1 of 31

A. Pendekatan CBSA dan Pendekatan Keterampilan Proses Dalam Pembelajaran Ilmu Komputer�

Pendekatan CBSA dapat diartikan sebagai anutan pembelajaran yang

mengarah kepada pengoptimalisasian pelibatan intelektual-emosional

mahasiswa dalam proses pembelajaran, dengan pelibatan fisik

mahasiswa apabila diperlukan. Pelibatan intelektual-emosional/fisik

mahasiswa dalam pembelajaran diarahkan untuk membelajarkan

mahasiswa memperoleh dan memproses perolehan belajarnya tentang

pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai.

Contoh-contoh:

Kegiatan psikis seperti yang sulit diamati. Kegiatan fisik yang dapat

diamati di antaranya dalam bentuk kegiatan membaca, mendengarkan,

Menulis, memperagakan, dan mengukur.

Kegiatan psikis seperti mengingat kembali isi pelajaran pertemuan sebelumnya, menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dala m memecahkan masalah yang dihadapi, menyimpulkan hasil eksperimen.

2 of 31

B. Rasionalisasi CBSA dalam Pembelajaran

Kita telah memasuki ambang “masyarakat belajar”, yaitu masyarakat

yang menghendaki pendidikan masa seumur hidup (Husen, 2000:41)

Gage dan Berliner secara sederhana mengungkapkan bahwa belajar

dapat didefinisikan sebagai sutau proses yang membuat seseorang

mengalami perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman yang

diperolehnya (Gage dan Barliner, 2000:252).

Dewey menandai bahwa belajar merupakan suatu proses yang

melibatkan manusia secara orang per orang sebagai satu kesatuan

organisasi sehingga terjadi perubahan pada pengetahuan, keterampilan,

dan sikapnya. Dengan demikian, dalam belajar orang tidak mungkin

melimpahkan tugas-tugas belajar kepada orang lain.

3 of 31

Dengan penerapan CBSA mahasiswa diharapkan akan lebih mampu

mengenal dan mengembangkan kapasitas belajar dan potensi yang

dimilikinya secara penuh, menyadari, dan dapat menggunakan potensi

sumber belajar yang terdapat di sekitarnya. Selain itu, mahasiswa

diharapkan lebih berlatih untuk berprakarsa, berpikir secara teratur,

kritis, tanggap dan dapat menyelesaikan masalah sehari-hari, serta

lebih terampil dalam menggali, menjelajah, mencari, dan

Mengembangkan informasi yang bermakna baginya.

Dengan penerapan CBSA, dosen diharapkan bekerja secara profesional,

Mengajar secara sistematis, dan berdasarkan prinsip didaktik metodik

yang berdaya guna dan berhasil guna (efisien dan efefktif). Artinya

dosen dapat merekayasa sistem pembelajaran yang mereka laksanakan

secara sistematis, dengan pemikiran mengapa dan bagaimana

menyelenggarakan kegiatan pembelajaran aktif (Raka Joni, 2000:11)

4 of 31

C. Kadar CBSA dalam Pembelajaran

Berdasarkan pembahsan sebelumnya kita dapat menandai adanya

rentangan/kadar ke CBSA-an dari peristiwa pembelajaran. Rentangan

(kontinum) ini terjadi sebagai akibat dari adanya kecenderungan

peristiwa pembelajaran yakni pembelajaran yang berorientasi

pada mahasiswa kepada mahasiswa, dan akan terjadi sebaliknya

bila arah pembelajaran cenderung berorientasi kepada dosen sebagai

pengajar.

5 of 31

Mc. Keachie mengemukakan 7 (tujuh) dimensi proses pembelajaran yang mengakibat kan terjadinya kadar ke-CBSA-an:

  • Adapun dimensi-dimensi yang dimaksud adalah:
  • Tekanan pada aspek afektif dalam belajar
  • Partisipasi mahasiswa dalam kegiatan pembelajaran, terutama

yang berbentuk interaksi antarmahasiswa

  • Kekohesifan (kekompakan) kelas sebagai kelompok
  • Kebebasan atau lebih tepat kesempatan yang diberikan kepada

mahasiswa untuk mengambil keputusan-keputusan penting

dalam kehidupan perguruan tinggi, dan

  • Jumlah waktu yang digunakan untuk menanggulangi masalah

pribadi mahasiswa, baik yang berhubungan maupun yang tidak

berhubungan dengan kelompok pembelajaran.

6 of 31

Yamamoto meninjau ke-CBSA-an suatu proses pembelajaran dari segi

kesadaran mahasiswa dan dosen yang terlibat di dalamnya, maka

diungkapkan bahwa proses pembelajaran yang optimal terjadi apabila

mahasiswa yang belajar maupun dosen yang membelajarkan memiliki

kesadaran dan kesengajaan terlihat dalam proses pembelajaran.

Kesadaran dan kesengajaan melibatkan diri dalam proses pembelajaran

pada diri mahasiswa dan dosen akan dapat memunculkan berbagai

interaksi pembelajaran.

7 of 31

Lindgren mengemukakan 4 (empat) kemungkinan interaksi

Pembelajaran, yakni:

  • Interaksi satu arah di mana dosen bertindak sebagai penyampai

pesan dan mahasiswa penerima pesan

  • Interaksi dua arah antara dosen-mahasiswa, di mana dosen

memperoleh balikan dari mahasiswa

  • Interaksi dua arah antara dosen-mahasiswa di mana dosen

mendapat balikan dari mahasiswa. Selain itu, mahasiswa saling

berinteraksi atau saling belajar satu dengan yang lain.

  • Interaksi optimal antara dosen-mahasiswa dan antara mahasiswa-

mahasiswa

8 of 31

Raka Joni (2000, 19-20) mengungkapkan bahwa perguruan tinggi yang

Ber-CBSA dengan baik mempunyai karateristik berikut:

  1. Pembelajaran yang dilakukan lebih berpusat pada mahasiswa,

sehingga mahasiswa berperan lebih aktif dalam mengembangkan

cara-cara belajar mandiri, mahasiswa berperan serta pada perencanaan

pelaksaanaan, dan penilaian proses belajar, pengalaman mahasiswa

lebih diutamakan dalam memutuskan titik tolak kegiatan.

(2) Dosen adalah pembimbing dalam terjadinya pengalaman belajar,

dosen bukan satu-satunya sumber informasi, dosen merupakan salah

satu sumber belajar, yang memberikan peluang bagi mahasiswa agar

dapat memperoleh pengetahuan/keterampilan melalui usaha sendiri

dapat mengembangkan pengalaman untuk membuat suatu karya

(3) Tujuan kegiatan tidak hanya untuk sekadar mengejar standar akademis

selain pencapaian standar akademis, kegiatan ditekankan untuk

mengembangkan kemampuan mahasiswa secara utuh dan seimbang

9 of 31

(4) Pengelolaan kegiatan pembelajaran lebih menekankan pada

kreativitas mahasiswa dan memperhatikan kemajuan mahasiswa

untuk mengatasi konsep-konsep dengan mantap

(5) Penilaian dilaksanakan untuk mengamati dan mengukur kegiatan

dan kemajuan mahasiswa, serta mengukur berbagai keteraampilan

yang dikembangkan misalnya keterampilan membuat program

visual Delphi, merakit komputer, membuat animasi multimedia

10 of 31

D. Rambu-Rambu Penyelenggaraan CBSA

Hakikat CBSA adalah keterlibatan intelektual-emosional mahasiswa

secara optimal dalam proses pembelajaran: dan setiap proses

pembelajaran memiliki kadar CBSA yang berbeda-beda. Agar kita

dapat menemukan kadar CBSA dari suatu proses pembelajaran, maka

perlu mengenal terlebih dahulu rambu-rambu penyelanggaraan CBSA.

Yang dimaksud dengan rambu-rambu CBSA adalah gejala-gejala yang

tampak pada perilaku mahasiswa dan dosen baik dalam program

maupun dalam proses pembelajaran.

11 of 31

Rambu-rambu yang dimaksud adalah:

  1. Kuantitas dan kualitas pengalaman yang membelajarkan meliputi

antara lain:

  • Kuantitas dan kualitas aktivitas yang melibatkan mahasiswa untuk

belajar langsung dari pengalaman belajar yang diciptakan

  • Kuantitas dan kualitas bahan pembalajaran yang memberikan

pengalaman belajar kepada mahasiswa untuk memperoleh dan

menemukan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan

(2) Prakarsa dan keinginan mahasiswa untuk ikut serta dalam proses pembelajaran meliputi antara lain:

  • Kesediaan mahasiswa dalam mencari dan menyediakan sumber

belajar yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran

  • Kesediaan mahasiswa untuk mengerjakan tugas-tugas belajar

yang ada dalam proses pembelajaran dan

  • Kuantitas dan kualitas untuk berbuat dan menghasilkan lebih

daripada yang diharapkan

12 of 31

(3) Prakarsa dan keberanian mahasiswa dalam mewujudkan minat,

kenginan, dan dorongan-dorongan yang ada pada dirinya, meliputi antara lain:

  • Kesediaan mahasiswa dalam mencari dan menyediakan sumber

belajar yang dibutuhkan dalam proses pembelajaran

  • Kesediaan mahasiswa untuk mengerjakan tugas-tugas belajar yang ada dalam proses pembelajaran, dan
  • Kuantitas dan kualitas untuk berbuat dan menghasilkan lebih

daripada yang diharapkan

13 of 31

(4) Usaha dan kreativitas mahasiswa dalam proses pembelajaran

meliputi antara lain:

  • Kuantitas dan kualitas usaha yang dilakukan mahasiswa dalam

mencari dan menentukan sumber-sumber belajar yang ditentukan

  • Kuantitas dan kualitas yang diajukan mahasiswa dalam memecahkan

permasalahan yang ada dalam proses pembelajaran dan

  • Keberanian mahasiswa untuk memilih cara kerja yang berbeda dari

cara kerja yang telah ditentukan oleh dosen

(5) Keinginan yang ada pada diri mahasiswa, meliputi antara lain:

  • Kuantitas dan kualitas pertanyaam yang diajukan kepada dosen
  • Kuantitas dan kualitas pertanyaan yang menyimpang dari topik

bahasan, dan

  • Kuantitas dan kualitas pertanyaan yang mengarah kepada penjelasan

masalah-masalah yang ada pada topik

14 of 31

(6) Keinginantahuan yang ada pada diri mahasiswa meliputi antara

lain:

  • Sebaran mahasiswa yang mengemukakan asal dan saran
  • Kuantitas dan kualitas respons dosen terhadap usul dan saran

mahasiswa serta

  • Penerimaan dosen terhadap usul dan saran yang menyimpang

(7) Kuantitas dan kualitas usaha yang dilakukan dosen dalam membina

dan mendorong keaktifan mahasiswa, meliputi antara lain:

  • Kuantitas dan kualitas yang diberikan oleh dosen atas pertanyaaan dan

jawaban mahasiswa

  • Kuantitas kesempatan yang diberikan kepada mahasiswa untuk

menyelesaikan tugas yang diberikan secara tuntas

15 of 31

(8) Kualitas dosen sebagai inovator dan fasilitator meliputi antara lain:

  • Kuantitas dan kualitas sumber-sumber belajar baru yang disediakan

oleh dosen

  • Kemauan dosen menyediakan sumber-sumber belajar yang

dibutuhkan mahasiswa dalam belajar

  • Kemauan dan kesediaan dosen untuk membantu mahasiswa yang

membutuhkan serta

  • Kuantitas dan kualitas dosen dalam menggunakan cara pembelajaran

yang baru

(9) Tingkat sikap dosen yang tidak mendominasi dalam proses

pembelajaran meliputi antara lain:

  • Kuantitas dalam menentukan bentuk dan jenis keinginan belajar

yang dilakukan oleh dosen

  • Kuantitas jawaban yang diberikan oleh dosen dalam menjawab

pertanyaan mahasiswa

16 of 31

(10) Kuantitas dan kualitas metode dan media yang dimanfaatkan dosen

dalam proses pembelajarn meliputi antara lain:

  • Fleksibilitas penerapan strategi dan metode pengajaran
  • Kuantitas jenis media yang digunakan dan
  • Jenis-jenis kegiatan/keterampilan yang dilibatkan dalam penggunaan

media

(11) Keterikatan dosen terhadap program pembelajaran meliputi antara

lain:

  • Keterikatan dosen terhadap tujuan yang dirumuskan dalam program

pembelajaran

  • Keterikatan dosen terhadap prosedur pembelajaran yang ditetapkan

dalam program pembelajaran dan

  • Keterikatan dosen terhadap sumber belajar yang telah ditetapkan

dalam program pembelajaran

17 of 31

(12) Variasi interkasi dosen mahasiswa dalam proses pembelajaran,

meliputi:

  • Kuantitas interaksi searah dosen mahasiswa
  • Kuantitas interaksi dua arah dosen mahasiswa
  • Kuantitas interaksi dua arah dosen-mahasiswa dan

mahasiswa-mahasiswa serta

  • Kuantitas interaksi multi-arah dosen-mahasiswa

(13) Kegiatan dan kegembiraan mahasiswa dalam belajar meliputi

antara lain:

  • Kuantitas mahasiswa yang mencatat informasi/pesan yang disajikan

dosen

  • Kuantitas mahasiswa yang mengganggu belajar mahasiswa lain

18 of 31

Panduan observasi atau instrumen yang digunakan untuk menentukan

kadar CBSA dari suatu program/proses pembelajaran, dapat diarahkan

untuk keperluan klasifikasi perseorangan.

E. Penerapan CBSA

Peningkatan kadar CBSA dari suatu proses pembelajaran berarti

pula mengarahkan proses pembelajaran yang berorientasi pada

mahasiswa, atau dengan kata lain menciptakan pembelajaran

berdasarkan mahasiswa (Student Based Instruction)

Konsekuensi yang harus diterima dari adanya pembelajaran

berdasarkan mahasiswa ialah:

  1. Dosen merupakan seorang pengelola (manager) dan perancang

(designer) dan pengalaman belajar

(2) Dosen dan mahasiswa menerima peran kerja sama (partnership)

(3) Bahan-bahan pembelajaran dipilih berdasarkan kelayakannya.

(4) Penting untuk melakukan identifikasi dan penuntasan syarat-syarat

belajar (learning requirement)

19 of 31

(5) Mahasiswa dilibatkan dalam pembelajaran

(6) Tujuan ditulis secara jelas

  1. Semua tujuan diukur/dites

Adanya konsekuensi dari penerapan pembelajaran berdasarkan

mahasiswa yang akan meningkatkan kadar CBSA suatu proses

pembelajaran, lebih jauh menuntut agar dosen: (1) memiliki khasanah

pengetahuan yang luas tentang teknik/cara penyampaian atas sistem

penyampaian, (2) memiliki krireria tertentu untuk memilih sistem

penyampaian yang tepat untuk memberikan pengalaman belajar kepada

mahasiswa yang terlihat dalam proses pembelajaran.

Nilai instrinsik gerakan untuk meningkatkan kadar CBSA dalam proses

pembelajaran juga muncul sebagai reaksi terhadap kecenderungan umum

penerapan pembelajaran berdasarkan dosen (teacher based instrusction).

pembelajaran berdasarkan dosen menunjukkan peran dosen sebagai

Leveransir (purveyor) informasi, sehingga pembelajaran hanya sekedar

proses perekaman informasi oleh mahasiswa

20 of 31

Untuk dapat mengelola dan merancang program pembelajaran dan

proses pembelajaran, seorang dosen hendaknya mengenal faktor-faktor

penentu kegiatan pembelajaran. Faktor-faktor penentu tersebut adalah:

  1. Karateristik tujuan, yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan

nilai yang ingin dicapai atau ditingkatkan sebagai hasil kegiatan

(2) Karateristik mana pelajaran/bidang studi, yang meliputi tujuan, isi

pelajaran, urutan, dan cara mempelajarinya

(3) Karateristik mahasiswa, mencakup karateristik perilaku masukan

kognitif dan afektif, usia, jenis kelamin, dan yang lain

(4) Karateristik lingkungan/setting pembelajaran, mencakup kuantitas

dan kualitas prasarana, alokasi jam pertemuan, dan yang lainnya

(5) Karateristik dosen, meliputi filosofinya seorang pendidikan dan

pembelajaran , kompetensinya dalam teknik pembalajaran,

kebiasaannya, pengalaman kependidikannya dan yang lain

21 of 31

F. Pendekatan Keterampilan Proses Sebagai Bagian dari CBSA

  1. Rasionalisasi Pendekatan Keterampilan Proses dalam Pengajaran

Kegiatan pembelajaran dimaksudkan agar tercipta kondisi yang

memungkinan terjadinya belajar pada diri mahasiswa. Dalam suatu

kegiatan pembelajaran dapat dikatakan terjadi belajar, apabila terjadi

proses perubahan perilaku pada diri mahasiswa sebagai hasil dari suatu

pengalaman.

Dari jabatan kegaiatan pembelajaran tersebut, maka dapat

Diidentifikasikan dua aspek penting yang ada dalam kegiatan

pembelajaran tersebut . Aspek pertama adalah aspek hasil belajar yakni

perubahan perilaku pada diri mahasiswa. Aspek kedua adalah aspek

proses belajar yakni sejumlah pengalaman intelektual, emosional, dan

fisik pada diri mahasiswa

22 of 31

Penyelenggaraan pembelajaran seperti diidealkan pada alinea

sebelumnya seringkali tidak terwujud dalam realitasnya di kampus.

Kegiatan pengakaran seringkali didasarkan pada dua premis yang

terkadang tidak diungkapkan secara jelas.

Premis pertama, mengungkapkan bahwa mahasiswa belajar sesuatu

bukan karena hal yang dipelajari menarik atau menyenangkan baginya,

tetapi mahasiswa belajar hanya ingin menghindarkan diri dari

ketidaksenangan bila ia tidak belajar.

Premis kedua, mengungkapkan bahwa dosen merupakan motor

penggerak, yang membuat mahasiswa terus menerus belajar, dari pihak

mahasiswa tiada kegiatan belajar spontan. Mahasiswa seringkali

dipandang sebagai gentong kosong yang harus diisi oleh dosen dengan

air.

Adanya dua premis tersebut menyebabkan kegiatan pembelajaran

cenderung menjadi kegiatan penjajahan atau penjinakan daripada

kegiatan pemanusiaan, karena mahasiswa dijadikan objek kegiatan

pembelajaran

23 of 31

Salah satu jawaban atas pertanyaan tersebut adalah penerapan Pendekatan

Keterampilan Proses (PKP). Apabila dikaji lebih lanjut, kita akan tiba

pada kesimpulan bahwa penerapan PKP dalam kegiatan pembelajaran

didasarkan pada hal-hal berikut;

  1. Percepat perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi
  2. Pengalaman intelektual, emosional, dan fisik dibutuhkan agar

didapat hasil belajar yang optimal, ini berarti kegiatan pembelajaran

yang mampu memberi kesempatan kepada mahasiswa

memperlihatkan unjuk kerja melalui sejumlah keterampilan

memperoses semua fakta, konsep, dan prinsip sangat dibutuhkan

  1. Penanaman sikap dan nilai sebagai pengabdi pencarian abadi

kebenaran ilmu, hal ini menuntut adanya pengenalan terhadap tata

cara pemrosesan dan pemerolehan kebenaran ilmu yang bersifat

kesementaraan

24 of 31

2. Pengertian Pendekatan keterampilan Proses dan Keterkaitannya

dengan CBSA. Pendekatan keterampilan proses dapat diartikan

sebagai wawasan atau anutan pengembangan keterampilan-

keterampilan intelektual, sosial, dan fisik yang bersumber dari

kemampuan-kemampuan mendasar yang pada prinsipnya telah ada

dalam diri mahasiswa (Debdikbud, 2000:b.7)

Justru PKP dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan-

kemampuan yang dimiliki oleh mahasiswa:

a. Pendekatan keterampilan proses memberikan kepada mahasiswa

pengertian yang tepat tentang hakikat ilmu pengetahuan. Mahasiswa

dapat mengalami rangsangan ilmu pengetahuan dan dapat lebih

baik mengerti fakta dan konsep ilmu pengetahuan

  1. Mengajar dengan keterampilan proses berarti memberi kesempatan

kepada mahasiswa bekerja dengan ilmu pengetahuan, tidak sekedar

menceritakan atau mendengarkan cerita tentang ilmu pengetahuan.

c. Menggunakan keterampilan proses untuk mengajar ilmu

pengetahuan membuat mahasiswa belajar proses dan produk ilmu

pengetahuan sekaligus

25 of 31

Kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian tentang Pendekatan

Keterampilan Proses adalah:

  1. PKP sebagai wahana penemuan dan pengembangan fakta, konsep,

dan prinsip ilmu pengetahuan bagi diri mahasiswa

  1. Fakta, konsep, dan prinsip ilmu pengetahuan yang ditemukan dan

dikembangkan mahasiswa berperan pula menunjang pengembangan

keterampilan proses pada diri mahasiswa.

c. Interaksi antara pengembangan keterampilan, proses dengan fakta,

konsep, serta prinsip ilmu pengatahuan, pada akhirnya akan

mengembangkan sikap dan nilai ilmuwan pada diri mahasiswa

Pengertian pendekatan kerampilan (PKP) seperti dikemukakan sebelum

nya, menunjukkan pada kita bahwa penerapan PKP selalu menuntut

adanya keterlibatan fisik maupun mental-intelektual mahasiswa.

26 of 31

  1. Jenis-jenis Keterampilan dalam Keterampilan Proses

Ada berbagai keterampilan dalam keterampilan proses keterampilan-keterampilan tersebut terdiri dari keterampilan-keterampilan dasar (basic skills) dan keterampilan-keterampilan

(integrated skills). Keterampilan-keterampilan dasar terdiri dari enam keterampilan , yakni mengobservasi, mengklasifikasi,

memprediksi, mengukur, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. Sedangkan keterampilan-keterampilan

terintegrasi terdiri dari; mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi data, menyajikan data dalam bentuk grafik, menggambarkan hubungan antar-variabel, mengumpulkan dan mengolah data, menganalisa penelitian, menyusun hipotesis,

mendifinisikan variabel secara operasional, merancang penelitian dan melaksanakan eksperimen (Funk, 2000:13)

27 of 31

Sejumlah keterampilan proses yang dikemukakan oleh Funk, dalam

kurikulum (pedoman proses belajar mengajar) dikelompokkan

menjadi tujuh keterampilan proses. Adapun tujuh keterampilan proses

tersebut adalah mengamati, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan,

menerapkan, merencanakan, penelitian, dan mengkomunikasikan

(Depdikbud, 2000 : b.9-10)

Funk(2000) lebih lanjut mengemukakan, meskipun keterampilan-

keterampilan tersebut saling bergantung, masing-masing

menitikberatkan pada pengembangan suatu area keterampilan khusus.

Keterampilan-keterampilan proses merupakan dasar yang sebelumnya

menyediakan suatu landasan menuju keterampilan-keterampilan

terintegrasi yang lebih kompleks.

Contoh: untuk dapat mentabulasi data, terlebih dahulu seseorang harus

dapat mengukur

28 of 31

Pembahasan menyangkut mengapa suatu keterampilan proses penting

dikembangkan, pengertian keterampilan proses tersebut, dan kegiatan-

kegiatan yang menunjukkan penampakan dari keterampilan proses

Tersebut.

  1. Mengamati, melalui mengamati, kita belajar tentang dunia sekitar

kita yang fantatis. Manusia mengamati objek-objek dan fenomena

alam pancaindera: penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman

b. Mengklasifikasi, agar kita memahami sejumlah besar objek,

peristiwa, dan segala yang ada dalam kehidupan di sekitar kita,

lebih mudah apabila menentukan berbagai jenis golongan.

  1. Mengkomunikasikan, kemampuan mengkomunikasikan dengan

orang lain merupakan dasar untuk segala yang kita kerjakan. Grafik,

bagan, peta, lambang-lambang, diagram, persamaan matematik,

dan demonstrasi visual, sama baiknya dengan kata-kata yang

ditulis atau dibicarakan, semuanya adalah cara-cara komunikasi

yang seringkali digunakan dalam ilmu pengetahuan.

29 of 31

  1. Mengukur, berapa banyak? berapa banyaknya? Berapa ukurannya? Berapa jumlahnya? Pertanyaan-pertanyaaan ini sering kita dengar atau ajukan dalam kehidupan sehari-hari, dan

kita perlu untuk memiliki kemampuan menjawabnya dengan mudah.

  1. Memprediksi, suatu prediksi merupakan suatu ramalan dari apa

yang kemudian hari mungkin dapat diamati. Untuk dapat membuat prediksi yang dapat dipercaya tentang objek dan peristiwa, maka dapat dilakukan dengan memperhitungkan penentuan secara tepat perilaku terhadap lingkungan kita.

  1. Menyimpulkan, kita mempunyai suatu pengharapan dan

penghayatan yang lebih baik terhadap lingkungan kita, jikalau kita mampu menjabarkan dan menjelaskan segala sesuatu yang

membahagiakan dari sekitar kita.

30 of 31

Enam keterampilan yang telah diuraikan sebelumnya merupakan

keterampilan-keterampilan dasar dalam keterampilan proses, yang

menjadi landasan untuk keterampilan proses terintegrasi yang lebih

kompleks. Keterampilan proses terintegrasi pada hakikatnya

merupakan keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk

melakukan penelitian. Sepuluh keterampilan-keterampilan tersebut

akan diuraikan berikut ini.

  1. Mengenali variabel
  2. Membuat tabel data’
  3. Membuat grafik
  4. Menggambarkan hubungan antar-variabel
  5. Mengumpulkan dan mengolah data
  6. Menganalisa penelitian
  7. Menyusun hipotesis
  8. Mendefisinikan variabel
  9. Merancang penelitian
  10. Bereksperimen

31 of 31

4. Penerapan Keterampilan Proses dalam Pembelajaran

Penerapan PKP dalam pembelajaran bukan merupakan hal yang

mengada-ada akan tetapi merupakan hal yang wajar dan harus

dilaksanakan oleh setiap dosen dalam pembelajarannya

Untuk keterampilan dasar yakni mengobservasi, mengklarifikasi,

memprediksi, mengukur, menyimpulkan, dan

mengkomunikasikan pengembangannya tidak berhenti hanya

pada jenjang sekolah dasar.

Penerapan keterampilan terintegrasi dasar PKP tidak diperlukan

lagi uraian teorinya bagi siswa SLTP dan sekolah menengah yang

siswa mampu melakukannya.

Penerapan keterampilan terintegrasi PKP dalam pembelajaran

jenjang pendidikan SLTP dan sekolah menengah atas (SMA)

memerlukan pembahasan teori dari setiap keterampilan yang ada

di dalamnya.