1 of 10

OKI�ORGANISASI KERJASAMA ISLAM

2 of 10

  • 1. Informasi umum
  • 2. Latar belakang
  • 3. Tujuan pembentukan
  • 4. Partisipasi Indonesia dalam perdamaian dunia melalui OKI

3 of 10

Informasi umum

  • Nama : Organisasi Kerjasama Islam (Organisasi Konferensi islam, diganti 28 Juni 2011.
  • Pusat administrasi : Jeddah, Arab Saudi
  • Bahasa resmi : Arab, Inggris, Prancis, 57 negara anggota, 5 negara pengamat.
  • Sekretaris jenderal : Iyad bin Amin Madani
  • Berdiri : 25 September 1969 (Penandatanganan piagam OKI)
  • Penduduk : 1,6 miliar
  • PDB : total USD 4,8135 miliar (perkiraan 2010)

4 of 10

Latar belakang

  • 1964: KTT Arab di Mogadishu, ide menghimpun kekuatan Islam di suatu wadah internasional. �1965: Sidang Liga Arab sedunia di Jeddah, Arab Saudi, ide menjadikan umat Islam suatu kekuatan menonjol dan menggalang solidaritas Islamiyah, usaha melindungi umat Islam dari zionisme. �1967: Pecah Perang Timur Tengah melawan Israel, solidaritas Islam di negara Timur Tengah meningkat. �1968: Raja Faisal (Arab Saudi) berkunjungan ke beberapa negara Islam untuk penjajagan lebih lanjut membentuk suatu Organisasi Islam Internasional. �1969: 21 Agustus 1969 Israel merusak Mesjid Al Aqsa.

5 of 10

Tujuan pembentukan

  • Umum, mengumpulkan sumber daya dunia Islam dalam mempromosikan kepentingan dan mengonsolidasi upaya negara untuk berbicara satu bahasa guna memajukan perdamaian dan keamanan dunia muslim.
  • Khusus, memperkokoh solidaritas Islam antara negara anggotanya, memperkuat kerja sama dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan iptek

6 of 10

Tujuan pembentukan

• KTM III OKI (Februari 1972)�✓ Memperkuat/memperkokoh:� • Solidaritas di antara negara anggota;� • Kerja sama dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan iptek;� • Perjuangan umat muslim untuk melindungi kehormatan kemerdekaan dan�✓ Aksi bersama untuk:� • Melindungi tempat-tempat suci umat Islam;� • Memberi semangat dan dukungan kepada rakyat Palestina dalam memperjuangkan hak nya dan kebebasan mendiami daerahnya.

7 of 10

Tujuan pembentukan

✓ Bekerja sama� • Menentang diskriminasi rasial dan segala bentuk penjajahan;� • Menciptakan suasana yang menguntungkan dan saling pengertian di antara negara anggota dan negara-negara lain.

8 of 10

Partisipasi Indonesia dalam perdamaian dunia melalui OKI ��

  • Pada 25 April 2022, atas inisiatif Indonesia, diselenggarakan Open-ended Extraordinary Meeting of the OIC Executive Committee at the level of Permanent Representatives di Markas OKI, Jeddah. Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk menanggapi kekerasan yang dilakukan pemukim dan aparat Israel terhadap warga Palestina di kompleks Masjid Al Aqsa, pada bulan Ramadhan 2022
  • Sejalan dengan posisi prinsip di atas, OKI merupakan salah satu forum yang digunakan Indonesia untuk menyuarakan dukungan kepada rakyat Palestina. Indonesia adalah anggota Committee on Al-Quds (Yerusalem) OKI yang dibentuk pada tahun 1975.

9 of 10

  • Selain penguatan perdamaian dunia, Indonesia juga aktif dalam kerja sama ekonomi dan pembangunan OKI, yang dikoordinir oleh Standing Committee for Economic and Commercial Cooperation (COMCEC). Pertemuan Tingkat Menteri COMCEC diselenggarakan pada 26-29 November 2022, yang antara lain membahas upaya negara anggota dalam menangani tantangan ekonomi dan social akibat pandemi Covid-19.
  • Sejalan penanganan pasca pandemi, pada Agustus 2022 Indonesia menjadi tuan rumah pelatihan bagi peneliti dari sejumlah negara OKI yang ingin mempelajari teknologi pembuatan vaksin. Pelatihan tersebut dikoordinir oleh Standing Committee for Scientific and Technological Cooperation (COMSTECH). Pelatihan tersebut sejalan dengan posisi Indonesia sebagai Centre of Excellence for Vaccine and Biotechnology. ​​

Partisipasi Indonesia dalam perdamaian dunia melalui OKI

10 of 10

  • Pada 22 September 2022, di sela-sela Sidang ke-77 Majelis Umum PBB, diselenggarakan Annual Coordination Meeting OKI pada tingkat menlu. Menlu RI hadir dalam pertemuan ini dan sampaikan desakan agar OKI dorong dicapainya break through dalam proses perdamaian.
  • Pertemuan menyepakati Final Communique yang isinya antara lain menekankan bahwa Masjid Al Aqsa adalah red line bagi OKI, OKI tidak akan mentolerir perubahan status atas Al Aqsa (hanya umat Islam yang dapat beribadah di Kompleks Masjid Al Aqsa).

Partisipasi Indonesia dalam perdamaian dunia melalui OKI