PROSES PENYUSUNAN KURIKULUM OPERASIONAL
DI SATUAN PENDIDIKAN
ASINKRON
Terlebih dahulu, mari kita pahami kerangka dasar dan struktur kurikulum!
Bagaimana proses penyusunan kurikulum operasional satuan pendidikan?
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
3
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
4
TETAP
Ditetapkan oleh pemerintah pusat
FLEKSIBEL/DINAMIS
Satuan pendidikan mengembangkan kurikulum operasional berdasarkan kerangka dan struktur kurikulum, sesuai karakteristik satuan pendidikan
Tujuan Pendidikan Nasional
Profil Pelajar Pancasila
Standar Kompetensi Lulusan
(untuk PAUD STPPA)
Standar Isi
Standar Proses
Capaian Pembelajaran
Standar lainnya
Struktur Kurikulum
Prinsip Pembelajaran dan Asesmen
Standar Penilaian
Kerangka Dasar Kurikulum ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dengan mengacu pada Tujuan Pendidikan Nasional dan SNP
Contoh Perangkat Ajar: Buku Teks Pelajaran, Bahan Ajar, modul ajar mata pelajaran dan projek profil pelajar Pancasila, contoh kurikulum satuan pendidikan
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
Memahami Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum
Kerangka berisi tujuan-tujuan yang hendak dicapai dalam konteks luas dan jangka panjang. Diharapkan kerangka dasar ini menjadi kompas dalam menunjukkan arah pendidikan Indonesia. Berikut sekilas penjelasan mengenai dokumen pendukung atau dokumen yang selalu menjadi rujukan ketika mengembangkan kurikulum satuan pendidikan
5
Tujuan Pendidikan Nasional | Tujuan Pendidikan Nasional menjadi rujukan dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Tujuan Pendidikan Nasional ini sudah diterjemahkan dalam Profil Pelajar Pancasila. |
Profil Pelajar Pancasila | Profil Pelajar Pancasila berperan menjadi penuntun arah yang memandu segala kebijakan dan pembaharuan dalam sistem pendidikan Indonesia, termasuk kurikulum, pembelajaran, dan asesmen. Dari perspektif penyusunan kurikulum, Profil Pelajar Pancasila adalah tujuan besar (aim) atau aspirasi yang perlu dicapai, atau yang disebut juga dengan long-term outcomes (luaran jangka panjang). Profil Pelajar Pancasila merupakan interpretasi dari Tujuan Pendidikan Nasional dan visi pendidikan Indonesia, yang digunakan sebagai rujukan penyusunan Standar Nasional Pendidikan dan kurikulum |
Standar Nasional Pendidikan | Standar Pendidikan yang diacu sebagai kerangka dan sudah diterjemahkan pada Struktur Kurikulum, Prinsip Pembelajaran dan Asesmen, serta Capaian Pembelajaran |
Struktur Kurikulum | Struktur Kurikulum yang ditetapkan oleh Pemerintah menjadi acuan sekolah untuk mengembangkan kurikulum menuju tercapainya Profil Pelajar Pancasila dapat ditambahkan dengan kekhasan sekolah sesuai dengan visi, misi, dan tujuan sekolah. Struktur kurikulum ini berisi kegiatan intrakurikuler, termasuk pembelajaran berbasis projek untuk penguatan profil Pelajar Pancasila. |
Prinsip Pembelajaran dan Asesmen | Prinsip Pembelajaran dan Asesmen menjadi rujukan dalam menyelenggarakan pembelajaran dan asesmen di sekolah. |
Capaian Pembelajaran | Capaian Pembelajaran merupakan kompetensi yang harus dicapai peserta didik sesuai dengan fase perkembangannya. |
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
Usai memahami tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum, mari kita pelajari proses penyusunan kurikulum di satuan pendidikan!
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
7
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
8
Kerangka dasar kurikulum yang ditetapkan oleh pusat
TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL
PROFIL PELAJAR PANCASILA
Struktur Kurikulum
Prinsip Pembelajaran dan Asesmen
Capaian Pembelajaran
Merumuskan
VISI
MISI
TUJUAN
evaluasi jangka panjang (4-5 tahun)
evaluasi jangka pendek (semester/tahunan)
Proses Penyusunan Kurikulum Operasional di Satuan Pendidikan
SNP
Menganalisis konteks KARAKTERISTIK SATUAN
PENDIDIKAN
Menentukan PENGORGANISASIAN
PEMBELAJARAN
Menyusun
RENCANA PEMBELAJARAN
Merancang
PENDAMPINGAN, EVALUASI, DAN PENGEMBANGAN PROFESIONAL
TETAP
Ditetapkan oleh pemerintah pusat
FLEKSIBEL/DINAMIS
Satuan pendidikan mengembangkan kurikulum operasional berdasarkan kerangka dan struktur kurikulum, sesuai karakteristik dan kebutuhan satuan pendidikan
.
.
1
2
3
4
5
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
Proses Penyusunan kurikulum operasional di Satuan Pendidikan
9
Dalam penyelenggaraannya, kurikulum operasional sekolah perlu menjadi dokumen yang hidup; menjadi referensi dalam keseharian, direfleksikan, dan terus dikembangkan. Penyusunan dokumen kurikulum operasional sekolah dari awal, hendaknya dimulai dengan memahami secara utuh kerangka dasar kurikulum yang ditetapkan oleh Pemerintah, antara lain Tujuan Pendidikan Nasional, Profil Pelajar Pancasila, SNP, Struktur Kurikulum, Prinsip Pembelajaran dan Asesmen, serta Capaian Pembelajaran.
Bagi yang sudah memiliki dokumen kurikulum operasional satuan pendidikan, dapat langsung melakukan peninjauan dan revisi.
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
Analisis Karakteristik Satuan Pendidikan untuk menentukan Visi, Misi, dan Tujuan
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
Bagian ini akan menjawab beberapa pertanyaan berikut ini:
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
Proses Berpikir untuk Menganalisis Karakteristik Satuan Pendidikan dan Merumuskan Visi, Misi, Tujuan
Analisis Lingkungan Belajar Satuan Pendidikan
Belum
Sudah
Merumuskan Visi-Misi-Tujuan Satuan Pendidikan
Sudah
Analisis Kebutuhan Satuan Pendidikan
Menyusun Strategi
Dalam menyusun kurikulum operasional satuan pendidikan, setiap komponennya dapat dikembangkan melalui proses reversibel (bolak balik) antara analisis lingkungan belajar satuan pendidikan, visi-misi satuan pendidikan, serta tujuan dan strateginya. Dalam perencanaan, penting bagi sekolah untuk mengumpulkan berbagai data untuk mendapatkan informasi yang komprehensif. Informasi ini kemudian dianalisis untuk memberikan kesimpulan yang tepat bagi perencanaan yang optimal. Satuan pendidikan dapat menggunakan berbagai cara yang dinilai sesuai dengan kebutuhan berproses selama hasilnya selaras antarkomponennya.
Apakah satuan pendidikan sudah memiliki visi-misi-tujuan yang ajek?
Apakah sudah memiliki analisis kebutuhan satuan pendidikan?
Apakah sudah memiliki strategi?
Belum
Belum
Mendesain pengorganisasian pembelajaran
Sudah
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
Analisis Karakteristik Satuan Pendidikan
Sebelum mengembangkan kurikulum satuan pendidikan, sekolah perlu melakukan analisis karakteristik dan lingkungan belajar dengan menampung aspirasi anggota komunitas, dan menjadikan visi dan misi sebagai arahan yang disepakati oleh seluruh warga satuan pendidikan.
Prinsip-prinsip analisis lingkungan belajar:
Contoh informasi yang perlu didapatkan dalam analisis lingkungan belajar satuan pendidikan:
Berikut adalah pilihan cara untuk mengumpulkan informasi
Beberapa alat yang dapat digunakan untuk menganalisis informasi:
13
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
[CONTOH] Proses Analisis Karakteristik Satuan Pendidikan
14
Analisis kebutuhan satuan pendidikan |
Peserta didik
Guru dan tenaga kependidikan
Sarana dan prasarana
|
|
|
Strategi
Analisis lingkungan belajar |
Sumber daya alam, sosial, dan budaya
Sumber pendanaan
Sistem dan kebijakan di daerah
Kemitraan
|
|
|
Visi - Misi - Tujuan | |
Review Visi Misi
| |
Review Tujuan
|
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
Visi, Misi, dan Tujuan
15
Visi adalah cita-cita bersama pada masa mendatang dari warga satuan pendidikan, yang dirumuskan berdasarkan masukan dari seluruh warga satuan pendidikan. |
|
Misi adalah pernyataan bagaimana satuan pendidikan mencapai visi. yang ditetapkan untuk menjadi rujukan bagi penyusunan program jangka pendek, menengah, dan jangka panjang, dengan berdasarkan masukan dari seluruh warga satuan pendidikan. |
|
Tujuan adalah gambaran hasil yang akan dicapai dalam kurun waktu tertentu oleh setiap satuan pendidikan atau program keahlian dengan mengacu pada karakteristik dan/atau keunikan setiap satuan pendidikan sesuai dengan prinsip yang sudah ditetapkan. |
|
Visi, misi, dan tujuan menjadi referensi arah pengembangan dan menunjukkan prioritas satuan pendidikan.
Merumuskan visi, misi, dan tujuan satuan pendidikan merupakan langkah awal yang sangat penting sebagai acuan utama dalam merancang pembelajaran yang berkualitas. Untuk satuan pendidikan, visi, misi, dan tujuan harus berpusat pada peserta didik.
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
[CONTOH]
Membuat Visi
16
Peserta didik | Staf/guru | Orang tua |
|
|
|
TIPS
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
[CONTOH]
Membuat Misi
17
TIPS
Untuk membuat kalimat aksi yang jelas, gunakan kata kerja operasional yang bersifat umum yang masih bisa diterjemahkan menjadi pernyataan spesifik. Contoh:
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
[CONTOH]
Membuat Tujuan Satuan Pendidikan atau Program Keahlian
Tujuan dibuat untuk menerjemahkan kalimat tindakan dalam misi menjadi aksi-aksi spesifik dan terukur. Aksi-aksi inilah yang selanjutnya akan digunakan manajemen satuan pendidikan untuk menyusun program kerja yang akan direfleksikan dan dievaluasi dalam kurun waktu tertentu.
Prinsip penting dalam membuat tujuan:
Selain prinsip ini, hal penting lainnya adalah:
18
S M A R T ( E R )
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
[CONTOH]
Membuat Tujuan Satuan Pendidikan atau Program Keahlian
19
Specific, Sederhana dan jelas | Measurable Ada satuan ukuran atau kriteria ketercapaian | Attainable Masuk akal dan dapat dicapai | Relevant Relevan dengan misi dan berpihak pada peserta didik | Time bound Ada alokasi waktu pencapaian |
tentang program unggulan satuan pendidikan | dapat diukur dengan contoh kriteria :
| program dan alokasi waktu masuk akal | tujuan untuk meningkatkan kompetensi peserta didik | satu kali setiap akhir semester |
Menyelenggarakan program unggulan yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi peserta didik satu kali setiap akhir semester
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
Merumuskan Tujuan yang Berpusat Pada Peserta Didik
Tujuan harus selalu merupakan perwujudan dari visi dan misi, dan tujuan sekolah harus mencerminkan karakteristik atau hasil yang akan dicapai oleh peserta didik. Karakteristik tersebut mencakup berbagai kapasitas dan tanggung jawab seseorang yang mencakup pertumbuhan intelektual, pribadi, emosional dan sosial.
Prinsip-prinsip dalam merumuskan tujuan yang berpusat pada peserta didik :
TIPS
20
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
CONTOH:
Analisis Kebutuhan untuk Mencapai Tujuan
21
Analisis kekuatan, kelemahan, peluang, serta ancaman atau yang biasa kita sebut sebagai SWOT merupakan cara yang umum dilakukan dalam mengenali satuan pendidikan dan lingkungannya serta menyusun strategi untuk mengembangkan dan mengatasi permasalahan satuan pendidikan.
S (strength/kekuatan) | W (weakness/kelemahan) | O (opportunity/peluang) | T (threat/ancaman) |
internal | eksternal | ||
situasi atau kondisi yang merupakan kekuatan yang dimiliki satuan pendidikan yang bisa memberikan pengaruh positif pada saat ini atau pun di masa yang akan datang. | situasi atau kondisi yang merupakan kelemahan yang dimiliki satuan pendidikan yang bisa memberikan pengaruh negatif pada saat ini atau pun di masa yang akan datang. | situasi atau kondisi yang merupakan peluang atau kesempatan di luar satuan pendidikan yang bisa memberikan peluang untuk berkembang di kemudian hari. | Ancaman atau tantangan apa saja yang mungkin akan dihadapi satuan pendidikan yang bisa menghambat laju perkembangan satuan pendidikan. |
|
|
|
|
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
LANJUTAN CONTOH
Analisis Kebutuhan untuk Mencapai Tujuan
22
| Strength Kekuatan | Weakness Kelemahan |
|
|
|
Opportunity Peluang | Bagaimana satuan pendidikan memanfaatkan kekuatan untuk mengoptimalkan peluang? Bagaimana satuan pendidikan memanfaatkan peluang untuk mengoptimalkan kekuatan?
| Bagaimana satuan pendidikan memanfaatkan peluang untuk mengurangi atau menghindari kelemahan?
|
| ||
Threat Ancaman | Bagaimana satuan pendidikan memanfaatkan kekuatan untuk meminimalkan dampak dan menghadapi ancaman/tantangan?
| Apa yang dapat dilakukan satuan pendidikan untuk mengurangi kelemahan dan menghadapi ancaman/tantangan?
|
|
internal
eksternal
Setelah mengidentifikasi SWOT (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman/tantangan), satuan pendidikan dapat mencari strategi-strategi yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan proses belajar mengajar secara menyeluruh (internal dan eksternal).
Strategi
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
Menganalisis Kebutuhan untuk Mengorganisasi Pembelajaran
Berikut adalah pilihan cara untuk mengambil data untuk analisis kebutuhan satuan pendidikan
Alat-alat yang biasanya digunakan untuk melakukan analisis:
23
Ketika akan menyusun strategi pengorganisasian pembelajaran, satuan pendidikan perlu melakukan analisis kebutuhan. Analisis kebutuhan dapat membantu menjabarkan kondisi satuan pendidikan saat ini dan kesenjangannya dengan kondisi yang diharapkan dalam visi. Oleh karena itu, langkah menganalisis kebutuhan dilakukan secara berkesinambungan dengan penyusunan strategi.
Prinsip-prinsip analisis kebutuhan satuan pendidikan :
Saat melakukan analisis kebutuhan, satuan pendidikan juga dapat langsung merancang strategi-strategi berdasarkan informasi yang telah diperoleh. Strategi mengarah langsung pada program-program yang akan dijalankan satuan pendidikan untuk mencapai tujuan, berdasarkan kekuatan dan kelemahan serta tantangan dan kesempatan yang dimiliki.
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
[CONTOH REFLEKSI]
Menentukan Strategi untuk Mengorganisasi Pembelajaran
Untuk menentukan pengorganisasian pembelajaran yang tepat sesuai dengan konteks dan kebutuhan peserta didik, berikut beberapa contoh pertanyaan pemantik yang dapat membantu tim yang terlibat kurikulum mencari strategi pembelajaran yang tepat. Telisik kembali keselarasan antara program pengembangan guru, tujuan satuan pendidikan , konsep dan landasan satuan pendidikan, serta lingkungan belajar. Semuanya harus selaras dan saling menguatkan.
24
CONTOH PERTANYAAN ANALISIS KEBUTUHAN | STRATEGI UNTUK MENGORGANISASI PEMBELAJARAN |
|
|
|
|
|
|
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
Menyelaraskan Visi, Misi, dan Tujuan Satuan Pendidikan
TIPS
Saat melakukan analisis lingkungan belajar, pastikan visi, misi, dan tujuan tidak bertentangan dengan kerangka kurikulum yang ditetapkan oleh pusat: Tujuan Pendidikan Nasional, Pelajar Pancasila, Struktur Kurikulum, Prinsip Pembelajaran dan Asesmen, serta Capaian Pembelajaran.
25
VISI Apakah visi menggambarkan harapan seluruh warga satuan pendidikan? Apakah visi menyatakan tujuan besar yang ingin dicapai satuan pendidikan? Apakah visi sudah berpusat pada peserta didik? | ||
MISI Apakah misi jelas menyatakan hal-hal yang perlu dilakukan untuk mencapai visi? Apakah semua warga satuan pendidikan memahami hal-hal yang menjadi prioritas untuk mencapai visi? | ||
TUJUAN Apakah tujuan sudah secara jelas menyatakan hasil aksi yang perlu dilakukan untuk mencapai misi? Apakah cara/strategi untuk mencapai misi realistis untuk dijalankan? | ||
STRATEGI PENGORGANISASIAN PEMBELAJARAN Bagaimana satuan pendidikan mengorganisasi pembelajarannya untuk mencapai tujuan? Apa saja faktor yang mendukung strategi tersebut? Bagaimana mengoptimalkan faktor-faktor tersebut? |
Profil Pelajar Pancasila
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
Pengorganisasian Pembelajaran Satuan Pendidikan
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
Bagian ini akan menjawab beberapa pertanyaan berikut ini:
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
28
Budaya Sekolah
Iklim sekolah, kebijakan, pola interaksi dan komunikasi, serta norma yang berlaku di sekolah.
Intrakurikuler
Muatan Pelajaran
Kegiatan/pengalaman belajar.
Projek penguatan profil Pelajar Pancasila
Projek Lintas Disiplin Ilmu yang kontekstual dan berbasis pada kebutuhan masyarakat/permasalahan di lingkungan sekolah.
Ekstrakurikuler
Kegiatan untuk mengembangkan minat dan bakat.
Gambaran Penerapan profil Pelajar Pancasila di Satuan Pendidikan
Profil Pelajar Pancasila adalah karakter dan kemampuan yang dibangun dalam keseharian dan dihidupkan dalam diri setiap individu peserta didik melalui budaya sekolah, pembelajaran intrakurikuler, projek penguatan profil Pelajar Pancasila, maupun ekstrakurikuler.
Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia
Berkebinekaan global
Bergotong royong
Kreatif
Bernalar kritis
Mandiri
Pelajar Indonesia
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
Penjelasan Struktur Kurikulum di Satuan Pendidikan
29
| PROGRAM INTRA-KURIKULER | PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA | PROGRAM EKSTRAKURIKULER |
Tujuan | Mengembangkan kompetensi pelajar sesuai CP | Menguatkan Profil Pelajar Pancasila dan membangun pemahaman mengenai isu-isu penting dan melatih kemampuan penyelesaian masalah dalam tema atau isu penting terkait Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals, SDGs) | Sarana bagi peserta didik untuk mengeksplorasi dan melatih keterampilan sesuai minat dan bakat peserta didik |
Metode |
|
|
|
Hasil |
|
|
|
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
Prinsip Pembelajaran
Prinsip Asesmen
Prinsip Pembelajaran dan Asesmen
Prinsip Pembelajaran dan Asesmen harus digunakan secara terintegrasi sebagai pertimbangan utama dalam merancang struktur kurikulum satuan pendidikan. Untuk dapat membuat keputusan-keputusan dalam kelas lebih tepat, guru perlu memahami prinsip pembelajaran dan asesmen ini. Detail penjelasan dapat merujuk ke dokumen Prinsip Pembelajaran dan Asesmen.
Pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan tingkat pencapaian peserta didik saat ini, sesuai kebutuhan belajar, serta mencerminkan karakteristik dan perkembangan yang beragam sehingga pembelajaran menjadi bermakna dan menyenangkan. | Pembelajaran dirancang dan dilaksanakan untuk membangun kapasitas untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. | Proses pembelajaran mendukung perkembangan kompetensi dan karakter peserta didik secara holistik. | Pembelajaran yang relevan, yaitu pembelajaran yang dirancang sesuai konteks, lingkungan dan budaya peserta didik, serta melibatkan orang tua dan masyarakat sebagai mitra. | Pembelajaran berorientasi pada masa depan yang berkelanjutan. |
Asesmen merupakan bagian terpadu dari proses pembelajaran, memfasilitasi pembelajaran, dan menyediakan informasi yang holistik sebagai umpan balik untuk guru, peserta didik, dan orang tua, agar dapat memandu mereka dalam menentukan strategi pembelajaran selanjutnya | Asesmen dirancang dan dilakukan sesuai dengan fungsi asesmen tersebut, dengan keleluasaan untuk menentukan teknik dan waktu pelaksanaan asesmen agar efektif mencapai tujuan pembelajaran | Asesmen dirancang secara adil, proporsional, valid, dan dapat dipercaya (reliable) untuk menjelaskan kemajuan belajar dan menentukan keputusan tentang langkah selanjutnya. | Laporan kemajuan belajar dan pencapaian peserta didik bersifat sederhana dan informatif, memberikan informasi yang bermanfaat tentang karakter dan kompetensi yang dicapai serta strategi tindak lanjutnya | Hasil asesmen digunakan oleh peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua sebagai bahan refleksi untuk meningkatkan mutu pembelajaran |
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
Merancang Pengorganisasian Pembelajaran di Satuan Pendidikan
Pengorganisasian pembelajaran adalah cara satuan pendidikan mengatur pembelajaran muatan kurikulum dalam satu rentang waktu. Pengorganisasian ini termasuk pula mengatur beban belajar, mata pelajaran dan area belajar, kapan mata pelajaran dan area belajar, serta bagaimana mata pelajaran dan area belajar tersebut akan dihantarkan. Pengorganisasian pembelajaran juga meliputi pengaturan mata pelajaran inti dan pilihan ( tema-tema), program ekstrakurikuler dan projek penguatan profil Pelajar Pancasila yang dipelajari dalam satu tahun ajaran:
31
Desain pembelajaran perlu dilakukan secara “mundur”, diawali dari hasil akhir. Hasil akhir perlu dinyatakan agar seluruh warga satuan pendidikan berkomitmen dan berkolaborasi untuk mencapainya. Jika kurikulum hanya menuliskan sederet konten (materi) maka hal ini akan mengakibatkan semua orang bekerja secara terpisah-pisah.
Struktur kurikulum | Intrakurikuler. muatan/mata pelajaran dan muatan tambahan lainnya jika ada (mulok) Projek penguatan profil Pelajar Pancasila. Penjelasan tema dan pengelolaan projek pada tahun ajaran tersebut Ekstrakurikuler. Gambaran ekskul yang menjadi ciri khas dan selaras dengan pencapaian tujuan satuan pendidikan |
Cara program-program tersebut dikelompokkan | Satuan pendidikan boleh memilih cara pengelompokkan, secara tematik mata pelajaran dan kombinasi. |
Pemetaan program | Pemetaan program-program tersebut dalam satu tahun ajaran yang sesuai dengan alokasi waktu yang sudah ditetapkan. Satuan pendidikan boleh memilih cara pemetaan yang sesuai dengan kebutuhan, contoh: menggunakan kalender pendidikan atau program tahunan atau program semester atau cara pemetaan yang lain
|
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
Proses Mendesain Rencana Pembelajaran
32
Rencana pembelajaran untuk ruang lingkup sekolah
ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN
Alur pembelajaran yang runtut dinyatakan dalam rangkaian tujuan pembelajaran yang meliputi konten/ materi, keterampilan dan konsep inti untuk mencapai Capaian Pembelajaran setiap Fase dan menjelaskan cakupan/kedalaman setiap konten
Prinsip Alur Tujuan Pembelajaran:
Rencana pembelajaran untuk ruang lingkup sekolah
KEGIATAN PEMBELAJARAN
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
33
Alur tujuan pembelajaran disusun untuk membantu peserta didik mencapai Capaian Pembelajaran (CP) secara bertahap. Alur dibuat dengan mengurutkan tujuan-tujuan pembelajaran sesuai kebutuhan, meskipun beberapa tujuan pembelajaran harus menggunakan tahapan tertentu.
Hal penting yang perlu dipertimbangkan:
ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN
Pengurutan Konkret → Abstrak | Metode pengurutan dari konten yang konkret dan berwujud ke konten yang lebih abstrak dan simbolis. Contoh : memulai pengajaran dengan menjelaskan tentang benda geometris (konkret) terlebih dahulu sebelum mengajarkan aturan teori objek geometris tersebut (abstrak). |
Pengurutan Deduktif | Metode pengurutan dari konten bersifat umum ke konten yang spesifik. Contoh : mengajarkan konsep database terlebih dahulu sebelum mengajarkan tentang tipe database, seperti hierarki atau relasional. |
Pengurutan dari Mudah → Sulit | Metode pengurutan dari konten paling mudah ke konten paling sulit. Contoh : mengajarkan cara mengeja kata-kata pendek dalam kelas bahasa sebelum mengajarkan kata yang lebih panjang. |
Pengurutan Hierarki | Metode ini dilaksanakan dengan mengajarkan keterampilan komponen konten yang lebih mudah terlebih dahulu sebelum mengajarkan keterampilan yang lebih kompleks. Contoh : peserta didik perlu belajar tentang penjumlahan sebelum mereka dapat memahami konsep perkalian. |
Pengurutan Prosedural | Metode ini dilaksanakan dengan mengajarkan tahap pertama dari sebuah prosedur, kemudian membantu peserta didik untuk menyelesaikan tahapan selanjutnya. Contoh : dalam mengajarkan cara menggunakan t-test dalam sebuah pertanyaan penelitian, ada beberapa tahap prosedur yang harus dilalui, seperti menulis hipotesis, menentukan tipe tes yang akan digunakan, memeriksa asumsi, dan menjalankan tes dalam sebuah perangkat lunak statistik. |
Scaffolding | Metode pengurutan yang meningkatkan standar performa sekaligus mengurangi bantuan secara bertahap. Contoh : dalam mengajarkan berenang, guru perlu menunjukkan cara mengapung, dan ketika peserta didik mencobanya, guru hanya butuh membantu. Setelah ini, bantuan yang diberikan akan berkurang secara bertahap. Pada akhirnya, peserta didik dapat berenang sendiri. |
Ada beberapa cara dalam mengurutkan tujuan pembelajaran
Referensi (1) Creating Learning Materials for Open and Distance Learning (2005). Retrieved December 6, 2016, from http://www.oerafrica.org/system/files/7824/creating-lerarning-materials-handbook-authors-and-instructional-designers.114f5f85-1baf-42dd-8e37-d195c2565255_0.pdf?file=1&type=node&id=7824 (2) Doolittle, P. E. (2001). Instructional Design for Web-based Instruction. Retrieved from http://staff.washington.edu/rel2/geog100-UW/Archive/instructionalsequence.pdf (3) Morrison, G. R., Ross, & Kemp, J. E. (2007). Designing Effective Instruction (5th Edition). Hoboken, NJ: John Wiley & Sons. ISBN13: 978-0-470-07426-8 (4) Reigeluth, C. M., & Keller, J. B. (2009). Understanding instruction. In C. M. Reigeluth & A. A. Carr-Chellman (Eds.), Instructional-design theories and models: Building a common knowledge base (pp. 27-39). New York, NY: Taylor & Francis.
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
CONTOH
Proses Mendesain Alur Pembelajaran
34
| | 0 | Workshop pengembangan kurikulum operasional sekolah Menjadi prasyarat untuk tim penyusun alur pembelajaran |
Pemahaman Profil Pelajar Pancasila. Memahami secara utuh konsep dasar Profil Pelajar Pancasila | 1 | ||
2 | Pemahaman Capaian Pembelajaran Pahami rasional CP setiap fase, mulai dari fase A hingga fase E Untuk penyusunan fase A, baca CP fase fondasi untuk memastikan transisi yang halus dari PAUD ke SD Baca karakteristik tiap mapel, dimensi/elemen | ||
Menguraikan CP ke tujuan-tujuan pembelajaran Uraikan tujuan pembelajaran per dimensi/elemennya Susun seluruh tujuan pembelajaran menjadi satu alur linear | 3 | ||
4 | Tentukan tujuan yang menjadi kunci (konsep dan kompetensi kunci) | ||
Tentukan asesmen untuk mengukur ketercapaian tujuan-tujuan/kompetensi kunci | 5 | ||
6 | Rangkaikan semua tujuan menjadi satu alur yang linear Penulis menyusun alur (sequence), semua dimensi/elemen dilebur dalam alur ini Referensi untuk urutan bisa melihat slide “ALUR PEMBELAJARAN” | ||
Tentukan alokasi jam pelajaran yang dibutuhkan Mengatur durasi jam pelajaran yang dibutuhkan untuk setiap tujuan pembelajaran | 7 |
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
CONTOH Pengaturan Waktu Belajar
35
Sistem Blok | Sistem Kolaborasi | Sistem Reguler |
Pembelajaran dikelola dalam bentuk blok-blok waktu dengan berbagai macam pengelompokkan. Contoh:
| Konsep-konsep dan keterampilan tertentu dari mata pelajaran diajarkan secara kolaboratif (team teaching) . Guru berkolaborasi sedemikian rupa untuk merencanakan, melaksanakan dan melakukan asesmen untuk suatu pembelajaran yang terpadu. Contoh: Konsep pengelolaan data dapat secara kolaboratif diajarkan oleh guru matematika dan IPA. Konsep ini bisa diajarkan di satu kegiatan dengan menggabungkan alokasi waktu kedua mata pelajaran atau diajarkan pada masing-masing mapel, dengan penyelarasan aktivitas. | Setiap pembelajaran dilakukan terpisah antara satu mapel dengan mapel lainnya. Tatap muka dilakukan secara reguler setiap minggu, dengan jumlah jam tatap muka sesuai dengan yang ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan berdasarkan ketentuan minimal dari pemerintah |
Satuan pendidikan dapat menentukan model struktur kurikulum yang sesuai dengan kondisi dan tujuan masing-masing satuan pendidikan.
Pengaturan cara penghantaran (per mata pelajaran, tematik integratif, unit inkuiri, dll.) akan mempengaruhi sekolah dalam mengelola waktu (penjadwalan) dan sumber dayanya.
Model ini tidak harus dipilih salah satu, akan tetapi bisa juga dikombinasikan. Misalnya dengan menggunakan sistem terintegrasi dan blocking secara bersamaan atau mengkombinasikan ketiga model
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
36
| Sistem Blok | Sistem Kolaborasi | Sistem Reguler |
Kelebihan |
|
| memudahkan dalam pembuatan jadwal pembelajaran di satuan pendidikan |
Hal yang perlu dipertimbangkan dalam memutuskan model ini |
|
|
|
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
Pengalaman belajar yang bermakna adalah sebuah proses yang bertujuan untuk membangun pemahaman konsep yang dipelajari. Agar bermakna proses ini bersifat aktif, konstruktif, dan melibatkan peserta didik dalam seluruh prosesnya.
Pertimbangan yang perlu dilakukan dalam merancang pengalaman belajar yang bermakna :
37
3. Asesmen untuk mengetahui posisi peserta didik di awal siklus pembelajaran.
4. Menentukan strategi dan metode untuk mencapai tujuan tsb.
5. Memilih dan menetapkan perangkat ajar, serta aktivitas pembelajaran.
6. Sosialisasi target belajar dan menyepakati pembelajaran bersama peserta didik
7. Pelaksanaan pembelajaran dan asesmen untuk memonitor kemajuan belajar selama proses pembelajaran.
1.Memilih tujuan belajar dari alur pembelajaran yang sudah dirancang
[CONTOH]
Proses merancang kegiatan belajar yang bermakna
2. Menganalisis situasi kelas dan kebutuhan pelajar
8. Refleksi untuk menetapkan tujuan belajar berikutnya berdasarkan hasil ketercapaian kompetensi
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
1. Penetapan tujuan belajar | 2. Menganalisis situasi kelas | 3. Asesmen untuk mengetahui posisi peserta didik di awal siklus pembelajaran. | 4. Menentukan strategi dan metode untuk mencapai tujuan tsb. |
Apakah tujuan pembelajaran ini kontekstual dengan kondisi lingkungan sekitar? Apakah tujuan pembelajaran sudah sesuai dengan tahapan dan kebutuhan belajar peserta didik? | Siapa saja peserta didiknya? (jumlah, pengetahuan dan pengalaman, motivasi, latar belakang budaya dll). Sumber daya apa yang tersedia untuk proses pembelajaran? (Ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, ruang komputer, halaman dll). Siapa saja guru yang terlibat? Jika ada beberapa guru, bagaimana proses komunikasi dan koordinasi dilakukan? | Menyamakan persepsi antar guru yang mengajar kelas dan materi yang sama : Kriteria penilaian seperti apa yang tepat? Bagaimana cara mengukur ketercapaian kompetensi (pemahaman atau keterampilan tertentu)? Apakah menggunakan rubrik atau daftar centang atau catatan pengamatan? Bagaimana cara untuk mengajak pelajar memahami asesmen atau pengukuran ketercapaian kompetensi? | Apa saja pendekatan yang berorientasi pada kompetensi tujuan? Stimulus apa saja yang bisa diberikan agar peserta didik terlibat aktif dan membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran? Metode pengajaran dan konsep pedagogis mana yang harus digunakan? Mengapa? Apakah metode pengajaran yang dipilih mampu mendorong aktivitas peserta didik secara mandiri (self-regulated learning)? |
5. Memilih dan menetapkan perangkat ajar, serta aktivitas pembelajaran. | 6. Sosialisasi target belajar dan menyepakati pembelajaran bersama pelajar | 7. Pelaksanaan pembelajaran dan asesmen untuk memonitor kemajuan belajar selama proses pembelajaran. | 8. Refleksi untuk menetapkan tujuan belajar berikutnya berdasarkan hasil ketercapaian kompetensi |
Diskusikan bersama peserta didik : Apa ide pokok materi dan hubungan dengan situasi nyata? Diskusikan dengan guru pada level yang sama Kompetensi apa yang perlu diasah agar tujuan belajar tercapai? | Apa saja target yang akan dicapai? Bagaimana cara membuat peserta didik untuk memahami target- target yang akan dicapai? | Bagaimana agar guru bisa memberikan umpan balik pada peserta didik secara reguler? Bagaimana melatih keterampilan refleksi bagi peserta didik sehingga mereka memahami hal-hal yang sudah tercapai dan area yang perlu diperbaiki? | Bagaimana guru mendapatkan informasi untuk proses evaluasi? (Wawancara, umpan balik dari rekan kerja, kuesioner dll). Informasi apa yang Anda perlukan untuk melakukan evaluasi? (Bagaimana peserta didik memandang proses pembelajaran, apakah hasilnya jelas, apakah mereka telah mempelajari apa yang seharusnya mereka pelajari, apakah guru mendukung peserta didik, dll.) |
DRAFT - UNTUK INTERNAL
TIDAK UNTUK DISEBARLUASKAN
SAMPAI JUMPA DI MATERI SELANJUTNYA!