Published using Google Docs
Giman.docx
Updated automatically every 5 minutes

PENGGUNAAN STRATEGI JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR BERBICARA BAHASA INDONESIA MATERI MEMAHAMI TEKS DENGAN MEMBACA TEKS PERCAKAPAN KELAS III SEMESTER I SD NEGERI GENENGSARI 03

TAHUN PELAJARAN 2014/2015

Oleh : Giman,

SD Negeri Genengsari 03, Polokarto,Sukoharjo

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk  meningkatkan Prestasi berbicara oleh siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan strategi Jigsaw; dengan menggunakan strategi (metode)  eksprimen di SD Negeri Genengsari 03, Polokarto, Sukoharjo Semester I tahun pelajaran 2014/2015.Pendekatan  yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau disebut juga Classroom Action Research (CAR), karena kelas merupakan bagian kecil dan bagian penting dalam sistem pembelajaran di sekolah.Subyek penelitian adalah seluruh siswa Kelas III SD Negeri Genengsari 03, Polokarto,Sukoharjo, Semester I Tahun Pelajaran 2014/2015. Hasil penelitian pada pra siklus penguasaan materi sebelum perbaikan  pembelajaran bahwa dari jumlah 23 siswa nilai rata-rata kondisi awal 68,48. Siklus I 73, 70 dan siklus II 80,43. Tingkat ketuntasan pada kondisi awal 60,87%. Siklus I 78,26, dan siklus II 100%.

Kata kunci : strategi jigsaw, Bahasa Indonesia

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Dalam  Undang-undang Dasar 45 tentang sistem pendidikan Nasional pada pasal 4 menegaskan bahwa pendidiakan Nasional bertujuan mencerdaskan  kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa  kepada  Tuhan Yang Mahaesa dan berbudi pekerti luhur, serta memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatann jasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Selain hal tersebut, dalam PP no. 28 tahun 1990 pasal 3 disebutkan “pendidikan dasar bertujuan untukl memmebrikan bekal kemampuan dasar pada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, warga negara dan umat manusia serta mempersiapkann peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah”.

Guru sebagai salah satu komponen penting sekolah harus memiliki kemampuan profesional yang memadai agar mampu mencapai tujuan pendidikan Nasional. Guru tidak mungkin berarti apa-apa tanpa kehadiran peserta didik (siswa), karena objek utama pengembangan adalah siswa, terutama sekali kemampuan profesional, keluasan  dan kedalaman wawasan yang digunakan sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Guru harus kaya dengan inovasi kreatif dalam memilih strategi (metode) pembelajaran yang digunakan. Laporan perbaikan salah satu hal yang membantu dalam usaha meningkatkan kemampuan guru melakukan penelitian tindakan kelas.

Berangakat dari komponen-komponen yang dijabarkan di atas,  maka salah satu yang menjadi persoalan dalam penelitian  tindakan kelas ini adalah mata pelajaran bahasa Indonesia dan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Bahasa Indonesia   merupakan mata pelajaran  yang sangat penting di dalam mempersiapkan murid untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dari pembelajaran kedua mata pelajaran tersebut menunjukkan tingkat penguasaan siswa yang sangat rendah. Hal tersebut terbukti dari nilai siswa setelah beberapa kali diadakan ulangan (evaluasi).

Terhadap kenyataan tersebut di atas, tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja (terus menerus). Dalam hal ini, guru sebagai tenaga pengajar harus bertanggung jawab di dalam mengartarkan peserta didik agar mampu menguasai materi pelajaran serta keterampilan yang mendukung materi pelajaran tersebut. Salah satu di antara  metode peningkatan tersebut, tentunya harus dikembalikan kepada tugas seorang guru yaitu melalui penelitian tindakan kelas.Memperbaiki pembelajaran terutama pembelajaran Bahasa Indonesia  di SD Negeri Genengsari 03 merupakan tujuan utama dari penelitian tindakan kelas ini.

Berdasarkan uraian dan temuan peneliti (guru) mata pelajaran Bahasa Indonesia  seperti yang disebutkan di atas, dapat dipetakan permasalahan-permasalahan yang dihadapi guru adalah sebagai berikut :

  1. Siswa SD Negeri Genengsari 03 kurang bergairah dalam pembelajaran/ kurang memperhatikan guru yang sedang menerangkan;
  2. Penanda utama kekuranggairahan siswa tersebut dalam pembelajaran Bahasa Indonesia  adalah rendahnya partisipasi dan inisiatif siswa selama proses pembelajaran berlangsung;
  3. Kurangnya keberanian mengemukakan pendapat (mengancungkan tangan) termasuk tidak berani tampil di depan kelas;
  4. Guru  belum maksimal menggunakan media dan strategi pembelajaran yang bervariasi; dan
  5. Guru membutuhkan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan kegairahan siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia  sehingga dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa.

Jika dicermati secara seksama, akar permasalahan di atas adalah kurangnya kemampuan menguasai materi bahasa Indonesia termasuk kurangnya keberanian siswa untuk tampil di muka kelas. Karena itu, masalah utama yang perlu segera dicarikan pemecahannya adalah bagaimana meningkatkan Prestasi berbicara oleh siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia  agar terjadi interaksi positif dalam pembelajaran, yang sekaligus dapat meningkatkan hasil belajar siswa baik menggunakan strategi (diskusi) JIGSAW  dan metode eksprimen.

Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian masalah pada bagian pendahuluan di atas, dapat dirumuskan masalah utama yang akan dikaji melalui penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut. “Bagaimana meningkatkan Prestasi berbicara oleh siswa Kelas III Semester I SD Negeri Genengsari 03 pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan strategi JIGSAW”?

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk  meningkatkan Prestasi berbicara oleh siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan strategi JIGSAW; dengan menggunakan strategi (metode)  eksprimen.

Manfaat Hasil Penelitian

Hasil yang diharapkan dari penelitian tindakan kelas yang diadakan adalah sebagai berikut :

  1. Bagi   Siswa :
  1. Meningkatkan kemampuan dan pemahaman siswa dalam menggunakan  strategi Diskusi;
  2. Meningkatkan keberanian untuk tampil di muka kelas;
  3. Meningkatkan kreativitas berpikir dan bernalar siswa;
  4. Meningkatkan gairah siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia ;
  5. Menghilangkan kejenuhan siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
  1. Bagi guru :
  1. Tersusunnya prosedur pembelajaran Bahasa Indonesia  yang benar-benar dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman siswa serta meningkatkan keberaniannya tampil di depan kelas;
  2. Tersusunnya topik-topik. pembelajaran Bahasa Indonesia   yang benar-benar relevan dengan kebutuhan dan minat siswa, yang menarik, yang memberikan wawasan dan pengetahuan baru, serta yang menantang kreativitas berpikir siswa.

KAJIAN PUSTAKA

  1. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Pengetian  pembelajaran secara umum adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikan rupa sehingga tingkah laku siswa menjadi kearah yang lebih baik. Metode pembelajaran kooperatif tipe jigasaw adalah pembelajaran dimana siswa belajar dalam kelompok dan bertanggung jawab atas penguasaan materi belajar yang ditugaskan kepadanya lalu mengajarkan bagian tersebut kepada anggota kelompok lain.Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, kemudian diadaptasikan oleh Slavin dan temen-teman di Universitas John Hopkins (Arends, 2001).

Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson et.al.sebagai model Cooperative Learning. Teknik ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis,berbicara, ataupun mendengarkan. Dalam Teknik ini, guru memperhatikan skemataatau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan schemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan ketrampilan berkomunikasi.

Pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends, 1997 dalamhttp://matamatika-ipa.com ). Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupaka tipe model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kapada kelompok yang lain (Arends, 1997).

Jigsaw di desain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, “siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan” (Lie,A., 1994).

Pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal, yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam.Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli, yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.

Model jigsaw ini mengambil model pembelajaran zigzag yaitu siswa melakukan kegiatan belajar dengan cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama (Rusman, 2011: 217 ). Selanjutnya dijelaskan bahwa:Model jigsaw adalah satu model cooperative learning, yang teknik pelaksanaannya dimulai dari pembentukan kelompok yang disusun oleh pengajar, agar pelajar tidak memilih-milih teman yang disenanginya saja, jadi sifatnya heterogen.Setiap anggota kelompok diberi tugas untuk mempelajari materi tertentu.kemudian kepada perwakilan kelompok bertemu dengan perwakilan kelompok lainnya, mereka belajar materi bersama. Selanjutnya, pelajar akan kembali ke dalam kelompok asalnya (Alma, 2009:84).

  1. Penerapan Model Jigsaw

Adapun langkah-langkah dalam penerapan model jigsaw (Komalasari, 2011: 65), yaitu:  

  1. Siswa dikelompokkan ke dalam 4 anggota tim. Apabila jumlah siswa dalam satu kelas adalah 20 orang, berarti satu kelompok terdiri dari 5 siswa. Kelompok yang terbentuk disebut kelompok asal.
  2. Tiap orang dalam tim diberi materi yang berbeda, materi tersebut menjadi fokus untuk tiap-tiap orang.
  3. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan.
  4. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian subbab yang sama bertemu dalam kelompok baru untuk mendiskusikan subbab mereka, kelompok ini disebut kelompok ahli.
  5. Setelah selesai berdiskusi dalam kelompok ahli, tiap anggota kembali kepada kelompok asalnya dan secara bergantian mengajarkan atau menjelaskan subbab yang mereka kuasai.
  6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi.
  7. Guru  memberikan evaluasi.
  8. Penutup.
  1. Teknik Diskusi Jigsaw

        Teknik diskusi adalah teknik mengajar yang dilakukan oleh seorang guru di sekolah. Di dalam diskusi ini proses interaksi antara  dua orang atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah, dapat terjadi juga semuanya aktif tidak ada yang pasif sebagai pendengar saja.  Berangkat dari beberapa hal di atas, dengan teknik diskuai siswa didorong menggunakan pengetahuan dan pengalamannya untuk memecahkan masalah, tanpa selalu bergantung pada pendapat orang lain. Mungkin ada perbedaan segi pandangan, sehingga memberi jawaban yang berbeda. Hal tersebut tidak menjadi soal, asal pandangan tersebut logis dan mendekati kebenaran. Jadi, siswa dilatih berpikir dan memecahkan masalah sendiri.      Siswa mampu menyatakan pendapatnya secara lisan, karena hal itu perlu melatih kehidupan yang demokratis. Dengan demikian, siswa melatih sendiri secara  lisan tentang suatu masalah bersama. Diskusi pada siswa untuk belajar berpartisipasi dalam pembicaraan untuk memecahkan suatu masalah.

  1. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar

Ruang lingkup mata pelajaran bahasa indonesia mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut : Mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis

  1. Hakekat Pembelajaran Bahasa Indonesia
  1. Pengertian Belajar

Secara tradisional belajar dapat diartikan sebagai upaya untuk menambah dan mengumpulkan sejumlah ilmu pengetahuan. Sedangkan secara modern belajar adalah suatu proses kegiatan yang membawa perubahan tingkah laku pada  individu dalam pengetahuan keterampilan dan sikap dengan aktifitas siswa sendiri. Perubahan tersebut  mencakup perubahan Kognitif (Pengetahuan), Afektif (Sikap) dan Psikomotorik (Keterampilan).Menurut Watson adalah proses relasi antara stimulus dan respon (SR), Fontasna (1981:118), mengartikan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan yang relative tetap dalam perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman.

Gagne (1985 : 118) menyatakan bahwa belajar adalah alat perubahan  dalam kemampuan yang bertahan lama dan bukan berasal dari proses pertumbuhan. Perubahan kemampuan yang dimaksud adalah :

  1. Kemampuan keterampilan intelektual mencakup sejumlah pengetahuan  mulai dari membaca, menulis, berhitung sampai pada pemikiran yang bersifat rumit.
  2. Kemampuan strategi kognitif, mengatur cara belajar dan berfikir  seseorang dalam arti seluas-luasnya termasuk kemampuan  memecahkan masalah.
  3. Informasi verbal menjelaskan pengetahuan  dalam arti informasi dan fakta, Keterampilan yang diperoleh disekolah antara lain keterampilan menulis, mengetik, menggunakan jangka, dan lain sebagainya.
  4. Sikap nilai, berhubungan dengan arah intensitas emosional yang dimiliki  seseorang atau kecenderungan bertingkah laku terhadap orang, barang atau kejadian.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku sebagai akibat pengalaman dan latihan yang menyangkut  aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

  1. Pengertian Pembelajaran

Proses pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari proses dan hasil belajar. pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru (Pengajar) dan siswa (Pembelajar).Syamsu, dkk (1992:2) mengemukakan bahwa “….pembelajaran adalah suatu rangkaian aktifitas (Kegiatan individu siswa dalam wujud interaksi dinamis untuk mencapai perubahan perilaku pribadinya…..”Menurut Gagne, Briggs dan Wager (1992 : 119) menyatakan pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa.Pembelajaran adalah upaya mengorganisir lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik.

Dari pengertian–pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah setiap upaya yang sistematis dan sengaja yang dilakukan oleh pendidik untuk menciptakan kondisi agar peserta didik dapat melakukan belajar. Secara universal, Bahasa adalah suatu bentuk ungkapan yang bentuk dasarnya ujaran. Bahasa merupakaan alat bantu komunikasi antara anggota masyarakat berupa lambang bunyi ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bahasa yang digunakan sebagai alat komunkasi antara anggota masyarakat  terbagi atas  2 unsur utama yakni bentuk dan makna (isi).

Pembelajaran bahasa indonesia di sekolah dasar dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar secara lisan maupun tulis.Untuk mewujudkan tujuan tersebut, diperlukan keterampilan guru dalam menentukan dan memilih metode yang tepat yang sesuai dengan karakterisitik serta kebutuhan perkembangan peserta didik.Pengajaran bahasa indonesia yang dilaksanakan dengan baik dapat memberikan banyak manfaat pendidikan yang luar biasa. Beberapa manfaat tersebut antara lain:

  1. Manfaat akademis

Pengajaran bahasa indonesia yang baik dpat menjadikan siswa mahir berbahasa Indonesia. Karena, bahasa indonesia merupakan bahasa pengantar semua mata pelajaran. Siswa yang mahir berbahasa indonesia akan lebih mudah dan lebih cepat dalam belajar.

  1. Manfaat Sosial

Pengajaran bahasa Indonesia yang baik dapat menjadikan siswanya gemar membaca. Sehingga mereka dapat menemukan kesenangan atau rekreasi dari bacaan tersebut.

Mengingat pentingnya serta banyak manfaat yang diambil dari pembelajaran bahasa indonesia, maka perlu dikembangkan pengajaran bahasa Indonesia yang salah satunya pemilihan metode serta alat peraga yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan bahasa indonesia khususnya kelas rendah (Kelas I). Mengingat kelas I merupakan awal mula pendidikan formal yang akan menentukan keberhasilan pendidikan pada tingkatan selanjutnya.

METODE PENELITIAN

Setting Penelitian        

Tempat pelaksanaan penelitian di SD Negeri Genengsari 03 Kec. Polokarto. Sukoharjo.Alasan pemilihan setting penelitian didasari pertimbangan karena peneliti bertugas mengajar di sekolah tersebut sehingga sangat membantu dalam melaksanakan penelitian.

Subyek Penelitian

 Subjek penelitian adalah siswa kelas III semester I, Jumlah siswa kelas III ada 23 siswa terdiri dari 12 laki – laki dan 11 perempuan.  Dari 23 siswa peserta didik  pada awal pembelajaran  hanya 14 siswa 52 % yang telah mencapai KKM 65. Sedangkan 9 siswa yang lain 48% belum mencapai nilai 65. Sebagian siswanya dari masyarakat sekitar sekolah yang memiliki tingkat ekonomi menengah sampai ke bawah. Kesadaran akan pendidikan anak kurang.

Teknik Pengumpulan Dan Analisis Data

Adapun data – data yang dikumpulkan diperoleh dari ; 1) Hasil Data Kualitatif.        Dalam kegiatan pengumpulan data secara kualitatif, pengamat menggunakan lembar observasi guru. Pengamat memberikan tanda cek (√) pada kolom kemunculan sesuai indikator tersebut.Pengamatan yang dilakukan oleh pengamat (observer) adalah tentang keefektifan metode jigsaw dalam meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya tentang materi pokok Memahami teks dengan membaca teks percakapan, membaca cepat, dan membaca cerita atau puisi. 2) Hasil Data Kuantitatif, dData kuantitatif diperoleh dari hasil nilai tes formatif. Dari hasil tersebut dapat untuk mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran. Dari hasil nilai tes formatif tersebut dapat diketahui tingkat keberhasilan penggunaan metode jigsaw dalam meningkatkan motivasi siswa.

Prosedur Penelitian

Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research), yaitu sebuah penelitian yang merupakan kerjasama antara peneliti dan guru,  dalam meningkatkan  kemampuan  guru agar  menjadi  lebih baik dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran . Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat peningkatan yang terjadi dari siklus ke siklus.  Dengan metode ini peneliti berupaya menjelaskan data yang peneliti kumpulkan melalui komunikasi langsung atau wawancara,   observasi/pengamatan,  dan  diskusi yang berupa persentase atau angka-angka. Penelitian ini merupakan proses pengkajian sistem berdaur sebagaimana kerangka berpikir yang dikembangkan oleh Suharsimi Arikunto dkk. Prosedur ini mencakup tahap-tahap: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Keempat kegiatan tersebut saling terkait dan secara urut membentuk sebuah siklus.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 

  1. Hasil Penelitian
  1. Deskripsi Kondisi Awal

Kondisi awal tindakan merupakan hasil pengamatan terhadap kondisi pembelajaran Bahasa Indonesia   pada siswa di kelas III Semester 1  SD Negeri Genengsari 03 Kec. Polokarto   Tahun Pelajaran 2014/2015 . Data refleksi diperoleh dari hasil tes ulangan harian. Hasil tes ulangan harian diperoleh dari 23 orang siswa di kelas III Semester 1  SD Negeri Genengsari 03  Kec. Polokarto   Tahun Pelajaran 2014/2015 . Hasil tes menunjukkan bahwa nilai terendah yang diperoleh siswa adalah 50 dan nilai tertinggi adalah sebesar 85. Nilai rata-rata kelas adalah sebesar 68,48. Standar Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetapkan untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia   pada tahun pelajaran 2014/2015  adalah 70. Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka siswa kelas III Semester 1  SD Negeri Genengsari 03  Kec. Polokarto   Tahun Pelajaran 2014/2015  secara klasikal belum mencapai ketuntasan belajar Bahasa Indonesia   pada konsep  “Berbicara ”.

Ditinjau dari ketuntasan belajar berdasarkan KKM sebesar 75, jumlah siswa kelas II Semester 1  SD Negeri Genengsari 03  Kec. Polokarto   Tahun Pelajaran 2014/2015  yang sudah mencapai batas tuntas minimal yang dipersyaratkan baru mencapai 14 orang siswa atau 60,87%. Sisanya sebanyak 9 orang siswa atau 39,13% belum mencapai batas tuntas minimal sebesar 70. Data perolehan nilai hasil ulangan harian berdasarkan ketuntasan belajar dapat disajikan pada tabel di bawah ini.

Tabel 3

Ketuntasan Belajar Siswa Kelas Kondisi Awal

No.

Ketuntasan

Jumlah

%

1.

Tuntas

14

60,87%

2.

Tidak Tuntas

9

39,13%

Jumlah

23

100.00%

Nilai Rata-rata

68,48

Nilai Terendah

55

Nilai Tertinggi

85

Sumber: Arsip SD Negeri Genengsari 03  Kec. Polokarto  , Sukoharjo

Data tingkat ketuntasan belajar siswa pada kondisi awal tindakan dapat digambarkan ke dalam diagram batang sebagai berikut.

Gambar 3 Diagram Data Tingkat Ketuntasan Belajar Kondisi Awal

  1. Deskripsi Tindakan Pembelajaran Siklus I

Berdasarkan hasil tes yang dilaksanakan pada akhir tindakan pembelajaran Siklus I, dapat diketahui bahwa nilai terendah yang diperoleh siswa adalah sebesar 70, sedangkan nilai tertinggi adalah 90. Nilai rata-rata kelas yang diperoleh adalah sebesar 78,26. Berdasarkan nilai KKM yang ditetapkan, yaitu sebesar 70, maka siswa kelas III Semester 1  SD Negeri Genengsari 03  Kec. Polokarto   Tahun Pelajaran 2014/2015  secara klasikal sudah dianggap mencapai ketuntasan belajar. Ditinjau dari ketuntasan belajar, jumlah siswa yang sudah mencapai batas dengan nilai KKM sebesar 70 adalah sebanyak 18 siswa atau 78,26%. Jumlah siswa yang masih belum mencapai batas tuntas sebanyak 5 siswa atau 21,74%.

Data ketuntasan belajar siswa pada tindakan Siklus I dapat disajikan ke dalam tabel berikut:

Tabel 5

Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I

No.

Ketuntasan

Jumlah

%

1.

Tuntas

18

78,26%

2.

Tidak Tuntas

5

21,74%

Jumlah

23

100.00%

Nilai Rata-rata

73,70

Nilai Terendah

70.0

Nilai Tertinggi

90.0

Sumber: Arsip SD Negeri Genengsari 03  Kec. Polokarto  , Sukoharjo

Data tingkat ketuntasan belajar siswa pada tindakan pembelajaran Siklus I dapat digambarkan ke dalam diagram sebagai berikut.

Gambar 4. Diagram Data Tingkat Ketuntasan Siklus I

Berdasarkan hasil perolehan tes awal dan tes tindakan pembelajaran Siklus I dapat diketahui bahwa nilai rata-rata siswa mengalami peningkatan dibandingkan pada kondisi awal. Peningkatan tersebut adalah dari 68,48 pada kondisi awal menjadi 73,70 pada akhir tindakan pembelajaran Siklus I. Berdasarkan hasil evaluasi tindakan pembelajaran pada Siklus I dapat diperoleh refleksi implementasi metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw sebagai berikut.

  1. Penggunaan metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw  dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas III Semester 1  SD Negeri Genengsari 03  Kec. Polokarto  , Sukoharjo tahun pelajaran 2014/2015 . Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar dan tingkat ketuntasan belajar siswa sebagai dampak produk pembelajaran.
  2. Nilai rata-rata hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari 68,48 pada kondisi awal menjadi 73,70 pada akhir tindakan pembelajaran Siklus I.
  3. Ditinjau dari ketuntasan belajar, tingkat ketuntasan belajar siswa pada akhir tindakan pembelajaran Siklus I mengalami peningkatan dibandingkan kondisi awal. Tingkat ketuntasan belajar siswa pada kondisi awal adalah sebesar 69,87%. Pada akhir tindakan pembelajaran Siklus I tingkat ketuntasan belajar siswa meningkat menjadi sebesar 78,26%.  
  4. Hal-hal yang masih belum berhasil dalam pembelajaran tindakan Siklus I adalah sebagai berikut: (a) Nilai rata-rata kelas yang diperoleh siswa hanya sedikit di atas KKM yang ditentukan sebesar 70 sehingga belum optimal; (b) Tingkat ketuntasan belajar siswa, masih berada di bawah tingkat ketuntasan kelas yang ditentukan sebesar 80%. Atas dasar hal tersebut maka diperlukan adanya beberapa perbaikan yang dilakukan pada tindakan Siklus II.
  1. Tindakan Pembelajaran Siklus II

Hasil tes akhir pembelajaran tindakan Siklus II menunjukkan adanya peningkatan dalam hal hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil tes yang dilaksanakan pada akhir tindakan pembelajaran Siklus II, dapat diketahui bahwa nilai terendah yang diperoleh siswa adalah sebesar 75 sedangkan nilai tertinggi adalah sebesar 100. Nilai rata-rata kelas yang diperoleh adalah sebesar 80,43. Berdasarkan hasil tersebut diketahui bahwa nilai rata-rata kelas > nilai KKM yang ditetapkan sebesar 70, dengan demikian maka secara klasikal siswa kelas III Semester 1  SD Negeri Genengsari 03  Kec. Polokarto   Tahun Pelajaran 2014/2015  dapat dikatakan sudah  mencapai ketuntasan belajar.

Ditinjau dari tingkat ketuntasan belajar, jumlah siswa yang sudah mencapai batas tuntas minimal adalah sebanyak 23 siswa atau 100%. Siswa yang masih belum mencapai batas tuntas sebanyak 0 orang siswa atau 0%. Atas dasar hal tersebut maka ketuntasan belajar siswa sudah terlampaui. Data tingkat ketuntasan belajar siswa pada akhir tindakan pembelajaran Siklus II dapat disajikan pada tabel berikut.

Tabel 6

Ketuntasan Belajar Siswa Siklus II

No.

Ketuntasan

Jumlah

%

1.

Tuntas

23

100%

2.

Tidak Tuntas

0

0%

Jumlah

23

100.00%

Nilai Rata-rata

80,43

Nilai Terendah

75.0

Nilai Tertinggi

100.0

Sumber: Arsip SD Negeri Genengsari 03  Kec. Polokarto  , Sukoharjo

Data tingkat ketuntasan belajar siswa pada tindakan pembelajaran Siklus II dapat digambarkan ke dalam diagram berikut.

Gambar 5. Diagram Data Tingkat Ketuntasan Belajar Siklus II

Berdasarkan hasil perolehan tes akhir tindakan pembelajaran Siklus I dan tes tindakan pembelajaran Siklus II dapat diketahui bahwa nilai rata-rata siswa mengalami peningkatan, yaitu dari 73,70 pada akhir tindakan pembelajaran Siklus I menjadi 80,43 pada akhir tindakan pembelajaran Siklus II.

Berdasarkan hasil evaluasi tindakan pembelajaran pada Siklus II dapat diperoleh refleksi implementasi pembelajaran kooperatif model Jigsaw (GI) sebagai berikut.

  1. Implementasi pembelajaran kooperatif model Jigsaw tindakan Siklus II berhasil meningkatkan dampak produk pembelajaran berupa peningkatan penguasaan kompetensi dasar siswa dalam pembelajaran. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata kelas yang diperoleh siswa dari 73,70 pada tindakan Siklus I naik menjadi 80,43 pada akhir tindakan pembelajaran Siklus II.

Ditinjau dari tingkat ketuntasan belajar siswa, tindakan pembelajaran pada Siklus II juga dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa. Ketuntasan belajar siswa pada tindakan Siklus I adalah sebesar 7578,26%. Pada akhir tindakan Siklus II, tingkat ketuntasan belajar siswa meningkat menjadi sebesar 100%.

  1. Hal-hal yang masih belum berhasil dalam pembelajaran tindakan Siklus II adalah tidak adanya siswa atau 0% yang belum mencapai ketuntasan belajar. Untuk itu siswa tersebut akan diberikan perlakuan khusus berupa pembelajaran pengayaan untuk semua siswa.  
  1. Pembahasan  Hasil Tindakan

Hipotesis tindakan yang menyatakan bahwa “penggunaan metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw  dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas III Semester 1  SD Negeri Genengsari 03  Kec. Polokarto   Tahun Pelajaran 2014/2015  dalam pembelajaran Bahasa Indonesia   materi  “Berbicara ” terbukti kebenarannya. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya prestasi belajar siswa pada setiap siklus tindakan yang dilakukan.

Prestasi belajar siswa pada kondisi awal masih cukup rendah. Hal ini ditunjukkan dengan nilai terendah yang diperoleh siswa sebesar 50, nilai tertinggi sebesar 85, dan nilai rata-rata sebesar 68,48. Nilai rata-rata kelas yang baru mencapai 68,48 tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan KKM yang ditetapkan sebesar 70.Prestasi belajar siswa mengalami peningkatan setelah dilakukan tindakan pembelajaran pada Siklus I. Hal ini ditunjukkan dengan nilai terendah yang diperoleh siswa sebesar 70, nilai tertinggi sebesar 90, dan nilai rata-rata sebesar 73,70. Nilai rata-rata kelas yang diperoleh siswa pada akhir tindakan Siklus I sedikit lebih tinggi dari KKM yang ditetapkan sebesar 70, yaitu 73,70 > 75. Namun ketuntasan belum mencapai minimal 80 %.

Berdasarkan perolehan hasil yang belum optimal pada tindakan Siklus I, guru melakukan perbaikan pembelajaran. Perbaikan yang dilakukan adalah dengan memperbanyak jumlah kelompok dan memperkecil jumlah anggota masing-masing kelompok. Dengan semakin kecilnya jumlah anggota kelompok, maka diharapkan siswa akan lebih aktif dalam kerja kelompok.  Adanya perbaikan yang dilakukan guru pada tindakan pembelajaran Siklus II mampu meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan nilai terendah yang diperoleh siswa sebesar 75, nilai tertinggi sebesar 100, dan nilai rata-rata sebesar 80,43. Atas dasar hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran yang digunakan oleh guru dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Peningkatan prestasi belajar siswa dari kondisi awal hingga akhir tindakan pembelajaran Siklus II selanjutnya dapat disajikan ke dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 7

Prestasi Belajar Siswa dari Kondisi Awal hingga Akhir Tindakan Siklus II

Nilai

Awal

Siklus I

Siklus II

Nilai rata-rata

68.48

73.70

80.43

Nilai Terendah

50.00

70.00

75.00

Nilai Tertinggi

85.00

90.00

100.00

 

Data peningkatan prestasi belajar siswa dari kondisi awal hingga akhir tindakan Siklus II pada tabel di atas dapat disajikan ke dalam diagram sebagai berikut:

Gambar 6 Diagram Peningkatan Prestasi Belajar Siswa

Ditinjau dari ketuntasan belajar, tingkat ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan pada setiap siklus tindakan yang dilakukan. Tingkat ketuntasan belajar siswa pada kondisi awal sebelum dilakukannya tindakan pembelajaran adalah sebesar 60,87%. Tingkat ketuntasan belajar siswa pada akhir tindakan pembelajaran Siklus I mengalami peningkatan menjadi 78,26%. Tingkat ketuntasan belajar siswa tersebut mengalami peningkatan menjadi 100% pada akhir tindakan pembelajaran Siklus II.  Peningkatan tingkat ketuntasan belajar siswa dalam pembelajaran dari kondisi awal sebelum dilakukan tindakan pembelajaran hingga akhir tindakan pembelajaran Siklus II dapat disajikan ke dalam tabel berikut.

Tabel 8

Peningkatan Ketuntasan Belajar Siswa

        No.

Ketuntasan

Awal

Siklus I

Siklus II

Jumlah

%

Jumlah

%

Jumlah

%

1.

Tuntas

14

60,87

18

78,26

23

100

2.

Blm Tuntas

9

39,13

5

21,74

0

0

Jumlah

23

100.00

23

100.00

23

100.00

Perkembangan tingkat ketuntasan belajar siswa pada setiap siklus tindakan yang dilakukan dapat disajikan ke dalam diagram sebagai berikut.

Gambar 7 Diagram Peningkatan Ketuntasan Belajar Siswa

Peningkatan prestasi belajar siswa menunjukkan bahwa dampak produk proses pembelajaran menjadi semakin jelas dan  nyata. Hasil ini bila dikaji dari tingkat ketuntasan belajar siswa akan menjadi semakin jelas. Metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw  yang digunakan guru mampu mendorong siswa untuk teribat dalam proses pembelajaran secara aktif. Aktivitas siswa dalam pembelajaran ditunjukkan dengan keterlibatan mereka dalam kerja kelompok maupun kerja individu.

Partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran pada gilirannya akan mampu menjadikan peserta didik untuk mampu mengembangkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan sosial yang berguna bagi kemajuan dirinya baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Program-program yang berhasil dilakukan untuk memelihara tatanan dalam seluruh sistem mencakup empat prinsip yang bersifat proaktif, yaitu: 1) mengembangkan suatu rangkaian koheren perilaku yang diharapkan dilakukan siswa, 2) membekali siswa dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk melakukan perilaku yang sesuai, 3) secara terus-menerus mengukur keberhasilan pelaksanaan program tersebut, dan 4) menciptakan dan memelihara suatu lingkungan yang positif di mana semua yang disebutkan tersebut di atas dapat berlangsung.

P E N U T U P

Simpulan

Mengacu pada hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, selanjutnya dapat dikemukakan simpulan sebagai berikut:Penggunaan metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas III Semester 1 SD Negeri Genengsari 03 Kec. Polokarto  Tahun Pelajaran 2014/2015 dalam pembelajaran Bahasa Indonesia  konsep “Berbicara ”. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya prestasi belajar siswa pada setiap siklus tindakan yang dilakukan.

Ditinjau dari tingkat ketuntasan belajar siswa, tindakan pembelajaran dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa. Ketuntasan belajar siswa pada kondisi awal sebelum tindakan adalah sebesar 60,87%. Tingkat ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan pada tindakan Siklus I menjadi sebesar 78,26%. Pada akhir tindakan Siklus II, tingkat ketuntasan belajar siswa meningkat menjadi sebesar 100%.

Ditinjau dari nilai rata-rata hasil belajar, prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari sebesar 68,48 pada kondisi awal menjadi 73,70 pada akhir tindakan Siklus I dan meningkat menjadi 80,43 pada akhir tindakan Siklus II.

Saran

Berdasarkan simpulan yang diperoleh dari hasil tindakan selanjutnya dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut:

1.Bagi Siswa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin aktif siswa dalam belajar semakin baik hasil yang diperoleh. Untuk itu disarankan kepada siswa agar terus aktif dalam belajar.

2. Bagi Guru Kelas

Metode pembelajaran yang bervariatif dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar sehingga pemahaman siswa terhadap konsep yang diajarkan semakin meningkat. Untuk itu disarankan kepada guru kelas agar mau mencoba menggunakan berbagai metode pembelajaran yang berbeda untuk memberikan pengalaman belajar yang baru bagi siswa-siswa mereka.

3.Bagi Sekolah

Sekolah hendaknya mendorong para guru untuk mengaplikasikan metode pembelajaran yang bervariasi guna mendorong aktivitas siswa dalam belajar.

DAFTAR PUSTAKA

Abin Syamsudin 1981. Psikologi Pendidikan. PT Rosda Karya Remaja,. Bandung

Alma2009. Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. CV Alvabeta: Bandun 

Anita Lie.1994.Cooperative Learning. Jakarta : PT. Grasindo

Arends, R. 2001. Learning to Teach. New York: Mc graw Hill Companies, Inc

Ashraf Ali, 1989, Horisan Baru Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus

Depdikbud. 1993. Tatabahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Depdikbud

_______. 1995. Kamus Besar Bahasa  Indonesia. Jakarta :Depdikbud

Depdiknas, 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta:Departemen Pendidikan Nasional. 

Drs. Murad Msc. dan AR.Henry Sitanggang SH. (1997, Manajemen Sumber Daya Manusia , Yogyakarta; STIE. YKPN. 

Elang, Kusnadi. 2002. Materi Pokok Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Al  am. Jakarta : Universitas Terbuka.

Gagne 1985. The Condition of Learning. New York: Holt, Rinehaer and Winston 

Jehan, W. George 1997. Teknik Berbicara yang Meyakinkan dan Efektif. Jakarta : Gunung Jati

Komalasari, Kokom. 2010. Pembelajaran Kontekstual: Konsep dan Aplikasi. Refika Aditama. Bandung.

N.K., Roetiyah.  2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rinneka Cipta

Nurhadi dan Gerrad Senduk. 2003. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KTSP. Malang : Universitas Malang

Rusman. 2011. Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada

Sibarani, R. 1992. Hakikat Bahasa. Bandung : PT. Aditya Bakti

T.Raka Joni 1985. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: P3LPTK

Taufik, Agus. 2002. Teori-teori Belajar dan Implikasi dalam Pembelajaran. Jakarta : Universitas Terbuka.

Thomas Secokusumo, MBA (2000, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Bina Aksara.

W.S. Winkel. 1986 Perspectives in Critical Thinking: Essays by Teacgers in Theory and Practice. New York: Peter Lang

Wardani, I.G.K. dkk. 2004. Materi Pokok Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta : Universitas Terbuka

Oleh : Giman, A.Ma.Pd

SD Negeri Genengsari 03, Polokarto,Sukoharjo

19630725 198803 1 006