1 of 100

PEMBELAJARAN DAN ASESMEN�(7 JP)

2 of 100

TUJUAN PEMBELAJARAN

  • Peserta memahami konsep, tujuan, strategi  dan prosedur pembelajaran. 
  • Peserta memahami konsep pembelajaran terdiferensiasi.
  • Peserta memahami konsep asesmen/penilaian. 
  • Peserta mampu memodifikasi modul ajar yang telah tersedia dan menyusun asesmen disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan sekolah masing-masing. 

3 of 100

Alur Pembelajaran

Mulai Dari Diri

Eksplorasi Konsep

Ruang Kolaborasi

Refleksi Terbimbing

Demonstrasi Kontekstual

Penutup

4 of 100

Ice Breaking

Siapkan 1 kertas dan pena untuk menulis.

Ikuti instruksi Fasilitator.

Gambarlah apapun yang diinstruksikan oleh Fasilitator pada kertas yang sudah di sediakan!

5 of 100

Ice Breaking …. 

Instruksi: 

  • Gambarlah 4 buah persegi empat kecil.
  • Gambar 1 persegi panjang besar
  • Kemudian gambar 1 segitiga sama kaki
  • Terakhir gambarlah 2 buah tabung.

Pertanyaan:

  • Gambar apa yang Bpk/Ibu buat?
  • Gambar apa yang Fasilitator maksud?

6 of 100

Yang dimaksud adalah gambar RUMAH

Berdasarkan 1 instruksi yang sama, namun mengapa ada banyak gambar berbeda yang dibuat oleh peserta?

Hal tersebut karena adanya INSTRUKSI YANG KURANG JELAS yang menyebabkan persepsi beragam dari peserta didik.

Begitu pula saat kita mengajar di kelas, apabila instruksi tidak jelas, maka persepsi dari siswa akan beragam dan seringkali keluar dari pemahaman yang dimaksud. Hal ini membuat tujuan pembelajaran sulit dicapai.

Oleh sebab itu, penting sekali untuk membuat perencanan pembelajaran yang tepat, jelas dan relevan.

Membuat modul ajar / RPP yang tepat adalah salah satu hal wajib yang harus dilakukan oleh guru.

7 of 100

MULAI DARI DIRI

Bagaimana Bpk/Ibu dalam melaksanakan pembelajaran ?

Bagaimana Bpk/Ibu dalam melaksanakan asesmen selama ini?

Adakah hubungan antara pembelajaran dan asesmen?

Dalam implementasi kurikulum merdeka, pembelajaran seperti apa yang diharapkan?

8 of 100

EKSPLORASI KONSEP

9 of 100

A. PRINSIP PEMBELAJARAN DAN ASESMEN

  • Pembelajaran dan asesmen merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. 
  • Pendidik dan peserta didik perlu memahami kompetensi yang dituju, sesuai dengan tujuan pembelajaran, sehingga keseluruhan proses pembelajaran diupayakan untuk mencapai kompetensi tersebut.

10 of 100

A. PRINSIP PEMBELAJARAN DAN ASESMEN ….

Kaitan antara pembelajaran dan asesmen, digambarkan melalui ilustrasi berikut:

11 of 100

1. Perencanaan Pembelajaran

  • Pembelajaran diawali dengan penyusunan perencanaan pembelajaran dan perencanaan asesmen.
  • Perencanaan asesmen, terutama pada asesmen awal pembelajaran perlu dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik, sehingga rancangan pembelajaran sesuai dengan tahap capaian peserta didik.
  • Perencanaan pembelajaran meliputi tujuan pembelajaran, langkah atau kegiatan pembelajaran, dan asesmen pembelajaran. 
  • Tujuan pembelajaran disusun dari Capaian Pembelajaran dengan mempertimbangkan karakteristik satuan pendidikan.

12 of 100

2. Pelaksanaan Pembelajaran

Pelaksanaan pembelajaran dimulai dari pendidik dapat melaksanakan pembelajaran yang bervariasi (pembelajaran terdiferensiasi) sesuai dengan tingkat pemahaman/kompetensi peserta didik.

Pendidik diharapkan dapat menyelenggarakan pembelajaran yang memberi pengalaman belajar yang berkualitas, interaktif; inspiratif; menyenangkan; menantang; memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif; dan memberikan ruang yang cukup.

13 of 100

3. Asesmen Pembelajaran

Asesmen pembelajaran diharapkan dapat memberikan informasi faktual atas pencapaian perkembangan atau hasil belajar peserta didik.

Bentuk asesmen meliputi asesmen formatif dan sumatif.

Asesmen formatif bertujuan untuk memantau dan memperbaiki pembelajaran serta mengevaluasi pencapaian tujuan pembelajaran.

Digunakan sebagai umpan balik bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan dalam memonitor proses dan kemajuan belaja

Bagi pendidik hasil asesmen digunakan untuk merefleksikan dan meningkatkan efektivitas pembelajaran

14 of 100

3. Asesmen Pembelajaran ….

  • Asesmen formatif dapat berupa asesmen pada awal dan saat pembelajaran. 
  • Asesmen pada awal pembelajaran digunakan untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik dalam kaitannya dengan tujuan pembelajaran tertentu, sehingga pendidik bisa melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik. 
  • Asesmen formatif pada saat pembelajaran digunakan sebagai dasar dalam melakukan refleksi terhadap keseluruhan proses belajar yang dapat dijadikan acuan untuk perencanaan pembelajaran dan melakukan revisi apabila diperlukan.

15 of 100

3. Asesmen Pembelajaran ….

  • Asesmen sumatif bertujuan untuk menilai pencapaian hasil belajar peserta didik sebagai dasar penentuan kenaikan kelas dan kelulusan dari satuan pendidikan. 
  • Asesmen sumatif dilakukan dengan membandingkan pencapaian hasil belajar peserta didik dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. 
  • Asesmen sumatif digunakan untuk memastikan ketercapaian tujuan pembelajaran.

16 of 100

a. Prinsip Pembelajaran

  1. Interaktif
  2. Inspiratif
  3. Menyenangkan
  4. Menantang
  5. Memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif
  6. Memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

17 of 100

a. 1. Interaktif

  • Dirancang untuk memfasilitasi interaksi yang sistematis dan produktif antara pendidik dengan peserta didik, sesama peserta didik, dan antara peserta didik dengan materi belajar. Pendidik berperan sebagai fasilitator proses pembelajaran dan tidak menjadi satu satunya sumber pembelajaran. 
  • Pelaksanaan pembelajaran dalam suasana belajar yang interaktif, dilakukan dengan cara: 

a. Berinteraksi secara dialogis antara pendidik

   dengan   peserta didik,  serta  sesama peserta didik; 

b. Berinteraksi secara aktif dengan lingkungan 

    belajar; 

c. Berkolaborasi untuk menumbuhkan jiwa gotong 

   royong.

18 of 100

a. 2 Inspiratif

  • Memberi keteladanan dan menjadi sumber inspirasi positif bagi peserta didik. 

   a. Menciptakan suasana belajar yang 

       dapat memantik ide,  mendorong 

       daya imajinasi, dan mengeksplorasi 

       hal baru 

  b.  Memfasilitasi peserta didik dengan 

        berbagai sumber belajar untuk  

       memperkaya wawasan dan 

       pengalaman belajar

19 of 100

3. a Menyenangkan

  • Agar peserta didik mengalami proses belajar sebagai pengalaman yang menimbulkan emosi positif. 

a. Menciptakan suasana belajar yang gembira, menarik, aman, dan  bebas dari perundungan; 

b. Menggunakan berbagai variasi metode dengan mempertimbangkan aspirasi dari peserta didik, serta tidak terbatas hanya di dalam kelas; 

c. Mengakomodasi keberagaman gender, budaya, bahasa daerah setempat, agama atau kepercayaan, karakteristik, dan kebutuhan setiap peserta didik.

20 of 100

  1. 4 Menantang
  • Untuk mendorong peserta didik terus meningkatkan kompetensinya melalui tugas dan aktivitas dengan tingkat kesulitan yang tepat. 

a. Menggunakan materi dan kegiatan belajar 

    sesuai dengan kemampuan dan tahapan

    perkembangan peserta didik;

b. Memfasilitasi peserta didik untuk percaya 

    potensi yang dimilikinya  dapat

    ditingkatkan. 

21 of 100

  1. 5 Memotivasi Peserta Didik

Membangun suasana belajar yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berani mengemukakan pendapat dan bereksperimen; 

Melibatkan peserta didik dalam menyusun rencana belajar, menetapkan target individu dan/atau kelompok, dan turut memonitor pencapaian hasil belajar

22 of 100

a.6 Memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik

  • Memberi kesempatan bagi peserta didik untuk mengembangkan dan mengkomunikasikan gagasan baru; 
  • Membiasakan peserta didik untuk mampu mengatur dirinya dalam proses belajar; 
  • Menciptakan suasana pembelajaran yang memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengaktualisasikan diri; 
  • Mengapresiasi bakat, minat, dan kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik.

23 of 100

b. Prinsip Asesmen

Penilaian hasil belajar peserta didik dilakukan sesuai dengan tujuan penilaian secara berkeadilan.

Penilaian hasil belajar peserta didik dilakukan sesuai dengan tujuan penilaian secara objektif.

Penilaian hasil belajar peserta didik dilakukan sesuai dengan tujuan penilaian secara edukatif.

24 of 100

B. PERENCANAAN PEMBELAJARAN DAN ASESMEN

  • Capaian Pembelajaran merupakan kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik di akhir setiap fase. 
  • Capaian pembelajaran perlu dirumuskan menjadi tujuan-tujuan pembelajaran. 
  • Tujuan-tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan diurutkan sehingga menjadi alur tujuan pembelajan yang dapat dicapai oleh peserta didik hingga mencapai akhir fase. 
  • Selanjutnya berdasarkan alur tujuan pembelajaran yang telah disusun, dikembangkan menjadi perencanaan pembelajaran.

25 of 100

B. PERENCANAAN PEMBELAJARAN DAN ASESMEN ….

Proses berpikir dalam merencanakan pembelajaran ditunjukkan dalam gambar di bawah ini.

26 of 100

Alur tujuan pembelajaran dapat dikembangkan dengan cara:

  1. mengembangkan sepenuhnya alur tujuan pembelajaran dan/atau perencanaan pembelajaran; 
  2. mengembangkan alur tujuan pembelajaran dan/atau rencana pembelajaran berdasarkan contoh-contoh yang disediakan pemerintah; atau
  3. menggunakan contoh yang disediakan sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik.

27 of 100

1. Menganalisis Capaian Pembelajaran

Capaian Pembelajaran (CP) adalah kompetensi pembelajaran yang harus dicapai peserta didik di akhir setiap fase.

Untuk pendidikan dasar dan menengah, CP disusun untuk setiap mata pelajaran.

28 of 100

Pembagian Fase

29 of 100

Kekhasan Capaian Pembelajaran

Ditulis dalam paragraf yang memadukan antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap atau disposisi untuk belajar.

CP dirancang dengan banyak merujuk kepada teori belajar Konstruktivisme dan pengembangan kurikulum dengan pendekatan “Understanding by Design” (UbD) yang dikembangkan oleh Wiggins & Tighe (2005)

Naskah CP terdiri atas rasional, tujuan, karakteristik, dan capaian per fase.

30 of 100

2. Menyusun Tujuan Pembelajaran dan Alurnya

Setelah menganalisis Capaian Pembelajaran, pendidik mulai mendapatkan ide-ide tentang apa yang harus dipelajari peserta didik dalam satu fase.

Pada tahap ini, pendidik mulai mengolah ide tersebut, menggunakan kata-kata kunci yang telah dikumpulkannya pada tahap sebelumnya, untuk mengembangkan tujuan pembelajaran dan kemudian mengurutkannya menjadi alur tujuan pembelajaran.

31 of 100

2. 1 Merumuskan Tujuan Pembelajaran

  • Penulisan tujuan pembelajaran sebaiknya memuat 2 komponen utama, yaitu: 

1. Kompetensi, kemampuan peserta didik sebagai hasil dari proses pembelajaran.

2. Lingkup materi, yaitu konten dan konsep utama yang perlu dipahami pada akhir satu unit pembelajaran. 

  • Tujuan pembelajaran dapat dirumuskan dengan menggunakan beberapa teori antara lain; taksonomi Bloom, Tighe & Wiggins, dan Marzano. Penjelasan teori tersebut dapat dilihat pada lampiran.

32 of 100

Tahapan Kemampuan Kognitif

  • Taksonomi Bloom berguna dalam proses perumusan tujuan pembelajaran. 
  • Namun demikian, Taksonomi Bloom ini telah direvisi seiring dengan perkembangan hasil-hasil penelitian. 
  • Anderson dan Krathwohl (2001) mengembangkan taksonomi berdasarkan Taksonomi Bloom, dan dinilai lebih relevan untuk konteks belajar saat ini. 

33 of 100

Tahapan kemampuan kognitif menurut Anderson dan Krathwoh�

34 of 100

Tahapan Kemampuan Kognitif menurut Anderson dan Krathwoh

Level 1- Mengingat, termasuk di dalamnya mengingat kembali informasi yang telah dipelajari, termasuk definisi, fakta-fakta, daftar urutan, atau menyebutkan kembali suatu materi yang pernah diajarkan kepadanya.

1

Level 2- Memahami, termasuk di dalamnya menjelaskan ide atau konsep seperti menjelaskan suatu konsep menggunakan kalimat sendiri, menginterpretasikan suatu informasi, menyimpulkan, atau membuat parafrasa dari suatu bacaan.

2

Level 3- Mengaplikasikan, termasuk di dalamnya menggunakan konsep, pengetahuan, atau informasi yang telah dipelajarinya pada situasi berbeda dan relevan

3

35 of 100

Tahapan Kemampuan Kognitif menurut Anderson dan Krathwoh

Level 4- Menganalisis, termasuk dalam kemampuan ini adalah memecah- mecah informasi menjadi beberapa bagian, kemampuan untuk mengeksplorasi hubungan/korelasi atau membandingkan antara dua hal atau lebih, menentukan keterkaitan antarkonsep, atau mengorganisasikan beberapa ide dan/atau konsep.

Level 5- Mengevaluasi, termasuk kemampuan untuk membuat keputusan, penilaian, mengajukan kritik dan rekomendasi yang sistematis.

Level 6- Menciptakan, yaitu merangkaikan berbagai elemen menjadi satu hal baru yang utuh, melalui proses pencarian ide, evaluasi terhadap hal/ide/benda yang ada sehingga kreasi yang diciptakan menjadi salah satu solusi terhadap masalah yang ada. Termasuk di dalamnya adalah kemampuan memberikan nilai tambah terhadap suatu produk yang sudah ada.

36 of 100

2. 1 Merumuskan Tujuan Pembelajaran….

Pada Pendidikan Khusus, selain kompetensi dan konten, tujuan pembelajaran juga mencakup variasi dan akomodasi layanan sesuai karakteristik peserta didik.

Selain itu, tujuan pembelajaran diarahkan pada terbentuknya kemandirian dalam aktivitas sehari-hari sampai kesiapan memasuki dunia kerja.

37 of 100

2. 1 Merumuskan Tujuan Pembelajaran ….

  • Pendidik memiliki alternatif untuk merumuskan tujuan pembelajaran dengan beberapa alternatif di bawah ini: 
  • Merumuskan tujuan pembelajaran secara langsung berdasarkan CP. 
  • Merumuskan tujuan pembelajaran dengan menganalisis ‘kompetensi’ dan ‘lingkup materi’ pada CP. 
  • Merumuskan tujuan pembelajaran Lintas Elemen CP.
  • Tujuan pembelajaran adalah tujuan yang lebih umum bukan tujuan pembelajaran harian (goals, bukan objectives).

38 of 100

Ice Breaking

39 of 100

2.2 Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran

Setelah merumuskan tujuan pembelajaran, pendidik perlu menyusun alur tujuan pembelajaran.

Alur tujuan pembelajaran merupakan tujuan pembelajaran yang diurutkan, bukan turunan atau rincian dari tujuan pembelajaran.

40 of 100

Hal - hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun Alur Tujuan Pembelajaran

Alur tujuan pembelajaran harus tuntas satu fase, tidak terpotong di tengah jalan.

Alur tujuan pembelajaran perlu dikembangkan secara kolaboratif.

Alur tujuan pembelajaran dikembangkan sesuai karakteristik dan kompetensi yang dikembangkan setiap mata pelajaran.

Pada pendidikan khusus, penyusunan alur tujuan pembelajaran boleh dilakukan lintas fase.

Alur tujuan pembelajaran yang disediakan pemerintah adalah contoh.

Alur tujuan pembelajaran fokus pada pencapaian pembelajaran.

41 of 100

Cara Menyusun �TP menjadi ATP

42 of 100

Cara Menyusun TP menjadi ATP

1

Pengurutan dari yang Konkret ke yang Abstrak

Metode pengurutan dari konten yang konkret dan berwujud ke konten yang lebih abstrak dan simbolis. Contoh: memulai pengajaran dengan menjelaskan tentang benda geometris (konkret) terlebih dahulu sebelum mengajarkan aturan teori objek geometris tersebut (abstrak). 

2

Pengurutan Deduktif

Metode pengurutan dari konten bersifat umum ke konten yang spesifik. Contoh: mengajarkan konsep database terlebih dahulu sebelum mengajarkan tentang tipe database, seperti hierarki atau relasional.

3

Pengurutan dari Mudah ke yang lebih Sulit

Metode pengurutan dari konten paling mudah ke konten paling sulit. Contoh: mengajarkan cara mengeja kata-kata pendek dalam kelas bahasa sebelum mengajarkan kata yang lebih panjang.

4

Pengurutan Hierarki 

Metode ini dilaksanakan dengan mengajarkan keterampilan komponen konten yang lebih mudah terlebih dahulu sebelum mengajarkan keterampilan yang lebih kompleks. Contoh: peserta didik perlu belajar tentang penjumlahan sebelum mereka dapat memahami konsep perkalian.

43 of 100

Cara Menyusun TP menjadi ATP ….

4

Pengurutan Prosedural 

Metode ini dilaksanakan dengan mengajarkan tahap pertama dari sebuah prosedur, kemudian membantu peserta didik untuk menyelesaikan tahapan selanjutnya. Contoh: dalam mengajarkan cara menggunakan t-test dalam sebuah pertanyaan penelitian, ada beberapa tahap prosedur yang harus dilalui, seperti menulis hipotesis, menentukan tipe tes yang akan digunakan, memeriksa asumsi, dan menjalankan tes dalam sebuah perangkat lunak statistic.

4

Scaffolding

Metode pengurutan yang meningkatkan standar performa sekaligus mengurangi bantuan secara bertahap. Contoh: dalam mengajarkan berenang, pendidik perlu menunjukkan cara mengapung, dan ketika peserta didik mencobanya, pendidik hanya butuh membantu. Setelah ini, bantuan yang diberikan akan berkurang secara bertahap. Pada akhirnya, peserta didik dapat berenang sendiri.

44 of 100

Ilustrasi Pemetaan ATP dalam Satu Fase

45 of 100

2.2 Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran

Pendidik dapat menggunakan contoh alur tujuan pembelajaran yang telah tersedia, atau memodifikasi contoh alur tujuan pembelajaran menyesuaikan kebutuhan peserta didik, karakteristik dan kesiapan satuan pendidikan.

Selain itu, pendidik dapat menyusun alur tujuan pembelajaran secara mandiri sesuai dengan kesiapan satuan pendidikan.

Tidak ada format komponen yang ditetapkan oleh pemerintah. Komponen alur tujuan pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan satuan pendidikan yang mudah dimengerti oleh pendidik.

46 of 100

3. Merencanakan Pembelajaran dan Asesmen

3.1 Perencanaan pembelajaran

  • Perencanaan pembelajaran dirancang untuk memandu pendidik melaksanakan pembelajaran sehari-hari untuk mencapai tujuan pembelajaran. 
  • Rencana pembelajaran disusun berdasarkan alur tujuan pembelajaran.
  • Tujuan pembelajaran yang digunakan dalam perencanaan pembelajaran merupakan tujuan pembelajaran yang ada di alur tujuan pembelajaran. 
  • Rencana pembelajaran ini dapat berupa: (1) rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), atau (2) dalam bentuk modul ajar.

47 of 100

3. Merencanakan Pembelajaran dan Asesmen

48 of 100

3.1 Perencanaan Pembelajaran ….

  1. Modul Ajar
  2.     Modul ajar sekurang-kurangnya berisi:

a.    Tujuan Pembelajaran

b.   Langkah-langkah Pembelajaran

  1. Asesmen 
  2. Media Pembelajaran
  3. Satu modul ajar biasanya berisi rancangan pembelajaran untuk satu atau lebih tujuan pembelajaran berdasarkan Alur Tujuan Pembelajaran yang telah disusun.

49 of 100

3.1 Perencanaan Pembelajaran ….�

Apabila pendidik menggunakan modul ajar, maka ia tidak perlu membuat RPP karena komponen-komponen dalam modul ajar meliputi komponen-komponen dalam RPP atau lebih lengkap daripada RPP.

Pendidik memiliki keleluasaan untuk memilih dan memodifikasi contoh-contoh perencanaan pembelajaran yang tersedia atau mengembangkan perencanaan pembelajaran sendiri, sesuai dengan konteks, kebutuhan, dan karakteristik peserta didik.

50 of 100

Komponen Minimum RPP �dan MA

51 of 100

MERANCANG MODUL AJAR

52 of 100

Pertanyaan Reflektif dalam Perencanaan Pembelajaran

Bagaimana agar perhatian peserta didik senantiasa fokus dan mereka terus bersemangat sepanjang kegiatan pembelajaran?

Bagaimana saya sebagai pendidik akan membantu setiap individu peserta didik memahami pembelajaran?

Bagaimana saya akan mendorong peserta didik untuk melakukan refleksi, mempelajari kembali, memperbaiki, dan memperdalam konsep atau materi pelajaran yang telah mereka pelajari?

53 of 100

Pertanyaan Reflektif dalam Perencanaan Pembelajaran ….

Pemahaman mereka dan melakukan evaluasi diri yang berarti setelah mempelajari materi ini?

Bagaimana saya akan menyesuaikan langkah dan/atau materi pelajaran berdasarkan keunikan dan kebutuhan masing-masing peserta didik?

Bagaimana saya akan mengelola pengalaman belajar yang mendorong peserta didik untuk menjadi pelajar yang aktif dan mandiri?

54 of 100

Backward Design (Wiggins & Tighe, 2005) dalam Perencanaan Pembelajaran

55 of 100

Backward Design (Wiggins & Tighe, 2005) �dalam Perencanaan Pembelajaran

56 of 100

Langkah pertama yang harus diperhatikan dalam menyusun Perencanaan Pembelajaran (RPP/Modul Ajar)

  1. Memahami tujuan pembelajaran. Pahami kompetensi dan konsep/konten kunci yang harus dikuasai peserta didik. 
  2. Tentukan strategi asesmennya yang dapat mengukur kompetensi yang dimunculkan peserta didik ketika mereka sudah mencapainya.
  3. Mendesain proses belajar: menentukan metode, menyusun urutan dan mencari sumber materi yang membantu peserta didik menguasai kompetensi yang dituju.

57 of 100

Ice Breaking

58 of 100

3.2 Perencanaan Asesmen

  • Rencana asesmen dimulai dengan perumusan tujuan asesmen. Tujuan ini tentu berkaitan erat dengan tujuan pembelajaran.  
  • Setelah tujuan dirumuskan, pendidik memilih dan/atau mengembangkan instrumen asesmen sesuai tujuan. 
  • Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih/mengembangkan instrumen, antara lain: karakteristik peserta didik, kesesuaian asesmen dengan rencana/ tujuan pembelajaran dan tujuan asesmen, kemudahan penggunaan instrumen untuk memberikan umpan balik kepada peserta didik dan pendidik.

59 of 100

a. Asesmen Formatif

  • Asesmen formatif, yaitu asesmen yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik bagi pendidik dan peserta didik untuk memperbaiki proses belajar. 
  • Asesmen formatif berupa:
  • Asesmen di awal pembelajaran yang dilakukan untuk mengetahui kesiapan peserta didik untuk mempelajari materi ajar dan mencapai tujuan pembelajaran yang direncanakan.
  • Asesmen di dalam proses pembelajaran yang dilakukan selama proses pembelajaran untuk mengetahui perkembangan peserta didik dan sekaligus pemberian umpan balik yang cepat. Biasanya asesmen ini dilakukan sepanjang atau di tengah kegiatan/langkahpembelajaran, dan dapat juga dilakukan di akhir langkah pembelajaran. 

60 of 100

b. Asesmen Sumatif

  • Asesmen sumatif, yaitu asesmen yang dilakukan untuk memastikan ketercapaian tujuan pembelajaran. 
  • Asesmen ini dilakukan pada akhir lingkup materi atau dilakukan sekaligus untuk dua atau lebih tujuan pembelajaran, atau akhir semester sesuai dengan pertimbangan pendidik dan kebijakan satuan pendidikan. 
  • Berbeda dengan asesmen formatif, asesmen sumatif menjadi bagian dari perhitungan penilaian di akhir semester, akhir tahun ajaran, dan/atau akhir jenjang.

61 of 100

b. Asesmen Sumatif ….

Penilaian atau asesmen sumatif bertujuan untuk menilai pencapaian tujuan pembelajaran dan/ atau CP peserta didik sebagai dasar penentuan kenaikan kelas dan/atau kelulusan dari satuan pendidikan.

Penilaian pencapaian hasil belajar peserta didik dilakukan dengan membandingkan pencapaian hasil belajar peserta didik dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran.

62 of 100

b. Asesmen Sumatif ….

Adapun asesmen sumatif dapat berfungsi untuk:

    • alat ukur untuk mengetahui pencapaian hasil belajar peserta didik dalam satu atau lebih tujuan pembelajaran di periode tertentu;
    • mendapatkan nilai capaian hasil belajar untuk dibandingkan dengan kriteria capaian yang telah ditetapkan;
    • menentukan kelanjutan proses belajar peserta didik di kelas atau jenjang berikutnya.

63 of 100

b. Asesmen Sumatif ….

Asesmen sumatif dapat dilakukan setelah pembelajaran berakhir, misalnya pada akhir satu lingkup materi (dapat terdiri atas satu atau lebih tujuan pembelajaran), pada akhir semester;

Khusus asesmen pada akhir semester, asesmen ini bersifat pilihan. Jika pendidik merasa masih memerlukan konfirmasi atau informasi tambahan untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik, maka dapat melakukan asesmen pada akhir semester.

Sebaliknya, jika pendidik merasa bahwa data hasil asesmen yang diperoleh selama 1 semester telah mencukupi, maka tidak perlu melakukan asesmen pada akhir semester.

Pada asesmen sumatif, pendidik dapat menggunakan teknik dan instrumen yang beragam, tidak hanya berupa tes tertulis, namun dapat menggunakan observasi dan performa (praktik, menghasilkan produk, melakukan projek).

64 of 100

Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP)

Untuk mengetahui apakah peserta didik telah berhasil mencapai tujuan pembelajaran, pendidik perlu menetapkan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran.

Kriteria ini dikembangkan saat pendidik merencanakan asesmen, yang dilakukan saat pendidik menyusun perencanaan pembelajaran, baik dalam bentuk rencana pelaksanaan pembelajaran ataupun modul ajar.

Kriteria ketercapaian ini juga menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih/membuat instrumen asesmen.

Kriteria ini merupakan penjelasan (deskripsi) tentang kemampuan apa yang perlu ditunjukkan/ didemonstrasikan peserta didik sebagai bukti (evidence) bahwa ia telah mencapai tujuan pembelajaran.

65 of 100

Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran ….

Ketercapaian tujuan pembelajaran tidak disarankan untuk menggunakan angka mutlak (misalnya 75, 80, dan sebagainya) sebagai kriteria.

Yang paling disarankan adalah menggunakan deskripsi, namun jika dibutuhkan, pendidik diperkenankan untuk menggunakan interval nilai (misalnya 70-85, 85-100, dan sebagainya).

Penetapan angka interval diperoleh berdasarkan ciri/kriteria, atau deskripsi dalam rubrik penilaian.

Dengan kata lain, sebelum Pendidik menetapkan angka pada interval nilai, pendidik perlu terlebih dahulu menetapkan kriteria atau deskripsi ketercapaian.

66 of 100

Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran ….

Dengan demikian, kriteria yang digunakan untuk menentukan apakah peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran dapat dikembangkan pendidik dengan menggunakan beberapa pendekatan, di antaranya: 

    • 1. menggunakan deskripsi kriteria;
    • 2. menggunakan rubrik; 
    • 3. menggunakan skala atau interval nilai; 
    • 4. menggunakan persentase, atau pendekatan lainnya sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan pendidik dalam mengembangkannya.

67 of 100

Pendekatan 1: Menggunakan Deskripsi Kriteria

  • Tujuan Pembelajaran : 

Peserta didik mampu menulis laporan dari gagasan, hasil pengamatan, pengalaman dan imajinasi. 

  • Pendidik menetapkan kriteria ketercapaian. 
  • Laporan peserta didik menunjukkan kemampuannya menulis teks eksplanasi, hasil pengamatan, dan pengalaman secara jelas. 
  • Laporan menjelaskan hubungan kausalitas yang logis disertai dengan argumen yang logis sehingga dapat meyakinkan pembaca.

68 of 100

Contoh Deskripsi Kriteria untuk Ketercapaian Tujuan Pembelajaran

69 of 100

Pendekatan 2: Menggunakan Rubrik

  • Contohnya, dalam tugas menulis laporan, pendidik menetapkan kriteria ketercapaian yang terdiri atas dua bagian: Isi laporan dan penulisan. 
  • Dalam rubrik terdapat empat tahap pencapaian, dari baru berkembang, layak, cakap hingga mahir. 
  • Dalam setiap tahapan ada deskripsi yang menjelaskan performa peserta didik. 
  • Pendidik menggunakan rubrik ini untuk mengevaluasi laporan yang dihasilkan oleh peserta didik.

70 of 100

71 of 100

Pendekatan 3: Menggunakan Interval Nilai

  • Pendidik dapat menggunakan interval nilai yang diolah dari rubrik. Seperti dalam tugas menulis laporan, pendidik dapat menetapkan empat kriteria ketercapaian: 
  • menunjukkan kemampuan penulisan teks eksplanasi dengan runtut;
  • menunjukkan hasil pengamatan yang jelas; 
  • menceritakan pengalaman secara jelas; dan menjelaskan hubungan kausalitas yang logis disertai dengan argumen yang logis sehingga dapat meyakinkan pembaca. 
  • Untuk setiap kriteria terdapat 5 (lima) skala pencapaian (1-5). 
  • Pendidik membandingkan hasil tulisan peserta didik dengan rubrik untuk menentukan ketercapaian peserta didik. 
  • Pencapaian penulisan laporan dilihat dari 3 unsur yaitu pembuka, isi, dan penutup.

72 of 100

73 of 100

Contoh Kriteria Ketuntasan Tujuan Pembelajaran �Menggunakan Interval....

  • 0 - 20 belum mencapai, pendidik menanyakan kepada peserta didik tantangan apa yang mereka hadapi (perlu remedial dengan mempelajari kembali seluruh kriteria); 
  • 21 - 40 belum mencapai tujuan pembelajaran, perlu remedial dengan mempelajari kembali sebagian besar kriteria; 
  • 41 - 60 hampir mencapai tujuan pembelajaran, perlu remedial dengan mempelajari kembali kriteria yang diperlukan
  • 61 - 80 sudah mencapai tujuan pembelajaran, dan 
  • 81 - 100 sudah mencapai tujuan pembelajaran, perlu tantangan lebih (pengayaan)

74 of 100

Contoh Kriteria Ketuntasan Tujuan Pembelajaran �Menggunakan Interval....

  • Pendekatan dengan interval nilai, jika diperlukan dapat dikonversi dalam angka untuk pengolahan nilai sumatif. 
  • Sebagai contoh: Didi memperoleh 3 kriteria pada bobot 4, dan satu kriteria berada pada bobot 2. Maka pendidik dapat menghitung 3x4 = 12, ditambah 2x1 = 2. Jadi 12+2 = 14
  • Karena kriterianya ada 4 dan skalanya ada 5, maka jumlah pembagi adalah 20. Sehingga 14:20 x100 = 70. Maka Peserta Didik mendapat nilai 70. 
  • Dengan menggunakan interval nilai di atas, Didi berada pada interval 61-80 Dari hasil konversi nilai dan kriteria interval yang digunakan maka dapat diambil kesimpulan bahwa peserta didik tersebut sudah mencapai tujuan pembelajaran. 
  • Dengan demikian Didi dapat melanjutkan pada tujuan pembelajaran selanjutnya, namun tidak perlu memberikan pengayaan atau tantangan lebih.

75 of 100

Pendekatan 4: Menggunakan Pendekatan Persentase

  • Sebagai contoh pendidik mengajar Bahasa Indonesia pada fase C. Misalnya pada fase C terdapat 4 tujuan pembelajaran. Pada masing-masing tujuan pembelajaran terdapat 5 kriteria/ indikator pembelajaran. Sehingga dalam satu fase peserta didik mempunyai 20 indikator/kriteria pembelajaran. 
  • Jika peserta didik A telah mencapai 15 kriteria/indikator pembelajaran, maka ia telah menguasai 75%. 
  • Peserta Didik B dinyatakan telah mencapai 18 kriteria pembelajaran, dengan demikian peserta didik B telah menguasai 90% dari kriteria pembelajaran yang terdapat pada tujuan pembelajaran.

76 of 100

Catatan:

  • Asesmen formatif tidak selalu dalam bentuk tes tertulis, namun pendidik dapat menggunakan berbagai variasi teknik asesmen lainnya. 
  • Asesmen sumatif juga tidak diartikan sebagai kewajiban yang harus dilakukan di tengah atau di akhir semester. Asesmen sumatif dilakukan sesuai kebutuhan, dan dapat dilakukan untuk satu atau lebih tujuan pembelajaran.

77 of 100

Catatan ….

Tujuan remedial bukan hanya untuk perbaikan nilai, namun untuk meningkatkan capaian belajar peserta didik. Dengan demikian, remedial tidak dilakukan dengan memberikan soal atau tugas semata. Melainkan dengan memberikan pendampingan kepada peserta didik untuk mempelajari kembali kriteria-kriteria tujuan pembelajaran yang belum tercapai.

Pengayaan dapat dilakukan dengan memberikan tantangan yang berbeda dengan tingkat kompleksitas yang lebih dari peserta didik yang lain. Pengayaan bukan berarti peserta didik diberi soal yang lebih sulit, namun bagaimana pengetahuan peserta didik dipertajam dan diperluas dari berbagai referensi.

78 of 100

Contoh instrumen penilaian atau asesmen yang dapat menjadi inspirasi bagi pendidik, yaitu: 

  • Rubrik 
  • Ceklis
  • Catatan Anekdotal
  • Grafik Perkembangan (Kontinum)

79 of 100

Contoh teknik asesmen yang dapat diadaptasi, yaitu :

  • Observasi
  • Kinerja
  • Projek
  • Tes Tertulis
  • Tes Lisan
  • Penugasan
  • Portofolio

80 of 100

Teknik Asesmen

  • Teknik asesmen dapat dilakukan secara berbeda di jenjang tertentu, sesuai dengan karakteristiknya. 
  • Untuk satuan PAUD dan SD fase A, teknik penilaian tidak disarankan menggunakan tes, baik tertulis maupun lisan, melainkan dengan berbagai teknik yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini, dengan menekankan pengamatan pada anak secara otentik sesuai preferensi satuan pendidikan. 
  • Ragam bentuk asesmen yang dapat dilakukan, antara lain: catatan anekdot, ceklis, hasil karya, portofolio, dokumentasi, dll. 
  • Ada beberapa hal yang menyebabkan penerapan teknik testing kurang tepat untuk anak usia dini di PAUD dan jenjang pendidikan dasar kelas awal: 

    i) testing mensyaratkan anak sudah harus dapat baca tulis, sedangkan kemampuan ini masih dapat dibina pada fase A; dan

    ii)  teknik penilaian yang tidak otentik dan membatasi durasi performa secara   singkat dapat memberikan tekanan pada peserta didik, yang dapat membuatnya memiliki kesan negatif terhadap belajar. 

81 of 100

C. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DAN ASESMEN

Pelaksanaan pembelajaran diselenggarakan dengan karakteristik pembelajaran yang: 

  1. memanfaatkan asesmen pada awal, proses, dan akhir pembelajaran; 
  2. menggunakan pemahaman tentang kebutuhan dan posisi peserta didik untuk melakukan penyesuaian pembelajaran; 
  3. memprioritaskan terjadinya kemajuan belajar peserta didik, di atas cakupan dan ketuntasan muatan kurikulum yang disampaikan; dan 
  4. didasarkan pada refleksi atas kemajuan belajar peserta didik yang dilakukan secara kolaboratif dengan Pendidik lain.

82 of 100

Karakteristik Pembelajaran

  1. Memanfaatkan asesmen pada awal, proses, dan akhir pembelajaran untuk memahami kebutuhan dan posisi peserta didik dalam perjalanan belajarnya;
  2. Menggunakan pemahaman tentang kebutuhan dan posisi peserta didik untuk melakukan penyesuaian pembelajaran; 
  3. Memprioritaskan terjadinya kemajuan belajar peserta didik, di atas cakupan dan ketuntasan muatan kurikulum yang disampaikan;
  4. Didasarkan pada refleksi atas kemajuan belajar peserta didik yang dilakukan secara kolaboratif dengan Pendidik lain.

83 of 100

C. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN DAN ASESMEN ….

  • Pelaksanaan pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka menekankan pentingnya keterpaduan pembelajaran dengan asesmen, terutama asesmen formatif, sebagai suatu siklus belajar. 
  • Prinsip Pembelajaran dan Asesmen mengindikasikan pentingnya pengembangan strategi pembelajaran sesuai dengan tahap capaian belajar peserta didik atau yang dikenal juga dengan istilah Teaching at the Right Level (TaRL), yang salah satu pendekatannya menggunakan pembelajaran terdiferensiasi. 
  • Tujuan dari diferensiasi ini adalah agar setiap anak dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. 
  • Dengan demikian, pembelajaran yang berorientasi pada kompetensi membutuhkan asesmen yang bervariasi dan berkala. 
  • Pendekatan pembelajaran seperti inilah yang sangat dikuatkan dalam Kurikulum Merdeka.

84 of 100

Ilustrasi siklus perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dan asesmen

  • Pendidik menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, termasuk di dalamnya rencana asesmen formatif yang akan dilakukan di awal pembelajaran dan asesmen di akhir pembelajaran.
  • Pendidik melakukan asesmen di awal pembelajaran untuk menilai kesiapan setiap individu peserta didik untuk mempelajari materi yang telah dirancang.
  • Berdasarkan hasil asesmen, pendidik memodifikasi rencana yang dibuatnya dan/ atau membuat penyesuaian untuk sebagian peserta didik. Pada tahapan ini pendidik diharapkan dapat menyelenggarakan pembelajaran yang lebih interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, dan memberi ruang yang cukup bagi peserta didik. 

85 of 100

Ilustrasi siklus perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dan asesmen ….

  • Melaksanakan pembelajaran dan menggunakan berbagai metode asesmen formatif untuk memonitor kemajuan belajar.
  • Melaksanakan asesmen di akhir pembelajaran untuk mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran. 
  • Asesmen ini dapat digunakan sebagai asesmen awal pada pembelajaran berikutnya.

86 of 100

Ice Breaking

87 of 100

Diferensiasi Pembelajaran

Berdasarkan hasil asesmen di awal pembelajaran, pendidik perlu berupaya untuk menyesuaikan strategi pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik.

Namun demikian, bagi sebagian pendidik melakukan pembelajaran terdiferensiasi bukanlah hal yang sederhana untuk dilakukan.

Sebagian pendidik mengalami tantangan karena keterbatasan waktu untuk merancang pembelajaran yang berbeda-beda berdasarkan kebutuhan individu peserta didik.

Sebagian yang lain mengalami kesulitan untuk mengelompokkan peserta didik berdasarkan kesiapan karena jumlah peserta didik yang banyak dan ruangan kelas yang terbatas.

88 of 100

Diferensiasi Pembelajaran ….

Pendidik sebaiknya tidak mengkategorikan peserta didik ke dalam kategori gaya belajar tertentu. Peserta didik tidak perlu dikategorikan atau diberi label sebagai "pelajar auditori" atau "pelajar visual" dan lain-lain.

Jangan sampai peserta didik menjadi merasa/ percaya bahwa gaya belajar tersebut adalah bagian dari "kepribadian" atau sesuatu dari dirinya yang tidak bisa diubah. Ini merugikan peserta didik karena mereka perlu bisa menggunakan berbagai cara belajar.

Pendidik juga tidak perlu membagi kelas menjadi kelompok gaya belajar. Apalagi membatasi tiap kelompok pada materi yang dianggap cocok dengan gaya belajar mereka. "Pencocokan" gaya belajar dengan materi belajar ini terbukti sebagai praktik yang tidak efektif, dan justru merepotkan pendidik serta bisa merugikan peserta didik.

89 of 100

Diferensiasi Pembelajaran ….

Catatan:

    • Pengelompokan peserta didik dalam konteks pembelajaran terdiferensiasi sebaiknya dilakukan berdasarkan tingkat kesiapan dan kemampuan awal peserta didik, bukan gaya belajarnya.
    • Dalam hal ini, yang bisa dan perlu dilakukan pendidik terkait gaya belajar adalah mengombinasikan bahan ajar dan metode yang bervariasi untuk mengajarkan sebuah topik.
    • Dengan kombinasi yang kaya, peserta didik dengan preferensi belajar yang berbeda-beda akan lebih tertarik dan nyaman untuk belajar.

90 of 100

Contoh Diferensiasi Pembelajaran 1

  1. Konten (materi yang akan diajarkan)

Pendidik memahami capaian minimum peserta didik. Materi disesuaikan capaian minimum peserta didik.

2.    Proses (cara mengajarkan). 

   Proses pembelajaran dan bentuk pendampingan dapat didiferensiasi sesuai kesiapan peserta didik.

3.    Produk (luaran atau performa yang akan dihasilkan). 

  Diferensiasi pembelajaran juga dapat dilakukan melalui produk yang dihasilkan, sesuai kemampuan maupun minat peserta didik.

91 of 100

Contoh Diferensiasi Konten dan Produk

Ketika mengajarkan materi tertentu, peserta didik yang perlu bimbingan dapat difokuskan hanya pada 3 (tiga) poin penting saja, sementara untuk peserta didik yang sudah cukup memahami materi dapat mempelajari seluruh topik; dan peserta didik yang mahir dapat melakukan pendalaman materi di luar materi yang diajarkan.

Begitu juga dengan tagihan atau produk, peserta didik yang perlu bimbingan dapat bekerja kelompok dengan mengumpulkan satu lembar hasil kerja, sementara untuk peserta didik yang cukup mahir dapat mengumpulkan 5 (lima) lembar hasil kerja mandiri, dan peserta didik yang sudah mahir dapat mempresentasikan hasil kerja menggunakan power point dengan dilengkapi gambar dan grafis.

92 of 100

Contoh Diferensiasi Pembelajaran 2

93 of 100

RUANG KOLABORASI

94 of 100

DISKUSI KELOMPOK�(45 MENIT)

  • Bersama teman dalam kelompok, pilihlah salah satu modul ajar yang tersedia pada platform digital atau dokumen modul ajar yang dimiliki.
  • Modifikasi Modul Ajar sesuai dengan kebutuhan, kondisi dan karakteristik sekolah-masing-masing.
  • Buatlah Asesmen Awal, KKTP, dan Asesmen Sumatif Lingkup Materi.
  • Setelah selesai berdiskusi, masing-masing kelompok melakukan presentasi hasil diskusi. 
  • Link Pengumpulan Tugas:

https://s.id/bimtekikm-kkmi

95 of 100

Link Perangkat Ajar dan Asesmen Pembelajaran

  • Link Asesmen Pembelajaran

https://guru.kemdikbud.go.id/assessment/search

96 of 100

PRESENTASI(30 Menit)

97 of 100

REFLEKSI TERBIMBING

Apa saja tantangan yang dihadapi dalam memodifikasi modul ajar?

Bagian mana dari modul ajar yang belum dipahami dan masih membutuhkan pemahaman yang lebih?

Kesulitan apa yang muncul terkait asesmen yang direncanakan dalam modul ajar?

98 of 100

DEMONSTRASI KONTEKSTUAL (45 Menit)

▪ Plihlah salah satu modul ajar yang tersedia pada platform digital atau dokumen modul ajar yang dimiliki untuk dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan, kondisi dan karakteristik sekolah-masing-masing.

  • Sesuaikan rancangan kegiatan dengan tujuan pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran dan penilaian/asesmen yang tepat dari modul ajar yang dimodifikasi tersebut.

Pilihlah bahan ajar yang relevan dengan modul ajar yang dikembangkan.

Buatlah Asesmen Awal, KKTP, dan Asesmen Sumatif Lingkup Materi.

Setelah selesai berdiskusi, masing-masing kelompok melakukan presentasi hasil diskusi. 

Sesi Tugas Individual

99 of 100

PENUTUP

Refleksi Pembelajaran

    • Hal baru apa saja yang Anda peroleh dari materi Pembelajaran dan Asesmen?
    • Bagian mana yang masih perlu ditingkatkan pemahamannya?
    • Apa yang akan Anda lakukan setelah mengikuti sesi ini?

100 of 100

TERIMA KASIH