FINAL

KAJIAN PUISI

“MENGANALISIS PUISI”

Disusun Oleh:

HARIYONO USMAN

NIM. A1D1 08 060

 

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DAN DAERAH

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS HALUOLEO

2009

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Sastra adalah bentuk seni yang diungkapkan oleh pikiran dan perasaan manusia dengan keindahan bahasa, keaslian gagasan, dan kedalaman pesan (Najid, 2003:7). Sastra adalah institusi sosial yang menggunakan medium bahasa (Wellek & Warren dalam Najid, 2003;9). Karya sastra sebagai sebagai hasil kreasi pengarang (Aminuddin, 1995:49).

Genre sastra atau jenis sastra dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu sastra imajinatif dan nonimajinatif. Dalam praktiknya sastra nonimajinatif terdiri dari karya-karya yang berbentuk esai, kritik, biografi, otobiografi, dan sejarah. Yang termasuk sastra imajinatif ialah karya prosa fiksi (cerpen, novelet, novel, atau roman), puisi (puisi epik, puisi lirik, dan puisi dramatik), dan drama (draman komedi, drama tragedi, melodrama, dan drama tragikomedi), (Najid, 2003:12).

 Karya sastra yang dibahas dalam penganalisisan ini adalah puisi-puisi yang terdapat dalam buku kumpulan puisi ”Dua Sisi Mata Cinta”. Puisi adalah sebagai alat pengungkapan fikiran dan perasaan atau sebagai alat ekspresi, (Taufik Ismail). Dalam buku kumpulan puisi “Dua Sisi Mata Cinta” yang sempat penyusun baca, penyusun memilih lima puisi yang akan dianalisis untuk mengetahui makna yang ada dalam puisi-puisi tersebut. Puisi-puisi itu adalah (1) “Ziarah Tanah Tuhan”” karya La Ode Gusman Nasiru, (2) “kau Masih Ada” karya Betwan, (3) “Angin”karya Wa Ode Rizki Adi Putri, (4) “Dua Sisi Mata Cinta, karya Rini Ringkoda, A.Ma, dan (5) “Nelayan” karya Irwanto. 5 puisi ini merupakan sekelumit dari sekian banyak hasil karya imajinatif dan kreatif dari tangan-tangan mahasiswa-mahasiswi dan pelajar dalam mengikuti kagiatan “Pekan Sastra 2009” dalam rangka memperingati hari Chairil Anwar. Fakta dalam kehidupan nyata diangkat (diletakkan) penyair dalam jaringan keseluruhan dunia fiksi dan dunia rekaan melalui daya imajinasi yang kemudian dituangkan dalam tulisan sehingga menjadi karya imajinatif yakni puisi.

Penyusun memilih puisi-puisi ini karena puisi-puisi ini menceritakan tentang sesuatu yang dekat dengan penyusun secara pribadi dan mungkin dekat dengan masyarakat. Jika dibaca secara sepintas, maka lima puisi yang akan saya kaji ini mempunyai isi yang sedikit berbeda-berbeda. Pada puisi “Ziarah Tanah Tuhan” karya La Ode Gusman Nasiru ini, penulis menceritakan tentang perjuangan rakyat palestina yang mati-matian memperjuangkan hidupnya demi negara dan agamanya. Kemudian pada puisi “Kau Masih Ada” karya Betwan ini, penulis menceritakan tentang seseorang yang terkena sesuatu musibah yang tergambar dalam “topeng hitam”nya. Sedangkan pada puisi “Angin” karya Wa Ode Rizky Adi Putri ini, penulis menceritakan sebagaimana yang tertera pada judul puisinya, yaitu tentang angin yang menghampiri dirinya, selanjutnya pada puisi “Dua Sisi Mata Cinta” karya yang merupakan judul buku yang memuat kelima puisi ini dan yang lainnya. Pada puisi ini, penulis menceritakan dua sisi cinta yang terjadi pada dirinya. Selanjutnya puisi yang terakhir yaitu “nelayan” karya irwanto. Pada puisi ini, penulis menceritakan tentang hidup para nelayan di laut. Ini merupakan sedikit dari isi puisi-puisi yang akan saya kaji. Untuk perkenalan lebih jauh dengan puisi-puisi tersebut, maka saya akan menggunakan sebuah pendekatan untuk mencapai kebulatan makna dari puisi-puisi yang akan saya kaji.

Puisi termasuk salah satu bentuk karya sastra. Seperti bentuk karya sastra yang lain, puisi mempunyai ciri-ciri khusus. Pada umumnya penyair mengungkapkan gagasan dalam kalimat yang relatif pendek atau panjang serta padat, ditulis berderet-deret ke bawah (dalam bentuk bait), dan tidak jarang menggunakan kata-kata/kalimat yang bersifat konotatif. Kalimat yang pendek-pendek ataupun panjang-panjang dan padat, ditambah makna konotasi yang sering terdapat pada puisi, menyebabkan isi puisi seringkali sulit untuk dipahami. Selain puisi memiliki ciri-ciri khusus, para penyair juga memiliki licentia poetica (hak penyair untuk memberi makna), membuat para penikmat puisi bekerja ekstra keras untuk memahami maksud penyair dalam paparan puisi yang diciptakannya. Tetapi, setiap pembaca puisi memilki hak untuk memberi makna teks yang dihadapinya. Setriap pembaca mempunyai pandangan yang berbeda dalam mengkaji puisi yang mengakibatkan makna yang dihasilkan pun berbeda pula. Namun demikian, dalam memberi makna itu diperlukan pengetahuan tentang pendekatan pemahaman puisi.

Abrams (1976:6) mengemukakan empat pendekatan dalam kajian karya sastra, yaitu:

  1. Pendekatan Objektif (objective criticism), yaitu kajian sastra yang menitikberatkan pada karya sastra.
  2. Pendekatan Ekspresif (expressive criticism), yaitu kajian yangmenitikberartkan pada penulis.
  3. Pendekatan Mimetik (mimetic criticism), yaitu kajian sastra yang menitikberatrkan terhadap semesta /alam.
  4. Pendekatan Pragmatik  (pragmatic criticism), yaitu kajian sastra yang menitikberartkan pada pembaca.

Menurut Juhl, berkaitan dengan pendekatan ekspresif bahwa makna sebuah karya sastra itu ditentukan oleh maksud si pengarang. Oleh karena itu, pada makalah ini, penyusun akan mengkaji puisi-puisi tersebut dengan menggunakan pendekatan ekspresif.

  1. Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah dalam proses penganalisisan puisi ini, yaitu:

  1. Bagaimanakah proses pengungkapan makna puisi dengan menggunakan pendekatan ekspresif?
  2. Apakah ada manfaat dari proses pengkajian puisi-puisi tersebut?

  1. Tujuan dan Manfaat

Berdasarkan masalah di atas, maka tujuan dan manfaat dari proses penganalisisan puisi ini, yaitu:

  1. Mendapatkan makna yang terkandung dalam puisi-puisi tersebut
  2. Membangkitkan apresiasi mahasisiwa dalam mempelajari kajian puisi dengan menggunakan teori atau pendekatan.
  3. Menyelesaikan salah satu tugas sekaligus final yang diberikan oleh dosen mata kuliah yang bersangkutan.
  4. Sebagai tambahan ilmu pengetahuan di bidang pengkajian puisi.
  5. Membangkitkan pemahaman pembaca terhadap puisi.

BAB II

KAJIAN TEORI

Sastra adalah sebuah karya seni. Dengan demikian, sastra adalah suatu proses penciptaan karya seni dengan bermediumkan bahasa berdasarkan system norma dan konvensi-konvensinya dengan menonjolkan aspek estetik. Sastra telah menjadi bagian dari pengalaman hidup manusia, baik dari aspek manusia yang memanfaatkannya bagi pengalaman hidupnya, maupu dari aspek penciptanya, yang mengekspresikan pengalaman batinnya kedalam karya sastra. Ditinjau dari segi pencipta (pengarang dalam sastra tulis dan pawang atau pelipur lara dalam sastra lisan), karya sastra erupakan pengalaman batin penciptanya mengenai kehidupan masyarakat dalam suatu kurun waktu dan situasi budaya tertentu. Karya sastra pada dasarnya hanyalah rekaan pengarang semata, yaitu sesuatu yang bukan dunia nyata (fakta). Demikian juga halnya dengan puisi. Puisi adalah rekaan pengarang, adalah hasil imajinasi pengarang.

Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang berbeda dengan bentuk karya sastra lainnya, prosa maupun drama. Waluyo (1991:140) berpendapat bahwa puisi merupakan bentuk karya sastra yang mengungkapkan perasaan penyair secara imajinatif. Wijud karya sastra tersebut muncul karena puisi merupakan seni yang ouitis. Dikatalkan puistis karena membangkitkan perasaan, menarik perhatian, bahkan memancing rtimbulnya tanggapan pembaca. Rangsangan kepuitisan itu dapat diterima melalui berbagsi cara, misalnya secara:

  1. Fisik tipografi (susunan bait, persajakan, asonansi, literasi), serta irama (musikalisasi).
  2. Pemilihan kata (diksi): bahasa kiasan, sarana retorika, unsur ketatabahasaan, gaya bahasa, dsb. Bentuk visual maupun sarana diksi bersama-sama membentuk puitisasi puisi sekaligus menimbulkan daya rangsang terhadap respon pembaca, penikmat karaya sastra.

Puisi sebagai karya seni, menampilkan aspek keseleiruhan kehidupan itu sehingga rangsangan kehidupan itu menombulkan rangsangan estetis bagi pembaca. Untuk memunculkan rangsangan estetis itu, Penyair dalam mencipta puisi, biasanya menggunakan kata-kata yang bermakna konotasi. pemakaian kata-kata bagi penyair bukan sekedar mengandung arti, tetapi juga mengandung nilai. Untuk memahami kata-kata yang digunakan penyair, kita sebagai pembaca tidak cukup hanya memahami artinya secara harfiah saja melainkan harus memahami secara keseluruhan dengan susuana yang mendukungnya. Maka dari itu,  Hal ini yang membuat para penikmat puisi sulit untuk mengetahui apa makna yang terkandung dalam puisi-puisi tersebut. Berkaitan dengan hal itu, maka kita harus membutuhukan pendekatan atua teori untuk mengkaji puisi sehingga mendapatkan makna yang terdapat dalam puisi tersebut.

Pada pembahasan terdahulu, penyusun telah mengungkapkan bahwa pendekatan yang dipakai dalam proses pengkajian puisi ini yaitu pendekatan ekspresif. Pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang menitikberatkan perhatian kepada upaya pengarang atau penyair mengekspresikan ide-idenya kedalam karya sastra. Pendekatan ekspresif berpijak pada teori bahwa karya sastra merupakan hasil kerja yang dalam diri penyair, jiwa, dan daya ciptanya memegang peranan penting (Teeuw, 1980).

Penekanan ekspresif karya sastra telah lama dimulai. Pada masa Yunani dan Romawi penonjolan aspek ekspresif karya sastra telah lama dimulai seorang ahli sastra Yunani Kuno, Dionysius Casius Longius, dalam bukunya On the Sublime (Mana Sikana, dalam Atmazaki, 1990: 32-33).Penelitian yang menggunakan pendekatan ekspresif, seperti dilontarkan oleh Abrams (1976) ialah penelitian karya sastra yang menekankan peranan penulis karya sastra sebagai penciptanya. Abrams menjelaskan bahwa pendekatan eksprpesif memandang karya sastra sebagai pernyataan dunia batin pengarang yang bersangkutan. Jika dibayangkan bahwa segala gagasan, cita rasa, emosi ide, dan angan-angan merupakan dunia ‘dalam’ pengarang, karya sastra merupakan ‘dunia luar’ yang bersesuaian dengan dunia ‘dalam’ itu. Dengan cara pendekatan ini, penilaian karya sastra tertuju pada emosi atau keadaan jiwa pengarang. Karya sastra dianggap sebagai sasrana untuk memahami keadaan jiwa penagarang, atau sebaliknya.

BAB III

PEMBAHASAN

  1. PUISI
  1. Ziarah Tanah Tuhan

(Karya: La Ode Gusman Nasiru)

kita hanya menakar sepi sepanjang sejarah

melempar satu dua tangkai doa pada malam yang gerah

                : tanah yang disuburi karunia tuhan

untuk belasungkawa pada negeri yang memelihara

jejak muhammad dan kisah perjalanan sebagai sejarah manusia

ada juga sebagian dari kami mengais air mata

meratapi gaza yang tengah lupa pada aroma kedamaian

pada janji tuhan yang bau surga bila wafat sebgai syuhada

sementara mereka berlari mencari kamp-kamp pengungsian

dalam lubang semut dalam cawan tanah palestina

yang kematian lebih cepat mencegat dari kedip sepasang mata di situ

para nabi pernah menanam peradaban jauh sebelum zaman

jauh sebelum matahari lupa pada terik yang dicuri fosfor dan molotof

memberi harapan pada hamba yang setia menjaga darah dan harga diri

mereka yang tak henti berpasrah pada asmaul husna

mengabarkan akbar tuhan pada langit yang berdarah kena peluru

ah, dapatkah mereka memadamkan pertempuran yang kobar

karena ambisi yang dibakar iblis dan kutukan prajurit israel?

sementara dunia kehilangan gigi

darah demi darah telah dihujani nestapa

dan kita hanya menghujat takdir dalam fantasi

  1. Kau Masih ada

(karya: Betwan)

kau masih ada untukku dan semua

kelabunya hari ini tak akan kekal untukmu

kau masih hidup dan mekar selalu di hati

walaupun rupamu tak kukenal kini

        entah topeng buatan siapa yang telah menutupimu

        aku tak kuasa melihat dirimu pada jiwa yang lain

        kau tersenyum dengan senyuman yang tak kukenal

        kau melisan pada kata yang asing buatmu dulu

        kini kau, tapi bukan dirimu

kau terjerat pada dunia baru yang tak bernama

tawamu mengeluarkan butir-butir bening dari sumur air mata

jeritan dan teriakanmu

mengusik keheningan malam

        kau tak pantas bertopeng

        rupamu jelek

        rupamu memilukan hati-hati yang melihatmu

topengmu indah di mata perancangnya

yang kini tertawa lepas di dalam taman bunga bangkai yang mekar

cobalah mengintip dari celah topengmu

lihatlah wajah-wajah rindu di sekelilingmu

kau masih ada untukku dan semua

kelabunya hari ini tak akan kekal untukmu

  1. Angin

( karya: Wa Ode Rizki Adi Putri)

Akhirnya kau sampai juga di kamarku

Merenungi desaumu sore ini

Membuat aku tahu

Musim hujan tengah mendaki langit

Gusar, kurasakan jelas dari hembusmu

Kau bahkan tak peduli pada jendela tua itu

Ia terus saja berderit tak karuan

Karena kau tabrak berkali-kali

Apa yang kau ingin kau katakan kawan?

Beri aku waktu

Untuk menerjemahkan lagu bisumu

Apa yang ingin kau ceritakan kawan?

Biar kutorehkan kisahmu

Dalam diaryku yang sepi dari roman dan puisi

Ungkaplah saja

Setidaknya kau akan punya kenangan

Tentang hari-hari melukis kemarau

Dan cahaya bulan

Berpendar pelan di antara awan

  1. Dua Sisi Mata Cinta

(Karya: Rini Ringkoda, A. Ma.)

Akulah Manusia yang rapuh karena cinta

Cinta menghunuskan sebuah penghianatan pada jantungku

Cinta mencabikku dengan rasa sakit tak terperih

Cinta melumuriku penyesalan yang tak terlukiskan oleh kata-kata

Cintapun akhirnya menyadarkan akan satu sisinya yang semu

Di satu sisinya yang hakiki,

Cinya menghidangkanku kedamaian atas nama keluarga

Didampingi senyum ceria para malaikat-malaikat kecilku

Disambut rangkulan hangat para sahabat hati

Dibasuh kasih sayang dan limpahan rahmat dari sang pemilik cinta

  1. Nelayan

( Karya: Irwanto)

Di pagi buta

Kau terbangun tak pikirkan dirimu

Ke laut lepas kau berangkat

Menerjang badai begitu buta membungkus

Melawan dingin begitu dingin menusuk

Kemana haluan kau pergi?

Tak kau tahu

Dan ketika pagi mulai menyingsing

Merah menyala di ufuk timur

Kau teruskan perjalananmu

Berharap asa mananti di sana

Kaupun terus melaju

Di laut lepas kau berburu nasib

Kian hari tiada pasti

Namun kau tak menyerah

Demi satu pikirmu

“anak. istrimu”

  1. BIOGRAFI SINGKAT PENGARANG

Dalam penelitian ekpresif, mengetahui latar belakang pengarang merupakan hal yang mesti dilakukan. Karena bagaimana kita akan mengetahui dengan baik isi pesan yang disampaikan tanpa mengenal/mengetahui siapa yang menyampaikannya atau siapa pembuat pesannya.

  1. La Ode Gusman Nasiru

La Ode Gusman Nasiru lahir di Baubau, 18 Juni 1989. Saat ini ia kuliah di Universitas haluoleo, tepatnya di fakultas keguruan dan Ilmu pendidikan, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia dan daerah. Ia dibesarkan dalam lingkungan yang taat beragama islam. Ia sangat peduli terhadap saudara muslimnya, baik yang ada di Indonesia maupun di Luar Indonesia, sehingga dalam karya puisinya banyak menceritakan tentang Negara-negara islam yang dijajah atau semacamnya, contohnya puisi “Ziarah Tanah Tuhan”.

  1. Betwan

Betwan lahir di Sumpuo, Muna pada tanggal 1 januari 1991. Saat ini ia kuliah di Universitas haluoleo, tepatnya di fakultas keguruan dan Ilmu pendidikan, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia dan daerah. Ia baru memulai membuat karya puisinya sejak masuk kuliah, sehingga puisi-puisinya sebagian belum bisa dikatakan sebagai puisi yang berkualitas. Namun, ada beberapa puisinya yang dimuat dalam buku kumpulan puisi “Dua sisi mata Cinta”,  yaitu “kau masih Ada”.

  1. Wa Ode Rizki Adi Putri

Wa Ode Rizki Adi Putri lahir di Kendari, 4 Desember 1989. Saat ini ia kuliah di Universitas haluoleo, tepatnya di fakultas keguruan dan Ilmu pendidikan, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia dan daerah. Puisi-puisinya banyak menceritakan tentang pengalaman-pengalaman hidupnya, baik terhadap benda hidup maupun benda mati, contohnya “Angin”.

  1. Rini Ringkoda, A. Ma.

Rini ringkoda, A.Ma. lahir  di kendari, 21 Oktober 1987. Ia bekerja sebagai guru SD dan saat ini kuliah untuk mendapatkan gelar S1. Beliau sudah menikah dan mempunyai beberapa anak.

  1. Irwanto

Irwanto lahir di Langara, Wawonii, 5 Juni 1989. Saat ini ia kuliah di Universitas haluoleo, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia dan daerah. Orang tuanya bekerja sebagai seorang nelayan.

  1. ANALISIS BERDASARKAN TINJAUAN EKSPRESIF
  1. “Ziarah Tanah Tuhan” karya La Ode Gusman Nasiru

Ditinjau dari pendekatan ekspresif maka puisi ini merupakan luapan emosi, kemarahan, kesedihan, dan rasa peduli pengarang tentang kehidupan rakyat palestina yang saat ini sedang berjuan mati-matian memeprjuangkan hidupnya, harga diri, dam agamanya melawan tentara nagara Israel yang menrut mereka Negara yang tak punya rasa prikemanusiaan dan biadab. Sehingga pengarang mengekspresikannya dalam sebuah tuisan imajinsi berupa karya sastra puisi yang berjudul “Ziarah tanah Tuhan” ini.

Misalnya pada bait ke 1:

kita hanya menakar sepi sepanjang sejarah

melempar satu dua tangkai doa pada malam yang gerah

                : tanah yang disuburi karunia tuhan

untuk belasungkawa pada negeri yang memelihara

jejak muhammad dan kisah perjalanan sebagai sejarah manusia

pada bait ini, penulis mengungkapkan rasa ketidaksetujuannya bahwa kita sebagai mausia yang menyaksikan keadaan palestina yang seperti itu hanua bisa berdoa tanpa bertindak apapun untuk menghentikan serangan tentara Israel yang menghancurkan palestina. Rasa ketidaksetujuannya tersebut menonjol pada kata ‘hanya’. Terlihat pada baris - kita hanya menakar sepi sepanjang sejarah - melempar satu dua tangkai doa pada malam yang gerah - : tanah yang disuburi karunia tuhan – bahwa penulis secara tidak langsung mengungkapkan bahwa kita jangan hanya berdiam diri di tempat dan berdoa yang belum tentu oleh dikabulkan oleh Tuhan. Kita harus membantu mereka dengan bantuan fisik, yakni memegang senjata dan ikut berperang melawan tentara Israel.

Negara Palestina merupakan Negara Islam yang banyak menyimpan sejarah nabi Muhammad yang merupakan nabi terakhir dan menjadi suri tauladan bagi umat islam bahkan yang nonislam. Di tanah palestina ini, Muhammad melakukan Isra Miraj untuk menerima kewajiban yang akan dijalankan oleh umat islam. Ungkapan sejarah ini terlihat pada baris - untuk belasungkawa pada negeri yang memelihara - jejak muhammad dan kisah perjalanan sebagai sejarah manusia – bahwa penulis mengungkapkan hubungan Palestina dengan sejarah nabi Muhammad.

Kemudian pada bait 2:

        ada juga sebagian dari kami mengais air mata

meratapi gaza yang tengah lupa pada aroma kedamaian

pada janji tuhan yang bau surga bila wafat sebgai syuhada

sementara mereka berlari mencari kamp-kamp pengungsian

dalam lubang semut dalam cawan tanah palestina

yang kematian lebih cepat mencegat dari kedip sepasang mata di situ

Pada bait ini, penulis mengungkapkan kesedihannya tentang apa yang dilihatnya, yakni ratusan bahkan ribuan warga tak berdosa yang sebagian adalah perempuan dan anak-anak tewas secara mengenaskan yang mungkin terkena peluru atau rudal yang diluncurkan oleh para tentara Israel. Sehingga Negara ini telah jauh dari kedamaian, telah jauh dari canda tawa yang menghiasi kebahagiaan mereka. Kini mereka sengsara ditinggalkan anaknya, istrinya, bahkan suaminya. Ungkapan kesedihan terlihat pada baris - ada juga sebagian dari kami mengais air mata - meratapi gaza yang tengah lupa pada aroma kedamaian – bahwa di Palestina ini, di jaluir gaza yang merupakan jalur perbatasan antara palestina dengan Israel, mereka tidak mengenal yang namanya kedamaian yang kini mereka sudah tak merasakannya lagi. Tetapi ada akan ada kedamaian abadi yang akan mereka dapatkan, bukan di dunia ini tapi nanti di akhirat kelak. Mereka yang mati karena membela Negaranya ataupun agamanya akan mati syahid dan kelak akan di masukkan ke dalam surga sesuai janji Allah. Terlihat pada baris -  pada janji tuhan yang bau surga bila wafat sebgai syuhada – bahwa dalam surga ini tidak ada lagi suara peluru ataupun letusan bom; tak ada lagi suara jeritan anak-anak yang menangis di depan ibunya yang tergeletak kaku tak berdaya. Yang ada hanya ketenangan dengan nikmat tuhan yang melimpah ruah.

Penulis mengungkapkan rasa kesedihannya dari apa yang dirasakannya seolah-olah dia melihat dari dekat apa yang telah terjadi di negeri palestina itu. Penulis melihat begitu banyak korban berjatuhan. Dalam satu hari mungkin ratusan korban tak berdosa tewas dalam peperangan mengerikan. Sedangkan mereka yang masih hidup berlari dengan rasa ketakutan yang amat mendalam, mencari tempat perlindungan untuk melindungi diri dani anak-anak mereka. Ungkapan itu terlihat pada baris -  sementara mereka berlari mencari kamp-kamp pengungsian - dalam lubang semut dalam cawan tanah palestina - yang kematian lebih cepat mencegat dari kedip sepasang mata di situ

– bahwa penulis mengungkapkan perjuangan para rakyat Palestina yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bayangkan jika kita yang berada di sana? Kita mungkin lebih baik bunuh diri dari pada harus menghadapi semua ini. Bayangkan jika kita melihat ibu kita yang sudah terbujur kaku kepala berlubang aaibat peluru yang menembus hingga ke dalam otaknya, apakah kita sanggup melihatnya? Apakah pada saat itu kita juga akan bunuh diri karena tak sanggup kehilangan orang yang paling kita sayangi dan ingin mati bersamanya atau kita berhenti meratapi menyerahkan semuanya pada Tuhan dan bangkit melawan tentara Israel yang biadab itu? Hanya kita yang tahu.

Saat ini, Negara Palestina telah di ambang kehancuran. Tentara palestina secara membabi buta menembaki warga tak berdosa, menembak anak-anak dan perempuan, mereka mengebom rumah-rumah warga tanpa tahu bahwa di dalamnya ada sebuah keluarga yang sangat ketakutan. Menghancurkan Negara yang banyak menyimpan sejarah nabi, bahkan mereka mengebom menggunakan fosfor putih yang merupakan salah satu zat kimia berbahaya dan dilarang oleh dunia.

Hal ini nampak pada bait 3 :

para nabi pernah menanam peradaban jauh sebelum zaman

jauh sebelum matahari lupa pada terik yang dicuri fosfor dan molotof

memberi harapan pada hamba yang setia menjaga darah dan harga diri

mereka yang tak henti berpasrah pada asmaul husna

mengabarkan akbar tuhan pada langit yang berdarah kena peluru

ah, dapatkah mereka memadamkan pertempuran yang kobar

karena ambisi yang dibakar iblis dan kutukan prajurit israel?

sementara dunia kehilangan gigi

darah demi darah telah dihujani nestapa

dan kita hanya menghujat takdir dalam fantasi

Bait ini bermakna puncak kemarahan sekaligus kesedihan dari penulis. Penulis mengungkapkan kemarahan tentang akhir dari peperangan ini. Kapan peperangan ini akan segara berakhir? Dimana hati para tentara Israel? Mengapa mereka tak henti-hentinya menyerang Palestina? Mereka para pejuang palestina tak henti-hentinya berdoa sekaligus berikhtiar agar diberi kekuatan hati. Terlihat pada baris - mereka yang tak henti berpasrah pada asmaul husna - mengabarkan akbar tuhan pada langit yang berdarah kena peluru - ah, dapatkah mereka memadamkan pertempuran yang kobar - karena ambisi yang dibakar iblis dan kutukan prajurit israel? – bahwa saat ini mereka para pejuang palestina tengah menghadapi pasukan iblis yang tak mengenal kasihan. Para pejuang palestina kekurangan senjata, sementara Israel mempunyai senjata yang lengkap. Mereka tiada henta-hentinya berdoa kepada allah di dalam sholat mereka. Penulis juga mengungkapkan kemarahannya kepada dunia yang tak sedikitpun membantu palestina yang kini nafas mereka hanya tinggal di tenggorokan. Sudah berapa liter darah yang tertumpah disana? apakah dunia tidak melihat hal itu?. Ungkapan ini terlihat pada baris - darah demi darah telah dihujani nestapa - dan kita hanya menghujat takdir dalam fantasi – bahwa mereka para pejuang Palestina sedang kini membutuhkan pertolongan kita. Dimanakah Negara islam yang lainnya? Kita hanya bersantai-santai di tempat kita berada sementara mereka di sana matian-matian bertempur dan berjuang demi Negara maupun agamanya, bahkan tidak sedikit dari mereka banyak yang berjatuhan akibat peluru maupun bom para tentara Israel. Penulis mengungkapkan rasa pedulinya terhadap Negara yang mayoritas Negara islam ini. Penulis menungkapkan bahwa perang ini harus berakhir. Sudah cukup korban yang berjatuhan, sudah cukup darah yang bertumpahan di tanah Palestina ini. Mereka para warga Palestina juga ingin merasakan yang namanya hidup tenang dan kedamaian. Mereka ingin bercanda tawa bersama  para keluarga mereka, tidak lagi mendengar suara peluru maupun letusan bom yang memekakkan telinga.

Penulis sebagai pribadi yang muslim ingin menyampaikan bahwa sebagai manusia yang punya hati nurani, sebagai manusia ynag sama-sama beragama islam marilah kita membantu para saudara-saudara kita yang membutuhkan pertolongan kita. Sehingga penulis mencipta penulis ini dengan segala kerendahan hati yang ingin menunjukkan rasa pedulinya terhadap rakyat Palestina yang saat ini sedang berjuang melawan tentara Israel yang biadab.

 

  1. “Kau Masih Ada” karya Betwan

Di lihat dari pendekatan ekspresif, maka uisi “kau Masih Ada” ini merupakan luapan emosi dan rasa tidak menerima terhadap penyakit yang telah diderita oleh seseorang yang ia sayangi dan juga para keluarganya, yakni kakak dari penulis.

Misalnya, pada bait 1

        kau masih ada untukku dan semua

        kelabunya hari ini tak akan kekal untukmu

        kau masih hidup dan mekar selalu di hati

        walaupun rupamu tak kukenal kini

pada bait ini, penulis semacam memberikan semangat kakaknya untuk tetap hidup menghadapi masalah ini. Ungkapan semangat ini terlihat pada baris - kau masih ada untukku dan semua - kelabunya hari ini tak akan kekal untukmu - kau masih hidup dan mekar selalu di hati – bahwa penulis mengungkapkan  dia (kakanya) akan selalu ada di hati keluarganya, mereka (penulis beserta keluarga) akan terus menyayanginya. Penyakit yang dideritanya akan segara sembuh. Penulis mengungkapkan perasaan sedihnya sekaligus sayabgnya kepada kakaknya. Tetapi penyakit apakah yang diderita oleh kakaknya ini? Seolah-seolah penulis sudah tidak mengenal kakanya lagi. Terlihat pada baris - walaupun rupamu tak kukenal kini – bahwa penulis sudah tidak melihat kakaknya yang sebenarnya. Rupanya dalam hal ini adalah sikapnya sudah menjadi orang lain. Jika melihat cirri-ciri dari penyakit ini, maka ini penyakit semacam penyakt kejiwaan. Penyakit ini berupa penyakit yang dapat merubah tingkah atau sikap seseorang. Hal ini nampak pada bait ke 2:

        entah topeng buatan siapa yang telah menutupimu

        aku tak kuasa melihat dirimu pada jiwa yang lain

        kau tersenyum dengan senyuman yang tak kukenal

        kau melisan pada kata yang asing buatmu dulu

        kini kau, tapi bukan dirimu

pada bait ini, penulis mulai megekspresikan rasa kesedihannya. Penulis sudah melihat orang lain di dalam tubuh kakaknya. Orang yang mengidap penyakit ini dikenal dengan sebutan orang gila. Sehingga penuis tak kuasa melihat kakaknya begini. Tingkah laku orang gila, seperti ketawa sendiri dan berbicara sendiri tanpa teman bicara. Ungkapan ini terliat pada baris - aku tak kuasa melihat dirimu pada jiwa yang lain - kau tersenyum dengan senyuman yang tak kukenal - kau melisan pada kata yang asing buatmu dulu – bahwa penulis tidak tega melihat kakaknya menderita penyakit ini. Kakaknya tertawa sendiri padahal tidak yang lucu juga berbicara sendiri. Dengan demikian ekspresi kemarahan penulis menjadi kemarahan. Penulis sudah mulai berprasangka buruk kepda semua orang. Ungkapan prasangka buruk ini terlihat pada ungkapan - entah topeng buatan siapa yang telah menutupimu – bahwa ada yang telah membuat kakaknya gila. Penulis berprasangka ada yang telah mengguna-gunai kakaknya sehingga menderita penyakit ini. Prasangka buruk ini disebabkan karena penulis sudah marah dengan keadaan ini bahwa harus ada yang dipersalahkan dalam masalah ini.  Namun bila memang benar, mengapa ada orang membuat kakaknya menjadi orang gila? Apakah ia mempunyai musuh? Atau pacarnya yang membuat ia begini karena telah mempermainkan perasaannya. Apapun itu, kini Kakaknya sudah berubah menjadi orang lain. Terlihat pada baris - kini kau, tapi bukan dirimu – bahwa kakakanya sudah menjadi orang lain yang bersemayam di dalam tubuh kakaknya. Begitu juga pada bait 3:

kau terjerat pada dunia baru yang tak bernama

tawamu mengeluarkan butir-butir bening dari sumur air mata

jeritan dan teriakanmu

mengusik keheningan malam

pada bait ini, penulis mengungkapkan ekspresi kesedihannya tentang penyakit yang diderita kakaknya. Penuis mengeluarkan air mata akibat kesedihan yang mendalam. Terlihat pada baris - kau terjerat pada dunia baru yang tak bernama - tawamu mengeluarkan butir-butir bening dari sumur air mata – bahwa kakaknya kini telah menjalani hidup baru, yakni menjadi orang gila. Semua orang sedih melihatnya begini. Ketawa sang kakak merupakan ketawa yang bukan membuat orang senang, tapi malah membuat orang menangis, karena ketawanya merupakan ketawa penyakit yang sebenarnya tidak ada sebabnya. Kakaknya seperti terperangkap dalam sebuah keadaan yang sebenarnya kakanya tidak menginginkannya. Terlihat pada baris - jeritan dan teriakanmu - mengusik keheningan malam – bahwa teriakannya merupakan bukti yang kuat kalau kakaknya sedang berjuang untuk keluar dari penyakit ini. Teriakannya sangat keras sehingga mengagetkan semua orang. Tapi penyakit ini biasanya sulit untuk disembuhkan, bahkan ada yang berakhir dengan kematian. Sehingga hal ini yang membuat penulis kembali mengungkapkan ekspresi kemarahannya. Hal ini Nampak pada bait 4:

kau tak pantas bertopeng

rupamu jelek

rupamu memilukan hati-hati yang melihatmu

Bait ini bermakna luapan emosi sang penulis terhadap apa yang telah menimpa kakaknya. Penulis ingin agar kakaknya segera sembuh. Terlihat pada baris - kau tak pantas bertopeng - rupamu jelek – bahwa penulis sangat tidak menerima kakaknya menderita penyakit ini. Penulis menggambarkan penyakit kakaknyaini dalan sebuah topeng hitam dan segara membukanya dengan mudah agar kakaknya bisa sembuh kembali. Tetapi itu hanya sebuah khalayan dari penulis. Sebenarnya penulis masih sedih akan hal ini. Terlihat pada baris - rupamu memilukan hati-hati yang melihatmu – bahwa bukan hanya penulis yang sedih akan hal ini, tapi muga semua keluarganya yang juga menginginkan kakaknya cepat sembuh. Ekspresi kemarahan penulis belanjut pada bait 5:

topengmu indah di mata perancangnya

yang kini tertawa lepas di dalam taman bunga bangkai yang mekar

cobalah mengintip dari celah topengmu

lihatlah wajah-wajah rindu di sekelilingmu

kau masih ada untukku dan semua

kelabunya hari ini tak akan kekal untukmu

Pada bait terakhir ini, peneulis kembali mengungkapkan ekspresi kemarahannya. Penulis mengungkapkan bahwa ada orang yang senang melihat kakaknya menjadi gila seperti ini. Cuma kakaknya yang tahu apakah ia mempunyi musuh atu tidak. Terlihat pada baris - topengmu indah di mata perancangnya - yang kini tertawa lepas di dalam taman bunga bangkai yang mekar – bahwa penulis mengungkapkan ekspresi kemarahannya kepada orang yang telah membuat kakaknya menjadi gila. Namaun, penuelis tak ingin berlarut-larut dak kesedihannya ataupun kemarahannya. Penuelis kembali bangkit memberi semangat kepada kakaknya untuk segera keluar dari penyakit itu. Penulis yakin bahwa kakaknya akan segera sembuh. Ungkapan ini terlihat pada baris - cobalah mengintip dari celah topengmu - lihatlah wajah-wajah rindu di sekelilingmu  - kau masih ada untukku dan semua - kelabunya hari ini tak akan kekal untukmu – bahwa penulis sangat yakin bahwa kakaknya akan segera sembuh dan kembali mendapatkan jati dirinya kembali. Kembali melihat orang-orang yang menyayangi dirirnya. Penulis sangat rindu akan kakaknya yang sebenarnya. Penulis tak ingin lagi bersama orang yang bukan kakaknya yang sebenarnya. Penulis akan selalu memberikan semangat untuk hidup, semangat untuk tetap kuat, dan semangat untuk segera sembuh dari penyakit tersebut. Penulis yakin setiap penyakit mempunyai obat dan setiap obat akan bisa menyembuhkna penyakit atas izin dari Allah swt.

  1. “Angin” karya Wa Ode Rizki Adi Putri

Jika dilihat dari pendekatan ekspresif, maka puisi ini merupakan puisi yang mengungkapkan rasa pedulinya terhadap angin yang datang menghampirinya. Penulis seolah-olah menganggap angin itu sebagai kawannya, menganggapnya seperti seorang kawan yang mempunyai masalah lalu datang ke penulis untuk curhat kepada penulis. Hal ini nampak pada puisinya:

        Akhirnya kau sampai juga di kamarku

        Merenungi desaumu sore ini

        Membuat aku tahu

        Musim hujan tengah mendaki langit

        Gusar, kurasakan jelas dari hembusmu

        Kau bahkan tak peduli pada jendela tua itu

        Kau bahkan tak peduli pada jendela tua itu

        Karena kau tabrak berkali-kali

        Apa yang kau ingin kau katakan kawan?

        Beri aku waktu

        Untuk menerjemahkan lagu bisumu

        Apa yang ingin kau ceritakan kawan?

        Biar kutorehkan kisahmu

        Dalam diaryku yang sepi dari roman dan puisi

        Ungkaplah saja

        Setidaknya kau akan punya kenangan

        Tentang hari-hari melukis kemarau

        Dan cahaya bulan

        Berpendar pelan di antara awan

Puisi ini hanya terdiri dari satu bait tapi banyak memuat beberapa baris. Dalam puisi ini,penulis mengungkapkan pertemuannya dengan angin yang datang ke kermarnya dengan suara yang sedih seakan-akan ingin ini mempunyai suatu masalah yang ingin diceritakan. Ungmkapan ini terlohat pada baris - Akhirnya kau sampai juga di kamarku - Merenungi desaumu sore ini – bahwa penulis menunggu kedatangan angin ini. Melalui suaranya yang mendesau, penulis tahu apa yang membuatnya sedih. Ungkapan ini terlihat pada baris - Membuat aku tahu - Musim hujan tengah mendaki langit - Gusar, kurasakan jelas dari hembusmu – bahwa penulis tahau dengan kedatangan angin ini membari tanda bahwa hujan akan segera turun.

Penulis mengekspresikan perasamamya terhadap apa yang dirasakannya dan apa yang dilihatnya. Penulis mengibaratkan angin ini sebagai seseorang yang sedang kesal. Ungkapan ini terlihat pada baris - Kau bahkan tak peduli pada jendela tua itu - Kau bahkan tak peduli pada jendela tua itu - Karena kau tabrak berkali-kali – bahwa penulis dalam hal ini sedang berada df jendela kamar yang sedang melihat kekesalan si angin yang menghembuskan nafasnya dengan kencang sehingga membuat jendela kamar penulis berantakan. Berpikir seolaha-aolah ada yang ingin dikatakan oleh angin ini. Ungklapan ini terllihat pada baris - Apa yang kau ingin kau katakan kawan? - Beri aku waktu - Untuk menerjemahkan lagu bisumu – bahwa penulis ingin mendengar apa yang ingin dikatakan oleh angin. Tetapi, apakah pennulis mengerti maksud angin? Sementara anginb hanyalah benda mati yang tak punya mulut untuk berbicara. Apakah openulis mampauaa menerjemashakan maksud anginnyang tak berkata apa-apa hanaya berupa hembusan angin semata? Tetapi penulis tetap ingin tahu apa yang ingin diceritakan angin ini. Ungkapan ini kembali terlihat pada baris - Apa yang kau ingin kau katakan kawan? - Biar kutorehkan kisahmu - Dalam diaryku yang sepi dari roman dan puisi – abahwa penulis mengekspresikan rasa pedulinya terhadap apa saja, baik itu benda mati mauaapaun benda hidup. Penulis menginginkan menulis kisah si angin yang s edih dalam dirynya si penulis walaupaauan iotu tak akan mungkin yrtjadi. Penulis mengekspresikana imajinasinya terhadap suatu objek yakni angin itu sendiri yasng menjadikannya sebagai benda yang hidup layaknya seorang teman. Terlihat pada baris - Ungkaplah saja - Setidaknya kau akan punya kenangan - Tentang hari-hari melukis kemarau - Dan cahaya bulan - Berpendar pelan di antara awan – bahwa penulis dalam mendengar cerita dari si angin ini, seperti pada kata ‘unkaplah saja’, kata ini terdpat unsure paksaan yang sebetulnya itu takkan pernah dan taakkan pernah terjadi. Dengan demikian, sebenarnya penulis dalam mencipta puisi ini hanya berada dalam khayalan semata.

  1. “Dua sisi Mata Cinta” karya Rini Ringkoda, A.Ma.

Dilihat dari segi pendekatan ekspresif, maka puisi merupakan ekspresi luapan kesedihan sekaligus kebahagiaan akibat cinata yang dijalaninya. Berbicara mengenai cinta, maka cinta adalah sebuah kata yang bermakna ganda, seperti dua sisi mata uang yang tak akan pernah dapat bersatu. Inilaah makna yang ingin diungkapkan tentang dua sisi mta cinta, yaitu air mata kebahagiaan dan air mata kesedihan

 Misalnya pada baiti1:

        . Akulah Manusia yang rapuh karena cinta

Cinta menghunuskan sebuah penghianatan pada jantungku

Cinta mencabikku dengan rasa sakit tak terperih

Cinta melumuriku penyesalan yang tak terlukiskan oleh kata-kata

Cintapun akhirnya menyadarkan akan satu sisinya yang semu

Pada bait ini, penulis mengungkapkan satu sisi dari cinta yakni cinta yang bisa membuat orang tersakiti dan kecewa. Terlihat pada baris - Cintapun akhirnya menyadarkan akan satu sisinya yang semu – bahwa penulis dalam hal ini mengalami kegagalan cinta atau merasa dibohongi oleh cinta. Jika kita melihat biografi penulis bahwa penulis sudah meneikah, maka otomatis penulis telah memiliki suami. Sehingga bisa jadi bahwa yang membuat penulis merasa dikhianati dan menyesal adalah suaminya. Ungkapan penyesalannya, rasa sakit hatinya, dan kecewanya ini terlihat pada baris - Cinta menghunuskan sebuah penghianatan pada jantungku - Cinta mencabikku dengan rasa sakit tak terperih - Cinta melumuriku penyesalan yang tak terlukiskan oleh kata-kata  - bahwa penulis mengungkapkan ekspresi kekecewaannya karena telah dikhianati oleh orang yang dia cintai. Cinta telah membuat penulis merasa sakit hati. Cinta membuat penulis merasa menyesal. Penulis merasa gagal telah mendapatkan cinta sejatinya, cinta telah membohonginya. Suaminya mungkin telah mempermainkan hati penulis karena sudah tak mencintainya lagi. Mencari sejati ibarat mebncari sebuah mutiara di tengah lautan.kiat harus berenang-renang kesana kemari. Mencari di ataspasir, rumput, bebatuab, atauapun benda-benda yang lainnya yang ada di lautan. Mencoba memilah serta memilih di antara kerang maupun tiram yang ada.

Penulis merasa seperti kayu yang lapuk dan segera patah kkarena cinta. Ungkapana ini terlihat pada baris - Akulah Manusia yang rapuh karena cinta – bahwa penukis merasa dirinya adalah orang yang paling lemah yang dikalahkan oleh cinta melalui hati penulis. Sehingga cinta juga bisa menjadi sesuatu yang mengerikan.

Kemudian pada bait 2:

        Di satu sisinya yang hakiki,

        Cinta menghidangkanku kedamaian atas nama keluarga

        Didampingi senyum ceria para malaikat-malaikat kecilku

        Disambut rangkulan hangat para sahabat hati

        Dibasuh kasih sayang dan limpahan rahmat dari sang pemilik cinta

Pada bait ini, penulis menuingkapkan sisi laian dari cinta, yakani cinta yang memberika kebahagiaan. Terlihat pada baris - Di satu sisinya yang hakiki, - Cinta menghidangkanku kedamaian atas nama keluarga – bahwa penulis mengungkapkan kebahagiaan cinta yang didipatnya itu melalui hubungan keluarga yang harmonis dan damai. Dengan kedamaian keluarga, membuat penulis merasakan indahnya sisi cinta yang satu ini. Begitu juga pada baris - Didampingi senyum ceria para malaikat-malaikat kecilku - Disambut rangkulan hangat para sahabat hati – bahwa penulis mengekspresikan kebahagiaan cxintanya juga mel;alui senyuman dari anak-anaknya yang masih kecil dan lucu. Mempunyai anak adalaah karunia terbesar yang diberikan pada seluruh ibu di dunia ini. Bahkana bila perlu seorang ibu rela mati demi anaknya. Inilah yang menjadi dasar dari penulis bahwa kebahagiaan cinta dapat dirasakan lewat anak-anak kita.

Selain dari itu, peneulis juga mengungkapkan ekspresi kebahagiaan cinya ini melalaui sahabat-sahabatnay ayng selalu mendukunnya. Sahabat adalah dia yang menghasmpiri kita ketika seluruh dunia menjauh, bikin mendekat kalau sedang butuh. Karena persahabtan itu seperti tangan dan mata. Saat tangan terluka maka mata menangis. Saat mata menangis maka tangan yang menghapusnya. Di samping itu, penulis juga mengungkapkan bahwa kebahagiaan ciontanya itu tidak aluput dari berkat Allah swt. Karena Dialah yang merencanakan semua ini. Ungkapan ini terlihat pada baris - Dibasuh kasih sayang dan limpahan rahmat dari sang pemilik cinta – bahwa penulis mengugnkapkan ekspresi rasa syukurnya kepada Allah swt. Sebagai pencipta cinta di dunia ini. Tanpa kasih saying dan limpahan rahmat dari Allah swt.., maka kita kita tidak akan pernah merasakan kedamaian, keharmonisan, serta kebahagiaan cinta yang sekarang ini kita rasakan.

  1. “Nelayan” karya Irwanto

Dilihat dari pendekatan eksprsif, makapuisi ini merupakan ekspresi kepedulian dan terhadap para nelayan yang bekerjakeras membanting tulang intuk menafkahio keluarganya.

Misalnya pada bait 1:

        Di pagi buta

        Kau terbangun tak pikirkan dirimu

        Ke laut lepas kau berangkat

        Menerjang badai begitu buta membungkus

        Melawan dingin begitu dingin menusuk

Pada bait ini, penulis mengungkapkan tentang perjuangan para nelayan mencari rezeki yang disebar tuhan yang tak kenal lelah. Terlihat pada baris - Di pagi buta - Kau terbangun tak pikirkan dirimu – bahwa kerja keras para nelayan ini tak boleh diremehkan.para nelayan bangun tidur kektika sebagian orang masih terlelap dalam tidurnya. Mereka ke laut lepas mencari ikan yang nanti akan dijual di darat. Namun, yang perlu dilihat adalah perjuangan mereka sehingga mendapatkan ikan yang banyak ataupun semacamanya. Terlihat pada baris - Ke laut lepas kau berangkat - Menerjang badai begitu buta membungkus - Melawan dingin begitu dingin menusuk – bahwa disana mereka menghadapi yang namanya ombak badai yang bisa saja menghancurkan kapal mereka yang tak besar itu. Disana juga mereka merasakan udara dingin yang amat sangat hingga menusuk ke tulang.

Kemudian pada bait 2:

        Kemana haluan kau pergi?

        Tak kau tahu

Bait ini bermakna tentang keterampilan para nelayan. Pwenulis menungkapkan bahwa nelayan ini sebenarnya tak tahu mereka kemana akan pergi. Dimana temapt ikan yang banyak, sementara mereka berhadapan dengan yang sangat luas hingga tak kelihatan ujungnya. Sehingga pekerjaan ini membutuhkan keterampilan yang bagus untuk mengetahui dimana tempat ikan yang banyak. Begitu juga pada bait ke 3:

        Dan ketika pagi mulai menyingsing

        Merah menyala di ufuk timur

        Kau teruskan perjalananmu

        Berharap asa mananti di sana

        Kaupun terus melaju

Pada bait ini, penulis mengungkapkan ekspresi semangat para nelayan yang tak hanta-hentinya berjuang mengisi hidup waalauapun matahari yang begitu panas menyengat kulit mereka, tapi mereka tidak peduli akan hal itu. Terlihatpada baris - Dan ketika pagi mulai menyingsing - Merah menyala di ufuk timur – bahwa walaupun bumu telah mengeluarkan mataharinya yang sangat panas yang membuat kulit terasa terbakar, para nelayan tetap terus berjuang menembus nasib yang harus mereka jalani. Terlihat pada baris - Kau teruskan perjalananmu - Berharap asa mananti di sana - Kaupun terus melaju – penulis mengungkapkan kepeduliannya terhadap apa yang dilakukan oleh para neklayan dilaut lepas sana. Mungkin kapal-kapak mereka sudah banyak yang bocor, sudah banyak yang tak layak lagi untuk dijalankan. Tetapi mereka sungguh mereka tak perduliakan hal itu, padahal kita peduli. Sesungguhnya yang mereka pikirkan adalah bagaimana untuk mendapatkan ikan dilaut sana? bagaimana agar mereka bias makan sebentar malam? Bahkan mereka tak perduli pada nyawa mereka sendiri. Mereka pergi ke laut lepasd dengan nyawa sebagai taruhannya. Hal ini nampak pada bait ke 4:

        Di laut lepas kau berburu nasib

        Kian hari tiada pasti

        Namun kau tak menyerah

        Demi satu pikirmu

        “anak. istrimu”

Pada bait terakhir ini, penulis mengeluarkan semua apa yang dipikirkannya tentang para nelayan ini. Mereka ke laut lepas mencari rezeki disana dengan nyawa sebagai taruhannya. Tidak ada yang mereka takutkan walaupun ombak menerjang. Hanya satu yang memreka piker adalah anak istrinya. Para nelayan berpikir bagaimana anaknya anti bisa terpenuhi gizinya dengan baik. Kemudian anak-anaknya bisa melanjutkan pendidikannya yang tak seperti orang tuanya yang mungkin tamat SD saja, bahkan tidak sekolah. Tetapi mereka terus berjuang bagaimana anaknya bisa menjadi orang yang berhasil dan berguna bagi bangsa dan Negara. Oleh karena itu, jika kita melihat biografi penulis, maka penulis sebenarnya dalam mencipta puisinya tidak lain untuk ayahnaya sebgai seorang nelayan. Penulis mewakili secara tidak langsung anak-anak yang ayahnya bekerja sebagai nelayan.

BAB IV

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Puisi sebagai bentuk komunikasi sastra tidak akan terlepas dari peranan pengarang sebagai pencipta sastra. Maka pendekatan ekspresif merupakan pendekatan yang mengkaji ekspresi perasaan atau temperamen penulis (Abrams, 1981:189). Dan begitu juga pada puisi – puisi yang telah penyusun kaji yang pengkajiannya lewat pendekatan ekspresif, merupakan upaya untuk dapat memahami karya sastra ini secara lebih baik sebagai satu kesatuan yang padu dan bermakna (Burhan Nurgiyantoro).

Berdasarkan pendekatan ekspresif, dapat dikatakan bahwa puisi – puisi ang telah dikaji merupakan hasil cipta karya penulisnya dari pengalaman pada imajinasi dan pemikiran pengarangnya pada situasi setengah sadar lalu dituangkan kedalam bentuk secara sadar. Dan penulis mampu mengungkapkan ekspresi imajinasinya tentang apa yang mereka sedang hadapi, baik itu tentang cinta, kasih sayang maupuan kepedulian terhadap sesama manusia.

Kajian ekspresif sastra pada puisi - puisi yang dikaji juga menitikberatkan pada ekspresi perasaan penulis dan aspek pemikiran dan perasaan penulis itu sendiri ketika mencipta karya sastra ini. Perasaan cinta, peduli, kasih ssayang, kerinduan, serta harapan kebahagian merupakan gambaran dari perasaan hasil dari pemikiran penulis yang di terapkan puisi-puisi mereka.

 

  1. Saran

DAFTAR PUSTAKA

Djojosuroto, Kinayati, 2006, Pengajaran Puisi, Analisis, dan Pemahaman. Bandung : Nuansa

Sugihastuti,  2002. Teori dan Apresiasi Sastra. Yogyakarta : Pustaka PeLajar (Anggota IKAPI)

Udu, Sumiman & La Niampe,  2008, Teori Sastra. Kendari : FKIP Unhalu

Z.F., Zulfahnur & Dkk, 1996, Apresiasi Sastra. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Z.F., Zulfahnur & Dkk, 1996, Teori Sastra. Jakarta : Departemen Pendidikan dan kebudayaan