Penerapan Pembelajaran Problem Based Learning pada materi fungsi dalam kegiatan lesson study di SMP Negeri 51 Batam

Pardomuan Sitanggang

Guru Matematika SMPN 51 Batam

mr.domu_sitanggang@yahoo.com

ABSTRAK: Penelitian ini mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran Matematika dengan Problem Based Learning pada saat kegiatan lesson study di kelas VIII SMP Negeri 51 Batam dengan materi Relasi dan Fungsi. Lesson study dilaksanakan dengan tiga tahap yaitu plan, do,dan see. Data penelitian dikumpulkan melalui rekaman video, hasil kerja siswa, dan wawancara. Data diolah dengan menganalisis praktik pembelajaran di kegiatan DO. Hasil penelitian diperoleh bahwa Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan belajar siswa. Siswa aktif dan antusias dalam belajar, memupuk kerja sama antar siswa dalam suasana belajar yang menyenangkan. Hasil belajar siswa menunjukkan bahwa 4 dari 38 orang mencapai ketuntasan belajar 89,5% di atas KKM. 

Kata kunci : lesson study, Problem based learning, hasil belajar matematika

PENDAHULUAN

Perubahan zaman akan memaksa dunia pendidikan turut berdaptasi. Pendidikan harus senantiasa mengikuti perkembangan zaman yang diwujudkan oleh perkembangan peradaban. Perkembangan teknologi yang begitu cepat juga harus diikuti oleh perkembangan dunia pendidikan.

Salah satu hal penting dalam praktik pendidikan adalah peningkatan kualitas pembelajaran. Dalam membelajarkan siswa baik yang ada di daerah perkotaan maupun pedesaan, diperlukan guru-guru yang mampu berinovasi dan kreatif. Seperti di kota Batam, daerah mainland dan hinterland perlu dilakukan pemerataan baik dari segi fasilitas maupun kompetensi guru yang inovatif dan kreatif. Peningkatan kualitas guru penting untuk selalu dilakukan agar dapat mengikuti perkembangan paradigma belajar dan pembelajaran.

TINJAUAN TEORI

Teori belajar dan pembelajaran berkembang sangat pesat dan berkembang menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Teori-teori tersebut berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Selain itu juga selalu muncul teori-teori baru yang lebih kompleks dan lebih baik untuk digunakan di sekolah.

Penerapan teori belajar dan pembelajaran perlu mempertimbangkan berbagai variabel, antara lain: kondisi lingkungan, kondisi siswa, dan kondisi fasilitas. Siswa di lingkungan kepulauan akan mudah belajar dengan pendekatan yang sesuai dengan kondisi kepulauan. Hal ini tentunya berbeda dengan kondisi daerah daratan. Kondisi siswa di perkotaan juga akan berbeda dengan siswa di pedesaan. Proses belajarpun bagi siswa di kota dan pedesaan juga berbeda dan proses pembelajaran perlu disesuaikan. Sekolah dengan fasilitas lengkap akan berbeda dengan sekolah fasilitasnya terbatas. Guru harus selalu menyesuaikan pembelajarannya dengan kondisi-kondisi tersebut. Dalam hal ini guru dituntut untuk kreatif dalam proses pembelajaran.

Fakta yang ada di lapangan, selama ini guru dalam hal melakukan pembelajaran banyak didominasi metode ceramah. Alasan guru melakukan pembelajaran dengan ceramah adalah masalah waktu yang efisien. Dengan ceramah, materi yang banyak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Hal ini terjadi karena dalam metode ceramah hanya sekedar memberitahukan saja, tanpa penanaman pemahaman yang baik. Banyak penelitian menunjukkan bahwa motode ceramah memiliki banyak kelemahan (Transita Pawartani, 2013; Henri Donan, 2013, Harirul Nur Fadilah, 2013).

Transita Pawartani (2013) menjelaskan bahwa selama ini keaktifan siswa dalam proses belajar dirasakan sangat kurang karena selama aktivitas belajar siswa di dalam kelas tidak memicu keaktifan siswa karena guru cenderung mengajar dengan metode ceramah. Hal tersebut juga ditegaskan oleh Henri Donan (2013) bahwa permasalahan yang muncul terkait dengan metode adalah penggunaan metode ceramah yang lebih dominan karena penggunaan metode ceramah secara terus menerus tanpa diselingi dengan metode lain akan membuat siswa merasa bosan sehingga hilang konsentrasinya dalam mengikuti pelajaran. Hairul Nur Fadillah (2013) juga mengatakan bahwa pada umumnya yang melatar belakangi rendahnya keterampilan dan penguasaan materi pembelajaran secara praktis salah satunya adalah kurangnya motivasi siswa dalam menyerap materi pembelajaran dan informasi dari berbagai sumber termasuk guru dan kurangnya media, guru sangat monoton dan kurang variatif. Dalam hal ini guru banyak melakukan aktivitas ceramah. Dalam metode ceramah, guru hanya menyalin materi di buku untuk disampaikan ke siswa. Hal ini bertentangan dengan sifat matematika.

Matematika secara khusus bukanlah berisikan materi hafalan namun banyak materi matematika yang terkait dengan konsep yang ada di dunia nyata. Qohar, (2013) mengungkapkan bahwa pembelajaran matematika dengan cara yang kurang tepat akan berakibat pada kesalahan konsep pada siswa. Terjadinya kesalahan konsep pada siswa tersebut juga disebabkan karena guru dalam membelajarkan matematika hanya menekankan pada pemahaman instrumental saja. Oleh karena itu pemahaman instrumental dan relasional perlu ditanamkan kepada siswa karena kedua jenis pemahaman tersebut sama pentingnya. Guru juga harus mengetahui kesalahan-kesalahan konsep yang mungkin akan terjadi pada siswa, agar dalam proses pembelajaran kesalahan-kesalahan konsep tersebut bisa dihilangkan.

Karena itu pembelajaran yang dilakukan perlu menyesuaikan dengan karakteristik matematika. Abdul Roni (2013) mengungkapkan dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan guru tidak perlu dominan lagi mengingat bahwa konsep yang ditanamkan kepada siswa harus menjadi pengalaman yang melekat lama dalam benak siswa, artinya pendekatan terhadap siswa sangat di perlukan dalam membangun kosep matematika untuk pendidikan saat ini. Ini menunjukkan bahwa dalam pengajaran konsep matematika, siswa harus dilibatkan didalamnya.

Matematika sebagai ilmu eksak menuntut untuk berpikir tingkat tinggi. Matematika juga banyak berkaitan dengan pemecahan masalah. Penelitian terkait dengan pemecahan masalah dalam matematika sudah banyak dilakukan.

Khairul (2013), mengungkapkan bahwa proses berpikir kreatif siswa berkemampuan matematika tingkat tinggi dalam pemecahan masalah akan mampu membangun ide ataupun strategi yang bersifat konseptual dan intuitif, mampu dalam tahap mensintesis ide, mampu dalam tahap merencanakan penerapan ide, mampu dalam menerapkan ide, dan merasa tertantang menyelesaikan soal dengan beragam cara dan jawaban.

Salah satu pembelajaran yang mengembangkan pemecahan masalah adalah problem based learning. Hal ini didukung oleh penelitian Hapsa Usman Hidayat (2013) menegaskan bahwa Pembelajaran model Problem Based Learning, menuntut guru berperan menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Dalam hal ini masalah yang diajukan adalah masalah kehidupan yang bermakna bagi siswa. Problem Based Learning (PBL) dalam proses pembelajaran lebih melibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuan dapat diserap dengan baik, melatih untuk dapat bekerjasama dengan siswa lain, mengakses pengetahuan dari berbagai sumber. Karena itu dalam penelitian ini menerapkan Problem based learning (PBL) dalam pembelajaran materi relasi dan fungsi pada kelas VIII SMP Negeri 51 Batam

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dalam praktik lesson study. Data utama dalam penelitian ini adalah proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru model (dalam hal ini adalah peneliti). Pengolahan data dilakukan dengan mengaji tahapan-tahapan dalam proses pembelajaran dengan problem based learning. Karena itu penelitian ini mendekatan pendekatan kualitatif dengan proses deksriptif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan lesson study diawali dengan pelaksanaan kegiatan plan yang dihadiri oleh guru-guru bidang studi matematika peserta lesson study. Seperti yang diungkapkan Deissy W. Rau (2013) bahwa Perencanaan ( plan ) pada tahap ini team lesson studi mengidentifikasi masalah yang akan dimunculkan siswa nantinya dan penetapan alternative pemecahan masalah yaitu : merencanakan proses kegiatan belajar mengajar ( KBM ) dengan merancang RPP, menentukan pokok bahasan, skenario yang akan dikembangkan, menyusun lembar kegiatan siswa/evaluasi, mempersiapkan media yang pantas untuk digunakan dan mempersiapkan format observasi bagi guru.

Materi yang dipilih adalah Relasi dan Fungsi dengan kompetensi dasar “Mengenal dan memahami perbedaan fungsi dan relasi”. Tujuan yang diharapkan pada saat pembelajaran adalah (1) siswa dapat mengidentifikasi relasi dan fungsi, (2) siswa dapat menunjukkan mana yang merupakan relasi dan fungsi, dan (3)siswa dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan fungsi f(x). Pada saat plan dihasilkan seperangkat rencana pelaksanaan pembelajaran beserta lembar aktivitas siswa yang akan digunakan pada saat open class. Metode yang dipilih untuk pembelajaran adalah diskusi kelompok dan demonstrasi.

Aah Wasi‟ah (2013) berpendapat bahwa kekurangan selama pembelajaran yang disampaikan adalah siswa kurang tepat waktu menyelesaikan soal pada lembar kegiatan siswa (LKS). Hal ini terjadi pada saat guru menjelaskan, siswa tidak memperhatikan karena dia fokus ke Lembar Aktivitas Siswa (LAS). Selanjutnya pembentukan kelompok kurang heterogen. Selain itu waktu terbatas dan siswa belum terkondisi dengan dilaksanakan diskusi kelompok yang berakhir dengan presentasi, sehingga pelaksanaan perbaikan pembelajaran kurang mendapat hasil yang optimal. Masih rendahnya hasil tes juga disebabkan beberapa siswa pasif, kurang mempunyai keberanian dalam mengemukakan pendapat dan tidak mau bertanya meskipun kurang paham dengan materi yang sedang diajarkan.

Tahapan do - see dilaksanakan di SMP Negeri 51 Batam. Pembelajaran matematika dilaksanakan di kelas VIII pada semester gasal 2016 - 2017 open class dihadiri oleh 2 guru kelas peserta lesson study.

Proses pembelajaran diawali dengan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan materi yang telah diberikan kepada siswa dan pemberian tujuan pembelajaran pada pertemuan tersebut.

Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan dalam metode Penelitian Deskriptif yang melibatkan dengan teman sejawat yang berada di sekolah yang sama untuk menjadi observerb guna mengetahui tingkat keberhasilan dari setiap siswa.

Ika Jumaroh (2013) menyebutkan Pembelajaran Matematika dengan media benda konkret ternyata sangat menyenangkan, baik bagi siswa maupun guru. Dan konkritnya dapat dilakukan pada saat pendahuluan, dilakukan apersepsi dengan tanya jawab untuk meningkatkan hal-hal yang telah dipahami siswa dengan hal – hal yang akan dipelajari hari itu. Akibatnya siswa sangat aktif dalam mengemukakan pendapatnya tentang materi yang akan dipelajari terlihat dari mereka nampak serius bekerja sama menyelesaikan tugasnya.

Saat Guru memasuki ruang kelas VIII yang kemudian kelas disiapkan ketua kelas untuk memberi salam kepada guru dan guru pun membalas salam mereka lalu kemudian guru melihat suasana kelas sebelum mengabsensi mereka. Guru mengabsen anak didik satu persatu dan hadir seluruhnya sebanyak 41 siswa kelas VIII SMP Negeri 51 Batam.

Kemudian guru melakukan apersepsi untuk mengingatkan pelajaran sebelumnya operasi aljabar guru bertanya: “2x + 3x”. Siswa menjawab secara serentak “5x”untuk memantapkan masuknya ke materi fungsi.

Rosnin Hafsah (2013) mengungkapkan sebaiknya pada awal pembelajaran guru model mengadakan apersepsi untuk mengetahui materi prasyarat yang telah dimiliki siswa dengan mengajukan pertanyaan tentang materi prasyarat. Dalam hal ini materiprasyaratnya adalah operasi aljabah dan himpunan. Siswa terlihat masih fresh mengenai aljabar karena materinya baru dipelajari sebelum materi relasi dan fungsi. Kemudian guru menggali pengetahuan siswa tentang himpunan yang telah lama ditinggalkan saat duduk di bangku kelas VII namun untuk sekedar mengenal himpunan masih diingat siswa.

Selanjutnya dalam dialog siswa dengan guru diawal materi relasi dan fungsi sebagai berikut:

Guru        : anak-anak apakah kalian pernah     dengar kata fungsi?

Siswa : pernah pak (jawab mereka secara     serentak)

Guru : menurut kalian apa pengertian fungsi?

Siswa : kegunaan Pak (dijawab beberapa siswa)

Guru : Bagus (guru telah berpikir sebelumnya bahwa mereka akan jawab demikian) kemudian lanjut guru “iya kita akan belajar menggunakan sesuatu yang telah kita pelajari sebelumnya.

Siswa : (mulai penasaran nampak dari wajah mereka)

Guru : Kalian suka tak bermain?

Siswa : suka pak

Guru : kalian suka membantu? (guru menanamkan sifat tolong-menolong)

Siswa : Lihat dulu apa yang hendak dibantu pak?

Guru pun membentuk mereka dalam 4 kelompok dengan tingkat gender terpenuhi dan tingkat keaktifan siswa juga diperhatikan dalam pembagian kelompok.

Setelah mereka membagi dalam 4 kelompok kemudian guru membagikan LAS I yang berisi masalah yang perlu dipecahkan setiap kelompok. Subanji (2013) mengungkapkan bahwa dalam kenyataan, masalah sering diwujudkan dalam bentuk kalimat cerita, pernyataan lisan atau dalam tulisan. Karena itu, kita harus mengubah masalah tersebut menjadi masalah matematika. Dan selanjutnya penyelesaian masalah matematika tersebut digunakan untuk menginterpretasikan masalah awal. LAS I berisi masalah yang perlu dipecahkan setiap kelompok.

Dalam mengerjakan tugas kelompok guru menganjurkan untuk membantu guru olah raga SMPN 51 Batam dalam mencocok pemain olahraga yang ikut dipertandingkan. Siswa mengerjakan LAS dengan suasana aktif dan terlibat secara keseluruhan.

Dalam diskusi muncul dialog guru dengan siswa.

Siswa : Dalam menghubungkan pemainnya dengan olah raga yang diikuti, apakah dibuatkan tanda panah

Guru : iya nak hubungkan antara noktahnya yah

Setelah diberitahu demikian peserta didik mengerjakan Diagramnya dan guru keliling mengoreksi hasil kerjaan siswa. Dari hasil kerja siswa rupanya peserta didik dengan mudah mengerjakannya dan dianggap sementara mereka paham menggambarkan diagram pada relasi maupun fungsi. Kemudian siswa bertanya lagi,

Siswa : Pada grafik yang kami ketahui selama ini bilangan pak, bagaimana cara membuat grafiknya?

Guru : Okey dengar dulu penjelasan bapak dan lakukan di Lembar Aktivitasnya yah. Pada daerah asal (Domain) letakkan semuanya berada pada sumbu x seperti pada LASnya, kemudian jenis olah raga ada pada sumbu y, antara garis yang ditarik dari nama dengan jenis olah raga yang diikuti apakah ada titik potongnya?

Siswa : ada pak

Guru : buatlah noktahnya di titik potongnya. Demikian cara menggambarkannya.

Siswa : iya pak

Terlihat siswa mengerjakan dengan grafik tersebut dan masing-masing kelompok menunjukkan hasil kerjanya di meja dan bertanya apakah demikian cara pak? Guru menjawab betul. Dan terlihat dari hasil kerja siswa dalam kelompok semuanya menggambar dengan tepat. Ada siswa yang bertanya apakah tanda kurungnya harus kurung kurawal pak? Guru: iya nak. Dalam waktu 20 menit sudah ada kelompok yang selesai mengerjakan gambar diagram, pasangan beurutan dan dengan cara grafik.

Selang 5 menit sudah semua kelompok selesai mengerjakannya dan guru mempersilahkan mereka mempersentasikan hasil kelompoknya satu per satu ke depan kelas dimulai dari kelompok 1

Dari hasil yang dipersentasekan siswa di depan kelas guru menjelaskan. Dari kelompok 1, kelompok 2, kelompok 3 dan kelompok 4 guru mengajukan pertanyaan kepada siswa.

Guru : Terimakasi yah nak telah bersedia mempersentasekan hasil diskusinya. Berikan tepuk tangan pada kelompok semua kelompok. Apakah domain habis terpasangkan seluruhnya?

Siswa : habis pak

Guru :Itulah syarat pertama yang harus dipenuhi fungsi bahwa anggota himpunan pada daerah asal harus habis seluruhnya terpasangkan pada anggota himpunan kodomain (Daerah kawan)

Guru : Apakah dari hasil kelompok 1 ada yang bercabang pada domainnya?

Siswa: ada pak yaitu udin yang mengikuti 2 perlombaan olah raga yaitu bola volli dan tennis meja.

Guru : Inilah yang menjadi syarat kedua dari fungsi itu. Bahwa anggota himpunan pada domain tidak bisa bercabang. Padahal yang dikerjakan kelompok satu adalah relasi bukanlah fungsi. Jawaban kelompok 1 adalah benar bukan fungsi

Selanjutnya hasil yang dikerjakan kelompok 2 dijelaskan dengan tanya jawab. Daerah asal terpasangkan semuanya terhadap anggota himpunan daerah kawan dan pada daerah asal tepat 1 dihubungkan pada kodomain (daerah kawan) sehingga disimpulkan hasil kerja siswa pada kelompok 2 adalah  fungsi. Begitu juga kelompok 3 yang sama halnya dengan hasil kelompok 2 seluruh anggota dihubungkan terhadap elemen himpunan yang ada pada daerah kawan sehingga disebut juga fungsi. Pada kelompok 4 ada yang berbeda dengan yang lain sehingga guru menanyakan kepada siswa untuk membimbing peserta didik mengetahui bahwa fungsi pada soal no 4 adalah fungsi satu-satu.

Guru : dapatkah anak-anak melihat perbedaanya?

Siswa : (satu orang menjawab) ada pak bahwa daerah kiri dipasangkan satu- satu

Guru : yah bagus nak, bapak lengkapi yah bahwa yang dikerjakan kelompok 4 adalah fungsi satu-satu karena satu anggota daerah asal dipasangkan masing-masing 1 pada daerah kawan (kodomain) disebut juga korespodensi satu-satu.

        Guru menegaskan kembali penjelasan dari kelompok 4 yang sebelumnya sudah mempersentasikan hasil kerjanya  di depan kelas. Sehingga siswa lebih memahami konsep korespondensi-satu-satu tersebut.

 

Untuk LAS pertama disimpulkan guru bersama dengan siswa bahwa kalau relasi belum tentu fungsi seperti yang dikerjakan kelompok 1 tapi kalau sudah fungsi sudah barang tentu relasi seperti yang dikerjakan kelompok 2,3 dan kelompok 4

Syarat fungsi adalah anggota himpunan pada daerah asal (domain) harus habis seluruhnya terpasangkan pada daerah kawan (kodomain) dan pasangan dari daerah asal (domain) tidak boleh bercabang.

Selanjutnya guru mengajak siswa dan memotivasi siswa untuk berminat mengerjakan LAS yang kedua.

Guru : siapa pernah dengar dialog angkatan bersenjata?

Siswa : Pernah pak tapi tak ngertilah

Guru : Pernah dengar disebutkan angka- angka. Contohnya 85 siap bergerak (guru sambil meletakkan tangannya di telinga seperti menelepon)

Siswa : (tertawa mengangguk seakan mereka sering mendengar seperti itu) Pernah pak dalam televisi

Guru : Itu adalah permainan sandi yang akan kita mainkan sekarang. Karena bapak mengetahui bahwa kalian ada yang bercita-cita jadi angkatan atau pastinya kalian suka berbicara dengan rahasia tanpa diketahui orang lain.

LAS kedua permainan sandi peserta didik sangat antusias hasil salah satu yang dikerjakan kelompok adalah demikian seperti gambar dibawah ini.

Pada soal no 1a sandi “5p+10” yang dipakai untuk mengisi peluruh adalah syarat pada fungsi. Untuk menarik perhatian siswa kita menggunakan istilah sandi karena sandi ini yang dipakai untuk mengetahui berapa banyak peluru yang harus diisi Budi. Pada soal 1b siswa paham juga mengerjakan operasi aljabar dengan satu variabel sehingga menghasilkan dari p–5=45 maka p=50 dapat dilihat disini bahwa konsep operasi bilangan sudah dipahami para siswa. Dan memasukkan p pada “5p+100” sudah paham berarti indikator pemahaman siswa terhadap memasukkan x pada fungsi f(x).

Setelah selesai mengerjakan LAS. Guru menyimpulkan dan menegaskan konsep relasi dan fungsi agar siswa semakin mantap memahami konsep relasi dan fungsi. Selanjutnya guru memberikan tes individu untuk dikerjakan dalam waktu 15 menit untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa materi relasi dan fungsi. Dari hasil tes individu yang dilakukan hasilnya sangat memuaskan karena hampir seluruhnya mendapat nilai di atas KKM

NO

NAMA

NILAI

1

VIII 1

100

2

VIII 2

85

3

VIII 3

100

4

VIII 4

100

5

VIII 5

100

6

VIII 6

40

7

VIII 7

85

8

VIII 8

100

9

VIII 9

100

10

VIII 10

100

11

VIII 11

100

12

VIII 12

100

13

VIII 13

100

14

VIII 14

90

51

VIII 51

90

16

VIII 16

90

17

VIII 17

90

18

VIII 18

90

19

VIII 19

90

20

VIII 20

85

21

VIII 21

65

22

VIII 22

80

23

VIII 23

85

24

VIII 24

85

25

VIII 25

80

26

VIII 26

90

27

VIII 27

80

28

VIII 28

90

29

VIII 29

50

30

VIII 30

85

31

VIII 31

80

32

VIII 32

85

33

VIII 33

80

34

VIII 34

85

35

VIII 35

80

36

VIII 36

90

37

VIII 37

85

8

VIII 38

80

9

VIII 9

85

10

VIII 10

100

11

VIII 11

85

12

VIII 12

100

13

VIII 13

30

Dari hasil pengamatan kebanyakan siswa mengalami kesalahan pada soal no 1 Dari hasil pemantauan teman sejawat hasil observasi bahwa saat penjelasan siswa kurang memperhatikan penjelasannya karena siswa tersebut perlu penjelasan yang berualng. Dan bisa ditelaah ketidakmampuan menjawab dengan benar pada soal 1 angka romawi III ini disebabkan kurang pahamnya sifat dari fungsi itu bahwa domain (daerah asal) harus habis dipetakan seluruhnya terhadap kodomain (daerah kawan). Perlu ditegaskan kembali untuk yang belum mampu menjawab dengan benar karna ada 4 orang yang mengalami kesalahan atau sebanyak 10,5% berarti yang lulus 89,5% berarti untuk soal 1 angka romawi III yang lulus masih dibawah KKM kelas nilai 71. Kalau dari segi kelasikal bahwa secara keseluruhan ketuntasannya 89,5% yang sangat memuaskan.

Dari pemaparan nilai terdapat 2 orang peserta didik yang mendapatkan nilai kurang dari KKM bahkan memprihatinkan nilainya 30 dan 40. Belum ada wawancara khusus bagi 2 orang siswa tersebut semenjak penulis menulis pemaparan ini. Untuk yang 2 peserta didik yang dibawah KKM perlu treatment lagi untuk mencapai ketuntasan yang maksimal.

KESIMPULAN

Pembelajaran matematika melalui pemahaman yang aktual dan permainan , dapat meningkatkan kualitas pembelajaran matematika khususnya pada materi fungsi. Demikian penulis yakin bahwa para pembaca akan memperoleh manfaat khususnya bagi guru matematika akan lebih meningkatkan kualitas pendekatan pembelajaran di kelas sehingga materi – materi yang diberikan dalam pembelajaran matematika mudah dimengerti dan dapat dikuasai oleh siswa.

Dan bagi siswa kiranya hasil penelitian ini akan memberikan peningkatan minat, motivasi, dan kemampuan dalam memahami setiap materi matematika sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Serta bagi seluruh kalangan yang ada khususnya sekolah kiranya hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi positif pada sekolah dalam rangka perbaikan kualitas proses dan hasil pembelajaran matematika melalui pemahaman aktual dan permainan.

DAFTAR PUSTAKA

Donan, Henri, 2013 Meningkatkan Kemampuan Dalam Membuat Motor Lsitrik Melalui Metode Praktek Bagi Siswa Kelas VI SDN.48/Ix Sarang Burung. Prosiding seminar Nasional TEQIP 2013. Universitas Negeri Malang.

Fadillah, Hairul N, 2013 Peningkatan Prestasi Belajar IPA Melalui Metode Demonstrasi Materi Konsep Energi Dan Perubahannya Pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar 011 Tanah Grogot Tahun Pembelajaran 2013. Prosiding seminar Nasional TEQIP 2013. Universitas Negeri Malang.

Hafsah, Rosnin, 2013 Efektivitas Media 6 Daerah Persegi Dalam Meningkatkan Aktivitas & Hasil Belajar Siswa Kelas IVA SDN No. 01 Dompu Pada Materi Jaring-Jaring Kubus SDN No 01 Dompu. Prosiding seminar Nasional TEQIP 2013. Universitas Negeri Malang.

Hidayat, Hapsa U, 2013 Penerapan Media Belimbing Wuluh Dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Aktivitas Ilmiah Dan Hasil Belajar Siswa Kelas VI SD Inpres 2 Jati. Prosiding seminar Nasional TEQIP 2013. Universitas Negeri Malang.

Jumaroh, Ika, 2013 Penggunaan Media Konkret Untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Pembelajaran Matematika Kelas I Pada Lesson Study Di SDN Model Terpadu Bojonegoro. Prosiding seminar Nasional TEQIP 2013. Universitas Negeri Malang.

Khairul, (2013) Proses Berpikir Kreatif Siswa Sekolah Dasar (SD) Berkemampuan Matematika Tinggi Dalam Pemecahan Masalah Matematika Terbuka. Prosiding seminar Nasional TEQIP 2013. Universitas Negeri Malang.

Pawartani, Transita, 2013 Penerapan Pendekatan Cooperative Think Pair Share Dengan Media Pembelajaran Elektronik Pada Pembelajaran IPA Dalam Kegiatan On-Going Di Kelas IV SD Inpres 13 Arfai Manokwari . Prosiding seminar Nasional TEQIP 2013. Universitas Negeri Malang.

Roni, Abdul, (2013) Alternatif Penyelesaian Persaman Garis Lurus SMP N 42 Muaro Jambi. Prosiding seminar Nasional TEQIP 2013. Universitas Negeri Malang.

Subanji, (2013) Pembelajaran Matematika Kreatif dan Inovatif. Penerbit Universitas Malang (UM PRESS).

Qohar, Abd, (2013) Studi Kasus Pemahaman Siswa Sekolah Dasar Terhadap Konsep Keliling Dan Luas Bangun Datar. Prosiding seminar Nasional TEQIP 2013. Universitas Negeri Malang.

Usman H, Hapsa, (2013) Penerapan Media Belimbing Wuluh Dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Aktivitas Ilmiah Dan Hasil Belajar Siswa Kelas VI SD Inpres 2 Jati. Prosiding seminar Nasional TEQIP 2013. Universitas Negeri Malang.

Wasi‟ah, Aah, 2013 Penggunaan Media Lcd Dan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Mengenai Konsep Luas Layang-Layang Pada Siswa Kelas V SD Negeri 007 Ranai. Prosiding seminar Nasional TEQIP 2013. Universitas Negeri Malang.