Begitu selesai mandi, Taekjoo langsung jatuh terlentang di tempat tidur. Tubuhnya lemas hingga sulit untuk menggerakkan satu jari pun. Bahkan tidak ada sisa tenaga untuk memikirkan jam berapa sekarang, atau bagaimana situasi di Kuba. Kesadarannya kabur, seolah dia bisa tenggelam ke dalam jurang kegelapan kapan saja.

Zhenya mendekat ke tempat tidur. Kasur miring ke satu sisi karena berat tubuhnya. Sambil menatap Taekjoo, pria itu tiba-tiba memegang salah satu lengannya. Lalu, menopang kepala Taekjoo dan memutarnya hingga menghadap ke kepala ranjang. Apa boleh membiarkan orang lain menyentuh tubuhku sampai sejauh ini? Sisa akal sehatnya yang sekecil kuku mencoba memprotes, tapi kemudian dia berpikir, dia kan kekasihku, jadi apa masalahnya? Rasanya aneh, dulu dia hampir mati di tangan ini, tetapi sekarang, alih-alih merasa waspada, dia malah merasa nyaman.

“…Eung.”

Bagian belakang kepalanya terbenam di bantal yang empuk. Selanjutnya, dia merasakan sebuah tangan putih mendekati wajahnya. Mengira Zhenya akan menyentuhnya, dia dengan sengaja menempelkan pipinya. Namun, dia tersentak karena sentuhan yang tidak terduga dan membuka kelopak matanya. Segera, terlihat wiski yang beriak di dalam gelas transparan.

Dia membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali. Tenggorokannya serak sehingga suaranya tidak langsung keluar. Setelah berdeham untuk membersihkan tenggorokan, dia kembali membuka mulut.

"Hei. Kau ini, sudah tahu aku kehausan kau malah…."

"Taekjoo, sekeras apa pun kau menikmati rasa sakit, kau tidak perlu menahan rasa sakit yang tidak perlu."

"Apa maksudmu?"

Sambil mengerutkan kening, dia bergerak gelisah lalu terhenti. Tubuhnya terasa berat seperti kapas yang basah, dan rasa sakit yang tumpul terasa di mana-mana. Sepertinya ini bukan sekedar efek samping dari seks.

Dia hanya mengangkat kepalanya dan menatap tubuhnya. Berkat mandi yang asal-asalan, kulitnya tampak cukup bersih. Di beberapa tempat, menempel perban dengan berbagai ukuran. Goresan-goresan halus juga tampak mengkilap. Sepertinya sudah diolesi salep. Rasanya ada cukup banyak luka robek yang perlu dijahit, apa dia menjahit semuanya sendiri?

Dia mencoba melepaskan plester di lengannya. Luka selebar kuku itu dijahit dengan rapat. Ukuran dan jarak setiap jahitannya begitu rapi hingga orang akan percaya itu hasil jahitan mesin. Merasa konyol, dia tertawa kecil.

"Kenapa luka seperti ini pun kau jahit? Kau pasti senang sekali bisa menyentuh kulit orang lain, kan?"

"Tentu saja tidak. Luka-luka kecil seperti itu justru bisa meninggalkan bekas. Mulai sekarang, cukup aku saja yang meninggalkan jejak di tubuhmu."

Zhenya memiringkan wajahnya yang berseri-seri sambil mengutarakan argumen sesatnya seperti biasa. Sepertinya aku sudah gila. Omong kosong yang tidak masuk akal itu terdengar romantis. Kepalanya pasti sudah rusak karena guncangan ledakan. Atau mungkin bagian dalamnya sudah benar-benar rusak.

Apa kegilaan bisa menular? Sambil memikirkan hal yang tidak masuk akal itu, dengan susah payah dia mengangkat tubuhnya. Tanpa sadar, suara rintihan keluar begitu saja. Zhenya pun menggoyangkan gelas di depan matanya.

"Minumlah. Meskipun sudah kusuntikkan obat pereda nyeri, sebentar lagi efeknya akan hilang."

Dengan patuh Taekjoo menyambar gelas itu dan membasahi tenggorokannya. Bagian dalam yang kering kerontang menjadi basah. Bersamaan dengan itu, rasa panas menyebar dari kerongkongan hingga ke lambung, tapi karena aromanya enak, dia menenggaknya sekali lagi. Berapa harga minuman ini? Dia tidak bisa menebak karena Zhenya adalah orang yang biasa minum minuman seharga rumah tanpa berpikir dua kali. Tak lama, dia memberikan gelas kosong itu kepada Zhenya.

"Mau segelas lagi?"

"…Tidak, sudah cukup."

Memang benar, berkat perawatan Zhenya, tidak ada rasa sakit yang parah. Dia juga sudah disuntik obat pereda nyeri, kepekaannya juga menurun karena kelelahan yang menumpuk, dan dia juga sudah minum alkohol, jadi mungkin itu wajar. Masalahnya adalah, di tengah-tengah itu semua, rasa pegal di pinggang dan sensasi aneh di dalam bokongnya tidak kunjung mereda.

Apa lecet lagi? Kesadarannya hilang di tengah permainan, jadi dia tidak tahu sudah berapa lama mereka melakukannya. Tentu saja, tidak ada bukti yang lebih jelas daripada kondisi tubuhnya. Pokoknya, sekali mesinnya panas, Zhenya akan menyerang seolah ingin membuat orang mati kering.

“Hah… mau menyayangimu tanpa syarat pun rasanya tidak bisa.”

"Apa yang kau gumamkan? Bicaralah dalam bahasa Rusia."

Seharusnya dialah yang belajar bahasa Korea, kenapa malah mengatur gumamanku. Tanpa ragu, Taekjoo memprotes.

"Dasar bajingan, apa kau birahi 365 hari dalam setahun? Pada orang yang baru saja selamat dari kematian, kau melakukan hal gila semalaman?"

"Apa maksudmu? Kalau soal seks semalam, itu kan kau yang memulainya."

Zhenya berkata tanpa malu, “Aku jelas-jelas menyuruhmu mandi,” seolah-olah jika Kwon Taekjoo mandi lebih dulu, mereka tidak akan berhubungan seks.

Sambil menggelengkan kepala seolah percuma saja bicara, dia kembali memeriksa tubuhnya. Kulitnya dipenuhi luka dan bekas ciuman hingga belang-belang. Terutama memar-memar yang ada sebelum bertemu Zhenya, kini sudah berubah menjadi lebam. Apakah maksudnya ‘cukup aku saja yang meninggalkan jejak di tubuhmu’ itu termasuk ini juga? Desahan panjang keluar begitu saja.

"Kau menggigitnya dengan ganas sekali, ya. Orang yang melihatnya bisa mengira aku ini zombi."

"Entahlah. Aku tidak punya selera kanibal."

"Terserahlah."

"Ah, ngomong-ngomong, aku melewatkan bagian ini."

Zhenya tiba-tiba berseru pelan dan menambahkan kata-kata yang tidak bisa dimengerti. Lalu, dia mengambil salep dari meja di samping tempat tidur. Setelah membuka tutupnya dan mengambil sedikit salep di tangannya, pria itu tiba-tiba mengoleskannya ke puting Taekjoo. Daging yang membengkak karena digigit dan dihisap olehnya semalaman itu diolesi dengan lembut. Sensasi aneh itu membuatnya tanpa sadar mengerutkan kening.

"Ngh, jangan. Bajingan."

"Tumben sekali kau malu-malu?"

"Aku jijik. Kapan kau akan berhenti bersikap seperti bayi?"

"Aku bersikap seperti bayi?"

"Kalau tidak, kenapa kau begitu terobsesi dengan dada?"

"Kalaupun begitu, tidak perlu dipaksa untuk mengatasinya, kan. Kau juga cukup menyukainya."

Zhenya tiba-tiba meremas dada kiri Taekjoo. Selanjutnya, dia memiringkan kepalanya dan berbisik dengan suara main-main.

"Kemarin, kau bahkan keluar sekali hanya karena dada."

Hidung mancung Zhenya menjelajahi daun telinga dan leher Taekjoo. Saat dia secara alami hendak menggigit lehernya, Taekjoo menahannya dengan tangannya.

"Cukup sampai di situ."

"Apanya?"

"Aku tidak akan tertipu lagi dengan siasatmu."

"Siasat apa yang kubuat?"

Zhenya memasang ekspresi sama sekali tidak mengerti. Padahal saat Taekjoo tertidur, dia sudah mandi dan berganti pakaian, dasar munafik.

"Berpura-pura manis seperti itu tidak akan mempan. Aku sudah kebal."

"…Ah? Di matamu aku ini manis, ya?"

Zhenya menjawab setelah jeda sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak. Sambil mengejek, dia juga berkata, "Sudah kuduga, sejak awal aku memang seleramu, kan?" Tanpa sadar tinju Taekjoo mengepal. Rasanya ingin sekali memukul si brengsek yang imut dan menyebalkan ini.

Dengan susah payah dia membuka kepalan tangannya dan mengulurkan tangan.

"Hentikan omong kosongmu. Berikan ponselmu."

Mendengar permintaan yang tiba-tiba itu, Zhenya memiringkan kepalanya. Senyum main-mainnya pun hilang.

"Untuk apa?"

"Alat komunikasiku rusak, jadi aku tidak bisa menghubungi markas. Ponsel dan senjataku juga hilang semua."

"Lalu?"

"Apanya yang ‘lalu’? Bagaimanapun juga aku harus memberikan laporan."

"Bahkan dalam situasi seperti ini kau hanya memikirkan pekerjaan."

"Bukankah kita melakukan ini untuk menyelesaikan pekerjaan itu?"

“Cepat,” katanya sambil menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah. Zhenya, dengan raut wajah tidak suka, memberikan ponselnya. Alangkah baiknya jika sekalian kuncinya dibuka, tetapi dia sama sekali tidak punya fleksibilitas seperti itu. Sambil menghela napas kecil, dia mendekatkan ponsel itu ke wajah Zhenya. Entah kenapa, wajah asli di baliknya terasa lebih tidak nyata daripada wajah yang terpantul di layar. Itulah sebabnya, bahkan setelah pengenalan wajah selesai, dia masih menatap Zhenya untuk beberapa saat.

Apakah dia bisa membaca tatapan tajam itu? Zhenya, dengan wajahnya yang seperti lukisan, mendekat dengan perlahan. Ujung hidung mereka bersentuhan pelan, lalu kedua bibir mereka bertemu dengan ringan. Taekjoo, dengan mata menunduk, mengagumi wajah Zhenya yang begitu dekat, lalu membuka mulutnya sedikit. Seketika, lidah tebal itu menjilat bibir keringnya dan masuk. Napas hangat dan air liur meresap bersamaan, mewarnai mulutnya yang pahit menjadi manis. Luka di selaput lendir yang terlupakan terasa perih saat tersentuh, tapi gerakan Zhenya yang menghisap lidahnya begitu hati-hati dan penuh kasih sayang hingga dia tidak tega mendorongnya.

Seperti kebiasaan, dia dengan lembut memegang dan menurunkan tangan Zhenya yang menekan kedua bahunya. Dia juga memberikan beberapa ciuman ringan kepada pria yang tidak akan pernah puas dengan satu ciuman.

"Tunggu. Sebentar saja."

Zhenya, meskipun dengan keras kepala terus menempel, tidak secara terang-terangan mengganggunya. Seolah dia sudah belajar bahwa jika bersabar sedikit, imbalan yang lebih manis akan datang. Monster yang tidak pernah dijinakkan oleh siapa pun itu kini seolah menjadi anjing yang hanya mendambakan kasih sayang tuannya.

Sambil mengelus rambut Zhenya yang terus menggesekkan wajahnya di lehernya, Taekjoo mengetik di papan tombol. Untuk mengantisipasi kemungkinan penyadapan, dia menelepon akun pesan instan SNS milik Yoon Jongwoo. Dia khawatir dengan kondisi sinyal karena berada di tengah laut, tapi nada sambung langsung terdengar.

Beberapa saat menunggu, panggilan itu tidak juga tersambung. Apa markas juga sedang dalam keadaan darurat? Saat dia sedang menebak-nebak dan hendak menulis pesan, ponsel di tangannya bergetar. Satu pesan masuk.

Hello. Mr. Bogdanov. I'm sorry that I couldn't answer your call. I'm in a meeting.

Dia tertawa kering membaca sapaan yang sopan itu. Jika situasinya darurat sampai tidak bisa menerima telepon, tidak akan ada waktu untuk mengirim pesan seperti itu kepada orang luar. Jadi, rapat saat ini hanyalah alasan. Taekjoo langsung membalas.

If you don't want to die, pick up the phone.

Begitu pesan terkirim, dia langsung menekan tombol panggil. Sekali lagi nada sambung yang familiar terdengar, lalu berhenti. Berturut-turut, suara Yoon Jongwoo yang ditunggu-tunggu pun terdengar.

–Ah, annyeonghaseyo? Ye, Yevgeny-ssi. Um… It's been a while. How are you?

I’m fine. Thank you, dasar bocah. Kenapa kau bicara terbata-bata begitu?”

–…Hah?

“Apanya yang hah.”

–Senior? Senior Taekjoo? Senior! Apa yang terjadi! Senior baik-baik saja?

“Telingaku sakit, brengsek. Aku baik-baik saja karena itu aku menelepon.”

–Apa ada yang terluka? Saya terus khawatir karena katanya ada ledakan besar di lokasi operasi! Komunikasi juga terputus semua, dan seharian tidak ada kabar dari Anda! Saya benar-benar cemas, mengira akan ada upacara pemakaman!

“Dalam hati kau berharap begitu, kan?”

–Aih, kenapa bercandanya begitu menyakitkan! Lagipula, sekarang Anda di mana? Apa Anda aman? Sudah makan?

“Kau bisa kehabisan napas. Tanya satu-satu.”

"Junior bajingan itu lagi."

Zhenya yang sejak tadi diam-diam menguping menyela dengan nada tidak suka. Apakah suaranya terdengar sampai ke Yoon Jongwoo? Dari seberang telepon terdengar suara menelan ludah.

–Anda bersama Tuan Yevgeny? Ah, akun ini juga miliknya.

“Kenapa dia jadi ‘Tuan’? Kalian kan teman?”

–Jangan seenaknya membuat saya berteman dengannya. Saya sama sekali tidak punya niat seperti itu!

“Pintar-pintarlah. Setidaknya kalau jadi teman, dia akan berpikir dua kali sebelum membunuhmu.”

–-Be-begitu, ya? Ah, bukan ini yang penting. Tapi kenapa Tuan Yevgeny ada di sana?

“Katanya kebetulan lewat. Mau beli cerutu.”

–Haaah?

Mendengar reaksi kaget Yoon Jongwoo, dia tertawa kecil sambil melirik Zhenya.

"Lihat, kan. Dia tidak percaya."

Zhenya yang tidak tahu apa yang sedang dibicarakan mengangkat alisnya. Yoon Jongwoo juga tidak mengerti situasinya.

–Senior?

“Cuma bicara sendiri. Sekarang alat komunikasiku rusak dan semua barang bawaanku hilang, jadi hanya bisa menghubungi seperti ini. Sialnya lagi, aku sedang di tengah laut.”

–-…Hah? Laut?

Tak lama, dari seberang telepon terdengar suara ketikan keyboard. Sepertinya Yoon Jongwoo sedang melacak lokasi ponsel. Karena penasaran di mana kira-kira kapal pesiar ini berada, dia hanya menunggu sambil memainkan wajah Zhenya yang ada di depannya.

–Senior. Anda sekarang ada di Meksiko?

“Ah, jadi ini Meksiko?”

–Anda tidak tahu?

“Mana mungkin aku tahu. Aku dibawa ke sini tanpa sadar.”

–Jangan-jangan Anda diculik? Perlu saya minta bantuan penyelamatan?

“Kalau begitu, apa aku bisa meneleponmu seperti ini? Tidak perlu khawatir. Untuk saat ini, aku ada di tempat paling aman.”

Sambil menjawab, dia kembali menatap Zhenya. Pria itu terang-terangan mengamati percakapan yang tidak dimengertinya. Sepertinya dia mencoba menebak-nebak isi pembicaraan dari nuansanya.

“Lagipula aku tidak tahu kapan akan kembali, jadi Jongwoo, tolong laporkan ke Kepala Kwak atas namaku. Katakan markas ‘Electric Hammer’ sudah dibereskan. Berkat beberapa bajingan yang melempar bom, misinya jadi selesai dengan sangat tuntas. Sebelum itu, aku juga sudah mengambil data dari PC mereka….”

Melirik Zhenya yang masih menatapnya lekat-lekat, dia berbisik, “USB.” Benda yang berhasil dia pertahankan mati-matian meskipun dikejar oleh polisi Kuba, berhadapan dengan PMC Amerika, dan bahkan saat diserang oleh Zhenya.

Zhenya dengan patuh mengangguk dan beranjak dari tempatnya. Sambil menatap punggungnya, dia melanjutkan panggilan.

“Akan kuunggah nanti ke groupware kita, jadi tolong periksa.”

–Baik, saya mengerti. Anda benar-benar bekerja keras.

“Pekerjaan biasa, apanya yang keras. Oh, bagaimana dengan para tentara bayaran swasta yang muncul di lokasi? Apa sudah kau cari tahu dari mana mereka?”

–Mereka tentara bayaran multinasional. Sampai saat ini, mereka bekerja di sebuah PMC Amerika bernama ‘Golden Bullet’. Sekarang tidak berafiliasi dengan negara mana pun, tapi mencurigakan, kan? Dilihat-lihat, sepertinya Amerika mencoba menimpakan kesalahan pada kita. Untuk menyelesaikan insiden peretasan ini sesuai keinginan mereka. Berkat Senior yang menghabisi mereka semua, pada akhirnya merekalah yang akan disalahkan. Kali ini, para petinggi pun tidak akan mempermasalahkan tindakan solo Senior, kan? Meskipun Anda harus menulis laporan insiden.

“Hah… laporan insiden lagi. Menyebalkan sekali.”

–Apa Anda tidak tahu akan jadi seperti ini? Makanya, kenapa tidak kabur saja. Untung saja semuanya berjalan lancar, kalau salah sedikit saja bisa jadi masalah diplomatik yang serius.

“Negara sekutu seenaknya menusuk dari belakang, bagaimana bisa aku diam saja? Apa aku harus jadi bulan-bulanan internasional?”

–Bulan-bulanan apanya?. Senior juga harus sedikit menahan amarah itu kalau mau hidup lebih lama.

“Terima kasih atas nasihatnya, berkatmu aku akan hidup lama, jadi apa masalahnya?”

–Saya? Apa yang saya lakukan?

“Umpatanmu. Jujur saja, barusan kau juga mengumpat, kan?”

–Aih, Senior. Anda pendendam sekali. Apa Anda tidak terlalu menyimpan dendam masa lalu?

“Mau bagaimana lagi, ingatanku memang luar biasa.”

–Haah… melihat Anda bercanda seperti ini, sepertinya Anda memang baik-baik saja. Padahal saya sampai tidak bisa tidur semalaman karena khawatir.

Taekjoo terkekeh mendengar gerutuan itu. Entah kenapa, kesenangan menggoda Yoon Jongwoo tidak pernah pudar meskipun tahun-tahun berlalu.

Setelah mengobrol cukup lama, tiba-tiba dia merasakan sebuah tatapan dan mengangkat kepalanya. Zhenya yang sudah kembali sedang menatap tajam wajah Taekjoo dengan pandangan heran. Apa dia tidak suka melihatku asyik dengan orang lain? Apa dia benar-benar ingin aku hanya bermain dengannya? Karena inilah, baik dulu maupun sekarang, dia terasa seperti bocah besar.

Saat melihat wajah pria itu yang sedikit merengut, tiba-tiba dia teringat seseorang. Sekalian saja dia menanyakan kabar mereka.

“Ada anak-anak di lokasi.”

–Anak-anak? Ah, saya dengar ada yang selamat. Sepertinya polisi Kuba sedang menahan mereka untuk dimintai keterangan. Kenapa? Anda khawatir?

“Yah, bisa dibilang mereka terseret ke dalam keserakahan orang dewasa tanpa dosa.”

Kehilangan keluarga dan rumah dalam sekejap, setiap hari pasti terasa seperti neraka. Tidak jelas juga apakah pemerintah Kuba akan merawat dan mengobati kakak beradik itu dengan baik. Sejenak dia merasa khawatir, lalu menghela napas, dasar cengeng. Sejak kapan Taekjoo peduli dengan keadaan targetnya.

Sampai beberapa waktu lalu, dia selalu menganggap pengorbanan yang terjadi selama operasi adalah hal yang tidak bisa dihindari. Dia bahkan merasionalisasikannya sebagai kerugian kecil untuk mencegah kerusakan yang lebih besar. Setelah melalui berbagai macam kesulitan, dia bahkan sampai meragukan kepolosan anak-anak yang tampak seperti pihak yang paling lemah.

Namun, baru kali ini dia tidak bisa menilai dan bertindak dengan kepala dingin seperti biasanya. Kepalanya masih berkata dia tidak boleh ragu, tapi hatinya terus-menerus mencoba membangkang. Anehnya, wajah-wajah orang-orang berharga terkadang melintas di atas wajah para target. Dia teringat kata-kata seorang senior yang sudah pensiun, bahwa semakin banyak hubungan pribadi, semakin ragu untuk menarik pelatuk. Dulu dia pikir itu tidak ada hubungannya dengannya. Apa ternyata salah?

“…Pokoknya, sampaikan pada Kepala bahwa aku akan kembali sendiri.”

–Anda benar-benar tidak mau menerima bantuan apa pun? Area itu akan ditutup perbatasannya untuk sementara waktu dan pengawasannya akan diperketat.

“Pasti ada jalannya. Sekarang aku tidak terluka parah, dan kebetulan si bos terakhir juga ada di sampingku.”

Saat menyebut ‘bos terakhir’, dia tersenyum lebar ke arah Zhenya. Zhenya bertanya-tanya, “Apa maksudnya?”

"Monster terkuat dan paling bisa diandalkan di dunia."

Begitu dia menambahkan dalam bahasa Rusia, wajah Zhenya yang sejak tadi masam langsung melembut. Kepada Yoon Jongwoo yang bertanya kembali apa maksudnya, dia berkata, “Kututup,” lalu mengarahkan ponsel ke arah Zhenya. Bibir Zhenya yang hendak menciumnya malah menyentuh layar ponsel dan mengakhiri panggilan. Keraguan memenuhi kedua mata birunya karena perkembangan yang tiba-tiba itu. Kepada pria itu, Kwon Taekjoo mengulurkan tangannya.

"Pertama, aku mau USB-ku kembali."

"Ah?"

Zhenya dengan patuh memberikan USB itu. Namun, tepat saat Taekjoo hendak mengulurkan tangan untuk mengambilnya, Zhenya mengepalkan tangan dan menyembunyikannya.

"Apa yang kau lakukan?"

"Kalau dipikir-pikir, meskipun ini tadinya milikmu, Taekjoo, sekarang kan ini ada padaku? Aku tidak mudah melepaskan sesuatu yang sudah masuk ke tanganku."

"Oh, begitu?"

Sambil tersenyum, dia memiringkan kepala. Zhenya juga balas menatap dengan senyum licik di wajahnya. Tatapannya seolah menantikan apa yang akan Taekjoo lakukan.

Taekjoo mengambil gelas yang Zhenya letakkan dan dengan perlahan memutar wiski berwarna kuning tua di dalamnya. Tatapan Zhenya sejenak beralih ke gelas itu, lalu kembali terpaku pada wajah Taekjoo. Seketika, pandangan mereka terkunci. Sambil menatap Zhenya, perlahan-lahan dia menelan sisa wiski. Saat aroma khas wiski menyebar dengan lembut, senyum Zhenya perlahan memudar. Dalam kepingan kristal merah matanya yang tak berkedip, pupil biru gelapnya menyempit tajam. Yang terpantul di sana hanyalah Kwon Taekjoo.

Dia sengaja menelan minuman di mulutnya dengan suara tegukan. Jakun yang menonjol ikut bergerak. Saat dia perlahan melepaskan bibirnya dari gelas kosong, setetes wiski yang terbentuk di antara bibir dan gelas mengalir di permukaannya. Dia menjulurkan lidahnya dan menjilat tetesan itu dengan saksama.

"Aromanya cukup enak. Kau mau coba?"

"Haa, mata-mata penggoda mana pun pasti akan menangis melihat ini."

Zhenya bergumam dengan nada tak percaya sambil memainkan bibir Kwon Taekjoo yang basah. Setelah menggosok bibir bawahnya yang tebal, dia perlahan menariknya ke bawah, dan disambut oleg gigitan. Selanjutnya, lidah yang basah dan lembut sedikit menjilat ibu jari yang tergigit di antara bibirnya. Godaan yang langka itu membuat tubuh Zhenya sedikit bergetar.

Detik berikutnya, dia memalingkan wajah dari pria yang hendak menerkamnya. Bibir pria itu hanya menyapu pipinya. Di depan pria yang sedang mengatur napas, dia menggoyangkan gelas kosong. Pria itu, sambil menghela, menggelengkan kepalanya, memasukkan USB ke dalam gelas. Dengan suara decakan, bibir Taekjoo membentuk lengkungan panjang. Begitu mendapatkan apa yang diinginkannya, dia dengan lembut memegang bagian belakang kepala Zhenya lalu menariknya.

Zhenya dengan tergesa-gesa menelan napas Taekjoo yang penuh aroma wiski, mendorong seluruh tubuhnya. Saat jari-jarinya bergerak menelusuri rambut pirangnya, Zhenya menghela napas pendek, mengerang pelan. Pipi tadinya pucat seketika memerah. Sangat menggemaskan melihatnya selalu merespons dengan patuh pada setiap sentuhan dan napasnya. Sikapnya yang tulus, seolah mendambakan kasih sayangnya, bahkan memberinya rasa pencapaian yang aneh. Terutama karena itu adalah sisi yang tidak terbayangkan dari dirinya yang biasa.

Kedua bibir mereka berulang kali bertemu dan terlepas, diikuti suara kecupan. Kedua lidah mereka saling melilit, mendorong dan didorong dalam pergulatan yang intim. Sementara itu, Zhenya sudah sepenuhnya berada di atas tubuh Taekjoo. Dengan kedua tangannya yang besar, dia menangkup wajah Taekjoo sambil terus menciumnya. Gerakannya penuh gairah, namun entah kenapa terasa begitu lembut dan tulus, seperti orang yang baru pertama kali merasakan sesuatu yang berharga. Mengikuti ritmenya, Taekjoo memainkan telinga dan membelai pipi Zhenya. Mereka berdua bahkan tertawa kecil saat merasakan sengatan listrik statis kecil di ujung jari mereka.

Sambil mengusap bagian bawah mata Zhenya yang memerah karena gairah, dia menciumnya berkali-kali. Apa karena sentuhan kapalan yang kasar? Bulu mata panjang pria itu bergetar, menggelitik pipi dan area mata mereka yang bersentuhan.

Mengira itu terasa perih, dia dengan perlahan menarik tangannya. Zhenya pun dengan lembut memegang tangan itu, menekan bibirnya ke setiap jari, satu per satu. Kemudian, menggiring tangan itu kembali ke pipinya sambil menempelkan bibirnya dengan lembut di atas bibir Taekjoo. Sambil memiringkan kepala, menggigit bibir bawah serta lidah pria itu secara bersamaan, Taekjoo mengerang pelan. Pria itu juga menghela napas yang dalam dan perlahan. Dia mengusap pipi pria itu yang meremang dengan sangat hati-hati. Dia tidak tahu apakah pernah menyentuh seseorang dengan begitu hati-hati sebelumnya.

Untuk waktu yang lama, dalam suasana yang lembut, mereka saling menyentuh, berciuman, dan menggesekkan seluruh tubuh. Dibandingkan dengan seks, ini adalah tindakan yang sangat main-main. Namun, dia sangat menyukai rangsangan yang hangat dan menggelitik itu sehingga ingin terus menempel.

Tak lama kemudian, gairah Taekjoo perlahan-lahan mereda. Lidah yang bergerak dengan ganas juga terkulai lemas. Melihat itu, Zhenya menghentikan semua tindakannya dan menatap Taekjoo. Setelah terus menerus menghela napas lelah, kedua matanya kini mulai sayu. Sepertinya kelelahan yang menumpuk menyerangnya sekaligus. Mungkin juga pengaruh dari obat pereda nyeri yang kuat.

Saat Zhenya bertanya apakah dia akan tidur, Taekjoo mengangguk pelan. Dia juga mengulurkan kedua tangannya perlahan ke arah Zhenya.

"Kemarilah, Yevgeny."

Zhenya, dengan ekspresi bingung, sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Taekjoo. Taekjoo pun tersenyum lebar sambil memeluk erat wajahnya. Zhenya, yang tanpa sadar sudah terkubur di dada Taekjoo, memanggil namanya. "Taekjoo?" Dia bergerak canggung seolah mengalami sesuatu yang baru.

Taekjoo yang sudah memejamkan mata menepuk-nepuk punggung Zhenya yang memeluknya dengan erat.

“Dengar, ya. Hyung akan bermain denganmu setelah tidur sebentar lagi.”

"Apa?"

"Iya, begitu. Anak baik, kan?"

"Hei, Taekjoo…."

"Kau juga, tidurlah. Kau pasti tidak tidur semalaman karena menjahit lukaku."

Dia membujuk Zhenya dengan suara yang jelas mengantuk. Jika mabuk atau kesadarannya memudar, dia selalu menggunakan berbagai macam bahasa. Jadi, itu berarti Taekjoo saat ini hampir pingsan.

Tak lama kemudian, kelopak mata Taekjoo menjadi tenang. Lengannya yang memeluk Zhenya juga perlahan-lahan terlepas. Baru setelah itu Zhenya mengangkat kepalanya dan menatap lekat Taekjoo yang tertidur lelap seperti pingsan. Setelah mengamatinya cukup lama, dia mendekat hingga napas mereka saling bersentuhan di wajah. Menghirup sepenuhnya napas lembut yang dihembuskan Taekjoo. Kwon Taekjoo, yang biasanya akan langsung bangun dan melarangnya melakukan hal aneh, masih tertidur lelap tanpa menyadari apa pun.

Dia memalingkan wajah dan menempelkan telinganya di dada Kwon Taekjoo. Keberadaan yang dulu pernah membuat jantungnya berdebar kencang itu kini memamerkan eksistensinya dengan lambat namun jelas. Dengan getaran teratur itu sebagai lagu pengantar tidur, dia perlahan-lahan memejamkan mata. Suara napas yang dalam dan rendah perlahan-lahan menyatu, dan tak lama kemudian rasa kantuk yang lembut pun datang menyergap.