1 of 51

SARANA BERPIKIR ILMIAH

Sutarto Hadi

Universitas Lambung Mangkurat

2 of 51

SARANA ILMIAH

Untuk membantu kegiatan ilmiah secara lebih baik diperlukan

sarana berpikir.

​

Sarana berpikir itu pada dasarnya merupakan alat yang

membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus dipenuhi.

3 of 51

SARANA BERPIKIR ILMIAH

Ada sejumlah sarana ilmiah yang dapat digunakan untuk suatu kegiatan ilmiah, yaitu:

  • Bahasa,
  • Matematika,
  • Statistika
  • Logika

(Bakhtiar, 2019).

4 of 51

Bahasa (1)

Menurut Ernest Cassirer (Sumantri, 2000) bahwa keunikan manusia bukanlah terletak pada kemampuan berpikir, melainkan terletak pada kemampuan berbahasa. Ernest menyebut manusia sebagai “animal symbolicum”, yaitu makhluk yang mempergunakan simbol.

Memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Bahasa, membedakan manusia dengan ciptaan lainnya.

​

5 of 51

Bahasa (2)

  • Bahasa adalah sarana komunikasi antar manusia, tanpa Bahasa tiada komunikasi.

​

  • Bahasa adalah pernyataan pikiran manusia.

​

  • Untuk dapat berpikir ilmiah, seseorang selayaknya menguasai kriteria maupun langkah-langkah dalam kegiatan ilmiah. Dengan menguasai hal tsb tujuan yang akan digapai akan terwujud.

​

  • Di samping menguasai langkah-langkah, tentunya kegiatan ini dibantu oleh sarana berupa Bahasa, logika, matematika dan statistika.

​

6 of 51

Bahasa (3)

  • Menggunakan Bahasa yang baik dan benar dalam berpikir akan menghasilkan kesimpulan yang benar.

​

  • Bahasa sebagai alat komunikasi merupakan proses penyampaian informasi berupa pengetahuan. Bahasa yang digunakan harus terbebas dari unsur emotif.

​

  • Bahasa ilmiah harus disampaikan secara tepat, sehingga tidak menimbulkan tafsir yang berbeda dengan pihak penerima. Hal ini dimaksudkan untuk tidak terjadi kesalahan informasi. Suatu informasi yang berbeda, maka proses berpikirnya juga akan berbeda.

​

  • Kekurangan berbahasa, di samping berdampak berbeda tafsir dengan pihak penerima, tetapi juga akan menghasilkan kesimpulan yang salah juga. Karena itu, dalam kegiatan ilmiah, buku pedoman Bahasa Indonesia Baku (EYD), yang diterbitkan oleh Depdikbud harus benar-benar dipahami dengan baik.

7 of 51

Penggolongan Bahasa

Bahasa Alami: Bahasa sehari-hari yang digunakan untuk menyatakan sesuatu, yang tumbuh atas pengaruh lingkungan. Bahasa alami dibedakan atas: Bahasa isyarat dan Bahasa biasa.

​

Bahasa isyarat: Bahasa yang dapat berlaku umum dan dapat pula berlaku khusus.

​

Bahasa biasa: Bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari. Simbol sebagai pengandung arti dalam Bahasa disebut “kata”, sedang arti yang dikandungnya disebut “makna”. Dalam Bahasa biasa pemakaian kata dibedakan antara dua hal, yaitu:

  1. Kata tertentu “mengartikan” sesuatu yang sebenarnya, misal kata “puncak” dalam kalimat: puncak gunung Merapi tertutup lahar.
  2. Dengan pemakian sebagai “arti kiasan”, misal kata”puncak” dalam kalimat: Suharto adalah puncak kewibawaan orde baru dalam negara Indonesia.

8 of 51

Fungsi Bahasa

Fungsi ekspresif atau emotif:

Tampak pada curahan rasa takut serta takjub yang dilakukan serta merta pada pemujaan-pemujaan, dan pencurahan seni suara, serta seni sastra.

​

Fungsi afektif atau praktis:

Untuk menimbulkan efek psikologis terhadap orang lain dan sebagai akibatnya mempengeruhi Tindakan-Tindakan mereka ke arah kegiatan atau sikap tertentu yang diinginkan.

​

Fungsi simbolik dan logik:

Dipandang dalam artinya yang luas, meliputi juga fungsi komunikatif. Karena arti itu dinyatakan dalam simbol-simbol bukan hanya untuk menyatakan fakta saja melainkan juga untuk menyampaikan kepada orang lain.

9 of 51

Definisi

Berasal dari kata “define” yang berarti menandai batas-batas pada sesuatu, menentukan batas, memberi ketentuan atau batasan arti.

Jadi, “definisi” dapat diartikan sebagai penjelasan apa yang dimaksudkan dengan sesuatu istilah, atau dengan kata lain definisi ialah sebuah pernyataan yang memuat penjelasan tentang arti suatu istilah.

​

Definisi harus terdiri atas dua bagian: “definiendum” (istilah yang harus diberi penjelasan) dan “definiens” (uraian yang berisi arti dari istilah tersebut).

Contoh: “Manusia adalah makhluk yang berakal budi.”

“Demokrasi adalah pemerintah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.”

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menghasilkan manusia yang berilmu pengetahuan, terampil, dan berakhlak.”

10 of 51

Macam-macam Definisi (1)

 

11 of 51

Macam-macam Definisi (2)

 

12 of 51

Macam-macam Definisi (3)

Definisi Praktis: adalah penjelasan tentang hal ditinjau dari segi kegunaan atau tujuannya yang sederhana. Definisi ini ada dua macam: definisi operasional dan definisi fungsional.

  1. Definisi operasional, yakni penjelasan suatu istilah dengan cara menunjukkan pengujiannya secara khusus, misal: magnit adalah logam yang dapat menarik gugusan besi; panjang adalah jumlah kali ukuran standar yang memenuhi jarak.
  2. Definisi fungsional, yakni penjelasan sesuatu berdasarkan kegunaan atau tujuan, misal: negara adalah suatu persekutuan besar yang bertujuan kesejahteraan bersama bersifat pragmatis; filsafat adalah pemikiran secara kritis dan sistematik untuk mencari hakikat atau kebenaran sesuatu.

13 of 51

Bahasa Ilmiah

Untuk Bahasa ilmiah yang harus diperhatikan adalah fungsi simbolik, karena komunikasi ilmiah bertujuan untuk menyampaikan informasi yang berupa pengetahuan. Agar komunikasi ilmiah ini berjalan dengan baik maka bahasa yang dipergunakan harus terbebas dari unsur-unsur emotif.

Komunikasi ilmiah harus bersifat reproduktif, artinya jika si pengirim komunikasi menyampaikan suatu informasi yang katakanlah x, maka si penerima komunikasi harus menerima informasi yang berupa x pula.

14 of 51

Logika dan Matematika

 

15 of 51

Logika dan Matematika

Sebuah kegiatan, bisa disimbolkan apa aja sesuai perjanjian atau kesepakatan.

​

Contoh:

​

​

​

​

​

​

.

Sebuah mobil bergerak dengan kecepatan v, dan jarak dinyatakan dengan d, serta waktu dinyatakan dengan t. Maka kecepatan mobil dinyatakan dengan: v = d/t

Sebuah mobil bergerak dari Banjarmasin ke Balangan dengan kecepatan

rata-rata 80 km/jam. Jika jarak Banjarmasin ke Balangan 200 km, dan

mobil berangkat pukul 08.00, pukul berapa tiba di Balangan?

16 of 51

MATEMATIKA

Ditinjau dari pola berpikirnya, maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan induktif. Matematika mempunyai peranan penting dalam berpikir deduktif, sedangkan Statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif.

​

Bahasa verbal mempunyai beberapa kekurangan. Untuk mengatasi kekurangan yang terdapat pada bahasa verbal, kita berpaling kepada matematika. Dalam hal ini kita katakan bahwa matematika adalah bahasa yang berusaha untuk menghilangkan sifat majemuk dan emosional dari bahasa verbal.

17 of 51

Matematika

Sifat kuantitatif dari matematika ini meningkatkan daya prediktif dan kontrol dari ilmu, memberikan jawaban lebih bersifat eksak, yang memungkinkan pemecahan masalah secara lebih tepat dan cermat.

18 of 51

Pernyataan dalam Matematika

Dalam matematika, biasanya kita menyatakan sesuatu menggunakan pernyataan deklaratif. Suatu pernyataan bisa benar atau salah dan tidak mungkin keduanya benar atau keduanya salah.

Pernyataan-pernyataan tersebut sering disebut dengan proposisi. Kuncinya adalah bahwa tidak boleh ada ambiguitas dalam pernyataan tersebut.

Kalimat “Langit itu indah” adalah bukan pernyataan, karena apakah langit itu indah atau tidak tergantung dari opini orang yang memandangnya.

Kalimat “Apakah hari ini hujan?” adalah bukan pernyataan karena itu merupakan pertanyaan dan tidak mendeklarasikan sesuatu yang bernilai benar atau salah.

19 of 51

  •  

20 of 51

  •  

21 of 51

  •  

22 of 51

Penggunaan Prinsip �Induksi Matematika

  •  

23 of 51

  •  

24 of 51

  •  

25 of 51

  •  

26 of 51

  •  

27 of 51

  •  

28 of 51

  •  

29 of 51

Statistika

  • Ditinjau dari segi terminologi:

​

  • Statistik, yaitu kumpulan bahan keterangan berupa angka atau bilangan.

​

  • Statistik, kegiatan perstatistikan.

​

  • Statistik, cara-cara tertentu yang perlu ditempuh dalam rangka mengumpulkan, menyusun, atau mengatur, menyajikan, menganalisis dan memberikan interpretasi terhadap sekumpulan bahan keterangan yang berupa angka itu dapat berbicara atau dapat memberikan pengertian makna tertentu.

​

  • Statistika, diberi pengertian sebagai “ilmu statistik”, yang mempelajari dan memperkembangkan secara ilmiah tahap-tahap yang ada dalam kegiatan statistik.

30 of 51

Statistika

Statistika, berarti ilmu pengumpulan, analisis, dan klasifikasi data, angka sebagai dasar untuk induksi.

​

Statistika merupakan sarana berpikir yang diperlukan untuk memproses pengetahuan secara ilmiah. Statistika membantu kita untuk melakukan generalisasi dan menyimpulkan karakteristik suatu kejadian secara lebih pasti dan bukan terjadi secara kebetulan.

​

Dalam kegiatan suatu penelitian ada tahap-tahap, seperti:

​

Hipotesis Observasi Pengujian hipotesis.

​

Di sini, statistika mempunyai peran penting, karena akan menentukan apakah hipotesis teruji-tidak sesuai dengan data yang diobservasi. Tahap-tahapnya, ilmuwan mengumpulkan fakta atau data untuk menguji kebenaran ramalan yang dikembangan dari teori atau hipotesis. Jika teori atau hipotesisnya didukung sebuah fakta atau data, maka hipotesis dianggap teruji kebenarannya.

31 of 51

Statistika

  • Sebaliknya, jika hipotesis yang dikemukakan bertentangan dengan fakta atau data, maka ilmuwan tersebut menyusun hipotesis baru yang sesuai dengan fakta atau data yang telah dikumpulkan.

​

  • Dewasa ini, statistika diterapkan hampir di semua bidang ilmu, termasuk bidang humaniora, yang sebelumnya metode statistik adalah tidak biasa. Singkatnya, statistika adalah alat yang dapat dipergunakan untuk memecahkan masalah yang timbul dalam penelaahan secara empiris hampir di semua bidang.

​

  • Perincian teknis dari teknik statistika yang dipergunakan dalam tiap bidang dan masalah itu berbeda, namun pendekatan dasarnya adalah sama. Demikian pula, konsep dasar itu harus disesuaikan dengan masalah konkret yang dihadapi. Misalnya, statistika diterapkan dalam penelitian pasar, akan berbeda dengan statistika diterapkan pada seleksi pegawai, atau opini publik, dan masih banyak lagi.

32 of 51

Data Statistik

Data statistik: keterangan atau ilustrasi mengenai sesuatu hal.

Data Statistik

​

Diskrit Kontinu

​

Ordinal Interval Rasio

​

33 of 51

Sampel dan Populasi

  • Populasi : Totalitas semua nilai yang mungkin, hasil menghitung atau mengukur, kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya.
  • Sampel : Sebagian yang diambil dari populasi.

34 of 51

Pengujian Hipotesis

  • Hipotesis : dugaan (jawaban sementara) mengenai permasalahan penelitian.
  • Contoh:

a. Peluang turun hujan 50%

b. 40% penduduk Kalsel adalah petani

c. Rata-rata pendapatan keluarga di kota Banjarmasin Rp 2.350.000 / bulan.

35 of 51

Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis = langkah atau prosedur untuk menentukan apakah menerima atau menolak hipotesis

Setiap hipotesis bisa benar atau tidak benar, oleh karena itu perlu diadakan penelitian sebelum hipotesis itu diterima atau ditolak.

36 of 51

Dua Tipe Kesalahan dalam Pengujian Hipotesis

​

​

Status Hipotesis

Data Sampel Mendukung Ho

Data Sampel Mendukung Ha

Ho benar

(Ha salah)

Kesimpulan Benar

Kesalahan Tipe I

Probablitas α

Ha benar

(Ho salah)

Kesalahan Tipe II

Probabilitas β

Kesimpulan Benar

37 of 51

Memilih Teknik Statistik

Memilih teknik statistik yang digunakan dalam penelitian harus memperhatikan:

  • Jenis data
  • Variabel
  • Bentuk hipotesis

38 of 51

Bentuk Hipotesis

  • Hipotesis deskriptif

  • Hipotesis komparatif

  • Hipotesis asosiatif

​

  • Hipotesis kasualitas

39 of 51

Contoh Bentuk Hipotesis

40 of 51

Pembagian Statistik

Mulai

Jumlah Variabel?

Jenis Data?

Analisis Univariat

Analisis Multivariat

Statistik Parametrik

Statistik Nonparametrik

Satu

Dua/Lebih

Interval

Rasio

Nominal

Ordinal

41 of 51

Kapan Menggunakan Statistika Nonparametrik?

  • Apabila ukuran sampel sedemikian kecil sehingga distribusi sampel atau populasi tidak mendekati normal, dan tidak ada asumsi yang dapat dibuat tentang bentuk distribusi populasi yang menjadi sumber populasi.
  • Apabila hasil pengukuran menggunakan data ordinal atau data berpangkat. Data ordinal hanya menyatakan lebih baik, lebih buruk atau sedang atau bentuk ukurannya lainnya. Data ini sama sekali tidak menyatakan ukuran perbedaan.
  • Apabila hasil pengukuran menggunakan data nominal. Data nominal hanya merupakan ‘kode’ dan tak mempunyai implkasi atau konsekuensi apa-apa. Jenis kelamin diberikan kode “pria” dan “Wanita”, pengkodean tsb tak berimplikasi lebih rendah atau lebih tinggi, hanya sekedar kode.

42 of 51

5 Langkah Pengujian Hipotesis

  1. Nyatakan Ho. Bersamaan dg itu peneliti juga menyatakan Ha. Ha tidak ditolak jika Ho ditolak
  2. Tentukan taraf signifikansi. Biasanya peneliti memilih 0,05 atau 0,01. Taraf sifnifikansi adalah peluang membuat kesalahan Tipe 1.
  3. Tentukan statistic uji. Statistik uji adalah kuantitas yg dihitung dari sampel. Nilai-nilai tsb akan digunakan pada Langkah 4 dan 5. Agar sampai pada Kesimpulan tentang Ho.
  4. Tentukan aturan untuk mengambil Keputusan berdasarkan taraf signifikansi yang telah ditetapkan pada Langkah 2.
  5. Pilih sampelnya. Kemudian dg menggunakan sampel tersebut, hitung nilai statistik ujinya.

43 of 51

Penggunaan Statistik untuk Menguji Hipotesis

44 of 51

Metode Berpikir Ilmiah

Apa itu metode berpikir ilmiah?

Metode Induktif

Metode deduktif

45 of 51

Metode Berpikir Ilmiah

Secara etimologi, metode berasal dari bahasa Yunani kata meta (sesudah atau dibalik sesuatu) dan hedos , (jalan yang harus ditempuh).

Jadi, metode adalah langkah-langkah (cara teknik) yang diambil, menurut urutan atau sistematika tertentu untuk mencapai pengetahuan sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis. Metodologi merupakan suatu kajian dalam mempelajari paraturan-peraturan dalam metode tersebut. Jadi, metodologi ilmiah merupakan pengkajian dari peraturan-peraturan yang terdapat dalam metode ilmiah.

46 of 51

Pengertian Metode Berpikir Ilmiah

  • Metode berpikir ilmiah merupakan prosedur, cara atau teknik dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu, jadi ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah atau dengan kata lain bahwa suatu pengetahuan baru dapat disebut suatu ilmu apabila diperoleh melalui kerangka kerja ilmiah, syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan bisa disebut ilmu tercantum dalam apa yang dinamakan metode ilmiah.

​

  • Pendapat lain mengatakan bahwa metode ilmiah adalah sebuah prosedur yang digunakan ilmuan dalam pencarian kebenaran baru. Dilakukan dengan cara kerja sistematis terhadap pengetahuan baru dan melakukan peninjauan kembali supaya ilmu pengetahuan bisa terus berkembang seiring perkembangan zaman dan menjawab tantangan yang dihadapi.

​

  • Berpikir ilmiah adalah landasan atau kerangka bepikir penelitian ilmiah. Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik juga diperlukan sarana penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperatif bagi seorang ilmuwan. Tanpa menguasai hal ini maka kegiatan ilmiah yang baik tak dapat dilakukan.

47 of 51

Kriteria Metode Berpikir Ilmiah

Metode ilmiah bergantung pada karakterisasi yang cermat atas subjek investigasi. Dalam proses karakterisasi, ilmuwan mengidentifikasi sifat-sifat utama yang relevan yang dimiliki oleh subjek yang diteliti.

Supaya suatu metode yang digunakan dalam penelitian disebut metode ilmiah, maka metode tersebut harus mempunyai kriteria sebagai berikut:

  • Berdasarkan fakta
  • Bebas dari prasangka
  • Menggunakan prinsip-prinsip analisis
  • Menggunakan hipotesis
  • Menggunakan ukuran objektif
  • Menggunakan teknik kuantifikasi

48 of 51

Langkah-Langkah Metode Berpikir Ilmiah

Metode berfikir ilmiah juga memerlukan langkah – langkah yang terdiri dari sebagai berikut:

  • Perumusan masalah yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas- batasnya serta dapat diidentifikasikan faktor-faktor yang terkait di dalamnya.
  • Pernyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk konstelasi permasalahan. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan
  • Perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan
  • Pengujian hipotesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak
  • Penarikan kesimpulan yang merupakan penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima. Sekiranya dalam proses pengujian terdapat fakta yang cukup dan mendukung hipotesis maka hipotesis itu diterima. Sebaliknya, sekiranya dalam proses pengujian tidak terdapat fakta yang cukup.

49 of 51

Sikap dan Aktivitas Ilmiah

Menurut Harsojo seperti yang dikutip Anshari (1990: 57) menyebutkan beberapa macam sikap ilmiah, yaitu:

  • Obyektivitas. Dalam suatu peninjauan yang dipentingkan adalah obyeknya, karena di dalam ilmu pengetahuan harus berkenaan dengan sikap yang tidak tergantung pada suasana hati, prasangka atau pertimbangan nilai pribadi. Atribut obyektif mengandung arti bahwa kebenaran ditentukan oleh pengujian secara terbuka yang dilakukan dari pengamatan dan penalaran fenomena.
  • Sikap skeptif. Ialah sikap untuk selalu ragu – ragu terhadap pernyataan – pernyataan yang belum cukup kuat dasar – dasar pembuktiannya.
  • Kesabaran intelektual. Sanggup menahan diri dan kuat untuk tidak menyerah kepada tekanan agar dinyatakan suatu pendirian ilmiah. Karena sikap tersebut merupakan sikap utama seorang ilmuwan.
  • Kesederhanaan. Kesederhanaan sebagai sikap ilmiah adalah kesederhanaan dalam cara berfikir, dalam cara menyatakan dan dalam cara pembuktian.
  • Sikap tidak memihak pada etik. Sikap tidak memihak pada etik dalam mempelajari dan mengembangkan ilmu pengetahuan ialah, bahwa ilmu tidak mempunyai tujuan yang akhirnya membuat penilaian tentang apa yang baik dan apa yang buruk; ilmu mempunyai tugas untuk mengemukakan apa yang salah dan apa yang benar secara relatif.

50 of 51

METODE INDUKTIF

Induktif yaitu suatu metode yang menyimpulkan pernyataan-pernyataan hasil observasi disimpulkan dalam suatu pernyaaan yang lebih umum.

​

Dalam metode induktif menekankan suatu proses mencapai kesimpulan umum berdasarkan dari observasi mengenai hal-hal khusus (partikular). Metode induktif, berangkat dari sekumpulan fakta menuju kesimpulan yang bersifat umum.

​

Contoh:

Di Kota Banjarmasin, daun pepohonan berwarna hijau

Di Kota Banjarbaru, daun pepohonan berwarna hijau

Di Kota Martapura, daun pepohonan berwarna hijau.

Kesimpulan: Daun pepohonan adalah berwarna hijau.

51 of 51

METODE DEDUKTIF

Metode deduktif merupakan penalaran sesuai dengan hukum-hukum serta aturan-aturan logika formal. Terdapat suatu anggapan dasar dalam metode deduktif bahwa tidak mungkin titik tolak yang benar akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang tidak benar.

Kesimpulan yang dibuat secara deduktif, biasanya menggunakan pola berpikir “silogisme”. Silogisme disusun dari dua buah pernyataan dan satu kesimpulan.

Pernyataan yang mendukung silogisme disebut dengan “premis”. Premis dapat

dibedakan menjadi premis mayor dan minor. Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan metode deduktif adalah berdasarkan pada kesimpulan kedua premis tersebut.

​

Metode deduktif, menitikberatkan pada kebenaran-kebenaran teori, kemudian teori

tersebut diverifikasi. Teori tersebut dapat dikukuhkan sebagai benar atau bahkan hanya mungkin benar.

​

Contoh:

Semua manusia akan mati (premis mayor) Tajudin Noor seorang manusia (premis minor) Tajudin Noor akan mati (kesimpulan).