Apa itu Fenomena Aphelion dan Mengapa Bumi bisa Menjauh dari Matahari?

(Sumber: RilisID, 2024)
Fenomena Aphelion merupakan kondisi ketika bumi berada pada posisi terjauh dari matahari dalam lintasan orbitnya. Peristiwa ini terjadi satu kali setiap tahunnya yang biasanya pada awal bulan Juli, hal ini disebabkan karena orbit bumi bentuknya elips dan bukan lingkaran sempurna, sehingga matahari terletak di salah satu titik fokus dari elips tersebut yang mengakibatkan jarak bumi ke matahari berubah ubah sepanjang tahun (Phil Plait, 2023). Pada posisi terdekat, Bumi berada pada titik perihelion dengan jarak sekitar 146,6 juta kilometer. Pada posisi terjauh, Bumi berada pada titik aphelion dengan jarak sekitar 152,65 juta kilometer (Raisal et al., 2021). Jarak rata-rata Bumi terhadap Matahari adalah sekitar 150 juta kilometer atau satu Satuan Astronomi (SA). Variasi jarak ini menyebabkan perbedaan kecil dalam intensitas radiasi Matahari yang diterima Bumi sepanjang tahun.
Jarak Bumi yang semakin menjauh dari Matahari bukan disebabkan oleh gangguan besar atau perubahan signifikan dalam struktur tata surya. Penyebabnya adalah bentuk orbit Bumi yang elips. Hukum Kepler I menyatakan bahwa setiap planet mengelilingi Matahari dalam lintasan elips dengan Matahari berada di salah satu titik fokusnya. Bentuk orbit ini menyebabkan dua titik ekstrem, yaitu perihelion dan aphelion. Gaya gravitasi Matahari dan pengaruh benda langit lain seperti planet-planet raksasa memengaruhi eksentrisitas orbit Bumi. Gangguan ini menyebabkan posisi aphelion sedikit bergeser dari tahun ke tahun (Prakoso et al., 2019).
Aphelion dan perihelion tidak memiliki dampak signifikan terhadap suhu Bumi. Bumi berada pada jarak terdekat dengan Matahari (perihelion), suhu justru lebih rendah dibandingkan saat jarak terjauh (aphelion). Suhu Bumi sedikit lebih tinggi pada aphelion karena belahan Bumi utara, yang kaya daratan, lebih condong ke arah Matahari, dan daratan lebih cepat panas dibandingkan lautan. Selain itu, pola angin mempengaruhi distribusi panas. Pada aphelion, angin dari Australia yang sedang mengalami musim dingin bergerak ke utara melintasi Indonesia, menyebabkan suhu di wilayah Indonesia lebih dingin. Dengan demikian, fenomena aphelion tidak memberikan dampak besar pada kehidupan di Bumi, meskipun ada sedikit variasi suhu (Raisal et al, 2021).
Bulan Juli 2025 Indonesia mengalami fenomena bumi berada pada jarak terjauh dari matahari. Menurut situs astronomi In The Sky, fenomena aphelion terjadi pada 4 Juli 2025 pukul 02.54 WIB, pada saat itu jarak pusat Bumi ke Pusat Matahari ,mencapai 152.087.738 km. Jarak rata-rata Bumi-Matahari umumnya sekitar 149,6 juta km. Berdasarkan informasi dari BMKG, fenomena aphelion tidak memberikan dampak langsung terhadap suhu udara atau cuaca ekstrem di Indonesia. Perubahan suhu terjadi pada di wilayah selatan khatulistiwa seperti Jawa, Bali, NTT dan sekitarnya. Perubahan suhu yang terjadi juga disebabkan oleh angin muson timur bertiup dari Australia yang sedang bermusim dingin. Angin ini membawa massa udara dingin dan kering menuju wilayah Indonesia, sehingga suhu udara lebih rendah pada malam hingga pagi hari terjadi karena faktor pola angin musiman dan bukan karena Bumi jauh dari Matahari.
Berdasarkan Penelitian Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eddy Hermawan, menjelaskan bahwa adanya fenomena penurunan suhu di beberapa wilayah Indonesia memiliki kaitan dengan Aphelion meskipun secara tidak langsung dan kemungkinannya kecil. Bapak Eddy mengatakan peristiwa perubahan suhu ini disebut perubahan iklim regional atau lokal. Kawasan yang terdampak seperti NTT, NTB, Bali dan kemudian merambat ke Jawa (Timur, Tengah, Barat) kemungkinan kecil akibat dari global warming. Bapak Eddy menilai bahwa suhu pada kawasan Timur Indonesia sudah rendah sebelum aphelion, sebelum aphelion muncul sudah menunjukkan perubahan suhu di bawah normal. Bapak Eddy menduga bahwa semua kawasan bertipe monsunal mengalami fenomena suhu rendah, dirinya juga mengkonfirmasi adanya penurunan suhu yang terjadi diakibatkan bertiupnya udara dingin dari wilayah Australia. Bapak Eddy juga meminta para riset untuk meneliti lebih lanjut terkait hal ini dan masih perlu dikaji dan diteliti (BRIN, 2024).
Kesimpulan
Fenomena aphelion adalah kondisi ketika Bumi berada pada jarak terjauh dari Matahari dalam lintasan orbit elipsnya, yang terjadi sekali setahun pada awal Juli. Pada Juli 2025, aphelion terjadi di Indonesia dengan dampak terhadap suhu udara yang bersifat tidak langsung dan relatif kecil. Perubahan suhu lebih banyak disebabkan oleh muson timur yang membawa udara dingin dan kering dari Australia yang sedang mengalami musim dingin, sehingga suhu malam hingga pagi hari lebih rendah di wilayah selatan khatulistiwa seperti NTT, NTB, Bali, dan Jawa. Kemungkinan kecil keterkaitan aphelion dengan penurunan suhu disampaikan peneliti BRIN, namun fenomena ini lebih tepat dikategorikan sebagai perubahan iklim regional atau lokal akibat pola angin musiman daripada akibat langsung jarak Bumi yang berada pada titik terjauh dari Matahari.
REFERENSI :
BRIN. (2024). Penelitian BRIN Jelaskan Fenomena Aphelion Penyebab Penurunan Suhu di Musim Kemarau. https://news.detik.com/berita/d-7990940/fenomena-aphelion-juli-2025-kapan-dan-apa-dampaknya-bagi-bumi. [Diakses Pada Tanggal 9 Agustus 2025].
detikNews. (2025). Fenomena Aphelion Juli 2025: Kapan dan Apa Dampak bagi Bumi?. https://brin.go.id/news/119883/peneliti-brin-jelaskan-fenomena-aphelion-penyebab-penurunan-suhu-di-musim-kemarau. [Diakses Pada Tanggal 9 Agustus 2025].
Phil Plait. (2023). Earth’s Aphelion Isn’t the Reason for the Seasons. https://www.scientificamerican.com/article/earths-aphelion-isnt-the-reason-for-the-seasons/ [diakses pada tanggal 9 Agustus 2025].
Prakoso, A. B., Adityas, H., & Mutahhari Nurhaqi, S. (2019). Pemodelan Gerak Orbit Planet secara Komputasi Menggunakan Matlab. JIIF (Jurnal Ilmu dan Inovasi Fisika), 3(1), 10-18.
Raisal, A. Y., Putraga, H., Hidayat, M., & Rakhmadi, A. J. (2021). Analisis Pengaruh Aphelion Dan Perihelion Terhadap Suhu Menggunakan Weather Station. Jurnal Environmental Science, 3(2).