1 Teknik Menulis Berita

Oleh M.Adib Minanurrachm

2

MENULIS berita jurnalistik dalam media cetak, seperti koran, majalah, buletin, news letter, dll. tidaklah sama dengan menulis tulisan biasa. Karena dalam dunia jurnalistik terdapat teknik, kriteria dan standart penulisan tertentu yang harus dikuasai setiap jurnalis serta membutuhkan latihan yang serius dan terus­menerus.

Dalam ​news report ​(laporan berita), sebelum jurnalis melaporkan sebuah peristiwa sebagai sebuah berita, terlebih dahulu harus mempertimbangkan beberapa hal, seperti faktualitas dan aktualitasnya serta harus pula memahami teknik penulisan yang tepat dalam penyajiannya.

Bagi jurnalis pemula, acapkali menganggap menulis berita itu rumit dan tak semudah yang dibayangkan. Anggapan itu boleh jadi benar, tapi tidak bagi yang mau mempelajarinya secara sungguh­sungguh teknik dan cara menulis berita yang baik dan benar.

Untuk bisa menjadi seorang jurnalis (wartawan) yang baik dan handal, maka harus mengetahui dan memahami seluk­beluk berita dan jurnalisme: seperti pengertian berita dan jurnalistik, kriteria kelayakan berita, jenis dan macam­macam penulisan berita, struktur berita dan teknik penulisannya serta lainnya.

Apa Berita Jurnalistik Itu? JURNALISTIK adalah segala hal yang menyangkut proses perencanaan, peliputan, produksi, dan pelaporan sebuah fakta menjadi berita (Masduki, ​Lk​iS, 2001).

Dalam media elektronik pengertian berita adalah peristiwa yang dikomunikasikan kepada pendengar pada saat yang bersamaan dengan peristiwanya. Sementara dalam media cetak berita (​news​) adalah peristiwa yang diulangi.

Mengenai definisi berita, sebenarnya kita tak kesulitan menemukannya. Hampir setiap literatur jurnalistik mengutipnya. Tapi sebagai perbandingan, berikut definisi dari dua ahli jurnalistik tentang ​news (berita): 1) Paul D. Maessenner​, dalam bukunya ​Here’s The News, ​berita ​adalah sebuah informasi yang ​baru

tentang suatu peristiwa yang ​penting dan menarik​ perhatian serta minat pembaca. 2) Prof. Mitchel V. Charnley​, dalam bukunya ​Reporting, ​berita ​adalah laporan tentang ​fakta atau ​opini

yang ​menarik​ perhatian dan ​penting​, yang dibutuhkan sekelompok masyarakat.

Dari dua pengertian itu, penulis simpulkan bahwa berita ada yang bersifat laporan dan non laporan. Yang pertama bisa diperjelas dengan pengertian: laporan tentang suatu peristiwa yang dimulai dari sebuah liputan di lapangan dan hasilnya bisa diuji tingkat faktualitasnya dan mempunyai nilai ​baru​, ​menarik ​dan ​penting​. Sementara yang kedua adalah sebuah berita yang tidak disajikan melalui liputan di lapangan terlebih dahulu. Ini biasa disebut opini.

Lebih jelas mengenai bentuk dan jenis berita yang ada dalam media massa adalah sebagai berikut: 1. Opini

Opini dalam media massa ada dua. ​Pertama​, opini dari media itu sendiri. biasanya ini kita kenal dengan istilah tajuk, baik berupa tulisan atau karikatur. ​Kedua​, opini dari publik (pembaca), baik berupa surat untuk redaksi atau tulisan opini lepas. 2. Fakta

Fakta di sini adalah menyangkut seluruh laporan hasil reportase wartawan, baik berbentuk tulisan seperti laporan hasil ivestigasi ataupun berbentuk berita foto. 3. Iklan

1 Disampaikan pada Pelatihan Jurnalistik yang diadakan oleh Majalah Engle Fakultas Dakwah Institut Agama Islam

Nurul Jadid, Jum'at 26 Januari 2007. 2 Adalah lelaki mantan Pemimpin Umum dan Editor pada Majalah ALFIKR IAI. Nurul Jadid periode 2006 s/d 2007.

1 Sumber: www.tatasumitra.com


Syarat Berita UNTUK dapat disebut berita, setidaknya dalam peliputan berita, seorang wartawan haruslah mempersiapkan perangkap­perangkap peliputan. Perangkap berita jurnalistik itu dikenal dengan rumusan 5W dan 1H. 1. What : Apa yang terjadi? 2. Who : Siapa yang tersangkut? 3. When : Kapan pertistiwa itu? 4. Where : Dimana peristiwa itu? 5. Why : Mengapa peristiwa itu terjadi? 6. How : Bagaimana kejadiannya? Dampak atau akibatnya?

Kriteria Kelayakan Berita

SETELAH perangkap itu dikuasai oleh seorang jurnalis, selanjutnya harus memperhatikan syarat­syarat kelayakan berita.

Setiap jurnalis bisa saja mempunyai anggapan bahwa setiap peristiwa adalah layak diangkat sebagai berita. Tapi di depan pembaca, tak semua berita dianggap penting dan layak dibaca. Karena itu, seorang jurnalis harus mempunyai kepekaan yang tinggi untuk menilai layak­tidaknya sebuah peristiwa dijadikan berita.

Dalam dunia jurnalistik, secara umum terdapat kriteria yang biasa digunakan untuk mengukur dan menilai sebuah peristiwa layak dijadikan berita, yaitu; 1. Aktualitas (​timelines​)

Satu peristiwa kecil yang baru (aktual) akan lebih menarik minat pembaca daripada berita besar tapi basi. Ini sesuai dengan sifat manusia yang selalu ingin tahu dan mencoba hal yang baru. 2. Kedekatan (​proximity​)

Kedekatan emosi dan fisik akan membuat sebuah berita menarik perhatian pembaca. Berita kecil di lokasi yang terdekat dengan pembaca, lebih berarti dari berita besar yang lokasinya sangat jauh dengan mereka. 3. Tokoh Publik (​prominence​)

Peristiwa di seputar tokoh idola, panutan dan pemimpin masyarakat selalu menarik untuk dibaca. Berita datangnya seorang KH. Abdurrahman Wahid ke IAI­NJ misalnya, akan lebih menarik dari berita datangnya seorang Bupati Hasan Aminuddin, meski waktunya bersamaan. 4. Konflik (​conflict​)

Kontroversi antar tokoh, polemik, kebijakan publik, perang dan bentrokan antar warga misalnya, pasti menarik diberitakan. 5. Kemanusiaan (​human interest​)

Berita yang menyentuh rasa kemanusiaan seperti kelaparan dan kurang gizi, sangat bernilai untuk semua orang. Selain bisa menggugah empati juga membangun sikap simpatik pembaca. 6. Sensasional/aneh (​unique​)

Keanehan, keganjilan dan hal­hal yang spektakuler dalam kehidupan manusia, selain menghibur juga memberikan penyadaran terhadap dinamika kehidupan kepada pembaca. 7. Besaran Kasus (​magnitude​)

Jumlah korban jiwa atau kerugian yang besar dalam sebuah peristiwa selalu menjadi perhatian masyarakat, tak kecuali jika berhubungan dengan masalah ekonomi. Misalnya kerugian yang ditanggung negara akibat praktik KKN. 8. Kecenderungan ​(trend)​.

Suatu hal yang menjadi kecenderungan yang meluas di masyarakat, akan selalu menarik dijadikan berita. Misalnya, sekarang ini ada kecenderungan orang pergi ke mal untuk mencari hiburan, bukan untuk belanja.

Penilaian layak­tidaknya suatu peristiwa menjadi berita dilakukan pada saat perencanaan liputan berdasarkan data awal yang tersedia. Tak jarang keputusan diambil saat reporter sudah berada di lapangan, setelah mereka mengamati peristiwa yang sedang berlangsung. Proses ini disebut dengan ​news adjusment​.

2 Sumber: www.tatasumitra.com


Beberapa Macam Berita: DARI segi sifatnya, kita kenal dua macam: ​hard news ​dan ​soft news​.

Hard news/straight news​: berita yang lugas, singkat, langsung ke pokok persoalan. Biasanya harus memenuhi unsur 5 W + 1 H secara ketat dan harus cepat­cepat dimuat. Karena terlambat sedikit, bisa basi.

Istilah ​hard news ​lebih mengacu ke isi beritanya, sementara ​straight news ​lebih mengacu ke cara penulisannya (struktur penulisan). Ini juga dikenal dengan istilah ​spot news​: berita yang serentak (sedikit), tampak, konkrit dan aktual.

Soft news​: berita yang dari segi struktur penulisan relatif lebih luwes. Umumnya tak ketat dalam soal waktunya. Misalnya tulisan yang menggambarkan kesulitan rakyat kecil akibat krisis ekonomi. Selama krisis ekonomi masih berlanjut, berita itu masih bisa diturunkan, kapan saja. Atau tulisan tentang artis Dian Sastrowardoyo yang punya hobi baru mengkoleksi pot bunga antik.

Biasanya, ​Soft news lebih banyak mengangkat aspek kemanusiaan (​human interest​). Ada beberapa macam yang masuk kategori ini, yaitu:

☒ Investigative news : jenis tulisan yang ditekankan pada pembongkaran kasus kejahatan ☒ Analysis news : Jenis tulisan yang memiliki daya nalisa yang mendalam dan tajam. ☒ Feature ​(roman): tulisan tentang lika­liku kehidupan manusia dan bisa menggugah kemanusian.

Biasanya, ini ditulis dengan gaya bertutur.

Teknik Menulis Berita ADA banyak cara menulis berita yang baik. Biasanya cara­cara itu disesuaikan dengan jenis berita yang ditulis. Misalnya, untuk jenis berita ​spot news ​menggunakan teknik ​piramida terbalik. ​Sedangkan untuk jenis berita ​feature ​dan atau ​analysis news​ biasanya menggunakan model ​kubus/segi empat​.

Model dibawah ini adalah piramida terbalik:

Pokok berita ​Lead

Kronologi

Konfirmasi

Kualitas Berita ☒ Akurat/detail, ​sesuai dengan faktanya. Misalnya nama pelaku, alamat, usia, jabatan, peristiwa yang

dilakukan atau peristiwa­pristiwa yang terjadi. ☒ Objektif/berimbang/​balance​, menyangkut pemberitaan yang tidak berat sebelah. Sehingga berita yang

dimuat tidak menyesatkan pembaca, dan merugikan salah satu pihak.

Selain itu, yang perlu diperhatikan dalam penulisan berita adalah skill penguasaan bahasa, termasuk skill bahasa asing. Ini menyangkut data­data berita yang seringkali terdiri dari bahasa asing. Hal yang lebih penting lagi adalah bagaimana membuat tulisan memiliki logika yang kuat.

3 Sumber: www.tatasumitra.com


Penutup SAHABAT, menulis sebenarnya bukan merupakan pekerjaan sulit. Salah satu mentor penulis bernama Budi Setyono dari Pantau Jakarta, dalam pelatihan Jurnalisme Sastrwai yang penulis ikuti di Hotel Rembangan Jember, Jawa Timur, pernah mengatakan kepada penulis, bahwa menulis itu ibarat orang naik sepeda. Artinya, agar kita bisa menjadi penulis hebat, kita tak boleh hanya sekedar mengandalkan teori. Tapi kita harus terus­menerus melesatarikan parktek.

Sementara itu, ketika hendak memulai sebuah tulisan, acapkali kita dibayang­bayangi rasa khawatir yang berlebihan mengenai kualitas tulisan kita. Agar bisa menjadi penulis hebat, kekhawatiran ini harus kita hilangkan terlebih dahulu. Kita harus yakin terlebih dahulu pada diri kita bahwa kita bisa menulis. Selanjutnya, setelah tulisan kita rampung, baru kita membuka diri terhadap kritik yang datang dari sobat­sobat kita dan atau orang lain yang lebih paham soal tulisan. Karena itu, ​yakinkan dirimu pada tulisanmu sebelum orang lain yakin akan tulisanmu. ​OK?

4 Sumber: www.tatasumitra.com