DPMPTSP DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Prospektus Investasi
Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder Berbasis Komoditi Unggulan di DIY
Proyek Investasi Siap Ditawarkan (IPRO) KPI Sentolo, Kabupaten Kulon Progo
Industri Pengolahan Sabut Kelapa
Pengolahan Cabai Terpadu
Peluang Pengembangan Masa Depan: Biomassa
Ilustrasi rancangan konseptual Pabrik Sabut Kelapa di Tuksono, KPI Sentolo
Tahun 2026
2
Daftar Isi
01
Profil Proyek
02
Aspek Pasar
03
Aspek Legal dan Skema Bisnis
04
Aspek Teknis
05
Aspek Finansial
06
Aspek Sosial Ekonomi Lingkungan
07
Aspek Risiko dan Mitigasi
08
Kesimpulan dan Rekomendasi
*Peluang Pengembangan Masa Depan (Future Expansion Opportunities):* biomassa sekam dan jerami padi, disajikan terpisah pada halaman 24.
Ilustrasi ruang produksi dan pengemasan Pabrik Cabai
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
3
01. Profil Proyek
Justifikasi Proyek
Kulon Progo memiliki produksi kelapa, cabai, dan padi yang besar, tetapi sebagian besar hasilnya masih dijual sebagai bahan mentah. Mata rantai pengumpulan bahan baku, pengolahan pascapanen, standar mutu, dan kepastian pembeli belum terbentuk, sehingga nilai tambahnya dinikmati di luar daerah. Kawasan Peruntukan Industri (KPI) Sentolo, khususnya Tuksono, diarahkan menjadi pusat pengolahan yang menyambungkan mata rantai tersebut.
PDRB 2025 Rp17,93 triliun, sekitar 8,6% PDRB DIY, dengan pertumbuhan 4,36%
Realisasi investasi 2025 ±Rp567 miliar, melampaui target daerah Rp160 miliar
KPI seluas ±2.569 ha di lima kapanewon; KPI Sentolo ±1.718,63 ha
Sejalan dengan RPJMN 2025–2029, RPJPD 2025–2045, dan RPIK Kulon Progo 2022–2042
Pertanian adalah sektor basis, sedangkan industri pengolahan tumbuh positif
Dekat Bandara Internasional Yogyakarta, jalan nasional, dan jalur kereta api
Keunggulan Proyek
Kedua proyek membeli bahan baku dari petani dan pengepul setempat, mengolahnya di Tuksono, lalu menjualnya kepada industri. Proyek Sabut Kelapa memanfaatkan sabut kelapa yang selama ini terbuang tanpa bersaing dengan pasar kelapa, sedangkan Proyek Cabai menyerap cabai mutu B/C dan kelebihan panen yang selama ini dijual murah.
Lahan disediakan dengan skema sewa jangka panjang sehingga modal investor terpusat pada bangunan, mesin, dan modal kerja. Investasi sabut dapat dimulai dari tahap rintisan yang kecil, dan setiap perhitungan kelayakan disertai batas risikonya.
Nilai Investasi
Rp33,49 miliar
untuk dua proyek siap ditawarkan
Bidang Usaha (KBLI)
32905
Industri serat sabut kelapa (Proyek Sabut Kelapa)
10303
Pengeringan buah dan sayuran, termasuk cabai kering (Proyek Cabai)
10779
Bumbu, termasuk bubuk cabai dan saus (Proyek Cabai)
Kode final ditetapkan saat pendaftaran di OSS sesuai konfigurasi proses.
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
4
01. Profil Proyek
Indikasi Lokasi Proyek
Peta lima KPI di Kabupaten Kulon Progo; lokasi proyek bersifat indikatif
Status Lahan
78 bidang
±24,52 ha di Tuksono–Salamrejo
72 bidang
±22,61 ha di Tuksono
6 bidang
±1,91 ha di Salamrejo
21 bidang
±13,4 ha di klaster Wonobroto
Hampir semua bidang bersertifikat hak milik (SHM) atas nama pemiliknya sendiri, dengan peruntukan sertifikat sebagian besar pekarangan. Klaster Wonobroto saja sudah melebihi kebutuhan ketiga fasilitas yang diperkirakan ±4,3–5,3 ha. Setiap bidang masih perlu diperiksa kepemilikan, luas efektif, akses jalan, dan kesesuaian tata ruangnya, serta disepakati skema penguasaannya, sebelum ditawarkan kepada investor.
Tarif Sewa Lahan
Rp35.316
per m² per tahun (perkiraan)
Hasil rekonsiliasi tiga pembanding: tarif sewa barang milik daerah di Sentolo, penawaran sewa lahan di Tuksono, dan nilai tanah. Pemilik bidang saat ini mencatat preferensi jual beli; skema sewa disepakati melalui uji tuntas.
Kebutuhan lahan | Luas | Beban sewa per tahun |
Proyek Sabut Kelapa — tahap komersial | ±2,8 ha | ±Rp988 juta |
Proyek Sabut Kelapa — tahap rintisan (lahan mitra IKM) | ±1,5 ha | Sesuai kesepakatan dengan IKM |
Proyek Cabai — pabrik cabai | ±0,32 ha | ±Rp112 juta |
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
5
02. Aspek Pasar
Komoditas Unggulan di Kulon Progo
Komoditas | Produksi 2025 | Potensi bahan baku | Proyek |
Kelapa (wujud kopra) | ±26.950 ton; >65.000 rumah tangga petani | ±124.000.000 butir/tahun; sabut sebagian besar belum dimanfaatkan | Proyek Sabut Kelapa |
Cabai merah keriting | ±38.310 ton | Panen musiman; Panjatan penghasil terbesar | Proyek Cabai |
Cabai rawit | ±10.690 ton | Pasokan pelengkap | Proyek Cabai |
Sumber: Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo; BPS Kabupaten Kulon Progo; diolah Tim Penyusun, 2026.
Arah Pengembangan
Industri Prioritas
Industri serat sabut kelapa
Industri pengolahan cabai: pasta, sambal, dan cabai kering
Pengolahan hasil pertanian terpadu di KPI Sentolo
Keunggulan Kompetitif
Bahan baku dekat dan melimpah
Sentra kelapa dan cabai berada di Kulon Progo dan kabupaten sekitarnya.
Biaya bahan baku rendah
Sabut dibeli sebagai hasil samping; cabai mutu B/C dibeli sekitar 30% dari harga produsen dengan pita harga.
Lokasi strategis
Tuksono berada di tengah kabupaten, dekat jalan nasional, jalur kereta api, dan Bandara Internasional Yogyakarta.
Lahan sewa dan fasilitas bersama
Investor tidak perlu membeli tanah; jembatan timbang, gudang, dan IPAL dapat dipakai bersama.
Dukungan pemerintah daerah
Fasilitasi perizinan, koordinasi utilitas, dan kerangka insentif penanaman modal daerah.
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
6
02. Aspek Pasar
Produk dan Pasar Sasaran
Proyek | Produk | Volume per tahun | Harga asumsi 2026 | Pembeli sasaran |
Sabut | Serat sabut (cocofiber) | ±960 ton | Rp2.775/kg | Industri matras dan spring bed, geotekstil |
Sabut | Serat sikat (coco bristle) | ±480 ton | Rp11.436/kg | Industri sikat, campuran aspal, otomotif (pasar lanjutan) |
Sabut | Serbuk sabut (cocopeat) blok | ±3.480 ton | Rp3.324/kg | Media tanam dan hortikultura, domestik dan ekspor |
Cabai | Pasta atau cabai giling | ±500 ton | Rp30.338/kg | Industri makanan |
Cabai | Sambal dan saus cabai | ±250 ton | Rp19.826/kg | Pemilik merek (maklon), distributor hotel, restoran, dan katering |
Cabai | Cabai kering | ±33 ton | Rp51.363/kg | Industri bumbu dan distributor |
Volume Proyek Sabut Kelapa pada kapasitas penuh 40.000 butir sabut per hari. Harga coco bristle memakai acuan serat sikat ekspor dan masih perlu dibuktikan dengan penawaran pembeli, karena pasar campuran aspal umumnya memakai mutu yang lebih rendah.
Wilayah Pasokan Sabut Kelapa
Pasokan skala komersial memerlukan sabut dari Purworejo dan Kebumen selain Kulon Progo. Pabrik membeli sabut, tidak membeli buah kelapa, sehingga tidak bersaing dengan pasar kelapa konsumsi, kopra, dan gula kelapa.
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
7
03. Aspek Legal dan Skema Bisnis
Pengembangan pusat pengolahan di KPI Sentolo berlandaskan PP Nomor 20 Tahun 2024 tentang Perwilayahan Industri serta arahan RTRW DIY dan RTRW Kabupaten Kulon Progo yang menetapkan kawasan peruntukan industri. Di tingkat daerah, Rencana Pembangunan Industri Kabupaten Kulon Progo 2022–2042 menjadi acuan pengembangan industri berbasis sumber daya lokal.
Tata Ruang dan Pembangunan Daerah
Sektoral Perindustrian
Perizinan dan Insentif
Lingkungan dan Produk Pangan
Perizinan dan Insentif
OSS Berbasis Risiko
Perizinan diajukan melalui OSS sesuai KBLI dan tingkat risiko kegiatan.
Persetujuan Dasar
Kesesuaian ruang (PKKPR), persetujuan lingkungan, dan persetujuan bangunan gedung.
Standar Produk
Izin edar, sertifikasi halal, dan sistem keamanan pangan untuk produk cabai.
Insentif Daerah
Dapat diajukan dan dinilai sesuai kriteria; tidak diberikan otomatis.
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
8
03. Aspek Legal dan Skema Bisnis
Skema Bisnis Proyek Sabut Kelapa
Petani kelapa dan pengepul
Koperasi tingkat kapanewon (pengumpul)
Kelompok tani plasma kelapa genjah
IKM sabut Sendangsari Cempol (praproses)
Badan Usaha Proyek Sabut Kelapa
(investor)
Pabrik serat sabut di Tuksono
Industri matras dan spring bed
Media tanam dan hortikultura
Geotekstil, campuran aspal, stabilisasi tanah
Industri otomotif (pasar lanjutan)
Mitra industri pembina: SDM, proses, mutu; calon pembeli
Pemerintah daerah: lahan, utilitas, perizinan, insentif
Bank: pinjaman 60% investasi
sabut dan bahan setengah jadi
serat sabut, serat sikat, serbuk sabut
Badan Usaha Proyek
:
Investor pemilik pabrik yang membiayai bangunan, mesin, dan modal kerja, serta menjalankan produksi dan penjualan.
Prinsip pembelian
:
Pabrik membeli sabut, tidak membeli buah, sehingga petani tetap menjual kelapa ke pasar yang ada dan memperoleh pendapatan tambahan.
Koperasi dan plasma
:
Koperasi kapanewon mengumpulkan sabut dari pengepul; kelompok tani kelapa genjah menjadi plasma yang memasok secara berkontrak.
IKM sabut
:
Sentra IKM Sendangsari Cempol menjadi lokasi tahap rintisan dan kemudian pemasok bahan setengah jadi untuk pabrik komersial.
Mitra industri pembina
:
Satu mitra industri berminat membina SDM, proses, dan mutu serta menjadi calon pembeli; kesepakatan tertulis masih disiapkan.
Dua lokasi, satu rantai
:
Rintisan 5.000 butir/hari di sentra IKM Sendangsari Cempol yang sudah memiliki fasilitas dan tenaga terampil; komersial 40.000 butir/hari di Tuksono (lahan industri, listrik 500 kVA, IPAL). IKM tetap memasok praproses.
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
9
03. Aspek Legal dan Skema Bisnis
Skema Bisnis Proyek Cabai
Petani dan gapoktan cabai
Pengepul cabai
Badan Usaha Proyek Cabai
(investor)
Pabrik cabai di Tuksono: pasta, sambal, cabai kering
Industri makanan
Pemilik merek (maklon)
Distributor hotel, restoran, dan katering
cabai mutu B/C (food grade) dan kelebihan panen; kontrak musiman dengan pita harga 25–33%
Pemerintah daerah: lahan, utilitas, perizinan, standar pangan
Lini cabai kering menyerap kelebihan panen agar harga di tingkat petani tidak jatuh terlalu dalam.
Bahan baku
:
Cabai mutu B/C, yaitu cabai di luar spesifikasi pasar segar (off-spec) yang tetap food grade, dibeli melalui kontrak musiman dengan pita harga 25–33 persen dari harga produsen.
Produk
:
Pasta atau cabai giling sekitar 70% bahan baku, sambal dan saus 20%, dan cabai kering 10% sebagai penyangga harga.
Pembeli
:
Penjualan langsung antarbadan usaha kepada industri makanan, pemilik merek melalui maklon, dan distributor hotel, restoran, dan katering.
Di luar musim
:
Model hanya memakai ±52% kapasitas mesin; stok penyangga pasta beku dan cabai kering, pola tanam bergilir, dan pengadaan lintas sentra menjaga produksi di luar panen raya.
Pengendalian Harga Bahan Baku
Bentuk Penawaran Investasi
Per proyek — ditawarkan kepada investor yang sesuai bidang usahanya: industri serat untuk Proyek Sabut Kelapa, industri makanan untuk Proyek Cabai.
Platform Investasi Agro Green — satu pengelola beberapa lini usaha di Tuksono dengan fasilitas bersama; arus kas setiap lini tetap dipisahkan.
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
10
03. Aspek Legal dan Skema Bisnis
Kanvas Model Bisnis Proyek Sabut Kelapa
Mitra Utama
Petani, pengepul, koperasi, dan IKM sabut; mitra industri pembina; pembeli; pemasok mesin; PLN dan penyedia air; DPMPTSP dan perangkat daerah; mitra logistik.
Aktivitas Utama
Pengumpulan, pemilahan mutu, penguraian serat, pengeringan, pengepresan bal, pencucian serbuk sabut, pengendalian mutu, pengiriman.
Sumber Daya Utama
Tapak Tuksono, lini rintisan di sentra IKM, jaringan pengumpulan, mesin pengurai, lantai jemur, IPAL, laboratorium mutu.
Proposisi Nilai
Tiga produk dari satu bahan baku: serat sabut, serat sikat, dan serbuk sabut dengan mutu seragam dan asal-usul tertelusur. Sabut dibeli sebagai hasil samping, sehingga tidak bersaing dengan pasar kelapa dan menambah pendapatan petani.
Hubungan Pelanggan
Kontrak berbasis spesifikasi, sertifikat mutu setiap pengiriman, pesanan berulang, uji teknis bersama.
Saluran
Kontrak langsung dengan pembeli industri, distributor dan eksportir, mitra industri pembina, uji coba produk.
Segmen Pelanggan
Industri matras dan spring bed; media tanam dan hortikultura; geotekstil dan reklamasi; campuran aspal dan stabilisasi tanah; otomotif sebagai pasar lanjutan.
Struktur Biaya
Pembelian dan pengumpulan sabut, angkutan, tenaga kerja, listrik, air dan IPAL, pemeliharaan, kemasan, pengendalian mutu, sewa lahan, dan bunga pinjaman. Investasi Rp21,37 miliar dalam dua tahap.
Arus Pendapatan
Penjualan serbuk sabut (±59%), serat sikat (±28%), dan serat sabut (±13%) pada kapasitas penuh. EBITDA ±Rp7,9 miliar pada 2036; karet sabut sebagai pengembangan lanjutan.
Mengapa Berinvestasi di Proyek Sabut Kelapa
Bahan baku murah dan melimpah
Potensi ±124.000.000 butir kelapa per tahun; sabut dibeli sebagai hasil samping.
Tiga produk dari satu bahan
Pendapatan tersebar pada serbuk sabut, serat sikat, dan serat sabut.
Risiko dapat diuji bertahap
Tahap rintisan Rp3,07 miliar menguji pasokan, mutu, dan pembeli sebelum investasi komersial.
Pasar dalam dan luar negeri
Matras, media tanam, geotekstil, dan ekspor; mitra industri berminat menjadi pembina dan pembeli.
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
11
03. Aspek Legal dan Skema Bisnis
Kanvas Model Bisnis Proyek Cabai
Mitra Utama
Petani, gapoktan, dan pengepul; pembeli industri; ahli teknologi pangan dan pemasok mesin; mitra logistik; Dinas Pertanian dan Pangan; DPMPTSP.
Aktivitas Utama
Pembelian dan pemilahan mutu, pencucian, pengeringan dan penggilingan, pengolahan basah, pasteurisasi, pengemasan, penjaminan mutu (HACCP).
Sumber Daya Utama
Zona pangan di tapak Tuksono, lini proses kering dan basah, ruang pendingin, air bersih proses, laboratorium mutu, jaringan pemasok.
Proposisi Nilai
Penyangga nilai musiman: cabai mutu B/C yang tetap food grade dan kelebihan panen diolah menjadi pasta, sambal, dan cabai kering yang tahan simpan, sesuai spesifikasi pembeli dan tertelusur asal-usulnya.
Hubungan Pelanggan
Surat minat atau kontrak pembelian, spesifikasi produk bersama, pesanan berulang, dokumen keamanan pangan.
Saluran
Kontrak langsung dengan pembeli industri, distributor, kerja sama maklon, persetujuan sampel.
Segmen Pelanggan
Industri makanan; pemilik merek (maklon); distributor hotel, restoran, katering, dan ritel; pembeli industri pasta, sambal, dan cabai kering.
Struktur Biaya
Bahan baku cabai mutu B/C dengan pita harga, tenaga kerja, energi, air, kemasan, rantai dingin, sanitasi, penjaminan mutu, logistik, sewa lahan, dan bunga pinjaman. Investasi Rp12,12 miliar.
Arus Pendapatan
Penjualan pasta atau cabai giling (±500 ton/tahun), sambal dan saus (±250 ton/tahun), serta cabai kering (±33 ton/tahun). EBITDA ±Rp5,3 miliar pada 2036.
Mengapa Berinvestasi di Proyek Cabai
Bahan baku besar dan terjangkau
Produksi cabai ±49.000 ton per tahun; cabai mutu B/C dibeli sekitar 30% dari harga produsen.
Imbal hasil lebih kuat
IRR 16,6% dan pengembalian modal 5 tahun 5 bulan pada skenario dasar.
Ruang tumbuh
Kapasitas mesin baru terpakai sekitar 52%, sehingga produksi dapat dinaikkan sesuai permintaan.
Risiko harga dikendalikan
Pita harga, kontrak budi daya, stok penyangga, dan LoI pembeli yang difasilitasi pemerintah daerah.
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
12
04. Aspek Teknis
Aksesibilitas
Peta daya dukung industri KPI Sentolo
Jalan nasional
Yogyakarta–Wates dan jalan kolektor menuju Tuksono
Rencana jalan tol
Koridor yang melalui atau mendekati Sentolo
Jalur kereta api
Stasiun Sentolo dan Stasiun Wates
Bandara Internasional Yogyakarta
Berada di Kabupaten Kulon Progo
Pelabuhan Tanjung Emas
Semarang, sekitar 145 km
Akses truk, radius putar, dan kelas jalan menuju tapak tetap perlu diperiksa pada tahap rancangan rinci.
Infrastruktur dan Utilitas
Utilitas | Kondisi saat ini | Status | Langkah berikutnya |
Listrik | Jaringan PLN tersedia di sekitar kawasan; Gardu Induk Tuksono belum dapat diandalkan untuk kebutuhan proyek | Menunggu konfirmasi | Surat ketersediaan daya dan titik sambung dari PLN |
Air | Air pencucian serbuk sabut dan air bersih untuk proses pangan | Menunggu konfirmasi | Konfirmasi penyedia air atau izin air tanah |
Air limbah | IPAL disiapkan per pabrik sesuai karakter limbahnya | Direncanakan | Rancangan IPAL dan persetujuan lingkungan |
Jalan akses | Jalan kolektor menuju klaster Wonobroto | Tersedia | Pemeriksaan kelas jalan dan sirkulasi truk |
Pemerintah daerah memfasilitasi pengamanan alokasi listrik dan air dari PLN dan penyedia air untuk kawasan Tuksono; surat konfirmasi resmi menjadi prasyarat sebelum keputusan investasi. Status utilitas dibagi tiga: tersedia, direncanakan, dan menunggu konfirmasi.
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
13
04. Aspek Teknis
Rancangan Pabrik Proyek Sabut Kelapa
Ilustrasi rencana tapak konseptual; bukan gambar konstruksi.
Spesifikasi Utama
Uraian | Keterangan |
Kapasitas | 5.000 butir/hari (rintisan) → 40.000 butir/hari (komersial) |
Lahan | ±1,5 ha milik mitra IKM (rintisan); ±2,8 ha sewa di Wonobroto (komersial) |
Bangunan | Produksi ±1.400 m²; gudang dan lantai jemur ±11.200 m² |
Produk | Serat sabut ±960 t, serat sikat ±480 t, serbuk sabut ±3.480 t per tahun |
Listrik | ±0,4–0,5 MVA; sambungan TM 500 kVA (perlu konfirmasi PLN) |
Tenaga kerja | ±180–220 orang pada pembanding 50.000 butir/hari |
Alur Proses
1. Penerimaan dan penimbangan sabut
2. Penguraian sabut menjadi serat dan gabus
3. Pemilahan serat sabut dan serat sikat
4. Penjemuran dan pengeringan
5. Pencucian dan pengayakan serbuk sabut
6. Pengepresan bal dan blok
7. Gudang dan pengiriman
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
14
04. Aspek Teknis
Rancangan Pabrik Proyek Cabai
Ilustrasi rencana tapak dan ruang produksi konseptual; bukan gambar konstruksi.
Zona pangan dipisahkan dari zona sabut dan biomassa agar persyaratan kebersihan dan keamanan pangan terpenuhi.
Spesifikasi Utama
Uraian | Keterangan |
Lahan | ±3.160 m² sewa di Wonobroto, Tuksono |
Bangunan | ±2.600 m² |
Kapasitas mesin | 7,66 ton cabai segar per hari |
Bahan baku | ±1.001 ton per tahun (±52% kapasitas) |
Produk | Pasta ±500 t, sambal ±250 t, cabai kering ±33 t per tahun |
Tenaga kerja | ±79 orang |
Standar | GMP/HACCP, sertifikasi halal, izin edar |
Alur Proses
1. Penerimaan dan sortasi
2. Pencucian dan pemilahan mutu
3. Pengeringan, atau penggilingan dan pemasakan
4. Pengemasan dan uji mutu
5. Gudang dan rantai dingin
Kepastian Pembeli Proyek Cabai: Langkah 0–3 Bulan setelah Kajian
10–15
calon pembeli didata
Temu bisnis
dan uji sampel produk
Templat
LoI atau MoU
1–2
perusahaan menandatangani LoI
500 + 250 t
pasta dan sambal per tahun
Difasilitasi DPMPTSP DIY dan DPMPTSP Kulon Progo. Bank umumnya mensyaratkan LoI atau MoU pembeli sebelum mencairkan kredit investasi.
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
15
04. Aspek Teknis
Skenario Pembangunan
2026
Penyiapan dan konstruksi awal
Verifikasi bidang, konfirmasi utilitas, kontrak pasokan, dan surat minat pembeli. Pembangunan tahap rintisan Proyek Sabut Kelapa dan pabrik Proyek Cabai.
2027–2028
Operasi rintisan
Rintisan Proyek Sabut Kelapa beroperasi untuk menguji pasokan, mutu, dan pembeli. Proyek Cabai mulai beroperasi dengan peningkatan produksi bertahap.
2028
Keputusan tahap komersial
Pabrik komersial Proyek Sabut Kelapa di Wonobroto dibangun bila hasil rintisan memenuhi syarat harga, mutu, dan volume.
2029 dan seterusnya
Operasi komersial
Proyek Sabut Kelapa beroperasi 40.000 butir/hari. Kajian lanjutan peluang biomassa dan fasilitas bersama.
Fasilitas Bersama
Jembatan timbang
Gudang bersama
Jaringan listrik dan air
IPAL dan pengelolaan limbah
Sistem pemadam kebakaran
Pengaturan angkutan truk
Laboratorium mutu
Kantor pengelola
Indikator Lanjut ke Tahap Komersial Proyek Sabut Kelapa
≥90%
pasokan dari target selama 6 bulan
≤+10%
harga sabut terhadap asumsi
≥97%
harga jual terhadap asumsi
≥50%
volume komersial ber-LoI
500 kVA
surat PLN dan sewa lahan siap
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
16
05. Aspek Finansial
Pembelanjaan Modal Proyek Sabut Kelapa (Rp juta)
Komponen | Rintisan | Komersial | Total |
Bangunan | 1.029 | 8.636 | 9.665 |
Mesin dan peralatan | 1.740 | 8.106 | 9.846 |
Perizinan dan praoperasi | 83 | 502 | 585 |
Modal kerja | 219 | 1.057 | 1.276 |
Total investasi | 3.071 | 18.301 | 21.372 |
Utang (60%) | 1.843 | 10.981 | 12.823 |
Modal sendiri (40%) | 1.228 | 7.320 | 8.549 |
Proyek Cabai (Rp juta)
Komponen | Nilai |
Bangunan | 7.026 |
Mesin dan peralatan | 3.293 |
Perizinan dan praoperasi | 310 |
Modal kerja awal | 1.493 |
Total investasi | 12.121 |
Pinjaman bank (60%) | 7.273 |
Modal sendiri (40%) | 4.848 |
Total Kebutuhan Investasi
Proyek | Rp juta |
Proyek Sabut Kelapa | 21.372 |
Proyek Cabai | 12.121 |
Total dua proyek | 33.493 |
Skema Pendanaan
PINJAMAN 60%
MODAL SENDIRI 40%
Asumsi Model Finansial
Parameter | Proyek Sabut Kelapa | Proyek Cabai | Keterangan |
Masa proyeksi | 10 tahun | 10 tahun | Asumsi model |
WACC | 7,83% | 7,79% | Perhitungan biaya modal |
Bunga pinjaman | 8,2% | 8,2% | Pembanding kredit investasi |
Utang : modal sendiri | 60 : 40 | 60 : 40 | Asumsi model |
Tenor / masa tenggang | 8 tahun / 2 tahun | 8 tahun / 2 tahun | Asumsi model |
PPh Badan | 22% | 22% | Ketentuan perpajakan |
Eskalasi harga | 3,5% per tahun | 3,5% per tahun | Diperbarui saat pembiayaan disusun |
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
17
05. Aspek Finansial
Proyeksi EBITDA (Rp miliar)
Kelayakan Proyek Sabut Kelapa
NPV
Rp3,30 miliar
IRR
11,0%
Net B/C
1,16
Indeks profitabilitas
1,19
Periode pengembalian
7 tahun 3 bulan
Pengembalian terdiskonto
8 tahun 11 bulan
DSCR minimum
1,62
WACC
7,83%
LAYAK BERSYARAT
Kelayakan Proyek Cabai
NPV
Rp6,78 miliar
IRR
16,6%
Net B/C
1,59
Indeks profitabilitas
1,64
Periode pengembalian
5 tahun 5 bulan
Pengembalian terdiskonto
6 tahun 9 bulan
DSCR minimum
1,32
WACC
7,79%
LAYAK BERSYARAT
Proyek Sabut Kelapa layak, tetapi marginnya tipis: selisih IRR terhadap WACC hanya sekitar 3,2 poin persentase. Proyek Cabai memiliki ruang lebih lebar, tetapi peka terhadap harga cabai mutu B/C dan harga jual. Status bersyarat berarti harga jual, pasokan, dan pembeli perlu dibuktikan sebelum investasi penuh.
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
18
05. Aspek Finansial
Sensitivitas Proyek Sabut Kelapa
Skenario | NPV (Rp juta) | IRR | DSCR min | Status |
Skenario dasar | 3.302 | 11,0% | 1,62 | Layak |
Biaya bangunan −20% | 5.097 | 13,1% | 1,75 | Layak |
Bunga pinjaman +20% | 2.425 | 11,0% | 1,55 | Layak |
Harga beli sabut +20% | 253 | 8,1% | 1,51 | Di batas |
Volume produksi −10% | 181 | 8,0% | 1,53 | Di batas |
Harga jual −5% | (1.028) | 6,8% | 1,46 | Tidak layak |
Harga jual −10% | (5.374) | 2,0% | 0,92 | Tidak layak |
Harga serat sikat −50% | (8.799) | −2,2% | −0,09 | Tidak layak |
Sensitivitas Proyek Cabai
Skenario | NPV (Rp juta) | IRR | DSCR min | Status |
Skenario dasar | 6.784 | 16,6% | 1,32 | Layak |
Biaya bangunan −20% | 8.281 | 19,5% | 1,47 | Layak |
Volume produksi −10% | 2.651 | 11,4% | 1,15 | Layak, margin menipis |
Harga cabai mutu B/C 33% harga produsen | 1.529 | 9,9% | 1,03 | Di batas |
Harga jual −5% | 906 | 9,1% | 0,98 | DSCR di bawah 1 |
Harga cabai mutu B/C 35% harga produsen | (1.984) | 4,9% | 0,70 | Tidak layak |
Harga jual −10% | (5.007) | −0,1% | 0,43 | Tidak layak |
Titik Impas (NPV = 0)
−3,8%
harga jual sabut
+21,7%
harga beli sabut
−10,6%
volume produksi sabut
−5,8%
harga jual cabai
33,9%
harga cabai mutu B/C terhadap harga produsen (±Rp10.270/kg)
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
19
06. Aspek Sosial Ekonomi Lingkungan
Analisis Tenaga Kerja
Proyek | Kebutuhan tenaga kerja | Kompetensi utama |
Proyek Sabut Kelapa | ±180–220 orang (pembanding 50.000 butir/hari; disesuaikan ke 40.000 butir/hari) | Operator mesin pengurai sabut, pemilahan mutu, pengeringan, pengepresan, IPAL, pemeliharaan |
Proyek Cabai | ±79 orang | Penanganan pangan, pengeringan dan penggilingan, GMP/HACCP, penyimpanan dingin, laboratorium |
Angka tenaga kerja merupakan kebutuhan perencanaan dan belum termasuk layanan bersama maupun tenaga kerja di tingkat pemasok.
Keterkaitan Ekonomi Lokal
Petani kelapa dan pengepul
Pendapatan tambahan dari sabut tanpa melepas pasar kelapa yang ada
Petani cabai dan gapoktan
Saluran penjualan tambahan untuk cabai mutu B/C dan kelebihan panen
Koperasi dan IKM sabut
Peran sebagai pengumpul dan pemasok bahan setengah jadi
IKM pangan setempat
Peluang subkontrak pengemasan dan uji sampel produk olahan
Dampak Ekonomi
Manfaat bagi daerah diukur dari nilai pembelian bahan baku lokal, jasa logistik dan pemeliharaan, kontrak dengan UMKM, gaji pekerja lokal, serta pajak dan retribusi daerah. Kajian ini tidak menghitung angka pengganda karena belum tersedia model input–output atau survei rumah tangga khusus proyek; pencatatan nilai lokal disarankan sejak proyek beroperasi agar dampaknya dapat diukur dengan data transaksi.
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
20
06. Aspek Sosial Ekonomi Lingkungan
Aspek Lingkungan
Isu | Proyek Sabut Kelapa | Proyek Cabai |
Air dan air limbah | Tinggi — pencucian serbuk sabut; IPAL sejak awal | Tinggi — pengolahan dan pembersihan |
Energi | Sedang | Sedang–tinggi — pengering dan rantai dingin |
Debu dan kebakaran | Tinggi — debu serat, tumpukan bal | Rendah–sedang |
Keamanan pangan | — | Sangat tinggi |
Ekonomi Sirkular
Sabut
serat sabut, serat sikat
Gabus sabut
serbuk sabut untuk media tanam
Cabai kelebihan panen
cabai kering dan pasta
Sisa organik cabai
kompos dan pengolahan organik
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)
TPB 8
Pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi
TPB 9
Industri, inovasi, dan infrastruktur
TPB 12
Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab
TPB 6
Air bersih dan sanitasi
TPB 7 & 13
Energi bersih dan perubahan iklim (setelah data awal tersedia)
TPB 17
Kemitraan untuk mencapai tujuan
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
21
07. Aspek Risiko dan Mitigasi
PRAKONSTRUKSI
Risiko
PRAKONSTRUKSI
Mitigasi
KONSTRUKSI
Risiko
KONSTRUKSI
Mitigasi
OPERASIONAL
Risiko
OPERASIONAL
Mitigasi
Titik Keputusan sebelum Investasi Penuh
Titik keputusan | Bukti yang harus tersedia | Akibat bila belum terpenuhi |
Lahan dan legalitas | Bidang final, uji tuntas kepemilikan, kesesuaian ruang, akses yang sah | Tidak melakukan konstruksi yang tidak dapat dibatalkan |
Utilitas | Surat ketersediaan daya dan air, titik sambung, biaya penyambungan | Biaya investasi utilitas tetap sementara |
Pasokan | Kontrak atau nota kesepahaman pasokan dengan volume dan mutu; uji pengumpulan | Tetap pada tahap rintisan atau peningkatan bertahap |
Pasar | Spesifikasi pembeli, uji coba produk, surat minat atau kontrak pembelian | Harga premium tidak dimasukkan ke skenario dasar |
Keamanan pangan (Proyek Cabai) | Alur proses, rencana GMP/HACCP, validasi umur simpan | Produk belum diluncurkan secara komersial |
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
22
08. Kesimpulan dan Rekomendasi
Aspek Pasar
Kulon Progo memiliki pasokan kelapa dan cabai yang besar. Produk serat sabut, serbuk sabut, pasta, sambal, dan cabai kering memiliki pembeli industri yang jelas segmennya, tetapi sebagian besar belum terikat kontrak.
Aspek Legal
Lokasi berada di kawasan peruntukan industri dan sejalan dengan RTRW, RPJPD, RPJMD, dan RPIK. Perizinan mengikuti OSS berbasis risiko; insentif daerah tersedia dan dinilai sesuai kriteria.
Aspek Teknis
Pabrik dirancang di Wonobroto, Tuksono, dengan tahap rintisan Proyek Sabut Kelapa bersama sentra IKM. Konfirmasi listrik dan air serta rancangan rinci masih diperlukan.
Aspek Sosial Ekonomi Lingkungan
Proyek menambah pendapatan petani, pengepul, koperasi, dan IKM serta memanfaatkan limbah pertanian. Air limbah, debu, kebakaran, dan keamanan pangan harus dikelola sejak awal.
Aspek Finansial
Proyek Sabut Kelapa (Rp21,37 miliar) menghasilkan NPV Rp3,30 miliar dan IRR 11,0%; Proyek Cabai (Rp12,12 miliar) menghasilkan NPV Rp6,78 miliar dan IRR 16,6%. Keduanya LAYAK BERSYARAT: marginnya peka terhadap harga jual dan harga bahan baku.
Aspek Risiko
Risiko terbesar adalah pengumpulan sabut, kepastian pembeli, harga cabai, serta kapasitas utilitas dan status lahan. Pentahapan investasi dan titik keputusan berbasis bukti menjadi cara mitigasi utama.
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
23
08. Kesimpulan dan Rekomendasi
Rekomendasi
Pihak terkait
Lahan dan Tata Ruang
DPMPTSP DIY, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, ATR/BPN, Dinas PUPR
Utilitas
PLN, penyedia air, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, investor
Proyek Sabut Kelapa
Investor, koperasi, IKM sabut, mitra industri pembina, Dinas Pertanian dan Pangan
Proyek Cabai
Investor, gapoktan, pembeli industri, Disperindag, Dinas Kesehatan
Kepastian Pembeli Proyek Cabai (0–3 Bulan)
DPMPTSP DIY, DPMPTSP Kulon Progo, Disperindag, IKM pangan, calon pembeli
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
24
Peluang Pengembangan Masa Depan
Future Expansion Opportunities — tidak termasuk paket siap ditawarkan
Biomassa Sekam dan Jerami Padi
Sekam dan jerami padi dapat diolah menjadi pelet atau briket bahan bakar untuk industri, dengan ampas tebu sebagai bahan pelengkap bila ketersediaannya terbukti. Peluang ini belum memiliki model arus kas mandiri, neraca massa-energi yang tertutup, dan kontrak pembelian bahan bakar, sehingga NPV dan IRR-nya belum dihitung. Karena itu peluang biomassa ditampilkan terpisah dari Proyek Sabut Kelapa dan Proyek Cabai, dan dapat dinaikkan statusnya menjadi IPRO setelah prasyaratnya terpenuhi.
125.560 ton
produksi padi Kulon Progo 2025
16.880 ton
produksi padi Kapanewon Sentolo
±Rp22 miliar
perkiraan awal investasi
±1,5–2,0 ha
kebutuhan lahan
800 kVA–1,5 MVA
kebutuhan daya
Prasyarat Menuju IPRO
1
Sensus penggilingan padi dan volume bahan baku
2
Biaya bahan baku sampai di pabrik
3
Uji spesifikasi bahan bakar (nilai kalor, kadar air, abu)
4
Neraca massa-energi yang tertutup
5
Surat minat atau kontrak pembelian bahan bakar
6
Model arus kas mandiri untuk konfigurasi Tuksono
Kaitan dengan Kawasan
Ruang cadangan di Tuksono dapat disiapkan bagi peluang ini, dengan pemanfaatan fasilitas bersama dan sisa olahan dari Proyek Sabut Kelapa. Rincian kajiannya tersedia dalam Lampiran J Laporan Akhir.
Prospektus Investasi — Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder DIY 2026
DPMPTSP Daerah Istimewa Yogyakarta
Kawasan Peruntukan Industri Sentolo — Tuksono, Kabupaten Kulon Progo
Ilustrasi rencana tapak konseptual Pabrik Cabai di Tuksono
Hubungi Kami
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu
Daerah Istimewa Yogyakarta
Jl. Raya Janti No. 8, Wonocatur, Banguntapan, Kabupaten Bantul, DIY
Kantor (0274) 4538737, (0274) 552521 · Call Center (0274) 5021639
WA Center 0821-1136-0606
dpmptsp@jogjaprov.go.id
https://jogjainvest.jogjaprov.go.id
Seluruh angka dalam prospektus ini berasal dari Laporan Akhir Kajian Potensi Investasi Sektor Primer dan Sekunder Berbasis Komoditi Unggulan di DIY Tahun 2026 dan bersifat indikatif. Keputusan investasi tetap memerlukan uji tuntas, verifikasi data, dan persetujuan para pihak terkait.