A. Pendekatan CBSA dan Pendekatan Keterampilan Proses Dalam Pembelajaran Ilmu Komputer�
Pendekatan CBSA dapat diartikan sebagai anutan pembelajaran yang
mengarah kepada pengoptimalisasian pelibatan intelektual-emosional
mahasiswa dalam proses pembelajaran, dengan pelibatan fisik
mahasiswa apabila diperlukan. Pelibatan intelektual-emosional/fisik
mahasiswa dalam pembelajaran diarahkan untuk membelajarkan
mahasiswa memperoleh dan memproses perolehan belajarnya tentang
pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai.
Contoh-contoh:
Kegiatan psikis seperti yang sulit diamati. Kegiatan fisik yang dapat
diamati di antaranya dalam bentuk kegiatan membaca, mendengarkan,
Menulis, memperagakan, dan mengukur.
Kegiatan psikis seperti mengingat kembali isi pelajaran pertemuan sebelumnya, menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dala m memecahkan masalah yang dihadapi, menyimpulkan hasil eksperimen.
B. Rasionalisasi CBSA dalam Pembelajaran
Kita telah memasuki ambang “masyarakat belajar”, yaitu masyarakat
yang menghendaki pendidikan masa seumur hidup (Husen, 2000:41)
Gage dan Berliner secara sederhana mengungkapkan bahwa belajar
dapat didefinisikan sebagai sutau proses yang membuat seseorang
mengalami perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman yang
diperolehnya (Gage dan Barliner, 2000:252).
Dewey menandai bahwa belajar merupakan suatu proses yang
melibatkan manusia secara orang per orang sebagai satu kesatuan
organisasi sehingga terjadi perubahan pada pengetahuan, keterampilan,
dan sikapnya. Dengan demikian, dalam belajar orang tidak mungkin
melimpahkan tugas-tugas belajar kepada orang lain.
Dengan penerapan CBSA mahasiswa diharapkan akan lebih mampu
mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang
dimilikinya secara penuh, menyadari, dan dapat menggunakan potensi
sumber belajar yang terdapat di sekitarnya. Selain itu, mahasiswa
diharapkan lebih berlatih untuk berprakarsa, berpikir secara teratur,
kritis, tanggap dan dapat menyelesaikan masalah sehari-hari, serta
lebih terampil dalam menggali, menjelajah, mencari, dan
Mengembangkan informasi yang bermakna baginya.
Dengan penerapan CBSA, dosen diharapkan bekerja secara profesional,
Mengajar secara sistematis, dan berdasarkan prinsip didaktik metodik
yang berdaya guna dan berhasil guna (efisien dan efefktif). Artinya
dosen dapat merekayasa sistem pembelajaran yang mereka laksanakan
secara sistematis, dengan pemikiran mengapa dan bagaimana
menyelenggarakan kegiatan pembelajaran aktif (Raka Joni, 2000:11)
C. Kadar CBSA dalam Pembelajaran
Berdasarkan pembahsan sebelumnya kita dapat menandai adanya
rentangan/kadar ke CBSA-an dari peristiwa pembelajaran. Rentangan
(kontinum) ini terjadi sebagai akibat dari adanya kecenderungan
peristiwa pembelajaran yakni pembelajaran yang berorientasi
pada mahasiswa kepada mahasiswa, dan akan terjadi sebaliknya
bila arah pembelajaran cenderung berorientasi kepada dosen sebagai
pengajar.
Mc. Keachie mengemukakan 7 (tujuh) dimensi proses pembelajaran yang mengakibat kan terjadinya kadar ke-CBSA-an:
yang berbentuk interaksi antarmahasiswa
mahasiswa untuk mengambil keputusan-keputusan penting
dalam kehidupan perguruan tinggi, dan
pribadi mahasiswa, baik yang berhubungan maupun yang tidak
berhubungan dengan kelompok pembelajaran.
Yamamoto meninjau ke-CBSA-an suatu proses pembelajaran dari segi
kesadaran mahasiswa dan dosen yang terlibat di dalamnya, maka
diungkapkan bahwa proses pembelajaran yang optimal terjadi apabila
mahasiswa yang belajar maupun dosen yang membelajarkan memiliki
kesadaran dan kesengajaan terlihat dalam proses pembelajaran.
Kesadaran dan kesengajaan melibatkan diri dalam proses pembelajaran
pada diri mahasiswa dan dosen akan dapat memunculkan berbagai
interaksi pembelajaran.
Lindgren mengemukakan 4 (empat) kemungkinan interaksi
Pembelajaran, yakni:
pesan dan mahasiswa penerima pesan
memperoleh balikan dari mahasiswa
mendapat balikan dari mahasiswa. Selain itu, mahasiswa saling
berinteraksi atau saling belajar satu dengan yang lain.
mahasiswa
Raka Joni (2000, 19-20) mengungkapkan bahwa perguruan tinggi yang
Ber-CBSA dengan baik mempunyai karateristik berikut:
sehingga mahasiswa berperan lebih aktif dalam mengembangkan
cara-cara belajar mandiri, mahasiswa berperan serta pada perencanaan
pelaksaanaan, dan penilaian proses belajar, pengalaman mahasiswa
lebih diutamakan dalam memutuskan titik tolak kegiatan.
(2) Dosen adalah pembimbing dalam terjadinya pengalaman belajar,
dosen bukan satu-satunya sumber informasi, dosen merupakan salah
satu sumber belajar, yang memberikan peluang bagi mahasiswa agar
dapat memperoleh pengetahuan/keterampilan melalui usaha sendiri
dapat mengembangkan pengalaman untuk membuat suatu karya
(3) Tujuan kegiatan tidak hanya untuk sekadar mengejar standar akademis
selain pencapaian standar akademis, kegiatan ditekankan untuk
mengembangkan kemampuan mahasiswa secara utuh dan seimbang
(4) Pengelolaan kegiatan pembelajaran lebih menekankan pada
kreativitas mahasiswa dan memperhatikan kemajuan mahasiswa
untuk mengatasi konsep-konsep dengan mantap
(5) Penilaian dilaksanakan untuk mengamati dan mengukur kegiatan
dan kemajuan mahasiswa, serta mengukur berbagai keteraampilan
yang dikembangkan misalnya keterampilan membuat program
visual Delphi, merakit komputer, membuat animasi multimedia
D. Rambu-Rambu Penyelenggaraan CBSA
Hakikat CBSA adalah keterlibatan intelektual-emosional mahasiswa
secara optimal dalam proses pembelajaran: dan setiap proses
pembelajaran memiliki kadar CBSA yang berbeda-beda. Agar kita
dapat menemukan kadar CBSA dari suatu proses pembelajaran, maka
perlu mengenal terlebih dahulu rambu-rambu penyelanggaraan CBSA.
Yang dimaksud dengan rambu-rambu CBSA adalah gejala-gejala yang
tampak pada perilaku mahasiswa dan dosen baik dalam program
maupun dalam proses pembelajaran.
Rambu-rambu yang dimaksud adalah:
antara lain:
belajar langsung dari pengalaman belajar yang diciptakan
pengalaman belajar kepada mahasiswa untuk memperoleh dan
menemukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan
(2) Prakarsa dan keinginan mahasiswa untuk ikut serta dalam proses pembelajaran meliputi antara lain:
belajar yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran
yang ada dalam proses pembelajaran dan
daripada yang diharapkan
(3) Prakarsa dan keberanian mahasiswa dalam mewujudkan minat,
kenginan, dan dorongan-dorongan yang ada pada dirinya, meliputi antara lain:
belajar yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran
daripada yang diharapkan
(4) Usaha dan kreativitas mahasiswa dalam proses pembelajaran
meliputi antara lain:
mencari dan menentukan sumber-sumber belajar yang ditentukan
permasalahan yang ada dalam proses pembelajaran dan
cara kerja yang telah ditentukan oleh dosen
(5) Keinginan yang ada pada diri mahasiswa, meliputi antara lain:
bahasan, dan
masalah-masalah yang ada pada topik
(6) Keinginantahuan yang ada pada diri mahasiswa meliputi antara
lain:
mahasiswa serta
(7) Kuantitas dan kualitas usaha yang dilakukan dosen dalam membina
dan mendorong keaktifan mahasiswa, meliputi antara lain:
jawaban mahasiswa
menyelesaikan tugas yang diberikan secara tuntas
(8) Kualitas dosen sebagai inovator dan fasilitator meliputi antara lain:
oleh dosen
dibutuhkan mahasiswa dalam belajar
membutuhkan serta
yang baru
(9) Tingkat sikap dosen yang tidak mendominasi dalam proses
pembelajaran meliputi antara lain:
yang dilakukan oleh dosen
pertanyaan mahasiswa
(10) Kuantitas dan kualitas metode dan media yang dimanfaatkan dosen
dalam proses pembelajarn meliputi antara lain:
media
(11) Keterikatan dosen terhadap program pembelajaran meliputi antara
lain:
pembelajaran
dalam program pembelajaran dan
dalam program pembelajaran
(12) Variasi interkasi dosen mahasiswa dalam proses pembelajaran,
meliputi:
mahasiswa-mahasiswa serta
(13) Kegiatan dan kegembiraan mahasiswa dalam belajar meliputi
antara lain:
dosen
Panduan observasi atau instrumen yang digunakan untuk menentukan
kadar CBSA dari suatu program/proses pembelajaran, dapat diarahkan
untuk keperluan klasifikasi perseorangan.
E. Penerapan CBSA
Peningkatan kadar CBSA dari suatu proses pembelajaran berarti
pula mengarahkan proses pembelajaran yang berorientasi pada
mahasiswa, atau dengan kata lain menciptakan pembelajaran
berdasarkan mahasiswa (Student Based Instruction)
Konsekuensi yang harus diterima dari adanya pembelajaran
berdasarkan mahasiswa ialah:
(designer) dan pengalaman belajar
(2) Dosen dan mahasiswa menerima peran kerja sama (partnership)
(3) Bahan-bahan pembelajaran dipilih berdasarkan kelayakannya.
(4) Penting untuk melakukan identifikasi dan penuntasan syarat-syarat
belajar (learning requirement)
(5) Mahasiswa dilibatkan dalam pembelajaran
(6) Tujuan ditulis secara jelas
Adanya konsekuensi dari penerapan pembelajaran berdasarkan
mahasiswa yang akan meningkatkan kadar CBSA suatu proses
pembelajaran, lebih jauh menuntut agar dosen: (1) memiliki khasanah
pengetahuan yang luas tentang teknik/cara penyampaian atas sistem
penyampaian, (2) memiliki krireria tertentu untuk memilih sistem
penyampaian yang tepat untuk memberikan pengalaman belajar kepada
mahasiswa yang terlihat dalam proses pembelajaran.
Nilai instrinsik gerakan untuk meningkatkan kadar CBSA dalam proses
pembelajaran juga muncul sebagai reaksi terhadap kecenderungan umum
penerapan pembelajaran berdasarkan dosen (teacher based instrusction).
pembelajaran berdasarkan dosen menunjukkan peran dosen sebagai
Leveransir (purveyor) informasi, sehingga pembelajaran hanya sekedar
proses perekaman informasi oleh mahasiswa
Untuk dapat mengelola dan merancang program pembelajaran dan
proses pembelajaran, seorang dosen hendaknya mengenal faktor-faktor
penentu kegiatan pembelajaran. Faktor-faktor penentu tersebut adalah:
nilai yang ingin dicapai atau ditingkatkan sebagai hasil kegiatan
(2) Karateristik mana pelajaran/bidang studi, yang meliputi tujuan, isi
pelajaran, urutan, dan cara mempelajarinya
(3) Karateristik mahasiswa, mencakup karateristik perilaku masukan
kognitif dan afektif, usia, jenis kelamin, dan yang lain
(4) Karateristik lingkungan/setting pembelajaran, mencakup kuantitas
dan kualitas prasarana, alokasi jam pertemuan, dan yang lainnya
(5) Karateristik dosen, meliputi filosofinya seorang pendidikan dan
pembelajaran , kompetensinya dalam teknik pembalajaran,
kebiasaannya, pengalaman kependidikannya dan yang lain
F. Pendekatan Keterampilan Proses Sebagai Bagian dari CBSA
Kegiatan pembelajaran dimaksudkan agar tercipta kondisi yang
memungkinan terjadinya belajar pada diri mahasiswa. Dalam suatu
kegiatan pembelajaran dapat dikatakan terjadi belajar, apabila terjadi
proses perubahan perilaku pada diri mahasiswa sebagai hasil dari suatu
pengalaman.
Dari jabatan kegaiatan pembelajaran tersebut, maka dapat
Diidentifikasikan dua aspek penting yang ada dalam kegiatan
pembelajaran tersebut . Aspek pertama adalah aspek hasil belajar yakni
perubahan perilaku pada diri mahasiswa. Aspek kedua adalah aspek
proses belajar yakni sejumlah pengalaman intelektual, emosional, dan
fisik pada diri mahasiswa
Penyelenggaraan pembelajaran seperti diidealkan pada alinea
sebelumnya seringkali tidak terwujud dalam realitasnya di kampus.
Kegiatan pengakaran seringkali didasarkan pada dua premis yang
terkadang tidak diungkapkan secara jelas.
Premis pertama, mengungkapkan bahwa mahasiswa belajar sesuatu
bukan karena hal yang dipelajari menarik atau menyenangkan baginya,
tetapi mahasiswa belajar hanya ingin menghindarkan diri dari
ketidaksenangan bila ia tidak belajar.
Premis kedua, mengungkapkan bahwa dosen merupakan motor
penggerak, yang membuat mahasiswa terus menerus belajar, dari pihak
mahasiswa tiada kegiatan belajar spontan. Mahasiswa seringkali
dipandang sebagai gentong kosong yang harus diisi oleh dosen dengan
air.
Adanya dua premis tersebut menyebabkan kegiatan pembelajaran
cenderung menjadi kegiatan penjajahan atau penjinakan daripada
kegiatan pemanusiaan, karena mahasiswa dijadikan objek kegiatan
pembelajaran
Salah satu jawaban atas pertanyaan tersebut adalah penerapan Pendekatan
Keterampilan Proses (PKP). Apabila dikaji lebih lanjut, kita akan tiba
pada kesimpulan bahwa penerapan PKP dalam kegiatan pembelajaran
didasarkan pada hal-hal berikut;
didapat hasil belajar yang optimal, ini berarti kegiatan pembelajaran
yang mampu memberi kesempatan kepada mahasiswa
memperlihatkan unjuk kerja melalui sejumlah keterampilan
memperoses semua fakta, konsep, dan prinsip sangat dibutuhkan
kebenaran ilmu, hal ini menuntut adanya pengenalan terhadap tata
cara pemrosesan dan pemerolehan kebenaran ilmu yang bersifat
kesementaraan
2. Pengertian Pendekatan keterampilan Proses dan Keterkaitannya
dengan CBSA. Pendekatan keterampilan proses dapat diartikan
sebagai wawasan atau anutan pengembangan keterampilan-
keterampilan intelektual, sosial, dan fisik yang bersumber dari
kemampuan-kemampuan mendasar yang pada prinsipnya telah ada
dalam diri mahasiswa (Debdikbud, 2000:b.7)
Justru PKP dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan-
kemampuan yang dimiliki oleh mahasiswa:
a. Pendekatan keterampilan proses memberikan kepada mahasiswa
pengertian yang tepat tentang hakikat ilmu pengetahuan. Mahasiswa
dapat mengalami rangsangan ilmu pengetahuan dan dapat lebih
baik mengerti fakta dan konsep ilmu pengetahuan
kepada mahasiswa bekerja dengan ilmu pengetahuan, tidak sekedar
menceritakan atau mendengarkan cerita tentang ilmu pengetahuan.
c. Menggunakan keterampilan proses untuk mengajar ilmu
pengetahuan membuat mahasiswa belajar proses dan produk ilmu
pengetahuan sekaligus
Kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian tentang Pendekatan
Keterampilan Proses adalah:
dan prinsip ilmu pengetahuan bagi diri mahasiswa
dikembangkan mahasiswa berperan pula menunjang pengembangan
keterampilan proses pada diri mahasiswa.
c. Interaksi antara pengembangan keterampilan, proses dengan fakta,
konsep, serta prinsip ilmu pengatahuan, pada akhirnya akan
mengembangkan sikap dan nilai ilmuwan pada diri mahasiswa
Pengertian pendekatan kerampilan (PKP) seperti dikemukakan sebelum
nya, menunjukkan pada kita bahwa penerapan PKP selalu menuntut
adanya keterlibatan fisik maupun mental-intelektual mahasiswa.
Ada berbagai keterampilan dalam keterampilan proses keterampilan-keterampilan tersebut terdiri dari keterampilan-keterampilan dasar (basic skills) dan keterampilan-keterampilan
(integrated skills). Keterampilan-keterampilan dasar terdiri dari enam keterampilan , yakni mengobservasi, mengklasifikasi,
memprediksi, mengukur, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. Sedangkan keterampilan-keterampilan
terintegrasi terdiri dari; mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi data, menyajikan data dalam bentuk grafik, menggambarkan hubungan antar-variabel, mengumpulkan dan mengolah data, menganalisa penelitian, menyusun hipotesis,
mendifinisikan variabel secara operasional, merancang penelitian dan melaksanakan eksperimen (Funk, 2000:13)
Sejumlah keterampilan proses yang dikemukakan oleh Funk, dalam
kurikulum (pedoman proses belajar mengajar) dikelompokkan
menjadi tujuh keterampilan proses. Adapun tujuh keterampilan proses
tersebut adalah mengamati, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan,
menerapkan, merencanakan, penelitian, dan mengkomunikasikan
(Depdikbud, 2000 : b.9-10)
Funk(2000) lebih lanjut mengemukakan, meskipun keterampilan-
keterampilan tersebut saling bergantung, masing-masing
menitikberatkan pada pengembangan suatu area keterampilan khusus.
Keterampilan-keterampilan proses merupakan dasar yang sebelumnya
menyediakan suatu landasan menuju keterampilan-keterampilan
terintegrasi yang lebih kompleks.
Contoh: untuk dapat mentabulasi data, terlebih dahulu seseorang harus
dapat mengukur
Pembahasan menyangkut mengapa suatu keterampilan proses penting
dikembangkan, pengertian keterampilan proses tersebut, dan kegiatan-
kegiatan yang menunjukkan penampakan dari keterampilan proses
Tersebut.
kita yang fantatis. Manusia mengamati objek-objek dan fenomena
alam pancaindera: penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman
b. Mengklasifikasi, agar kita memahami sejumlah besar objek,
peristiwa, dan segala yang ada dalam kehidupan di sekitar kita,
lebih mudah apabila menentukan berbagai jenis golongan.
orang lain merupakan dasar untuk segala yang kita kerjakan. Grafik,
bagan, peta, lambang-lambang, diagram, persamaan matematik,
dan demonstrasi visual, sama baiknya dengan kata-kata yang
ditulis atau dibicarakan, semuanya adalah cara-cara komunikasi
yang seringkali digunakan dalam ilmu pengetahuan.
kita perlu untuk memiliki kemampuan menjawabnya dengan mudah.
yang kemudian hari mungkin dapat diamati. Untuk dapat membuat prediksi yang dapat dipercaya tentang objek dan peristiwa, maka dapat dilakukan dengan memperhitungkan penentuan secara tepat perilaku terhadap lingkungan kita.
penghayatan yang lebih baik terhadap lingkungan kita, jikalau kita mampu menjabarkan dan menjelaskan segala sesuatu yang
membahagiakan dari sekitar kita.
Enam keterampilan yang telah diuraikan sebelumnya merupakan
keterampilan-keterampilan dasar dalam keterampilan proses, yang
menjadi landasan untuk keterampilan proses terintegrasi yang lebih
kompleks. Keterampilan proses terintegrasi pada hakikatnya
merupakan keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk
melakukan penelitian. Sepuluh keterampilan-keterampilan tersebut
akan diuraikan berikut ini.
4. Penerapan Keterampilan Proses dalam Pembelajaran
Penerapan PKP dalam pembelajaran bukan merupakan hal yang
mengada-ada akan tetapi merupakan hal yang wajar dan harus
dilaksanakan oleh setiap dosen dalam pembelajarannya
Untuk keterampilan dasar yakni mengobservasi, mengklarifikasi,
memprediksi, mengukur, menyimpulkan, dan
mengkomunikasikan pengembangannya tidak berhenti hanya
pada jenjang sekolah dasar.
Penerapan keterampilan terintegrasi dasar PKP tidak diperlukan
lagi uraian teorinya bagi siswa SLTP dan sekolah menengah yang
siswa mampu melakukannya.
Penerapan keterampilan terintegrasi PKP dalam pembelajaran
jenjang pendidikan SLTP dan sekolah menengah atas (SMA)
memerlukan pembahasan teori dari setiap keterampilan yang ada
di dalamnya.