BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Usaha untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pendidikan khususnya pendidikan agama islam senantiasa terus dikembangkan melalui pengkajian berbagai komponen pendidikan. Perbaikan dan penyempurnaan kurikulum, bahan ajar manajemen pendidikan, proses belajar mengajar dan lain-lain sudah banyak dilakukan. Tujuan utamanya adalah untuk memajukan pendidikan nasional dan meningkatkan hasil pendidikan, tidak terkecuali bidang pendidikan agama islam. Perbaikan dan penyempurnaan sistem pembelajaran merupakan upaya yang paling nyata dalam meningkatkan proses dan hasil belajar para siswa sebagai salah satu indikator kemajuan dan kualitas pendidikan. Proses belajar mengajar merupakan inti dari kegiatan pendidikan di sekolah, agar tujuan pendidikan dan pengajaran berjalan dengan benar. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses  yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi dalam peristiwa belajar mengajar mempunyai arti luas, tidak sekedar hubungan antara guru dan siswa, berupa materi pelajaran, melainkan penanaman sikap dan nilai pada diri siswa yang sedang belajar upaya tersebut diarahkan kepada kualitas pembelajaran sebagai sebuah proses yang diharapkan dapat menghasilkan kualitas hasil belajar siswa. Maka degan ini kita akan membahas tentang adab shalat dan dzikir.

Penulis sebelumnya minta maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan maupun pembahasan baik yang disengaja maupun tidak disengaja, karena penulis hanyalah manusia yang lemah. Dan semoga makalah ini dapat diterima oleh dosen pengampu dan juga semua peserta diskusi.

  1. Rumusan masalah
  1. Apa pengertian Shalat?
  2. Apa pengertian Dzikir?
  3. Bagaimana adab Dzikir?
  4. Bagaimana bentuk dan Cara berdzikir?
  5. Apa manfaat Dzikir?
  6. Bagaimana bentuk dan Cara berdzikir?
  1. Tujuan Masalah
  1. Untuk mengetahui pengertian Shalat.
  2. Untuk mengetahui adab Shalat.
  3. Untuk mengetahui pengertian Dzikir.
  4. Untuk mengetahui adab Dzikir.
  5. Untuk mengetahui bentuk dan Cara berdzikir.
  6. Untuk mengetahui manfaat Dzikir.
  7. Untuk mengetahui bentuk dan Cara berdzikir.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Shalat

       Makna shalat menurut bahasa arab adalah “doa” tetapi yang dimaksud disini adalah “ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir, disudahi dengan salam, dan memenuhi beberapa syarat yang ditentukan”.[1]

Firman Allah SWT:

وَأَقِمِ الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

 “Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) kehi dan mungkar.” (Al-Ankabut: 45).

  1. Adab Shalat
  1. Suci dari hadast besar dan hadast kecil[2]

Sabda Rasulullah SAW;

 “Allah tidak menerima shalat seseorang diantara kamu apabila ia berhadas hingga ia berwudlu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Firman Allah SWT:

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

 “Jika kamu junub maka mandilah.” (Al-Maidah: 6).

  1. Suci badan, pakaian, dan tempat dari najis[3]

Firman Allah SWT:

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

 “Dan bersihkanlah pakaianmu” (Al-Mudastir: 4).

Sabda Rasulullah SAW:

قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِيْنَ بَالَ اْلأَعْرَابِىُّ فِى الْمَسْجِدِ: صَبُّوْا عَلَيْهِ ذَنُوْبًا مِنْ مَاءٍ. رواه البخارى و مسلم.

Ketika orang arab badui kencing didalam Masjid, Rasulullah berkata, ”Tuangi olehmu kencing itu dengan setimba air.” (Riwayat Bukhori dan Muslim)

       Najis yang sedikit atau yang sukar memeliharanya (menjaganya) seperti nanah dan bisul, darah khitan, dan darah berpantik yang ada ditematnya diberi keringanan untuk dibawah shalat.

  1. Menutup aurat[4]

       Aurat ditutup dengan sesuatu yang dapat menghalangi terlihatnya warna kulit. Aurat laki-laki antara pusar sampai lutut, aurat perempuan seluruh badanya kecuali muka dan dua telapak tangan.

Firman Allah SWT:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ

 “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap (memasuki) masjid.” (Al-A’raf: 31).

      Yang dimaksud dengan “pakian” dalam ayat ini ialah pakian untuk shalat.

Sabda Rasullah SAW:

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ اَحَدِكُمْ اِذَا اَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ. رواه البخارى و مسلم.

 “Aurat laki-laki ialah antara pusar sampai dua lutut.” (Riwayat Daruqutni).

Firman Allah SWT:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ

 “katakanlah pada perempuan-perempuan yang beriman, supaya mereka memejamkan mata mereka dari yang tidak halal, dan hendaklah mereka menjaga kehormatan mereka janganlah mereka memperlihatkan perhiasan mereka selain dari yang biasa nyata kelihatan (sukar menutupnya), dan hendaklah mereka tutpkan kerudung (telekung) mereka ke kuduk dan dada mereka, dan janganlah Mereka memperlihatkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka, bapak mereka, mertua mereka, anak mereka, anak saudara mereka, anak saudara mereka yang laki-laki atau perempuan, perempuan muslim, hamba yang mereka meliki, atau orang yang mengikutinya (pelayan) laki-laki yang tidak mempunyai syahwat (nafsu) kepada perempuan, atau kepada kanak-kanak yang belum bernafsu melihat aurat perempuan.” (An-Nur: 31).

Sabda Rasulullah SAW:[5]

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ النَّبِىَّ ص.م قَالَ: لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ حَائِضٍ اِلاَّ بِخِمَارٍ. رواه الخمسة الاّ النسائ

      Dari Aisyah. Bahwa Nabi SAW. Telah berkata, “Allah tidak menerima shalat perempuan yang telah baligh (dewasa) melainkan dengan bertelekung (kerudung).” (Riwayat Lima Ahli Hadis selain Nasa’i).

عَنْ اُمِّ سَلَمَةَ اَنَّهَا سَأَلَتِ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَتُصَلِّى الْمَرْأَةُ فِيْ دِرْعٍ وَخِمَارٍ وَلَيْسَ عَلَيْهَا اِزَارٌ ؟ قَالَ نَعَمْ اِذَا كَانَ الدِّرْعُ سَابِغًا يُغَطِّىْ ظُهُوْرَ قَدَمَيْهَا. رواه أبوداود.

       Dari Ummu Salamah. Sesungguhnya ia telah bertanya kepada Nabi SAW, “Bolehkah perempuan shalat hanya memakai baju kurung dan kerudung (telekung) saja, tidak memakai kain?” jawab Nabi SAW, “boleh, kalau baju kurung itu panjang sampai menutupi kedua tumitnya.” (Riwayat Abu Dawud).

  1. Mengetahui masuknya waktu shalat[6]

       Diantara syarat sah shalat ialah mengetahui waktu shalat sudah tiba. Keterangnya telah tersebut dalam pasal yang menerangkan waktu shalat.

  1. Menghadap kiblat (ka’bah)[7]

Selama dalam shalat, wajib menghadap ke kiblat. Kalau shalat berdiri atau shalat duduk menghadap dada. Kalau shalat berbaring, menghadap dengan dada dan muka. Kalau shalat menelentang, hendaklah dua tapak kaki dan mukanya menghadap kiblat: kalau mungkin, kepalanya dxiangkat dengan bantal atau sesuatu yang lain.

Firman Allah SWT:

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

 “Palingkanlah mukamu ke arah masjidil haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya”. (Al-Baqarah: 144).

Sabda Rasullah SAW:

قَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِخَلاَّدِبْنِ رَافِعٍ: اِذَا قُمْتُ اِلَى الصَّلاَةِ فَأَصْبِغِ الْوُضُوْءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ اْلقِبْلَةَ. رواه مسلم.

       Nabi SAW, berkata kepada Khallad bin Rafi’, “Apabila engkau hendak shalat, sempurnakanlah wudlumu, kemudian menghadaplah kiblat”.(Riwayat Muslim).

  1. Membatasi tempat shalat[8]

Diantara beberapam hal yang dilakukan sebelumshalat ialah membatas tempat shalat dengan dinding, dengantongkat, dengan menghamparkan sajadah (tikar untuk shalat) atau dengan garis, supaya orang tidak lewat didepan oarang yang sedang shalat, sebab lewat didepan orang shalat itu hukunya haram.  

Sabda Rasulullah:        

لَوْ يَعْلَمُ اْلمَارُّ بَيْنَ يَدَي اْلمُصَلِّيْ مَاذَا عَلَيْهِ مِنَ اْلاِثْمِ لَكَانَ اَنْ يَقِفِ اَرْبَعِيْنَ خَرِيْفًا خَيْرًالَهُ مِنْ اَنْ يُمَرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ. متفق عليه.

        “Kalau orang lewat didepan shalat mengetahui dosa yang akan didapatinya, tentu lebih baikia berhenti (mananti) empat puluh tahun dari pada berjalan didepan orang shalat.” (Sepakat Ahli Hadist).

اِذَا صَلَّى اَحَدُكُمْ اِلَى شَيْئٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ فَأَرَادَ اَحَدٌ اَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْ فَعْهُ فَاِنْ اَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَاِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ. متفق عليه.

        “Apabila seseorang shalat menghadapa sesuatu yang membatasinya dari manusia, kemudian ada orang hendak lewat didepanya hendaklah dicegahnya orang itu, jika orang itu tidak menghiraukan, hendaklah dibunuhnya. Sesungguhnya dia adalah syaitan”. (Sepakat Ahli Hadis).[9]

  1. Pengertian Dzikir

       Pengertian dzikir menurut bahasa berasal dari kata “dzakaro” yang artinya ingat. Kata dzikir mengambil dari masdarnya dzikron, kemudian terkenal dengan istilah dzikir. Sedangkan dzikir menurut syara’  adalah ingat kepada Allah dengan etika tertentu yang sudah ditentukan dalam Al Qur’an dan Hadits dengan tujuan mensucikan hati dan mengagungkan Allah.[10]

       Allah sudah menunjukkan dasar pokok bahwa dzikir mampu menentramkan hati manusia. Hanya dengan dzikirlah hati akan menjadi tentram, sehingga tidak timbul nafsu yang jahat. Berdzikir dapat dilakukan dengan berbagai cara dan dalam keadaan bagaimamanapun, kecuali ditempat yang tidak sesuai dengan kesucian Allah. Seperti bertasbih dan bertahmid di WC.[11]

       Dzikir Menurut Imam Nawawi Al Bantaniyu Penulis kitab Al Adzkar, menjelaskan dalam kitabnya bahwa dzikir bisa dilakukan dengan lisan dan hati. Tingkatan dzikir akan menjadi lebih sempurna jika melakukannya denga hati dan lisan. Jika harus memilih, mana yang lebih utama, menurutnya, harus dengan hati saja, namun akan lebih afdhol (utama) jika melakukannya dengan hati dan lisan sesuai dengan sunah Rosulullah.[12]

       Dzikir ialah menyebut allah dengan tasbih (subhanallah), membaca tahlil (la-ilaha illallahu), membaca tahmid (alhamdulillahi), baca tqdis (quddusun), membaca taqbir (allahu akbar), membaca hauqalah (la haula wala quata illa billahi), membaca hasbalah (hasbiyallahu), membaca basmalah (bismillahirrohmanirrohim)membaca Al-Qur’an dan membaca do’a-do’a yang di terima dari allah SAW.[13]

  1. Adab Dzikir

Macam-macam adab dzikir antara lain:[14]

  1. Adapun 5 (lima ) adab yang harus diperhatikan sebelum berdzikir adalah:
  1. Taubat, yang hakekatnya adalah meninggalkan semua perkara yang tidak berfaedah bagi dirinya, baik yang berupa ucapan, perbuatan, atau keinginan.
  2. Mandi dan atau wudlu.
  3. Diam dan tenang. Hal ini dilakukan agar di dalam dzikir nanti dia dapat memperoleh shidq, artinya hatinya dapat terpusat pada bacaan Allah yang kemudian dibarengi dengan lisannya yang mengucapkan Lailaaha illallah.
  4. Menyaksikan dengan hatinya ketika sedang melaksanakan dzikir terhadap himmah syaikh atau guru mursyidnya.
  5. Meyakini bahwa dzikir thoriqoh yang didapat dari syaikhnya adalah dzikir yang didapat dari Rasulullah SAW, karena syaikhnya adalah naib (pengganti ) dari Beliau.

  1. Sedangkan 12 (dua belas) adab yang harus diperhatikan pada saat melakukan dzikir adalah :[15]
  1. Duduk di tempat yang suci seperti duduknya didalam shalat.
  2. Meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya.
  3. Mengharumkan tempatnya untuk berdzikir dengan bau wewangian, demikian pula dengan pakaian di badannya.
  4. Memakai pakaian yang halal dan suci.Memilih tempat yang gelap dan sepi jika memungkinkan.
  5. Memejamkan kedua mata, karena hal itu akan dapat menutup jalan indra dhohir, karena dengan tertutupnya indra dhohir akan menjadi penyebab terbukanya indra hati atau bathin.
  6. Membayangkan pribadi guru mursyidnya diantara kedua matanya. Dan ini menurut ulama thoriqoh merupakan adab yang sangat penting.
  7. Jujur dalam berdzikir. Artinya hendaknya seseorang yang berdzikir itu dapat memiliki perasaan yang sama, baik dalam keadaan sepi (sendiri) atau ramai (banyak orang).
  8. Ikhlas, yaitu membersihkan amal dari segala ketercampuran. Dengan kejujuran serta keikhlasan seseorang yang berdzikir akan sampai derajat Ash-Shidiqiyah dengan syarat dia mau mengungkapkan segala yang terbesit di dalam hatinya (berupa kebaikan dan keburukan ) kepada syaikhnya.Jika dia tidak mau mengungkapkan hal itu, berarti dia berkhianat dan akan terhalang dari fath (keterbukaan bathiniyah).
  9. Memilih shighot dzikir bacaan La ilaaha illallah, karena bacaan ini memiliki keistimewaan yang tidak didapati pada bacaan-bacaan dzikir syar’i lainnya.
  10. Menghadirkan makna dzikir didalam hatinya.
  11. Mengosongkan hati dari segala apapun selain Allah dengan La ilaaha illallah, agar pengaruh kata “illallah” terhujam didalam hati dan menjalar ke seluruh anggota tubuh.
  1. Empat adab setelah berdzikir adalah :[16]
  1. Bersikap tenang ketika telah diam (dari dzikirnya), khusyu’ dan menghadirkan hatinya untuk menunggu waridudz-dzkir. Para ulama thoriqoh berkata bahwa bisa jadi waridudz-dzikr datang dan sejenak memakmurkan hati itu pengaruhnya lebih besar dari pada apa yang dihasilkan oleh riyadloh dan mujahadah tiga puluh tahun.
  2. Mengulang-ulang pernapasannya berkali-kali. Karena hal ini (menurut ulama thoriqoh) lebih cepat menyinarkan bashiroh, menyingkapkan hijab-hijab dan memutus bisikan-bisikan hawa nafsu dan syetan.
  3. Menahan minum air. Karena dzikir dapat menimbulkan hararah (rasa hangat di hati orang yang melakukannya, yang disebabkan oleh syauq dan tahyij (rasa rindu dan gairah) kepada Al-Madzkur/ Allah SWT yang merupakan tujuan utama dari dzikir, sedang meminum air setelah berdzikir akan memadamkan rasa tersebut.

       Para guru mursyid berkata:”Orang yang berdzikir hendaknya memperhatikan tiga tata krama ini, karena natijah (hasil) dzikirnya hanya akan muncul dengan hal tersebut.”Wallahu a’lam.[17]

  1. Bentuk dan Cara Berdzikir

Macam-macam dan bentuk berdzikir antara lain:[18]

  1. Dzikir dengan hati, yaitu dengan cara bertafakur, memikirkan ciptaan Allah sehingga timbul di dalam fikiran kita bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa. Semua yang ada di alam semesta ini pastilah ada yang menciptakan, yaitu Allah SWT. Dengan melakukan dzikir seperti ini, keimanan seseorang kepada Allah SWT akan bertambah.
  2. Dzikir dengan lisan (ucapan), yaitu dengan cara mengucapkan lafazh-lafazh yang di dalammya mengandung asma Allah yang telah diajarkan oleh Rasulullah kepada ummatnya. Contohnya adalah : mengucapkan tasbih, tahmid, takbir, tahlil, sholawat, membaca Al-Qur’an dan sebagainya.
  3. Dzikir dengan perbuatan, yaitu dengan cara melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Yang harus diingat ialah bahwa semua amalan harus dilandasi dengan niat. Niat melaksanakan amalan-amalan tersebut adalah untuk mendapatkan keridhoan Allah SWT. Dengan demikian menuntut ilmu, mencari nafkah, bersilaturahmi dan amalan-amalan lain yang diperintahkan agama termasuk dalam ruang lingkup dzikir dengan perbuatan.

  1. Manfaat Dzikir

Manfaat berdzikir antara lain:[19]

  1. Selalu ingat dan menyebut nama Allah setiap saat dan sepanjang waktu dikala berdiri, duduk dan berbaring merupakan gambaran nyata dari keimanan ,ketakwaan dan rasa tawakkal seseorang. Allah akan memperlihatkan menfaat nyata dari amalan dzikrullah seseorang dalam kehidupannya sehari hari hari antara lain:
  2. Mendapat ketenangan hati dan bebas dari perasaan jengkel, kecewa, sedih, duka, dendam dan stress berkepanjangan.
  3. Dikeluarkan Allah dari kegelapan (hidup yang penuh kesukaran, kesempitan,kepanikan, kekalutan ,kehinaaan dan serba kekurangan ) kepada cahaya yang terang benderang ( hidup bahagia,nyaman, aman, mulia, sejahtera dan berkecukupan).
  4. Terpelihara dan terhindar dari melakukan perbuatan keji dan mungkar.
  5. Terpelihara dari kelicikan dari tipu daya syetan yang menyesatkan.
  6. Selalu mendapat jalan keluar dari berbagai kesulitan yang datang menghadang dan mendapat rezeki dari tempat yang tidak pernah diduga, serta selalu dicukupkan semua kebutuhan hidupnya.

BAB III

PENUTUP

  1. SIMPULAN

       Shalat adalah “ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir, disudahi dengan salam, dan memenuhi beberapa syarat yang ditentukan, adab shalat Suci dari hadast besar dan hadast kecil, Suci badan, pakaian, dan tempat dari najis, Mengetahui masuknya waktu shalat, menutup aurat, menghadab kiblat, membatasi tempat shalat, Pengertian dzikir menurut bahasa berasal dari kata “dzakaro” yang artinya ingat. Kata dzikir mengambil dari masdarnya dzikron, kemudian terkenal dengan istilah dzikir. Sedangkan dzikir menurut syara’  adalah ingat kepada Allah dengan etika tertentu yang sudah ditentukan dalam Al Qur’an dan Hadits dengan tujuan mensucikan hati dan mengagungkan Allah, cara berdzikir dengan hati, lisan, dan perbuatan, manfaat dzikir, Terpelihara dan terhindar dari melakukan perbuatan keji dan mungkar, Terpelihara dari kelicikan dari tipu daya syetan yang menyesatkan, Selalu mendapat jalan keluar dari berbagai kesulitan yang datang menghadang dan mendapat rezeki dari tempat yang tidak pernah diduga, serta selalu dicukupkan semua kebutuhan hidupnya. Adab dzikir antara lain, Diam dan tenang, Mandi atau wudlu, Ikhlas dan jujur dalam berdzikir, Menghadirkan makna dzikir didalam hatinya.

  1. SARAN

Demikianlah yang dapat penulis sampaikan mengenai materi yang menjadi bahasan dalam makalah ini. Berhubungan dengan makalah ini penulis banyak berharap kepada para pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca khususnya pada penulis. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Rasjid, Sulaiman, 2012 Fiqh Islam (Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset)

Bagir Al-Habsyi, Muhammad 2002 Fiqih Praktis (Bandung: Mizan)

Masyhur, Kahar 1995 Shalat Wajib Menurut Madzab yang Empat (Jakarta: PT. Rineka Cipta)

https://annafimuja.wordpress.com/2015/01/18/makalah-akhlak-akhlak-kepada-allaj-swt-berdoabertaubat-dan-berdzikir.


[1] Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam (Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset, 2012), 53.

[2] Ibid, 65.

[3]Ibid..,

[4] Kahar Masyhur, Shalat Wajib Menurut Madzab yang Empat (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1995) 23.

[5] Kahar Masyhur, Shalat Wajib Menurut Madzab yang Empat (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1995) 23.

[6] Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam (Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset, 2012), 70.

[7] Muhammad Bagir Al-Habsyi, Fiqih Praktis (Bandung: Mizan, 2002) 110.

[8] Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam (Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset, 2012), 60

[9] Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam (Bandung: Sinar Baru Algensindo Offset, 2012), 60

[10] https://annafimuja.wordpress.com/2015/01/18/makalah-akhlak-akhlak-kepada-allaj-swt-berdoabertaubat-dan-berdzikir. diakses pada tanggal 26-10-2017, 09:57

[11] Ibid.,

[12] Ibid.,

[13] Ibid.,

[14] https://annafimuja.wordpress.com/2015/01/18/makalah-akhlak-akhlak-kepada-allaj-swt-berdoabertaubat-dan-berdzikir. diakses pada tanggal 26-10-2017, 09:57

[15] https://annafimuja.wordpress.com/2015/01/18/makalah-akhlak-akhlak-kepada-allaj-swt-berdoabertaubat-dan-berdzikir. diakses pada tanggal 26-10-2017, 09:57

[16] https://annafimuja.wordpress.com/2015/01/18/makalah-akhlak-akhlak-kepada-allaj-swt-berdoabertaubat-dan-berdzikir. diakses pada tanggal 26-10-2017, 09:57

[17] Ibid..,

[18] Ibid..,

[19]  https://annafimuja.wordpress.com/2015/01/18/makalah-akhlak-akhlak-kepada-allaj-swt-berdoabertaubat-dan-berdzikir. diakses pada tanggal 26-10-2017, 09:57