (void content) dalam campuran, hal ini mendorong aspal mengalir ke permukaan. Hal ini akan menjadi bertambah parah jika kadar aspal terlalu tinggi dan kadar pori terlalu rendah. Migrasi aspal ke permukaan menjadikan permukaan licin dan mengkilat. Kondisi ini menimbulkan bahaya tergelincir tertama sekali pada waktu permukaan jalan basah. Bleeding umumnya terjadi pada pelayanan jalan di temperature tinggi. Karena itu membatasi titik lembek (softening ponint) pada 60oC akan mengurangi bleeding.

114 of 151

Penghamparan pada kondisi jalan basah

114

115 of 151

PENGISIAN CAMPURAN BERLEBIH

115

116 of 151

PENGHAMPARAN MALAM HARI TANPA PENERANGAN YANG CUKUP

116

117 of 151

Segregasi & tercampur material dari luar

117

118 of 151

Campuran yang kurang padat

118

119 of 151

Tebal lapisan tidak sesuai dengan ukuran agregat maksimum

119

120 of 151

120

Permukaan AC binder setelah berumur satu bulan terjadi lubang-lubang di permukaan

Campuran beraspal AC binder yang setelah selesai dihampar dan dipadatkan

MASALAH YANG PERNAH TERJADI PADA PELAKSANAAN DI LAPANGAN

121 of 151

121

Retak- retak pada permukaan lama tanpa diperbaiki langsung dilapis dengan lapisan baru

Retak refleksi timbul diatas lapisan yang baru setelah berumur tiga bulan

MASALAH YANG PERNAH TERJADI PADA PELAKSANAAN DI LAPANGAN

122 of 151

122

Pengujian Pengendalian Mutu Produksi Campuran Beraspal

      • Analisa ayakan (cara basah), paling sedikit dua contoh agregat dari setiap penampung panas setiap produksi 250 m3 ( min 2 pengujian per hari).
      • Temperatur campuran saat pengambilan contoh di instalasi pencampur aspal (AMP) maupun di lokasi penghamparan (satu per jam).
      • Kepadatan Marshall Harian, stabilitas, Marshall quotient dengan detil dari semua benda uji yang diperiksa setiap produksi 200 ton (min. 2 pengujian per hari)

123 of 151

123

      • Kadar aspal dan gradasi agregat yang ditentukan dari hasil ekstraksi kadar aspal setiap produksi 200 ton (min. 2 pengujian per hari). Bilamana cara ekstraksi sentrifugal digunakan maka koreksi abu harus dilaksanakan seperti yang disyaratkan SNI 03-3640-1994.
      • Rongga dalam campuran pada kepadatan membal (refusal), yang dihitung berdasarkan Berat Jenis Maksimum campuran perkerasan aspal (AASHTO T209-90).
      • Kepadatan hasil pemadatan di lapangan dan persentase kepadatan lapangan relatif terhadap Kepadatan Campuran Kerja (Job Mix Density) untuk setiap benda uji inti (core).

MASALAH YANG PERNAH TERJADI PADA PELAKSANAAN DI LAPANGAN

124 of 151

124

CONTOH PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI

(REINSTATEMENT)

YANG DILAKSANAKAN KURANG BAIK

(1)

Pothole Patching (Penambalan Lobang)

125 of 151

KESALAHAN UMUM PADA PERSIAPAN & PELAKSANAAN �PENGHAMPARAN CAMPURAN BERASPAL PANAS

125

126 of 151

126

127 of 151

127

128 of 151

Prime coat tidak sempurna

128

129 of 151

Lubang tambalan tidak dibentuk persegi

129

130 of 151

Pemberian tack coat tidak merata

130

Tidak terkena tack coat

Tack coat berlebih

131 of 151

131

Permukaan jalan yang rusak dibongkar dengan jack hammer setelah batas-batasnya dipotong dengan pavement cutter.

132 of 151

132

Kalau dasar galian lapis pertama masih menunjukkan retak-retak atau tidak kokoh, perlu digali lebih dalam.

133 of 151

133

Penyemprotan Tack Coat perlu dilakukan merata ke seluruh bidang, termasuk bidang tegak. Tack Coat yang baik adalah dari Aspal Emulsi.

134 of 151

134

  • Hindari Tack Coat yang berlebihan / tergenangan, karena akan berpotensi menimbulkan bleeding.
  • Bagian perkerasan yang tidak kokoh harus dibongkar kembali.

135 of 151

135

CONTOH PEKERJAAN PENGEMBALIAN KONDISI

(REINSTATEMENT)

YANG DILAKSANAKAN KURANG BAIK

(2)

Scrapping and Filling

136 of 151

Scrapping & Filling

Scrapping dengan Cold Milling Machine :

        • Sampai kedalaman yang dasarnya kokoh.
        • Sisi-sisi samping dan ujung harus tegak.

Filling :

        • Tack Coating yang baik menggunakan Aspal Emulsi.
        • Tack Coat diusahakan merata dengan jumlah / ketebalan yang benar, meliputi bidang dasar dan bid tegak galian.
        • Filling material baru dihampar setelah Aspal Emulsi break (ditandai dengan perubahan warna dari coklat ke hitam), dan air di permukaan menguap.

136

137 of 151

Yang harus dan tidak boleh dilakukan dalam pekerjaan scrapping and filling :�

137

  • Pada penggalian untuk pothole patching, harus diperiksa apakah bidang dasar dan bidang-bidang tegak galian masih utuh. Apabila tidak, atau terdapat retak-retak, maka harus digali lagi sampai bagian yang utuh.

  • Ujung-ujung galian yang dilakukan menggunakan cold-milling machine harus dibuat tegak dengan menggunakan jack hammer atau alat manual, jangan dibiarkan berbentuk lengkung ¼ lingkaran karena akan menjadi tempat yang lemah setelah pemadatan.

  • Pergunakan aspal emulsi sebagai material tack coat. Jangan menggunakan MC.

  • Tack Coat harus disemprotkan secara merata dengan jumlah / ketebalan sesuai ketentuan Spesifikasi.

  • Tack coating pada dasar galian yang permukaannya tidak rata tidak boleh menimbulkan genangan pada bagian-bagian yang rendahnya, karena akan mengakibatkan kelebihan tack coat, dan nantinya akan naik ke atas akibat beban lalu lintas sehingga menimbulkan bleeding di permukaan jalan.

138 of 151

138

Mengapa terjadi kerusakan seperti ini ???

Terjadi kerusakan pada daerah tambalan

139 of 151

139

Terjadi kerusakan pada bagian ujung daerah filling terlebih dahulu.

Kerusakan berupa retakan dan penurunan

140 of 151

140

Material filling, yang diangkut dengan truk, sudah dingin.

141 of 151

141

Pemadatan dengan alat yang tidak memadai.

142 of 151

142

Hasil penambalan tidak sempurna, air masih bisa masuk ke dalam material tambalan.

143 of 151

143

Bidang sisi ujung galian tidak tegak, penyemprotan secara manual sulit rata, dan material Tack Coat tergenang pada dasar alur-alur galian.

144 of 151

144

Terjadinya genangan material tack coat pada alur-alur galian dapat menjadi penyebab bleeding.

145 of 151

145

Terjadinya genangan material tack coat pada alur-alur galian dapat menjadi penyebab bleeding.

146 of 151

146

Racking dan penaburan dapat mengakibatkan segregasi pada permukaan.

147 of 151

147

Pada pemadatan awal, ¼ lebar roda pemadat sebaiknya berada di atas hamparan yang belum dipadatkan, guna memudahkan diperolehnya kerataan sambungan memanjang.

148 of 151

148

Tidak boleh dilakukan pembasahan roda alat pemadat dengan minyak (goreng) !!!

149 of 151

149

Pembasahan roda tyre roller tidak boleh berlebihan; cukup dengan lap basah, tidak boleh dengan minyak/solar; kalau perlu, boleh dengan air ditambah sedikit detergen. Roda tyre roller perlu dipasang keset agar campuran aspal tidak menempel.

150 of 151

CAMPURAN ASPAL PANAS

  • ISTILAH LAMA – BARU
    • HRSS – SS
    • HRS – HRS-WC
    • ATB – HRS-Base
    • AC – AC-WC; AC-BC; AC-Base
  • TIPE – REPETISI BEBAN LALIN
    • SAND SHEET (SS) – ESA/tahun < 0,5 juta
    • HOT ROLLED SHEET (HRS) – ESA/tahun < 1 juta
    • ASPHALTIC CONCRETE : AC-WC; AC-BC & AC-Base
  • ASPHALTIC CONCRETE (SUPERPAVE)
    • TANPA MODIFIER
    • DENGAN MODIFIER : Polimer; Aspal Alam & Multigrade

150

151 of 151

151

TERIMA KASIH

Atas perhatiannya

HPJI