Published using Google Docs
Erni Kitsiyahmi.docx
Updated automatically every 5 minutes

PENGUASAAN KALIMAT EFEKTIF  UNTUK  MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS RINGKASAN CERITA PENDEK ANAK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA  INDONESIA   PADA  SISWA  KELAS  V  SEMESTER  II   DI   SD  GEDANGAN  01 KECAMATAN GROGOL, KABUPATEN  SUKOHARJO

TAHUN   PELAJARAN   2013/2014

Oleh: Erni Kitsiyahmi

SD Negeri Gedangan 01, Grogol,Sukoharjo

ABSTRAK

                 Tujuan dari pada Penelitian Tindakan Kelas adalah untuk meningkatkan hasil belajar kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan  penguasaan kalimat efektif. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 2 (dua) siklus, tempat pelaksanaan penelitian di SD Negeri Gedangan 01 dengan subjek penelitian seluruh anak kelas V SD negeri Gedanga 01,  Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo semester I Tahun Pelajaran 2013/2014  yang berjumlah 25 anak. Metode penelitian menggunakan Penelitian Tindakan Kelas. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi dan tes.Hipotesis menyatakan: diduga hasil  belajar  Kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif pada siswa kelas V SD Negeri Gedangan semester I Tahun Pelajaran 2013/2014. Data empiris menyatakan bahwa hasil  belajar menulis ringkasan cerita pendek anak  dengan penguasaan kalimat efektik dari kondisi awal nilai rata-rata siswa 62,2  dengan anak yang mencapai ketuntasan KKM sejumlah 3 anak (11,1,%) ke kondisi akhir nilai rata-rata 72,5 dengan anak  yang mencapai ketuntasan KKM sejumlah 25 anak (92,6%) pada siswa kelas II SD Negeri Gedangan  01 semester I Tahun Pelajaran 2013/2014 sehingga dapat disimpulkan bahwa, penguasaan kalimat efektif dapat meningkatkan  hasil belajar menulis ringkasan cerita pendek anak pada siswa   kelas V SD Negeri Gedangan 01 semester I, kecamatan Grogol,kabupaten Sukoharjo Tahun Pelajaran 2013/2014.

Kata kunci: kalimat efektif, hasil Belajar, kemampuan menulis

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Mata pelajaran bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut : (1) Siswa berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis; (2) Siswa menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara; (3) Siswa memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan; (4) Siswa menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial; (5) Siswa  menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan,memperhalus budi pekerti,serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa; (6) Siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia (Depdiknas, 2007 : 6).

         Sebagai salah satu tujuan pembelajaran bahasa Indonesia, pembinaan kemampuan berbahasa siswa diarahkan pada empat aspek keterampilan berbahasa yaitu mendengarkan (menyimak), berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan berbahasa tersebut mempunyai hubungan yang erat  antara yang satu dengan lainnya.Keterampilan menulis merupakan keterampilan produktif dan ekspresif harus mendapatkan porsi yang lebih  dalam pengajaran Bahasa Indonesia sejak  dari tingkat sekolah dasar. Siswa sekolah dasar diharapkan mulai mengenal dan memahami aspek-aspek dasar keterampilan menulis.

          Keterampilan menulis sangat berpengaruh dalam keberhasilan proses belajar siswa, karena dengan keterampilan menulis yang memadai para siswa akan mampu menuangkan gagasan, pendapat, perasaan, dan pengalamannya secara tertulis untuk mencapai maksud dan tujuannya. Selain itu, dengan keterampilan menulis yang dimiliki, siswa dapat mengembangkan kreativitas dan dapat mempergunakan bahasa tulis sebagai sarana menyalurkan kreativitasnya dalam kehidupan sehari-hari.

            Menulis merupakan proses kreatif yang memerlukan kesabaran, keuletan, dan kejelian. Di samping itu, keterampilan menulis siswa bukannlah kemampuan yang dapat dikuasai dengan sendirinya, melainkan harus melalui proses pembelajaran dengan bimbingan guru dan perhatian orang tua. Keterampilan menulis siswa harus terus dibina dan dikembangkan untuk mendapatkan hasil tulisan yang baik, komunikatif, dan menarik.

           Namun kenyataannya, masih banyak siswa yang memiliki minat menulis yang rendah. Di samping itu, banyak pula siswa yang menganggap menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang sulit dan membosankan. Hal itu diduga disebabkan oleh faktor guru dan siswa sendiri. Faktor dari guru diduga karena (1) kurang intensifnya pembelajaran tentang teknik menulis; (2) guru menerapkan metode mengajar yang kurang tepat, sehingga siswa kurang paham dan menjadi bosan; (3) guru kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk berlatih; (4) guru tidak sempat memberikan penilaian secara mendetail, sehingga siswa menangkap bahwa keterampilan menulis tidak begitu penting.

           Faktor dari siswa diduga karena (1) dari segi kultur, budaya sekarang ini tidak terbiasa dengan budaya tulis dan lebih condong pada budaya bicara, sehingga siswa menjadi malas untuk menghasilkan karya tulis; (2) dari segi ilmu pengetahuan, di kalangan masyarakat masih banyak yang beranggapan bahwa ilmu eksak (matematika, fisika, kimia, dan lain lain) lebih menjanjikan harapan masa depan dibandingkan dengan ilmu-ilmu noneksakta (bahasa, sosial, dan lain-lain), sehingga menulis yang  termasuk dalam  ilmu  noneksakta terkena  implikasinya; (3) dari segi teknis, masih rendahnya pengetahuan tentang kaidah tatabahasa, kurangnya minat membaca siswa, kuangnya penguasaan diksi, belum mampu menyusun kalimat efektif dan mengembangkan paragraf.

            Salah satu faktor kebahasaan yang mempengaruhi kemampuan membuat ringkasan, penguasaan kalimat efektif merupakan hal yang penting untuk dipahami. Hal ini dikarenakan pemakaian kalimat efektif dalam suatu tulisan bersifat akurat, singkat, jelas, tidak menimbulkan salah tafsir, dan sesuai dengan aturan-aturan gramatikal, serta ejaan yang disempurnakan. Sedangkan kalimat yang tidak efektif akan menyebabkan logika kalimat menjadi rancu dan ide penulis menjadi tidak jelas. Siswa yang mempunyai kemampuan penguasaan kalimat efektifnya baik akan mampu membuat kalimat yang singkat, logis, dan sesuai dengan kaidah tata bahasa sehingga tulisannya mudah dipahami dan menarik. Penguasaan kalimat efektif akan sangat mendukung kelancaran, kebaikan, dan keberhasilan siswa dalam menulis ringkasan.

             Faktor nonkebahasaan yang mempengaruhi keterampilan menulis ringkasan antara lain minat menulis, lingkungan siswa, dan persepsi siswa terhadap cara guru mengajar. Berkenaan dengan faktor minat menulis, maka guru dan siswa harus saling bekerjasama agar mampu menumbuhkan minat menulis bagi siswa yang masih memiliki minat menulis yang masih rendah. Sedangkan berkenaaan dengan faktor lingkungan, ada beberapa aspek yang harus mendukung yaitu (1) lingkungan teman, (2) lingkungan keluarga.

        Jika dikaji lebih jauh banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan siswa dalam menulis,antara lain perhatian orang tua.orang tua harus memberikan perhatian kepada anak-anak mereka agar mencapai prestasi yang memuaskan.Peserta didik bukan tanggung jawab guru di sekolah,artinya tidak harus melalui jalur pendidikan formal, namun orang tua sebagai pemilik anak yang sesungguhnya memiliki tanggung jawab  yang sangat besar. Namun kenyataannya orang tua disibukkan berbagai macam pekerjaan sehingga perhatian anakpun terbengkelai. Banyak orang tua yang tidak tau aktivitas anaknya ketika mereka tidak ada dirumah. Karena itulah ,ketika anak tiba-tiba menunjukkan perilaku yang tidak baik atau karakter yang tidak terpuji, orang tua sering menyalahkan sekolah yang tidak berhasil mendidik anaknya,padahal 70% waktu anak adalah di rumah dan di lingkungan masyarakat.

PERUMUSAN   MASALAH  

Berdasarkan uraian  di atas,  maka  peneliti dapat merumuskan   masalah :  Bagaimana  pengaruh penguasaan kalimat efektif  untuk  meningkatkan  kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak  pada siswa di kelas  V SD Negeri Gedangan 02 Semester II tahun pelajaran 2013/2014 kecamatan Grogol, Kab.Sukoharjo ?

TUJUAN   PENELITIAN

        Penulis melaksanakan  Penelitian  ini  bertujuan  agar  siswa  mampu  meningkatkan  keterampilan menulis ringkasan cerita pendek anak  dengan  penguasaan kalimat aktif.

Manfaat Penelitian

        Hasil penelitian ini daiharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut :

a.   Bagi siswa

              Untuk mengetahui  penguasaan kalimat aktif terhadap kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak . Dengan mengetahui kemampuan tersebut, mereka dapat mengukur seberapa baik kemampuan yang dimiliki sehingga diharapkan mereka mampu meningkatkannya apabila dirasa masih kurang mampu.

b.   Bagi guru

      Sebagai bahan acuan dalam upaya meningkatkan kemampuan menulis  ringkasan cerita pendek anak  dengan penguasaan kalimat efektif.

c.   Bagi kepala sekolah

      Sebagai masukan untuk memberikan dorongan kepada guru dalam melakukan kegiatan belajar mengajar agar menerapkan cara mengajar yang menarik.

d.   Bagi peneliti lain

      Sebagai dasar untuk mengadakan penelitian sejenis yang lebih luas dan mendalam pada masa mendatang.

KAJIAN DAN LANDASAN TEORI

1.  Kemampuan Menulis Ringkasan

        Lincoln berpendapat bahwa : menulis merupakan seni dalam berkomunikasi untuk menuangkan gagasan yang ada di dalam pikiran seseorang tanpa terikat oleh jarak, ruang, dan waktu. Bahkan menulis dikatakan sebagai suatu penemuan yang dapat membuat seseorang tahu akan berbagai pengetahuan. Hal ini disebabkan, dengan menulis seseorang dapat menyampaikan pesan (gagasan, perasaan, dan informasi) secara tertulis kepada pihak lain. Sebagai media untuk penyampaian pesan atau berkomunikasi, menulis termasuk media komunikasi tidak langsung, tanpa bertatap muka dengan pihak lawan bicara.

        Widyamartaya (1990 : 9) berpendapat bahwa menulis adalah keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang dalam mengungkapkan gagasan melalui bahasa tulis kepada pembaca seperti yang dimaksud oleh penulis atau pengarang. Senada dengan pendapat tersebut, Henry Guntur Tarigan (1992 : 4) menyatakan bahwa menulis merupakan kegiatan menyusun atau mengorganisasikan buah pikiran, ide atau gagasan dengan mengunakan rangkaian kalimat yang logis dan terpadu dalam bahasa tulis. Karena sifatnya yang tidak langsung dan medianya yang berupa bahasa tulis maka agar komunikasi melalui bahasa tulis tersebut dapat dicapai seperti yang diharapkan penulis, sehingga dengan bahasa tulis seseorang akan dapat menuangkan ide atau gagasan ke dalam bahasa yang tepat dan teratur serta lengkap.(Nurgiyantoro, 2001 : 296). The Liang Gie  (1992 : 9) menyatakan bahwa menulis sepadan dengan mengarang, artinya adalah segenap rangkaian kegiatan seseorang mengungkapkan buah pikirannya melalui bahasa tulis untuk dibaca dan dimengerti oleh orang lain yang bebentuk karangan.  

Adapun penggolongan karangan menurut bentuknya meliputi cerita (narasi), lukisan (deskripsi), paparan (eksposisi), dan bincangan (argumentasi). Penggolongan karangan menurut ragamnya meliputi karangan faktawi yaitu karangan yang bertujuan memberi informasi sesuai dengan fakta senyatanya, karangan khayali adalah karangan yang bertujuan menggugah hati pembaca dan merupakan rekaan dari si penulis.

           Menulis ringkasan merupakan salah satu rumpun keterampilan menulis karangan. Ringkasan sering disebut juga rangkuman. Secara sederhana , ringkasan diartikan  sebagai dari  kegiatan  meringkas.  Setiawan  Djuharie dan Sherli (2001:9) mendefinisikan ringkasan sebagai suatu hasil meringkas suatu uraian atau pembicaraan menjadi uraian yang lebih singkat dengan perbandingan secara proporsional antara bagian yang diringkas dengan ringkasannya. Pada tulisan jenis ringkasan ini, urutan bagian isi bagian demi bagian, dan sudut pandangan (pendapat) asli pengarang tetap diperhatikan dan dipertahankan.

          Hal yang sama diungkapkan oleh Gorys Keraf (2001:261) yang menyatakan ringkasan adalah cara menyajikan suatu tulisan dalam bentuk yang sangat singkat. Karena suatu ringkasan bertolak dari penyajian suatu kaya asli secara singkat,  maka ringkasan merupakan suatu keterampilan untuk mengadakan reproduksi dari hasil-hasil karya yang sudah ada. Walaupun dalam bentuk yang singkat, namun ringkasan tetap mempertahankan pikiran pengarang dan esensi aslinya.

          The Liang Gie (1992 : 26) berpendapat bahwa menulis ringkasan termasuk dalam jenis karangan informatif, selain kisah, laporan, dan ulasan atau resensi. Sebagai karangan yang informatif, dalam menulis ringkasan perlu memperhatikan penggunaan bahasa dan ide pokok pengarang. Penggunaan bahasa yang digunakan dalam menulis ringkasan harus berbeda dengan bahasa asli pengarang dan tidak menyimpang dari ide pokok pengarang, namun disampaikan dalam kalimat-kalimat yang efektif dan tetap memberikan informasi secara utuh dari uraian aslinya.

           Namun demikian, ringkasan hendaknya dibedakan pula dari istilah lain yang pengertiannya tumpang tindih yaitu ikhtisar, yang juga merupakan suatu bentuk penyajian yang singkat dari suatu karanan asli (Gorys Keraf, 2001 : 261). Walaupun dalam kenyataannya kedua istilah itu sering dicampuradukkan, namun secara teknis lebih baik kalau kedua istilah itu dibedakan maknanya.         Perbedaan tersebut dapat dijelaskan bahwa ringkasan merupakan penyajian singkat dari suatu karangan asli tetapi tetap mempertahankan urutan isi dan sudut pandang pengarang asli. Sedangkan perbandingan bagian atau bab yang singkat itu. Sedangkan ikhtisar sebaliknya tidak perlu mempertahankan urutan karangan asli, tidak perlu memberikan isi dari seluruh karangan itu secara proporsional. Penulis ikhtisar dapat langsung mengemukakan inti atau pokok masalah dan problematik pemecahannya. Untuk ilustrasi beberapa bagian atau isi dari beberapa bab dapat diberikan untuk menjelaskan inti atau pokok masalah tadi, sementara bagian atau bab-bab yang kurang penting dapat diabaikan.

         Setiawan Djuharie dan Suherli (2001 : 9) juga menyatakan bahwa sebenarnya antara karangan jenis ringkasan dengan ikhtisar terdapat perbedaan. Ikhtisar merupakan bentuk ringkas dari suatu uraian atau pembicaraan, namun dalam pembuatannnya tidak perlu mempertahankan urutan isi dari suatu karangan secara proporsional. Penulisan ikhtisar bisa langsung tertuju pada pokok permasalahan . Ikhtisar disebut juga intisari dari suatu uraian atau pembicaraan.

           Cara menulis ringkasan pada dasarnya haruslah ringkas dan padat. Di dalam membuat suatu ringkasan penulis bisa langsung mengemukakan isi dari suatu uraian atau pembicaraan itu, tanpa harus menggunakan kalimat penyambung. Dengan demikian jika kita hendak membuat ringkasan dapat dilakukan dengan cara mengambil pikiran utama setiap paragarf dari uraian yang diringkas. Bahkan jika ingin ringkas lagi, kita bisa juga hanya mengambil tema atau topik setiap wacana.

           Gorys Keraf (2001 : 263) berpendapat bahwa sebenarnya tidak perlu dikemukakan seperangkat kaidah bagaimana seseorang dapat membuat ringkasan, tentu telah tahu bagaimana harus membuat sebuah ringkasan yang baik. Tetapi di samping itu dianggap perlu untuk memberikan beberapa patokan sebagai pegangan, terutama bagi mereka yang baru mulai atau yang belum pernah melakukan kegiatan itu. Setelah orang tersebut terbiasa, justru barangkali patokan-patokan itu juga sama sekali tidak diperlukan lagi. Beberapa pegangan yang dipergunakan untuk membuat ringkasan yang baik dan teratur, adalah sebagai berikut: a. Membaca Naskah Asli, Mencatat Gagasan Utama, c.   Reproduksi, dan  Ketentuan Tambahan

           Bertolak dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pada hakikatnya menulis ringkasan adalah suatu keterampilan menulis yang bersifat informative dalam bentuk singkat atau ringkas dari uraian yang dibaca atau pembicaraan yang didengar dengan menggunakan bahasa sendiri, serta menambahkan penjelasan-penjelasan dari setiap inti uraian asli tersebut agar lebih lengkap dan bermanfaat bagi pembaca, tanpa mengaburkan pengertian inti uraian asli yang diungkapkan oleh pengarang.

            Jadi dapat diketahui bahwa kemampuan menulis ringkasan yaitu kemampuan seseorang dalam mengetahui dan memahami isi atau ide pokok sebuah uraian atau karangan yang kemudian ditulis dengan tahapan penulisan secara terperinci dalam  bentuk karangan singkat dengan menggunakan bahasanya sendiri tanpa menyimpang dari uraian aslinya.

           Adapun komponen-komponen yang dapat dijadikan indikator untuk mengukur kemampuan menulis ringkasan mencakup (1) kemampuan awal meringkas, meliputi menangkap kesan umum dan menemukan ide pokok uraian; (2) Kemampuan menulis ringkasan, meliputi penggunaan bahasa sendiri dan kesesuaian dengan ide pokok; (3) Format tulisan ringkasan, meliputi tata tulis, penguasaan diksi, struktur kalimat, dan pembentukan paragraf.

2.   Penguasaan Kalimat Efektif

        Kalimat adalah satuan bahasa yang terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Kalimat merupakan satuan dasar wacana, artinya wacana hanya   akan   terbentuk   jika   ada   dua   kalimat,  atau  lebih,  yang  letaknya  berurutan  dan  berdasarkan kaidah kewacanaan. Sehingga komunikiasi antara penulis dengan pembaca dapat  berlangsung dinamis.        Untuk mendapat tulisan yang baik dan informasi yang disampaikan sesuai dengan apa yang dimaksudkan penulis, maka diperlukan penggunaan kalimat yang efektif. Abdul Rozak (1990: 8) berpendapat bahwa kalimat efktif  adalah kalimat yang mmpu membuat isi atau maksud yang disampaikan itu tergambar lengkapdalam pikiran penerima (pembaca) persisi seperti apa yang disampaikan.

        Sementara itu, menurut Zainal Arifin (2000: 84) kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi kriteria jelas, sesuai dengan kaidah, ringkas dan enak dibaca. Sebuah kalimat yang efektif mempersoalkan bagaimana kalimat tersebut dapat mewakili secara tepat isi pikiran atau perasaan pengarang, bagaimana kalimat tersebut dapat mewakili secara segar, dan sanggup menarik perhatian pembaca atau pendengar terhadap apa yang dibicarakan. Kalimat yang efektif memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca dengan apa yang dipikirkn pembicara atau penulis.

        Eksistensi kalimat efektif tidak hanya penting bagi penulis karangan, akan tetapi juga bagi pembacanya. Pada satu sisi, penulis menggunakannya sebagai alat  untuk menyampaikan gagasannya kepada pembaca. Pada sisi lain, pembaca menggunakannya sebagai alat untuk memahami gagasan penulis. Dengan kalimat efektif, terjadinya kesalahpahaman antara penulis dan pembaca dapat dihindari. Oleh karena itu, sebagai wadah gagasan penulis, kalimat efektif memang tidak boleh dipisahkan dari proses menulis karangan karena dibutuhkan oleh kedua belah pihak sebagai alat komunikasi yang paling efektif

        Berdasarkan kenyataan itu dapat dipahami bahwa posisi penulis dan pembaca berbeda. Penulis menempati posisi pertama, sebagai pemrakarsa proses komunikasi, sehingga menentukan keberhasilan komunikasi. Penulis wajib menggunakan kalimat efektif sebagai alat untuk menyampaikan gagasan dalam komunikasi, sehingga pembaca diharapkan tidak mengalamikesulitan dalam mengikuti alur berpikir penulis.

        Sementara itu, pembaca berada pada posisi kedua. Sebagai pihak yang akan memahami gagasan penulis, pembaca lazim mengandalkan kalimat efektif  dalam tulisan yang dibacanya. Jika gagasan disajikan dalam kalimat efektif, maka pembaca akan dengan mudah dapat memahami nya. Sebaliknya, gagasan penulis akan sulit dipahami bila disajikan dalam kalimat yang ambigu, rancu atau sumbang. Berdasarkan uaraian itu, dapat dinyatakan bahwa faktor pertama yang dapat memicu terjadinya ketidakkomukatifan komunikasi melalui tulisan atau karangan adalah ketidakjelasan kalimat yang digunakan penulisnya.  

        Agar kalimat yang disusun penulis dapat diterima dengan baik oleh lawan bicara, ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu:

a. Penggunanaan  bahasa Indonesia yang baik dan benar        

        Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar pada dasarnya tidak terlepas dari konteks pemakaian bahasa yang beragam . Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan situasi pemakainya, sedang bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan kaidah yang berlaku. Dengan demikian, yang dimaksud dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa Indonesia yang penggunaannya sesuai dengan situasi pemakaianya dan sesuai dengan kaidah yang berlaku.

b. Penggunaan bahasa baku

         Penggunaan  bahasa yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian  besar masyarakat pemakainya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya. Bahasa baku mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:(1) kemantapan dinamis, ragam bahasa baku memiliki kemantapan dinamis berupa kaidah dan aturan yang tetap; (2) cendekia, ragam  bahasa baku bersifat cendikia karena ragam bahasa baku dipakai pada tempat-tempat resmi;  dan (3) seragam, ragam baku bersifat seragam artinya proses pembakuan adalah proses penyeragam.

        Gorys Keraf (2001: 36) berpendapat bahwa kalimat efektif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a.  Kesatuan Gagasan

        Setiap kalimat yang baik harus jelas memperlihatkan kesatuan gagasan, maksudnya mengandung satu ide pokok.Dalam laju kalimat tidak boleh diadakan perubahan dari satu kesatuan gagasan kepada kesatuan gagasan yang lain yang tidak mempunyai hubungan sama sekali. Bila dua kesatuan yang tidak mempunyai hubungan disatukan, maka akan rusak kesatuan pikiran itu. Namun, kesatuan gagasan janganlah pula diartikan bahwa hanya terdapat suatu ide tunggal. Bisa terjadi bahwa kesatuan gagasan itu terbentuk dari dua gagasan pokok atau lebih.

b. Koherensi yang baik dan kompak

        Kohernsi atau kepaduan yang baik dan kompak merupakan hubungan tumbal balik antara unsur-uinsur (kata atau kelompok kata) yang membentuk kalimat itu. Bagaiman hibungan antara subyak dan predikat, hubungan antara predikat dan obyek, serta keterangan-keterangan lain yang menjelaskan tiap-tiap unsur pokok tadi.

c.  Penekanan

           Gagasan utama yang terkandung dalam tiap kalimat haruslah dibedakan sebuah kata yang dipentingkan. Kata yang dipentingkan harus mendapat tekanan atau harus lebih ditonjolkan dari unsur-unsur yang lain. Penekanan pada suatu kat yang penting biasanya lebih mudah digunakan pada penggunaan bahasa lisan.

d.  Variasi

           Variasi merupakan upaya menganekaragamkan bentuk-bentuk bahasa agar tetap terpelihara minat dan perhatian orang. Hal tersebut dilakukan karena pemakaian bentuk yang sama secara berlebihan akakn menghambarkan selera pembaca. Variasi dalam kalimat dapat diperoleh dengan beberapa macam cara, antara lain variasi sinonim kata, variasi panjang peneknya kaliat, variasi penggunaan bentuk me- dan di-, dan variasi dengan mengubah posisi dalam kalimat.

  1. Paralelisme

           Paralelisme menempatkan gagasan-gagsan yang sama penting dan sama fungsinya ke dalam suatu struktur gramatikal. Paralelisme atau kesejajaran bentuk membantu memberi kejelasan dalam unsur gramatikal dengan mempertahankan bagian-bagian yang sederajat dalam gramatikal yang sama.

e.Penalaran atau logika

                Struktur gramatikal yang baik bukan merupakan tujuan dalam komunikasi, tetapi sekedar merupakan auatu alat untuk merangkaikan sebuah pikiran atau maksud dengan sejelas-jelasnya. Hal yang dimaksud adalah jalan pikiran atau juga disebut penalara atau logika. Jalan pikiran adalah suatu proses berpikir yang berusaha untuk menghubung-hubungkan evidensi-evidensi menuju kepada suatu kesimpulan yang masuk akal. Jadi kalimat-kalimat yang digunakan harus bisa dipertanggungjawabkan dari segi akal yang sehat atau harus sesuai dengan penalaran.

        Agar kalimat yang ditulis dapat memberi informasi kepada pembaca secara tepat seperti yang diharapkan oleh penulis, Sabarti Akhadiah,dkk (1996: 103-106) berpendapat bahwa ciri-ciri kalimat efektif adalah:

a. Kesepadanan dan Kesatuan

        Kalimat mempunyai struktur yang baik, artinya sebuah kalimat paling sedikit harus mempunyai subjek dan predikat, atau bisa ditambah dengan obyek dan keterangan, sehingga melahirkan keterpaduan arti yang merupakan ciri keutuhan kalimat.

b. Kesejajaran (paralelisme)

        Kesejajaran (paralelisme) dalam kalimat meksudnya ialah penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang sama atau konstruktif bahasa yang sama dipakai dalam susunan serial. Kesejajaran (paralelisme) akan membantu memberi kejelasan kalimat secara keseluruhan .

c. Penekanan dalam kalimat

        Inti pikiran dalam sebuah kalimat biasanya ingin ditekankan atau ditonjolkan oleh penulis atau pembicara. Cara untuk memberikan penekanan pada kalimat, antara lain:1). posisi dalam kalimat, 2). urutan yang logis, 3).  pengulangan kata,4).  Kehematan, 5).  kevariasian

        Atar Semi (1990: 143) mengemukakan ciri-ciri kalimat efektif sebagai berikut: a. Sesuai dengan Tuntutan Bahasa Baku;Artinya kalimat itu ditulis dengan memperhatikan cara pemakaian ejaan yang tepat., menggunakan kata/ istilah yang baku atau sudah umum digunakan sesuai dengan kaidah tata bahasa. b. Jelas; Kalimat itu mudah ditangkap maksudnya.Maksud yang diterima pembaca sama dengan maksud penulis.c. Ringkas atau Lugas;Kalimat itu tidak berbelit-belit. Dengan menggunakan kata-kata yang sedikit dapat mengungkapkan banyak gagasan. d. Koherensi; Adanya hubungan yang baik (koherensi) antara satu kalimat dengan kalimat yang lain, antara satu paragraf dengan paragraf yang lain. Artinya kalimat yang digunakan memperhatikan suatu kesatuan dengan yang lain.e. Kalimat Harus Hidup;Kalimat yang digunakan adalah kalimat yang bervariasi. Variasi tersebut tentang pilihan kata, urutan kata dalam kalimat, bentuk kalimat, gaya bahasa, perumpamaan dan perbandingan, dan panjang pendek kalimat. f. Tidak Ada Unsur yang Tidak Berfungsi;        Setiap kata yang digunakan ada fungsinya, setiap kalimat yang digunakan dalam paragraf mempunyai fungsi tertentu.        

        Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa keefektifan isi sebuah kalimat dipengaruhi oleh unsur tanda baca, kata, frase, klausa, dan bentuk kalimat. Oleh karena unsur-unsur itu saling melengkapi, ketepatan dan kelengkapan segenap unsur  dalam tulisan atau karangan perlu diperhatikan. Berkenaan dengan itu, perlu dipikirkan bahwa jangankan semua unsur, ketidaktepatan penggunaan salah satu unsur itu sudah dapat mengganggu efektifitas komunikasi. Oleh sebab itu, penulislah yang harus bersikap kritis sebelum tulisan atau karangan dipublikasikan dan dibaca orang lain.

        Bertolak dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang secara tepat dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis dan sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis.

        Pada hakikatnya penguasaan diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan atau memanfaatkan sesuatu hal. Sehingga penguasaan kalimat efektif adalah kemampuan seseorang dalam menyusun kalimat berbentuk ringkas dengan urutan yang logis, dan ditulis sesuai kaidah tata bahasa baku dengan memperhatikan koherensi dan bervariasi, sehingga maksud yang ingin diungkapkan oleh penulis sampai kepada pembaca dengan tepat.

        Adapun aspek-aspek yang digunakan sebagai indikator untuk mengukur penguasaan kalimat efektif mencakup : (1) ejaan dan kata baku, yaitu kemampuan menggunakan ejaan dan kata baku yang sesuai dengan kaidah tata bahasa; (2) kelogisan , yaitu kemampuan menyusun kalimat yang logis dan mudah dipahami;

(3) ringkas dan hemat, yaitu kemampuan menyusun kalimat yang tidak berbelit-belit; (4) kohesi dan koherensi, yaitu kemampuan menyusn kalimat yang mempunyai struktur yang sepadan dan padu; (5) variasi bahasa, yaitu kemampuan menggunakan pilihan kata yang bervariasi.

Kerangka Berpikir

Berdasarkan kajian beberapa teori yang telah dipaparkan di atas, dapat disusun kerangka berpikir penelitian ini sebagai berikut:

        Salah satu faktor kebahasaan yang berkaitan dengan kemampuan menulis ringkasan adalah seberapa besar penguasaan siswa terhadap kalimat efektif. Dalam hal ini, penguasaan kalimat efektif mempunyai kaitan yang besar dalam menentukan tinggi rendahnya kemampuan siswa dalam menulis ringkasan. Melalui penguasaan kalimat efektif, siswa akan mampu menyusun kalimat-kalimat secara efektif memperhatikan kelogisan kalimat sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku dalam menuli, apalagi menulis ringkasan. Menulis ringkasan hanya menulis hal-hal yang pokok yang ada dalam uraian yang ada sehingga maksud pengarang dapat sampai kepada pembacanya dengan tepat, maka sangat diperlukan keefektifan kalimat.

        Dengan demikian, siswa memiliki tingkat penguasaan kalimat efektifnya tinggi diduga kemampuan menulis ringkasannya juga tinggi. Sebaliknya, siswa yang penguasaan kalimat efektifnya rendah diduga kemampuan menulis ringkasannya rendah pula.  

        Berdasarkan uraian di atas diketahui dengan jelas bahwa  penguasaan kalimat efektif merupakan faktor penting terhadap tingkat kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak. Siswa membaca pemahaman yang tinggi dan memliki tingkat penguasaan kalimat efektif yang tinggi diduga memiliki kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak yang tinggi pula.

        Untuk memperjelas alur berfikir yang telah dipaparkan di atas, berikut ini disajikan bagan kerangka berpikir yang menunjukkan hubungan antar variabel.

                               

                

        

                                        

Gambar . Alur Berpikir Hubungan Antar variabel

Hipotesis Tindakan

        Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: Penguasaan kalimat efektif dapat meningkatkan kemampuaan menulis ringkasan cerita pendek anak pada siswa kelas V semester II di SD Negeri Gedangan 01,kecamatan Grogol,Kabupaten Sukoharjo Tahun Pelajaran 2013/2014 .

METODE PENELITIAN

Setting Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada semester II Tahun Pelajaran 2013/2014 selama 3 bulan, yaitu pada bulan Januari  2013  sampai bulan Maret 2013. Pemilihan waktu ini menyesuaikan dengan jadwal materi pelajaran Bahasa Indonesia dengan konsep menulis ringkasan cerita pendek anak  pada kelas V SD.Penelitian dilaksanakan di SDN Gedangan 01, yang beralamat di  Desa Gedangan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo.Alasan pemilihan tempat penelitian ini adalah karena peneliti sebagai guru kelas V  di sekolah tersebut.  

Subjek dan Objek Penelitian

Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah seluruh siswa kelas V SDN Gedanga 01 semester II Tahun Pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 25 siswa, terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 9 siswa perempuan. Objek penelitian tindakan kelas ini adalah ketrampilan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif .

Sumber Data

Sumber data penelitian ini meliputi hasil  tes tertulis pada mata pelajaran Bahasa Indonesia pada kondisi awal, siklus I,  dan siklus II. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif berupa angka yaitu nilai hasil tes pembelajaran konsep ketrampilan menulis ringkasan ringkasan cerita pendek anak, sedangkan data kualitatif berupa informasi tentang keefektifan pembelajaran di dalam kelas ketika guru melaksanakan pembelajaran dengan penguasaan kalimat efektif untuk meningkatkan ketrampilan menulis ringkasan cerita pendek anak pada siswa kelas V  Semester II SD Negeri Gedangan 01 Tahun Pelajaran 2013/2014

Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Data penguasaan kalimat efektif  untuk meningkatkan kemampuan  menulis ringkasan cerita pendek anak  pada siswa SD Negeri Gedangan 01  pada kondisi awal sebelum pelaksanaan PTK dikumpulkan dengan teknik  dokumentasi. Instrumen yang digunakan adalah buku daftar nilai siswa kelas V. Data penguasaan kalimat efektif untuk meningkatkan kemampuan  menulis ringkasan cerita pendek anak  pada siklus I diperoleh melalui tes praktek. Data penguasaan kalimat efektif untuk meningkatkan kemampuan  menulis ringkasan cerita pendek anak  pada siklus II diperoleh melalui tes praktek.

Validasi Data

Validasi data penguasaan kalimat efektif untuk meningkatkan kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak, baik kondisi awal, siklus I, dan siklus II  diperoleh dengan teknik observasi. Supaya data tersebut valid, peneliti membandingkan hasil observasinya dengan hasil observasi teman sejawat. Validasi data penguasaan kalimat efektif  untuk meningkatkan kemampuan menulis ringkasan  cerita pendek anak, baik kondisi awal, siklus I, dan siklus II  diperoleh dengan teknik tes. Supaya data yang diperoleh valid perlu dilakukan validasi isi.         

Analisis Data

Analisis data yang dilakukan dalam penelitian penguasaan kalimat efektif untuk meningkatkan kemampuan  menulis ringkasan cerita pendek anak  pada siswa Kelas V SD Negeri Gedangan 01  nilai tes tertulis kondisi awal, siklus I,  dan siklus II  dihitung rata-ratanya, dengan bobot yang sama. Penguasaan kalimat efektif untuk meningkatkan kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak  pada siswa kelas V SD Negeri Gedangan 01  pada siklus II, dianalisis dengan menggunakan teknik deskriptif, komparatif dan dilanjutkan dengan reflektif.

Indikator Kinerja

Indikator kinerja pada penelitian tindakan kelas ini adalah:1. Nilai penguasaan kalimat efektif  untuk meningkatkan  kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak   pada siswa kelas V SD Negeri Gedangan 01 menunjukkan peningkatan dari kondisi awal ke siklus I dan dari siklus I ke siklus II. 2. Nilai rata-rata penguasaan kalimat efektif  untuk meningkatkan  kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak  pada siswa kelas V A SD Negeri Gedangan 01  mencapai nilai Kriteri Ketuntasan Minimal yang ditetapkan (KKM), yaitu 70. 3. Minimal 70 % siswa kelas V, nilai penguasaan kalimat efektif untuk meningkatkan kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak  pada siswa kelas V A  SD Negeri Gedangan 01  mencapai KKM.

ProsedurTindakan

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus, dan tiap siklus terdiri dari 2 (dua) pertemuan.1 (satu) pertemuan untuk pelaksanaan tindakan sekaligus pengambilan nilai  tes tertulis. Model penelitian tindakan kelas ini menggunakan model Kemmis dan Taggart, yang terdiri dari 4 (empat) komponen, yaitu 1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) observasi, dan 4) refleksi.

HASIL TINDAKAN PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Kondisi Awal

Masalah yang dialami oleh siswa kelas V SDN Gedangan 01 semester II Tahun Pelajaran 2013/2014 dalam pelajaran bahasa indonesia adalah rendahnya penguasaan kalimat efektif untuk meningkatkan kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak pemahaman materi pelajaran. Hal tersebut terlihat dari nilai siswa yang rendah pada nilai tes tertulis maupun nilai praktik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table dan grafik berikut.

Tabel  Kemampuan menulis ringkasan Siswa pada Kondisi Awal

Uraian

Nilai Praktek

Nilai tertinggi

Nilai terendah

Nilai rata-rata

KKM

7,4

4,9

6,1

6,5

Ketuntasan

7 siswa (29.2%)

Gambar 4.1. Grafik  Penguasaan kalimat efektif untuk meningkatkan ketrampilan menulis ringkasan, Siswa pada Kondisi Awal

Dari data di atas, pada kondisi awal ini nilai rata-rata siswa hanya 61, jauh di bawah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan dalam pembelajaran bahasa indonesia di SDN Gedangan 01, yaitu 70. Hanya 7 siswa  atau 29.2% dari total 24 siswa kelas IV-A yang mencapai nilai KKM, masih ada 17 siswa yang nilainya di bawah KKM.

Pada pembelajaran bahasa indonesia  selama  ini masih menggunakan metode pembelajaran yang monoton, yaitu ceramah dan instruksi langsung. Dengan metode ini membuat siswa kurang aktif, hanya guru yang aktif menyampaikan materi. Dan berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman selama ini, siswa kurang aktif dalam kegiatan belajar-mengajar. Anak cenderung tidak tertarik atau jenuh dengan pelajaran bahasa indonesia khususnya pada konsep menulis ringkasan sehingga menyebabkan rendahnya motivasi belajar siswa di sekolah apalagi di rumah orang tua kurang perhatian terhadap anaknya khususnya dalam hal belajar.

Untuk mengatasi masalah tersebut, peneliti sekaligus sebagai guru kelas akan melaksanakan suatu penelitian tindakan kelas dengan penguasaan kalimat efektif untuk meningkatkan kemampuan menulis ringkasan cerita pendek . Diharapkan melalui penelitian tindakan kelas ini dapat meningkatkan penguasaan kalimat efektif untuk meningkatkan kemampuan  konsep menulis ringkasan cerita pendek anak  pada siswa kelas V SDN Gedangan 01,Kec.Grogol,Kab.Sukoharjo.

Deskripsi Hasil Siklus I

Hasil pengamatan pada siklus I pertemuan pertama dilaksanakan, banyak siswa terlihat belum aktif dan canggung karena siswa belum terbiasa menggunakan kalimat efektif dalam pembelajaran, serta beberapa siswa yang kurang fokus dalam pembelajaran. Setelah guru memberi motivasi, siswa mengikuti pelajaran dengan baik. Meskipun demikian, penguasaan kalimat efektif terhadap siswa dalam menerima penjelasan guru masih cukup tinggi. Siswa saling membantu dan bekerjasama dengan temannya, yang diam dan pasif terus berupaya untuk bisa. Demikian upaya guru dalam memotivasi para siswa. Ternyata upaya ini cukup berhasil, siswa berusaha untuk aktif dalam mengikuti praktik menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif .

Dan hasil tes praktik maupun tes tertulis penguasaan kalimat  aktif untuk meningkatkan ketrampilan menulis ringkasan cerita pendek anak pada  siswa kelas V adalah sebagai berikut:

Tabel 4.2 Peningkatan ketrampilan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif  pada Siklus I

Uraian

Nilai Praktek

Nilai tertinggi

Nilai terendah

Nilai rata-rata

KKM

78

56

64

65

Ketuntasan

13 siswa (54.2%)

Gambar 4.1. Grafik Kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak Siswa pada Siklus I

Melalui penerapan praktik kemampuan menulis ringkasan ringkasan cerita pendek anak  dengan penguasaan kalimat efektif  pada siklus I, nilai rata-rata kemampuan siswa adalah 54, nilai tertinggi 78 dan nilai terendah adalah 54. Sedangkan jumlah siswa yang mencapai nilai KKM sejumlah 13 siswa (54.2%) dari total 24 siswa kelas V SDN Gedangan 01 semester II Tahun Pelajaran 2013/2014.

Refleksi hasil implementasi penerapan pada siklus I adalah sebagai berikut,

Uraian

Kondisi Awal

Siklus I

Tindakan

Belum menerapkan praktik menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif.

Sudah menerapkan praktik menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif.

Nilai terendah

Nilai tertinggi

Nilai rata-rata

Ketuntasan

49

79

61

7 siswa (29.2%)

54

80

64

13 siswa (54.2%)

Dari tabel di atas diperoleh fakta pengaruh penguasaan untuk menulis ringkasan cerita pendek anak , siswa pada kondisi awal sebelum pelaksanaan tindakan, nilai rata-ratanya adalah 61 (jauh di bawah nilai KKM), nilai tertinggi 79, nilai terendah 49 dan hanya 7 siswa (29.2%) yang mencapai nilai KKM.

Pada siklus I, melalui penerapan praktik kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat aktif , siswa menunjukkan peningkatan. Nilai rata-rata siswa menjadi 64 (masih di bawah nilai KKM), nilai tertinggi 80, nilai terendah 56 dan siswa yang mencapai ketuntasan KKM sejumlah 13 siswa (54.2%).

Meskipun terjadi peningkatan pada siklus I ini, namun peningkatannya belum mencapai indikator keberhasilan dalam penelitan ini. Maka peneliti dan guru kolaborator memutuskan untuk melanjutkan tindakan penelitian ke siklus II dengan tetap menerapkan praktik kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif  , dengan perbaikan pada kelemahan dan kekurangan yang terjadi pada siklus I.

Deskripsi Hasil Siklus II

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh guru kolaborator, pada siklus II ini siswa menunjukkan peningkatan dibandingkan siklus I. Pada kegiatan pembelajaran siklus II, secara umum siswa dapat  menulis ringkasan cerita pendek anak dengan baik dengan penguasaan kalimat efektif . Siswa juga tampak semakin  percaya diri, hal ini karena siswa telah melaksanakan diskusi dengan teman tim sebelumnya. Bila dibandingkan dengan penampilan kegiatan pembelajaran pada siklus I, interaksi siswa lebih baik. Kemampuan siswa pada siklus II dapat dilihat sebagai berikut,

  Tabel   Kemampuan Menulis ringkasan cerita pendek anakSiswa pada Siklus II

Uraian

Nilai Praktek

Nilai tertinggi

Nilai terendah

Nilai rata-rata

KKM

81

60

67

65

Ketuntasan

21` siswa (87.5%)

Gambar 4.1. Grafik kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak , Siswa pada Siklus II

Nilai rata-rata ketrampilan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif  pada siswa kelas V SDN Gedangan 01 pada siklus II adalah 65 (di atas nilai KKM), nilai tertinggi 81, nilai terendah 60 dan siswa yang berhasil mencapai nilai KKM sebanyak 21 siswa (87.5%), berarti hanya 2 siswa yang nilainya di bawah KKM.

Peningkatan kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat aktif  pada siswa kelas V SDN Gedangan 01 pada siklus II jika dibandingkan siklus I adalah sebagai berikut,

Uraian

Siklus I

Siklus II

Tindakan

Sudah menerapkan praktik kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif .

Sudah menerapkan praktik kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif .

Nilai terendah

Nilai tertinggi

Nilai rata-rata

Ketuntasan

56

80

64

13 siswa (54.2%)

        60

81

67

21 siswa (87.5%)

Dari tabel di atas, secara empiris diperoleh fakta bahwa kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif  pada siswa setelah pelaksanaan tindakan siklus II melalui penerapan praktik kemampuan  menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif   menunjukkan peningkatan daripada siklus I. Pada siklus I, nilai rata-rata kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif pada  siswa kelas V adalah 56 (di bawah KKM), nilai tertinggi 80, nilai terendah 56 dan siswa yang mencapai ketuntasan KKM sejumlah 13 siswa (54.2%).

Pada siklus II kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan  pada  siswa kelas V menunjukkan peningkatan, menjadi nilai rata-rata 67 (di atas nilai KKM), nilai tertinggi 80, nilai terendah 60 dan  siswa yang mencapai nilai KKM menjadi 21 siswa (87.5%), berarti hanya 2 siswa yang nilainya di bawah KKM.Peningkatan kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif  pada  siswa kelas V SDN Gedangan 01 semester II Tahun Pelajaran 2013/2014 pada siklus II sudah mencapai indikator keberhasilan dalam penelitan tindakan kelas ini. Akan tetapi peneliti dan guru kolaborator memutuskan untuk  tidak melanjutkan  tindakan penelitian ke siklus III untuk melihat kevalidan efektivitas praktik unjuk kerja dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif.

Jadi melalui penerapan praktik kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif dapat meningkatkan kemampuan  menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif    pada siswa kelas V SDN Gedangan 01 semester II Tahun Pelajaran 2013/2014.

Pembahasan        

Tujuan pelaksanaan penelitian tindakan kelas dalam ini adalah meningkatkan kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif  pada siswa kelas V SDN Gedangan 01 semester II Tahun Pelajaran 2013/2014 melalui penerapan praktik kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif  . Data kemampuan siswa adalah sebagai berikut,

Tabel 4.5 Peningkatan Kemampuan  menulis ringkasan cerita pendek anak Siswa

Uraian

Kondisi Awal

Siklus I

Siklus II

Nilai terendah

Nilai tertinggi

Nilai rata-rata

Ketuntasan

50

80

65

7 siswa (29.2%)

50

80

71

13 siswa (54.2%)

60

80

77

21 siswa (87.5%)

Pada kondisi awal sebelum pelaksanaan tindakan, kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif  pada siswa nilai rata-ratanya adalah 64 (jauh di bawah nilai KKM), nilai tertinggi 81, nilai terendah 64 dan hanya 7 siswa (29.2%) yang mencapai nilai KKM.

Pada siklus I, melalui penerapan praktik kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif   pada siswa menunjukkan peningkatan. Nilai rata-rata siswa menjadi 64 (masih di bawah nilai KKM), nilai tertinggi 80, nilai terendah 50 dan siswa yang mencapai ketuntasan KKM sejumlah 13 siswa (54.2%).

Pada siklus II ketrampilan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif pada siswa kelas V menunjukkan peningkatan, menjadi nilai rata-rata 67 (di atas nilai KKM), nilai tertinggi 81, nilai terendah 67 dan  siswa yang mencapai nilai KKM menjadi 21 siswa (87.5%), berarti hanya 2 siswa yang nilainya di bawah KKM.

Jadi melalui penerapan praktik kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif   dapat meningkat dari kondisi awal nilai rata-rata siswa 62 dengan siswa yang mencapai ketuntasan KKM sejumlah 7 siswa (29.2%) ke kondisi akhir nilai rata-rata 67 dengan siswa yang mencapai ketuntasan KKM sejumlah 20 siswa (100%) pada siswa kelas V SDN Gedangan 01 semester II Tahun Pelajaran 2013/2014.

Hasil Tindakan

Penelitian tindakan kelas dalam pembelajaran Bahasa Indonesia melalui penerapan praktik kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif pada siswa di kelas V SDN Gedangan 01 ini dilakukan dalam 2 (dua) siklus. Pada setiap siklus, data yang diambil adalah nilai praktek dan nilai tes tertulis pada akhir siklus. Secara empiris diperoleh hasil tindakan sebagai berikut:  melalui penerapan praktik dengan penguasaan kalimat efektif dapat meningkatkan kemampuuan menulis ringkasan cerita pendek anak pada siswa kelas V dari kondisi awal nilai rata-rata siswa 62 dengan siswa yang mencapai ketuntasan KKM sejumlah 7 siswa (29.2%) ke kondisi akhir nilai rata-rata 67 dengan siswa yang mencapai ketuntasan KKM sejumlah 20 siswa (100%) pada siswa kelas V SDN Gedanga 01 semester II Tahun Pelajaran 2013/2014.  

PENUTUP

Kesimpulan

Setelah dilaksanakan penelitian tindakan kelas melalui penerapan kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif  pada siswa kelas V  SD Negeri Gedangan 01 Semester II tahun pelajaran 2013-2014 Kec.Grogol,Kab.Sukoharjo   dalam 2 (dua) siklus, diperoleh hasil sebagai berikut:

Hipotesis menyatakan: diduga melalui penerapan praktik kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif pada siswa kelas V  SD Negeri Gedangan 01 Semester II tahun pelajaran 2013-2014 Kec.Grogol,Kab.Sukoharjo dapat meningkatkan kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif pada siswa kelas V  SD Negeri  Gedangan 01 Semester II tahun pelajaran 2013/2014 Kec.Grogol,Kab.Sukoharjo.

Data empiris menyatakan bahwa melalui penerapan praktik kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak dengan penguasaan kalimat efektif pada siswa kelas V  SD Negeri Gedangan 01 Semester II tahun pelajaran 2013/2014 Kec.Grogol,Kab.Sukoharjo  dari kondisi awal nilai rata-rata siswa 64 dengan siswa yang mencapai ketuntasan KKM sejumlah 7 siswa (29.2%) ke kondisi akhir nilai rata-rata 67 dengan siswa yang mencapai ketuntasan KKM sejumlah 24 siswa (100%) pada siswa kelas V SDN Gedangan 01 semester II Tahun Pelajaran 2013/2014.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa, melalui penerapan praktik  kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak  dengan penguasaan kalimat efektif pada siswa kelas V  SD Negeri Gedangan 01 Semester II Kec.Grogol,Kab.Sukoharjo dapat meningkatkan kemampuan menulis ringkasan cerita pendek anak  pada siswa kelas V  SD Negeri Gedangan 01 Semester II Kec.Grogol,Kab.Sukoharjo    pada siswa kelas V SDN Gedangan 01  semester II Tahun Pelajaran 2013/2014.

Saran

Berdasarkan penelitian ini, ada beberapa saran yang perlu dipertimbangkan, yaitu:

  1. Bagi Guru
  1. Guru penjas dalam melaksanakan pembelajaran hendaknya mendorong siswa untuk senantiasa bersemangat dan bermotivasi tinggi.
  2. Dalam proses pembelajaran, guru harus mempersiapkan sarana dan memilih instruktur siswa yang benar-benar kompeten.
  1. Bagi siswa
  1. Dengan pembelajaran dengan penguasaan kalimat efektif, hendaknya siswa dapat memanfaatkannya dengan baik sehingga kemampuan siswa dalam menulis ringkasan cerita pendek anak  dapat meningkat.

b. Dengan penguasaan kalimat efektif hendaknya siswa lebih aktif dalam      pembelajaran.

  1. Untuk Sekolah

         Sekolah hendaknya mendorong guru untuk mengembangkan kreasinya dalam pembelajaran dengan penguasaan kalimat efektif, karena inti sekolah sebagai penjamin mutu pendidikan di tingkat yang paling dasar sangat mendesak dan perlu mendapat perhatian serius.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta

M. Barrow, P.E.D. 1971. Physical Education. Philadelphia hal. 310.

Moleong, Lexy J. 2007.  Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Rosdakarya

Suharsimi Arikunto. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rhineka Karya.