Dirasatul Firaq
Kajian Mengenai Perpecahan dan Firqoh-firqoh dalam Islam
الاختلاف والافتراق
Ikhtilaf : Perbedaan pendapat terhadap suatu permasalahan, baik dalam ushul (pokok) maupun furu’ (cabang), Iftiraq : Perpecahan/penyimpangan
Definisi Ikhtilaf
Definisi Iftiraq
Tingkatan Ikhtilaf/Iftiraq
Kaidah Memahami Ikhtilaf & Iftiraq
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. dan untuk Itulah Allah menciptakan mereka. kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: Sesungguhnya aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya. (QS Hud 118-119)
Al-Hadits
Dan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda ; Kaum Yahudi terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, kaum Nashara terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan" [Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad dan lainnya]
Dalam suatu riwayat :
"Mereka semua di neraka kecuali satu millah, para shahabat bertanya: "siapakah dia ya Rasulullah ?" beliau menjawab : "(yaitu) orang-orang yang berada diatas jalanku dan shahabatku“
Dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda. "Artinya : Sungguh kalian pasti akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kamu, jengkal demi jengkal, hasta demi hasta sehingga seandainya mereka masuk kedalam lubang biawak, kalian pasti akan memasukinya (juga). Para shahabat bertanya : "Wahai Rasulullah, Yahudi dan Nashara-kah?". Beliau menjawab : "Siapa lagi ?“ [Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim]
Ibnu Katsir
Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah berkata :
"Allah telah melarang umat ini menyerupai umat-umat yang telah lewat dalam iftiraq (perpecahan) dan ikhtilaf (perselisihan) mereka dan dalam meninggalkan amar ma'ruf serta nahi mungkar, setelah hujjah tegak atas mereka" [Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim I/390]
Kaidah 2
Ikhtilaf merupakan lafazh yang masih umum, mencakup beberapa macam (makna), satu diantaranya adalah iftiraq.
Bid'ah yang sesat
Seorang muslim tidak boleh dicela sebagai yang termasuk firqah binasa (sesat) kecuali jika perbuatan bid'ah-nya pada masalah-masalah berikut :
Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyah) pernah ditanya tentang batasan bid'ah yang mengakibatkan orangnya dianggap ahlul ahwa' (pengekor hawa nafsu), beliau menjawab : "Bid'ah yang mengakibatkan orangnya dianggap ahlul ahwa' (pengekor hawa nafsu) adalah bid'ah penyimpangannya dari Al-Qur'an dan Sunnah masyhur dikalangan ahli sunnah, seperti bid'ah-nya Khawarij, Rafidhah, Qadariyah, Murji'ah ...." [Majmu Fatawa XXXV/414]
Kaidah 3
Sebab2 Ikhtilaf
Mengapa terjadi ikhtilaf dikalangan ulama dan ummat?
Perbedaan dalam memahami al-Qur'an.
1. lafaz umum dan memang maksudnya untuk umum, atau �2. lafaz umum tetapi maksudnya untuk khusus; dan �3. lafaz khusus dan memang maksudnya khusus; atau �4. lafaz khusus tetapi maksudnya umum.
Berbeda dalam memahami dan memandang kedudukan suatu hadits
Perbedaan dalam Metode Ijtihad
Imam Abu Hanifah
Berpegang pada dalalatul Qur'an �a.1. Menolak mafhum mukhalafah �a.2. Lafz umum itu statusnya Qat'i selama belum ditakshiskan �a.3. Qiraat Syazzah (bacaan Qur'an yang tidak mutawatir) dapat dijadikan dalil
Berpegang pada hadis Nabi �b.1. Hanya menerima hadis mutawatir dan masyhur (menolak hadis ahad kecuali diriwayatkan oleh ahli fiqh)) �b.2. Tidak hanya berpegang pada sanad hadis, tetapi juga melihat matan-nya
Berpegang pada qaulus shahabi (ucapan atau fatwa sahabat)
Berpegang pada Qiyas (mendahulukan Qiyas dari hadis ahad)
Berpegang pada istihsan
Nash (Kitabullah dan Sunnah yang mutawatir) �a.1. zhahir Nash �a.2. menerima mafhum mukhalafah
Berpegang pada amal perbuatan penduduk Madinah
Berpegang pada Hadis ahad (amal penduduk Madinah)
Qaulus shahabi
Qiyas
Istihsan
Mashalih al-Mursalah
Imam Malik bin Anas
Perbedaan dalam Metode Ijtihad
Imam Syafi’i
Qur'an dan Sunnah (artinya, beliau menaruh kedudukan Qur'an dan Sunnah secara sejajar, karena baginya Sunnah itu merupakan wahyu ghairu matluw). �Konsekuensinya, menurut Syafi'i, hukum dalam teks hadis boleh jadi menasakh hukum dalam teks Al-Qur'an dalam kasus tertentu)
Ijma'
hadis ahad (jadi, Imam Syafi'i lebih mendahulukan ijma' daripada hadis ahad)
Qiyas (berbeda dg Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i mendahulukan hadis ahad daripada Qiyas)
Beliau tidak menggunakan fatwa sahabat, istihsan dan amal penduduk Madinah sebagai dasar ijtihadnya
Qur’an dan Sunnah
Menolak ijma' yang berlawanan dengan hadis Ahad (kebalikan dari Imam Syafi'i)
Menolak Qiyas yang berlawanan dengan hadis ahad (kebalikan dari Imam Abu Hanifah) �Berpegang pada Qaulus shahabi (fatwa sahabat)
Ijma'
Qiyas
Imam Ahmad bin Hambal
Komparasi rasio-nash
Rasio
1. Imam Abu Hanifah �2. Imam Syafi'i �3. Imam Malik �4. Imam Ahmad bin Hanbal
1. Imam Ahmad bin Hanbal �2. Imam Malik bin Anas �3. Imam Syafi'i �4. Imam Abu Hanifah
Nash
Referensi