PEMBELAJARAN DAN ASESMEN�(7 JP)
TUJUAN PEMBELAJARAN
Alur Pembelajaran
Mulai Dari Diri
Eksplorasi Konsep
Ruang Kolaborasi
Refleksi Terbimbing
Demonstrasi Kontekstual
Penutup
Ice Breaking
Siapkan 1 kertas dan pena untuk menulis.
Ikuti instruksi Fasilitator.
Gambarlah apapun yang diinstruksikan oleh Fasilitator pada kertas yang sudah di sediakan!
Ice Breaking ….
Instruksi:
Pertanyaan:
Yang dimaksud adalah gambar RUMAH�
Berdasarkan 1 instruksi yang sama, namun mengapa ada banyak gambar berbeda yang dibuat oleh peserta?
Hal tersebut karena adanya INSTRUKSI YANG KURANG JELAS yang menyebabkan persepsi beragam dari peserta didik.
Begitu pula saat kita mengajar di kelas, apabila instruksi tidak jelas, maka persepsi dari siswa akan beragam dan seringkali keluar dari pemahaman yang dimaksud. Hal ini membuat tujuan pembelajaran sulit dicapai.
Oleh sebab itu, penting sekali untuk membuat perencanan pembelajaran yang tepat, jelas dan relevan.
Membuat modul ajar / RPP yang tepat adalah salah satu hal wajib yang harus dilakukan oleh guru.
MULAI DARI DIRI
Bagaimana Bpk/Ibu dalam melaksanakan pembelajaran ?
Bagaimana Bpk/Ibu dalam melaksanakan asesmen selama ini?
Adakah hubungan antara pembelajaran dan asesmen?
Dalam implementasi kurikulum merdeka, pembelajaran seperti apa yang diharapkan?
EKSPLORASI KONSEP
A. PRINSIP PEMBELAJARAN DAN ASESMEN
A. PRINSIP PEMBELAJARAN DAN ASESMEN ….
Kaitan antara pembelajaran dan asesmen, digambarkan melalui ilustrasi berikut:
1. Perencanaan Pembelajaran
2. Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran dimulai dari pendidik dapat melaksanakan pembelajaran yang bervariasi (pembelajaran terdiferensiasi) sesuai dengan tingkat pemahaman/kompetensi peserta didik.
Pendidik diharapkan dapat menyelenggarakan pembelajaran yang memberi pengalaman belajar yang berkualitas, interaktif; inspiratif; menyenangkan; menantang; memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif; dan memberikan ruang yang cukup.
3. Asesmen Pembelajaran
Asesmen pembelajaran diharapkan dapat memberikan informasi faktual atas pencapaian perkembangan atau hasil belajar peserta didik.
Bentuk asesmen meliputi asesmen formatif dan sumatif.
Asesmen formatif bertujuan untuk memantau dan memperbaiki pembelajaran serta mengevaluasi pencapaian tujuan pembelajaran.
Digunakan sebagai umpan balik bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan dalam memonitor proses dan kemajuan belaja
Bagi pendidik hasil asesmen digunakan untuk merefleksikan dan meningkatkan efektivitas pembelajaran
3. Asesmen Pembelajaran ….
3. Asesmen Pembelajaran ….
a. Prinsip Pembelajaran
a. 1. Interaktif
a. Berinteraksi secara dialogis antara pendidik
dengan peserta didik, serta sesama peserta didik;
b. Berinteraksi secara aktif dengan lingkungan
belajar;
c. Berkolaborasi untuk menumbuhkan jiwa gotong
royong.
a. 2 Inspiratif
a. Menciptakan suasana belajar yang
dapat memantik ide, mendorong
daya imajinasi, dan mengeksplorasi
hal baru
b. Memfasilitasi peserta didik dengan
berbagai sumber belajar untuk
memperkaya wawasan dan
pengalaman belajar
3. a Menyenangkan
a. Menciptakan suasana belajar yang gembira, menarik, aman, dan bebas dari perundungan;
b. Menggunakan berbagai variasi metode dengan mempertimbangkan aspirasi dari peserta didik, serta tidak terbatas hanya di dalam kelas;
c. Mengakomodasi keberagaman gender, budaya, bahasa daerah setempat, agama atau kepercayaan, karakteristik, dan kebutuhan setiap peserta didik.
a. Menggunakan materi dan kegiatan belajar
sesuai dengan kemampuan dan tahapan
perkembangan peserta didik;
b. Memfasilitasi peserta didik untuk percaya
potensi yang dimilikinya dapat
ditingkatkan.
Membangun suasana belajar yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berani mengemukakan pendapat dan bereksperimen;
Melibatkan peserta didik dalam menyusun rencana belajar, menetapkan target individu dan/atau kelompok, dan turut memonitor pencapaian hasil belajar
a.6 Memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik
b. Prinsip Asesmen
Penilaian hasil belajar peserta didik dilakukan sesuai dengan tujuan penilaian secara berkeadilan.
Penilaian hasil belajar peserta didik dilakukan sesuai dengan tujuan penilaian secara objektif.
Penilaian hasil belajar peserta didik dilakukan sesuai dengan tujuan penilaian secara edukatif.
B. PERENCANAAN PEMBELAJARAN DAN ASESMEN
B. PERENCANAAN PEMBELAJARAN DAN ASESMEN ….
Proses berpikir dalam merencanakan pembelajaran ditunjukkan dalam gambar di bawah ini.
Alur tujuan pembelajaran dapat dikembangkan dengan cara:
1. Menganalisis Capaian Pembelajaran
Capaian Pembelajaran (CP) adalah kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik di akhir setiap fase.
Untuk pendidikan dasar dan menengah, CP disusun untuk setiap mata pelajaran.
Pembagian Fase
Kekhasan Capaian Pembelajaran
Ditulis dalam paragraf yang memadukan antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau disposisi untuk belajar.
CP dirancang dengan banyak merujuk kepada teori belajar Konstruktivisme dan pengembangan kurikulum dengan pendekatan “Understanding by Design” (UbD) yang dikembangkan oleh Wiggins & Tighe (2005)
Naskah CP terdiri atas rasional, tujuan, karakteristik, dan capaian per fase.
2. Menyusun Tujuan Pembelajaran dan Alurnya�
Setelah menganalisis Capaian Pembelajaran, pendidik mulai mendapatkan ide-ide tentang apa yang harus dipelajari peserta didik dalam satu fase.
Pada tahap ini, pendidik mulai mengolah ide tersebut, menggunakan kata-kata kunci yang telah dikumpulkannya pada tahap sebelumnya, untuk mengembangkan tujuan pembelajaran dan kemudian mengurutkannya menjadi alur tujuan pembelajaran.
2. 1 Merumuskan Tujuan Pembelajaran
1. Kompetensi, kemampuan peserta didik sebagai hasil dari proses pembelajaran.
2. Lingkup materi, yaitu konten dan konsep utama yang perlu dipahami pada akhir satu unit pembelajaran.
Tahapan Kemampuan Kognitif
Tahapan kemampuan kognitif menurut Anderson dan Krathwoh�
Tahapan Kemampuan Kognitif menurut Anderson dan Krathwoh
Level 1- Mengingat, termasuk di dalamnya mengingat kembali informasi yang telah dipelajari, termasuk definisi, fakta-fakta, daftar urutan, atau menyebutkan kembali suatu materi yang pernah diajarkan kepadanya.
1
Level 2- Memahami, termasuk di dalamnya menjelaskan ide atau konsep seperti menjelaskan suatu konsep menggunakan kalimat sendiri, menginterpretasikan suatu informasi, menyimpulkan, atau membuat parafrasa dari suatu bacaan.
2
Level 3- Mengaplikasikan, termasuk di dalamnya menggunakan konsep, pengetahuan, atau informasi yang telah dipelajarinya pada situasi berbeda dan relevan
3
Tahapan Kemampuan Kognitif menurut Anderson dan Krathwoh
Level 4- Menganalisis, termasuk dalam kemampuan ini adalah memecah- mecah informasi menjadi beberapa bagian, kemampuan untuk mengeksplorasi hubungan/korelasi atau membandingkan antara dua hal atau lebih, menentukan keterkaitan antarkonsep, atau mengorganisasikan beberapa ide dan/atau konsep.
Level 5- Mengevaluasi, termasuk kemampuan untuk membuat keputusan, penilaian, mengajukan kritik dan rekomendasi yang sistematis.
Level 6- Menciptakan, yaitu merangkaikan berbagai elemen menjadi satu hal baru yang utuh, melalui proses pencarian ide, evaluasi terhadap hal/ide/benda yang ada sehingga kreasi yang diciptakan menjadi salah satu solusi terhadap masalah yang ada. Termasuk di dalamnya adalah kemampuan memberikan nilai tambah terhadap suatu produk yang sudah ada.
2. 1 Merumuskan Tujuan Pembelajaran….
Pada Pendidikan Khusus, selain kompetensi dan konten, tujuan pembelajaran juga mencakup variasi dan akomodasi layanan sesuai karakteristik peserta didik.
Selain itu, tujuan pembelajaran diarahkan pada terbentuknya kemandirian dalam aktivitas sehari-hari sampai kesiapan memasuki dunia kerja.
2. 1 Merumuskan Tujuan Pembelajaran ….
Ice Breaking
2.2 Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran
Setelah merumuskan tujuan pembelajaran, pendidik perlu menyusun alur tujuan pembelajaran.
Alur tujuan pembelajaran merupakan tujuan pembelajaran yang diurutkan, bukan turunan atau rincian dari tujuan pembelajaran.
Hal - hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun Alur Tujuan Pembelajaran
Alur tujuan pembelajaran harus tuntas satu fase, tidak terpotong di tengah jalan.
Alur tujuan pembelajaran perlu dikembangkan secara kolaboratif.
Alur tujuan pembelajaran dikembangkan sesuai karakteristik dan kompetensi yang dikembangkan setiap mata pelajaran.
Pada pendidikan khusus, penyusunan alur tujuan pembelajaran boleh dilakukan lintas fase.
Alur tujuan pembelajaran yang disediakan pemerintah adalah contoh.
Alur tujuan pembelajaran fokus pada pencapaian pembelajaran.
Cara Menyusun �TP menjadi ATP
Cara Menyusun TP menjadi ATP
1 | Pengurutan dari yang Konkret ke yang Abstrak | Metode pengurutan dari konten yang konkret dan berwujud ke konten yang lebih abstrak dan simbolis. Contoh: memulai pengajaran dengan menjelaskan tentang benda geometris (konkret) terlebih dahulu sebelum mengajarkan aturan teori objek geometris tersebut (abstrak). |
2 | Pengurutan Deduktif | Metode pengurutan dari konten bersifat umum ke konten yang spesifik. Contoh: mengajarkan konsep database terlebih dahulu sebelum mengajarkan tentang tipe database, seperti hierarki atau relasional. |
3 | Pengurutan dari Mudah ke yang lebih Sulit | Metode pengurutan dari konten paling mudah ke konten paling sulit. Contoh: mengajarkan cara mengeja kata-kata pendek dalam kelas bahasa sebelum mengajarkan kata yang lebih panjang. |
4 | Pengurutan Hierarki | Metode ini dilaksanakan dengan mengajarkan keterampilan komponen konten yang lebih mudah terlebih dahulu sebelum mengajarkan keterampilan yang lebih kompleks. Contoh: peserta didik perlu belajar tentang penjumlahan sebelum mereka dapat memahami konsep perkalian. |
| | |
Cara Menyusun TP menjadi ATP ….
4 | Pengurutan Prosedural | Metode ini dilaksanakan dengan mengajarkan tahap pertama dari sebuah prosedur, kemudian membantu peserta didik untuk menyelesaikan tahapan selanjutnya. Contoh: dalam mengajarkan cara menggunakan t-test dalam sebuah pertanyaan penelitian, ada beberapa tahap prosedur yang harus dilalui, seperti menulis hipotesis, menentukan tipe tes yang akan digunakan, memeriksa asumsi, dan menjalankan tes dalam sebuah perangkat lunak statistic. |
4 | Scaffolding | Metode pengurutan yang meningkatkan standar performa sekaligus mengurangi bantuan secara bertahap. Contoh: dalam mengajarkan berenang, pendidik perlu menunjukkan cara mengapung, dan ketika peserta didik mencobanya, pendidik hanya butuh membantu. Setelah ini, bantuan yang diberikan akan berkurang secara bertahap. Pada akhirnya, peserta didik dapat berenang sendiri. |
| | |
Ilustrasi Pemetaan ATP dalam Satu Fase
2.2 Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran
Pendidik dapat menggunakan contoh alur tujuan pembelajaran yang telah tersedia, atau memodifikasi contoh alur tujuan pembelajaran menyesuaikan kebutuhan peserta didik, karakteristik dan kesiapan satuan pendidikan.
Selain itu, pendidik dapat menyusun alur tujuan pembelajaran secara mandiri sesuai dengan kesiapan satuan pendidikan.
Tidak ada format komponen yang ditetapkan oleh pemerintah. Komponen alur tujuan pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan satuan pendidikan yang mudah dimengerti oleh pendidik.
3. Merencanakan Pembelajaran dan Asesmen
3.1 Perencanaan pembelajaran
3. Merencanakan Pembelajaran dan Asesmen
3.1 Perencanaan Pembelajaran ….�
a. Tujuan Pembelajaran
b. Langkah-langkah Pembelajaran
3.1 Perencanaan Pembelajaran ….�
Apabila pendidik menggunakan modul ajar, maka ia tidak perlu membuat RPP karena komponen-komponen dalam modul ajar meliputi komponen-komponen dalam RPP atau lebih lengkap daripada RPP.
Pendidik memiliki keleluasaan untuk memilih dan memodifikasi contoh-contoh perencanaan pembelajaran yang tersedia atau mengembangkan perencanaan pembelajaran sendiri, sesuai dengan konteks, kebutuhan, dan karakteristik peserta didik.
Komponen Minimum RPP �dan MA
MERANCANG MODUL AJAR
Pertanyaan Reflektif dalam Perencanaan Pembelajaran
Bagaimana agar perhatian peserta didik senantiasa fokus dan mereka terus bersemangat sepanjang kegiatan pembelajaran?
Bagaimana saya sebagai pendidik akan membantu setiap individu peserta didik memahami pembelajaran?
Bagaimana saya akan mendorong peserta didik untuk melakukan refleksi, mempelajari kembali, memperbaiki, dan memperdalam konsep atau materi pelajaran yang telah mereka pelajari?
Pertanyaan Reflektif dalam Perencanaan Pembelajaran ….
Pemahaman mereka dan melakukan evaluasi diri yang berarti setelah mempelajari materi ini?
Bagaimana saya akan menyesuaikan langkah dan/atau materi pelajaran berdasarkan keunikan dan kebutuhan masing-masing peserta didik?
Bagaimana saya akan mengelola pengalaman belajar yang mendorong peserta didik untuk menjadi pelajar yang aktif dan mandiri?
�Backward Design (Wiggins & Tighe, 2005) �dalam Perencanaan Pembelajaran �
Backward Design (Wiggins & Tighe, 2005) �dalam Perencanaan Pembelajaran �
Langkah pertama yang harus diperhatikan dalam menyusun Perencanaan Pembelajaran (RPP/Modul Ajar)
Ice Breaking
3.2 Perencanaan Asesmen
a. Asesmen Formatif
b. Asesmen Sumatif
b. Asesmen Sumatif ….
Penilaian atau asesmen sumatif bertujuan untuk menilai pencapaian tujuan pembelajaran dan/ atau CP peserta didik sebagai dasar penentuan kenaikan kelas dan/atau kelulusan dari satuan pendidikan.
Penilaian pencapaian hasil belajar peserta didik dilakukan dengan membandingkan pencapaian hasil belajar peserta didik dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran.
b. Asesmen Sumatif ….
Adapun asesmen sumatif dapat berfungsi untuk:
b. Asesmen Sumatif ….
Asesmen sumatif dapat dilakukan setelah pembelajaran berakhir, misalnya pada akhir satu lingkup materi (dapat terdiri atas satu atau lebih tujuan pembelajaran), pada akhir semester;
Khusus asesmen pada akhir semester, asesmen ini bersifat pilihan. Jika pendidik merasa masih memerlukan konfirmasi atau informasi tambahan untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik, maka dapat melakukan asesmen pada akhir semester.
Sebaliknya, jika pendidik merasa bahwa data hasil asesmen yang diperoleh selama 1 semester telah mencukupi, maka tidak perlu melakukan asesmen pada akhir semester.
Pada asesmen sumatif, pendidik dapat menggunakan teknik dan instrumen yang beragam, tidak hanya berupa tes tertulis, namun dapat menggunakan observasi dan performa (praktik, menghasilkan produk, melakukan projek).
Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP)
Untuk mengetahui apakah peserta didik telah berhasil mencapai tujuan pembelajaran, pendidik perlu menetapkan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran.
Kriteria ini dikembangkan saat pendidik merencanakan asesmen, yang dilakukan saat pendidik menyusun perencanaan pembelajaran, baik dalam bentuk rencana pelaksanaan pembelajaran ataupun modul ajar.
Kriteria ketercapaian ini juga menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih/membuat instrumen asesmen.
Kriteria ini merupakan penjelasan (deskripsi) tentang kemampuan apa yang perlu ditunjukkan/ didemonstrasikan peserta didik sebagai bukti (evidence) bahwa ia telah mencapai tujuan pembelajaran.
Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran ….
Ketercapaian tujuan pembelajaran tidak disarankan untuk menggunakan angka mutlak (misalnya 75, 80, dan sebagainya) sebagai kriteria.
Yang paling disarankan adalah menggunakan deskripsi, namun jika dibutuhkan, pendidik diperkenankan untuk menggunakan interval nilai (misalnya 70-85, 85-100, dan sebagainya).
Penetapan angka interval diperoleh berdasarkan ciri/kriteria, atau deskripsi dalam rubrik penilaian.
Dengan kata lain, sebelum Pendidik menetapkan angka pada interval nilai, pendidik perlu terlebih dahulu menetapkan kriteria atau deskripsi ketercapaian.
Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran ….
Dengan demikian, kriteria yang digunakan untuk menentukan apakah peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran dapat dikembangkan pendidik dengan menggunakan beberapa pendekatan, di antaranya:
Pendekatan 1: Menggunakan Deskripsi Kriteria
Peserta didik mampu menulis laporan dari gagasan, hasil pengamatan, pengalaman dan imajinasi.
Contoh Deskripsi Kriteria untuk Ketercapaian Tujuan Pembelajaran
Pendekatan 2: Menggunakan Rubrik
Pendekatan 3: Menggunakan Interval Nilai
Contoh Kriteria Ketuntasan Tujuan Pembelajaran �Menggunakan Interval....
Contoh Kriteria Ketuntasan Tujuan Pembelajaran �Menggunakan Interval....
Pendekatan 4: Menggunakan Pendekatan Persentase
Catatan:
Catatan ….
Tujuan remedial bukan hanya untuk perbaikan nilai, namun untuk meningkatkan capaian belajar peserta didik. Dengan demikian, remedial tidak dilakukan dengan memberikan soal atau tugas semata. Melainkan dengan memberikan pendampingan kepada peserta didik untuk mempelajari kembali kriteria-kriteria tujuan pembelajaran yang belum tercapai.
Pengayaan dapat dilakukan dengan memberikan tantangan yang berbeda dengan tingkat kompleksitas yang lebih dari peserta didik yang lain. Pengayaan bukan berarti peserta didik diberi soal yang lebih sulit, namun bagaimana pengetahuan peserta didik dipertajam dan diperluas dari berbagai referensi.
Contoh instrumen penilaian atau asesmen yang dapat menjadi inspirasi bagi pendidik, yaitu:
Contoh teknik asesmen yang dapat diadaptasi, yaitu :
Teknik Asesmen
i) testing mensyaratkan anak sudah harus dapat baca tulis, sedangkan kemampuan ini masih dapat dibina pada fase A; dan
ii) teknik penilaian yang tidak otentik dan membatasi durasi performa secara singkat dapat memberikan tekanan pada peserta didik, yang dapat membuatnya memiliki kesan negatif terhadap belajar.
C. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DAN ASESMEN
Pelaksanaan pembelajaran diselenggarakan dengan karakteristik pembelajaran yang:
Karakteristik Pembelajaran
C. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DAN ASESMEN ….
Ilustrasi siklus perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dan asesmen
Ilustrasi siklus perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dan asesmen ….
Ice Breaking
Diferensiasi Pembelajaran
Berdasarkan hasil asesmen di awal pembelajaran, pendidik perlu berupaya untuk menyesuaikan strategi pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik.
Namun demikian, bagi sebagian pendidik melakukan pembelajaran terdiferensiasi bukanlah hal yang sederhana untuk dilakukan.
Sebagian pendidik mengalami tantangan karena keterbatasan waktu untuk merancang pembelajaran yang berbeda-beda berdasarkan kebutuhan individu peserta didik.
Sebagian yang lain mengalami kesulitan untuk mengelompokkan peserta didik berdasarkan kesiapan karena jumlah peserta didik yang banyak dan ruangan kelas yang terbatas.
Diferensiasi Pembelajaran ….
Pendidik sebaiknya tidak mengkategorikan peserta didik ke dalam kategori gaya belajar tertentu. Peserta didik tidak perlu dikategorikan atau diberi label sebagai "pelajar auditori" atau "pelajar visual" dan lain-lain.
Jangan sampai peserta didik menjadi merasa/ percaya bahwa gaya belajar tersebut adalah bagian dari "kepribadian" atau sesuatu dari dirinya yang tidak bisa diubah. Ini merugikan peserta didik karena mereka perlu bisa menggunakan berbagai cara belajar.
Pendidik juga tidak perlu membagi kelas menjadi kelompok gaya belajar. Apalagi membatasi tiap kelompok pada materi yang dianggap cocok dengan gaya belajar mereka. "Pencocokan" gaya belajar dengan materi belajar ini terbukti sebagai praktik yang tidak efektif, dan justru merepotkan pendidik serta bisa merugikan peserta didik.
Diferensiasi Pembelajaran ….
Catatan:
Contoh Diferensiasi Pembelajaran 1
Pendidik memahami capaian minimum peserta didik. Materi disesuaikan capaian minimum peserta didik.
2. Proses (cara mengajarkan).
Proses pembelajaran dan bentuk pendampingan dapat didiferensiasi sesuai kesiapan peserta didik.
3. Produk (luaran atau performa yang akan dihasilkan).
Diferensiasi pembelajaran juga dapat dilakukan melalui produk yang dihasilkan, sesuai kemampuan maupun minat peserta didik.
Contoh Diferensiasi Konten dan Produk
Ketika mengajarkan materi tertentu, peserta didik yang perlu bimbingan dapat difokuskan hanya pada 3 (tiga) poin penting saja, sementara untuk peserta didik yang sudah cukup memahami materi dapat mempelajari seluruh topik; dan peserta didik yang mahir dapat melakukan pendalaman materi di luar materi yang diajarkan.
Begitu juga dengan tagihan atau produk, peserta didik yang perlu bimbingan dapat bekerja kelompok dengan mengumpulkan satu lembar hasil kerja, sementara untuk peserta didik yang cukup mahir dapat mengumpulkan 5 (lima) lembar hasil kerja mandiri, dan peserta didik yang sudah mahir dapat mempresentasikan hasil kerja menggunakan power point dengan dilengkapi gambar dan grafis.
Contoh Diferensiasi Pembelajaran 2
RUANG KOLABORASI
DISKUSI KELOMPOK�(45 MENIT)
Link Perangkat Ajar dan Asesmen Pembelajaran
PRESENTASI�(30 Menit)
REFLEKSI TERBIMBING
Apa saja tantangan yang dihadapi dalam memodifikasi modul ajar?
Bagian mana dari modul ajar yang belum dipahami dan masih membutuhkan pemahaman yang lebih?
Kesulitan apa yang muncul terkait asesmen yang direncanakan dalam modul ajar?
DEMONSTRASI KONTEKSTUAL (45 Menit)
▪ Plihlah salah satu modul ajar yang tersedia pada platform digital atau dokumen modul ajar yang dimiliki untuk dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan, kondisi dan karakteristik sekolah-masing-masing.
▪ Pilihlah bahan ajar yang relevan dengan modul ajar yang dikembangkan.
▪ Buatlah Asesmen Awal, KKTP, dan Asesmen Sumatif Lingkup Materi.
▪ Setelah selesai berdiskusi, masing-masing kelompok melakukan presentasi hasil diskusi.
Sesi Tugas Individual
PENUTUP
Refleksi Pembelajaran
TERIMA KASIH