1 of 70

13:00–16:00 Kuliah / Lokakarya

1

Fasilitator: Yamato, Izumi

Pesan Utama: Tujuan pelatihan ini bukan sekadar menambah kapal pengawas, melainkan memaksimalkan efektivitas sumber daya yang sudah tersedia.

Tema:�Operasi dan Pemeliharaan Kapal Pengawas Perikanan

2 of 70

Tujuan Pelatihan

2

• Menegaskan kembali peran kapal pengawas perikanan dalam memberantas IUU fishing.

• Memahami kapal pengawas sebagai salah satu unsur dalam sistem pengawasan terpadu.

• Memaksimalkan efektivitas anggaran, personel, dan aset patroli yang terbatas.

• Mengintegrasikan operasi, pemeliharaan, dan logistik dalam satu kerangka manajemen.

• Mengidentifikasi perbaikan praktis yang dapat diterapkan di setiap pangkalan pengawasan.

Pesan Utama: Tujuan pelatihan ini bukan sekadar menambah kapal pengawas, melainkan memaksimalkan efektivitas sumber daya yang sudah tersedia.

Pengawasan

Efektif

Kapal

Pangkalan

Informasi

Pemeliharaan

Sumber Daya Manusia

3 of 70

Mengapa Pemberantasan IUU Fishing Penting

3

• Sumber daya perikanan merupakan aset nasional yang bernilai.�• IUU fishing merusak pengelolaan perikanan berkelanjutan.�• IUU fishing merugikan mata pencaharian nelayan yang taat hukum.�• IUU fishing mengurangi penerimaan negara dan melemahkan tata kelola perikanan.�• IUU fishing juga berdampak pada keamanan maritim dan pengelolaan perbatasan.

Pesan Utama: Pemberantasan IUU fishing melindungi sumber daya perikanan, perekonomian, dan tata kelola nasional.

IUU Fishing

Sumber Daya Perikanan

Fishers

Penerimaaan Negara

Maritime Security

Supremasi Hukum

4 of 70

IUU Fishing Merupakan Kejahatan Ekonomi

4

• Sebagian besar IUU fishing didorong oleh keuntungan ekonomi.

• Pelaku membandingkan keuntungan yang diharapkan dengan risiko penegakan hukum.

• Risiko terdeteksi yang rendah meningkatkan insentif untuk melanggar peraturan.

• Pengawasan dan sanksi yang efektif meningkatkan biaya kegiatan ilegal.

• Tujuannya adalah membuat penangkapan ikan ilegal tidak menguntungkan secara ekonomi.

Pesan Utama: Keberhasilan diukur dari perubahan perilaku pelaku—bukan sekadar peningkatan jumlah penangkapan.

Illegal Profit

Probabilitas Terdeteksi� × �Sanksi

Make Violations Unprofitable

5 of 70

Temuan Wawancara di Batam, Natuna, dan Ambon

4-2

Temuan menunjukkan tiga tantangan struktural utama:

Wawancara dilakukan dengan awak kapal pengawas dan personel yang bertanggung jawab atas operasi kapal pengawas. Wawancara berfokus pada operasi, komando dan kendali, kegiatan patroli, komunikasi, pemeliharaan, serta praktik operasional yang sebenarnya.

Pesan Utama: Peningkatan pengawasan perikanan tidak hanya memerlukan tambahan kapal pengawas, tetapi juga perbaikan terpadu pada operasi, komunikasi, pemeliharaan, logistik, dan manajemen operasional.

Operasi Kapal Pengawas

Keterbatasan Kemampuan Operasional

Kelemahan Informasi & Komunikasi

Konsep Operasi Belum Dioptimalkan

6 of 70

Temuan Wawancara di Batam, Natuna, dan Ambon

4-3

1. Keterbatasan Kemampuan Operasional

• Operasi patroli sangat dibatasi oleh anggaran yang tersedia

(saat ini sekitar 60 hari patroli per tahun).

• Jumlah pangkalan pengawasan dan fasilitas operasi depan belum memadai.

• Sistem dukungan pemeliharaan dan logistik belum sepenuhnya berkembang.

2. Kelemahan dalam Informasi dan Komunikasi

• Operasi sangat bergantung pada jaringan komunikasi komersial.

• Berbagi informasi secara waktu nyata antara kantor pusat, pangkalan

pengawasan, dan kapal masih terbatas.

• Informasi operasional belum selalu dapat diolah menjadi keputusan

operasional yang tepat waktu.

3. Konsep Operasi Belum Dioptimalkan

• Perencanaan patroli berbasis risiko belum sepenuhnya diterapkan.

• Operasi berbasis intelijen masih terbatas.

• Manajemen armada dan alokasi sumber daya patroli perlu dioptimalkan.

7 of 70

Arah Strategis PSDKP (2025–2029)

5

Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) bertujuan untuk:

Memperkuat kegiatan pencegahan dan pengawasan.

Meningkatkan kemampuan armada dan infrastruktur pengawasan.

Meningkatkan efektivitas penegakan hukum.

Mendorong pengelolaan perikanan berkelanjutan.

Pesan Utama: Kepatuhan berkelanjutan—bukan jumlah penangkapan—merupakan tujuan akhir.

8 of 70

Arah Strategis PSDKP (2025–2029)

5-2

9 of 70

Operasi dan Pemeliharaan dalam Rencana Strategis PSDKP

5-2-2

Pesan Utama: Integrasi pengembangan kapal dan fasilitas dengan operasi dan pemeliharaan meningkatkan kemampuan pengawasan.

  • Pengadaan kapal dan peralatan perlu berjalan seiring dengan operasi dan pemeliharaan yang berkelanjutan.
  • Rencana strategis menetapkan sasaran bukan hanya untuk pengadaan kapal dan peralatan baru, tetapi juga untuk operasi dan pemeliharaan.
  • Di setiap pangkalan, selaraskan perencanaan patroli, pemeliharaan, dukungan logistik, dan penempatan personel.

10 of 70

Gambaran Umum PERMEN KP No. 8/2025

5-3

Pesan Utama: Pertahankan armada kapal pengawas yang siap operasi melalui pengelolaan terpadu atas kapal, awak, bahan bakar, pemeliharaan, komunikasi, dan suku cadang.

Tujuan Peraturan

Menggantikan PERMEN KP No. 4/2021 dengan kerangka manajemen yang komprehensif.

Membentuk sistem terpadu untuk pengelolaan kapal pengawas.

Menstandarkan pengelolaan kapal pengawas PSDKP secara nasional.

Meningkatkan kesiapan operasional, akuntabilitas, dan keberlanjutan.

Memberikan landasan hukum bagi pelaksanaan Rencana Strategis PSDKP (2025–2029).

�

​

Komponen Utama Peraturan�

Konsep Strategis

Dari "Memiliki Kapal Pengawas"

      ⬇

Menuju "Mempertahankan Armada Pengawas yang Siap Operasi"

11 of 70

Gambaran Umum PERMEN KP No. 8/2025

5-4

Bidang

Ketentuan Utama

Operasi

Pengawasan berbasis intelijen, pemeriksaan, pengejaran seketika, operasi gabungan, serta komando dan kendali.

Manajemen Armada

Klasifikasi kapal, registrasi, pengerahan, dan pengendalian operasional.

Personel

Kualifikasi awak kapal, pelatihan, pengembangan karier, jadwal dinas, dan kesejahteraan.

Pemeliharaan dan Logistik

Pemeliharaan preventif, pemeliharaan prediktif, perbaikan darurat, logistik, dan perencanaan pemeliharaan tahunan.

Pemantauan dan Evaluasi

Pusat Pemantauan Kapal, pengawasan udara, evaluasi kinerja, dan perbaikan berkelanjutan (PDCA).

Pesan Utama: PERMEN KP No. 8/2025 tidak hanya mengatur kapal pengawas.

Peraturan ini menetapkan sistem manajemen terpadu yang mencakup operasi, personel,

pemeliharaan, logistik, pengelolaan informasi, dan perbaikan berkelanjutan untuk

mendukung penegakan hukum perikanan yang efektif.

12 of 70

Tidak Mungkin Mengawasi Seluruh Wilayah

6

Wilayah Maritim yang Luas

Jumlah Kapal Pengawas yang Terbatas

13 of 70

Tidak Mungkin Mengawasi Seluruh Wilayah

6-2

14 of 70

Tidak Mungkin Mengawasi Seluruh Wilayah

6-3

15 of 70

Tidak Mungkin Mengawasi Seluruh Wilayah

6-4

• Indonesia memiliki wilayah yurisdiksi maritim yang sangat luas.

• Jumlah kapal pengawas terbatas.

• Bahan bakar, pemeliharaan, awak, dan hari patroli terbatas.

• Pengawasan yang merata di seluruh perairan tidak realistis.

• Karena itu, prioritas operasional harus ditetapkan.

Pesan Utama: Beralih dari mengawasi seluruh wilayah menjadi memusatkan kemampuan pada lokasi yang paling efektif.

Sea Guardian

(General Atomics Aeronautical Systems, Inc.)

16 of 70

Pengawasan Berbasis Risiko

7

• Nilai kemungkinan dan dampak pelanggaran.

• Prioritaskan kapal dan wilayah berisiko tinggi.

• Manfaatkan riwayat penegakan hukum dan tren musiman.

• Fokus pada kegiatan ilegal bernilai tinggi dan terorganisasi.

• Pusatkan sumber daya pengawasan pada lokasi yang menghasilkan dampak operasional terbesar.

Pesan Utama: Sumber daya pengawasan yang terbatas harus selalu diarahkan pada sasaran dengan risiko tertinggi.

Kemungkinan

Dampak

Pengawasan

Prioritas

Pantau secara Berkala

Tingkatkan Pemantauan

Siapkan Respons

17 of 70

Kinerja Kapal Pengawas Tidak Diukur Hanya dari Penangkapan

8

• Statistik penangkapan saja tidak mencerminkan efektivitas operasional.

• Kehadiran patroli memberikan efek pencegahan terhadap kegiatan ilegal.

• Pemeriksaan kapal dan pengumpulan intelijen merupakan keluaran yang bernilai.

• Kerja sama dengan instansi mitra dan POKMASWAS memperkuat pengawasan.

• Kinerja harus dievaluasi menggunakan KPI yang tepat.

Pesan Utama: Hari patroli menunjukkan aktivitas; berkurangnya pelanggaran menunjukkan hasil operasional.

Input:

Anggaran & Kapal Pengawas

Aktivitas:

Patroli Pengawasan

Output:

Pemeriksaan Kapal dan Penindakan

Outcome:

Berkurangnya Pelanggaran

18 of 70

Memaksimalkan 60 Hari Patroli per Tahun

9

• Anggaran bahan bakar dan operasional terbatas.

• Menambah hari patroli saja tidak selalu memungkinkan.

• Pusatkan patroli pada periode berisiko tinggi.

• Prioritaskan daerah penangkapan ikan berisiko tinggi.

• Manfaatkan operasi gabungan apabila sesuai.

Pesan Utama: Sumber daya patroli yang terbatas harus dipusatkan pada lokasi dan waktu yang memberikan dampak operasional terbesar.

19 of 70

Memaksimalkan 60 Hari Patroli per Tahun

9-2

Anggaran Terbatas

Pengadaan Kapal pengawas (€254.7 juta untuk

10 kapal)

Anggaran Bahan Bakar

Sekitar 60 Hari Patroli per Tahun

Pengerahan Berbasis Risiko

Wilayah Berisiko Tinggi

Musim Berisiko Tinggi

Operasi Gabungan

Efektivitas Operasional Maksimal

20 of 70

21 of 70

Tugas Lokakarya

10

Pilih salah satu topik berikut.

1. Bagaimana pengelolaan pangkalan pengawasan

dapat ditingkatkan?

2. Bagaimana operasi kapal pengawas dapat dibuat

lebih efektif?

Pertimbangkan batasan berikut.

• Perbaikan apa yang tidak memerlukan tambahan anggaran?

• Investasi berbiaya rendah apa yang memberikan manfaat terbesar?

• Apa yang harus dilaksanakan dalam satu tahun?

Pesan Utama: Fokus pada perbaikan praktis, bukan solusi ideal.

22 of 70

Prosedur Lokakarya

11

• Bentuk kelompok yang terdiri dari 8–12 peserta.

• Setiap peserta mengidentifikasi tantangan operasional, lalu kelompokkan masalah yang serupa.

• Prioritaskan tantangan yang paling penting dan identifikasi akar penyebabnya.

• Pilih tiga (3) langkah perbaikan yang praktis.

• Ringkas hasil diskusi dalam maksimal lima (5) slide.

• Waktu presentasi maksimum: 5 menit untuk setiap kelompok.

Pesan Utama: Jangan berhenti pada identifikasi masalah; kembangkan solusi yang realistis.

23 of 70

Menata Masalah, Penyebab, dan Solusi

12

• Masalah Saat Ini

• Akar Penyebab

• Dampak Operasional

• Langkah Perbaikan

• Organisasi Penanggung Jawab (JKT HQs, UPT, Vessels, etc.?)

• Jangka Waktu Pelaksanaan (3-month, 6-month, 1-year)

Pesan Utama: Ubah permasalahan operasional menjadi rencana aksi yang praktis.

24 of 70

Format Presentasi dan Kriteria Evaluasi

13

Pesan Utama: Rekomendasi praktis lebih bernilai daripada pembahasan teoritis.

Isi Presentasi

• Identifikasi masalah dengan prioritas tertinggi.�• Jelaskan akar penyebab masalah tersebut.�• Usulkan tiga (3) langkah perbaikan.�• Jelaskan sumber daya yang diperlukan dan unit yang bertanggung jawab.�• Jelaskan apakah langkah perbaikan dapat dilaksanakan dalam satu tahun.

Kriteria Evaluasi

• Kelayakan pelaksanaan dan kepraktisan langkah perbaikan.�• Dampak terhadap efektivitas operasional.�• Kejelasan penjelasan.

Pesan Utama

Rekomendasi yang dapat diterapkan lebih bernilai daripada pembahasan teoretis.

25 of 70

Presentasi Kelompok

14

• Waktu presentasi maksimum: 5 menit

Jelaskan dengan jelas:

• Masalah operasional

• Akar penyebab

• Langkah perbaikan

• Manfaat yang diharapkan

• Identifikasi tantangan yang sama.

• Bandingkan pendekatan yang berbeda.

Pesan Utama: Pengalaman praktis di lapangan memberikan masukan berharga

bagi perbaikan organisasi.

26 of 70

27 of 70

Klasifikasi Tantangan Operasional yang Umum

15

• Perencanaan Operasional

• Dukungan Pangkalan

• Pemeliharaan

• Personel

• Informasi & Komunikasi

• Koordinasi Antarinstansi

Pesan Utama: Penataan permasalahan operasional membantu mengubah pengalaman individu menjadi pengetahuan organisasi.

28 of 70

Memahami Struktur Operasional Secara Keseluruhan

16

• Masalah individual tidak boleh dilihat secara terpisah.

• Anggaran, bahan bakar, pemeliharaan, personel, dan informasi saling berkaitan erat.

• Kelemahan pada satu bidang memengaruhi seluruh sistem pengawasan.

• Perbaikan berkelanjutan memerlukan pendekatan manajemen yang terpadu.

Pesan Utama: Kemampuan patroli yang berkelanjutan bergantung pada perbaikan seluruh sistem operasional, bukan komponen secara terpisah.

Resources:

Anggaran, Personel & Pemeliharaan

Informasi:

Komunikasi & Berbagi Informasi

Konsep:

Operasi Berorientasi Kecepatan & Kurangnya Optimalisasi Operasional

Key Operational Challenges

29 of 70

Empat Unsur yang Menentukan Kemampuan Pengawasan

17

1. Struktur Armada

• Appropriate kapal classes

• Proper deployment

• Clearly defined operational roles

​

2. Dukungan Pangkalan

• Bahan Bakar

• Air Tawar

• Suku Cadang

• Fasilitas Perbaikan

3. Manajemen Operasional

• Perencanaan misi

• Penjadwalan patroli

• Perencanaan pengerahan

​

4. Informasi & Penegakan Hukum

• Pengumpulan intelijen

• Berbagi informasi

• Pemeriksaan kapal

• Dukungan penyidikan

Pesan Utama: Kapal berkinerja tinggi saja tidak dapat menjamin pengawasan yang efektif. Kemampuan operasional bergantung pada integrasi keempat unsur ini.

30 of 70

Perencanaan Operasional Tahunan, Triwulanan, dan Bulanan

18

Perencanaan Tahunan:

• Tetapkan prioritas patroli tahunan.

• Alokasikan sumber daya pemeliharaan.

• Siapkan anggaran operasional tahunan.

• Identifikasi wilayah pengawasan prioritas.

Perencanaan Triwulanan:

• Pertimbangkan kegiatan penangkapan ikan musiman.

• Pertimbangkan pola migrasi.

• Perbarui prioritas operasional.

Pesan Utama: Rencana operasional harus terus diperbarui sesuai perubahan kondisi operasional.

Perencanaan Bulanan:

• Tetapkan kapal dan awak.

• Pastikan dukungan logistik.

• Siapkan jadwal misi terperinci.

Rencana Tahunan

Rencana Triwulanan

Rencana Bulanan

Misi (Kegiatan)

Tinjauan

31 of 70

Dari Operasi Kapal Tunggal ke Operasi Armada

19

Class I

• Patroli lepas pantai

• Misi jarak jauh

• Daya tahan tinggi

Class II

• Patroli jarak menengah

• Pengawasan regional

• Dukungan operasional

Pesan Utama: Pengawasan yang efektif bergantung pada kombinasi kapal dengan kemampuan yang saling melengkapi, bukan pada satu kapal berkinerja tinggi.

Class III

• Patroli pesisir

• Pemeriksaan kapal

• Respons cepat

Kelas kapal yang berbeda melaksanakan misi yang berbeda.

Class 1:

Patroli Wilayah Luas

Class 2:

Patroli Regional

Class 3:

Patroli Pesisir

Kapal Patroli Kecil:

Pemeriksaan Kapal & Respons Cepat

32 of 70

Perencanaan Misi Berbasis Intelijen

20

• Vessel Monitoring System (VMS)

• Automatic Identification System (AIS)

• Pengawasan udara

• Citra satelit

• Laporan dari nelayan

• Informasi POKMASWAS

• Riwayat penegakan hukum

• Informasi dari instansi mitra

Pesan Utama: Informasi bernilai hanya apabila mendukung keputusan operasional yang lebih baik.

Analisis

Perintah

Misi

VMS

AIS

Pengawasan Udara

Laporan Insiden

Kasus Historis

Informasi Instansi Mitra

33 of 70

Meja Pengawasan Maritim

20-2

• Integrasikan informasi VMS dan AIS.

• Kumpulkan laporan dari kapal pengawas.

• Analisis kasus-kasus sebelumnya.

• Lakukan penilaian risiko harian.

• Berikan briefing kepada awak patroli sebelum keberangkatan.

• Perbarui informasi selama operasi patroli.

Pesan Utama: Bahkan meja pengawasan yang sederhana dapat meningkatkan operasi patroli berbasis intelijen secara signifikan.

Meja

Pengawasan

Maritim

VMS/AIS

Laporan dari Nelayan

Riwayat Penegakan Hukum

Kapal Pengawas

34 of 70

Kegiatan Rutin Kapal Pengawas PSDKP dalam Operasi Normal

20-3

Category

Main Activities

① Pencegahan

Patroli kehadiran, patroli ZEE

② Pengumpulan Informasi

MDA, analisis AIS/VMS, wawancara dengan nelayan

③ Administrasi Preventif

Pembinaan administratif, kegiatan penyadaran

④ Kesiapan Operasional

Komunikasi, latihan, latihan gabungan

⑤ Keselamatan Maritim

Dukungan SAR, pemeriksaan keselamatan maritim

⑥ Manajemen Kapal

Pemantauan mesin, pemeliharaan, dukungan logistik

⑦ Pemanfaatan Data

Analisis konsumsi bahan bakar, catatan pelayaran, penilaian risiko

35 of 70

Konsep Patroli Multiguna

20-4

Operasi PSDKP saat ini dibatasi oleh jumlah hari operasi di laut per tahun

dan anggaran bahan bakar yang terbatas. Oleh karena itu, kapal pengawas

tidak seharusnya beroperasi hanya untuk mencari kapal yang melanggar.

Setiap patroli harus sekaligus melaksanakan:

✓ Pencegahan pelanggaran ✓ Pengumpulan informasi

✓ Pembinaan administratif ✓ Pelatihan awak kapal

✓ Pemantauan kondisi mesin ✓ Pengumpulan data operasional

Informasi dari setiap patroli perlu dianalisis dan digunakan untuk

merencanakan patroli berikutnya yang berfokus pada sasaran berbasis risiko.

Dengan demikian, terbentuk siklus operasi yang berkelanjutan:

Rencanakan → Patroli → Analisis → Perbaiki

Pesan Utama: Setiap patroli harus menghasilkan berbagai hasil operasional. Dengan

mengintegrasikan pencegahan pelanggaran, pengumpulan intelijen, administrasi preventif,

kesiapan operasional, manajemen kapal, dan analisis data dalam setiap pelayaran, PSDKP

dapat memaksimalkan efektivitas pengawasan meski hari operasi di laut dan anggaran terbatas.

36 of 70

Kemampuan Dukungan Logistik Pangkalan Pengawasan

21

• Bahan bakar, air tawar, dan pasokan makanan

• Suku cadang

• Pelumas

• Fasilitas sandar yang aman

• Pengelolaan air bilga, minyak bekas, dan limbah

• Pengisian kembali darurat

Pesan Utama: Kesiapan operasional bergantung pada logistik sama besarnya dengan kinerja kapal.

Kapal Pengawas

Bahan Bakar

Fresh Water

Perbekalan

Suku Cadang

Fasilitas Sandar

Pembuangan Minyak Bekas

37 of 70

Pemanfaatan Pangkalan Operasi Depan

22

• Kurangi waktu transit.

• Perpanjang daya tahan patroli.

• Tingkatkan kesiapan operasional.

• Perluas cakupan pengawasan.

Contoh: Natuna, Anambas, dan lokasi dukungan regional lainnya

• Pengisian bahan bakar

• Pengisian air tawar

• Suku Cadang storage

​

Pesan Utama: Fasilitas dukungan yang terbatas sekalipun dapat meningkatkan efisiensi patroli secara signifikan.

• Awak rotation

• Dukungan operasional

​

Pangkalan Pengawasan Utama

Pangkalan Operasi Depan

Wilayah Patroli Berisiko Tinggi

38 of 70

Kecepatan dan Konsumsi Bahan Bakar

23

• Kecepatan yang lebih tinggi memerlukan daya mesin yang lebih besar.

• Konsumsi bahan bakar meningkat dengan cepat seiring kenaikan kecepatan kapal.

• Operasi kecepatan tinggi harus dibatasi pada kebutuhan operasional.

• Patroli rutin pada umumnya harus dilakukan pada kecepatan jelajah ekonomis.

Pesan Utama: Kemampuan berkecepatan tinggi tidak berarti kapal harus terus-menerus dioperasikan pada kecepatan tinggi.

39 of 70

Menentukan Kinerja Kapal Berdasarkan Kebutuhan Misi

24

• Kecepatan intersepsi yang memadai

• Jangkauan operasi yang panjang

• Daya tahan patroli berkelanjutan lebih dari 7–10 hari

• Kelaiklautan yang baik

• Kelayakhunian bagi awak

• Kemampuan operasi RHIB

Pesan Utama: Spesifikasi kapal pengawas harus ditentukan berdasarkan kebutuhan operasional, bukan kecepatan maksimum.

Kecepatan_knt

Shaft Power_�kW

Load_%

Bahan Bakar_kg/h

18

864

21.6

207.4

20

1185.2

29.6

284.4

22

1577.5

39.4

378.6

24

2048

51.2

428.9

26

2603.9

65.1

527.2

28

3252.1

81.3

713.9

30

4000

100

908

Example: A patrol ship with 2000kw×2 Main Engines

Kecepatan dan konsumsi bahan bakar merupakan nilai hasil perhitungan.

40 of 70

Dari Pemeliharaan Korektif ke Pemeliharaan Preventif

25

• Pemeliharaan korektif menyebabkan downtime yang lebih lama.

• Suku cadang impor sering memerlukan waktu pengadaan yang panjang.

• Deteksi kondisi abnormal sebelum terjadi kerusakan.

• Jadwalkan pemeliharaan berdasarkan jam operasi mesin.

• Tingkatkan kesiapan armada melalui pemeliharaan preventif.

Pesan Utama: Biaya operasional terbesar biasanya adalah waktu tidak siap operasi (downtime), bukan biaya perbaikan.

Corrective Pemeliharaan

Pemeliharaan Preventif

Mengurangi Downtime

41 of 70

Pemeriksaan Harian dan Catatan Pemeliharaan

26

• Catat jam operasi mesin.

• Periksa sistem pelumasan.

• Periksa sistem pendinginan.

• Periksa sistem bahan bakar.

• Catat getaran dan suara abnormal.

• Perbarui catatan pemeliharaan.

• Bagikan informasi dengan staf pemeliharaan di darat.

Pesan Utama: Catatan pemeliharaan yang akurat merupakan dasar pemeliharaan preventif.

Jam Operasi Mesin

Filter

Pemeriksaan Pasca-Patroli

Minyak Pelumas & Cairan Pendingin

Suhu/ Suara Abnormal

Lapor ke Dukungan Darat

42 of 70

Perencanaan Pemeliharaan Tahunan

27

• Integrasikan perencanaan patroli dan pemeliharaan.

• Jadwalkan docking tahunan.

• Laksanakan pemeriksaan berkala.

• Proyeksikan kebutuhan pemeliharaan berdasarkan jam operasi mesin.

• Atur jadwal pemeliharaan antar kapal secara bergiliran.

Pesan Utama: Hindari menjadwalkan pemeliharaan beberapa kapal secara bersamaan.

43 of 70

Annual Maintenance Planning (Example)

Stagger maintenance to keep at least 3 of 4 vessels ready for patrol throughout the year.

Illustrative four-vessel schedule

Vessel / metric

Jan

Feb

Mar

Apr

May

Jun

Jul

Aug

Sep

Oct

Nov

Dec

Vessel 1

D

D

P

P

P

P

P

P

E

P

P

P

Vessel 2

P

P

D

D

P

P

P

P

P

E

P

P

Vessel 3

P

P

P

P

D

D

P

P

P

P

E

P

Vessel 4

P

P

P

P

P

P

D

D

P

P

P

E

Patrol-ready vessels

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

3

Fleet availability

75%

75%

75%

75%

75%

75%

75%

75%

75%

75%

75%

75%

P Patrol-ready D Docking / inspection E Engine maintenance

Planning rule

Only one vessel in planned maintenance at a time.

Combine docking and statutory inspections where feasible.

Availability calculation

3 patrol-ready vessels / 4 vessels = 75%

Planned monthly and annual availability: 75%

Illustrative plan: validate durations against engine hours, inspection requirements and local operating conditions.

27-2

27-2

44 of 70

Manajemen Suku Cadang dan Dukungan Teknis

28

• Tetapkan tingkat persediaan minimum.

• Identifikasi komponen dengan waktu pengadaan panjang.

• Gunakan bersama suku cadang yang kompatibel.

• Analisis riwayat kerusakan.

• Koordinasikan dengan galangan kapal dan produsen.

• Evaluasi spesifikasi kapal baru.

Pesan Utama: Manajemen teknis dan perencanaan suku cadang merupakan investasi untuk mempertahankan kesiapan armada.

Dukungan Teknis Darat

Armada

Galangan Kapal

Produsen

Spare Parts

Anggaran

45 of 70

Rotasi Personel dan Awak Cadangan

29

Persyaratan Personel untuk Operasi Kapal Pengawas

Nakhoda dan Perwira Dek yang berkualifikasi

KKM dan Perwira Mesin yang berkualifikasi

Petugas Penegakan Hukum (PPNS dan Personel Pemeriksaan Kapal)

Personel Komunikasi dan Intelijen

Daftar Awak Siaga

Kebijakan Istirahat dan Rotasi Awak setelah Patroli Berkepanjangan

Pesan Utama: Kapal pengawas tidak dapat berlayar tanpa seluruh personel berkualifikasi yang dipersyaratkan.

Tidak Dapat Berlayar

Lambung 〇

Bahan Bakar 〇

Pemeliharaan 〇

Awak ×

46 of 70

Langkah Perbaikan Prioritas untuk Satu Tahun Mendatang

30

Perbaikan Tanpa Biaya atau Berbiaya Rendah:

• Perjelas tanggung jawab.

• Tingkatkan kualitas catatan operasional.

• Perkuat perencanaan.

• Tingkatkan berbagi informasi.

Investasi Menengah:

• Tingkatkan persediaan suku cadang.

• Tingkatkan komunikasi.

• Perluas dukungan logistik.

• Laksanakan pelatihan teknis.

Investasi Jangka Panjang:

• Bangun kapal pengawas baru.

• Tingkatkan fasilitas pangkalan pengawasan.

• Kembangkan sistem informasi terpadu.

Pesan Utama: Clearly define responsibilities, required resources, and target deadlines. Classifying improvement measures by investment level helps establish realistic implementation priorities.

Masalah Prioritas Tertinggi

Akar Penyebab

Langkah Perbaikans

Responsible Unit

Target Waktu Penyelesaian

47 of 70

Menyeimbangkan Kebutuhan Misi dan Perlindungan Mesin

31

• Pilih kecepatan kapal sesuai kebutuhan misi.

• Hindari operasi kecepatan tinggi yang tidak diperlukan.

• Hindari operasi beban rendah secara terus-menerus dan berlebihan.

• Pantau kondisi mesin secara berkelanjutan.

• Laporkan kondisi abnormal segera.

• Lindungi peralatan propulsi melalui praktik pengoperasian yang tepat.

Pesan Utama: Pengoperasian mesin yang tepat sangat penting untuk mempertahankan kemampuan patroli secara berkelanjutan.

48 of 70

Kesimpulan: Dari Memiliki Kapal Pengawas menuju Mempertahankan Kemampuan Operasional

32

• Kapal pengawas merupakan aset nasional yang bernilai.

• Efektivitas operasional bergantung pada keseluruhan sistem dukungan.

• Prioritaskan patroli menggunakan perencanaan berbasis risiko.

• Integrasikan operasi, pemeliharaan, logistik, personel, dan intelijen.

• Mulai dengan perbaikan praktis di setiap pangkalan pengawasan.

Pesan Utama: Tujuannya bukan sekadar memiliki kapal pengawas, tetapi membangun sistem operasional berkelanjutan yang menjaga kapal tetap siap misi dan mampu mendukung penegakan hukum perikanan secara efektif.

Pengawasan

Efektif

Ship

Base

Informasi

Pemeliharaan

Human

Resources

49 of 70

50 of 70

Pengawasan Perikanan dengan Kapal Patroli Cepat

A

Kapal Patroli Cepat: Peran dan Konsep Operasi

Kapal patroli cepat memiliki kemampuan

respons cepat.

Misi utamanya meliputi:

• Respons awal yang cepat

• Pengejaran kapal yang dicurigai

• Pemeriksaan di atas kapal

• Penegakan hukum perikanan

dalam jangkauan terbatas

Kapal patroli cepat melengkapi kapal

pengawas lepas pantai, bukan

menggantikannya.

Efektivitasnya bergantung pada

integrasi dengan:

• Kapal pengawas lepas pantai

• Pangkalan operasi depan (FOB)

• Sistem intelijen dan pengawasan

Kapal patroli cepat bukan sekadar

“kapal yang cepat”, tetapi aset

operasional untuk mendukung

penegakan hukum yang cepat

dan efektif.

Pesan Utama: Misi menentukan cara penggunaan kapal patroli cepat.

51 of 70

Ringkasan (Kapal Patroli Berkecepatan Tinggi)

Pean Utama: Efektivitas kapal patroli cepat bergantung pada pembagian peran yang jelas, operasi berbasis intelijen, pengerahan berbasis risiko, pemeliharaan preventif, dan pelatihan awak yang berkelanjutan.

A-1

Kapal patroli berkecepatan tinggi mencapai efektivitas maksimum melalui pembagian peran yang jelas, operasi berbasis intelijen, pengerahan berbasis risiko, pemeliharaan preventif, dan pelatihan awak yang berkelanjutan.

52 of 70

Tantangan Operasional Saat Berlayar dengan Kecepatan Rendah

A-2

Dalam misi patroli perikanan, kapal pengawas sering beroperasi pada beban mesin rendah saat:

• Melaksanakan pengawasan

• Memantau kapal penangkap ikan

• Beroperasi di dalam pelabuhan

• Membayangi kapal yang dicurigai

• Mesin diesel laut berkecepatan tinggi tidak dirancang untuk operasi terus-menerus dalam waktu lama pada beban mesin yang sangat rendah.

​

Operasi beban rendah berkepanjangan dapat menyebabkan:

• Pembakaran tidak sempurna

• Endapan karbon

• Pengotoran turbocharger

• Penurunan kinerja mesin

Pesan Utama: Keberhasilan misi memerlukan keseimbangan antara kebutuhan operasional dan perlindungan mesin yang tepat.

53 of 70

Dampak Operasi Beban Rendah pada Mesin Diesel Laut Berkecepatan Tinggi

A-3

• Suhu pembakaran lebih rendah

• Pembentukan jelaga meningkat

• Bahan bakar tidak terbakar

• Putaran turbocharger menurun

• Tekanan boost lebih rendah

• Endapan karbon

• Pengotoran injektor

• Kinerja pelumasan menurun

• Respons mesin lebih lambat

Pesan Utama: Operasi beban rendah secara terus-menerus mempercepat pengotoran mesin dan meningkatkan kebutuhan pemeliharaan.

54 of 70

Penampang Umum Mesin Diesel Laut Berkecepatan Tinggi

A-4

Pesan Utama: Pemahaman struktur mesin membantu operator mengenali kondisi abnormal sebelum terjadi kerusakan serius.

55 of 70

Penampang Umum Mesin Diesel Laut Berkecepatan Tinggi

A-5

56 of 70

Mengenali Gejala Abnormal dan Tindakan Korektif

A-6

Pesan Utama: Deteksi dini gejala abnormal mencegah kerusakan besar pada mesin.

Asap Putih: Kemungkinan Penyebab dan Tindakan Awal�• Pembakaran tidak sempurna akibat suhu pembakaran rendah.�• Gangguan pada sistem injeksi bahan bakar.�• Uap air atau kebocoran cairan pendingin ke dalam ruang bakar. Tindakan�• Periksa beban mesin, suhu mesin, dan kondisi cairan pendingin saat gejala muncul.��• Jika asap berlanjut, cairan pendingin berkurang, atau muncul alarm maupun gangguan operasi, laporkan kepada KKM dan ikuti prosedur pemeriksaan atau penghentian mesin dari produsen.�• Tingkatkan beban hanya jika penyebabnya telah dinilai terkait operasi pada beban dan suhu rendah, serta tindakan tersebut diizinkan oleh produsen.

57 of 70

Praktik yang Direkomendasikan Saat Patroli Kecepatan Rendah

A-7

• Hindari operasi berkepanjangan pada putaran mesin minimum. (Bergantung pada petunjuk produsen.)

• Secara berkala tingkatkan beban mesin hingga 60–70% MCR.

• Pertahankan beban ini selama 5–10 menit.

• Periksa kondisi mesin setelah pengejaran berkecepatan tinggi maupun operasi beban rendah yang berkepanjangan.

• Catat kondisi operasi untuk pemeliharaan preventif.

Pesan Utama: Pengoperasian berkala pada beban mesin sedang meningkatkan efisiensi pembakaran dan mengurangi penumpukan karbon.

Operasi Kecepatan Normal

Mulai Operasi Kecepatan Rendah

Operasikan pada Beban Mesin 60–70% selama 5–10 Menit

Sekitar 2 hingga 3 jam?

Lanjutkan Operasi Kecepatan Rendah

Kembali ke Operasi Kecepatan Rendah

y

n

58 of 70

59 of 70

Pengawasan Perikanan Menggunakan Kapal Patroli Berkecepatan Tinggi

B

60 of 70

B-1

61 of 70

B-2

62 of 70

B-3

63 of 70

Pengawasan Perikanan Menggunakan Kapal Patroli Berkecepatan Tinggi

• Kapal patroli berkecepatan tinggi memberikan kemampuan respons cepat.

• Melengkapi kapal pengawas lepas pantai.

• Mendukung operasi berbasis intelijen.

• Memerlukan operasi, pemeliharaan, dan pelatihan yang tepat.

• Pelajari metode penggunaan yang praktis.

Pesan Utama: Tujuannya adalah penegakan hukum perikanan yang efektif, bukan sekadar mengoperasikan kapal cepat.

B-4

64 of 70

Mengapa Kapal Patroli Berkecepatan Tinggi Diperlukan?

• Indonesia memiliki wilayah yurisdiksi maritim yang sangat luas.

• Hari patroli dan bahan bakar terbatas.

• Kapal penangkap ikan ilegal semakin cepat.

• Respons cepat sangat penting.

• Fokus pada wilayah prioritas.

Pesan Utama: Berikan respons cepat pada lokasi yang paling membutuhkan.

B-5

65 of 70

Karakteristik Kapal Patroli Berkecepatan Tinggi

• Advantages:

Kecepatan

Kemampuan Manuver

Kemampuan pemeriksaan kapal.

​

Pesan Utama: Gunakan kapal berkecepatan tinggi pada kondisi ketika keunggulannya memberikan manfaat terbesar.

B-6

• Limitations:

Jangkauan dan daya tahan terbatas.

Konsumsi bahan bakar tinggi. Tidak sesuai untuk setiap misi.

66 of 70

Pembagian Peran

• Kapal lepas pantai: pengawasan, komando, dan logistik.

• Kapal berkecepatan tinggi: intersepsi dan pengejaran.

• Pemeriksaan kapal.

• Respons awal.

• Operasi terpadu.

Pesan Utama: Tidak satu pun jenis kapal tersebut cukup jika digunakan sendiri.

B-7

67 of 70

Pengawasan Berbasis Intelijen

• Gunakan VMS, AIS, dan citra satelit.

• Pengawasan udara.

• Laporan dari nelayan.

• Informasi dari instansi mitra.

• Lakukan pengerahan berdasarkan analisis risiko.

Pesan Utama: Informasi harus mendukung keputusan operasional.

B-8

Informasi → Analisis → Keputusan → Patroli

68 of 70

Model Operasi

Pengerahan berbasis darat.

Operasi kapal induk.

Pangkalan operasi depan.�

• Pilih sesuai misi.

• Sesuaikan dengan kondisi laut.

Pesan Utama: Pilih model operasi yang paling sesuai dengan misi. � Kerahkan kapal ketika dampak operasionalnya paling besar.

• Prioritaskan insiden berisiko tinggi.

• Kapal gelap (dark vessels).

• VMS abnormal.

• Kawasan konservasi.

• Operasi malam dan laporan.

Pengerahan Berbasis Risiko

B-9

Risiko Tinggi → Prioritas Tinggi → Respons Cepat

69 of 70

Peralatan Deteksi & Pemeliharaan

Peralatan Esensial

• GPS, radar, AIS, dan ECDIS.

• Kamera IR dan drone.

• Lampu Sorot

• Body camera.

• Komunikasi yang andal.

• Komunikasi Satelit / Radio VHF

• Kamera Digital

Pesan Utama: Deteksi, pencatatan, dan pelaporan sama pentingnya.�         Downtime biasanya lebih mahal daripada biaya perbaikan.

Pemeliharaan dan Kesiapan Operasional

• Pemeriksaan harian.

• Manajemen jam operasi mesin.

• Pelumasan dan pendinginan.

• Pemeliharaan preventif.

B-10

70 of 70

Ringkasan

  • Pembagian peran.
  • Intelligence-led operations.
  • Pengerahan berbasis risiko.
  • Preventive pemeliharaan.
  • Pelatihan dan PDCA.

Pesan Utama: Operasikan kapal patroli berkecepatan tinggi sebagai bagian dari sistem pengawasan terpadu.

  1. Pengendalian kapal pada kecepatan tinggi.
  2. Navigasi malam.
  3. Cuaca buruk.
  4. Teknik pemeriksaan kapal.
  5. CRM dan pertolongan pertama.

Pengembangan Personel

  • Awak kapal menentukan kinerja operasional

B-11