1 of 14

Odemus Bei Witono S.J

Direktur Perkumpulan Strada, dan Pemerhati Pendidikan.

Alumnus School Management, MM Universitas Sanata Dharma:

Pentingnya Compassion dalam

Dunia Pendidikan

2 of 14

Menumbuhkan Rasa Peduli

Berdasarkan kisah nyata, ada seorang guru Sekolah Menengah Atas ditanya murid, bernama Rina (bukan nama sebenarnya), “Pak guru, apa yang membuat hidup kita bahagia?” Guru tersebut agak terkejut, lalu berkata, “Kumpulkan beberapa teman sekelas cukup tujuh orang sebagai perwakilan, untuk awal mula. Besok kita akan pergi ke suatu tempat, berjalan kaki saja” Keesokan harinya Rina bersama enam teman berkumpul dekat pohon ketapang di halaman sekolah.

Pak guru kemudian mengajak mereka berjalan kaki menuju pasar, sejauh dua kilometer. Setelah berada di lokasi tujuan, mereka berbelok ke kanan menuju sebuah Sekolah Dasar (SD) yang terlihat amat sederhana. Di muka sekolah, tepatnya di dekat pohon beringin, pak guru memberikan briefing, penjelasan terkait aktivitas yang akan dilakukan.

Rupanya mereka diberi tugas tutorial, mendampingi anak-anak SD kelas IV, dan V untuk bernyanyi, menari, dan bergembira bersama. Awalnya ketujuh murid itu ragu apakah mampu atau tidak, tetapi karena pak guru telah memberikan motivasi yang kuat, akhirnya mereka bersedia menemani anak-anak SD. Setelah selesai kegiatan, raut wajah ketujuh murid itu kelihatan bahagia sekali. Mereka kemudian berkumpul untuk sharing pengalaman, menyampaikan evaluasi, dan refleksi atas kegiatan yang sudah berlangsung. Dalam sharing, Rina baru menyadari, bahwa ternyata menjadi bahagia itu sederhana saja, yaitu mau dan bersedia berbagi dengan sesama secara tulus.

3 of 14

Rina mengakui bahwa sebelumnya, hidup yang dijalani hanya terfokus pada diri sendiri. Aneka aktivitas waktu itu dibuat semata-mata untuk memenuhi keinginan rasa ego yang begitu kuat. Rina bersyukur, setelah melalui pendampingan guru yang bijak, hidupnya mulai terasa bermakna. Pengalaman pembelajaran eksperimental di SD, walaupun nampak sederhana telah membuka mata, dan hatinya untuk berubah.

Kepedulian terhadap Sesama

Toyohiko Kagawa (1888-1960), sejak muda, tergugah hatinya ketika melihat realitas kemiskinan yang ada. Pada tahun 1909 dia meninggalkan kemewahan hidup di Kobe, dan memilih tinggal bersama orang miskin di Shinkawa. Dalam interaksi sosial, Kagawa menyadari, bahwa orang miskin perlu dibantu. Kepekaan sosial pada dirinya pun bertumbuh. Kemudian dia memutuskan untuk berangkat studi lanjut, guna mempersiapkan diri, membantu orang yang masih berada dalam kemiskinan.

Pada tahun 1916 dia mempublikasikan hasil penelitian, berjudul The Psychology of Poverty (Psikologi Kemiskinan). Kagawa dalam analisis, menguraikan bagaimana kemiskinan dipahami sebab akibatnya, termasuk menggunakan cara efektif mengatasi persoalan mereka yang terpinggirkan.

4 of 14

Kagawa menjadi peduli, karena di dalam dirinya ada compassion. Compassion dalam webster dictionary dijelaskan sebagai kesadaran simpatik terhadap penderitaan orang lain bersamaan dengan keinginan untuk meringankan beban yang diderita.

Formasi Jiwa

Dalam profil pelajar Pancasila, ada frase gotong royong, sebagai salah satu bentuk nyata compassion. Kegiatan gotong royong perlu didesain secara baik, supaya tepat sasaran, misalnya dalam kegiatan live in, Pramuka, Palang Merah Remaja, aksi sosial, peduli lingkungan, dan tutorial sebaya. Ki Hajar Dewantara (1948), secara eksplisit menguraikan tentang pentingnya semangat compassion dalam pendidikan kebudayaan di Indonesia. Beliau mengatakan, “Perkembangan hidup pribadi harus ditujukan ke arah keselamatan dan kebahagiaan hidup bersama”. Ki Hajar menambahkan -- melalui dimensi kebudayaan -- manusia diharapkan mampu mencintai sesama, tidak merugikan orang lain, dan berbuat kebaikan guna kemajuan bersama. Compassion dalam banyak segi memegang peran penting, yaitu sebagai dasar etis sosial membangun dan mengembangkan kepribadian murid di sekolah. Produk pendidikan, bukanlah otomatisasi mesin penghasil barang melainkan formasi jiwa orang yang hidup. Formasi yang demikian akan menghasilkan profil lulusan unggul, yang mencintai sesama secara tulus tanpa pandang bulu.

5 of 14

Formasi jiwa -- dalam konsep pendidikan Platon -- terkait dengan keunggulan intelektual dan moral yang menghasilkan “tindakan baik” (kalos kagathos/καλὸς κἀγαθός). Tindakan baik, dalam terminologi pemikiran etis klasik menunjukkan semangat juang untuk menjadi peduli pada sesama. Dalam analisis Platon, bentuk tertinggi dari pengetahuan adalah empati, karena itu orang perlu menangguhkan ego dan hidup secara baik di dalam masyarakat. Empati yang didasari compassion, akan membekas dalam pribadi yang mau mengulurkan tangan untuk peduli bagi dan bersama sesama.

Kesimpulan

Sebagai catatan akhir, compassion dapat menimbulkan kesadaran para murid dalam merumuskan cita-cita hidup mereka yang mulia. Misalnya seorang murid ingin menjadi dokter karena mempunyai hasrat kuat untuk menolong pasien yang sakit; arsitek karena bersedia mendesain rumah-rumah sederhana bagi orang miskin; dan pedagang karena mau membantu para pembeli yang membutuhkan barang-barang dengan harga yang wajar.

6 of 14

Compassion dalam formasi hidup merupakan sesuatu yang penting. Oleh karenanya gagasan terkait compassion perlu diperkenalkan, dipelajari, dan dilatihkan, supaya para murid secara etis dapat bertumbuh sebagai pribadi yang utuh sebagai makhluk sosial yang peduli terhadap sesama.

Semoga dalam dunia pendidikan para pendidik dapat membantu para murid mengembangkan dimensi compassion. Jika dalam pribadi anak-anak bangsa mempunyai compassion yang kuat, maka persatuan Indonesia sangat mungkin terjadi, dan kesejahteraan sosial demi kemajuan bersama dapat terwujud.

7 of 14

Compassion

  • Compassion dalam webster dictionary dijelaskan sebagai kesadaran simpatik terhadap penderitaan orang lain bersamaan dengan keinginan untuk meringankan beban yang diderita.
  • Guru dalam cerita ini memberikan motivasi yang kuat sehingga siswa kelas IV dan V yakin dan optimis akan kemampuannya.
  • Berdasarkan refleksi siswa SD kelas IV dan V adalah menjadi bahagia itu sederhana saja, yaitu mau dan bersedia berbagi dengan sesama secara tulus.
  • Pengalaman pembelajaran eksperimental di SD, walaupun nampak sederhana telah membuka mata, dan hatinya untuk berubah.
  • Rina bersyukur, setelah melalui pendampingan guru yang bijak, hidupnya mulai terasa bermakna.

8 of 14

Kepedulian terhadap Sesama

  • Kagawa menyadari, bahwa orang miskin perlu dibantu.
  • Kagawa menjadi peduli, karena di dalam dirinya ada compassion.
  • Salah satu esensi tujuan pendidikan, “Perkembangan hidup pribadi harus ditujukan ke arah keselamatan dan kebahagiaan hidup bersama.”
  • Manusia diharapkan mampu mencintai sesama, tidak merugikan orang lain, dan berbuat kebaikan guna kemajuan bersama.
  • Dalam analisis Platon, bentuk tertinggi dari pengetahuan adalah empati, karena itu orang perlu menangguhkan ego dan hidup secara baik di dalam masyarakat.
  • Empati yang didasari compassion, akan membekas dalam pribadi yang mau mengulurkan tangan untuk peduli bagi dan bersama sesama.
  • Compassion dapat menimbulkan kesadaran para murid dalam merumuskan cita-cita hidup mereka yang mulia.

9 of 14

10 of 14

Penjelasan

Kesadaran simpatik

Sebuah studi yang dilakukan oleh Rasmus Hougaard CEO of Potential Project, menemukan bahwa pemimpin yang punya compassion dianggap sebagai sosok kuat dan kompeten. Menjadi pemimpin tidak ngomong doang tetapi harus dengan contoh dan memimpin dengan bijaksana. Pemimpin harus memanusiakan manusia. Ia pandai memotivasi dan memberikan semangat kembali setelah guru/karyawan bekerja dengan keras.

Compassion bisa dimaknai juga sebagai ungkapan kasih sayang, belas kasihan, welas asih, atau kepedulian. Compassion (kepedulian kepada mereka yang tersingkir) adalah salah satu dari 4 inti (4C: competence, conscience, compassion, dan commitment) dari spiritualitas Ignasian, semangat kerohanian Santo Ignasius Loyola, Romo pendiri Ordo Jesuit alias Serikat Jesus. Perasaan emosional ini timbul dari manusia manakala manusia terbiasa untuk melatih pikirannya dan perasaannya dengan hal positif.

11 of 14

Penjelasan

Motivasi yang Kuat

Kunci kebahagiaan yang didapat siswa SMA adalah perasaan tulus dalam membantu sehingga ia merasakan kebahagiaan. Ini adalah model pembelajaran yang sangat bagus yang bisa kita terapkan dengan peduli terhadap lingkungan sekitar dengan berbagai kegiatan misalnya dengan kegiatan HPS (membagikan sembako bagi kaum miskin, mengunjungi panti asuhan, memberikan kurban, menolong siswa yang kurang mampu serta membantu siswa-siswi yang lemah dalam bidang akademik dengan memberikan pendampingan.

Berdasarkan dari cerita Romo Bei (berdasarkan kisah nyata), keberhasilan siswa -siswi SMA untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan, “Bagaimana kita bisa bahagia?” adalah dengan mengalami (experiential learning). Guru mampu menyakinkan siswa bahwa dengan mengalami siswa akan tergugah emosinya untuk turut terlibat membantu siswa-siswi kelas V dan VI. Siswa SMA tersebut merasa bahagia berdasarkan hasil refleksi karena ia telah merasakan kebahagiaan dari adik-adik SD. Perasaaan bahagia itu menular (positif ke positif).

12 of 14

Penjelasan

Guru yang Bijak

Guru dan pemimpin harus meluangkan waktunya untuk dapat berkomunikasi dengan Allah. Komunikasi dengan Allah dapat dilakukan dengan berdoa (bersemedi) dimana ia berserah kepada Allah. Ia juga harus rutin untuk merefleksikan dirinya. Hal ini dapat dilakukan dengan berdoa bersama (pagi hari), menulis refleksi, dan misa atau ibadat bersama Romo.

Guru yang bijak dan pemimpin yang bijak lahir dari proses “discernment.” Discernment adalah proses dimana ia mampu memilah, menyaring dan akhirnya memutuskan suatu masalah sehingga masalah tersebut dapat dicarikan jalan keluar dimana solusi itu yang terbaik dan dapat dipertanggungjawabkan baik secara norma dan hukum.

13 of 14

Penjelasan

“Perkembangan hidup pribadi harus ditujukan ke arah keselamatan dan kebahagiaan hidup bersama.”

Menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia) menjelaskan tentang pengertian pendidikan yaitu: Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. (Kurikulum merdeka).

Guru tidak hanya sekadar mengajar namun ia harus membuat suatu benteng yang kokoh dan karakter yang kuat dalam diri siswa dimana siswa nantinya akan mampu menyaring dampak negatif yang muncul di generasi ini misalnya video porno, kecanduan game, egois, iri hati, free sex, obat terlarang (narkoba) dsb sehingga ia mampu menghindari segala hal negatif. Hal yang sangat penting adalah guru mampu mengarahkan siswa dimana mereka akan menentukan cita-citanya.

Salah tujuan yang sangat penting dari pendidikan menurut Ki hajar Dewantara adalah membuat anak didik kita mempunyai perkembangan hidup dimana anak didik mempunyai arah yang benar pada keselamatan dan kebahagiaan dalam hidup.

Anak didik kita harus mempunyai arah perkembangan yang benar (sikap dan tingkah laku) dan ia juga dapat hidup bahagia sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

14 of 14

Penjelasan

Empati vs Simpati

Pemimpin harus peka terhadap bawahan dimana pada saat bawahan membutuhkan bantuan maka seorang pemimpin harus mau untuk membantu secara tulus (tidak hanya menyuruh). Pemimpin harus peka terhadap segala situasi yang muncul saat terjadi di lapangan misalnya saat guru/karyawan capek terhadap pekerjaan atau kurang mampu dalam mengerjakan sesuatu maka pemimpin harus mampu memberikan motivasi dan turun ke lapangan sehingga bawahan merasa terbantu dan tidak sendiri saat menghadapi masalah.

Pad kontek sekolah, siswa harus diajak untuk mampu berempati pada teman-temannya, guru/karyawan dan masyarakat sekitar. Pengajaran tidak hanya dilakukan dengan teori tetapi harus dengan praktik sehingga perasaan emosional menjadi tergugah.

Empati itu lebih tinggi dari simpati. Empati adalah aksi nyata wujud dari simpati. Empati adalah kesediaan untuk memberikan bantuan kepada orang lain sehingga orang lain merasa terbantu. Simpati adalah perasaan kasihan terhadap kemalangan orang lain dan memperlakukan penderitaan mereka sebagai sesuatu yang harus diselesaikan. Perasaan bahagia akan muncul saat kita berempati pada orang lain. Guru dan pemimpin yang mempunyai rasa empati tinggi akan mendapatkan rasa hormat dari siswa dan guru/karyawan karena ia dapat membantu secara nyata bukan hanya dengan omongan saja.