Published using Google Docs
Sinopsis A Gentlemans Dignity Ep11-20
Updated automatically every 5 minutes

Episode-11        

Mereka berempat mengisi liburan dengan berkemah (Udah kayak anak pramuka aja nih hihi)

Yoon dan Jung Rok ditugaskan mendirikan tenda, sementara Do Jin dan Tae San duduk manis. Yoon menyarankan pada Jung Rok lebih baik memasang bagian bawahnya dulu. Tapi menurut Jung Rok ditopang dari atas dulu supaya seimbang. Yoon bersikeras dari bawah dulu, karena ia paham betul bagaimana mendirikan tenda karena ketika SD dulu ia menjadi anggota pramuka dan nilai kepramukaannya tinggi. Jung Rok menyombongkan diri kalau ia juga pernah menjadi anggota Korps Astronot.

Jung Rok melihat kedua rekannya yang lain hanya duduk santai. Bukankah membangun rumah itu keahlian Do Jin dan Tae San. Tae San beralasan kalau tadi ia menyetir sendiri dalam perjalanan kesini lagi pula ia dulu anggota ICY (International Youth Conference) jadi tugasnya itu melakukan pertolongan pertama dan memberi tindakan medis.

Do Jin: "Ketika kalian sibuk menari di klub malam aku sudah menyelesaikan satu desain. Ketika Yoon membaca di perpustakaan aku sudah selesai membangunnya. Jadi kalian berdua saja yang mengurus tendanya."

Ok... dan tenda pun sudah berdiri. Yoon berbangga diri karena berhasil mendirikan tenda tapi ada yang lupa dipasang patok besinya hehe. Yoon pun menyimpan patok besi itu dan menyingkirkannya agar tak terlihat.

Yoon berseru kalau ia lapar dan mengajak ketiga temannya makan. Ketiganya membuka bekal masing-masing dan apa yang mereka bawa. Semuanya membawa minuman alkohol haha... tak ada yang membawa makanan. Keempatnya kesal bukan main.

Jung Rok punya ide, Dimana ada wanita disana ada makanan ia membawa sebotol minuman untuk ditukar dengan makanan di tenda wanita. Jung Rok ingin menukar minumannya dengan beberapa ramen. Tapi sayang, beberapa wanita ini sudah menukar makanan mereka dengan minuman dari rombongan pria yang sedang bermain basket.

Dan benar saja di tenda anak muda yang tengah bermain basket itu ada banyak makanan. Yoon ngomel bukannya ia sudah bilang kalau segala sesuatu itu harus dipersiapkan sejak awal. Ia menilai ketiga temannya ini kurang memiliki kebijaksanaan.

Do Jin punya ide, ia akan mendapatkan ramen itu untuk ketiga temannya. Jung Rok menebak apa Do Jin akan mencuri makanan mereka.

Do Jin: "Orang-orang di planet ini tahu dulu julukanku adalah basket. Ah... aku terpaksa bermain dengan para amatiran. Memalukan sekali."

Do Jin akan menantang anak muda itu bermain basket dengan taruhan minuman dan makanan.

Pertandingan basket 3 lawan 3. Do Jin, Yoon dan Tae San sudah di tempatnya melakukan pemanasan. (wakaka pemanasannya aneh Tae San kayak mau tinju, Yoon lumayan bener melatih cara shooting, Do Jin melatih gerakan dribbling dan shooting)

Sementara ketiga lawan mereka hanya diam menonton.

Permainan di mulai. Ketiga ahjussi ini bermain cukup percaya diri, dribling yang baik dan kerja sama tim yang bagus dalam mengoper bola. Ketiganya saling mengoper berputar-putar di area permainan sendiri. Tapi ketika tiba di area lawan Do Jin kehilangan bola.

Lawan berhasil merebutnya dengan mudah dan langsung melancarkan serangan balik yang cepat dan shoot, masuk. Do Jin dkk cuma bisa menatap bengong. (kebanyakan gaya sih haha)

Ketiga ahjussi berusaha membalikan keadaan tapi mereka berulang kali kehilangan bola. Bukannya mengoper kerekan sendiri malah memberikan bola ke lawan dan poin bertambah untuk lawan.

Tae San mengoper bola pada Do Jin dan dengan gayanya Do Jin berhasil memasukan bola. Ketiganya bersorak terlalu lama tak menyadari kalau lawan sudah berhasil memasukkan bola juga haha.

Skor mereka tertinggal sangat jauh 2-22 tapi mereka masih semangat. Tapi apa daya kondisi fisik mereka tak mampu mengimbangi kondisi fisik lawan yang lebih muda dari mereka. Ketiganya kepayahan. Satu persatu taruhan mereka dibabat habis lawan dan skor pun telak 4-30.

Mereka duduk sambil mengatur nafas yang terengah-engah karena kelelahan. Di depan mereka kardus tempat menyimpan minuman sudah ludes sebagai bahan taruhan.

Sementara anak muda lawan mereka tengah berpesta makan bersama para wanita. Ke empatnya hanya bisa menatap lemas nan lelah.

Tae San tanya sebenarnya kapan terakhir kali Do Jin bermain basket. Dengan nafas yang masih terengah-engah Do Jin menjawab kalau pertandingan terakhirnya terjadi pada tahun 1994. Jung Rok kesal bukankah itu 18 tahun yang lalu. Wahahahaha..

Kesialan mereka tak sampai disitu, tiba-tiba tenda yang didirikan Yoon roboh. Lengkaplah penderitaan mereka. Wakakaka.

Sinopsis A Gentlemans Dignity Episode 11

Jung Rok bertemu dengan Eun Hee di sebuah restouran. Ia masih tak percaya kalau wanita yang kini ada di hadapannya adalah first love-nya yang sudah lama menghilang. Jung Rok dengan wajah terheran-herannya berkata kalau Eun Hee masih tetap cantik.

Eun Hee: "Bukankah semua cinta pertama di dunia ini sangat cantik?"

Jung Rok melihat kalau Eun Hee tak berubah sedikitpun. Eun Hee menolak anggapan Jung Rok, ia sekarang jadi lebih lembut karena sudah berumur. Eun Hee tanya apa semuanya baik-baik saja, ia mendengar kalau mereka berempat masih bersama-sama setiap hari.

Jung Rok: "Kata siapa kami tak punya teman lain? Aku tak akan menemui mereka kalau kau tak menyukainya."

Eun Hee tertawa ia juga ingin melihat mereka semua. Jung Rok berinisiatif akan menelepon mereka tapi Eun Hee melarang ia harus mengejar pesawat malam ini. Jung Rok ingin tahu kenapa Eun Hee ada di Korea. Eun Hee mengatakan kalau ada beberapa masalah yang harus ia tangani dan juga ia datang kesini untuk meminta bantuan Jung Rok. Jelas saja Jung Rok mau membantu.

Eun Hee mengatakan kalau ia memiliki seorang putra dan sekarang berada di Korea. Jung Rok sedikit terkejut mendengarnya. Eun Hee kembali mengatakan kalau dilihat dari transaksi kartu kreditnya sekarang putranya berada di Seoul setelah berkeliling seluruh negeri dan kemungkinan dia akan mencari mereka berempat. Jung Rok heran kenapa putra Eun Hee mencari mereka. Eun Hee masih belum yakin tapi putranya membawa foto mereka berempat ketika pergi dan juga alamat kafe Jung Rok. "Kalau dia mencarimu mau-kah kau menghubungiku?"

Jung Rok jelas bersedia, "Jangan membicarakan yang lainnya tapi hubungan kita sangat mendalam kan?"

Eun Hee tertawa, ia juga meminta Jung Rok jangan mengatakan pada siapapun kalau Jung Rok bertemu dengannya. "Karena aku kesini benar-benar hanya untuk menemuimu!"

Jung Rok tak menyangka Eun Hee hanya ingin menemuinya, ia berjanji akan merahasiakan pertemuan ini. Ia bertanya jam berapa penerbangan Eun Hee. Apa Eun Hee mau diantar ke bandara. Eun Hee hanya tersenyum.

Jung Rok melamun memikirkan pertemuannya dengan Eun Hee. Ia menyadari kalau selama ini ia-lah orang yang disukai Eun Hee. Ia senang bukan main dan ingin memamerkan semuanya pada ketiga temannya tapi ia harus menahan diri tak mengatakan apapun.

Do Jin duduk di pinggir jendela menatap minuman Yi Soo. Tatapannya pun beralih ke pemandangan di luar kafe dan disana ia melihat Yi Soo berdiri memandangnya. Do Jin tak menyangka kalau Yi Soo akan kembali lagi karena ia mengira Yi Soo sudah pergi.

Do Jin mengambil pena dan menuliskan sesuatu di selembar tisu.

Janji pertama hari ini adalah Seo Yi Soo

Keduanya tersenyum, Yi Soo perlahan mendekat ke arah jendela. Ia memejamkan matanya mencium jendela tepat dimana tulisan Do Jin tadi ditempelkan di jendela atau mungkin ini ciuman untuk Do Jin hehe.

Do Jin tak berfikir dua kali lagi, ia langsung bergegas keluar menemui Yi Soo. Keduanya bertatapan lama. Do Jin berfikir kalau Yi Soo sudah pergi. Yi Soo membenarkan tapi ia memutuskan untuk kembali.

Do Jin menilai Yi Soo wanita yang aneh, tak ada yang perlu dikatakan diantara kita apa harus Yi Soo kembali hanya untuk mendengarkannya mengatakan itu. Yi Soo mendesah kesal apa Do Jin tak bisa berhenti mengatakan itu karena ia sudah merasa kesal. "Apa gunanya menyukaimu kalau hanya membuatku menderita seperti ini?"

"Apa kau... menyukaiku?" Tanya Do Jin.

"Apa kau tak tahu? Baru saja di jendela, aku.... sebelumnya kau-lah yang begitu agresif mengejarku. Ya benar, aku menyukai Kim Do Jin. Aku menyukaimu. Aku takut kau akan berfikir kalau aku akan berubah-ubah pikiran menyukai seorang pria setelah pria lain. Jadi aku tak berani menunjukannya. Pengakuanku ini juga bukan supaya kau menerimaku, jadi kalau kau mau menolak....."

Belum sempat Yi Soo melanjutkan kata-katanya yang panjang lebar Do Jin membungkamnya dengan sebuah ciuman cepat (ah hihi..)

Yi Soo terdiam menatap Do Jin, ia kehilangan kata-katanya.

"Pengakuan ini cukup berkesan," sahut Do Jin. Kemudian kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Yi Soo dan menciumnya lebih dalam penuh perasaan. (long kiss)

Do Jin mengantar Yi Soo pulang. Di depan rumah Yi Soo tak segera masuk, ia masih tersenyum malu-malu. Do Jin ingin tahu sejak kapan Yi Soo menyukainya. Yi Soo tertawa. Do Jin kembali bertanya apa yang Yi Soo sukai darinya. Yi Soo menjawab karena Do Jin seperti bunga. Do Jin meminta Yi Soo tak perlu menjawab yang terlalu objektif selain yang sudah diketahui seluruh negeri.

Yi Soo: "Aku sudah memutuskan untuk memulai cinta bertepuk sebelah tangan denganmu aku sedikit gugup setelah mendengarnya. Ketika kulihat fotoku terselip di dompetmu, aku terharu. Tak bisakah kau menyukaiku sedikit saja? aku sudah mulai bimbang setelah mendengar itu. Di depan restouran ketika kau mengatakan bahwa kau akan melepaskanku, pertama kalinya aku merasa ketakutan. Kalau orang ini tak lagi menyukaiku apa yang harus aku lakukan?"

Do Jin: "Sejak pertama aku melihatmu sampai kemarin, aku terus berfikir apa yang harus kulakukan kalau wanita ini tak menyukaiku?"

Do Jin menarik Yi Soo kepelukannya, memeluknya erat. "Sekarang kita sudah berciuman dan berpelukan apa lagi yang akan kita lakukan pada pertemuan selanjutnya?" Tanya Do Jin. Hehe

"Berpegangan tangan, kita belum pernah melakukannya." Kata Yi Soo. Do Jin memeluknya semakin erat.

"Guru...!" tiba-tiba Meari datang dan terkejut melihat pemandangan yang baru saja dilihatnya. Yi Soo dan Do Jin juga terkejut melihat Meari datang.

Meari: "Apa ini? Dua hari ini Guru menangis meraung-raung. Apa pada akhirnya kalian berdua jadian? Kalian berdua?"

Do Jin heran dan bertanya apa Yi Soo menangis. Meari kesal dan tak mau mengatakannya pada Do Jin. Yi Soo sadar seharusnya ia memberi tahu Meari lebih awal. Ia berharap Meari akan mendukung hubungannya dengan Do Jin.

Meari tersenyum, "Tentu saja aku akan mendukung kalian. Tapi kenapa aku merasa ingin menangis?" Meari pamit akan pulang saja.

Yi Soo meminta Meari masuk dulu ke rumah. Tapi Do Jin menawarkan akan mengantar Meari pulang dan lebih baik Yi Soo masuk saja. Yi Soo setuju, ia mempercayakan Meari pada Do Jin. Yi Soo bilang kalau ia nanti akan menelepon Meari. Meari tak peduli.

Do Jin membukakan pintu mobil untuk Meari. Ia mengingatkan Yi Soo agar meneleponnya juga.

Di dalam mobil menuju rumahnya Meari diam saja. Do Jin ingin tahu apa Meari sudah memanfaatkan informasi password rumahnya. Meari tak peduli ia mengatakan kalau ia lupa. Do Jin menyahut bukankah Meari pernah mampir sekali. Meari gelagapan dan bertanya kenapa Do Jin terus mengajaknya bicara ia sedang tak ingin bicara dengan Do Jin. Do Jin menyela lalu kenapa Meari menjawab pertanyannya, bahkan Meari masuk ke mobilnya. Meari sewot meminta Do Jin lebih baik menurunkannya saja.

Do Jin sadar betul suasana hati Meari sedang tak bagus, ia juga tahu kalau pendapat Meari tentang hubungannya dengan wanita sangat buruk. Tapi kali ini perasaannya pada Guru Meari memang nyata. Meari tahu itu ia bisa melihatnya.

Do Jin menawarkan apa Meari mau mampir ke rumahnya, berpura-pura kebetulan agar bisa bertemu dengan Yoon. Meari malah bertanya untuk apa, karena Yoon bilang padanya dia tak akan pernah mau melihatnya lagi.

Do Jin menyarankah hal lain, cara yang menurutnya sangat efektif. Tapi Meari bertanya apa tak ada yang lebih mudah. "Apa kakak tak bisa menikahi guru akhir pekan ini? Dengan begitu Kak Yoon pasti akan muncul. Atau... apa kakak punya anak yang kakak rahasiakan keberadaannya dan merayakan ulang tahunnya yang pertama."

Mereka berdua sampai di rumah Meari. Cuaca sedang tak bagus hujan turun walaupun tak begitu deras tapi cukup membuat si Betty kebasahan.

Meari akan turun dari mobil tapi ia dikejutkan dengan adegan yang ia lihat. Kakaknya, Tae San tengah berpelukan dengan Se Ra di depan rumah, "Ada apa dengan semua orang? Kenapa mereka melakukan semua ini padaku?"

Do Jin membenarkan apa yang mereka berdua lakukan di depan rumah. Memangnya hanya mereka yang jatuh cinta. Meari mendelik marah kearah Do Jin. Do Jin langsung terdiam dan menyahut kalau Hong Pro sudah mau pergi.

Tae San mengatakan kalau ini kejutan yang luar biasa sukses, Se Ra bahkan mengantarnya pulang ke rumah. Se Ra pamit mengucapkan selamat malam sambil mengecup pipi Tae San. Tapi Tae San tak menyukai perpisahan seperti malam ini. Se Ra beranggapan kalau saling merindukan satu sama lain itu bagus karena dengan begitu akan lebih menarik dan akan jauh lebih baik daripada harus bangun dengan orang yang sama setiap pagi. Ia ingin menjadi wanita Tae San bukan keluarga Tae San. Tae San meminta Se Ra tinggal 5 menit lagi, ia memeluk Se Ra erat-erat. Se Ra merasa kalau 5 menit itu akan berubah menjadi 25 menit.

Meari makin kesal melihatnya. Do Jin berkata kalau ia sedang mengembangkan hobi baru akhir-akhir ini. Bagaimana kalau kita menabrak mobil Hong Pro. haha.

"Kakak kau lah yang paling buruk," ucap Meari pada Do Jin.

Do Jin: "Karena sekarang kau sudah menyebutkan itu, bisakah kau tak menemui gurumu untuk sementara waktu?"

Meari: Kenapa?

Do Jin: "Baseball dan mengajar sudah cukup membuatnya sibuk kalau dia harus mengurusimu juga aku takut kalau aku akan tersisih. Mulai besok aku akan mengencani wanita itu."

"Ah keterlaluan sekali, menyebalkan!" bentak Meari.

Keesokan harinya Do Jin menemui Yi Soo di kafe dekat sekolah. Yi Soo merasa tak nyaman karena banyak siswanya yang melihat ia bersama seorang pria. Yi Soo tanya kenapa Do Jin datang ke tempat kerjanya. Do Jin bilang kalau kedatangannya untuk makan siang dengan Yi Soo dan juga sekalian untuk mengumumkan kalau sekarang Yi Soo sudah punya pacar. Apa ia harus pergi ke kentor (ruang guru) untuk mengatakannya. Yi Soo ngomel-ngomel apa Do Jin sudah gila datang ke tempat kerjanya.

Do Jin melihat siswa-siswa yang berlalu lalang, ia bertanya apa Yi Soo pernah mempertimabangkan untuk pindah mengajar ke sekolah lain. Misalnya ke sekolah khusus putri karena Yi Soo cukup terkenal diantara siswa laki-laki disini.

Beberapa siswa memperhatikan Yi Soo yang tengah berdua dengan seorang pria. Salah satu siswa berteriak, "Apa itu pacarnya guru? Guru benar-benar handal. Dewi Etika berkencan. Pacarnya sangat tampan!"

Yi Soo berusaha menutupi wajahnya karena malu, semua siswa mengerumuni melihat dari jendela. Piss.... Do Jin memberi salam pada semua siswa disana.

Yi Soo mengajak Do Jin pindah tempat. Ia berbalik memarahi siswa-siswanya, "Kalian semua. Siapa yang mengizinkan kalian keluar pada jam makan siang? Bukankah kalian harus kembali ke sekolah?"

"Guru pacarmu sangat tampan!" seru salah satu dari mereka.

"Kau anak laki-laki yang sangat jujur," sahut Do Jin.

"Kami percayakan guru kami padamu!" seru mereka lagi.

"Ikut denganku!" Yi Soo membentak Do Jin.

Keduanya pindah kafe. Yi Soo terkejut mendengar apa yang dikatakan Do Jin. Ia meneguk minuman sodanya tanpa menggunakan sedotan karena saking kesalnya. Do Jin bergumam apa Yi Soo tak bisa sedikit lebih anggun karena sekarang ini kencan mereka yang pertama.

Yi Soo bilang tidak, karena ia baru saja mengakhiri cinta bertepuk sebelah tangannya. Ia berfikir akhirnya ia memiliki asmara merah jambu. Tapi kenapa Do Jin melakukan ini padanya. Apa Do Jin ingin ia mengawali cinta bertepuk sebelah tangannya lagi. Do Jin mengatakan kalau cinta bertepuk sebelah tangan Yi Soo tak pernah ditunjukkan untuknya hanya untuk Tae San.

Yi Soo kesal apa mungkin sekarang Do Jin sedang cemburu. Do Jin tanya kenapa, Memangnya pria tua yang biasa-biasa saja tak boleh memiliki hati seluas samudra. Yi Soo heran kenapa sekarang Do Jin mengatakan hal seperti ini, seharusnya Do Jin mengatakannya sebelum ia mengungkapkan perasaannya.

Do Jin menyebutkan permintaannya. Petunjuk Cinta Bertepuk Sebelah Tangan.

1. Pikirkan aku sepanjang hari tanpa makan atau tidur.

2. Kalau aku tak menjawab teleponmu atau tak membalas SMS-mu terlukalah dan merasa gelisah.

3. Menunggulah disekitar kantor atau rumahku sambil berharap kau akan melihatku.

4. Ketika kau melihatku, tetaplah berada di kejauhan dan lihat aku dengan penuh perhatian dengan tatapan mesra.

5. Ketika aku bicara dengan wanita lain cemburulah dan rasakan seolah-olah kau ingin menabrakan mobilmu ke arahnya.

6. Kau harus mengumpulkan foto kelulusanku dari SD sampai SMA. Selipkan di dompetmu.

7. Beri aku kejutan dengan datang ke rumahku sampai aku merasa terharu.

Do Jin ingin Yi Soo merasakan apa yang ia rasakan dulu ketika cintanya bertepuk sebelah tangan pada Yi Soo dan untuk sementara petunjuknya itu dulu. Yi Soo tak habis pikir bagaimana kalau ia tak bisa melakukannya. Do Jin menganggap kalau Yi Soo menolak melakukan itu berarti Yi Soo setuju bepergian dengannya. Yi Soo kesal karena sekarang ia masih ada kelas. Ia kemudian menyadari sesuatu dan bertanya apa pembicaraan Do Jin dengan Meari kemarin berjalan lancar. Do Jin memberi tahu kalau ia sudah mengatakannya sangat jelas pada Meari, "Jangan berkeliaran di sekitar wanitaku. Mulai sekarang waktu wanita itu akan menjadi milikku," Yi Soo membentak kesal.

Di Mango Six Meari menerima telepon dari ibunya. Ia heran bukankah kakaknya yang tak menjawab telepon kenapa bertanya padanya. Ia mengatakan kalau kakaknya tak sibuk tapi mencoba menghindari ibunya. Siapa suruh ibunya mengungkit-ungkit masalah pernikahan. Menurutnya pacar kakaknya lah yang tak mau diajak menikah. Meari mengatakan kalau ia sedang berkerja dan cukup sibuk, ia memutus teleponnya.

Ada pelanggan datang Meari tersenyum menyambutnya tapi ketika tahu yang datang itu Yoon senyumnya pun menghilang. Yoon memesan Mango Banana dan Mango Coconut masing-masing satu. Ia memesan tanpa memandang Meari. Meari menatapnya penuh harap Yoon juga menatapnya. Tapi Yoon mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Meari berbalaik ke belakang untuk membuatkan pesanan dan tepat saat itu Yoon pun melirik ke arah Meari. Ketika Meari berbalik setelah membuatkan pesanan, Yoon pun kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain. Meari jelas kecewa Yoon sama sekali tak memandangnya. Ia memberikan pesanan Yoon. Yoon menerimanya dan terjadi tarik-tarikan minuman.

Meari ingin kenapa Yoon membeli dua gelas, apa yang satunya untuk Pengacara Kang. Yoon tak menjawab ia segera mengambil minumannya dan meninggalkan Mango Six untuk segera ke kantornya.

Di pintu keluar kafe Yoon berpapasan dengan staf-nya. Staf-nya mengatakan kalau ada klien yang menunggu di kantor. Yoon memberikan minuman yang ia beli tadi kepada staf-nya. Staf-nya heran tapi diterima juga, ia bertanya kenapa membeli dua gelas.

Yoon: "Satu gelas terlalu singkat, tiga gelas sedikit kejam. Karena itulah aku membeli dua gelas."

Siapakah klien itu, Colin. Yoon terkejut melihat pemuda ini datang ke kantornya. Karena yang ia tahu Colin ini teman Meari. Colin menyapa dengan sopan dan berkata kalau keduanya sudah pernah bertemu sebelumnya, apa Yoon mengingatnya. Yoon menjawab ya.

Yoon bertanya apa keperluan Colin datang ke kantornya. Colin mengatakan kalau ia memerlukan masukan tentang beberapa masalahnya tapi ia tak mengenal seorang pun pengacara. Yoon menyahut kalau tempat ini bukan untuk konsultasi masalah cinta. Colin mengatakan kalau masalah ini mempunyai konsekuensi yang jauh lebih luas daripada masalah cinta.

Yoon malas menanggapi atau mungkin kesal karena cemburu, ia menyarankan agar mencari pengacara lain saja. Ia mengatakan kalau rata-rata tarifnya 50rb won perjam dan juga ia tak bisa memberi rekomendasi pengacara yang tepat dan ia tak menyediakan jasa konsultasi.

Colin tak mengindahkan ucapan Yoon, ia memberi tahu kalau ia memiliki seorang ayah. Lebih tepatnya ia memiliki dua ayah. Dan barulah Yoon mulai terhenyak kaget sekaligus penasaran.

Yoon: "Lalu?"

Colin: "Ayah kandungku tak tahu keberadaanku. Aku juga baru tahu beberapa waktu yang lalu. Tentu saja kami tak terdaftar dalam keluarga yang sama. Tapi kalau aku mengetuk pintu rumahnya, mengatakan padanya kalau aku putranya dan meminta melakukan tes DNA apakah aku ikut berhak atas semua kekayaannya? Atau aku harus menunggu sampai dia meninggal?"

Yoon di bar Jung Rok. Jung Rok melihat temannya ini sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Yoon tanya apa Jung Rok masih ingat pemuda yang mencari Meari di kafe. Jung Rok tentu saja ingat ia sudah bertemu dengan pemuda itu beberapa kali.

Yoon penasaran apa Meari dan pemuda itu terlihat dekat. Jung Rok heran cemburu seperti apa lagi ini jangan bilang kalau Meari sekarang diam-diam berkencan dengan anak itu, apa karena itu hatimu sakit. Yoon kesal kenapa Jung Rok menyulutkan kembang api kepadanya.

"Apa kau merasakan panasnya, teman?"

"Diam..." Yoon makin kesal.

Do Jin dan Tae San datang. Tae San tanya kenapa, apa membuat keributan lagi. Jung Rok berkata kalau ia memang selalu membuat keributan makanya ia selalu mendengar kata-kata seperti diam atau omong kosong

Tae San melihat fasilitas bar dan bertanya apa Jung Rok tak ada rencana memasang layar karena sekarang sedang musim Baseball. Jung Rok menilai kalau layanan layar seperti itu merupakan layanan pelanggan sendiri. Kalau Tae San mau pasang saja sendiri.

Do Jin melihat-lihat menu dan bertanya apa Blue Cat berencana merekrutnya.

Tae San: "Sebagai apa? Bola?" (Hahaha)

"Pitcher." kata Do Jin.

"Kau jadi pitcher?" Yoon tak percaya Do Jin akan bisa melakukannya. "Satu-satunya yang bisa kau lempar hanyalah gelas minuman."

Tae San ingin tahu alasan Do Jin tiba-tiba ingin menjadi pitcher. Jung Rok mengatakan alasan Do Jin ingin ikut menjadi bagian Blue Cat tentu saja agar dia bisa melihat wajah wasit. Do Jin meminta Jung Rok diam, ia menyuruh Jung Rok mengambilkan Black Russian untuknya. Jung Rok segera akan melayani pelanggannya.

Ada seorang pria paruh baya berkunjung ke bar Jung Rok. Si pria ini langsung mengenali Jung Rok. Jung Rok heran siapa pria ini, ia benar-benar tak ingat. Do Jin pun bertanya pelan pada Yoon siapa pria itu.

Tae San melihat pria itu, ia jelas terkejut dan langsung menyembunyikan wajahnya. Ya Tae San mengenali pria itu. Ia menyuruh Do Jin dan Yoon agar menyembunyikan wajah supaya tak terlihat oleh pria itu. Do Jin dan Yoon bingung. Jung Rok berpura-pura mengenal pria itu dengan tatapan bingung dan berkata kalau pria itu banyak berubah sampai ia tak mengenalinya.

Pria itu juga mengenali Do Jin dan Yoon. Ia tak menyangka kalau mereka semua masih terlihat bersama. Do Jin bertanya apa Yoon mengenal pria itu. Yoon dengan tampang bingung menjawab tidak tapi sepertinya Tae San kenal. Tae San memberi kode yang tak dimengerti oleh Do Jin dan Yoon.

Tae San pura-pura bangun dari tidur. Pria paruh baya ini jelas mengenal Tae San, begitu juga sebaliknya. Tae San menjabat tangan dan berkata kalau sudah lama sekali tak bertemu.

"Kalian semua benar-benar tak berubah, aku sudah semakin tua kan? Bahkan putriku sudah kuliah." Sahut Pria itu. Ketiga teman Tae San masih bingung siapa pria ini.

Tae San berkata kalau mereka berempat sedang sibuk dan masih ada janji di tempat lain. Ia mengajak teman-temannya segera pergi. Jung Rok bingung memangnya mau kemana. Do Jin dan Yoon juga bengong ada janji dengan siapa. Dan apa boleh buat untuk mengingatkan temannya Tae San kembali menjabat tangan pria ini dan menyebut namanya, "Jeong Suk. Na Jeong Suk."

Kini ketiga teman Tae San langsung bisa mengenalinya bahkan terkejut tak menyangka. Apa yang membuat mereka begitu terkejut.

Gadis ini...

"Ahjussi bagaimana kalian bisa tahu ayahku?"

Hahahaha..... ini bapaknya si cewek yang mereka temui di bar di Episode 3

Na Jeong Suk tak menyangka bisa bertemu dengan mereka berempat. Ia bertanya apa mereka sudah menikah, ia mengajak mereka semua minum bersamanya. Ia akan memesan minumn tapi Jung Rok buru-buru merebut daftar menunya dan berkata kalau bar ini sangat mahal dan makanannya menjijikan pergi saja ke tempat lain. Jangan disini karena semua yang ada disini sangat jelek.

Na Jeong Suk melihat sekeliling, ia menilai kalau tempat ini cukup bagus. "Oh ya kalian belum pernah melihat putriku kan?" (hahah sudah kok Om)

Tae San memberi kode agar teman-temannya segera kabur dari sana dan mereka berempat pun lari ngibrit bahkan sebelum Na Jeong Suk memperlihatkan foto putrinya.

Se Ra merapikan pakaian yang ia jemur sementara Yi Soo melipat pakaian dalamnya. Yi Soo mendapat SMS dari Do Jin yang isinya tentang 7 petunjuk cinta bertepuk sebelah tangan. Yi Soo tersenyum membacanya.

Yi Soo melihat koleksi pakaian dalamnya yang menurutnya terkesan biasa, ada yang motif kucing juga tuh hihi...

Se Ra melihat tampang Yi Soo yang aneh, ia menebak kalau Yi Soo dan Do Jin pasti sedang berkencan. Ia menilai kalau pakaian dalam Yi Soo aneh. "Apa kau tak pernah memikirkan kapan, dimana dan tipe pria yang akan kau temui?" Se Ra menunjukan salah satu pakaian dalam Yi Soo.

"Apa kucing tak bagus?" tanya Yi Soo. Se Ra mengangguk. Tapi menurut Yi Soo mungkin saja ada laki-laki yang menyukai motif pakaian dalam seperti yang ia miliki.

Se Ra menjawab tentu saja, tapi Kim Do Jin bukan salah satunya. Ia meminta Yi Soo ganti baju. Ia akan mengajak Yi Soo ke suatu tempat.

Kemana keduanya pergi, Se Ra mengajak Yi Soo ke toko pakaian dalam. Hihi...

Tentu saja Yi Soo tetap memilih pakaian dalam yang biasanya. Se Ra mencibir pilihan Yi Soo, apa Do Jin menyukai yang seperti itu. Ia menunjukkan model pakaian dalam yang disukai Tae San.

"Memangnya laki-laki menyukai yang seperti itu?" tanya Yi Soo.

"Tak ada alasan untuk tak menyukainya. Yang dianggap seksi oleh pria bukan ketika kau tanpa pakaian sama sekali. Tapi ketika kau melepasnya." Jelas Se Ra.

"Hei orang lain bisa mendengar kita," ucap Yi Soo.

"Ini untuk kau dengar, tahu!" sahut Se Ra. Haha..

Se Ra menilai kalau beralih dari pakaian dalam yang bergambar kucing menjadi macan memang sedikit berlebihan. Ia meminta Yi Soo memilih salah satu dari yang ia pilihkan. Se Ra mengambilkan satu dan mengatakan kalau yang ini memiliki kesan mengundang. Yi Soo tak paham. Se Ra menyanyikan sebuah lagu sambil bergoyang.

Kalau Yi Soo menginginkan yang lebih seksi ada. Se Ra pun kembali menyanyi dan bergoyang sesuai dengan tema pakaian dalam yang ia pilih. Yi Soo tertawa dan ia mangambil satu pakaian dalam dan menyanyikan lagu berdasarkan pakaian dalam yang ia pilih.

(kalau boleh jujur suara Se Ra ketika menyanyi lebih bagus daripada Yi Soo hehe)

Setelah belanja pakaian dalam keduanya pulang dan di jalanan mereka menyanyi dan menari-nari. Tingkah keduanya kayak masih seperti anak muda.

Yoon memasukan baju ke lemari dan ia pun melihat kotak tempat ia menyimpan tas pemberian Meari. Yoon membuka kotaknya dan teringat ketika Meari baru kembali dari Amerika. Ketika bertemu dengannya Meari langsung memeluk dan mengatakan rindu padanya. Juga ketika Meari tiba-tiba menciumnya, ketika Meari menangis mengungkapkan perasaan ketika ulang tahunnya. Dan kejadian kemarin ketika Meari nekat menyebrang jalan hanya untuk menemuinya. Hati yoon bimbang.

Yoon menerima SMS dari Meari, Sudah malam terakhir di bulan Juni

Yoon akan membalas SMS ke Meari, Ini adalah satu-satunya cara kita bisa berbicara..

Tapi Yoon mengurungkan niatnya dan menghapus kembali tulisan yang sudah ia ketik. Ia pun menelepon Meari meminta bertemu. Dari suara yang didengar jelas Meari senang bukan main.

Keduanya bertemu di sebuah kafe. Meari jelas senang bisa janjian dengan Yoon. Ia penasaran apa yang ingin Yoon bicarakan. Ia datang ke tempat ini secepat yang ia bisa.

Yoon menyampaikan sepertinya ia belum memperlakukan Meari layaknya seseorang yang berumur 24 tahun. Ia mendengar di Amerika Meari mempelajari bisnis. Ia bertanya apa Meari lulus. Meari menjawab kalau ia berhenti ditengah jalan. Ia ingin membuat tas dan juga merindukan Yoon. Ia ingin belajar desain tapi itu memakan waktu yang sangat lama. Ia heran kenapa Yoon bertanya padanya tentang semua ini.

Yoon: "Karena hal seperti itulah yang seharusnya kubicarakan dengan seseorang yang berumur 24 tahun. Im Meari kau tak memiliki mimpi sama sekali? Saat ini selain mengejarku, kau tak melakukan hal lain kan?"

Meari terdiam, ia sadar kemana arah pembicaraan Yoon.

Yoon: "Kau bilang kau ingin membuat tas, bagaimana kau mencapainya kalau kau tak berusaha sama sekali? Orang-orang yang seumuran denganmu dengan mimpi yang sama. Semuanya sibuk mengikuti tes bahasa inggris, menghadiri pameran, mencoba masuk ke perusahaan besar, menyibukan diri. Tapi apa yang kau lakukan sekarang?"

"Jangan menelponku jangan menyukaiku aku berfikir aku akan mendengar kata-kata seperti itu. Bahkan kalau kakak mengatakan kata-kata seperti itu, aku tetap ingin melihat kakak sekali lagi. Siapa bilang aku tak punya mimpi? Aku juga punya. Tapi bagiku, Kakak lebih penting daripada itu. Aku menunggu kakak lebih lama daripada yang lain. Menjadi seorang desainer adalah mimpiku. Kakak adalah takdirku, tapi takdir itu terus bersembunyi dariku." tanpa terasa air mata Meari menetes deras.

Yoon berkata kalau cinta memang penting, tapi apakah hanya itu yang menjadi tujuan hidup Meari. Kalau sudah ditakdirkan Meari tak bisa bersembunyi dari cinta. Jadi jangan buang-buang waktu lagi untuknya. Fokus saja pada diri Meari sendiri.

Yoon pamit meninggalkan Meari sendirian dengan tangis yang kian menjadi.

Hari hujan, Tae San menemukan adiknya tertidur di depan rumah. Ia hanya bisa menarik nafas panjang melihat tingkah adiknya. "Andai saja aku bisa memukulmu aku pasti sudah melakuannya. Aku bahkan tak bisa menggundulimu karena itu akan membuatmu menjadi jelek. Benar-benar membuatku gila."

Di Hwa Dam, Do Jin dan Tae San membicarakan proyek mereka. Mereka memutuskan untuk memeriksa lokasinya minggu depan. Do Jin mengucapkan selamat melakukan perjalanan peninjauan pada Tae San. Ia bergumam kenapa akhir-akhir ini ia kurang enak badan. "Kepalaku sakit perutku juga sakit."

Tae San tahu kalau Do Jin cuma mencari alasan saja. Bukankah waktu itu Do Jin sudah cuti sakit. Do Jin kesal ia mengatakan kalau Tae San sudah berkencan selama 2 tahun sedangkan dirinya baru 2 hari. Akhir minggu ini sangat penting untuknya. Tae San mengatakan kalau wanita bisa menunggu Do Jin sebanyak 3 kali. Tapi klien tak mau menunggu walaupun itu 3 menit saja. Tae San akan pergi ke lokasi sekarang ia meminta Do Jin mampir ke rumah Se Ra.

Do Jin melihat jam tangannya dan merasa heran kenapa tak ada kabar dari wanita itu (Yi Soo)

Yi Soo menyusuri jalanan dengan senyum sumringah. Ia berpapasan dengan sepasang kekasih dan si wanita itu menata rambutnya dengan disanggul. Yi Soo pun mengikuti gaya rambut si wanita.

Ia juga berpapasan dengan sepasang kekasih lain dan kali ini si wanita mengepang dua rambutnya. Yi Soo pun mengikuti gayanya.

Yi Soo tersenyum malu-malu tapi akhirnya ia memutuskan untuk tetap pada gayanya. Membuat rambutnya tergerai.

Do Jin mendapat laporan dari Manajer Choi tentang rancangan proyek mereka. Manajer Choi berjanji kalau ia akan menyelesaikan dan menyerahkannya minggu depan. Do Jin menyuruh Manajer Choi kembali bekerja.

Do Jin mendapat SMS dari Yi Soo, Agar aku bisa melihatmu dari kejauhan. Aku harus berdiri berapa jauh?

Do Jin berbalik dan melihat Yi Soo ada di depan kantor Hwa Dam. Keduanya saling melempar senyum. Do Jin menelepon Yi Soo dan menyuruh Yi Soo mundur dua langkah ke arah jam 7. Yi Soo melakukan arahan Do Jin.

Yi Soo tanya apa sekarang ia terlihat seperti wanita aneh. Do Jin menjawab kalau Yi Soo lebih terlihat seperti seorang wanita yang telah terpikat olehnya. Yi Soo tertawa.

Do Jin: "Apa yang kau pikirkan tentangku sekarang ketika melihatku dari kejauhan?"

Yi Soo: "Dari kejauhan sedikit... tampan,"

Do Jin: "Tentu saja. Karena ini gaya khasku. Kemarilah, aku akan kelihatan lebih tampan dari dekat. Dan akan sulit untuk bernafas kalau kau melihat terlalu dekat."

Yi Soo langsung masuk ke ruangan Do Jin. Disana Do Jin sedang menerima laporan dari staf wanitanya. Do Jin sibuk menanggapi laporan tapi disela-sela itu ia bertanya apa mencari Tae San. Yi Soo kaget tak mengerti maksud Do Jin.

Do Jin kembali mengatakan pada stafnya tentang desain dan kembali disela-sela obrolannya dengan staf ia bertanya, "Apa yang kau lakukan? Aku menunggumu."

Yi Soo bingung, untuk apa. Cemburu ucap Do Jin tak bersuara hanya menampilkan mimik wajahnya. Ternyata Do Jin ingin Yi Soo cemburu ketika ia dekat-dekat dengan wanita. Staf Do Jin terkekeh dengan tingkah Presdirnya.

Staf Do Jin menyapa Yi Soo dan mengatakan kalau semua Staf sudah mendengar banyak cerita tentang Yi Soo karena Presdir-nya sendiri yang sudah menyebarkan berita kalau dia tengah berpacaran. Staf Do Jin sadar kalau dia sudah keceplosan bicara, ia bilang kalau ia tak pernah memberi tahu siapapun.

Do Jin: "Kenapa tidak? Aku-lah yang menyebarkannya. Sekarang karena beritanya sudah menyebar, aku bisa pulang lebih awal. Kalian semua memiliki hubungan dengan rekan kantor bahkan ada dokumentasi saat kalian bermain-main di tangga."

Staf Do Jin malu dan permisi keluar hahaha... berarti Staf-nya banyak yang cinlok di kantor ya hahaha.

Do Jin berjalan ke arah Yi Soo. Yi Soo spontan mundur mengira Do Jin akan berbuat macam-macam padanya, "Apa kau gila? Keterlaluan. Ini di kantor." Tapi ternyata Do Jin cuma mau mengambil tas yang ada di kursi.

Yi Soo tanya Do Jin belum mau pulang kerja kan. Do Jin balik bertanya apa yang harus mereka lakukan apa Yi Soo mau bermain cupang di tangga. Yi Soo menutup wajahnya karena malu dan langsung ngibrit keluar duluan.

Tae San dan Se Ra belanja bahan makanan di swalayan. Tae San memilih-milih wortel ia ingin tahu labih bagus wortel yang ujungnya lancip atau bulat. Tapi menurut Se Ra yang bagus itu yang sudah dicuci.

Tae San tanya apa Se Ra tak bosan terus-menerus makan di luar. Se Ra ternyata orang yang malas untuk yang namanya mencuci, memasak, bersih-besih, katanya semua itu melelahkan.

Se Ra berjalan lebih dulu, tapi arah jalan Se Ra terhalang oleh beberapa anak kecil dan troly belanjaan milik ibu-ibu. Dilihat dari reaksi tubuh Se Ra sepertinya ia kesal. Sebel sama anak kecil. Tae San terus memperhatikannya.

Sesampai di rumah Se Ra dan Tae San menyiapkan makanan, keduanya memasak bersama. Se Ra ingin tahu jam berapa Do Jin dan Yi Soo sampai. Tae San mengatakan sebentar lagi. Ia menyuruh Se Ra menambahkan minyak lalu dipanaskan. Se Ra mengerti dan segera mengerjakannya.

Tae San ingin mengatakan sesuatu tapi ia tak tahu memulainya dari mana. Ia mengatakan kalau ibunya ingin bertemu dengan Se Ra, ia pun bertanya kapan Se Ra memiliki waktu luang. Se Ra jelas terkejut mendengarnya. Ia menolak bertemu ibu Tae San.

Tae San merasa pembicaraan ini sangat penting ia pun mematikan kompor dan meminta Se Ra untuk duduk.

Tae San menanyakan apa Se Ra tak pernah berfikir untuk menikah dengannya. Se Ra balik bertanya kenapa Tae San tiba-tiba bicara tentang pernikahan. Tae San mengatakan bukankah Se Ra tahu kalau dirinya itu putra sulung. Ia kembali bertanya apa Se Ra benar-benat tak pernah berfikir untuk menikah dengannya.

Se Ra mengatakan kalau ia menyukai Tae San tapi pernikahan terlalu biasa untuknya. Tae San menyela kalau usia mereka malah sudah pantas untuk menikah yang kedua kalinya. Se Ra menyahut kalau itu untuk orang-orang pada umumnya tapi ia tak mau. "Kalau aku menikah bagaimana dengan karir olahragaku?"

Tae San tak masalah Se Ra bisa melanjutkan karir olahraga setelah menikah. "Kenapa kau bertingkah seolah-olah dunia akan kiamat kalau kau menikah?"

Se Ra berkata kalau karir golfnya akan berakhir begitu ia punya anak. "Kenapa kau mengatakan dunia akan kiamat? Apa kau pikir aku masih 25 tahun?"

Tae San kesal ini sungguh keterlaluan, saat ini ia benar-benar tak tahu harus mengatakan apa, "Kau benar-benar membuatku gila."

Tae San kecewa dan meminta Se Ra memberi tahu Do Jin dan Yi Soo kalau pesta hari ini batal. Ia meninggikan suaranya kenapa Se Ra begitu membenci pernikahan. Suara Se Ra tak kalah tinggi, ia mengatakan kalau ia memang membenci pernikahan baginya membuat keputusan juga sulit. Tae San menawarkan kalau ia akan membantu Se Ra kelak.

Se Ra: "Memangnya kau yang melahirkan? Kau anak sulung kan? Sekarang kau bicara pernikahan, bukankah itu sama saja dengan meminta cucu?"

Tae San: "Benarkah itu satu-satunya alasanmu?"

Se Ra: "Apa maksudmu?"

Tae San: "Apa bukan karena kau masih ingin bermain-main? Bagiku ini kedengarannya seperti alasan yang dibuat-buat. Aku tanya padamu, apa kau masih belum puas berpesta pora?"

Se Ra mengingatkan bukankah ketika mereka berdua memulai pacaran ia sudah mengatakan pada Tae San jangan penah bertanya tentang pernikahan. Tae San paham jadi maksud Se Ra sejak awal pacaran dengannya itu hanya sekedar untuk bersenang-senang kemudian putus. Se Ra membenarkan dan pastinya ada lebih dari satu alasan ketika ia membuat keputusan. "Baiklah kalau begitu kita cukupkan sampai disini. Kita putus!" ucap Se Ra kesal.

"Baik. Lagi pula kalau aku ingin menikah aku tak akan memilihmu!" Tae San melepas celemek yang ia kenakan dan membantingnya kemudian meninggalkan Se Ra sendirian di rumah dengan penuh amarah.

Se Ra menangis marah, ia menerima telepon dari temannya yang mengajak minum bersama. Se Ra tentu saja mau ia ingin melampiaskan kekesalannya dengan minum sebanyak-banyaknya.

Do Jin dan Yi Soo berada di dalam mobil. Sesekali Do Jin melirik ke arah Yi Soo yang dari tadi hanya tersenyum diam. Ia menilai kalau Yi Soo lebih sabar dari perkiraannnya, menyukainya seperti ini bagaimana mungkin Yi Soo bisa menahannya begitu lama.

Yi Soo mengangkat bahu dan mengatakan kalau cintanya pada Do Jin tak pernah berada pada pilihan antara hidup dan mati. Do Jin ikut-ikutan mengangkat bahu, bagaimana mungkin?

Yi Soo ingin tahu sekarang mereka berdua mau kemana. Do Jin menjawab ke rumah. Yi Soo bertanya ke rumah siapa. Do Jin balik bertanya memangnya ada rumah lain yang ingin Yi Soo tuju, apa Yi Soo mau pergi ke rumah Tae San. Yi Soo mendelik kesal. Do Jin kembali bertanya kalau begitu apa Yi Soo mau bepergian dengannya.

Do Jin memberi tahu kalau hari ini pesta peresmian bar rumah Se Ra. Sebagai teman serumah kenapa Yi Soo tak tahu, kalau Yi Soo tak mau menghadirinya lebih baik bepergian saja dengannya. Yi Soo jelas tak mau bepergian.

Yi Soo minta ijin bolehkah ia menyalakan musik. Ia akan menyalakan radio mobil tapi Do Jin melarang. Do Jin yang akan menyalakannya. "Betty-ku belum mengizinkanmu menyentuh tubuhnya!"

"Kau menyukai Betty atau aku?" Tanya Yi Soo kesal.

Do Jin tak tahu bagaimana menjawabnya, ia serba salah dan mengalihkan ke pembicaraan lain.

"Kau menyukai Betty atau aku?" Yi Soo tambah kesal.

"Aku akan menjawabnya setelah kita keluar dari mobil."

"Kenapa?"

"Betty akan mendengarnya," sahut Do Jin pelan.

Hahaha...

Keduanya sampai di rumah, tapi suasana rumah sepi tak ada orang. Yi Soo mengira Do Jin berbohong. Tapi Do Jin mengatakan kalau ia tak bohong dan menunjukan di dapur ada bahan makanan yang berserakan. Do Jin menebak sepertinya terjadi sesuatu sampai mereka berhenti memasak. Ia menebak Se Ra dan Tae San pasti bertengkar. Yi Soo tak percaya tapi Do Jin meyakinkan kalau mereka memang pasangan yang seperti itu.

Untuk memastikannya Yi Soo berniat menelepon Se Ra. Belum sempat Yi Soo menelepon Tae San mengirim SMS pada Do Jin memberitahukan kalau makan malam bersamanya batal. Do Jin pun mengajak Yi Soo menyelesaikan bahan makanan yang belum dimasak. Yi Soo masih tak yakin kalau Se Ra dan Tae San bertengkar.

Do Jin melepas jaket dan menaruhnya di kursi tapi Yi Soo menyuruh Do Jin menaruh jaket di kamarnya saja kalau ditaruh di dapur takut bau. Do Jin mengerti dan segera menaruh jaketnya di kamar Yi Soo.

Yi Soo akan memakai celemeknya tapi ia menyadari satu hal dan ia kaget setengah mati. Ia bergegas ke kamarnya.

Dengan wajah penasaran Do Jin melihat 5 pasang pakaian dalam Yi Soo yang terjejer di tempat tidur. hahaha... ia mengamatinya satu demi satu.

Yi Soo tentu saja panik dan segera menutupi ke 5 pasang pakaian dalamnya dengan selimut, "Kenapa kau memandangai pakaian dalam orang lain?"

"Kau membentangkannya, apa bukan karena ingin kupilihkan?"

Yi Soo mendorong Do Jin agar cepat keluar. Do Jin mengatakan kalau itu ukurannya tidak pas ia melihat kalau ukurannya terlalu besar. Yi Soo menjelaskan kalau ukurannya memang segitu bagaimana bisa tidak pas. Yi Soo terus mendorong Do Jin supaya keluar dari kamarnya.

Do Jin memberi tahu kalau ia tidak terlalu suka yang belakangnya bersilangan atau yang bentuk selempangan, itu sangat mengganggu. Yi Soo makin panik dan menaboki Do Jin menyuruh cepat keluar.

"Tapi kenapa kau membeli lima?"

"Aku hanya kebetulan saja membelinya," kata Yi Soo menjawab seadanya supaya Do Jin cepat keluar dari kamarnya.

Yi Soo menyuruh Do Jin lebih baik membersihkan meja saja dan juga kalau nanti Do Jin mencampuri kehidupan pribadinya lebih baik Do Jin berhati-hati. Yi Soo juga memperingatkan ia minta Do Jin menghentikan perilaku Do Jin yang seperti itu.

Do Jin mengunci tubuh Yi Soo di meja dapur sambil memandangnya tajam, "Aku paling suka yang nomor 3 dari bra yang baru saja kita lihat,"

"Dari kiri atau kanan?" tanya Yi Soo.

"Semuanya ada lima," sahut Do Jin (yang ditengah dong haha)

Yi Soo malu tapi ia mencoba mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan kalau ia lapar. Hahaha

Keduanya pun makan bersama. Sepertinya Do Jin tak menyukai wortel, ia menyingkirkannya. Do Jin menyahut kalau ini pertama kalinya mereka makan bersama. Yi Soo membenarkan sambil memperhatikan dan berkata sepertinya Do Jin pilih-pilih makanan kenapa wortelnya tak dimakan.

"Apa karena aku belum dewasa?" Sahut Do Jin. Yi Soo tertawa dan beralih memandang pena recorder yang ada di saku baju Do Jin. Yi Soo merasa sepertinya semua masa lalu Do Jin tersimpan disana kata Yi Soo sambil memandang pena recorder. Do Jin meralatnya ia mengatakan kalau lebih tepatnya tersimpan di komputer, ia selalu memindahkannya setiap hari.

Yi Soo memberi tahu kalau ia sudah mendengar tentang Rahasia Kehidupan Pribadi Kim Do Jin yang ada di laptop itu benar-benar dunia yang tak ia mengerti. Do Jin menyahut bukankah sangat jorok dan menarik. Yi Soo kembali tertawa dan berfikir kalau ia mengencani pria ini pasti akan sangat jorok dan menarik.

Yi Soo: "Tak peduli apakah aku tahu atau aku tak tahu. Apakah di depanku atau di belakangku terima kasih karena sudah menyukaiku."

Do Jin menggunakan kesempatan ngobrol ini untuk menanyakan kenapa Yi Soo menyukai Tae San. Yi Soo tak mau membahasnya ia mengalihkannya dengan mengatakan ia penasaran bagaimana kabar Eun Jae. Ia melihat kalau Eun Jae terlihat muda dan bertanya berapa usianya.

Do Jin berkata kalau perkembangannya sangat cepat, menggunakan masa lalunya untuk memperjuangkan kasih sayangnya tapi Yi Soo berpura-pura cuek. Ia merasa Yi Soo benar-benar melakukan tiga hal sekaligus. Yi Soo menanyakan memangnya memiliki banyak wanita layak untuk dipamerkan. Do Jin menjawab ya dan menurutnya itu bukan sesuatu yang memalukan. Kalau tak begitu apa yang harus ia lakukan, bukankah Yi Soo juga mengejarnya.

Yi Soo meninggikan suaranya kembali bertanya berapa usia Eun Jae. Do Jin menjawab kalau dia lebih muda dari Yi Soo, seorang mahasiswa pascasarjana. Yi Soo tanya lagi siapa nama belakangnya (nama keluarga), "Eun Jae siapa?"

"Sexy Eun Jae," sahut Do Jin hehe.

Yi Soo kesal mendengarnya. Do Jin bertanya kenapa Yi Soo ingin tahu soal itu. Yi Soo mengatakan kalau wanita sangat wajar jika penasaran dengan hal-hal semacam itu. Do Jin mmberi tahu nama belakang Eun Jae itu Kim. Jadi namanya Kim Eun Jae. Yi Soo menilai nama itu terdengar sangat umum.

Do Jin mengusulkan apa mungkin sebaiknya ia memberikan daftar nama mantan pacarnya pada Yi Soo. Yi Soo tambah kesal meminta Do Jin melupakan saja apa yang ia tanyakan dan sekarang lebih baik Do Jin pergi. Do Jin tanya kemana apa bepergian. Yi Soo mengeraskan suara meminta Do Jin pulang, bukankah keduanya sudah selesai makan. Ia makin kesal karna Do Jin pilih-pilih makanan.

Yi Soo membuka pintu agar Do Jin cepat pergi. "Pulanglah! Hati-hati di jalan dan sampai bertemu dimusim mendatang."

Do Jin heran kenapa Yi Soo tiba-tiba marah. Ia mendapat SMS, 119 gawat darurat

Tae San melamun di kamarnya ia memandang ponsel dan rancangannya. Ia bergumam bahwa ia akan bertahan sampi akhir.

Tiba-tiba Meari masuk ke kamarnya bertolak pinggang marah. Kenapa kakaknya selalu menghindari telepon ibunya sampai-sampai ibu memintanya untuk menangkap kakaknya dan memastikan kakaknya akan menelepon ibunya. Meari menghubungkan teleponnya ke ibunya. Tapi Tae San malah mematikannya.

Tae San meminta Meari mengatakan pada ibu kalau ia sedang dalam perjalanan bisnis di belahan dunia lain. Chili, Peru, Brazil atau tempat yang seperti itu.

Meari kesal kenapa. Tae San memohon Meari melakukan apa yang dikatakannya, ia tahu kalau ibu menginginkannya segera menikah. Meari menawarkan kalau kakaknya bertingkah seperti ini lebih baik ia saja yang duluan menikah.

Tae San jelas tak mau, "Apa kau pikir aku menghabiskan biaya sekolahmu di luar negeri hanya agar kau menjadi ahjumma di usia 24 tahun?"

Meari juga kesal ia mengingatkan kakaknya jangan biarkan ibu meneleponnya lagi. Kalau ibu meneleponnya lagi ia mengancam akan membuka rahasia Se Ra. Tae San mendapat SMS yang sama seperti yang diterima Do Jin, 119 gawat darurat

Keempatnya berkumpul di rumah Do Jin. Yoon menyampaikan kalau Min Suk ingin datang ke kantornya dengan membawa stempel. Tae San bertanya apa Min Suk masih ingin mengakhiri kontrak sewa gedung. Yoon berkata bukan tentang sewa gedung tapi ingin mengakhiri pernikahan. Ia baru saja menerima pemberitahuan itu dari Min Suk.

Yoon merasa kali ini tampak sangat aneh jika dibandingkan dengan 2-3 kali permintaan cerai yang Min Suk ajukan setiap tahunnya, ada perbedaan yang sangat mencolok. Jung Rok menyahut kalau berita pengajuan cerai istrinya bukan hal yang baru, ia menilai teman-temannya ini terlalu melebih-lebihkan.

Ketiganya jelas kesal Jung Rok bersikap santai. Tae San berkata bukankah Yoon bilang ada perbedaan yang sangat mencolok apa Jung Rok bener-benar tak berencana menghabiskan hidup dengan Min Suk.

Jung Rok: "Lalu dengan siapa lagi?"

Tae San: "Bukan begitu, aku bertanya apakah kau mencintai Min Suk?"

Jung Rok menjawab tentu saja, ia berkata kalau ia hanya minum teh dengan wanita lain. Ia tak tidur dengan mereka atau membelikan mereka rumah. Do Jin membenarkan apa yang dikatakan Jung Rok. Yoon menyela benar apanya, lalu kemana Jung Rok ketika berbohong pada mereka waktu itu. Jung Rok berkata kalau ia hanya menyelesaikan beberapa masalah. Tae San tanya masalah apa, ia menebak apa masalah Baek Hae Joo. Jung Rok tertawa mengatakan kalau itu sudah lama berlalu. Yoon menebak apa masalah Presdir Kang.

Jung Rok meyakinkan kalau bukan tentang masalah itu. Ini hanya masalah wanita, bukan tentang kencan atau perselingkuhan juga bukan berhubungan dengan wanita simpanan. Ia tak bisa memberi tahu lebih lanjut mengenai ini. Tae San bergumam kesal masalah Se Ra saja sudah membuatnya pusing. Ia ingin tahu apa yang akan Jung Rok lakukan selanjutnya. Jung Rok berfikir tentang apa yang akan ia rencanakan untuk menghambat Min Suk mengajukan gugatan cerai.

Yi Soo menunggu kabar dari Do Jin. Ia mengira-ngira apa telah terjadi sesuatu, paling tidak seharusnya ia bertanya. Yi Soo menebak Do Jin tak akan menemui Kim Eun Jae itu kan.

Yi Soo pun berusaha mencari tahu siapa itu Eun Jae lewat Facebook hehehe. Tapi banyak yang namanya Kim Eun Jae. Kalau saja namanya jarang dimiliki pasti akan mudah menemukannya. Ia pun kesal dengan yang dilakukannya dan melanjutkan pekarjaannya. Membuat soal ujian.

Ada yang menelepon Yi Soo. "Apakah anda wali dari Kim Dong Hyub." Yi Soo kesal ulah apa lagi yang dilakukan anak itu. Si penelpon mengatakan kalau ia dari rumah sakit.

Yi Soo bergegas ke rumah sakit dan mendapati Dong Hyub terbaring penuh luka. Yi Soo panik dan bertanya kenapa Dong Hyub bisa babak belur seperti ini, apa kecelakaan mobil? Bagaimana bisa? Mana yang terluka?

Dong Hyub meminta gurunya lebih baik bertanya pada dokter saja. Yi Soo kembali bertanya apa yang terjadi, berkelahi dengan siapa lagi?

Perawat datang dan bertanya apa Yi Soo wali dari Kim Dong Hyub. Yi Soo membenarkan ia bertanya apa yang terjadi dengan Dong Hyub apa lukanya parah. Perawat mengatakan kalau ia sudah menyelesaikan perawatannya, tapi Yi Soo harus memutuskan siapa yang akan membayar tagihannya karena orang itu tak mau membayarnya.

Ada seorang wanita masuk dan marah-marah pada Dong Hyub, "Hei bukankah kau hanya mengantarkan saja kenapa kau membuat dirimu sendiri mengalami kecelakaan? Bagaimana dengan motornya? Kau benar-benar pengacau. Ini terjadi karena kelalaianmu sendiri. Jadi kau urus saja sendiri. Aku tak akan membayar tagihan pengobatannya dan biaya perbaikan motor akan kuambil dari gajimu. Mengerti?"

Dong Hyub: "Kenapa anda setega itu?"

"Memangnya aku yang mendorong dan menyebabkanmu mengalami kecelakaan? Apa aku yang mendorongmu? Jangan pernah menghubungiku lagi." Ucap wanita itu kasar. Kini Yi Soo pun paham apa yang terjadi dan wanita ini adalah bos Dong Hyub tempat Dong Hyub kerja paruh waktu.

Yi Soo ingin bicara sebentar dengan wanita itu. Ia mengatakan kalau ia paham wanita itu pasti seorang Bos yang menjalankan bisnis di Korea. "Kelihatnnya anak ini bekerja sebagai juru antar di toko Anda."

"Lalu kenapa?" tanya wanita itu judes.

Yi Soo: "Apa anda tahu kalau hukum melarang mempekerjakan anak dibawah umur? Siswaku usianya dibawah 18 tahun, apa anda tahu? Menjadwalkannya bekerja di malam hari sudahkah anda meminta persetujuannya? Gajinya harus ditambah 50%. Apakah anda sudah membayarnya? Diluar sekolah dia tak boleh bekerja lebih dari 7 jam. Apakah itu sudah anda penuhi? Apakah sepeda motor anda diasuransikan?"

"Kau ini siapa?" tanya wanita itu meninggikan suaranya. "Siapa kau berlagak tahu segalanya."

"Dia waliku," jelas Dong Hyub.

Yi Soo mengatakan kalau ia wali kelas Dong Hyub, "Sudahkah anda mendengar apa yang kukatakan tadi? Jika anda tak mendapat persetujuan dari karyawan anda dendanya akan sangat tinggi."

"Jadi kau seorang guru," ucap wanita itu memelankan suaranya. "Yang harus kulakukan hanya membyar tagihan pengobatannya kan?"

Yi Soo: "Anda tentu saja harus membayar tagihan pengobatannya. Tapi bagaimanapun, aku akan tetap melaporkan kasus ini ke polisi."

Yi Soo meminta Dong Hyub memberitahunya bagaimana menghubungi orang tua Dong Hyub. Bos Dong Hyub jelas tak mau membawa masalah ini ke polisi, ia menyela obrolan Yi Soo dengan Dong Hyub. Yi Soo berkata bukankah wanita ini melihat kalau ia sedang bicara dengan muridnya. Si wanita langsung mengerti dan segera pergi.

Dong Hyub senang dengan apa yang dilakukan gurunya, karena itu ia menyukai gurunya. Yi Soo memarahi Dong Hyub meminta berhenti bicara omong kosong, bukankah Dong Hyub bilang akan mengikuti kursus, karena itulah ia tak pernah menyuruh Dong Hyub mengikuti kelas malam. Ia meminta Dong Hyub memberikan nomor telepon orang tua Dong Hyub.

Dengan suara pelan Dong Hyub berkata kalau ia tak pernah memberi tahu kalau ia sudah tak memiliki orang tua. Ibunya meninggalkan rumah ketika ia masih SMS. Sedangkan Ayahnya pasti sedang mabuk-mabukan entah dimana.

Dong Hyub tertawa miris meminta gurunya menjadi walinya hari ini. Yi Soo ingin ada timbal balik, sebagai balasannya apa yang akan Dong Hyub lakukan untuknya.

Dong Hyub: "Bagaimana mungkin seorang guru meminta sesuatu kepada muridnya?"

Yi Soo berharap murid dari kelasnya bisa memperoleh nilai yang bagus. Kalau tak bisa setidaknya mereka memiliki sifat yang baik, ia berharap semua orang bisa bahagia, memiliki mimpi. Ia juga berharap semua orang percaya bahwa dengan usaha mereka bisa meraih apa saja. Ia berharap mereka tak akan menyalahkan kelemahan mereka atas kegagalan mereka dengan sibuk bermain-main dan menjadikan masa muda mereka sia-sia dengan melakukan kenakalan remaja. "Diantara semua itu, mana yang akan kau lakukan untukku?"

Dong Hyub bilang kalau ia akan memikirkannya. Yi Soo berkata kalau Dong Hyub sudah berjanji. Dong hyub tak ingin membahasnya ia ingin memikirkannya lebih dalam ia beralasan mau tidur karena lelah dan segera memiringkan tubuhnya.

Di kantor Yoon di gedung yang sama dengan kafe Mango Six. Jung Rok bertanya apa maksud temannya, kalau bukan ketiga temannya yang membantu membujuk istrinya lalu siapa lagi. Seperti sebelumnya, ia hanya perlu menulis surat perjanjian kalau ia berjanji hal itu tak akan terjadi lagi, bukankah itu cukup.

Ketiga temannya diam, Jung Rok tak habis pikir kenapa ketiganya jadi seperti ini. Apakah ia harus benar-benar bercerai. Kalau ia bercerai ketiga temannya mungkin akan ditendang dari gedung kantor yang ditempati dan kalian juga akan mengalami kerugian.

Min Suk datang dan mendengar yang keempatnya bicarakan.

Tae San meminta Jung Rok berfikir apa sebelumnya mereka menolong Jung Rok hanya gara-gara gedung kantor. Sebenarnya semua akan beres kalau mereka pindah dari gedung kantor itu, mereka hanya perlu membayar tambahan 2jt won untuk biaya sewa lalu bisa hidup damai selamanya. "Tapi setiap waktu dengan mengubah kehidupan seorang wanita akan mempengaruhi nasib sahabat kami karena itulah sebelumnya kami selalu berada dipihakmu. Sekarang sudah saatnya kau berubah!"

Jung Rok berkata bagaimana mungkin ia berubah, Apa yang harus diubah, karena inilah dirinya bukankah ketiga temannya ini tahu."

Yoon jelas tak menyangka kalau ternyata ia sendiri yang akan mengurus proses perceraian Jung Rok, "Walaupun kadang-kadang kami menjadi alibimu untuk keuntungan kami sendiri, tapi apa hanya untuk itukah kami melakukannya? Kami dengan tulus berharap kalau kau dan istrimu akan bahagia bersama-sama."

Jung Rok kecewa apa ketiga temannya ini sungguh-sungguh apa menurut temannya ia tak murah hati. Apa ketiganya benar-benar ingin melihatnya bercerai. Ketiga temannya diam. Jung Rok melihat Do Jin yang dari tadi diam saja.

Do Jin: "Apa kau ingin aku bicara jujur? Kalau bukan karena mereka berdua (Tae San dan Yoon) aku sudah memutuskan persahabatan kita sejak dulu. Kau sudah melampaui batas pertolongan kami."

Jung Rok merasa Do Jin sangat tega mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan itu. Tae San bertanya selama sepuluh tahun pernikahan Jung Rok dengan Min Suk berapa hari Jung Rok tak membuat Min Suk sedih, karena mereka bertiga teman Jung Rok maka mereka memahaminya tapi sekarang walaupun Jung Rok temannya mereka tak bisa membenarkan lagi.

Yoon menyampaikan kalau Hwa Dam dan Myung Yu sudah memutuskan untuk pindah dari gedung milik Min Suk. Jung Rok kaget dan menilai ketiga temannya sungguh keterlaluan. Yoon meminta ketiga temannya segera pergi karena sebentar lagi Min Suk akan datang.

Jung Rok meyakinkan Yoon kalau ia masih mencintai Park Min Suk dan perasannya tak pernah berubah. Walaupun mulai hari ini ia akan kehilangan Yoon juga, tapi ia memohon Yoon menolong untuk yang terakhir kalinya sebagai teman. Jung Rok memohon Yoon membantu membujuk istrinya. Ia tak bisa hidup tanpa Min Suk. Siapa lagi yang mau menerima pria brengsek seperti dirinya, ia tak bisa kehilangan istrinya.

Yoon tak bisa berbuat banyak, kedua teman yang lain juga hanya bisa diam dan Park Min Suk mendengar semua pembicaraan mereka.

Jung Rok duduk melamun di kafenya memikirkan semua yang akan terjadi kalau benar istrinya akan mengajukan gugatan cerai terhadapnya. Tepat saat itu ketiga temannya datang.

Jung Rok berdiri menatap pasrah ketiga temannya, tatapannya sendu tapi lama kelamaan ada tawa tersungging di bibirnya. Ia berteriak senang memeluk ketiga sahabatnya bergantian.

Jung Rok memberikan tepuk tangan untuk ketiganya dan berkata kalau akting ketiga temannya sangat menakjubkan (Lha jadi tadi cuma akting doank ya hahaha...) Yoon kesal apa sebenarnya yang mereka lakukan apa hanya karena Jung Rok. Do Jin merasa kalau Jung Rok selalu membuat masalah.

Tae San menyahut lebih mudah mengendalikan dunia daripada mengendalikan Jung Rok. Jung Rok tak peduli karena menurutnya Park Min Suk benar-benar sudah termakan rencananya. Ia menilai kalau tadi yang diucapkan Do Jin terdengar sangat tulus. Do Jin berkata kalau tadi ia memang benar-benar tulus. "Ketika kita berbohong 99% itu kebenaran yang palsu hanya pesan yang disampaikan saja."

Jung Rok mendapat SMS dari istrinya, ia tercengang ketika membaca SMS itu. Ia pun menunjukkan pesan itu pada ketiga temannya. Ketiganya membaca dan jelas sangat panik.

Aku menikmati tontonannya, akting kalian benar-benar menyentuh. Kuberi kalian satu setengah bintang.

Tae San bergumam kalau Min Suk dan Jung Rok tak bisa hidup bersama. ketiganya jelas tambah kesal atas apa yang mereka lakukan tadi. Ketiganya langsung lari terburu-buru untuk menemui Min Suk. Jung Rok cuma bisa terdiam bengong, "Kenapa? Guys, kalian mau kemana?"

Ketiganya membawa bingkisan yang akan mereka tujukan untuk Min Suk. Mereka saling mendorong siapa yang harus mengetuk pintu dan tentu saja Yoon yang selalu jadi tumbal hehe. Yoon gelisah kenapa selalu dirinya. Do Jin meminta lakukan saja karena Min Suk paling mempercayai Yoon.

Dengan penuh percaya diri Yoon akan mengetuk tapi ketukannya sangat pelan, kedua temannya menyuruh Yoon mengetuk lebih keras. Yoon mengerti ia pun mengetuk pintu lebih keras tapi itu membuat dirinya dan kedua temannya kaget.

"Kenapa kau mengetuknya keras-keras?"

"Bukankah kalian bilang dia tak bisa mendengarku?"

Hahaha...

Yi Soo selesai mandi, ia duduk di depan meja rias menatap tulisan yang berisi tentang 7 petunjuk cinta bertepuk sebelah tangan. Yi Soo menggaris bawahi yang nomor 7 Datang ke rumahku tanpa memberi tahu lebih dulu hingga aku merasa tersentuh

Yi Soo berdandan cantik, ia melihat penampilannya di kaca. Yi Soo mengambil sepatu merah pemberian Do Jin. Ia teringat ketika Do Jin memberikan sepatu itu Do Jin ingin Yi Soo memakainya ketika bertemu dengan Do Jin selanjutnya, ketika cuaca cerah berdandanlah yang cantik. Yi Soo pun memakainya. Ia melihat lagi penampilan sempurnanya di kaca.

Mereka berempat ke rumah Do Jin lagi. Keempatnya tampak lemas. Yoon bertanya pada Jung Rok apa tak ada kabar dari Min Suk. Jung Rok tak menjawab ia memiringkan tubuhnya dan mendapat timpukan sandal dari ketiga temannya.

Tae San tak tahu lagi harus bagaimana. Do Jin bertanya apa yang Tae San ributkan dengan Hong Pro, apa tak bosan terus-terusan bertengkar lebih baik menikah saja. Tae San menjelaskan kalau ia bertengkar gara-gara masalah pernikahan. Tahun depan usia ayahnya sudah 70 tahun. "Belum pernah sekalipun mengkhawatirkan orang tuaku, semasa SMS atau ketika mencari kerja. Sekarang aku sudah setua ini tapi aku masih belum berbakti."

Jung Rok membenarkan kalau Tae San memang kurang berbakti. Ketiga temannya berteriak meminta Jung Rok diam dan kembali Jung Rok mendapat timpukan sandal dari teman-temannya.

Ada yang menekan bel rumah, Do Jin membuka pintu dan melihat Yi Soo berdiri tersenyum malu-malu. Do Jin jelas terkejut tak menyangka Yi Soo akan datang. Ia jelas senang tapi di rumahnya ia sedang berkumpul dengan teman-temannya.

Ketiga teman Do Jin menyambut kedatangan Yi Soo. Yi Soo minta maaf sudah mengganggu karena kedatangannya ingin menemui Do Jin. Ia tak menyangka kalau ketiganya ada disini. Ketiganya tak masalah dan menyuruh Yi Soo masuk.

Tapi ada seorang lagi yang datang, Siapa itu?

Colin.

Yoon dan Jung Rok yang pernah bertemu dengan Colin merasa aneh kenapa Colin datang ke rumah Do Jin. Do Jin bingung dan bertanya siapa.

Colin memperkenalkan dirinya, "Aku datang kesini untuk menemui kalian berempat. Senang bertemu dengan kalian, aku putra Kim Eun Hee."

Ok mereka berempat jelas terkejut tak menyangka putra cinta pertama mereka datang menemui mereka.

Yi Soo menatap tak mengerti.

Episode-12        

Mereka berempat berkumpul di Mango Six, wajah mereka terlihat sangat tertekan.

Suara Do Jin: "Pada suatu hari 3 tahun yang lalu. Walaupun kami bukan wanita hamil atau anak kecil. Sebagai upaya untuk menjadi manusia dewasa yang lebih baik kami menyetujui usulan Yoon untuk berhenti merokok. Kami bertekad untuk berhenti merokok."

Mereka berempat mengerluarkan rokok dan korek dari saku mereka. Tapi Do Jin, Yoon dan Jung Rok menatap curiga Tae San. Akhirnya Tae San pun mengeluarkan semua rokok yang masih ada di sakunya.

Tae San mengeluarkan plastik yang akan digunakan untuk membungkus semua rokok itu. Satu persatu rokok masuk ke kantong plastik. Wajah mereka berempat terlihat sungguh mengenaskan seperti meninggalkan sesuatu milik mereka yang sangat berharga.

Dan hari dimana mereka tak merokok pun dimulai, sungguh sulit mereka lalui. Gelisah, tegang, emosional, panik semua campur aduk jadi satu. Mereka berusaha menghilangkan rasa keinginan untuk merokok dengan meminum jus.

Jung Rok kesal apa yang harus mereka makan ia meminta temannya cepat memutuskan. Tae San juga kesal makan apa saja. Do Jin meningggikan suaranya memarahi Tae San, "Kenapa kau marah? Kenapa makan apa saja?"

"Cepat putuskan!" Yoon tak kalah galak. Ia menyenggol kaki Jung Rok supaya memesan makanan sekarang. Jung Rok ikutan marah, "Memangnya aku harus cepat-cepat hanya kerena kau menyuruhku untuk cepat. Apa kau pamer hanya karena kau pengacara?"

Keempatnya terus beradu mulut melampiaskan emosi mereka.

Suara Do Jin: "Berpisah dengan rokok, sama seperti ketika seorang wanita mengalami menopouse. Kami menjadi super sensitif karena itulah kami mencari cara pertahanan diri masing-masing untuk melampiaskannya."

Tae San memilih berolah raga. Ia melakukan fitnes. Ada seorang pria di sebelahnya, ia mencium bau sesuatu dari tubuh pria yang baru datang. Ia menciumi aromanya. Ternyata itu aroma rokok. Si Pria itu tentu saja terkejut ia takut Tae San berbuat tak senonoh padanya. Tae San terus menciumi aroma tubuh dari pria itu.

Yoon, dia memilih makan cemilan. Di meja kerja Yoon tergeletak berbagai macam cemilan, mulai dari snack sampai permen. Yoon memegang pena dan tangannya gemetaran seperti memegang rokok. Ia mengambil lolipop dan langsung mengemutnya tapi tangannya tetap saja gemetaran.

Yoon ganti memakan snack tapi cara dia memegangnya sudah seperti memegang rokok dan ia lupa kalau itu bukan rokok melainkan snack. Ia menghisap seolah ia betul-betul menghisap rokok.

Jung Rok, ia berada di kamar bersama istrinya. Ia bertanya Min Suk tak lelah. Ia mengajak istrinya tidur. Min Suk kesal dan menyuruh suaminya lebih baik merokok saja. Tapi jung Rok tak mau ia menarik istrinya ke balik selimut. Jung Rok memilih kegiatan yang dilarang untuk ditonton anak dibawah umur.

"Dan aku? Aku mulai bercocok tanam." Do Jin tersenyum membersihkan tiap helai daun yang ia rawat.

Tapi tiba-tiba tatapannya menjadi garang, ia menggunduli semua tanamannya. Menumbuk daun dan menghisap gulungan kertas seolah itu adalah rokok.

"Walaupun prosesnya sangat lamban pada akhirnya kami berhasil."

Sinopsis A Gentlemans Dignity Episode 12

Yi Soo sampai di depan lift apartemen Do Jin. Ada yang akan masuk lift bersama dengannya, Colin. Yi Soo kaget melihat pemuda yang sebelumnya pernah ia temui. Colin juga tak menyangka akan bertemu lagi dengan Yi Soo. Yi Soo bertanya apa Colin tinggal di apartemen ini. Colin malah balik bertanya apa ia harus tinggal disini. Keduanya masuk lift bersama.

Yi Soo ingat kalau Colin ini anak sekolahan tapi pernah berada di klub malam. Colin tak menanggapi ia malah bertanya lantai berapa. Yi Soo menjawab lantai tujuh. Ternyata tujuan keduanya sama. Colin menyahut kalau mengenai masalah klub malam batas waktu pelaporannya sudah berakhir jadi lupakan saja.

Keduanya sampai di lantai 7. Yi Soo mengingatkan kalau Colin pergi ke tempat seperti itu lagi ia akan memberi tahu orang tua Colin. Yi Soo menyuruh Colin pergi. Ia pun segera ke apartemen Do Jin.

Yi Soo akan menekan bel tapi ia kembali terkejut Colin ada di sampingnya. Yi Soo mengira Colin mengikutinya. Colin berkata kalau ia juga ke rumah ini. Colin menekan bel rumah. Yi Soo bingung ada urusan apa Colin dengan pemilik rumah ini.

Mereka berempat mendengar ada seseorang yang menekan bel. Do Jin tanya siapa itu. Tae San juga bertanya apa Do Jin sedang menunggu seseorang, Do Jin menjawab tidak. Do Jin bertanya apa ada yang memesan makanan temannya bilang tidak.

Do Jin membuka pintu dan ia melihat Yi Soo tersenyum malu-malu datang ke rumahnya. Do Jin jelas tak menyangka. Ketiga temannya menyambut kedatangan Yi Soo.

Ternyata ada tamu lain selain Yi Soo, Colin. Do Jin tak mengenalnya, ia baru pertama kali ini bertatap muka dengan pemuda itu. Jung Rok dan Yoon yang sudah pernah bertemu merasa heran kenapa Colin datang ke rumah Do Jin. Do Jin pun bertanya siapa Colin.

Colin memperkenalkan dirinya, "Aku kesini untuk menemui kalian berempat. Senang bertemu dengan kalian. Aku putra Kim Eun Hee."

Oh God, keempatnya jelas sangat terkejut putra cinta pertama mereka hadir menemui mereka. Jung Rok tak menyangka kalau putra Eun Hee itu Colin yang sudah pernah ia temui sebelumnya. Begitu juga dengan Yoon, karena beberapa waktu yang lalu Colin pernah berkonsultasi dengannya.

Do Jin wow... Entah apa yang ada dipikirannya yang pasti ia jelas terkejut. Ia terus menatap pemuda yang baru ia temui ini. Colin juga menatap Do Jin.

Jung Rok masih belum yakin apa benar Colin putra Kim Eun Hee. Yoon juga masih belum percaya. Ia menyahut bukankah Colin datang ke kantornya dan mengunjung kafe tempat Meari kerja (Yoon tak mengatakan maksud kedatangan Colin menemuinya) Tae San kaget Colin kenal juga dengan Meari. Jung Rok berbasa-basi kalau Colin mirip dengan Eun Hee jadi persilakan masuk dulu katanya.

Do Jin terus memandang Colin, Yi Soo menatap Do Jin dan Colin bergantian dengan tatapan tak mengerti apa sebenarnya yang terjadi. Do Jin menyuruh Colin masuk. Colin memberi salam selamat tinggal pada Yi Soo.

Do Jin keluar, Yi Soo mengerti dan mengikutinya. Colin disambut hangat oleh Yoon, Tae San dan Jung Rok. "Kau cukup tampan. Siapa namamu? Kalian sangat mirip."

Do Jin berjalan lebih dulu menuju lift, Yi Soo mengikutinya. Di depan lift Do Jin minta maaf Yi Soo terpaksa pulang lebih dulu karena ada tamu yang tak diduga. Yi Soo ingin tahu siapa dia. Do Jin belum bisa mengatakannya ia akan memberi tahu Yi Soo lain waktu.

Yi Soo keluar dari lift, wajahnya masih memancarkan rasa penasaran dan was-was. Ia ingin tahu semuanya, ia berbalik menatap Do Jin yang berada di dalam lift. Do Jin mengingatkan jangan lupa meneleponnya, pintu lift pun tertutup. Tapi sesaat kemudian terbuka lagi.

Do Jin tersenyum, "Sepatu itu sangat cantik cuaca hari ini juga cerah. Sampai bertemu lagi." Dan pintu lift pun kembali tertutup.

Tae San masih tak percaya apa Colin benar-benar putra Kim Eun Hee, ia ingin tahu berapa usia Colin. Colin mengatakan kalau ia lahir tahun 1995. Do Jin yang berdiri sambil menyedu suplemennya terkejut.

Yoon ingat kalau pertemuan pertama dengan Eun Hee ketika itu Daejeon Expo diselenggarakan tahun 1993. Tae San menyahut kalau saat itu Eun Hee pergi dan menghilang dan pasti dia bertemu dengan ayah Colin setelah itu. Colin mengatakan kalau ia hanya mendengar ibunya mengatakan tentang cinta yang menggebu. Do Jin tak ikut bicara ia hanya mendengarkan apa yang disampaikan Colin.

Tae San penasaran bagaimana Colin bisa kenal dengan Meari. Colin memberi tahu kalau ia bertemu dengan Meari di pesawat dari Jepang ke Korea. Tae San menebak apa sekarang Eun Hee berada di Jepang. Colin membenarkan. Yoon tanya lalu kenapa Colin berada di Korea. Jung Rok menyahut kalau Colin kabur dari rumah. Colin menyangkal ia mengatakan kalau ia melakukan perjalanan.

Yoon mengira-ngira kalau Colin lahir tahun 1995 berarti masih SMA ia heran kenapa Colin tak sekolah malah bepergian. Colin mengatakan kalau di Jepang SMA itu tak wajib. Jung Rok juga bertanya kenapa Colin mencari mereka berempat. Colin mengatakan kalau uangnya sudah habis dan tak punya tempat tinggal di Korea. Ia bermaksud merepotkan mereka berempat selama beberapa hari.

Tae San ingin tahu apa Eun Hee yang menyuruh Colin menemui mereka berempat. Colin mengatakan kalau ibunya tak tahu ia ada disini. Tapi ibunya sering membicarakan mereka berempat.

"Siapa? Siapa diantara kami berempat?" Tae San bersemangat ingin tahu. Jung Rok menebak pasti ia yang sering disebut Ibu Colin.

Do Jin menyela apa teman-temannya tak lelah. Ia mengucapkan selamat datang pada Colin. "Karena kau putra Kim Eun Hee kau boleh bersandar sepenuhnya pada kami. Kau boleh tinggal selama beberapa hari." Do Jin menyarankan Colin tinggal di hotel perusahaan.

Colin: "Apa Paman menginginkanku tinggal di hotel?"

Do Jin: "Kenapa? Apa kau mau uang tunai?"

Colin menjawab bukan itu, sebenarnya ia ingin tinggal di rumah paman ini katanya sambil menunjuk Tae San. Karena ketika ibunya melihat foto mereka berempat dia terus menyebut paman ini.

Tae San jelas saja senang ia tak menyangka Eun Hee menyebut namanya di depan Colin. Jung Rok tak percaya pasti Colin salah dengar. Tae San dengan sombongnya bilang kalau yang disebut itu dirinya. "Apa? Kereta api ke Chuncheon? Tertinggal kapal terakhir? Bagaimana mungkin kau membiarkan anak ini tinggal di hotel?"

Tae San mengajak Colin ke rumahnya. Jung Rok melambai mengucapkan selamat jalan sambil duduk manis menopang kakinya. Do Jin bertanya kenapa Jung Rok tak ikut pergi. Jung Rok mengatakan kalau tubuhnya ini juga membutuhkan tempat tinggal (dia kan masih ribut sama istrinya)

Yi Soo masih belum jauh, langkahnya untuk pulang terasa berat karena rasa ingin tahunya yang tinggi. Ia menatap gedung apartemen Do Jin.

Yi Soo sampai di rumah dan Meari sudah ada disana. Yi Soo bertanya pada Meari tentang Kim Eun Hee.

Meari: "Apa penulis naskah drama Ghost? Oh... So Gan Ji." (julukan So Ji Sub hihihi)

Yi Soo bilang bukan dia, ia kembali bertanya diantara orang-orang yang Meari kenal apa ada nama Kim Eun Hee. Meari mengingat-ingat, "Apa mungkin itu cinta pertama kakakku?"

Meari menjelaskan kalau mereka bertemu dengan Eun Hee ketika kencan buta sewaktu masih kuliah, mereka semua terpesona olehnya. Tapi suatu hari dia pergi ke Amerika tanpa mengucapkan kata-kata perpisahan sama sekali. Karena itulah mereka berempat tak bisa melupakannya. Meari mendesah seharusnya trik seperti itulah yang harus ia pelajari. Mereka berempat bisa berkelahi hanya gara-gara menyebutkan namanya. Ia menilai mereka berempat sangat kekanak-kanakan. Kini Yi Soo paham ternyata Kim Eun Hee itu cinta pertama mereka berempat.

Meari ingat sikapnya tempo hari, ia benar-benar minta maaf karena waktu itu ia meluapkan amarahnya seperti anak kecil. Ia tulus mendukung hubungan gurunya dengan Do Jin.

Yi Soo terus berfikir kalau memang wanita itu cinta pertama mereka berempat dan sekarang putranya muncul. Meari jelas kaget putra Kim Eun Hee muncul.

Se Ra akan memesan makanan dan menawarkan apa Meari mau makan malam. Meari menolak ia sudah mau pergi. Se Ra melihat wajah Yi Soo yang murung, bukankah Yi Soo bilang padanya ada kencan tapi kenapa Yi Soo sudah pulang tanpa makan malam dulu. Yi Soo tak menjawab ia malah bertanya apa Tae San pernah menceritakan pada Se Ra tentang cinta pertama Tae San.

Se Ra: "Kenapa? Apa cinta bertepuk sebelah tangannya belum cukup? Apa sekarang aku juga harus tahu tentang cinta pertamanya? Kenapa? Apa Im Tae San bertemu cinta pertamanya?"

Yi Soo menjawab tidak tapi ia mendengar kalau cinta pertama mereka berempat adalah orang yang sama. Se Ra tak mengerti apa lagi ini, bagaimana mungkin cinta pertama empat orang pria adalah orang yang sama. Meari menyahut mungkin dia wanita yang sangat cantik. Se Ra mendelik, Meari langsung bersikap cuek.

Ada yang menelepon Yi Soo, ibunya. Yi Soo tak menjawabnya. Se Ra tanya dari siapa. Yi Soo menjawab itu dari ibunya. Se Ra sepertinya mengerti kondisi keluarga Yi Soo ia bertanya apa dia baik-baik saja. Yi Soo tak menjawab ia pamit akan ke kamar dan berpesan Meari hati-hati di jalan, ia minta maaf karena tak bisa mengantar sampai di pintu. Yi Soo ke kamar meninggalkan ponselnya.

Meari penasaran ia pun bertanya pada Se Ra kenapa dengan gurunya, apa hubungan gurunya dengan ibunya tak baik. Se Ra mendelik memangnya kenapa kalau tak baik. Meari merengut dan berkata kalau ia hanya tanya saja, apa tak boleh.

Se Ra berbasa-basi bertanya bagaimana kabar Kakak Meari. Meari menjawab keadaan kakaknya seperti sebelumnya kenapa Se Ra menanyakannya. Se Ra balas menjawab kalau ia hanya tanya saja, apa tak boleh. Ia berpesan Meari hati-hati di jalan.

Meari sendirian di ruang tamu, ia melihat ponsel Yi Soo yang tergeletak di kursi. Rasa keingintahuannya sangat besar. Ia mengumpat dirinya sendiri. Pelan-pelan ia mengambil ponsel Yi Soo dan membaca SMS dari ibu Yi Soo, Ayo bicara

Tae San sampai di rumah, ia menunjukan letak setiap bagian rumahnya pada Colin. Ia meminta Colin menganggap rumahnya seperti rumah sendiri. Colin juga bisa membaca buku-buku yang ada disana.

Meari sampai di rumah, Tae San kesal adiknya tak bisa pulang cepat. Meari kaget Colin ada di rumahnya. "Ada apa denganmu kenapa kau ada disini?"

Tae San ingat kalau Meari dan Colin sudah pernah bertemu sebelumnya. Ia mengatakan kalau Colin anak temannya. Dia sedang bepergian di Korea jadi dia akan menginap beberapa hari disini.

Meari: "Oppa, Jadi dia anak cinta pertamamu?"

Tae San kaget dari mana Meari tahu.

Colin bersikap sopan pada Meari, "Salam hormat Noona?"

Meari: "Salam hormat apa? Kita bahkan sudah makan bersama beberapa kali. Dan juga kau tak pernah menggunakan bahasa formal sebelumnya. Apa-apaan ini sekarang? Noona? Oppa orang ini benar-benar aneh."

Tae san menyampaikan pada Colin kalau Meari tak sama seperti dirinya, dia tak selembut dirinya. Sifatnya seperti keluarga dari pihak ibunya. Ia membolehkan Colin tinggal di rumahnya beberapa hari anggap seperti rumah sendiri dan Colin bisa melakukan apapun di rumah ini.

Colin kembali berkata sopan pada Meari, "Meskipun begitu Noona juga ada disini. Jadi lebih baik aku sedikit sadar diri,"

Tae San tak menyangka Colin memiliki sifat yang santun. Ia sudah menduga kalau Eun Hee pasti mengajarkan sopan santun pada anaknya. Tae San menunjukan kamar mana yang akan dipakai Colin.

Colin kembali menyapa Meari, "Kalau begitu senang bertemu denganmu, Noona."

Meari jelas kaget dengan sikap Colin yang berubah total di depan kakaknya. Ia menilai kalau Colin ini sesosok orang yang bermuka dua.

Tae San mendekat kearah Meari dan berbicara pelan. Ia ingin tahu dari mana saja Meari apa dari rumah Yi Soo. Meari balik bertanya sebenarnya apa yang ingin kakaknya ketahui karena Se Ra juga menanyakan tentang kakaknya.

Tae San penasaran lalu apa yang Meari katakan pada Sera. Meari tak mau mengatakannya dan bergegas ke kamar. Tae San ingin tahu Se Ra bertanya apa lagi apa hanya itu saja, ia mengikuti adiknya ke kamar.

Se Ra melampiaskan semua emosinya dengan berlatih golf. Ia mengingat pembicaraannya dengan Tae San tentang pernikahan dan pembicaraan itu berakhir dengan keributan diantara keduanya.

Junior Se Ra menyapanya, ia mengingatkan kalau Se Ra berlatih seperti itu bahu Se Ra bisa terluka. Se Ra tak ingin menanggapinya, "Lebih baik lakukan saja apa yang kau lakukan. Jangan bicara padaku kecuali aku yang mengajakmu bicara."

Junior Se Ra berlatih di belakang Se Ra, ia merasa Se Ra lebih baik bermain baseball saja daripada bermain golf karena karir pemain baseball lebih panjang. Se Ra kesal mendengar ocehan juniornya. Ia menyuruhnya diam bagaimanapun juga ia tetap senior.

"Memangnya kau pernah memperhatikanku? Senior seperti apa itu?"

"Apa kau bilang?"

"Tapi memangnya kenapa kalau prestasiku lebih baik? Tapi bayarannya lebih banyak daripada aku. Kontrak iklan, poster, bahkan bermain golf dengan bos besar. Mungkin saja dia sampai tidur dengan mereka. Aku penasaran berapa tarifnya semalam." Kata Junior Se Ra menyindir.

Hati Se Ra yang sedang emosi tambah mendidih mendengar ocehan juniornya. Ia mendorong juniornya dengan stik golf yang ia pegang. Juniornya tak terima tapi Se Ra melakukannya lagi bahkan lebih keras.

Se Ra habis kesabaran ia menjatuhkan stik golfnya, menjambak dan mendorong juniornya hingga terjatuh. Si Junior tak terima keduanya beradu otot. "Apa karena usiamu lebih muda kau mau membandingkan kemampuanmu? Apa kau tahu karena ulahmu orang menyebutmu bodoh?" bentak Se Ra.

Dan buk... si junior menghantamkan kepalanya ke wajah Se Ra. Se Ra mengaduh memegangi mata kanannya.

Si junior mencengkeram baju Se Ra tapi tepat saat itu ada seseorang yang datang dan menahan kelakuan si junior, Park Min Suk. Min Suk memegang tangan si junior keras, "Apa ini pertarungan antara senior dan junior yang berbakat? Cukup menarik!"

Si Junior meronta meminta dilepaskan, "Ahjumma siapa kau?"

Min Suk: "Apa kau ingin tahu? Sebentar lagi kau akan tahu."

Min Suk berteriak memanggil pemilik tempat latihan, Presdir Kim. "Apa seperti ini caramu mengelola tempat latihanmu." Ia juga meminta kerumunan orang-orang agar membubarkan diri.

Min Suk mengantar Se Ra periksa ke dokter. Dokter mangatakan kalau bagian putih mata Se Ra sedikit memar dan terjadi pendarahan di rongga mata. Ia menyarankan agar Se Ra memakai penutup mata selama seminggu dan minum obat sesuai dengan yang diresepkan. Dokter juga menyarankan agar Se Ra menghindari aktifitas yang berat dan juga jangan terlalu sering menggerakan kepala.

Se Ra menyahut bagaimana dengan air mata (maksudnya menangis kali ya) Dokter tak mengerti maksud Se R. Se Ra tak mau membahasnya lebih lanjut dan bilang tak ada apa-apa.

Min Suk menemani Se Ra menunggu obat yang diresepkan dokter. Mata kanan Se Ra ditutup perban. Se Ra bertanya kenapa Min Suk menolongnya. Min Suk malah balik bertanya apa ia harus menolong orang asing.

Ponsel Min Suk berdering, Se Ra melihat sepertinya Min Suk sibuk ia menyarankan agar Min Suk pergi saja. Min Suk bilang kalau suara ponselnya bukan karena ada yang menelepon tapi itu bunyi alarm karena sekarang saatnya ia meminum tonik. Min Suk pamit dan berpesan agar Se Ra hati-hati di jalan, "Lagi pula hubungan kita tak cukup dekat untuk saling mengantarkan." Ucap Min Suk.

Jung Rok mengendap-endap di rumahnya. Ia mengambil beberapa pakaian miliknya sambil melihat apakah situasinya aman, apakah istrinya ada di rumah. Ternyata Min Suk belum sampai di rumah.

Jung Rok membuka kulkas dan mengambil tonik miliknya, ternyata sudah hampir habis. Ia mengambil tonik milik istrinya yang ternyata masih penuh. Min Suk sepertinya jarang meminum toniknya. Ia heran kenapa istrinya tak meminumnya. Ia pun menaruh tonik milik istrinya di kulkas.

Jung Rok memasukkan semua toniknya ke tas dan siap akan pergi lagi. Tapi perutnya kosong ia pun membuka satu bungkus tonik untuk mengisi perutnya yang kosong.

Tiba-tiba terdengar seseorang menekan password pintu rumah, Min Suk datang. Jung Rok panik. Ia harus bersembunyi, ia berputar-putar mencari tempat persembunyian tapi tempat ia bersembunyi dirasa kurang aman, ia pun hanya berputar-putar saja.

Dan Min Suk pun datang menatapnya marah, "Apa yang kau lakukan di rumah orang lain?"

Min Suk akan melanjutkan kata-katanya tapi Jung Rok menyela dan mengerti kalau yang akan Min Suk katakan adalah menyuruhnya pergi. Jadi ia akan segera pergi ia datang untuk mengambil beberapa pakaiannya.

Min Suk melihat disana ada tas dan juga kardus tempat tonik. Ia juga melihat kalau Jung Rok sedang meminum toniknya. Ia tertawa sinis ternyata Jung Rok tak lupa menjaga kesehatan tubuh walaupun keluyuran diluar sana. Ia melihat kalau tonik milik Jung Rok sudah hampir habis dan meminumnya dengan teratur. "Memangnya kau tahu apa manfaatnya?" Jung Rok menyahut bukankah ini baik untuk kesehatan tubuh.

Min Suk: "Jadi kau pulang hanya untuk mengambilnya? Apa kau takut tubuhmu tak sehat lagi?"

Jung Rok: "Tentu saja aku harus meminumnya dengan teratur. Hanya dengan begitu kita bisa punya anak."

Min Suk jelas tak paham, Jung Rok bertanya bukankah tonik ini untuk membantu kesuburan karena itulah ia terus meminumnya. Ia melihat kalau istrinya belum meminumnya sedikitpun ia menawarkan apa mau ia membukakannya.

Min Suk terdiam dan mengalihkan pandangannya ia jelas terlihat sangat sedih. Ia berkata bukankah Jung Rok sudah mau pergi. Jung Rok mengerti Min Suk masih marah padanya, ia meletakkan tonik yang belum dihabiskannya di tepi meja. Jung Rok sadar dan tahu diri kapan saatnya harus pergi dan saat ia tak diinginkan. Ia berpesan agar Min Suk menjaga diri.

Sepeninggal Jung Rok, Min Suk hanya bisa menangis diam. Air matanya semakin lama semakin deras mengalir. Tonik yang ada di atas meja pun jatuh dan cairannya membasahi lantai dan mengalir ke kakinya.

Di Hwa Dam, Do Jin melamun mengingat pertemuan pertamanya dengan Eun Hee ketika ia dan ketiga temannya melakukan kencan buta. Ketika itu ia jelas terpesona dan langsung jatuh cinta pada Eun Hee sejak pandangan pertama.

Tiba-tiba Tae San datang dan menyahut kalau dia sangat cantik. Lamunan Do Jin pun buyar. Tae San menebak Do Jin pasti sedang memikirkn Eun Hee. Ia berbangga diri kalau ia sudah menyelamatkan banyak pria yang ingin mati demi Eun Hee termasuk Jung Rok.

Do Jin menyahut bukankah Tae San sendiri yang selalu mengatakan ingin mati di sungai Han. Tae San tertawa kalau mengingat masa lalu itu, ia menilai kalau perasaan ini tak mengenakan karena mereka berempat sangat menyukai Eun Hee. Ia heran kenapa Eun Hee pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun. Ia penasaran seperti apa pria yang menikahi Eun Hee.

Do Jin bertanya bagaimana kabarnya. Tae San langsung paham yang dimaksud Do Jin pasti Colin. Ia mengatakan kalau Colin baik-baik saja dan sepertinya pemuda itu betah di rumahnya. "Tapi kalau dia benar-benar kabur dari rumah apa yang harus kita lakukan?"

Do Jin: "Kalau kau kabur dari rumah akankah kau tinggal di rumah teman ibumu?"

Tae San merasa kalau mungkin saja Colin seperti Eun Hee yang suka kesana kemari. Ia Ia merasa mereka seharusnya menghubungi Eun Hee. Ia ingat beberapa tahun yang lalu Eun Hee masih berhubungan dengan Jung Rok jadi menurutnya Jung Rok pasti tahu atau punya nomor kontak Eun Hee. Do Jin ingat bukankah mereka bertiga sudah mengembalikan ponsel Jung Rok ke settingan awal jadi banyak nomor yang sudah terhapus. Tae San ingat itu, tapi bagaimanapun juga waktu sudah berlalu dan Eun hee sudah menjadi seorang ibu.

Do Jin merasa kalau Tae San iri, ia menyarankan lebih baik Tae San punya anak sendiri. Tae San kesal karena itu bukan tugas perseorangan, wanita itu bahkan tak ingin menikah. Ia pamit akan ke lokasi proyek sekarang.

Do Jin memberi tahu kalau ia akan pergi ke lokasi proyek di Chuncheon minggu depan. Tae San jelas senang karena akhir pekan ia tak harus meninjau lokasi proyek. Ia minta Do Jin berjanji. Do Jin melihat ponselnya siapa tahu ada kabar dari Yi Soo tapi tak ada. Ia menilai walaupun Yi Soo penasaran tapi Yi Soo termasuk wanita yang sangat sabar. Do Jin pun melanjutkan pekerjannya.

Yi Soo sampai di ruang guru setelah ia mengajar. Ia memeriksa ponselnya siapa tahu ada kabar dari Do Jin tapi tak ada. Ia jelas kecewa dan meletakan kembali ponselnya di meja.

Dong Hyub datang menemuinya dan memberikan buku yang ia terima dari Yi Soo sebagai tugas menyalin. Dong Hyub mengatakan kalau buku itu hadiah darinya. Yi Soo mengatakan bukankah ia memberikan buku ini untuk dicatat oleh Dong Hyub kenapa sekarang bisa jadi hadiah.

Dong Hyub memberi tahu kalau ini buku yang baru dan buku milik gurunya ia simpan. Tapi walaupun begitu Yi Soo tetap meminta Dong Hyub untuk mencatatnya. Dong hyub mengatakan kalau ia hanya akan membacanya saja. Yi Soo tak percaya, ia bertanya apa gaji Dong Hyub sudah dibayar.

Dong Hyub menyahut bukankah seharusnya ia lebih mengkhawatirkan tubuhnya daripada uang. Yi Soo tahu itu tapi tubuh Dong Hyub jadi seperti itu karena uang itu. Jadi tentu saja Dong Hyub harus mengkhawatirkan uangnya lebih dulu. Dong hyub tertawa dan mengatakan kalau uangnya sudah dibayar jadi karena itulah ia membeli buku yang baru dan memberikannya pada Yi Soo sebagai hadiah.

Yi Soo menerima hadiahnya dan berterima kasih. Ia pun mengingatkan sekarang Dong Hyub harus mulai berfikir tentang hal yang telah Dong Hyub janjikan padanya, tentang apa yang akan Dong Hyub lakukan untuknya.

"Apa pacar?" Dong Hyub menggoda gurunya hehe.

Yi Soo kesal apa Dong Hyub masih belum sadar juga. Apa Dong Hyub ingin bahunya patah dulu baru kemudian sadar. Dong Hyub tersenyum-senyum. Yi Soo juga mengingatkan kalau sekarang ia sudah punya pacar. Yah raut wajah Dong Hyub pun berubah muram. Yi Soo tanya apa Dong Hyub belum mendengar gosip tentangnya. Dong Hyub tak menjawab, ia berkata kalau ia akan memikirkannya lagi tentang janjinya pada Yi Soo. Yi Soo menyambutnya senang, ia akan menggunakan perwaliannya untuk mengawasi Dong Hyub. Dong Hyub setuju dan mohon diri.

Malam hari Yi Soo tak bisa tidur ia hanya membolak-balikan tubuhnya di ranjang. Pikirannya jelas gelisah ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi Do Jin tak segera menghubunginya. Ia bolak-balik melihat ponselnya siapa tahu ada pesan atau panggilan dari Do Jin.

Ia bangkit dari tempat tidur dan menyalakan lampu kamar, ia terus menatap layar ponselnya berharap Do Jin segera menghubunginya. Yi Soo mondar-mandir gelisah di kamarnya. Ia pun meletakan ponselnya di meja. Tak lama setelah itu ada SMS masuk. Yi Soo segera membacanya, SMS dari Do Jin.

Tak bisa tidur kan? Aku sudah disini tanpa pemberitahuan. Jangan terlalu berdebar-debar. Keluarlah sekarang! Aku ada di depan rumahmu.

Yi Soo keluar dan melihat Do Jin berdiri menunggu di depan rumah. Yi Soo merengut kesal kenapa Do Jin tak meneleponnya. Do Jin malah balik bertanya memangnya siapa yang mengirim pesan yang baru saja Yi Soo terima. Yi Soo bilang maksudnya seharian ini Do Jin tak memberi kabar padanya.

Do Jin: "Apa kau merindukanku? Karena tak ada telepon sama sekali kau jadi terluka dan gelisah. Apa kau membenciku?"

Yi Soo mendelik kesal dan bilang tentu saja. Do Jin merasa kalau Yi Soo juga tahu kalau Yi Soo keras kepala. Tapi walaupun begitu apa Yi Soo tak pernah berfikir untuk meneleponnya lebih dulu. Yi Soo berkata apa sekarang Do Jin mau balas dendam padanya bukankah seharusnya orang yang bersalah dulu yang harus menelepon.

Do Jin menawarkan apa Yi Soo mau jalan-jalan. Yi Soo kembali mendelik kesal. Do Jin bilang kalau Yi Soo menolak berarti mereka akan bepergian. Yi Soo tambah kesal dan menyahut kalau Do Jin sangat keterlaluan.

Do Jin berjalan lebih dulu dan menunggu Yi Soo di depan pagar, tangannya ia keluarkan dari saku celana siap menyambut Yi Soo. Yi Soo diam saja, tapi tak lama kemudian ia pun menghampiri Do Jin dan menyambut tangan Do Jin. Keduanya bergandengan tangan. (alamak hihi...)

Keduanya menyusuri jalanan malam sambil bergandengan tangan. Do Jin menebak pasti Yi Soo ingin tahu mengenai Eun Hee. Yi Soo jelas saja ingin tahu karena mereka berempat terkejut pada saat yang bersamaan.

Do Jin memberi tahu karena tergila-gila pada Eun Hee persahabatannya hampir saja berakhir. Yi Soo penasaran apa benar Eun Hee itu cinta pertama Do Jin.

Do Jin pun mulai bercerita kalau 20 tahun yang lalu ia benar-benar menyukai seseorang. Sangat mencintainya dan pemuda kemarin adalah putranya. Kalau tentang itu Yi Soo sudah tahu. Do Jin tanya apa hanya itu saja yang ingin Yi Soo ketahui. Yi Soo tentu saja ingin tahu semuanya bagaimana mungkin kalau hanya segitu.

Do Jin bertanya apa lagi yang ingin Yi Soo ketahui. Yi Soo ingin tahu apa Do Jin tak bisa melupakannya. Do Jin tentu saja tak bisa melupakanya, bagaimana bisa ia melupakannya tapi ia tak memikirkannya setiap hari.

Yi Soo berjalan terdiam Do Jin memperhatikan raut wajah Yi Soo yang tampak bingung bukankah Do Jin memiliki memory yang kadang terlupakan. Do Jin mulai bercerita lagi mulai dari teman yang mengkhianatinya ketika memulai usaha, para karyawan yang meninggalkannya ketika itu, Guru SMA-nya yang tinggal serumah, bos perempuan yang mengizinkan mereka hutang alkohol saat masih kuliah, cuaca dihari ketika Betty tiba, ia ingat semuanya.

"Sama seperti dengan wanita yang benang bajunya terurai setelah tersangkut di tasku." Do Jin berhenti berjalan dan menatap Yi Soo, "20 tahun kemudian walaupun kau tak berada di sampingku aku akan tetap mengingat semuanya."

Yi Soo berandai-andai ia memikirkan dengan cara seperti itu. Do Jin merengut kecewa, "Apa ini? Kau sudah tak cemburu sama sekali? Demi kau, aku bahkan menabrakan mobilku."

Yi Soo tersenyum apa gunanya cemburu, bagaimana mungkin ia menandingi cinta pertama dalam ingatan seorang pria. Yang harus ia lakukan adalah bagaimana memikirkan cara agar kenangan itu tak terlalu sering muncul. "Diantara semua orang yang tak bisa kau lupakan hanya aku... yang ada saat ini."

Do Jin bertanya kenapa Yi Soo tak mencoba hadir di masa depannya. Yi Soo mengatakan kalau untuk satu menit ke depan ia bisa melakukannya, kalau hanya segitu ia bisa berjanji.

Yi Soo tanya dimana anak itu sekarang. Do Jin mengatakan kalau anak itu berada di rumah Tae San karena dia ingin tinggal disana. Ia menduga mungkin orang yang benar-benar disukai Eun Hee adalah Tae San. Waktu itu ia benar-benar tak menanggapinya dengan serius.

Yi Soo: "Bukankah sudah kubilang, untuk kami para wanita Tae San itu sangat atraktif..."

Do Jin sewot tak suka Yi Soo memuji Tae San. Yi Soo tertawa dan menutup mulutnya ia sudah keceplosan bicara.

Tiba-tiba cup... Yi Soo mencium pipi Do Jin kemudian secepat mungkin berjalan mendahului Do Jin. Do Jin tanya yang tadi itu apa. Yi Soo menjawab kalau yang tadi dilakukannya hanya sedikit kasih sayang. Do Jin mengejar Yi Soo dan mengancam kalau Yi Soo tertangkap ia tak akan melepaskan Yi Soo. hahaha.

Yi Soo tiduran di ranjang kamarnya, Do Jin duduk di sebelahnya mengusap lembut kepala Yi Soo. Dengan suara pelan Yi Soo menyuruh Do Jin pergi, bagaimana kalau Se Ra bangun dan melihat mereka berdua. Do Jin malah menyahut siapa suruh Yi Soo begitu licik dan berani menciumnya. Ia ingin menyentuh rambut Yi Soo sampai tenaganya habis. Yi Soo menyahut kalau nanti kepalanya akan jadi botak.

Do Jin berkata kalau benar begitu ia akan meninggalkan Yi Soo. Tapi menurut Yi Soo Do Jin tak akan bisa meninggalkannya. Walapun perutnya berlemak Do Jin akan tetap menyukainya.

Do Jin membetulkan letak posisi tidur Yi Soo dan ia pun berbaring di samping Yi Soo. Yi Soo tanya apa yang Do Jin lakukan bagaimana kalau Se Ra bangun. Do Jin menyuruh Yi Soo diam, asalkan Yi Soo tak berisik Se Ra tak akan bangun. Do Jin semakin mendekatkan dirinya pada Yi Soo.

Yi Soo mendorong Do Jin, "Cepatlah...!"

"Cepat apa? Seperti ini?" Do Jin menggoda dengan memeluk Yi Soo.

Yi Soo bangun dan menyuruh Do Jin cepat bangun. Tapi Do Jin kembali mengatakan apa Yi Soo ingin bepergian dengannya. Yi Soo kesal Do Jin sudah keterlaluan ia akan memukul Do Jin dengan bantal, tapi Do Jin menarik Yi Soo cepat. Dan keduanya kembali berbaring bersama.

Do Jin menyuruh Yi Soo tidur, ia akan pergi begitu Yi Soo tertidur. Do Jin mendorong kepala Yi Soo dengan jarinya agar kepala Yi Soo bersandar pada bantal.

Keduanya saling menatap. Do Jin mulai menepuk bahu Yi Soo. Tatapan mata Yi Soo benar-benar memancarkan kenyamanan di hatinya.

Do Jin: "Kenapa jantungmu berdegup kencang sekali." (alamak cewek mana yang ga deg-degan)

Yi Soo menyangkal itu bukan detak jantungnya. Do Jin tak masalah. Yi Soo mengaku sepertinya memang suara detak jantungnya. Do Jin berkata kalau ia menyukai Yi Soo yang belum berpengalaman seperti ini. Yi Soo menyahut apa Do Jin tak pernah berfikir kalau ia pura-pura polos. Do Jin berkata walaupun begitu ia tetap menyukainya.

Mata mereka terus bertemu, Yi Soo pun mengungkapkan sebuah permintaan. "Jangan berhenti mencintaiku sebelum aku berhenti mencintaimu." Do Jin menyanggupinya. Tapi Yi Soo masih belum yakin Sungguhkah Do Jin akan menyanggupinya.

Do Jin: "Kenapa semua wanita selalu merasa tak aman?"

Yi Soo: "Karena pria selalu mengatakan satu hal pada satu waktu dan mengatakan sebaliknya pada lain waktu. Tapi kedua-duanya mereka lakukan dengan sungguh-sungguh. Itulah masalahnya."

Do Jin menyampaikan kalau yang dikatakannya hari ini, besok juga sama. Begitu juga lusa dan hari setelahnya. Dalam sebulan akan tetap sama. Jadi Yi Soo bisa merasa aman dalam sebulan. Haruskah ia mengatakan begitu agar Yi Soo tenang. Yi Soo tersenyum dan berkata itu sedikit lebih baik.

Do Jin: "Baiklah, kalau begitu selama sebulan aku akan mencintai Seo Yi Soo. Aku akan memberitahumu tentang rencana selanjutnya setelah satu bulan."

Yi Soo tertawa kalau begitu ia akan menjadi masa depan Do Jin selama satu bulan. Ia menyuruh Do Jin pergi karena ia sendiri sudah mengantuk. Ia sangat sensitif, ia bisa terbangun walau hanya mendengar suara sedikit saja. Do Jin meminta Yi Soo tidur saja. Do Jin terus menepuk Yi Soo. Yi Soo memejamkan matanya makin lama makin terlelap Yi Soo pun tidur nyenyak.

Do Jin: "Sensitif? Kau bahkan bisa tidur nyenyak meskipun aku ada di sampingmu."

Do Jin perlahan menarik tangannya yang dari tadi digunakan sebagai bantal. Ia juga menyelimuti tubuh Yi Soo dengan selimut.

Do Jin mengambil jaket dan tasnya. Ia melihat di sebelah meja ada tas yang isinya baju rajutan Yi Soo yang benangnya terurai. Do Jin pun mengambil gulungan benang dan membawanya pulang.

Se Ra di kamarnya ternyata ia belum tidur. Ia mengusap lembut matanya yang terluka. Ia menerima panggilan telepon dari Tae San. Se Ra pun menjawabnya.

Tae San ternyata ada di depan rumah Se Ra, ia bertanya dimana Se Ra. Ia mengajak Se Ra bertemu. Se Ra mengatakan kalau hari ini ia tak bisa karena ada sesuatu yang terjadi. Tae San tanya sesuatu apa jangan mencoba mencari alasan untuk sembunyi darinya karena itu bukan karakter Se Ra.

Se Ra berkata karena itulah ia membenci Tae San, apa lagi yang harus ia sembunyikan karena Tae San tahu segalanya tentang dirinya. Ia tak peduli Tae San mau berfikir kalau ia berbohong atau tidak. Ia kesal dan menutup teleponnya.

Do Jin keluar membuka pintu pelan-pelan. Tae San kaget melihat Do Jin keluar dari dalam rumah. Do Jin juga sama ia terkejutnya melihat ada Tae San disana.

Tae San heran ada apa dengan Do Jin kenapa keluar dari sana. Do Jin mengatakan kalau ia sedang pacaran dengan salah seorang penghuni rumah ini apa secepat itu Tae San lupa. Ia juga bertanya kenapa Tae San ada disini. Tae San mengatakan kalau ia sedang perang dingin dengan salah seorang penghuni rumah ini.

Do Jin mengatakan kalau wanita yang tinggal di rumah ini memang tak mudah ditangani. Keduanya menatap rumah yang ditinggali oleh dua wanita yang mereka cintai.

Meari keluar dari kamarnya dan melihat Colin duduk santai dengan kaki yang satu nangkring di meja sambil memainkan laptop. Meari tak menyangka Colin benar-benar bersikap seperti berada di rumah sendiri. Colin menyahut kalau Kakak Meari yang menyuruhnya begitu. Colin kembali menggunakan bahasa tidak formal di depan Meari. Meari heran bukankah Colin sudah setuju untuk menggunakan bahasa formal dengannya. Colin berkata kalau Kakak Meari sekarang sedang tak ada.

Meari kesal bukan main, ia seakan ingin memukul Colin yang selalu bermuka dua di depan kakaknya. "Harus kuapakan anak ini? Apa yang harus kulakukan?"

Meari merebut laptopnya. Ia meminta Colin bicara jujur apa sebenarnya yang sudah Colin lakukan pada kakaknya, dengan galaknya ia bertanya apa tujuan Colin mendekati keluarganya. Colin menyahut siapa yang pertama kali mengajak bicara di pesawat dan siapa yang terperangkap di toilet klub waktu itu. Meari menebak apa Colin merencakan semua ini. Colin tertawa ia mengira Meari pasti berfikir kalau Meari itu anak presiden.

Meari makin emosi, melihat tingkah Colin darah tingginya seakan tiba-tiba naik. Colin mengingatkan Meari jangan terlalu marah karena Meari nanti bisa memiliki perasaan padanya. Meari jelas kesal ternyata ada orang seperti Colin di dunia ini.

Ponsel Meari berdering, Yoon meneleponnya. Meari tentu saja senang dan menjawabnya dengan suara lembut nan mesra. Colin berguman ternyata dalam sekejap saja sikap Meari sudah berubah.

Ternyata Yoon menelepon Meari karena dia ingin bicara dengan Colin. Meari jelas bete. Ia pun memberikan ponselnya pada Colin agar bisa bicara dengan Yoon.

Yoon menyampaikan kalau ada beberapa hal yang harus ia bicarakan dengan Colin, ia mengajak bertemu. Colin setuju dan bertanya Yoon ada dimana karena ia akan kesana. Tapi Yoon akan datang ke rumah menemui Colin. Ia mengatakan kalau ia sudah dekat (padahal masih di kantor) Setelah menutup telepon Yoon pun bergegas buru-buru ke rumah Meari.

Yoon datang disambut oleh Meari dan Colin. Meari tersenyum sumringah dengan dandanan cantiknya. Colin menyindir bukankah Yoon tadi bilang sudah dekat dari sini tapi ternyata cukup lama. Yoon beralasan kalau ia masih ada janji jadi agak lama.

Yoon mengajak Colin bicara empat mata di kamar Tae San. Meari menawarkan Yoon mau minum teh apa. Yoon bilang tak usah dan mengingatkan Meari jangan mendengarkan apa yang ia bicarakan dengan Colin. Meari cukup menunggu disini saja.

Yoon membahas hal yang terakhir kali Colin bicarakan dengannya di kantor. Colin menyahut memangnya pengacara di Korea masih melakukan konsultasi secara pribadi. Yoon tak mau mendengar apapun lebih baik Colin jawab saja pertanyaannya.

"Im Meari, turun!" teriak Yoon yang tahu kalau Meari naik ke kamar Tae San untuk menguping. Meari sadar kalau ia sudah ketahuan dan turun perlahan. Hehe.

Yoon melanjutkan kembali pertanyaannya, "Ayah kandung yang kau ketahui beberapa waktu lalu apa ada hubungannya dengan kami?"

Colin menilai sepertinya Yoon benar-benar menyukai ibunya. Yoon meminta Colin menunjukan paspor tapi Colin menolak karena itu melanggar privasinya. Yoon tak yakin apa Colin benar-benar lahir tahun 1995.

Colin malah bertanya apa mungkin Yoon ini ayah kandungnya. Yoon mengatakan kalau kedatangannya bukan untuk bermain-main dengan Colin jadi jangan mengganti topik pembicaraan. Colin menyampaikan kalau nanti ia butuh uang ia akan memberi tahu Yoon, jadi sebelum itu ia minta Yoon merahasiakan apapun yang Yoon temukan dan jangan membocorkannya.

Yoon tanya berapa lama Colin berancana tinggal di Korea. Colin menjawab kalau itu terserah pada kalian para ahjussi. Ia datang kesini hanya untuk mendatangkan masalah bagi kalian berempat.

Yoon berpesan agar meminta nomor ponselnya pada Meari. Ia minta Colin segera menghubunginya begitu ada yang ingin Colin sampaikan. (wow inilah kelebihan Yoon ia sudah merasa ada gelagat yang aneh dari si Colin... ah Colin menyebalkan tapi juga menggemaskan hahaha)

Yoon ingat sesuatu ia pun bertanya apa Colin akan tinggal di rumah seharian. Colin mengatakan kalau sepertinya begitu karena ia tak ada janji. Colin bingung apa maksud pertanyaan Yoon yang terakhir ini.

Keduanya sampai di lantai bawah dan berpapasan dengan Meari yang akan ke kamar kakaknya membawakan minuman. Ia heran apa pembiacaraannya sudah selesai kenapa cepat sakali. Yoon tak menanggapinya ia malah bertanya jam berapa Meari bekerja. Meari mengatakan kalau ia berencana berangkat setelah makan siang (itu tandanya Meari akan di rumah dulu yang artinya akan berdua dengan Colin)

Yoon mengatakan kalau lalu lintas hari ini macet sekali lebih baik Meari berangkat lebih awal. Karena ia melewati jalan yang sama dengan tempat kerja Meari maka ia akan menurunkan Meari......

Belum sempat Yoon menyelesaikan kata-katanya Meari langsung menyodorkan nampan minuman ke Colin dan segera masuk ke kamarnya mengambil tas siap berangkat bersama Yoon. Ia jelas saja tersenyum senang karena bisa bersama-sama dengan Yoon. Colin hanya bisa menarik nafas. (Tuh kan Yoon ga mau Meari deket-deket sama Colin hihi cembokur dia)

Meari satu mobil dengan Yoon, ia tersenyum ceria menatap jalanan yang ramai. Ia bergumam kalau ini jalan yang ia lalui setiap hari tapi kenapa sekarang jalan ini tampak diwarnai pelangi.

Yoon tak menanggapinya ia malah bertanya mengenai hal yang ia katakan pada Meari tempo hari, apa sudah Meari pikirkan. Meari kesal karena ia baru saja berfikir kenapa Yoon tak mengungkit tentang hal itu tapi ternyata Yoon mengungkitnya juga. Tentu saja ia memikirkannya karena ia memikirkan Yoon setiap hari.

Yoon berkata kalau begitu seharusnya Meari sudah memiliki kesimpulan. Meari mengatakan tentu saja sudah, "Jadi seperti ini ekspresi Kakak ketika dia mengatakan sesuatu yang kejam, jadi seperti ini suara yang dia gunakan khusus untuk membuatku terluka"

Yoon ingin meluruskan maksudnya tapi Meari menyela dan berkata kalau ia tahu, "Singkatnya kakak memintaku jangan main-main dan segera menghilang, jadi aku memikirkannya. Orang akan selalu mengingat siapa yang menyakiti mereka. Jadi kalau aku ingin tak terlupakan aku hanya perlu menyakiti mereka."

Yoon: "Hei gadis ini, bukan itu yang kumaksud."

"Apa kakak pikir aku tak mengerti maksud kakak? Memangnya dia masih muda? Dia tak pernah menjalin hubungan dimasa lalu? Dia juga tak setampan Kak Do Jin. Dari mana rasa percaya dirinya datang? Pasti aku sudah buta. Apa yang bisa disukai dari ahjussi seperti ini? Benar-benar tak masuk akal." kata Meari sinis pada Yoon.

Yoon tak habis pikir Meari membandingkan dirinya dengan Do Jin dan juga mengeluarkan semua kata-kata seperti itu. Ia cuma bisa bengong. Meari menyahut kalau tempat kerjanya sudah dekat jadi hentikan mobilnya.

Sebelum Meari keluar dari mobil ia menggoda Yoon, "Bagaimana? Apa kakak merasa terluka? Kakak akan memikirkanku terus menerus kan?"

Meari keluar dari mobil, "Semoga hari anda menyenangkan ahjussi!" kata Meari sambil menjulurkan lidahnya. Yoon tersenyum-senyum melihat tingkah Meari. Haha.

Meari kaget melihat Colin datang ke Mango Six. Ia mengira kalau Colin mengikutinya. Tapi ternyata Colin ada janji bertemu dengan Jung Rok.

Meari menyuguhkan minuman untuk Jung Rok dan Colin. Jung Rok bertanya apa menyenangkan tinggal di rumah Tae San. Colin mengatakan kalau ia bukan termasuk orang yang pilih-pilih tempat tingggal. Jung Rok mengatakan kalau ia juga sama, ia bisa tidur nyenyak dimana saja bahkan sekarang ia tinggal di rumah Do Jin (yah itu kan karena diusir sama Min Suk)

"BTW apa disana ada pemilik rumah yang sependek ini? Kalau dia memarahimu beritahu aku. Walaupun aku tak bisa melukainya tapi aku bisa melawannya bersamamu." kata Jung Rok dan jelas yang dimaksud adalah Meari.

Meari masih berada di belakang keduanya mendengar setiap pembicaraan yang keduanya bicarakan. Meari mendesis kesal dan seakan-akan ingin memukul. Meari pun meninggalkan keduanya.

Jung Rok masih penasaran apa benar Tae San satu-satunya orang yang paling banyak diceritakan oleh Ibu Colin, bukan dirinya. Ia minta Colin mengingat-ingat apa Ibu Colin pernah menyebutnya. Colin memberi tahu kalau hanya ada satu alamat yaitu alamat ahjussi Jung Rok. Jung Rok tentu saja senang. Sejak kapan ia menjadi pria yang tak terlupakan.

Jung Rok meminta nomor telepon Ibu Colin karena nomor telepon yang ia simpan sudah dihapus teman-temannya. Tapi Colin menolak memberikan nomor telepon ibunya. Jung Rok merasa kalau sifat Colin ini sangat mirip dengan Eun Hee. Ia mengatakan kalau Ibu colin pasti khawatir jadi cepat katakan nomor teleponnya. Colin mengancam, "Kalau Paman ingin mendapatkan nomor ponsel ibuku kita tak usah bertemu lagi." Colin meninggalkan Mango Six dan berterima kasih atas pemberian minumannya. Meari memperhatikan segala tingkah Colin.

Yi Soo mencari gulungan benang merah bajunya. Ia membolak-balik bajunya mencari gulungan benang tapi tak ketemu juga (ya iyalah kan diambil Do Jin) ia heran karena seingatnya ia menaruhnya disana. Yi Soo menerima SMS dari Meari,

Kelihatannya para Oppa tidak pernah berhubungan dengan ibunya, dia hanya anak yang tak tahu malu.

Yi Soo tersenyum membacanya tapi tetap saja hatinya was-was, ia mengingat bagaimana raut wajah keterkejutan Do Jin ketika mengetahui kalau pemuda itu putra dari Kim Eun Hee.

Yi Soo kembali mencari gulungan benang rajutannya di kolong meja. Tapi sial ketika ia akan berdiri ia malah kejedot. Se Ra tergesa-gesa masuk ke kamarnya meminta tolong padanya.

Yi Soo berdiri dan terkejut melihat kondisi mata Se Ra. Se Ra tak punya waktu untuk menjelaskannya. Ia mengatakan kalau di luar ada Tae San, ia ingin Yi Soo keluar mengatakan pada Tae San kalau ia tak ada di rumah.

Terdengar dari luar suara teriakan Tae San yang meminta Se Ra keluar. Se Ra memohon bantuan Yi Soo agar membuat alasan karena ia tadi sudah mengatakan pada Tae San kalau ia tak ada di rumah. Tae San kembali berteriak sambil menggedor pintu, ia bilang kalau ia tahu Se Ra ada di rumah karena ia melihat mobil dan lampu kamar Se Ra menyala bahkan ia melihat kalau Se Ra baru saja masuk.

Se Ra pun akhirnya mau keluar menemui Tae San. Ia melepas perban mata dan menggantinya menggunakan kacamata hitam. Yi Soo khawtair kapan terjadinya mata Se Ra sampai terluka seperti itu.

Tae San heran melihat Se Ra malam-malam menggunakan kacamata hitam. Ia menebak apa Se Ra baru saja melakukan operasi plastik. Se Ra mengatakan kalau wanita biasanya memakai kacamata hitam setelah operasi plastik tapi mereka juga akan memakainya kalau keadaan mereka seperti ini kata Se Ra sambil melepas kacamatanya.

Tae San tentu saja terkejut dan khawatir. Ia ingin tahu siapa yang melakukannya, si brengsek mana yang melakukan ini pada Se Ra. Tapi Se Ra tak mau Tae San menyentuh luka di matanya. Tae San mengingatkan kalau sampai sekarang Se Ra masih miliknya, tak peduli apakah 5 menit atau 5 detik. Se Ra memberi tahu kalau luka yang didapatnya ini terjadi karena ia bertengkar dengan juniornya. Se Ra mengajak Tae San bicara di tempat lain.

Keduanya berada di dalam mobil di tepi jalan. Se Ra mengatakan kalau beberapa hari ini ia sudah memikirkannya dengan serius, bukan dengan sikap emosional tapi dengan rasional jadi Tae San jangan salah paham padanya. Kalau Tae San ingin menikah lebih baik mereka putus saja.

Tae San menjelaskan kalau ia sebelumnya sudah mengatakan bahwa ia akan tetap mendukung karir Se Ra, ia mengizinkan Se Ra bermain golf seumur hidup. Apa sesulit itu untuk menikah.

Se Ra: "Walaupun golf bukan sumber penghasilanku, aku tak bermain golf untuk bertahan hidup."

Tae San meminta Se Ra jangan merubah topik pembicaraan, ia akan bertanya pada Se Ra untuk yang terakhir kalinya ia berharap Se Ra menjawabnya dengan berhati-hati, "Apa kau tak ingin menikah denganku?"

Dengan sikap teguh Se Ra minta maaf. Tae San sudah menduganya ia tak habis pikir apa semua wanita seperti ini atau hanya Se Ra seorang yang begitu membingungkannya. Se Ra mengatakan kalau ia berjuang untuk meraih posisinya saat ini jadi ia tak ingin mundur dari posisinya.

Tae San meninggikan suaranya, "Siapa yang menyuruhmu mundur? Memangnya karir pemain golf profesional berakhir ketika menikah?"

"Akulah yang tak percaya diri," suara Se Ra tak kalah tinggi dan juga sedih. Ia mengatakan kalau kemampuannya hanya sampai disini.

Tae San bertanya apa yang harus dilakukannya, apa yang harus ia lakukan untuk Se Ra. Apa hubungan keduanya benar-benar sampai disini saja. Se Ra diam. Tae San berjanji kalau kali ini ia tak akan pernah kembali pada Se Ra, tak akan pernah lagi. Bukankah Se Ra tahu kepribadiannya, ia sangat serius dengan keputusannya.

Se Ra sudah hampir menitikan air mata tapi ia terus menahannya. Ia memakai kaca matanya kembali dan segera keluar dari mobil Tae San. Tae San memasang sabuk pengaman menyalakan mesin mobil dan langsung tancap gas meninggalkan Se Ra sendirian di jalanan malam. Se Ra menangis di jalanan malam.

Pagi hari Do Jin tampak senang, ia pun bercukur agar tampil lebih muda. Saking senangnya ia melakukannya sambil joget-joget.

Tak hanya berjoget di kamar mandi, ketika berada di luar pun ia tetap berjoget bergoyang-goyang sambil bertepuk tangan mengikuti irama musik. Yoon heran melihatnya karena tak seperti biasanya Do Jin sesenang ini. Yoon bahkan sempat ikut bergoyang hahaha.

Yoon penasaran ada apa dengan Do Jin kenapa senang sekali. Do Jin mengatakan kalau ia akan pergi ke lokasi proyek. Yoon makin heran apa sesenang ini pergi kerja. Do Jin kembali mengatakan kalau lokasinya berada di Chuncheon yang jaraknya jauh dari Seoul, asing, malam yang panjang, dan malam yang asing di pedesaan yang membuat seseorang berdebar-debar.

Yoon tanya apa Do Jin malam ini tak pulang ke rumah. Do Jin menyahut kalau besok pun ia tak ingin pulang.

Do Jin menjemput Yi Soo. Di depan rumah Yi Soo sudah menunggunya. Keduanya saling melempar senyum. Yi Soo segera masuk ke mobil dan menyapa Betty. Do Jin jelas heran dengan sapaan Yi Soo pada Betty, "Apa yang baru saja kau lakukan?"

Yi Soo tanya kenapa. Do Jin tak mengerti kenapa Yi Soo memperlakukan Betty dengan baik. Yi Soo mengatakan walaupun nanti ia putus dengan Do Jin tapi ia akan berhubungan dengan Betty.

Do Jin: "Jadi kau ingin merampasnya?"

Yi Soo: "Kalau begitu aku juga harus bergaul dengan rumahmu."

Yi Soo ingin tahu Do Jin akan mengajaknya kemana. Do Jin tak mengatakannya Yi Soo akan tahu sendiri setelah sampai disana.

Keduanya menyusuri jalanan ramai yang panjang. Yi Soo heran kenapa sampai keluar kota seperti ini. Ia pun bertanya sebenarnya mau kemana. Do Jin menjawab bepergian, kalau Yi Soo tak suka bepergian anggap saja Yi Soo sedang menjadi teman perjalanannnya.

Yi Soo kesal Do Jin tak memberitahunya lebih dulu. Do Jin mengatakan bukankah ia sudah beberapa kali mengajak Yi Soo bepergian. Yi Soo menyela kalau ia tak pernah mananggapinya dengan menjawab oke. Yi Soo sekali lagi bertanya kemana mereka akan pergi.

"Chuncheon!" jawab Do Jin. Yi Soo bertanya apa perjalanan seharian. Do Jin balik bertanya apa Yi Soo pikir ia orang yang seperti itu.

"Betty stop!" teriak Yi Soo.

"Betty fighting! Tambah kecepatan!" Do Jin semangat.

Kim Do Jin-ssi!" bentak Yi Soo kesal.

Keduanya sampai di Chuncehon di lokasi proyek yang sedang dikerjakan Do Jin. Do Jin menemani kliennya melihat lokasi yang berada di tepi danau.

Klien Do Jin menunjukan letak dimana ia ingin membangun sekolah perhotelan. Do Jin penasaran apa kliennya ini juga berencana membangun sekolah, ia merasa kalau ia harus menjaga performa kerjanya.

Klien mengatakan tunggu saja sampai resort ini dibangun dan setelah seseorang menyelesaikan pendidikannya disana maka dia bisa langsung bekerja disini. Karena pendidikan akan menjadi bagian dari produktivitas usaha. Klien juga mengatakan kalau ia sudah membuat persetujuan kerjasama dengan sekolah perhotelan terbaik di Switzerland, ia merasa kalau akhir-akhir ini sangat bahagia.

Do Jin memberi tahu kalau ia juga sedang menyelesaikan Pusat Pameran di Samseong-dong ia mengucapkan sampai bertemu di Pembukaan Pusat Pameran. Klien mengatakan kalau resort-nya sudah tak membutuhkan yang lain lagi. Hiburan, keselamatan, dan gaya. Ia hanya membutuhkan tiga hal itu. Tapi Do Jin menilai kalau ketiga hal itu sama dengan menginginkan segalanya karena itulah ia merasa sekarat. Keduanya tertawa lebar.

Yi Soo memandang Do Jin dari dalam mobil dan tersenyum bangga.

Setelah menemani kliennya. Do Jin mengajak Yi Soo jalan-jalan menyusuri tempat itu. Tempat yang masih kosong yang ada hanya hamparan lahan luas yang dipenuhi dengan rumput semak belukar dan dikelilingi pegunungan.

Do Jin: "Satu-satunya taman dengan tema terunik di dunia dengan luas area 655rb meter persegi. Apa kau pernah melihat sebelumnya? Dengan kapal pesiar dan vila taman. Tempat kau bisa berenang dan bermain ski pada waktu yang bersamaan."

Yi Soo menyindir apa Do Jin mau pamer kalau Do Jin sudah pernah ke tempat seperti itu sebelumnya. Do Jin mengatakan kalau ia juga belum pernah ke tempat seperti itu karena saat ini tempat itu belum ada dan ini adalah lokasi pembangunannya. "Pulau yang sedang kita jalani sekarang akan menjadi tempat berdirinya resort dan taman dengan tema itu."

Do Jin meminta Yi Soo menebak siapa yang membuat desain keren ini. Yi Soo tersenyum dan sudah pasti ia menebak kalau Do Jin lah yang mendesainnya, "Kalau kau sangat keren kenapa kau masih melajang?"

Do Jin: "Itu karena aku sibuk mengalami kegagalan dan keberhasilan yang lebih besar daripada orang lain."

Yi Soo: "Walaupun hubunganmu yang rumit dengan wanita bisa dianggap sebagai kelemahan tapi kalau aku tahu lebih awal kalau kau sangat keren aku pasti akan terjerat lebih awal."

Do Jin merangkul Yi Soo. Yi Soo merengut meminta Do Jin menurunkan tangannya. Tapi Do Jin tak mau (tak bisa) melakukannya. Yi Soo berkata bukankah sudah sangat jelas kalau Do Jin datang kesini untuk bekerja tapi masih saja bilang padanya bepergian, ia cemberut Do Jin sudah berbohong.

Do Jin menggoda apa Yi Soo merasa kecewa. Yi Soo bilang tidak. Do Jin menyahut kalau tidak apa Yi Soo benar-benar mau bepergian dengannya. Yi Soo mendorong Do Jin dan berkata kalau Do Jin sudah keterlaluan. Do Jin merangkul lagi dan keduanya pun menikmati keindahan pemandangan disana.

Yi Soo dan Do Jin makan di restauran sebuah hotel. Do Jin ingin tahu kalau Yi Soo membangun sebuah rumah, rumah seperti apa yang Yi Soo inginkan. Yi Soo terdiam sejenak mendengar pertanyaan Do Jin, raut wajahnya berubah sedih begitu ia mendengar kata rumah. Ia bertanya kenapa Do Jin menanyakan itu. Do Jin mengatakan kalau ia ingin tahu jenis rumah yang ingin ditinggali seseorang dan ia akan bisa memahaminya lebih baik lagi.

Do Jin melihat wajah Yi Soo yang berubah sendu, ia menyadari sepertinya ia sudah mengucapkan sesuatu yang membuat Yi Soo sedih. Yi Soo mengatakan kalau ia ingin sebuah rumah yang tidak ingin ditinggalkan siapapun, "Walaupun dia pergi untuk sementara tapi pada akhirnya rumah itu adalah tempat dia ingin kembali." Yi Soo mengatakan kalau ia ingin rumah seperti itu.

Do Jin mengajak Yi Soo membangun rumah itu di lahan yang harganya mahal, jadi tak ada yang ingin meninggalkannya karena mereka takut harga rumah itu akan naik.

Do Jin menyarankan selesai makan ia akan mengajak Yi Soo pergi. Yi Soo tanya kemana apa ke ruang santai. Dengan tatapan nakal Do Jin mengatakan kalau mereka akan ke kamar.

Yi Soo: Apa?

Do Jin: "Memangnya hotel ini dibangun untuk tempat makan? Tempat yang dibangun untuk makan namanya restauran. Bar untuk minum-minum. Apotik untuk membeli obat dan hotel untuk tidur.

Yi Soo: "Apa kau sudah merencanakan semuanya sebelum membawaku kesini?"

Do Jin: "Kalau kau baru menyadarinya sekarang apa yang harus kulakukan?"

Yi Soo teringat ketika di rumah tadi sebelum pergi ia memakai pakaian dalam yang mana. Ia memakai pakaian dalam yang biasa. Tiba-tiba ia terkejut dan berkata tidak, tidak boleh. Pokoknya tidak boleh kata Yi Soo panik. Do Jin terus menggoda, "Lalu kapan bolehnya?"

Yi Soo bilang pokoknya bukan hari ini, benar-benar tak boleh. Do Jin menyarankan besok. Yi Soo bilang kalau besok perlu dibicarakan lagi nanti. Ia melihat kalau sekarang sudah jam 6 lebih dan ia seorang PNS. Do Jin menyela bukankah ini akhir pekan. Do Jin melemparkan kunci mobilnya, ia ingin Yi Soo yang menyetir pulang. Yi Soo heran kenapa ia yang menyetir.

Do Jin: "Apa masih menginginkanku menyetir setelah membuatku putus asa seperti ini? Anggap saja ini kesempatan untuk lebih dekat dengan Betty."

Keduanya sampai di depan rumah Se Ra. Yi Soo melihat Do Jin tertidur di sampingnya. Yi Soo berusaha membangunkan dengan cara memanggilnya mengatakan kalau mereka sudah sampai. Tapi Do Jin saja masih memejamkan mata, Yi Soo pun keluar dari mobil.

Ketika membuka pintu pun Yi Soo melirik ke arah Do Jin, siapa tahu suara pintu mobil terbuka akan membangunkan Do Jin. Tapi Do Jin tetap terlelap. Yi Soo menebak kalau Do Jin benar-benar tidur.

Yi Soo berdiri di luar mobil memandang Do Jin yang tertidur. Dengan penuh senyuman Yi Soo memandangnya. Ia mendekatkan wajahnya agar bisa melihat lebih dekat wajah Do Jin yang tertidur. Tapi tiba-tiba ia terkejut karena kaca mobil tiba-tiba turun, Do Jin membuka matanya.

Yi Soo merengut kesal dan berkata rupanya Do Jin tadi pura-pura tidur. Do Jin bilang kalau ia baru saja bangun. Do Jin melepas sabuk pengamannya dan menopang kepalanya dengan kedua tangan bersandar pada pintu mobil.

Do Jin menatap Yi Soo dengan tatapan sungguh-sungguh, "Seo Yi Soo, tinggalah denganku!"

Yi Soo tak mengerti, "Apa?"

Do Jin: "Ayo tinggal bersama."

Yi Soo masih tak mengerti, "Apa yang baru saja kau katakan?"

Do Jin: "Di kehidupanmu selanjutnya aku tak peduli dengan siapa kau hidup. Tapi di kehidupan sekarang hiduplah denganku. Kau akan bahagia. Aku berjanji."

Yi Soo terdiam mendengar ajakan hidup bersama dari Do Jin.

Episode-13        

Mereka berempat berada di warung Soju. Sepertinya Jung Rok sedang patah hati. Tae San menyemangati kalau hal itu tak apa-apa. Ia meminta agar Jung Rok bersikap layaknya seorang pria.

Suara Do Jin: "Dulu, kami selalu mengucapkan kata-kata perpisahan kami dan cara kami melakukannya hampir selalu sama."

Yoon melihat salah satu sahabatnya yang terdiam karena patah hati, "Kau membutuhkan wanita lain untuk melupakan seorang wanita. Apa kau mau kukenalkan dengan seseorang?"

Jung Rok berusaha menguatkan dirinya, ia meneguk Soju langsung dari botol.

Kali ini giliran Yoon yang patah hati. Ketiga temannya memberi semangat.

Do Jin: "Kau membutuhkan wanita lain untuk melupakan seorang wanita, apa mau kukenalkan dengan seseorang?"

Yoon diam saja dan ambruk tak sadarkan diri karena terlalu banyak minum.

Cowok patah hati yang ketiga adalah Kim Do Jin. Wajahnya menunjukan kalau ia tak ada semangat hidup.

Tae San: "Kau membutuhkan wanita lain untuk melupakan....."

"Oh apa itu....." tiba-tiba pandangan Tae San beralih ke televisi yang ada di depannya. Ternyata di TV ada pertandingan baseball. Ketiga teman Do Jin pun serius menonton pertandingan tak mempedulikannya yang tengah patah hati.

Do Jin kesal menatap ketiga sahabatnya. Tae San bicara pelan menyarankan lebih baik Do Jin melupakan wanita itu. "Apa mau kukenalkan dengan seseorang?"

"Kalian ini. Dasar!" bentak Do Jin marah. Haha.

Selanjutnya, Tae San terus-menerus menghela nafas panjang apa dia juga patah hati.

Jung Rok: "Hei kau membutuhkan wanita lain untuk melupakan seorang wanita. Apa mau kukenalkan dengan seseorang?"

Do Jin menyahut kalau hari ini bukan tentang wanita dan patah hati. Ia mengatakan kalau Tae San sudah terdaftar masuk wamil. Tae San meminta temannya tak usah khawatir karena ia akan segera pulang setelah wamil. Keempatnya bersulang bersama.

Do Jin meminta Tae San memberikan kartu mahasiswa Tae San pada mereka. Tae San tanya untuk apa. Jung Rok mengatakan kalau kartu mahasiswa Tae San akan dijadikan sebagai jaminan agar mereka bisa minum-minum (pengen minum ga bayar kartu mahasiswa jadi jaminan---haha apa kartu mahasiswa mereka semua sudah dijadikan jaminan)

Jung Rok meminta Tae San tak usah khawatir karena setelah dua setengah tahun saat itu sebagian besar bar ini akan tutup. Tae San jelas tak mau kartu mahasiswanya dipinjam untuk dijadikan jaminan ketiga temannya bersenang-senang minum.

Hari dimana Tae San berangkat wamil pun tiba, ketiga temannya mengantar di stasiun. Tapi Tae San risih meminta ketiganya pergi. Ia melihat sekelilingnya yang berangkat wamil semuanya diantar oleh kekasih mereka hanya dia seorang yang diantar oleh ketiga sahabat prianya. Tae San malu karena hanya ia sendiri yang tidak diantar oleh sang kekasih.

Yoon memeluk Tae San dan berpesan agar Tae San menjaga diri. "Tempat tidurmu aku akan memakainya."

Jung Rok menyalami tangan Tae San dimana Tae San mengenakan jam tangan. Ia berpesan agar Tae San jangan sampai terluka. Kemudian Jung Rok memeluknya erat. "Jam tanganmu apa tak akan hilang di jalan?" (wakaka kalau takut ilang mending titipin aja sama dia gitu mungkin maksudnya) Tae San jelas kesal melihat dua temannya seperti memanfaatkan kepergiannya.

Do Jin yang terakhir memeluk Tae San dan berkata kalau ia akan sering menulis surat, "Berikan padaku kartu mahasiswamu!" Hahaha...

Tae San mendorong Do Jin, ia marah mengumpat dan mengeluarkan semua sumpah serapahnya, "Dasar kalian %^$#@*&."

Ketiga temannya paham dan memeluk Tae San bersamaan tapi Tae San sudah kadung emosi dan mendorong ketiganya agar menjauh. Ia membanting tasnya dan berteriak ia tak jadi pergi. Hahaha

Sinopsis A Gentlemans Dignity Episode 13

Yi Soo keluar dari mobil Do Jin sepulang keduanya dari Chuncheon. Yi Soo berdiri di luar mobil menatap Do Jin yang terlelap. Ia tersenyum memandang wajah Do Jin yang tampak tenang. Ia mendekatkan wajahnya agar lebih jelas memandang Do Jin. Tapi tiba-tiba ia terkejut karena kaca mobil terbuka. Do Jin membuka matanya. Yi Soo menebak kalau tadi Do Jin hanya pura-pura tidur, tapi Do Jin mengatakan kalau ia baru saja bangun.

Do Jin melepas sabuk pengaman dan menopang kepala dengan kedua tangan sambil memandang Yi Soo. Do Jin meminta Yi Soo tinggal bersamanya, "Di kehidupanmu yang selanjutnya, aku tak peduli kau hidup dengan siapa. Tapi di kehidupan sekarang hiduplah denganku. Kau akan bahagia. Aku janji."

Yi Soo terdiam mendengar ajakan Do Jin agar tinggal bersama (apa ini maksudnya lamaran) Ia menatap kesungguhan ucapan yang baru saja Do Jin katakan. "Tapi kenapa kau menggunakan bahasa tak formal?" tanya Yi Soo.

Do Jin bertanya memangnya tak boleh bukankah Yi Soo sudah menciumnya lewat jendela. Yi Soo merengut kesal, "Kau ingin aku melakukan apa? Memangnya kita ini sudah berkencan selama satu atau dua tahun? Bukankah kita baru saja memulainya. Kenapa kau sudah membicarakan tentang pernikahan?"

Do Jin kembali bertanya apa lamanya waktu berkencan begitu penting. Yi Soo ingat bukankah Do Jin bilang ingin tetap melajang, bukankah Do Jin pernah mengatakan kalau Do Jin tak yakin bisa mencintai dan hidup dengan satu orang wanita saja seumur hidup Do Jin.

Do Jin berkata mungkin sekarang ia tak yakin tapi ia ingin mencobanya. Yi Soo dengan tegas menolak. Do Jin merasa kalau jawaban Yi Soo terlalu cepat. Yi Soo tak mau tahu ia menyuruh Do Jin pergi saja. Ia pun segera masuk ke rumah, Do Jin menyampaikan salam dan berpesan agar Yi Soo tidur nyenyak. Yi Soo sewot tak peduli.

Yi Soo sudah di dalam rumah, "Tidur nyenyak? Mana mungkin?"

Tiba-tiba terdengar teriakan Yi Soo yang kegirangan karena Do Jin baru saja mengajaknya tinggal bersama. Ia jelas senang bukan main dan lompat-lompat kegirangan (jadi diluar cuma jaim aja nih haha)

Se Ra keluar dari kamar dan bertanya ada apa. Yi Soo tersenyum-senyum mengatakan kalau ia sekarang sedang jatuh cinta. Ia mengatakan pada Se Ra kalau Do Jin memintanya untuk tinggal bersama. Ia merasa sepertinya Do Jin sangat menyukainya.

Se Ra tersenyum miris itu jelas berbeda dengan yang ia alami karena ia baru saja putus dengan Tae San. Se Ra mengatakan kalau ia juga mendengar hal yang sama (ajakan menikah) tapi ia malah putus dengan Tae San.

Yi Soo jelas saja terkejut mendengar kalau Se Ra dan Tae San putus. Se Ra beralasan putusnya ini ia lakukan demi Tae San. Yi Soo menilai kalau putus demi Tae San hal ini sama sekali tak menolongnya. Pasti ini terjadi karena cinta salah satu pihak tak cukup dalam. Se Ra menebak apa yang dimaksud Yi Soo itu dirinya. Yi Soo terdiam.

Hari ujian di sekolah. Yi Soo sibuk mengirim SMS karena ia tak mengawas ujian di jam pertama semantara Guru Park mengawas ujian di jam pertama.

Ujian Etika kelas 2 Semester 2.

1. Matikan ponsel kalian. Kalau tidak, kalian akan berurusan dengan Kepala Sekolah.

2. Jangan menendang kursi di depan kalian karena dia juga tidak tahu jawabannya.

3. Buang kertas contekan kalian ke tempat sampah sekarang juga.

Dari Dewi Etika, Seo Yi Soo.

Yi Soo mengirim SMS itu ke semua murid di kelasnya. Semua muridnya tertawa menerima SMS itu. Guru Park masuk lebih dulu dan ujian pun dimulai.

Yi Soo siap masuk di ujian jam berikutnya. Guru Park menemuinya dan ia sudah dibuat kesal dengan ulah Dong Hyub. Yi Soo tanya kenapa apa Dong Hyub mencontek. Guru Park mengatakan kalau Dong Hyub lebih dari sekedar mencontek dia bahkan menyalin semuanya.

Guru Park memperlihatkan lembar jawaban Dong Hyub. Jawaban tiap nomor semuanya sama kalau ada pilihan a, b, c, d, e. Dong Hyub menjawab d semua. Tapi disana pilihan jawabannya 1, 2, 3, 4, 5 dan Dong Hyub menjawab 4 semua untuk tiap nomor. Haha.

Dan untuk soal uraian Dong Hyub menjawabnya dengan menuliskan identitas buku yang ia baca. Buku yang sama yang ia hadiahkan untuk Yi Soo. Ditiap nomor jawabannya terdapat nama pengarang, edisi pertama terbit, bahkan nama penerbitnya. Jadi bukan isi jawaban soal.

Guru Park bergumam seharusnya Dong Hyub mengosongkan saja kalau dia memang tak tahu jawabannya. Yi Soo penasaran dan membuka buku yang ia terima dari Dong Hyub. Ia membuka halaman terakhir dan itu sama persis seperti apa yang ditulis Dong Hyub. Ia tersenyum ternyata Dong Hyub memang membacanya sampai bagian akhir.

Min Suk minum-minum sendiri di bar Jung Rok (lha kok disana apa ketahuan) Manajer bar terus memperhatikannya, ia merasa pernah melihat wajah Min Suk tapi ia lupa dimana.

Ia pun melirik meja bagian bawah di depannya. Disana ada selebaran gambar Min Suk yang mungkin dibuat oleh Jung Rok sebagai orang yang perlu diwaspadai. Ia pun kaget tak menyangka kalau wanita yang ada dihadapannya adalah orang yang perlu diwaspadai. Ia pun mengirim SMS pada bosnya. Gawat darurat kode M (M=monster)

Min Suk memanggil Si Manajer bar. Manajer bar gugup tapi ia mencoba bersikap santai. Min Suk menanyakan siapa nama manajer bar. Manajer bar mengatakan kalau namanya Lee Seung Taek (ok kita nyebutnya Seung Taek) Min Suk tanya lagi apa Seung Taek pemilik bar ini. Seung Taek menjawab ya. Min Suk melihat kalau Seung Taek masih sangat muda tapi sudah memiliki bisnis yang bagus. Seung Taek mengatakan kalau semuanya hutang.

Min Suk meminta dua botol anggur lagi. Seung Taek heran bukankah Min Suk belum meminum sampai setengah tapi kenapa ingin menambah dua botol lagi. Min Suk mengeluarkan kartu kreditnya membayar dimuka, ia meminta minuman pesanannya ini disimpan khusus karena ia merasa senang disini. Seung Taek mengatakan kalau bar-nya tak menerima pembayaran dimuka. Min Suk berkata kalau ia tak ingin terlihat seperti wanita aneh, jadi bayar saja.

Jung Rok turun dari lantai dua bar-nya, ia menerima SMS dari Seung Taek. Ia pun terperanjat membacanya. Ia akan kembali ke lantai 2 lagi tapi di tangga ia berpapasan dengan Yoon dan Pengacara Kang.

Saking terburu-burunya Jung Rok sampai kaget begitu melihat Yoon. Yoon tanya ada apa. Jung Rok memberi tahu kalau Min Suk ada di bawah. Yoon ikut panik apa Min Suk sudah tahu tentang bar ini. Jung Rok menjawab tak tahu ia mengajak Yoon sembunyi.

Jung Rok juga mengajak Pengacara Kang ke tempat lain tapi Pengacara Kang tak mau bertiga dengan Jung Rok. Ia ingin pergi berdua dengan seniornya. Ia mengatakan kalau belakangan ini sudah mengalami banyak tekanan jadi ia ingin bersantai dengan seniornya. Ia berharap Jung Rok bisa bergabung dengannya lain waktu. (yah bilang aja mau berduaan sama Yoon)

Yoon mengingatkan kalau bar sudah tutup Jung Rok harus segera pulang jangan keluyuran kemana-mana.

Setelah Yoon dan pengacara Kang pergi Jung Rok menelepon Meari. Ia jelas tak suka dengan tingkah Pengacara Kang, "Apa itu? Meari jauh lebih baik daripada dia."

Jung Rok mengatakan pada Meari kalau ia memiliki berita penting. Berita yang benar-benar akan menghapus masa lalu mereka berdua yang kelam dan membantu menyelamatkan persahabatan keduanya. Jung Rok memberi tahu Meari dimana dan dengan siapa Yoon sekarang.

Meari datang menggunakan taksi ke tempat yang ditunjukkan Jung Rok. Ia jelas menahan marah melihat Yoon dan Pengacara Kang minum bersama. Apalagi Pengacara Kang begitu perhatian pada Yoon menuangkan minuman untuk Yoon.

Pengacara Kang mengatakan apa Yoon tak tahu kalau Yoon ini laki-laki jahat. Bukankah jelas masih ada ruang kosong di hati tapi Yoon masih mengatakan kalau Yoon tak menyukainya (Meari) kalau begitu siapa lagi yang akan mempercayai Yoon. Dari kata-kata Yoon saja sudah sangat jelas menunjukan kalau Yoon memberikan kesempatan. Karena menurutnya Yoon ini tak sungguh-sungguh menolak Meari, "Pria yang pura-pura menolak wanita sebenarnya sedang menarik wanita itu. Gadis itu, apa arti keberadaannya bagimu?"

Yoon merasa kalau ia tak nyaman membicarakan Meari dengan Pengacara Kang karena Meari sendiri pasti tak suka kalau ia membicarakan tentang Meari dengan wanita lain.

Tiba-tiba terdengar suara keras Meari memesan makanan dan minuman. Yoon jelas kaget mendengarnya dan menoleh ke meja samping yang ternyata sudah ada Meari disana.

Yoon bertanya apa yang dilakukan Meari disini. Meari balik bertanya kalau Yoon juga ada disini. Ia kesini untuk minum jadi Yoon tak usah menghiraukannya. Pengacara Kang menawarkan apa Meari mau bergabung dengannya dan Yoon. Dengan ketus Meari bilang tak perlu. Yoon pun kesal dan tak peduli ia membiarkan Meari minum.

Pelayan datang mengantarkan pesanan Meari tapi Meari menolak minum soju menggunakan gelas jadi gelasnya dibawa kembali oleh si pelayan.

Pengacara kang berkata kalau minum sendirian itu tidak menyenangkan, ia ingin Yoon juga minum tapi Yoon menolak minum banyak ia akan minum segelas saja karena nanti ia akan menyetir. Meari cemburu marah melihat keakraban keduanya. Keduanya saling bergantian menuangkan minuman.

Meari langsung meneguk soju langsung dari botolnya. Yoon jengah melihat tingkah Meari, "Hei apa yang kau lakukan?"

"Aneh sekali ahjussi ini, kenapa mengajak bicara orang di sebelah mejamu?" Meari kembali meneguk sojunya. Yoon makin kesal dengan tingkah Meari yang kekanakkan.

Yoon akan menghampiri tempat duduk Meari tapi Meari lebih cepat berdiri dan menghampiri tempat duduk Yoon dan Pengacara Kang.

"Kang Byun Gong Eonni, apa kau menyukai Kak Yoon?" tanya Meari sudah mulai mabuk. "Aku menyukainya. Tapi... Eonni kau bukan saja tinggi, cantik dan langsing. Kau bahkan bekerja dengan Oppa benar-benar mengganggu dan menjengkelkan. Kalian berdua juga minum bersama sambil membicarakan tentang hal-hal yang tak kumengerti. Kau tak bisa berhenti ya?"

Yoon melihat kalau Meari sudah mabuk, Ia akan mengantar Meari pulang tapi bruk... Meari langsung tak sadarkan diri jatuh tepat ke pelukan Yoon. Yoon mengguncang-guncangkan tubuh Meari tapi Meari sudah mabuk tak sadarkan diri.

Yoon bingung harus dibawa kemana Meari, kalau dibawa pulang ia takut Tae San akan memarahi Meari karena mabuk. Ia pun membiarkan Meari tidur di mobilnya sampai sadar.

Yoon berdua dengan Meari di dalam mobil. Ia tak tenang, gelisah, sesekali ia memandang Meari yang masih tertidur tak sadarkan diri.

Untuk menghilangkan kegelisahannya Yoon menunggui Meari di luar mobil. Ia mondar-mandir tak tenang dan pandanganya tak pernah jauh dari Meari yang masih terlelap tak juga segera bangun.

Yoon kembali duduk di dalam mobil menunggu Meari sadar, kegelisahannya bertambah dengan kecemasan karena malam semakin larut.

Tiba-tiba Meari bangun dan berkata kalau Yoon tak melakukan apapun lebih baik antarkan saja ia pulang. Sekarang ia sudah sadar dan ingin ke toilet jadi Yoon sebaiknya mengantarnya pulang sekarang juga. Yoon bengong ternyata Meari sudah bangun dari tadi.

Yoon mengantar Meari pulang dan disaat yang bersamaan Tae San juga baru pulang. Tae San melihat mobil Yoon dan juga melihat adiknya ada disana. Meari dan Yoon jelas kaget keduanya bertemu dengan Tae San di depan rumah seperti ini. Meari menyapa kalau kakaknya pulang terlambat. Tae San menyahut bukankah Meari juga pulang terlambat. Meari buru-buru menjelaskan kalau tadi ia pergi ke tempat Yoon dan Pengacara Kang yang sedang minum-minum. Disana ia membuat ulah dan memaksa Yoon mengantarnya pulang (Meari berusaha menjelaskan supaya kakaknya tak menyalahkan Yoon karena mengantarnya pulang)

Tae San bilang kalau ia tak bertanya jadi Meari masuk saja. Tae San berterima kasih pada Yoon karena sudah mengantar adiknya pulang. Yoon mengatakan kalau kejadian ini tak bisa dihindarkan, ia bertanya kenapa Tae San pulang kerja selarut ini. Tae San menyampaikan kalau ia baru pulang latihan baseball. "Karena memukul bola adalah obat terbaik ketika kau memiliki masalah."

Yoon berpesan Tae San jangan terlalu serius latihan. Ia pamit pulang karena istrinya sudah menunggu (istri->Do Jin)

Meari mengucapkan terima kasih karena Yoon sudah mengantarnya pulang. Setelah Yoon pergi Meari segera bergegas masuk ke rumah mencoba menghindari pembicaraan dengan kakaknya.

Di dalam rumah Tae San meminta Meari berhenti jangan masuk kamar dulu. Meari pun berhenti dan siap mendengarkan ocehan kakaknya. Apa tanya Meari galak.

Tae San berkata kalau Meari sudah mengakuinya sendiri pergi ke tempat Yoon yang sedang minum-minum. Meari memohon tak bisakah kakaknya pura-pura tak mendengar lebih baik salahkan alkoholnya jangan menyalahkan orangnya. Tae San menyahut kenapa menyalahkan alkoholnya, bukankah ini kesalahan orangnya. Ia mengancam jangan sampai hal ini terulang lagi.

Meari bertanya dengan juteknya memangnya apa yang terjadi hari ini, apa seperti Yoon mengantarnya pulang. Lalu kenapa kalau itu terjadi lagi, "Memangnya hidupku milik kakak? Kenapa kakak mengancamku?"

Tae San mengatakan kalau perbedaan usia Meari dan Yoon itu 17 tahun. Ketika Yoon sudah 50 tahun Meari baru mencapai usia 33 tahun. Sebagai temannya ia merasa kasihan akan masa lalunya yang menyakitkan tapi sebagai kakak sangat sulit baginya untuk menerima masa lalu Yoon.

Meari mengatakan kalau hal itu tak masalah baginya, ia sama sekali tak peduli status Yoon tapi kenapa kakaknya tak bisa menerima itu. "Kakak pikir kakak siapa?" Suara Meari meninggi. "Bagaimana kalau aku tak bisa melepas Kak Yoon sampai aku mati, apa yang akan kakak lakukan?"

Tae San berkata mungkin saja Meari tak bisa melepasnya tapi Yoon tak menyukai Meari. Meari tanya dari mana kakaknya tahu kalau Yoon tak menyukainya. Tae San mengatakan kalau ia sudah mengenal Yoon selama 20an tahun.

"Kami bersama-sama sejak muda dan tumbuh dewasa bersama-sama. Bagi pria 41 tahun perbedaan usia yang banyak itu lebih penting daripada cinta. Apa kau tak bisa hidup tanpanya? Tak ada hal seperti itu. Sayangnya yang harus dilindungi Yoon bukanlah kau, tapi kami. Jadi tak usah dilanjutkan lagi. Apa kau pikir Yoon akan bahagia hidup denganmu? Mungkin kau akan bahagia tapi Yoon tidak. Karena itulah aku mempercayainya,"

Meari menangis mendengar setiap perkataan kakaknya yang menyakitkan baginya,

Tae San: "Karena itu aku bersedia menyerahkan seluruh hartaku pada Yoon, kecuali kau."

Tae San meminta adiknya menghentikan semua omong kosong ini, siapkan saja pendidikan pascasarjana Meari. Tae San menuju kamarnya meninggalkan Meari yang terus menangis.

Tangis Meari semakin lama semakin keras, tak sengaja Colin mendengar yang mereka berdua bicarakan.

Do Jin bernyanyi mengikuti alunan musik sambil menggunting gulungan benang merah yang ia ambil dari kamar Yi Soo.

Yoon sampai di rumah Do Jin langsung memberi tahu kalau Tae San mengirim SMS dan kelihatannya itu ditujukan untuk Yoon. Katanya Tae San membentuk tim baseball untuk sebuah pertandingan. Yoon menyahut kalau Do Jin juga masuk ke dalam tim itu. Bukan hanya Do Jin bahkan nama Jung Rok juga masuk ke dalam daftar.

Do Jin kaget kata siapa. Yoon mengatakan kalau Tae San kembali serius berolahraga. Ia melihat kalau hubungan Tae San dengan Hong Pro sedang tak baik.

Do Jin: "Im Tae San dan Hong Se Ra yang bertengkar apa hubungannya denganku? Kenapa jadi begini?"

Yoon mengatakan kalau ini namanya efek kupu kupu. Do Jin mengumpat dasar Im Tae San. Ia penasaran sebenarnya apa yang dilakukan Hong Pro sampai membuat Tae San jadi seperti itu. Do Jin masuk tim Blue Cat tentu saja ia senang. Haha...

Tae San di Hwa Dam sibuk dengan rancangannya. Tapi seluruh badannya terasa nyeri. Banyak tempelan koyo yang tertembel di tubuhnya. Tae San merasa kesakitan menggerakkan tangannya.

Do Jin dan Jung rok datang. Jung Rok ngomel-ngomel kenapa ia menjadi bagian dari Blue Cat. Tae San bertanya pada Do Jin kenapa si brengsek ini ada disini. Do Jin berkata bukankah Tae San tahu kenapa Jung Rok disini.

Jung Rok mengatakan karena ia seorang Presiden jadi ia kesini untuk bekerja hari ini. Do Jin menyahut kalau Jung Rok seorang Presiden sekalian saja panggil Tae San ke gedung biru. (istana kepresidenan Korea Selatan)

Tae San tak mau mendengar gurauan temannya, ia mengingatkan kalau seseorang yang beberapa hari lalu baru saja membuat masalah dia harus tutup mulut. Jung Rok langsung diam dan menyenggol Do Jin bukankah nama Do Jin juga masuk terdaftar.

Do Jin akan menyalahkan Tae San tapi Tae San menyela kenapa menyalahkannya ia bisa apa karena orangnya tidak cukup. Apa mereka harus menyerah hanya karena Do Jin dan Jung Rok. "Apa kalian berdua berencana mengacaukan tim?" Jung Rok bilang tentu saja tidak.

Tae San meminta kedua temannya menyumbang secara sukarela. Ia akan memberi kedua temannya nomor rekeningnya. Jung Rok heran memangnya ada yang seperti itu. Do Jin menyela Tae San ini butuh uang atau pemain. Tae San menyahut kalau ia butuh pemain yang ber-uang.

Jung Rok mencium sesuatu ia mencium aroma koyo yang sangat menyengat. Ia heran berapa banyak koyo yang dipakai Tae San sampai baunya menyengat seperti ini. Tae San tak menjawab ia memindahkan hasil rancangannya. Do Jin melihat tubuh Tae San dipenuhi koyo. "Kalau separah itu lebih baik operasi saja!" sahut Do Jin.

Tae San mengatakan kalau kita kesini untuk bekerja, kalau Do Jin kesini bukan untuk bekerja lalu untuk apa kesini. Do Jin berkata kalau ia harus mempersiapkan perlengkapan baseball-nya.

Do Jin dan Jung Rok ke toko pakaian olahraga. Do Jin melihat beberapa model jaket. Jung Rok heran bukankah Do Jin mengatakan tak mau bergabung dengan Blue Cat. Do Jin meralatnya kalau ia berubah pikiran dan juga suasana hati Tae San sedang jelek karena Hong Pro jadi ia harus mematuhi kata-kata Tae San. Jung Rok kesal karena ia juga turut masuk ke dalam tim. Do Jin berkata bukankah setelah basket Jung Rok ahli dalam baseball. Jung Rok merasa kalau Do Jin memang pintar kalau bicara omong kosong.

Do Jin memilih beberapa jaket dan meminta Jung Rok melihat mana yang cocok untuknya kuning atau biru. Jung Rok menyarankan seharusnya Do Jin membeli peralatan baseball dulu kenapa malah membeli kostum. Do Jin mengatakan kalau ia tak mengerti tentang peralatan baseball tapi kalau masalah kostum ia sangat menguasai. "Selalu-lah kau mulai dengan yang kau sukai terlebih dulu!"

Jung Rok menunjukan jaket mana yang cocok untuk Do Jin, hijau tua. Ia mengatakan kalau Do Jin tak cocok memakai warna kuning. (Om Jung Rok aku juga suka warna pilihanmu)

Do Jin menyahut kalau ia akan terlihat tampan memakai apa saja. Dan ia pun mengambil jaket pilihan Jung Rok. Sebelumnya ia melihat ponselnya tapi tak ada telapon atau SMS dari Yi Soo, ia bergumam bukankah ia akan bergabung dengan tim tapi kenapa belum ada telepon sama sekali.

Meari menatap heran Se Ra yang tengah berbincang dengan seorang pria. Pria itu yang pernah ia temui di klub. Dia seorang Caddy, Caddy Lee.

Caddy Lee mangatakan pada Se Ra kalau ia datang ke pertandingan karena ia ingin melihatnya. Se Ra mengatakan kalau pertandingannya mungkin tak banyak yang layak ditonton, bisakah itu diartikan kalau Caddy Lee tertarik untuk merekrutnya. Caddy Lee mengatakan kalau itu hanya sebagai sopan santun.

Se Ra tak masalah, seperti yang Caddy Lee lihat waktu itu ia bermasalah dengan back swing. Bahunya kaku jadi ia hanya bisa mengangkat tangannya, down swing... (ga ngerti istilah golf nih saya haha kalau sepak bola ya paham ckckck)

Caddy Lee menilai kalau permainan Se Ra terlalu banyak putaran. Apa Se Ra pikir hanya itu masalahnya. Ia mengatakan kalau masalahnya bukan terletak pada teknik yang Se Ra gunakan, "Kurang kekuatan, kurang konsentrasi. Terlalu banyak publikasi di media massa dan khalayak ramai." Dengan kata lain Caddy Lee kembali menolak merekrut Se Ra ke dalam timnya.

Meari berinisiatif menyuguhkan makanan untuk Caddy Lee. Ia mengatakan kalau makanan ini gratis. Ia juga minta maaf atas sikap buruknya waktu itu, ia memohon agar Caddy Lee mengabulkan permintaan Se Ra, "Dia pasti sangat putus asa sampai terpaksa melakukan ini."

Se Ra jelas kaget Meari mengatakan semua itu. Tapi Caddy Lee tetap pada pendiriannya, jawaban kali ini pun akan sama seperti ketika terakhir kali ia menjawabnya dan Meari tak sepantasnya ikut campur. Caddy Lee pamit, Se Ra menghela nafas pasrah melihat kepergian Caddy Lee.

Meari berharap Se Ra jangan salah paham ia hanya ingin menolong tapi sepertinya itu tak bisa dipercaya. Se Ra tahu itu tapi ia tak bisa berterimakasih pada Meari karena mereka memiliki perbedaan. Ia menawarkan apa Meari mau makan siang dengannya. Meari menolak dan berkata kalau ia tak makan siang dengan wanita. Se Ra juga demikian dan pamit meninggalkan Mango Six. Meari bergumam kesal, "Dia bahkan tak bisa meninggikan suaranya di depan pria itu tapi memperlakukan Kakakku dengan buruk."

Se Ra menerima telepon dari Manajer kredit sebuah bank. Ia menjawabnya dengan perasaan jengkel. Ia mengatakan kalau meneleponnya setiap hari seperti ini tidak akan membantu manajer bank mendapatkan uangnya. Ia heran kenapa manajer bank ini tak kenal lelah menelponnya. Ia berjanji pasti akan mengambalikannya karena ia ini orang terkenal tak mungkin ia melarikan diri. (ternyata Se Ra punya utang toh)

Se Ra akan masuk mobil tapi sebelum itu ia menatap mobil merahnya. Apa Se Ra akan menjual mobilnya?

Yi Soo duduk santai di rumah sambil mencukur bulu kaki. Tepat saat itu Se Ra pulang, Yi Soo mengucapkan selamat datang tanpa memandang Se Ra yang datang dengan seseorang, Do Jin.

Se Ra mengatakan kalau Do Jin ada disini. Deg, Yi Soo jelas kaget karena ia sedang mencukur bulu kakinya. Ia jelas malu kalau mengaku ia sedang mencukur bulu kaki.

Yi Soo langsung berpura-pura kalau ia sedang mengeringkan rambutnya. Do Jin tersenyum-senyum melihatnya.

Yi Soo menanyakan kenapa Do Jin dan Se Ra bisa datang bersamaan. Se Ra menjawab kalau ia bertemu dengan Do Jin di depan. Se Ra menawarkan apa Do Jin mau minum kopi, Do Jin jelas mau. Do Jin berjalan lebih dulu di depan Se Ra dan duduk di meja dapur.

Yi Soo menatap jengkel Se Ra. Ia berbicara menggunakan bahasa isyarat memarahi Se Ra kenapa datang bersama Do Jin ketika ia sedang mencukur bulu kakinya. Se Ra membela diri berkata menggunakan bahasa isyarat kalau ia tak tahu Do Jin akan kesini. Yi Soo masih ngomel-ngomel tanpa suara seharusnya Se Ra meneleponnya dulu. Se Ra masih membela diri kalau ia tak tahu Yi Soo sedang mencukur bulu kaki.

Do Jin menoleh ka arah Yi Soo dan Yi Soo pun pura-pura membersihkan debu di kursi. Ia minta Do Jin minum kopi saja ia akan masuk ke kamar dulu. Yi Soo segera masuk ke kamarnya.

Do Jin permisi pada Se Ra kalau ia akan masuk ke kamar pacarnya dulu. Do Jin teringat sesuatu ia mengatakan pada Se Ra kalau sekarang Tae San jadi pecandu olahraga. Ia tak tahu apakah koyo itu menempel di tubuhnya atau tubuhnya yang ditumbuhi koyo. Se Ra terdiam mendengar kondisi Tae San yang terus menerus berolahraga untuk melampiaskan frustasi.

Di kamar Yi Soo, Do Jin mendengarkan celotehan Yi Soo yang marah-marah karena ia datang tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Do Jin mengatakan kalau ia menelepon dulu mana mungkin ia bisa melihat yang baru saja dilihatnya. Yi Soo menegaskan kalau ia tadi sedang mengeringkan rambut.

Do Jin: "Baiklah kalau begitu, kalau kau memaksa berati yang tadi bukan epilator tapi hair dryer."

Yi Soo: "Dasar seharusnya kau tak usah mengatakan itu."

"Kalau begitu gunakan mulutmu untuk sesuatu yang bermanfaat. Seperti ini!" kata Do Jin mencium tangan Yi Soo. "Atau seperti ini!" Do Jin mencium pipi Yi Soo.

Cup... Yi Soo mencium bibir Do Jin, "Apa seperti ini?" Yi Soo tersenyum hahaha...

Do Jin langsung memeluk erat Yi Soo. Ia menghela nafas dan bertanya apa Hong Pro hari ini tak punya janji dan apa Yi Soo sudah mendengar kalau ia direkrut oleh tim Blue Cat. Yi Soo menilai kalau itu hal yang konyol, memangnya Do Jin tahu ada berapa rangkaian dalam olahraga baseball.

Do Jin: "Untuk orang yang sedang terkekang seperti ini kau tak tahu betapa berbahayanya kata-katamu barusan?"

Yi Soo meminta Do Jin melepaskan pelukannya kalau tidak ia akan memberikan Do Jin satu strike. Do Jin bertanya kalau ia melepaskan pelukannya apa Yi Soo mau tinggal bersamanya.

Yi Soo: "Apa hari ini waktu yang baik ya? Waktu yang tepat untuk melepaskan diri dari ikatan cinta,"

Do Jin: "Bagaimana ini? Kau masih memungkirinya."

Do Jin masih memeluk Yi Soo dan memutar tubuh Yi Soo menuju ranjang tapi tiba-tiba ponsel Yi Soo bunyi, spontan Yi Soo mendorong Do Jin. Do Jin sewot, Yi Soo mengatakan kalau ia melepaskan ikatan. Ia tertawa dan meminta Do Jin menunggunya diluar. Ia akan pergi makan dengan Do Jin di luar.

Yi Soo melihat siapa yang meneleponnya, raut wajahnya berubah ketika ia tahu siapa yang menelpon.

Yi Soo sudah berganti pakaian dan keluar dari kamarnya. Ia minta maaf pada Do Jin tak bisa makan malam bersama. Ia mengatakan kalau teman kerjanya menelepon dan dia sedang berada di sekitar sini. Jadi makan malamnya lain waktu saja.

Do Jin tanya teman guru pria atau wanita. Yi Soo menjawab pria. Do Jin kembali bertanya apa dia masih muda, Yi Soo menjawab tidak. Do Jin tanya lagi apa janjiannya di dekat sini ia menawarkan lebih naik mobilnya saja, ia akan mengantar Yi Soo kesana. Tapi Yi Soo menolak, ia mengatakan kalau tempatnya sangat dekat jalan kaki 5 menit sudah sampai. Ia berjanji akan menelepon Do Jin nanti.

Yi Soo masuk ke sebuah kafe, disana dua orang pria sudah menunggunya. Kelihatannya dua pria ini kakak beradik yang usianya sudah tak muda lagi. Salah satunya mengatakan kalau mereka sudah memesankan kopi untuk Yi Soo. Yi Soo melihat ada kopi di depannya, ia tertawa sinis melihatnya.

Ternyata Do Jin mengikuti Yi Soo. Ia duduk di mobilnya memperhatikan Yi Soo yang tengah berbicara dengan dua orang pria. Ia mengamati kedua pria ini.

Pria berbaju coklat mengatakan kalau ia mendengar Yi Soo menjadi guru di sebuah SMA. Yi Soo tak mau bicara panjang lebar lebih baik masuk ke intinya saja. Si pria tua yang sepertinya sang kakak mengatakan kalau yang akan dibicarakan ini mengenai ibu Yi Soo.

"Siapa?" Tanya Yi Soo cuek.

"Ibumu!"

Yi Soo merasa kalau kedua pria ini pasti sudah salah, ia tak memiliki ibu. "Dia mengasuhku selama 12 tahun dan mengasuh kalian selama 23 tahun. Bagaimana mungkin dia ibuku?"

Yi Soo meminta kedua pria ini jangan menghubunginya lagi. Ia meninggalkan tempat duduknya membuat kedua pria ini kesal. (Oh jadi ini kedua pria ini anak tiri Ibunya Yi Soo)

Yi Soo berjalan lemas di luar kafe, ia seolah tak kuat berdiri. Kedua pria ini juga meninggalkan kafe dan menatap Yi Soo dengan tatapan remeh.

Yi Soo duduk di depan kafe memikirkan semuanya. Tak terasa air matanya pun menetes. Ia tak bisa menahan kesedihannya, air matanya pun semakin deras.

Tiba-tiba Do Jin jongkok di depannya. Yi Soo jelas tak menyangka kalau Do Jin mengikutinya. Do Jin mengusap lembut air mata yang menetes di pipi Yi Soo. Yi Soo seperti mendapatkan dukungan moril, tapi walaupun begitu ia tetap saja menangis.

Do Jin tahu kalau Yi Soo sudah berbohong padanya karena pakaian mereka terlalu mahal untuk seorang guru SMA. Ia datang kesini bukan karena cemburu tapi lebih karena ia khawatir. Ia pun bertanya ada apa sampai Yi Soo menangis seperti ini.

Yi Soo belum bisa mengatakannya ia terus menangis. Do Jin mengerti ia tak akan memaksa Yi Soo bicara, Yi Soo bisa menceritakan semuanya nanti ketika sudah siap. Yi Soo mengangguk pelan. Do Jin berpesan kapan saja Yi Soo membutuhkan bantuannya jangan ragu untuk meminta bantuannya.

"Sekarang... aku lapar!" kata Yi Soo sambil mengusap air matanya. Do Jin tersenyum dan mengajak Yi Soo makan, "Seo Yi Soo yang sedang lapar ingin makan apa? Aku ingin memahami kebiasaan makanmu sambil kita makan,"

Tae San pergi ke salon, ia berniat mencukur rambutnya. Di sebelah Tae San ada seorang wanita yang juga berniat memotong rambut dan sepertinya wanita ini juga patah hati karena ia terus menangis. Petugas salon bertanya pada wanita itu gaya rambut apa yang diinginkan, Wanita itu terus menangis dan mengatakan potong saja yang sangat pendek, potong semuanya.

"Jadi kau baru putus cinta?" ucap petugas salon. Tae San menoleh ke arah wanita yang baru putus cinta itu. Si wanita juga melihat ke arah Tae San. Tak lama kemudian petugas salon yang akan memotong rambut Tae San datang dan bertanya model rambut apa yang Tae San inginkan. Potong sangat pendek kata Tae San.

Tae San kembali menoleh ke arah si wanita, "Meskipun kita melakukan ini akankah mereka tahu?"

Si wanita jelas tambah sedih mendengar Tae San bertanya padanya. Sepertinya luka di hatinya sangat dalam, tangisnya pun tambah pecah.

Dan inilah gaya baru Im Tae San (Wow Om Tae San tambah ganteng haha)

Tae San minum sendirian di bar Lee Jung Rok.

Disana Jung Rok sedang berdiskusi dengan Manajer bar, Lee Seong Taek. Jung Rok menanyakan apa mereka tak perlu menunda pembayaran sewa. Seong Taek menjawab ya setelah melunasi tagihan listrik sebenarnya ia khawatir apa yang harus dilakukannya karena setelah itu Nyonya (Min Suk) datang lalu ba bi bu dia memesan tiga botol anggur. Jung Rok bertanya-tanya kira-kira Min Suk tahu atau tidak.

Seong taek penasaran dari mana bos-nya mendapatkan uang untuk membayar gajinya. Jung Rok mengatakan kalau pembayaran gaji Seong Taek didapat dari pendapatan kafe. Seong Taek heran lalu bagaimana dengan karyawan kafe. Jung Rok mengatakan kalau yang disana mendapatkan gaji dari pendapatan di bar, karena itulah tanggal gajian Seong Taek berbeda.

Seong Taek menganggap kalau yang dilakukan bosnya ini memutar uangnya. Ia menilai kalau ini bukan pembayaran kartu kredit bagaimana mungkin Bos-nya melakukan itu dalam bisnis. Jung Rok mengatakan kalau keuntungannya tak cukup jadi pikirkan saja cara menjalankan bisnis yang baik dan juga pelajari dengan baik, walaupun tak sukses setidaknya ini tidak tutup.

Jung Rok heran melihat Tae San yang minum sendirian dengan wajah frustasi. "Kenapa dia putus lagi kalau tak bisa mengobati luka hatinya?"

Tae San mengenang kebersamaannya yang membahagiakan dengan Se Ra. Ia juga mengingat perbincangan terakhir mereka sebelum keduanya benar-benar putus.

Jung Rok menghampiri Tae San. Ia bertanya apa Tae San potong rambut lagi, "Kau membutuhkan wanita lain untuk melupakan seorang wanita. Apa mau kukenalkan dengan seseorang?" (haha ini kan kalimat mereka sejak masih kuliah)

Tae San menyuruh Jung Rok diam. Ia kemudian bertanya apa Jung Rok bahagia dengan pernikahan Jung Rok. Jung Rok berkata kalau ia bahagia, karena ia sudah menikah jadi ia tak terbebani dengan ketakutan kapan akan menikah. Tae San heran kenapa Jung Rok bisa menjadi orang pertama yang menikah diantara mereka berempat.

Dengan pedenya Jung Rok mengatakan karena ia yang paling tampan. Tae San menilai selera Min Suk terhadap pria sangat rendah. Jung Rok heran kenapa Tae San tiba-tiba membicarakan pernikahan apa Se Ra meminta Tae San menikahinya. Tae San mengatakan kalau Se Ra tak mau menikah dia lebih mencintai karirnya.

Jung Rok: "Hei, ya sudah kalau begitu. Memangnya wanita di dunia ini hanya Hong Se Ra?"

Tae San: "Apa kau tak mengerti? Ini cinta sejati seorang pria. Dunia ini luas dan dipenuhi banyak wanita tapi duniaku hanya diisi oleh Hong Se Ra. Jadi apa yang bisa aku lakukan?"

Tae San pamit ia harus pergi. Jung Rok bergumam jadi dunia ini ada yang seperti itu.

Tae San berlatih baseball malam hari, ia melatih pukulan permainan untuk melampiaskan segala kegundahan hatinya. Dari jauh Se Ra memperhatikan dengan hati pedih.

Tae San istirahat sejenak dan duduk di bangku sambil mengatur nafasnya. Se Ra masih berdiri jauh memperhatikannya. Tae San tak menyadari kehadiran Se Ra. Se Ra tampak khawatir Tae San melampiaskan emosi dengan berlatih keras yang tak mempedulikan kondisi tubuh yang sudah terluka dengan tempelan koyo dimana-mana.

Colin selesai mandi, ia melihat-lihat foto Tae San dan Meari dan tertata di rak ruang tamu.

Tae San dan Meari pulang. Colin langsung meletakkan foto dan mengambil alat pel pura-pura mengepel lantai. Colin menyambut keduanya penuh senyuman. Tak lupa ia juga menyapa Meari dengan sopan.

Meari masih heran kenapa Colin bermuka dua dengan menyapanya menggunakan sebutan kakak. Tae San juga heran apa Colin sedang bersih-bersih rumah. Tapi Meari tahu kalau yang dilakukan Colin hanya pura-pura. Ia melihat kalau pel-nya masih kering apa Colin pikir ia tak tahu tentang mengepel.

Colin beralasan bukankah setelah mengepel dengan yang basah kemudian harus mengepel dengan pel yang kering. Meari tak menyangka ternyata berpura-pura saja belum cukup untuk Colin, bahkan sekarang Colin sudah mengarang skenario. Tae San tertawa dan akan naik ke kamarnya.

Meari mengatakan pada Colin kalau ia mau mandi jadi lebih baik Colin masuk ke kamar Colin sekarang.

Colin: "Haruskah kau bersikap seperti ini, Kak?"

Meari membentak, "Sekarang, segera, cepat. right now!"

Tae San memperhatikan keduanya yang selalu tak akur. Ini jelas membuatnya terganggu.

Mereka berempat makan siang bersama. Tae San mengusulkan agar memulangkan Colin ke Jepang. Jung Rok tanya kenapa. Do Jin juga ingin tahu apa terjadi sesuatu. Yoon setuju usul Tae San.

Jung Rok merasa heran kenapa kedua temannya ini tega sekali. Ia meminta kedua memikirkan betapa sedihnya Eun Hee kalau mengetahui ini. Kalau keduanya memiliki usulan seperti itu ia akan mengurus Colin. Do Jin menyahut kalau sekarang ia yang akan mengurus Jung Rok.

Jung Rok bicara berdua dengan Meari. Meari meminta Jung Rok langsung saja bicara ke pokok permasalahan karena akhir-akhir ini ia agak sensitif. Jung Rok juga mengatakan hal yang sama kalau ia juga senditif, memangnya hanya Meari saja yang sensitif. Ia kesal bukankah ia sudah meminta Meari menemui istrinya tapi kenapa Meari tak mau.

Meari: "Kenapa aku harus menemuinya?"

Jung Rok: "Hei amuba. Bukankah aku sudah memberitahumu tentang Yoon dan Pengacara Kang?"

Meari merasa kalau informasi dari Jung Rok itu sama sekali tak membantu.

Jung Rok: "Sejak kapan transaksi kita bermanfaat bagi yang lain? Kau yang tak kompeten. Kenapa kau menyalahkan orang lain? Dasar amuba!"

Meari marah dirinya dibilang amuba, "Coba ulangi lagi!" Jung Rok menatapnya kesal karena Meari bicaranya keras. Ia meminta Meari memelankan suara.

Jung Rok berpesan mulai sekarang Meari harus mendengarkannya baik-baik. Ia akan mengajukan penawaran yang tak mungkin ditolak oleh Meari. Kalau Meari menolak tawarannya, "Pertama, aku akan menyerbu rumahmu dan memakai semua handukmu. Kedua, meskipun aku tahu keberadaan Yoon dan Pengacara Kang aku tak akan memberitahumu. Ketiga, aku akan melakukan kedua-duanya pada saat yang bersamaan."

Meari langsung mengambil ponsel dan menghubungi Min Suk, "Eonni kau ada dimana?"

Meari menemui Min Suk di galeri. Ia melaporkan kalau ada yang aneh dengan sikap Jung Rok. Bagaimana mungkin seseorang bisa berubah hanya dalam waktu semalam, dia datang dan pulang kerja tepat waktu. Dia tak minum-minum bahkan tak memandang pembeli yang wanita.

Min Suk menilai kalau mata-matanya yang satu ini sudah disuap atau seseorang menemukan kelemahannya. Meari jelas tak bisa berbohong di depan Min Suk. Ia bertanya apa kebohongannya kelihatan, tapi yang ia katakan memang benar. Walaupun begitu Min Suk akan tetap mempercayainya karena Meari yang mengatakannya. Yang ia percaya adalah orang bukan kata-kata. Meari tersenyum senang dan memuji kakak perempuan yang satu ini yang terbaik.

Min Suk memberi tahu kalau hak memata-matai Meari sudah dicabut, jadi Meari bebas tugas sebagai mata-mata alias pensiun. Meari terbengong heran, kemudian ponselnya berdering. Colin yang meneleponnya.

Dengan sikap jutek Meari bertanya ada apa. Colin menanyakan dimana pengering rambut yang di kamar mandi. Meari menjawab pasti kakaknya meninggalkan pengering rambut di kamar jadi cari saja di kamar kakaknya. Colin tanya lagi kapan Meari pulang bisakah pulang lebih cepat. "Hei memangnya kau suamiku? Sudah ya!" kata Meari judes.

Min Suk menebak apa Meari punya pacar. Meari menjawab bukan, "Dia anak laki-laki dari Jepang. Katanya dia anak dari cinta pertama para Oppa dan sekarang dia tinggal di rumah kami." Min Suk bertanya apa Lee Jung Rok juga termasuk diantara para Oppa yang Meari sebutkan. Meari menjawab ragu apa iya ya. Min Suk menebak apa cinta pertama itu bernama Kim Eun Hee. Meari jelas kaget bagaimana Min Suk bisa tahu.

Min Suk menemui suaminya di kafe. Keduanya bicara di luar kafe. Min Suk langsung menanyakan apa dia (Colin) anak Jung Rok. Jung Rok jelas saja terkejut karena tiba-tiba istrinya menanyakan hal yang konyol padanya. Ia menebak pasti Meari yang mengatakan kalau putra Kim Eun Hee ada disini. Min Suk meminta Jung Rok menjawab pertanyaannya, apa dia anak Jung Rok. Jung Rok bilang tentu saja bukan.

Min Suk: "Lalu anak siapa dia?"

Jung Rok: "Tentu saja anak ayahnya."

Min Suk meminta Jung Rok membuktikan itu padanya. Jung Rok emosi bagaimana caranya ia membuktikan siapa ayah Colin. Min Suk melirik sekeliling dan meminta suaminya memelankan suara. Jung Rok berbisik dan mengatakan kalau Colin memang bukan anaknya tapi Min Suk masih belum percaya.

Mereka berempat pun berkumpul di rumah Do Jin. Jung Rok akhirnya setuju untuk memulangkan Colin ke Jepang. Tae San heran bukankah Jung Rok tak setuju usulnya. Jung Rok mengungkapkan alasannya, ia mengatakan kalau Min Suk terus bertanya apa Colin anaknya.

Tae San heran memangnya Jung Rok tak bisa mengatakan pada Min Suk kalau Colin bukan anak Jung Rok. Do Jin bertanya memangnya Min Suk tahu tentang Eun Hee. Jung Rok bilang tentu saja Min Suk tahu karena sebelum menikah ia memberi tahu semuanya pada Min Suk dan sekarang ia menyesal karena ketika itu ia terlalu berfikiran pendek. Jung Rok meminta pokoknya segera pulangkan Colin. Do Jin menilai kalau Jung Rok memang selalu berfikiran pendek.

Yoon merasa kalau yang dikatakan Jung Rok cukup masuk akal, tak apa-apa jika Eun Hee muncul tapi dalam situasi seperti ini lebih baik memulangkan Colin, "Tapi apa kau berencana menghubunginya?" (menghubungi Eun Hee)

Jung rok kesal bukankah ketiga temannya ini mem-format ulang ponselnya, jadi semua nomor penting terhapus termasuk nomor ponsel Eun Hee. Sedangkan Colin tak mau memberitahu nomor ponsel Ibunya. Do Jin pun tak punya pilihan lain, ia tanya dimana Colin dan tanyakan nomor ponsel ibunya.

Colin pun dipanggil menghadap ke empat ahjussi. Colin menunduk diam.

Tae San: "Jadi apa kau tak akan memberitahu kami nomor ponsel ibumu?"

Colin: "Apa kalian mau mengusirku?"

Yoon mengatakan kalau mereka berempat melindungi Colin jadi apa Colin pikir ibu Colin tak khawatir.

Colin: "Bukankah ibuku cinta pertama kalian?"

Do Jin: "Cinta pertama kami adalah ibumu, bukan kau! Apa yang kau inginkan? Masalah ini tak akan selesai kalau kau tetap keras kepala."

Jung Rok mengatakan kalau mereka se-usia dengan ibu colin. Walaupun mereka bukan ayah Colin bukannya mereka tak bisa memukul Colin tapi ini tak bisa dibiarkan begitu saja jadi berapa nomor ponselnya.

Colin meminta mereka tak perlu seperti ini karena besok ia berencana untuk pulang. Tae San tanya kenapa tas Colin sudah dikemas sekarang. Colin mengatakan kalau hari ini ia akan menginap di tempat lain. Do Jin tanya dimana. Colin menjawab dimana saja. Toh kalau ia tinggal di luar satu malam mereka berempat tak akan menemukannya dirampok atau ditemukan tewas dipinggir jalan. Mereka berempat pun tak tega membiarkan colin berkeliaran di jalan.

Do Jin membawa Colin ke hotel perusahaan. Ia menunjukan kamar mana yang harus Colin gunakan, ia mengatakan kalau ada minuman di kulkas dan kalau colin lapar telepon saja room service. Colin mengangguk mengerti. Do Jin menyuruh Colin istirahat.

Colin ingin tahu apa Do Jin masih mengingat ibunya. Do Jin mengatakan kalau Ibu Colin adalah seorang wanita yang pantas untuk diingat.

Colin: "Apa paman mencintainya?"

Do Jin: "Kau bilang berapa usiamu?"

Colin: "Aku lahir tahun 95."

Do Jin: "Aku tak menceritakan kehidupan pribadiku pada anak yang lahir tahun 95."

Colin: "Lalu paman mana yang paling disukai ibuku?"

Do Jin: "Aku."

Colin tertawa, "Bukankah itu juga hal pribadi?"

Do Jin tahu kalau Colin penasaran, apakah ibu Colin sengaja bermain-main dengan keempat pria berbeda. "Ibumu tak melakukan apapun. Kami berempatlah yang mengejar-ngejarnya. Karena seperti itulah nasib wanita cantik. Dia jadi dinilai buruk tanpa melakukan apapun."

Do Jin berpesan agar Colin baik-baik tinggal disini selama satu hari besok. Ia akan mengantarkan Colin ke bandara. Do Jin kembali ke rumahnya meninggalkan Colin seorang diri di hotel perusahaan.

Colin memandang foto ke empat ahjussi. Ia pun beradai-andai, "Kalau Im Tae San ayahku artinya Meari adalah bibiku. Kalau Lee Jung Rok ayahku maka..." Colin geleng-geleng kepala ia tak mau membayangkannya.

"Kalau Choi Yoon ayahku, artinya aku menyukai wanita yang kemungkinan akan menjadi ibu tiriku." (huwa jadi ceritanya Colin suka sama Meari kah)

"Kalau Kim Do Jin ayahku, lebih baik kami mencari kebahagiaan kami masing-masing."

Do Jin sibuk menempelkan potongan benang dari gulungan benang yang ia ambil dari sisa potongan baju Yi Soo. Yoon memberi tahu kalau ia sudah membayar biaya sewa jadi Do Jin tak perlu menggantinya. (Membayar biaya sewa gedung kah) Do Jin tanya kapan Yoon membayarnya. Yoon meminta lebih baik itu dianggap sebagai uang kos dengan begitu ia akan merasa lebih nyaman tinggal disini.

Yoon melihat kesibukan Do Jin dan bertanya apa ini. Do Jin memberi tahu kalau ia sudah memutuskan untuk tinggal bersama dengan seseorang tapi orang itu bukan Yoon.

"Siapa?" tanya Yoon.

"Seo Yi Soo!" jawab Do Jin.

"Benarkah?" Yoon tak percaya.

"Aku akan melamarnya." ucap Do Jin penuh keyakinan.

"Melamar?" Yoon semakin tak percaya, "Lamaran pernikahan?"

Do Jin mengatakan kalau ia melakukannya setiap ia menemuinya. Tapi Yi Soo belum menyerah. Yoon heran bukankah Do Jin tak mau menikah, bukankah Do Jin bilang kalau cinta terjadi setelah pria tanpa kekasih menjalin hubungan. Ia menilai kalau Do Jin sangat memegang teguh prinsip itu dan sekarang apa Do Jin sudah menanggalkan prinsip itu. Do Jin mengatakan kalau ia tak menanggalkan prinsipnya ia hanya merubahnya.

Yoon melihat kalau Do Jin sudah jungkir balik seperti ini demi seorang wanita, ia belum pernah melihat Do Jin seperti ini selama 20 tahun terakhir.

Do Jin: "Benarkah? Aku pasti sudah menjalani kehidupan yang pahit. Berpura-pura jatuh cinta."

Yoon: "Memangnya kali ini bukan cinta? Aku tanya apakah dengan Guru Seo juga sama. Pura-pura jatuh cinta."

Do Jin: "Kali ini berbeda. Mulai sekarang, Seo Yi Soo adalah pedoman moralku."

Yoon tersenyum senang.

Do Jin: "Kau cemburu kan?"

Yoon: "Aku cemburu pada Hong Pro beberapa waktu lalu, sekarang aku cemburu pada Guru Seo. Di kehidupanku selanjutnya bisakah aku menjadi kekasihmu? Do Jin-ssi."

Yoon mendekat seperti seorang wanita yang ingin merayu dan ini membuat Do Jin menghindar. Yoon pun menggelitik Do Jin. Hahahaha.

Jam sekolah usai, Yi Soo dan guru yang lain bersiap akan pulang. Guru Park mengatakan kalau adik iparnya benar-benar tak peduli dengan penampilan seorang wanita jadi Yi Soo jangan khawatir coba saja berkencan dengan adik iparnya.

Yi Soo minta maaf tapi sekarang ia sudah punya pacar. Guru Park tak percaya ia tahu kalau Yi Soo pasti dicampakkan. Yi Soo mengatakan kalau ia tak dicampakkan.

Guru Par : "Mungkin kau tak tahu kalau kau sudah dicampakkan. Pikirkanlah kenapa lelaki impian itu menjemput Guru Seo."

Dan lelaki impian itu pun sudah berdiri bersandar pada mobilnya menjemput Yi Soo (alamak Om Do Jin ganteng banget haha) Guru Park tercengang terkejut tak menyangka. Do Jin melambaikan tangannya pada Yi Soo. Yi Soo tersenyum senang melihatnya.

Guru Park menghela nafas tak percaya, "Kelihatannya dia memang pria baik. Mungkin dia tak tega memutuskanmu."

Yi Soo pamit ia harus pergi lebih dulu, Yi Soo pun mengatakan hal yang membuat guru Park iri, "Oh dasar sedang apa dia disini? Tak bisakah dia tak bertemu denganku sehari saja?" Yi Soo segera menghampiri Do Jin.

Do Jin membuka pintu mobil membiarkan Yi Soo masuk dan memasangkan sabuk pengaman. Yi Soo sedikit grogi dan mengingatkan kalau mereka berdua sedang di depan sekolah.

"Dan aku sedang di depanmu!" sahut Do Jin. Do Jin menutup pintu mobil dan segera pergi dari lingkungan sekolah membuat Guru Park dan guru di sebelahnya tak percaya. "Ada Apa ini? Aneh sekali. Kupikir wanita bertubuh tinggi tak akan beruntung dengan pria."

Yi Soo dan Do Jin makan siang di sebuah restouran. Yi Soo tersenyum-senyum mengingat kejadian tadi. Yi Soo bertanya apa Do Jin tak sibuk, apa yang akan terjadi pada perusahaan nanti kalau Do Jin sering keluar seperti ini. Do Jin mengatakan kalau ia sangat sibuk, bahkan terlalu sibuk. Tapi ia bisa apa kalau Yi Soo sudah pulang kerja. "Kalau kau begitu khawatir ayo tinggal bersama. Jangan buang-buang waktu."

Yi Soo tertawa bukankah ia sudah mengatakan kalau ia tidak mau. Do Jin mengira kalau wanita itu terkenal plin-plan jadi ia menduga kali ini Yi Soo setuju. Yi Soo tak mau membahasnya ia menyuruh lebih baik Do Jin makan dan jangan meminggirkan wortel.

Tiba-tiba terdengar riuh pengunjung yang datang ke restouran. Restouran itu ternyata kedatangan Bintang Hallyu, Jung Yong Hwa. Leader CNBlue. Penggemar Yong Hwa langsung berebut foto.

Yi Soo dan Do Jin menoleh melihat kehebohan disana. Yi Soo tertawa senang melihatnya, "Yong Hwa ku?"

Do Jin kaget, "Yong Hwa ku? Dasar, kau ini tante-tante fans ya? Apa kau pikir aku tak menyukai artis juga? Apa kabarnya Kim Tae Hee akhir-akhir ini? Apa Binnie (Hyun Bin) baik-baik saja di tempat militer?"

Yi Soo tertawa apa yang Do Jin cemburui, "Sekarang karena aku sudah melihatnya kenapa tak kurayu saja sekalian? Hallyu Star, tampan dan muda. Dia sempurna. Kalau aku, menurutmu aku punya kesempatan tidak?"

Do Jin heran dengan sikap Yi Soo yang tiba-tiba seperti ini, "Kau salah makan ya?" Yi Soo kembali tertawa dan menganggap Do Jin menyetujuinya.

Yi Soo pun melambaikan tangan ke arah Yong Hwa penuh senyuman, Do Jin jelas terkejut ternyata Yi Soo serius dengan ucapannya.

Ternyata Yong Hwa pun merespon lambaian tangan Yi Soo, ia terkejut melihat Yi Soo. Ia langsung bergegas menghmpiri Yi Soo. ternyata keduanya saling mengenal.

"Guru!" sapa Yong Hwa. Do Jin terkejut si bintang hallyu menyebut Yi Soo dengan sebutan guru.

Yi Soo berkata kalau sudah lama tak bertemu ia tak menyangka akan bertemu Yong Hwa disini. Yong Hwa melihat kalau gurunya ini sama sekali tak berubah. Ia langsung bisa mengenalinya. Tapi Yi Soo bilang kalau ia sudah berumur. Yi Soo memberi tahu Do Jin kalau ia ini wali kelas Yong Hwa ketika di SMP. Yi Soo mengenalkan Do Jin pada Yong Hwa pacarnya.

Do Jin bersikap cuek dan berkata senang bertemu dengan Yong Hwa. Yong Hwa memberi salam dan meminta Do Jin bersikap santai saja karena Do Jin itu seumuran dengan ayahnya (huwahahahaha) ia akan ikut duduk disana sambil ngobrol dengan gurunya. Do Jin kesal karena disamakan dengan ayah Yong Hwa.

Yi Soo berkata pasti Yong Hwa sangat sibuk, ia sudah membaca berita tentang perjalanan Yong Hwa ke Hongkong.

"Siapa yang tak pernah pergi ke Hongkong." gumam Do Jin. Keduanya melirik ke arah Do Jin. Yi Soo langsung bilang kalau ia sangat bangga pada Yong Hwa, "Bukan karena kau terkenal tapi karena kau selalu berusaha melakukan yang terbaik."

"Penyanyi yang lain hanya tahu bersenang-senang saja," sahut Do Jin sambil membuang mukanya tak suka melihat Yong Hwa. Yong Hwa kembali melirik ke arah Do Jin, "Guru apa dia sering bicara sendiri?" Yi Soo terkekeh, "Entahlah kami baru mulai pacaran."

Yi Soo mengatakan kalau ia sangat menyukai lagu-lagu Yong Hwa. Yong Hwa tak percaya, benarkah. Yi Soo menjawab ya dan ia selalu menyanyikan lagu Yong Hwa.

Im singing my blue paran nunmure paran seulpeume (Do Jin menyanyikan sebuah lagu--wakaka itu kan lagunya Big Bang yang judulnya Blue)

Yi Soo mendelik marah ke arah Do Jin karena itu bukan lagu CN Blue.

"Ah jadi itu bukan lagunya, dia selalu menyanyikan lagu itu." sahut Do Jin.

Yong Hwa: "Guru jadi kau menyukai Big Bang? Ah.. Apa ini? Dulu aku sangat menyukaimu."

Yi Soo: "Benarkah? Mulai sekarang aku akan memamerkannya."

Do Jin makin kesal melihat tingkah Yi Soo, "Hey You!" Do Jin memanggil Yong Hwa, "Mereka menunggumu. Sekarang mereka sangat kesepian."

Yong Hwa pun mengerti dan akan segera pergi. "Guru, sayang sekali kau terlalu baik untuknya. Hanya seorang pria yang bisa menilai pria." kata Yong Hwa melirik sinis ke arah Do Jin. Do Jin jelas emosi melihatnya.

Yong Hwa pamit ia akan menelepon Gurunya nanti. Yi Soo senang dan berpesan agar Yong Hwa menjaga diri. Sebelum pergi Yong Hwa kembali melirik Do Jin dengan tatapan menantang. Haha...

Do Jin kesal ia memperingatkan Yi Soo jangan coba-coba menjawab telepon dari Yong Hwa. Yi Soo heran apa menerima telepon dari muridnya tak boleh.

"Tentu saja tak boleh, teleponku saja tak kau angkat!" Do Jin makin kesal, "Aku tak mau makan lagi," Ia meletakan sendok dan ngambek tak mau makan lagi. Yi Soo tertawa melihat tingkah cemburu Do Jin yang kekanakkan.

Keduanya keluar dari restouran. Do Jin berjalan lebih dulu karena masih kesal. Yi Soo ingin agar keduanya menyelesaikan pembicaraan dulu sebelum pergi. Do Jin tanya pembiacaraan apa.

Yi Soo kembali menegaskan kalau ia tak akan tinggal bersama Do Jin. Do Jin bertanya kenapa. Yi Soo mengungkapkan alasannya itu karena ia ingin jatuh cinta, bukan cinta bertepuk sebelah tangan tapi cinta sepasang kekasih yang tulus satu sama lain. Cinta yang akan membuat kita cemburu.

Do Jin: "Aku tak tahu tentang orang lain tapi kau sudah membuatku cukup merasa cemburu. Baru saja."

Yi Soo meminta Do Jin jangan mengganti topik pembicaraan, "Kau akan melakukannya kan? Denganku?"

Do Jin: "Kau ingin aku melakukan apa?

Yi Soo heran kenapa Do Jin bertanya padanya sementara Do Jin sendiri sudah mempunyai banyak pengalaman. "Bukankah sebalumnya kau sudah memiliki banyak wanita."

Do Jin berkata kalau ini pertama kalinya ia melihat wanita menginginkan cinta yang berdebar-debar. Ia menilai ini sangat polos. Yi Soo merasa kalau itu bukan sesuatu yang bisa dibanggakan. "Kenapa? apa wanita lain hanya ingin pakaian, tas, dan perhiasan? Dengan polos?"

Do Jin mendekat kearah Yi Soo dan meminta Yi Soo melanjutkan ucapan Yi Soo. "Teruslah bicara!" Do Jin menatap tajam Yi Soo.

Yi Soo bergerak mundur, ia bertanya apa memangnya yang ia katakan salah. Do Jin terus maju memepet Yi Soo sampai ke mobil, "Karena itu kubilang teruslah bicara."

Yi Soo menantang kalau ia terus bicara memangnya apa yang akan Do Jin lakukan. Do Jin semakin mempet Yi Soo ke mobil, menurutnya sekarang Yi Soo sedang memikirkanya juga. Yi Soo terpojok ke mobil, ia mengingatkan Do Jin agar melihat sekeliling dimana keduanya berada.

"Dimana? Tepatnya dimana? Apa disini?" Do Jin mengecup cepat bibir Yi Soo.

"Ah kau keterlaluan."

Do Jin tersenyum ia mengatakan kalau ia bertanya karena ia tak tahu. "Bisakah ini dianggap sebagai hati yang berdebar-debar, Guru?"

"Tidak. Yang Seperti ini." Yi Soo menggenggam kedua tangan Do Jin. "Jatuh cinta adalah kerja keras, dimana harus kumulai?" Do Jin mengatakan kalau ia pintar memulai. Keduanya tertawa bersama.

Se Ra masih di tempat latihan golf. Ia menerima telepon dari seseorang. Ia ternyata berniat meminjam uang tapi sepertinya orang yang menghubungi Yi Soo ini tak bisa meminjaminya uang. Se Ra pun berkata kalau ia akan meminjam uang di tempat lain.

Se Ra mendesah bingung harus bagaimana lagi caranya mendapatkan uang. Ia menghubungi seseorang dan bertanya bagaimana dengan mobilnya apa tak ada yang tertarik. Ternyata tak ada yang membeli, akhirnya Se Ra pun membatalkan niat untuk menjual mobilnya.

Keesokan harinya Se Ra menemui Min Suk. Ia mengatakan kalau ia akan menyampaikan hal yang sangat menarik pada Min Suk. Min Suk menebak apa Se Ra melihat suaminya berselingkuh. Se Ra mengatakan kalau ini lebih menarik, sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. "Kakak tolong pinjami aku uang!"

Min Suk tertawa ia tak menyangka kalau Se Ra akan pinjam uang padanya, ia menilai kalau ini sangat menarik dan juga sangat mengagetkan. Se Ra mengatakan kalau dalam lingkungan pergaulannya ia tak menegenal orang lain yang akan meminjaminya uang. Tak ada yang lebih kaya daripada Min Suk. "Kalau aku tak datang menemui kakak, mereka mungkin akan menolak permintaan pinjamanku. Aku sangat berharap pada Kakak. Kalau kedatanganku kesini sebagai usaha terakhir sepertinya aku terlalu mempermalukan diriku."

Min Suk menilai kalau Se Ra ini sudah jelas datang kesini untuk meminjam uang yang tapi Se Ra masih saja mempertahankan harga diri, ia merasa sikap Se Ra benar-benar kasar. "Pacarmu orang kaya, tapi sepertinya dia tidak tahu apa-apa tentang ini." Se Ra mengatakan kalau itu juga bagian dari harga dirinya.

Min Suk: "karena kau datang kesini dengan harapan akan ditolak apakah sopan kalau aku menolakmu."

Se Ra: "Kalau kakak ingin menolakku tolong berhenti mengejekku. Lagi pula kita sering bertemu satu sama lain."

Min Suk: "Baiklah kalau begitu, aku akan mengejekmu sesuka hatiku sebelum memberimu penjaman. Berapa yang kau butuhkan?"

Se Ra memberikan kunci mobil sebagai jaminan hutangnya. Dengan seperti ini akan mengurangi rasa malunya, Min Suk tersenyum setuju.

Do Jin ke hotel perusahaan siap mengantar Colin ke bandara. Tapi ia tak menemukan pemuda itu dimanapun. Barang-barangnya pun tak ada. Do Jin menghubungi teman-temannnya mengatakan kalau Colin kabur.

Mereka berempat berkumpul di Mango Six. Do Jin mengatakan kalau ia sudah menanyakannya pada Resepsionis tapi Colin tak memesan layanan kamar. Sepertinya Colin pergi tadi malam. Yoon tanya apa ada pesan yang ditinggalkan Colin. Do Jin menjawab tak ada yang ia lihat kamarnya bersih dan juga Colin tak menjawab teleponnya. Yoon bertanya sebaiknya mereka mencarinya atau tidak.

Jung Rok kesal dan menilai Colin benar-benar tak punya otak. Tae San khawatir jangan-jangan Colin mendapatkan masalah atau mengalami sesuatu di jalan. Ia heran kenapa Colin pergi. Jung Rok menyahut itu karena dia tak ingin pulang. Do Jin tak mengerti kenapa dia tak mau pulang bukankah mereka sudah membelikan tiketnya.

Jung Rok: "Hanya ada satu alasan kenapa dia tak mau pulang ke rumah setelah bepergian. Dia jatuh cinta."

Tae San: "Dengan siapa?"

"Meari. Apa Colin menghubungimu?" tanya Jung Rok pada Meari.

Meari memberi tahu kalau Colin menghubunginya tadi pagi. Yoon tanya apa yang dikatakan Colin. Meari mengatakan kalau Colin menanyakan tempat mengamen di Korea agar dia bisa mendapatkan uang, jadi ia menyuruh Colin ke Hongdae. Meari ingin tahu kenapa, apa Colin mendapatkan masalah. Keempatnya pun langsung bergegas menuju Hongdae mencari Colin.

Di Hongdae. Dan inilah penampilan khusus dari Juniel. Dia disini berperan sebagai pengamen yang menyanyikan lagunya sendiri Everlasting Sunset.

Norake beonjin i gireul geotda bomyeon

naege namgyeojin ni moseup jiwojilkka

Neul neowa gachi sonjapgo geotdeon i geori sogen

and everlasting sunset.

Colin ternyata benar ada disana sambil membawa barang-barangnya, ia memperhatikan si pengamen wanita. Setelah pengamen ini selesai mengamen ternyata banyak yang memberikan saweran. Ia pun tertarik untuk mememarkan kebolehannya menyanyi untuk mendapatkan uang.

Dan inilah aksi Lee Jong Hyun hehe...

Banyak yang mengerumuni Colin ketika bernyanyi. Ia menyanyikan lagu My Love dengan penuh perasaan.

changbakke biga naerimyeon

gamchwodun gieogi nae mameul jeoksigo

ijeun jul aratdeon saram

ohiryeo seonmyeonghi tto dasi tteoolla

nae saranga saranga

geuriun naui saranga

mongnoha bulleobojiman

deutjido motaneun sarang

nae saranga saranga

bogopeun naui saranga

geudae ireummaneurodo

bein deut apeun saranga nae saranga

Mereka berempat mencari Colin kesana kemari. Mereka pun mendengar suara nyanyian colin dan segera ke tempat mengamen dan benar saja itu colin, keempatnya langsung berdiri paling depan menunggu Colin selesai menyanyi. Setelah selesai menyanyi Colin mendapatkan banyak tepuk tangan dan saweran.

Colin menatap mereka berempat satu persatu. Keempatnya mendekat ke arah Colin. Do Jin memuji kalau lagu Colin sangat bagus. Yoon marah, "Kenapa kau menghilang tanpa memberi tahu sama sekali?" Colin bersikap santai, "Sebagian besar orang yang kabur pasti tak memberitahu."

Jung Rok: "Bukankah kau bilang kau akan pulang hari ini? Apa kau tak tahu betapa khawatirnya ibumu?"

Tae San juga ikut memarahi Colin, "Memangnya kau anak kecil? Lihat berapa banyak orang yang mengkhawatirkanmu?"

Colin menatap keempatnya secara bergantian, "Kalian berempat. Ada yang ingin kusampaikan pada kalian alasan kenapa aku datang ke Korea. Aku mendengar salah seorang dari kalian adalah ayahku. Siapa itu?"

Jreng jreng jreng mereka berempat kaget mendengar apa yang dikatakan Colin. Colin menatap tajam ke arah keempatnya.

Episode-14        

Kita masih berada dimasa mereka kuliah, tepatnya di tahun 1995. Do Jin, Yoon dan Tae San berada di sebuah ruangan sempit menonton episode terakhir drama The Sandglass. Sebuah drama yang pada saat itu menjadi drama yang terkenal karena mampu meraup rating nasional sebesar 64,5% (wow!!!)

-----pemberitahuan aja nih ya, saya sampai sempet2in download n nonton episode terakhir The Sandglass dan memang bener2 daebak deh. Adegan dimana Park Tae Su menjelang dihukum mati bener2 bikin merinding sampai suara pistol bunyi-----

Do Jin, Yoon dan Tae San menonton drama penuh penghayatan. Ketiganya berlindung dibawah satu selimut menyaksikan adegan terakhir dimana Park Tae Su, si pemeran utama akan menjalani hukuman mati.

Tae San bertanya dengan suara pelan apa Tae Su benar-benar akan mati. Do Jin menyenggol memberi tanda agar Tae San diam. Mereka bertiga tak tega melihat adegan dimana mata Tae Su ditutup sebelum eksekusi. Dan akhirnya Tae Su pun menjalani eksekusi hukuman matinya. Drama The Sandglass pun tamat, ketiganya menyenandungkan suara musik pengiring dari drama tersebut.

Tae San mematikan TV-nya. Ia mencoba menirukan adegan apa yang ada di drama tadi. Kedua temannya berteriak huwaaaa.... Yoon juga tak kalah, ia ikut mengucapkan apa yang dikatakan Tae Su di dialog akhirnya. Huwaaaa....

Ketika ketiganya tengah asyik menirukan adegan terakhir drama Jung Rok datang dan terheran-heran. Ia bertanya apa dramanya sudah tamat. Ia kesal karena tak bisa menonton ditambah lagi ia tak melihat seorang pun dijalan pasti semuanya lagi nonton. Ia ingin tahu ending dramanya apa Tae Su meninggal. Do Jin menyarankan kalau Jung Rok ingin tahu lebih baik nonton tayangan rerun-nya saja. Ketiganya tak mau mengatakan bagaimana ending dramanya.

Jung Rok sudah menebak ketiga temannya pasti seperti ini, ia pun akan bertanya langsung pada ibunya. Ia mengeluarkan ponsel untuk menghubungi ibunya, ketiga teman Jung Rok langsung terpukau melihat benda yang belum semua orang memilikinya.

Wah... keren sekali......

Ini handphone ya....?

Wah model terbaru.....

Jung Rok pun akan menghubungi ibunya menanyakan ending dari drama The Sandglass. Ketiga temannya langsung menyahut kalau Tae Su meninggal. Dia dihukum mati hanya begitu saja kata mereka. Mereka pun merebut ponsel Jung Rok, "Apa ini asli?"

"Tentu saja asli!" jawab Jung Rok. Ia memberi tahu ketika ia mengeluarkan ponselnya kemarin di kampus semua mahasiswi terpesona satu persatu.

Do Jin menimbang-nimbang berat ponsel Jung Rok. Jung Rok meminta temannya hati-hati memegang ponselnya jangan di lembar-lempar seperti itu. Tae San mengamati ponsel Jung Rok dan memuji kalau ini sangat bagus, "Tapi bukankah akan lebih bagus kalau bentuknya lebih tipis dan ringan?"

Hei....... sahut Yoon dan Do Jin bersamaan karena menurutnya apa yang dikatakan Tae San itu omong kosong.

Jung Rok: "Hei, dimana bisa kalian menemukan yang lebih tipis dan ringan daripada ini? Kalau seperti itu sama saja dengan melepas semua tombolnya. Dan membesarkan gambar seperti ini dengan jarimu," (Jung Rok memperagakan cara menggunakan model ponsel touchscreen)

Hei..... ketiga temannya bersamaan karena apa yang disampaikan Jung Rok itu omong kosong.

Do Jin: "Kau paling ahli kalau bicara omong kosong. Kenapa tidak membuatnya saja supaya kau bisa menonton TV, mendengarkan musik dan melihat satu sama lain sambil berbicara." (video call)

Hei....

Yoon: "Dengan ruangan yang sekecil ini lebih baik TV nya berlayar datar dan ditempel di dinding dan pendingin ruangan terpasang di langit-langit."

Hei..... itu mustahil kata teman-temannya.

"Hei, kau bahkan menginginkan komputermu jadi sekecil buku catatan. Seperti ini" kata Tae San sambil membuka dan menutup buku, "Kau bilang akan sangat bagus kalau jadinya seperti ini, iya kan? Dan akan dinamakan Note...... book!"

Hei.....

Keempatnya terus membahas hal yang mereka anggap omong kosong ketika itu tapi semuanya benar-benar terjadi dan ada dimasa kini.

Suara Do Jin  "Lelucon itu telah mengubah dunia. Imajinasi adalah awal dari inovasi. Kalau saja kami mengetahuinya lebih awal kebersamaan kami mungkin akan jadi seperti ini."

Mereka berempat berkumpul di Mango Six dengan dandanan ala Steve Jobs. Tae San mengungkapkan pemikirannya, kalau satu putaran home run jauh lebih baik daripada dua putaran home run.

Do Jin mengatakan kalau teknologi semata-mata tidak akan memuaskan masa depan manusia karena perasaan manusia juga harus dipertimbangkan.

Yoon menyampaikan dari apa yang disampaikan teman-temannya ia menarik kesimpulan kalau kualitas itu lebih penting dari pada kuantitas.

Keempatnya terus bertukar pikiran dengan gaya ala Steve Jobs.

Sinopsis A Gentlemans Dignity Episode 14

Di depan sekolah Yi Soo melihat mobil Do Jin tapi si pemilik mobil tak ditempat. Ia celingukan mencarinya karena ia melihat di dalam mobil tas Do Jin masih ada.

Tiba-tiba Do Jin datang membawa dua minuman dan mengagetkan Yi Soo. Yi Soo bertanya kemana Do Jin pergi barusan. Do Jin mengatakan kalau ia membeli kopi dan menyerahkan satu kopi untuk Yi Soo.

"Apa kau menikmati makan siangmu, pacarku?" Tanya Do Jin.

"Apa kau pikir aku tak bisa makan siang tanpamu?"

"Apa yang kau makan, pacarku?"

Yi Soo tersenyum, "Pacarmu ini makan nasi dengan cumi-cumi." Yi Soo memberi tahu kalau 20 menit lagi ia ada kelas jadi ia harus segera kembali.

"Apa kau harus pergi dalam 20 menit? Kau tak cukup cantik untuk membuang 20 menit hidupku disini."

Yi Soo menilai kalau Do Jin ini orang yang tak bisa diduga. Do Jin berkata kalau Yi Soo jadi lebih jelek setelah mengatakan itu. Ia menawarkan apa Yi Soo mau bersembunyi di bawah tempat yang teduh karena kelihatan sekali Yi Soo jadi seperti ini dibawah terik matahari.

Do Jin melindungi wajah Yi Soo dari sengatan matahari dengan tangannya. Yi Soo heran dan bertanya apa yang Do Jin lakukan. Do Jin mengatakan kalau ia takut wajah Yi Soo akan berbintik-bintik karena sekarang saja Yi Soo sudah cukup jelek.

Yi Soo ingin tahu apa Do Jin akan pergi ke suatu tempat karena ia melihat ada tiket pesawat di mobil. Do Jin memberi tahu kalau anak itu (Colin) mau pergi. Ia bergombal ria mengatakan kalau ia tak mungkin pergi kemanapun meninggalkan Yi Soo disini.

Yi Soo penasaran memangnya dia mau pergi. Do Jin berkata kalau dia tetap harus pergi meskipun dia tak mau. Dia masih muda dan mengkhawatirkan. Yi Soo tanya siapa yang mengkhawatirkannya, apa cinta pertama Do Jin, Kim Eun Hee.

Do Jin: "Kau. Kau merasa terganggu, kan?"

Yi Soo tersenyum mengangguk pelan. Do Jin berjanji kalau ia akan segera kembali setelah mengantar Colin ke bandara jadi Yi Soo harus menunggunya karena nanti ia akan mengajak Yi Soo makan malam. Yi Soo heran apa makan malamnya hari ini, bukankah keduanya sudah bertemu. Do Jin bertanya berapa kali Yi Soo makan dalam sehari. Yi Soo menjawab tiga kali.

Do Jin: "Kau makan 3 kali. Kenapa bertemu denganku tak bisa 2 kali dalam sehari?"

Yi Soo tertawa, logika seperti apa itu. Do Jin mengatakan kalau ini alasan untuk membuat Yi Soo tersenyum. Untuk menghiburmu kata Do Jin. Yi Soo kembali tertawa. Do Jin pamit akan menjemput Colin di hotel perusahaan kemudian mengantarnya ke bandara.

Do Jin tak menemukan Colin di hotel perusahaan. Ia memberi tahu ketiga temannya kalau Colin kabur. Dan mereka pun sudah sampai di Hongdae tempat yang ditunjukan Meari dimana Colin mencari uang lewat mengamen.

Colin tersenyum menatap mereka berempat secara bergantian, ia ingin menyampaikan hal yang perting kepada keempatnya alasan kenapa ia datang ke Korea, "Kudengar salah seorang dari kalian adalah ayahku, siapa itu?"

Mereka berempat jelas terkejut. Tae San menilai kalau Colin ini bicara omong kosong. Yoon khawatir apa Colin sakit karena tiba-tiba mengatakan itu. Jung Rok lain lagi ia menebak apa jangan-jangan dirinya ayah Colin. Ketiga temannya menatap. Jung Rok merasa kalau setiap ia mendengar hal itu ia merasa bahwa itu adalah dirinya, Jung Rok mengatakan ini sambil tertawa-tawa.

Do Jin menyarankan agar membawa Colin pulang dulu dan akan dibicarakan lagi nanti. Ia melihat jam tangan dan memberi tahu kalau pesawatnya sudah berangkat.

Colin membawa sendiri barang-barangnya, ia berjalan di depan karena keempatnya takut kalau pemuda ini akan kabur lagi. Jung Rok menyarankan apa tak lebih baik kalau mereka membantu membawa barang-barang Colin. Tae San berkata kalau Colin tak akan bisa lari cepat dengan barang bawaan sebanyak itu jadi tak usah dibantu.

Sambil berjalan menuju mobil, Tae San menebak apa itu Yoon. Yoon menyangkal tak mungkin dirinya. Tae San berkata kalau ia berharap punya kesempatan lagi bertemu dengan Eun Hee. Jung Rok menyahut bukankah Tae San bilang turun salju ketika di luar jendela kedai. Tae San balik menuduh bukankah Jung Rok bilang juga kapal terakhir sudah meninggalkan pulau. Jung Rok berkata kalau yang ia ceritakan itu wanita lain.

"Kalau begitu kau," Jung Rok menebak Yoon, "Bukankah kalian naik kereta ke Chuncheon? Bahkan kalian menyanyikan lagu atau apalah." Yoon menyangkal karena waktu itu ia bersama 40 orang peserta laki laki yang lain. Apa ketiganya berfikir kalau ia sendiri yang bernyanyi.

Do Jin dari tadi diam mendengarkan ocehan ketiganya yang saling menebak siapa ayah kandung Colin. Tae San mengusulkan agar mengambil darah mereka untuk mengetesnya. Tapi Jung Rok tak mau, kalau Min Suk tahu darahnya diambil untuk tes ini Min Suk pasti akan langsung membunuhnya. Ini masalah hidup dan mati untuknya.

Yoon bilang tak perlu melakukan itu karena di zaman sekarang yang dibutuhkan hanya sehelai rambut dan semuanya akan beres. Mendengar itu, Jung Rok dan Tae San berhenti berjalan keduanya kabur untuk mencari perlindungan terhadap kepala mereka.

Mereka berlima naik mobil Do Jin. Do Jin dan Yoon di depan sementara Jung Rok dan Tae San duduk mengapit Colin di belakang dan lihat keduanya menggunakan topi untuk melindungi agar rambut mereka tak diambil untuk tes DNA. Colin memperhatikan Do Jin yang dari tadi hanya diam saja.

Colin merasa tak nyaman duduk diantara Tae San dan Jung Rok yang selalu ribut menuduh siapa ayahnya. Keduanya saling berebut mendapatkan rambut. Colin risih berada diantara keduanya. Do Jin dan Yoon hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kekanakan dua sahabatanya.

Mereka berlima sampai di hotel perusahaan. Yoon berkata apa karena itu Colin berfikir salah satu diantara mereka adalah ayah Colin. Colin mengangguk. Jung Rok tanya menurut Colin siapa diantara mereka berempat yang ayah Colin. Colin bilang kalau ia tak tahu. Tae San menyahut kalau Colin saja tak tahu lalu siapa yang tahu.

Yoon bertanya apa karena hal itu-kah Colin datang kesini. Colin bilang bukan seperti itu karena pemikiran itu datang setelah ia tiba disini.

Do Jin juga bertanya kapan Colin mengetahui tentang ayah kandung Colin. Colin mengingat-ingat, ia mengatakan waktu itu ia berusia 10 tahun karena kata teman-temannya ia tak mungkin anak kedua orang tuanya. Karena ayahnya orang asing dan berambut pirang. Keempatnya terkejut, Tae San mengerti dan menyahut pasti Colin sangat terpukul mengetahui kenyataan itu. Colin malah berfikir yang lebih terpukul adalah mereka berempat.

Yoon heran kenapa tak dari dulu Colin mencari mereka. Colin mengatakan kalau saat itu ia belum membutuhkannya. Melahirkan adalah pilihan ibunya. Kami (Colin dan ayah tirinya) juga menjalani kehidupan kami masing-masing. Setiap minggu dia (ayah tiri Colin) menemaninya latihan sepak bola. Setiap kali ia dimarahi ibu, dia ikut duduk dibangku hukuman dengannya. Ayah yang sangat mengagumkan. Ia sendiri juga sibuk dengan perkembangannya sendiri.

Tae San: "Apa ayah yang kau cari tak tahu tentang keberadaanmu?"

Colin menjawab ya. Yoon bertanya lalu kenapa sekarang Colin mencarinya.

Colin: "Suatu hari ketika aku mencuci wajahku tiba-tiba aku menyadari betapa tampannya diriku. Jadi aku ingin menemukannya. Dari mana kudapatkan wajah yang tampan ini? Berapa banyak? Dimana? Bagaimana?"

Do Jin tersenyum menarik ujung bibirnya sedikit. Jung Rok langsung berdiri karena sangat jelas sekali yang dimaksud Colin itu dirinya, karena ia memang tampan. Tae San menyuruh Jung Rok duduk.

Yoon ingin tahu apa yang dikatakan Ibu Colin, apa Colin tak pernah bertanya pada ibu Colin mengenai siapa ayah kandung Colin. Colin mengatakan kalau ia melakukan itu ia tak akan menderita seperti ini.

Do Jin menatap tajam Colin, "Kau, bulan berapa kau lahir?"

Ketiga teman Do Jin heran dengan pertanyaannya. Colin menoleh menatap Do Jin yang dari tadi menatapnya. Do Jin meminta Colin memberikan paspor padanya. Akhirnya Colin pun menunjukan paspornya. Ia memberikannya pada Do Jin.

Do Jin memeriksanya dan disana tercantum Colin kelahiran 20 September 1994, bukan 1995. Deg, Do Jin langsung melamun terdiam mengingat-ingat sesuatu. Jung Rok penasaran dan mengambil paspor itu dari tangan Do Jin. Tapi Yoon buru-buru merebutnya.

Yoon: "Kau, apa kau lahir 1994?"

Tae San dan Jung Rok terkejut karena pengakuan Colin yang sebelumnya Colin mengatakan kalau dia lahir ditahun 1995. Colin menunduk diam. (Kilas balik sedikit ya, pertemuan keempatnya dengan Eun Hee itu di tahun 1993, jadi besar kemungkinan kalau salah satu dari keempatnya adalah ayah Collin)

"Sepertinya.... akulah ayahnya!" ucap Do Jin tiba-tiba membuat ketiga temannya terkejut bukan main.

Colin juga sama tak menyangka kalau Do Jin akan secepat itu mengaku kalau dia adalah ayahnya. Keduanya kembali berpandangan.

Yi Soo membaca buku tentang benang merah. Ia melirik baju yang sudah ia siapkan untuk makan malam bersama Do Jin. Ia melihat ponselnya sudah jam 7.50 ia merasa lapar tapi Do Jin tak kunjung datang ia menebak apa Do Jin akan datang terlambat. Ia pun kembali membaca bukunya.

Do Jin dan Colin masih saling berpandangan dalam diam. Ketiga teman Do Jin jelas tak percaya. Tae San berkata kalau Do Jin ini selalu bertingkah seolah-olah Do Jin dan Eun Hee mempunyai sejarah karena sejujurnya ia-lah yang paling keren di kampus. (Tae San masih bisa bercanda ya!)

Jung Rok membenarkan hanya Eun Hee yang tahu siapa yang benar-benar disukai. Karena akhir-akhir ini hanya ia yang didekati oleh Eun Hee. Jadi kalau begitu bukankah yang seharusnya ayah Colin adalah dirinya. Yoon heran, akhir-akhir ini? kapan itu?

Jung Rok sudah keceplosan bicara akhirnya ia pun mengakui kalau waktu Min Suk menangkap basah dirinya di Rich ketika itu ia menemui Eun Hee. Jung Rok memberi tahu kalau Eun Hee tak bisa menghubungi anaknya setelah anaknya sampai di Korea. Eun Hee bahkan memintanya menghubungi kalau ia melihat anaknya. Tapi Eun Hee memintanya merahasiakan pertemuan mereka.

Colin terkejut, "Apa ibuku kesini?"

Tae San kesal pada Jung Rok kenapa tak memberi tahu mereka lebih awal. Yoon meminta tak perlu membahas itu karena sekarang tak ada gunanya. Mata Do Jin tak pernah lepas dari Colin.

Yoon meminta penjelasan dari Do Jin, apa yang Do Jin katakan tadi ada dasarnya. Do Jin minta maaf tapi bisakah ketiga temannya ini keluar dulu karena ada yang ingin ia bicarakan dengan Colin.

Ketiganya pun keluar tapi penasaran dan mencoba menguping pembicaraan Do Jin dengan Colin.

Colin dan Do Jin masih saling menatap dalam diam. Kemudian Do Jin menyuruh Colin menelepon Ibu Colin sekarang.

"Apa paman benar-benar ayahku?" tanya Colin. Do Jin tak menjawab ia memberikan ponselnya agar Colin menghubungi Ibu Colin.

Yoon, Jung Rok dan Tae San berusaha mencari tahu apa yang dibicarakan Do Jin dan Colin di dalam. Tapi ketiganya tak mendengar apapun.

Ketiganya langsung berdiri ketika Do Jin membuka pintu. Do Jin pamit ia harus pergi dulu, langkahnya terasa berat. Ketiganya akan masuk ke kamar hotel tapi Do Jin mengingatkan agar membiarkan Colin sendiri.

"Apa itu benar-benar kau?" tanya Yoon.

"Benarkah?" Tae San masih belum percaya.

"Kau akan kemana?" tanya Jung Rok.

"Biarkan aku sendiri juga!" sahut Do Jin berjalan lemas meninggalkan ketiga temannya.

Yi Soo celingukan di depan rumah menunggu kedatangan Do Jin yang akan janjian makan malam dengannya tapi Do Jin tak kunjung datang. Ia senang melihat ada mobil yang datang tapi raut wajahnya kembali kecewa ketika ia tahu kalau itu bukan mobil Do Jin.

Yi Soo menelepon Do Jin tapi tak dijawab. Ternyata Do Jin sudah berada di dekat rumah Yi Soo di seberang jalan. Tapi Yi Soo tak bisa melihatnya. Do Jin memegang ponsel yang terus menampilkan panggilan dari Yi Soo. Ia menatap Yi Soo dari kejauhan, tatapannya penuh rasa bersalah.

Ketika Yi Soo celingukan mencari-cari Do Jin langsung menyembunyikan dirinya agar tak terlihat oleh Yi Soo ia belum berani menunjukan dirinya di depan Yi Soo.

Yi Soo kesal karena Do Jin tak menjawab panggilan teleponnya, ia pun segera masuk ke dalam rumah. Do Jin masih disana memandang penuh dengan tatapan rasa bersalah.

Yi Soo mondar-mandir di kamar berulang kali melihat ponselnya dengan gelisah. Do Jin di dalam mobilnya yang terparkir di depan rumah Yi Soo. Ia menatap kamar Yi Soo yang lampunya masih menyala. Yi Soo terbaring di ranjangnya dengan gelisah menunggu kabar dari Do Jin. Ia jelas tak bisa tidur.

Ia heran bukankah seharusnya Do Jin menghubunginya kalau Do Jin tak bisa datang karena ini membuat orang menunggu. Dan lampu kamar Yi Soo pun mati, Do Jin menebak kalau Yi Soo sudah tidur dan ia memutuskan untuk kembali ke rumahnya.

Do Jin berdiam diri di kamar, tatapan matanya lemah. Ia memandang ponselnya dan menghubungi seseorang, "Ini aku. Kim Do Jin." Siapa yang dihubungi Do Jin, Kim Eun Hee kah?

Yoon, Tae San berada di bar Jung Rok. Jung Rok tanya apa Do Jin belum menjawab telepon. Yoon menjawab ya dan untuk sementara ini ketiganya harus menunggu saja dulu.

Jung Rok mengatakan kalau sebenarnya ia sudah menyusun beberapa rencana untuk menghadapi situasi ini. Tapi dia berkata salah seorang diantara kalian adalah ayahku ia jadi kehilangan kata-kata.

Tae San: "Kalau kau tak kehilangan kata-kata, memangnya apa yang mau kau katakan?"

"Im your father!" sahut Jung Rok.

Kedua temannya kesal dan sedang tak ingin bercanda. Tae San berkata kalau semuanya belum terlambat kecuali pengakuan dari Do Pal tak ada bukti lain. Yoon tak ingin mendengar hal konyol, ia minta Jung Rok mengambilkannya anggur. Jung Rok pun mangambilkan pesanaan pelanggannya.

Tak jauh dari sana si Manajer bar, Lee Seong Taek memperhatikan ketiganya dan menghubungi seseorang.

Tae San melihat sikap Do Jin merasa sepertinya Do Jin ini sangat yakin. Yoon setuju pendapat Tae San kalau tak yakin Do Jin tak akan bicara seperti itu. Tae San tak menyangka kalau selama ini Eun Hee merawat colin sendirian. Yoon menyahut bukankah Colin memiliki ayah, dia tak tumbuh sendirian ini sudah merupakan berkah. Tae San tak habis pikir bagaimana Eun Hee bisa berfikiran mengasuh seorang anak sendirian.

Yoon: "20 tahun yang lalu, kalau seseorang datang dan berkata aku mengandung anakmu, aku akan mempertahankannya. Memangnya apa yang akan kau lakukan?"

Tae San: "Tentu saja aku akan bertanggung jawab."

Tapi Yoon tak yakin, "Entahlah. Mungkin kita bisa mengatakan itu sekarang karena kita sudah 41 tahun."

Min Suk menerima telapon dari seseorang. Ia terkejut mendengar apa yang disampaikan si penelepn, "Apa kau yakin?"

Di jam istirahat Yi Soo duduk menyendiri sambil menatap ponselnya. Ia merasa khawatir kenapa Do Jin tak menjawab panggilan teleponnya. Ia berusaha kembali menghubungi Do Jin tapi kali ini ponsel Do Jin tak aktif ia pun meninggalkan pesan.

"Seorang wanita selalu menjawab teleponmu mengatakan bahwa pelanggannya tak bisa menerima telepon. Apa kemarin kau berkencan dengannya? Kau bilang kau akan datang jadi aku menunggumu, kau bahkan tak menghubungiku sama sekali. Tidak terjadi apa-apa kan? Setelah kau mendengar ini, telepon aku. Aku khawatir."

Setelah Yi Soo menutup teleponnya tiba-tiba ada yang menghubunginya. Ia kaget dan berharap itu dari Do Jin tapi bukan itu telepon dari Meari.

Min Suk memanggil Yi Soo, Se Ra dan Meari untuk membicarakan sesuatu. Ketiga wanita yang lebih muda dari Min Suk ini menatap heran kenapa ketiganya dipanggil seperti ini.

Min Suk berkata kalau ketiganya mungkin terkejut karena tiba-tiba ia meminta ketiganya untuk datang tapi ia tak punya pilihan lain. "Alasanku meminta kalian datang kesini adalah karena salah seorang diantara kita akan menghadapi cobaan besar beberapa hari ke depan. Aku bermaksud memberi tahu kalian terlebih dahulu. Empat wanita disini memiliki investasi terbesar atas Lee Jung Rok, Kim Do Jin, Im Tae San dan Choi Yoon."

Meari khawatir apa terjadi sesuatu terhadap para Oppa ini. Se Ra menebak apa Tae San bangkrut. Meari menyahut tentu saja bukan itu kalau hal itu tentu ia akan mengetahuinya. Meari menebak apa ini masalah dengan wanita. Min Suk menjawab kalau ini masalah pria. Yi Soo tak mengerti sekaligus khawatir.

Se Ra meminta Min Suk mengatakan yang sebenarnya jangan membuatnya khawatir seperti ini. Meari tersenyum malu, apa Min Suk menganggapnya sebagai pacar Yoon karena ia diikutsertakan dalam diskusi ini. Min Suk mengatakan kalau posisi Meari disini sebagai adik dari Tae San. Meari langsung merengut terdiam.

Min Suk berkata kalau ketiganya pasti sudah tahu tentang Kim Eun Hee, "Cinta pertama mereka berempat. Tapi, putranya telah muncul. Kim Do Jin, Im Tae San, Choi Yoon, Lee Jung Rok salah seorang diantara mereka adalah ayahnya."

Ketiga wanita ini jelas terkejut. Min Suk mengatakan kalau saat ini ia belum yakin siapa ayahnya. "Tapi sebagai istri dan pacar mereka berempat aku yakin kalau salah seorang diantara kita akan sangat terpukul. Tentu saja setelah berita yang mengagetkan ini kita mungkin tetap menjadi istri atau pacar mereka."

Min Suk meminta pendapat ketiganya siapa kira-kira ayah anak itu. Mereka harus mendapatkan kejelasan agar bisa tidur nyenyak. Wajah Yi Soo jelas menampakan kecemasan karena belakangan ini Do Jin sulit dihubungi.

Se Ra yakin kalau Tae San bukan ayah anak itu. Meari tak percaya apa Se Ra punya bukti. Se Ra malah bertanya apa Meari mau kalau pria yang dimaksud adalah Tae San. Meari menyahut kalau lebih baik yang ayah anak itu adalah kakaknya bukan Yoon. Orang tuanya terus-menerus memaksa kakaknya untuk segera menikah agar mempunyai cucu tapi kakaknya tak bisa memenuhi itu sekarang, jadi kalau kakaknya adalah ayah anak itu setidaknya orang tuanya sudah memiliki seorang cucu. Jelas disini Meari menyindir Se Ra.

Se Ra berkata kalau Meari belum mengetahuinya tapi kucing yang tenang biasanya lebih dulu mencapai tempat yang tinggi (Maksudnya Yoon. Yoon kan kalem, tenang. Se Ra menilai kalau yang tenang itu bisa saja berbuat kesalahan) Meari menyahut kalau hal itu bisa terjadi pada kucing tapi Yoon bukanlah kucing melainkan seekor harimau.

"Tapi Colin ini lebih terlihat sangat mirip dengan Kak Do Jin." sahut Meari kemudian melirik ke arah Yi Soo.

Yi Soo jelas kaget ditambah cemas. Ia mengatakan kalau ia pernah bertemu Colin tapi keduanya tak mirip sama sekali. "Hanya karena wajahnya tampan bukan berarti dia anaknya Do Jin, kan?"

Meari: "Kalau begitu jangan-jangan anaknya Kak Rok? karena yang paling baik memperlakukan Colin hanya Kak Rok. Dia terus menghubunginya dan menanyakan keadaannya."

Min Suk berkata kalau ia tak pernah mengatakan bukan Jung Rok orangnya. Kalau memang salah satu diantara mereka, maka peluangnya 25%. Jadi setidaknya kita harus 25% curiga.

Setelah berdiskusi dengan Min Suk. Yi Soo, Se Ra dan Meari kembali berdiskusi di rumah Se Ra. Meari mengatakan kalau ia tahu Colin itu pasti akan mendatangkan masalah yang besar. Menurutnya Colin itu benar-benar kasar. "Kalau dia benar-benar anak Kak Yoon aku akan pingsan saat itu juga. Aku baru 24 tahun bagaimana aku akan mengasuhnya? Sekarang bagaimana cara meyakinkan kakakku?"

Se Ra heran kenapa Meari mengatakan bagaimana mengasuhnya bukankah seharusnya mengatakan bagaimana aku putus baguslah kau masih muda kau tak tahu betapa beratnya hidup. Se Ra yakin kalau ayah anak itu bukan Tae San. Meari berkata kakaknya atau bukan kenapa Se Ra peduli, bukankah Se Ra sudah putus dengan kakaknya. Bahkan sekarang kakaknya sudah memotong rambutnya.

Se Ra tak menanggapi omongan Meari. Ia bertanya pada Yi Soo apa yang akan Yi Soo lakukan kalau ternyata dia anaknya Do Jin. "Kalau anak itu memiliki kepribadian yang buruk bukankah itu sangat mirip dengan Do Jin."

Yi Soo masih diam, ini jelas membingungkan dan juga mencemaskannya. Meari meminta gurunya jangan khawatir karena ia sangat yakin kalau Colin itu anak Kakaknya.

Do Jin masih menyendiri di kamarnya, ia mendengarkan pesan suara yang ditinggalkan Yi Soo yang mengkhawatirkannya dan berharap agar Do Jin segera menghubunginya. Tapi Do Jin belum bisa menghubungi Yi Soo.

Yi Soo mengunjungi apartemen Do Jin, tapi ia ragu-ragu untuk mengetuk pintunya. Ia pun memutuskan untuk kembali. Di jalan dekat apartemen Do Jin, ia berharap kalau Do Jin menghubunginya tapi penantiannya sia-sia.

Keesokan harinya, Colin datang ke sebuah restouran dan celingukan mencari seseorang. Ia melihat Do Jin duduk sendirian melamun menatap jendela. Colin pun duduk di depan Do Jin. Do Jin mengatakan kalau ia sudah memesankan masakan Korea untuk Colin. Colin memberi tahu kalau ia bisa makan apa saja.

Do Jin mengambil sendoknya tapi tak segera memakan makannya, ia hanya mengaduk-aduknya saja. "Apa tidurmu nyenyak?" tanya Do Jin.

"Ya. Tapi sepertinya Paman tidak," Ucap Colin.

Do Jin menyendok makanannya sesuap, Colin mengikuti memakan makanannya. Do Jin kembali mengaduk-aduk makanannya. Colin melihat kegalauan hati pria yang mengaku sebagai ayahnya ini.

Do Jin bertanya apa pekerjaan ayah Colin. Colin menjawab kalau ayahnya seorang pilot dan dia sangat mencintai dirinya dan ibunya. Do Jin memberi tahu kalau Ibu Colin akan datang hari ini. Colin jelas kaget ibunya akan datang. Do Jin juga memberitahu kalau ia akan menghubungi Colin lagi setelah menemui Ibu Colin.

"Apa paman benar-benar ayah kandungku?"

Do Jin diam tak menjawab hanya menatap Colin.

Dan inilah pertemuan Do Jin dan Eun Hee setelah sekian lama tak bertemu. Keduanya saling menatap dalam diam. Eun Hee lebih dulu memulai pembicaraan mengatakan kalau mereka berdua sudah lama tak bertemu, "Seorang pemuda sudah menjadi lelaki paruh baya selama itu. Kau lebih tampan. Aku menyukai pria yang jadi lebih tampan seiring bertambahnya usia."

Do Jin tak ingin bicara ngelantur, ia ingin tahu ada apa sebenarnya. Eun Hee mengatakan kalau Colin pergi dan akhirnya menemukan mereka berempat. Ia bertanya apa Do Jin langsung mengenali Colin begitu melihatnya. Do Jin menjawab tidak dan ini jelas membuat Eun Hee terdiam kecewa.

Eun Hee mengatakan kalau ia tak pernah memberi tahu siapa ayah kandungnya. Sekarang ia memberi Do Jin kesempatan agar Do Jin bisa berpura-pura tak tahu. Bukankah lebih baik tak mengakui kalau Do Jin itu ayahnya.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" Do Jin mengulang pertanyaannya. "Kau tiba-tiba menghilang begitu saja dan membuat keputusan sendiri. Kau mempermainkanku, setidaknya kau harus memberitahuku tentang segalanya. Sebenarnya, apa yang terjadi?"

Eun Hee: "Tiba-tiba menghilang, aku memutuskan untuk sembunyi. Aku ketakutan. Awalnya aku berencana menggugurkannya tapi aku berubah pikiran. Kalau usiaku beberapa tahun lebih tua mungkin aku tak akan melakukan apa yang kulakukan. Tapi seperti itulah keadaannya."

Do Jin: "Kalau seperti itu setidaknya kau harus memberitahuku."

Eun Hee: "Kalau aku memberitahumu memangnya kau mau mengurusnya?"

Karena keadaannya jadi terlanjur seperti ini Eun Hee minta maaf. Waktu itu ia masih terlalu muda dan sedang jatuh cinta. Sekarang meskipun Do Jin sudah mengetahui keberadaan Colin, hal itu tetap tak akan ada yang berubah. Ia tak mengharapkan apapun dari Do Jin.

Do Jin tak tahu lagi harus bicara apa, ia berdiri dan meminta Eun Hee untuk sementara tetap disini tinggal di hotel perusahaannya sampai ia mengizinkan Eun Hee pergi. Ia mengatakan kalau anak itu juga tinggal disana.

Eun Hee ke kamar hotel perusahaan. Colin membukakan pintu dan mendapati ibunya cemberut marah terhadapnya. Colin jadi tak enak hati atas apa yang sudah dilakukannya.

"Anak nakal," kata Eun Hee memarahi putranya. Colin menanggapi ucapan ibunya menggunakan bahasa Jepang, "Jadi itu kata pertama yang ibu ucapkan setelah empat bulan berpisah. Agak kasar."

"Kau bahkan tak menjawab teleponmu, dasar pelit." kata Eun Hee.

"Ibu, kau lebih pelit daripada aku." sahut Colin. "Kenapa kartu kreditku ibu blokir?"

Eun Hee memarahi putranya, apa yang Colin lakukan, Colin tak pernah memberontak ketika masih kecil tapi sekarang Colin melakukannya. Colin bertanya haruskah ada alasan untuk pemberontakan seorang remaja. Eun Hee diam masih menatap marah putranya. Colin berkata sepertinya ibunya ini benar-benar marah. "Bukankah sudah terlihat jelas." ucap Eun Hee.

"Aku langsung bisa mengenalinya," sahut Colin mengatakan kalau ia langsung mengenali ayah kandungnya. Ia tahu begitu ia melihatnya. "Tapi aku tak pernah mengira kalau dia adalah ayahku yang sebenarnya."

Eun Hee menyahut kalau dia yang paling tampan diantara mereka. Colin memberi tahu sepertinya dia belum menikah. Tapi dia punya seorang pacar.

Eun Hee: "Lalu?"

Colin bilang kalau ia hanya memberitahu. Seharusnya hari ini Ibunya bertemu dengannya, apa sudah bertemu. Eun Hee berkata kalau Colin tak perlu tahu. Colin tanya Kenapa tidak, bukankah ia terlibat langsung dalam hal ini. Eun Hee mengatakan kalau hanya ia terlibat, "Kau hanya anakku. Tak tahukah kau betapa ibumu ini sangat mencintai ayahmu (suami Eun Hee)"

"Aku tahu," kata Colin pelan.

"Kau sudah tahu tapi masih melakukan ini. Apa kau tahu yang kau lakukan ini sama saja dengan mengkhianati ayahmu?"

"Aku tahu," wajah Colin menunjukan rasa bersalah.

Eun Hee tanya apa sekarang Colin bahagia. Colin mengatakan kalau ia bahagia tapi ia mengkhawatirkan ibunya. Colin ingin bertanya sesuatu. "Pernahkah ibu menyesal telah melahirkanku?"

"Ya. Hanya sekali." Jawab Eun Hee.

"Kapan?"

"Hari ini," jawab Eun Hee. Colin terdiam.

Meari membongkar tumpukan foto yang disimpan kakaknya. Ia mencari foto Kim Eun Hee dan ia pun menemukannya. 4 orang pria dan seorang wanita.

Sekolah usai Yi Soo akan pulang. Langkahnya lemas dan ia pun melihat dirinya dan Do Jin tengah bersama beberapa waktu lalu di depan sekolah. Saat itu Do Jin berjanji akan segera kembali setelah mengantar Colin ke bandara dan mengajaknya makan malam tapi sampai sekarang Do Jin tak memberi kabar padanya.

Do Jin sampai di rumah, ketiga temannya langsung menghampirinya. Yoon bertanya apa Do Jin bertemu Eun Hee. Do Jin menjawab pendek ya. Tae San penasaran apa Eun Hee sudah memastikannya Colin anak siapa. Do Jin kembali menjawab ya. Jung Rok masih tak percaya jadi itu benar tanya Jung Rok. Do Jin menjawab benar dengan suara pelan sambil meletakan ponselnya di meja. Ketiga temannya terdiam.

Do Jin menuangkan air minum, ketiga temannya menatap kegalauan hati sahabatnya. Do Jin menoleh ke arah ketiganya, "Kenapa? Aku punya tiga orang penonton, haruskah aku menari?"

Ketiganya tak tertawa tahu kalau hati Do Jin sedang galau, "Kau tak apa-apa?" Tanya Tae San.

Do Jin: "Kalau aku pura-pura baik-baik saja, akankah aku baik-baik saja?"

Yoon menawarkan apa yang Do Jin butuhkan. Kalau Do Jin membutuhkan hiburan mereka bertiga bisa menghibur. Kalau Do Jin ingin bercanda mereka bertiga akan melakukannya. Do Jin bilang tak usah sekarang, lain kali saja. "Kita akan bicara nanti setelah aku bertemu dengan Guru Seo."

Jung Rok memberi tahu kalau ia mendengar Park Min Suk, Hong Pro, Meari dan Guru Seo mengadakan pertemuan. Yoon menambahkan sepertinya mereka mempunyai firasat tapi mereka belum tahu kalau Do Jin adalah orangnya. "Dia akan sangat terkejut." Sahut Do Jin.

Tiba-tiba ada suara ponsel berdering. Ponsel Jung Rok panggilan dari istrinya, ponsel Tae San panggilan dari Se Ra dan ponsel Yoon panggilan dari Meari. Ketiga ponsel itu berdering bersamaan hanya ponsel Do Jin yang tak berdering.

Ketiganya bingung bagaimana menjawabnya. Ketiganya tak segera menjawab. Do Jin melihat kalau hanya ponselnya yang tak berdering. Ketiga temannya merasa tak enak. Do Jin mengatakan kalau ia tak apa-apa, "Beritahu saja pada mereka kalau orangnya itu aku pada kesempatan pertama kalian bicara." Do Jin masuk ke kamarnya.

Meari menemui Yoon di bar. Ia menanyakan apa Colin anak Yoon. Yoon mengatakan kalau ini urusan orang dewasa tak ada hubungannya dengan Meari. Meari jelas ingin tahu karena ini juga melibatkan Yoon, bagaimana mungkin ia tak khawatir. "Dia anak Kakak atau bukan?"

"Kalau dia anakku....."

"Bagaimana ini...?" Meari sedih menyela omongan Yoon. "Tak heran mata kalian sangat mirip." Ucapnya.

Yoon menghela nafas, ia mengatakan kalau suasana hatinya sedang tak baik. Karena itu...

"Ok. Aku mengerti." Meari kembali menyela omongan Yoon. Ia berharap Yoon tak perlu mengkhawatirkan masalah ini, "Aku akan mengasuhnya dengan baik." ucap Meari lemas. (Haha) "Jangan khawatir kak, jenjang pendidikannya akan kulakukan yang terbaik untuk itu."

"Aku benar-benar tak tahu apa yang harus kulakukan padamu," Yoon pusing mendengar ocehan Meari yang tak masuk akal.

Jung Rok menghampiri keduanya dan menyuruh Meari segera pulang. Kalau tidak ia akan menghubungi Tae San. Meari langsung berdiri dan siap akan pergi. Ia mengatakan kalau makanan di bar Jung Rok tidak enak. Meari kembali berkata bahwa Yoon tak perlu khawatir. Jung Rok berpura-pura menelepon Tae San dan membuat Meari langsung ngibrit pergi dari bar.

Yoon tersenyum-senyum dengan tingkah Meari. Jung Rok menggodanya dengan menirukan apa yang diucapkan Meari. Yoon sedang tak ingin bercanda, ia bertanya apa Jung Rok tak menemui Min Suk. Jung Rok bilang kalau ia akan menemui istrinya. Tapi Yoon perlu mempertimbangkannya dengan hati-hati.

Yoon tanya tentang apa. Jung Rok mengatakan tentang Meari, "Cantik, muda, kaya. Tidak kelihatan, tapi dia berpendidikan tinggi. Dia hanya menyukaimu dan bersedia mengasuh anakmu. Hei... ini seperti memenangkan undian 10 kali."

Jung Rok pamit akan menemui istrinya. Setelah Jung Rok pergi Yoon bergumam karena itulah ia tak bisa melakukan yang lebih daripada ini.

Tak jauh dari sana Manajer bar, Seong Taek mengamati Yoon dan yang lainnya dari tadi. Ia mengirim SMS pada seseorang.

Kebenaran sudah terungkap. Dia anaknya Yoon. Kata Meari dia bersedia mengasuh anaknya.

Seong Taek mendapat SMS balasan, Kenapa bos-mu mempekerjakanmu?

Seong Taek berfikir. Ternyata dia sekarang menjadi mata-matanya Park Min Suk.

Min Suk menanyakan perihal siapa ayah Colin pada Jung Rok. Jung Rok meyakinkan kalau itu bukan dia. Min Suk tanya kalau begitu anak siapa dia. Jung Rok seperti tak tega mengatakannya. Ia malah balik bertanya tak cukupkah penjelasannya kalau Colin itu bukan anaknya.

Min Suk berkata itu karena sekarang ia tak percaya pada Jung Rok. Kalau Jung Rok tak bisa membuktikannya, yakinkan dirinya kalau dia bukan anak Jung Rok.

Jung Rok meyakinkan istrinya kalau Colin memang bukan anaknya. Ia mengatakan kalau anak itu sangat tampan. (berarti Jung Rok ngaku kalau dia ga tampan dong haha) Wajahnya juga mungil dengan kelopak mata ganda.

Min Suk bilang cukup karena sekarang kesalahpahaman sudah selesai. Jung Rok kaget ternyata penjelasan singkatnya dianggap cukup. Ia heran cukup dibagian mananya.

Min Suk mengatakan bukankah dia tinggal di hotel perusahaan. Kalau dia memang anak Jung Rok tak mungkin Jung Rok akan membiarkan dia tinggal disana pasti Jung Rok akan menyembunyikan anak itu darinya.

Min Suk akan makan malam, ia menawarkan apa Jung Rok mau makan malam bersamanya. Jung Rok tentu saja kaget dengan ajakan istrinya, jelas ia tersenyum senang dan bertanya apa nanti tidur setelah makan malam atau pergi setelah makan malam. Min Suk melirik ke arah suaminya, "Tidur setelah makan malam,"

Yes... Jung Rok kegirangan. Ia bergegas akan ganti baju dulu. Min Suk tersenyum, ia pun berandai-andai, "Kalau kita punya anak apakah kau akan menjadi dewasa?"

Jung Rok menemukan sesuatu di kamar, kunci mobil Se Ra. Ia pun bertanya apa ini, punya siapa ini? Apa mungkin ini hadiah untuknya. Min Suk berkata kalau itu bukan milik Jung Rok. Jung Rok heran kalau bukan miliknya lalu milik siapa, "Jangan-jangan temanmu mau menjual mobil ini?"

Min Suk mengancam kalau Jung Rok terus bertanya tentang itu lebih baik mereka pergi setelah makan malam dan tak perlu tidur. Jung Rok berteriak kalau ia akan mengembalikan kunci mobil ini. Tapi ia tak mengembalikannya, ia malah menyimpannya di saku celana.

Jung Rok penasaran dan langsung ke tempat parkir, "Dia tak membelinya untuk laki-laki lain kan?" Jung Rok mencoba mencari mobil mana yang merespon kunci yang ia pegang. Dan salah satu mobil pun merespon, mobil merah. Ia senang melihat mobil merah yang mewah tapi tunggu ia menyadari sesuatu, "Bukankah ini mobil Hong Pro."

Se Ra dan Tae San pun bertemu. Se Ra melihat kalau Tae San memotong rambut. Tae San mengatakan kalau cuacanya panas. Se Ra memuji kalau itu terlihat bagus.

Se Ra berkata kalau ia siap untuk mendengar berita buruk. Ia mendengar kalau putra dari cinta pertama Tae Sab muncul. Tae San tak mengubris ucapan Se Ra dan mengingatkan bukankah keduanya sudah putus.

"Siapa ayahnya?" tanya Se Ra.

Tae San mengatakan kalau masalah ini tak ada hubungannya dengan Se Ra jadi jangan buang-buang waktu. Se Ra meminta Tae San menjawab pertanyaannya sebelum ia menjadi gila. Tae San balik bertanya memangnya Se Ra masih bisa gila karena dirinya. Se Ra terdiam.

Se Ra: "Aku tak tahu apa yang terjadi tapi kalau kau dalam kesulitan aku ingin berada di sisimu."

Tae San: "Kenapa?"

Se Ra: "Memangnya hanya ada cinta diantara kita? ada persahabatan... ada loyalitas.. ada hal seperti itu. Sejujurnya, kupikir kau akan datang kalau aku menggunakan alasan ini untuk bertemu denganmu. Dengan begitu aku bisa bertemu denganmu. Itulah yang kupikirkan."

Tae San: "Kau benar-benar pengecut. Kau tak mau menikah denganku tapi masih ingin melihatku."

Se Ra mulai menitikan air matanya, ia mengaku kalau ia memang pengecut. "Tapi aku merindukanmu jadi apa yang bisa aku lakukan?"

Tae San emosi, "Apa kau tak pernah mempertimbangkan itu sebelum kau pergi?"

Se Ra: "Kita berpisah begitu tiba-tiba. Aku benar-benar terluka. Kumohon padamu, bisakah kita berpisah perlahan-lahan?"

"Kupikir orang masih bersahabat dengan mantan pacarnya adalah orang yang paling tak berguna." Tae San meninggalkan Se Ra sendirian yang terus menangis.

Meari menunjukan foto yang ia temukan kepada Yi Soo. Ia mengatakan kalau wanita itu sangat cantik. Yi Soo setuju dia sangat cantik, "Cukup cantik untuk membuat pacarku menyukainya."

Meari menilai kalau pria memang sangat simpel, bagaimana mungkin mereka langsung jatuh cinta hanya karena dia cantik. Meari menanyakan apa gurunya ini belum bisa menghubungi Do Jin.

Dengan suara lemah Yi Soo mengatakan, "Terkadang dalam sebuah kehidupan kau akan menyadari bahwa kebahagiaan tak bisa diprediksi. Tapi ketidakberuntungan bisa diprediksi dengan pasti. Yang namanya firasat buruk tak pernah salah."

Tiba-tiba ponsel Yi Soo berdering. Yi Soo seolah bisa merasakannya kalau itu pasti dari Do Jin. Lama ia terdiam tak segera mengambil ponsel yang ia letakan di meja. Yi Soo perlahan melihat siapa yang menelepon dan benar saja itu dari Do Jin.

Do Jin: "Sekarang, bisakah kita bertemu sebentar? Aku akan ke rumahmu."

Yi Soo: "Tidak. Aku yang akan menemuimu. Karena menunggumu selama ini rasanya seperti neraka. Kemana aku harus pergi?"

Yi Soo mengendarai mobilnya menuju Hwa Dam untuk menemui Do Jin. Pikirannya cemas, tegang dan gelisah semua campur aduk jadi satu. Ia seperti tak konsentrasi menyetir. Hampir saja ia serempetan dengan mobil lain. Yi Soo menarik nafas mencoba menenangkan pikirannya yang kacau.

Do Jin melamun menunggu kedatangan Yi Soo. Sepertinya ia merancang setiap kata yang akan ia ungkapkan pada Yi Soo.

Yi Soo pun datang dan tersenyum padanya. Do Jin berusaha membalas senyum itu tapi hatinya seakan menolak ia tak bisa tersenyum ceria.

Yi Soo berkata kalau ia melihat wajah Do Jin lebih pucat sejak terakhir kali ia melihat Do Jin. Ia menebak apa Do Jin belum makan. Do Jin mengangguk pelan dan meminta Yi Soo duduk.

Keduanya duduk berhadapan. Yi Soo bertanya kenapa Do Jin tak menghubunginya sampai-sampai ia mengabaikan harga dirinya dan menghubungi Do Jin berkali-kali.

"Maaf," ucap Do Jin pendek dengan suara lemah. Yi Soo bilang tak apa-apa ia tahu kalau Do Jin sibuk.

"Bukan untuk itu," sahut Do Jin. Permintaan maafnya bukan karena ia tak jadi datang ketika janji makan malam kemarin. "Untuk apa yang akan kusampaikan aku minta maaf." Sambung Do Jin. Yi Soo berusaha menampilkan wajah setenang mungkin.

Dengan suara yang lemah dan berat Do Jin mulai mengungkapkan semuanya, "Permintaanku untuk hidup bersama, kutarik kembali. Janji membahagiakanmu juga kutarik kembali. Janji bahwa aku tak akan meninggalkanmu sebelum kau yang meninggalkanku, aku juga tak bisa memegangnya. Aku hanya seorang pria jahat. Jadi kalau kau bisa, lupakan aku!"

Mata Yi Soo berkaca-kaca, dengan suara terbata-bata Yi Soo bertanya. "Kim Do Jin, apa dia anakmu?"

"Ya.." jawab Do Jin tak berani menatap Yi Soo. Ia hanya bisa menunduk. "Bukannya aku tak percaya diri untuk mencintai seorang wanita selama sisa hidupku. Tapi karena aku tak pantas. Ini adalah hukuman karena aku tak cukup rendah hati. Membuat orang lain menangis, menyakiti orang lain. Anak itu adalah hukuman perbuatanku."

"Apa dia benar-benar anakmu?" Yi Soo bertanya lagi untuk memastikan apa yang baru saja didengarnya.

Do Jin mengangkat wajahnya menatap Yi Soo, "Ya." Jawab Do Jin pendek.

"Benarkah? Benarkah? Benarkah?" Yi Soo masih tak percaya.

"Maaf," ucap Do Jin. "Aku tak punya penjelasan yang masuk akal, yang ada hanya hasil perbuatanku dimasa lalu. Karena itu lakukanlah apapun yang bisa kau lakukan untuk melupakan bajingan sepertiku."

"Lalu apa? Haruskah aku menemukan pria lain yang baik? Haruskah?" tanya Yi Soo.

"Kau harus melakukan itu."

"Apa begitu saja? Apa tak ada hal lain yang ingin kau sampaikan padaku?"

Do Jin kembali menunduk, "Hati-hati di jalan. Pergilah!"

Yi Soo tak tahu lagi harus bertanya apa. Ia sudah memberi kesempatan pada Do Jin untuk mengatakan hal lain tapi Do Jin juga sepertinya tak tahu harus menjelaskan apalagi, "Aku pergi. Selamat tinggal."

Yi Soo keluar dari ruangan Do Jin. Sesaat kemudian Do Jin menyadari sesuatu dan segera menghubungi petugas keamanan. Do Jin memberi tahu kalau ada seorang wanita yang sedang menangis sebentar lagi akan lewat. Ia berpesan agar jangan membiarkan wanita itu menyetir.

Yi Soo menangis keras meminta kunci mobil yang sekarang dipegang petugas keamanan, "Tolong berikan padaku!" pinta Yi Soo. Petugas keamanan mengatakan kalau Presdirnya tak mengizinkan Yi Soo menyetir.

"Berikan kucinya padaku, cepat ahjussi!" Pinta Yi Soo terus menangis.

"Anda tak boleh menyetir dalam keadaan seperti ini."

"Berikan padaku, tolong!" Yi Soo terus memohon.

Do Jin datang dan berterimakasih karena sudah menahan Yi Soo. Petugas keamanan memberikan kunci mobil pada Do Jin.

"Pulanglah naik taksi aku akan memanggilkannya." Perintah Do Jin.

"Berikan padaku!" pinta Yi Soo keras.

"Sekarang kau tak bisa menyetir."

"Berikan padaku sekarang!" bentak Yi Soo sambil menangis.

"Naik taksi saja!"

"Berikan kuncinya padaku!" Yi Soo kembali membentak

"Kalau begitu akan kuantar!"

"Lupakan saja. Kubilang lupakan!" Yi Soo menepis tangan Do Jin. "Kenapa kau seperti ini?" bentak Yi Soo.

"Kau bisa terluka."

"BIAR SAJA AKU TERLUKA, APA URUSANNYA DENGANMU?" bentak Yi Soo dengan suara semakin tinggi sambil menangis.

"Dengarkan aku!" Do Jin menarik Yi Soo masuk ke mobil. Ia mengantar Yi Soo pulang.

Di dalam perjalanan menuju rumah Yi Soo hanya bisa diam menangis, air matanya terus mengalir deras.

Sampai di depan rumah Yi Soo langsung bergegas keluar dari mobil, Do Jin pun ikut keluar dari mobil. Yi Soo akan langsung masuk ke rumah tapi tiba-tiba ia berhenti, "Tiba-tiba aku merasakan seperti apa rasanya kebahagiaan. Dan ini adalah kebalikannya."

Yi Soo berbalik menatap Do Jin, "Apa masih ada hal lain yang perlu kuketahui? Apa tak ada lagi yang ingin kau ungkapkan tentang masa lalumu? Apa kau yakin hanya dia satu-satunya anakmu?" Yi Soo kemudian membentak, "Masih adakah anak kedua, dasar brengsek!"

Mata Do Jin berkaca-kaca mendengar semua makian yang dituduhkan Yi Soo padanya, ia hanya bisa terdiam menerima semua makian itu. Yi Soo segera masuk ke rumah dengan tangis yang meluap.

Yi Soo terduduk lemas bersandar pada pintu masih terus menangis, "Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan?" Yi Soo terus mengulang ucapannya sambil menangis meraung-ruang.

Do Jin berjalan lemas menuju kamarnya, ia pun tak kuasa menahan air matanya harus melepaskan wanita yang ia cintai.

keesokan harinya, Di sekolah Yi Soo SMA JW (SMA Ju Won, namanya kayak nama pemeran Secret Garden ya) Dong Hyub menemui Seong Jae. Seong Jae mendesah kesal karena harus melihat Dong Hyub lagi. Dong Hyub berbasa-basi menanyakan kabar Seong Jae. Seong Jae mengatakan kalau salinan itu ia belum bisa menyelesaikannya. Dong Hyub bilang tak apa-apa kembalikan saja buku itu padanya.

Seong Jae cemas karena tiba-tiba Dong Hyub berubah pikiran seperti ini, ia takut kalau ia sudah berbuat salah apa Dong Hyub menginginkannya melakukan yang lain. Dong Hyub bilang bukan begitu karena mulai sekarang ia yang akan mengerjakannya sendiri.

Seong Jae cemas kesalahan apa lagi yang sudah ia lakukan sampai Dong Hyub berubah sikap seperti ini. Dong Hyub bilang kalau Seong Jae tak melakukan kesalahan apapun. Dong Hyub mengambil sendiri 2 buku tugasnya di tas Seong Jae. Ia mengingatkan Seong Jae jangan mengerjakan matematika pada jam pelajaran etika.

Terdengar suara seorang Ibu-ibu yang mencari Kim Dong Hyub, ia berteriak-teriak memanggil nama Dong Hyub.

Yi Soo melamun di ruang guru, tiba-tiba salah satu muridnya teman Dong Hyub melapor kalau Dong Hyub sekarang sedang dipukuli.

Plak, si ibu itu menampar Dong Hyub di depan siswa lain. "Kudengar kau memukuli anakku dan memaksanya mengerjakan salinan tugas. Apa kau sudah gila?" Ternyata ibu ini ibunya Seong Jae.

Plak, ibu Seong Jae menampar lagi. Dong Hyub diam tapi tangannya sudah mengepal siap melawan menatap tajam wanita yang ada di depannya ini.

"Apa? Kenapa melihatku begitu? Kau pikir apa yang bisa kau lakukan? apa yang bisa kau lakukan?" bentak Ibu Seong Jae.

Ibu Seong Jae akan memukul lagi tapi tepat saat itu Yi Soo datang melerainya. "Apa yang anda lakukan, aku wali kelasnya. Apa yang anda lakukan, ini di dalam kelas."

Kini giliran Ibu Seong Jae memarahi Yi Soo, "Jadi kau guru anak brandal ini. Kau datang tepat waktu, bagaimana sebenarnya caramu mendidiknya? Dia sudah melakukan tindak kekerasan di sekolah. Kau pikir anakku siapa? Membiarkan hama seperti ini melakukan apapun yang diinginkannya."

Yi Soo meminta Ibu Seong Jae bicara di luar karena tak baik bicara seperti ini di depan para siswa. Ibu Seong Jae tetap nyolot ia memang datang kesini agar semua orang bisa melihat untuk mencegah Dong Hyub mengulangi perbuatannya.

Yi Soo: "Tolong hentikan, orang yang sedang melalukan kekerasan adalah anda,"

Seong Jae datang bersama Guru Park, "Ibu, kau sangat memalukan." seru Seong jae. Ia dan Guru Park membawa Ibunya keluar dari kelas.

Ibu Seong Jae masih mencak-mencak memarahi Dong Hyub, "Kau.. Urusanku denganmu belum selesai. Dan kau juga!" kata Ibu Seong Jae menunjuk Yi Soo.

Yi Soo menyuruh semua siswa yang menonton agar menyiapkan pelajaran selanjutnya. Ia mengajak Dong Hyub bicara sebentar dengannya. Tapi Dong Hyub sudah kadung emosi ia mengambil tas-nya dan pergi begitu saja meninggalkan jam pelajaran. Tak mempedulikan panggilan gurunya.

(ya ampun Bu Guru masalahmu begitu banyak)

Malam hari Yi Soo duduk menyendiri di bangku penonton lapangan baseball sambil meminum minuman kalengnya. Ternyata Tae San juga datang ke tempat yang sama. Tae San berfikir kalau ini adalah tempat rahasianya tapi sekarang sepertinya tidak lagi.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Tae San yang sudah tahu suasana hati Yi Soo. Yi Soo berkata kalau ia tak begitu baik, "Seorang muridku ditampar oleh ibu teman sekelasnya dan Kim Do Jin mencampakkanku. Dia bahkan tak memberiku waktu untuk mempertimbangkannya. Dia tak pernah meminta pendapatku. Hanya begitu saja, dia itu punya akal atau tidak?"

Tae San: "Kalau aku jadi Do Jin tentu aku juga akan melakukan hal yang sama. Memberimu waktu untuk memikirkannya itu sama saja dengan memohon padamu untuk tetap di sisinya. Dia pasti berfikir kalau melakukan itu agak tak tahu malu."

Yi Soo: "Kalau dia memberiku waktu, mungkin aku bisa memahaminya."

Tae San: "Tapi mungkin juga kalian akan semakin terpisah jauh."

Yi Soo: "Kalau kita tak melewati base pertama, kedua, dan ketiga bagaimana mungkin kita bisa mencapai home base? Setidaknya dia harus memberikanku waktu itu."

Tae San: "Walaupun kita mencapai home base bagaimana kita bisa tahu apakah itu safe atau out. Do Jin yang kukenal pasti memilih melindungimu."

Yi Soo menyadari penjelasan Tae San ada benarnya, "Melindungi dari apa?"

Tae San: "Melindungi dari Do Jin yang berusia 22 tahun."

Tae San mengatakan kalau Jung Rok sudah menunggunya jadi ia harus pergi. "Sebenarnya aku kesini karena kupikir kau akan ada disini. Aku hanya ingin ngobrol denganmu."

Yi Soo tersenyum dan berterima kasih. Ia mengatakan kalau ia benar-benar menyukai pria yang baik. Tae San merasa terhormat Yi Soo mengatakan itu. Tae San pamit sedangkan Yi Soo masih duduk menyendiri di bangku penonton.

Tae San menemui Jung Rok di bar. Ia bertanya kenapa Jung Rok menyuruhnya datang. Jung Rok malah balik bertanya memangnya ia harus menyuruh Hong Pro yang datang. Tae San heran apa maksudnya.

Jung Rok memberi tahu kalau mobil Hong Pro ada di garasinya dan kunci mobilnya di pegang oleh Min Suk. Tae San jelas terkejut tak mengerti. Jung Rok bertanya apa Tae San masih belum mengerti juga, ia menjelaskan kalau Hong Pro menjadikan mobil itu sebagai jaminan. Jaminan? Tae San semakin tak mengerti.

Keesokan harinya Tae San menemui Min Suk di galeri. Min Suk heran bagaimana Tae San bisa mengetahuinya karena Se Ra tak ingin Tae San tahu hal ini. Tae San ingin tahu berapa banyak uang yang dipinjam Se Ra, kenapa dia membutuhkan uang sebesar itu. Min Suk tak tahu masalah itu, kalau itu lebih baik Tae San tanyakan sendiri pada Se Ra karena ia sendiri tak menanyakan penggunaan uang itu untuk apa. Min Suk menebak kalau jumlah pinjaman Se Ra di bank sudah melewati batas maksimum pinjaman, "Ini hanya sebagai referensi karena kau ingin mencari tahu."

Min Suk: "Seperti yang kau ketahui tentang harga diri Hong Pro, dia pasti sangat malu mendekatiku seperti itu. Karena itulah aku menerima mobilnya. Karena dia memaksaku untuk menerima jaminan. Tak bisakah kau berpura-pura tak tahu?

Tae San: "Itu harga dirinya dan aku ingin mengembalikan harga diriku. Aku akan mengembalikan uangmu."

Di kamar Tae San menatap kunci mobil Se Ra. Ia berfikir kenapa Se Ra bisa sampai melakukan ini.

Yi Soo tiduran melamun di kamarnya. Se Ra setia menemani sahabatnya. Se Ra menanyakan bagaimana sakit kepala Yi Soo. Ia memeriksa dahi Yi Soo siapa tahu terserang demam, tapi ia merasa Yi Soo tak bermasalah, tak demam sama sekali. Ia bertanya apa badan Yi Soo sakit. "Apa kau khawatir karena mungkin dia anak Kim Do Jin?" Yi Soo diam saja tak menjawab pertanyaan Se Ra.

Se Ra berkata kalau ia berharap anak itu anaknya Tae San. Tapi Yi Soo mengatakan kalau anak itu adalah anak Kim Do Jin. Se Ra kaget, "Benarkah?"

Do Jin dan Colin makan siang bersama. Colin heran kenapa Do Jin terus mengajaknya makan bersama. Do Jin mengatakan itu karena ia sedang berusaha untuk lebih dekat dengan Colin. Colin bilang kalau Do Jin tak perlu melakukan itu.

Do Jin: "Walaupun begitu hanya dua hal yang bisa kupikirkan sekarang. Aku mendapatakan seorang anak, tapi aku kehilangan seseorang."

Colin merasa bersalah, "Apa itu karena aku?"

Do Jin: "Itu karena aku."

Colin meminta sehelai rambut Do Jin. Do Jin menyahut apa sebesar itu kebencian Colin terhadapnya. Colin malah bertanya, "Memangnya Paman menyukaiku?"

Colin menemui Yoon di kantor pengacara. Yoon terkejut dengan niat yang akan dilakukan Colin. Colin menyerahkan sehelai rambut yang ia terima dari Do Jin. Colin menginginkn tes DNA. Yoon tanya dari mana Colin mendapatkan rambut ini. Colin mengatakan kalau ia meminta dan Do Jin memberikannya.

Yoon: "Pernahkah terfikir olehmu kalau ini semua sudah dilakukan?"

Colin kaget, "Siapa yang melakukannya?"

"Aku." jawab Yoon. "Karena aku pengacara perusahaan ayahmu, yang namanya menemukan kepastian selalu lebih baik."

Yoon menyerahkan berkas dokumen tes DNA dan hasilnya 99,9% sampel 1 dan sampel 2 terbukti sebagai ayah dan anak kandung. Colin terpaku membaca berkas yang diterimanya.

Yoon menghubungi Do Jin meminta segera datang ke kantornya. Ia meminta Do Jin datang bersama Eun Hee.

Yi Soo tiduran melamun di sofa, terdengar suara teriakan dan ketukan pintu yang keras dari Guru Park di luar. Guru Park tergesa-gesa dan bertanya kenapa ponsel Yi Soo mati. Ia mengatakan kalau sekolah mereka akan masuk koran. Yi Soo tanya karena apa.

Guru Park mengatakan kalau Ibu Seong Jae ingin menuntut Dong Hyub. "Karena itulah aku memintamu untuk men-skors Dong Hyub dan merendah sedikit. Dia bahkan menyewa pengacara. Apa yang harus kita lakukan?" Guru Park panik.

Yi Soo bergegas menuju kantor Yoon. Ia ingin meminta bantuan Yoon. Yi Soo bertanya pada pegawai Yoon apa pengacara Choi ada kalau dia sibuk ia bisa menunggu. Pegawai Yoon meminta Yi Soo menunggu sebentar ia akan memberi tahu atasannya.

Yi Soo menunggu di luar ruangan Yoon. Ia tampak cemas atas apa yang menimpa anak didiknya. Dan tepat saat itu Do Jin datang ke kantor Yoon bersama Eun Hee. (ah...)

Yi Soo tak menyangka akan bertemu Do Jin di kantor Yoon dan juga ada seorang wanita di samping Do Jin. Ia sudah pernah melihat foto wanita itu dan akhirnya sekarang ia bisa melihatnya secara langsung. Eun Hee manatap bingung Do Jin dan Yi Soo secara bergantian.

Yi Soo: "Kim Do Jin, aku rasa putramu bukan satu-satunya yang hadir dalam hidupmu."

Yi Soo akan meninggalkan kantor pengacara tapi tiba-tiba Do Jin menahan tangannya. Yi Soo menarik tangannya.

Do Jin: "Izinkan aku memperkenalkan kalian satu sama lain. Ini mantan pacarku, Kim Eun Hee. Dan ini Seo Yi Soo, aku baru saja kehilangan dia."

Episode-15        

Mereka berempat memakai seragam tentara siap menjalani pelatihan militer. Keempat pria ini jelas terlihat paling wah. Datang menggunakan mobil masing-masing dan seragam yang tak terpakai rapi.

Suara Tae San: "Pria gaib dengan jubah gaibnya. Batman dengan pakaian ketat dan topeng kelelawarnya. Pria Korea Selatan dengan seragam militernya."

Yoon mengeluh kalau hari ini ada banyak kasus yang harus ia selesaikan.

Suara Tae San: "Tak peduli senormal apapun seorang pria begitu dia memakai seragam militer dia akan berubah menjadi bayi anjing betina."

Jung Rok sepertinya malas mengikuti pelatihan militer, ia akan kembali ke mobilnya tapi Do Jin menarik bajunya.

Mereka berempat berkumpul bersama dengan peserta lain. Keempatnya saling menertawakan topi yang mereka siapkan. Asisten pengajar pun datang. Ternyata dia seorang pria yang usianya lebih muda (ini Kim Sung Oh yang jadi sekertarisnya Kim Joo Won di Secret Garden)

"Sunbaenim, tolong dengarkan!" ucapnya penuh wibawa meminta peserta pelatihan militer mengikuti istruksinya. "Baik-baik." ucap peserta latihan militer cuek. Asisten pengajar pun meniupkan peluit agar para peserta memperhatikan instruksinya. "Sunbaenim tolong dengarkan!" Para peserta mengeluh malas dan panas.

Tae San memakai topinya dan ditopi tertulis Prajurit wanita topi Yoon bertuliskan Area 11 (apa maksudnya ya) Yoon memakai topinya miring haha. Topi Jung Rok bertuliskan prajurt B. Sedangkan topi Do Jin bertuliskan prajurit cantik hahah... ya ampun maksudnya apa coba. Asisten pengajar terbengong-bengong melihatnya.

Peserta berdiri berkumpul dengan malasnya. Do Jin meninggalkan senapannya begitu saja.

"Sunbae-nim tolong geser tiga langkah ke kiri!" perintah asisten pengajar.

"Kenapa bukan kau saja yang pindah?" Protes Do Jin. Membuat peserta yang lain tertawa.

"Kalau begitu pindah ke posisi sesuai kelompok kalian masing-masing," kata asisten pengajar.

"Apa maksudmu pindah? Berdiri disini saja sudah melelahkan," protes Yoon dengan topi miringnya.

Asisten pengajar kembali memerintahkan setelah pindah ke pangkalan masing-masing kembali ke sini tiga jam lagi untuk latihan menembak. "Sunbaenim tolong jangan penuhi kantin kalian dengan soju. Jangan menggali tanaman liar di sekitar pangkalan."

Tae San: "Kenapa kau kaku sekali? Kau tak punya pacar kan?"

Semua tertawa terbahak-bahak membuat si asisten pengajar menahan geram. "Tolong jangan bertanya mengenai masalah pribadi. Sunbaenim, kalau kalian masih terus seperti ini, aku tak akan mengesahkan pelatihan kalian hari ini."

Jung Rok: "Hei, kau benar-benar prajurit sejati. Lihat caranya berbicara."

Mereka semua kembali tertawa. Si asisten pangajar kebingungan bagaimana mengatasi peserta pelatihan ini. "Sunbae-nim kau harus membawa senapanmu!" perintahnya pada Do Jin. Tapi Do Jin tak mau karena itu terlalu berat untuk dibawa-bawa. "Biarkan saja dulu disini, jangan lupa nanti dikembalikan ya?" Do Jin malah menyuruh si asisten pengajar. Membuat si asiten ini terbengong-bengong menahan kesal.

Beberapa waktu kemudian. Mereka berempat berkumpul di Mango Six. Tae San mengatakan kalau Presdir Song (Ny Song) adalah klien utama Hwa Dam. Jadi ia harus mendapatkan kontrak dari Presdir Song. Harus.

Do Jin menginginkan agar Yoon dan Jung Rok juga menolong mereka. Karena Yoon adalah konsultan hukum Hwa Dam dan Jung Rok dalah investornya. Mereka berdua setuju, tak masalah.

Ada pengunjung kafe yang mereka kenal, ternyata dia si asisten pengajar pelatihan militer. "Hei kau prajurit khusus Kim kan?" Jung Rok masih mengenalinya. Ia melihat kalau penampilan si prajurit khusus ini terlihat berbeda, ia bertanya apa sudah bebas tugas. Prajurti Kim bilang dengan sikap cuek, sudah.

Yoon melihat kalau prajurit ini terlihat begitu menantang. Yoon memerintahkan si Kim untuk berada dalam posisi siap. Tapi si Kim tetap pada posisinya santai dengan tangan ia masukan ke saku celana. Tae San tertawa melihatnya.

"Istirahat ditempat, grak!" Yoon memberi aba-aba. Si Kim kebingungan. Yoon terus memberi aba-aba.

"Tu.. tu.. tunggu dulu," ucap Kim terbata-bata ketakutan. Ia menoleh ke belakang mencari bantuan, "Ibu ke sini!" Kim mewek-mewek memanggil ibunya, hahaha.

Jelas ini membuat keempat ahjussi tertawa terbahak-bahak, tak menyangka kalau si prajurti ini ternyata anak mami.

Dan eng ing eng siapakah ibunya. Dia adalah Presdir Song. Do Jin dan Tae San jelas tak menyangka. Di pintu masuk Mango Six Presdir Song tengah menerima telepon.

Jung Rok dan Yoon berdiri keduanya tak mengenal wanita yang dipanggil Ibu itu. Do Jin dan Tae San memberi kode agar jangan melakukan itu pada si Kim.

"Siap grak, istirahat ditempat grak!" Yoon kembali memberi aba-aba dan suara Yoon yang keras benar-benar membuat Do Jin dan Tae San panik.

Tae San mencengkeram kerah baju Jung Rok sedangkan Do Jin mengcengkeram Yoon, Jung Rok dan Yoon kebingungan. Do Jin melihat sekeliling apa Presdir Song melihatnya atau tidak.

"Apa kau tak apa-apa?" tanya Tae San pada si Kim.

"Mereka tak melukaimu kan?" Do Jin bersikap baik pada Kim.

"Ha.. hatiku sakit," kata Kim terbata-bata masih ketakutan.

"Kenapa kau menyakiti hatinya, dasar brengsek!" Tae San kembali mencengkeram kerah baju Jung Rok yang masih bingung tak mengerti. "Kau, beraninya kau memperlakukan tuan muda!"

Suara Tae San: "Selalu ada pelajaran dalam kehidupan. Seorang anggota kelas satu yang istimewa tak selamanya menjadi anggota kelas satu yang istimewa,"

Sinopsis A Gentlemans Dignity Episode 15

Do Jin menunggu seseorang di restouran. Ia memandang keluar jendela dimana ia dan Yi Soo pernah duduk bersama menikmati es (es apa ya? Es doger haha) setelah mereka bertemu dengan murid Yi Soo, Jung Yong Hwa.

Flash Back

Do Jin bertanya apa yang sedang Yi Soo pikirkan, apa pria tadi. Yi Soo tersenyum dan bergumam kalau Yong Hwa-nya sangat keren. Ini jelas membuat Do Jin cemburu. ia menebak kelihatannya Yi Soo benar-benar ingin berkencan dengan pria yang lebih muda. Yi Soo mengatakan kalau ia masih belum putus asa, ia mengungkapkan kalau ada beberapa orang kiper yang bisa mencetak gol. "Bukankah kau juga mengencani orang yang lebih muda? Usiamu 5 tahun lebih tua daripada aku."

Do Jin membela diri ia mungkin 5 tahun lebih tua dari Yi Soo tapi ia sangat terlihat seperti pria muda. Yi Soo berkata dimatanya Do Jin terlihat seperti orang tua. Do Jin menghela nafas, "Kau menolakku ya?"

"Tidak. Aku sangat menyukai Kim Do Jin," kata Yi Soo dengan sikap imutnya.

Do Jin tak habis pikir apa seperti ini cara Yi Soo memperlakukan orang yang disukai. Yi Soo heran ada apa dengan Do Jin bukankah mereka berdua sama-sama ahli disini, "Memangnya kau pernah melihat orang memberi umpan pada ikan yang sudah tertangkap? Oleh karena itu, kuharap kau bisa mencintaiku dengan sepenuh hatimu mulai dari sekarang."

Aaaa..... Yi Soo membuka mulutnya lebar meminta Do Jin menyuapi es-nya. Do Jin bengong melihatnya. Yi Soo kembali membuka mulutnya lebih lebar agar Do Jin menyuapi es untuknya. Do Jin melakukannya Yi Soo memakannya sambil tersenyum dan menjulurkan lidah setelah ia menelan es-nya. Haha.

Do Jin: "Wah, semakin aku mengenalnya semakin besar rasa sukaku untuk gadis ini."

Yi Soo tertawa, Do Jin tersenyum memandangnya. Kemudian terdengar oleh mereka seorang pemuda sedang bernyanyi dengan nada fals lagu Nothing-nya Easy FM.

Do Jin dan Yi Soo tertawa mendengar pemuda itu menyanyi dengan suara pas-pasan. Keduanya pergi meninggalkan tempat menuju mobil.

Di dalam mobil Yi Soo masih tertawa cekikikan mengingat pemuda yang menyanyi tadi. Do Jin langsung paham kalau Yi Soo pasti memikirkan pemuda tadi. Ia pun meminta pendapat Yi Soo tentang pria itu bukankah usianya jauh lebih muda daripada Yi Soo.

Yi Soo bilang kalau ia tak akan memilih pemuda itu. Do Jin tanya kenapa karena menurutnya pemuda itu mirip dengan seseorang yang ia kenal ketika sedang mabuk (Yi Soo ya? Yi Soo kan kalau mabuk selalu nyanyi hehe)

Yi Soo sadar kalau Do Jin menyindirnya, "Tetap saja Kim Do Jin memilihku setiap kali itu terjadi," Do Jin mengumpat, "Dasar rubah licik." Yi Soo tertawa. Do Jin menawarkan apa Yi Soo mau nonton film. Yi Soo tanya memangnya film apa yang ingin Do Jin tonton. Do Jin meminta Yi Soo memilih apa Yi Soo mau nonton film di bioskop, karena menurutnya itu tempat yang cukup menarik untuk bersenang-senang dan juga gelap atau Yi Soo mau tinggal saja bersama dengannya sebagai gantinya.

Do Jin juga mengajak Yi Soo membangun rumah seindah lukisan di tengah padang rumput yang hijau. Yi Soo tak percaya, "Benarkah? Apa kau pikir aku akan setuju? Untuk apa kau membangun rumah disana? Pasti sangat mahal membangun rumah di tempat yang seperti itu. Makanya kau sudah 3 kali bangkrut."

Do Jin terdiam Yi Soo membahas dirinya pernah$20mengalami kebangkrutan dan bertanya apa Yi Soo mau pulang ke rumah saja.

Yi Soo: "Untuk apa pulang kalau kita bisa pergi ke tempat gelap yang cocok untuk bersenang-senang?"

Do Jin tak menyangka Yi Soo akan setuju. Ia pun bersemangat, "Betty tancap gas!"

Flash Back End

Do Jin tersenyum miris mengingat kenangannya bersama Yi Soo. Orang yang ditunggu Do Jin pun datang, Kim Eun Hee.

Eun Hee bertanya ada apa Do Jin memanggilnya. Do Jin mengatakan kalau Yoon menginginkan keduanya untuk datang ke kantor Yoon. "Mana anak itu?" tanya Do Jin.

Eun Hee melihat kalau Do Jin masih menyebut Colin dengan sebutan anak itu, "Namanya Colin," sahut Eun Hee. Ia tahu kalau nama Inggris terdengar asing untuk Do Jin tapi ia tak memberi Colin nama Korea karena ia ingin melupakan masa lalu ketika ia dan Do Jin bertemu 8 tahun yang lalu.

Do Jin jelas kaget dan bingung, "8 tahun yang lalu? Apa yang kau bicarakan? Memangnya kita bertemu 8 tahun yang lalu?"

Eun Hee tak menyangka kalau Do Jin melupakannya, "Apakah aku tak begitu penting bagimu? Atau kau pura-pura lupa karena perasaan bersalahmu agar menjadi sederhana."

Do Jin jelas masih bingung dan meminta Eun Hee mengatakannya lagi, "Apa kita pernah bertemu dan membicarakan tentang anak itu?"

Eun Hee mengatakan kalau keduanya tak pernah membicarakan tentang Colin. Ia hanya mengatakan kalau waktu itu ia ingin mengenalkan Do Jin pada seseorang. Dan ketika itu Do Jin bilang akan bertemu lagi keesokan harinya. Sebenarnya pada waktu itu ia membawa Colin, ia ingin Do Jin bertemu dengan Colin. Karena Colin terus bertanya siapa ayah kandungnya. "Tapi kau tak datang keesokan harinya. Karena kau tak datang Colin sampai menghabiskan 5 wafel dalam 3 jam."

Do Jin tertunduk lemas, "Apa ketika itu musim panas?" tanya Do Jin. Eun Hee membenarkan. Do Jin menutup mata kembali tertunduk lemas, ia mengatakan kalau saat itu pertama kalinya ia kehilangan memori dan ketika itu ia belum merekamnya. Kini giliran Eun Hee yang tak mengerti, "Apa yang kau bicarakan? Merekam?"

Do Jin kesal dan meninggikan suaranya, "Kau menginginkanku menjadi pria yang seburuk apa lagi? apa masih ada yang lain?"

Eun Hee terdiam mendengar emosi Do Jin. Do Jin langsung sadar diri kalau ia sudah kelepasan dan langsung minta maaf karena ia marah pada dirinya sendiri. Eun Hee mengerti karena alasan inilah ia tak ingin muncul selamanya di hadapan Do Jin. Ia tak ingin membebani Do Jin.

Do Jin: "Kalau kau benar-benar tak berniat melakukannya seharusnya kau melarikan diri sejak awal."

Eun Hee mengatakan karena waktu itu ia tak bisa mempercayai Do Jin. Ia tahu ini pasti sulit untuk Do Jin. Tapi apa yang Do Jin alami saat ini ia sudah mengalaminya 19 tahun yang lalu. Ia berhasil bertahan, menerima, dan melakukan yang terbaik untuk meraih kebahagiaan.

Eun Hee menawarkan kalau Do Jin menginginkannya ia akan membawa Colin pulang. Do Jin merasa kalau Colin bukan tipe anak yang patuh. Eun Hee menyahut kalau itu mirip seperti dirinya. Do Jin juga menyahut atau itu mirip seperti dirinya.

Yi Soo di kantor Yoon menunggu apakah Yoon sibuk atau tidak karena ia ada keperluan penting dan sangat membutuhkan bantuan Yoon. Tepat saat itu Do Jin dan Eun Hee juga tiba di kantor Yoon. Yi Soo tak menyangka kalau ia akan bertemu Do Jin disini, ditambah lagi Do Jin datang bersama seorang wanita yang sudah pernah ia lihat fotonya, Kim Eun Hee. Eun Hee menatap kedua orang ini bergantian.

Yi Soo: "Kim Do Jin, yang kulihat bukan hanya seorang anak yang tiba-tiba hadir dalam hidupmu."

Yi Soo berniat pergi meninggalkan kantor Yoon tapi tiba-tiba tangan Do Jin menahan tangannya. Yi Soo menatap marah dan menarik tangannya paksa.

Do Jin memperkenalkan keduanya, "Ini mantan pacarku Kim Eun Hee dan ini Seo Yi Soo aku baru saja kehilangan dirinya."

Eun Hee merasa tak enak tapi berusaha tersenyum di depan Yi Soo dan menyapa. Ia tak tahu bagaimana menanggapinya tapi ia selalu ingin tahu wanita seperti apa Yi Soo. Ia sangat menyayangkan pertemuan yang seperti ini.

Yi Soo: "Juga sangat disayangkan karena aku bisa menyikapi situasi seperti ini dengan tenang. Aku benar-benar merasa tak nyaman sekarang. Tapi aku ingin mengoreksi satu hal, Kim Do Jin tidak kehilangan aku. Akulah yang dicampakkan oleh Kim Do Jin. Aku tak tahu kenapa aku merasa begitu tertipu, tapi bagaimana pun aku merasa tertipu,"

Do Jin menunduk ketika Yi Soo menatapnya. Yi Soo mengatakan kalau teman baru ia akan mencarinya sendiri dan mengingatkan Do Jin lain kali jangan melakukan ini lagi. Yi Soo meninggalkan keduanya. Do Jin mengajak Eun Hee masuk ke ruangan Yoon karena Yoon sudah menunggu.

Yi Soo masih di lorong belum jauh meninggalkan ruangan Yoon. Ia seperti tak kuat berdiri dan bersandar pada dinding untuk menguatkan dirinya. Tanpa terasa air matanya menetes.

Yoon menunjukan berkas hasil tes DNA. Eun Hee heran dan bertanya apa mereka berdua meragukan apa yang ia katakan. Yoon meminta Eun Hee jangan salah paham karena ini ia yang melakukannya. Ia khawatir akan terus menanyai Do Jin dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh jadi ia berinisiatif melakuken tes DNA. Ia minta maaf kalau Eun Hee merasa tersinggung.

Eun Hee mengangguk mengerti dan tak mempermasalahkannya. Berdasarkan hasil tes DNA Yoon menegaskan kalau Colin benar-benar anak kandung Do Jin. Dengan suara lemah Do Jin mengatakan kalau ia sudah tahu.

Yoon juga mengatakan kalau tadi Colin menemuinya dengan membawa sehelai rambut Do Jin, jadi ia terpaksa menunjukan hasil tes ini padanya. "Setelah melihatnya hampir setengah hari dia bertanya padaku.. Paman ini orang kaya bukan?"

Mendengar itu Eun Hee jadi tak enak hati dengan sikap Colin. Ia pun pamit pergi duluan karena ia harus bicara dengan Colin. Yoon menawarkan setidaknya mereka bertiga makan siang bersama. Eun Hee memberi usul lebih baik minum-minum saja, "Ayo kita lakukan kalau aku datang ke Korea untuk alasan yang membahagiakan. Senang bertemu lagi denganmu." Yoon tersenyum dan berpesan Eun Hee hati-hati di jalan.

Setelah Eun Hee pergi Yoon bertanya, "Apa yang akan kau lakukan sekarang? Anakmu."

Do Jin: "Pertama kali kau belajar mengendarai sepeda, orang-orang mengatakan agar kau mengarahkan stang-nya sesuai dengan arah jatuhmu. Tapi rasanya kau ingin mengarahkannya berlawanan arah. Hanya ini yang bisa kulakukan sekarang. Mengarahkan stang-nya sesuai dengan arah jatuhku."

Do Jin memberi tahu kalau tadi ia bertemu dengan Yi Soo di luar ruangan, ia menebak kalau kedatangan Yi Soo itu untuk menemui Yoon. "Kalau kau bertemu dengannya lagi lain kali apapun yang dikatakannya dengarkanlah baik-baik. Berikan padanya sapu tangan kalau dia menangis, tunggulah sampai dia selesai menangis. Kalau dia mancaci maki aku ikutlah kau mencaci maki aku bersamanya. Kalau kebetulan dia bertanya tentangku katakan padanya aku minta maaf."

Yi Soo berjalan lemah di sepanjang jalan menuju rumahnya.

Yi Soo tiduran lemas di sofa. Se Ra membawakan kopi yang ia minta. Se Ra heran bukankah perut Yi Soo kosong kenapa meminta kopi. Yi Soo beralasan itu karena ia pusing. Se Ra menilai kalau Yi Soo sedang sekarat. Yi Soo meminum kopinya.

Yi Soo memberi tahu kalau hari ini ia melihat wanita itu (Eun Hee) Se Ra penasaran bagaimana bisa. Yi Soo mengatakan kalau Eun Hee bersama dengan Do Jin. Se Ra emosi mendengarnya lalu bagaimana kenapa Yi Soo tak menjambak rambutnya. Yi Soo tersenyum untuk apa ia melakukannya karena itu tak akan mengubah keadaan.

Se Ra: "Memangnya kau menjambak rambut untuk mengubah keadaan? Ini sebagai tindakan atas hakmu. Pria ini adalah milikku tunjukan itu padanya!"

Yi Soo: "Tapi bagaimana? Aku sudah kalah begitu aku melihatnya. Pikiranku kosong dan aku kehilangan kata-kata. Hanya satu hal yang muncul di benakku. Wanita ini mengingat semua hal yang tidak aku ketahui tentang Kim Do Jin 20 tahun yang lalu. Aku benar-benar cemburu."

Se Ra: "Apa kau ingin tahu tentang masa lalu Kim Do Jin? Kalau aku ingin tahu tentang masa depan Tae San."

Yi Soo: "Apa masalahnya? Hanya sebulan saja."

Se Ra tak mengerti. "Apa yang kau bicarakan?"

Yi Soo tak menjawab ia mengatakan kalau ia ingin berbaring di kamar. Sebelum Yi Soo ke kemar Se Ra bertanya seperti apa penampilan wanita itu, menurut Yi Soo kenapa Tae San menyukai wanita itu. Yi Soo menuturkan kalau wanita itu cantik sampai ke alisnya juga seperti sebuah gambar yang dilukis. Yi Soo ke kamarnya. Bersamaan dengan itu Meari datang berkunjung.

Meari menemui gurunya di kamar yang tengah tiduran lemah. Ia cemas apa gurunya ini sakit, mana yang sakit. Yi Soo menjawab kalau seluruh tubuhnya sakit. Meari menawarkan apa mau ia belikan obat. Yi Soo menggelang tak usah. Meari heran dan bertanya kenapa, apa obat tak akan mempan karena gurunya sudah tua.

Yi Soo tersenyum mendengar candaan Meari. Meari juga senang melihat tawa gurunya. Meari berkata kalau ia mendengar Yi Soo melihat wanita itu (Eun Hee) ia ingin tahu bagaimana orangnya.

Yi Soo berkata kalau ini pertama kalinya ia cemburu pada wanita yang lebih tua darinya. Meari tersenyum bukankah gurunya juga pernah cemburu pada wanita tua yang lain. Yi Soo tersenyum meralat kalau ini yang kedua.

Meari menawarkan apa gurunya ingin tahu password rumah Do Jin. Yi Soo tanya untuk apa. Meari bilang itu untuk menangkap basah mereka, dia mungkin sedang bersama wanita itu. "Guru ingin jadi kaki tangan atau dalangnya. Aku akan ikut denganmu. Kalau guru minta, aku bahkan mau mengambil gambarnya."

Yi Soo kembali tersenyum haruskah ia melakukan itu. Meari tersenyum sedih melihat gurunya seperti sudah tak memiliki semangat hidup.

Jung Rok kaget bukan main mendengar penjelasan Yoon kalau hasil tes DNA menunjukkan bahwa 99,9% Colin adalah anak kandung Do Jin. Karena menurutnya 99,9% itu lebih meyakinkah daripada 100%. "Seperti 99,9% anti bakteri, seperti itu." ucapnya.

Yoon kesal kenapa Jung Rok membandingkannya dengan anti bakteri. Tepat saat itu Tae San datang dan bertanya kenapa nada suara kedua temannya ini tinggi sekali. Ia bertanya apa yang sudah dilakukan Jung Pal.

Jung Rok menuduh Yoon yang membuat keributan, "Apa salahnya dengan anti bakteri itu semua benar. Bukankah iklannya ada dimana-mana." Yoon menahan kesal karena Jung Rok bicara ngelantur kemana-mana.

Jung Rok tanya mana Do Jin. Tae San bilang kalau Do Jin ada di kantor. Ia sengaja datang untuk menemui Yoon dan Jung Rok. Ia berbohong pada Do Jin kalau ia ada janji di luar. Yoon tanya ada apa. Tae San berkata kalau ini bukan sesuatu yang serius, "Kim Do Pal sedang mengalami pukulan yang besar jadi sebagai pamannya setidaknya kita harus membelikan Colin baju baru kan?"

Yoon membenarkan ucapan Tae San ia sama sekali tak memikirkan hal itu. Jung Rok tanya patungan atau beli sendiri-sendiri. Kedua temannya ini kesal apa itu penting. Jung Rok bilang tentu saja penting yang namanya penampilan sangat penting bagi orang yang berumur 19 tahun. Dengan selera kedua temannya ini pasti tak akan ada kesempatan.

Yoon menyela memangnya Colin itu Jung Rok. Jung Rok membenarkan tapi ia bertanya-tanya kenapa ia terus merasa kalau Colin itu mirip dengannya. "Kalau tidak, apakah aku mengharapkan perbedaan 0.1% itu?"

Yoon meminta Jung Rok diam dan berpesan agar Jung Rok bersikap layaknya orang dewasa. "Memangnya kau mau bertingkah seperti itu di depan anak itu juga? Seorang teman ayahnya yang sudah berumur 41 tahun."

Jung Rok menilai bukankah sekarang sudah terlambat kalau mau merubah gayanya. Jadi jangan khawatir. Menurutnya mungkin ini sulit dipercaya tapi ia berfikir kalau ia akan menjadi paman terbaik dari yang pernah ada. Tae San jelas tak yakin, "Percaya padaku kau tak akan pernah menjadi paman yang baik."

Yoon mengingatkan jangan pernah Jung Rok mendekati Colin kecuali Jung Rok bersama dengannya dan Tae San. Yoon menyuruh Jung Rok menghubungi Colin sekarang. Tapi ia bingung kira-kira dimana mereka akan janjian dengan Colin. Tae San juga bingung kira-kira anak remaja zaman sekarang biasanya nongkrong dimana.

Dimanakah ketiganya mengajak Colin ketemuan.

Di sebuah tempat makan di pusat perbelanjaan. Colin tak menyangaka kalau ia akan diajak ke tempat seperti ini. Ia melihat ke tiga ahujssi ini duduk santai di kursi goyang yang diperuntukkan buat anak kecil. Ketiganya melambaikan tangan padanya.

Liat ekspresi Colin lucu hehe.

Ketiga ahjussi memesankan es krim untuk Colin dan minuman anak-anak lain. Colin melihat sekeliling tempat ini benar-benar tak sesuai seleranya. Kursi goyang, bunga, dan boneka Minnie Mouse.

Yoon: "Memangnya remaja benar-benar menyukai tempat ini?"

Jung Rok: "Tentu saja. Kalau begitu haruskah aku menyewa ruangan dan mendatangkan gadis cantik?" (haha)

Tae San menendang kaki Jung Rok. Ia pun memulai percakapan dengan Colin, "Kau putra Do Jin kan? Selamat datang." Tae San memberikan bingkisan untuk Colin dan mengatakan kalau itu hadiah dari mereka bertiga. Colin jelas terkejut dengan perhatian yang tiba-tiba ini. Colin menundukkan kepala memberi hormat sebagai ungkapan terima kasih.

Yoon mengatakan untuk saat ini Colin lebih baik tinggal di hotel perusahaan, "Do Jin... bukan..." Yoon langsung meralat, "Ayahmu harus mempersiapkan diri menjadi orang dewasa."

Jung Rok ingin tahu perasaan Colin, apa Colin bahagia bisa menemukan ayah kandung Colin. Colin malah balik bertanya apa ahjussi Jung Rok senang. Jung Rok ingin tahu kapan ulang tahun Colin, Colin menjawab 20 September.

Jung Rok langsung menebak kalau zodiak Colin ini Virgo. Ia ingin tahu golongan darah Colin. Colin menjawab AB. Warna kesukaan. Colin mulai malas menjawab kenapa ia ditanyai seperti itu.

Jung Rok: "Kau seorang virgo dengan golongan darah AB, kau itu mengharapkan banyak perhatian, kepedulian, dan cinta!"

Colin jijik melihat tingkah Jung Rok yang sok imut. Hehe.

"Haruskah kami memperkenalkan diri kami lagi seperti seorang pria?" Jung Rok mengulurkan tangannya, "Aku saudara ayahmu. Pria capucino, Rok."

"Kau sudah lama mengenal kami tapi aku Im Tae San. Rekan bisnis ayahmu. Walaupun sahamku yang terbesar," Tae San juga mengulurkan tangannya pada Colin.

Yoon juga mengulurkan tangannya, "Aku Choi Yoon. Aku tinggal serumah dengan ayahmu dan juga pengacara perusahaan mereka."

Colin menatap ketiga tangan yang terarah padanya. Ia menatap ketiganya satu persatu.

Kelas Yi Soo usai, ia bertanya siapa yang mendapat giliran piket kelas hari ini. Beberapa siswa ngacung. Yi Soo menyuruh siswa tersebut untuk membersihkan jendela.

Yi Soo melihat kursi tempat duduk Dong Hyub kosong. Ia bertanya pada teman sebangku Dong Hyub apa Dong Hyub tidak masuk lagi. Semua siswa diam tak ada yang tahu.

Yi Soo menyuruh Choi Chang Hyun, teman sebangku Dong Hyub untuk mencari tahu keberadaan Dong Hyub sebelum waktu istirahat. Tapi Chang Hyun tak tahu dimana keberadaan Dong Hyub. Yi Soo memerintahkan Chang Hyun untuk menemukan keberadaan Dong Hyub. Chang Hyun mendesah tak tahu harus mencari Dong Hyub kemana.

Yi Soo pun menemukan dimana Dong Hyub berada, dia sedang bekerja. Yi Soo menghampiri ke tempat kerja Dong Hyub.

Yi Soo menanyakan kenapa Dong Hyub bolos sekolah. Dong Hyub berkata kalau ia malu. Yi Soo bertanya lagi apa Dong Hyub benar-benar memukul Seong Jae. Dong Hyub menjawab ya. Yi Soo bertanya lagi apa Dong Hyub juga menyuruh Seong Jae menyalin tugas Dong Hyub. Dong Hyub menunduk mengakui semua kesalahannya.

Yi Soo ingin tahu kapan jam kerja Dong Hyub selesai. Dong Hyub bilang kalau ia baru saja mulai masuk. Yi Soo akan menunggu Dong Hyub sampai selesai bekerja. Dong Hyub tanya untuk apa.

Yi Soo: "Kau bilang kau memukul dan menyuruhnya menyalin tugas. Kau harus minta maaf padanya dan meminta mereka minta maaf karena sudah memukulmu."

Dong Hyub bilang tak usah toh hitungannya satu sama. Ia memukul dan ia dipukul. Yi Soo meralat tidak satu sama. Orang dewasa tak seharusnya memukul seorang anak ketika mereka marah padanya, melainkan menasehatinya. "Kau harus minta maaf karena memukul seseorang dan mereka meminta maaf karena memukulmu. Itu baru adil."

Dong Hyub: "Dibandingkan dengan adil atau apapun itu, mendapatkan uang lebih penting untukku."

Yi Soo: "Apa kau benar-benar ingin putus sekolah? Seorang pria setidaknya harus lulus SMA."

Dong Hyub mengatakan kalau ia melakukan ini juga agar bisa melanjutkan sekolah, yaitu dengan kerja. Pergi ke sekolah memerlukan ongkos bus, uang sekolah, sepatu olahraga dan juga makan di kantin bersama teman sekelasnya. Kalau ia tak bekerja bagaimana ia bisa sekolah. Yi Soo terdiam mendengarkan kondisi ekonomi anak didiknya. Dong Hyub permisi ia harus melanjutkan pekerjaannya.

Ada yang menelepon Yi Soo, nomor baru yang tak dikenalnya. Yi Soo menjawabnya. "Kau bilang... kau siapa?" Yi Soo kaget.

Yi Soo dan Eun Hee janjian bertemu (wow...) Eun Hee menebak kalau Yi Soo pasti terkejut menerima telepon darinya. Ia mangatakan kalau sifatnya itu tidak sabaran jadi ia tak bisa bersikap cuek. Yi Soo tanya tentang hal apa.

Eun Hee: "Apa kalian berdua putus?"

Yi Soo menebak apa mungkinkah Kim Do Jin yang menyuruh Eun Hee menemuinya. Eun Hee memberi tahu kalau Do Jin tak tahu ia menemui Yi Soo, "Karena Colin hidup Do Jin berubah total dan sekarang Do Jin jadi tak bersemangat. Tentang aku dan Do Jin. Dan tentang anak Do Jin, kau pasti memiliki jutaan pertanyaan. Kau bahkan tak sempat menanyakannya pada Do Jin. Apa kau sangat mencintai Do Jin?"

Yi Soo: "Apa hanya itu... yang ingin kau ketahui?"

Eun Hee: "Karena itu hal yang penting, bukankah cinta selalu begitu?"

Yi Soo: "Apakah aku mencintainya atau tidak, aku tak tahu kenapa itu penting untukmu."

Eun Hee: "Karena sekarang kau sedang berdiri di luar pintu. Aku pernah menghadapi situasi yang sama sebelumnya. Dulu aku juga pernah mencoba membuka pintu itu. Pintu yang mengarahkanmu pada dunia yang luar biasa. Tak peduli betapa besar cintamu pada Do Jin, tapi dengan adanya Colin sungguh ini akan menjadi masalah yang rumit dan membebani. Karena sebagai ibunya, aku juga merasakan hal yang sama.

Aku tak tahu bagaimana Do Jin, tapi 20 tahun yang lalu aku hanya seseorang yang jatuh cinta pada seorang pria bernama Kim Do Jin. Hamil, menderita, dan sangat ketakutan. Karena itulah aku melarikan diri. Semua alasan itu karena dulu aku masih sangat muda. Do Jin benar-benar tak tahu apa-apa.

Tak masalah kalau kau terganggu karena Colin, tapi kuharap bukan karena aku. Karena inilah aku ingin bertemu denganmu. Seperti yang kau lihat aku belum terlalu tua. Aku sangat bahagia dengan peranku sebagai istri. Itulah yang ingin kukatakan."

Setelah bicara panjang lebar Eun Hee akan permisi. Tapi sebelum Eun Hee pergi Yi Soo bertanya seberapa besar keberanian yang harus Eun Hee kerahkan untuk membuka pintu itu. Eun Hee mangatakan kalau ia tak punya pilihan karena ia seorang ibu.

Yi Soo: "Kim Do Jin saat berusia 22 tahun juga sangat mencintaimu. Hal itu aku sudah mengetahuinya."

Eun Hee tersenyum, "Untuk Colin itu berita baik."

Malam hari Do Jin melamun sambil tiduran. Matanya jelas memancarkan kesedihan dan tak ada semangat lagi. Ia mengingat hari ketika ia membelai rambut Yi Soo dan ia ingin membelainya terus sampai tenaganya habis.

Di kamar Yi Soo pun demikian, ia lemah. Keduanya mengingat ketika Yi Soo mengajukan permintaan. "Jangan berhenti mencintaiku sebelum aku berhenti mencintaimu."

Ya ampun ini scene bikin ngenes, posisi tiduran mereka saling membelakangi. Di tempat yang berbeda. Tapi pinternya lagi scene ini seolah mereka tiduran membelakangi dalam satu ranjang. Mana posisi tangan dan kakinya sama.

Keesokan harinya, Yoon menyiapkan sarapan untuk Do Jin. Ia mendorong dan memaksa Do Jin ke meja makan. Do Jin tak nafsu makan. Ia menyahut dengan nada lemas kalau tindakan Yoon ini kasar.

Terdengar suara rice cooker mengatakan kalau nasinya sudah matang (rice cooker-nya pinter bisa ngomong hehe) Do Jin melirik dan mengumpat ricecooker-nya, "Omong kosong."

Yoon mengambilkan nasi dan bertanya kenapa Do Jin mengumpat rice cooker. Do Jin bilang kalau suaranya terlalu riang. "Tak bisakah kau makan hanya dengannya?" (makan sama ricecooker? Haha) Yoon bilang tidak. Ia juga mengambilkan sup untuk Do Jin.

Yoon melihat wajah Do Jin yang lemas tak ada semangat, "Apa kau tak bisa tidur nyenyak?"

Do Jin: "Aku ingat untuk melihat matahari terbit." (jadi Do Jin ga bisa tidur donk ya mukanya juga pucat banget)

"Ketika kita SMA, apa kau masih ingat perkataan wali kelas kita? jangan bolos hanya karena kau terlambat kau hanya harus menahan rasa sakit beberapa pukulan batang tebu" Yoon menirukan logat guru SMA-nya. Yoon memberi Do Jin semangat, "Kita sudah paruh baya dan akan semakin menua. Mumpung kita masih punya waktu sudah saatnya untuk memperbaiki kehidupan kita."

Yoon, Tae San dan Jung Rok bertemu untuk membahas masalah yang dialami Do Jin. Yoon mengatakan kalau hari ini Do Jin masih tertidur sambil melihat matahari terbit dan itu sudah terjadi selama beberapa hari ini. (tidur melihat matahari terbit sama saja dengan ga tidur ya)

Tae San berkata kalau kita masih bersyukur karena Yoon tinggal bersama dengan Do Jin. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan Do Pal karena pasangan itu baru saja memulai berkencan. "Bukannya mereka tak melihat satu sama lain, tapi mereka tak bisa melihat satu sama lain."

Jung Rok: "Walaupun Do Jin memiliki alasan sendiri. Tapi bagaimana dengan Guru Seo? Dia pelanggan tetapku."

Hei... Tae San dan Yoon kesal bersamaan karena Jung Rok hanya memikirkan bisnis. Jung Rok mengatakan kalau ia juga merasa frustasi. Tae San merasa dalam keadaan seperti ini walaupun mereka berteman pasti nantinya akan menjadi canggung.

Jung Rok: "Bahkan bagiku situasinya cukup rumit. Setelah 19 tahun tiba-tiba muncul seorang anak, apa lagi yang bisa kukatakan? Haruskah aku mengucapkan selamat padanya? Atau haruskah kukatakan karena kau sudah punya anak kenapa tak mengadakan pesta ulang tahun?"

Kau ini... kedua teman Jung Rok kesal karena Jung Rok bicara omong kosong.

Jung Rok: "Kenapa kalian terus mengumpatku? Bukan anakku, dia anak Do Pal. Dan juga apa masalahnya kalau mereka tidak bisa melihat satu sama lain? Tak bisakah kita membuat mereka bertemu?"

Tae San: "Kau pikir kami tidak tahu? Tapi yang jadi masalah sekarang mereka bukan marahan karena ada pertengkaran yang terkait hubungan mereka. Yang satu punya anak dan yang satunya lelah secara mental dan fisik karena anak itu."

Jung Rok: "Karena itulah kubilang kita harus menolong mereka. Pertama, kita berada pada posisi yang menguntungkan. Mereka hanya berdua, sedangkan kita bertiga."

Yoon: "Apa hubungannya dengan itu?"

"Bagaimanapun juga jumlah yang lebih banyak selalu lebih menguntungkan." Jung Rok menyuruh Tae San mengurus Yi Soo dan Yoon mengurus Do Jin. "Kalian harus membawa mereka ke kafeku."

Tae San kesal, "Masalahnya sudah cukup parah kenapa kau masih mementingkan bisnis?"

Jung Rok memberi tahu kalau kafenya itu tempat mereka pertama kali bertemu, "Belum lama ini mereka berciuman di depan kafeku sangat bergairah. Pegawaiku melihatnya, bahkan memberitahuku lewat telepon. Tanyakan padaku apakah kita harus membuat laporan ke polisi." Jung Rok menyemangati kedua rekannya agar segera melaksanakan misi mereka.

Tae San mengajak Yi Soo ke Mango Six. Keduanya duduk berhadapan di dekat jendela. Yi Soo terus memandang Tae San yang terlihat kikuk dan berulang kali menarik nafas sambil melihat sekeliling.

Tae San berkata kalau sudah hampir musim hujan, cuacanya benar-benar bagus. Yi Soo menyahut kalau ketika musim hujan datang pasti cuacanya mendung tak mungkin bagus. Tae San menyadari kesalahan ucapannya ia pun berusaha memikirkan kata-kata apa lagi sambil menunggu Yoon dan Do Jin. Tae San tertawa dan mengatakan kalau cuacanya benar-benar aneh.

Tae San terus celingukan tak tahu harus bicara apa. Sementara Yi Soo terus menatapnya curiga. "Kim Do Jin, apa dia akan datang?" Tanya Yi Soo tiba tiba. Tae San mengelak menjawab tidak. Tapi Yi Soo terus menatapnya seolah tahu apa yang sudah direncanakannya.

Melihat Yi Soo menatapnya seperti ini, akhirnya Tae San pun mengaku. Yi Soo tak menyangka kalau kisah cintanya ini cukup menggemparkan. Tae San sadar kalau ia sudah terlalu ikut campur tapi ia merasa pertemuan seperti ini cukup penting. Yi Soo berterima kasih atas usaha Tae San, "Karena aku.... benar-benar merindukannya."

Yoon dan Do Jin tiba di Mango Six. Yoon melihat kalau Tae San dan Yi Soo sudah ada di sana. Ia pura-pura narik Do Jin untuk duduk di dekat jendela. Do Jin belum menyadari kalau disana ada Yi Soo.

"Oh kalian ada disini?" Ucap Yoon pura-pura terkejut melihat Tae San dan Yi Soo. "Apa kabar Yi Soo? Sepertinya kau baik. Aku ingin duduk di dekat jendela. Oh ternyata disini juga dekat jendela."

Yi Soo yang sudah tahu rencana keduanya diam saja. Do Jin tak menyangka kalau ia akan bertemu dengan Yi Soo disini dan ini atas usaha teman-temannya.

"Bolehkah kami duduk bersama?" Yoon masih belum tahu kalau rencananya sudah diketahui Yi Soo. Tae San mendesah pelan meminta Yoon berhenti berpura-pura karena mereka sudah ketahuan. Yoon kaget rencananya ketahuan. "Ah jadi kita sudah ketahuan ya?"

"Kalau begitu, karena kami sudah ketahuan kalian berdua ngobrol saja," Yoon menarik Do Jin agar duduk di depan Yi Soo. Tae San membenarkan dan anggap saja bertemu secara kebetulan. Kemudian Tae San dan Yoon segera pergi dari sana.

Ketemuannya kayak anak SMA pacaran yang lagi marahan ya. Diketemuin sama teman-temannya hehe.

Yi Soo dan Do Jin duduk diam lama. Do Jin terus memandang wanita yang ada di depannya ini. "Seharusnya kau tak perlu datang." ucap Do Jin mengawali pembicaraan.

"Yang ingin disampaikan Tae San adalah tentang Kim Do Jin. Aku sudah mengetahuinya." Ucap Yi Soo tanpa memandang ke arah Do Jin. Yi Soo mengatakan kalau ia memiliki janji penting yang lain. Ia pamit pergi lebih dulu. Do Jin jelas kecewa Yi Soo pergi begitu saja.

Yi Soo mengajak Dong Hyub ke aparteman Ibu Seong Jae. Di depan gedung apartemen Yi Soo memohon agar Ibu Seong Jae mau keluar dan menemui mereka agar bisa bicara karena Dong Hyub datang untuk meminta maaf. Tapi Ibu Seong Jae tak mau menemui keduanya, bukankah ia sudah mengatakan pada Yi Soo berkali-kali. Kalau ingin bicara dengannya bicara saja lewat pengacaranya. Ia tak ingin melihat wajah Dong Hyub lagi. Tepat saat itu Park Min Suk datang dan heran melihat Yi Soo ada disana.

Yi Soo minta maaf dan berkata kalau seorang anak datang untuk minta maaf seharusnya orang dewasa menerimanya. Dong Hyub meminta gurunya tak perlu merendah seperti itu. Yi Soo menyuruh Dong Hyub diam. Yi Soo kembali melanjutkan kata-katanya, "Dan juga Nyonya anda harus meminta maaf karena sudah menampar Dong Hyub."

Ibu Seong Jae jelas menolaknya Dong Hyub itu seorang gangster bagaimana mungkin dia bisa menjadi anak sekolah. Ibu Seong Jae mengancam akan memanggilkan polisi kalau Yi Soo masih membuat keributan. Yi Soo terus berusaha agar Ibu Seong Jae keluar menemui mereka tapi Ibu Seong Jae tak mau lagi mendengar ocehan Yi Soo.

"Guru Seo!" sapa Min Suk. Yi Soo menoleh dan terkejut melihat Min Suk. Min Suk senang ternyata ia tak salah mengenali orang. Ia pun menekan bel pintu memanggil ibu Seong Jae.

Ibu Seong Jae mengira kalau itu Yi Soo, ia marah-marah. Min Suk mengatakan kalau itu dirinya ia ingin bertemu dengan Ibu Seong Jae. Suara Ibu Seong Jae langsung berubah sopan dan bertanya ada masalah apa. Min Suk berkata kalau ia akan mengatakan masalahnya kalau Ibu Seong Jae keluar.

Yi Soo bertanya apa Min Suk tinggal disini. Min Suk mengatakan kalau hanya ada beberapa tempat dimana orang-orang kaya tinggal di Cheongdam-dong.

Ibu Seong Jae tak menyangka kalau Yi Soo dan Dong Hyub datang bersama dengan Min Suk. Min Suk mempersilakan Yi Soo melanjutkan ucapan yang ingin Yi Soo sampaikan pada ibu Seong Jae. Ibu Seong Jae penasaran apa Yi Soo dan Min Suk saling mengenal. Min Suk berkata kalau ibu Seong Jae silakan bicara setelah mendengarkan apa yang akan disampaikan Yi Soo. Ibu Seong Jae langsung nurut diam.

Yi Soo: "Pertama, tentang kejadian yang kurang menyenangkan yang dialami Seong Jae kami bermaksud meminta maaf pada anda. Dong Hyub juga sudah melakukan introspeksi diri."

Ibu Seong Jae diam saja sambil menatap sebal ke arah Dong Hyub. Dong Hyub juga malas melihat Nyonya galak ini, ia membuang mukanya.

Min Suk melihat tingkah Dong Hyub yang diam saja dan Plak... Min Suk menggaplok kepala Dong Hyub, "Apa kau tak mau minta maaf, keponakan?"

"Keponakan?" Ibu Seong Jae kaget mendengar Min Suk menyebut Dong Hyub sebagai keponakan.

"Keponakan yang entah siapapun namamu." Ucap Min Suk. Dong Hyub mengatakan namanya. Kemudian ia menunduk tanda minta maaf. Ibu Seong Jae masih tak percaya apa Dong Hyub benar-benar keponakan Min Suk.

Min Suk: "Kalau tidak, memangnya akan merubah keadaan?"

"Tidak." kata Ibu Seong Jae. Ia pun menerima permintaan maaf Dong Hyub, "Apa sudah cukup?"

Yi Soo: "Ketika anda menampar muridku, menurutku anda juga harus minta maaf padanya."

Ibu Seong Jae jelas ogah minta maaf pada Dong Hyub tapi ia juga jelas tak mau dicap buruk di depan Min Suk.

Min Suk menoleh ke arah Yi Soo, "Kenapa kau tak memberitahuku? Dengan begitu pengacaraku bisa mengurusnya. Kenapa membiarkan PNS mengurusi hal seperti ini? Itu membuat pembayar pajak seperti kami merasa sangat sedih."

Min Suk menunggu permintaan maaf dari Ibu Seong Jae. Ibu Seong Jae pun akhirnya minta maaf pada Dong Hyub, "Ini hanyalah masalah anak-anak kita lupakan soal tuntutan, aku minta maaf karena sudah menamparmu." Dong Hyub memberi hormat tanda keduanya saling memaafkan. Yi Soo berterima kasih karena masalah ini sudah beres. Ibu Seong Jae pun kembali masuk ke apartemannya.

Yi Soo sangat berterima kasih atas bantuan Min Suk. Min Suk bilang kalau ia tak membantu tapi melunasi hutang. Apa Yi Soo masih ingat kejadian di hotel perusahaan ketika ia salah menuduh Yi Soo sebagai selingkuhan suaminya. Ia mengatakan kalau ia biasanya membayar hutang dengan bunga yang lebih banyak.

Yi Soo penasaran apa Min Suk mengenal ibu Seong Jae dengan baik. Min Suk menilai seharusnya ibu Seong Jae yang mengenalnya dengan baik. "Orang kaya tak pernah menjalin hubungan dengan tulus, mereka menjalinnya dengan uang." Dong Hyub yang diam saja mendengarkan sambil mencerna apa yang dikatakan ahjumma kaya raya ini.

Min Suk beralih menatap Dong Hyub, "Keponakanku ini benar-benar bertampang pemberontak. Apa kau sudah melihat tadi? Yang kau lihat tadi adalah dunia yang akan kau hadapi di masa depan. Itu pula yang menjadi alasan orang miskin harus belajar. Apa kau mengerti keponakan?"

Dong Hyub terdiam mendengar penjelasan Min Suk. Min Suk menyuruh Dong Hyub lebih baik pulang dan karena mumpung ia bertemu Yi Soo, ia mengajak Yi Soo minum teh dengannya.

Keduanya duduk berhadapan, Min Suk berkata kalau ia sudah mendengar tentang Do Jin. Ia bertanya apa Yi Soo baik-baik saja karena ia melihat wajah Yi Soo tampak sedih. Yi Soo bilang kalau ia baik-baik saja walaupun jalinan cintanya ini singkat ia bahkan menerima tawaran untuk tinggal bersama.

Yi Soo: "Dalam hal ini tak ada yang melakukan kesalahan dan semua mengetahuinya. Tinggal bersama seorang ayah dari anak orang lain apakah aku benar-benar bisa bahagia? Kadang-kadang aku berfikir aku bisa, tapi pada saat yang lain aku berfikir kalau aku tak bisa. Entah apapun jalannya aku bahkan tak bisa melangkahkan kakiku."

Min Suk: "Kau tak bisa bergerak ke depan juga tak bisa mundur ke belakang. Lalu?"

Yi Soo: "Apa?"

Min Suk: "Karena di wajahmu tertulis meskipun begitu tidak masalah."

Yi Soo mengucap ulang apa yang dikatakan Min Suk meskipun begitu tidak masalah. Yi Soo tampak memikirkan sesuatu.

Malam hari Yi Soo berdiri di halte bis seorang diri. Ia pun membatin, "Aku masih mencintai orang itu,"

Kemudian terdengar lagu dari speaker kios yang berada di belakangnya sebuah lagu yang pernah ia dan Do Jin dengar ketika seorang pemuda dengan nada fals menyanyikannya. Kini ia mendengar kembali lagu itu dan terdiam terpaku bahkan ia sampai tak jadi naik bis yang baru saja tiba. Ia mengingat ketika ia dan Do Jin mendengar lagu itu, keduanya tertawa riang bersama. Bis pun berlalu Yi Soo masih berdiri terpaku dengan wajah sedih.

Do Jin memarkir mobilnya dan ia pun mendengar lagu dari radio mobilnya lagu yang sama seperti yang didengar Yi Soo. Ia terdiam sejenak di mobilnya untuk mendengarkan lagu itu dengan perasaan pilu. Do Jin naik lift menuju apartemennya, di dalam lift tanpa terasa air matanya pun menetes.

Sampai di kamar, ia kembali terdiam sedih bersandar pada dinding kamar. Air matanya semakin menetes deras, isak tangisnya semakin membuat dadanya sesak.

Meari menemui Yoon di kantor. Keduanya diam. Meari heran kenapa Yoon tak mengatakan apapun, seperti aku sangat sibuk kenapa kau kesini pergi sekarang

Yoon mengatakan kalau ia tak sibuk dan ia juga tahu kenapa Meari menemuinya. Meskipun ia menyuruh Meari pergi, Meari pasti tak akan pergi. Meari meminta Yoon berhenti membuatnya tak nyaman dan jangan bersikap seperti ini. "Kenapa aku merasa lebih baik ketika kakak marah?"

Yoon mengatakan kalau ia akan pulang. Meari meminta Yoon menunggu sebentar. "Pinjami tanganmu, tak akan lama." pinta Meari. Meari mengeluarkan sesuatu dan memakaikannya di tangan Yoon, sebuah gelang. "Apa ini?" tanya Yoon.

"Kupikir cantik waktu aku melihatnya, ketika belanja jadi aku membelinya. Jangan merasa terbebani. Kalau begitu aku pergi dulu!" Meari tersenyum sumringah setelah memakaikan gelang itu ke tangan Yoon.

"Kau... kesini!" perintah Yoon. Meari mendekat, Yoon memeriksa tangan Meari dan disana ada gelang yang sama dengan warna berbeda gelang kembar hehe. "Hei Im Meari!"

"Wow ternyata sama dengan punyaku." sahut Meari pura-pura kaget kalau gelangnya sama. "Maksudku kenapa aku memilih ini begitu aku melihatnya? Selera orang benar-benar... bisa tetap sama kan?"

Yoon melepas gelang dan menyerahkannya kembali pada Meari. Meari menolak bagaimanapun ia sudah membelinya jadi bisakah Yoon tetap memakainya. Meari kemudian cemberut kalau begitu ia juga tak akan memakainya lagi. Meari akan melepas gelang yang ia pakai.

Yoon: "Dibandingkan seluruh hidupmu, aku bergaul dengan Tae San lebih lama daripada itu. Kami berempat harus memperhatikan dengan siapa kami akan menghabiskan hidup kami. Sekarang keinginan yang ada di hatimu, apa yang kau harapkan dariku akan merusak semuanya. Karena itu, ini tak boleh dibiarkan. Kau mengerti apa maksudku?"

Meari mendesah kesal dan meninggikan suaranya, "Memangnya gelang ini membelenggu? Ini hanya perhiasan. Kak Do Jin dan Kak Jung Rok juga memakainya. Memangnya aku menyuruh Kakak untuk melepas cincin pernikahan kakak? Atau aku meminta Kakak membelikan cincin pernikahan untukku? Aku hanya berharap diantara barang-barang yang kakak pakai ada satu yang merupakan hadiah dariku. Hanya itu yang kupikirkan."

"Aku mengerti, tak usah dipakai. Buang saja!" Meari merebut gelang dari tangan Yoon dan membuangnya ke tempat sampah.

"Ada satu hal lagi." ucap Yoon.

"Apa?" Tanya Meari galak.

"Jangan lagi bicara tak formal seperti yang kau lakukan sekarang. Perbedaan usia kita 17 tahun." Jelas Yoon.

Meari meninggalkan kantor Yoon dengan kekesalannya. Yoon melirik gelang yang di buang Meari kemudian beralih menatap cincin pernikahan yang masih melingkar di jarinya.

Untuk melampiaskan kekesalan dan kesedihannya Meari menyanyi di karaoke sendirian. Ia menyanyi sambil sesenggukan menangis.

Tae San menyusul adiknya dan mematikan musiknya. Ia marah bahkan sekarang Meari minum-minum di siang hari. "Pernahkah kau melakukan hal yang benar? Bagaimana mungkin seorang gadis minum-minum di siang dan malam?"

Meari: "Bukankah sudah kubilang jangan datang kalau kakak marah? Memangnya hanya aku yang minum-minum? Hong Se Ra juga selalu minum-minum siang dan malam."

Tae San makin marah karena Meari berani menyahut ucapannya. Ia mengambil tas dan meminta adiknya cepat memakai sepatu lalu pulang. Meari dengan sikap ogah-ogahan memakai sepatunya tapi kemudian ia menangis keras.

Tae San tak tahan lagi melihatnya, ia pun menelepon Yoon dan marah-marah, "Hei Choi Yoon gara-gara kau yang dilakukan Meari sepanjang hari hanya minum-minum dan menangis. Bahkan tidur di depan rumah kakaknya. Dia bahkan menolak kuminta melanjutkan pendidikan pasca sarjananya. Dia bekerja di kafe hanya untuk melihatmu. Aku sangat sedih. Aku ingin mati saja kalau dia terus seperti ini."

Meari jelas kaget kakaknya langsung menghubungi Yoon. Ia berusaha merebut ponsel kakaknya supaya tak bicara lebih jauh lagi. "Kakak apa yang kau lakukan? kenapa mengatakan semuanya pada Kak Yoon?"

Tae San masih marah-marah, "Choi Yoon apa kau benar-benar merencanakan ini terhadapku? Kalau begini terus tak peduli persahabatan omong-kosong itu, aku tak mau melihatmu lagi."

Meari ketakutan, "Kakak tolong tutup teleponnya. Aku yang salah." Meari merebut ponsel kakaknya dan ternyata ponsel itu tak terhubung pada Yoon. Tae San hanya menggertak Meari. "Apa ini? Kakak membuatku takut." bentak Meari.

Tae San: "Bukankah sudah kukatakan sebelumnya jangan pernah membuatku mengirimmu ke tempat yang jauh lagi. Kalau kau melakukan hal seperti ini sekali lagi aku akan benar-benar menelepon seperti tadi. Akan kukatakan semuanya pada Yoon sama seperti tadi."

Keduanya sampai di rumah. Meari heran melihat mobil merah Se Ra terparkir di depan rumahnya. Ia bertanya apa Se Ra datang ke rumah. Tae San menjawab tidak. Meari kembali bertanya lalu kenapa mobil Se Ra ada di depan rumahnya. Tae San menjawab kalau itu bukan urusan Meari.

Meari menebak apa kakaknya mau membelikan mobil baru untuk Se Ra. Tak San tak menjawab. Meari meraung-raung kesal. "Kalau begitu aku boleh memakai ini?" (Memakai mobil Se Ra) Tae San jelas melarang.

Yi Soo duduk menyendiri di depan gedung apartemen Do Jin. Ia sudah memutuskan sesuatu dan menghubungi Do Jin, "Aku di depan apartemenmu, ayo bertemu sekarang!"

Keduanya berdiri berhadapan. Do Jin menatap Yi Soo tapi tidak demikian dengan Yi Soo. Ia mengalihkan matanya ke arah lain.

Yi Soo berkata kalau ia sudah memikirkannya. Ia merasa diperlakukan secara tidak adil. Kemudian Yi Soo memandang Do Jin, "Semuanya kau yang memutuskan dari pengakuan sampai putus. Kau hanya tahu caranya berbohong. Bukankah kau yang mengatakan bahwa kau tidak akan berhenti mencintaiku sebelum aku berhenti mencintaimu? Hari ini dan besok, lusa dan hari berikutnya selama sebulan jadi kau bisa tenang selama sebulan ini. Jadi selama sebulan aku akan mencintai Seo Yi Soo

Kau sendiri yang mengatakan itu padaku. Aku tahu kau baru mengalami kejadian yang besar dalam hidupmu. Tapi aku sama sekali tak mengkhawatirkanmu, tidak sedikitpun. Apa baiknya pria sepertimu? Aku harus mengkhawatirkan diriku sendiri yang merindukanmu puluhan kali dalam sehari. Jadi perpisahan ini, aku ingin melakukannya dengan caraku.

Mulai saat ini begitu aku meneleponmu tinggalkan semuanya dan datang padaku. jangan berhenti mencintaiku sebelum aku berhenti mencintaimu janji itu selama sebulan aku akan mencintaimu Seo Yi Soo janji itu tolong tepati. Sampai aku tak merindukanmu lagi, sampai aku tak mengingatmu lagi. Sampai kita bisa berpisah, tolong tunggu aku, di sisiku."

"Akan kulakukan." Do Jin menyanggupi permintaan yang panjang lebar dari Yi Soo. "Sesuai dengan cara Seo Yi Soo."

Hari hujan Yi Soo berdiri di tepi jalan memakai payung bersama kerumunan orang yang akan menyebrang. Ia mengirim SMS pada Do Jin.

Aku ada di perempatan jalan di Gangnam di depan perbatasan. Keluarlah sebentar.

Do Jin pun sudah berada di seberang jalan. Orang-orang berlalu lalang menyebrang tapi Do Jin dan Yi Soo tetap berdiri di tempatnya hanya saling memandang saja.

Setelah dirasa cukup melihat Do Jin, Yi Soo pun berbalik pergi meninggalkan tempatnya. Do Jin menatap kepergian Yi Soo dengan hati pilu.

SMS Yi Soo, aku ingin pergi ke toko buku

Do Jin pun menemani Yi Soo ke toko buku. Tapi ia hanya bisa memandang sambil mengawasi sementara Yi Soo membolak-balikan buku yang sedang dibaca. Tanpa bicara sepatah katapun. Yi Soo membaca buku tentang benang merah, di sana tertulis aku berharap ketika aku bertemu orang itu lagi

Aku sedang menunggu

Menunggu orang itu menjawab ya

SMS Yi Soo, aku ingin nonton film di bioskop

Keduanya pun nonton di bioskop dengan tempat duduk terpisah. Sebuah film komedi penonton tertawa tapi kedua orang ini diam tak tertawa sedikitpun. Do Jin melirik ke arah Yi Soo. Film pun usai.

Yi Soo berdiri dan akan keluar Do Jin berjalan di belakangnya. Ada orang yang terburu-buru keluar dan menyenggol Yi Soo hingga terjatuh tapi tepat saat itu Do Jin menangkap dan memeganginya. "Lepaskan. Kau mendorongku lebih keras daripada yang dilakukannya."

Do Jin pun melepas Yi Soo dan membiarkannya berjalan lebih dulu keluar dari gedung bioskop.

Kemudian muncul dalam ingatan Do Jin ketika Yi Soo menangkap basah dirinya tengah bersama Eun Jae dan ketika itu ia mengatakan hal yang tak pantas dikatakannya. Perasaan Yi Soo jelas marah apalagi Do Jin menutup pintu begitu saja.

Kemudian muncul Do Jin yang sekarang membuka pintu. Yi Soo berbalik menatapnya. "Ketika kita bahagia aku tak menyadarinya. Saat ini aku terluka. Telah membuatmu mendengar kata-kata yang buruk telah membuatmu begitu terluka, aku benar-benar minta maaf. Telah membiarkanmu berjalan pulang sendirian, aku benar-benar minta maaf." Ucap Do Jin penuh penyesalan.

Kemudian kita beralih ke scene dimana mereka makan bersama tim Blue Cat dan tim lain. Ketika itu Do Jin meminta Yi Soo untuk mendekat dan membisikan sesuatu, Berhenti menggangguku kecuali kau bersedia tidur denganku.

Yi Soo jelas kecewa mendengarnya, tiba-tiba ada tangan yang menyentuhnya dari belakang. Do Jin yang sekarang. "Aku benar-benar jahat. Karena tak ingin kau mengetahui perasaanku yang sebenarnya aku mengucapkan kata-kata yang tak pantas itu. Seharusnya aku jujur padamu bahwa aku merindukanmu. Aku merasa seperti orang bodoh. Aku selalu merasa masih ada kesempatan. Karena harga diriku yang tak berguna sebagai pria, kau pasti menderita. Aku minta maaf."

Dan kita kembali ke Do Jin yang masih berdiri di gedung bioskop sedirian berdiri terpaku.

Se Ra berdiri di depan Mango six menerima telepon dari seseorang. Ia kaget melihat mobil merahnya tiba-tiba berhenti di depan Mango six. Ia pun menutup teleponnya dan yang lebih membuatnya terkejut lagi Meari yang keluar dari sana.

Meari kaget setengah mati melihat Se Ra. Se Ra bertanya apa yang terjadi kenapa Meari mengambil dan menyetir mobilnya. Meari bilang ia tak selalu menyetirnya ini pertama kali ia menyetir mobil Se Ra jadi jangan beritahu kakaknya.

Se Ra: "Apa kau bilang? Mobil ini apa ada pada Tae San?"

Meari: "Bukankah karena kakak ingin membelikanmu mobil yang baru?"

Se Ra berfikir kenapa mobilnya bisa berada di tangan Tae San.

Se Ra pun menemui Min Suk. Ia jelas kecewa karena mobilnya sekarang ada di tangan Tae San. Min Suk membenarkan karena Tae San yang membawanya pergi. Se Ra tanya kenapa mobilnya apa pada Tae San.

Min Suk mengatakan kalau mengembalikan jaminan pada seseorang yang membayar hutang adalah hal yang harus dilakukannya. Se Ra jelas terkejut tak percaya Tae San membayar uang yang ia pinjam. Min Suk mengatakan kecuali untuk itu memangnya ada alasan lain ia memberikan mobil itu pada Tae San.

Se Ra mengingatkan bukankah Min Suk tahu persis bagaimana perasaannya ketika ia mengajukan hutang pada Min Suk. Bagaimana mungkin Min Suk tetap memberitahu Tae San tentang hal ini. Min Suk berkata kalau ia tak pernah memberi tahu Tae San. Se Ra emosi kalau bukan Min Suk yang memberi tahu dari mana Tae San mengetahuinya.

Min Suk: "Memangnya untuk apa aku memberitahunya? Apakah aku akan kelaparan tanpa uang itu? akankah aku tidak tidur di malam hari karena mengkhawatirkan uang itu? tidak, tidak akan. Kau harus mengerti itu."

Se Ra: "Kalau begitu setidaknya ketika Tae San mengatakan akan membayarkan seharusnya kakak jangan menerimanya."

Min Suk membela diri kalau ia sudah mengatakannya tapi Tae San mengatakan kalau ini demi harga diri Tae San jadi ia harus menerimanya. "Diantara harga dirinya dan harga dirimu adakah alasan kenapa aku tak boleh memilih harga dirinya? Dia sahabat suamiku."

Do Jin ke hotel perusahaan. Eun Hee mangatakan kalau Colin sedang keluar. Ia merasa kalau Colin sangat menyukai Seoul.

Eun Hee melihat wajah Do Jin yang kusut. Ia mengatakan kalau ia akan segera pulang ke Jepang. Ia sudah membeli tiket pesawat malam. "Kupikir aku sudah melakukan apa yang bisa kulakukan. Dan juga aku merindukan suamiku."

"Anak itu, apa dia ikut pulang juga?" tanya Do Jin.

Eun Hee mengatakan kalau Colin ingin tinggal di Seoul. Tapi ia ingin membawa putranya pulang. "Aku tidak menghabiskan masa mudaku dengan mengasuh anak hanya untuk membuatnya menjadi sumber masalah."

Dengan suara lemah Do Jin minta maaf untuk masa 19 tahun terakhir. Tak peduli apakah Eun Hee tahu atau tidak, telah membuat Eun Hee mengasuh anak itu sendirian ia minta maaf.

Do Jin ingin mengungkapkan alasan kenapa ia tak menemui Eun Hee 8 tahun yang lalu. Tapi Eun Hee menyela dan mengatakan kalau ia sudah mendengar tentang penyakit Do Jin dari Jung Rok. Tapi di sisi lain ia merasa beruntung, ia berharap ia hanya menjadi cinta pertama bagi Do Jin dan bukan sebagai ibu dari seseorang.

"Anak itu biarkan dia tinggal disini!" pinta Do Jin. "Nama Korea-nya aku akan memberitahumu setelah aku memberinya. Jangan mengkhawatirkan anak itu. Kuharap kau bisa bahagia."

Eun Hee tersenyum dan berterima kasih. Do Jin mengatakan kalau ia tak bisa mengantar Eun Hee ke bandara. Eun Hee tak masalah ia mengerti. Keduanya saling mengucap selamat tinggal.

Do Jin mengendarai mobilnya di jalan raya. Ponselnya berdering, Yi Soo yang meneleponnya. Kemana lagi Do Jin akan menemani Yi Soo. "Kau ada dimana?" tanya Do Jin.

Ternyata Yi Soo ingin Do Jin menemaninya makan siang di restouran. Tak ada obrolan yang keluar dari mulut keduanya. Yi Soo makan cepat. Do Jin memperhatikan cara makan Yi Soo yang cepat, belum habis di mulut sudah menyuap yang lain. Sebagai bentuk perhatian Do Jin mendekatkan air mineral ke arah Yi Soo, tapi Yi Soo mengabaikannya. Ia malah mengambil makanan lain dan mengunyahnya.

"Pelan-pelan makannya!" Ucap Do Jin pelan mengingatkan.

"Aku tak bilang kau boleh bicara padaku!" Yi Soo mengingatkan agar Do Jin jangan bicara padanya. Do Jin langsung diam memperhatikan Yi Soo.

Ponsel Yi Soo berdering, ia melihat siapa yang meneleponnya. Setelah tahu itu dari siapa ia tak segera menjawabnya. Malah meletakkan posel itu begitu saja. Do Jin penasaran telepon dari siapa sampai Yi Soo tak mau menjawabnya.

"Hari ini kau boleh pergi sekarang!" Yi Soo menyuruh Do Jin pergi karena ia merasa cukup melihat dan bersama Do Jin.

"Siapa yang menelepon?" Tanya Do Jin.

"Bukankah sudah kubilang jangan bicara padaku?"

Yi Soo mengambil tasnya dan akan pergi lebih dulu. Tapi Do Jin menarik tangan Yi Soo dan menahannya. "Siapa itu?" tanya Do Jin.

Yi Soo menatap Do Jin, "Kalau kau tahu apa yang bisa kau lakukan?"

"Siapa?" tanya Do Jin lagi.

"Ibuku." jawab Yi Soo. "Ah, ibuku meninggalkan anaknya dan mengasuh anak orang lain selama lebih dari 20 tahun. Apa kau mau ikut dan mempelajari rahasia keibuannya? Kalu kau tak mau, tolong lepaskan tanganku!"

Keduanya saling menatap, apakah Do Jin akan ikut dengan Yi Soo.

Episode-16        

Untuk pembukaan episode 16 ini lain dari yang lain. Kalau biasanya kita akan dibuat tertawa terbahak-bahak oleh tingkah mereka berempat tapi kali ini kita akan dibuat menangis sesenggukan.

Do Jin berada di bandara akan menuju Shanghai untuk urusan bisnisnya. Ia bicara di telepon dengan seseorang untuk menyiapkan keperluan selama di Shanghai. Setelah selesai bertelepon ia tiba-tiba ia mendapatkan panggilan telepon yang mencengangkan. "Aku akan segera tiba disana!" ucap Do Jin.

Ia pun berlari sekencang mungkin segera meninggalkan bandara tak jadi pergi ke Shanghai dan meninggalkan tas-nya begitu saja di bandara.

Min Suk menemukan cincin Jung Rok. Ia menemukan itu di dompet suaminya. Jung Rok beralasan kalau akhir-akhir ini jarinya semakin mengecil. Min Suk menanyakan siapa Hyo Jin.

Jung Rok: "Aku tahu seharusnya aku tak mengatakannya dalam situasi seperti ini. Tapi siapa nama keluarganya?" (hahaha)

"Hei.. Lee Jung Rok!" bentak Min Suk.

Jung Rok menerima telapon dari seseorang ia pun menjawabnya, "Nomor yang anda tuju sedang sibuk..." tapi kemudian ia terdiam tercengang, "Apa? Jangan bercanda. Aku akan segera ke sana!"

Min Suk bertanya suamianya ini mau kemana, kalau Jung Rok pergi sekarang ia mengancam keduanya akan segera bercerai. Jung Rok mengatakan kalau masalah ini lebih mendesak ia akan tetap pergi walaupun min suk menceraikannya sekalipun.

Tae San berada di bar bersama rekan bisnisnya. Rekan bisnis Tae San menginginkan Tae San menyanyikan lagu untuk mereka. Tae San tak masalah malahan ia bersedia menyanyikan lebih dari satu lagu.

Tae San bersiap akan menyanyi tapi ia mendapatkan SMS. Microphone yang ada di tangannya pun terjatuh dengan sendirinya ketika ia membaca SMS yang ia terima. Tae San mohon diri karena sekarang ada situasi yang lebih darurat.

Rekan bisnis Tae San berusaha mencegah kalau Tae San pergi ia tak akan menandatangani kontrak. Tae San tak peduli dengan yang namanya kontrak, ia minta maaf karena yang ini lebih penting dari pada itu.

Do Jin sudah berganti pakaian, ia mengenakan pakaian hitam lengkap berlari secepat kilat di rumah sakit. Di lorong rumah sakit ia berpapasan dengan Jung Rok dan Tae San yang juga sudah berganti pakaian hitam. Ketiganya berlari secepat mungkin.

Di sudut sebuah rumah sakit telah disiapkan tempat untuk upacara penghormatan karena ada yang meninggal. Disatu sudut Yoon duduk menyendiri dengan tatapan kosong. Ketiga temannya datang. Ya, ini hari dimana Jung Ah meninggal.

Ketiga sahabat Yoon tak kuasa melihat sahabatnya duduk terdiam penuh rasa kehilangan.

Seseorang datang membawakan pakaian ganti untuk Yoon. Tapi Yoon diam saja, Tatapan matanya seolah ia juga tak ingin hidup lagi.

Ketiga temannya membawa Yoon ke sebuah ruangan untuk mengganti pakaian Yoon. Yoon berdiri diam lemas. Tae San melepas perlahan pakaian Yoon. Jung Rok membantu memasangkan kaos kaki untuk Yoon. Ketiga teman Yoon tak kuasa membendung air mata kesedihan mereka melihat Yoon seperti ini.

Do Jin membantu Yoon memakaikan dasi. Yoon memakai sepatunya tapi tatapan matanya tak terarah ia menatap kosong ke depan.

Dan bruk... Yoon seolah tak kuat berdiri. Ia terjatuh saking lemasnya. Ketiga temannya langsung membantu dan mengkhawatirkan sahabatnya ini.

"Aku tak apa-apa, aku tak apa-apa," Ucap Yoon dengan nada lemah. Ketiga teman Yoon tak kuasa menahan air mata mereka. Ketiganya ikut berduka merasakan apa yang Yoon rasakan, kehilangan Jung Ah.

Yoon duduk bersama ibu mertuanya yang terus menangis kehilangan putrinya. Ketiga sahabat Yoon menggantikan posisinya sebagai keluarga duka menerima penghormatan dari tamu. Yoon menggenggam tangan ibu mertuanya penuh kesedihan.

Suara Yoon: "Dua garis berwarna hitam pada ban tangan tanda berkabung, artinya mereka adalah keluarga dekat dari almarhum. Satu garis hitam berarti teman dekat atau kenalan. Satu untuk lengan yang satunya untuk hati. Para pria dengan dua garis hitam yang berdiri disana adalah orang-orang yang perpisahan dengan mereka akan menjadi paling menyakitkan dalam hidupku. Seperti kehadiran mereka adalah keberuntungan yang terbesar dalam hidupku."

Yoon menatap ketiga sahabat yang selalu ada untuknya. Ia menangis sedih campur haru.

Sinopsis A Gentlemans Dignity Episode 16

Do Jin mengendarai mobilnya di jalan raya dan menerima panggilan telepon dari Yi Soo. "Kau ada dimana?"

Dan seperti yang kita tahu kalau keduanya makan siang bersama. Ada yang menelepon Yi Soo tapi Yi Soo tak menjawabnya. Ia membiarkan ponselnya begitu saja setelah tahu siapa yang menghubunginya. Do Jin bertanya telepon dari siapa.

"Sudah kubilang jangan bicara padaku!" Ucap Yi Soo. Yi Soo akan pergi tapi Do Jin menahan tangannya, "Siapa itu?"

Yi Soo: "Memangnya kenapa kalau kau tahu?"

Do Jin bertanya lagi dengan suara pelan, "Siapa itu?"

"Ibuku," jawab Yi Soo. "Ah, ibuku meninggalkan anaknya dan mengasuh anak orang lain selama lebih dari 20 tahun. Apa kau mau ikut dan melihatnya sendiri? Kalau kau tak mau ikut, lepaskan tanganku!"

Do Jin berdiri dan ia akan ikut dengan Yi Soo. "Baiklah ayo kita pergi bersama. apa yang terjadi? Apa dia menangis sendirian? Apa dia tiba di rumah dengan selamat? Daripada aku mengkhawatirkan itu, lebih baik aku ikut denganmu." Yi Soo menatap marah dan menarik tangannya paksa dan berjalan lebih dulu meninggalkan Do Jin.

Yi Soo menemui ibunya di sebuah kafe. Ibunya memuji kalau Yi Soo terlihat cantik. Ia mengira-ngira sudah berapa lama keduanya tak bertemu, "Ini yang pertama kali sejak kau berumur 30 tahun kan? Kenapa kau tak menjawab teleponku? Kau dan aku bukan tipe orang yang menelepon hanya untuk menyapa satu sama lain. Aku menghubungimu karena ada yang ingin kudiskusikan denganmu."

Yi Soo: "Mendiskusikan apa? Apa yang perlu didiskusikan denganku?"

Ibu Yi Soo bertanya apa putra sulung dan putra bungsu suaminya menemui Yi Soo. Yi Soo balik bertanya kenapa mereka menelepon bahkan menemuinya. "Kenapa mereka menggangguku? Aku tak punya urusan dengan meraka? Kenapa mereka melakukan ini padaku?"

Ibu Yi Soo: "Sudah jelas. Ada sengketa warisan antara ibu tiri dan anak-anak. Mereka berharap kau bisa meyakinkanku untuk mundur. Ayah mereka sedang berada di ranjang kematiannya."

Yi Soo mendesah kesal, ia benar-benar tak peduli dengan masalah ibunya. "Ibu belum pernah menjadi bagian hidupku sejak aku berumur 12 tahun. Kenapa ibu melakukan ini padaku?"

Ibu Yi Soo berfikir kalau ia mengubah nasibnya maka nasib putrinya juga akan berubah. "Aku tak akan melakukan apapun untukmu jadi aku ingin merubah nasibku demi kau. Tapi hidup tak berjalan sesuai rencanaku."

Yi Soo tak mau mendengar apapun penjelasan ibunya. Memangnya ia pernah meminta bantuan dari ibunya. "Ibu, apa ibu sama sekali tak merasa bersalah padaku?"

Ibu Yi Soo mengatakan kalau ini sudah terjadi apa yang bisa ia lakukan. Mereka menginginkannya bercerai sebelum pembagian warisan. "Masa 24 tahun itu tak ada artinya bagi mereka karena itu apapun yang mereka katakan jangan pernah menemui mereka. Aku yang akan mengurus sisanya."

Do Jin duduk membelakangi Yi Soo mendengarkan semuanya. Yi Soo tak tahan lagi ia hanya bisa menangis menahan kesal.

Tae San rapat dengan stafnya untuk mempersiapkan presentasi proyek mereka. Stafnya bertanya dimana Presdir Kim Do Jin. Tae San mengatakan kalau Do Jin sedang menghadiri sebuah pertemuan jadi jangan harap bisa melihat Do Jin dalam beberapa hari.

Tapi tiba-tiba Do Jin datang. Tae San heran kenapa Do Jin ke kantor bukankah seharusnya istirahat di rumah. Do Jin bergumam apa ia harus istirahat dengan pekerjaan yang manumpuk. Ia berkata pada Tae San kalau ia yang akan mengurus semuanya lebih baik Tae San melanjutkan pekerjaan Tae San.

Tae San tak yakin apa Do Jin tak apa-apa, ia menyarankan lebih baik pergi ke pegunungan selama beberapa hari. Do Jin tak mau ia ingin bekerja. Tae San pamit ia harus ke lokasi proyek. Ia memberi tahu kalau ia akan menemui klien jam 4 sore nanti. Ia menawarkan apa Do Jin mau ikut, Do Jin setuju ia akan ikut.

Do Jin dan stafnya membahas proyek rumah loteng. Staf wanita Do Jin menyahut kalau rumah loteng ini ide yang bagus. Ia berandai-andai apakah ada seseorang yang bersedia membangunkan itu untuknya. Do Jin menyuruh stafnya untuk mempersiapkan bahan presentasi.

Do Jin ke Mango Six sampai disana ia terkejut melihat ketiga temannya berpakaian aneh. Ketiganya menyapa dengan memberikan lambaian tangan untuk Do Jin.

Do Jin heran kenapa temannya berpenampilan seperti itu. Yoon mengatakan kalau ini hanya sebuah konsep dengan makna yang dalam.

Jung Rok berdiri kemudian bernyanyi sambil menari-nari. Do Jin tak tahan melihatnya ia pun tertawa, "Apa itu? apa kalian mau ikut audisi pelawak?"

"Lihat? Dia tersenyum!" seru Jung Rok kegirangan.

"Sudah lama sekali kau tak tersenyum," sambung Yoon.

"Hanya untuk melihatku tersenyum apa kalian berpakaian seperti itu sambil menunggu?" tanya Do Jin.

"Meskipun seluruh dunia menertawakan kami, tidak apa-apa asalkan kami bisa membuatmu tersenyum." Ucap Tae San ikut senang melihat salah satu sahabatnya sudah bisa tertawa.

Jung Rok menyuruh Do Jin duduk karena ketiganya ingin Do Jin kembali normal. Do Jin pun bergabung dengan ketiganya. Tae San meminta Do Jin tak usah khawatir tentang pekerjaan lebih baik sekarang Do Jin mengurus Colin saja dulu. Yoon juga meminta Do Jin tak perlu mengkhawatirkan Colin lebih baik konsentrasi saja pada Yi Soo.

Do Jin bergumam, "Diri kalian sendiri saja tak bisa kalian urus."

Jung Rok menyahut kalau begitu ia yang pantas mendapatkan medali sebagai seseorang yang tak bisa mengurus diri sendiri.

Jung Rok melihat ponsel Tae San sepertinya ada yang menelepon. Tae San tahu dan itu telepon dari Se Ra. Ia mengatakan kalau Se Ra ini tak akan mencari dirinya kalau ia menjawab telepon dari Se Ra.

Tae San melepas scraf yang melingkar di lehernya dan memakaikanya pada Do Jin. "Pakai ini, ini akan memalukan sampai kau tak bisa memikirkan hal lain selama 30 menit." Tae San pamit lebih dulu.

Yoon juga melepas kacamata dan memakaikannya pada Do Jin. "Pakai ini juga, dan tambahan 20 menit." Yoon juga permisi pergi lebih dulu.

Jung Rok berdiri akan melepas celananya. "Aish..." Do Jin mengira Jung Rok akan benar-benar melepas celananya, tapi kemudian Jung Rok duduk lagi.

Do Jin mengatakan kalau ia tak bisa memikirkan hal yang lain. Ia memberi tahu kalau warna baju Yi Soo juga seperti scraf yang ia pakai. Jung Rok menyahut kalau semua orang memiliki baju warna itu. Do Jin kembali mengatakan kalau Yi Soo memakai baju warna itu pada saat yang istimewa. (waktu malam hari ketika Yi Soo meminta Do Jin berjanji)

Yi Soo tiduran lemah di kamarnya. Ia mengenang kebersamaannya dengan Do Jin. Ia teringat ucapan Do Jin sebelum ia menemui ibunya. Ia tampak memikirkan sesuatu, ia tak tahan terus-menerus seperti ini. Ia bergegas bangun dan pergi keluar.

Do Jin menyusuri jalanan di depan gedung apartemennya sendirian untuk menghilangkan segala kepenatan. Tapi sepertinya tak bisa pikirannya selalu melayang ke Yi Soo. Sepertinya ia menerima SMS dan akan menghubungi si pengirim SMS.

Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti karena melihat Yi Soo sudah berdiri tak jauh di depannya. Ia pun mengurungkan niatnya untuk menelepon. Do Jin mengatakan kalau ia baru saja akan menelepon Yi Soo. Yi Soo berkata kalau ia tahu. Do Jin berusaha tersenyum dan bertanya dari mana Yi Soo tahu kalau ia yang menelepon. Yi Soo berkata kalau ia melihatnya.

Do Jin bertanya lagi kenapa Yi Soo ada disini. Yi Soo balik bertanya apa ia tak boleh datang kesini, memangnya Do Jin pemiliki tempat ini.

"Apa kau kesini untuk menemuiku?" Tanya Do Jin.

"Tak ada alasana lain. Aku tak menangis, aku tiba di rumah dengan selamat tapi kenapa aku ada disini?" Ucap Yi Soo (tujuan Yi Soo memang karena ingin melihat Do Jin)

Do Jin ingin tahu apa Yi Soo sudah lama menunggu. Yi Soo berkata kalau Do Jin tak perlu tahu. Do Jin kembali bertanya apa Yi Soo sudah makan. Yi Soo menjawab belum. Do Jin terus bertanya apa ada film yang ingin Yi Soo tonton. Yi Soo bilang tak ada.

Do Jin tak tahu lagi harus bertanya apa. Yi Soo hanya memandangnya diam jika tak diberi pertanyaan. Do Jin kembali bertanya apa Yi Soo mau jalan-jalan. Yi Soo bilang tak mau.

Do Jin: "Aku tetap berdiri disini atau aku kembali ke dalam?"

Yi Soo: "Kenapa kau menanyakan itu padaku? Kau ingin tetap berdiri disini atau kembali ke dalam? Kau merindukanku atau kau tak merindukanku? Kau ingin mempertahankanku atau kau tak ingin mempertahankanku? Cobalah jawab aku. Aku sangat penasaran."

Do Jin: "Seorang guru etika mengencani pria yang mempunyai anak. Apa dia sudah gila? Kenapa wanita normal mau berkencan dengan pria yang mempunyai anak? Pasti ada yang salah dengannya. Hanya burung dari kawanan yang sama yang bersama-sama. Seperti itulah dunia akan melihatmu, Seo Yi Soo. Aku tak ingin cintaku padamu membuatmu menjadi wanita yang buruk. Karena itu....."

Belum sempat Do Jin melanjutkan kata-katanya Yi Soo sudah berbalik meninggalkan Do Jin. (Do Jin ga mau Yi Soo di cap perempuan buruk karena berkencan dengan pria yang sudah memiliki anak-Anis-awas copaser berkeliaran pendosa di bulan Ramadhan)

Yi Soo duduk melamun di kamarnya. Se Ra masuk ke kamar dan membuyarkan lamunannya. Se Ra mengatakan kalau ada sesuatu yang ingin ia sampaikan pada Yi Soo. Ia memberi tahu kalau ia akan menjual rumahnya. Yi Soo jelas saja terkejut karena ini sangat tiba-tiba.

Se Ra memberi tahu kalau hutangnya sudah menumpuk dan saat ini hanya menjual rumah-lah satu-satunya cara yang terpikir olehnya. Ia mengatakan kalau sejak awal rumah dan mobilnya sudah terlalu mewah. Yi Soo ingat mobil Se Ra, apa itu sebabnya ia tak melihat mobil Se Ra akhir-akhir ini.

Se Ra meyakinkah begitu rumahnya terjual ia akan segera mengembalikan uang Yi Soo. Ia berpesan agar Yi Soo mencari rumah sendiri untuk tempat tinggal Yi Soo nanti. Yi Soo tanya bagaimana dengan tempat tinggal Se Ra. Se Ra mengatakan kalau ia juga harus menemukan tempat tinggal baru yang lebih sesuai.

Yi Soo bertanya memangnya mudah menjual rumah. Se Ra berkata kalau ia menjualnya dengan harga yang menarik dan sudah ada seseorang yang datang untuk melihat rumah ini. Se Ra minta maaf karena tak memberitahu lebih dulu pada Yi Soo.

Se Ra menemui Tae San di Hwa Dam. Ia bertanya bagaimana rasanya. Tae San yang sedang sibuk bertanya apa maksud Se Ra. Se Ra bertanya dengan suara keras bagaimana rasanya Tae San melihatnya mencapai titik terendah seperti sekarang ini. Tae San mengingatkan agar Se Ra memelankan suara karena ini di kantor.

Se Ra tak memelankan suara malah makin emosi, "Siapa suruh kau membuatku datang kesini mencarimu? aku membayar hutangmu jadi datang dan carilah aku itu kan maksudmu? Im Tae San kenapa kau membayar hutangku, apa kau pikir aku akan datang padamu sambil mengibas-ngibaskan ekorku?"

Tae San: "Kalau kau tipe wanita seperti itu, kita pasti sekarang lebih bahagia daripada keadaan kita sekarang!"

Se Ra meminta Tae San jangan berpura-pura menjadi orang baik. Seharusnya Tae San cukup menonton dari pinggir lapangan. Seharusnya Tae San memberinya kesempatan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Tae San yang dari tadi tak memandang Se Ra sekarang menatapnya, "Bagaimana mungkin aku melakukan itu? Aku sudah hampir gila, bagaimana mungkin aku melakukan itu?"

Se Ra: "Seharusnya kau tetap tak mencampuri urusanku. Kelak bagaimana aku akan menghadapimu? Aku merasa sangat malu!"

Tae San: "Apa kau masih berfikir untuk melihatku?"

Se Ra: "Aku sedang dalam perjalanan. Tapi apa yang harus kulakukan? Kau sudah melihatku jatuh sampai ke dasar. Bahkan walalupun seluruh duania tahu, harusnya kau tak pernah tahu."

Ada yang menelepon Tae San, ia segera menjawabnya. Tae San beralasan kalau sekarang ia sedang rapat. Terdengar suara wanita berkata, "Jangan bohong. Aku ada di Seoul di rumah sakit!" Tae San jelas terkejut, "Rumah sakit? kenapa? Ibu, apa kau sakit?"

"Tentu saja aku sakit, karena itulah aku di rumah sakit." Ibu Tae San mengatakan kalau ia sekarang di lantai satu dan memakai baju warna putih. Tae San bergegas menemui ibunya di rumah sakit. Se Ra ikut cemas, "Apa ibumu sakit?" Tae San tak menjawabnya ia berkata kalau ia akan melihatnya dulu.

Tae San ternyata menghadiri kencan buta yang sudah dirancang ibunya. Di depannya duduk seorang wanita muda cantik. Tae San jelas merasa tak nyaman. Wanita itu melihat sikap Tae San yang sepertinya tak suka dengan kencan buta apa karena itu ibu Tae San melakukan ini. Tae San membenarkan ia merasa ibunya berfikiran seperti itu.

Ternyata Se Ra menyusul Tae San. Ia terkejut kalau yang ditemui Tae San adalah seorang wanita muda. Ia menahan kesal dan duduk di kursi sebelah Tae San. Tae San menyadari kehadiran Se Ra dan terus menatapnya.

Wanita itu bilang kalau ia tak peduli dengan usia seorang pria. Tae San tak mendengarkan apa yang disampaikan wanita itu karena dari tadi ia menatap Se Ra. Wanita itu malanjutkan kata-katanya, ia sudah mendengar kalau Tae San ini seorang arsitek. Tae San mengatakan mungkin ia seorang arsitek tapi ia hanya seorang tukang bangunan.

Tae San bertanya apa pekerjaan wanita itu. Wanita itu dengan bangga mengatakan kalau ia putri dari direktur rumah sakit. Ini jelas membuat Tae San dan Se Ra berusaha menahan tawa.

"Ini adalah rumah sakit ayahku. Kata ayahku aku sudah mencapai usia yang pantas untuk menikah dan aku harus menikah. Jadi aku akan menikah. Dan... aku bersedia punya 2 atau 3."

Tae San tak paham, apa?

"Anak. Aku bersedia melahirkan satu setiap dua tahun." Kata wanita itu.

Tae San kembali berusaha menahan tawa. Se Ra yang ada di sebelah Tae San pun berusaha menahan tawa.

"Untuk makanan, aku hanya bersedia masak dua kali sehari. Memasak 3 kali akan sangat sulit." Sambung wanita itu penuh senyuman. Tae San mengangguk sambil terus berusaha menahan tawanya.

"Kalau kau pikir aku ini lucu, tertawa saja sekeras-kerasnya." Kata wanita itu tersenyum dengan pedenya.

Huwahahahaha akhirnya Tae San tak bisa menahan tawanya. Se Ra juga demikian ia tertawa lebar dan wanita itu juga ikut tertawa lebar bersama. Tapi tawa wanita itu terhenti karena ia melihat Se Ra ikut tertawa. Se Ra langsung diam bersikap normal. Tapi tetap saja ia tersenyum-senyum berusaha menahan tawa.

"Benar-benar calon istri yang sempurna." sahut Tae San. Wanita itu mengatakan kalau semua orang juga berfikiran yang sama tentang dirinya. Dengan pedenya ia mengatakan kalau ia terlalu sempurna sehingga mereka semua melarikan diri. (wahahahahaha)

"Aku sudah mengatakan apa yang harus kukatakan. Kalau kau ingin bertemu denganku lagi telepon aku sebelum jam 6." Kemudian wanita itu pamit.

Setelah wanita itu pergi Tae San dan Se Ra tak bisa menahan tawa mereka. Keduanya tertawa terpingkal-pingkal.

Tae San bertanya kenapa Se Ra datang ke sini menyusulnya. Se Ra mengatakan kalau ia berfikir ibu Tae San benar-benar sakit jadi ia memutuskan untuk datang. Se Ra menilai kalau wanita itu lumayan juga, "Menikahlah!"

Tae San berkata kalau ia juga berfikiran seperti itu, "Memasak dua kali sehari melahirkan anak setiap dua tahun."

"Aku kalah," sahut Se Ra. "Aku bukan sedang menyindir. Aku tak ingin menikah, tapi meskipun aku ingin menikah bagaimana mungkin aku membandingkan diri dengan wanita itu?" Se Ra berjanji akan mengembalikan uang Tae San paling lambat bulan ini. Ia pun pamit mengucapkan selamat tinggal.

"Hong Se Ra!" panggil Tae San membuat Se Ra menghentikan langkahnya. Se Ra meminta Tae San jangan khawatir karena ia tak akan memeluk Tae San.

"Keterlaluan, kau...." Tae San berdiri menatap Se Ra yang berdiri memunggunginya. "Harus memenangkan kejuaraan. Aku tak bisa menunggumu terlalu lama."

Se Ra berbalik menatap tajam dan berkata dengan suara tinggi, "Kenapa kau melakukan ini? Apa kau mengasihaniku?"

"Kau mau mati? Aku mencintaimu. Kesini!" Suara Tae San tak kalah tinggi sambil membuka kedua tangannya.

Se Ra menangis haru. Ia berjalan ke arah Tae San dan masuk ke pelukannya. Se Ra menitikan air mata dalam pelukan Tae San. (huwa baikkan deh)

Min Suk menikmati udara segar dengan melakukan lari pagi (wah tante seksi deh) Terdengar suara olehnya gemerincing bel sepeda. Ia menoleh dan ternyata yang mengendarai sepeda itu Jung Rok.

"Hei, cantik, naiklah!" ajak Jung Rok meminta istrinya naik ke sepeda. Min Suk tertawa meremehkan apa Jung Rok ingin ia duduk di boncengan sepeda. Jung Rok berpikir kalau beberapa mobil mewah di negara ini pasti sudah pernah istrinya kendarai. Tapi ia berani bertaruh kalau istrinya ini belum pernah naik sepeda.

"Dunia akan terasa seperti video musik." kata Jung Rok sambil memakaikan earphone ke telinga Min Suk. Jung Rok menyetelkan lagunya, kemudian ia meminta istrinya segera naik ke sepeda.

Min Suk pun duduk di boncengan sepeda yang dikendarai Jung Rok. Jung Rok berpesan agar Min Suk berpegangan erat tapi Min Suk cuek saja. Jung Rok melihat kalau istrinya duduk biasa tak perpegangan padanya. Ia pun berpura-pura akan jatuh sambil menggoyang-goyangkan sepedanya. Spontan Min Suk menjerit dan langsung merangkulkan lengannya ke badan Jung Rok. (hihihi....)

Jung Rok: "Kubilang pegang erat-erat. Kenapa kau tak mau mendengarkan?"

Min Suk menyandarkan kepalanya ke punggung Jung Rok (aih... mau dong bersepeda kayak gini, Om Rok romantis deh ah... haha_Anishuchie)

"Apa kau tahu?" Jung Rok mulai berbicara. "Diantara semua wanita yang pernah kutemui kaulah yang paling pendek, paling buruk sifatnya, paling tua, dan yang paling tak menggemaskan. Sejujurnya, apa lagi yang kau miliki selain uang? Ya tentu saja memang bagus kalau memiliki uang."

Min Suk tetap menyandarkan kepalanya ke punggung Jung Rok dengan earphone tetap di telinganya. Jung Rok mengeluh punggungnya berkeringat dan berkata kalau ini benar-benar melelahkan.

Jung Rok: "Bagaimanapun, meskipun kau memiliki banyak kekurangan kau benar-benar beracun. Maka dari itu mulai sekarang, pastikan kau tetap menempel di punggungku. Mengerti?"

Min Suk menegakkan kepalanya, "Aku mengerti tapi bagaimana cara membuka ini?" Tanya Min Suk yang dari tadi ternyata tak mendengarkan lagu. Jung Rok kaget dan langsung menghentikan laju sepedanya. "Jadi dari tadi kau sama sekali tak mendengarkan lagu?"

Min Suk berkata kalau MP3-nya harus dimainkan dulu tapi ini terkunci. Ternyata benar MP3-nya error terkunci. Jadi dari tadi Min Suk belum mendengarkan lagu. Jung Rok panik, "Yang kukatakan apa kau mendengar semuanya?"

"Ya. Mulai dari naik sampai mengerti? diantaranya kau bilang aku pendek dan tua." Min Suk ternyata mendengarkan semua apa yang dikatakan Jung Rok. haha.

"Aish... ini benar-benar memalukan." Jung Rok memakai kaca mata hitamnya. "Memalukan, memalukan, memalukan." Min Suk tersenyum-senyum melihatnya. Ia menyuruh suaminya duduk lagi di sadel sepeda.

"Aish... keterlaluan," Jung Rok mendesah kesal pada dirinya sendiri. Keduanya pun naik sepeda lagi, "Yobo yang kukatakan ditengah-tengah tadi...."

"Lihat ke depan!" Min Suk menyuruh Jung Rok menatap lurus ke depan dan mengayuh sepedanya saja. Ia kembali menyandarkan kepalanya ke punggung Jung Rok. Jung Rok kembali mengumpat kesal pada dirinya sendiri.

Min Suk meninjau galerinya sambil mendengarkan musik lewat MP3. Ia menyapa pegawainya penuh senyuman.

Min Suk melihat Do Jin ada disalah satu kios galerinya. Ia pun melepas earphone dan menyapa Do Jin yang tengah bingung memilih salah satu diantara dua kursi yang berwarna pink dan orange.

Min Suk bertanya apa yang membuat Do Jin berkunjung ke galerinya. Do Jin mengatakan kalau ia mencari kursi. Min Suk bertanya lagi dimana kira-kira Do Jin akan meletakan kursi itu. Do Jin berkata kalau ia tak tahu selera remaja sekarang, jadi ia bingung memilihnya.

Min Suk heran, "Selera remaja maksudmu ...?"

"Ya aku berencana tinggal dengannya untuk sementara." ucap Do Jin.

Min Suk mengerti, "Sangat berat kan? Diantara wanita dan anak haruskah kau menjadi pacar atau ayah?"

Min Suk memberi tahu kalau ia bertemu dengan Yi Soo beberapa hari yang lalu. Ia merasa kalau Yi Soo terlihat sangat lelah, "Kalau seorang pria mengatakan aku mencintaimu kau tahu apa yang tak boleh kau katakan setelah itu? Aku minta maaf sepertinya sederhana tapi pria merasa sulit melakukannya."

Min Suk mohon diri, Do Jin memikirkan apa yang baru saja disampaikan oleh Min Suk.

Do Jin mengajak Colin tinggal bersamanya. Ia menunjukkan kamar mana yang akan ditempati Colin. Colin mengamati ruangan yang akan menjadi kamarnya. Do Jin bertanya apa Colin suka dengan tatanan kamar barunya. Colin malah balik bertanya apa bisnis arsitek ayahnya ini baik-baik saja. "Apa ini?" Colin sambil menunjuk kursi warna orange yang baru dibeli dari galeri Min Suk.

Do Jin mengatakan kalau itu warna dalam konsep ruangan ini. "Ini sofa berwarna. Dasar pengasuhan anak."

Colin mengatakan kalau ia bukan anak berumur 9 tahun melainkan 19 tahun. Do Jin menyahut karena itulah ia sengaja memilih warna itu.

Dan jreng... Colin pun merubah suasana dan tatanan kamarnya dengan berbagai poster personil Girls Generation (wakakaka ga bapaknya, ga anaknya sama idolanya Girls Generations haha)

"Apa sebenarnya yang kau lakukan?" tanya Do Jin melihat suasana kamar Colin. Colin berkata kalau ia membuat kamar ini lebih hangat dan mencerminkan impian dan juga harapannya.

"Imipian (sambil menunjuk ke arah gitar-gitarnya) dan harapan (sambil menunjuk ke poster Girl Generations)

Do Jin menyuruh Colin mengembalikan suasana kamar ke tatanan sebelumnya karena dekorasi seperti ini tak sesuai dengan konsep kamar ini. Colin akan melakukannya tapi dengan satu syarat, tambahkan dulu uang sakunya.

Do Jin: "500rb won seminggu apa masih kurang?"

Colin: "Ibu memberiku 10rb yen seminggu."

Do Jin: "Memangnya itu masuk akal? Itu setara dengan 1juta rupiah."

Colin mengatakan kalau biaya hidup di Tokyo tinggi. Do Jin akan mengirim SMS pada Eun Hee untuk menanyakannya. Colin langsung merebut ponsel dan ia pun akan menerima uang saku tapi ia minta ditambah setengahnya lagi. Tapi Do Jin malah menguranginya menjadi 250rb won, itu hukuman karena Colin sudah berbohong. Wekekeke... Colin ngedumel seharusnya ayahnya tak boleh seperti itu.

Do Jin di Hwa Dam menerima telepon dari agensi real estate. Orang itu menanyakan apakan Do Jin akan menjual rumah. Do Jin merasa kalau orang ini sudah salah sambung.

"Bukankah anda Kim Do Jin dari apartemen 702? Anak anda datang dan meminta kami menelepon anda."

Do Jin menahan kesal dengan tingkah Colin, ia memegang leher bagian belakangnya darah tingginya naik. Haha.

Do Jin menyidang Colin. Ia menanyakan apa Colin memiliki dendam dengannya, apa balas dendam untuk 20 tahun terakhir. Colin menunduk dan minta maaf karena ia sudah melangkah terlalu jauh. Do Jin menghela nafas panjang, ia tak akan memperpanjang masalah ini dan menganggapnya sudah selesai.

Do Jin menginginkan agar Colin sekolah. Colin jelas menolak ia beralasan kalau ia tak akan lama tinggal di Korea. Do Jin tak peduli pokoknya Colin harus sekolah meskipun hanya tinggal beberapa hari di Korea. Colin tanya kenapa.

Do Jin mengatakan karena ketika ia SMA, ia bertemu paman-paman Colin. Tae San, Jung Rok dan Yoon. Tentang pemindahan sekolah Colin, Yoon telah mengurusnya. "Dan juga ini bukan diskusi tapi pemberitahuan. Seperti inilah ayah Korea."

Do Jin akan keluar. Colin bertanya ayah Korea mau kemana. Do Jin mengatakan kalau ini urusan pribadinya Colin jangan ikut campur.

Yoon duduk menyendiri di depan gedung apartemen sambil mengamati gelang yang dibuang Meari di tempat sampah tadi siang. Ternyata Yoon mengambilnya. Ia tersenyum mengamati gelang itu dan memakainya.

Yoon melihat kedatangan Do Jin. Ia segera menutupi gelang yang ada di pergelangan tangan dengan kaos panjangnya. Yoon pura-pura sedang melemaskan tangannya.

Do Jin bertanya kenapa Yoon menyembunyikannya, apa Yoon mencurinya. Do Jin ternyata sudah melihat kalau Yoon memakai gelang. Yoon memberi tahu kalau Meari membeli gelang pasangan atau sesuatu semacam itu. Do Jin menyahut seperti itulah yang mereka lakukan di usia itu. Ia heran kenapa Yoon tetap menerimanya.

Yoon berkata kalau ia memungutnya setelah Meari membuangnya. Do Jin tertawa kemudian menatap Yoon tajam, "Dasar bodoh!" umpatnya. Yoon tak terima dibilang bodoh ia pun berbalik menyerang Do Jin, memangnya bagaimana dengan Do Jin.

Do Jin terdiam tak bisa menyangkalnya. Ia kemudian bertanya bagaimana dengan sekolah Colin. Yoon mengatakan kalau ia hanya perlu memastikan satu hal lagi dan ia akan mengurusnya besok.

Keesokan harinya, Yoon menghubungi Yi Soo dan meminta bertemu sekarang karena ada yang ingin ia bicarakan dengan Yi Soo.

Yi Soo pun datang ke kantor Yoon. Yi Soo menyampaikan kalau dalam perjalanannya ke kantor Yoon ia berfikir hal apa yang ingin dibicarakan Yoon dengannya. Yoon bertanya menurut Yi Soo kira-kira apa yang akan ia bicarakan.

Yi Soo: "Anak itu, kau menginginkan dia menetap di Korea?"

Yoon diam ternyata Yi Soo bisa menebaknya. Yi Soo berkata kalau Colin menetap di Korea tentunya Colin sudah berencana untuk hidup bersama Kim Do Jin. Yoon membenarkan, ia menebak ini pasti karena rasa tanggung jawab atau rasa bersalah Do Jin.

Yi Soo melihat kalau dinilai dari karakter Do Jin, ia sudah memperkirakan akan seperti ini jadinya. Karena itulah apapun yang ingin Yoon katakan ia sudah menebaknya. "Kalau kau ingin mendiskusikan sesuatu denganku sebagai seorang guru, tentunya mengenai pendidikan anak itu."

Yoon kembali membenarkan karena sekarang di lingkungannya salah satu sekolah tempat Colin bisa pindah adalah sekolah tempat Yi Soo mengajar. Kalau Yi Soo merasa tak nyaman maka ia akan mencoret sekolah Yi Soo dari daftar. Itulah yang ia rencanakan.

Yi Soo mengatakan kalau Colin belum mengenal banyak orang di Korea, setidaknya ia ada disana di sekolah bukankah itu sedikit lebih baik. Yoon tak tahu apakah ia harus berterima kasih atau meminta maaf. Yi Soo mengatakan kalau anak itu tak bersalah atas apa yang terjadi.

Colin ke SMA Ju Won sebagai murid pindahan dari Jepang. Di luar kelas ia berpapasan dengan Yi Soo. Colin memberi hormat pada Yi Soo. Ia mengatakan kalau ia pindah ke sekolah ini.

Yi Soo mengatakan kalau ia sudah tahu dan Colin akan duduk di kelas 11 (2 SMA) ia menunjukan dimana kelas Colin. Ia juga mengatakan kalau ia-lah yang akan menjadi wali kelas Colin. Colin tak tahu harus bicara apa, ia masih merasa canggung. "Aku berencana tinggal dengan ahjussi."

Yi Soo berkata kalau ia sudah mendengarnya, "Apa kau masih memanggilnya ahjussi?" Colin menjawab masih dan mengatakan kalau ibunya sudah pulang. Yi Soo berkata kalau Ibu Colin orang yang baik. Colin bertanya apa Yi Soo pernah bertemu dengan ibunya. Yi Soo menjawab kalau ia bertemu secara tak sengaja sekali dan bertemu janjian sekali. Colin merasa kalau Yi Soo ini tak nyaman bertemu dengannya.

Yi Soo: "Aku tak pernah merasa tak nyaman di sekitar murid-muridku. Tapi kalau kau tak belajar, kau akan merasa tak nyaman bertemu denganku."

Yi Soo melihat Dong Hyub masuk sekolah. Dong Hyub memberi hormat pada gurunya dan minta maaf. Yi Soo bertanya apa Dong Hyub tak akan membolos lagi. Dong Hyub berkata kalau ia akan berusaha mencobanya karena seorang pria setidaknya harus lulus SMA. Yi Soo senang mendengarnya dan akan lebih bagus lagi kalau Dong Hyub juga mempunyai impian. Dong Hyub permisi dan sebelumnya ia menatap Colin sekilas. Colin juga memperhatikan pemuda yang baru saja datang ini.

Yi Soo mengatakan bahwa Colin sudah bisa mulai sekolah hari senin, ia meminta Colin datang bersama orang tua Colin. Colin heran dan bertanya kenapa. Yi Soo mengatakan kalau filosofinya dalam mengajar adalah menemui orang tua murid pindahan (hehe bilang aja kangen sama bapaknya Colin)

Dan Do Jin pun menemui wali kelas putranya. Ia terus menatap guru yang ada di depannya ini. Tentu saja Yi Soo bersikap berusaha formal layaknya ia menghadapi wali murid yang lain.

Yi Soo mengatakan kalau dari segi usia Colin seharusnya masuk di kelas 12 (3 SMA) tapi karena dia tinggal diluar negeri kami mengangap dia mungkin tidak mampu mengimbangi jadi kami menempatkannya di kelas 11. Yi Soo mengatakan kalau kelasnya adalah kelas seni. Yi Soo menatap Do Jin yang dari tadi menatapnya, "Apa anda mendengarkan penjelasanku tadi?" Do Jin mengangguk.

"Apa putra anda mempunyai minat khusus? Apa anda mengetahuinya?" tanya Yi Soo.

"Sepertinya dia bisa bermain gitar." Do Jin menjawab pelan.

"Tentang impian dan harapan masa depannya. Apa anda pernah menanyakannya?"

"Kami belum... sedekat itu." Do Jin menjawabnya lirih.

"Bagaimana dengan impian ayahnya? Apa kita juga belum terlalu dekat?" (what pertanyaan apa ini Bu guru?)

Yi Soo langsung kembali bersikap formal dan mengatakan kalau pertemuan ini sudah selesai dan Do Jin bisa pergi sekarang.

Do Jin berada di dalam mobil yang masih terparkir di depan sekolah. Ia memikirkan pertanyaan yang diajukan oleh Yi Soo tadi. Yi Soo pun masih duduk melamun di tempat ia mewawancarai wali murid tadi.

Malam hari Colin berada di lapangan baseball bersama ketiga pamannya. Tae San mengatakan kalau sebagai murid pindahan itu terlebih dahulu Colin perlu membangun yang namanya karakter. Hanya dengan begitu masa sekolah Colin bisa berjalan dengan lancar.

Jung Rok: "Apa kau tahu betapa menyeramkannya murid-murid SMA di Korea? ayahmu dan mereka ini ketika di SMA......"

Aish... Yoon menyela Jung Rok. Jung Rok mengerti ia tak akan menceritakannya lebih jauh. Jung Rok mengatakan walau bagaimana pun di Korea hanya usia yang penting artinya yang tertua itu yang menang. "Kau harus menunjukan bahwa usiamu lebih tua setahun."

Yoon mengatakan kalau kedua orang ini (Tae San dan Jung Rok) yang terbaik dalam melakukan kekerasan. Tae San mengarahkan agar Colin langsung saja mengambil kesempatan jadi Colin harus menyerang lebih dulu. "Kalau kau melakukannya kau akan memiliki tingkat keberhasilan 50%."

"Begitu kau tiba di sekolah, tendang pintu kelas hingga terbuka lebar. Bwak..." Tae San mencontohkan gerakannya, "Dengan begitu murid lain akan memandangimu. Setelah itu kau harus berkata....."

"Siapa ketua kelas disini?" Jung Rok mencontohkan ekspresi yang harus Colin kuasai. Tae San membenarkan seperti itu gayanya. Colin tak yakin memangnya trik seperti itu masih berlaku di abad 21. Yoon menyahut kalau trik ini akan berlaku selamanya.

Tae San kembali mengatakan kalau setelah itu Colin harus mendominasi mereka tapi Colin tak harus berkelahi. Tae San meminta Jung Rok memberi tahu Colin bagaimana caranya.

Jung Rok memegang bahu Colin dan menatapnya, "Kali ini aku ingin lulus dengan tenang, jadi bantu aku!"

"Hanya seperti itu!" sahut Tae San melentikan jarinya, "Dan juga mata!" sambung Tae San, "Pastikan kau menakuti mereka." Tae san menunjukan tatapan mata yang harus Colin kuasai. Yoon juga memperagakan tatapan mata sangarnya hehe.

Colin tersenyum senang mendapatkan ilmu yang aneh dari ketiga pamannya. Yoon bertanya memangnya kita boleh mengajarkan semua ini kepada Colin. Jung Rok berkata yang namanya paman sejati akan selalu mengajarkan keburukan terlebih dahulu. (haha) Ia memberi Colin semangat. Semangat ngasih cara ga bener ini mah.

Se Ra pulang dari latihan golf. Yi Soo heran apa Se Ra latihan lagi. Se Ra mengiyakan ia berfikir kalau ia itu berbakat tapi sepertinya hanya keberuntungan. Ia banyak membuat kesalahan padahal ia hanya istirahat selama beberapa hari.

Se Ra memberi tahu Yi Soo kalau besok ada orang yang mau melihat-lihat rumah. Sebenarnya mereka sudah datang hari ini tapi di rumah tak ada orang. Yi Soo ingin tahu apa Se ra berencana menjual rumah secepat ini.

Se Ra merasa kalau mereka harus segera mencari tempat baru. Ia bertanya apa Yi Soo sudah mulai mencari rumah. Yi Soo bilang kalau ia baru melihat-lihat di internet, apartemen yang dekat dengan sekolah. Yi Soo balik bertanya bagaimana dengan Se Ra sendiri. Se Ra mengatakan kalau ia baru mencari sebuah kamar.

Yi Soo heran, "Apa one room?" Sera meyakinkan kalau ia akan mencari sebuah kamar yang besar. Yi Soo tak habis pikir kenapa Se Ra akan tinggal di tempat yang hanya memiliki satu kamar. Se Ra tak mau mendengar omongan Yi Soo karena akhir-kahir ini ia terus mendapatkan simpati setiap hari dan ia juga merasa mulai menjadi sangat menyedihkan. Yi Soo ingin tahu apa itu sewa bulanan. Se Ra tak peduli ia minta Yi Soo jangan membicarakan tentang rumah lagi lebih baik bicarakan yang lain saja.

Yi Soo mengatakan kalau ia akan menceritakan sesuatu yang menarik. Ia memberi tahu kalau putra Kim Do Jin masuk ke kelasnya. Se Ra tentu saja kaget mendengarnya. Yi Soo mengingatkan kalau Se Ra juga harus menjaga ucapan.

Yi Soo mengatakan kalau ia bisa menghindarinya tapi ia tak melakukannya. Se Ra ingin tahu apa alasan Yi Soo tak menghindari pemuda itu. Yi Soo berkata meskipun ia putus dengan Do Jin ia akan tetap bisa melihatnya. "Dia akan datang jika aku memanggilnya. Karena dia.... adalah orang tua muridku."

Se Ra: "Apa kalian sudah benar-benar putus?"

Yi Soo tak yakin tentang hal itu, "Dia tak mempertahankanku tapi dia juga tak tahu apa yang sedang dia lakukan."

"Tentu saja dia tak bisa mempertahankanmu." Se Ra meminta Yi Soo berfikir seorang anak tiba-tiba muncul di hadapan Yi Soo lalu menyampaikan pada Kim Do Jin, tiba-tiba aku mempunyai anak tapi dia bukan anakmu bukankah kita saling mencintai jadi seharusnya ini bukan masalah

Memangnya Yi Soo akan mengatakan itu. Atau kalau tidak aku akan memberikanmu waktu bisakah kau memutuskan apakah kau ingin putus denganku? apa seperti itu? kalau ia sendiri pun tak bisa mempertahankan. Ia tak akan tega.

Di sekolah ditengah jam pelajaran Colin ke ruang UKS untuk menghindari mengikuti jam pelajaran ternyata di ruang UKS sudah ada Dong Hyub yang tiduran santai sambil memainkan ponsel.

Dong Hyub heran bagaimana bisa seorang murid pindahan beradaptasi begitu cepat. Memangnya murid-murid di Jepang juga pergi ke UKS ketika mereka bolos dari kelas.

Colin duduk di ranjang sebelah Dong Hyub, ia mengatakan kalau selama di Jepang ia tak pernah sekolah. Dong Hyub terhenyak kaget campur tak percaya, mengagumkan kata Dong Hyub. Ia bertanya apa ibu Colin tak menyuruh Colin sekolah. Colin menjawab tentu saja menyuruh sekolah karena semua orang tua di dunia ini memiliki karakter yang sama.

Colin mengingatkan Dong Hyub jangan bertanya apa-apa lagi tentangnya ia memang dilahirkan tapi rahasia. Ia melihat apa yang dipegang Dong Hyub. (ga ngerti saya apa itu maksudnya bursa saham kah dari indeks Nasdaq)

Dong Hyub menyadari apa yang Colin lihat, ia bertanya apa Colin tahu seperti apa dunia yang akan Colin hadapi dimasa depan. Apa tanya Colin.

Dong Hyub: "Di negara kita kalau kau orang miskin maka kau harus belajar."

Colin tersenyum, "Memangnya kau rajin belajar?"

Dong Hyub: "Itu sebabnya aku tak mau rajin belajar, aku akan baik-baik saja kalau aku jadi orang kaya."

Colin: "Lalu bagaimana kau bisa menjadi kaya?"

Dong Hyub: "Bukankah aku sedang mencari tahu sekarang?"

Dan brak... tiba-tiba pintu ruang UKS terbuka. Yi Soo berdiri menatap marah keduanya. "Terang-terangan bolos dari kelas? Apa kalian pikir ini perguruan tinggi?"

Dong Hyub dan Colin langsung berdiri cemas karena persembunyian mereka ketahuan.

Yi Soo marah, "Kau belum lama pindah ke sekolah ini tapi sudah membolos dari pelajaran. Dan kau meminta maaf belum lama ini tapi kau sudah bolos dari pelajaran. Kau tulis tiga lembar essai reflektif dan kau panggil orang tuamu."

(Hukuman Dong Hyub menulis tugas sedangkan hukuman Colin orang tuanya dipanggil wih...)

inilah ekspresi kedua siswa bengal ketika mendapatkan hukuman hehe.

Yi Soo pun duduk berhadapan dengan orang tua Colin yang tak lain adalah Kim Do Jin. Awalnya Yi Soo bersikap formal. "Anak anda membolos dari kelas dan dia baru tiga hari disini."

"Aku juga datang kesini membolos dari kelasku." ucap Do Jin pelan (apa artinya ia cepat-cepat datang menemui Yi Soo dan meninggalkan pekerjaannya di kantor) "Kalau kau menghubungi pada jam-jam seperti ini aku tak punya pilihan."

Yi Soo: "Lalu kata-kata aku tak bisa aku tak akan aku tak ingin. Tak bisakah kau mengatakan salah satunya?"

Do Jin berkata ini karena ia penasaran tentang kemungkinan yang akan terjadi. Yi Soo menebak, "Maksudmu, apa kau ingin bertemu denganku?" Do Jin tak menjawab, ia hanya terus memandang Yi Soo.

Yi Soo pun memberikan saran lain atas kasus dan hukuman Colin, "Meskipun aku belum pernah melakukan sebelumnya. Tapi untukmu, aku akan melanggarnya dan meminta suap darimu. Tempatnya, aku akan mengirim SMS. Tolong bawa ponselmu selalu bersamamu!"

Yi Soo sedang membuat pengecualian terhadap hukuman Colin. Ia akan menerima suap yang akan diberikan Do Jin untuk menghapus hukuman Colin tapi tetap ia yang menentukan apa suap-nya.

Do Jin berjalan perlahan menuruni tangga sekolah menuju mobilnya. Tanpa sengaja ia mendengar ibu-ibu guru menggunjingkan tentang Yi Soo.

Guru Park terkejut sampai-sampai ia memuntahkan minuman yang tengah ia minum. "Benarkah? Apa dia itu pria tampan yang bersama Guru Seo?"

"Ya kudengar dia adalah ayah anak itu," sahut ibu guru yang lain. "Dia murid pindahan dari Jepang,"

Guru Park: "Apa ini? Sudah kubilang, sungguh aneh karena dia terlihat begitu sempurna. Apa dia bercerai?"

Si guru itu tak tahu karena ia sendiri tak terlalu yakin. Guru Park berkata kalau ini keterlaluan, "Dia selalu bicara tentang etika. Dia selalu bertingkah seolah-olah dia sendiri beretika. Tapi pada akhirnya dia pacaran dengan pria beranak satu? Ternyata pernikahan kedua."

"Memangnya dia orang kaya?" tanya guru yang lain.

Guru Park: "Tentu saja pasti orang kaya. Kalau tidak memangnya dia sudah gila? Menghancurkan sisa hidupnya. Aigoo... Guru Seo dia benar-benar tanpa pertimbangan."

Do Jin mendengar yang dibicarakan ibu-ibu guru ini dengan perasaan sedih dan terluka. Ia jelas tak ingin Yi Soo dicap buruk oleh masyarakat karena menjalin hubungan dengan pria beranak satu seperti dirinya.

Do Jin menerima SMS dari Yi Soo, Suapnya akan kuterima akhir pekan ini. Hari sabtu pukul 14.00 jangan membuat janji dengan orang lain

Hari dimana Yi Soo akan menerima suap dari Do Jin pun tiba. Ternyata Yi Soo menyuruh Do Jin janjian disebuah tempat di tepi danau. Disana Yi Soo sudah menyiapkan perlengkapan tamasya. Duduk di tikar dan juga makanan. Do Jin menatapnya heran.

Yi Soo mengatakan kalau agenda hari ini adalah tamasya. Ini adalah program yang sangat mendidik. Ia menyuruh Do Jin untuk duduk. Tapi Do Jin tetap berdiri di tempatnya, ia tak mengerti apa maksud semuanya ini.

"Silakan duduk ayah Colin!" Yi Soo kembali menyuruh dan kali ini Do Jin pun duduk di tikar yang sudah disiapkan Yi Soo.

Do Jin: "Sebagai lokasi untuk menerima suap, bukankah tempat ini terlalu terbuka?"

Yi Soo: "Oh benar, Ayah Colin menyukai tempat-tempat tertutup. Lain kali kita akan ke tempat seperti itu. Karena kau sudah datang lebih baik kita makan saja."

Yi Soo membuka bekal yang dibawa. Ia menyerahkan sumpit pada Do Jin. Do Jin menerimanya terheran-heran. "Aku tak memberikannya padamu agar kau bisa makan tapi agar kau menyuapiku." Ucap Yi Soo. Do Jin jelas terkejut jadi ini maksud suap oleh Yi Soo.

Yi Soo mengatakan kalau ia berjuang melawan rasa lelah untuk menyiapkan makanan ini pagi-pagi sekali, "Seperti berjuang dalam peperangan agar kau bisa menyuapiku dan kim Do Jin kau juga harus memakannya!" Do Jin diam saja ia hanya bisa menunduk.

Melihat Do Jin yang diam saja Yi Soo memberanikan diri bicara, "Kupikir aku sangat menyukaimu Kim Do Jin. Aku masih menyukaimu, bahkan setelah mengetahui bahwa kau ayah dari orang lain. Kupikir kalau aku membencimu setelah pertemuan hari ini maka aku akan menghentikan sikap keras kepalaku. Kalau aku merasa kesal setelah bertemu denganmu besok maka aku akan berhenti bersikeras. Tapi setiap aku melihatmu, aku menyerah. Lututku lemas dan jantungku berdegup kencang. Aku lelah berusaha menahan air mataku. Dengan situasi seperti ini, bagaimana mungkin kita putus?"

Do Jin mengatakan kalau yang Yi Soo ucapkan itu bukan pilihan yang benar. Yi Soo menyahut kalau Do Jin tak pantas memberinya saran. Ia tahu Do Jin bersikap seperti ini karena Do Jin takut dianggap tak tahu malu. "Tapi kau mencintaiku!" Kata Yi Soo.

"Karena aku mencintaimu haruskah aku mempertahankanmu? Karena aku mencintaimu haruskah aku terus mengganggumu? Orang-orang bahkan putus tanpa alasan yang jelas. Tapi kita,...." Do Jin tak melanjutkannya. "Wanita sepertimu, tak ada alasan bagimu untuk tetap berjalan di jalan yang mematikan ini."

Yi Soo: "Kubilang aku ingin melalui jalan ini. Yang harus kulakukan hanyalah berdiri di ujung jalan itu."

Do Jin: "Sebenarnya apa yang kau pikirkan?"

Yi Soo secepat kilat langsung memeluk dan membuat Do Jin diam tertegun. "Ini tidak terdengar seperti detak jantungku." Kata Yi Soo. Kemudian ia melepas pelukannya, Do Jin masih terdiam.

Yi Soo: "Kalau kau tak mau mengakuinya anggap saja itu detak jantungku, ayo makan!"

Yi Soo memakan bekalnya sendiri Do Jin terus memperhatikannya dengan tatapan sedih. Yi Soo makan dengan isak tangis yang sesenggukan. Do Jin memandangnya penuh kesedihan.

Do Jin mengantar Yi Soo pulang. Sepertinya Do Jin akan langsung pulang tapi Yi Soo menyuruhnya masuk ke kamar. Yi Soo langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Do Jin hanya berdiri melihatnya.

Sambil tiduran Yi Soo menyuruh Do Jin menepuk-nepuk dirinya hingga tertidur. "Aku menginginkanmu membelai rambutku sampai aku botak. Tak bisakah kau lihat, aku sudah berusaha keras. Aku sudah melakukan semua ini. Meskipun kau tak bisa melakukannya, setidaknya ikutilah aku. Sejak kita putus aku tak bisa tidur nyenyak. Karena itu, tepuk-tepuklah aku hingga aku tertidur. Kumohon!"

Do Jin pun duduk di sebelah Yi Soo yang terbaring lemah. Yi Soo memejamkan matanya. Do Jin mulai membelai rambut Yi Soo lembut dan menatapnya penuh kesedihan. Tanpa terasa air mata Yi Soo pun menetes. Do Jin melihatnya dan hatinya semakin terluka.

Do Jin keluar dari rumah Yi Soo dan menyendiri di mobilnya. Ia tak segera pulang, sepertinya ia menimbang-nimbang keputusan apa yang harus diambilnya.

Tiba-tiba pandangan Do Jin terarah ke depan arah pandangnya. Ia melihat dua orang pria turun dari mobil. Kedua pria itu sudah pernah ia lihat sebelumnya ketika ia mengikuti Yi Soo di sebuah kafe. Dua pria anak tiri Ibu Yi Soo.

Dan Yi Soo pun menemui kedua pria ini di sebuah kafe. Yi Soo heran kenapa keduanya datang ke rumah. Mereka bilang kalau Yi Soo masih seperti ini bisa jadi keduanya akan menemui Yi Soo di sekolah.

Mereka mengingatkan bukankah mereka sudah meminta Yi Soo membawa stempel dan kartu identitas. Yi Soo jelas tak mau untuk apa ia melakukannya. Mereka kesal meminta Yi Soo jangan membuang waktu, "Bagaimanapun juga wanita itu sudah tinggal di rumah kami lebih dari 10 tahun. Kami juga tahu apa yang pantas baginya."

"24 tahun," Yi Soo meralat. "Dia tinggal dengan keluarga kalian selama 24 tahun, wanita yang kalian bicarakan itu."

Yi Soo menelepon ibunya. Ia bertanya sebenarnya berapa banyak uang yang ibunya dapatkan dari warisan itu. Berapa besar sampai menyebabkan semua ini. Kedua kakak beradik ini menilai Yi Soo sudah gila melapor pada ibu seperti itu.

Yi Soo kesal bukankah ibunya sudah mengabaikannya dan tinggal di rumah itu selama 24 tahun. Tak bisakah ibunya mendapatkan uang itu secara terbuka. Kenapa ibunya harus hidup seperti ini. Ia menilai ini sudah keterlaluan, walaupun ia tak tahu berapa nilai harta mereka tapi ambilah sebanyak mungkin yang ibunya bisa.

Si adik marah dan merebut ponsel Yi Soo kemudian melemparkannya ke arah Yi Soo. Ia meminta Yi Soo berhenti menggunakan trik kotor seperti ini. "Hei, ibumu sudah merawat ayah kami sejak dulu. Kami akan memberinya sejumlah uang yang tidak akan mengecewakannya."

Mereka menunjukkan surat pernyataan yang harus ditanda tangani Yi Soo dan mereka tak akan menuntut apa-apa lagi. Isi surat itu agar ibu Yi Soo meninggalkan rumah ayah mereka untuk selama-lamanya.

Yi Soo kesal kenapa ia harus menyelesaikan urusan ini dengan keduanya. Bukankah ini masalah ibunya. Mereka bilang kalau Yi Soo memiliki hubungan darah dengan ibu Yi Soo. Kalau Yi Soo mengatakan bahwa Yi Soo menerima uang dan menyegel dokumennnya apa Yi Soo pikir dia akan bertahan sampai akhir. "Kalau dia tetap bertahan apakah dia masih manusia? Dia adalah pengemis."

"Apa kau bilang?" Yi Soo membentak marah.

Si adik ini juga marah ia sudah kesal dan seperti akan memukul Yi Soo. "Memangnya ada orang yang merasa senang setelah membuang-buang uang? Kami sudah bersikap baik. Apa kau pikir kami bercanda?"

Yi Soo berdiri kesal. Mereka mengingatkan agar Yi Soo jangan coba-coba melarikan diri karena ia akan mencari Yi Soo ke rumah dan ke sekolah. Yi Soo menahan kesal dan berkata kalau ia tak akan melarikan diri.

Yi Soo berada di toilet menangis sesenggukan.

Yi Soo kembali ke tempat dimana dua kakak beradik ini berada. Ada yang aneh ketika ia kembali. Ada pecahan gelas yang berserakan di lantai dekat tempat duduk kedua kakak beradik ini dan ia melihat keduanya tampak gelisah.

Melihat Yi Soo kembali dari toilet kakak beradik ini langsung berdiri dan berkata kalau tentang masalah sebelumnya anggap saja tak pernah terjadi dan Yi Soo jangan marah. Yi Soo tentu saja merasa heran sekaligus bingung karena keduanya tiba-tiba berubah sikap seperti ini. Kedua pun segera pamit.

Yi Soo mengambil tas dan ponselnya. Ia juga akan meninggalkan kafe, tapi kasir disana memanggil Yi Soo meminta Yi Soo membayar tagihannya. Yi Soo bertanya berapa semuanya. Kasir mengatakan kalau semuanya 228rb won. Yi Soo jelas kaget kenapa semahal itu.

Kasir mengatakan kalau itu biaya 3 cangkir kopi dan 3 set cangkir kopi yang pecah dan juga termasuk biaya untuk membersihkan kursi. Yi Soo jelas tak mengerti apa maksudnya kenapa ia harus membayar itu.

Kasir mendesah kesal dan mengatakan kalau kakak-kakak Yi Soo baru saja mengacaukan tempat ini. Yi Soo makin bingung, kakak-kakaknya. Kasir kembali mendesah kesal. Ia sadar kalau Yi Soo pasti bersikap seperti ini jadi ia sudah merekam semuanya dan ia pun menunjukan rekaman itu pada Yi Soo.

Disana terekam keempat ahjussi datang dan Tae San mengumpat dengan ciri khas sumpah serapahnya terhadap kedua kakak beradik anak tiri ibu Yi Soo. Yi Soo meminjam ponsel sebentar ia ingin melihatnya lebih jelas.

Flash Back

Yi Soo meninggalkan tempat duduknya menuju toilet. Setelah ia pergi Do Jin, Tae San, Yoon dan Jung Rok masuk. Do Jin langsung duduk di depan dua kakak beradik ini. Keduanya menatap empat orang yang baru datang ini terheran-heran.

Si kakak bertanya siapa mereka berempat ini. Do Jin mengatakan kalau ia melihat semuanya dari luar, "Kalian merampas ponselnya ketika dia sedang berbicara dan melemparkan ke arahnya. Kau pelakunya!" kata Do Jin menatap si adik.

"Siapa kalian?" tanya keduanya.

"Kami? Kami adalah kakak-kakak dari Seo Yi Soo yang tadi duduk disini." Jelas Do Jin.

Tae San duduk di sebelah Do Jin. Do Jin mengenalkan Tae San pada keduanya, "Kakak yang satu ini bisa mengumpat lebih baik daripada siapapun."

"Dasar kalian bayi anjing betina, beraninya menggunakan kekerasan pada wanita. Keterlaluan #$@%&." kata Tae San sambil menunjukkan pukulan-pukulannya, "Aku benar-benar ingin %$#@*&. Kalian aku ingin *&%$#@. Apa kalian mengerti, aku Im Tae San."

Kedua kakak beradik ini jelas kaget bukan main dan langsung mengkerut.

Jung Rok duduk di sebelah Tae San. Do Jin mengenalkannya, "Kakak yang ini memiliki uang lebih banyak dari siapapun."

Jung Rok melepas kaca matanya, "Aku seorang pemeras profesional. Namaku Lee Jung Rok."

Yoon duduk di sebelah Do Jin dan Do Jin pun mengenalkannya, "Kakak yang ini tak peduli bagaimana pun parahnya kekacauan yang kami buat. Dia selalu bisa menggunakan hukum untuk menyelesaikan masalah kami."

"Biro hukum Myung Yu, aku pengacara Choi Yoon." kata Yoon sambil menunjukan kartu namanya.

"Dan aku... adalah kakak yang mencintai Seo Yi Soo."

Do Jin menebak kalau Yi Soo kelihatannya tak memberi tahu kakak beradik ini kalau Yi Soo memiliki mereka berempat. Itu karena Yi Soo takut kedua kakak adik ini akan terluka. Tae San menyahut kalau dilihat dari gaya mereka berdua sepertinya mereka menyatakan kalau mereka ingin umur yang panjang.

Kedua kakak beradik ini panik, "Apa? Apa sebenarnya yang kalian inginkan?"

Do Jin: "Jangan pernah mengganggu Seo Yi Soo lagi. Kalau ada masalah bicara saja dengan pengacaranya!"

Si adik tersenyum meremehkan, "Gadis busuk itu sudah menaklukan pria menggunakan wajahnya."

Mereka berempat menahan kesal dan brak... secara bersamaan keempatnya menendang meja dan membentur lutut kakak beradik ini.

Keduanya meringis kesakitan memegangi lutut mereka.

Do Jin: "Kuperingatkan kalian, kalau kalian berani mencarinya lagi atau mengajaknya keluar masalahnya tidak akan diselesaikan secara beradab. Baik secara fisik, keuangan, hukum maupun pribadi. Kami bisa melakukan semuanya."

Flash Back End

Yi Soo jelas kaget campur terharu. Ia mengulang rekaman dimana Do Jin mengatakan kalau dia adalah kakak yang mencintai Seo Yi Soo. Ia bergegas keluar mencari mereka berempat siapa tahu masih belum jauh tapi ia tak melihat salah satunya.

Di rumah Tae San. Do Jin dan Jung Rok membantu menyiapkan makanan untuk peringatan meninggalnya Jung Ah. Jung Rok tanya apa masakannya perlu ditambahkan bawang putih. Tae San menyahut kalau makanan untuk sesajen ini jangan menambahkan bawang putih dan cabai. Bukankah ia sudah mengatakannya beberapa kali. Ia heran dengan taraf kecerdasan Jung Rok yang seperti itu kenapa bisa Jung Rok berkali-kali menghilang seharian. Jung Rok menyahut kalau itu pesonanya.

Yoon baru tiba dan mendengar ketiga temannya membicarakan makanan kesukaan Jung Ah. Ia terharu ketiga temannya begitu peduli terhadap mendiang istrinya.

Mereka berempat di apartemen ibu mertua Yoon menyiapkan sesaji yang mereka buat tadi. Ibu mertua Yoon mengingatkan bukankah ia sudah bilang kalau keempatnya tak perlu repot-repot seperti ini.

Tae San: "Ibu mertua kami ini bukan orang luar. Jung Ah adalah orang yang sangat berarti bagi kami."

Do Jin bertanya bagaimana keadaan ibu. Ibu mengatakan kalau ia baik-baik saja. Ibu mengingat lagi agar ketiga teman Yoon ini membujuk Yoon. Jung Rok berkata kalau Yoon tak akan mendengarkan apa yang mereka katakan. Yoon diam saja meneruskan menyiapkan semuanya.

Ibu mengatakan kalau ini sudah cukup dan tahun ini adalah untuk yang terakhir kalinya. "Kalau kalian melakukannya lagi aku akan melakukan persembahan di klenteng saja." Ia bertanya memangnya tak ada wanita yang menyukai menantunya ini. Ia berharap ketiga teman Yoon ini mencarikan satu untuk Yoon. Mereka terdiam.

Yoon menyahut mana mungkin tak ada, apa ibu mertuanya ini tak tahu betapa terkenal dirinya.

Meari mengunjungi rumah abu Jung Ah. (disana tertulis Jung Ah lahir 1 Desember 1972 dan meninggal 12 Juli 2008, berarti 4 tahun yang lalu)

Meari meletakan karangan bunga. "Kakak, sudah lama tak bertemu," ucap Meari. "Aku ingin kakak dan Kak yoon menghabiskan waktu bersama-sama kemarin. Itu sebabnya aku baru datang hari ini."

Tatapan Meari mulai sedih, "Sejujurnya aku merasa sangat bersalah berdiri seperti ini di depanmu. Karena itulah aku tak berani mengunjungimu. Tapi ada yang harus kusampaikan hari ini."

Air mata Meari mulai menetes, "Walaupun aku tahu aku tak pantas menyampaikannya tapi.. tak bisakah kakak mengijinkanku menyukai Kak yoon? tak bisakah Kakak membiarkan, Kak yoon menyukaiku juga? Aku benar-benar minta maaf, Kak. Aku sangat menyukai Kak yoon. Aku benar-benar minta maaf."

Tangis Meari semakin menjadi, ia terduduk di depan rumah abu Jung Ah. Ternyata tak jauh dari sana Do Jin, Jung Rok, Yoon dan Tae San melihat sekaligus mendengar apa yang dikatakan Meari.

Do Jin dan Jung Rok menoleh ke Tae San dan Yoon yang tampak terdiam. Yoon jelas sedih mendengar apa yang disampaikan Meari kepada mendiang istrinya. Tae San diam saja, tak tahu harus berbuat apa.

Do Jin dan Jung Rok berada di Mango Six. Jung Rok mengusulkan kalau keduanya harus mengadakan voting. Ia heran kenapa tak pernah ada hari yang tenang. Do Jin sendiri juga heran bukankah ia sudah berkali-kali mengatakan pada Jung Rok kalau Jung Rok tak pantas mengatakan itu.

Jung Rok: "Dari dulu aku selalu begini yang jadi masalah adalah kalian yang tiba-tiba berubah menjadi seperti ini. Bagaimana kalau Tae San dan Yoon bener-benar berhenti bersahabat? Apa yang harus kita lakukan?"

Do Jin: "Tae San dan aku adalah rekan bisnis. Aku dan Yoon tinggal serumah. Apa yang harus kulakukan?"

Jung Rok: "Apa maksudmu? Kita bantu saja pegawai kita masing-masing. Aku akan berada di pihak Meari. Aku lebih suka mendukung pegawaiku."

Do Jin: "Aku akan mendukung Yoon yang menolak Meari. Dia sama bodohnya denganku. Aku lebih suka mendukung yang bodoh."

Yoon di depan rumah abu istrinya. Tatapannya jelas memancarkan kesedihan dan kebimbangan.

Sementara Tae San mondar-mandir di kamarnya bingung apa yang harus diperbuatnya terhadap Meari.

Do Jin kembali ke apartemannya. Di depan gedung apartemen ia berpapasan dengan Yi Soo yang sudah menunggunya. Yi Soo berdiri memandangnya sambil membawa kotak hadiah.

Do Jin bertanya apa Yi Soo sedang menunggunya. Yi Soo menjawab pendek ya. Do Jin bertanya lagi apa Yi Soo menunggunya sudah lama. Yi Soo kembali menjawab ya, karena itu ia meminta Do Jin berhenti bersikap angkuh.

Yi Soo membuka kotak hadiahnya. Oh.. God sepasang sepatu pria.

Yi Soo jongkok meletakkan sepatu itu di bawah. Do Jin terkejut tak menyangka melihatnya ini sama persis seperti yang pernah ia lakukan pada Yi Soo dulu.

Yi Soo menatap Do Jin, "Kalau kau datang menemuiku, pakailah ini!"

Yi Soo berdiri sambil terus menatap Do Jin, "Ketika cuaca cerah berdandanlah yang tampan." sambung Yi Soo sambil tersenyum.

Apa yang akan dilakukan Do Jin?

Episode-17        

Do Jin, Tae San dan Yoon duduk santai menonton pertandingan sepak bola di rumah Tae San. Pertandingannya Park Ji Sung.

Do Jin memuji kalau pergerakan permainan Park Ji Sung sangat cepat. Ia pun bertanya apa kedua temannya ini masih ingat bahwa sudah 10 tahun berlalu sejak piala dunia 2002 berakhir. Park Ji Sung mencetak gol semata wayang Korea Selatan ke gawang portugal. (saya lupa karena yang saya ingat Ahn Jung Hwan mencetak gol ke gawang Italia dan itu menyebabkan dia didepak dari salah satu klub Italia yang dibelanya ketika itu)

Tae San mengatakan kalau ia sempat menangis ketika Tim Korea Selatan masuk babak 16 besar.

(Tim Korsel ternyata bisa mencapai babak 4 besar lho dan saat itu gagal menembus final karena dikalahkan Jerman 0-1 dan akhirnya Jerman juga harus mengakui keunggulan Brazil 0-2, hehe masih ingat donk gaya rambut Ronaldo yang menurut saya ga bagus. Sampai2 gaya rambut ini diikuti oleh sinetron indonesia KECIL2 JADI MANTEN yang mendongkrak nama artis (Almh) Sukma Ayu yang jadi Rohaye---yah jadi ngelantur kemana-mana)

Do Jin: "Waktu itu siapa yang menyangka atlit dari negara kita akan berlaga di EPL, aku sangat bangga padamu, Kak Ji Sung!"

Yoon heran Do Jin menyebut Park Ji Sung dengan sebutan Kakak. Do Jin mengatakan kalau pemain EPL (Liga Inggris) adalah kakak. Karena akhir-akhir ini Park Ji Sung itu pahlawannya.

Jung Rok datang membawa kue. Dan taraaaaa.... kue dengan miniatur robot diatasnya. "Taekwon V. Daebak kan?" Seru Jung Rok bangga. (Taekwon V : karakter anime robot Korea)

Tae San tak menyangka kalau Jung Rok masih kecanduan pada robot itu. Jung Rok tanya robot apa, dia itu pahlawan masa kecilnya. Melihat itu Yoon jadi teringat sesuatu, "Ketika kita kecil bukankah mereka mengatakan begitu sinar laser ditembakan dari Namsam, 63 bangunan akan memantulkannya. Lalu kubah terbuka dan dari sana Taewon V keluar."

Jung Rok berkata kalau ia masih menantikan saat itu dengan sungguh-sungguh, kalau dunia dalam bahaya Taekwon V akan keluar. Ia mempercayainya 100%. Tae San menyahut kalau ketika kecil dulu mereka mempercayai hal yang seperti itu dan juga berfikir kalau Taekwon V benar-benar bisa melindungi bumi. Do Jin berkata itulah yang namanya cita-cita anak kecil ketika itu. Karena mereka laki-laki sedikitnya yang mampu dilakukan adalah menyelamatkan bumi.

Yoon mengagumi pahlawan idolanya, menurutnya kalau Superman bukan hanya bisa menyelamatkan bumi dia bahkan mengelilingi dunia demi menyelamatkan wanita yang dia cintai. "Ah... aku hampir pingsan," kata Yoon mengagumi Superman.

Do Jin: "Hei... tetap saja baju ketat biru dan celana dalam merah tidak serasi. Aku menyukai penampilan hitam-hitam Batman yang modis."

Tae San tak sependapat, "Hei... Batman tidak melindungi bumi. Dia hanya melindungi lingkungan sekitarnya. Nama daerahnya Gotham. Tak ada bedanya dengan polisi dari Pos polisi Samseong-dong. Pahlawan yang sesunggunya adalah Spiderman!" Kata Tae San sambil menunjukan gaya Spiderman.

Hei ketiga temannya tak setuju. Menurut Jung Rok Spiderman itu terlalu bodoh. Pasti dia akan membuat anak dan istrinya kelaparan. "Taekwon V adalah yang terbaik."

Hei...Temannya tak setuju.

Yoon: "Taekwon V hanya terbuat dari besi tahan karat, kan? Tetap Superman yang terbaik. Dengan sinar laser yang terpancar dari matanya."

Tae san: "Hei... Batman hanya sampah kalau dia tanpa mobil dan senjatanya. Semuanya berkat perangkat teknologi. Dia pura-pura kesepian begitu dia berubah kembali."

Do Jin membela pahlawannya, "Senjata terkuat Batman adalah kesepiannya. Nuansa gelap berasal dari kesendiriannya. Sampai Superman dan Spiderman yang hanya tahu bagaimana cara mengejar keadilan tak bisa menang atasnya."

Jung Rok mengeraskan suaranya, "Hei kelelawar, laba-laba dan alien semuanya minggir. Taekwon V tetap nomor satu." Seru Jung Rok sambil menunjukkan jempolnya untuk Taekwon V.

"Mesin besi tahan karat, pergilah!" seru mereka bertiga. Keempatnya terus memperdebatkan pahlawan mereka masing-masing.

Suara Do Jin: "Hari itu kami tak menemukan pahlawan siapa yang terbaik. Dan juga diusia 41 tahun kami bahkan tak bisa menyelamatkan wanita yang kami cintai, apalagi menyelamatkan bumi. Kami memang bukan pahlawan hanya sibuk mencari nafkah dari hari ke hari. Kemanakah pahlawan impian masa kecil itu akan pergi? Akan menjadi pahlawan siapakah kami?"

Sinopsis A Gentlemans Dignity Episode 17

Do Jin akan kembali ke aparteman. Di depan gedung aparteman ia berpapasan dengan Yi Soo yang membawa bingkisan kado. Ia bertanya apa Yi Soo sedang menunggunya. Yi Soo menjawab ya. Do Jin kembali bertanya apa Yi Soo menunggunya dalam waktu yang lama lagi. Yi Soo juga menjawab ya maka dari itu ia minta Do Jin berhenti bersikap keras kepala.

Yi Soo berkata kalau saat Do JIn mengalami cinta bertepuk sebelah tangan dengannya, ketika itu ia mengabaikan perasaan Do Jin. Bahkan ia mengatakan pada Do Jin kalau ia menyukai pria lain. Jadi kalau ini adalah hukumannya karena sudah menyakiti hati Do Jin, ia berfikir hukuman yang ia terima sudah cukup. Do Jin menyanggah sama sekali bukan seperti itu yang ia fikirkan.

Yi Soo: "Kalau bukan datanglah padaku. Kakak yang mencintai Seo Yi Soo, Kim Do Jin. Datang menyelamatkanku tanpa kuketahui...."

Do Jin meminta Yi Soo jangan mempertaruhkan hidup dengan kata-kata yang tak berarti itu. Yi Soo menilai Do Jin pembohong. Haruskah Do Jin sekejam ini. Do Jin berkata kalau bersikap kejam bisa menyelesaikan masalah maka ia akan memilih jalan ini. Yi Soo mengingatkan bukankah sudah ia katakan tak apa-apa. Meskipun Do Jin adalah ayah anak itu, tak masalah untuknya. Do Jin menyela dan berkata kalau untuknya itu masalah. Karena ia tak ingin membuat Yi Soo tak bahagia. Ia tak ingin menghancurkan hidup orang lain lagi. karena itu...

Yi Soo menyela, "Baiklah aku akan pergi." Kalau itu yang Do Jin inginkan, ia akan melakukannya tapi itu akan terjadi dalam kehidupan selanjutnya karena dikehidupan sekarang ia tak bisa melakukannya.

Yi Soo membuka kotak kado yang dibawanya, sepasang sepatu pria. Ia meletakkan sepatu itu di bawah. Do Jin terkejut melihat apa yang dilakukan Yi Soo karena ini sama seperti yang pernah dilakukannya dulu. Yi Soo menatap Do Jin. Pandangan Do Jin beralih dari sepatu ke Yi Soo.

Yi Soo: "Kalau kau datang menemuiku, pakailah ini!"

Yi Soo berdiri masih tetap memandang Do Jin, "Ketika cuaca cerah berdandanlah yang tampan!" Ucap Yi Soo sambil tersenyum.

Tae San makan malam setengah melamun. Meari menyuguhkan minum untuk kakaknya. Ia heran karena sudah malam begini kakaknya masih belum makan malam, apa saja yang kakaknya lakukan. Tae San tak menjawab. Meari tanya apa kakaknya sangat sibuk di tempat kerja.

Tae San teringat apa yang dikatakan Meari di depan rumah abu Jung Ah. Tak bisakah kakak mengizinkan aku menyukai Kak Yoon?

Tae San tak nafsu makan, ia menghentikan makan malam dan naik ke kamarnya. Meari semakin heran dengan sikap kakaknya ia bertanya apa ada masalah. Tae San kembali tak menjawab, ia menuju kamarnya.

Di depan rumah Tae San, Yoon datang. Ia melihat kalau mobil Tae San terparkir disana dan menebak kalau Tae San ada di rumah. Tapi ia ragu apakah ia harus menekan bel atau tidak. Pikirannya bimbang.

Do Jin di kamarnya duduk di ranjang menatap bingkisan kado yang ia terima dari Yi Soo. Kemudian Do Jin pindah berbaring di lantai sambil memandang sepatu pemberian Yi Soo. Setelah itu ia tiduran di ranjang sambil memakai sepatunya. Do Jin duduk di tepi ranjang kembali menatap sepatu pemberian Yi Soo. ia tampak memikirkan sesuatu.

Yi Soo di rumah berfikir apakah yang dilakukannya tadi akan membuahkan hasil. Ia menuliskan sesuatu di buku catatannya. Se Ra datang dan menyampaikan kalau tisu toilet sudah habis. Yi Soo tengah meminum yogurt. Se Ra heran apa sekarang Yi Soo sedang diet bukankah Yi Soo sekarang tak punya pacar jadi kenapa harus diet. Yi Soo mengatakan kalau pacarnya itu akan kembali, ia sangat yakin dan percaya itu.

Se Ra ingin tahu kalau pacar Yi Soo kembali apa Yi Soo akan benar-benar memilih jalan itu. Yi Soo malah balik bertanya apa lagi yang bisa ia lakukan karena ia sangat merindukannya. Se Ra bisa memaklumi itu, ia berkata kalau ia dulu menentang yang namanya pernikahan haruskah sekarang ia mempertimbangkannya lagi.

Yi Soo menebak jangan-jangan... Se Ra mengiyakan ia mengatakan kalau Tae San dengan semangat berkata kesini jadi ia langsung masuk saja ke pelukan Tae San. Yi Soo mengucapkan selamat karena Se Ra bisa balikan lagi sama Tae San jadi mulai sekarang ia berharap Se Ra jangan...

Se Ra menyela kalau ia akan melakukan yang terbaik jadi Yi Soo jangan mengkhawatirkannya. Ia menyarankan Yi Soo minum saja supaya tambah cantik. "Berikan Kim Do Jin kejutan yang besar saat dia kembali."

Pagi hari, Do Jin menyiapkan kopi. Tepat saat itu Yoon datang setelah berolah raga. Yoon memberi tahu kalau Colin sudah berangkat sekolah. Do Jin berkata Colin masih canggung kalau berdua saja dengannya. Do Jin menawarkan apa Yoon mau kopi Yoon mau dan Do Jin membuatkannya.

Do Jin menyampaikan kalau kemarin ia menerima sepasang sepatu. Yoon tak menyangka dan bergumam apanya yang bagus dari Do Jin sampai menerima hadiah sepatu. Do Jin berkata benar karena itulah ia sudah memutuskan akan mempertahankan Seo Yi Soo. Yoon kaget campur senang, "Benarkah?"

Do Jin: "Aku tahu aku ini agak tamak, tapi kalau aku bisa menghargainya seumur hidupku aku yakin bisa membahagiakannya."

Yoon memuji kalau ini pagi yang indah. Ia berharap semoga Do Jin bernasib baik. Do Jin berkata kalau ini bukan hanya untuknya saja, Yoon dan Meari juga membutuhkannya.

Yoon: "Gunung itu terlalu tinggi untuk di daki. Im Tae San kita." (gunung yang tinggi maksudnya Tae San)

Do Jin: "Kau hanya bisa mendengar gema (Meari) begitu kau mencapai puncaknya."

Yoon: "Mengawali pendakian ke gunung itupun aku dilarang."

Yoon bilang kalau ia sudah hampir terlambat ia akan langsung mandi dan berterima kasih atas kopinya.

Hmmm... mau mengutip kata-kata Yoon, Mengawali pendakian ke gunung itupun aku dilarang apa ini bisa diartikan mencintai Meari itupun ia dilarang karena gunungnya yang terlalu sulit didaki. Apa ini mencerminkan kalau Yoon juga tak memungkiri perasaannya pada Meari. Hmmm...

Tae San menyerahkan materi akhir untuk presentasi proyek Qualze Island (wahahah aku kemarin nulisnya Court island hihi diganti ya) Tae San mengatakan kalau Manajer Choi sedang menyiapkan video presentasinya. Ia juga mengatakan kalau mereka sudah memesan 20 kursi untuk tamu undangan.

Do Jin memperkirakan siapa saja yang akan hadir, "Kau, aku, 9 orang dari tim desain, Yoon, Rok, Min Suk, Hong Pro, Meari."

Tae San menyela kalau Hong Pro sedang menyiapkan diri untuk pertandingan dan juga dia sedang menghindari alkohol jadi tak bisa datang dan Meari juga tak bisa datang karena sibuk mengerjakan hal lain. Do Jin tanya mengerjakan apa. Tae San tak memberi tahu dan menyarankan lebih baik mengundang staf lain kalau mereka punya waktu.

Staf Do Jin datang membawakan contoh undangan. Tae San heran apa mereka juga harus menyiapkan undangan segala. Do Jin bilang pada staf-nya kalau undangannya cukup bagus dan menyuruh untuk mencetaknya. Tae San pamit ia harus mengunjungi lokasi proyek. Sebelum Tae San pergi Do Jin mangungkapkan sebuah permintaan.

Do Jin: "Sebelum pestanya dimulai beritahu penyelenggara Qualze kalau aku pintar bermain drum."

Tae San: "Bukankah permainanmu jelek?" (hahahaha)

Do Jin kesal, "Mereka kan tidak tahu? Katakan saja aku pandai memainkannya, ya? Aku mengundang seseorang yang sangat penting."

Tae San bertanya siapa orang yang sangat penting itu. Do Jin tak mengatakannya ia cuma senyum-senyum hihi.

Jam sekolah usai, Yi Soo akan pulang tapi ia dikejutkan oleh seseorang yang memakai kostum boneka beruang sedang membagikan balon ke sejumlah siswanya. Yi Soo melarang kalau tak boleh berjualan di depan sekolah. Siswanya bilang kalau dia bukan sedang berjualan, dia hanya memberikan balon. Yi Soo jelas heran.

Kemudian orang yang memakai kostum boneka beruang itu memberikan sesuatu pada Yi Soo. Yi Soo menerimanya dan penasaran siapa dibalik kostum beruang ini. Dia juga memberikan balon untuknya dan melambaikan tangan padanya sebelum pergi.

Orang yang berada di dalam kostum pun pergi dan kelihatannya ia benar-benar sangat tak nyaman dengan kostum yang dipakainya.

Yi Soo membuka amplop yang baru saja diterimanya, sebuah undangan pameran Qualze Island. Ia pun berfikir keras.

Do Jin berada di dalam mobilnya menyusuri jalan raya dengan peluh membasahi tubuhnya. Ternyata yang di dalam kostum boneka beruang itu dirinya hehe.

Se Ra membantu Yi Soo memakai gaun untuk datang ke acara pameran Qualze Island. Se Ra bertanya apa Yi Soo yakin kalau itu Do Jin. Yi Soo bilang kalau ia sangat yakin, walaupun dia memakai kostum boneka beruang tapi ia masih bisa merasakannya hehe.

Se Ra memuji kalau pinggul Yi Soo bagus jadi gaun ini akan terlihat cantik ketika Yi Soo memakainya. Gaun ini dibuat hanya untukmu sahut Se Ra.

Yi Soo: "Apa aku benar-benar boleh memakainya? Kau bahkan tak bisa pergi." (wahaha jadi itu pinjem ya)

Se Ra: "Memangnya pesta itu sangat penting? Pertandinganku jauh lebih penting. Jadi aku bisa segera menikah."

Se Ra memuji kalau Do Jin sangat romantis. Tapi Yi Soo sendiri merasa cemas. Se Ra berpesan lebih baik Yi Soo menikmati saja pestanya dan juga harus tetap disana sampai lewat jam 12 karena Cinderella ini sudah tak muda lagi. Yi Soo mengangguk dan kembali berkaca melihat dirinya.

Meari merengek-rengek ingin ikut ke pesta pameran dengan kakaknya tapi Tae San melarang karena menurutnya ini bukan acara untuk anak-anak. Meari kesal ia bukan anak-anak ia juga ingin menghadiri pesta itu.

Ada SMS masuk di ponsel Meari. Kartu kredit dari bank: peringatan atas tunggakan kepada Meari

Ohoho... ternyata kartu kredit Meari nunggak. Ia cemas dan Tae San merebut ponselnya. Meari marah kenapa kakaknya melihat ponselnya itu privasinya. Tae San jelas marah, "Apa kau menunggak pembayaran kartu kreditmu?" Meari bilang kalau jumlahnya tak banyak. Ia berjanji akan langsung membayarnya begitu ia gajian. Tae San mendesah dan menyuruh adiknya duduk. Meari cemas kenapa.

Tae San mengambil sesuatu dari laci. Ia meletakkannya diatas meja sebuah tiket pesawat. Meari bingung kenapa dengan tiket pesawat itu.

Tae San tak mengerti untuk apa Meari bekerja kalau membayar kartu kredit saja tak bisa. Kalau adiknya terus seperti ini, lebih baik kembali ke Amerika. Meari heran kenapa kakaknya ini membesar-besarkan masalah sepele karena hal seperti ini (nunggak bayar kartu kredit) sering terjadi pada kebanyakan orang.

Tae San berkata kalau ia melihat Meari di makam Jung Ah. Ia melihatnya sendiri jadi adiknya jangan mencoba menyembunyikan atau menyangkalnya. Meari kaget dan mengaku salah tapi Tae San tak mau lagi mendengar, "Kau benar-benar tak tahu apa kesalahanmu. Aku tak punya pilihan lain."

Tae San meninggikan suaranya bukankah ia sudah mengingatkan Meari berulang kali. Ia meminta Meari segera mengemasi tas, ia sudah menghubungi Bibi yang di Amerika. Meari memohon ia tak mau ke Amerika, "Kakak aku bersalah aku tak mau ke sana!"

Di tempat pesta. Tae San menemani para tamu. Do Jin berdiri di pintu masuk menunggu seseorang. Ia celingukan kesana-kemari gelisah menunggu.

Jung Rok, Min Suk dan Yoon datang bersamaan. Jung Rok memuji penampilan Do Jin terlihat tak buruk. Yoon menambahkan kalau penampilan Do Jin cukup tampan. Ia memberi selamat. Do Jin menyuruh ketiganya untuk duduk karena tempatnya sudah disediakan.

Staf Do Jin datang menghampirinya dan mengatakan kalau semuanya sudah siap. Do Jin bisa naik ke atas panggung setelah Presdir Qualze memperkenalkan Do Jin.

Dan inilah Presdir Qualze, dia adalah orang yang ditemui Do Jin di Chuncheon ketika kesana bersama Yi Soo. Ia pun memperkanalkan dua orang bujangan yang membangun resort ini, Kim Do Jin dan Im Tae San.

Semua tepuk tangan, Do Jin dan Tae San memberi hormat pada tamu undangan kemudian keduanya melakukan tos.

Dan inilah presentasi yang disampaikan Kim Do Jin. Ia mengatakan kalau resor Qualze dirancang sebagai tempat dimana orang-orang bisa menikmati 4 musim kapan saja (wow keren)

Dan disela-sela presentasi Do Jin, Yi Soo muncul di tengan-tengah kerumunan tamu undangan. Do Jin melihatnya dan diam terpaku sejenak. Yi Soo tersenyum padanya. Do Jin berusaha menguasai diri dan melanjutkan presentasi.

Riuh tepuk tangan menyambut setelah Do Jin menyelesaikan presentasinya dengan baik. Tak terkecuali Yi Soo.

Yi Soo melihat Do Jin tengah sibuk berbincang dengan Presdir Qualze. Do Jin melambaikan tangan memberi tanda agar Yi Soo menunggu sebentar.

Yi Soo menyapa Min Suk dan Jung Rok. Min Suk jelas tak menyangka Yi Soo ada disana, Jung Rok menebak apa Yi Soo dan Do Jin menjalin hubungan lagi. Yi Soo tak menjawab ia cuma tersenyum. Min Suk bersyukur Yi Soo dan Do Jin bersama lagi tapi ia heran kenapa Yi Soo bersama mereka disini seharusnya Yi Soo bersama Do Jin.

Min Suk mengambilkan dua gelas minuman dan memberikannya pada Yi Soo, "Pergilah! Sebelum wanita lain merebutnya, cepat tangkap dia lebih dulu! Kelihatannya Presdir Kim sangat populer." Kata Min Suk. Yi Soo menerima dua gelas minuman itu dan berterima kasih.

Yi Soo mencari keberadaan Do Jin, ia celingukan kesana-kemari tapi tak melihat sosok pria itu. Ternyata Do Jin juga sama mencari keberadaan Yi Soo sambil membawa dua gelas minuman. Keduanya bertemu pandang dan saling melempar senyum.

Karena keduanya masing-masing membawa dua gelas minuman maka Do Jin dan Yi Soo bersulang dari kejauhan meminum satu gelasnya. Setelah meneguk habis satu gelas keduanya saling menghampiri.

Do Jin mengamati penampilan Yi Soo dari atas sampai bawah, "Siapa yang menyuruhmu berpenampilan begitu cantik? Kau hampir mengacaukan presentasiku."

Yi Soo tersenyum dan berkata kalau presentasi Do Jin sangat bagus dan juga sangat mengesankan. Keduanya kembali saling tersenyum dan meminum minuman mereka.

Yoon akan mengambil makanan ia berpapasan dengan Tae San keduanya terlihat canggung. Yoon mengatakan kalau Jung Rok dan Min Suk juga ada disini. Tae San bersyukur karena sudah lama sekali rumah tangga mereka tak damai seperti ini. Ia bertanya apa Yoon sudah makan. Yoon bilang kalau ia baru mau makan.

Yoon bertanya apa karena dirinya Meari tak datang. Tae San tak menjawabnya ia minta maaf karena Meari sudah sangat tak sopan datang ke makam Jung Ah. Ia sudah mengatakan pada Meari agar berhenti mengganggu dan membuat Yoon kesal. Ia kembali minta maaf atas semua itu. Yoon berkata kalau semua itu tak seburuk yang Tae San bayangkan jadi ia berharap Tae San tak terlalu keras pada Meari.

Ponsel Yoon berdering, Meari yang meneleponnya. Ia tak segera menjawab karena tak enak di depannya ada Tae San. Tae San menebak apa itu dari Meari. Yoon mengiyakan. Tae San heran kenapa Yoon tak menyangkal saja kalau itu bukan dari Meari. Yoon berkata bagaimana mungkin ia berbohong pada Tae San. Tae San menyuruh Yoon menjawabnya karena pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan Meari pada Yoon dan mungkin juga ada sesuatu yang ingin Yoon sampaikan pada Meari.

Yi Soo masih bersama dengan Do Jin. Pandangannya beralih ke bawah, ia melihat sepatu yang Do Jin kenakan ternyata bukan sepatu pemberiannya. Raut wajahnya menunjukkan kekecewaan.

Do Jin memperhatikan sikap Yi Soo yang tiba-tiba berubah, ia bertanya kenapa Yi Soo datang terlambat. Yi Soo minta maaf karena ia terlalu lama bercermin. Do Jin mengartikan pernyataan Yi Soo ini, menurutnya ada pria yang menarik perhatian Yi Soo disini. Ia pun bertanya siapa pria itu.

Yi Soo tak menanggapi malah memberanikan diri bertanya kenapa Do Jin tak memakai sepatu itu hari ini. Do Jin malah balik bertanya, "Sepatu apa? Apa sepatu yang kubelikan?"

Yi Soo bingung, "Bukankah aku... dua hari yang lalu..."

"Dua hari yang lalu? Ah, apa aku mengatakan hal yang bodoh lagi?" tanya Do Jin.

Tatapan Yi Soo berubah menjadi kecemasan, jangan-jangan.... Do Jin mengiyakan, "Aku kehilangan memoriku beberapa hari terakhir ini." Yi Soo heran apa Do Jin tak mendengarkan rekaman karena disana ada banyak kenangan. Do Jin mengatakan kalau ia juga kehilangan recordernya. "Kau... apa mengatakan sesuatu yang penting padaku?"

Yi Soo tak tahu harus bilang apa, "Bagaimana? Tidak bagaimana? Lalu kenapa kau mengundangku? Apa yang di dalam boneka beruang itu bukan kau?" Do Jin malah balik bertanya, "Memangnya aku mengundangmu?"

Yi Soo: "Lalu menurutmu kenapa aku datang kesini hari ini?"

Do Jin: "Apa karena kau merindukanku? Sebenarnya ada apa dengan sepatu? Jangan-jangan... apa kau memberinya sebagai hadiah untukku?"

Yi Soo kecewa dan bilang kalau Do Jin tak perlu tahu. Do Jin setengah tersenyum dan berkata kalau ia benar-benar penasaran.

Presdir pemilik resor Qualtz menyapa Do Jin. Ia mendengar kalau Do Jin pintar bermain drum. Do Jin tersenyum dan bertanya siapa yang bilang ia mengatakan kalau permainannya belum selevel dengan pemain drum profesional. Presdir Qualtz meminta Do Jin mencobanya dulu, bagus atau tidak itu tak masalah karena ini hanya untuk bersenang-senang.

Do Jin memberi tahu Yi Soo kalau ia akan bermain drum. Ia minta Yi Soo mendekat dan memperhatikan baik-baik. Yi Soo diam saja dan mendesah kesal.

Park Min Suk melihat suaminya tengah berbincang dengan seorang wanita. Keduanya tampak senang dan tertawa-tawa. Ia menahan marah jelas ini karena ia cemburu. si wanita itu pergi, Min Suk menghampiri suaminya dan bertanya siapa wanita tadi apa Jung Rok tak ingin mengenalkan wanita itu padanya.

Jung Rok mengatakan kalau wanita itu hanya bertanya dimana tempat parkir jadi kenapa ia harus mengenalkan wanita itu pada istrinya. Min Suk jelas tak percaya ia akan bertanya pada wanita itu langsung.

Benar saja ia pun bertanya pada wanita itu apa yang ditanyakan wanita itu pada pria yang ada disana. Wanita itu mengatakan kalau ia tadi bertanya dimana tempat parkir. Wanita itu pergi Min Suk terdiam karena ia sudah berfikiran negatif tentang suaminya.

Jung Rok merangkul istrinya dan bergumam apa sebesar itu rasa suka Min Suk terhadap dirinya. Apa yang dikatakan wanita tadi apa dia mengatakan sesuatu yang tak masuk akal. Min Suk berkata kalau yang paling tak masuk akal sekarang adalah dirinya.

Dan inilah aksi Kim Do Jin bermain drum (mikir-mikir dulu nih coz irama lagunya mirip sama lagunya Krisdayanti ... Pilihlah aku jadi pacarmu)

Yi Soo memperhatikan permainan drum Do Jin dengan perasaan kesal karena Do Jin tak mengingat kejadian ketika ia memberikan sepatu.

Karena sudah terlanjur kesal Yi Soo tak menikmati permainan musik yang dimainkan Do Jin dkk. Ia pun meninggalkan tempat dan pergi begitu saja. Do Jin jelas heran melihatnya tapi ia tetap meneruskan permainannya sampai selesai. Yi Soo pergi meninggalkan gedung tempat acara berlangsung.

Permainan musik Do Jin dkk selesai dan mendapat tepuk tangan. Do Jin dkk berdiri di depan memberi hormat pada semuanya dan lihat oh oh.. sepatu pemberian Yi Soo dipakainya. Do Jin segera lari keluar menyusul Yi Soo, tapi sayang wanita itu sudah pergi. Ia celingukan tapi tak menemukannya.

Yi Soo di rumah menangis meraung-raung marah sambil mengemasi pakaian dan memasukannya ke koper, "Kenapa dia tega melakukan ini? Kenapa dia tega melakukan ini padaku? Huhuhu.... aku sudah mengatakan padanya dengan jelas ketika aku memberinya sepatu itu hohoho.. ketika cuaca cerah. Sudah selesai. Selesai. Hohoho... memangnya kau siapa berani menyimpulkan kalau aku menyukaimu setengah mati? Brengsek!"

Yi Soo terus menangis (nangisnya bikin ketawa haha) Do Jin meneleponnya. Yi Soo marah-marah memandang ponselnya, "Aku tak mau menjawab dasar brengsek. Dasar orang jelek. Huhuhu... aku mau pergi!"

Yi Soo mengendarai mobilnya. Ia melewati kafe dimana kemarin ia janjian bertemu dengan dua kakak beradik anak tiri ibunya dan disana Do Jin dan ketiga temannya datang. Ia menatap sinis kafe itu, "Apa? Kakak yang mencintai Seo Yi Soo. Apa kau tahu apa itu cinta?"

Yi Soo berhenti di depan kafe dan menemui kasir wanita yang kemarin. Yi Soo ingin meminta video yang kemarin. Si kasir bertanya kenapa, apa Yi Soo membutuhkan video itu untuk barang bukti atau untuk apa. Yi Soo bilang kalau ia ingin mengutuknya.

Yoon menunggu Meari di tempat keduanya pernah janjian dulu. Yoon mengingat ketika ia mengusap rambut Meari di tempat ini.

Meari datang dan tersenyum pahit menatap Yoon. Yoon bertanya apa Tae San memarahi Meari, apa Tae San marah besar. Meari mengatakan kalau karena itulah ia diusir dari Korea. Meari memberi tahu kalau kakaknya menyuruh dirinya pergi ke Amerika bahkan kakaknya sudah membelikan tiket pesawat untuknya. Ia melihat kalau kakaknya ini sungguh-sungguh dengan keputusannya. Meari berkata kalau ia sengaja datang kesini janjian dengan Yoon untuk bertanya yang terakhir kalinya, apa benar-benar tak bisa. Yoon diam.

Meari meninggikan suaranya, kenapa tak bisakah Yoon melawan kakaknya. Tak bisakah Yoon menyingkirkan persahabatan dengan kakaknya.

"Pergilah!" Yoon menyuruh Meari pergi ke Amerika. Meari dengan tegas menolak pergi, ia ingin Yoon mempertahankannya supaya tetap tinggal.

Meari mulai menangis, "Bagaimana mungkin aku pergi? Kalau aku pergi sekarang kita tak akan pernah saling melihat lagi."

Yoon: "Dasar gadis ini, sudah kubilang bicaralah yang sopan padaku!"

Meari: "Kakak mengatakannya karena tak ada yang bisa kakak katakan,"

Yoon: "Inilah yang ingin kukatakan, apa kau tahu usia kita terpaut sangat jauh?"

"Aku tahu. Kubilang aku tahu kan? Aku... mencintai Kakak. Kakak, kau lah tujuan hidupku. Aku sangat menyukaimu. Tolong pertahankan aku!" Meari menangis keras.

Yoon berkata kalau di dunia ini tak ada orang yang lebih memperhatikan Meari daripada Tae San. Kalau Tae San menyuruh pergi maka Meari harus patuh karena Tae San tahu apa yang terbaik untuk Meari. Ia berpesan agar Meari belajar yang baik begitu tiba disana, ia juga berpesan agar Meari menjaga diri. Yoon pergi meninggalkan Meari yang terus menangis.

"Baiklah. Kubilang baiklah. Dengarkan aku sekali lagi. Dengarkan apa yang kukatakan sebelum kakak pergi!" Pinta Meari membuat Yoon menghentikan langkahnya membelakangi Meari.

"Aku tak bisa menjamin kalau aku bisa melupakan kakak. Tapi kalau aku tak bisa, kalau aku benar-benar tak bisa, Kakak pergi dan lupakanlah aku!"

Mata Yoon berkaca-kaca. Ia tak kuasa menahan air matanya, persaannya sedih mengetahui kalau Meari akan berada jauh darinya. Meari mengucapkan selamat tinggal dengan perasaan sedih. Yoon mendengarnya dengan perasaan terluka dan air mata yang menetes deras. Tapi ia tak menunjukan air matanya di depan Meari, ia berlalu meninggalkan Meari yang terus menangis keras.

Yoon sampai di kamarnya, ia tak tahu apa yang harus dilakukan dan keputusan apa yang harus ia ambil. Air matanya terus menetes deras menyadari kalau Meari akan pergi lagi dari sisinya. Hatinya semakin terluka. Yoon berusaha menahan kesedihannya tapi itu membuat dadanya semakin terasa sesak dan air mata yang terus mengalir deras.

Yi Soo mabuk di sebuah kamar hotel. Ia sudah menghabiskan dua botol minuman dan akan minum lagi. Ternyata Yi Soo membawa banyak minuman di kopernya. Ia meminum semua itu untuk melampiaskan kekesalan sekaligus kekecewaannya. Yi Soo membongkar pakaian yang dibawanya, setelah tahu kalau yang dibawa hanya pakaian atasan ia mengumpat dirinya sendiri. Ia pun kembali meminum minumannya.

Yi Soo melihat rekaman yang ia dapatkan dari kasir kafe tadi. Ia kembali memutar rekaman dimana Do Jin mengatakan kalau Do Jin adalah kakak yang mencintai Seo Yi Soo.

Yi Soo berteriak marah, "Berhenti membodohiku brengsek. Apa ini cinta? Berhenti. Pergilah dari hidupku!" Yi Soo melempar ponselnya ke tempat tidur.

Do Jin mencari Yi Soo ke rumah. Se Ra heran kenapa Do Jin mencari Yi Soo ke rumah karena yang ia tahu Yi Soo datang ke pesta, apa Do Jin tak bersama Yi Soo tadi. Do Jin mengatakan kalau tadi ia bermaksud memberi Yi Soo kejutan dan membuat sedikit lelucon tapi Yi Soo pergi tanpa melihat bagian akhirnya (hoho jadi Do Jin tadi pura-pura)

Do Jin juga mengatakan kalau Yi Soo tak menjawab panggilan teleponnya. Ia mengira Yi Soo akan menjawab kalau Se Ra yang menelepon. Se Ra menyahut kalau Yi Soo pasti sudah membesar-besarkan masalah lagi, ia pun segera menghubungi Yi Soo. Se Ra melihat sepatu yang dikenakan Yi Soo ada di rumah. Ia menebak kalau tadi Yi Soo pasti pulang ke rumah.

Se Ra bertanya dimana Yi Soo. Ia mendengar suara Yi Soo yang kacau dan menebak kalau Yi Soo sedang minum-minum, "Kata Kim Do Jin kau menghilang dia mencarimu kemana-mana."

Dengan suara yang sudah mabuk Yi Soo bertanya untuk apa Do Jin mencarinya, "Di kota tepi danau indah ini haruskah aku mendengar nama si brengsek itu? aku sedang dalam perjalanan perpisahan."

Se Ra tak mengerti danau apa dan Yi Soo pun menutup teleponnya. Se Ra mengatakan pada Do Jin kalau Yi Soo sedang dalam perjalanan perpisahan di sebuah kota tepi danau. Ia bertanya apa Do Jin tahu dimana itu. Do Jin berfikir sejenak dan ia tahu dimana tempat itu, Chuncheon. Ia sadar kalau mobil Yi Soo tak ada dan pasti Yi Soo menyetir kesana.

Do Jin sampai di tempat parkir sebuah hotel di Chuncheon. Ia mengamati setiap mobil disana siapa tahu ada mobilnya Yi Soo. Ia pun melihat mobil Yi Soo terparkir disana. Do Jin bergumam, "Sepertinya aku tak boleh membiarkannya menyetir, Ny Seo-ku!"

Do Jin ke resepsionis menanyakan tamu yang bernama Seo Yi Soo apa ada di daftar tamu karena ia melihat mobilnya di tempat parkir. Tapi petugas resepsionis menolak memberi tahu siapa tamu yang menginap di hotel karena itu privasi.

Do Jin menunjukan foto Yi Soo yang tersimpan di dompetnya. Petugas itu bilang kalau wanita itu cantik tapi yang namanya kebijakan hotel tetap tak boleh dilanggar. Do Jin berkata apa petugas itu tak percaya padanya, ia pun minta maaf dan akan menunggu sampai Yi Soo keluar sendiri.

Do Jin menunggu Yi Soo di lobi hotel. Ia berusaha menghubungi Yi Soo tapi ponselnya tak aktif. Mata Do Jin tetap terjaga mengamati siapa saja yang keluar dari lift. Sampai hari mulai terang Yi Soo tak juga muncul. (bosan, ngantuk, lelah campur aduk menjadi satu donk ya)

Sampai akhirnya Do Jin melihat Yi Soo keluar dari lift dengan langkah gontai menuju meja resepsionis. Ia tersenyum menatap Yi Soo dan akan menghampirinya tapi ia terkejut karena ada seorang pria bersama Yi Soo membawakan barang-barang dan masuk lift bersama. Do Jin menatapnya curiga.

Do Jin langsung bergegas ke tempat parkir dan disana pria itu naik mobil bersama Yi Soo. Pria itu bahkan membukakan dan menutup pintu mobil untuk Yi Soo. Do Jin jelas kesal campur cemburu. keduanya pergi dari tempat parkir, Do Jin pun segera masuk ke mobil dan mengikuti mereka.

Mobil Yi Soo sampai disebuah tanah lapang. Mobil Do Jin ikut berhenti disana tak jauh dari mobil Yi Soo. Yi Soo dan pria itu keluar dari mobil. Do Jin mengamati keduanya penuh kecurigaan. Yi Soo memberikan sejumlah uang ke pria tadi dan saling membungkuk memberi hormat tanda terima kasih, kemudian pria itu pergi. Melihat itu Do Jin tertawa ternyata pria itu hanya menjadi supir pengganti untuk Yi Soo. Ia heran berapa banyak sebenarnya yang diminum Yi Soo sampai tak bisa menyetir sendiri seperti ini.

Yi Soo berjalan menyusuri tempat yang dulu pernah ia kunjungi bersama Do Jin. Do Jin mengikutinya dari belakang. Yi Soo berjalan lemas, "Dasar brengsek. Apa kau pikir aku ke sini untuk mengingat kenangan bodoh bersamamu? Lucu sekali."

Ponsel Yi Soo berdering, Meari yang menelepon. Meari bicara dengan nada sedih dan karena terlalu banyak minum Yi Soo sendiri hampir muntah. Meari bertanya dengan suara sedih bagaimana caranya mengetahui kalau cinta sudah berakhir. Yi Soo kaget karena hal yang ditanyakan Meari itu yang ia alami sekarang. Ia bertanya siapa yang menyuruh Meari meneleponnya sekarang bagaimana Meari tahu kalau hal itu ia juga sedang mengalaminya.

Meari hampir menangis ia mengatakan kalau ia dan Yoon sudah benar-benar putus dan berakhir. Yi Soo pun ikut sedih ternyata Meari juga bernasib seperti dirinya. Meari mulai menangis, "Guru aku masih tak mempercayainya."

Yi Soo mendesah pelan karena ia pun belum mempercayai apa yang di alaminya. Ia melihat sekeliling tempat yang pernah ia datangi bersama Do Jin. Terlintas dalam benaknya kebersamaannya dengan Do Jin di tempat itu, "Sekarang kau juga ingin menangis kan?"

"Ya..." jawab Meari sambil menangis.

"Kenangan yang ada semakin jelas kan?"

"Ya...." Meari terus menangis.

"Dan kau merindukannya setengah mati kan?"

"Ya...."

"Kalau begitu memang sudah berakhir. Orang-orang menyebutnya sebagai perpisahan yang pedih. Tapi sebenarnya kita dicampakkan." Kata Yi Soo pelan. Suara tangis Meari semakin menjadi. Keduanya menutup telepon menangisi nasib masing-masing.

Yi Soo mulai mengumpat lagi, "Dasar brengsek. Brengsek kalian semua. Kim Do Jin kau brengsek!" teriak Yi Soo.

Do Jin berjalan mendekat ke arah Yi Soo. Ia kini berdiri di samping Yi Soo, "Lebih baik kau maki aku di depanku. Kenapa kau memaki di belakangku?"

Yi Soo menoleh dan kaget bukan main, sampai-sampai saking kagetnya ia terjatuh terduduk. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mengira kalau ia berhalusinasi karena minum terlalu banyak.

Do Jin tersenyum memandang Yi Soo dan mengulurkan tangan untuk membantu Yi Soo berdiri. Yi Soo masih berfikiran kalau itu hanya halusinasinya. Tapi berulang kali ia menggeleng-gelengakan kepala Do Jin tetap berdiri di depannya tersenyum sambil mengulurkan tangan padanya.

Yi Soo diam saja masih tak percaya dengan yang dilihatnya. Do Jin terpaksa menarik Yi Soo untuk berdiri dan membersihkan kotoran yang menempel di baju Yi Soo karena terjatuh tadi. Yi Soo masih terdiam sambil memandang Do Jin. Do Jin bergumam kalau wanita ini kelihatannya selalu bemasalah dengan pantatnya.

Do Jin: "Aku Kim Do Jin mempunyai anak berumur 19 tahun, masa lalu yang rumit dan pacar yang tak terhitung jumlahnya. Aku bukan pria yang baik. Kalau kau tak keberatan dengan pria sepertiku, mau-kah kau pacaran denganku?"

Yi Soo mulai sadar kalau yang ada di depannya ini benar-benar Do Jin, "Pacaran apa maksudmu? Tidak mau! Aku tak mau pacaran sialan apapun lagi. Aku mau menghabiskan hidupku sendirian."

Yi Soo akan pergi tapi kemudian langkahnya terhenti dan berbalik lagi menatap sepatu yang dikenakan Do Jin. Ia melihat sepatu pemberiannya dipakai oleh Do Jin, "Sepatu itu...." Do Jin mengatakan kalau ia juga memakainya ketika menabuh drum. Yi Soo tak paham apa maksud Do Jin.

Do Jin: "Ketika kukatakan aku kehilangan memoriku, sebenarnya aku berbohong. Sebenarnya aku ingin memberi kejutan padamu diatas panggung makanya aku berbohong. Siapa sangka kau tak bisa menunggu bahkan sebentar saja? Dan kau benar-benar pergi."

"Benarkah?" Yi Soo masih tak percaya.

Do Jin: "Kalau tidak untuk apa aku jauh-jauh datang kesini? Kemarin aku memperlakukanmu dengan lembut, menurutmu apa itu tak aneh?"

Yi Soo hampir menitikan air mata tapi ia tiba-tiba membentak keras, "Hei Kim Do Jin kau mau mati ya?" Yi Soo pun menangis keras, "Kenapa kau membuat lelucon seperti itu pada orang bodoh sepertiku? Meskipun kau memberitahuku aku juga tak akan mengerti. Semalaman aku sangat... huhuhu...."

Do Jin menyadari kesalahannya dan langsung memeluk Yi Soo, "Aku minta maaf." Ucapnya. Yi Soo menangis keras dan berpesan lain kali Do Jin harus memberi tahunya. Do Jin berjanji lain kali ia akan melakukannya ia benar-benar minta maaf. Yi Soo terus menangis, "Kau datang memakai sepatu itu,"

Do Jin mencium sesuatu di tubuh Yi Soo yang sangat menyengat ia pun menutup hidungnya hehe. "Berapa banyak sebenarnya yang kau minum?" Yi Soo ngamuk-ngamuk memukul di pelukan Do Jin dan berkata kalau ia minum karena Do Jin. Yi Soo memuji sambil menangis kalau sepatunya sangat bagus.

Do Jin: "Melihat siapa yang memberikannya bagaimana mungkin tak bagus? Dan aku memakainya."

"Kau berisik sekali dasar brengsek!" kata Yi Soo terus menangis. Do Jin tersenyum. Yi Soo terus menangis, keduanya terus berpelukan erat.

Park Min Suk keluar dari ruangan dokter kandungan dengan wajah tampak sedih. Terdengar suara dokter tadi berkata padanya, Walaupun peluang kehamilan menurun seiring bertambahnya usia tapi itu bukanlah persoalan yang penting karena kondisi setiap orang berbeda-beda, semangatlah!

Min Suk duduk di bangku dekat ruangan dokter ia melamun sendirian. Tiba-tiba ada seseorang yang duduk di dekatnya. Min Suk geser sedikit tanpa menoleh siapa yang duduk di sampingnya yang ternyata Jung Rok, suaminya.

Min Suk jelas terkejut melihat Jung Rok ada disana. Jung Rok menggenggam tangannya kemudian meraih kepala Min Suk agar bersandar di dadanya. Ia berkata seharusnya mereka pergi bersama dan ia pun bertanya apa yang dikatakan dokter. Min Suk mengatakan kalau keduanya harus tetap berharap. Jung Rok membenarkan bukankah ia sudah bilang tapi Min Suk tak pernah mempercayai ucapannya malah lebih percaya apa perkataan dokter. Min Suk menyangkal kalau ia juga tak mempercayai perkataan dokter, tapi menurutnya berharap adalah sesuatu yang hanya dilakukan saat sudah tak ada harapan.

Jung Rok berkata bukan. Mereka pasti bisa punya anak. "Kalau saja aku tak diusir dari rumah kita pasti sudah punya anak. Karena itu, meskipun kau membenciku setidaknya izinkan aku tidur di rumah. Meskipun kau membenciku, kau harus tetap selalu tidur denganku!"

Min Suk mengatakan kalau akhir-akhir ini ia tak membenci Jung Rok. Jung Rok tahu itu ia juga akhir-akhir tak takut pada Min Suk. Min Suk menatap tajam suaminya, "Kau tak takut padaku?" Jung Rok terbata-bata menjawabnya, mulai besok katanya.

Jung Rok mengajak istrinya pulang. Keduanya berdiri, Min Suk mengingatkan lebih baik Jung Rok itu takut padanya kalau tidak bagaimana mungkin ia bisa membuat Jung Rok hidup dengannya.

Jung Rok: "Segalanya. Mulai sekarang akan kuberikan segalanya untukmu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Hanya kalau kau bersedia menerima, hatiku juga akan kuberikan padamu."

"Pertama-mari kita mulai dengan bergandengan tangan," Jung Rok mengulurkan tangan Min Suk masih ogah-ogahan. Jung Rok tersenyum dan meraih kedua tangan istrinya kemudian ia memeluknya erat-erat.

Tae San dan Se Ra makan bersama di restouran. Tapi Tae San tampak melamun tak nafsu makan. Se Ra memperhatikan kegalauan Tae San dan bertanya apa Tae San tak selera makan kalau seperti ini kenapa Tae San mengajaknya makan di luar. Tae San berkata kalau Se Ra harus makan karena Se Ra seorang atlit jadi Se Ra tidak boleh tidak makan. Se Ra penasaran apa ada sesuatu yang terjadi. Tae San mengatakan kalau ada masalah keluarga. Ia akan menceritakannya pada Se Ra ketika Se Ra sudah menjadi anggota keluarganya.

Tae San ingat bukankah ada hal yang ingin Se Ra sampaikan padanya. Se Ra meminta Tae San memberi tahu nomor rekening karena ia akan membayar hutangnya walaupun belum semua paling tidak separuhnya. Tae San tanya dari mana Se Ra mendapatkan uang. Se Ra mengatakan kalau ia menjual rumahnya. Tae San jelas terkejut kenapa Se Ra melakukannya. Se Ra berkata kalau semuanya bisa Tae San tanyakan pada agensinya, ia melihat jam tangan dan berkata kalau ia harus pergi ke agen penjualan untuk tanda tangan kontrak.

Tae San ingin tahu apa Se Ra sekarang sangat sedih. Se Ra berusaha tersenyum dan berkata kalau sekarang perasaannya campur aduk, "Aku lebih suka mengatakannya dengan 2 langkah maju, 1 langkah mundur." Tae San setuju ia akan menerima uangnya.

Tae San mengatakan kalau ia akan melakukan perjalanan bisnis ke Chuncheon. Se Ra heran memangnya ada yang bagus disana karena kemarin Yi Soo juga pergi ke Chuncheon. Tae San meminta Se Ra menunggu sampai ia selesai menata semuanya dan mereka berdua juga akan melakukan perjalanan ke sana.

Se Ra tersenyum dan bersyukur untungnya ia memutuskan untuk tidak putus dengan Tae San. Tae San menyerahkan kunci mobil tapi Se Ra tak mau menerimanya, tunggu sampai ia membayar semuanya setelah itu Tae San boleh mengembalikan mobilnya.

Se Ra: "Apa kau pikir aku orang yang mudah mengubah gaya hidupku hanya karena seorang laki-laki? Kalau kau benar-benar mencintaiku jangan mengasihaniku, semangatilah aku."

Tae San tersenyum, "Kau luar biasa Hong Se Ra!" Tae San menggenggam tangan Se Ra menatapnya dan tersenyum.

Do Jin memapah Yi Soo yang masih mabuk ke kamar. Yi Soo menyanyi-nyanyi tak karuan. Do Ji membaringkannya ke tempat tidur. Ia heran kenapa Yi Soo semakin mabuk saja. Yi Soo bergumam tak karuan, "Ah bagusnya ini kamarku dan aku sudah di rumah bersama dengan Kim Do Jin."

Do Jin meminta Yi Soo tidur saja karena Yi Soo tak bisa tidur nyenyak di mobil. Do Jin akan keluar kamar tapi Yi Soo melarang, "Kau mau kemana? Cepat datang kesini!" kata Yi Soo membuka kedua tangannya agar Do Jin menghampirinya ke tempat tidur. haha.

Yi Soo menarik Do Jin tiduran di sampingnya, "Aku akan menepuk-nepukmu sampai kau tertidur," Ucap Yi Soo. Yi Soo memejamkan matanya sambil menepuk-nepuk Do Jin. Do Jin juga melakukan hal yang sama. Lama-kelamaan Yi Soo sendiri terlelap. Yi Soo terlihat sangat nyaman tidur di samping Do Jin.

Keduanya terlihat memejamkan mata bersama. (aih nyaman banget deh liat scene ini hihi)

Yi Soo terbangun dan merasakan sakit di kepalanya. Perlahan ia membuka mata dan terkejut melihat Do Jin tidur di sampingnya sambil memeluk dirinya. Yi Soo berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi. Sadar kalau ia sudah melakukan sesuatu yang memalukan ia berusaha untuk menyingkir.

"Bulu matamu menggelitik wajahku." sahut Do Jin sambil tetap memejamkan matanya. "Apa kau mau terus berkedip-kedip seperti itu?"

Sadar kalau ia sudah ketahuan Yi Soo pura-pura ngelindur dan kembali memejamkan mata sambil membalikkan tubuh membelakangi Do Jin. Do Jin membuka matanya. "Aku tahu kau sudah bangun," kata Do Jin. Yi Soo sedikit melirik ke belakang dan bergumam pura-pura ngelindur, "Aku belum bangun."

Do Jin langsung memeluk Yi Soo. Yi Soo jelas terkejut dan membuka mata tapi ia masih membelakangi Do Jin.

Do Jin: "Kalau kau merasa malu pura-pura tidur saja. Dengarkan aku saat kau pura-pura tidur!"

Pelukan Do Jin semakin erat, "Karena pura-pura tak mencintaimu padahal aku mencintaimu, aku minta maaf. Karena pura-pura merasa sanggup putus denganmu padahal sebenarnya aku tak sanggup, aku minta maaf. Karena membiarkanmu menangis terus-menerus, aku minta maaf. Hari ini akan menjadi hari terakhirku mengatakan aku minta maaf. Mulai hari ini aku hanya akan mengatakan aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu Seo Yi Soo."

Yi Soo terdiam mendengar apa yang diucapkan Do Jin. Do Jin pamit ia harus ganti baju dan berangkat kerja. Do Jin melepas pelukannya dan bangkit dari tempat tidur Yi Soo pelan-pelan.

Terdengar suara pintu Yi Soo langsung bangkit dan mengumpat dirinya sendiri. Ia mencium tubuhnya yang penuh dengan aroma alkohol. Ia mewek-mewek karena biasanya Do Jin pergi diam-diam ketika ia tidur tapi kenapa kali ini Do Jin harus memeluknya dari belakang.

Dan ternyata Do Jin masih berada di kamar Yi Soo hahaha. Yi Soo jelas kaget karena ia mengira Do Jin sudah keluar dari kamarnya. Do Jin tersenyum berusaha menahan tawa.

Yi Soo langsung merebahkan badannya kembali pura-pura ngelindur. Do Jin berkata "Aku hanya pura-pura mendengarkan saat kau berbicara dalam tidurmu."

Do Jin keluar dan menutup pintu kamar Yi Soo. Setelah Do Jin benar-benar keluar Yi Soo menutup tubuhnya dengan selimut saking malunya. Terdengar suara pintu kamarnya terbuka, Yi Soo panik dan membuka selimutnya ternyata itu Se Ra. Yi Soo menarik nafas lega.

Se Ra heran kenapa Yi Soo tak mengantar Do Jin keluar, apa Yi Soo terlalu sibuk memakai baju kembali (wekeke emang menurut Se Ra keduanya abis ngapain haha) Yi Soo bilang bukan begitu, ia bertanya apa Do Jin sudah benar-benar pergi. Se Ra menyampaikan kalau Do Jin sudah pergi tapi ia mencium aroma tak enak di kamar Yi Soo. Yi Soo kembali mewek-mewek, "Karena itulah apa yang harus kulakukan? Memalukan sekali."

Se Ra meminta Yi Soo sadar. Ia memberi tahu kalau ia sudah menandatangani kontrak dan rumah ini sudah terjual. Yi Soo kaget secepat itu rumah ini terjual. Se Ra menyarankan mulai besok lebih baik Yi Soo mencari rumah baru. Yi Soo masih tak percaya, ia mengamati sekeliling kamar yang akan ia tinggalkan.

Do Jin bersama stafnya merancang bangunan. Ia menyeduh suplemennya. Do Jin memberi beberapa saran pada anak buahnya tentang rancangan yang sedang mereka kerjakan.

Staf Do Jin menebak apa Presdirnya ini baru mengalami kejadian yang membahagiakan karena beberapa hari ini terlihat begitu depresi. Do Jin bertanya memangnya ada yang membahagiakan di tempat kerja, "Kalau kalian semua seperti ini..." staf-nya langsung paham dan mengkerut tak bertanya lagi. hehe.

Do Jin bertanya apa Presdir Im Tae San masuk kerja hari ini. Staf wanitanya mengatakan kalau Tae San pergi ke Chuncheon, katanya ingin memandu tamu VVIP. Do Jin heran apa Tae San sendirian.

Tae San sibuk memandu tamu VVIP menjelaskan konsep desainnya (weheh sorry aku ga tulis apa yang disampaikan Tae San ckckck)

Meari menemui Jung Rok di Mango Six membawa sebuah tas. Jung Rok mengaku kaget kalau ada tas seperti yang Meari bawa. Ia menebak apa Meari memutuskan untuk kabur dari rumah, kalau mau kabur lebih baik sembunyikan hal ini darinya dan jangan pernah memberi tahu dirinya dimana Meari akan tinggal. Kalau tak begitu misal Tae San tahu Meari kabur ia pasti akan memberi tahu Tae San.

Meari mengatakan kalau tas ini untuk kakaknya. Katanya dia melakukan perjalanan bisnis ke Chuncheon tapi kakaknya tak membawa pakaian atau perlengkapan mandi sama sekali. Jung Rok mengerti jadi apa Meari memintanya untuk mengantar semua ini pada Tae San. Meari mengangguk. Jung Rok heran sejak kapan Meari peduli pada kebersihan Tae San.

Meari berkata kalau kakaknya melakukan perjalanan bisnis itu karena dia sedang marah padanya dan ia merasa bersalah, "Walaupun Kak Min Suk tak ingin aku menjadi mata-matanya lagi tapi kami masih berhubungan."

Jung Rok: "Hei kakak perempuanmu itu dan aku berhubungan dan juga kalau aku pergi siapa yang akan menjaga kafe?"

Manajer kafe menawarkan kalau ia bersedia menjaga kafe. Jung Rok ngomel-ngomel memangnya ia menggaji agar manajer kafe menjaga kafe saja, "Aku menggajimu supaya kau bisa mendukungku."

"Aku selalu mendukung wanita." sahut Manajer kafe. Meari senang dan memuji kalau manajer kafe-nya ini yang terbaik.

Meari memohon agar Jung Rok pergi sekali ini saja dan juga ini permintaan terakhirnya. Jung Rok bertanya apa Meari yakin kalau ini permaintaan terakhir. Meari berkata ya karena nanti pasti tak akan ada satu kesempatan sekalipun. Jung Rok heran apa Meari mau berhenti kerja dari sini.

Jung Rok pun menyanggupi membawakan perlengkapan pakaian dan mandi Tae San. Ia pergi ke hotel dimana Tae San menginap. Ia melewati pintu tempat parkir dan membuat bagian atas mobilnya kotor.

Jung Rok mengingatkan bukankah Meari masih memikirkan Tae San, "Untuk gadis berusia 24 tahun apa baiknya seorang kakak menghalangi cinta adik perempuannya? Dia sudah membantumu menyiapkan semua ini. Wajahnya sangat sembab, entah sudah berapa lama dia menangis. Hanya ada kita berdua disini, ceritalah padaku. Kenapa tak boleh Yoon?"

Tae San kesal Jung Rok membahas masalah ini, apa Jung Rok tak akan pulang. Jung Rok terus membicarakan masalah ini, "Ketika aku memikirkan Yoon kuharap dia dan Meari akan berakhir bahagia. Tapi ketika aku memikirkanmu, kuharap mereka tak akan jadian."

Tae San meminta Jung Rok memikirkan saja diri Jung Rok sendiri, perlakukanlah Min suk dengan baik.

Jung Rok: "Tapi Yoon adalah pria yang cukup baik. Walaupun aku tak tahu siapa yang akan ditemui Meari kelak, tapi pasti dia tak akan bisa menemukan yang lebih baik daripada Yoon."

Tae San: "Apa kau pikir aku tak tahu? Kenyataan bahwa aku menentang Yoon sudah membuatku marah. Kenyataan bahwa aku harus menentang pria seperti Yoon membuatku sangat sedih."

Jung Rok mendesah pelan ia bisa melihatnya. Ia minta maaf karena tak bisa melegakan hati Tae San. Dalam hal ini ia tak bisa memihak siapapun, ia juga tak tahu apa yang harus ia katakan. Tae San menyarankan lebih baik teman-temannya mendukung Yoon karena dalam pertarungan ini Yoon yang paling lemah.

Jung Rok: "Kenapa?"

Tae San: "Karena Yoon.... sudah jatuh cinta!"

Meari dikamarnya membereskan pakaian yang akan dibawa ke Amerika. Ia mengamati gelang yang ia kenakan.

Yoon di kantornya juga mengeluarkan gelang yang ia ambil setelah Meari membuangnya. Ia menggenggam erat gelangnya, perasaannya bimbang.

Colin memainkan gitar berusaha menciptakan sebuah lagu. Ada yang mengetuk pintu kamarnya, Do Jin masuk ke kamar putranya. Ia bilang ada yang ingin disampaikannya pada Colin. Colin mempersilakan ayahnya duduk di kursi yang dibeli Do Jin. Do Jin memuji kalau kursinya tak jelek.

Colin berkata dalam bahasa jepang kalau ayahnya ini adalah semacam ayah jenis baru. Do Jin sepertinya tak mengerti apa yang diucapkan Colin, "Apa kau memakiku?"

"Apa itu boleh?" tanya Colin tersenyum dan mempersilakan ayahnya bicara.

Do Jin menyampaikan kalau ia ingin pacaran dengan wali kelas Colin. Colin terdiam haruskah ayahnya ini meminta persetujuannya. Do Jin mengatakan kalau ini pemberitahuan, Colin tersenyum dan memberikan selamat untuk ayahnya. Ia berkata kalau ia tulus mengatakannya.

Colin tertunduk sedih dan berkata kalau ia selalu merasa bersalah atas hubungan ayahnya dengan gurunya. Do Jin mengingatkan kalau semua kemalangan yang terjadi pada dirinya dimasa depan jangan pernah lagi menganggapnya sebagai kesalahan Colin. Dan yang ia sampaikan ini juga pemberitahuan. Colin kembali tertunduk kalau ayahnya menginginkannya pergi dari sini, ayahnya boleh mengatakannya kapan saja. Do Jin berkata kalau hal itu tak akan terjadi.

Tes.. tes.. air mata Colin menetes ia menangis haru dengan rasa bersalahnya. Do Jin menghampiri putranya dan menepuk pundak Colin memberi kekuatan untuk menyemangati kalau semua ini terjadi bukan karena kesalahan Colin.

Saatnya nge-date hihi...

Do Jin dan Yi Soo jalan bersama dengan sepatu pemberian masing-masing hihi... keduanya tampak penuh senyuman.

"Tangan!" Do Jin meminta Yi Soo memberikan tangannya. Yi Soo menatap heran. Do Jin berkata bukankah Yi Soo memintanya untuk memberitahu apa adanya. Yi Soo tersenyum mengerti dan keduanya pun bergandengan tangan. Yi Soo mengatakan kalau keduanya sudah lama kita tak berpegangan tangan sekarang ia gemetaran.

Do Jin menawarkan apa Yi Soo ingin ia membuat Yi Soo lebih gemetar. Yi Soo spontan menutup mulutnya. (wekeke Yi Soo ngira Do Jin bakal nyium dia kali) Do Jin bergumam, "Ah wanita ini benar-benar bernafsu, (wakakaka) lengan!"

Keduanya pun saling mengaitkan lengan. "Apa kau tak gemetaran lagi?" tanya Do Jin. Yi Soo tersenyum. "Ok, bahu!" Do Jin merangkul bahu Yi Soo. Sedangkan Yi Soo melingkarkan tangannya ke pinggang Do Jin. "Jadi seperti ini. kau tak gemetaran lagi?" tanya Do Jin, "Kalau begitu tak ada cara lain, apa kau mau melakukan perjalanan?"

Yi Soo: "Ah keterlaluan. Kim Do Jin yang asli sudah kembali."

Do Jin: "Artinya akan lebih banyak kebahagiaan yang akan menghampiri kita."

Yi Soo: "Oh beautiful man!"

Do Jin: "Apa yang kau katakan tadi?"

Yi Soo: "Aku baru saja mengatakan kalau kau adalah milikku,"

Do Jin: "Apa kau sungguh-sunguh? Kau sudah merayuku di siang bolong, bagaimana aku bisa bekerja sekarang?"

Yi Soo: "Karena itulah. Kalau aku seperti ini di siang hari bayangkan apa yang akan terjadi kalau hari sudah gelap?"

Do Jin: "Aku tak mau bekerja lagi. Aku tak akan mengizinkanmu pergi sampai hari menjadi gelap."

Hahaha keduanya tertawa riang saling merangkul.

Meari sudah siap berangkat ke bandara. Terlebih dulu ia menghubungi kakaknya yang berada di Chuncheon. Dengan perasaan sedih Meari mengatakan kalau ia akan pergi sekarang. Tae San menanyakan apa Meari sudah mengemasi barang-barang Meari dan juga apa sudah memanggil taksi.

Meari: "Kakak? Aku minta maaf karena membuatmu sedih. Aku akan pergi dengan selamat. Lain kali kalau aku kembali datanglah ke bandara untuk menjemputku. Kita akan saling menyapa dan tersenyum satu sama lain."

Tae San setuju dan ia akan menghubungi Meari lagi nanti. Tae San menutup teleponnya ia pun sedih harus mengirim Meari jauh lagi darinya.

Meari menatap sedih rumah yang sebentar lagi akan ia tinggalkan. Taksi sudah datang dan supir memasukan barang-barangnya ke bagasi.

Yi Soo menerima SMS dari Meari. Ia dan Do Jin membaca SMS yang dikirim Meari.

Pertama-tama ini adalah SMS perpisahanku. Ketika Guru menerima SMS ini aku sudah berada di bandara. Handphone-nya juga akan kumatikan. Meari akan kembali ke Amerika. Aku minta maaf karena tak mengucapkan selamat tinggal. Guru, jaga kesehatan. Dan juga tolong kabulkan permintaanku ini. Kalau Kak Yoon menanyakanku, tolong sampaikan ini padanya dalam waktu 2 bulan. Katakan padanya kalau Meari sudah mempunyai pacar yang sangat tampan, katakan padanya aku sangat bahagia.

Yoon melamun di kantornya berusaha menimbang-nimbang apa yang harus ia lakukan dan keputusan apa yang harus diambilnya.

Meari sampai di bandara ia menengok ke belakang siapa tahu ada seseorang yang di kenalnya mencegah kepergiannya. Berulang kali ia menengok tak seorang pun datang. Ia pun memutuskan dengan hati mantap kalau ia akan meninggalkan Korea.

Tapi tiba-tiba ada tangan yang menariknya. Ia berbalik dan terkejut Yoon datang menyusulnya. "Kakak?"

Tanpa berkata-kata lagi Yoon segera menarik Meari meninggalkan bandara. Meari menurut mengikuti kemana Yoon membawanya. Ia menatap tajam Yoon dan tersenyum penuh haru.

Yoon meletakan barang-barang Meari di mobilnya. Keduanya bertatapan, Meari cemas bagaimana kalau kakaknya tahu tentang hal ini.

Yoon tak kuasa menahan perasaannya. Ia pun segera menarik Meari ke dalam pelukannya. Sontak Meari terkejut ia hanya bisa terdiam terpaku. Yoon memeluknya erat.

Episode-18        

Mereka berempat berada di mobil Yoon menyusuri jalan raya. Keempatnya mengagumi kalau hari ini sangat cerah. Yoon menawarkan bagaimana kalau mereka mencari makanan. Jung Rok setuju. Tae San menyahut kalau naik Betty pasti mereka dilarang makan apapun, tapi karena ini naik mobilnya Yoon jadi its ok lah hehe...

Mobil berhenti di lampu merah. Keempatnya bernyanyi-nyanyi. Tapi tiba-tiba brak... ada yang menabrak mobil Yoon dari belakang. Keempatnya langsung terdiam kaget. "Apa itu? Apa kita baru saja mengalami kecelakaan?" tanya Yoon.

Do Jin menoleh ke belakang, "Mobil sedan besar pengendaranya pria berusia 20-an. Pasti mobil ayahnya. Tak usah bersikap lunak padanya!"

"Semuanya, leher!" ucap Tae San.

Keempatnya keluar dari mobil sambil memegangi leher masing-masing, pura-pura terluka padahal mereka tak apa-apa. (busyet Yoon yang seorang pengacara aja mau ngelakuin hal kekanakan kayak gini hahaha) Pemuda pengendara mobil yang menabrak juga ikut keluar.

"Aduh pinggangku!" ucap Yoon sambil memegangi leher dan pinggangnya.

"Ouch tulang belakang ketigaku!" rintih Tae San memegangi lehernya.

"Aduh gigiku!" kata Jung Rok sambil memegangi lehernya heheh.

"Aduh lututku!" Do Jin meringis memegang lututnya. Hahaha.

Jung Rok memarahi pemuda itu, apa pemuda itu tahu siapa mereka. Mereka adalah orang yang bisa mengguncang pondasi Republik Korea. Tae San mengeluhkan akan jadi seperti apa negara ini karena kecelakaan terjadi didalam negara yang diatur oleh hukum. Pemuda itu meminta keempatnya menunggu sebentar, ia minta izin mau menelepon. Keempatnya tertawa dan mereka juga mengeluarkan ponsel masing-masing akan menelepon seseorang sebagai ancaman terhadap pemuda itu.

Yoon langsung menelepon hakim dan mengatakan kalau ia mengalami kecelakaan lalu lintas. Tae San menelepon kantor polisi ingin bicara dengan kepala polisi. Jung Rok menghubungi istrinya dan meminta istrinya menghubungi koneksi istrinya di kantor pemerintahan.

Do Jin siapakah yang dia hubungi. N.I.S.I (sebuah institute negeri di Korea untuk investigasi ilmiah) ia ingin bicara dengan Dr Yoon Ji Hun. Lha kok nelepon tim peneliti ilmiah.

Keempatnya terus menelepon orang yang mereka tuju tapi sebenarnya tak terhubung sama sekali niat keempatnya hanya ingin menggertak pemuda ini.

Yoon mengaku kalau ia tak terluka parah hanya.... Tae San berkata kalau leher belakangnya sedikit kaku tapi menurutnya yang namanya efek kecelakaan tidak akan langsung terlihat setelah kecelakaan terjadi.

Do Jin lebih mengagetkan, "Apa Dr Yoon Ji Hun meninggal?" Ketiga temannya heran menatap Do Jin kenapa menghubungi orang seperti itu untuk mengancam.

Pemuda itu mengeluarkan sebuah kartu nama dan menghubungi seseorang, ternyata ia menghubungi perusahaan asuransi. Ia mengatakan kalau ia mengalami kecelakaan dan menabrak bagian belakang sebuah mobil. Ia mengakui itu kesalahannya. Keempatnya kaget karena pemuda itu menghubungi perusahaan asuransi. Keempatnya tahu kalau berurusan dengan perusahaan asuransi proses menunggunya akan lama.

Pemuda itu minta maaf dan mengatakan kalau seseorang dari perusahaan asuransi akan datang dalam waktu 10 menit, "Apa kalian terluka parah?" Keempatnya langsung bersikap normal seolah tak terjadi apa-apa.

Mereka pun menunggu lama tapi seseorang dari perusahaan asuransi itu pun tak kunjung datang. "Kepala polisi?" Gumam Yoon "Memangnya kau tahu seperti apa wajah kepala polisi itu?"

Tae San balik menanyakan bagaimana dengan Yoon sendiri. Ia beralih ke Jung Rok kenapa menelepon Min Suk. Jung Rok berkata karena untuknya istrinya adalah pemilik kedudukan tertinggi. Ia pun bertanya-tanya Apa N.I.S.I? Do Jin berkata kalau ia hanya ingin menemukan seseorang dari bidang yang berbeda. Ia mengeluh kenapa lama sekali seseorang dari perusahaan asuransinya. Keempatnya lelah dan bosan menunggu lama.

Suara Do Jin: "Menelepon perusahaan asuransi setelah mengalami kecelakaan bukanlah hal yang tak kami ketahui. Tapi hari itu kami menggunakan trik kotor orang dewasa yang sangat kami benci ketika kami masih berusia 20-an. Kalau kau mempersulit masalah sederhana yang bisa diselesaikan dengan mudah atau berbohong demi mendapat keuntungan materi. Sayangnya, kau mungkin saja akan menjadi salah satu diantara ahjussi atau orang tua yang dibenci."

Sinopsis A Gentlemans Dignity Episode 18

Yoon melamun di kantor. Sambil memandang gelang hitamnya ia menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya dan keputusan apa yang harus ia ambil.

Do Jin dan Yi Soo masuk ke ruangannya. Ia segera menutup gelangnya dengan buku. Do Jin menanyakan kenapa ponsel Yoon mati, ia menyampaikan kalau Meari pergi dan dia sudah berada di bandara. Yi Soo menambahkan kalau Meari hanya mengirim SMS padanya, handphone-nya juga sudah dimatikan. Yoon diam saja. Do Jin bertanya apa Yoon akan membiarkan Meari pergi begitu saja.

Jung Rok masuk ke ruangan Yoon tergesa-gesa dan mengataan Meari pergi ke Amerika dan berangkat hari ini. Melihat disana juga ada Do Jin dan Yi Soo, ia menebak kalau mereka semua pasti sudah tahu perihal kepergian Meari. Yoon masih terdiam.

Do Jin melihat jam tangannya dan berkata Yoon masih bisa melihat Meari kalau berangkat sekarang dengan menginjak pedal gas mobil. Jung Rok menambahkan mungkin saja Meari masih di loket tiket karena dia tak terlalu bersemangat. Yi Soo mengatakan kemungkinan lain yang terjadi, menurutnya mungkin saja Meari sibuk berbelanja dan ketinggalan pesawat. Do Jin mengatakan kemungkinan yang lain, obat-obatan terlarang atau senjata api mungkin ditemukan di tas-nya.

Jung Rok: "Seorang pria asing mungkin membawa tas yang sama persis dengannya dan tas mereka tertukar lalu mereka saling jatuh cinta!" (drama banget om hahaha)

Do Jin dan Yi Soo langsung menatap kesal ke arah Jung Rok. Sadar kalau ucapannya tak masuk akal Jung Rok langsung terdiam dan meralat kalau Meari mungkin sekarang sedang menunggu Yoon.

Yoon meminta ketiganya lebih baik sekarang pergi karena besok ia ada sidang gugatan. Do Jin mengumpat dasar bodoh, sidang gugatannya besok tapi Meari pergi sekarang. Yoon kembali terdiam.

Setelah ketiga temannya pergi Yoon merenung. Haruskah ia membiarkan Meari pergi lagi, haruskah ia terus memungkiri perasaannya. Yoon mengambil keputusan ia mengambil kunci mobil dan bergegas menyusul Meari ke bandara.

Seperti yang kita tahu Yoon menarik Meari keluar dari bandara. Meari cemas bagaimana kalau kakaknya tahu tentang hal ini. Yoon langsung menarik Meari ke pelukannya, Meari jelas terkejut dengan perlakukan Yoon yang tiba-tiba. Yoon memeluknya sangat erat seolah tak ingin melepaskannya.

"Aku mencintaimu, Im Meari!" Ucap Yoon penuh perasaan. Meari terkejut campur rasa haru mendengar Yoon mengungkapkan perasaan terhadapnya. "Telah membuatmu menderita sendirian aku minta maaf. Karena terlambat mengungkapkan perasaanku, aku minta maaf." Air mata Meari perlahan menetes. Yoon melepas pelukannya.

"Jangan pergi kemanapun juga. Aku tak akan pernah melepaskanmu lagi." Yoon mengusap lembut air mata Meari yang menetes. "Aku datang kesini bukan untuk mencegahmu pergi ke Amerika tapi untuk membuatmu tetap di sisiku. Mulai sekarang aku akan menunjukan perasaanku dengan berani. Mulai sekarang ikuti saja aku, aku yang akan mengurus semuanya. Walaupun jalan yang kita lalui mungkin akan sulit dan meresahkan tapi aku tak akan pernah melepaskanmu lagi. Aku tak akan membiarkanmu sendirian lagi."

Meari mengangguk dengan air mata yang terus berlinang. Yoon kembali memeluknya erat.

Min Suk berada di parkiran kafe. Ia menghubungi seseorang dan akan menunggu di parkiran. Ia melihat mobilnya sangat kotor dan heran kenapa Jung Rok tak mencuci mobil.

Ia melihat ada yang aneh dengan kotoran di mobilnya. Ia mengamati bagian atas mobil yang seperti terkena sapuan benda yang biasa dilalui ketika sebuah mobil masuk ke parkiran hotel. Min Suk mencurigai suaminya pergi ke hotel bersama wanita lain.

Tae San sampai di rumah setelah melakukan perjalanan bisnisnya. Ia melepas lelah di kursi. Kemudian terdengar suara bel rumah, ia melihat kalau yang datang itu Yoon seorang diri, Tae San membukakan pintunya.

Tae San langsung berbalik setelah membuka pintu dan bertanya apa Yoon sudah makan bagaimana kalau keduanya makan malam bersama. Tapi langkah Tae San terhenti karena ia mendengar suara lain. Ia pun menoleh dan terkejut melihat Yoon membawa tas Meari.

Bersamaan dengan itu Meari masuk ke rumahnya dengan wajah tertunduk. Tae San jelas shock melihat semua ini, ia berusaha menguasai dirinya atas keterkejutan yang baru saja ia lihat. Yoon berkata kalau ia menjemput Meari, ia akan mengantar Meari masuk, Yoon menggandeng tangan Meari. Tae San masih tak percaya kenapa semua ini terjadi.

Tae San terbata-bata, "Kau... bagaimana mungkin? Choi Yoon Pal, kenapa kau tega?"

Yoon menyadari kesalahannya, "Aku minta maaf, kalau aku membiarkannya pergi sekarang aku akan kehilangan dia selama-lamanya."

Tae San berkata kalau Yoon lebih baik kehilangan Meari selamanya. Apa yang harus ia lakukan sekarang. "Meminta maaf seperti ini padaku, katakan padaku apa yang harus kulakukan?"

Tae San beralih menatap adiknya yang menangis, "Im Maeari apa kau tak mau berhenti?"

Yoon meminta Tae San lebih baik menyalahkannya, apapun itu ia akan menanggungnya. Ia akan menanggung semua konsekuensinya.

"Aku sudah mempertimbangkannya seribu kali dan seribu kali kujawab tidak, aku sudah melakukan yang terbaik untuk menahannya tapi ketika kudengar Meari akan pergi lagi duniaku terasa runtuh. Saat itu juga aku menyadari bahwa masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan bersembunyi, seharusnya aku mengakui perasaanku sejak awal.

Maaf, karena selama ini sudah membuat Meari menangis. Aku akan menyayanginya. Aku akan menyayangi Meari sepanjang sisa hidupku. Tae San, ini permintaanku yang pertama dan terakhir. Tolong maafkan aku sekali ini saja."

Tae San: "Kau... apa sudah siap kehilangan aku? Im Meari, apa kebahagiaan seperti ini yang kau inginkan?"

Air mata Meari semakin menetes, "Kakak tolong maafkan aku kali ini saja."

Tae San: "Bukankah sudah berkali-kali aku memaafkanmu? Aku menyesal sekarang. Aku tak pernah menyangka kalian berdua tega melakukan ini padaku. Akulah yang bodoh, akulah yang gila!"

Meari: Kakak?

Tae San: "Mulai sekarang aku sudah kehilangan kalian berdua. Im Meari, kau keluar dari rumah ini. Ini bukan rumahmu lagi dan aku bukan kakakmu lagi!"

Tae San segera naik ke kamarnya. Meari menangis histeris, "Kakak.. kakak.. kakak.. kakak..!"

Yi Soo, Do Jin dan Jung Rok berada di Mango Six. Jung Rok menilai kalau gadis bodoh itu (Meari) sebalumnya dia selalu melawan sepanjang hidupnya tapi sekarang kenapa dia patuh. Kalau dia sepatuh ini kenapa dia tak pernah mendengar kata-katanya.

Do Jin mengeluarkan lotion dari tas-nya. Ia mengatakan kalau Meari itu cerdas. Yi Soo bertanya-tanya apa mereka berdua sudah bertemu. Jung Rok malah balik bertanya apa menurut Yi Soo, Meari akan benar-benar pergi.

"Dia pergi 1 tiket, mereka bertemu 2 tiket!" sahut Do Jin sambil mengoleskan lotion ke tangan Yi Soo. Yi Soo tanya kenapa bisa seperti itu. Do Jin berkata kalau ia adalah contoh pria yang pernah kehilangan seseorang dan menemukannya kembali, perasaan bahwa dunia akan kiamat ia sudah pernah menjalaninya.

Yi Soo risih Do Jin mengoleskan lotion ke tangannya, ia merasa tak enak karena terus dilihat Jung Rok. Tapi Do Jin tak peduli ia terus mengoleskannya. Tapi sesaat kemudian Yi Soo pun tersenyum menikmatinya. Jung Rok jelas risih melihat kemesraan keduanya, "Walaupun kau jatuh cinta memakaikan lotion ke tangannya itu sudah berlebihan. Berlebihan."

Do Jin heran apa Jung Rok tak pernah melakukan ini ketika Jung Rok pacaran dengan Min Suk. Ingin melakukan sesuatu untuknya, mengkhawatirkan ketika dia sendirian. "Aku akan marah sekali kalau wanita ini makan sendirian. Bukan, kalau aku tak menyuapinya bisakah dia melakukannya sendiri?" (wekekeke)

Yi Soo tertawa, Jung Rok mual mendengar gombalan Do Jin, "Aih.. gw tiba-tiba pengen muntah!" katanya. Jung Rok kesal melihatnya, "Kalau ini dibiarkan terus kalian mungkin akan menciumi jendela lagi. Manusia normal menciumi jendela orang lain tanpa alasan sama sekali." Yi Soo terkejut bagaimana Jung rok bisa tahu, tepat saat itu ponsel Yi Soo berdering. Yoon yang meneleponnya. Yoon meminta bertemu dengan Yi Soo.

Yi Soo dan Yoon duduk di bangku taman. Yi Soo menebak pasti keputusan yang Yoon ambil itu sangat sulit. Yoon minta maaf karena sudah membuat Yi Soo menemuinya disaat situasi seperti ini. Yi Soo tak masalah ia sudah lama mengenal Yoon tapi apa yang Yoon lakukan sekarang menurutnya adalah yang paling keren. Yoon menyangkal apa kerennya pria seperti itu yang sudah membebani temannya sendiri.

Yi Soo: "Sebagai seseorang yang sudah mengalami hal seperti ini sebelumnya maka nasihatku untukmu adalah pada awalnya beban itu terasa sangat berat untukku sampai aku tak bisa melangkah setapak pun. Tapi tiba-tiba aku menyadari ah.. beban ini adalah berat hati seberapa besar cinta dan kebahagaiaan dapat diukur dengan seberapa besar beban yang kau miliki. Aku menyadari bahwa aku benar-benar... mencintainya..."

Yoon setuju dan akan sangat baik kalau Tae San bisa memahami itu. Yi Soo yakin kalau Tae San akan memahaminya, jadi Yoon tak perlu khawatir.

Ada sesuatu yang ingin Yi Soo sampaikan pada Yoon. Ia tahu kalau ini agak terlambat mengatakannya tapi ia ingin berterima kasih. Yoon tanya untuk apa. Yi Soo bilang kalau ia sudah tahu orang yang menolongnya di kafe, orang yang menolongnya menyelesaikan perselisihan itu adalah oppa-oppa. Yi Soo tahu pasti kalau mereka (anak tiri ibunya) mungkin akan menghubungi Yoon. Ia berpesan kalau mereka menghubungi Yoon tolong beritahu padanya. Ia tak ingin membebani mereka berempat.

Yoon berjanji akan menghubungi Yi Soo begitu mereka menghubunginya, karena sekarang ia sudah menjadi penasehat hukum Yi Soo. Yi Soo sudah mengurus Meari setidaknya inilah yang bisa ia lakukan untuk membalasnya.

Yoon penasaran bagaimana Yi Soo tahu kalau mereka berempat ada disana. Yi Soo mengatakan kalau kalian berempat memecahkan gelas dan pergi tanpa membayar ganti rugi. Yoon ingat itu ia jadi tak enak hati. Yi Soo berkata kalau menolong adalah menolong, uang adalah uang. Ia berencana mengumpulkan setiap sen-nya dan kalau Tae San tak merestui hubungan Yoon dengan Meari haruskah ia membuat Tae San yang membayar semuanya. keduanya tertawa tapi tawa Yoon lebih mengarah ke tertawa pahit.

Se Ra terkejut mengetahui kalau yang mencegah kepergian Meari adalah Yoon. Meari mengangguk pelan. Se Ra cemas apa kakak Meari mengatahui ini. Dengan perasaan sedih Meari mengatakan kalau setelah ia pulang ke rumah dengan Yoon kakaknya mengusir dirinya dan Yoon. "Katanya dia tak punya adik seperti aku."

Se Ra tak menyangka apa Meari pergi karena Tae San menyuruh pergi. Meari bilang apa yang bisa ia lakukan kakaknya marah sekali. Se Ra heran kenapa Meari tetap melakukannya, meninggalkan Tae San sendirian. Ia tanya apa tak apa-apa kalau Meari ia tinggal sendirian. Ia berpesan agar Meari Tidur yang nyenyak.

Meari berterima kasih, Se Ra bilang kalau ia tak butuh terima kasih dari Meari, "Kau urus pacarmu, aku akan mengurus pacarku. Aku akan memberitahunya kalau kau ada disini dia pasti sangat mengkhawatirkanmu."

Tae San berdiam diri di rumah. Ia membiarkan rumahnya dalam keadaan gelap. Hanya ada lampu kecil yang menerangi ruang tamu. Ia mendengar kalau ada seseorang menekan password rumahnya, terdengar suara Se Ra bertanya dimana dirinya.

Tae San langsung duduk lemas. Se Ra heran kenapa Tae San tak menyalakan lampu. Se Ra melihat kalau wajah Tae San benar-benar murung, ia mengerti perasaannya dan berusaha menghibur Tae San, "Apa kau tak apa-apa?" Tae San diam saja.

Se Ra memberi tahu kalau sekarang Meari ada di rumahnya. Tae San tetap diam. Se Ra memeluknya memberi semangat, Tae San langsung menitikan air mata. Se Ra berkata kalau semuanya akan baik-baik saja.

"Gadis nakal itu menyakiti hati kakaknya seperti ini. Im Meari, dia pasti akan mendapat balasan dariku. Beraninya dia membuat pacarku menangis. Aku akan membuat perhitungan dengannya!" Se Ra menemani Tae San yang tengah dirundung kesedihan, ia terus berusaha menghiburnya.

Min Suk di rumah menahan kesal. Tepat saat itu Jung Rok pulang, ia heran kenapa tak bisa menghubungi istrinya seharian ini, istrinya juga tak ada di parkiran (oh jadi Min Suk diparkiran tadi nungguin Jung Rok) Min Suk diam menahan marah.

Jung Rok akan menceritakan perihal Yoon dan Meari, tapi Min Suk menyela dan bertanya apa Jung Rok pergi ke motel. Jung Rok heran, "Motel? Apa bahkan mereka pergi ke motel? Kapan?"

Min Suk makin kesal apa Jung Rok pikir sekarang ini ia sedang bercanda bukan mereka tapi Jung Rok yang pergi ke motel. Jung Rok makin heran, "Aku? Ke motel? Motel apa?"

Jung Rok kemudian ingat dan membenarkan, ia mengatakan kalau Tae San buru-buru pergi ke Chuncheon untuk melakukan perjalanan bisnis jadi ia membawakan bajunya ke sana. Min Suk jelas tak menyangka bahkan sekarang Jung Rok tanpa ragu-ragu lagi mengatakannya, ternyata banyak latihan sudah membuat Jung Rok terlihat lancar.

Jung Rok sekarang paham istrinya sudah menuduh yang bukan-bukan bahkan kemarin Min Suk juga melakukannya di pesta. Ia mengatakan kalau ia jujur, tanyakan saja pada Tae San kalau Min Suk tak percaya. Min Suk jelas tak percaya karena suaminya ini selalu bersekongkol dengan mereka, berlagak seolah-olah tak berbuat kesalahan.

Jung Rok mulai kesal, apa maksud istrinya ia bersekongkol. Ia bisa gila kalau dituduh macam-macam seperti ini. Ia mengerti kenapa Min Suk bersikap seperti ini, itu terjadi karena ia sering melakukan kesalahan tapi kali ini ia memang tak melakukannya. Kalau Min Suk tetap tak percaya tanya saja pada Meari karena dia yang meminta dirinya menolong Meari.

Min Suk menilai kalau Jung Rok sedang menggunakan taktik tarik mengulur-ulur waktu. Ia meninggikan suaranya kalau Meari sedang dalam perjalanan ke Amerika bagaimana mungkin ia bisa meneleponnya sekarang. Suara Jung Rok ikut meninggi dan berkata kalau Meari tak jadi pergi karena Yoon mencegahnya. Ia sadar kalau apapun penjelasannya Min Suk tak akan percaya, jadi ia menyarankan istrinya lebih baik menghubungi Meari sekarang juga.

"Apa kau pikir aku tak berani melakukannya?" Min Suk segera menghubungi Meari. Jung Rok tak menyangka apa Min Suk benar-benar akan melakukannya, ia berharap istrinya ini tak mempermalukan diri di depan Meari. Min Suk tak peduli kenapa kalau ia malu.

Min Suk pun langsung menanyakan ke Meari, "Kata bos-mu kau meminta dia pergi ke Chuncheon apa benar?"

Meari: "Benar, aku bertengkar dengan kakakku jadi aku meminta Kak Rok untuk pergi. Memangnya kenapa? Apa Kak Rok belum sampai di rumah?"

Min Suk bilang tak apa-apa, ia mengerti. Jung Rok tanya Meari bilang apa, bukankah yang dikatakannya tadi benar. Min Suk diam saja, Jung Rok bertanya lagi apa Meari menyangkal semuanya. Min Suk berkata dengan nada lemah dan menangis kalau yang dikatakan Jung Rok semuanya benar. Jung Rok heran kalau memang benar lalu kenapa Min Suk menangis, apa Min Suk merasa bersalah.

Min Suk: "Aku tak bisa melanjutkan ini. Aku benar-benar tak bisa melanjutkannya lagi. Kita bercerai saja."

"Lagi! kau selalu minta cerai. Aigoo.. minta maaf saja kalau kau merasa bersalah. Kenapa kita harus bercerai? Sekali lagi kau mengatakan itu, aku akan marah padamu." Kata Jung Rok sambil memeluk istrinya kemudian ke kamar karena ia ingin istirahat.

Min Suk masih berdiri menitikan air mata, ia tak bisa melepaskan rasa berfikiran negatif terhadap suaminya. Ia ingin menghilangkan perasaan seperti itu dan menurutnya bercerai adalah jalannya.

Colin memainkan gitar di kamarnya (hmm irama lagu My Love nih) Do Jin masuk ke kamar putranya dan melihat permainan gitar Colin. Ia mengetuk rak buku memberi tanda kalau ia ada disana.

Do Jin duduk di kursi orange dan bertanya tentang sekolah colin. Apa menarik, apa menyenangkan. Colin berkata sejak kapan sekolah menyenangkan. Do Jin mendesah pelan dan kembali bertanya apa Colin sudah memiliki banyak teman. Colin berkata kalau ia memiliki satu, apa satu bisa dianggap banyak. Do Jin ingin tahu siapa nama teman Colin ini. Colin memberi tahu kalau nama temannya itu Kim Dong Hyub (what haha ini kan  anak yang terlibat perkelahian dengan Do Jin di episode 1)

Do Jin menebak apa Kim Dong Hyub itu orangnya tangguh dan jantan. Colin menambahkan kalau Dong Hyub ini juga malas belajar. Do Jin jelas tak suka Colin bergaul dan berteman dengan orang yang seperti itu. Colin balik menyerang, memangnya paman Jung Rok rajin belajar. Wekeke.

Do Jin ingin tahu kapan saat-saat yang menjadi favorit Colin, tentu saja tidak termasuk jam makan siang dan istrahat. Colin berkata kalau satu menit sebelum makan siang, satu menit sebelum waktu istirahat itu saat yang paling ia sukai.

Do Jin: "Satu menit sebelum bertemu ayah kandungmu, masuk hitungan tidak?"

Colin tak menjawab, ia beralasan kalau ia ngantuk dan mengucapkan selamat malam pada ayahnya.

Do Jin keluar dari kamar putranya dan berpapasan dengan Yoon yang baru saja sampai di rumah. Do Jin langsung bertanya apa Yoon memasrahkan pacar Yoon pada pacarnya. Dengan nada lemas Yoon menjawab ya dan mengatakan kalau Tae San sudah mengusirnya.

Do Jin terkejut, "Benarkah? Melihat mulusnya wajahmu sepertinya Tae San tidak memukulimu!" Yoon bilang kalau hari ini kacau sekali.

Keduanya duduk di kursi. Yoon bertanya apa Do Jin masih ingat ketika Meari masih di SD seorang anak laki-laki memukulnya dan Tae San sangat murka. Ketika dia sampai di rumah anak itu, dia menanyai anak itu apakah dia tahu anak seperti apa Meari. dia akan menjadi Miss korea, apa yang akan kau lakukan?

Do Jin ingat itu karena ketika itu ia menemani Tae San. Bukan karena Meari terluka tapi karena tubuhnya terlalu pendek untuk menjadi Miss Korea. Kenapa Yoon mengungkit hal itu.

Yoon: "Dia marah karena itu dan aku sudah mencuri hidup Meari. Dari sudut pandang Tae San ini adalah sebuah penghianatan. Dia tak akan pernah memaafkanku."

Do Jin: "Cinta jahat ini, kenapa rasanya seperti perang? Apa yang bisa kubantu?"

Yoon bilang kalau ia tak apa-apa, berilah dukungan pada Tae San. Ia harus (pantas) menderita mengingat betapa pentingnya Meari bagi Tae San.

Yoon dikamarnya, ia mengeluarkan kotak kecil dari dalam laci mejanya. Ia memandang cincin pernikahannya, dengan tekad bulat dan penuh keyakinan ia melepas cincinnya dan menyimpannya.

Di Hwa Dam Do Jin menyuruh pegawainya agar menyampaikan pada Manajer Choi untuk menyiapkan presentasi tentang proyek desa loteng, ia ingin melihatnya segera dalam waktu 10 menit. Do Jin mengeluarkan kamera dan melihat beberapa bangunan hasil fotonya. Tae San dengan wajah lemasnya datang ke kantor dan minta maaf karena ia sudah terlambat datang.

Do Jin melihat kalau tampang Tae San sangat lusuh ia menebak sepertinya Tae San belum tidur, "Apa kau tak apa-apa?"

Tae San mengeluarkan sesuatu dari saku celana dan menaruhnya dimeja, "Bukankah kau yang bilang? Kalau kau berpura-pura baik-baik saja mungkin akan baik-baik saja. Apa yang terjadi, benar-benar terjadi." Tae San bertanya apa sekarang Yoon masuk kerja.

Do Jin: "Apa Tae San sekarang masuk kerja? Yoon mengirim SMS seperti itu padaku. Apa kau ingin kukirimi SMS-nya agar bisa membalasnya?"

Tae San mendesah kesal, Do Jin mengatakan kalau tingkah Tae San ini tak akan menyelesaikan masalah dan tentang masalah Meari ia pasti berada di pihak Tae San. Tae San heran dan bertanya kenapa. Do Jin mengatakan kalau Yoon memintanya supaya memihak Tae San. Katanya dia tak memerlukannya dan jangan mengganggunya. Tae San makin kesal dan tak percaya.

Do Jin: "Aigoo, apa kau tak mempercayaiku? Apa kau mau aku menggunakan kesempatan ini untuk menendang Yoon? dan meminta pacarku untuk menendang Meari juga? Baiklah kalau begitu aku akan melakukannya. Tendang dua orang itu ke jalanan agar mereka...."

Tae San menyela, "Kenapa? Lebih baik kau belikan rumah saja untuk mereka."

Do Jin berkata kalau presentasinya sudah mau dimulai. Tae San berkata kalau ia akan kesana. Tae San keluar kantor akan menghadiri presentasi Manajer Choi. Do Jin menyusulnya tapi langkahnya terhenti di depan meja Tae San, ia melihat sebungkus rokok dan koreknya. Ternyata masalah Meari ini benar-benar membuat Tae San stres sampai melampiaskannya ke rokok padahal mereka berempat sudah berhenti merokok.

Manajer Choi memaparkan presentasi tentang desain desa loteng. Tae San melamun, ia seperti tak mendengarkan apa yang disampaikan Manajer Choi. Do Jin memperhatikan Tae San yang dari tadi diam melamun. Bahkan seluruh staf desain juga memperhatikan presdirnya. Manajer Choi bertanya apa presentasinya ini perlu diulangi.

Tae San tersadar dari lamunannya. Do Jin menyuruh Manajer Choi tak usah menghiraukan Tae San karena dia sedang menghadapi masalah keluarga. Tae San berkata kalau ia mendengarkan semuanya, "Rumah dengan hembusan angin, ruangan yang terbuka itu tak buruk." Kata Tae San membuat staf desain tertawa, ternyata benar Tae San mendengarkan hehe. Tae San heran kenapa staf-nya tertawa. Ia mengancam kalau sekali lagi membuat keributan apa staf-nya ini mau gajinya dipotong hahaha.. stafnya langsung diam melanjutkan pekerjaan mereka.

Do Jin menambahkan kalau secara umum konsep itu sudah baik tapi terkesan membosankan karena kurang memiliki humor, "Apa itu humor?" tanya Do Jin pada staf desainnya.

"Menyampaikan pendapatmu dengan sopan setelah evaluasi secara keseluruhan!" sahut staf desain bersamaan.

Tae San memberi saran sebaiknya staf-nya ini melakukan sedikit revisi. Pemanas dan pendinginan, keamanan dan aspek-aspek teknis ini adalah kerancuan yang umumnya terjadi pada klien yang tinggal di apartemen. Sebagai referensi pendingin ruangan pada proyek ini ia menyarankan lebih baik menggunakan sistem koding. Stafnya mengerti dan segera melakukan apa yang disarankan Tae San tadi.

Do Jin menopang wajahnya tersenyum imut menatap Tae San, "Ah Presdir Im kami, dia kelihatan tak memperhatikan tapi ternyata penuh perhatian. Kau mau makan apa? Aku yang traktir."

Tae San menyuruh Do Jin makan lebih dulu karena ia ada janji. Do Jin merengut Tae San mengabaikannya begitu saja. Ia sewot, "Dengan siapa?"

Ternyata Tae San makan siang dengan Yoon. Tae San melihat kalau Yoon sudah tak mengenakan cincin pernikahannnya lagi. "Kau...."

Yoon sadar kalau Tae San memperhatikannya, "Cincin pernikahanku... aku melepasnya!"

Tae San menarik nafas lemah dan berkata kalau ia akan menyederhanakan masalah ini. "Seandainya suatu hari kau membawa pulang gadis berusia 24 tahun maka aku pasti akan mengatakan ini. Hei pencuri tapi gadis 24 tahun itu adalah adikku, bagaimana mungkin aku bisa memahaminya? Tentang Jung Ah, sebagai sahabat aku ikut merasakan kesedihan yang mendalam. Tapi sebagai Kakak Meari, sangat berat bagiku untuk menerima masa lalumu. Pikirkanlah dari sudut pandangku. Kalau kau jadi aku apa kau akan setuju?"

Yoon berkata kalau ia memahami reaksi Tae San yang seperti ini karena reaksi ini sangat logis.

Tae San: "Tapi meskipun kau memahaminya, kenapa kau masih melakukan ini dan kenapa membuatku mengatakan hal itu? kenapa?"

Yoon: "Karena aku tak bisa menyerah. Aku tahu, aku pria jahat yang tak tahu malu. Aku juga tahu kalau kau merasa dirampok,"

Tae San: "Kau tahu tapi kau masih saja melakukannya? Meskipun aku tak mempercayai Meari tapi aku mempercayaimu."

Yoon: "Maafkan aku. Tapi Tae San, Meari sudah banyak menangis karena aku. Aku sangat membenci itu. Jadi, aku tak akan membiarkannya menangis lagi."

Tae San: "Lalu bagaimana dengan impiannya? Masa depannya. Sebenarnya, tentang keinginan Meari untuk menjadi desainer tas sejujurnya aku tak menyukainya. Tapi itulah impiannya. Aku ingin dia lebih banyak belajar dan berlatih agar dia bisa meraih impiannya."

Yoon: "Aku pun tak menginginkan Meari kehilangan impiannya. Tae San, Meari juga impianku. Aku tak peduli dia menjadi desainer atau yang lainnya, aku akan memberikan segalanya untuk mendukung impianku."

Tae San kecewa dengan sikap yang diambil Yoon, dengan perasaan kesal ia meninggalkan tempat makan siangnya.

Meari tertunduk lemah di kamar Yi Soo, ia tak bersemangat. Yi Soo mengatakan kalau ia akan keluar mencari rumah baru apa Meari mau ikut dengannya. Meari tahu kalau gurunya ini akan pergi dengan Do Jin jadi ia tak mau mengganggu kebersamaan mereka. Walaupun ia sekarang tak berdaya tapi ia tetaplah Meari yang selalu menyemangati gurunya.

Yi Soo sedikit cemas apa Meari tak apa-apa di rumah bersama Se Ra yang selalu judes pada Meari. Meari berkata kalau ia tak menyangka Se Ra begitu menyukai kakaknya. Yi Soo mengatakan kalau dalam kehidupan Se Ra hanya ada musuh dan sekutu tak ada yang lainnya. Ia mengingatkan kalau Meari dalam masalah. Meari tersenyum dan berpesan gurunya hati-hati.

Yi Soo dan Do Jin melihat-lihat apartemen. Petugas mengantar keduanya melihat-lihat dan bertanya apa keduanya akan tinggal disini. Do Jin berkata bukankah sudah terlihat seperti itu. Yi Soo meralat kalau yang akan tinggal disini 2 orang wanita. Ia mengatakan pada Do Jin kalau ia dan Se Ra akan tingggal bersama tapi kali ini ia-lah pemilik rumahnya. Do Jin menilai kalau untuknya ini kabar buruk.

Petugas mengatakan kalau harga sewanya sangat wajar karena lokasi ini sangat populer jadi kalau benar-benar Yi Soo menyukainya segera saja tanda tangani kontrak sebelum orang lain mengambilnya. Ia meninggalkan keduanya agar berfikir.

Do Jin menatap manja, "Bukankah kita terlihat seperti pengantin baru!" (hihi) Yi Soo merasa kalau Do Jin sedang bermimpi indah di siang bolong. Ia lebih merasa kalau mereka berdua mirip pasangan yang menikah lagi.

Do Jin: "Apa kau mengungkit kekuranganku karena aku sudah punya anak?"

Yi Soo: "Maksudku kita sudah melewati usia yang pantas untuk menikah. Aku tak menyangka ternyata kau memiliki rasa rendah diri juga."

Do Jin mengatakan kalau pesona kekanak-kanakan seperti ini juga diperlukan. "Kalau kau merasa pesonaku terlalu menyilaukan, jadilah seperti tokoh utama dalam drama."

Do Jin menyarankan lebih baik Yi Soo mengambil rumah ini. Sebagai seorang yang ahli menurutnya rumah ini yang terbaik diantara beberapa rumah yang sudah mereka lihat. Yi Soo ingin tahu apa pendapat sang ahli mengenai rumah ini. Do Jin memeluk Yi Soo dari belakang dan berkata kalau rumah ini adalah yang paling dekat dengan rumahnya. Yi Soo tersenyum dan bertanya sebelumnya bagaimana cara Do Jin menahan semuanya. Do Jin mengatakan kalau selama ini sangat sulit untuk menahannya (menahan apa ya haha)

Tiba-tiba terdengar pintu terbuka, petugas yang tadi datang lagi. Do Jin panik dan langsung melepas pelukannya dan bersikap wajar dengan mengatakan kalau mereka harus melakukan pengecatan pada dindingnya. Yi Soo tersenyum-senyum melihat Do Jin yang salah tingkah hihi.

Yi Soo berharap Do Jin nanti yang mengecatnya. Do Jin bertanya haruskah orang yang ahli turun tangan langsung. Tiba-tiba pandangan Do Jin tertuju ke lantai dan berseru kaget kalau disana ada lebah. Do Jin langsung lompat ketakutan.

Plok... Yi Soo langsung memukul lebah itu dengan koran yang dibawanya. Yi Soo jelas tak takut apapun. Hehe.

Yi Soo langsung tersadar kalau seharusnya wanita juga ada sisi ngeri terhadap hewan kecil, Do Jin menatapnya aneh. Yi Soo langsung terduduk mundur dan berteriak ketakutan. Hahaha.

"Yi Soo Oppa is the best!" Do Jin memberikan jempolnya karena melihat keberanian Yi Soo.

"Kau bilang apa?"

"Apa kau tak tahu? Kau adalah seorang kakak kalau kau bisa membunuh serangga." Ucap Do Jin.

Yi Soo langsung berdiri dan mengatakan pada petugas kalau ia akan mengambil rumah ini. Ia minta izin akan datang untuk membersihkan dan mengecat sendiri rumahnya.

Waktunya mengecat rumah. Keren banget scene ini mereka berdua mengecat bersama. mulai dari mencampur cat, mengaduk sampai proses mengecatnya pun mereka lakukan berdua. Do Jin sebagai orang yang ahli memberi instruksi pada Yi Soo.

Ketika Yi Soo tak bisa menjangkau bagian yang tinggi Do Jin mengambil kesempatan menggendongnya. Keduanya tampak riang.

Lha ini kok Yi Soo yang menggendong.

Kalau seperti itu jadinya mereka jatuh bersamaan hahaha.

Mengecat dinding pun selesai. Do Jin mengeluh seluruh badannya pegal. Ia berbaring di lantai yang sudah dialasi dengan kardus. Yi Soo berbaring di sampingnya menggunakan lengan Do Jin sebagai bantal.

Yi Soo mengeluhkan kalau pekerjaan ini tak mudah. Do Jin menyombongkan diri kalau tanpa dirinya pekerjaan ini tak akan pernah selesai. Yi Soo malah merasa kalau tanpa Do Jin pekerjaan ini mungkin akan lebih cepat selesai. "Kenapa kau harus menggendongku padahal ada tangga yang lebih kuat?"

Do Jin: "Aku tak menyangka kau langsung melompat naik ketika ditawari. Aku mempertaruhkan hidupku untuk menolongmu. Pinggangku hampir copot. Jadi kesimpulannya semua adalah kesalahan Seo Yi Soo!"

"Ah dasar!" Yi Soo menabok Do Jin. Do Jin mengaduh dan mengatakan kalau yang dilakukan Yi Soo barusan adalah pelecehan seksual. Namanya pelecehan seksual ketika korbanya merasa tak bahagia.

Yi Soo: "Apa seperti itu ekspresi tak bahagia?"

Do Jin: "Ini adalah ekspresi yang menyedihkan."

Yi Soo: "Ah dasar aku sungguh tak tahu harus berkata apa."

Cup.. dengan cepat Do Jin mencium Yi Soo dan meminta lebih baik melakukan yang lain saja. Yi Soo dengan cepat membalas ciuman Do Jin. Apa Do Jin pikir hanya Do Jin yang tak bisa menahan.

Do Jin merasa kalau wanita ini memang pembuat masalah. Ia terus menatap Yi Soo tapi Yi Soo menyuruhnya untuk kembali berbaring. Do Jin menyahut kalau kali ini ia akan melepaskan Yi Soo, ia pun kembali berbaring di samping Yi Soo.

Yi Soo menanyakan keadaan Tae San dan memberi tahu kalau keadaan Meari tak terlalu buruk. Do Jin berkata kalau Tae San tak meninggalkan celah sama sekali, kalau berkaitan dengan Meari dia tak akan mau berkompromi. Yi Soo menilai kalau Meari sangat berani, Do Jin malah menilai kalau yang Yi Soo hadapi juga bukan hal yang mudah.

Do Jin berjanji kelak ia akan membangun rumah yang indah untuk Yi Soo. Sebuah rumah yang besar dan indah dengan pencahayaan yang baik, ventilasi yang baik. Sebuah rumah yang siapapun tak ingin meninggalkannya.

Yi Soo kemudian menanyakan tentang keluarga Do Jin, "Orang tuamu tinggal di Kanada bagian mana?" Do Jin mengatakan kalau mereka tinggal di Toronto. Tempat yang selalu dingin meskipun sedang puncaknya musim panas. Yi Soo ingin tahu sampai kapan Do Jin hidup dengan mereka.

Do Jin mengatakan begitu ia masuk kuliah mereka tak sabar ingin pergi. Sebenarnya ia ingin mengulang masa SMA-nya, masa dimana ia berkumpul dengan orang tuanya. Tapi ketika itu ibunya bilang, Dengan pencapaianmu sebenarnya sudah cukup baik. Kami ingin pergi ke Kanada. Kau kuliah saja

Do Jin merasa kalau ia mirip ibunya. Yi Soo menilai kalau keluarga seperti itu sangat harmonis. Do Jin mengungkapkan walaupun keluarganya bukan keluarga kaya tapi yang mereka miliki sudah lebih dari cukup untuk mereka. Orang tuanya sangat dekat, ia selalu dianggap sebagai penghalang kemesraan orang tuanya. Waktu itu ia sangat sedih tapi kemudian ia menyadari kalau waktu itu adalah anugrah.

Yi Soo menebak apa berawal dari sana sikap Do Jin yang santai dan sifat rasa percaya diri itu muncul. Ia merasa ia juga cukup percaya diri tapi ia berbeda dengan Do Jin. Ia mendapatkan semuanya dengan bekerja keras sedangkan rasa percaya diri Do Jin muncul secara alami. Pekerja keras seperti dirinya akan langsung mengenali kepercayaan diri Do Jin yang alami itu tapi terkadang itu membuatnya frustasi. Yi Soo mengungkapkan kalau masa kecilnya tak bahagia dan juga keadaan keluarganya tak pantas untuk dibanggakan.

Do Jin bangkit dan menatap Yi Soo lekat-lekat meminta Yi Soo menatapnya. Ia menggenggam tangan Yi Soo. "Apa kau tahu? Kebahagiaan Seo Yi Soo akan mulai mekar pada musim ketiga diusiamu yang ke 36. Dan sekarang sudah dimulai." Yi Soo tertawa mendengarnya.

Do Jin terus menatap Yi Soo dengan tatapan lebih dalam dan mulai mendekatkan wajahnya untuk mencium wanita yang ada di depannya ini penuh perasaan. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Yi Soo. (entah dari sekian kali keduanya kissu yang ini bikin saya deg-degan apalagi backsound-nya You are My everywhere)

Do Jin: "Janji kau akan bahagia, bolehkah kumulai lagi? mulai hari ini sampai besok, dari besok sampai lusa. Kau akan semakin dan semakin bahagia. Aku janji."

Do Jin kembali menggenggam erat tangan Yi Soo. Yi Soo tersenyum dan berkata kalau untuk kali ini ia juga mempercayai Do Jin. Do Jin berjanji kalau kali ini ia akan menjaganya mati-matian.

And then keduanya pun kissu lagi.

Se Ra keluar dari tempat latihan golf-nya sambil menelepon supir taksi untuk mengantar pulang. Tapi Ia terkejut mobil merahnya tiba-tiba datang dan di dalam mobilnya Tae San tersenyum memandangnya.

Tae San bertanya apa Se Ra naik taksi karena tas yang Se Ra bawa. Se Ra mengatakan kalau ia sesekali naik taksi karena ia ingin pergi sendirian. Tae San membawakan tas perlengkapan golf dan memasukannya ke bagasi mobil.

Tae San memberi tahu kalau mobilnya sudah di servis bahkan ia sudah menyiapkan ban cadangan. Ia memilihkan yang kualitasnya bagus. Ia memberikan kunci mobil pada Se Ra. Ia meminta Se Ra yang menyetir dan mengantarnya pulang.

Di rumah Tae San. Ia menanyakan kapan Se Ra pindah. Se Ra mengatakan kalau ia sudah menghubungi jasa pindahan rumah jadi Tae San tak perlu khawatir. Tapi Tae San merasa sebagai pacar Se Ra setidaknya ia harus membantu. Se Ra berkata kalau yang pindahan ini bukan mahasiswi, lagi pula disana ada Meari. Bukankah Tae San tak mau melihatnya.

Tae San ingin tahu dimana Meari tidur. Se Ra mengatakan kalau Meari kadang-kadang tidur di sofa sambil nonton TV terkadang juga tidur di kamar Yi Soo. Tae San teringat bukankah Se Ra dan Yi Soo ini jarang memasak bagaimana dengan makannya. Se Ra meminta Tae San tak perlu mengkhawatirkan itu, dari semua brosur makanan siap antar ada lebih dari 30 jenis masakan dari mulai masakan ala Korea sampai masakan ala Meksiko.

Se Ra penasaran dan ingin tahu apa Tae San sudah bicara dengan Yoon. Tae San mengangguk dan berkata kalau ia sudah mengatakan sikapnya pada Yoon.

Se Ra: "Sejujurnya, melihat kehidupan Meari ada peluang Meari kebahagiaan. Aku baru bertemu pria yang kusukai saat usiaku 36 tahun. Sedangkan dia bertemu pria yang disukainya saat usianya baru 24 tahun. Dia lebih bahagia daripada aku 12 tahun lebih awal."

Tae San memandang kesal dan mengingatkan Se Ra jangan pernah berada dipihak Meari. Ia akan tetap merasa kasihan meskipun usia Meari 34 tahun tapi dia sekarang masih 24 tahun.

Se Ra berkata kalau ia sudah memarahi Meari berkali-kali, apa ia harus bicara dengan Yoon juga. Apa yang harus ia lakukan untuk membantu Tae San. Lagi pula ia ini seorang sarjana olah raga dan mereka akan mati di tangannya, kata Se Ra sambil mengepalkan tangannya. Tae San tersenyum mendengarnya, ia berkata kalau Do Jin pasti ada disana untuk membantu pindahan dan ia akan meminta Jung Rok untuk ikut membantu.

Se Ra kembali meminta Tae San tak usah khawatir, ia memeluk Tae San dan menyandarkan kepalanya ke bahu Tae San.

Saatnya beres-beres rumah baru. Do Jin dan Jung Rok sampai disana. Jung Rok langsung ngomel-ngomel ke Meari, burung saja tahu bagaimana berterima kasih tapi Meari bahkan tidak berterima kasih sebelum kabur ke Amerika. Meari bilang bukankah pada akhirnya ia tak jadi pergi. Meari memanggil gurunya memberi tahu kalau Do Jin sudah ada disini.

Yi Soo keluar dan lihat baju apa yang ia kenakan. Dia memakai mini dress seksi hihi... Mereka semua heran dengan pakaian yang dikenakan Yi Soo, bukankah mereka akan beres-beres rumah tapi pakaian Yi Soo tak menandakan kalau baju itu untuk beres-beres rumah seperti baju ingin kencan hihi.

Se Ra heran kenapa Yi Soo berganti pakaian. Bukankah kalau memakai gaun akan tak nyaman. Yi Soo bilang tidak dan mengatakan kalau bajunya yang tadi kotor. Meari merasa gurunya ini luar biasa, "Kalau kita tak pindah rumah apa guru berencana mengenakan bikini?"

Se Ra merengut Yi Soo sudah mendapat bantuan Do Jin disini dan karena seseorang Tae San jadi tak datang untuk menemuinya. Meari langsung diam dan permisi akan menyusun pakaian.

Yi Soo berkata kalau hanya pakaian ini yang biasanya ia kenakan. Do Jin menanyakan kenapa Yi Soo tak memakai pakaian bepergian saja. Yi Soo cemberut dan meminta Do Jin ikut dengannya membereskan buku-buku di kamar. Jung Rok menanyakan apa yang harus dilakukannya disini.

Jung Rok (ngapain ya ini) pokoknya memecahkan plastik pembungkus. Dia menemani beberapa petugas yang mengurusi pindahan mereka. Mereka tertawa-tawa.

Do Jin dan Yi Soo membereskan buku-buku ke rak. Do Jin mengambilkannya dari kardus sementara Yi Soo yang menyusunnya di rak. Do Jin menatap penasaran pakaian yang dikenakan Yi Soo sangat mini. Naluri laki-lakinya pun muncul. Ketika Yi soo sedikit jongkok dan pahanya terlihat ia pun berusaha untuk mengintip. Hahaha. Tapi ketika Yi Soo berbalik badan Do Jin berpura-pura bersikap wajar.

Do Jin tak kehilangan akal untuk mengintip ia melemparkan buku tepat didekat kaki Yi Soo dan berujar oh kenapa bukunya ada disini. Do Jin akan mengambil buku yang sengaja ia lemparkan tadi guna menjadi alasannya untuk mengintip hihi.

Tapi Yi Soo tahu sifat Do Jin, ia langsung berbalik jongkok menatap tajam. Do Jin jelas kaget karena perubahan posisi Yi Soo yang tiba-tiba.

"Ah dasar, ganti posisi!" Yi Soo paham betul apa yang akan Do Jin lakukan.

"Siapa yang menyuruhmu memakai pakaian itu?" Do Jin ngomel. "Kau ini hanya pembunuh serangga apa kau pikir model baju ini sesuai denganmu?"

"Omo ada lebah!" seru Yi Soo menakuti Do Jin. Do Jin panik dan langsung berdiri. Yi Soo pun sudah jongkok di depan kardus berganti posisi agar Do Jin yang membereskan buku di rak.

"Aish.. nomor berapa?" tanya Do Jin ingin tahu sekaligus penasaran.

"Apa?" Yi Soo belum paham.

"Nomor 1, 2, 3, 4, 5, yang mana? Apa nomor 3 yang kusuka?" Do Jin menebak pakaian dalam yang dikenakan Yi Soo.

"Pergilah ke neraka dengan nomor 3 mu!" Yi Soo membentak kesal. Tapi kemudian ia tersenyum, "Nomor 2?"

"Ah.. nomor 2. Bagaimana kemarin?"

"Kemarin yang gambar kucing." Ucap Yi Soo.

"Aha...." Do Jin tersenyum-senyum. Keduanya tersenyum-senyum membicarakan pakaian dalam... wakakakakaka.

Setelah beres-beres rumah ketiga wanita ini langsung memanjakan diri men-cat kuku-kuku mereka. Yi Soo tersenyum-senyum mengingat obrolannya dengan Do Jin tadi. Se Ra dan Meari menatapnya aneh. Yi Soo langsung bersikap biasa-biasa saja dan mengatakan kalau ia sedang memikirkan hal lain.

Meari tanya jam berapa mereka akan makan karena ia sudah lapar setelah bekerja keras seharian. Se Ra mengatakan kalau Tae San bilang dia tak lapar. Katanya dia tak nafsu makan.

Meari tahu kalau Se Ra menyindirnya, ia berkata kalau ia juga gelisah. Tapi ia tak mau menunjukannya. Se Ra meminta lebih baik tunjukan saja karena ia benar-benar tak bisa melihatnya.

Yi Soo bertanya pada Meari apa sudah bertemu dengan Yoon sejak tarakhir kali keduanya bertemu. Meari mengatakan kalau Yoon menelepon setiap hari dan juga dia datang beberapa hari yang lalu. Kita hanya bisa menunggu sampai kemarahan kakaknya mereda.

Yi Soo ingat bukankah Se Ra sudah bertemu dengan Tae San, bagaimana kabarnya. Se Ra malah menatap marah ke Meari. Meari paham itu berarti kakaknya masih marah padanya.

Malam hari Tae San latihan baseball sendirian. Ia melatih pukulannya. Do Jin dan Jung Rok datang melihat latihannya. "Presdir Im, pukulan bagus!" teriak Do Jin dan Jung Rok bersamaan sambil memberikan tepuk tangan.

Tae San heran kenapa keduanya datang kesini. Do Jin memberi tahu kalau pindahannya sudah selesai. Ia mengatakan kalau rumahnya agak kecil, rumah yang seharusnya cukup untuk 2 orang wanita. Ia juga mengatakan kalau Meari betah disana dan sudah seperti di rumah sendiri. "Meari sangat mengkhawatirkanmu!" Jung Rok bingung dan berbisik pada Do Jin, "Kapan?" Do Jin menyenggol Jung Rok meminta temannya diam.

Jung Rok menunjukan kalau ia membawakan koyo herbal untuk Tae San. Ia menawarkan apa mau dipasangkan. Do Jin juga menawarkan apa Tae San ingin pergi ke sauna dan disana keduanya akan membantu menggosok punggung Tae San.

"Kami akan selalu mendukungmu, kau tahu kan?" Kata Jung Rok. Ia dan Do Jin pun membuat tanda love sambil tersenyum. Tae San terkekeh melihatnya. Tapi sesaat kemudian ia menyuruh keduanya pergi.

Sementara Tae San latihan memukul bola, Yoon latihan melempar bola. Ia juga latihan sendirian untuk melampiaskan kegalauan.

Do Jin dan Jung Rok sampai ditempat Yoon latihan melempar. "Pengacara Choi, nice pitching (lemparan yang bagus)!" seru keduanya bersamaan.

Yoon bertanya kenapa keduanya ada disini ada perlu apa. Seperti yang dikatakan pada Tae San, Do Jin juga mengatakan pada Yoon kalau pindahannya sudah selesai dan Meari sudah seperti berada di rumah sendiri. "Meari sangat mengkhawatirkanmu!"

"Apa kalian tak menemui Tae San?" tanya Yoon.

Do Jin dan Jung Rok bertatapan sebentar untuk menyamakan jawaban tapi jawaban keduanya berbeda. Yang satu menjawab ya, yang satu menjawab tidak. Keduanya saling mengumpat.

"Kalau kalian ingin berbohong rencanakan terlebih dahulu." Kata Yoon.

Keduanya kembali menjawab dengan jawaban yang tak sama. Yang satu menjawab kalau keduanya baru saja pergi menemui Tae San, yang satunya menjawab kalau keduanya akan pergi nanti. Keduanya kembali saling mengumpat karena jawabannya tak sama. Yoon paham dan bertanya bagaimana keadaan Tae San.

Do Jin: "Kau melakukan pitching (melempar) dia melakukan batting (memukul) begitulah."

Jung Rok menunjukan koyo herbal yang tadi ia tunjukan ke Tae San. "Kau ingin yang ditempel atau yang disemprot?" Do Jin juga menawarkan seperti apa yang ia tawarkan pada Tae San. Apa Yoon ingin pergi ke sauna, mereka berdua akan membantu menggosok punggung Yoon.

"Kami akan selalu mendukungmu, kau tahu kan?" Ucap Jung Rok dan keduanya kembali memperagakan tanda love untuk Yoon seperti yang keduanya tunjukan pada Tae San. Yoon tahu pasti dan menebak kalau hal yang sama sudah Do Jin dan Jung Rok lakukan pada Tae San. Do Jin bergumam, "Tapi kami sangat menggemaskan kan?" (hihi) Yoon tak menghiraukannya, ia terus melempar bola. Jung Rok dan Do Jin pun pergi dari sana membiarkan Yoon menyendiri.

Meari tersenyum malu-malu menunggu kedatangan Yoon. keduanya janjian kencan hihi. Ketika Yoon datang, Meari gugup campur gelisah (hihi tak seperti biasanya yang selalu ceplas-ceplos) ia terus menunduk tak berani menatap Yoon.

Yoon menanyakan kenapa Meari datang lebih awal bukankah ia sudah bilang kalau ia yang akan menunggu Meari. Dengan tatapan mata yang masih tertunduk malu Meari mengatakan kalau itu tak apa-apa, bagaimanapun ia sudah berada disini.

Yoon: "Tapi kenapa kau tak melihatku?"

Meari tersenyum dan berkata kalau ia tak berani menatap Yoon.

Yoon: "Tapi aku ingin melihatmu, Angkat wajahmu!" (huwaaaaaaaaa)

Meari mengangkat sedikit wajahnya tapi kemudian ia tertunduk lagi dan tersenyum malu. (greget sama pasangan ini)

Yoon menanyakan konsep apa lagi yang sedang Meari mainkan sekarang. Meari bilang kalau ini bukan konsep ia hanya merasa sangat cemas. Kenapa marasa cemas, ia sendiri pun tak tahu. (saya ikutan gugup berasa saya yang berangkat kencan hihi)

Meari melihat tas yang dibawa Yoon itu tas buatannya. Ia kaget karena ia mengira kalau tas itu sudah dibuang oleh Yoon. Yoon bilang bagaimana mungkin ia membuangnya bukankah tas ini Meari sendiri yang membuatnya. Meari kembali tertunduk tersenyum malu.

Yoon meraih tangan Meari dan menggandengnya. Terlihat gelang keduanya dipakai di tangan masing-masing. Yoon mengajak Meari makan bersama.

Min Suk tertunduk melamun, Jung Rok memberi tahu apa saja yang ia lakukan bersama Do Jin terhadap Tae San dan Yoon tadi. Jadi ia tak bisa menjawab telepon istrinya. Ia juga mengatakan kalau Tae San dan Yoon sedang berjuang antara hidup dan mati, jadi ia tak mungkin menjawab telepon istrinya dengan mengatakan halo sayang sementara sahabatnya tengah dirundung kegalauan.

Min Suk menatap Jung Rok. Jung Rok aneh melihatnya dan bertanya kenapa, apa istrinya ini tak percaya apa yang ia katakan barusan. Ia menyarankan Min Suk menelepon Do Jin kalau masih tak percaya padanya. Min Suk tetap diam menatap suaminya. Jung Rok sadar kalau menelepon Do Jin akan sama saja Min Suk pasti tak akan mempercayainya. Ia kemudian menyarankan untuk menanyakannya pada Yoon, tapi menurutnya Yoon juga sama istrinya tak akan percaya. Ia ingat dan istrinya bisa mencari tahu lewat toko obat karena ia pergi kesana untuk membeli koyo herbal untuk Tae San dan Yoon.

Min Suk tetap diam. Jung Rok menanyakan apa istrinya ini benar-benar tak mempercayainya. Min Suk menjawab ya, ia tak lagi mempercayai Jung Rok. Meskipun Jung Rok mempunyai CCTV ia tetap tak akan mempercayai suaminya ini. Jung Rok heran kenapa istrinya tiba-tiba seperti ini.

Min Suk mulai menitikan air mata, "Semua orang berkata kalau aku mempunyai segalanya. Tidak. Aku memang mempunyai segalanya. Tapi aku, aku terus memperlakukanmu sebagai milikku."

Jung Rok: "Kenapa kau menangis lagi?"

Min Suk memandang cincinnya, "Mengenai memakai cincin pernikahan ini, karena suami dan istri tidak bisa selalu bersama-sama. Cincin untuk menghubungkan suami dan istri di dalam hati ketika mereka saling berjauhan. Tapi sekarang cincin ini, aku ingin melepasnya. Benar. Sekarang, meskipun kau memberitahuku 1 ditambah 1 sama dengan 2, aku tidak bisa lagi mempercayaimu. Apa yang kau dan wanita itu bicarakan? Telepon dari wanita atau pria? Kau benar-benar tertawa atau hanya pura-pura? setiap hari aku selalu berjalan diantara surga dan neraka."

"Aku minta maaf." Jung Rok berkata dengan suara lemah karena selama ini sikapnya sudah membuat istrinya menjadi seperti ini. "Aku tahu semuanya salahku. Tapi istriku, mulai sekarang aku tak akan pernah melepas cincin ini lagi. Sungguh. Aku benar-benar tak ingin melakukannya lagi."

Air mata Min Suk terus mengalir dengan suara yang makin gemetaran, "Sekarang akulah yang ingin melepasnya. Meskipun kau tak ingin, aku akan tetap melepasnya. Kumohon, kita bercerai saja! Karena aku berfikir kalau aku terlalu menyedihkan. Kurasa aku akan gila mencurigaimu seperti itu setiap saat. Aku dengan tulus memohon padamu!"

Min Suk melepas cincinnya, "Lepaskan aku. Kumohon kita bercerai saja. Kumohon padamu untuk membiarkanku menjalani kehidupan yang normal."

Tangis Min Suk semakin keras dan air mata yang terus mengalir deras. Jung Rok terduduk lemas ia tak pernah melihat sikap istrinya yang begitu ingin bercerai darinya sampai-sampai Min Suk memohon sambil menangis agar ia melepasnya.

Do Jin membuat rancangan rumah yang terbuat dari benang merah baju Yi Soo. Sebuah rancangan rumah indah yang sesuai dengan harapan Yi Soo. Rumah yang siapapun tak ingin meninggalkannya.

Do Jin tersenyum puas dengan hasil rancangannya. Ia melirik ke arah kalender dimana ia menempelkan memo dengan tulisan nomor telepon Guru Park. Ia pun menghubungi salah satu guru SMA Ju Won ini.

Do Jin dan Yi Soo mengajak beberapa guru SMA Ju Won makan malam bersama. Yi Soo memandang tak mengerti apa maksud Do Jin mengajak rekan-rekan gurunya makan bersama. Do Jin berkata kalau ia tak tahu apakah hidangan ini sesuai dengan selera ibu-ibu guru ini. Guru Park mengatakan kalau ia juga sering datang ke restouran ini untuk makan bersama suaminya. Jadi ia menyukai tempat ini. Guru Park mengambil air minum se-elegan mungkin. Hihi.

Guru Park: "Tapi memangnya apa kami boleh menerima jamuan dari orang tua siswa?"

Do Jin: "Hari ini aku tak mentraktir anda semua makan malam sebagai orang tua murid, tapi sebagai pacar dari Guru Seo!"

Do Jin tak tahu apakah ibu-ibu guru ini menyukai anggur merah. Guru Park berseru antusias bagaimana Do Jin tahu kalau ia hanya minum anggur merah, ia bertanya pada Yi Soo apa Yi Soo yang memberi tahu Do Jin. Do Jin mengatakan kalau itu semua tertulis di wajah Guru Park yang terlihat terhormat dan elegan.

Guru yang lain menyahut bukankah harga anggur merah itu cukup mahal. Guru Park tak tahu itu, benarkah (lha katanya suka kok ga tahu harganya hahaha) Do Jin meminta kalau begitu pilih saja yang paling mahal. Ibu-ibu guru ini jelas senang ditraktir makanan dan minuman mahal. Semuanya bersulang meminum anggur merah. Kelihatannya mereka sudah hampir mabuk. Guru yang duduk di sebelah Guru Park berkata kalau Yi Soo sangat beruntung karena memiliki pacar yang mirip dengan bintang film. Yi Soo tersenyum mendengarnya.

Guru Park ikutan menyahut kalau suaminya juga tak jelek, bahkan kata orang-orang suaminya itu sangat mirip dengan Jang Dong Gun (buwahahahaha) Do Jin langsung pasang tampang muka bete oh ya dan berkata itu karena Guru Park sangat cantik wakakaka. Guru Park tertawa dan berkata sepertinya semua pria tampan memiliki selera yang sama. "Guru Seo kau benar-benar telah menemukan pria yang baik!"

Yi Soo tersenyum kemudian menyodorkan gelas kosongnya pada Do Jin. Do Jin paham dan menuangkan minuman untuk Yi Soo. Do Jin menyahut kalau Yi Soo minum agak berlebihan hari ini. Yi Soo berkata itu karena ia sangat bahagia. Semuanya bersulang.

Do Jin berharap ibu-ibu guru yang ada disini bisa memperlakukan Yi Soo dengan baik walaupun dia agak kikuk dan ceroboh. Guru Park berkata kalau ia selalu mengganggap Guru Seo sebagai adiknya. Do Jin menuangkan minuman untuk semua ibu guru yang ia traktir makan. "Semua pasti sudah mendengar, dengan menyesal akulah orang yang telah merusak kehidupan wanita ini." Kata Do Jin.

Guru Park: "Kerusakan apa yang kau bicarakan, tak seorang pun dari kami yang menganggapmu begitu (wuih padahal kemarin kan sempat menggunjingkan Yi Soo yang pacaran sama pria beranak satu)"

Do Jin bersyukur kalau meraka semua menganggapnya seperti itu. Ia berharap Guru Seo tetap melakukan pekerjaan yang dia sukai dan selalu bahagia. Karena itulah ia berharap rekan kerja Yi Soo ini bisa membantu Yi Soo. Dengan sopan Do Jin memberi hormat pada mereka semua. Guru Park merasa tak enak dan berkata kalau mereka semua selalu mendukung Guru Seo.

Mereka bersulang lagi. Do Jin menuangkan anggur merah sambil melirik ke arah Yi Soo. Keduanya saling memandang dan tersenyum. Do Jin mengedipkan matanya pada Yi Soo.

Usai mentraktir ibu-ibu guru. Do Jin dan Yi Soo berada di dalam mobil tak langsung pulang. Do Jin bertanya apa Yi Soo baik-baik saja. Yi Soo bilang kalau ia tak apa-apa ia tak terlalu banyak minum. Yi Soo berterima kasih karena Do Jin sudah bekerja keras. Do Jin mengatakan kalau kerja keras ini ia lakukan dengan senang hati. Ia ingin agar keduanya duduk dulu seperti ini sebelum pergi. Yi Soo setuju.

Keduanya saling memandang penuh cinta (kagak nahan liat tatapan Do Jin bikin deg-degan) tak ada yang memulai pembicaraan keduanya diam saling memandang.

Yi Soo merasa gugup dan memulai pembicaraan apa radio-nya mau dinyalakan. Do Jin juga gugup dan menyalakan radio. Tapi lagu yang dilantunkan di radio benar-benar membuat mereka malu. Do Jin mengganti saluran radio-nya tapi tetap saja lagu-lagu itu menggambarkan suasana hati mereka.

Dari mulai lagu tentang cium, peluk, panas, dan lagu terakhir lagunya Big Bang yang Dont Go Home hehe. Keduanya berusaha menahan tawa. Tapi pada akhirnya keduanya tak tahan dan tertawa keras. Yi Soo merasa kalau lagunya sesuai dengan suasana hati mereka. "Kenapa semua lagu isinya tentang lagu seksi. Lain kali ketika kita mendengar lagu ini kita pasti akan mengingat hari ini."

Do Jin: "Aku bisa membuat kenangan ini sedikit lebih dalam. Malam ini apa yang akan kau lakukan kalau aku tak membiarkanmu pulang? Malam ini aku tak ingin melepaskanmu!"

Keduanya saling memandang. Kira-kira apa yang ada dipikiran keduanya, dua orang dewasa yang saling memandang penuh cinta dan apa yang akan mereka lakukan.

Episode-19        

Mereka berempat berada di sebuah restouran bersenda gurau. Tiba-tiba tatapan Yoon terarah ke salah satu sudut ruangan. Spontan ketiga temannya juga mengikuti arah pandang Yoon.

Keempatnya melihat empat wanita mereka berpakaian seksi menghampiri mereka. Keempat wanita itu melambaikan tangan seraya tersenyum.

Keempat pria menarikkan kursi untuk masing-masing wanitanya. Jung Rok terkejut melihat baju yang dikenakan istrinya. Model baju dengan bagian punggung terbuka. Do Jin, Tae San dan Yoon terkejut melihatnya. Jung Rok kesal kenapa keseksian ini harus diperlihatkan dimuka umum.

Min Suk mengatakan kalau mereka semua boleh memesan makanan yang mahal karena kali ini ia yang akan mentraktir. Ketiga wanita yang lain tentu saja senang dan langsung memilih daftar menu.

Do Jin menatap tak suka Yi Soo berpakaian seperti itu, apalagi banyak mata pria yang memperhatikan.

Yoon mengambil sapu tangan dan menutupi bagian kaki Meari yang terbuka. Meari disini memakai rok yang sangat mini, Meari menatap heran. Yoon mengatakan kalau AC-nya terlalu kuat jadi ini sangat dingin.

Tae San memakaikan sapu tangan menutupi dada Se Ra yang sedikit terbuka. Se Ra memandang aneh atas apa yang dilakukan Tae San. Tae San mengatakan kalau makanannya nanti bisa mengotori pakaian dan nanti akan sangat merepotkan. Se Ra melirik kesal.

Jung Rok berkata kalau istrinya hari ini memakai pakaian yang terlalu terbuka. Ia pun memakaikan sapu tangan untuk menutupi punggung istrinya yang terbuka (hahaha kayak mau potong rambut)

Do Jin juga mengambil sapu tangan. Ia memberi kode pada Yi Soo untuk melihat ke arahnya. Yi Soo memandang heran.

Tiba-tiba Do Jin menutupi wajah Yi Soo dengan sapu tangan haha. Yi Soo menatap marah. Ia melepas sapu tangan dan permisi mau ke toilet. Ketiga wanita lain juga ikut permisi akan ke toilet.

Jung Rok ngomel-ngomel demi siapa mereka berpakaian terbuka seperti itu. Tae San berkata memangnya orang tak tahu dia mempunyai tubuh yang sempurna bukankah ia saja yang tahu itu sudah cukup, haruskah memperlihatkan semuanya pada orang lain.

Do Jin juga kesal ia jelas jengkel karena beberapa pria memandang Yi Soo. Ia benar-benar ingin menonjok mata mereka yang menatap Yi Soo dan ingin membuatnya seperti mata panda. Sementara Yoon mengeluh lemas, "Menurutmu bagaimana perasaanku? Meari masih muda dan cantik!"

Tiba-tiba pandangan Yoon tertuju ke satu arah (kenapa selalu Yoon duluan yang melihat) ketiganya juga mengikuti arah pandang Yoon. Keempatnya melihat seorang wanita yang mengenakan gaun seksi tengah celingukan mencari seseorang. (Omo belahan roknya sangat tinggi hihi)

Keempat pria ini melongo melihatnya dari atas sampai kaki dan matanya terus mengikuti arah pandang kemana wanita ini berjalan.

Wanita itu menelepon seseorang tapi ia merasakan sesuatu di sepatunya. Ia pun mengangkat kaki sebelahnya dan aigoo paha mulusnya terlihat sangat jelas. Sontak keempat pria ini menundukan kepala untuk melihat lebih jelas (lihat apa Om hahahaha)

Wanita itu sepertinya tak sengaja menjatuhkan sesuatu, ia jongkok untuk mengambilnya dan sekali lagi paha mulusnya terlihat dan membuat keempat ahjussi ini memiringkan kepalanya lebih miring lagi untuk melihat lebih jelas (kejadian di episode 2 terulang hahaha)

Suara Do Jin: "Kami berempat memang memiliki wanita yang cantik dan berada di usia emas kehidupan kami. Tapi kami masih saja dan akan tetap menjadi pejantan tangguh. Kami tak tahan melihat wanita kami mengekspos diri mereka, tapi dengan senang hati kami menikmati setiap ekspos kejutan. Tak masuk akal dan ironis dengan spesies jantan semacam itu."

Sinopsis A Gentlemans Dignity Episode 19

Subuh-subuh sebelum Do Jin dan Yi Soo makan bersama dengan ibu-ibu guru SMA Ju Won. Jung Rok melamun di bar-nya. Do Jin, Yoon dan Tae San datang tergesa-gesa ke bar kerena Jung Rok yang memanggil mereka. Ketiganya tanya apa yang terjadi sampai pagi-pagi buta begini mereka disuruh datang.

Dengan nada lemah Jung Rok mengatakan kalau Park Min Suk meminta cerai darinya. Aish.... ketiga temannya kesal ternyata mereka dipanggil pagi-pagi seperti ini hanya untuk mendengar hal itu. Do Jin mengira ada situasi yang darurat. Tae San mengatakan kalau hal yang tidak mendesak lebih baik disampaikan nanti atau besok saja.

Jung Rok berkata kalau kali ini benar-benar serius, "Dia bukan hanya mengucapkan kata cerai tapi kumohon kita bercerai saja Setelah menikah baru kali ini aku melihatnya menangis seperti itu."

Do Jin berkata kalau hanya Jung Rok saja yang baru pertama kali melihat Min Suk menangis, apa Jung Rok pikir sebelumnya Min Suk tak pernah menangis. Yoon menanyakan apa kesalahan yang Jung Rok kali ini. Tae San berkata kalau sekarang mereka tak akan membantu Jung Rok lagi.

Jung Rok tak menyangka kenapa ketiga temannya bersikap seperti itu, ia benar-benar tak melakukan kesalahan apapun ia memakai piyama dan siap akan tidur tapi tiba-tiba saja Min Suk mengatakan itu dan membuatnya benar-benar terkejut.

Do Jin tanya apa saat itu Min Suk sedang mabuk. Jung Rok berfikir dan kemungkinan istrinya minum segelas anggur. Ketiga temannya menebak pasti Min Suk mengatakannya secara tak sadar karena mabuk. Jung Rok bilang bukan, Min Suk benar-benar sungguh-sungguh karena setelah itu Min Suk tidak mengusirnya dia malah mengemasi tas-nya dan pergi. "Dia mengabaikan teleponku dan tak membalas SMS."

Do Jin menyahut kalau mereka juga ingin melakukan itu mengabaikan telepon dan SMS Jung Rok. Tae San kesal karena pagi-pagi Jung Rok sudah mengganggu orang hanya untuk membicarakan hal sepele. Mereka pun bubar.

Jung Rok: "Mau kemana kalian? Aku benar-benar khawatir. Kalian benar-benar tak punya perasaan."

Yoon berbalik dan mengatakan kalau Min Suk sudah 10rb kali mengajukan cerai. Ia belum pernah melihat orang mengajukan cerai sebanyak itu, lusa ia akan bicara dengan Min Suk. Ia menyuruh Jung Rok lebih baik pulang dan tidur.

Tae San pergi lebih dulu karena masih marah dengan Yoon. Do Jin merasa kalau sepertinya Tae San masih membutuhkan sedikit waktu, bagaimanapun usia mereka sudah setengah baya. Yoon sadar kalau ia juga sudah membuat temannya merasa tak nyaman, ia minta maaf.

Do Jin mangajak Yoon segera pulang karena ia harus memakai masker wajah, ia harus bertemu dengan teman kerja Yi Soo malam ini. Yoon berkata kalau Do Jin sudah tampan walaupun tak memakai masker.

Dan kita sudah tahu seperti apa suasana Do Jin mentarktir makan guru-guru wanita SMA Ju Won.

Do Jin dan Yi Soo di dalam mobil tertawa mendengar lagu yang mereka dengarkan lewat radio. Yi Soo merasa kalau keduanya mendengar lagu ini lagi mereka berdua pasti akan mengingat malam ini.

Do Jin menatap Yi Soo dalam-dalam dan berkata kalau ia bisa membuat kenangan ini lebih mendalam. Do Jin terus menatap Yi Soo, "Malam ini kalau aku tak mengizinkanmu pulang apa yang akan kau lakukan? malam ini aku tak ingin membiarkan Seo Yi Soo pergi."

Mereka berdua pergi ke hotel, bukan ke hotel perusahaan tapi hotel lain. Yi Soo berdiri gugup di depan lift menunggu Do Jin yang tengah ceck in di resepsionis. Ketika Do Jin datang kegugupannya pun bertambah.

Keduanya diam hanya saling memandang, Do Jin sepertinya bersikap santai. Ia jelas memperlihatkan sikap tenangnya.

Pintu lift terbuka keduanya akan masuk tapi disana penuh dengan bapak-bapak yang kemungkinan baru selesai rapat. Keduanya tak jadi masuk lift. Do Jin menyarankan lebih baik naik lift yang satunya.

Keduanya pun pindah di lift yang sebelah, pintu lift terbuka dan disana banyak ahjumma yang sedang bergosip ria (pulang arisan kali ya haha) keduanya pun tak jadi naik lift. Yi Soo menyarankan lebih baik naik lift yang sebelumnya.

Yi Soo tanya kamarnya di lantai berapa. Do Jin mendekatkan wajahnya ke Yi Soo dan menjawab kalau kamarnya ada di lantai 17. Melihat Do Jin sangat dekat seperti itu Yi Soo tambah gugup.

Keduanya keluar dari lift sampai di lantai 17. Do Jin merangkul Yi Soo. Tiba-tiba keduanya dikejutkan karena melihat seseorang yang mereka kenal. siapa? Park Min Suk.

Min Suk bisa menebak kalau keduanya akan menghabiskan malam bersama. Ia mengatakan kalau ia sengaja datang ke hotel ini agar tak bertemu dengan mereka di hotel perusahaan, "Apa kalian berdua datang kesini dengan alasan yang sama?"

Do Jin sepertinya mengaku karena akan percuma saja kalau ia berusaha mengelak. Tapi Yi Soo yang mengelak dan melepaskan diri dari rangkulan Do Jin. Yi Soo mengatakan kalau Do Jin ada pertemuan dengan rekan bisnis disalah satu kamar hotel ini dan ia hanya mendampingi Do Jin.

Do Jin memberi kode seolah berkata kalau alasan itu percuma saja, Min Suk jelas tak akan semudah itu percaya. Min Suk heran siapa yang mengadakan pertemuan bisnis di jam malam seperti ini. Yi Soo gelagapan dan bilang kalau ini klien luar negeri pertemuan diadakan sekarang karena ada perbedaan waktu. Ia menyuruh Do Jin cepat dan tak mau dianggap sebagai wanita yang pergi ke hotel bersama pria (padahal seperti itu haha)

Min Suk: "Aku sudah salah paham, jadi tak perlu menyangkalnya. Manfaatkanlah kesempatan ini dan bersenang-senanglah. Hidup hanya sebentar dan cinta hanya sementara. Wanita harus bahagia."

Min Suk permisi, Yi Soo cemas karena sudah tertangkap basah bukankah ia sudah bilang jangan ke hotel, sekarang apa yang harus dilakukannya. Do Jin cuma senyum-senyum melihatnya. Tapi kemudian ia menyadari sesuatu kenapa Min Suk menginap di hotel ini, bukan hotel perusahaan. Ia teringat apa yang dikatakan Jung Rok kalau Min Suk meminta cerai dan sekarang tak bisa dihubungi oleh Jung Rok.

Do Jin merangkul Yi Soo dan menyuruh agar Yi Soo minum di kamar Min Suk lalu SMS kan nomor kamar dimana Min Suk menginap. Keduanya menyusul Min Suk yang belum jauh dari sana, dia masih berdiri di depan lift.

Do Jin mengatakan pada Min Suk kalau ia akan ke tempat pertemuan bisnis. Min Suk heran apa Do Jin benar-benar menggunakan itu sebagai alasan. Do Jin bilang kalau ia tak punya pilihan lain, pacarnya ini seorang guru etika jadi ia akan mempercayakan Yi Soo pada Min Suk selama 1 jam dan nanti ia akan menjemputnya. Yi Soo meyakinkan kalau Do Jin benar-benar ada pertemuan bisnis. Kalau wanita dan pria datang ke tempat ini ia tahu pasti Min Suk akan salah paham tapi keduanya memang benar-benar tidak... Min Suk mengerti dan membolehkan Yi Soo bersamanya sementara Do Jin mengadakan pertemuan bisnis (yang bohong)

Do Jin segera menghubungi Jung Rok, ia mengatakan kalau baru saja ia bertemu dengan Min Suk. "Apa kau tahu dengan siapa dia sekarang?" Jung Rok terdengar marah, "Dengan siapa?" Do Jin mengatakan kalau sudah selarut ini Min Suk berada disebuah hotel dan dia dengan seseorang yang seharusnya tak bersamanya di dalam satu kamar. (sama Yi Soo hehe) Jung Rok membentak, "Hotel mana itu?"

Meari ke rumah kakaknya, rumah itu sepi Tae San belum pulang dari kantor. Ia melihat kondisi rumah yang berantakan. Bekas makanan berserakan disana sini. Pakaian kotor diletakkan tak ditempatnya. Bantal kursi jempalikan. Piring kotor menumpuk.

Meari pun membereskannya satu persatu. Merapikan meja dari kotoran makanan, mengelap meja makan, mencuci piring, mencuci baju, merapikan tempat tidur, merapikan bantal kursi, mengepel lantai dan menjemur pakaian yang tadi ia cuci.

Tae San sampai di rumah dan Meari yang tadi bersih-bersih sudah tak ada disana. Tae San heran melihat kondisi rumah yang sudah rapi. Ia menebak kalau ini pasti perbuaatan adiknya.

Apa yang dilakukan Yi Soo di kamar hotel Min Suk. Keduanya bicara dari hati he hati. Yi Soo terkejut mendengar kalau Min Suk akan bercerai dengan Jung Rok.

Min Suk berkata kalau ia sudah mencapai titik akhir, ia curiga meskipun Jung Rok menyangkalnya. Ia tahu memang Jung Rok tak melakukannya tapi ia tetap mencurigainya. Ia selalu marah kalau Jung Rok mengabaikannya tapi sekarang ketika Jung Rok memperlakukannya dengan lebih baik ia malah mencurigainya. Ini membuatnya gila. Sekarang ia tak bisa mengatakan apa-apa lagi, ia tak yakin apa ia sekarang terluka atau biasa saja.

Yi Soo mencoba tersenyum dan berkata kalau ia sangat memahami perasaan Min Suk, karena itu bukanlah sebuah penyakit. "Apa selama ini cintamu bertepuk sebelah tangan? Berkali-kali kau melakukan banyak hal untuknya lebih dulu daripada dia melakukan sesuatu untukmu, lebih baik dan lebih banyak daripada yang dilakukannya. Kali ini kau sangat bahagia karena itu sulit dipercaya kan? Karena tiba-tiba kau dicintai."

Yi Soo mengatakan kalau ia mempunyai sedikit pengalaman dengan yang disebut cinta bertepuk sebelah tangan. Ketika seseorang yang selama ini selalu mencintai tiba-tiba dicintai awalnya dia akan merasa curiga. kenapa dia bersikap baik padaku? kenapa begitu tiba-tiba? tapi menurut pendapatnya ini tak tiba-tiba, Lee Jung Rok akhirnya menemukannya. Bukankah menurut Min Suk juga begitu. Kesempatan untuk mencintai Min Suk.

Ada seseorang yang mengetuk pintu kamar hotel. Yi Soo menebak kalau itu Do Jin, ia permisi akan membukakan pintunya.

Ya Do Jin datang tentu saja bersama dengan Jung Rok. Min Suk terkejut melihat suaminya datang menemuinya. Jung Rok menanyakan apa yang dilakukan Min Suk di hotel. Kenapa mengabaikan telepon darinya. Min Suk diam saja. Do Jin ikut bicara mengatakan kalau Jung Rok sudah mencari Min Suk kemana-mana. Min Suk tanya untuk apa Jung Rok mencarinya, apa ingin menandatangi surat perceraian.

Jung Rok bertanya haruskah Min Suk melakukan ini, apa istrinya ingin benar-benar bercerai, apa ini serius. Min Suk balik bertanya apa Jung Rok tak mau bercerai. Jung Rok kembali bertanya apa Min Suk benar-benar ingin menceraikannya. Min Suk balik bertanya lagi apa Jung Rok akan melakukannya kalau ia yang meminta.

Jung Rok makin kesal, "Kapan kau pernah mendengarkanku?"

Min Suk: "Lalukan saja kalau begitu, perceraian ini bisa terjadi selama salah satu pihak menginginkannya. Bukan seperti pernikahan."

Min Suk mengeluarkan surat formulir pengajuan cerai, "Tanda tangani lembar kedua setelah itu tanda tangani lembar pertama. Lembar kedua untuk pembagian harta, kau memperoleh 1/3 bagian harta setelah pernikahan kita."

Jung Rok bertambah kesal, "Apa kau benar-benar ingin melakukan ini?"

Min Suk: "Apa itu tak cukup?"

Jung Rok meninggikan suaranya, "Park Min Suk?"

Min Suk berkata kalau ia tak mau menyia-nyiakan waktunya untuk bertengkar di pengadilan hanya demi uang jadi ia minta Jung Rok tanda tangani saja.

Jung Rok: "Begitu besarkah keinginanmu untuk menceraikanku? Baik, akan kulakukan. Labih baik aku menghilang daripada hidup dengan seseorang yang tak ingin bersamaku. Kita bercerai saja!"

Jung Rok mengambil berkas surat permohonan cerai, ia langsung menandatangani lembar pertama, "Kau puas?" Min Suk diam saja. Do Jin berusaha mencegah dan menenangkan hati temannya ini tapi Jung Rok sudah terlanjur emosi.

Jung Rok mengambil lembar kedua berkasnya apa ia akan menandatanganinya juga. Tidak. Ia malah merobeknya, "Aku tak butuh uang. Kau boleh memiliki semuanya. Aku menyukai dirimu dengan uangmu. Bukan uangmu tanpa dirimu." Jung Rok pergi dengan kekesalan memuncak. Do Jin mengejarnya.

Yi Soo masih menemani Min Suk berusaha menghibur sekaligus membujuk tapi Min Suk sedang ingin sendiri. Yi Soo pun membiarkan Min Suk merenung.

Di lobi hotel Yi Soo berpapasan dengan Do Jin, sepertinya Do Jin gagal mengejar Jung Rok. Yi Soo cemas apa yang harus mereka lakukan sekarang. Do Jin berkata kalau ia harus menemukan Jung Rok lebih dulu. Yi Soo merasa kalau Jung Rok sangat marah.

Do Jin: "Seharusnya aku yang paling marah sekarang. Kita sudah di hotel, tapi apa-apaan ini?" (gagal ya hahaha)

Yi Soo kesal Do Jin masih memikirkan itu. Do Jin meralat maksudnya jangan khawatir karena ada beberapa pasangan menggunakan cara ekstrim untuk mengungkapkan cinta mereka jadi Yi Soo hanya perlu menjaga pria yang mengkhawatirkan sahabatnya. Keduanya meninggalkan hotel, Do Jin menghubungi teman-temannya meminta berkumpul.

Do Jin, Tae San dan Yoon berkumpul di bar Jung Rok. Tae San kaget mengetahui kalau Jung Rok menandatangani surat perceraian. Do Jin membenarkan karena itu terjadi tepat di depan matanya. Yoon menilai Jung Rok sudah gila kenapa tak menghubunginya lebih dulu. Do Jin berkata kalau Jung Rok tak diberi kesempatan untuk itu. Tae San menanyakan dimana Jung Rok sekarang. Do Jin tak tahu dimana keberadaan Jung Rok, ia tak bisa menghentikannya seperti di film-film hongkong, ia tak bisa menghentikan temannya.

Do Jin juga mengatakan kalau Jung Rok merobek kertas yang menyatakan kalau dia mendapatkan 1/3 harta mereka. Ia bertanya tanya apa ini namanya cinta. Tae San berkata tentu saja ini cinta dengan kepribadian Min Suk dan kelakuan Jung Rok seharusnya mereka sudah bercerai ratusan kali. Yoon berkata kalau Jung Rok tak menjawab panggilan teleponnya, ia menebak jangan-jangan Jung Rok mabuk disuatu tempat.

Tiba-tiba Jung Rok muncul membawakan pesanan pelanggan bar-nya. Ia menyerahkan pesanan itu ke Seung Taek untuk diantarkan ke pelanggan. Ketiga temannya menatap kaget tak menyangka kalau Jung Rok ternyata ada di bar.

Jung Rok memandang ketiga teman yang terus menatapnya heran, "Kenapa? Apa?" Do Jin menanyakan apa yang dilakukan Jung Rok disini. Jung Rok mengatakan kalau koki di dapur hari ini tak masuk jadi ia membantu di bagian dapur. Yoon berkata kalau ia mendengar Jung Rok menandatangani surat cerai. Jung Rok membenarkan. Tae San tak menyangka jadi ini benar.

"Dengan cara hidupku, ini hanya masalah waktu. Walaupun aku tak berharap terjadinya hari ini. Tandai kalender kalian, tahun depan di tanggal ini kita minum-minum." ucap Jung Rok tanpa ekspresi senang.

Seung Taek mengatakan pesanan pelanggan pada Bos-nya. Jung Rok mengingatkan temannya kalau ia sangat sibuk, "Kalau kalian ingin menenangkanku pulang ke rumah dan kirim SMS padaku. Pergilah!" Ketiganya menatap heran, "Jelas sekali kalau dia tak baik-baik saja," gumam Tae San.

Jung Rok di dapur membuatkan makanan pesanan pelanggan, tapi ia melamun sedih dan makanan buatannya pun gosong. Ia menarik nafas panjang dan mengusap air mata yang tiba-tiba menetes.

Di SMA Ju Won dihari terakhir mereka sebelum liburan akhir semester. Yi Soo mengingatkan siswanya berhubung ini liburan yang singkat jadi banyaklah belajar jangan keluyuran. Huuuu... Siswanya tentu saja tak senang dengan saran Yi Soo.

Yi Soo berharap siswanya ini mengisi liburan lebih baik bersama orang tua jangan mendaki gunung. Tonton lebih banyak film, baca lebih banyak buku, yang belum punya pacar tak usah khawatir karena mereka bisa menemukan gadis-gadis cantik di universitas.

Tentu saja ini membuat siswanya bersemangat masuk universitas, "Aku benar-benar ingin masuk universitas!" sahut Sang Hyun teman sebangku Dong Hyub. Dan oh.. lihat Dong Hyub tersenyum manis memandang gurunya. Hihi...

Yi Soo berkata kalau ia sudah mendengar banyak suara yang menelan ludah karena di kelas banyak makanan, jadi ayo kita makan. Mereka pun langsung menyerbu makanan.

Yi Soo mengarahkan kameranya membidik momen keceriaan siswa-siswanya.

Dan kamera bidikannya pun mengarah ke Colin, Dong Hyub dan Sang Hyun. Sang Hyun langsung bergaya, Dong Hyub tersenyum, Colin menoleh dan tersenyum pada gurunya.

Yi Soo dan Colin bicara berdua di luar kelas sebelum pulang. Yi Soo menanyakan rencana liburan Colin akan diisi dengan kegiatan apa. Colin mengatakan kalau ia mau bekerja. Yi Soo heran apa ayah Colin tak memberi uang saku kenapa bekerja. Colin mengatakan kalau ayahnya memberi uang saku tapi ia memiliki rencana melakukan perjalanan sebelum usianya 20 tahun dan ia ingin ke Inggris. Yi Soo ingin tahu alasannya kenapa Colin ingin ke Inggris. Colin mengatakan karena dari sanalah Eric Clapton, Jeff Beck dan Jim Frazier berasal. Yi Soo menilai kalau keinginan Colin ini sangat menarik.

Yi Soo: "Apa hubunganmu dengan ayahmu berjalan lancar?"

Colin: "Setiap saat kami selalu selangkah lebih dekat. Sekarang aku memilih memanggilnya Ayah Korea daripada ahjussi, guru kau sendiri?"

Yi Soo: "Aku juga pelan-pelan semakin akrab dengannya. Bagaimana kalau kita pelan-pelan melakukannya juga?"

Colin mengangguk sambil tersenyum. Yi Soo mengatakan kalau pertemuan pertamanya dengan Colin cukup mengesankan. Colin menjawab ya dan berkata kalau keduanya itu bersekutu bahkan dengan sebuah mobil curian (padahal itu mobil bapaknya yang dipakai Yi Soo hahaha) Yi Soo memuji kalau senyum Colin sangat manis.

Dong Hyub menghampiri keduanya. Yi Soo tanya kenapa. Dong Hyub mengatakan kalau kedatangannya bukan untuk mencari gurunya. Ia mengajak Colin pergi. Colin permisi dan mengatakan selamat liburan. Yi Soo heran dan bertanya apa Colin dan Dong Hyub berteman. Kedua remaja ini cuma senyum-senyum.

Colin dan Dong Hyub makan ayam bersama di KFC (maaf sebut nama karena KFC ini sepertinya salah satu sponsor AGD) Colin menanyakan apa Dong Hyub sudah menemukan cara untuk menghasilkan uang. Dong Hyub dengan bangga mengatakan kalau ia sudah menemukan cara menghasilkan 100 juta. Colin tak percaya, benarkah?

Dong Hyub: "Untuk menghasilkan 100 juta kau membutuhkan 200 juta."

Colin: "Lalu bagaimana caramu menghasilkan 200 juta itu?"

Dong Hyub berfikir, "Seharusnya 400 juta cukup." (Hahaha)

"Makan saja ayammu!" kata Colin tak menanggapi omong kosong Dong Hyub.

Pelayan KFC menempelkan selebaran pengumuman di dinding kafe. Sebuah lowongan pekerjaan. Dong Hyub dan Colin bertatapan kira-kira siapa yang akan mengambil itu. Keduanya berebut dan Colin yang mengambil selebarannya.

Dong Hyub kesal bukankah ayah Colin menghasilkan banyak uang sedangkan ia seorang pekerja remaja jadi berikan itu padanya. Colin mengatakan kalau ayahnya memang menghasikan banyak uang tapi ayahnya hanya memberinya 30rb won seminggu. (menurut Colin itu kurang)

Dong Hyub menilai uang saku Colin sama sekali tak buruk. Ia merebut selebarannya. Dong Hyub membaca dan tersenyum senang, "Mereka membutuhkan yang berpengalaman kau tak memenuhi syarat."

Colin: "Mereka membutuhkan orang yang menarik kau tak memenuhi syarat." (bener-bener kayak bapaknya ni Colin kepedean sama penampilannya haha)

Keduanya pun menghadap pemilik kafe berniat melamar pekerjaan. Keduanya tersenyum seramah mungkin.

Dong Hyub: "Pengalaman kerjaku banyak."

Colin: "Aku bisa belajar cepat."

Dong Hyub merapikan rambutnya, "Aku 187 cm, tinggi dan sangat tampan."

Colin: "Aku tampan dan proporsional."

Dong Hyub: "Anda bisa melihat kalau aku baik hati."

Colin tersenyum imut, "Anda tak perlu melihat kalau aku baik hati."

Dong Hyub: "Aku memiliki daya tarik seks. Semua gadis di sekolah sudah takluk padaku,"

Colin: "Aku bahkan bisa menarik perhatian murid laki-laki (buwahahahahaha) aku remaja yang punya selera humor."

Yoon mengajak Meari ke toko sepatu. Meari mengatakan kalau ia sudah mendapatkan formulir pendaftaran dan juga pesyaratannya sudah lengkap. Ia akan memulainya pada pertengahan tahun. Yoon ingin tahu Meari ambil jurusan apa.

Meari menjawab Fashion designer, "Aku senang menjahit dan mendesain. Apa boleh kukatakan aku ahli dibidang itu? kalau kakakku tahu aku berhenti kuliah dia pasti sudah menembakku. Dia tak tahu aku berhenti di tengah jalan."

Yoon meminta Meari menyiapkan saja keperluan pindah kuliah. Ia akan mengurus sisanya. Yoon menyuruh Meari duduk. Ia mengambilkan sepasang sepatu. Yoon melepas sepatu high heels Meari dan memakaikan sepatu pilihannya. Meari sedikit terkejut atas apa yang Yoon lakukan.

Yoon: "Untuk memperingati pendakian kita ke puncak. Walaupun masih panjang jalan yang harus kita lalui."

Meari: "Apa bukan karena aku diterima masuk universitas tapi karena pendakian ke puncak gunung?"

Yoon: "Di dunia ini, puncak gunung tertinggi yang harus didaki adalah Im Tae San. Tapi di gunung itu pula hidup rubah yang paling cantik di dunia."

Meari tersenyum, "Rubah itu maksudnya apa Meari?"

Yoon mengangguk, "Ya. Kau!"

Yoon melepas sepatu high heels Meari yang satunya dan memakaikan sepatu pilihannya. Meari melihat kalau Yoon memakai gelang pemberiannya. Ia juga melihat kalau cincin di jari Yoon sudah tak ada. Yoon berkata kalau ia melepasnya. Meari jadi tak enak hati ia bertanya kapan Yoon melepas cincin itu, ia menebak pasti Yoon mengalami masa yang sulit. Yoon berkata kalau ia tak bisa menjelaskannya sekarang. Meari mengerti ia berjanji tak akan bertanya ia memahami sepenuhnya bagaimana perasaan Yoon.

Meari ingin tahu apa yang akan keduanya lakukan hari ini. Yoon minta maaf karena ia ada pertemuan dan akan mengantar Meari pulang. Meari cemberut kalau begitu Yoon seharusnya menunda momen manis ini sampai besok. Ia ingin tahu siapa yang akan Yoon temui.

Yoon menemui Tae San di rumah. Tae San bertanya sebagai siapa Yoon datang, Choi Yoon Pal atau pacarnya Im Meari. Yoon mengatakan kalau kedatangannya kesini sebagai pacarnya Meari. Tae San tak mau bicara dengan Yoon kalau kedatangan Yoon bukan sebagai temannya. Ia menyuruh Yoon pergi, Tae San berbalik tak mau bicara dengan Yoon.

Tanpa bicara lagi Yoon langsung berlutut. Tae San berbalik menatap Yoon dan terkejut dengan apa yang dilakukan Yoon, "Kau... apa yang kau lakukan?"

Yoon berjanji, "Meari... aku akan membahagiakannya!"

Tae San menyuruh Yoon untuk bangun.

Yoon: "Aku tak akan membuatnya menangis lagi."

Tae San: "Kubilang bangun!"

Yoon memohon agar Tae San mempercayakan Meari padanya. Ia akan mengingat momen ini dan akan mematrinya dalam hati sampai ia mati.

Emosi Tae San meledak, "Berdiri dasar brengsek!" Tae San mencengkeram baju Yoon, menarik dan memukulnya. "Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau berlutut seperti itu? kau brengsek. Kau ingin aku melakukan apa? Apa yang harus kulakukan?"

Yoon: "Setiap hari aku akan merasa berhutang budi padamu. Setiap hari, aku akan selalu berterima kasih padamu. Meari, percayakanlah dia padaku!"

Tae San masih belum menerimanya tapi ia tak sanggup melihat mata Yoon yang memohon penuh harap padanya. Ia melepas cengkeraman tangannya (apa hati Tae San mulai luluh)

Tae San berada di bar Jung Rok ia minum sendirian. Kemudian Do Jin datang duduk di dekatnya dan memesan minuman yang sama seperti yang ia minum. Tae San bertanya apa Do Jin sudah bicara dengan Yoon. Do Jin bilang sudah ia bicara dengan Yoon dalam perjalanannya ke bar. Ia memberi tahu kalau Yoon sedang dalam perjalanan untuk bertemu dengan Jung Rok dan Min Suk. Tae San menilai kalau Yoon ini ternyata masih memiliki tenaga untuk bekerja. Do Jin ingin tahu apa Tae San menemui Yoon, apa Tae San sudah mengalah.

"Aku memukulnya!" sahut Tae San membuat Do Jin langsung terdiam terkejut tapi ia sadar dengan sifat yang dimiliki Tae San sekarang atau nanti Tae San akan melakukannya. Do Jin menepuk bahu Tae San dan berkata kalau dalam permainan ini mungkin ia memang bermaksud untuk mengalah sejak awal. Belum berakhir tapi rasanya ia sudah kalah. Apa yang harus ia lakukan dalam keadaan seperti ini.

Do Jin paham dan berkata kalau sebenarnya Tae San sudah tahu bahwa Tae San itu kalah tapi ia berharap Tae San kalah dengan terhormat karena ini sudah menjadi takdir Yoon dan Meari, "Kau sudah melakukan apapun yang bisa kau lakukan bahkan menentang mereka, mengingatkan mereka tentang keburukan yang mungkin terjadi atas apa yang mereka lakukan. Kau bahkan mengancam memisahkan mereka sejak awal. Biarlah mereka memutuskan jalan hidup mereka mulai sekarang. Kita awasi dari pinggir lapangan."

Jung Rok di rumah tengah mengukur TV untuk dibagi menjadi 1/3 bagian. Min Suk pulang ke rumah. Jung Rok bertanya kenapa Min Suk pulang. Min Suk mengatakan kalau kabar tentang perceraian keduanya sudah tersebar ke penjuru hotel jadi ia pulang ke rumah untuk mengambil barang-barangnya dan pindah ke tempat lain. "Kau sendiri kenapa kau belum pindah?"

Jung Rok: "Pembagian harta properti kita. Aku sudah memikirkannya aku tak bisa pergi dengan tangan kosong,"

Min Suk sudah menduganya ia setuju dan akan memberi Jung Rok 1/3 bagian. Jung Rok juga setuju, ia meminta Min Suk memegang meteran. Min Suk bingung apa ini. Jung Rok menyuruh Min Suk pegang saja kalau ingin bercerai darinya, bukankah Min Suk bilang akan memberinya 1/3 bagian jadi ia harus membagi semua barang yang ada di rumah ini menjadi 1/3. Jung Rok pun memberi batas di TV. Min Suk melongo melihatnya.

(Jadi Jung Rok ingin memotong properti menjadi 1/3 bagian kalau TV ya dibagi terus dibelah gitu. Hahaha)

Jung Rok melihat bantal kursi, ia bertanya pada Min Suk akan duduk di pantat sebelah kiri atau kanan (hahaha) Min Suk mendesah kesal dengan tingkah konyol Jung Rok. Jung Rok memberi Min Suk waktu 3 menit untuk memutuskan.

Bahkan dispenser juga ia menawarkan Min Suk mau air hangat atau dingin, ia memberi tanda untuk memotongnya. Min Suk meminta Jung Rok menghentikan omong kosong ini. Akhirnya Jung Rok memutuskan kalau Min Suk bagian yang hangat sementara ia yang dingin. Min Suk tak habis pikir apa Jung Rok benar-benar akan memotongnya.

Dan Jung Rok pun mengeluarkan alat pemotongnya. Min Suk kaget bukan main. Jung Rok meminta Min Suk menyingkir kalau tak ingin terluka. Tepat saat itu bel rumah berbunyi, Yoon datang.

Yoon menyapa Min Suk dengan sebutan adik ipar. Min Suk berkata kalau Yoon sudah datang tepat waktu, "Tolong bantu aku menghentikan calon mantan suamiku ini."

Jung Rok: "Adik ipar apa? Sekarang dia hanya Park Min Suk."

Jung Rok melihat ada luka di ujung bibir Yoon bekas pukulan dari Tae San, "Kenapa wajahmu?" Yoon bilang kalau itu bukan urusan Jung Rok. Ia bertanya apa yang Jung Rok pegang. Jung Rok bilang kalau ini juga bukan urusan Yoon, "Gugat saja penggemarmu. Aku akan bercerai dengan caraku sendiri."

Min Suk meminta Yoon mengatakan pada Jung Rok kalau perceraian tak akan selesai dengan cara seperti ini tapi secara hukum entah sebagai teman Jung Rok atau sebagai pengacaranya. Jung Rok berkata kalau ia hanya akan mengambil yang benar-benar menjadi haknya. Apa Min Suk keberatan.

Min Suk permisi masuk kamar akan membereskan barang-barang yang akan ia bawa. Tapi ia terkejut melihat suasana kamar sudah diberi tanda 1/3 bagian oleh Jung Rok. Meja, kursi bahkan tempat tidur juga.

Terdengar suara Jung Rok, "Hei mantan istri Park Min Suk-ssi. Aku lupa menandai tisu toilet. Aku harus menandainya biarkan aku masuk!"

Min Suk tak bisa menahan tawa melihat kamarnya sudah diberi tanda 1/3 bagian ditiap benda yang ada disana. Jung Rok menggedor pintu ingin masuk kamar tapi Min Suk sudah mengunci kamarnya dan kembali tertawa atas tingkah konyol Jung Rok.

Mumpung liburan sekolah Yi Soo memanjakan diri. Ia men-cat kuku-nya agar terlihat lebih cantik. Meari masuk ke kamarnya dan mengatakan kalau Do Jin datang. Do Jin tanya apa ia boleh masuk ia memperingatkan Meari jangan melangkah setengah langkahpun ke kamar ini. Meari menyahut lagi pula ia juga akan pergi.

Yi Soo heran apa Do Jin menggunakan ponsel hanya sebagai tatakan saja, apa Do Jin terus-menerus datang ke rumah tanpa pemberitahuan. Do Jin berkata kalau ia meminta Yi Soo pindah kesini demi tujuan itu. Ia pun bertanya apa ada kabar baik kenapa Yi Soo berdandan. Yi Soo bilang mumpung liburan ia ingin terlihat lebih seksi.

Do Jin tanya sampai seberapa derajat keseksiannya. Yi Soo bilang kalau itu tak ada hubungannya dengan Do Jin. Yi Soo akan membetulkan letak rambutnya yang terurai tapi cat kuku-nya belum kering ia merasa kesulitan membetulkan rambutnya, Do Jin pun menggunakan tangannya untuk merapikan rambut Yi Soo dan berkata kalau Yi Soo ini sudah mengeluarkan pernyataan yang provokatif saat Yi Soo bahkan tak bisa menggunakan tangan Yi Soo.

Yi Soo merasa risih dan meminta Do Jin jangan melakukannya. Do Jin berkata kalau Yi Soo ini selalu mengatakan jangan kapanpun setiap ia melakukan sesuatu. Yi Soo tertawa, "Benarkah? Baiklah lakukan saja kalau begitu!"

Do Jin bertanya apa Yi Soo tahu apa yang akan ia lakukan terhadap Yi Soo. Yi Soo balik bertanya apa Do Jin tahu apa yang ia harapkan. Do Jin heran bukankah Yi Soo ini seorang guru etika kenapa bersikap begitu. Yi Soo kembali mengatakan mumpung liburan hari ini ia lebih seksi daripada kemarin. "Rahasia kehidupan pribadi Seo Yi Soo, apa kau tak suka?"

Do Jin bilang kalau ia sangat menyukainya. Ia menilai kalau nasib baik seperti ini biasanya sebuah jebakan. Yi Soo bilang tak ada jebakan, ia merangkulkan kedua tangannya ke leher Do Jin dan menariknya agar lebih dekat padanya. "Aku benar-benar hanya ingin merayumu!" ucap Yi Soo. Do Jin menebak apa mungkin ia melakukan kesalahan. Yi Soo melepas rangkulannya dan meminta Do Jin jangan khawatir ia tak akan memakan Do Jin. Do Jin tertawa dan berkata kalau ia bisa gila karena Yi Soo.

Ponsel Do Jin berdering telepon dari Yoon. Yoon bertanya apa Do Jin sedang bersama Yi Soo. Do Jin hanya menjawab hmm.. menandakan ia menjawab ya. Yoon meminta Do Jin mendengarkan apa yang ia katakan.

"Di kafe kopi terakhir kali tempat kita menolong Yi Soo, bukankah aku memberikan kartu namaku pada pria-pria itu? mungkin kartu namaku disampaikan pada ibunya. beliau meneleponku (ibu Yi Soo menelepon Yoon) dia ingin bertemu denganmu!"

Do Jin pun bertemu dengan ibu Yi Soo di sebuah kafe. Ibu Yi soo berkata kalau ia mendengar Yi soo memiliki beberapa orang kakak, tapi seingatnya hanya Yi Soo yang ia lahirkan. Do Jin berkata kalau mereka berempat seperti itu karena berfikir Yi Soo dalam bahaya jadi mereka mengaku sebagai kakak, ia minta maaf kalau ibu Yi Soo merasa tersinggung.

Ibu Yi Soo tak mempermasalahkannya ia malah merasa dirinya juga tertolong ia-lah yang seharusnya minta maaf karena mereka berdua (anak tirinya) pasti sudah bertindak seperti preman. Do Jin bilang kalau mereka berempat juga bertindak seperti preman. Ibu Yi Soo berterima kasih pada Do Jin ia tak bisa menghentikan anak tirinya.

Ibu Yi Soo bertanya apa pekerjaan Do Jin. Do Jin mengatakan kalau ia Presdir di sebuah perusahaan arsitektur yang ia kelola bersama seorang teman dan saat ini usianya 41 tahun.

"Kau single atau bercerai?" Tanya ibu Yi Soo.

"Aku single. Tapi aku mempunyai putra berusia 19 tahun." Ucap Do Jin setengah menunduk.

Ibu Yi Soo sedikit terkejut tapi ia terharu dengan kejujuran Do Jin. Ia bertanya apa Yi Soo sudah mengetahui ini. Do Jin berkata kalau Yi Soo sudah mengetahuinya belum lama ini, ia minta maaf karena memiliki masa lalu yang tak baik. Ibu Yi Soo meminta Do Jin tak perlu khawatir ia adalah seorang ibu yang tak berhak menentang apapun yang dilakukan Yi Soo. Ibu Yi Soo bertanya siapa nama Do Jin. Do Jin mengatakan namanya.

Tepat saat itu Yi Soo datang mengagetkan keduanya. Yi Soo bertanya kenapa Do Jin ada disini bersama ibunya. Ibu Yi Soo berkata kalau ia yang meminta Do Jin datang menemuinya. Karena Yi Soo sudah datang labih baik duduk dulu.

"Apa yang ibu lakukan sekarang? Ibu pikir ibu siapa, memintanya datang seperti ini?" Yi Soo mengajak Do Jin pergi tapi Do Jin menyuruh Yi Soo duduk dulu. Yi Soo menolak, "Apa kau sudah gila? Memangnya kau tahu siapa yang kau temui?"

Ibu Yi Soo: "Ketika aku melahirkanmu aku kesakitan selama 40 jam. Meskipun aku tak berhak menentangmu setidaknya aku berhak bertemu dengannya."

Yi Soo menitikan air mata yang lama-kelamaan semakin deras, ia meninggikan suaranya, "Kenapa ibu mempermalukanku seperti ini?" Yi Soo bergegas pergi meninggalkan keduanya dengan tangisan dan kemarahan.

Ibu Yi Soo memahami sifat putrinya mungkin Yi Soo terlihat lembut tapi dia cukup keras ketika marah dan itu terjadi karena ia terlalu banyak melukai perasaan Yi Soo, "Putriku tolong jaga dia baik-baik, aku selalu ingin mengatakannya." Do Jin berjanji ia akan melakukannya jadi ibu Yi Soo tak perlu khawatir, "Aku akan membuatnya menjadi wanita yang paling dihargai."

Ibu Yi Soo terharu dan berterima kasih ia meminta Do Jin cepat mengejar Yi Soo. Do Jin pamit, sebelum pergi ia memberi hormat terlebih dahulu kemudian bergegas menyusul Yi Soo.

Dengan tangan gemetaran ibu Yi Soo mengambil minuman dan meminumnya, tanpa terasa air matanya menetes.

Yi Soo menangis sepanjang jalan, Do Jin mencegatnya. Yi Soo berkata kalau Do Jin ingin bertemu dengan ibunya seharusnya Do Jin memberitahu terlebih dahulu. Do Jin mengusap lembut air mata Yi Soo dan berkata kalau ia mengatakan bahwa ia akan menemui wanita yang sangat berkelas.

Yi Soo merasa kalau ini sangat memalukan. Masalah keluarga yang memalukan ini benar benar membuatnya malu. Do Jin berkata bahkan Yi Soo sudah mengetahui masa lalunya yang lebih mengerikan. Yi Soo membenarkan, "Sebenarnya aku bisa menggunakan kelemahanmu untuk melawanmu. Supaya kau hanya mencintaiku seorang."

Do Jin tertawa dan kembali mengusap lembut air mata Yi Soo, "Kelemahan itu boleh kau gunakan untuk keuntunganmu setiap hari. Jangan menangis lagi. Seo Yi Soo-ku terlalu sering menangis."

Yi Soo berkata kalau ia paling banyak menangis ketika Do Jin mencampakkannya. Do Jin berkata kalau ia juga paling banyak menangis ketika ia mencampakkan Yi Soo. Yi Soo bertanya lalu kenapa Do Jin tetap mencampakannya. "Itu karena aku mencintaimu," Do Jin menarik Yi Soo memeluknya erat.

Jung Rok duduk melamun di Mango Six. Do Jin duduk di depannya dan bertanya apa belum ada perkembangan tentang masalah Jung Rok dengan Min Suk. Jung Rok balik bertanya perkembangan apa, apapun yang ia lakukan tak ada bedanya. Do Jin menyarankan kalau temannya ini tak ingin bercerai coba rayu lagi Min Suk karena cinta datang lebih cepat daripada maaf. Jung Rok berkata hal itu hanya berlaku kalau Min Suk bersedia bertemu dengannya ia selalu mencobanya tapi tak berhasil 30 kali telepon dan 50 kali SMS.

Do Jin ingin tahu Min Suk bilang apa. Jung Rok menyampaikan kalau katanya dia akan menelepon polisi. Ia dilarang menghubungi Min Suk lagi, dia bahkan pindah hotel. Sekarang ini tak ada lagi cara untuk bisa menemuinya. Do Jin berkata kalau ada cara untuk menemui Min Suk yaitu menikahkan Yoon dan Meari besok dengan begitu Jung Rok akan bertemu dengan Min Suk. Jung Rok menilai kalau Do Jin ini terlalu komedi romantis dan mengabaikan bagian horornya. Ia memberi tahu kalau beberapa hari yang lalu Yoon ke rumahnya dan ia melihat ada luka di bibir Yoon ia menebak Yoon pasti dipukul oleh Tae San.

Tepat saat itu Tae San datang Jung Rok langsung terdiam menyudahi ocehannya dan tersenyum memandang Tae San. Tae San memberi tahu kalau sebentar lagi Meari dan Yoon juga akan datang karena ada yang ingin ia sampaikan pada keduanya. Do Jin menyarankan pada Jung Rok agar menyingkirkan piring-piring yang mahal hahaha.

Meari dan Yoon sudah datang keduanya menunduk. Tae San menatap keduanya bergantian. Do Jin dan Jung Rok mengawasi ketiganya. Kedua pengawas ini saling berpandangan waspada.

Tae San: "Mulai hari ini aku sudah memutuskan untuk tidak menentang hubungan kalian lagi." (HOREEEE)

Yoon dan Meari mengangkat wajahnya terkejut.

"Benarkah?" seru Do Jin dan Jung Rok bersamaan. Tae San melirik marah meminta keduanya diam.

Tae San kembali menatap dua pasangan di depannya, "Tapi aku tak mau melihat kalian putus setelah beberapa bulan pacaran. Aku juga tak mau melihatmu menangis seperti orang sekarat setelah 1 atau 2 tahun. Kalau kalian putus, maka aku akan benar-benar putus hubungan dengan kalian berdua. Karena itu, kalau kalian berdua benar-benar ingin melakukan sesuatu, menikah saja!"

Mereka semua terkejut dengan usulan Tae San. "Aku mendukung Im Tae San!" sahut Do Jin dan Jung Rok bersamaan.

Tae San menatap tajam Yoon, "Secepat mungkin. Bersediakah kau menikah......."

"Aku bersedia." ucap Yoon tegas penuh keyakinan tanpa ragu-ragu menyela ucapan Tae San. "Seberapa cepat? Satu bulan? Setengah bulan? Satu minggu?"

Tae San: "Apa kau sungguh-sungguh?"

Yoon: "Kalau aku tak sungguh-sungguh bagaimana mungkin aku menahan seseorang yang akan pergi ke Amerika?"

Do Jin menyahut kalau Meari juga tak ingin pergi. Jung Rok ikut bicara dan membenarkan ucapan Do Jin dan berkata apa enaknya menjadi wanita yang sudah menikah.

Meari bersemangat ia tak masalah dan tak membenci keputusan ini. Ia kegirangan, "Rasanya seperti aku....." Meari melihat kakaknya dan memelankan suaranya, "Bermimpi."

Yoon berterima kasih atas restu Tae San ia berjanji tak akan mengecewakan Tae San.

Meari masih belum percaya dengan restu kakaknya, "Kakak apa kau sungguh-sungguh? Apa aku benar-benar boleh menikah dengan Kak Yoon?" Tae San mengangguk pelan, "Menikahlah!"

Meari makin semangat dan meminta Yoon cepat berdiri, "Kita harus menyiapkan gaun pernikahan dan gedung resepsi. Banyak hal yang harus kita siapkan. Ayo cepat. Kita harus melakukan banyak hal." Keduanya pamit. Yoon menggandeng Meari.

Tae San mendesah pelan. Do Jin bertanya apa maksudnya ini apa Tae San benar-benar serius atau hanya sekedar taktik. Kalau hanya taktik berarti Tae San gagal total. Jung Rok ikut bertanya apa Tae San benar-benar menyutujuinya.

Tae San: "Tidakkah kalian lihat dia memutuskan tanpa ragu-ragu. Sudah begini, apalagi yang bisa kulakukan? Aku kalah."

Do Jin: "Kau tak kalah. Kau menang."

Jung Rok bertanya kenapa begitu. Do Jin berkata ia juga tak tahu kenapa, rasanya hanya itu yang terbaik diucapkan saat ini. Tae San meralat dan berkata kalau fighting lebih cocok.

Do Jin memasang muka imut sambil menopang wajahnya, "Hm.. kalian semua cintailah Kim Do Jin!"

Jung Rok dan Tae San jijik dengan sikap Do Jin yang sok imut haha. Keduanya meninggalkan Do Jin. Do Jin berteriak kalian mau kemana. Semua pengunjung Mango Six menertawakan sikap Do Jin yang sok imut haha. Do Jin langsung bersikap normal dan mencoba menggumamkan pasar dagang dan suku bunga kemudian ia lari ngibrit meninggalkan Mango Six.

Yoon melihat kalau Meari berjalan setengah melamun. Ia berkata kalau ia tak tahu, ia akan mengira Meari telah dipaksa menikah. Meari menilai kalau ini hanya terlalu tiba-tiba semuanya seperti mimpi dan terasa aneh untuknya. Ia selalu membayangkan momen menikah dengan Yoon berkali-kali dan ini akan menjadi kenyataan. "Impianku adalah kapan terjadi penikahanku dengan kakak yang menjadi suamiku."

Yoon berjanji ia tak akan membuat Meari menyesal, ia akan menjadi suami yang baik untuk Meari. Ia akan bersyukur atas segalanya setiap hari. Keduanya saling memeluk erat.

Min Suk makan di sebuah restouran. Pegawainya datang melaporkan pekerjaan. Jung Rok juga datang ke restouran itu untuk menemui Min Suk. Melihat kedatangan Jung Rok Min Suk melirik ke pegawainya. Pegawai Min Suk menunduk mengaku salah kalau ia yang sudah memberi tahu Jung Rok dimana keberadaan Min Suk karena ia diancam.

Jung Rok memberi tahu kalau Meari akan menikah. Min Suk tak percaya. Jung Rok membenarkan dan berkata kalau Tae San sudah menyetujuinya. Min Suk bertanya walaupun begitu kenapa, apa karena hal itu Jung Rok memotong pembicaraan dirinya dengan pegawainya. "Adik teman mantan suamiku akan menikah apa hubungannya denganku? Tahukah kau berapa nilai laporan ini?"

Jung rok: "Apa yang lain lebih penting daripada pernikahan Meari? Katakan padaku."

Min Suk: Apa?

Jung Rok: "Kita memberi hadiah bersama atau masing-masing? Kita harus memberi mereka kado pernikahan. Bagaimanapun dia pernah menjadi mata-matamu. Baik suami atau mata-matamu kau mencampakkan begitu saja setelah urusanmu dengan mereka selesai."

Jung Rok duduk di depan Min Suk dan berkata kalau waktu pernikahan mereka sebelum perceraian keduanya jadi ia mengusulkan satu hadiah sudah cukup. Ia meminta pendapat Min Suk. Min Suk bertanya apa Jung Rok yakin kalau pernikahan itu sebelum perceraian keduanya karena ia berencana mengirim surat cerainya hari ini jam 9. Jung Rok mengatakan kalau hari ini sabtu. Min Suk berkata apa Jung Rok pikir ia tidak bisa mengirimnya hanya karena sekarang hari sabtu. Ia menyombongkan besarnya pajak yang ia bayar.

Jung Rok bertanya siapa yang akan mengirimnya. Min Suk berkata memangnya dirinya yang akan mengirim tentu saja pengacaranya. Jung Rok berkata kalau kata Yoon, Min Suk tak bisa mengajukan permohonan cerai melalui pengacara atau agen. Min Suk manyahut kalau begitu ia sendiri yang akan melakukannya.

Jung Rok bertanya apa sekarang Min Suk bahagia, setelah mencampakkannya apa Min Suk bahagia. Min Suk mencoba bersikap tak peduli dan berkata lumayan.

Jung Rok: "Aku tidak. Aku tak bahagia. Beberapa hari yang lalu kau masih istriku lalu beberapa hari kemudian kau akan menjadi seseorang yang kuharapkan."

Min Suk menyuruh Jung Rok pergi kalau sudah selesai. Sebelum pergi Jung Rok berpesan, "Ini yang terakhir. Mencintai pria sepertiku pasti berat bagimu. Untuk masa-masa itu aku benar-benar minta maaf. Jangan hanya sekedar lumayan bahagia. Kau harus bahagia Park Min Suk."

Min Suk terharu mendengarnya dan sedih menatap kepergian Jung Rok yang semakin menjauh dari jangkauan pandangannya.

Colin, Dong Hyub dan Sang Hyun menyusuri jalanan menikmati liburan. Sang Hyun bertanya apa kedua temannya ini sudah bertemu dengan pacarnya Guru etika karena ia sendiri sudah melihatnya ketika dia datang ke sekolah. Tapi menurutnya wajah pacar Guru Etika itu terlihat sangat familiar (Iya-lah kan pernah bertemu Do Jin sebelumnya)

Dong Hyub bertanya apa pekerjaan orang itu. Colin heran kenapa Dong Hyub memanggil pacar Guru Etika dengan sebutan orang itu, "Dia sangat modis dan tampan." (wuih Colin membela bapaknya hahaha) Dong Hyub heran bagaimana Colin tahu apa sudah pernah melihatnya.

Belum sempat Colin menjawab ketiganya dikejutkan dengan pemandangan pengeroyokan salah satu teman mereka. Seong Jae dikeroyok siswa sekolah lain, SMA Mu Yong. Seong Jae ditendang dan dipukuli ia dipalak. Colin bergumam kalau perkelahiannya tak adil karena 4 lawan 1. Dong Hyub dan Sang Hyun pun maju, Colin kembali bergumam kalau keputusan yang diambil Dong Hyub dan Sang Hyun bukan keputusan yang bijak.

Do Jin dihubungi pihak kepolisian, "Apa anda wali dari Colin? Ini dari kantor polisi." Do Jin bergegas menuju kantor polisi.

Di kantor polisi siswa SMA Mu Yong tak terima karena ia dipukuli Dong Hyub cs. Ia berkata pada polisi kalau Dong Hyub cs yang memulai perkelahian. Seong Jae menyangkal kalau siswa SMA Mu Yong duluan yang memukulinya sedangkan Dong Hyub cs datang menolongnya ketika sedang melintas. Colin membenarkan karena ia saksinya.

"Kau menang atau kalah?" tanya Do Jin tiba-tiba. Do Jin melihat wajah Colin cs kemudian beralih menatap siswa SMA Mu Yong yang wajahnya babak belur ia mengambil kesimpulan kalau Colin cs yang menang.

Sang Hyun langsung mengenali Do Jin dan berseru pada Dong Hyub kalau itu pacarnya Guru Etika, Dong Hyub terkejut tak menyangka. Do Jin kaget melihat dua remaja yang pernah berurusan dengannya. Colin minta maaf pada temannya karena ia terpaksa menghubungi walinya. Ia memperkenalkan Dong Hyub cs sebagai temannya pada ayahnya. Ini Dong Hyub yang berjiwa ksatria dan Sang Hyun yang setia.

Do Jin kesal kenapa Colin bisa terjebak diantara mereka, "Apa kau tak lihat betapa lelahnya aku bersahabat dengan paman-pamanmu selama ini?"

Bapak dari salah satu anak SMA Mu Yong datang. Anak itu langsung mengadu pada ayahnya. Ayahnya marah dan bertanya si brengsek mana yang melukai wajah anaknya. Anaknya langsung menunjuk Dong Hyub yang sudah memukulinya.

Plok.. Bapak anak itu menggaplok kepala Dong Hyub. Dong Hyub diam menahan marah. "Seorang pelajar seharusnya belajar, apa kau tahu siapa aku?" bentak si bapak.

"Siapa yang memukul wajahmu?" tanya Do Jin pada Colin.

"Dia!" jawab Colin menunjuk si anak yang bapaknya barusan memukul Dong Hyub.

Do Jin menatap marah dan menghampiri mereka. "Apa yang ingin kau lakukan?" tanya si bapak anak itu. Dan plok... Do Jin memukul kepala si bapak. hahaha. Mereka terkejut melihatnya bahkan pak polisinya juga kaget.

"Apa yang baru saja kau lakukan? apa kau mau mati?" Si bapak itu marah sambil mencengkeram baju Do Jin. Do Jin melepaskan diri dari cengkeraman bapak itu.

"Sebagai orang dewasa memukul anak bukanlah tindakan bijak." Kata Do Jin.

"Kau siapa? Apa kau ayahnya?" tanya si bapak. (maksudnya apa Do Jin ayahnya Dong Hyub yang ia pukul kepalanya)

"Aku ayah temannya (ayahnya Colin) aku tak pernah memukul anakku dan dia adalah teman anakku yang berharga. Kalau anakmu berharga seharusnya kau tahu bahwa anak orang lain sama berharganya. Kenapa kau berani memukul seorang anak? Seharusnya kupatahkan saja pergelangan tanganmu."

Polisi bertanya Do Jin ini walinya siapa. Do Jin menjawab kalau ia walinya Colin dan Dong Hyub.

Di luar kantor polisi Do Jin bertanya pada Colin apa mereka bertiga berteman. Ketiganya menunduk Colin menjawab ya. Do Jin mendesah kesal. Dong Hyub ingin tahu kenapa Do Jin menolongnya bukankah hubungannya dengan Do Jin tak baik. Do Jin berkata kalau ia ini orang dewasa sedangkan Dong Hyub masih muda dan memerlukan perlindungan. Dong Hyub dan Sang Hyun berterima kasih.

Do Jin melihat jam tangannya dan berkata pada Colin kalau ia ada janji jadi ia akan pergi lebih dulu. Ia berpesan pada Dong Hyub dan Sang Hyun agar berhenti merokok. Keduanya mengangguk.

Do Jin janjian dengan Yi Soo. Yi Soo terkejut mengetahui kalau Colin dan temannya tadi di kantor polisi. Do Jin merasa kalau sekarang ia benar-benar memiliki seorang anak. Yi Soo penasaran apa Colin terlibat perkelahian. Do Jin mengangguk dan mengatakan kalau masalah itu sudah diselesaikan.

Do Jin mengingatkan bukankah Yi Soo tahu kalau Meari akan menikah apa Yi Soo tak iri kata Do Jin sambil menyuapi es krim ke Yi Soo. Yi Soo berkata ia tak bisa mengatakan kalau ia iri tapi ia terkejut karena menikah bukanlah perkara mudah. Do Jin berkata kalau ia sangat mengagumi Yoon, dia salah seorang yang pernah menikah dan akan menikah lagi. Yi Soo menyahut kalau Yoon pasti sangat mencintai Meari.

Do Jin: "Haruskah orang yang menikah karena jatuh cinta? Aku juga sangat mencintaimu. Kalau begitu kita harus....."

Lep... Yi Soo menyuapi Do Jin es krim. Do Jin melirik kesal karena omongannya terhenti.

Yi Soo berkata kalau ada sepasang manusia yang ingin bercerai dan yang lainnya ingin menikah. Perceraian dan pernikahan dilakukan untuk mencapai kebahagiaan. Tapi keduanya merupakan jalan yang sangat bebeda.

Do Jin merasa kalau Yi Soo mengkhawatirkan Min Suk. Ia meminta Yi Soo tak perlu khawatir karena pasangan itu tak akan berpisah. Yi Soo heran dan bertanya kenapa. Do Jin mengatakan kalau Min Suk benar-benar ingin berpisah dia tidak akan memutuskan semua kontrak. Ia berfikir Min Suk dan Jung Rok sedang bermain petak umpet atau berburu harta karun. Dari pasangan yang akan bercerai entah kenapa ia lebih mengkhawatirkan pasangan yang akan menikah.

Yi Soo tertawa dan berkata kalau sebagai Guru Meari ia sangat berbahagia untuk salah satu muridnya ini. Ia selalu mengatakan pada anak didiknya bahwa tak perlu menjadi yang sempurna selama kau melakukan yang terbaik terhadap hal yang kau sukai. Dia tergila-gila mencintai Yoon dan akhirnya terbayar sudah. Do Jin bergumam sepertinya ia sudah salah orang mempercayakan pendidikan anaknya.

Tiba-tiba Yi Soo terkejut melihat seseorang yang baru datang ke kafe itu. Do Jin menoleh untuk melihatnya dan bertanya ada apa. Yi Soo bilang tak ada itu cuma mengagetkannya saja.

Do Jin tanya kenapa apa Yi Soo mengira itu orang yang Yi Soo kenal siapa dia. Yi Soo berkata hanya mirip seseorang yang pernah ia kenal. Do Jin ingin tahu bagaimana Yi Soo mengenalnya. Yi Soo berkata kalau ia pernah pacaran dengannya sekitar satu setengah tahun yang lalu. Mereka benar-benar mirip kata Yi Soo.

Do Jin cemburu mendengarnya, "Kalau begitu apa yang perlu ditakutkan?" Yi Soo bilang tentu saja ia takut, "Lalu memangnya aku harus mengatakan hai lama tak bertemu? apa seperti itu?" Do Jin menilai kalau sapaan seperti itu tak masalah itu sangat sedarhana.

Yi Soo bertanya memangnya Do Jin bisa melakukan hal itu pada mahasiswi pasca sarjana Kim Eun Jae yang ukuran sepatunya 245. Bisakah Do Jin melakukan hal itu. Do Jin berkata tentu saja. "Maksudku ada apa dengan ekspresi wajahmu, seperti dunia akan kiamat saja? Apa kau masih punya perasaan padanya? Sepertinya begitu."

Yi Soo: "Kalau begitu ketika kita mengecat rumah, bukankah kau takut pada lebah? Kalau begitu kau pasti takut pada lebah karena kau punya perasaan padanya. (hahaha)

Do Jin: "Ah kau benar-benar kekanak-kanakan. Tak ada alasan buatmu untuk takut."

Yi Soo: "Ah kau benar-benar picik." (berfikiran pendek/sempit gitu)

Do Jin: "Picik? Tak tahukah kau bahwa hal pertama yang tak boleh kau katakan pada pria adalah dia seorang yang picik."

Yi Soo membalas, "Tak tahukah kau hal pertama yang tak boleh kau tanyakan pada wanita adalah masa lalunya."

Do Jin: "Lihat. Lihat. Masa lalu. Pasti ada sesuatu. Sepertinya hubungan yang sangat mengesankan. Hatimu pasti masih berdebar-debar untuknya."

Yi Soo: "Tak ada yang seperti itu. Kau cari masalah ya? Aku hanya mengatakan aku takut."

Do Jin: "Kenapa kau marah? Sekarang semakin aneh. Jangan bilang kau masih berhubungan dengannya."

"Ah keterlaluan. Aku mau pergi." Yi Soo berdiri kesal dan meninggalkan kafe. Do Jin berteriak mengejar Yi Soo, "Kau mau kemana? Apa mau kembali ke pria masa lalumu?"

Do Jin mengantar Yi Soo pulang, ia menyuruh Yi Soo duduk di ranjang. Ia bertanya dimana penghapus cat kuku. Yi Soo tanya kenapa bukankah cukup cantik. Do Jin bilang itu terlalu cantik bukankah Yi Soo menghias kuku untuknya ia sudah menikmati keindahannya jadi ia akan menghapusnya sebelum pria lain melihatnya. Do Jin menemukan cairan penghapus cat kuku.

Yi Soo heran kenapa Do Jin masih membicarakan itu. Do Jin berkata kalau sebelumnya saat ia mendengar pria lain mengatakan ingin menyembunyikan pacar mereka di saku ia menyebut kalau mereka pria yang kurang ajar tak seharusnya seperti itu, "Kuku yang seksi, wajah yang cantik, tulang selangka yang sempurna. Hanya mataku yang boleh melihatnya. Jadi apa kau ingin kusimpan di saku-ku atau kuhapus cat kukumu?"

Yi Soo tertawa dan menyerahkan tangannya membiarkan Do Jin menghapus cat kuku-nya. Do Jin bertanya berapa usia pria itu. Yi Soo menjawab kalau dia seumuran dengannya. Do Jin terus bertanya apa pekerjaan orang itu. Yi Soo heran kenapa Do Jin tiba-tiba memanggilnya orang itu. Do Jin berkata kalau pada awalnya ia ingin memanggilnya dengan sebutan brengsek tapi ia menahan diri terlebih lagi ia sedang berhadapan dengan seorang guru etika. Yi Soo mengatakan kalau dia seorang dokter oriental. Do Jin merengut cemburu dan mengatakan kalau itu orang biasa.

Yi Soo: "Apa kau bilang? Ah dasar. Kalau aku tahu kau pria seperti ini seharusnya waktu itu aku mempertimbangkannya lagi."

Do Jin: "Kau membuang-buang waktumu. Meskipun kau mempertimbangkannya 100 kali pun pasti tetap aku (yang dipilih)"

Yi Soo kemudian menanyakan tentang kompetisi akhir pekan tim Blue Cat sudah ditentukan. Apa Do Jin sudah menyumbang. Do Jin bertanya kenapa seorang wasit mengkhawatirkan hal itu. Yi Soo mengatakan kalau Tae San sedang tak menjadi dirinya sendiri belakangan ini. "Kau menyumbang atau tidak?" Do Jin menilai kalau Yi Soo ini terlihat seperti perampok tanpa pisau. Yi Soo berkata kalau diperlukan ia akan mengambil sebuah pisau.

Ponsel Yi Soo berdering. Do Jin curiga dari siapa itu apa dari pria, ia ingin tahu. Yi Soo menunjukan siapa yang meneleponnya, Park Min Suk.

Yi Soo bicara di telepon dengan Min Suk. Mereka sepertinya janjian bertemu malam nanti. Do Jin ingin tahu apa Min Suk ingin bertemu, kenapa. Yi Soo bilang kalau pria tak perlu tahu tentang ini. Do Jin merengut, "Kenapa? Ada apa sebenarnya?"

Min Suk mengajak Yi Soo, Se Ra dan Meari ke klub malam. Keempatnya berpakaian seksi dan terlihat cantik. Se Ra berkata kalau hari ini mereka akan makan daging kepiting tapi kalau Tae San tahu hal ini habislah ia. Yi Soo berkata apa Se Ra pikir kalau Do Jin tahu dia akan membiarkannya keluyuran.

Min Suk memesan tempat VVIP yang nyaman dan luas. Pemilik klub malam menyapa Min Suk dan senang salah satu Nyonya kaya raya ini berkunjung ke klub malamnya. Min Suk mengatakan kalau kedatangannya ke sini untuk merayakan pesta bujangan terakhir, "Bayi kami yang berharga ini akan segera menikah," katanya sambil menatap Meari.

Pemilik klub mengatakan kalau kualitas alkohol di tempatnya sangat bagus. Apa mau dipesankan. Min Suk tentu saja mau memesannya, "Memangnya kau kira untuk apa kami menghabiskan banyak uang disini?"

Meari kegirangan karena pesta ini dipersembahkan untuknya. Min Suk mengatakan kalau saat ini ia bercerai jadi selain dirinya adakah orang lain yang sudah menikah disini. Ketiga wanita ini mengangkat bahu bersamaan dan tertawa.

Ternyata kabar Park Min Suk cs ke klub malam diketahui Jung Rok. Mereka berempat pun menyusul ke klub malam yang sama. Yoon tanya apa Jung Rok yakin kalau para wanita itu disini. Jung Rok berkata kalau informasinya didapat dari pelayan yang bekerja disini, "Reservasi VVIP atas nama Park Min Suk dan seluruhnya ada 4 orang wanita."

Do Jin ngomel kenapa Yoon ingin menikah dan membuat hal seperti ini terjadi. Ia kemudian memarahi Tae San kenapa juga sebagai kakak Tae San diam saja. Ia menilai kalau Yi Soo bukan wanita yang seperti itu, ini semua karena Hong Pro dan Meari. Yoon dan Tae San protes kenapa wanitanya disalahkan.

Jung Rok berkata kalau ia bahkan belum menandatangani surat perceraian tapi Min Suk sudah berani mengunjungi klub malam. "Lihat saja bagaimana aku akan mengurus wanita ini. Ah.. Park Min Suk kau menghabiskan waktu seharian untuk menangkapku, akan kutunjukan padamu hari ini bagaimana rasanya tertangkap basah."

Keempatnya akan masuk tapi penjaga menghalangi. Penjaga minta maaf karena pesanan sudah penuh. Tae San heran omong kosong apa ini jam berapa sekarang kenapa mereka tak bisa masuk. Do Jin menyuruh Tae San dan Jung Rok menyingkir, ia menggandeng Yoon dan minta ijin masuk. Keduanya pun diperbolehkan masuk.

Tae San dan Jung Rok juga akan masuk tapi penjaga menghalangi keduanya. Tae San mengeluarkan dompet dan memberikan sesuatu pada si penjaga, "Sepertinya aku berhutang rokok padamu. Berapa yang kau butuhkan?"

Keempat wanita bersulang, "Untuk mereka yang sekarang melajang (Yi Soo dan Se Ra) yang masih lajang (Meari) dan mereka yang akan menjadi lajang kembali (dirinya sendiri)"

Pintu diketuk pelayan masuk dan mengatakan kalau pria-pria pesanan Min Suk cs sudah datang. "Hyung-nim, silakan masuk!"

Keempat wanita ini menunggu pria seperti apa yang akan menemani pesta mereka malam ini. Dan jreng jreng jreng tentu saja yang muncul adalah pria-pria mereka.

Keempat wanita ini jelas kaget sudah tertangkap basah tengah merayakan single party. Dengan tatapan tajam keempat pria ini menatap masing-masing wanitanya.

Jung Rok: "Aku adalah pemburu penyihir dari Cheongdam-dong, sekarang mataku hanya tertuju padamu."

Min Suk diam masih terkejut.

Yoon: "Aku adalah pahlawan komik polos dari Samseong-dong. Musim hujan adalah musimku."

Merai tertunduk tak berani menatap Yoon.

Tae San: "Aku adalah pemberontak dari Dogok-dong. Aku benar-benar tak akan memaafkanmu."

Se Ra mencoba bersikap tenang walaupun sudah tertangkap basah.

Do Jin: "Aku adalah gentlemen dari Samseong-dong. Oke, sekarang saatnya show time."

Yi Soo melirik cemas, mereka berempat sudah tertangkap basah melakukan single party di klub malam.

Hehe... lihat ekspresi mereka dibawah ini...!

Episode-20        

Kita akan kembali ke masa lalu disaat keempat ahjussi ini masih di bangku SMA dan belum bersahabat seperti sekarang.

Di sebuah kelas disuatu SMA. Kim Do Jin dengan penampilan urakan tengah membaca majalah otomotif. Tentu saja dengan suasana kelas yang gaduh.

Di kelas yang sama tentu saja ada anak rajin yang kerjanya hanya mempelajari pelajaran sekolah, siapa lagi kalau bukan Yoon (ternyata Yoon n Do Jin emang udah dari dulu selalu bareng ya ternyata keduanya satu kelas)

Yoon dengan tampang culun bin cupu hahaha ditambah kacamata bulat dan poni di rambut terlihat jelas kalau dia yang paling kutu buku diantara lainnya.

Tiba-tiba ada siswa kelas lain yang masuk ke kelas mereka, Im Tae San. Dengan tampang sok berkuasa ia menatap sinis ke arah siswa lain di kelas Do Jin. "Siapa pemimpin disini, keluar!" perintah Tae San. Do Jin tersenyum sinis mendengarnya, tak ada yang menggubris perkataan Tae San.

Kemudian dari pintu masuk lain masuklah siswa lain pula sambil menenteng sepasang sepatu, itu Lee Jung Rok.

Sambil memukulkan tongkat ia bertanya, "Siapa pemilik sepatu NICE ini? Keluar!" Yoon yang mendengar itu langsung mendongakkan wajahnya.

"Siapa pemimpin disini?" bentak Tae San. Do Jin melihat sekeliling teman sekelasnya yang diam saja. Do Jin langsung mengangkat tangan dan berkata kalau sementara ia pemimpinnya. Tae San menyuruh Do Jin keluar ikut dengannya.

Jung Rok marah dan memukulkan tongkat yang ia bawa, "Apa tak ada pemiliknya?"

"Itu milikku!" sahut Yoon sambil mengangkat tangannya. Jung Rok menyuruh Yoon keluar ikut dengannya.

Yoon berjalan di belakang Jung Rok. Tiba-tiba Jung Rok berhenti berjalan dan Yoon yang tak melihat ke depan menabraknya, duk hehe. Ternyata di taman sekolah sudah ada Do Jin yang Tae San yang saling berhadapan. Jung Rok berkata kalau ia duluan yang akan memakai tempat ini jadi Do Jin dan Tae San lebih baik kembali saja. Tae San menatap sebal, "Apa-apaan ini?"

Jung Rok menyombongkan diri, "Apa kau belum mendengar tentang aku? Aku Lee Jung Rok dari Yang Jae."

Do Jin: "Jadi kau Lee Jung Rok? pisau silet Yang Jae-dong."

Yoon terkejut, "Pisau silet?"

Do Jin: "Kudengar kau sudah berjenggot tebal walaupun kau masih SMP."

Buwahaha. Mereka tertawa terbahak-bahak tapi tiba-tiba Jung Rok terdiam marah, "Kau mau mati ya?" Ancamnya pada Do Jin. Tapi Tae San menghalangi karena Do Jin itu lawannya, "Kami akan berkelahi untuk mencapai posisi tertinggi. Awasi saja kami!" (berkelahi buat mencari siapa pemimpin di sekolah haha)

Yoon dengan polosnya berkata, "Nilai masukku adalah yang tertinggi. Kenapa kalian berkelahi untuk posisi tertinggi?"

Do Jin kaget dan langsung mencengkeram baju Yoon menatapnya galak, "Jadi nilaimu yang tertinggi? Aku turun jadi peringkat 2 karena kau? Buku referensi apa yang kau gunakan?"

"Lepaskan dia!" Jung Rok melepaskan cengkeraman Do Jin dari Yoon. Jung rok berkata kalau urusannya dengan Yoon belum selesai. Jung Rok berkata ke Yoon kalau akhir pekan ini ia ada kencan berkelompok jadi pinjamkan sepatu milik Yoon padanya. Yoon berusaha mengambil sepatunya.

Tae San mencengkeram baju Jung Rok, "Lepaskan dia. Kau ini meminjam atau merampas?"

Do Jin membalikan tubuh Tae San dengan kasar, "Memangnya kau siapa sombong sekali?"

Tae San: "Hei apa kau tak mengenaliku? Aku Im Tae San-nya Haksu!"

Yoon dengan sifat polos berkata kalau ia belum pernah mendengar tentang Tae San.

Tae San berbalik marah mencengkeram baju Yoon, "Kalau kau tak tahu kenapa kau ikut campur?"

Jung Rok membalikkan paksa tubuh Tae San, "Kubilang jangan sentuh dia. Dia memiliki sepatu NICE dan nilainya yang tertinggi!" bentak Jung Rok.

Do Jin membalikkan tubuh Jung Rok untuk menghadap padanya, "Kenapa kita tak boleh menyentuhnya? Apa bagusnya dia?" suara Do jin tak kalah tinggi.

Jung Rok: "Apa kau melotot padaku?"

(Ya ampun siapa membela siapa, siapa yang berkelahi dengan siapa haha)

Jung Rok dan Do Jin saling menendang dan berkelahi tak tahu apa yang mereka ributkan. Tapi Yoon ia berusaha mengambil sepatunya.

Matahari sangat terik mereka berempat kelelahan setelah berkelahi yang tak ada penyebabnya. Keempatnya terlentang di atas rumput.

"Aku berkelahi karena sepatuku. Tapi kenapa kalian berkelahi?" Tanya Yoon sambil memegang sepatunya.

"Ini karena hormon." Jawab Do Jin.

"Jadi kau mudah terpancing?" Ucap Yoon.

"Tapi kenapa kita terlentang?" Tanya Jung Rok.

"Akan aneh kalau kita telungkup." Sahut Do Jin.

"Pria harus berbaring terlentang dan melihat langit. Apa kau belum pernah melihat di film-film?" Ucap Tae San. Kemudian Yoon meminjamkan sepatunya pada Jung Rok.

Suara Do Jin: "Terkadang remaja berkelahi tanpa alasan yang jelas. Mereka juga bisa bersahabat tanpa alasan yang jelas sama sekali. Ketika remaja bersahabat mereka akan terbawa oleh kata persahabatan ke bagian lain dari dunia. Pada saat itu, mereka akan menjadi remaja yang istimewa."

Selanjutnya kita kembali ke masa kini dimana ada 4 remaja lain.

Seong Jae memanggil Dong Hyub, Colin dan Sang Hyun ke atap gedung sekolah. Seong Jae berdiri tegap mamandang takut ketiga temannya. Sang Hyun bertanya apa orang yang memanggil mereka bertiga ke atap itu Seong Jae. Seong Jae membenarkan itu karena ada yang ingin ia katakan.

Dong Hyub menilai kalau Seong Jae sudah gila. Ia mengajak dua temannya ini untuk mendekati Seong Jae supaya lebih dekat. Seong Jae tetap berdiri tegap di tempatnya gemetaran.

Dong Hyub mengingatkan ia tak tahu apa yang ingin Seong Jae katakan tapi sebaiknya itu jangan mengecewakan kalau tidak...

"Terima kasih karena sudah menolongku!" ucap Seong Jae menyela omongan Dong Hyub. Dong Hyub, Colin dan Sang Hyun terkejut mendengar pernyataan terima kasih Seong Jae.

Seong Jae berkata kalau ini adalah pengalaman pertamanya. Dong Hyub terkekeh dan berkata kalau ini juga pengalaman pertamanya, "Haruskah anak ini kupukuli lagi?" Sang Hyun merasa kalau Seong Jae ini salah makan obat karena tiba-tiba bersikap seperti ini.

"Menurutku dia tak apa-apa!" sahut Colin. Dong Hyub dan Sang Hyun terkejut, "Tahu apa kau mengatakan dia tak apa-apa? Dia tak baik padaku." Kata Dong Hyub.

Seong Jae: "Aku tahu kau membenciku. Ibuku memukulimu. Aku benar-benar minta maaf atas kejadian itu. Aku memintamu kesini untuk minta maaf."

Dong Hyub: "Seharusnya kau yang mendatangi kami kalau kau ingin minta maaf. Kau memang berniat baik tapi caramu melakukannya salah, teman."

Seong Jae tersenyum dan kembali minta maaf, ia senang Dong Hyub menganggapnya sebagai teman. "Aku ingin naik ke atap paling tidak sekali. Karena kalian sering melakukannya," Seong Jae akan membuka kancing baju seperti yang dilakukan Dong Hyub dkk. Tapi tiba-tiba terdengar suara teriakan kepala sekolah, "Hei siapa yang di atap?"

Mereka langsung berbaring sembunyi. Colin heran kenapa berbaring. Sang Hyun berkata kalau itu kepala sekolah, murid-murid dilarang ke atap gedung sekolah. Colin pun ikut berbaring.

"Langitnya benar-benar biru!" seru Seong Jae. Keempatnya tertawa-tawa dan bersenda gurau.

Suara Do Jin: "Sementara itu, mungkin ditempat lain beberapa remaja sedang membentuk persahabatan mereka sendiri."

Sinopsis A Gentlemans Dignity Episode 20 [End]

Do Jin dan Yoon masuk lebih dulu ke klub malam. Yoon bertanya-tanya di ruangan mana mereka karena keduanya tak boleh langsung melabrak tiap ruangan. Do Jin langsung menemukan keberadaan para wanita itu terlihat jelas ketika seorang pelayan mengetuk pintu sebuah ruangan. Pelayan itu membawakan minuman yang paling berkelas, ruangan itu adalah tempat anggur paling mahal disajikan.

Tae San dan Jung Rok menyusul keduanya. Tae San bertanya dimana mereka apa kedua temannya ini sudah menemukan mereka. Do Jin berkata kalau ia tahu dimana mereka berada. Ia mengajak ketiga temannya ke ruangan yang dimasuki pelayan tadi.

Tapi keempatnya terhenti karena terkejut melihat seorang pelayan menarik empat pria muda untuk dibawa masuk ke ruangan yang mereka yakini wanita mereka berada disana.

Pria-pria muda itu sepertinya akan menolak karena ini pertama kalinya mereka diseret ke ruangan yang dipenuhi gadis-gadis. Pelayan mengatakan kalau yang didalam ruangan ini adalah wanita terkaya di Gangnam dan juga ada 3 wanita cantik. "Mereka mungkin lebih tua tapi wajah dan tubuh mereka tak terkalahkan. Tak terkalahkan."

Tae San bergumam kesal, "Apa-apaan ini? Mereka bahkan mencari teman bermain."

"Hei anak muda!" Panggil Do Jin sebelum pelayan mengetuk pintu ruangan. Keempatnya menghampiri empat pria muda ini. "Mungkin terdengar kasar tapi bolehkah kami dulu yang menemui wanita-wanita di ruangan itu? Para wanita dengan wajah dan tubuhnya tak terkalahkan itu adalah milikku, miliknya (Tae San) dan juga miliknya (Yoon)"

Jung Rok protes kenapa ia tak diikutsertakan. Do Jin menyahut bukankah Jung Rok dan Min Suk akan bercerai. Yoon menyuruh keempat pria muda itu membubarkan diri. Dan pelayan pun membukakan pintu mempersilakan keempat pria ini masuk.

Betapa terkejutnya keempat wanita ini melihat pria-pria mereka menangkap basah keempatnya tengah merayakan single party tanpa mereka ketahui.

Pemburu penyihir dari Cheongdam-dong, pahlawan komik polos yang memiliki julukan musim hujan dari Samseong-dong, pemberontak dari Dogok-dong, dan gentleman dari Samseong-dong menatap tajam keempat wanita yang ada di ruangan ini. Keempat wanita melongo terkejut melihatnya.

"Beraninya membooking? Mau mati ya?" Do Jin menatap galak Yi Soo.

"Kau belum cukup bermain-main ya? Membuatku mencarimu lagi?" bentak Tae San membuat Se Ra terperanjat kaget.

"Beraninya ke klub malam, lusa kau akan menikah." Yoon menatap tajam Meari.

"Aku tahu kita akan bercerai, tapi... bolehkah aku menyanyikan sebuah lagu?" Jung Rok menawarkan diri. (what wakakakakaka) Ketiga teman Jung Rok kaget mendengar perkatannya.

Min Suk memarahi pemilik klub malam kenapa mengirim orang seperti ini untuk pestanya. "Bukankah kau mengatakan kau memiliki yang berkualitas terbaik? Kau tak perlu datang!"

Se Ra langsung berdiri dan berkata karena sudah tertangkap basah apa mereka akan tetap tinggal di ruangan ini kalau ia ingin menari di lantai dansa. Aku juga kata Meari ikut berdiri. Min Suk pun sama, ia bertanya pada Yi Soo apa Yi Soo hanya akan melihat tas di ruangan ini saja. Yi Soo pun ikut berdiri dan berkata kalau ia selalu mengikuti perkembangan nyanyian dan tarian. Walaupun kita sudah ketahuan tetap saja kita kesini untuk makan daging kepiting sambungnya.

Keempat pria ini terkejut tak menyangka dengan sikap keempat wanitanya yang sudah tertangkap basah, bukannya minta maaf atau apa malah menari. Yoon memarahi Jung Rok kenapa mengungkit-ungkit soal menyanyi.

"Kau memang musuhku!" bentak Tae San.

"Lihat. Semua ini karena siapa?" Do Jin juga ikut membentak.

Jung Rok mencoba bersikap tenang dengan menyilangkan kedua tangan di dada sambil tersenyum. Hehe.

Saatnya "Gangnam Style Music Disco

Yi Soo, Se Ra dan Meari menari atraktif di lantai dansa. Keempat pria mengamati dengan tatapan kesal. Jung Rok melihat kesana kemari mencari keberadaan Min Suk. Ia bergumam kesal karena tak bisa menemukan dimana Min Suk. Ia pun berusaha mencari calon mantan istrinya.

Do Jin tak tahan lagi melihat Yi Soo menari seksi. Ia segera turun ke lantai dansa menyusul Yi Soo. Tae San dan Yoon juga mulai tak nyaman melihat wanitanya menari dikelilingi pria lain di lantai dansa. Do Jin menarik Yi Soo menjauhi lantai dansa. Spontan Se Ra dan Meari juga berhenti menari kemudian menatap kedua pria-nya yang ada di lantai atas dan memberi kode pada mereka meminta keluar dari lantai dansa.

Min Suk di tengah-tengah pengunjung yang sedang menari, ia mencari ketiga juniornya. Tapi ia malah melihat calon mantan suaminya. Min Suk bertanya kemana mereka pergi. Jung Rok menjawab kalau mereka mungkin sedang bermesraan di tempat lain dan mereka berbeda dengan kita.

Min Suk akan pergi tapi Jung Rok menghalangi. Min Suk menyuruh Jung Rok minggir, "Ini bukan urusan mantan suamiku." Katanya.

Jung Rok: "Memangnya aku mengatakan sesuatu? Aku kesini sebagai duda yang ingin merayu janda. Mataku hanya tertuju pada janda yang berdiri di depanku."

Jung Rok memasangkan earphone ke telinga Min Suk. Ia juga memakai earphone di telinganya sendiri. Kemudian lagu lain terdengar bukan lagu Gangnam Style yang menggema isi ruangan disco melainkan lagu Macarena yang berasal dari MP3 Jung Rok.

Jung Rok langsung bergoyang menari-nari seperti MV Macarena. Ia menikmati tariannya sambil tersenyum. Awalnya Min Suk cuek tapi lama-kelamaan ia ikut menikmati alunan musiknya. Ia pun mengikuti gerakan tarian Macarena. Ia dan Jung Rok menari bersama. Keduanya tersenyum. (Apa keduanya sudah baikkan?)

Do Jin menarik Yi Soo keluar dari lantai dansa. Yi Soo merengut apa yang Do Jin lakukan sekarang padanya. Do Jin bilang kalau ia sedang melampiaskan kemarahannya, "Apa ini? Single party?"

Yi Soo berkata memangnya hanya pria yang boleh melakukan pesta semacam itu. Wanita juga perlu pesta yang dahsyat sebelum menjadi ahjumma. Ia meminta Do Jin menyingkir karena ia masih ingin menari. Tapi Do Jin menghalangi, "Tidakkah kau tahu betapa khawatirnya aku padamu?"

Yi Soo heran kenapa Do Jin khawatir bukankah Do Jin percaya padanya. Do Jin bilang kalau ia mempercayai pacarnya (Yi Soo) tapi ia tak percaya dengan pria-pria di sekeliling Yi Soo. "Aku sudah mengalami semuanya kenapa kau melakukan ini?" Yi Soo bingung apa kesalahannya.

Do Jin: "Berkilau sendirian seperti itu. Apa yang harus kulakukan? Membuat wanita wanita di sekelilingmu menjadi seperti gurita."

Yi Soo tertawa, "Apa malam ini aku terlihat cantik?"

Do Jin: "Bumi berputar dan matahari terbit dari timur dan malam ini Seo Yi Soo... cantik!"

Yi Soo merangkulkan kedua tangannya ke leher Do Jin. Oh oh.. lihat mata Do Jin melihat kemana itu hahaha.

Do Jin bertanya apa yang Yi Soo lakukan. Yi Soo berkata kalau ia mencoba merayu pacarnya. Yi Soo menyuruh Do Jin diam disitu, kemudian ia bergerak maju untuk mencium Do Jin.

Do Jin melepas ciuman Yi Soo dan memperingatkan jangan lagi Yi Soo datang ke tempat seperti ini tanpa dirinya. Ia hanya memafkan Yi Soo kali ini saja. Yi Soo cemberut bagaimana mungkin Do Jin melakukan itu. Dan Do Jin pun membungkam mulut Yi Soo dengan ciumannya.

Do Jin dan Tae San bertemu dengan Presdir Song. Presdir Song memperkenalkan Presdir Kang pada Do Jin dan Tae San. Ia mengatakan kalau Presdir kang ini yang membangun Town house di pulau Jeju.

Presdir Kang berkata kalau ia sudah mendengar tentang Do Jin dan Tae San lewat Presdir Song dan apartemen di sekeliling mereka ini Do Jin dan Tae San yang merancangnya. Do Jin menjelaskan keunggulan apartemen rancangannya ditambah lagi ia juga tinggal di salah satu apartemen yang ia desain.

Presdir Kang melihat kalau Do Jin ini sangat percaya diri, ia pun memutuskan menggunakan rancangan Do Jin dan Tae San untuk proyek miliknya. Do Jin dan Tae San tentu saja senang mendapatkan proyek besar.

Do Jin langsung ke Mango Six dan menceritakan proyek Presdir Kang yang akan ia kerjakan bersama Tae San. Jung Rok ikut senang dan memuji temannya ini akan segera mendapat rezeki nomplok hehe. Do Jin berjanji akan mentraktir Jung Rok makan setelah kontraknya ditanda tangani.

Jung Rok tanya apa sebagai pengacara Yoon sudah tahu tentang hal ini apa mungkin dia tak datang karena Tae San. Do Jin bilang bukan ia memberi tahu kalau Yoon dan Meari sekarang sedang di Daejeon, ia berfikir kalau mereka berdua akan diabaikan.

Jung Rok heran, "Benarkah? Kenapa? Apa orang tua Tae San tak menerima Yoon?"

Do Jin mengatakan kalau orang tua Tae San belum mengizinkan Meari menikah sebelum Tae San menikah lebih dulu. Jung Rok membenarkan, lalu?

Do Jin: "Apa kau pikir Meari akan mendengarkan dengan patuh? Dia pasti cukup banyak menonton drama sampai berani mengatakan, Ibu aku hamil dan Yoon akan dipukuli tanpa ampun."

Jung Rok bertanya jadi apa kesimpulannya mereka akan menikah atau tidak. Do Jin berkata kalau hanya satu hal yang pernah dilakukan Meari dalam hidupnya yaitu menyukai Yoon dan ibu Tae San pasti sudah bersiap-siap menghadapi hal itu hanya masalahnya ternyata sampai seperti ini jadinya. Jung menanyakan dimana Tae San. Do Jin mengatakan kalau Hong Pro ada turnamen di luar negeri jadi Tae San membantu Se Ra beres-beres.

Tae San membantu Se Ra mempersiapkan perlengkapan turnamen mulai dari baju sampai perlengkapan golf. Ia merasa kalau semuanya sudah beres dan tak ada yang terlupakan. Tae San berkata kalau ia tak mempermasalahkan jika Se Ra kalah di turnamen ia berharap Se Ra berhenti merasa khawatir. Tapi Se Ra tak mau kalah pokoknya ia harus menang. Tae San senang dengan keinginan Se Ra.

Se Ra mengatakan kalau ia tak bisa menghadiri pernikahan Meari. Tae San berkata siapa suruh nasib mereka begitu sulit dan buru-buru ingin menikah, mereka tak mau pelan-pelan bahkan mengatakan tak perlu ada pesta (lah lagian siapa yang nembak Yoon duluan supaya cepat menikah, Hayo...) Se Ra membenarkan bukankah Yoon sudah pernah menikah jadi tak perlu ada pesta yang meriah. Tae San kembali berkata kalau sang bayi sekarang sudah dewasa dia bahkan akan segera menikah.

Meari berkunjung ke tempat kerja paruh waktu Colin dan Dong Hyub. Meari menatap Colin yang sedang bekerja sambil tersenyum.

Beberapa siswa SMP memesan makanan tapi mereka sepertinya naksir sama pelayannya deh hehe (pelayannya kan Colin sama Dong Hyub hehe)

Colin melihat Meari berdiri menatapnya sambil tersenyum. Dong Hyub melihat arah pandang Colin dan bertanya siapa dia. Colin menjawab kalau dia (Meari) hampir menjadi cinta pertamanya tapi teman ayahnya merampas darinya wehehehe. Dong Hyub menyahut ternyata bukan hanya kelahiran Colin saja yang dirahasiakan hehe.

Meari menghampiri Colin dan bertanya apa Colin mengatasi masalah dengan kerja paruh waktu. Colin balik bertanya apa Meari kesini untuk mencarinya. Meari menjawab ya, "Kau pintar menyanyi kan? Dan juga memainkan gitar. Nyanyikan lagu ucapan selamat untukku. Aku akan menikah!"

"Apa kau bilang?"

"Menikah, dengan Kak Yoon!" tegas Meari.

Colin menutup mata kesal campur cemburu, "Hei.. Aku mungkin tak pernah mengungkapkannya tapi sebenarnya aku menyukaimu."

Meari tertawa tanpa beban, "Benarkah? Lalu?"

"Kubilang aku menyukaimu!" Ucap Colin.

Meari berkata kalau itu masalah Colin karena ada banyak pria yang menyukainya. Bagaimanapun juga ia menginginkan lagu ucapan selamat itu, "Karena kau bilang kau menyukaiku setidaknya inilah yang bisa kau lakukan untukku, mengerti?" (hehehe)

Colin geleng-geleng kepala melihatnya padahal ia sudah mengatakan perasaannya tapi Meari cuek hahaha. Kasian Colin, sini nak aku peluk hahaha...

Ekspressi Dong Hyub melihat cinta temannya diabaikan hahaha...

Yoon mengunjungi rumah abu Jung Ah. Di depan makan istrinya ia minta maaf dan berkata kalau ia ingin hidup bahagia dengan anak itu (Meari) "Tolong berikan restumu dan juga maafkan aku. Sekarang aku... akan melupakan semuanya!" Yoon mengeluarkan cincin pernikahannya dan meletakan di dekat abu Jung Ah.

Yoon dan Meari melihat dekorasi tempat pernikahan mereka. Petugas penanggung jawab mengatakan kalau upacaranya dimulai pukul 7.30 karena itu tamu bisa masuk sejak pukul 6. Yoon berterima kasih dan menyerahkan sepenuhnya pada penanggung jawab acara.

Yoon bertanya pada Meari bahwa sebentar lagi Meari akan menjadi seorang istri adakah yang Meari sesali. Meari berkata kalau tak ada yang ia sesali tapi ia lebih khawatir orang tuanya akan berubah pikiran sampai-sampai ia tak bisa tidur. Ia bahkan mengatakan pada orang tuanya kalau mereka berdua sudah mendaftarkan pernikahan.

Yoon merasa kalau orang tua Meari pasti sangat kecewa. Meari tersenyum dan berkata kalau ada cara untuk mengatasinya, hehe apa itu. Meari berkata kalau keduanya harus segera punya anak sebelum Tae San memilikinya. Karena kedua orang tuanya sudah lama mengharapkan cucu jadi mereka berdua saja yang duluan memberi orang tuanya cucu.

Yoon setuju, "Kalau ini cara yang terbaik maka aku akan melakukan yang terbaik!" wahahaha Meari tersenyum malu, aku juga katanya. Ia merasa kalau besok Yoon pasti terlihat tampan. "Kau juga harus tampil cantik." Keduanya tersenyum saling memandang bahagia.

Tibalah saatnya upacara pernikahan. Kedua mempelai mengucapkan janji pernikahan.

Meari: "Aku bersumpah tidak akan teledor membayar tagihan kartu kreditku."

Yoon: "Untuk mencegah penumpukan lemak, aku akan berolah raga teratur."

Meari: "Aku tak akan lagi meneguk soju."

Yoon: "Walaupun hari lahirku lebih dulu, aku akan menghormati Tae San sebagai kakak iparku."

Meari: "Aku tak akan mengejek usia Kak Yoon."

Yoon: "Aku akan sering melakukan perawatan wajah ke salon."

Meari: "Aku akan menjadi impian yang paling dibanggakan Kak Yoon."

Yoon: "Aku tak akan pernah melupakan kebaikan hati orang yang merestui cinta kami."

Keduanya tersenyum, Colin menyenandungkan lagu khusus untuk kedua mempelai. Ya lagu illa illa versi Lee Jong Hyun nih.

Tampak diantara tamu kedua orang tua Meari yang sudah lanjut usia. Di sampingnya Tae San tersenyum memandang kebahagiaan adiknya.

Do Jin dan Yi Soo saling menggenggam tangan menyaksikan kebahagiaan pasangan yang baru saja menikah.

Di meja yang sama Jung Rok dan Min Suk tersenyum gembira melihat pasangan yang berbahagia ini. Jung Rok melirik jemari Min Suk belum ada cincin pernikahannya. Oh oh apa hubungan keduanya belum membaik. Jung Rok memandang kecewa tapi ia tersenyum sabar.

Illa illa illa gomawoyo my love.... (terakhirnya aja hehe)

Wow sebuah pernikahan sederhana yang dihadiri keluarga dan rekan dekat.

Di hotel perusahaan. Meari dandan cantik di kamar hehe.

Ia keluar kamar dan terkejut melihat suaminya masih minum-minum dengan ketiga oppa. Mereka berempat mabuk. Melihat meari datang Yoon memintanya menunggu di kamar saja. Meari pun kembali ke kamar. Mereka berempat terus minum.

Karena merasa terlalu lama Meari pun keluar kamar lagi dan betapa terkejutnya ia melihat keempat pria ini sudah tak sadarkan diri karena mabuk. Keempatnya tidur seenak jidat hahaha.

Meari berusaha membangunkan Yoon yang sudah mabuk tak sadarkan diri dan percuma saja hehe. Meari menarik Do Jin, Jung Rok dan kakaknya menyuruh pulang tapi ketiganya sudah mabuk tak sadarkan diri.

Meari kesal bukan main karena malam pernikahannya dikacaukan oppa-oppanya hahaha.

Tiba saatnya untuk pertandingan Blue Cat. Tae San kesal Yoon tak ikut di pertandingan kali ini karena pergi berbulan madu. Do Jin bergumam memangnya Yoon harus menunda bulan madu hanya demi pertandingan baseball. Ia bertanya apa Meari sudah menelepon, apa mereka sudah sampai.

Tae San mengatakan kalau mereka sudah sampai disana. Meari memintanya jangan mengganggu selama dia masih bernafas dan peringatan ini juga berlaku untuk Do Jin, untuknya dan Jung Pal.

Do Jin berharap Tae San tak perlu khawatir karena ketidak ikutsertaan Yoon di pertandingan kali ini dan ia siap sebagai Pitcher pertama (pelempar pertama yang biasa menjadi tugas Yoon)

Tae San memotong ucapan Do Jin ia bertanya pada Manajer Choi, apa yakin bisa melakukan lemparan pertama. Manajer Choi bicara jujur kalau ia merasa tak percaya diri kalau dijadikan sebagai pelempar pertama.

"Aku percaya diri!" kata Do Jin yakin.

Tae San bertanya pada staf-nya yang lain, "Hyeong Gyu bagaimana denganmu?" (apa yakin bisa melakukan lemparan pertama)

"Aku. Aku. Aku sangat percaya diri!" Do Jin ngotot ingin menjadi pitcher pertama menggantikan Yoon. "Aku bisa memberimu kemenangan shut out tanpa masalah." Tae San tak yakin Do Jin bisa melakukannya. Do Jin tak peduli percaya saja padanya ia berjanji akan memberikan kemenangan.

Do Jin tanya jam berapa wasitnya akan tiba disana, apa pacarnya sudah sampai disana. Tae San berkata kalau Yi Soo sudah sampai disana bahkan sekarang ada wawancara dengan sang wasit. Do Jin tanya wawancara apa.

Piala JC Pertandingan Baseball Amatir Tingkat Nasional.

Yi Soo sebagai wasit tengah diwawancarai oleh seorang reporter. Reporter terkejut mengetahui kalau wasit pertandingan ini seorang wanita. Ia pun bertanya apa yang menjadi kesulitan Yi Soo menjadi seorang wasit.

Yi soo bilang kalau yang kesulitannya adalah stamina, "Karena kau akan merasa pusing berdiri dibawah terik matahari sepanjang hari dengan topi dan pakaian pelindung. Tapi ketika melihat para pemain yang antusias bermain rasa lelahnya langsung hilang!"

Do Jin sampai disana dan melihat wawancara Yi Soo. Yi Soo melihat kedatangan Do Jin yang melambaikan tangan ke arahnya.

Reporter kemudian menanyakan masalah pribadi. Ia bertanya apa Yi Soo sudah punya pacar. Yi Soo lama tak segera menjawab. Do Jin langsung cemberut takut kalau Yi Soo akan bilang kalau Yi Soo tak punya pacar. Ia pun langsung mengangkat tangan memberi tanda.

"Ya aku punya!" jawab Yi Soo. "Dia seorang yang merasa cemburu kalau angin sepoi-sepoi menyentuh tubuhku." Do Jin tersenyum mendengarnya. Yi Soo melanjutkan kata-katanya ia bilang kalau hal itu memang agak memuakkan tapi sejujurnya ia menyukai pria tersebut karena hal itu. "Walaupun aku tak tahu apakah dia menyadarinya atau tidak." Kata Yi Soo sambil menatap Do Jin yang tersenyum padanya.

Setelah wawancara Yi Soo menggumamkan sumpah sebagai wasit yang tak boleh memihak salah satu tim. Do Jin terus memperhatikan dan memanggilnya agar Yi Soo melihat ke arahnya. Yi Soo meminta Do Jin jangan mengganggunya karena ini pertama kalinya ia bersumpah sebagai seorang wasit.

Do Jin: "Kenapa tak kau hentikan saja? Lagipula kau pasti akan memihakku di Blue Cat!"

Yi Soo menoleh, "Kau ini. Kau tak tahu apa-apa tentangku."

"Akhirnya kau melihatku!" ucap Do Jin kemudian berkata pria itu tahu kalau Seo Yi Soo menyukainya Do Jin merespon ucapan Yi Soo ketika wawancara tadi.

Yi soo berusaha fokus tak memandang Do Jin, "Benarkah? Apa dia tahu?"

Do Jin memberi tahu kalau ia akan melakukan lemparan pertama untuk Blue Cat. Yi Soo jelas terkejut, "Apa? Bagaimana ini? Kasihan tim Blue Cat!" Haha. Do Jin merengut Yi Soo meremehkannya.

Saatnya pertandingan.

Do Jin konsentrasi akan melempar dan wusss lemparannya ternyata berhasil dipukul lawan dan pemain Blue Cat tak bisa menjangkau pukulan lawan. Huhuhu... lemparan yang buruk dari Do Jin.

Yi Soo sebagai wasit memandangnya kesal. Do Jin dengan tampang tak berdosanya bersikap santai. Tae San kesal karena poin Blue Cat tertinggal.

Jung Rok ternyata ikut ambil bagian dalam tim Blue Cat. Dengan kaca mata hitamnya ia memberi tanda agar Do Jin melakukan lemparan yang baik. Do Jin memberi tanda mengerti ia akan melakukannya. Ia memandang Yi Soo memberi tanda tak usah khawatir dan memberi semangat. Tae San kesal melihatnya.

Jung Rok melihat Min Suk duduk di bangku penonton memperhatikan permainan Blue Cat. Dengan gaya berkelas Min Suk duduk sambil dipayungi oleh pegawainya.

Tae San mengajak Jung Rok dan Do Jin berkumpul dulu. Do Jin menenangkan Tae San dan berkata tak apa-apa ia hanya kehilangan 4 poin. Tae San makin kesal mendengarnya.

Jung Rok memberi tahu kalau di bangku penonton ada Min Suk. Ia menyarankan kedua temannya pura-pura membicarakan sesuatu agar terlihat ketiganya serius dengan pertandingan ini. Tae San tambah kesal, "Bukankah kita sedang membicarakan hal penting sekarang. Aigoo... aku bahkan harus membimbing kalian berdua sekarang!" (wohoho kemampuan Yoon ternyata sangat dibutuhkan untuk Blue Cat haha)

Tae San membentak Do Jin jangan sampai asal-asalan melakukan lemparan. Do Jin membela diri kalau ia sudah melakukan lemparan lurus. Tae San berusaha menahan emosinya.

Permaian pun berlanjut. Do Jin melakukan lemparan lurus tapi lemparannya hampir mengenai lawan yang akan memukul atau malah mengenai lawan. Lawan marah kemana sebenarnya Do Jin akan melempar. Do Jin ikut marah, "Kenapa? Apa?" Keduanya pun beradu akan berkelahi.

Terjadilah keributan, Tae San berusaha melerai dan mengatakan kalau Do Jin tak sengaja melempar bola ke arah lawan. Yi Soo bingung harus melerai bagaimana hahaha.

Sementara mereka ribut Jung Rok melihat Min Suk. Ia joget-joget sambil memberi kode love pada Min Suk. Min Suk geleng-geleng tersenyum melihatnya. Yi Soo melihatnya dan makin kesal karena Jung Rok berjoget-joget tak karuan.

Di kamar Yi Soo menyidang Do Jin karena terlibat perkelahian dengan tim lawan. Do Jin menunduk cemberut. Yi Soo jelas kesal karena Do Jin mengajukan diri menjadi pitcher saat Do Jin baru saja bergabung dalam liga. Menurutnya Do Jin bahkan tak tahu berapa banyak jahitan yang ada di bola. "Kau melempar bola berdasarkan nuansa jahitannya. Bagaimana caramu melempar bola?"

Do Jin mengatakan kalau ia melemparnya menggunakan kekuatan bahu dan juga siku nya dan berkata itu sulit. Yi Soo membentak lebih baik Do Jin menyerah bermimpi menjadi seorang pitcher dan labih baik menjadi seorang batter (pemukul)

Yi Soo menyuruh Do Jin memegang tongkat pemukul. Do Jin merasa itu akan sama saja (ga bisa haha) Yi Soo meninggikan suaranya dan kembali menyuruh Do Jin memegang pemukul baseball. (lucu liat Do Jin dimarahin kayak gini haha)

Yi Soo memberi instruksi bagaimana Do Jin harus memegang pemukul yang benar.

Setelah dirasa latihannya cukup Yi Soo pun menyuruh Do Jin pulang dan melanjutkan latihan di rumah. Do Jin mengatakan kalau ia akan sibuk di rumah karena harus menyelesaikan sebuah proyek jadi ia tak bisa latihan di rumah. Yi Soo berkata kalau pacar Do Jin ini seorang wasit Baseball tapi penampilan Do Jin sangat buruk dan terlihat gugup.

"Kau menyukai baseball atau aku?" tanya Do Jin.

Yi Soo diam dan Do Jin melirik sinis, "Baseball atau aku?" tanya Do Jin lagi.

"Kau pasti lelah kan?" Yi Soo mengalihkan pembicaraan. Ia tersenyum menyuruh Do Jin pulang untuk istirahat dan mengatakan lain kali akan latihan lagi. Do Jin merengut ngambek dan melembar pemukul basebal, "Aku tak mau bermain baseball lagi!"

Hahahahaha....

Di rumah Do Jin melanjutkan menyelesaikan proyek sketsa rumah yang ia buat dari benang wol merah baju Yi Soo. Ia tersenyum bangga ketika rancangan rumahnya berhasil ia selesaikan. Tapi kemudian ia melirik kesal ke arah tongkat pemukul baseball.

Lamaran 1

Do Jin dan Yi Soo bertemu di Mango Six. Yi Soo terkejut mendengar hal yang dikatakan Do Jin. Do Jin heran kenapa Yi Soo terkejut seperti itu seolah-olah baru pertama kali mendengarnya. "Ayo kita menikah!" ajak Do Jin.

Yi Soo: "Kau mulai lagi."

Do Jin: "Sekarang saatnya menarik kesimpulan. Dengan pemikiran itu... hadiah!"

Do Jin mengeluarkan kotak kado untuk Yi Soo. Yi Soo membukanya, permen hehe.

"Bawa itu ketika kau datang padaku, pada hari yang cerah. Berdandanlah yang cantik!" ucap Do Jin.

"Aku tak suka permen!" sahut Yi Soo kesal.

Lamaran 2 di Mango Six lagi.

Yi Soo menanyakan apa Do Jin berlatih baseball. Do Jin malah balik bertanya apa Yi Soo bersedia menikah dengannya. Yi Soo kesal karena Do Jin kembali menanyakan itu bukankah Do Jin sudah menanyakan itu kemarin. Do Jin berkata kalau kemarin ia mengatakan ayo kita menikah. "Dengan pemikiran itu... hadiah!"

Do Jin mengeluarkan sebuah kotak kado kecil. Yi Soo membukanya sebuah hiasan mahkota, "Kau menginginkanku melakukan apa? Apa mengikuti ajang Miss Korea di usiaku sekarang?" Yi Soo berkata manis seolah ia mengikuti ajang Miss korea, "Kuharap Kim Do Jin Eonni yang duduk di sebelahku ini akan juara. Apa kau puas?"

Do Jin berkata kalau Yi Soo tak akan bisa mengikuti Miss Korea karena sebentar lagi Yi Soo akan hidup dengannya. Do Jin memakaikan mahkota itu ke kepala Yi Soo. Yi Soo tanya apa yang Do Jin lakukan. Do Jin berkata, "Aku berharap gadis di sebelahku, Yi Soo Eonni akan segera hidup bersamaku. Pada hari yang cerah berdandanlah yang cantik."

Yi Soo terdiam. Do Jin kembali berkata kalau ia berniat terus melamar sampai Yi Soo mengatakan ok.

Lamaran 3

Do Jin dan Yi Soo kembali duduk berhadapan di Mango Six. Do Jin terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Yi Soo yang tengah membaca buku melihat kesibukan Do Jin. Ia heran ini bukan kantor Do Jin kenapa mengerjakan pekerjaan disini.

Do Jin: "Kalau aku bekerja di kantorku, maukah kau menikah denganku?"

Yi Soo lelah mendengarnya berulang kali, "A a a a a a a..." berulang kali menuntup telinganya mendengar Do Jin mengatakan ini berulang kali. Do Jin terdiam Yi Soo melanjutkan membaca bukunya.

Do Jin: "Kita ... pacaran atas dasar pemikiran untuk pernikahan kan?"

Yi Soo: "Kita pacaran demi mencapai kebahagiaan. Apakah akan berakhir dengan pernikahan, tidak ada yang tahu."

Do Jin mengangguk mengerti, "Baiklah. Kalau begitu dengan pemikiran itu, hadiah."

Do Jin mengeluarkan kotak kado besar. Yi Soo bertanya kenapa Do Jin terus melakukan ini ia berharap Do Jin menghentikan semua ini sekarang juga. Kemarin, dua hari yang lalu dan hari sebelumnya dan hari sebelumnya lagi.

"Apa? Memangnya aku melakukannya lagi? ah penyakit lamaku kambuh lagi." Do Jin memegang kepalanya beralasan memory nya hilang lagi. Tapi Yi Soo tahu kalau Do Jin pura-pura. Ia minta Do Jin jangan berpura-pura ia tak akan tertipu lagi.

Do Jin: "Apa kau marah?"

Yi Soo: "Lelucon seperti ini apa kau pikir ini menarik? Menurutku tidak. Bukankah kau seharusnya lebih serius mengenai hal-hal yang seperti itu?"

Do Jin mengerti, "Baiklah. Aku minta maaf. Aku selalu menyukai hal-hal yang dianggap orang lain menarik dan menyenangkan. Niat utamanya adalah ketulusan dan kemasannya harus menarik. Pokoknya aku benar-benar minta maaf."

(ah.. wajah Do Jin terlihat jelas sekali kecewa karena Yi Soo berulang kali menolak lamarannya. Yi Soo menganggap Do Jin menyampaikan lamaran ini main-main atau hanya lelucon saja)

Yi Soo sampai di rumah membawa hadiah dari Do Jin, "Keterlaluan bukannya aku menolak lamarannya kalau dia menginginkan jawabanku setidaknya dia harus meyakinkanku kalau dia serius."

Yi Soo penasaran dan membuka hadiah yang ia terima tadi. Sebuah gaun. Yi Soo berfikir sejenak kemudian ia teringat dengan hadiah yang ia terima dari Do Jin sebelumnya.

Yi Soo pun memakai gaun sekaligus mahkota-nya sambil memegang permen pemberian Do Jin. Wow ia terlihat seperti putri hihi...

Yi Soo mengambil ponsel dan memotret dirinya sendiri beberapa kali. Kemudian ada telepon dari Meari yang mengabarkan kalau dia akan kembali dari bulan madunya.

Mereka berkumpul di rumah Tae San menyiapkan makanan untuk menyambut kedatangan Meari dan Yoon. Mereka menggumamkan bagaimana kalau Meari dan Yoon memiliki bayi setelah bulan madu. Tentu saja bagus dan itu luar biasa kata mereka.

Do Jin mengambil makanan. Yi Soo melirik Do Jin yang sikapnya aneh dan bersikap cuek padanya.

Makanan pun siap. Wow banyak banget makanannya sampai Yoon bingung ngambil yang mana. Tae San heran kombinasi makanan apa ini. Jung Rok berkata bukankah ini untuk meningkatkan daya tahan pria. Tae San mengingatkan Jung Rok jangan menyentuh makanannya.

Yi Soo duduk di samping Do Jin. Do Jin merasa kalau Yoon dan Meari pasti bersenang-senang selama bulan madu. Yoon menjawab ya keduanya bersenang-senang disana. Yi Soo bertanya apa keduanya banyak berfoto. Meari berkata tidak juga karena keduanya jarang meninggalkan hotel wehehehe....

Jung Rok dan Do Jin langsung menatap curiga. Yoon gelagapan dan mengatakan kalau disana sepanjang hari hujan jadi keduanya tak bisa keluar dari hotel.

Do Jin: "Kalian sengaja memilih tempat yang selalu hujan ya?"

Do Jin akan mengambil makanan tapi Tae San menepis tangan Do Jin agar menjauh dari makanan. Tae San mengambilkan makanan untuk Yoon, "Adik ipar Choi-ku sangat kurus, makanlah yang banyak!"

Jung Rok akan mengambil paha ayam tapi kali ini Tae San menabok tangan Jung Rok dan melarangnya, "Adik ipar Choi-ku sangat menyukai paha ayam!" Tae San mengambilkan dua paha ayam untuk Yoon. Yi Soo tertawa melihatnya. Do Jin dan Jung Rok kesal dengan sikap Tae San.

"Yobo, makanlah lagi!" ucap Meari bersikap manis pada suaminya dan ini membuat Jung Rok dan Do Jin sebal melihatnya. Tae San menyahut kenapa apa salahnya memanggil Yobo.

Tae San menyuruh Yi Soo memakan sayap ayamnya. Do Jin heran kenapa Tae San meminta Yi Soo memakan sayap ayam. Tae San mengatakan kalau Yi Soo masih memiliki banyak kesempatan jadi cepatlah terbang selagi Yi Soo masih bisa. Yi Soo tanpa ragu-ragu mangambil sayap ayamnya. Ia menoleh ke Do Jin yang mengabaikannya.

Inilah menu makanan Yoon hehe.

Tae San terus memperlakukan Yoon dengan baik. Mengambilkan sayuran, abalone dll Meari tersenyum melihatnya. Tapi tidak dengan Jung Rok, ia makin kesal melihatnya, "Hei makan ini, makan ini juga! Makan saja semuanya!"

Do Jin: "Untuk apa kau mengundang kami ke sini? Kalau kau memberikan semuanya pada Yoon. aku juga ingin makan abalone."

Yoon menyuruh teman-temannya segera makan. Ada SMS masuk di ponsel Yoon, Ia membacanya tapi tulisan di ponsel tak jelas dilihat ia pun menjauhkan ponselnya agar bisa melihat tulisan lebih jelas.

Tae San heran ada apa dengan Yoon. Yoon memberi tahu kalau sejak satu atau dua bulan yang lalu ia tak bisa melihat dengan baik, ia menebak itu karena dirinya terlalu lelah.

Jung Rok menyahut kalau itu gejala presbiopi (rabun karena faktor usia) Do Jin mengangguk, "Im Meari apa yang akan kau lakukan sekarang?"

Jung Rok: "Apalagi yang bisa dia lakukan sekarang? Untung saja dia tidak pikun!" Hahaha

Tae San tak bisa membiarkannya Yoon harus segera ke rumah sakit untuk periksa. Ia akan mengantar Yoon ke rumah sakit.

Do Jin dan Jung Rok mengolok-olok Yoon dengan nyanyian yang menyindir kalau Yoon dalam masalah besar karena matanya sudah rabun. Yoon dan Meari kesal mendengarnya.

Dan ketika Do Jin menoleh ke arah Yi Soo ia langsung terdiam. Ia bersikap cuek pada Yi Soo dan melihat Yi Soo tanpa senyuman. Yi Soo memandangnya heran tak seperti biasanya Do Jin seperti ini padanya.

Keesokan harinya Tae San mengantar Yoon periksa ke dokter mata. Dokter mengatakan kalau ini gejala presbiopi, "Gangguan yang kau rasakan sekarang misalnya berkurangnya kemampuan untuk fokus pada objek dekat dan kelelahan mata merupakan gejala presbiopi."

Yoon: "Apa aku benar-benar mengalaminya?"

Dokter: "Usiamu 42 tahun. Gejala ini biasanya muncul pertama kali di awal usia 40an tahun."

Tae San menanyakan apa ada kemungkinan akan sembuh karena Yoon ini kepala keluarga dan istrinya masih sangat muda, "Kalau ibarat ayam... dia ini ayam betina."

Dokter mengatakan kalau itu mungkin bisa sembuh. Pasien bisa meningkatkan ketajaman penglihatan dengan obat-obatan dan kebiasaan hidup baik. Tae San lega mendengarnya ia memberi semangat pada Yoon.

Jung Rok tengah bersama Min Suk. Ia mengatakan pada Min Suk kalau Yoon mengalami presbiopi. Ia menilai kalau penuaan memang menyedihkan. Min Suk merasa Jung Rok menyindirnya, "Jadi maksudmu aku sedih? Presbiopi, akhir masa subur dan kau."

Jung Rok merasa kalau ini membingungkannnya ia ingin menanyakan sesuatu. "Kita menari di klub malam, kau bahkan datang ke pertandingan baseball. Tapi kau tetap tinggal di hotel."

Min Suk: "Lalu?"

Jung Rok: "Lalu... apa hubungan kita saat ini?"

Min Suk menarik nafas panjang dan berkata kalau status keduanya ini bercerai sementara. Jung Rok tak mengerti apa maksudnya itu. Min Suk mengatakan kalau kedua belah pihak tetap melanjutkan hidup, menunda menyerahkan surat cerai yang sudah ditandatangani ketika mereka bisa menyerahkan surat itu kapan saja. Suami istri di dunia ini berada pada status bercerai sementara, tidak terlalu berbeda dengan keduanya dan mulai sekarang keduanya akan hidup dengan status bercerai sementara, sampai rambut keduanya memutih. (wah tante bahasanya dalem banget)

Jung Rok tersenyum senang dan bertanya apa Min Suk ingin kembali ke rumah. Min Suk berkata kalau ia ingin bertanya satu hal. "Pertama, aku menyerah untuk memiliki seorang bayi dan aku sudah putus harapan. Sejak 7 tahun lalu aku sudah terlalu tua. Dibandingkan dengan harapan yang tak mungkin aku lebih suka menunggu dengan harapan yang lebih nyata."

Jung Rok: "Apa maksudmu?"

Min Suk: "Bukankah sebelumnya kau mengatakan padaku bahwa kau tak membutuhkan 1/3 hartaku meskipun kita bercerai?"

Jung Rok: "Jadi... apa kau ingin bercerai lagi?"

Min Suk: "Bukan. Bukankah aku baru mengatakannya? Aku ingin berinvestasi pada harapan yang lebih nyata."

Min Suk mengeluarkan sesuatu dan menyerahkannya pada Jung Rok, "Selamat kau akan menjadi seorang ayah." Ucap Min Suk memperlihatkan beberapa biodata anak-anak (hmm sepertinya ini anak2 Afrika deh)

Jung Rok membolak-balikan buku brosur yang ia terima. Ada biodata beberapa anak. Ia memandang heran tapi Min Suk tetap tersenyum. Min Suk mengatakan kalau keduanya sekarang memiliki 10 orang anak dan ia tak tahu akan berapa banyak lagi dimasa depan nanti. "Bukankah anak-anak itu terlahir dari cinta orang tua mereka? Karena aku yang mendonasikan uangmu, kau harus mengelolanya!"

Jung Rok masih tak percaya Min Suk melakukan hal semulia ini, "Semakin aku melihatmu semakin aku berfikir... kau seharusnya tak hidup denganku. Aku mencintaimu, Park Min Suk."

Min Suk tersenyum, "Terserah padamu!" Keduanya tersenyum.

Meari kursus membuat tas. Yi Soo datang menemuinya. Ia senang melihat gurunya datang. Keduanya pun pulang bersama.

Yi Soo menanyakan bagaimana dengan kursus Meari. Meari mengatakan kalau ini benar-benar menyenangkan. Karena sekarang ia sudah bertemu dengan orang yang tepat ia bisa mengejar impiannya. Yi Soo merasa kalau hal itu pantas ditiru.

Meari melihat sesuatu disalah satu kios galeri. Ia menarik gurunya dan meminta dibelikan sebuah lampu meja sebagai hadiah pernikahan. Ia menilai kalau lampu itu cantik dan ingin meletakkannya di kamar tidur. Yi Soo dengan senang hati membelikannya untuk Meari.

Sambil menunggu lampu tadi dibungkus keduanya duduk berhadapan. Yi Soo ingin tahu bagaimana kehidupan pernikahan Meari, apa bahagia. Meari bilang kalau itu sangat bagus, "Aku benar-benar bahagia bisa mencintai Kak Yoon tanpa halangan."

Meari menyerahkan pesanan Yi Soo, 3 buku album sekolah. Ia pun bertanya apa ada lagi yang ingin Yi Soo curi dari rumah Do Jin, katakan saja padanya. Yi Soo mengingatkan kalau ini rahasia ia sendiri yang meminta Meari mencurinya.

Yi Soo masih penasaran bukankah Meari bilang kalau keempat pria itu mempunyai password rumah yang sama, apa passwordnya. Apa mungkin berhubungan dengan ulang tahun cinta pertama mereka.

Meari mengatakan kalau passwordnya itu 1233. Yi Soo langsung menyahut 33 Desember.

Meari: "Memangnya ada tanggal 33 Desember? 1233. Kau hanya perlu menekan angka di baris teratas. Dengan kata lain mereka malas menekan angka di barisan bawah."

Astaga ternyata seperti itu hahaha.

Yi Soo sampai di rumah ia membolak-balikan album foto sekolah Do Jin. Yang pertama ia buka album SD Do Jin. Ia menemukan foto Do Jin ketika SD, "Ini adalah momen-momen Kim Do Jin yang tak kuketahui."

Yi Soo kemudian teringat sesuatu. Ia menuju meja riasnya dan mengambil kertas yang bertuliskan Petunjuk cinta bertepuk sebelah tangan Ia memberi tanda yang nomor 6 dan tiap nomor sudah ia beri tanda yang artinya ia sudah melakukannya dan yang terakhir ini yang nomor 6. Mengumpulkan foto kelulusan dari SD sampai SMA (kalau lupa apa isinya petunjuk cinta bertepuk sebelah tangan bisa di cek lagi di episode 11)

Yi Soo mengirim foto ketika ia menggunakan gaun dan mahkota pemberian Do Jin, "Ini adalah momen-momen Seo Yi Soo yang tak Kim Do Jin ketahui!" Yi Soo mengirimnya pada Do Jin.

Yi Soo menunggu balasannya. Lama ia menunggu tapi balasan SMS atau telepon dari Do Jin tak kunjung datang. Yi Soo mondar-mandir di kamarnya, "Apa ini? Kenapa tak ada balasan?"

Yi Soo pun memberanikan diri menelpon Do Jin. "Ini aku. Kau sangat sibuk ya? Aku mengirim gambar, apa sudah kau terima?" Do Jin menjawab sudah. Yi Soo heran kenapa Do Jin tak membalasnya.

Do Jin: "Aku ingin menunggu beberapa saat sebelum kubalas!"

Yi Soo menebak apa Do Jin marah padanya karena akhir-akhir ini Do Jin tak pernah mengucapkan kata itu padanya, Menikahlah denganku! Do Jin berkata kalau yang ia lihat sekarang Yi Soo membenci pada orang yang tak tahu malu seperti dirinya. Yi Soo menyangkal sejak kapan ia membenci Do Jin.

Do Jin: "Kau memang menyukaiku, tapi belum sampai pada tahap kau bersedia menghabiskan hidupmu denganku."

Do Jin mengatakan kalau sekarang ia sedang rapat dan akan mentup teleponnya. Yi Soo merengut, "Sekarang apa dia jual mahal? Atau... kami mulai terpisah?" Yi Soo mulai cemas.

Do Jin tersenyum mencurigakan menatap ponselnya hehe. Sepertinya misi mengabaikan Yi Soo sukses haha. perempuan kalau dikejar-kejar malah menjauh tapi kalau dicuekin dia malah penasaran hahaha. sepertinya Do Jin menggunakan taktik ini.

Di ruangan itu memang sedang rapat dan Tae San melihat kalau Do Jin sibuk menelepon sementara rapatnya belum selesai, "Bukankah kau mengatakan kalau kau mendapatkan proyek yang sangat penting?"

Do Jin membenarkan ini proyek yang sangat besar dan sekarang diproyek ini semua staf design harus terlibat dan tentu saja Tae San juga. Ia mengingatkan untuk mengosongkan waktu pada jumat sore. Tae San ingin tahu proyek apa ini sampai melibatkan mereka semua. Do Jin belum mau mengatakannya ia meminta lebih baik menyelesaikan yang dirapatkan dulu.

Do Jin menanyakan apa mereka sudah dikonfirmasi oleh kontraktor untuk memulai mengerjakan Resor Qualze. Staf-nya mengatakan kalau kontraktor akan segera memulai dan penjualannya sangat menakjubkan. Mereka senang mendengar keberhasilan ini.

Ada yang menelepon Tae San, Se Ra. Dia sudah kembali usai kompetisi golf di luar negeri. Tae San menanyakan apa Se Ra puas dengan hasilnya. Se Ra masih di bandara dan kelelahan. Ia mengatakan kalau ia peringkat 5 dunia dan peringkat 3 negara ia menilai itu tak terlalu buruk. Tae San mengatakan sudah tersebar berita yang mengatakan kalau Se Ra kembali ke puncak permainan.

Dengan nafas terengah-engah dan wajah pucat Se Ra mengatakan kalau itu siaran dari pers agensinya. Se Ra merasakan pusing di kepalanya, "Tak tahu kenapa karena aku sudah lebih tenang tiba-tiba saja aku tak punya tenaga. Bahkan kepalaku pusing, karena itu..."

Bruk... Se Ra pingsan di bandara. Ia tergeletak tak sadarkan diri. Tae San cemas, "Halo? Hong Se Ra? Se Ra?" tak ada jawaban dari Se Ra.

Beberapa orang mengerumuni Se Ra yang pingsan. Seorang pria menjawab ponsel Se Ra dan mengatakan pada Tae San kalau orang yang berbicara dengan Tae San tiba-tiba pingsan.

Tae San bergegas ke rumah sakit. Ia panik dan mencemaskan Se Ra. "Apa kau baik-baik saja? Mana yang sakit?" Se Ra diam merengut tak menjawab dan itu membuat Tae San semakin cemas. Ia takut kalau ada penyakit yang serius.

Dokter datang dan bertanya apa Tae San walinya Se Ra. Tae San membenarkan dan bertanya kenapa Se Ra mendadak seperti ini padahal dia seorang atlit kenapa tiba-tiba pingsan.

Dokter: "Pasien pingsan karena mengalami kelelahan selama kehamilannya!"

Tae San memarahi Se Ra, "Kenapa kau memaksakan diri saat kau sedang hamil?"

Se Ra menatap marah Tae San. Tae San langsung terdiam terkejut dengan apa yang ia dengar dan ia ucapkan, ia beralih menatap dokter, "Anda bilang apa?" Dokter menjelaskan kalau Se Ra tengah mengandung 6 minggu dan bayinya sangat sehat. Dokter mohon diri.

Tae San terkejut campur gembira. Tapi Se Ra malah marah-marah ia jelas kesal. Tae San tersenyum sumringah menggenggam tangan Se Ra, "Apa kau benar-benar hamil? Benarkah? Kenapa hal ini bisa terjadi? Apa aku benar-benar akan menjadi ayah? Benarkah?"

Se Ra menarik tangannya ia meminta Tae San mendengarkan apa yang akan ia katakan, "Aku tak ingin pernikahan yang mendadak. Kalau aku menyiapkan rencana pernikahan perutku pasti sudah membesar. Aku akan mati sebelum memakai gaun pengantin dengan perut besar."

Tae San bingung, "Lalu bagaimana?"

Se Ra: "Setelah melahirkan. Aku akan menyiapkan pernikahan setelah tubuhku langsing kembali."

Tae San kembali menggenggam tangan Se Ra, saking bahagianya ia akan mengabulkan apapun yang Se Ra inginkan. "Baiklah lakukan saja seperti itu. Kau boleh mengerjakan apapun yang kau inginkan. Aku akan menuruti apapun perkataanmu."

Dan satu hal lagi pinta Se Ra. Ia berpesan agar jangan memberi tahu siapapun tentang ini ia tetap harus memberi tahu agensinya. Tae San tak masalah ia akan menyimpan ini sendiri.

Tae San girang bukan main, "Hong Se Ra setelah sekian lama berpacaran denganmu. Hari ini kau terlihat paling cantik. Yang tercantik." Tapi ini membuat Se Ra kesal karena ini berarti ia harus pensiun dari golf. Se Ra menutupi tubuhnya dengan selimut dan bergerak kesana kemari. Tae San langsung over protect meminta Se Ra tenang. Hehe.

Do Jin ke tempat pembangunan Resor Qualze. Pegawai Qualze mengatakan kalau Presdrinya sangat puas setelah melihat foto-foto Do Jin yang diambil dari udara. Ia mengatakan kalau Presdirnya mengajak Do Jin bisa makan bersama. Tapi Do Jin tak bisa makan bersama hari ini karena ada hal penting yang harus ia kerjakan. Jadi ia harus pergi sekarang.

"Apa anda sudah memiliki rencana?"

"Ya. Untukku, orang ini selamanya akan menjadi prioritas utamaku. Hari ini aku harus melakukan presentasi yang akan mengubah hidupku." Jelas Do Jin.

Do Jin dan Yi Soo menyusuri jalanan yang memiliki kenangan untuk keduanya. Do Jin mengatakan kalau di sini, musim semi tahun lalu pakaian Yi Soo tersangkut di tasnya. Sepertinya begitu sahut Yi Soo tak semangat. Do Jin melihat wajah Yi Soo yang muram dan bertanya sebenarnya apa yang ingin Yi Soo katakan kelihatannya sangat serius. Ia mengajak Yi Soo duduk di depan sebuah toko.

Keduanya duduk berhadapan Do Jin membawakan minuman dan siap mendengarlan hal yang ingin Yi Soo katakan. Yi Soo menanyakan apa sekarang memangnya keduanya harus bertemu untuk sesuatu yang istimewa. Do Jin balik bertanya kenapa ucapan Yi Soo tajam sekali. Jangan-jangan Yi Soo punya pria lain yang lebih muda. Yi Soo bertanya lagi apa Do JIn benar-benar mengharapkan ia memiliki pria lain kenapa terus bertanya seperti itu.

Do Jin menilai kalau ucapan Yi Soo sangat menyakitkan, "Apa kau membenciku? Kau harus menjelaskan semuanya dengan jelas kepada pria agar dia paham. Aku tahu kau berharap aku bisa mengerti namun itu mustahil."

Yi Soo diam. Do Jin berkata kalau begitu ia dulu yang akan bicara. Ia meminta Yi Soo meluangkan waktu besok malam. Yi Soo tanya kenapa. Do Jin menjelaskan kalau Tae San, Yoon, Rok dan dirinya selalu bersama setiap 10 tahun. Mengenakan jas untuk pemotretan. Setiap dekade saat usia kami 20, 30 dan 40 tahun. Ini adalah ketiga kalinya.

Yi Soo bertanya kenapa ia harus meluangkan waktu bukankah itu acara mereka berempat. Do Jin mengatakan kalau ini pertama kalinya mereka berempat membawa pasangan untuk pemotretan. Yi Soo berandai-andai apa yang akan terjadi kalau Do Jin dan dirinya putus setelah pemotretan. Yoon dan Jung Rok sudah menikah, Tae San dan Se Ra sudah bertunangan (kapan ga tahu saya haha) kita berdua tak ada alasan untuk berfoto kata Yi Soo.

Do Jin berkata sepertinya Yi Soo benar-benar membencinya. Ponsel Do Jin berdering ia menjawab teleponnya dan berbicara kalau ia benar-benar berhutang budi pada si penelepon. Yi Soo penasaran dengan siapa Do Jin bicara.

Do Jin: "Jadi, apa kau tak akan memberi tahuku? Kenapa kau marah?"

Yi Soo: "Baiklah. Kupikir kau benar-benar belum tahu mengenai situasinya. Saat ini aku tak marah sama sekali tapi merasa sangat tidak aman. Semakin kita bahagia aku semakin khawatir kalau kebahagiaan ini bisa berakhir kapan saja. Dan inilah aku, bersiap-siap untuk terluka. Tapi, kau selalu memberiku sinyal-sinyal yang aneh. Kau serius tentang hidup bersama atau kau hanya bercanda. Kau benar-benar membingungkan."

Do Jin: "Tentang aku mengajakmu hidup bersama sudah berapa kali menurutmu aku memintamu? Aku harus melakukan apa lagi? Orang yang belum pernah menjawab sekalipun adalah kau, Seo Yi Soo!"

Yi Soo: "Itu karena kau tak pernah tulus."

Do Jin: "Tidak tulus? Aku selalu tulus. Berapa kali harus kukatakan padamu? Apa kau benar-benar tak percaya padaku? Kalau begitu aku harus membuatmu percaya padaku,"

Do Jin mengeluarkan recorder-nya, "Jangan sendirian mendengarkannya dengarkanlah bersama semua orang disini!" Ia meminta Yi Soo mendengarkan baik-baik.

Do Jin masuk ke toko dan memutar rekaman melalui laptop yang ada di toko tersebut. Do Jin tersenyum memandang Yi Soo dan segera berlalu dari toko. Yi Soo celingukan mencari keberadaannya. Tapi kemudian terdengarlah suara Do Jin yang berasal dari recorder.

Seo Yi Soo

Hiduplah denganku

Tinggallah bersamaku

Bersediakah kau hidup denganku?

Lebih baik kita hidup bersama

Maksudku, menikahlah denganku!

Bersediakah kau menikah denganku?

Ingin menikah denganku?

Seo Yi Soo (Yi Soo celingukan mencari keberadaan Do Jin)

Berbaliklah!

Kalau kau tak mau, menikah saja denganku!

Yi Soo pun berbalik dan inilah dia aksi proposal lamaran yang disiapkan oleh Do Jin melibatkan semuanya. Adegan yang diiringi lagunya Lee Seung Gi Wiil You Marry Me

Yoon - Meari love this couple deh

Tae San - Hong Pro (kok loncat ya padahal lagi hamil haha)

Jung Rok - Min Suk

Staf design Hwa Dam (staf design wanita mengenakan baju rajutan milik Yi Soo)

Yi Soo terharu melihatnya

Dong Hyub, Guru Park, Colin, dan Sang Hyun memperagakan tarian ala Gangnam Style

Tiga ahjussi keren (Yoon paling ok gerakannya)

Diakhir tarian mereka semua memperagakan tanda love untuk Yi Soo.

Dan muncullah Do Jin dari belakang yang sudah berganti pakaian sambil membawa gulungan karton dan bucket bunga.

Yi Soo langsung berdiri dan menerima gulungan kertas karton yang Do Jin berikan padanya. Ia membukanya dan itu adalah rancangan rumah yang Do Jin siapkan untuk tempat tinggalnya bersama Yi Soo. Sebuah rumah dimana tak seorang pun akan meninggalkannya, rumah impian Yi Soo.

"Aku akan membangun rumah seperti ini untukmu. Datang dan hiduplah bersamaku disini. Tak seorang pun akan pergi. Seorang arsitek harus bertanggung jawab atas hasil kerjanya sendiri. Di cetak biru ini, aku menggambar 130 garis. 130 tahun yang akan datang kau akan bahagia. Aku berjanji padamu!"

Yi Soo terharu mendengarnya, air matanya tak tertahankan lagi. Do Jin melihat jam tangannya, "Saat ini jam 5.25 sore. Mulai saat ini laluilah jalan ini bersamaku tanpa terlewat satu detik pun."

Do Jin jongkok memberikan bunga pada Yi Soo, "Bersediakah kau... menikah denganku?"

YI Soo menangis terharu kemudian tersenyum, "Tentu saja. Kau tak tahu betapa ingin aku melakukannya." Yi Soo menerima bunga pemberian Do Jin. "Sudah lama kukatakan padamu hal semacam ini katakan saja padaku. Katakan saja. Apa kau tahu betapa takutnya aku tadi?"

Do Jin kembali berdiri setelah memberikan bunga, "Meskipun aku serius atau aku tampan apa yang harus ditakuti?"

Yi Soo tersenyum dan langsung memeluk Do Jin. Keduanya tersenyum bahagia. Terdengar riuh tepuk tangan semuanya yang ikut ambil bagian dalam lamaran kali ini.

Jung Rok berteriak, "Hei.. apa yang kalian berdua lakukan disana apa menyuruh orang-orang datang? Tak ada yang bisa kalian tunjukan. Setidaknya berciumanlah!"

"Kiss! Kiss! Kiss! kiss!" seru semuanya semangat membuat Do Jin dan Yi Soo tersenyum malu. Kedua pasangan ini melepas pelukan mereka dan keduanya pun kiss.

Yoon memiringkan kepala ke istrinya, apa dia juga ingin kiss hahaha.

Tae San dan Yoon saling mendekatkan kepala meraka seperti akan berciuman hahaha...

Dan yang paling nelangsa adalah kedua remaja ini.

"Siapa yang kau bilang mencuri orang yang hampir menjadi cinta pertamamu?" tanya Dong Hyub.

"Teman ayahku!" jawab Colin sambil melirik ke arah Meari dan Yoon

"Cinta pertamaku baru saja direbut oleh ayah temanku." Ujar Dong Hyub patah hati hehe.

Colin terhenyak kaget, "Kau. Apa sebelumnya kau menyukai Guru? Ya Tuhan!"

Yi Soo mengambil satu bunga dan menyelipkan ke lubang jas Do Jin.

Suara Do Jin: "Nama resmi untuk lubang kecil di depan sebuah jas adalah Flower Hole. Bunga hias yang diletakan di Flower Hole disebut Boutonniere."

"Aku mencintaimu pria yang memikat, Kim Do Jin!" Keduanya tersenyum dan yang lainnya tepuk tangan....

Saatnya berfoto.

Suara Do Jin: "Ketika mempelai wanita menerima sebuah bucket memilih bunga artinya dia bersedia menikah. Lalu dia memasangkannya di jas mempelai pria. Itulah boutonniere yang asli."

Ok yang foto pertama kali para pria-nya dulu.

Meari merapikan jas suaminya, "Tampan sekali pria tua ini. I Love You!" Yoon tersenyum dan mendapatkan sebuah kecupan dari istrinya.

Min Suk: "Santaikan bahumu karena aku mencintaimu!"

Jung Rok tersenyum, "Benarkah?"

Se Ra mengingatkan kalau foto Tae San harus terlihat tampan, "San (gunung) yang kudaki. Gunung yang hanya aku yang boleh mendakinya." Tae San tersenyum dan mengedipkan matanya pada Se Ra.

Yi Soo merapikan jas Do Jin, "Waktu yang kita habiskan untuk berjalan bersama sudah 27 jam 35 menit. Ini adalah... momen terbaik dalam hidupku!" Do Jin tersenyum menatap Yi Soo. (apa keduanya sudah menikah?)

Mereka pun berfoto

Suara Do Jin: Pria tidak akan pernah menjadi dewasa, mereka hanya semakin tua. Hanya saja pria yang menyadari usia mereka akan menghabiskan waktu mereka dengan cara yang berbeda. Dalam cahaya berbeda yang lebih menyilaukan. Karena para wanita ini, kami tidak berakhir menjadi orang biasa. Mereka memberi kami kesempatan menjadi pria sejati. Karena itulah kami dengan semangat mengatakan, Goodbye Boy

Do Jin dan Yi Soo berada dalam satu kamar. Keduanya tidur di ranjang (hmmm besar kemungkinan Yi Soo sudah menjadi Ny Kim nih)

Do Jin menopang kepalanya memandang Yi Soo penuh senyuman.

Suara Yi Soo: "Kau tak tahu betapa aku sangat ketakutan dalam tidurku tadi malam."

Suara Do Jin: "Kenapa?"

Suara Yi Soo: "Karena kau... ada di sampingku!"

Do Jin: "Apa sekarang masih?"

Yi Soo: "Masih."

Do Jin: "Aku juga."

Yi Soo: "Aku mencintaimu!"

Keduanya tersenyum penuh cinta.

T A M A T