BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG MASALAH

Tidak banyak aliran filsafat yang menguncangkan dunia, filsafat eksistensialisme adalah salah satu di antaranya. Akan tetapi dalam inti ajaran yang terdapat didalamnya (eksistensilesme)lah yang seakan-akan membuat realitas dunia menjadi gempar dan bahkan tengah menggoncangkan diriya.

Stelah selesai perang dunia kedua, penulis-penulis amerika (terutama wartawan) berbondong-bondong pergi menemui filsof-filsof eksistensialisme, misalnya mengunjungi filsof jerman seperti Martin Heidegger (1839), Jean Paul Sartre (1905) dan filsof-filsof lainnya untuk mengetahui tentang kebenaran dan kelebihannya yang tengah menggongcangkan dunea waktu itu.

Filsafat eksistensialisme menyatakan bahwa cara berada manusia dan benda lain tidaklah sama. Manusia beraada di dunia, sapid an pohon juga. Akan tetapi cara beradanya tentu tidaklah sama. Manusia berada didalam dunia, ia mengalami beradanya di dunea itu; manusia menyadari dirinya berada didunia. Manusia menghadapi dunia, menghadapi dengan mengerti yang di hadapi itu. Manusia mengeri gunanya pohon, batu dan salh satu diantaranya ialah ia mengerti bahwa hidupnya mempunyai arti. Apa arti semua itu…?? Artinya ialah manusia adalah subjek. Subjek artinya yang menyadari, yang sadar. Barang-barangyang disadarinya di sebut objek.

Sifat materialisme ternyata merupakan pendorong tentang adanya eksistensialisme, sebagaimana dalam materialisme di uraikan bahwa manusia itu pada akhirnya seperti kayu, batu, dan lain sebagainya yang ada dalam alam semesta. Akan tetapi materialisme mengatakan pada akhirnya, jadi pada prinsipnya, pada dasarnya, pada instansi yang terakhir, manusia adalah suatu yang material; dengan kata lain adalah materi, betul-betul materi. Menurut bentuknya manusia lebih memang unggul dari pada sapi, batu dan lain sebgainya tetapi pada eksistensinya manusia sama saja dngan mahluk lainnya.

Namun, dimanakah letak kesalahan dari materialisme pada filsafat eksistensialisme itu……….?? Rene Le Senne, seorang eksistensialis merumuskan ksalahan materialisme secara singkat: kesalahan itu ialah detotalisiasi. De artinya memungkiri, total artinya seluruh. Maksudnya, memungkiri manusia secara keseluruhan. Pandangan materialisme itu belum mencakup keseluruhan tentang manusia. Pandangan tentang manusia seperti pada materialisme itu akan membawa konsekuensi yang sangat penting.

Eksistensialisme juga lahir sebagai reaksi terhadap idealiasme. Materialisme dan idealism adalah dua pandangan filsafat yang sangat ekstrim. Kedua-duanya berisi enih-benih kebenaran, tetapi kedua-duanya juga salah. Eksistensilisme ingin mencari jalan keluar dari kedua ekstrimitas itu.

Bibit idealisme telah ada sejak Plato, tetapi pembuka jalan bagi idealisme yang sungguh-sungguh adalah Descartes. Dalam pandangan Descartes, manusia itu disamakan saja dengan kesadarannya. Kesadran itu tidak berhubungan sama sekali dengan persentuhan dengan alam jasmani. Kesadran itu seolah-olah tergantung di langit. Didalam kasadaran itu terdapat idea-idea. Idea-idea itu sama sekali bukan berasal dari kontak dengan dunea luar kesadaran. Kita dapat berkata idea tentang kucing, sapid an sebagainya yang dibentuk oleh kenyataan diluar diri kita, misalnya karena kita telah melihatnya. Akan tetapi bagi Descartes tidak demikian. Padanya antara kesadaran dan alam luar diri tidak ada sangkutannya. Sekalipun demikian, Descartes blum benar-benar jatuh ke dalam idealism karena ia masih mengakui dunia realitas. Ia mengatakan bahwa idea itu seakan-akan copy dari dunea realitas. Sekalipun demikian, pada prinsipnya Descartes telah memisahkan kesadaran dari dunia luar. Didalam kesadran yang mengerti adalah idea-idea. Alam fikiran hanyalah alam idea. Manusia tidak mngerti dunia luar kesadarannya. Yang dimengerti hanyalah idea-idea. Di dalam idealism tulen, tidak ada hubungan antara idea  dengan realitas diluar fikiran. Menurt idealism tiap-tiap pikiran tentang dunia luar hanyalah nonsense belaka. Konsekuensinya ia akan menyadari adanya manusia lain selain dia. Dalam cogito_nya, Descartes pernah mengingkari jasadnya sendiri.

Letak kesalahan idealisme ialah karena memandang manusia hanya sebagai subjek, hanya sebagai kesadaran. Sebaliknya materialisme hanya melihat manusia sebagai objek. Maaterilisme lupa bahwa barang di dunea ini disebut objek karena adanya subjek. Dalam pada itu, sesuatu yang aneh tejadi: materialisme dan idealism sama-sama salah tetapi kok dapat tersebar luas, memperoleh banyak penganut, memikat hati banyak orang. Hal itu memperlihatkan bahwa sukar bagi manusia untuk mengerti dirinya sendiri. Rupanya manusia itu semacam rahasia bagi dirinya.

Eksistensialisme juga didorongoleh munculnya situasi dunia pada umunya. Secara umum dapatlah dikatan bahwa keadaan dunia waktu itu tidak menentu. Rasa takut berkecamuk terutama terhadap ancaman perang. Tingkah laku manusia telah menimbulakan rasa muak atau mual. Penampialan manusia penuh rahasia, penuh imitasi yang merupakan hasil persetujuan bersama yang palsu yang disebut konvensi atau tradisi. Manusia berpura-pura. Kebencian mearajarela. Sehingga gelisah, merasa eksistensinya terancam oelh ulahnya sendiri. Pokoknya manusia bener-bener mengalami kritis. Dalam keadaan seperti itu, filsof melihat pada dirinya sendiri. Ia berharap adanya pegangan yang dapat menyelamatkan, keluar dari msas cemas dan penuh kekhawatiran. Maka dari proses itu tanpillah eksistensialisme yang menjadikan manusia sebagai subjek dan juga objek. Manusia dijadikan tema sentral dalam perenungan.

  1. RUMUSAN MASALAH
  1. TUJUAN MASALAH

BAB II

PEMBAHASAN

  1. PENGERTIAN EKSISTENSIALISME[1][2]

Secara Etimologi Eksistensilisme berasal dari kata “eksistensi” dari kata dasar “existency” yaitu “exist”. Kata “exist” adalah berasal dari bahsa latin yang artinya “ex”, keluar dan “sistare” artinya berdiri. Jadi eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri.[3]

Dari kata dasar di atas dapat dirumuskan bahwa eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Pikiran semacam ini dalam bahasa jerman disebut dasein. Da berarti disana, sein berarti berada. Berada bagi manusia selalu berarti disana, di tempat. Tidak mungkin manusia tidak bertempat. Bertempat berarti terlibat dalam alam jasmani, bersatu dalam alam jasmani. Akan tetapi, bertempat bagi manusia tidaklah sama dengan bertempat bagi batu atau pohon. Manusia selalu sadar akan tempatnya. Dia sadar bahwa ia menempati. Ini berarti suatu kesibukan, kegiatan, mlibatkan diri. Dengan demikian manusia sadar dengan dieinya sendiri. Jadi, dengan keluar dari dirinya sendiri ia berdiri sebagai aku atu pribadi.[4]

  1. TOKOH-TOKOH EKSISTENSIALISME DAN AJARANNYA

  1. Soren Kirkegaard (1813-1855)[5][6]

Menurut Kierkegaard bentuk kehidupan manusia ada tiga macam. Yaitu adalah:

  1. Jean Paul Sartre[7][8]

Tadi sudah dibicarakan tentang Soren Kierkegaard, yang telah disebut bapak Eksistensilisme. Maksud dari pembicaraan, itu ialahagar supaya kita mengenal dari beberapa sifat dari aliran tersebut, yakni bahwa dalam aliran tersebut manusia berpikir secara konkrit dan memandang hidup manusia secara konkrit pula.

Dan dalam pemikiran Jean Paul Sartre, dad beberapa bagian yaitu adalah sebagai berikut.

Dengan istilah kita mulai dengan sesuatu yang tak dapat diterjemahkan. Mungkin untuk memberikan kesan tentang maksud Sartre, dapat di kemukakan : kata mual atau muak. Memang merupakan arti kata ,,,nausea” dapat diterjemahkan dengan ,,rasa jemu” rasa hendak muntah, rasa mual atau muak. Akan tetapi dalam hal ini kita belum sampai pada arti yang sebenarnya.

Untuk lebih memksimalkan dalam mengartikan semua ini kita harus menelaah contoh-contoh yang sangatlah konkrit dan realitasdalam kehidupan manusiawi, seperti halnya “pandanglah suatu pertemuan pesta yang meriah riang gembira. Alngkah indahnya hiasan-hiasan yang beraneka warna. Pandanglah indahnya bunga-bunga yang terpasang, pandanglah indahnya lampu-ampu pesta dengan sinarnya yang terang benderang, dengarkanlah lagu-lagu yang mendebar-debaran hati, semua serba gembira, seba senang. Alangkah bahagianya orang yang dirayakan dengan pesta meriahdan mewah itu. Ialah penganten putrid. Yang menunggu datangnya penganten laki-laki. Akan tetaoi bayangkanlah………….. sedang bahagia dan rasa riang memuncak, sekonyong-konyong datanglah telegram dengan kabar, bahwa penganten laki-laki tergilas kereta api dan meninggal seketika itu juga………… maka bagaimanakah mempelai putri itu menghadapi pesta itu…..?? semua membalik menjadi kesedihan. Semua menjadi sedih pedih. Sedih tak terhingga. Cahaya lampu-lampu pesta yang terang benderang tidak berarti lagi baginya. Bunga-bunga yang indahdan mewah, music yang riang tadinya riang gembira tak berarti lagi baginya……….. bahkan semua itu seolah-olah menantang, mengancam semua menjadi keras tak terhingga. Semua meremukannya.

Mungkin inilah maksud dari seorang Sartre, yang dibuat oleh manusia yang berupa konstruksi kita itu bukanlah hanya keadaan pesta. Sebetulnya semua keadaan yang kita alami, semua barang-barang dalam kehidupan manusia smua itu berupa begini dan begitu, disebut ini atau itu, mempunyai tujuan dalam arti tertentu. Semua itu adalah demikian. Karena konstruksi manusia, jadi : dari batasan manusia. Tentu saja semua itu ada permulanya. Akan tetapi sesudah itu, maka bentuk-bentuk, arti-arti tujaun itu diterima dan diteruskan. Konvensi dan tradisi mempunyai peran yang sangat penting. Karena tadisi. Barang-barang mempunyai arti, tujuan dan situasi tertentu. Kita bias hidup dalam konstruksi yangkita buat. Kita dalam buatan. Kita menjalankan eksistensi kita dalam alam buatan itu. Manusai juga bias mendobrak konstruksi itu.

Sehingga pada dasarnya tidak ada ketentuan satupun, tidak ada ketetapan. Semua bias menjadi semua, dan semua bias terjadi. Tidak ada ikatan sedikitpun, tidak ada hokum, tidak ada norma, tidak ada moral, tidak ada arti, tidak ada tujuan, semua menggila. Dalam mengalami yang demikian itu, maka manusia mengalami kesepian yang sehebat-hebatnya, kesepian yang tak terhingga. Dia seakan-akan terjun dalam dunia kubur.

Dengan demikian manusia mengalami dirinya sendiri, eksistensinya sendiri dan seluruh realitas yang membeban berat. Dia merasa tertindas, tergilas. Itulah keadaan manusia yang sebenarnya.

Sekarang kita paparkan sgi ajaran realitas, yang disebut “l’etre – en –soi”. Etre berarti ada atau juga sesuatu yang ada. Dan “en-soi” adalah kata jerman”en-sich”. Akan tetapi Sartre tidak bisa disamakan dngan kata jerman “en-sich”. Sehingga kita harus mengkaji lebih details lagi..

Yang menjadi pangkal dari semua filsafah adalah realitas. Yang dimaksud dengan realitas ialah barang-barang yang ada. Kita mengerti bumi yang kita injak. Kita mengerti tumbuh-tumbuhan, kita mengerti hewan-hewan. Kita mengerti sesama manusia. Kita mengerti bahwa tuhan yang maha esa itu ada. Semua itu kita sebut realitas.

Untuk lebih mengacu pada pemikiran Sartre di atas. Kita mengerti pohon, kita mengerti hewan, dan kita mengerti manusia dan sebagainya. Dan semua itu berbeda-beda. Sehingga manusiapun tidak akan kita samakan dengan pohon ataupun hewan. Jadi, setiap barang yang kita tangkap itu berbeda-beda. Yang satu bukanlah yang lain. Sebab itu kita sebut juga dengan kata-kata  dan nama-nama yang berlainan pula.

Etre dalam pikiran Sartre  bias berarti ada, atu bias juga pengada. Dan bagaimanakah dengan en-soi…?? Untuk mengerti ini bedakanlah dulu dengan sebalik-nya. Ialah etre-pour-soi. Etre-pour-soi kelak kita masih akan kami bentangkan. Sekarang kita hanya dapat menyentuh sedikit, untuk memberi pengertian soal en-soi. L’etre-pour –soi adalah pengada yang sadar akan dirinya sendiri. Jadi, l’etre-en-soi ialah pengada yang tidak sadar akan diri. Untuk lebih menyelami etre-en-soi, perbandingan haruslah diteruskan. Lihatlah, etre-pour-soi, atau pengaada yang sadar. Dalam kesadran itu ada subjek dan objek. Pengada yang sadar itu menjadi subjek. Tetapi dia juga menjadi objek. Jadi seolah-olah disitu ada keduaan atau keterpaduan. Subjek berhadapan dengan objek. Yang berupa subjek ialah pengada yang sadar. Yang berupa objek ialah dia sendiri, sekedar disadari.

Sedangkan l’etre-en-soi ialah pengada yang tidak sadar akan diri sendiri. Jadi : disitu tidak ada keduaan atau keterpaduan satu sama lain. Disitu tidak ada subjek ataupun objek. L’etre-en-soi adalah gelap bagi diri sendiri. Llest opaque a lui-meme, mengapakah gelap bagi diri sendiri..?? karena ,,plein de lui-meme”, karena padat atau penuh dengan diri sendiri.

L’etre-en-soi ialah pengada yang sadar akan dirinya sendiri yaitu adalah manusia. Jika manusia sedang dan dalam berbuat sadar tentang diri sendiri, itu berarti bahwa manusia dengan sadar sedang ada dalam peralihan. Dia sedang mengalih, dia sedang pindah, dia dalam perjalanan. Dan sekali lagi dia dengan sadar menjalankan peralihannya itu. Dia beralih, dia mengalih itu karena sadar dengan dirinya sendiri. Dia menyadari diri sedang ini. Akan tetapi justru bersama-sama itu. Dia tidak mau ke-ini-annya itu. Dia seakan-akan membantah, membantah dengan mengalih itu. Jadi dia berkata: ini, dan juga membantah : saya tidak mau. Dan karena dia : mengalih. Misalnya, seorang mengakui : saya ini pencuri. Sedang sadar, dan justru dengan kesadarannya itu, dia membenci sifat pencuri, jadi tidak mau kepencuriannya.

Sebetulnya : peniadaan itu terjadi terus-menerus, terjadi tak ada berhenti-hentinya, sebab manusia itu tidak mau berhenti. Dia terus saja berbuat. Dan tiap-tiap perbuatan itu merupakan perpindahan. Perpindahan, perubahan, karena manusia tidak menghendaki ketetapan dan itu justru karena kesadarannya. Pandanglah sekarang demikian : manusia itu dalam tiap-tiap perbuatan itu berubah, mengalih, jadi bergerak ke-. Karena dia sedang bergerak ke-, jadi dia belum menjadi yang di maukan. Dia dalam keadaan yang tidak di kehendaki, dan keadaan yang dikehendaki belum ada. Jadi, dia belum ada. Jadi : yang dikehendaki belum ada, dan yang ada tidak dikehendaki. Itulah manusia dalam tiap-tiap detik. Jadi dia selalu meniadakan. Dia selalu nientiser. Lebih tepatlah jika kita berkata, bahwa manusia itu, bahwa wujud manusia, bahwa cara manusia berada, bahwa : adalah neantisation, pe-niada-an terus menerus. Dan itu : karena kesadrannya.

Liberte atau yang disebut dengan kemerdekaan manusia. Masing-masing dari kita mengerti dan mengalami sendiri, bahwa manusia itu merdeka. Manusia tidaklah seperti mesin, yang niscaya berjalan, jika digerakkan oleh bahan bakar. Jika manusia bergerak, maka ia sendirilah yang menggerakkan dirinya. Jika ia tidak mau, ia tidak bergerak. Tentu saja iabisa digerakkan oleh orang lain dengan cara paksaan, ia diperkosa, ia bias didorong dan ditarik. Akan tetapi gerak yang lantas terjdi itu bukanlah geraknya sendiri. Dan sambil ia menderita paksaan dan gerak yang diperkosakan, dalam batinnya ia bisa tetap tidak mau.

Dengan kemauannya, dan kemerdekaannya, dengan perbuatannya manusia itu selalu membuat dirinya. Dia selalu membuat, membuat dan membuat yang tak ada habisnya. Dengan kalimat ini kita sudah ada dalam pemikiran Sartre. Ingatilah, bahwa menurut Sartre manusaia itu adalah ,,pengada” dan tidak pernah identik dengan diri sendiri. Pada tiap-tiap saat dia adalah ,,bukan” atau kebukanan. Artinya : dia selalu membukan, dia selalu membukan-kan dirinya. Dengan istilah Sartre sendiri : manusia adalah “aneantisation” terus-menerus. Disitulah letak kemerdekaan manusia.

L’autrui adalah hidup bersama atau lebih tepat ada bersama. Dalam hidup sehari-hari kita ada bersama dengan bersama-sama manusia, kita bergaul, bersenda gurau dan sebagainya. Dalam semua ini, kita mengalami, menghayati, bahwa kita berada bersama dalam kehidupan manusia.

Dan semua ini adalah hal yang mutlak dalam kehidupan manusia sehingga bukanlah suatu hal yang bersifat insidentil, hanya kebetulan, bisa terjadi dan bisa pula tidak. Untuk lebih terangnya, semua ini dapat kita lihat pada Gabriel marcel.

Pendapat Sartre adalah sebaliknya dari pendapat ini. Pada hakikatnya semua pergaulan, semua perbuatan manusia, semua cara bersama-sama dengan sesame manusia itu adalah clash. Suatu pertarungan atau permusuhan.

  1. Martin Heidegger (1905 M)[9]

Menurut Martin Heidegger, keberadaan hanya akan dapat dijawab melalui jalan ontology, artinya jika dihubungkan dengan manusia dan dicari artinya dalam hubungan itu. Metode untuk ini adalah metodelogi fenominologis. Jadi, terpenting adalah menemukan arti keberaadaan itu.

Satu-satunya yang berada dalam arti yang sesungguhnya adalah beradanya manusia. Keberadaan benda-benda terpisah dengan yang lain, sedang beradanya manusia, mengambil tepat di tengah-tengah dunia sekitarnya. Keberadaan manusia disebut desain (berada disana, di tempat). Berada artinya menempati atau mengambil tempat. Untuk itu, manusia harus keluar dari dirinya dan berdiri di tengah-tengah segala yang berada. Desain manusia disebut juga eksistensi.

Keberadaan manusia, yaitu berada didalam dunia maka ia dapat member tempat kepada benda-benda yang disekitarnya, ia dapat bertemu dengan benda-benda itu dan dengan manusia-manusia lain, dapat bergaul dan berkmonikasi dengan semuanya.

Sebenarnya benda-benda yang berada dalam dirinya tidak dapat mewujudakan dunia. Sebab, benda-benda itu tidak dapat saling menjamah. Karena manusia berada di dalam dunia, mengerjakan dunia atua mengeusahakan dunia dan sebagainya yang oleh Heidegger di rangkum dalam kata “besorgen” (memelihara).

Keberadaan manusia (desain) juga mitsein (berada bersama-sama). Karena itu, manusia terbuka bagi dunianya dan bagi sesamanya. Keterbukaan ini bersandar pada tiga hal asasi, yaitu : befindichkeit (kepekaan), verstehen (memahami), dan rede (kata-kata, becira).

Kepekaan di ungkapkan dalam bentuk perasaan : senang, kecewa atau takut. Perasaan itu timbul karena bersamaannya dengan yang lain, ia di hadapkan di dunia sebagai nasib, dimana seakligus menghadapi kenyataan eksistensi kita serba terbatas.

Yang dimaksud dengan mengerti dan memahami ialah bahwa manusia yang dengan kesadaran akan beradanya diantara keberadaan lain-lainnya harus berbuat susuatu untuk menggunakan kemungkinan-kemungkinan yang ada pada dirinya bagi member arti dan manfaat pada dunia dalam kemungkinan-kemungkinannya. Dengan begitu, manusia, dengan pengertiannya, merencanakan dan merealisasikan kemungkinan-kemungkinan sendiri dan sekaligus juga kemungkinan-kemungkinan dunia.

Bicara adalah asas yang eksistensial bagi kemungkinan untuk berbicara dan berkomunikasi bagi manusia. Secara apriori, manusia telah memiliki daya untuk berbicara, ia mengungkapkan diri. Pengungkapannya adalah suatu pemberitahuan dalam rangka rencana yang di arahkan ke araah tertentu.

Menurut Heidegger, manusia tidak menciptakan dirinya, tetapi ia dilemparkan kepada keberadaan. Walaupun keberadaan manusia tidak mengadakan sendiri, bahkan  merupakan keberadaan yang terlempar, manusia tetap harus bsrtanggung jawab atas keberadaannya itu. Manusia harus merealisasikan kemungkinan-kemungkinannya, tetapi dalam kenyataannya tidak menguasai dirinya sendiri.

Kepekaan diungkapkan dalam suasana batin didalam perasaan dan emosi. Diantara suasana batin atau perasaan-perasaan itu, yang terpenting ialah persaan cemas (angst). Latar belakang kecemasan ini adalah pengalam umum yang menjadikan kita tiba-tiba merasa sendirian, dikepung oleh kekosongan hidup, dimana kita merasa bahwa seluruh hidup kita tiada artinya. Oleh karena itu, dalam hidup sehari-hari, manusia bereksistensi, tidak yang sebenarnya. Akan tetapi, justru karena itu, manusia memiliki kemungkinan untuk keluar dari eksistensi yang tidak sebenarnya itu, keluar dari belenggu oleh pendapat orang banyak dan menemukan dirinya sendiri.

  1. Gabriel Marcel[10]

Dalam filafatnya, ia menyatakan bahwa manusia tidak hidup sendirian, tetapi bersama-sama dengan orang lain. Akan tetapi manusia memiliki kebebasan yang bersifat autonom. Dalam hal itu, ia selalu dalam situasi yang ditentukan oleh kejasmaniaannya. Dari luar ia dapat menguasai jasmaninya, tetapi dari dalam ia dapat dikuasai oleh jasmaninya. Di dalam pertemuannya dengan manusia lain, manusia mungkin bersifat dua macam. Yang lain itu merupakan objek baginya, jadi sebagai dia, mungkin yang ada juga merupakan dari aku. Aku ini membentuk diri terutama dalam hubungan aku engkau ini. Dalam hubungan ini, kesetiaanlah yang menentukan segala-galanya. Jika aku percaya kepada orang lain, setialah aku terhadap orang itu, dan kepercayaan ini menciptakan diri aku itu. Setia hanya mungkin karena orang merupakan bagian dikau yang mutlak (tuhan) keswetiaan yang menciptakan aku ini pada akhirnya berdasarkan atas partisipasi manusia kepada tuhan.

Manusia bukanlah maksud yang statis, sebab ia senantiasa menjadi (berproses) atau being and becoming. Ia selalumenghadapi objek yang harus diusahakan, seperti halnya yang tampak dalam hubungannya ma orang lain.

Perjalanan manusia ternyata akan berakhir pada kematian, pada yang tidak ada. Perjuangan manusia sebenarnya terjadi di daerah perbatasan antara tidak berada. Oleh karena itu, manusia menjadi gelisah, menjadi putus asa dan takoet kematian. Namun, sebenarnya kemenangan, kematian ituaalah semu saja, sebab hanya cinta kasih dan kesetiaan itulah yang meberi harapanuntuk mengatasi kematian. Didalam cinta kasih dan kesetiaan dakepastian bahwa engkauyang tidak dapat mati. Harapan itulah yang menerobos kematian. Adanya harapan menunjukkan bahwa kemenangan kematian adalah semu.

Ajaran tentang harapan ini menjadi puncak ajaran marcel. Harapan ini menunjukkan adanya engkau yang tertinggi(Tci Supreme), yang tidak dapat dijadikan objek manusia. Engkau tertinggi inilah adalah allah, yang hanya dapat ditemukan didalam penyerahan seperti halnya kita menemukan engkau atas sesama kita dalam penyerahan dan dalam keterbukaan dan partisipasi dalam berada yang sejati.

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Secara Etimologi Eksistensilisme berasal dari kata “eksistensi” dari kata dasar “existency” yaitu “exist”. Kata “exist” adalah berasal dari bahsa latin yang artinya “ex”, keluar dan “sistare” artinya berdiri. Jadi eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri.

Dari kata dasar di atas dapat dirumuskan bahwa eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Pikiran semacam ini dalam bahasa jerman disebut dasein. Da berarti disana, sein berarti berada. Berada bagi manusia selalu berarti disana, di tempat. Tidak mungkin manusia tidak bertempat. Bertempat berarti terlibat dalam alam jasmani, bersatu dalam alam jasmani. Akan tetapi, bertempat bagi manusia tidaklah sama dengan bertempat bagi batu atau pohon. Manusia selalu sadar akan tempatnya. Dia sadar bahwa ia menempati. Ini berarti suatu kesibukan, kegiatan, mlibatkan diri. Dengan demikian manusia sadar dengan dieinya sendiri. Jadi, dengan keluar dari dirinya sendiri ia berdiri sebagai aku atu pribad

Menurut Kierkegaard bentuk kehidupan manusia ada tiga macam. Yaitu adalah:

Keberadaan manusia (desain) juga mitsein (berada bersama-sama). Karena itu, manusia terbuka bagi dunianya dan bagi sesamanya. Keterbukaan ini bersandar pada tiga hal asasi, yaitu : befindichkeit (kepekaan), verstehen (memahami), dan rede (kata-kata, becira).

Dalam filafatnya, ia menyatakan bahwa manusia tidak hidup sendirian, tetapi bersama-sama dengan orang lain. Akan tetapi manusia memiliki kebebasan yang bersifat autonom. Dalam hal itu, ia selalu dalam situasi yang ditentukan oleh kejasmaniaannya. Dari luar ia dapat menguasai jasmaninya, tetapi dari dalam ia dapat dikuasai oleh jasmaninya. Di dalam pertemuannya dengan manusia lain, manusia mungkin bersifat dua macam. Yang lain itu merupakan objek baginya, jadi sebagai dia, mungkin yang ada juga merupakan dari aku. Aku ini membentuk diri terutama dalam hubungan aku engkau ini. Dalam hubungan ini, kesetiaanlah yang menentukan segala-galanya. Jika aku percaya kepada orang lain, setialah aku terhadap orang itu, dan kepercayaan ini menciptakan diri aku itu. Setia hanya mungkin karena orang merupakan bagian dikau yang mutlak (tuhan) keswetiaan yang menciptakan aku ini pada akhirnya berdasarkan atas partisipasi manusia kepada tuhan.

  1. SARAN-SARAN

Filsafat eksistensi adalah filsafat kemanusian yang bagaimana ia berada dengan sesungguhnya. Jadi, banyak-banyak belajarlah tentang filsafat ini.

DAFTAR PUSTAKA

Hakim Abdul Atang, Drs, M.A, 2008.  Filsafat umum dari metologi sampai teofilosofi. Bandung

Ahmad tafsir, prof, dr. 2009. Filsafat umum akal dan hatisejak thales sampai capra. Bandung

Sj Drijarkara. Prof. dr. 1963 percikan filsafat. Jakarta

Gazalbi  zidi. 1996. Sistimatika filsafat pengantar kepada metafisika. Jakarta

H. Suhar am, prof, dr, M.Ag. 2010,, filsafat umum konsepsi sejarah dan aliran. Jakarta

Drs. Sadulloh uyih, M.Pd,. 2009. penagntar filsafat pendidikan, bandung:

24


[1] Prof. Dr. N, Drijarkara s.j,. pecikan filsafat, cetakan kelima. Jakarta: 1963, hal: 61

[2] Sidi gazalba,. Sistematika filsafat pengantar kepada metafisika, Jakarta: 1996. Hal: 155

[3] Drs. Atang hakim abdulah., filsafat umum sari metologi sampai teofilosofi. Bandung: 2008, hal. 333

[4] Drs. Uyoh sadulloh, M.Pd,. penagntar filsafat pendidikan, bandung: 2009, hal: 133

[5] Prof. Dr. Ahmad Tafsir,. Filsafat umum akal dan hati sejak thales sampai capra. Bandung: 2009. Hal: 217

[6] Prof. Dr. N, Drijarkara s.j,. percikan filsafat, cetakan kelima. Jakarta: 1963, hal: 67

[7] Prof. Dr. N, Drijarkara s.j,. percikan filsafat, cetakan kelima. Jakarta: 1963, hal: 70

[8] Drs. Atang hakim abdulah., filsafat umum sari metologi sampai teofilosofi. Bandung: 2008, hal. 336

[9] Prof.Dr. H. Suhar AM, M.Ag,. filsafat umum konsepsi sejarah dan aliran, Jakarta: 2010,hal: 257

[10] Drs. Atang hakim abdulah., filsafat umum sari metologi sampai teofilosofi. Bandung: 2008, hal. 37