Request edit access
“ANAK MUDA DAN PERTANIAN DI INDONESIA: PERSPEKTIF GENERASI MUDA”

es sumberdaya lahan pertanian. Penelitian AKATIGA di 12 desa di Indonesia mengungkapkan bahwa, penilaian bahwa para anak muda masa kini enggan untuk terjun ke sektor pertanian pada dasarnya tidak tepat. Sebenarnya, tidak sedikit anak muda yang sebenarnya ingin terlibat dalam pertanian, namun mereka sulit untuk mengakses lahan yang disebabkan antara lain karena faktor kultural yang membatasi akses sumberdaya lahan berdasar batasan umur dan gender, hingga persoalan struktural berupa kebijakan pembangunan dari pemerintah yang mendorong land grabbing dan alih fungsi lahan pertanian, yang pada akhirnya semakin membatasi kesempatan anak muda mengakses lahan pertanian.

Di tengah kekhawatiran tentang tantangan secara kultural dan struktural yang membatasi mereka dalam bertani, anak muda ternyata mampu beradaptasi terhadap tantangan tersebut dan merubahnya menjadi peluang untuk berkembang. Di wilayah pedesaan, misalnya kita dapat melihat bagaimana Kampung Flory di Sleman merupakan buah karya sekelompok anak muda yang mampu memaksimalkan akses terhadap lahan kecil untuk menjadi lokasi agrowisata yang menjanjikan. Atau teman-teman Karang Taruna di salah satu desa di Kulon Progo, yang mampu melakukan lobi pada pemerintah desa memberikan akses lahan desa untuk mereka olah secara kolektif. Tidak terbatas di desa, anak muda di kota juga menjalankan peran strategis mereka dalam pertanian, misalnya pada komunitas-komunitas yang mengembangkan pertanian organik di Kota Bandung. Di tengah keterbatasan akses terhadap lahan, komunitas-komunitas ini mengembangkan pertanian organik dan menyebarkan idenya untuk mendorong gaya hidup sehat di masyarakat. Salah satu komunitas yang konsisten dalam kegiatan ini misalnya Komunitas 1000 Kebun.

Para anak muda ini, baik di desa maupun di kota, mereka tidak hanya mendorong suatu inovasi pertanian yang baik bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat, namun juga mampu menjadikan inovasi itu sebagai suatu usaha produktif yang menjanjikan untuk masa depan mereka. Dalam hal ini, kita membutuhkan cara pandang yang lebih luas untuk melihat signifikansi anak muda dalam pertanian, untuk melihat peran strategis mereka bagi masa depan pertanian Indonesia. Cara pandang ini sangat dibutuhkan untuk mendorong kebijakan yang lebih tepat untuk memfasilitasi keterlibatan anak muda dalam pertanian. Berkaitan dengan perspektif itulah, AKATIGA menyelenggarakan kegiatan diskusi publik yang bertajuk “Anak Muda dan Pertanian di Indonesia: Perspektif Generasi Muda”.


DESKRIPSI KEGIATAN DAN NARASUMBER

Acara akan dimulai dengan pemaparan materi dari narasumber. Pemaparan yang dibahas adalah laporan penelitian tentang anak muda dan pertanian organik di Jawa Barat, yang disampaikan oleh Mentari Qorina Alwasilah. Mentari adalah peneliti di Sekolah Ilmu Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung (SITH-ITB) yang juga merupakan salah satu aktivis komunitas 1000 Kebun di Bandung, komunitas ini melakukan berbagai gerakan untuk mendorong keterlibatan anak muda dalam pertanian melalui praktik-praktik pertanian kreatif dan organik.

Narasumber kedua adalah peneliti AKATIGA, yaitu Aprilia Ambarwati. Aprilia telah melakukan banyak penelitian mengenai isu pemuda dan pertanian, termasuk penelitian lintas negara yang bertajukkan Becoming Young Farmers (2016-2020). Ia juga merupakan project leader untuk program terbaru AKATIGA yang berjudul Let’s be young farmers. Aprilia akan memberikan tanggapan dan elaborasi tentang tantangan dan peluang anak muda dalam pertanian. Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi terbuka bersama peserta yang dimoderatori oleh peneliti AKATIGA, Rahmad Effendi.

WAKTU DAN TEMPAT

Hari, tanggal : Jumat, 31 Agustus 2018
Pukul : 14.00 – 16.00 WIB
Tempat : Kantor AKATIGA, Jl. Tubagus Ismail II, No. 2, Coblong, Bandung

TUJUAN

Diskusi Bulanan AKATIGA kali ini akan mengangkat isu anak muda dan pertanian di Indonesia. Diskusi ini bertujuan menginformasikan, mengidentifikasi, dan mendiskusikan isu-isu yang berkaitan dengan anak muda dan pertanian di Indonesia serta untuk mendorong cara pandang yang lebih luas tentang peran dan kesempatan anak muda dalam pertanian.

Agar diskusi kali ini lebih terarah, kami menyarankan rekan-rekan yang tertarik mengikuti diskusi ini untuk mengisi form pendaftaran terlebih dahulu dan mengajukan pertanyaan yang sesuai dengan tema diskusi.
Info: Santi (081294161494).

Bacaan Rekomendasi
Alwasilah, Mentari Qorina. 2018. Persepsi dan Faktor Pendorong Petani dalam Pengelolaan Pertanian Organik: Studi Kasus di Bandung Raya. Tesis Program Magister, Institut Teknologi Bandung.

Ambarwati, Aprilia, Isono Sadoko & Charina Chazali dan Ben White. 2017. Pemuda dan Pertanian di Indonesia. Jurnal Analisis Sosial, Vol 20, no 1&2, 2017.

Nugraha, Yogaprasta A. dan Rina Herawati. 2015. Menguak Realitas Pemuda di Sektor Pertanian Perdesaan. Jurnal Analisis Soosial, Vol 19. No , 2015.

White, Ben. 2017 . Would I like to be a farmer. http://www.insideindonesia.org/would-i-like-to-be-a-farmer-2

Email address *
Your answer
Next
Never submit passwords through Google Forms.
This content is neither created nor endorsed by Google. Report Abuse - Terms of Service